Anda di halaman 1dari 200

RPJMD

KABUPATEN BANYUWANGI
2011 - 2015
DAFTAR ISI
Hal

BAB I PENDAHULUAN ...................................................... 1


1.1. Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2. Dasar Hukum Penyusunan ...................................................... 2
1.3. Hubungan Antar Dokumen..................................................... 3
1.4. Metode Koleksi Data UntukPenyusunan ................................ 4
1.5. Sistematika Penulisan .............................................................. 5
1.6. Maksud dan Tujuan.................................................................. 6

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


KABUPATEN BANYUWANGI ................................... 8
2.1. Aspek Geografi dan Demografi................................................. 16
2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat . 17
2.3. Aspek Pelayanan Umum 27
2.4. Aspek Daya Saing Daerah .. 30

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN


DAERAH................................................................... 36
3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu dan Proyeksi ... 36
3.2. Arah Kebijakan Pengelolaan Keuangan................................... 46
3.3. Kebijakan Umum Anggaran .................................................... 49

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS............................... 52


4.1 Pendidikan dan Kesehatan ..................................................... 52
4.2 Kemiskinan dan Pengangguran ..................................... 54
4.3 Revitalisasi Sektor Pertanian dan Pariwisata .. 55
4.4 Infrastruktur .. 56
4.5 Lingkungan . 57
4.6 Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (Good Governance).... 57

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN..................... 59


5.1 Visi............................................................................................... 59
5.2 Misi .................................................................................... 60

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015


BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN........................ 64
6.1 Lingkungan Strategis.................................................................. 66
6.2 Analisis Strategi .. 74
.......................... 76
6.3 Strategi Pembangunan Daerah Kabupaten Banyuwangi ... 79
6.4 Faktor Penentu Keberhasilan.....................................................

BAB VII ARAH KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM 80


PEMBANGUNAN DAERAH .................................... 80
7.1 Arah Kebijakan Umum ............................................................. 118
7.2 Program Pembangunan Daerah ....

BAB VIII INDIKATOR KINERJA DAERAH ............................ 171


8.1 Penentuan Indikator Kinerja....................................................... 171
8.2 Indikator dan Target Kinerja ............................................. 173
8.3 Proyeksi Target Kinerja .. 190

BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH


PELAKSANAAN........................................................ 195
9.1 Pedoman Transisi........................................................................ 196
9.2 Kaidah Pelaksanaan ........................................................... 196

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 ini merupakan penjabaran dari visi
dan misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih, berdasar hasil Pemilihan Umum
Kepala Daerah (Pemilukada) pada 14 Juli 2010. RPJMD, dengan demikian,
merupakan dokumen strategis dan langkah awal untuk merealisasi janji-janji
yang telah disampaikan kepada publik sebelum pemilihan oleh pasangan
terpilih. Melalui RPJMD, Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah
(Renstra SKPD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten
Banyuwangi akan lebih terarah dan disesuaikan dengan visi dan misi Bupati
dan Wakil Bupati terpilih.
Selain itu, penyusunan RPJMD merupakan sebuah amanah yang
harus diikuti, sebagaimana terlihat dalam pasal 2 (dua) ayat 2 (dua) Undang-
Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional. Hal ini perlu dilakukan agar rencana pembangunan Kabupaten
Banyuwangi lebih sistematis, terarah, terpadu dan tanggap terhadap
perubahan-perubahan. Penyusunan RPJMD sendiri dilakukan secara
integratif dengan dokumen-dokumen perencanaan yang lain, mulai dari
tingkat pusat dan provinsi. Ragangan semacam ini ditempuh untuk
menciptakan kordinasi dan sinkronisasi berbagai program yang telah
dirancang oleh pemerintah pusat dan provinsi. Berbagai program itu
diupayakan bisa saling mendukung, dan terhindar tumpang tindih. Pada
akhirnya, berbagai program pembangunan yang dilakukan bisa memberi
manfaat yang lebih besar kepada masyarakat Banyuwangi.
Adanya perencanaan merupakan sesuatu yang harus ada sebelum
melakukan tindakan-tindakan berupa implementasi program-program
pembangunan. Melalui perencanaan, sesuatu yang hendak dicapai sudah
ditentukan. Perencanaan sendiri didasarkan pada sumber daya atau potensi
yang dimiliki, kesempatan-kesempatan yang harus dimanfaatkan, berikut
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 1
kemungkinan adanya hambatan-hambatan yang mungkin saja terjadi.
Dengan demikian, perencanaan itu sedapat mungkin merupakan sesuatu
yang terukur.

1.2. Dasar Hukum Penyusunan


Perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dari
pembangunan nasional. Hal ini ditegaskan di dalam pasal 2 (dua) Peraturan
Pemerintah No 8 tahun 2008. Hal ini perlu dilakukan agar pembangunan di
daerah dilakukan secara terintegrasi dengan pembangunan nasional.
Berdasarkan pertimbangan seperti itulah, RPJMD Banyuwangi 2011-
2015 ini didasarkan pada dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
perencanaan, baik di tingkat nasional maupun provinsi. Secara lebih rinci,
yang dijadikan sebagai landasar penyusunan RPJMD Kabupaten Banyuwangi
2011-2015 adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-undangan;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
3. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun
2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi
Undang-Undang;
4. UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah;
5. UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
6. Undang-undang No 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional, tahun 2005-2025;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 2
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
9. Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional;
11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana diubah dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Peraturen Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang
Tahapan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
14. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur;
15. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP) Jawa Timur 2005-2025.
16. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi
Jawa Timur Tahun 2009-2014;

1.3 Hubungan antar Dokumen


Sebagai konsekuensi dari landasan hukum dari penyusunan RPJMD,
RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 memiliki keterkaitan
dengan dokumen-dokumen perencanaan pembangunan lainnya. Adapun
penjelasan keterkaitan itu adalah sebagai berikut:
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 3
1. RPJP Nasional tahun 2005-2025 dan RPJM Nasional tahun 2010-2014
merupakan dokumen perencanaan pembangunan di tingkat nasional.
Dokumen-dokumen ini berisikan visi, misi dan arah pembangunan
jangka panjang dan menengah untuk seluruh Indonesia. Sementara itu,
RPJP Provinsi Jawa Timur tahun 2005-2025 dan RPJMD Provinsi Jawa
Timur tahun 2009-2014 merupakan dokumen-dokumen yang berisikan
perencanaan pembangunan di Provinsi Jawa Timur. RPJMD Kabupaten
Banyuwangi tahun 2011-2015 harus memperhatikan dokumen-
dokumen itu agar terdapat sinkronikasi dan adanya koordinasi di dalam
implementasinya;
2. RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 merupakan pedoman
bagi penyusunan dokumen-dokumen perencanaan pembangunan di
lingkungan Kabupaten Banyuwangi, seperti di dalam penyusunan
Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD);
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi;
dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD). Di
samping untuk memudahkan koordinasi dan sinkronisasi, pengacuan
semacam itu dimaksudkan untuk memudahkan tercapainya sasaran dan
prioritas pembangunan Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015;.

