Anda di halaman 1dari 114
PEMERINTAH KOTA MAKASSAR 2014
PEMERINTAH KOTA MAKASSAR
2014
PEMERINTAH KOTA MAKASSAR 2014 difasilitasi oleh : PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NO 48 TAHUN 2014 RENCANA KONTIJENSI

difasilitasi oleh :

PEMERINTAH KOTA MAKASSAR 2014 difasilitasi oleh : PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NO 48 TAHUN 2014 RENCANA KONTIJENSI
PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NO 48 TAHUN 2014
PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NO 48 TAHUN 2014

RENCANA KONTIJENSI BANJIR

R

K O T A

M

A

K

A

S

S

A

TAHUN 2014 RENCANA KONTIJENSI BANJIR R K O T A M A K A S S
BPBD
BPBD

PEMERINTAH KOTA MAKASSAR

BADANPENANGGULANGANBENCANADAERAH

Jl. Jend. Ahmad Yani No. 2 No. Telp/Fax0411 3633797 Kode Pos 9011 Makassar - Sulawesi Selatan

Draft-0
Draft-0
Draft-0

RENCANA KO NTINJENSI BENCANA BANJIR KOTA MAKASSAR

Draft-0 RENCANA KO NTINJENSI BENCANA BANJIR KOTA MAKASSAR PEMERIN TAH DAERAH KOTA MAKASSA R BADAN PEN

PEMERIN TAH DAERAH KOTA MAKASSA R BADAN PEN ANGGULANGAN BENCANA DAE RAH ( BPBD) KOTA MAKASSAR

Kerja sama dengan :

Maka ssar, Maret 2014 “ Mewuju dkan Kota Makassar Tangguh Terh Bencana Menuju Kota Dunia
Maka
ssar, Maret 2014
“ Mewuju
dkan Kota Makassar Tangguh Terh
Bencana Menuju Kota Dunia ”.
adap

Kata Pengantar

Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa penyusunan rencana Kontijensi Banjir Kota Makassar telah disusun walapun tidak sesuai jadwal rencana sebelumnya, namun pelibatan masyarakat dan stakeholder dalam penyusunan dokumen ini cukup memberi sumbangsi dalam tersusunya dokumen ini. Penyusunan Dokumen Rencana Kontijensi Banjir Kota Makassar telah dilaksanakan sejak Mei 2013 yang terdiri dari beberapa tahap, diawali dengan kegiatan sosialisasi untuk membuat komitmen bersama antar sesama sektor pemerintahan di Kota Makassar. Rencana tersebut mendapatkan dukungan dari Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan BPBD Kota Makassar. Tahapan peyusuan RENKON banjir Kota Makasar diantaranya, tahapan sosialsasi, pengumpulan data hazard dan eksposer, pelatihan dan lokakarya, perumusan draf 0, surey lapangan dan update data, lokakara penyusunan dokumen draf-1, konsultasi public, revisi dokumen final, dan penetapan regulasi daerah. Penyusunan rencana kontijensi banjir Kota Makassar melibatkan berbagai stakeholder sepert BPBD Kota Makassar, BPBD Prov. Sulawesi Selatan, Kodim, Dinas Pemadam Kebakaran, Bappeda, Basarnas, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas PU, PMI Makassar, UNHAS, Kepolisian, SAR, KSR, Akademisi dan sebagainya. kontijensi banjir menggunakan skenario Banjir yang terjadi pada awal tahun 2013 yang melanda sebanyak 24 kelurahan di 6 kecamatan dan luas wilayah mencapai 2761,84 Ha. Jumlah penduduk yang terdampak banjir mencapai 101.972 jiwa, jumlah jiwa paling banyak terletak di Kelurahan Kassi-kassi sebesar 10.961 jiwa, Kelurahan Panaikang sebesar 9.651 jiwa, Kelurahan Karunrung sebesar 9.532 jiwa, dan Kelurahan Tamalanrea Jaya sebesar 8.735 jiwa. Penduduk yang melakukan evakuasi sebanyak 1.012 sebanyak 26% diantaranya kategori umur muda, 66% jiwa umur dewasa dan 8 % kategori umur lansia. Kami berharap dengan dukungan saran dan kritikan yang bersifat membangun terhadap segala proses dan isi di dalam dokumen ini dapat terakomodir, sehingga dapat memberi manfaat langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat di kota Makassar dan sekitarnya.

Makassar, Maret 2014

Tim Penyusun

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

i

Sambutan Walikota Makassar

Pertama-tama marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan taufik Nya sehingga kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk melaksanakan segala rangkaian penyusunan dokumen ini hingga selesai. Kegiatan ini menjadi sangat sangat tepat dan strategis karena melihat musibah bencana banjir kurung waktu terakhir ini utamanya pada awal tahun 2013 ini terjadi begitu massif dan menyebabkan kerugian harta benda dan kerusakan sarana dan prasarana. Pada kesempatan ini saya ingin mengapresiasi atensi dari AIFDR (Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction) yang melalui programnya telah memberi perhatian dengan mengalokasikan kegiatan Fasilitasi Penyusunan Rencana Kontijensi Banjir di Kota Makassar Dalam Undang-undang Nomor. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mempunyai prinsip dasar dalam upaya penanggulan bencana di Indonesia adalah sebagai berikut: cepat dan tepat, sistem prioritas, kordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna, transparansi dan akuntabilitas, membina kemitraan, pemberdayaan masyarakat, non diskriminatif dan non politisi. Perencanaan Kontinjensi memang sangat diperlukan sebagai langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana/ kedaruratan, termasuk kesiapsiagaan masyarakat. Dengan upaya peningkatan kewaspadaan melalui perencanaan kontinjensi, kita dapat mengurangi ketidak-pastian melalui pengembangan skenario dan asumsi-asumsi proyeksi kebutuhan untuk tanggap darurat. Dengan kesadaran akan tingginya potensi Banjir di Kota Makassar, mengingat karaktersitik tofografi wilayah Makassar yang relative datar, serta letaknya yang dilalui oleh dua DAS yaitu DAS Tallo dan DAS Jeneberang. Demikian halnya deforestasi di hulu Bawakaraeng dan Lompobattang sangat rawan menyebabkan longsor tebing yang dapat menjadi pemicu terjadinya banjir bandang di hilir. Olehnya itu kegiatan ini menjadi sangat penting dan strategis bagi ketangguhan Kota Makassar menghadapi bencana ke depan. dan sekali lagi terima kasih kepada pihak AIFDR (Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction) atas terlaksana nya kegiatan ini. Akhirnya saya harapkan dengan tersusunnya draft dokumen rencana kontijensi banjir Kota Makassar ; Adanya rumusan RTL yang disepakati untuk pelaksanaan tahapan proses selanjutnya dapat tercapai Dengan memohon Ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Semoga Dokumen Rencana Kontigensi Banjir Kota Makassar bermanfaat luas di bagi masyarakat kota ini

Banjir Kota Makassar bermanfaat luas di bagi masyarakat kota ini Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

ii

Sambutan Kepala BPBD Kota Makassar

Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada fasilitator dari Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dalam memfasilitasi terlaksananya penyusunan rencana kontijensi banjir Kota Makassar untuk untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama di antara para pemangku kepentingan yang akan terlibat. Dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa Penanggulangan Bencana dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, risiko dan dampak bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Kota Makassar diarahkan untuk meningkatkan kebersamaan yang sinergi antara pemerintah dan stakeholders termasuk lembaga-lembaga/organisasi kemasyarakatan dalam menghadapi ancaman bencana mulai dari tahapan pra bencana, saat tanggap darurat atau saat terjadi bencana hingga tahap pasca bencana dengan berbagai program dan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh. Masalah utama yang dihadapi baru-baru ini di Kota Makassar ini yaitu masalah banjir dengan genangan yang cukup lama. Di samping itu teridentifikasi pula masalah sistem drainase yang fungsi dan kapasitasnya menurun, meningkatnya beban drainase akibat alih fungsi lahan, instrusi air asin, gejala penurunan elevasi tanah, naiknya permukaan air laut sebagai dampak dari pemanasan global, dan kurangnya pengendalian dan pengawasan pada ruang kawasan resapan air dan sepanjang sempadan sungai. Berdasarkan data yang tercatat di BPBD Kota Makassar pada bulan Januari tahun 2013 bahwa kerugian bencana banjir di beberapa wiayah Kota Makassar diantaranya rumah terdampak sebanyak 10.240 Unit, Jumlah jiwa terdampak sebanyak 32.798 jiwa atau sebanyak 14.116 KK dan dampak kerugian lainnya serta meluasnya genangan yang mencapai 6 (enam) kecamatan. Ini menunjukkan bahwa tingginya resiko bencana banjir di Kota Makassar sehingga sangat dibutuhkan upaya-upaya untuk membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi jenis ancaman bencana banjir. Dengan demikian program ini kami harapkan mampu memfasilitasi tersusunnya Dokumen rencana kontijensi banjir Kota Makassar yang melibatkan secara bersama-sama oleh semua pihak (stakeholders) serta melakukan langkah strategis terutama sebelum dan sesudah terjadi bencana sehingga apa yang menjadi tanggungjawab dan wewenang kita dapat terlaksana dengan baik. Perencanaan Kontinjensi sangat diperlukan sebagai langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana atau kedaruratan, termasuk kesiapsiagaan masyarakat. Melalui upaya peningkatan kewaspadaan melalui perencanaan kontinjensi, kita dapat melakukan pengembangan skenario dan asumsi-asumsi proyeksi kebutuhan untuk tanggap darurat, tindakan teknis dan manajerial, dan sistem tanggapan dan pengerahan potensi, atau skenario penanggulangan secara lebih baik dalam situasi darurat atau kritis. Kami sangat berharap dengan terlaksananya sosilaisasi ini akan lebih meningkatkan koordinasi, keterpaduan serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam upaya mengurangi resiko bencana di Kota Makassar yang kita cintai ini.

