Anda di halaman 1dari 8

Review UU No 6 TH 2014, PP No 43 Tahun 2014

dan PP No 60 Tahun 2014

Oleh :
Yehia Ayasha Rafidhah (113.14.003)

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG
2016
UU No 6 TH 2014 Tentang Desa

Tujuan dari UU tersebut antara lain membiayai kegiatan yang berhubungan dengan tujuan memajukan
perekonomian masyarakat di pedesaan, mengatasi kesenjangan pembangunan kota dan desa, memperkuat
peran penduduk desa dalam pembangunan serta meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat
desa. Penggunaan dana ini diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan dana desa yang besar ini dapat digunakan untuk meperbaiki infrastruktur diantaranya
membenarkan jalan yang rusak dan menambah alat transportasi umum di desa tersebut agar mempermudah
para penduduk yang akan menjual hasil panen dan bercocok tanam nya ke pasar agar pendapatan yang
mereka dapatkan juga menjadi meningkat.
Dana tersebut juga dapat di guakan untuk membangun sarana dan prasarana yang berbentuk bangunan
yang didalamnya terdapat alat-alat untuk penggilingan padi, timbangan besar dan lain-lain yang dapat
digunakan secara bersama-sama oeh penduduk desa. Dengan dibangunannya sarana dan prasarana
tersebut, penduduk desa lebih mudah dan tidak perlu mengeluarkan dana lagi untuk menggiling hasil padi
mereka sehingga mereka dapat lebih produktif untuk kebutuhan lainnya.
Pasal 79 ayat (1) Menegaskan perencanaan pembangunan Desa disusun dengan kewenangannya pada
perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota. Adanya peran vital kabupaten/kota dalam menampung dan
mencairkan dana desa setelah adanya proposal program dari Desa akan menimbulkan tantangan tersendiri.
Beragamnya kapasitas kabupaten/kota dalam mendampingi Desa dapat berakibat pada pemanfaatan DAD
(Dana Alokasi Daerah) di desa yang tidak sesuai dengan tujuan dan prioritas pembangunan Kabupaten/Kota.

PP No 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa

UU Nomor 6 Tahun 2014 serta Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, maka kedepan Desa mendapat peluang yang lebih
besar untuk meningkatkan perannya dalam pengembangan ekonomi masyarakat perdesaan. Dalam hal ini
BUM Desa dapat menjadi instrumen dan dioptimalkan perannya sebagai lembaga ekonomi lokal yang legal
yang berada ditingkat desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan desa.
Dengan kepala desa mempunyai wewenang terhadap pengembangan desanya, menjadikan kepala desa
tersebut lebih leluasa dalam menindak lanjutin program yang akan di laksanakan sesuai yang telah di
rencanakan. Dimana kepala desa itu sudah mengetahui apa saja masalah-masalah yang ada di desanya,
sehingga dana-dana yang disalurkan dapat mengatasi masalah-masalah di desa tersebut sesuai dengan dana
yang ada. Pemerintah Daerah dalam PP No. 43 tahun 2014 seperti pemerintah kabupaten/kota akan
mengalokasikan bagian dari hasil pajak dan retribusi daerah kabupaten/kota kepada desa paling sedikit 10
persen dari realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah kabupaten/kota. Adapun rumus perhitungannya
adalah 60 persen dari bagian 10 persen itu dibagi secara merata kepada seluruh desa, dan 40 persen sisanya
dibagi secara proporsional sesuai realisasi penerimaan hasil pajak dan retribusi dari desa masing-masing.
Kewenangan Desa

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
6 Tahun 2014 tentang Desa menyebutkan bahwa kewenangan Desa meliputi:

1. Kewenangan berdasarkan hak asal usul;


2. Kewenangan lokal berskala Desa;
3. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, atau pemerintah daerah
kabupaten/kota; dan
4. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, atau pemerintah daerah
kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kewenangan Desa tersebut dalam PP Desa sedikitnya terdiri atas:

1. Sistem organisasi masyarakat adat;


2. Pembinaan kelembagaan masyarakat;
3. Pembinaan lembaga hukum adat;
4. Pengelolaan tanah kas desa; dan
5. Pengembangan peran masyarakat desa.

