Anda di halaman 1dari 46

Telah disetujui preseptor klinik Telah disetujui preseptor akademik

Hari/tanggal: Hari/tanggal :
Tanda Tangan: Tanda tangan:

-------------------------------------- -----------------------------------------
STASE KEPERAWATAN DASAR PROFESI (KDP)
PROGRAM STUDI NERS (PROFESI)

Asuhan keperawatan pada kalien dengan demam thypoid


Di ruang kelas I RSUD Kepahiang tahun 2017

LAPORAN PENDAHULUAN

Oleh:
JOHAN WAHYUDI
NPM : 172426111NS

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2017
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA KLIEN DENGAN
THYPOID DI RUANG KELAS III RSUD KEPAHIANG
OLEH : JOHAN WAHYUDI

1. Kasus.

Demam thypoid

2. Proses terjadinya masalah

A. Pengertian

Demam thypoid (enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang

biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih

dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran

(Nursalam dkk., 2005, hal 152).

Demam thypoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus

dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada

saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (Rampengan,

2007).

Demam thypoid adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh

infeksi salmonella typhi (Ovedoff, 2002: 514).

Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demam

thypoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella

typhi, dan biasanya mengenai saluran pencernaan terutama usus halus

dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada

saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

B. Etiologi
Penyebab utama demam thypoid ini adalah bakteri salmonella

thypi. Bakteri salmonella typhi adalah berupa basil gram negatif, bergerak

dengan rambut getar, tidak berspora, dan mempunyai tiga macam antigen

yaitu antigen O (somatik yang terdiri atas zat kompleks lipopolisakarida),

antigen H (flegella), dan antigen VI. Dalam serum penderita, terdapat zat

(aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada

suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15-41C (optimum 37C)

dan pH pertumbuhan 6-8. Faktor pencetus lainnya adalah lingkungan,

sistem imun yang rendah, feses, urin, makanan/minuman yang

terkontaminasi, fomitus, dan lain sebagainya.

C. Manifestasi klinis

Menurut ngastiyah (2005: 237), demam thypoid pada anak

biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa tunas 10-20 hari, yang

tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika

melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin

ditemukan gejala prodromal, perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri, nyeri

kepala, pusing dan tidak bersemangat, kemudian menyusul gejala klinis

yang biasanya ditemukan, yaitu:

1. Demam

Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu bersifat febris

remitten dan suhu tidak tinggi sekali. Minggu pertama, suhu tubuh

berangsur-angsur naik setiap hari, menurun pada pagi hari dan meningkat
lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu ketiga suhu berangsur turun

dan normal kembali.

2. Gangguan pada saluran pencernaan

Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan

pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue),

ujung dan tepinya kemerahan. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan

perut kembung. Hati dan limpa membesar disertai nyeri dan peradangan.

3. Gangguan kesadaran

Umumnya kesadaran pasien menurun, yaitu apatis sampai

samnolen. Jarang terjadi supor, koma atau gelisah (kecuali penyakit berat

dan terlambat mendapatkan pengobatan). Gejala lain yang juga dapat

ditemukan pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan reseol,

yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit,

yang ditemukan pada minggu pertama demam, kadang-kadang ditemukan

pula trakikardi dan epistaksis.

4. Relaps

Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit demam

thypoid, akan tetap berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada

minggu kedua setelah suhu badan normal kembali, terjadinya sukar

diterangkan. Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam


organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat

anti.

D. Patofisiologi

1. Kuman masuk ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang

tercemar oleh salmonella (biasanya >10.000 basil kuman). Sebagian

kuman dapat dimusnahkan oleh asam hcl lambung dan sebagian lagi

masuk ke usus halus. Jika respon imunitas humoral mukosa (igA) usus

kurang baik, maka basil salmonella akan menembus sel-sel epitel (sel

m) dan selanjutnya menuju lamina propia dan berkembang biak di

jaringan limfoid plak peyeri di ileum distal dan kelejar getah bening

mesenterika.

2. Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesenterika

mengalami hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran darah

(bakterimia) melalui ductus thoracicus dan menyebar ke seluruh organ

retikulo endotalial tubuh, terutama hati, sumsum tulang, dan limfa

melalui sirkulasi portar dari usus.

3. Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltrasi limfosit, zat plasma,

dan sel mononuclear. Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran

limfa (splenomegali). Di organ ini, kuman salmonlla thypi berkembang

biak dan masuk sirkulasi darah lagi, sehingga mengakibatkan

bakterimia kedua yang disertai tanda dan gejala infeksi sistemik


(demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas

vaskuler, dan gangguan mental koagulasi).

4. Pendarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah di

sekitar plak peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia.

Proses patologis ini dapat berlangsung hingga ke lapisan otot, serosa

usus, dan mengakibatkan perforasi usus. Endotoksin basil menempel di

reseptor sel endotel kapiler dan dapat mengakibatkan komplikasi,

seperti gangguan neuropsikiatrik kardiovaskuler, pernapasan, dan

gangguan organ lainnya. Pada minggu pertama timbulnya penyakit,

terjadi hyperplasia plak peyeri. Disusul kemudian, terjadi nekrosis pada

minggu kedua dan ulserasi plak peyeri pada minggu ketiga.

Selanjutnya, dalam minggu ke empat akan terjadi proses penyembuhan

ulkus dengan meninggalkan sikatriks (jaringan parut).

Sedangkan penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui

berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan),

Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui

Feses.
E. Komplikasi

1. Komplikasi intestinal

a. Perdarahan usus

b. Perporasi usus

c. Ileus paralitik

2. Komplikasi extra intestinal

a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis),

miokarditis, trombosis, tromboplebitis.

b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma

uremia hemolitik.

c. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.

d. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis,

kolesistitis.

e. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan

perinepritis.

f. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis

dan arthritis.

g. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis,

polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

F. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah

pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :


1. Pemeriksaan leukosit

Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid

terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya

leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam

typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-

batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak

ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu, pemeriksaan

jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.

2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali

meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya

typhoid.

3. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid,

tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan

terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah

tergantung dari beberapa faktor :

1. Teknik pemeriksaan laboratorium

Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium

yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media

biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik

adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia

berlangsung.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit

Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada

minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu

berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif

kembali.

3. Vaksinasi di masa lampau

Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat

menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat

menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.

4. Pengobatan dengan obat anti mikroba

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti

mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan

hasil biakan mungkin negatif.

4. Uji widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan

antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi

terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang

yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal

adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di

laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan

adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid.

Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau

aglutinin yaitu :
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal

dari tubuh kuman).

b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal

dari flagel kuman).

c. Aglutinin VI, yang dibuat karena rangsangan antigen VI (berasal

dari simpai kuman)

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang

ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar

klien menderita typhoid.

G. Terapi dan pengobatan

1. Perawatan

a. Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari

untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.

b. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya

tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.

2. Diet

a. Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein

b. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.


c. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi

tim.

d. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam

selama 7 hari.

3. Obat-obatan

Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit thypoid.

Waktu penyembuhan bisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.

Antibiotika, seperti ampicillin, kloramfenikol, trimethoprim

sulfamethoxazole, dan ciproloxacin sering digunakan untuk merawat

demam tipoid di negara-negara barat. Obat-obat antibiotik adalah

a. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, terbagi

dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14 hari.

b. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol,

diberi ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-

4 kali. Pemberian intravena saat belum dapat minum obat, selama

21 hari.

c. amoksisilin amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi

dalam 3-4 kali. Pemberian oral/intravena selama 21 hari.

d. kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi dalam

2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.

e. Pada kasus berat, dapat diberi ceftriakson dengan dosis 50 mg/kg

BB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg BB/hari, sekali

sehari, intravena, selama 5-7 hari.


f. Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka pilihan

antibiotika adalah meropenem, azithromisin dan fluoroquinolon.

Bila tak terawat, demam thypoid dapat berlangsung selama tiga

minggu sampai sebulan. Kematian terjadi antara 10% dan 30% dari

kasus yang tidak terawat. Vaksin untuk demam thypoid tersedia dan

dianjurkan untuk orang yang melakukan perjalanan ke wilayah

penyakit ini biasanya berjangkit (terutama di Asia, Afrika, dan

Amerika Latin).