Makassar, Juli 2014 Kalak BPBD Kota Makassar

Ir. Muhammad Ismounandar, M.Si Pangkat : Pembina Utama Muda Nip : 19631116 199103 1 002

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

iii

Defenisi Operasional

a. Bencana (disaster)

Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

b. Bahaya (hazard)

Suatu situasi, kondisi, atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.

c. Bahaya Berisiko Tinggi

Jenis ancaman/bahaya yang akan dijadikan dasar perencanaan kontinjensi yang dinilai melalui probabilitas (kemungkinan terjadinya bencana) dan dampak (kerusakan/kerugian yang timbul akibat bencana).

d. Kesiapsiagaan (preparedness)

Serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah-langkah secara berhasil-guna dan berdayaguna.

e. Kontinjensi (contingency)

Suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi mungkin juga tidak akan terjadi.

f. Perencanaan Kontinjensi (contingency planning)

Suatu proses perencanaan ke depan, dalam keadaan yang tidak menentu, dimana skenario dan tujuan disepakati, tindakan teknis dan manajerial ditetapkan, dan sistem tanggapan dan pengerahan potensi disetujui bersama untuk mencegah, atau menanggulangi secara lebih baik dalam situasi darurat atau kritis. Melalui perencanaan kontinjensi, akibat dari ketidak-pastian dapat diminimalisir melalui pengembangan skenario dan asumsi proyeksi kebutuhan untuk tanggap darurat.

g. Manajemen Kedaruratan (emergency management)

Seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan kedaruratan, pada menjelang, saat dan sesudah terjadi keadaan darurat, yang mencakup kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan darurat.

h. Skenario (scenario)

Membuat gambaran kejadian secara jelas dan rinci tentang bencana yang diperkirakan akan terjadi meliputi lokasi, waktu dan dampak bencana.

i. Penentuan Kejadian

Proses menentukan satu ancaman

dalam

perencanaan kontinjensi.

yang

akan dijadikan

dasar

j. Perencanaan Sektoral

Merencanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kebutuhan dan sumberdaya yang tersedia di setkor-sektor untuk tanggap darurat dengan mengacu pada standar minimum.

k. Standar Minimum (minimum standard)

Suatu penetapan tingkatan terendah yang harus dicapai pada masing- masing bidang/sektor dan berfungsi sebagai tolok ukur untuk perencanaan program, mengukur dampak program atau proses dan akuntabilitas.

l. Sinkronisasi/Harmonisasi

Proses mensinkronisasikan hasil perencanaan sektoral untuk memperoleh kesepakatan- kesepakatan melalui rapat koordinasi.

m. Formalisasi

Proses penetapan rencana kontinjensi yang disusun secara lintas sektor menjadi dokumen resmi yang disahkan/ditandangani oleh pejabat yang berwenang

n. Aktivasi

Mengaktifkan dokumen (rencana kontinjensi) sebagai pedoman/acuan dalam penanganan darurat.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

iv

o. Tanggap Darurat (emergency response)

Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.

p. Pemulihan Darurat (emergency recovery)

Proses pemulihan segera kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada kondisi semula dengan memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar.

q. Transisi (transition)

Tindakan yang harus dilakukan setelah rencana kontinjensi tersusun, baik terjadi bencana atau tidak terjadi bencana.

r. Re-entry

Kembali dari kondisi darurat kesiapsiagaan kepada kondisi normal dan memetik manfaat yang dapat diambil dari perencanaan kontinjensi.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

v

Daftar Isi

Kata Pengantar

ii

Sambutan Walikota Makassar

ii

Sambutan Kepala BPBD Kota Makassar

iv

Bab I. Pendahuluan

7

1.1. Latar Belakang

7

1.2. Pengertian Rencana Kontijensi

8

1.3. Tujuan

9

1.4. Ruang Lingkup

9

1.5. Dasar Hukum

9

1.6. Proses Penyusunan

10

1.7. Aktivasi Rencana Kontijensi

11

Bab II Gambaran Umum Kota Makassar

12

2.1. Profil Wilayah

12

2.2. Profil Kebencanaan

28

Bab III. Penilaian Ancaman dan Pengembangan Skenario

38

3.1. Penilaian Ancaman

38

3.2. Penentuan Kejadian

39

3.3. Pengembangan Skenario

39

Bab IV. Kebijakan dan Strategi

61

4.1. Kebijakan

61

4.2. Strateg

61

Bab V.Perencanaan Sektoral

64

5.1. Sektor Posko

71

5.2. Sektor Perencanaan

75

5.3. Sektor Penanganan Logistik

80

5.4. Sektor SAR dan Keamanan

83

5.5. Sektor Kesehatan

87

5.6. Sektor Sarana dan Prasarana

94

Bab VI. Pemantauan dan Rencana Tindak Lanjut

Bab VII. Penutup

Lampiran-Lampiran:

Lampiran 1. Daftar Lembaga / Organisasi / Instansi Lampiran 2. Database Sumberdaya Lampiran 3. Peta Proyeksi Wilayah Terdampak

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

vi

Bagian 1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Makassar adalah salah satu dari 24 wilayah Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Selatan, yang juga sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia danterbesar di Kawasan Timur Indonesia memiliki luas areal 175,79km 2 dengan jumlah penduduk 1.339.374 jiwa (BPS, 2012) sehingga kota ini sudah menjadikota Metropolitan. Sebagai pusat pelayanan di KTI, Kota Makassarberperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatanindustri, pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutanbarangdan penumpang baik darat, laut maupun udara dan pusatpelayanan pendidikan dan kesehatan. Secara geografis Kota Metropolitan Makassar terletak di pesisir pantai barat SulawesiSelatan pada koordinat 119°18'27,97" 119°32'31,03" Bujur Timur dan 5°00'30,18" -5°14'6,49" Lintang Selatan dengan luas wilayah 175.77 km2 dengan batas-batas sebagai berikut:

Sebelah utara: berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan Sebelah selatan: berbatasan dengan Kabupaten Gowa Sebelah timur: berbatasan dengan Kabupaten Maros Sebelah barat: berbatasan dengan Selat Makassar. Secara administrasi Kota Makassar terbagi atas 14 Kecamatan dan 142 Kelurahandengan 885 RW dan 4446 RTKetinggian Kota Makassar bervariasi antara 0 - 25 meter dari permukaan laut, dengansuhu udara antara 20° C sampai dengan 32° C. Kota Makssar diapit dua buah sungaiyaitu: Sungai Tallo yang bermuara disebelah utara kota dan Sungai Jeneberangbermuara pada bagian selatan kota. Bencana yang sering melanda wilayah Kota Makassar antara lain Banjir, Angin Puting Beliung/Angin Kencang dan Kebakaran Pemukiman. Bencana yang dominan adalah banjir. Banjir dengan skala besar terjadi pada awal tahun 2013 dimana melanda sebanyak 24 kelurahan di 6 kecamatan dan luas wilayah mencapai 2761,84 Ha. Jumlah penduduk Yong terdampak banjir mencapai 101.972 jiwa (dapat dilihat pada Tabel 13), jumlah jiwa paling banyak terletak di Kelurahan Kassi-kassi sebesar 10.961 jiwa, Kelurahan Panaikang sebesar 9.651 jiwa, Kelurahan Karunrung sebesar 9.532 jiwa, dan Kelurahan Tamalanrea Jaya sebesar 8.735 jiwa. Penduduk yang melakukan evakuasi sebanyak 1.012sebanyak 26% diantaranya kategori umur muda, 66% jiwa umur dewasa dan 8 % kategori umur lansia (tabel dan grafik gambar dapat dilihat pada Error! Reference source not found.).

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

7

Untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana banjir, maka pemerintah Kota Makassarmelalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar mengajak para pemangku kepentingan terkait penanggulangan bencana untuk menyusun dokumen rencana kontijensi banjir. Dokumen rencana kontijensi ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah Kota Makassar dan para pemangku kepentingan untuk menyelenggarakan kegiatan tanggap darurat secara efektif jika bencana banjir terjadi kembali.Dokumen rencana kontijensi ini memuat tentang kebijakan dan strategi serta langkah-langkah operasional dalam menghadapi situasi darurat banjir bagi para pemangku kepentingan. Dengan demikian pada saat situasi darurat, para pemangku kepentingan yang ada di Kota Makassar dapat mengetahui peran, tugas dan fungsi mereka masing- masing dalam melakukan kegiatan tanggap darurat sehingga penyelenggaraan kegiatan tanggap darurat akan lebih terpadu dan terkoordinir dengan baik serta mampu memberikan pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang terkena dampak sebagai perwujudan dari tanggungjawab pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat dari bencana.

1.2. Pengertian Rencana Kontijensi

Kontinjensi adalah suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi belum pastiterjadi. Rencana Kontinjensi adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontinjensi atau yang belum pasti tersebut. Suatu rencana kontinjensi mungkin tidak selalu pernah diaktifkan, jika keadaan yang diperkirakan tidak terjadi. Rencana kontinjensi lahir dari proses perencanaan kontinjensi yang melibatkan para pemangku kepentingan atau organisasi/lembaga yang bekerjasama secara berkelanjutan untuk merumuskan dan menyepakati tujuan-tujuan bersama, mendefinisikan tanggung jawab dan tindakan- tindakan yang harus diambil oleh masing-masing pihak pada saat bencana terjadi. Rencana kontijensi disusun dalam tingkat yang dibutuhkan. Perencanaan kontinjensi merupakan pra-syarat bagi tanggap darurat yang cepat dan efektif. Tanpa perencanaan kontinjensi sebelumnya, banyak waktu akan terbuang dalam beberapa hari pertama menanggapi keadaan darurat bencana. Perencanaan kontinjensi akan membangun kapasitas sebuah daerah dalam penanggulangan bencana. Rencana kontijensi harus dapat menjadi dasar rencana operasi pada saat tanggap darurat bencana.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

8

1.3.

Tujuan

Dokumen rencana kontijensi ini bertujuan untuk memberikan landasan operasional, strategi dan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan terkait dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat secara menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi; sehingga kebutuhan dasar masyarakat yang terkena dampak bencana dapat terpenuhi dengan baik.

1.4. Ruang Lingkup

Dokumen rencana kontijensi bencana banjir ini merupakan dokumen resmi pemerintah daerah Kota Makassar yang memuat kebijakan, strategi, manajemen, koordinasi dan perencanaan sektoral dalam menghadapi situasi darurat akibat bencana banjir dalam lingkup cakupan di wilayah Kota Makassar yang terdiri dari 6 kecamatan, 24 kelurahan.

1.5. Dasar Hukum

Dasar hukum penyusunan rencana kontijensi:

1. Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia;

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

4. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non pemerintah dalam Penanggulangan Bencana.

7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai.

8. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

9. Peraturan Kepala BNPB Nomor 3 Tahun 2010 tentang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana.

10. Peraturan Kepala BNPB Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana.

11. Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 15 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Makassar Tahun Anggaran 2008;

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

9

12.

Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Tugas dan Fungsi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar.