Kewenangan Lokal Berskala Desa

Kewenangan lokal berskala desa paling sedikit di antaranya meliputi:

1. Pengelolaan tambatan perahu;


2. Pengelolaan Pasar Desa;
3. Pengelolaan tempat pemandian umum;
4. Pengelolaan jaringan irigrasi;
5. Pengelolaan lingkungan permukiman masyarakat desa;
6. Pembinaan kesehatan masyarakat dan pengelolaan pos pelayanan terpadu;
7. Pengelolaan Embung Desa;
8. Pengelolaan air minum berskala desa; dan
9. Pembuatan jalan desa antarpermukiman ke wilayah pertanian.

Pemerintahan Desa

Penjabat kepala desa berasal dari Pegawai Negeri Sipil di lingkungan pemerintahan daerah kabupaten/kota,
Tentang pemilihan kepala desa, disebutkan pada Pasal 40 PP 43/2014 bahwa, pemilihan kepala desa
dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah kabupaten/kota, dan dapat dilaksanakan bergelombang
paling banyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu 6 (enam) tahun.

Jika terjadi kekosongan jabatan kepala desa dalam penyelenggaraan pemilihan kepala desa yang serentak,
maka bupati/walikota menunjuk penjabat kepala desa.
Jabatan Kepala Desa

Lama jabatan Kepala Desa Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 ini, Kepala Desa
memegang jabatan selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pelantikan, dan dapat menjabat paling
lama 3 (tiga) kali secara berturut-turut atau tidak secara berturut-turut.

Dalam hal Kepala Desa mengundurkan diri sebelum habis masa jabatannya atau diberhentikan, Kepala Desa
dianggap telah menjabat 1 (satu) periode masa jabatan, Pasal 47 Ayat (5).

Perangkat Desa

Perangkat Desa yang berkedudukan sebagai unsur pembantu Kepala Desa terdiri dari:

1. Sekretariat Desa yang dipimpin oleh Sekretaris Desa;


2. Pelaksana Kewilayahan yang jumlahnya ditentukan secara proporsional; dan
3. Pelaksana Teknis, paling banyak 3 (tiga) seksi.

Syarat Menjadi Perangkat Desa

PP 43/2014 menegaskan, perangkat desa diangkat dari warga desa yang memenuhi persyaratan:

1. Berpendidikan paling rendah Sekolah Menengah Umum atau yang sederajat;


2. Berusia 20 tahun 42 tahun;
3. Terdaftar sebagai penduduk desa dan paling tidak telah bertempat tinggal selama 1 (satu) tahun sebelum
pendaftaran; dan
4. Syarat lain yang ditentukan dalam peraturan daerah kabupaten/kota.

Penghasilan Tetap dan Tunjangan Kepala Desa

Penghasilan tetap kepala desa dan perangkat desa dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
(APB) Desa yang bersumber dari Alokasi Dana Desa (ADD), yang merupakan pendapatan yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Kabupaten/Kota.

Pengalokasian ADD untuk Kepala Desa dan perangkat desa menggunakan perhitungan sebagai berikut: a.
ADD yang berjumlah kurang dari Rp 500.000.000 digunakan maksimal 60%; b. ADD RP 500 juta Rp 700
juta digunakan maksimal 50%; c. ADD Rp 700 juta Rp 900 juta digunakan maksimal Rp 40%; dan d. ADD di
atas Rp 900 juta digunakan maksimal 30%.

Bupati/Walikota menetapkan besaran penghasilan tetap a. Kepala Desa; b. Sekretaris Desa paling sedikir
70% dari penghasilan Kepala Desa setiap bulan; c. Perangkat Desa paling sedikit 50% dari penghasilan tetap
Kepala Desa setiap bulan, bunyi Pasal 81 Ayat (4a,b,c), Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014.

PP 43/2014 menyebutkan juga tentang tunjangan Kepala Desa, bahwa, selain menerima penghasilan tetap,
Kepala Desa dan Perangkat Desa menerima tunjangan dan penerimaan lain yang sah, yang dapat bersumber
dari APB Desa
Penyelenggaraan Kewenangan Desa

"Seluruh pendapatan desa diterima dan disalurkan melalui rekening kas desa dan penggunaannya ditetapkan
dalam APB desa," Pasal 91 PP 43 Tahun 2014

Penyelenggaraan kewenangan Desa berdasarkan pada hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa
yang didanai oleh APB Desa, dan juga dapat didanai oleh APBN dan APBD dari Provinsi maupun
Kabupaten/Kota melalui ADD misalnya.