1.4 Metode Koleksi Data untuk Penyusunan


Penyusun RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015
didasarkan pada tiga sumber data pokok:
1. Data sekunder, yaitu data-data yang mencakup visi misi Bupati dan Wakil
Bupati terpilih 2010, data-data statistik; dan data-data perencanaan
sebelumnya;
2. Focus Group Discussion (FGD), yang diikuti oleh para pemangku
(stakeholders) yang ada di Kabupaten Banyuwangi, seperti dari perwakilan
SKPD, tokoh-tokoh masyarakat, akademisi dan aktivis LSM;
3. Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten
Banyuwangi tahun 2010 tentang RPJMD tahun 2011-2015;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 4


1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-
2015 disusun sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang, dasar hukum penyusunan,
hubungan antar dokumen, metode koleksi data penyusunan,
sistematika penulisan dan maksud serta tujuan;
Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah, berisi kondisi geografi
dan demografi, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek
pelayanan umum dan aspek daya saing daerah;
BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah, berisi kinerja
masa lalu dan proyeksi, arah kebijakan pengelolaan keuangan
dan kebijakan umum anggaran;
BAB IV Analisis Isu-Isu Strategis, berisi uraian tentang isu-isu
strategis seperti pendidikan dan kesehatan, kemiskinan dan
pengangguran, revitalisasi sektor pertanian dan pariwisata,
infrastruktur, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan yang
baik;
BAB V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, berisi tentang visi,
penjelasan visi, misi, program prioritas, tujuan dan sasaran;
BAB VI Strategi dan Arah Kebijakan, berisi analisis SWOT dan arah
kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Banyuwangi;
BAB VII Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah,
berisi kebijakan umum pembangunan daerah sebagai acuan
program dan kegiatan yang akan dilaksanakan berisi program
pembangunan daerah, dan rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan baik dalam kerangka regulasi dan kerangka
anggaran;
BAB VIII Indikator Kinerja Daerah, berisikan uraian tentang indikator
kinerja dan proyeksi yang akan dicapai ke depan;
BAB IX Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan, berisikan
pedoman transisi dan kesinambungan dokumen dari yang satu

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 5


dengan yang lainnya serta kaidah pelaksanaan yang dipakai oleh
perangkat pemerintah daerah.

1.6 Maksud dan Tujuan


RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 pada dasarnya
dimaksudkan sebagai pedoman untuk memberikan arah terhadap kebijakan
keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan
program satuan kerja perangkat daerah, lintas satuan kerja perangkat
daerah, dan program kewilayahan. Di dalamnya juga terdapat rencana-
rencana kerja dan kerangka anggaran yang bersifat proyektif dan indikatif
selama lima tahun ke depan. Dengan demikian, semua dokumen operasional
di dalam perencanaan periode 2011-2015 di lingkungan pemerintahan
Kabupaten Banyuwangi harus mengacu pada RPJM ini.
Adapun tujuan dari RPJM Daerah Kabupaten Banyuwangi tahun
2011-2015 adalah berfungsi:
1. Sebagai pedoman untuk memberikan arah terhadap kebijakan keuangan
daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan
Pembangunan daerah tahun 2011-2015.
2. Sebagai pedoman bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di
dalam menyusunan rencana kerja antara tahun 2011 sampai tahun 2015,
termasuk di dalam menentukan program-program prioritas;
3. Sebagai pedoman di dalam penyusunan KUA dan PPAS, RAPBD antara
tahun 2011 sampai tahun 2015;
4. Sebagai tolok ukur di dalam mengukur dan melakukan evaluasi kinerja
tahunan setiap SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
antara tahun 2011 sampai tahun 2015;
5. Sebagai instrumen untuk memudahkan seluruh SKPD Pemerintah
Kabupaten Banyuwangi dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun
program dan kegiatan secara terpadu, terarah dan terukur;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 6


6. Sebagai instrumen untuk memahami secara utuh dan memudahkan
koordinasi, integrasi dan sinkronisasi seluruh SKPD Pemerintah
Kabupaten Banyuwangi dalam mengimplementasikan kebijakan,
program dan kegiatan operasional tahunan menuju masyarakat sejahtera
dan berakhlak.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 7


BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Dalam Bab ini diuraikan secara mendetail mengenai gambaran umum


kondisi Kabupaten Banyuwangi. Secara secara sistematis bahasan diurutkan
berdasarkan sub bab aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan
masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah.

2.1. Aspek Geografi dan Demografi


Kabupaten Banyuwangi memiliki luas wilayah 5.782,50 km2.
Banyuwangi masih merupakan daerah kawasan hutan karena besaran wilayah
yang termasuk kawasan hutan lebih banyak kalau dibandingkan kawasan-
kawasan lainnya. Area kawasan hutan mencapai 183.396,34 ha atau sekitar
31,72%; daerah persawahan sekitar 66.152 ha atau 11,44%; perkebunan dengan
luas sekitar 82.143,63 ha atau 14,21%; sedangkan yang dimanfaatkan sebagai
daerah permukiman mencapai luas sekitar 127.454,22 ha atau 22,04%. Sisanya
telah dipergunakan oleh penduduk Kabupaten Banyuwangi dengan berbagai
manfaat yang ada, seperti jalan, ladang dan lain-lainnya. Selain penggunaan
luas daerah yang demikian itu, Kabupaten Banyuwangi memiliki panjang garis
pantai sekitar 175,8 km, serta jumlah Pulau ada 10 buah. Seluruh wilayah
tersebut telah memberikan manfaat besar bagi kemajuan ekonomi penduduk
Kabupaten Banyuwangi.

Secara geografis Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung timur Pulau


Jawa. Wilayah daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang
merupakan daerah penghasil produk perkebunan; dan dataran rendah dengan
berbagai potensi produk hasil pertanian serta daerah sekitar garis pantai yang
membujur dari arah utara ke selatan yang merupakan daerah penghasil
berbagai biota laut.

Batas wilayah Kabupaten Banyuwangi sebelah utara adalah Kabupaten


Situbondo, sebelah timur adalah Selat Bali, sebelah selatan adalah Samudera
Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jember dan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 8


Bondowoso. Berdasarkan garis batas koordinatnya, posisi Kabupaten
Banyuwangi terletak di antara 70 43 - 80 46 Lintang Selatan dan 1130 53
1140 38 Bujur Timur.

H u t a n ( 3 1 ,9 8 % ) S a w a h ( 1 1 ,5 3 % )
L a in - la in ( 1 7 ,5 1 % ) L a d a n g ( 2 ,80 % )
P e r k e b u n a n ( 1 4 ,2 1 % ) P e r m u k im a n ( 2 1 ,6 6 % )
T a m b a k ( 0 ,3 1 % )

Sumber: Kab. Banyuwangi dalam Angka 2010

Diagram 2.1:
Luas Kabupaten Banyuwangi
Dibedakan Menurut Penggunaannya

Topografi wilayah daratan Kabupaten Banyuwangi bagian barat dan


utara pada umumnya merupakan pegunungan, dan bagian selatan sebagian
besar merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan rata-rata pada wilayah
bagian barat dan utara 400, dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila
dibanding dengan bagian wilayah lainnya. Daratan yang datar sebagian besar
mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 150, dengan rata-rata curah hujan
cukup memadai sehingga bisa menambah tingkat kesuburan tanah.

Dataran rendah yang terbentang luas dari selatan hingga utara di mana
di dalamnya terdapat banyak sungai yang selalu mengalir di sepanjang tahun.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 9
Di Kabupaten Banyuwangi tercatat 35 DAS, sehingga di samping dapat
mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga berpengaruh positif terhadap
tingkat kesuburan tanah.