Pengobatan penyulit tergantung macamnya. Untuk kasus berat dan

dengan manifestasi nerologik menonjol, diberi Deksametason dosis

tinggi dengan dosis awal 3 mg/kg BB, intravena perlahan (selama 30

menit). Kemudian disusul pemberian dengan dosis 1 mg/kg BB

dengan tenggang waktu 6 jam sampai 7 kali pemberian. Tatalaksana

bedah dilakukan pada kasus-kasus dengan penyulit perforasi usus.

H. Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

Menurut konsep teori, data yang lazim ditemukan pada penderita

typhoid adalah :

- Lidah kotor berselaput putih dengan ujung dan tepinya

hiperemis.

- Mulut dan selaput lendir kering dan pecah-pecah.

- Hati dan limpa membesar disertai nyeri.


- Mual dan muntah.

- Terjadi obstipasi namun mungkin tetap dan bisa juga terjadi

diare.

- Muntah dan nyeri perut.

- Gangguan kesadaran, apatis.

- Demam dan anorexia.

a. Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,

suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah

sakit, nomor register dan diagnosa medik.

b. Keluhan utama

Keluhan utama demam thypoid adalah panas atau demam yang

tidak turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah,

anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.

c. Riwayat penyakit sekarang

Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke

dalam tubuh.

d. Riwayat penyakit dahulu

Apakah sebelumnya pernah sakit demam thypoid.


e. Riwayat penyakit keluarga

Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.

f. Pola-pola fungsi kesehatan

1) Pola nutrisi dan metabolisme

Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan

muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak

makan sama sekali.

2) Pola eliminasi

Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring

lama. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan,

hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan

demam thypoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat

keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat

meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.

3) Pola aktivitas dan latihan

Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar

tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.

4) Pola tidur dan istirahat

Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu

tubuh.

5) Pola persepsi dan konsep diri


Biasanya terjadi kecemasan pada orang tua terhadap keadaan

penyakit anaknya.

6) Pola sensori dan kognitif

Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan

umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu

waham pada klien.

7) Pola hubungan dan peran

Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat

di rumah sakit dan klien harus bed rest total.

8) Pola penanggulangan stress

Biasanya orang tua akan nampak cemas

g. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum

Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 410C,

muka kemerahan.

2) Tingkat kesadaran

Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).

3) Sistem respirasi

Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam

dengan gambaran seperti bronchitis.

4) Sistem kardiovaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin

rendah.

5) Sistem integumen

Kulit kering, turgor kulit menurun, muka tampak pucat, rambut

agak kusam

6) Sistem gastrointestinal

Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas),

mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa

tidak enak, peristaltik usus meningkat.

7) Sistem muskuloskeletal

Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.

8) Sistem abdomen

Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan

konsistensi lunak serta nyeri tekan pada abdomen. Pada perkusi

didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus

meningkat.

3. Diagnosa keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul :

a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses peradangan

usus halus

b. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu

tubuh, intake cairan peroral yang kurang (mual, muntah)


c. Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan proses peradangan

pada usus halus

d. Perubahan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan tubuh berhubungan

dengan mual, muntah, anoreksia

e. Intoleransi aktivitas terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-

hari dalam hal nutrisi, eliminasi, personal hygiene berhubungan

dengan kelemahan dan imobilisasi

f. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses

peradangan.

g. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, demam

h. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan

suplai oksigen dengan kebutuhan, dispnea.

i. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan

kesadaran

j. Kelemahan berhubungan dengan intake inadekuat, tirah baring

k. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan

tentang penyakit dan kondisi anaknya.


DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddart(2002)Buku Ajar Ilmu Keperawatan Medikal Bedah,Edisi 8.

Jakarta : EGC

Doenges,Marylin,E(2000)Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Herdman t. Heather(2010) Diagnosis keperawatan. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arief, dkk. (2000) Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid I. Jakarta : Media

Aesculapius FKUI.