Anggaran untuk menyelenggarakan kewenangan Desa yang didapat atau ditugaskan oleh Pemerintah Pusat
akan didanai dengan APBN melalui alokasi dari bagian anggaran Kementrian/Lembaga dan disalurkan melalui
SKPD - Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten atau Kota. Selain itu penyelenggaraan kewenangan desa
yang didapatkan melalui Pemerintah Daerah akan didanai dengan APBD dari Propinsi, dan Kabupaten atau
Kota

Dana Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Desa

Pemerintah mengalokasikan Dana Desa dalam anggaran pendapatan dan belanja negara setiap tahun
anggaran yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah
kabupaten/kota. Pasal 95 ayat 1 PP 43/2014.

Dalam PP 43 tahun 2014 bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana desa dalam APBN setiap tahun
anggaran yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui APBD Kabupaten/Kota. Selain itu, pemerintah
kabupaten/kota mengalokasikan dalam APBD kabupaten/kota ADD setiap tahun anggaran, paling sedikit 10
persen dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam APBD setelah dikurangi dana alokasi
khusus (DAK).

Pemerintah Daerah dalam PP No. 43 tahun 2014 seperti pemerintah kabupaten/kota akan mengalokasikan
bagian dari hasil pajak dan retribusi daerah kabupaten/kota kepada desa paling sedikit 10 persen dari realisasi
penerimaan pajak dan retribusi daerah kabupaten/kota. Adapun rumus perhitungannya adalah 60 persen dari
bagian 10 persen itu dibagi secara merata kepada seluruh desa, dan 40 persen sisanya dibagi secara
proporsional sesuai realisasi penerimaan hasil pajak dan retribusi dari desa masing-masing.

PP No 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 60/2014 tentang Dana Desa, pengalokasian dana setiap desa
didasarkan pada jumlah penduduk (bobot 30%), luas wilayah (20%), angka kemiskinan (bobot 50%), serta
tingkat kesulitan geografis masing-masing desa sebagai faktor pengali. Pasal 20 dan 21 kontradiktif karena
menteri yang menangani Desa menetapkan prioritas penggunaan DanaDesa (pasal 21) sementara pasal 20
mengemukakan penggunaan dana desa mengacu pada RPJM Desa dan RKP Desa. Dari pasal ini
menunjukkan pemerintah supra desa masih meng-intervensi desa, padahal desa sudah memiliki kewenangan
skala lokal yang dapat dikelolanya.Mestinya program yang direncanakan dan tertuang dalam RPJM Desa
sudah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan desa. Kedepan, Desa perlu melakukan penguatan kapasitas
desa dalam mengelola dana desa secara mandiri agar pemerintah supra desa tidak meng-intervensi
penggunaan dana dan jenis program yang dilaksanakan di desa