PETA ADMINISTRASI
KABUPATEN BANYUWANGI

P. Kalong

P. Merah
P. Bedil P. Watupagar
P. Karangbolong
P. Lutung P. Watulayar
P. Mustika

P. Mandi

Gambar 2.1: Peta Administrasi Kabupaten Banyuwangi

Berdasarkan data statistik, potensi lahan pertanian di Kabupaten


Banyuwangi berada dalam peringkat ketiga setelah Kabupaten Malang dan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 10


Jember. Tidaklah mengherankan kalau Kabupaten Banyuwangi menjadi salah
satu lumbung pangan di Provinsi Jawa Timur.

Di samping potensi di bidang pertanian, Kabupaten Banyuwangi


merupakan daerah produksi tanaman perkebunan dan kehutanan, serta
memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah penghasil ternak yang
merupakan sumber pertumbuhan baru perekonomian rakyat. Dengan
bentangan pantai yang cukup panjang, dalam perspektif ke depan,
pengembangan sumberdaya kelautan dapat dilakukan dengan berbagai upaya
intensifikasi dan diversifikasi pengelolaan kawasan pantai dan wilayah
perairan laut.

Penduduk Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2009 sejumlah


1.587.403 jiwa, dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 0,22 % dan tingkat
kepadatan 275 jiwa/km2. Meskipun penduduk Kabupaten Banyuwangi belum
tergolong padat, namun pertumbuhannya harus dikendalikan agar terpelihara
keseimbangannya dengan daya dukung wilayah.

Sejalan dengan upaya mewujudkan kesejahteraan sosial, indikator


kualitas sumberdaya manusia melalaui Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
perlu mendapatkan perhatian khusus, karena hal tersebut menjadi salah satu
barometer keberhasilan pembangunan.

Diagram 2.2: IPM, ABH, UHH dan Rata-rata Lama Sekolah


Kabupaten Banyuwangi tahun 2005-2009
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 11
Dari sisi ini, Pada tahun 2005- 2009 IPM Kabupaten Banyuwangi
mengalami peningkatan dari 64,52 tahun 2006, meningkat menjadi 67,24
tahun 2007 dan menjadi sebesar 68,24 pada tahun 2009. Peningkatan angka
IPM terutama ditopang oleh angka melek huruf (adult literacy rate),
meningkatnya rata-rata lama sekolah (mean years of schooling), umur
harapan hidup (life expectancy) dan daya beli masyarakat (purchasing
power).

Selama tahun 2006-2009 angka melek huruf di Kabupaten Banyuwangi


mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 sebesar 84,86%, tahun 2007
sebesar 87,33%, tahun 2008 sebesar 87,89% dan pada tahun 2009 meningkat
menjadi 88,98%. Pada kurun waktu antara 2006-2009 juga terjadi
peningkatan angka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Banyuwangi. Pada
tahun 2006 rata-rata lama sekolah adalah 6,68 tahun sedangkan tahun 2009
selama 6,73 tahun.

Selain itu, angka Harapan Hidup sebesar 66,93 tahun 2009 meningkat
dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2008 sebesar 66,53 tahun,
meningkat dari tahun 2007 yang hanya sebesar 65,94 tahun.

Sebagaimana pemerintah pusat dan provinsi, pembangunan pendidikan


diprioritaskan pada pendidikan dasar dalam rangka penuntasan wajib belajar
pendidikan 9 (sembilan) tahun. Melalui prioritas ini, pada akhir tahun
pelaksanaan RPJMD, sebagian besar penduduk Kabupaten Banyuwangi
sekurang-kurangnya tamat SLTP atau yang sederajat. Untuk mewujudkan
sasaran tersebut, kondisi di Kabupaten Banyuwangi dapat dijelaskan antara
lain melalui Angka Partisipasi Sekolah (APS). Angka Partisipasi Sekolah (APS)
untuk usia SD (7-12 tahun) dari tahun 2006-2009 adalah sebagai berikut:
tahun 2006 sebesar 96,56%, tahun 2007 sebesar 98,90%, tahun 2008 sebesar
99,00%, dan tahun 2009 sebesar 98,99%. Angka Partisipasi Sekolah (APS)
untuk usia SLTP (13-15 tahun) sebesar sebesar 80,07%, tahun 2006, pada
tahun 2007 menjadi sebesar 86,85%, dan meningkat menjadi sebesar 87,82%
tahun 2008, serta sebesar 86,86% pada tahun 2009. Angka Partisipasi Sekolah
(APS) untuk usia SLTA (16-18 tahun) sebesar sebesar 55,16% tahun 2008, dan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 12
kembali mengalami peningkatan menjadi sebesar 59,75% tahun 2009. Secara
detail APS SLTP dan SLTA terlihat dari diagram berikut ini:

Diagram 2.3: APS SLTP dan SLTA


Kabupaten Banyuwangi tahun 2006-2009

Di sisi yang lain, lesunya dunia usaha dan rendahnya investasi baru
berdampak pada rendahnya pertumbuhan lapangan kerja baru. Padahal
jumlah pencari kerja terus bertambah seiring dengan laju pertumbuhan
penduduk. Demikian pula laju pertumbuhan penduduk usia produktif yang
siap bersaing mengisi peluang pasar kerja, tampaknya tidak terlepas dari
kecenderungan terus meningkatnya tamatan lembaga-lembaga pendidikan
formal. Kondisi semacam ini memberikan imbas yang cukup berat bagi
ketenagakerjaan di Banyuwangi. Hal ini tercermin dari Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT), dari tahun 2006 sebesar 6,7%, pada tahun 2007 menjadi 5,8%,
tahun 2008 sebesar 5,6% dan menurun pada tahun 2009 menjadi sebesar
4,1%.

Di bidang kesehatan, ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan yang


semakin memadai menunjukkan korelasi positif dengan jangkauan pelayanan
kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat. Kondisi kesehatan penduduk
Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain
Angka Kematian Bayi (AKB), Pertolongan persalinan medis oleh tenaga
kesehatan dan Angka Harapan Hidup (AHH).

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 13


Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005
sebesar 46,32 bayi meninggal. Pada tahun 2006 menurun menjadi sebesar
44,9 bayi meninggal. Pada tahun 2007 terus menurun menjadi sebesar 43,9
bayi meninggal. Angka Kematian Bayi menjadi 43,3 tahun 2008, dan terakhir
pada tahun 2009 angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup mengalami
penurunan secara signifikan menjadi 42,1.

Pertolongan persalinan medis oleh tenaga kesehatan pada tahun 2006


sebesar 87,9% meningkat menjadi sebesar 95,61% pada tahun 2008 dan
menjadi 92,1% pada tahun 2009.

Grafik 2.1: AKB, Pertolongan Persalinan Medis dan AHH


Kabupaten Banyuwangi tahun 2006-2009

Adapun dukungan infrastruktur/fasilitas kesehatan di Kabupaten


Banyuwangi, antara lain, mencakup Puskesmas sebanyak 45 buah, Puskesmas
Pembantu 105 buah, Puskesmas Keliling 30 buah dan Rumah Sakit
Umum/Khusus 10 buah. Rasio Puskesmas dengan penduduk adalah 2,83 per
100.000 penduduk atau setiap Puskesmas melayani sekitar 35.276 penduduk.
Rasio Puskesmas Pembantu 6,61 per 100.000 penduduk atau setiap
Puskesmas Pembantu melayani 15.118 penduduk.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 14


Sementara itu, pluralitas dalam kehidupan beragama mewarnai
masyarakat Kabupaten Banyuwangi. Penganut agama Islam menduduki posisi
terbesar, yakni mencapai 95,24%, disusul pemeluk agama Hindu sebanyak
2.19%, Protestan sebanyak 1,59%, Katolik sebanyak 0,74%, dan pemeluk
agama Budha sebanyak 0,5%.