13. Peraturan Walikota Makassar Nomor 43 Tahun 2007 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008.

1.6. Proses Penyusunan Dokumen

Proses penyusunan rencana kontijensi ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Sosialisasi perencanaan kontijensi untuk penyamaan persepsi semua pemangku kepentingan terkait penanggulangan bencana tentang pentingnya rencana kontijensi,

2. Pengumpulan dan pemutahiran data yang dibutuhkan, termasuk data ancaman (hazard) dan keterpaparan (exposure),

3. Pelatihan dan lokakarya perencanaan kontijensi bagi parapihak yang akan terlibat dalam proses penyusunan dokumen rencana kontijensi,

4. Penyusunan draft awal rencana kontinjensi oleh Tim Perumus yang ditunjuk sesuai SK Walikota Makassar,

5. Pemutahiran data ancaman, keterpaparan dan data-data lainnya yang dibutuhkan dalam perencanaan kontijensi,

6. Revisi/pengembangan dokumen rencana kontijensi berdasarkan data yang telah dimutahirkan,

7. Konsultasi publik atas draft dokumen rencana kontijensi,

8. Perbaikan/finalisasi dokumen rencana kontijensi,

9. Ujicoba Rencana Kontijensi melalui Table Top Exercise (TTX) dan Geladi Posko,

10. Pengesahan dokumen rencana kontijensi menjadi kebijakan daerah Kota Makassar melalui Peraturan Walikota,

11. Penyebaran dokumen rencana kontijensi kepadasemua pelaku penanggulangan bencanabanjir di Kota Makassar.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

10

1.7.

Aktivasi Rencana Kontijensi

Aktivasi dokumen rencana kontijensi ini dilakukan setelah tanda-tanda akan datangnya ancaman bencana banjir. Di identifikasi melalui hasil kajian dari instansi berwenang,dari BMKG (Stasiun Klimatologi Maros) dengan analisisperkiraan hujan dengan rata-rata curah hujan telah mencapai >700mm dan curah hujan iniakan berlangsung >6 hari, selanjutnya BPBD akan mempersiapkan peringatan dini kepada Pemerintah Daerah Kota Makassar untuk bersiaga menghadapi bencana banjir. Berdasarkan peringatan dini tersebut, Pemerintah Kota Makassar menetapkan Siaga bencana banjir dan menyatakan aktivasi Rencana Kontijensi. Perkiraan dari BMKG tersebut telah berlangsung 6-10 hari maka BPBD meningkatkan status siaga darurat bencana untuk melakukan rencana operasi darurat bencana.

Laporan dari Siaga Rencana BMKG dan Peringatan bencana operasi hasil proses dini banjir darurat analisis
Laporan dari
Siaga
Rencana
BMKG dan
Peringatan
bencana
operasi
hasil proses
dini
banjir
darurat
analisis
lainnya
Gambar 1.
Alur aktivasi kontijensi banjir hingga rencana operasi

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

11

Bagian 2. GAMBARAN UMUM WILAYAH KOTA MAKASSAR

2.1.

2.1.1. Letak Geografis, Administrasi dan Luas Wilayah

ProfileWilayah

Makassar adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi, dahulu disebut Ujung Pandang, yang terletak antara 119º24'17'38” Bujur Timur dan 5º8'6'19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah utara dengan Kabupaten Maros, sebelah timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah barat adalah Selat Makassar. Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km2 persegi. Luas laut dihitung dari 12 mil dari daratan sebesar 29,9 Km2, dengan ketinggian topografi dengan kemiringan 0 º sampai 9°. Terdapat 12 pulau-pulau kecil, 11 diantaranya telah diberi nama dan 1 pulau yang belum diberi nama. Kota Makassar memiliki garis pantai kurang lebih 100 km yang dilewati oleh 2 (dua) sungai yaitu sungai Tallo dan Sungai Jeneberang.

2 (dua) sungai yaitu sungai Tallo dan Sungai Jeneberang. Gambar 2. Peta Batas Administrasi Kota Makassar

Gambar 2. Peta Batas Administrasi Kota Makassar

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

12

2.1.2.

Aksesibitas Wilayah Kecamatan/Kelurahan

Angkutan umum masih merupakan moda transportasi Kota yangmasih memegan peranan sangat penting, akan tetapi jumlah kendaraan angkutan umum dari waktu ke waktu terus bertambah bahkan jumlahnya melebihi daripada kebutuhan masyarakat, hal tersebut tidak diimbangi dengan pertambahan prasarana transportasi yang berkaitan langsung dengan hal itu seperti ; terminal kota, halte, pertambahan panjang, kapasitas jalan dan lain- lain. ditambah lagi tindakan yang kurang disiplin oleh pengemudi angkutan umum dalam menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan, hal ini mengakibatkan volume kendaraan di jalan raya semakin bertambah besar dan menjadi salah satu pemicu seringnya terjadi kemacetan, kecelakaan lalu lintas, yang kian hari kian meningkat. Panjang jalan di Kota Makassar sejak tahun 2006 hingga tahun 2012tidak berubah yaitu sepanjang 1.593,46 kilometer; Dibandingkan tahun 2005 panjang jalan tidak mengalami perubahan. Tahun 2012, untuk kondisi jalan tidak mengalami perubahan sejak tahun 2011. Jumlah kendaraan bermotor wajib uji di kota Makassar pada tahun 2012 adalah sebanyak 23.517kendaraan dengan rincian mobil Bus sebanyak 4.494 kendaraan, mobil penumpang sebanyak sebanyak 1.926 kendaraan dan mobil truck sebanyak 5.359 kendaraan, dibandingkan tahun 2009 jumlahkendaraan bermotor wajib uji mengalami kenaikan sebesar 10,83 % ditahun 2010. Secara umum kondisi prasarana jalan masih dalam kategori baik dan sedang, walaupun ada beberapa ruas kondisinya jelek, namun masih mampu berperan melayani lalu lintas keluar masuk kota maupun sirkulasinya di dalam wilayah kota. Prioritas pengembangan penyediaan sarana jalan yang diterapkan pada Kota Makassar diarahkan terhadap pembangunan jalan Kolektor primer, Kolektor Sekunder, Lokal Primer, Lokal Sekunder dan Arteri Sekunder termasuk peningkatan pelebaran jalan. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Syamsuri, 2013, Bahwa jarak tempat tinggal dengan menggunakan aplikasi Quantum GIS open Source ke tempat pengambilan angkutan mikrolet dimana menggunakan buffer 500 maka dapat diperoleh hasil bahwa berdasarkan sampel trayek yang diambil dimana luas wilayah aksesibilitas suatu trayek tercakupi dari total luas kecamatan.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

13

Tabel 1. Aksesibilitas Angkutan Umum (Syamsuri, 2013)

Tabel 1. Aksesibilitas Angkutan Umum (Syamsuri, 2013) Tabel 2. Kecepatan Kendaraan umum(Syamsuri, 2013) 2.1.3. Topografi

Tabel 2.

Kecepatan Kendaraan umum(Syamsuri, 2013)

2013) Tabel 2. Kecepatan Kendaraan umum(Syamsuri, 2013) 2.1.3. Topografi dan Klimatologi a. Tofografi Kota Makassar

2.1.3. Topografi dan Klimatologi

a. Tofografi Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2 º (datar) dan kemiringan lahan 3-15 º (bergelombang) dengan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut. Dari kondisi ini menyebabkan Kota Makassar sering mengalami genangan air pada musim hujan, terutama pada saat turun hujan bersamaan dengan naiknya air pasang.Secara umum topografi Kota Makassar dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu :

1) Bagian Barat ke arah Utara relatif rendah dekat dengan pesisir pantai. 2) Bagian Timur dengan keadaan topografi berbukit seperti di Kelurahan Antang Kecamatan Panakukang.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

14

Perkembangan fisik Kota Makassar cenderung mengarah ke bagian Timur Kota. Hal ini terlihat dengan giatnya pembangunan perumahan di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala, Panakkukang, dan Rappocini.

Tamalanrea, Manggala, Panakkukang, dan Rappocini. Gambar 3. Peta Tingkat elevasi Kota Makassar Gambar 4. Peta

Gambar 3. Peta Tingkat elevasi Kota Makassar

dan Rappocini. Gambar 3. Peta Tingkat elevasi Kota Makassar Gambar 4. Peta tingkat kemiringan kota Makassar

Gambar 4. Peta tingkat kemiringan kota Makassar

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

15

b. Klimatologi

Data iklim yang digunakan dalam pemantauan ini adalah data iklim hasil pengukuran Stasiun Klimatologi Paotere yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah IV Makassar. Parameter iklim yang dikaji adalah temperatur udara, curah dan hari hujan, kelembaban udara, arah dan kecepatan angin serta penyinaran matahari.

1) Temperatur Udara

Temperatur udara rata-rata bulanan Kota Makassar berkisar antara 25,3-26,13 o C. Temperatur udara rata-rata bulanan tertinggi terjadi pada bulan Oktober dan Nopember, dan terendah pada bulan Agustus. Suhu udara minimum rata-rata bulanan berkisar antara 25,3 0 C yang terjadi pada bulan Agustus dan tertinggi 28,4 0 C pada bulan oktober. Suhu udara maksimum rata-rata bulanan berkisar antara 30,1 0 C pada bulan oktober dan minimum 22,3 o C pada bulan September. Variasi temperatur udara dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 5.

Temperatur Udara Minimum Rata-Rata Bulanan selama Tahun 2005-2013

Tahun

 

Bulan

 

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

2005

24,4

24,8

25

25,2

24,9

24,2

23,4

24,2

24,2

24,2

25,5

25,6

2006

25

24,6

25,2

25,2

25,2

23,8

23,6

22,4

24,2

26,2

25,4

24,9

2007

24,9

25

25,3

24,9

25,4

24,7

24,1

24,3

24,6

25,4

25,2

24,6

2008

24,6

24,9

24,7

24,3

25,3

23,5

23,7

23,2

23,8

24,2

25,6

25,4

2009

25,2

24,4

24,9

24,8

25

25,3

23,9

23,9

24,2

24,9

24,8

24,6

2010

24,3

24,1

24,4

24,5

24,7

24,1

23,6

24,1

24,8

25,3

25,2

24,2

2011

23,8

24,2

24,2

24,6

25,1

23,9

23,6

23,6

24,7

25,2

25,2

24,6

2012

26,9

25,7

21,2

28,1

28

27,6

27,2

27,5

28

29,1

28,9

27,9

2013

27

27,1

27,4

27,8

28,2

27,6

27,2

27,2

28,1

28,4

28,2

27,1

2013

27

27,1

27,4

27,8

28,2

27,6

27,2

27,2

28,1

28,4

28,2

27,1

Rata

25,31

25,19

24,97

25,72

26

25,23

24,75

24,76

25,47

26,13

26,22

25,6

Sumber: Badan Metereologi dan Geofisika Wilayah IV, Makassar, 2013

 
 

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

 

16

Tempratur Udara 2005-2013 28,4 28,2 28,2 28,1 27 ,8 27,6 27,4 27,2 27,2 27,1 27,1
Tempratur Udara 2005-2013
28,4
28,2
28,2
28,1
27
,8
27,6
27,4
27,2
27,2
27,1
27,1
27
26,13
26,22
26
25, 72
25,6
25,47
25,31
25,19
25,23
24,97
24,75
24,76
JAN
FEB
MAR
AP R
MEI
JUN
JUL
AGT
SEP
OKT
NOP
DES
2013
Rata-Rata

Gambar 5.