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Suriadi & Rita Yuliani (2001) Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan

pada Anak. Edisi I. Jakarta : CV Sagung Seto

Wong, dona l(2008) Buku ajar keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC


1. Analisa Data

NO DATA AKTUAL ETIOLOGI DIAGNOSA


KEPERAWATAN

1 Ds : Makanan yang terkontaminasi salmonela Hipertermi


typosa a,b,c masuk ke dalam usus halus dan berhubungen
- ibu klien mengatakan badan klien panas terjadi proses inflamasi dengan adanya
- Ibu klien mengatakan, panas badan klien proses inflamasi
Masuk ke dalam aliran darah
dirasakan terus-menerus setiap hari dan akibat invasi ke
semakin meningkat pada saat malam hari. Bakteri melepas endotoxin dalam usus halus
Panas badan klien menurun pada siang hari
namun tidak mencapai suhu normal. Merangsang sintesa dalam pelepasan zat
pirogen oleh leukosit

Zat pirogen beredar dalam darah


Do :
Impuls disampaikan hypothalamus bagian
- Suhu tubuh 39,2oC thermoregulator melalui
ductus thoracicus
- Frekuensi nadi 94 x/menit

- Mukosa bibir kering


Hipertermi
- lidah putih, tepi lidah tampak kemerahan
(Hiperemi), terdapat sedikit tremor pada saat
lidah dijulurkan.
2 Ds : konstipasi
Proses infeksi dalam usus halus berhubungan
- Ibu klien mengatakan, klien sudah 5 hari dengan
belum BAB Suhu tubuh meningkat
peningkatan,
Metabolisme tubuh meningkat reabsopsi cairan di
Do : usus besar akibat
Peningkatan reabsorpsi cairan pada usus halus, pengingkatan
- Klien bedrest feaces mengeras, bedrest, penurunan metabolisme tubuh
metabolisme usus
- Suhu tubuh 39,2OC
Feaces mengeras
- Bising usus 3x/mnt
Konstipasi
3 Ds : Reaksi peradangan pada usus halus Nyeri akut pada
daerah abdomen
- Klien mengeluh nyeri pada daerah perut kerusakan mukosa usus halus berhubungan
kuadran 1 (dari 9 kuadran abdomen). dengan kerusakan
- Klien mengeluh nyerinya dirasakan melilit merangsang reseptor nyeri mukosa usus halus
seperti diremas-remas dengan skala nyeri 2 akibat reaksi
(dari rentang 1-5). mengeluarkan neurotrasmiter, bradikinin, serotinin
dan histamin peradangan

Do : di sampaikan ke ssp

- Terdapat nyeri tekan pada kuadran 1 area dipersepsikan nyeri


abdomen (dari 9 kuadan).
- Klien tampak meringis pada saat perut
ditekan.

4
Ds :

- Klien mengeluh badanya lemas Intake nutrisi kurang


Do :
Metabolisme glukosa terganggu
Gangguan
- Klien tampak lemah pemenuhan ADL
Pembentukan ATP dan ADP terganggu
- Klien Bedrest berhubungan
Energi berkurang dan terjadi kelemahan otot dengan kelemahan
- Aktivitas dibantu otot
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NAMA KLIEN :
RUANG RAWAT : kelas 1/kelas II/ kelas internis III/ bedah/neonatal, ICU/kebidanan
DIAGNOSA MEDIS :
1 Hipertermi berhubungen Tidak terjadi Setelah dilakukan asuhan 1. Observasi tanda-tanda 1. untuk mengetahui perkembangan
dengan adanya proses peningkatan suhu keperawatan selama 5x24 jam, vital klien sehingga dapat
inflamasi akibat invasi ke tubuh diharapkan suhu tubuh kembali memberikan Asuhan
dalam usus halus ditandai normal dengan kriteria : Keperawatan yang sesuai
dengan : - Panas badan hilang
Ds : - Mukosa bibir lembab
- ibu klien mengatakan badan - Thypoid tongue (-), suhu 2. Berikan kompres hangat 2. Kompres hangat dapat
klien panas normal 36-37 mempercepat penurunan suhu
- Ibu klien mengatakan, panas - tubuh
badan klien dirasakan terus-
menerus setiap hari dan
semakin meningkat pada saat 3. Anjurkan klien banyak 3. Dapat mengganti cairan yang
malam hari. Panas badan min um hilang
klien menurun pada siang hari
namun tidak mencapai suhu 4. Pakaian tipis dapat menguap
normal. 4. Anjurkan klien pada badan tidak panas
memakai pakaian tipis
Do :
- Suhu tubuh 39,2oC
- Frekuensi nadi 94 x/menit
- Mukosa bibir kering
- lidah putih, tepi lidah
tampak kemerahan
(Hiperemi), terdapat sedikit
tremor pada saat lidah
dijulurkan.
CATATAN PERKEMBANGAN