Fasilitas peribadatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan


data tahun 2009 sebagai berikut: masjid sebanyak 1.695, pura sebanyak 124,
gereja sebanyak 137, dan vihara sebanyak 32.

Pada sisi kehidupan umat Islam, jumlah jamaah haji di Kabupaten


Banyuwangi dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Data jamaah haji
tahun 2009 (sebanyak 1.067 jamaah) jika dibandingkan dengan jamaah haji
tahun sebelumnya meningkat 24%. Mobilitas penduduk dan pertumbuhan
ekonomi pada dasarnya berdampak pada dinamika sosial masyarakat yang
tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan sosial yang timbul dalam
masyarakat. Permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di Banyuwangi
dapat terlihat pada perkara yang ditangani oleh pengadilan agama dan perkara
pidana. Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 telah
menerbitkan 1968 akte cerai pada tahun 2008 sebanyak 1.270 dan pada tahun
2009 sebanyak 1.597. Alasan utama dari perceraian tersebut adalah tidak
adanya keharmonisan akibat terus menerus berselisih, selain itu disebabkan
karena meninggalkan kewajiban, adanya krisis akhlak dan adanya gangguan
pihak ketiga.

Sementara perkara pidana yang sering terjadi di Banyuwangi adalah


pelanggaran lalu lintas. Hal ini terlihat dari hasil catatan Pengadilan Negeri
Banyuwangi dimana pidana lalu lintas telah terjadi sebanyak 14.213 pada
tahun 2008, menurun dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 20.325
kasus.

Pelanggaran kejahatan masih terus merajalela di wilayah Kabupaten


Banyuwangi terutama perjudian dan pencurian, hal ini tercermin dari jumlah
narapidana yang diputus karena kriminalitas (kejahatan) sebesar 4.137

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 15


meningkat dari menjadi sebesar 4.712 pada tahun 2007. Demikian pula jumlah
narapidana yang diputus karena pelanggaran sebesar 18 orang pada tahun
2007 meningkat dari menjadi sebesar 21 orang pada tahun 2008.

Unjuk rasa di Kabupaten Banyuwangi sebagian besar dilakukan oleh


LSM dan masyarakat umum, dan selebihnya dilakukan oleh
mahasiswa/pelajar. Jumlah unjuk rasa tahun 2005 dilakukan oleh 8.626 orang
dan puncaknya pada tahun 2006 dilakukan oleh 18.995 orang dan kemudian
menurun pada tahun 2007 menjadi sebesar 11.859 orang.

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat


Kondisi perekonomian daerah secara makro di Kabupaten Banyuwangi
dari tahun 2005 hingga 2009 menunjukkan pergerakan yang stabil. Hal ini
dapat ditunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari tahun
2005 sebesar 4,58% menjadi 5,59% pada tahun 2007 dan meningkat menjadi
6,04% pada tahun 2009. Demikian pula Produk Domestik Regional Bruto
Angka Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK) mengalami peningkatan yang
signifikan dari tahun 2005 sebesar Rp 8,39 trilyun meningkat menjadi Rp 9,3
trilyun pada tahun 2007 dan menjadi Rp 10,4 rupiah pada tahun 2009. Secara
rinci dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Berdasarkan data dalam Tabel 2.1., terlihat bahwa kondisi ekonomi
Kabupaten Banyuwangi mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun, yaitu
sebesar 4,58% pada tahun 2005 menjadi 6,04% pada tahun 2009. Dengan kata
lain, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi di atas 5%.
Padahal pada akhir tahun 2007 hingga kuartal kedua tahun 2008,
pertumbuhan ekonomi nasional dan dunia sempat tertekan akibat kenaikan
harga BBM dunia yang pada akhirnya mendorong naiknya harga BBM, barang
dan jasa di dalam negeri. Pada kurun waktu yang sama, pertumbuhan ekonomi
di Banyuwangi justru mengalami kenaikan, meskipun agak lambat.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 16


Tabel 2.1:
PDRB ADHK dan Pertumbuhan Ekonomi
Kabupaten Banyuwangi tahun 2005-2009

RealisasiKondisi
No. Sektor
2005 2006 2007 2008 2009

1. PERTANIAN 4.178.474,97 4.371.508,37 4.610.837,91 4.852.070,74 5.134.326,25
PERTAMBANGAN&
2. PENGGALIAN 335.450,56 354.370,48 375.773,94 400.032,86 426.031,59

3. INDUSTRIPENGOLAHAN 500.095,16 517.825,45 538.906,54 561.314,48 588.452,20
LISTRIK,GASDANAIR
4. MINUM 52.475,13 55.266,02 58.347,90 61.668,00 65.685,97

5. BANGUNAN 26.729,36 28.164,25 30.043,75 32.116,82 33.470,68
PERDAG.,RESTORAN&
6. HOTEL 1.887.714,39 2.025.100,05 2.171.970,61 2.334.754,61 2.511.102,45
PENGANGKUTAN&
7. KOMUNIKASI 372.265,76 390.056,18 405.812,29 429.048,29 451.014,23
BANKDANLEMBAGA
8. KEUANGAN 574.935,64 591.591,24 613.594,18 643.935,42 671.011,14

9. JASAJASA 462.701,85 482.045,10 503.778,56 530.111,77 558.234,84


TOTAL 8.390.842,82 8.815.927,14 9.309.065,68 9.845.052,99 10.439.329,35

PertumbuhanEkonomi
4,58% 5,07% 5,59% 5,76% 6,04%

Perkembangan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi tidak terlepas


dari perkembangan ekonomi nasional yang sangat dipengaruhi perekonomian
dunia. Resesi ekonomi di berbagai belahan dunia berimbas pula ke termasuk
Indonesia. Terdapat pengaruh bagi kondisi perekonomian Banyuwangi
meskipun tidak signifikan. Hal ini disebabkan kondisi perekonomian di
Kabupaten Banyuwangi lebih banyak ditopang oleh sektor riel. Krisis ekonomi
yang terjadi tidak memberikan pengaruh langsung bagi usaha mikro, kecil dan
menengah (UMKM) dan koperasi. Di samping itu, kurangnya pengaruh
disebabkan keterkaitan antara UMKM dan koperasi dengan perekonomian
global yang masih sangat terbatas. Orientasi sebagian besar UMKM dan
koperasi pada pasar lokal menyebabkan UMKM dan koperasi relatif lebih bisa
bertahan dalam kondisi krisis ekonomi saat ini. Berdasarkan data BPS terdapat
96,2% UMKM yang tidak berbadan hukum dan bergerak di sektor-sektor non

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 17


pertanian yang masih memasarkan produknya hanya sebatas di dalam wilayah
kabupaten. Sisanya memasarkan produknya antar provinsi (2,4%) dan antar
negara (0,13%). Kondisi ini terkait dengan jenis dan kualitas produk dan jasa
yang disediakan oleh UMKM dan koperasi yang pada umumnya baru bisa
menjangkau standar dan konsumen di pasar lokal dan regional.

Angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi mengalami penurunan


dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasar PSE tahun 2005, jumlah
penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi adalah sebanyak 463.196 atau
sejumlah 157.347 RTM. adapun berdasarkan hasil PPLS tahun 2008, jumlah
Rumah Tangga miskin di Kabupaten Banyuwangi sebesar 129.324 keluarga
dengan jumlah penduduk miskin sebesar 312.395 jiwa.

Pada tahun 2009 besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)


Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Banyuwangi mencapai Rp
10,4 trilyun, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2007-2008,
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan
(ADHK) berada di atas Rp 9 trilyun, meningkat dari tahun 2005-2006 yang
hanya dalam kisaran Rp 8 trilyun. Sejak tahun 2005 sampai dengan tahun
2009 besaran PDRB ADHK menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan.
Kenaikan ini antara lain disebabkan adanya kenaikan harga barang dan jasa
pada masing-masing kegiatan ekonomi. Peningkatan PDRB ADHK Kabupaten
Banyuwangi pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, berturut-turut pada
besaran yang relatif stabil.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil tersebut terutama ditopang oleh


sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang mampu tumbuh rata-rata di atas
7% setiap tahunnya. Pada tahun 2006, sektor ini yang hanya tumbuh 6,69%,
namun meningkat secara signifikan menjadi 7,25% pada tahun 2007, dan
menjadi 7,55% tahun 2009. Sementara sektor paling besar yang menopang
adalah sektor pertanian yang mempunyai kontribusi paling besar, dan tumbuh
dengan signifikan. Pada tahun 2006, sektor ini yang hanya tumbuh 3,7%,
kemudian meningkat signifikan menjadi 5,47% pada tahun 2007, dan menjadi
5,82% tahun 2009.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 18
Stabilitas pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi
sebagaimana tersebut di atas, tidak lepas dari berbagai upaya yang
dilaksanakan, khususnya melalui stimulan belanja pemerintah, mendorong
bergeraknya investasi dari UMKM, serta mendorong produksi dan konsumsi
masyarakat atas produk-produk lokal Banyuwangi. Konsumsi masyarakat
diupayakan untuk tetap dijaga dengan memelihara daya beli masyarakat
melalui pengendalian inflasi ketersediaan pasokan komoditas utama,
kebutuhan pokok dan berbagai program pemberdayaan masyarakat dan
bantuan sosial. Efektivitas pengeluaran pemerintah juga ditingkatkan dengan
program stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat dan peningkatan
investasi dengan mendorong UMKM yang ada di Banyuwangi.

Sedangkan stimulus perekonomian dapat dilihat dari sisi pengeluaran


belanja daerah. Belanja daerah pada tahun 2006 yang hanya sebesar Rp 801,7
milyar, meningkat secara drastis pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp 1,038
trilyun, dan terus meningkat menjadi Rp 1,116 trilyun pada tahun 2008 serta
menjadi Rp 1,316 trilyun pada tahun 2009. Peningkatan tersebut terutama
didorong oleh penerimaan dana perimbangan yang mencapai lebih dari 90%
penerimaan daerah. Sejak tahun 2007 hingga 2009 penerimaan daerah dari
dana perimbangan mengalami peningkatan dan dalam kisaran diatas 800
milyar rupiah. Pada tahun 2007 sebesar Rp 729,2 milyar, meningkat menjadi
Rp 801,3 milyar tahun 2007, dan meningkat menjadi Rp 897 rupiah pada
tahun 2009.

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh


Sektor Pertanian mempunyai peran sektoral PDRB yang paling besar mencapai
diatas 49%, yang diikuti oleh diikuti Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran.
Pada tahun 2006, kontribusi sektor pertanian mencapai 49,59%, pada tahun
2007 sebesar 49,53%, pada tahun 2008 menjadi sebesar 49,28%, dan pada
tahun 2009 meningkat menjadi sebesar 49,18%. Adapun kontribusi sektor
perdagangan, restoran dan hotel sebagai sektor prioritas kedua, memberikan
kontribusi pada PDRB ADHK Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2006

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 19


mencapai 22,97%, pada tahun 2007 sebesar 23,33%, pada tahun 2008 menjadi
sebesar 23,72%, dan meningkat signifikan pada tahun 2009 sebesar 24,05%.

Tabel 2.2:
Pertumbuhan Ekonomi Sektor-Sektor
Kabupaten Banyuwangi tahun 2005-2009

P
6
E
R
S 5
E
N 4

2
2005 20 06 2007 2008 2009
PERTANIAN 3,7 4,62 5,47 5, 23 5,82
PERTAMBANGAN&PENGGALIAN 6,13 5,64 6,04 6, 46 6,5
I NDUSTRI PENG OLAHAN 3 3,55 4,07 4, 16 4,83
LISTRIK,GASDANAIRMINUM 5,2 5,32 5,58 5, 69 6,52
BANGUNAN 4,4 5,37 6,67 6, 9 4,22
PERDAGANGAN,RESTORAN&HOTEL 6,69 7,28 7,25 7, 49 7,55
PENGANGKUTANDANKOMUNI KASI 5,7 4,78 4,04 5, 73 5,12
BANKDANLEMBAGAKEUANGAN 4,58 2 ,9 3,72 4, 94 4,2
JASAJASA 3,74 4,18 4,51 5, 23 5,31
PERTUMBUHANEKONOMI 4,58 5,07 5,59 5, 76 6,04

Oleh sebab itu pada kebijakan pemerintah Kabupaten Banyuwangi


dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat
diletakkan pada prioritas utama untuk mendorong peningkatan produktivitas
pertanian termasuk perikanan dan kelautan dengan didukung peningkatan
nilai tambah yang lebih tinggi dari jasa perdagangan, hotel dan restoran.
Secara rinci kontribusi sektor-sektor dalam Produk Domestik Regional Bruto

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 20


(PDRB ADHK) di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut:

Tabel 2.3:
Kontribusi Sektor-Sektor dalam PDRB ADHK
Kabupaten Banyuwangi tahun 2005-2009
50

40
P
E 30
R
S 20
E
10
N
0
2005 2006 2007 200 8 2 009
PERTANIAN 49,8 49,59 49,53 49,28 4 9,18
PERTAMBANGAN &PENGGALIAN 4 4,02 4,04 4 ,0 6 4,08
INDUSTRIPENGOLAHAN 5,96 5,87 5,79 5,7 5,64
LISTRIK , GASDANAIRMINUM 0,63 0,63 0,63 0 ,6 3 0,63
BANGUNAN 0,32 0,32 0,32 0 ,3 3 0,32
PERDAGANGAN,RESTORAN&HOTEL 22,5 22,97 23,33 23,72 2 4,05
PEN GANGKUTANDAN KOMUNIKASI 4,44 4,42 4,36 4 ,3 6 4,32
BANKDANLEMBAGAKEUANGAN 6,85 6,71 6,59 6 ,5 4 6,43
JASAJASA 5,51 5,47 5,41 5 ,3 8 5,35