2) Curah Hujan

Temperatur udara Bulanan di Kota Makass ar

Dari data cu rah hujan yang diperoleh menunjukan b ahwa pada bulan

Desember juml ah air hujan yang jatuh dalam sat u meter persegi sebanyak 750 m m per hari hujan. Jumlah air hujan ter endah yang jatuh

dalam wilayah

satu meter persegi terjadi pada Bulan

September yaitu

sekitar 10 mm.

Rata-rata curah hujan harian yang ada di kota makassar

selama lima tah un terakhir dapat dilihat pada Tabel 4 da n Gambar 6.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar |

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 17

17

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 17
 

Tabel 3.

Rata-

Rata Curah Hujan Harianselama Tahun 200 7-2011

 
   

Bulan

Tahun

Jan

Feb

Ma r

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

 

Okt

Nop

Des

2007

531

718

23

5

200

139

6

2

35

0

 

0

165

225

2008

398

587

64

9

353

265

26

137

1

0

 

0

0

20

2009

694

486

28

3

197

36

130

4

3

0

 

16

215

869

2010

660

882

31

3

76

61

34

56

4

6

 

73

404

760

2011

560

528

59

3

383

162

8

0,8

0

0

3

8,7

181

856

2012

520

371

63

5

75,6

207

35,4

68,5

0

0

 

9,8

71

445

2013

730

664

48

3

353

133

55

65

20

10

 

44

130

428

Rata

730

664

48

3

353

133

55

65

20

10

 

44

130

428

Sumber: Badan Metereologi dan

Geofisika Wilayah IV, Makassar, 2013.

R ATA-RATA CURAH HUJAN 2009-2013 800 671,6 600 632,8 586,2 4 61,4 400 200 216,92
R ATA-RATA CURAH HUJAN 2009-2013
800
671,6
600
632,8 586,2
4 61,4
400
200
216,92
200 ,2
119,8 52,48 38,86
36,3
0
5,4
3,2
Jan
Feb
M
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
No p
Des

Gambar 6. Rata-r

ata Curah Hujan Harian Selama Lima Tahun Terakhir.

3) Kelembaban U dara

Kelembaban sampai 87,4%.

kemudian menu run sampai terendah pada bulan Septem ber dan naik lagi

sampai pada b ulan Desember. Kelembaban udara r ata-rata bulanan dapat dilihat pad a Tabel 5 dan Gambar 7.

udara yang relatif tinggi yaitu berk isar antara 71,8 Kelembaban udara tertinggi terjadi pa da bulan Januari

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar |

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 18

18

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 18

Tabel 4.

Kelembab an Udara Rata-Rata Bulanan selama Tahun 2001-2013

Tahun

 

Bulan

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

 

Okt

Nop

2003

90

89

90

88

82

81

72

67

69

 

67

86

2004

90

89

87

86

84

84

80

78

78

 

76

81

2005

90

89

86

86

86

84

84

82

81

 

82

84

2006

90

91

90

85

86

82

79

70

70

 

75

78

2007

84

82

82

79

74

74

74

71

68

 

76

83

2008

87

87

85

84

81

84

75

72

66

 

68

74

2009

84

85

82

81

76

81

74

70

69

 

74

79

2010

86

87

83

79

78

79

77

76

75

 

78

89

2011

89

87

89

88

78

72

73

70

71

 

76

79

2012

84

84

85

78

78

76

76

71

71

 

76

78

Rata-rata

87,4

87

85,9

83,4

80,3

79,7

76,4

72,7

71,8

7

4,8

81,1

Sumber: Badan Mete reologi dan Geofisika Wilayah IV, Makassar, 201 3

KELEMBABAN UDARA 100 84 87,4 87 84 85 85, 9 78 83,4 78 80,3 79,7
KELEMBABAN UDARA
100
84 87,4
87
84
85 85, 9
78 83,4
78 80,3
79,7
81,1
76
76 76,4
76
78
74,8
71
72,7
80
71 71,8
60
40
20
0
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nop
2012
Rata-rata

Gambar 7. Ke lembaban udara rata-rata bulanan 2003- 2012

4) Penyinaran Ma tahari

matahari rata-rata bulanan di kota M akassar berkisar

antara 43,7 sam pai 92 %. Penyinaran matahari cenderu ng meningkat dari bulan Mei samp ai mencapai maksimum pada bulan Sept ember, kemudian menurun sampa i bulan Desember. Penyinaran matahari rata-rata bulanan

secara rinci dap at dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 8.

Penyinaran

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar |

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 19

19

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 19

Tabel 5

. Penyinaran Matahari Rata-rata Bulanan

   

Bulan

 

Tahun

Jan

Feb

M

ar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

2003

41

48

49

66

85

67

93

93

83

91

53

41

2004

45

-

60

73

-

71

91

92

98

98

85

56

2005

34

40

64

73

81

86

83

88

90

85

75

34

2006

57

40

54

87

78

87

89

94

96

94

77

51

2007

46

64

64

69

77

89

85

90

99

80

66

43

2008

42

-

55

63

-

61

-

98

97

98

89

65

2009

47

37

47

69

76

56

82

86

92

81

66

35

2010

49

30

60

73

76

70

87

85

84

86

58

32

2011

45

47

46

61

75

84

88

94

90

88

67

28

2012

45

51

52

65

70

75

70

88

91

93

79

52

Rata

45,1

35,7

5

5,1

69,9

61,8

74,6

76,8

90,8

92

89,4

71,5

43,7

Sumber: Badan Meter eologi dan Geofisika Wilayah IV, Makassar, 2013

Rata-Rata Penyinaran Matahari 92 89,4 90,8 74,6 71, 5 76,8 69,9 61,8 55,1 43,7 45,1
Rata-Rata Penyinaran Matahari
92
89,4
90,8
74,6
71, 5
76,8
69,9
61,8
55,1
43,7
45,1
91
93
35,7
88
7
9
75
70
70
65
51
52
52
45
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
AGT
SEP
OKT
NO P
DES
2012
Rata-rata

Gambar 8. Penyi

5) Angin

naran Matahari Rata-Rata Bulanan di Sekita r Lokasi

Data kecepa tan dan arah angin tiap jam selama tahu n 2011 diperoleh dari Stasiun Klim atologi Paotere melaluiBadan Meteorol ogi dan Geofisika Wilayah IV Ma kassar. Dari data angin yang diperol eh menunjukkan bahwa kecepata n berkisar antara 8 sampai 14 knots. Se lama tahun 2012 arah angin domi nan dari arah barat (35 %) kemudian d ari arah barat laut (27 %), arah tim ur (15 %), arah timur laut (8%) dan seba gian kecil datang dari arah tengga ra, utara, selatan dan barat daya.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar |

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 20

20

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 20

Tabel 2.1. Kecepatan angin Maksimum (knots) rata-rata bulanan

   

Bulan

 

Tahun

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

2012

37

43

43

21

31

28

25

19

25

28

25

31

Rata-rata

12

14

11

10

8

8

8

10

10

10

10

13

2.1.4. Karakteristik

a) Karakteristik Fisik Lingkungan

1) Luas wilayah Kota Makassar sebesar 175,77 km2 pada ketinggian antara 0 – 25 m diatas permukaan laut, dengan suhu antara 20 – 32 0C. Kota Makassar di lewati oleh 2 Sungai utama yatu Sunagi Tallo dan Jeneberang. sungai Jeneberang yang mengalir melintasi Kabupaten Gowa dan bermuara pada bagian selatan Kota dan sungai Tallo yang bermuara di bagian Utara Kota. Ke dua sungai ini mempunyai kemiringan dasar sungai yang relatif sangat landai (± 1/10.000) di bagian hilir, kecepatan alirannya lambat dengan laju sedimentasi yang cukup tinggi sehingga mempunyai kecenderungan membentuk meander dan perubahan alur. 2) Kota Makassar merupakan kota pesisir yang keadaan wilayahnya datar dan hanya sebagian kecil dataran tinggi yang terdapat di Kecamatan Biringkanaya. Secara keseluruhan ketinggian dari permukaan laut untuk wilayah ini berkisar antara 1 – 25 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan tanah rata-rata 0 – 5ke arah barat.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

21

Gambar 9. Peta Resiko Bencana Pesisir, Sumber : Baharuddin , 2011 3) Wilayah kota Makassar

Gambar 9. Peta Resiko Bencana Pesisir, Sumber : Baharuddin , 2011

3) Wilayah kota Makassar dipengaruhi oleh hidrodinamika pantai/laut yang terdiri dari beberapa unsur, seperti angin, ombak/gelombang, arus bawah laut, arus pasang surut, pasang surut, abrasi, akrasi, dan sedimentasi. Sehubungan dengan hal tersebut, fisiografi daerah kota Makassar relatif tidak stabil, karena pada musim kemarau arah sedimentasi dari Utara ke Selatan, sedangkan pada musim hujan arah sedimentasi dari Selatan ke Utara. Hal ini terlihat pada ujung spit Tanjung Bunga. 4) Pergeseran fungsi badan perairan laut sebagai akibat kegiatan di sekitarnya menimbulkan beberapa permasalahan lingkungan, seperti pencemaran, sedementasi dan bencana banjir/genangan. 5) Kondisi umum Kota Makassar berupa: 1) Keadaan dan kondisi topografi wilayah studi berupa tanah relatif datar dan berada pada ketinggian 0 sampai 6 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan tingkat kemiringan lereng (elevasi) berkisar antara 0 - 2%. Sedangkan satuan morfologi bentuk lahannya yaitu satuan morfologi dataran alluvial pantai yang dihasilkan dari proses pengendapan Sungai Jeneberang. 2) Secara geologis terbentuk dari batuan hasil endapan dari angkutan sedimen sungai Jeneberang. Batuan dasar