NAMA KLIEN : ny.A


RUANG RAWAT : kelas 1
DIAGNOSA MEDIS : demam thypoid

HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI


28/11/2017 Hipertermi berhubungan dengan JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
adanya proses inflamasi akibat invasi 1. Observasi ttv S. Pasien mengatakan badan nya panas
bakteri ke usus halus R. TD 110/70
N ; 90X MNT O.
T 39 0 C Badan pasien terasa panas
T 39 0 c
JAM 14.30 TD 110/70
2. Menganjurkan keluarga untuk kompres hangat Infus terpasang RL 20 gtt
JAM 15.00
3. Menganjurkan pasien untuk banyak minum
A. Masalah belum teratasi
JAM 15.30 P. intervensi dilanjutkan
4. Menganjurkan pasien untuk memakai pakaian yang
tipis
CATATAN PERKEMBANGAN

NAMA KLIEN : ny.A


RUANG RAWAT : kelas 1
DIAGNOSA MEDIS : demam thypoid

HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI


29/11/2017 Hipertermi berhubungan dengan JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
adanya proses inflamasi akibat invasi 1.Observasi ttv S. Pasien mengatakan badan nya tdk panas lagi
bakteri ke usus halus R. TD 110/70
N ; 90X MNT O.
T 38 0 C Badan pasien terasa hangat
T 38 0 c
JAM 14.30 TD 110/70
2. Menganjurkan keluarga untuk kompres hangat Infus terpasang RL 20 gtt
JAM 15.00
3. Menganjurkan pasien untuk banyak minum
B. Masalah teratasi
JAM 15.30 P. intervensi dilanjutkan untuk observasi
4. Menganjurkan pasien untuk memakai pakaian yang
tipis

Ttd perawat
CATATAN PERKEMBANGAN

NAMA KLIEN : ny.A


RUANG RAWAT : kelas 1
DIAGNOSA MEDIS : demam thypoid

HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI


30/11/2017 Hipertermi berhubungan dengan JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
adanya proses inflamasi akibat invasi 1. Observasi ttv S. Pasien mengatakan badan nya tdk panas lagi
bakteri ke usus halus R. TD 110/70
N ; 90X MNT O.
T 38 0 C Badan pasien terasa hangat
T 38 0 c
JAM 14.30 TD 110/70
2. Menganjurkan keluarga untuk kompres hangat Infus di off
JAM 15.00
3. Menganjurkan pasien untuk banyak minum
C. Masalah teratasi
JAM 15.30 P. intervensi dilanjutkan dirumah, pasien persiapa
4. Menganjurkan pasien untuk memakai pakaian yang pulang
tipis
CATATAN PERKEMBANGAN

NAMA KLIEN : ny.A


RUANG RAWAT : kelas III
DIAGNOSA MEDIS : demam thypoid

HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI


30/11/2017 Nyeri akut pada daerah abdomen JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
berhubunga dengan kerusakan 1. Mengkaji skala nyeri S. Pasien mengatakan perut nya tidak sakit lagi
mukosa usus halus akibat reaksi Skala nyeri 4
peradangan. O.
JAM 14.30 Badan pasien terasa hangat
2. Memposisikan pasien senyaman mungkin T 38 0 c
JAM 15.00 TD 110/70
3. Mengajarkan tekhnik nafas dalam Infus di off

JAM 15.30 D. Masalah teratasi


4. Mengajarkan pasien tekhnik relaksasi visualisasi P. intervensi dilanjutkan dirumah, pasien persiapa
dan aktivitas hiburan yang dapat mengalihkan pulang
perhatian dari rasa sakit