Dari sisi pengeluaran, investasi dan belanja daerah menjadi penggerak


utama perekonomian dengan didorong oleh konsumsi masyarakat. Sedangkan
dari sisi produksi, sektor pertanian dan perdagangan menjadi faktor yang
sangat menentukan. Dari sisi kebijakan, pemerintah daerah terus
mengupayakan serangkaian kebijakan sebagai upaya menjaga stabilitas
ekonomi makro dan sistem keuangan sekaligus mencegah perlambatan
pertumbuhan ekonomi. Kebijakan belanja APBD Kabupaten Banyuwangi
diarahkan lebih bersifat ekspansif untuk (1) memelihara dan/atau
meningkatkan daya beli masyarakat; serta (2) meningkatkan daya serap tenaga
kerja melalui kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Banyuwangi
infrastruktur padat karya. Di sisi lain, pemerintah daerah juga melakukan
efisiensi dan penghematan dalam belanja untuk menjaga defisit anggaran
dalam batasan yang aman.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 21


Kondisi di atas menunjukkan adanya stabilitas ekonomi makro
Kabupaten Banyuwangi. Kestabilan ekonomi makro adalah batu pijakan bagi
keberhasilan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini sangat terkait
dengan pengeluaran per kapita masyarakat khususnya mereka yang
berpenghasilan rendah (bukan hanya karena mereka menganggur).
Pendapatan masyarakat yang rendah disebabkan produktivitas pekerjaan yang
mereka lakukan juga rendah, yang antara lain disebabkan sumber daya
manusia yang sangat rendah. Peningkatan pendidikan dan pelatihan kerja
terus diuapayakan agar masyarakat dapat memperoleh pekerjaan yang lebih
baik. Pada saat yang sama, masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan
yang sebagian besar penghasilannya berasal dari sektor pertanian, juga terus
diuapayakan agar mempunyai pengetahuan yang tepat mengenai bagaimana
memacu peningkatan produktivitas pertanian. Pembangunan yang besar di
bidang infrastruktur telah dan perlu terus ditingkatkan ditunjang dengan
layanan penyuluhan pertanian yang efektif. Upaya yang terus ditingkatkan
untuk menghubungkan masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah
dengan berbagai peluang. Pada sebagian penduduk di daerah pedesaan bukan
hanya tidak memiliki kemampuan; mereka juga tidak memiliki sarana untuk
terhubung dengan pertumbuhan. Kadang-kadang kaitan yang hilang itu
bersifat fisik. Sebagai contoh, akses ke pasar di beberapa daerah pedesaan
terkendala oleh kualitas jalan yang buruk di tingkat kecamatan. Pada tahun
2006 hingga tahun 2009, hal ini terus diupayakan antara lain meningkatkan
partisipasi masyarakat melalui program P2JD, P2JD plus. Upaya lainnya juga
terus ditingkatkan antara lain meningkatkan akses rumah tangga miskin untuk
memperoleh kredit, antara lain karena mereka tidak mempunyai jaminan; dan
meningkatkan akses penduduk di daerah perkotaan yang mengalami kesulitan
terhadap pasar tenaga kerja.

Berdasarkan tinjauan pembangunan wilayah, telah dilakukan berbagai


upaya antara lain, pertama, daerah perkotaan yang telah dan terus
dipersiapkan baik secara politik maupun ekonomi, untuk menyerap ekonomi
di daerah-daerah sekitarnya (hinterland) yang sedang tumbuh pesat. Kedua,
kendala-kendala atas pertumbuhan usaha non-pertanian di daerah pedesaan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 22
telah diatasi bagi daerah daerah yang belum terserap dalam pertumbuhan
daerah perkotaan. Dengan kata lain, perbaikan kondisi perekonomian di
pedesaan menjadi faktor penentu bagi pengurangan angka kemiskinan,
meskipun pada akhirnya usaha-usaha pedesaan itu berubah menjadi usaha-
usaha perkotaan. Peningkatan produktivitas pertanian menjadi jalan keluar
penting dari peningkatan perekonomian di pedesaan.

Namun demikian kegiatan pedesaan nonpertanian juga dapat menjadi


batu pijakan peningkatan perekonomian di wilayah pedesaan. Sudah cukup
banyak masyarakat yang meningkat kondisi ekonominya, meskipun tetap
tinggal di daerah pedesaan. Karena itu, kebijakan pemerintah daerah
diarahkan mendorong proses transformasi pedesaan. Di daerah pedesaan,
telah terjadi diversifikasi bertahap atas kegiatan-kegiatan ekonomi, yang
ditandai dengan adanya ketergantungan pada sumber penghasilan
nonpertanian. Proses diversifikasi pedesaan ini mencerminkan kesempatan
yang lebih besar untuk pertumbuhan dalam kegiatan ekonomi nonpertanian
yang dinamis dibandingkan dalam kegiatan pertanian itu sendiri, meskipun
peningkatan produktivitas pertanian masih dipandang sebagai jalan keluar
yang paling utama. Selain itu, kebijakan pemerintah daerah sangat berperan
dalam usaha peningkatan usaha pertanian dan nonpertanian, dan juga dalam
usaha menghubungkan masyarakat dengan pekerjaan yang lebih baik.

Di samping itu, melakukan investasi untuk meningkatkan kemampuan


masyarakat tampaknya telah dapat memberi hasil yang tinggi. Upaya
pendidikan khususnya dengan memacu pendidikan tingkat dasar ke tingkat
menengah serta meningkatkan jumlah dan kualitas sekolah menengah di
daerah pedesaan, menjadi kunci untuk mendongkrak kemampuan masyarakat
khususnya yang berpenghasilan rendah untuk berpartisipasi dalam
pertumbuhan ekonomi. Perbaikan akses kursus informal dapat juga
membantu peningkatan kemampuan produktif masyarakat, khususnya di
daerah perkotaan. Menghubungkan masyarakat khususnya yang
berpenghasilan rendah dengan peluang-peluang bagi pertumbuhan adalah
upaya yang sangat penting. Dampak keterhubungan juga tinggi, khususnya

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 23


bagi lapangan kerja sektor formal di luar pertanian. Akses terhadap jalan
beraspal sama halnya dengan akses terhadap permodalan di beberapa wilayah.
Bagi sebagian besar masyarakat bukan petani melihat bahwa kendala-kendala
terpenting yang mereka hadapi terkait dengan: rendahnya permintaan
terhadap barang dan jasa yang mereka produksi; kesulitan memperoleh kredit;
dan masalah pemasaran akibat buruknya jalan, transportasi dan infrastruktur
listrik.

Selain itu, ada beberapa langkah kebijakan ekonomi mikro yang penting
yang telah dilakukan untuk mendukung berbagai jalan keluar guna
peningkatan perekonomian masyarakat. Pertama, upaya memacu
produktivitas masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah yang bekerja
di sektor pertanian di daerah pedesaan melalui peningkatan akses mereka
terhadap pengetahuan dan teknologi pertanian serta upaya peningkatan
layanan penyuluhan pertanian. Intervensi yang telah dilakukan antara lain
melalui perbaikan jalan pedesaan, serta perbaikan akses terhadap listrik dan
irigasi di sebagian kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Kedua, upaya
memacu produktivitas masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah
yang bekerja di sektor nonpertanian. Yang perlu ditekankan di sini adalah
upaya melalui peningkatan pendidikan yang lebih baik agar mereka dapat
memperoleh pekerjaan yang lebih baik, serta peningkatan pelatihan kerja.
Akan tetapi, usaha usaha nonpertanian yang mempekerjakan masyarakat
khususnya yang berpenghasilan rendah seperti itu juga telah dihubungkan
secara lebih baik dengan kutub-kutub pertumbuhan di kota Banyuwangi,
Genteng, Rogojampi, Jajag, dan Muncar. Upaya memacu produktivitas
masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah yang bekerja di sektor
nonpertanian di daerah perkotaan juga memerlukan penekanan pada
pendidikan dan pelatihan kejuruan. Namun, cara menghubungkan masyarakat
khususnya yang berpenghasilan rendah di daerah perkotaan dengan
pertumbuhan sedikit berbeda dengan cara di daerah pedesaan. Meskipun
perbaikan infrastruktur masih cukup penting bagi peningkatan perekonomian
di daerah perkotaan yang paling dibutuhkan adalah menghubungkan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 24


masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah perkotaan dengan pasar
kerja formal.