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

22

tersebut berupa endapan alluvial. 3) Jenis tanah yang terdapat pada wilayah studi yaitu jenis tanah inceptisol. 4) Kondisi batimetri (kedalaman laut) di sepanjang wilayah penelitian hingga jarak 4 mil

laut (Nautical Miles) yaitu berkisar antara -31 – 0 meter di bawah permukaan laut. 5) Rata-rata pasang surut air laut wilayah studi yaitu sebesar 1,13 meter. 6) Gelombang laut berkisar antara 0,5 meter sampai 1 meter. 7) Jenis pemanfaatan lahan terdiri dari permukiman, perdagangan, perkantoran, pendidikan, pertanian, peternakan, tambak, kawasan wisata, ruang terbuka dan hutan mangrove 6) Analisis kondisi kebencanaan pesisirKota Makassar: 1) kenaikan muka air laut pada Selat Makassar yaitu berkisar antara 5 - 10 mm/tahun. Kondisi ini jauh di atas perkiraan kenaikan paras muka laut global yang diperkirakan 1,5 mm/tahun.2) Dampak abrasi yang sangat jelas terlihat pada wilayah studi yaitu jatuhnya Tugu Layar Putih pada Pantai Layar Putih dan patok bekas menara di pesisir tanjung yang semakin jauh dari daratan (awalnya menara tersebut berada di daratan). 3) Sedimentasi yang terjadi pada wilayah studi diakibatkan oleh adanya pengendapan lumpur yang terbawa oleh arus Sungai Jeneberang dan juga dipengaruhi oleh aktifitas gelombang laut(ombak).

b) Karakteristik Flora dan Fauna

1. Terdapat berbagai tanaman/vegetasi yang spesifik seperti bakau, kelapa/palma, dsb.

2. Terdapat binatang yang spesifik seperti bangau, ikan jenis tertentu, dsb.

c) Karakteristik Ekonomi, Sosial dan Budaya

1. Memiliki keunggulan lokasi yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi;

2. Penduduk mempunyai kegiatan sosial-ekonomi yang berorientasi ke air dan darat;

3. Terdapat peninggalan sejarah/budaya seperti museum bahari, dsb.

d) Karakteristik Perumahan dan Permukiman Karakteristik Perumahan dan permukiman ditepian Pantai Kota Makassar diklasifikasikan sebagai berikut; 1) Kawasan Perumahan Teratur dan Terencana Kawasan perumahan teratur dan terencana adalah kawasan perumahan yang teratur dan direncanakan melalui program pembangunan dan biasanya perumahan tersebut telah sesuai dengan arahan rencana tata ruang yang berlaku. Pembangunan perumahan tersebut difasilitasi oleh pihak pemerintah melalui pemberian ijin pemafaatan lahan dan pembangunan, dan pelaksanaanya dilaksanakan

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

23

baik oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta (pengembang/ developer), dengan melihat arahan tata ruang dan konsep penataan lingkungan yang teratur.Perumahan ini biasanya telah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang cukup baik, dirancang dengan baik pula serta memiliki akses yang cukup mudah untuk mencapai sarana dan prasarana yang ada. Kawasan perumahan yang teratur dan terencana yang berada tepian pantai Kota Makassar seperti rumah susun sewa sederhana Mariso yang berada di Kecamatan Mariso diperuntukkan bagi para nelayan miskin di sekitar Rusunawa tersebut.

2) Kawasan Perumahan Tidak Teratur dan Tidak Terencana Kawasan perumahan tidak teratur dan tidak terencana di Kota Makassar terdapat di beberapa kawasan, perumahan ini biasanya dibangun secara spontan tanpa direncanakan dan tanpa konsep penataan lingkungan yang jelas. Perumahan-perumahan ini dibangun atas swadaya masyarakat dan identik dengan perumahan kumuh seperti slums ataupun squatters, kawasan ini juga kurang didukung oleh dasar penunjang yang baik. Kawasan perumahan yang tidak teratur dan tidak terencana di Kota Makassar tergolong dalam kawasan permukiman kumuh, baik kumuh nelayan dan kumuh pusat kota.

Permukiman Kumuh yang berada di tepian pantai Kota Makassar yaitu:

Permukiman Kumuh terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Lahan yang ditempati sebagian adalah bekas lautan yang pada dasarnya merupakan milik negara, sedangkan sebagian merupakan tanah hak milik atau yang sudah dimiliki sejak bertahun-tahun lamanya. Kawasan tersebut terletak di kawasan yang diperuntukkan sebagai lahan produktif. Pusat kegiatan utama terdekat dari kawasan tersebut adalah kawasan pelabuhan dan angkatan laut. Permasalahan yang terjadi pada kawasan ini adalah tidak mempunyai pola struktur permukiman yang teratur karena dibangun tanpa perencanaan, hanya bergantung pada pertambahan luas daratan yang terjadi secara alami. Secara fisik bangunan rumah kebanyakan tidak permanen, terlihat tidak sehat ditandai dengan minimnya pencahayaan dan jendela. Fasilitas penunjang permukiman juga sangat minim. Sebagian penduduk mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Penyebab utama kekumuhan yang terjadi adalah rendahnya ketersediaan lahan yang dapat dikembangkan serta ketidakjelasan status tanah yang ditempati. Selain itu pula rendahnya ekonomi individu (nelayan rakyat) membuat kemampuan untuk mengembangkan permukiman menjadi rendah.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

24

Permukiman Kumuh di Kecamatan Tallo ; Permukiman di Kecamatan Tallo hampir sebagian besar tanah yang ditempati oleh masyarakat merupakan tanah hak milik atau girik yang sudah dimiliki sejak lama. Kawasan tersebut juga cukup dekat ke pusat kegiatan pelabuhan. Kawasan ini terletak di wilayah perkotaan padat penduduk dimana area umum sudah tergunakan untuk kepentingan pribadi membuat pola struktur lingkungan semakin tidak teratur. Sebagian wilayah terletak di pinggir sungai. Jalan paving blok yang dibuat mengikuti pola-pola rumah yang sudah ada. Bangunan rumah sebagian besar permanen tetapi dalam kondisi kurang sehat karena kurangnya pencahayaan dan penghawaan. Hal ini dikarenakan rapatnya jarak antar bangunan. Sarana dan prasarana juga terbatas.Keterbatasan lahan serta rendahnya ekonomi individu dan sebagian penduduknya bekerja tidak tetap menjadi penyebab utama timbulnya kekumuhan di kawasan ini.

e) Karakteristik Sarana dan Prasarana Lingkungan

1. Mempunyai aksesibilitas yang sangat tinggi sebab dapat dicapai dari darat dan dari air, sehingga peran dermaga/pelabuhan menjadi titik

pertumbuhan.

2. Sistem drainase memerlukan penanganan relatif lebih rumit, karena merupakan daerah retensi yang sering tergenang air/banjir dan menjadi muara daerah hulunya;

3. Pembuangan air limbah memerlukan penanganan khusus, karena muka air tanah yang tinggi serta menjadi muara daerah hulunya. Masyarakat cenderung membuang air limbah langsung ke badan air, baik dari kakus individu maupun MCK;

4. Umumnnya sampah dibuang/ditimbun di pinggir laut atau dibuang langsung ke laut sehingga sering menimbulkan bau serta menjadi sarang lalat dan nyamuk.

5. Sistem penanggulangan bahaya kebakaran (sarana, prasarana, tata cara dan pedoman), khususnya di atas air memerlukan penanganan serius.

f) Karakteristik Pengelolaan Kawasan Zonasi pada kawasan pesisir Kota Makassar Merupakan (1) Zona Pemanfaatan Khusus (Wisata Bahari) yang terdiri dari Kawasan Pantai Akkarena, Tanjung Bayang dan Pantai barombong. (2) Zona Konservasi yaitu pada daerah Estuaria Sungai Jeneberang.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

25

2.1.5. Demografi

Berdasarkan data BPS-Kota Makassar Tahun 2011, penduduk Kota Makassar mencapai kurang lebih 1.352.136 jiwa yang terdiri atas 667.681 laki-laki dan 684.455 perempuan, sedangkan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata 1,56 % selama periode sepuluh tahun terakhir (2001-2011). Laju pertumbuhan penduduk di setiap kecamatan di Kota Makassar pada periode tahun 2001 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 6. JumlahPenduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Makassar Menurut Tingkat Kecamatan, Priode Tahun 2001 – 2011

 

Persentase / Jumlah penduduk (jiwa)

Kecamatan

2001

2011

Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2001 – 2011

Mariso

53.687

56.408

0,50

Mamajang

61.947

59.560

(0,39)

Tamalate

135.082

172.506

2,48

Rappocini

132.102

152.531

1,45

Makassar

84.346

82.478

(0,22)

Ujung Pandang

29.217

27.160

(0,73)

Wajo

35.908

29.639

(1,90)

Bontoala

59.868

54.714

(0,90)

U. Tanah

46.374

47.133

(0,16)

Tallo

121.606

135.574

1,09

Panakukkang

130.336

142.729

0,91

Manggala

81.180

118.191

3,83

Biringkanaya

100.336

169.340

5,37

Tmalanrea

85.915

104.175

1,95

Kota Makassar

1.157.905

1.352.136

1,56

Sumber : Kota Makassar Dalam Angka, Tahun 2012.

Komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin di

Kota Makassar pada periode tahun 2011 seperti yang disajikan pada Tabel

8 berikut ini.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

26

Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kota Makassar

No.

Kelompok

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Umur (Tahun)

(Jiwa)

(Jiwa)

(Jiwa)

1.

0

– 4

67.025

62.530

129.554

2.

5

– 9

66.656

62.383

129.039

3.

10

– 14

61.758

58.268

120.026

4

15

– 19

69.163

74.190

143.353

5.

20

– 24

83.367

87.312

170.679

6.

25

– 29

65.534

66.304

131.838

7.

30

– 34

54.546

56.512

111.057

8.

35

– 39

48.290

50.024

98.315

9.

40

– 44

41.969

45.410

87.379

10.

45

– 49

33.220

35.181

68.401

11.

50

– 54

25.760

25.486

51.246

12.

55

– 59

18.580

18.873

37.453

13.

60

– 64

12.999

15.423

28.422

14.