Kesimpulan

UU No 6/2014 tentang Desa merupakan pengakuan dan penghormatan Negara terhadap Desa karena Desa
memiliki payung pengaturan tersendiri yang terpisah dari pengaturan pemerintah pusat. Kedudukan desa
bukan lagi sebagai organisasi pemerintah yang berada dalam sistim pemerintah kabupaten/kota (local state
government) tetapi sebagai pemerintahan masyarakat, hybrid antara self governing community dan local self
government.
Dari pemerintah pusat, sebagai implementasi pelaksanaan UU Desa, pemerintah menerbitkan PP
nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
dan PP nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara. Kehadiran PP tersebut memang ditunggu agar UU Desa bisa dilaksanakan sebagaimana yang telah
diamanatkan. Sangat disayangkan, proses penyusunan kedua PP tersebut hampir tidak ada keterbukaan
dan tanpa ada pembahasan publik sebagaimana dengan UU Desa yang lebih terbuka dan terpantau oleh
masyarakat. Ada beberapa pihak yang belum merasa puas dengan kedua PP tersebut, ada yang menilai PP
tersebut belum mencerminkan semangat reformasi sebagaimana amanat yang dituangkan dalam UU Desa.
Kekhawatiran ini sempat muncul saat UU Desa ditetapkan. Padahal PP yang diharapkan menjabarkan
amanat UU Desa dengan lebih jelas, detail dan implementatatif.
Ada beberapa hal yang mestinya kita cermati ulang sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah Desa.
Pertama, tentang pengangkatan pejabat kepala desa. Pasal 55 menjelaskan bahwa dalam hal sisa masa
jabatan kepala Desa yang berhenti tidak lebih dari satu tahun karena diberhentikan sebagaimana dalam
pasal 54, bupati/walikota mengangkat Pegawai Negeri Sipil dari pemerintah daerah kabupaten/kota sebagai
pejabat kepala Desa sampai terpilihnya kepala Desa yang baru. Dalam PP dimungkinkan PJ kepala Desa
diangkat dari kalangan PNS. Hal ini tidak relevan, sebaiknya tokoh masyarakat atau salah seorang
perangkat desa bukan PNS boleh sebagai PJ kepala Desa. Dilain pihak, Pemkab kemungkinan keberatan
jika harus menempatkan PNS sebagai PJ kepala Desa karena keterbatasan sumberdaya manusia baik dari
sisi kualitas maupun kuantitas.
Kedua, Musyawarah Desa sebagaimana dalam pasal 80 ayat (5), ketentuan lebih lanjut mengenai tata tertib
dan mekanisme pengambilan keputusan musyawarah Desa diatur dengan Peraturan Menteri. Hal ini perlu
dipertimbangkan lebih lanjut, mestinya musyawarah desa tidak perlu diatur sampai detail. Pengaturan
musyawarah desa sebaiknya hanya pada hal-hal tehnis saja, tidak sampai mengatur hal subtansi karena
musyawarah Desa merupakan representasi demokrasi lokal yang harus dihormati dan diakui. Hampir semua
desa mempunyai kearifan lokal yang mampu mengatur desanya sendiri.
Ketiga, pembatalan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa. Dalam pasal 87 disebutkan bahwa
Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau
ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dibatalkan oleh bupati/walikota.
Kedudukan peraturan Desa dengan peraturan di atasnya masih dapat dikatakan lemah. Dari pengalaman
yang ada, banyak Raperdes yang dibatalkan oleh Pemkab karena tidak sesuai dengan peraturan perundang-
undangan diatasnya. Dari sisi desa, Raperdes yang tidak disetujui Pemkab setelah dikonsultasikan sangat
menyulitkan pelaksanaan karena penyusunan Raperdes memakan waktu dan pada dasarnya sudah disetujui
warga masyarakat melalui musyawarah Desa dengan Badan Permusyawaratan Desa. Sebaiknya, kedepan
pemerintah daerah dapat menjembatani agar proses penyusunan Perdes berjalan lancar, memastikan
sinkronisasi Perdes dengan peraturan di tingkat daerah dan nasional sehingga desa tidak dirugikan.
Keempat, tentang pelaksanaan pembangunan desa. Dalam pasal 122 PP 43/2014 dijelaskan
bahwa pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota menyelenggarakan
program sektoral dan program daerah yang masuk ke desa. Pasal ini tidak menganut asas subsidiaritas di
mana urusan skala desa diselesaikan oleh desa, tidak melibatkan pemerintahan supra desa.
Kelima, tentang pemberdayaan masyarakat dan pendampingan masyarakat Desa. Pasal 126 ayat(2),
pemberdayaan masyarakat Desa dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah
kabupaten/kota, Pemerintah Desa dan pihak ketiga. Ayat ini bisa dimaknai sebagai intervensi pemerintah
terhadap kedaulatan desa. Sementara untuk tenaga pendamping (pasal 129) harus memiliki sertifikasi
kompetensi dan kualifikasi pendampingan di bidang ekonomi, social, budaya dan/atau teknik, perlu
dipertimbangkan. Faktanya untuk orang-orang desa sulit mempunyai sertifikasi. Kemungkinan hanya
fasilitator PNPM yang telah mempunyai sertifikasi, sehingga menutup peluang orang-orang lokal
desa. Seharusnya tenaga pendamping perlu mengedepankan mobilisasi masyarakat desa sendiri dan tenaga
pendamping tidak dibatasi syarat administrasi tetapi disesuaikan dengan kebutuhan desa dan tidak harus
mempunyai sertifikasi. Kedepan, desa melalui Perdes bisa mengatur apakah desa membutuhkan
pendamping , desa menolak pendamping, juga jangka waktu pendamping.
Keenam, khusus dalam PP 60/2014, Bab V tentang penggunaan Dana Desa. Pasal 20 dan 21kontradiktif
karena menteri yang menangani Desa menetapkan prioritas penggunaan DanaDesa (pasal 21) sementara
pasal 20 mengemukakan penggunaan dana desa mengacu pada RPJM Desa dan RKP Desa. Dari pasal ini
menunjukkan pemerintah supra desa masih meng-intervensi desa, padahal desa sudah memiliki kewenangan
skala lokal yang dapat dikelolanya.Mestinya program yang direncanakan dan tertuang dalam RPJM Desa
sudah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan desa. Kedepan, Desa perlu melakukan penguatan kapasitas
desa dalam mengelola dana desa secara mandiri agar pemerintah supra desa tidak meng-intervensi
penggunaan dana dan jenis program yang dilaksanakan di desa
Ketujuh, tentang pelaporan Dana Desa, pasal 25 ayat (2), dijelaskan bahwa dalam hal bupati/walikota tidak
atau terlambat menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat (3), Menteri dapat
menunda penyaluran Dana Desa sampai dengan disampaikannya laporan konsolidasi realisasi penyaluran
dan penggunaan Dana Desa tahun anggaran sebelumnya. Pasal ini mengandung konsekwensi Dana Desa
akan tertunda pencairannya jika bupati/walikota terlambat melaporkan. Dikhawatirkan bila semua Desa sudah
melaporkan sesuai waktu yang ditentukan sementara kabupaten terlambat melaporkan, Desa yang terkena
imbasnya. Untuk itu perlu diusulkan mekanisme transparansi proses pelaporan Dana Desa ke pusat, sehingga
Desa bisa mendorong pemerintah kabupaten untuk melakukan pelaporan sesuai dengan waktu yang
ditentukan.
Saran