Upaya perbaikan akses kredit permodalan telah terbukti sangat


membantu menghubungkan kelompok-kelompok masyarakat khususnya yang
berpenghasilan rendah tersebut dengan berbagai peluang. Petani
membutuhkan modal untuk membiayai berbagai sarana produksi pertanian;
usaha nonpertanian di daerah pedesaan sangat mengalami kendala akses
modal. dan usaha di daerah perkotaan khususnya usaha mikro dan kecil
yang melibatkan sebagian besar penduduk miskin juga mengalami kendala
untuk mendapatkan kredit modal. Karena itu, langkah-langkah tersebut
dilakukan untuk meningkatkan akses kredit komersial ini mungkin merupakan
bagian penting untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Stabilitas pertumbuhan ekonomi juga tidak lepas dari tantangan berat


tingginya laju inflasi. Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-
barang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam kurun
waktu tertentu secara terus-menerus. Harga barang yang ada mengalami
kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku di setiap wilayah.
Akibatnya, terjadi proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Sejak
tahun 2005 hingga tahun 2007, laju inflasi mengalami fluktuasi dan
kondisinya berada di atas 10%, tahun 2005 sebesar 13,43%, menurun pada
tahun 2006 menjadi 10,46%, dan meningkat lagi tahun 2007 menjadi sebesar
11,27%. Laju inflasi ini kemudian dapat dikendalikan dan mengalami
penurunan menjadi di bawah 10 % pada tahun 2008 tepatnya berada pada
level 9,72% (lihat diagram 2.1). Dengan inflasi pada kisaran tersebut, justru
diharapkan mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong
perekonomian daerah lebih baik, yaitu membuat masyarakat bergairah untuk
bekerja dan melaksanakan diversifikasi usaha, menabung dan mengadakan
investasi yang dampaknya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat dan daerah.

Meskipun demikian kondisi ini (kisaran 10%) tetap terjaga dan tidak
sampai terjadi inflasi yang tak terkendali (hiperinflasi). Yang terakhir ini
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 25
berpotensi menyebabkan gangguan pada stabilitas ekonomi di mana para
pelaku ekonomi enggan untuk melakukan aktifitas dalam perekonomian serta
menurunnya daya beli masyarakat secara umum akibat harga-harga yang naik.
Tetapi, karena inflasi relatif terkendali, kecenderungan demikian relatif bisa
dikendalikan juga.

Peningkatan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi seiring dengan


stimulasi APBD pada PDRB. Pada tahun 2006 peran APBD terhadap PDRB
sebesar 5,9%, meningkat pada tahun 2008 menjadi sebesar 6,2%. APBD tahun
2006 sebesar Rp 801,7 milyar dengan total PDRB ADHB sebesar Rp 13,5
triyun. Angka ini meningkat pada tahun 2007 dengan jumlah APBD sebesar
Rp 1,038 trilyun dengan total PDRB ADHB sebesar Rp 15,78 triyun. Pada
tahun 2008 APBD sebesar Rp 1,116 trilyun dengan total PDRB ADHB sebesar
Rp 18,134 triyun.

18,13
18
15,78
16

14 13,43 13,5
Inflasi(%)
12 11,27
10,46
StimulasiAPBDterhadap 9,72
10
PDRB(%)
APBD(trilyun) 8
5,9 6,2
6
PDRBADHB(trilyun)
4

2 0,801 1,038 1,116

0
2005 2006 2007 2008

Diagram 2.4: Tingkat Inflasi, APBD dan PDRB ADHB


Kabupaten Banyuwangi tahun 2005-2008

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 26


Peningkatan perekonomian juga nampak dari meningkatnya indeks
daya beli masyarakat. Pada tahun 2005 indeks daya beli sebesar 55,7
meningkat menjadi 63,52 tahun 2007, menjadi sebesar 65 pada tahun 2008.

Peningkatan PDRB di Kabupaten Banyuwangi disebabkan peningkatan


konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, investasi, dan perdagangan antar
daerah. Di sektor investasi pada tahun 2009 terdapat penurunan modal asing
sebesar US $ 300.000, dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp.
130,38 milyar.

2.3. Aspek Pelayanan Umum


Infrastruktur merupakan pemicu pembangunan suatu wilayah serta
sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pendorong peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang
punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang. Infrastruktur
lainnya seperti kelistrikan dan irigasi merupakan salah satu aspek terpenting
untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. Ketersediaan jaringan air
bersih serta pengelolaannya dan peningkatan layanan publik yang dikelola
oleh pemerintah seperti prasarana kesehatan, pendidikan, dan sarana olah
raga secara berkelanjutan sangat menentukan tingkat kesejahteraan
masyarakat.

Berdasarkan hasil catatan Unit Pelaksana Teknis Bina Marga Provinsi


Jawa Timur dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyuwangi, pada tahun
2006-2007 tidak ada peningkatan panjang jalan yang beraspal, yaitu sebesar
100,53 km jalan negara, dan 114,35 km jalan provinsi. Mreskipun demikian,
terdapat peningkatan kondisi jalan negara dari panjang jalan dalam kondisi
baik sebesar 45,98 km menjadi 46,98 km. Untuk jalan Kabupaten, pada tahun
2006, kondisi jalan dari seluruh ruas jalan mengalami peningkatan dari
1.092,81 km meningkat menjadi 1.746,8 km dan menjadi 1.796,8 km dalam
kondisi baik, sedangkan kondisi jalan kabupaten yang rusak ringan menurun
dari 314 km pada tahun 2006 menjadi 137 km pada tahun 2008.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 27


Terkait dengan penyediaan infrastruktur tersebut permasalahan yang
dihadapi Kabupaten Banyuwangi adalah belum meratanya pembangunan
infrastruktur khususnya infrastruktur pertanian dan pedesaan. Pembangunan
infrastruktur pertanian (irigasi) merupakan prasarana penting dalam
mendukung pembangunan pertanian untuk mencapai ketahanan pangan
sedangkan pembangunan jaringan jalan merupakan prasarana transportasi
yang penting untuk memperlancar distribusi barang antar daerah serta
meningkatkan mobilitas penduduk. Dalam konteks pembangunan pertanian
dan pedesaan, jaringan jalan sangat dibutuhkan untuk kelancaran arus faktor
produksi maupun pemasaran hasil.

Dalam hal pelayanan umum terkait dengan birokrasi sebagai unit


pemerintah, berbagai upaya reformasi birokrasi yang telah dilakukan melalui
kegiatan yang rasional dan realistis dirasakan kurang memadai dan masih
memerlukan berbagai penyempurnaan. Dari sisi internal, berbagai faktor
seperti demokrasi, desentralisasi dan internal birokrasi itu sendiri, masih
berdampak pada tingkat kompleksitas permasalahan dan dalam upaya
mencari solusi lima tahun ke depan. Sedangkan dari sisi eksternal, faktor
globalisasi dan revolusi teknologi informasi juga akan kuat berpengaruh
terhadap pencarian alternatif-alternatif kebijakan dalam bidang aparatur
negara.