> 65

18.814

26.559

45.373

 

Jumlah

667.681

684.455

1.352.136

Sumber : Kota Makassar Dalam Angka, Tahun 2012

Berdasarkan tabel 9, menunjukkan bahwa kelompok umur yang paling dominan pada Kota Makassar adalah kelompok1 15 sampai 59 tahun, kemudian kelompok umur 0 sampai 14 tahun dan terakhir kelompopk umur antara 60 sampai 65 tahun ke atas. Hal ini menggambarkan bahwa penduduk di daerah ini ( Kota makassar ) pada umumnya masih berada dalam kategori produktif, sehingga dalam melaksanakan kegiatan pekerjaan sehari – hari dalam upaya mengelolah dan memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia masih mampu dilakukan oleh warga masyarakat secara optimal, Kota Makassar sebahagian besar warga masyarakatnya masih tergolong dalam usia produktif.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

27

2.2. Profil Kebencanaan

2.2.1. Karakteristik Ancaman Banjir

Hampir setiap tahunnya beberapa bagian kota di Kota Makassar mengalami banjir. Banjir itu pada umumnya terjadi pada bulan Desember- Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi pada setiap tahunnya. Beberapa banjir besar yang pernah terjadi di antaranya adalah pada tahun 1967 dan tahun 1976, sedangkan pada tahun 1983 dan 1986 telah pula terjadi banjir yang walaupun tidak sebesar yang terjadi pada tahun 1976. Banjir yang cukup besar yang terjadi di Kota Makassar beberapa tahun terakhir ini adalah yang terjadi pada tahun 1999, tahun 2000 dan 2013, dimana sebagian besar wilayah kota mengalami kebanjiran.Adapun karakteristik banjir di Kota Makassar dipengaruhi oleh:

1)

Pengaruh Curah hujan Hampir setiap tahunnya beberapa bagian wilayah di Kota Makassar mengalami banjir. Banjir umumnya terjadi pada bulan Desember- Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi pada setiap

Banjir besar yang pernah terjadi di antaranya adalah pada

tahunnya

tahun 1967 dan tahun 1976, sedangkan pada tahun 1983 dan 1986 telah pula terjadi banjir yang walaupun tidak sebesar yang terjadi pada tahun 1976. Banjir yang cukup besar yang terjadi di Kota Makassar beberapa

tahun terakhir ini adalah yang terjadi pada tahun 1999, tahun 2000 dan Tahun 2013, dimana sebagian besar wilayah kota mengalami kebanjiran.

692,1 683,6 490,3 371,8 359,5 117,4 129,5 53,6 30,2 67,5 5,2 19,1 Jan Feb Mar
692,1
683,6
490,3
371,8
359,5
117,4
129,5
53,6
30,2
67,5
5,2
19,1
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nop
Des

Gambar 10.Rata-rata Curah Hujan di Kota Makassar selama 13 Tahun

2)

Perubahan peruntukan lahan DAS Wilayah Kota Makassar dilalui oleh 3 (tiga) muara sungai yang cukup besar sehingga membentuk sistem DAS diantaranya DAS

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

28

Jeneberang, Tallo dan Pampang. Ketiga sistem aliran itu merupakan penampungan aliran air permukaan yang berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Gowa dan Maros. DAS Tallo yang bermuara Wilayah Pesisir kota Makassar melalui Kecamatan Kec.Manggala, Panakukang, Rappocini, Kec. Tallo, Kec. Tamalanrea, dan Kec. Biringkanaya. Meluasnya wilayah pemukiman di area DAS Tallo dan DAS Jeneberang menyebabkan tingginya aliran air permukaan yang bersumber dari limpahan curah hujan serta terkendalanya proses inpiltrasi ke dalam tanah akibat terhalang perkerasan jalan dan atap bangunan. Peningkatan aliran permukaan inilah yang menyebabkan banjir dan melanda beberapa wilayah di Kota Makassar dan terjadi semaki meluas. Ditinjau dari aspek perencanaan tata ruang kota Makassar Tahun 2005- 2015 bahwa kawasan tersebut diperuntukkan menjadi kawasan perumahan terpadu dan pergudangan serta peruntukan kawasan khusus yang tidak diikuti penataan Rencan Detail Tata Ruang (RDTR) zoning regulation, pengendalian perizinan, pengenaan sanksi dan sebagainya.

3)

Pengaruh Pasang Surut dan Pemanasan Global Berdasarkan hasil studi oleh BPPT Tahun 2009 bahwa Kenaikan Muka Laut Kota Makassar dipengaruhi ; 1) Faktor Laut (Gelombang Kelvin, ARLINDO), 2) FaktorAtmosfer (Cuaca Ekstrim) dan 3) Faktor Geologi (Tektonik dan Penurunan Muka Tanah). Kenaikan muka laut di Selat Makassar air laut yang disebabkan oleh Gelombang Kelvin mencapai 7.5 cm/10 tahun (1993-2002). Kenaikan muka laut di Selat Makassar akibat Arlindo: 42.09 cm. Dengan demikian Total kenaikan akibat pemanasan global ditambah akibat Gelombang Kelvin dan Arlindo menjadi 69.4 cm (Tahun 2000) , 88.16 cm (Tahun 2025), dan 1.44 cm (Tahun 2100). Pengaruh pasang surut air laut juga sangat besar terhadap sistem pembuangan utama kota diantaranya Sungai Tallo, Sungai Pampang, Kanal Sinrijala, Kanal Jongaya serta Kanal Panampu. Apabila curah hujan turun bersamaan dengan terjadinya pasang naik air laut, maka sistem aliran air yang melalui drainase kota akan terhambat sehingga menimbulkan banjir dan genangan pada wilayah tertentu yang ketinggiannya di bawah permukaan laut (dibawah elevasi 0).

4)

Pengaruh elevasi Permukaan Ketinggian Kota Makassar bervariasi antara 0 - 25 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara antara 20° C sampai dengan 32° C. Kota Makassar di terkenal sebagai kota pantai dengan panjang pantai ± 35 km dan berbatasan dengan Selat Makassar, topografi wilayah Kota Makassar sebagian besar berupa dataran dengan kemiringan lereng antara 0 – 8 % atau elevasi 0-30%. Elevasi 0-2 meter mencapai 66% dari

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

29

total luas wilayah kota Makassar, elevasi 2-5 meter mencapai 14% dari total kota Makassar dan elevasi 20-30 meter hanya mencapai 1,1% dari seluruh total kota Makassar. Ini menujukkan bahwa kota Makassar adalah kota cukup datar dan dikategorikan hampir seluruh wilayah Kota Makassar wilayah Rawan Banjir.

5)

Sistem drainase Adapun dari seluruh luas wilayah kota (175 Km 2 ), hanya sekitar 54 % (96 Km 2 ) yang dapat terkendalikan limpasan air permukaannya melalui sistem drainase kota. Wilayah tersebut terutama berada pada bagian barat Kota Makassar, sedangkan sebagian wilayah timur lainnya (Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala dan Panakukkang) masih mengalami permasalahan karena belum adanya pengendalian banjir yang sistematis. Akibatnya sering terjadi bencana banjir di kawasan permukiman pada wilayah tersebut , misalnya Perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Hamzi, Bung, Antara, Perumnas Antang, Asal Mula dan CV Dewi.

Kapasitas Saluran Pembungan di Kota Makassar

Tabel 8.

     

Panjang saluran

Debit

Catchment

Pembuangan

No

Nama Saluran/Area

primer

sekunder

tersier

(m3/dt)

area (ha)

 

ke

1.

Saluran

4.920

-

-

35

   

Laut

Pembuangan

 

Panampu

2.

Saluran

8.234

-

-

41

   

Laut

Pembuangan

 

Jongaya

3.

Saluran

2.355

-

-

6

 

s.

Pampang

Pembuangan

 

Sinrijala

4.

Area Urban V

-

29.385

77.251

-

1.650

 

5.

Area 2

-

1.375

2.375

-

2.700

 

6.

Area 3

-

21.504

27.382

-

   

7.

Area 4

-

1.391

2.620

-

   

8.

Saluran

13.000

-

-

92

   

S. Tallo

Pembuangan

 

Pampang

9.

Saluran Pembuangan Antang

1.400

-

-

11

 

S.

Pampang

10.

Saluran

4.600

-

-

35

 

S.

Pampang

Pembuangan Gowa

 

11.

Saluran

1.700

-

-

34

 

S.

Pampang

Pembuangan

 

Perumnas

 

Total

36.209

53.655

109.648

 

4.350

 

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum, 2007

Secara umum alur jaringan drainase di Kota Makasar mengikuti ketinggian (kontur) dan mengikuti poia jaringan jalan Kota yang ada, dimana sistem pembuangan air hujan yang masih menjadi satu

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

30

dengan sistem pembuangan air kotor. Sistem drainase campur ini, terlihat kurang menguntungkan untuk daerah yang landai, sehingga terjadi pengendapan dan penggenangan di dalam saluran yang menyebabkan bau dan pemandangan yang tidak sedap dipandang mata. Pada bagian lain, kondisi jalan yang relatif tinggi terhadap permukiman penduduk menjadikan saluran jalan hanya dapat dimanfaatkan sebagai saluran penampung limpasan air hujan dari

badan jalan dan sebagai saluran pembawa, sedangkan saluran pembuangan dari permukiman melalui saluran yang dibuat sendiri dan dialirkan ke saluran drainase yang ada. Selain itu sistem drainase di Kota Makasar juga dipengaruhi oleh pengaruh pasang surut. Hal ini sangat dirasakan pengaruhnya apabila pada saat bersamaan terjadi hujan lebat dan air pasang. Secara umum penyebab masalah genangan yang masih sering terjadi di Kota Makassar adalah diakibatkan antara lain meliputi :

Pengaruh pasang surut air laut;

Merupakan daerah relatif rendah terhadap muka air laut;

Kurangnya pemeliharaan (penyempitan penampang saluran atau gorong-gorong) terhadap endapan tanah/sampah.

Hambatan hidrolis (kemiringan atau hambatan di dalam penampang saluran, banyaknya belokan, duicker terlaluh rendah, dll. );

Kurangnya berfungsinya sistem street inlet, sehingga sering terlihat genangan di atas badan jalan;

Beban saluran terlalu besar, sehingga penampang saluran

yang ada tidak muat menampung beban yang ada Tersumbatnya beberapa Drainase Kota yang menuju ke laut berdampak terjadinya genangan dibeberapa ruas jalan kota Makassar.

Di kecamatan wajo terdapat tujuh saluran utama, masing-masing saluran ini hampir tidak berfungsi dengan baik disebabkan adanya pemasangan berupa grill oleh pihak PT. PELINDO dan adanya sampah domestik yang menutup saluran sehingga menambah tingginya genangan di Jalan Nusantara dan Sulawesi.

6)

Kebiasaan Masyarakat Membuang Sampah Genangan/Banjir yang sering melanda Kota Makassar tidak terlepas dari kesadaran masyarakat yang kurang perhatian menjaga saluran/drainase perimer maupun drainase sekunder. Beberapa drainase kota hampir tersumbat diakibatkan sampah yang menutup seluruh permukaan drainase dan sedimen yang dapat menghambat laju aliran air hujan. Selain itu kurangnya pengawasan pemerintah mengenai pengembang perumahan yang sengaja meninggikan pondasi kawasan namun tidak memperhatian elevasi permukaan

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

31

kawasan sekitarnya dan kurangnya ruang terbuka hijau sehingga potensi genangan cukup tinggi.