Kehadiran UU Desa ini memperkuat desa setidaknya dilihat dari beberapa hal. Dari sisi politik, desa
menjadi arena bagi warga untuk menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan dan
kemasyarakatan. Dari sisi kewenangan, desa mempunyai kewenangan asal usul, desa berwenang mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berskala lokal yang ditetapkan menurut peraturan
perundanga-undangan yang berlaku. Dari sisi pembangunan, desa merupakan subyek pemberi manfaat yang
mampu menjalankan emansipasi lokal dalam pelayanan public dan pengembangan aset lokal. Dari sisi
keuangan, Negara melakukan redistribusi anggaran desa yang bersumber dari APBN dan APBD untuk
membiayai kewenangan desa dengan jumlah anggaran yang signifikan.

Desa yang maju, kuat, mandiri, demokratis dan sejahtera merupakan tujuan desa baru yang diamanatkan oleh
UU Desa sebagai perubahan desa yang berkelanjutan dimasa yang akan datang. Dengan pemanfaatan
sumber penganggaran yang relative besar , peluang desa semakin terbuka dalam menjalankan program
pembangunan dan menjadi lebih berdaya dalam menjalankan demokrasi desa, kewenangan desa,
pengelolaan dan penatausahaan aset desa, pengembangan ekonomi local. Tantangan terberatnya adalah
mengelola anggaran untuk kesejahteraan warganya dengan profesionan, akuntabel, dan sesuai dengan
kerangka regulasi yang ada. Dengan dana yang besar dan pengelolaan anggaran yang tepat akan membawa
kesejahteraan bagi warganya.

Daftar Pustaka :

https://suryaden.com/forum-desa-nusantara/pp-43-tahun-2014-tentang-peraturan-pelaksanaan-uu-desa

http://suciohsuci.blogspot.co.id/2015/02/menyongsong-implementasi-uu-desa.html

http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt541ab578bcf15/node/lt511c7d59a1c31/pp-no-60-tahun-2014-dana-desa-
yang-bersumber-dari-anggaran-pendapatan-dan-belanja-negara

http://rajawaligarudapancasila.blogspot.co.id/2014/03/memahami-subtansi-uu-nomor-6-tahun-2014.html

Beri Nilai