5. Menyiapkan obat penghilang rasa sakit dari


dokter

Ketorolac inj 1 ampul


HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI
28/12/2017 Nyeri akut pada daerah abdomen JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
berhubunga dengan kerusakan 1. Mengkaji skala nyeri S. Pasien mengatakan perut nya tidak sakit lagi
mukosa usus halus akibat reaksi Skala nyeri 4
peradangan. O.
JAM 14.30 Badan pasien terasa hangat
2. Memposisikan pasien senyaman mungkin T 39 0 c
JAM 15.00 TD 110/70
3. Mengajarkan tekhnik nafas dalam Infus terpasang RL 20 gtt
Injeksi ketorolac 1 ampul

JAM 15.30
4. Mengajarkan pasien tekhnik relaksasi visualisasi A. Masalah teratasi
dan aktivitas hiburan yang dapat mengalihkan P. intervensi dilanjutkan
perhatian dari rasa sakit

5. Menyiapkan obat penghilang rasa sakit dari


dokter

6. Ketorolac inj 1 ampul


HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI
29/12/2017 Nyeri akut pada daerah abdomen JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
berhubunga dengan kerusakan 7. Mengkaji skala nyeri S. Pasien mengatakan perut nya tidak sakit lagi
mukosa usus halus akibat reaksi Skala nyeri 4
peradangan. O.
JAM 14.30 Badan pasien terasa hangat
8. Memposisikan pasien senyaman mungkin T 39 0 c
JAM 15.00 TD 110/70
9. Mengajarkan tekhnik nafas dalam Infus terpasang RL 20 gtt
Injeksi ketorolac 1 ampul

JAM 15.30
10. Mengajarkan pasien tekhnik relaksasi visualisasi B. Masalah teratasi
dan aktivitas hiburan yang dapat mengalihkan P. intervensi dilanjutkan
perhatian dari rasa sakit

11. Menyiapkan obat penghilang rasa sakit dari


dokter

12. Ketorolac inj 1 ampul


HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI
28/12/2017 Gangguan pemunahan ADL JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
berhubungan dengan kelemahan otot . 1. Mengkaji tingkat intoleransi klien. S. Pasien mengatakan badan nya terasa lemas

JAM 14.30 O.
2. Menganjirkan keluarga untuk membantu Ku lemah
memenuhi aktivitas sehari - hari T 39 0 c
JAM 15.00 TD 110/70
3. Tingkat kan kemandirian klien yang dapat di Infus terpasang RL 20 gtt
toleransi Drip neurobion 1 ampul/24 jam

A. Masalah belum teratasi


P. intervensi dilanjutkan
HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI
29/12/2017 Gangguan pemunahan ADL JAM : 14.00 JAM : ............. WIB
berhubungan dengan kelemahan otot . 4. Mengkaji tingkat intoleransi klien. S. Pasien mengatakan badan nya terasa lemas

JAM 14.30 O.
5. Menganjirkan keluarga untuk membantu Ku lemah
memenuhi aktivitas sehari - hari T 39 0 c
JAM 15.00 TD 110/70
6. Tingkat kan kemandirian klien yang dapat di Infus terpasang RL 20 gtt
toleransi Drip neurobion 1 ampul/24 jam

B. Masalah belum teratasi


P. intervensi dilanjutkan
HARI/TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI
30/12/2017 Gangguan pemunahan ADL JAM : 14.00 JAM : 19.00 WIB
berhubungan dengan kelemahan otot . 7. Mengkaji tingkat intoleransi klien. S. Pasien mengatakan badan nya tidak lemas lagi

JAM 14.30 O.
8. Menganjirkan keluarga untuk membantu Ku lemah
memenuhi aktivitas sehari - hari T 38 0 c
JAM 15.00 TD 110/70
9. Tingkat kan kemandirian klien yang dapat di Infus di off
toleransi
C. Masalah teratasi
P. intervensi dihentikan pasien persiapan pulang

Ttd perawat
Ttd perawat

Anda mungkin juga menyukai