7)

Tekanan Penggunaan Lahan Genangan air atau banjir yang menimpa kota Makassar pada Tanggal 1-15 Januari 2013 yang meliputi Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala dan Panakukkang dengan luas genangan mencapai lebih 2000 ha. Salah satu sumber dampak adalah tingginya desakan perubahan fungsi lahan dari eksisting lahan resapan air menjadi kawasan pemukiman. Kawasan Rawan Banjir di Kota Makassar berada di beberapa wilayah Kecamatan Manggala, Panakukang, Rappocini, Tallo, Tamalanrea, dan Biringkanaya. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2005-2015 bahwa Kecamatan Panakukang, Rappocini, dan Kec.Manggala dikembangkan dengan rencana Kawasan pemukiman terpadu. Sedangkan Kec. Tamalanrea, dan Kec. Biringkanaya yang dikembangkan sebagai Kawasan bandara terpadu, maritim terpadu, industri terpadu, namun kecamatan yang berada di kawasan banjir tersebut tersebut mengalami desakan perubahan fungsi lahan menjadi kawasan pemukiman disebabkan tingginya pertumbuhan jumlah penduduk atau peroses urban yang sangat tinggi, sehingga ruang terbuka hijau juga semakin sempit.

8)

Sedimentasi Pendangkalan yang terjadi pada muara sungai Tallo dan

Jeneberang yang diakibatkan dari limbah buangan industri yang sudah tidak lagi terkontrol pada anak-anak sungai Tallo dan Longsoran Bawakaraeng yang menyebabkan pendangkalan pada sungai Jeneberang dan pencemaran pada sumber air baku PDAM yang ada

di

sungai ini serta pendangkalan pada pantai losari dan pelabuhan

Makassar. Semua ini menjadi contoh nyata dan menjadi catatan penting bahwa ruang-ruang sungai perlu dilindungi dan mendapat perhatian dari pemerintah Kota Makassar.

9)

Sistem Pengedalian Bencana Banjir Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dikawasan rawan bencana banjir dilaksanakan melalui upaya penanggulangan untuk

meminimalkan dampak akibat bencana yang mungkin timbul. Kondisi

ini tidak bisa dipisahkan dari pola pengendalian pemanfaatan ruang di

bagian hulu, dalam lingkup satuan wilayah sungai. Sasaran yang akan

dicapai adalah terwujudnya pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan rawan bencana banjir, termasuk mekanisme perijinan

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

32

pemanfaatan ruang sesuai dan mendukung upaya penerapan rencana pemanfaatan ruang, dan prosedur penanganan yang tepat. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten

/kota adalah ketentuan yang diperuntukan sebagai alat penertiban penataan ruang, meliputi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan pemberian insentif dan disinsentif, serta arahan pengenaan sanksi dalam rangka perwujudan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten /kota berfungsi:

1. Sebagai alat pengendali pengembangan kawasan;

2. Menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang;

3. Menjamin agar pembangunan baru tidak mengganggu pemanfaatan ruang yang telah sesuai dengan rencana tata ruang;

4. Meminimalkan pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang;

5. Mencegah dampak pembangunan yang merugikan.

10) Dampak Kenaikan Permukaan air laut

Berdasarkan hasil studi oleh BPPT Tahun 2009 bahwa Kenaikan Muka Laut Kota Makassar dipengaruhi ; 1) Faktor Laut (Gelombang Kelvin, ARLINDO), 2) FaktorAtmosfer (Cuaca Ekstrim) dan 3) Faktor Geologi (Tektonik dan Penurunan Muka Tanah). Kenaikan muka laut di Selat Makassar air laut yang disebabkan oleh Gelombang Kelvin mencapai

7.5 cm/10 tahun (1993-2002). Kenaikan muka laut di Selat Makassar

akibat Arlindo: 42.09 cm. Dengan demikian Total kenaikan akibat pemanasan global ditambah akibat Gelombang Kelvin dan Arlindo menjadi 69.4 cm (Tahun 2000) , 88.16 cm (Tahun 2025), dan 1.44 cm

(Tahun 2100).

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

33

Gambar 11. Peta Indeks Bahaya kenaikan laut kota Mak assar Tahun 2010 Analis a data-data

Gambar 11.

Peta Indeks Bahaya kenaikan laut kota Mak assar Tahun 2010

Analis a data-data kejadian banjir di Kota M akassar di atas, maka Peny ebab Rawan Bencana Banjir disebabka n oleh beberapa

faktor, yaitu

faktor kondisi alam, faktor peristiwa al am, dan aktivitas

manusia. Be berapa aspek yang termasuk dalam fa ktor kondisi alam

letak geografis

penyebab b anjir adalah kondisi alam (misalnya

wilayah), ko ndisi toporafi, geometri sungai, (misal nya meandering,

penyempitan

Tidak tertutup

menyebabka n kenaikan permukaan air laut.

ruas sungai, sedimentasi, serta peman asan global yang

kemungkinan terjadinya degradasi lahan, sehingga m enambah luasan

areal dataran

rendah. Faktor Peristiwa Alam seperti

; a. Curah hujan

yang tinggi

dan lamanya hujan; b. Air lau t pasang yang

c. Air/arus balik

(back water)

subsidance); Aktivit as Manusia diantaranya; a. Pembud idayaan daerah

mengakibatk an pembendungan di muara sungai;

dari sungai utama; d. Penurunan m uka tanah (land

dataran banji r; b. Peruntukan tata ruang kawasan bel um memadai dan

tidak sesuai;

Sistem drainase

yang tidak

alur sungai; h.

Kurangnya k esadaran masyarakat di sepanjang

memadai; f. Terbatasnya tindakan m itigasi banjir; g.

dataran banji r; d. Permukiman di bantaran sungai; e.

c. Belum adanya pola pengelolaan da n pengembangan

Penggundula n hutan di daerah hulu; i. Ter batasnya upaya

pemeliharaan

memperhatik an peil banjir.

bangunan pengendali banjir; j. Elevas i bangunan tidak

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar |

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 34

34

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 34

2.2.2. Kondisi Kapasitas

Kondisi Kasitas Penanggulanan bencana di Kota Makassar

-

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya didukung dengan sumber daya manusia aparatur yang memadai yakni sebanyak 57 (lima puluh tujuh) orang

-

Telah melakukan penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat dalam penaggulangan bencana dengan 16 jenis lembaga yang telah mejadi mitra BPBD Kota Makassar dengan 752 Personil

-

Terlaksananya upaya peningkatan sekolah tangguh bencana,

-

Kota Makasar telah memiliki Peta Rawan Bencana dan 6 peta rawan bencana berdasarkan Kecamatan,

-

Telah menyusun SOP Banjir,

-

Telah memilik STOCK Logistik yang cukup untuk bantuan Banjir ,

-

Memiliki sarana dan prasrana yang cukup

-

Tabel 9.

Sarana danprasarana yang tersedia pada Ruang Posko BPBD Kota

Makassar

NO

SEKTOR

RATA-RATA

KETERANGAN

RASIO

KECUKUPAN

1

Bidang Posko (Pusat Pengendali Operasi/Pusdalops)

5,74

sangat bagus

2

Bidang Perencanaan

0,23

sangat kurang

3

Bidang Logistik dan Peralatan

0,10

sangat kurang

4

Bidang Operasi - Sektor SARdan Keamanan

1,41

sangat bagus

5

Bidang Operasi - Sektor Kesehatan

0,39

sangat kurang

6

Bidang Operasi - Sektor Sarana dan Prasarana

1,67

sangat bagus

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

35

Tabel 10. Ketersediaan Sumber Daya Peralatan Perahu Karet

No

Instansi/Lembaga

Jumlah

personil

 

Peralatan

1

BPBD Makassar

9 Buah

20

2

PSC

1 Buah

30

3

SAR Unhas

2 Buah

30

4

SAR UNM

30

5

LANTAMAL

5 Buah

459

6

TAGANA

2 Buah

7

DINKES

1 Buah

8

BASARNAS

5 Buah

27

9

POLAIRUD

5 Buah

6

10

BRIMOB

1 Buah

60

11

PMI

1 Buah

12

SAR 45

20

13

SAR Sulawesi

10

14

SAR Pramuka

30

15

SAR Hidayatullah

20

16

SAR Wahdah

10

Islamiyah

 

TOTAL RELAWAN

752

2.2.3. Tingkat Risiko Bencana

Hampir setiap tahunnya beberapa bagian kota di Kota Makassar mengalami banjir. Banjir itu pada umumnya terjadi pada bulan Desember- Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi pada setiap tahunnya. Beberapa banjir besar yang pernah terjadi di antaranya adalah pada tahun 1967 dan tahun 1976, sedangkan pada tahun 1983 dan 1986 telah pula terjadi banjir yang walaupun tidak sebesar yang terjadi pada tahun 1976. Banjir yang cukup besar yang terjadi di Kota Makassar beberapa tahun terakhir ini adalah yang terjadi pada tahun 1999, 2000, dan tahun 2013dimana sebagian besar wilayah kota mengalami kebanjiran.

Matriks berikut menunjukkan bahwa proses penilaian tingkat kejadian atau resik banjir dan besarnya dampak yang ditimbulkan. Proses perencanaan kontinjensi hanya sesuai untuk peristiwa atau kejadian dengan tingkat besar dan parahnya dampak yang ditimbulkan, sedangkan Kejadian- kejadian yang tidak terlalu parah, cukup menggunakan kebijakan-kebijakan yang ada, bahkan jika tidak parah sama sekali tidak perlu disusun rencana kontinjensi.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

36

Tabel 11. Penilaian tingkat resiko dan dampak bencana

   

TINGKAT KEJADIAN

 

DAMPAK

 

Dapat Diabaikan

Kecil

Besar

Parah

 

Kebijakan yang ada

Tetapkan skenario

Perlu

proses

perencanaan

Ringan

 

Tidak

perlu

Kebijakan yang ada

Tetapkan skenario

 

perencanaan

Hampir

Tidak

Tidak

perlu

Tidak

perlu

Kebijakan yang ada

Ada

perencanaan

perencanaan

Berdasarkan data yang tercatat di BPBD Kota Makassar pada bulan Januari tahun 2013 bahwa kerugian bencana banjir di beberapa wiayah Kota Makassar diantaranya rumah terdampak sebanyak 10.240 Unit, Jumlah jiwa terdampak sebanyak 32.798 jiwa atau sebanyak 14.116 KK dan dampak kerugian lainnya serta meluasnya genangan yang mencapai 6 (enam) kecamatan. Ini menunjukkan bahwa tingginya resiko bencana banjir di Kota Makassar sehingga penilaian tingkat resiko dan dampak bencana berdampak parah dan tingkat kejadian besar. Upaya-upaya untuk membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi jenis ancaman bencana banjir adalah Perencanaan Kontinjensi sebagai langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana atau kedaruratan, termasuk kesiapsiagaan masyarakat. Diperlukannya skenario dan asumsi-asumsi proyeksi kebutuhan untuk tanggap darurat, tindakan teknis dan manajerial, dan sistem tanggapan dan pengerahan potensi, atau skenario penanggulangan secara lebih baik dalam situasi darurat atau kritis.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

37

Bagian 3.

PENILAIAN ANCAMAN DAN PENGEMBANGAN SKENARIO

3.1. Penilaian Ancaman

3.1.1. Metode Penentuan Ancaman

Satu rencana kontijensi fokus pada kesiapan menghadapi satu jenis ancaman bencana. Dalam penyusunan rencana kontijensi ini dilakukan pemilihan satu ancaman menggunakan model matriks pemeringkatan ancaman berdasarkan probabilitas dan dampak suatu jenis ancaman oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga pemegang mandat penanggulangan bencana di Indonesia, yang memiliki salah satu tugas menetapkan standard dalam penanggulangan bencana.

Probabilitas Ancaman

Skor

Arti

5

Pasti ( 80% - 99% )

4

Kemungkinan Besar ( 60% - 80% )

3

Kemungkinan terjadi ( 40% - 60% )

2

Kemungkinan kecil ( 20% - 40% )

1

Kemungkinan sangat kecil 20%

Dampak Ancaman

Skor

Arti

5

Sangat parah, 80% - 90% wilayah hancur dan lumpuh

4

Parah, 60% - 80% wilayah hancur

3

Sedang, 40% - 60% wilayah yang terkena rusak

2

Ringan, 20% - 40% wilayah rusak

1

Sangat Ringan, kurang dari 20% wilayah rusak

3.1.2. Hasil Penentuan Ancaman

Untuk penentuan Ancaman dimulai dengan mengidentifikasi semua jenis ancaman yang ada, kemudian masing-masing ancaman diberi skor dari aspek “probabilitas” dan besaran “dampak”.

Hasil identifikasi dan pemberian skoring untuk masing-masing jenis ancaman di Kota Makassar sebagai berikut:

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

38

Tabel 12. Matrik Skroring Probabilitas dan Dampak

No

Ancaman

Probabilitas

Dampak

1

Banjir

5

3

2

Kebakaran pemukiman

5

3

3

Angin Kencang/Puting Beliung

4

3

4

Abrasi/Gelombang tinggi

4

2

5

Konflik Sosial

3

2

Hasil penilaian ini kemudian dimasukkan dalam mtriks untuk menentukan skala tingkat bahaya seperti di bawah ini. Dari proses pemeringkatan ancaman dalam forum multistakeholders diperoleh hasil dan kesimpulan bahwa ancamanbanjir memiliki peringkat tertinggi dibanding jenis ancaman lain yang ada di Kota Makassar. Oleh karena itu rencana kontinjensi yang prioritas perlu disusun di Kota Makassar untuk saat ini adalah Rencana Kontinjensi Banjir.

Tabel 13. Matrik Skala Tingkat Bahaya

5 Kebakaran Banjir 4 Abrasi Angin P. Beliung 3 Konfilk Sosial 2 1 1 2
5
Kebakaran
Banjir
4
Abrasi
Angin P.
Beliung
3
Konfilk
Sosial
2
1
1
2
3
4
5
Probabilitas
3 Konfilk Sosial 2 1 1 2 3 4 5 Probabilitas Keterangan: Dampak Tingkat bahaya “tinggi”

Keterangan:

Dampak

Tingkat bahaya “tinggi” (prioritas untuk Rencana Kontijensi) Tingkat bahaya “sedang” Tingkat bahaya “rendah”
Tingkat bahaya “sedang” Tingkat bahaya “tinggi” (prioritas untuk Rencana Kontijensi) Tingkat bahaya “rendah”
Tingkat bahaya “rendah”Tingkat bahaya “tinggi” (prioritas untuk Rencana Kontijensi) Tingkat bahaya “sedang”

3.2. Penentuan Kejadian

Penentuan kejadian banjir bedasarkan; 1) wilayah rawan bencana, 2) kenaikan permukaan air laut, 3) curah hujan maksimum serta4) fakor lainya yang dianggap dominan.Wilayah rawan banjir Kota Makassarmeliputi24 Kelurahan dari 6 Kecamatan (Manggala, Tamalanrea, Rappocini, Panakukang, Tallo, dan Biringkanaya).

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

39

Tabel 14. Penentuan kajian banjir di Kota Makassa r

No

Parameter

Indikator

Sumber

Bulan

Data

pemantau

an

1

wilayah

rawan

Potensi genangan > 80% dari 24 kelurahan 6 Kecamatan

BPBD

Desember

bencana

Januari

2

Curah hujan

>700mm selama beberapa waktu berturut-turut

BMKG-

Desember

MARITIM

Januari

3

Kenaikan

munson barat yang ditandai dengan kecepatan angin mencapai >24 knot diperairan supermonde, tinggi gelombang laut diatas rata-rata yaitu > 2 m

BMKG-

Desember

permukaan

air

MARITIM

Januari-

laut

Pebruari

4

fakor

lainya

Munculnya peristiwa anomali

BPBD-

Desember

yang dianggap

BMKG

dan

Januari -

dominan.

Stakehol der

Pebruari

Faktor Curah Hujan

Potensi Curah h ujan yang menyebabkan banjir berda sarkan perkiraan

BMKG dengan inten sitas curah hujan mencapai >700mm s elama beberapa

waktu berturut-turut yang dapat memicu potensi banjir lebih tinggi.

835 CURAH HUJAN 2012-2013 634,7 519,8 44 5 371 206,8 75,6 68,5 71 35,4 0
835
CURAH HUJAN 2012-2013
634,7
519,8
44 5
371
206,8
75,6
68,5
71
35,4
0
0
9,8
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nop
De s
Jan

Gambar 12.

Intens itas Curah hujan Januari 2012 – Janu ari 2013 (sumber : BMKG, Stasiun Klimatologi Maros)

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar |

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 40

40

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kot a Makassar | 40

Berdasarkan hasil pemantauan potensi banjir di perkirakan akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014 (Desember-Januari) berpotensi banjir tinggi di terjadi di beberapa kabupaten kota termasuk Kota Makassar yaitu kecamatan Panakukang dan kecamatan Tamalate. Ada dua kemungkinan potensi banjir bandang terjadi di kota Makassar, jika secara bersamaan terjadi peningkatan kapasitas curah hujan diatas rata-rata 600/mm , terjadinya pasang tertinggi atau bulan purnama. Secara spatial prediksi banjir menurut BMKG, Dirjensumber daya air, departemen PU dan Bakosurtanal tahun 2013 dan tahun 2014.

air, departemen PU dan Bakosurtanal tahun 2013 dan tahun 2014. Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

41

Gambar 13. Peta potensi banjir Januari Tahun 2013 – 2014 sulawesi bagian selalatan Kenaikan Permukaan

Gambar 13.

Peta potensi banjir Januari Tahun 2013 – 2014 sulawesi bagian selalatan

Kenaikan Permukaan airlaut

Pada bulan Desember, pola angin didominasi dari barat laut dengan

kecepatan angin maksimum 8 knot. Pola arus permukaan saat air pasang di

laut lepas dari selatan dengan kecepatan mencapai 0,16 meter/detik menuju ke

utara dengan kecepatan yang semakin menurun yakni 0,03 meter/detik.

Sedangkan pada saat surut, pola arus permukaan di laut lepas dari utara

dengan kecepatan mencapai 0,04 meter/detik menuju ke selatan dengan

kecepatan yang semakin meningkat yakni 0,20 meter/detik.

Pada bulan Januari dan Februari merupakan puncak dari munson

barat yang ditandai dengan curah hujan tinggi dan kecepatan angin yang tinggi

dan didominasi dari arah barat laut dan barat. Pola arus yang terjadi di laut

lepas baik saat pasang maupun surut menunjukkan pola yang sama yakni dari

utara dan terbagi menuju ke timur dan selatan.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

42

Gambar 14. Pola Arus Pasang (1) dan Surut (2) Bulan Desember Gambar 15. Pola Arus

Gambar 14.

Pola Arus Pasang (1) dan Surut (2) Bulan Desember

Gambar 14. Pola Arus Pasang (1) dan Surut (2) Bulan Desember Gambar 15. Pola Arus Pasang
Gambar 14. Pola Arus Pasang (1) dan Surut (2) Bulan Desember Gambar 15. Pola Arus Pasang

Gambar 15.

Pola Arus Pasang (1) dan Surut (2) Bulan Januari

3.3. PengembanganSkenario

Skenario banjir Makassar dalam dokumen Rencana Kontijensi ini dikembangkan berdasarkan kejadian bencana banjir yang terjadi pada tanggal1-14 Januari 2013dan Tahun 2014dengan penambahan sejumlah wilayah yang diidentifikasi berpotensi terkena dampak banjir.

3.2.1 Skenario Kejadian

Dengan memperhitungkan faktor dominan curah hujan tinggi pada bulan Desember 2012 hinga Januari 2013 dan Desember 2013 hingga januari 2014. Maka pada tahun 2015 diperkirakan banjir akanmelanda 24 Kelurahan di 6 Kecamatan di Kota Makassar. Banjir mulai terjadi pada jam 2 subuh, di mana sebagian besar penduduk masih sedang tidur. Banjir ini dipicu adanya curah hujan yang tinggiselama beberapa hari di Kota Makassar dan sekitarnya, sehingga air dari 2 sungai besar yang masuk ke Kota Makassar yaitu Sungai Tallo dan Jeneberang meluap. Kondisi banjir diperburuk dengan sistem drainase yang tidak memadaidi sejumlah wilayah. Intensitas banjir di beberapa wilayah juga dipengaruhi oleh naiknya air laut (rob) serta kurang wilayah resapan. Ketinggian banjir bervariasi antara 1 – 3 meter.Banjir berlangsung selama 6 hari.

Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar |

43

3.2.2

Skenario Dampak

Skeario dampak bencana akan mempengaruhi aspek demografi, wilayah, infrastrutur, ekonomi, social budaya, pendidikan, kesehatan, keamanan dan

ketertiban. 1) Kondisi Demografi Skenario Bencana Banjir mengakibatkan 101.972jiwa terdampak banjir dan 1.012jiwa masyarakat mengungsi. Kelurahan Panaikang sebesar 9.651

jiwa, Kelurahan. Jumlah jiwa paling banyak terletak di Kelurahan Kassi- kassi sebesar 10.961 jiwa, Kelurahan Panaikang sebesar 9.651 jiwa, Kelurahan Karunrung sebesar 9.532 jiwa, dan Kelurahan Tamalanrea Jaya sebesar 8.735 jiwa. Penduduk yang melakukan evakuasi sebanyak 1.012sebanyak 26% diantaranya kategori umur muda, 66% jiwa umur dewasa dan 8 % kategori umur lansia (dapat dilihat pada grafik dan gambar berikut).