Dari sisi internal, faktor demokratisasi dan desentralisasi telah


membawa dampak pada proses pengambilan keputusan kebijakan publik.
Dampak tersebut terkait dengan semakin meningkatnya tuntutan akan
partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik; meningkatnya tuntutan
penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik, antara lain,
transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja publik serta taat pada hukum;
meningkatnya tuntutan dalam penyerahan tanggung jawab, kewenangan dan
pengambilan keputusan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 28


Demikian pula, secara khusus dari sisi internal birokrasi itu sendiri,
berbagai permasalahan masih banyak dihadapi. Permasalahan tersebut antara
lain adalah: pelanggaran disiplin, penyalahgunaan kewenangan dan
penyimpangan yang tinggi; rendahnya kinerja sumber daya aparatur; sistem
kelembagaan (organisasi) dan ketatalaksanaan (manajemen) pemerintahan
yang belum memadai; rendahnya efisiensi dan efektifitas kerja; rendahnya
kualitas pelayanan umum; rendahnya kesejahteraan PNS; dan banyaknya
peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai dengan
perkembangan keadaan dan tuntutan pembangunan.

Sedangkan dari sisi eksternal, faktor globalisasi dan revolusi teknologi


informasi merupakan tantangan sendiri dalam upaya menciptakan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Hal tersebut terkait dengan makin
meningkatnya ketidakpastian akibat perubahan faktor lingkungan politik,
ekonomi, dan sosial yang terjadi dengan cepat; makin derasnya arus informasi
dari manca negara yang dapat menimbulkan infiltrasi budaya dan terjadinya
kesenjangan informasi dalam masyarakat (digital divide). Perubahan-
perubahan ini, membutuhkan aparatur negara yang memiliki kemampuan
pengetahuan dan keterampilan yang handal untuk melakukan antisipasi,
menggali potensi dan cara baru dalam menghadapi tuntutan perubahan. Di
samping itu aparatur negara harus mampu meningkatkan daya saing, dengan
melakukan aliansi strategis untuk menjaga keutuhan bangsa.

Pelaksanaan reformasi birokrasi saat ini masih dirasakan kurang


berjalan sesuai dengan tuntutan reformasi. Masih tingginya tingkat
penyalahgunaan wewenang, banyaknya praktek KKN, dan masih lemahnya
pengawasan terhadap kinerja aparatur negara merupakan cerminan dari
kondisi kinerja birokrasi yang masih jauh dari harapan. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu upaya yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam upaya
mendorong peningkatan kinerja birokrasi aparatur negara. Tuntutan untuk
menciptakan pemerintahan yang bersih dan akuntabel merupakan amanah
reformasi dan tuntutan seluruh rakyat Indonesia.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 29


Tahun 2008 di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, jumlah
PNS mencapai 13.890 orang meningkat dari tahun 2007 sebesar 13.624 orang.
Jumlah PNS tahun 2008 terdistribusi dalam golongan III sebesar 5.988 orang,
golongan IV sebesar 4.930 orang, golongan II sebesar 2.705 orang dan sisanya
267 golongan I.

2.4. Aspek Daya Saing Daerah


Kabupaten Banyuwangi memiliki karakteristik wilayah, yang dalam
taraf tertentu, berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Karakteristik seperti ini
pada akhirnya bisa menjadi daya saing penting bagi Kabupaten Banyuwangi.

Wilayah Kabupaten Banyuwangi membentang dari dataran rendah


hingga pegunungan, dari kawasan nelayan di sepanjang garis pantai hingga
kawasan pertanian dan perkebunan yang terhampar dari wilayah utara, selatan
hingga wilayah barat. Di bagian Selatan, terdapat kawasan konservasi cagar
alam Meru Betiri dan Pantai Sukamade, yang merupakan kawasan
pengembangan penyu. Di bagian timur terdapat Taman Nasional Alas Purwo
dan di bagian utara terdapat dataran kawah gunung Ijen. Di bagian timur,
terdapat salah satu penghasil ikan terbesar di Indonesia yaitu Pelabuhan Ikan
Muncar. Tidak hanya keberagaman kondisi fisik, keberagaman budaya, etnis
dan bahasa juga dijumpai di Kabupaten Banyuwangi, dari suku Using, Jawa,
Bali, Madura hingga beberapa etnis lainnya.

Di samping itu, kekhasan budaya masyarakat Banyuwangi sebagai


potensi wisata yang senantiasa dijaga kelestariannya serta didorong
pengembangannya terutama pada 7 (tujuh) unsur, yaitu bahasa using,
kesenian tradisional, keragaman sistem religi, organisasi tradisional, sistem
pengetahuan, sistem peralatan dan teknologi, dan sistem mata pencaharian.
Ketujuh unsur khas Banyuwangi ini senantiasa digali dan dikembangkan untuk
memberikan keseimbangan dalam hubungan timbal balik yang dinamis antara
manusia dengan alam.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 30


Hingga tahun 2008, terdapat 23 obyek wisata yang menonjol, dan 2
diantaranya adalah wisata budaya. Dalam catatan 49 hotel di Kabupaten
Banyuwangi terdapat 330.476 wisatawan domestik, dan 19.416 wisatawan
mancanegara dengan tingkat hunian hotel rata-rata 22 orang per hari.

Potensi alam dan potensi budaya semacam itu merupakan modal yang
cukup besar bagi Kabupaten Banyuwangi untuk mengembangkan sektor
pariwisata guna mendongkrak perekonomian. Ketika potensi ini dikaitkan
dengan potensi lain, seperti sektor perekonomian dan industri olahan rakyat,
termasuk kerajinan, serta adanya pengembangan infrastruktur, akan menjadi
kekuatan yang sangat besar. Kabupaten Banyuwangi bisa menjadi basis
pengembangan sektor pariwisata dari Provinsi Bali, misalnya.

Sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB di Kabupaten Banyuwangi


masih sangat besar. Rata-rata masih sekitar 50% setiap tahunnya. Hal ini
memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Hanya saja, potensi semacam itu
belum termanfaatkan secara baik karena produk-produk pertanian masih
belum terkait secara baik dengan produk-produk olahan. Manakala produk-
produk pertanian itu diolah, akan memiliki nilai tambah tersendiri dan akan
menjadi sumber daya saing bagi Kabupaten Banyuwangi.

Sementara itu, kawasan permukiman di Kabupaten Banyuwangi pada


Tahun 2005 seluas 37.958,35 ha. Penduduk Kabupaten Banyuwangi Tahun
2005 sebesar 1.580.642 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 316.128 KK.
Artinya rata-rata 1 (satu) KK membutuhkan lahan permukiman seluas 0,12 ha
atau 1.200 m2. Dengan asumsi tersebut luas kawasan permukiman yang
dibutuhkan di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 seluas 43.982,23 ha.

Secara umum kawasan permukiman di Kabupaten Banyuwangi,


berdasarkan penyediaan wilayah permukimannya dapat dibedakan menjadi:

1. Kawasan permukiman yang dibangun oleh pengembang (developer);

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 31


2. Kawasan permukiman yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat.
Kawasan ini umumnya berupa kampung, serta permukiman formal
yang cenderung memiliki kapling lebih luas serta kawasan permukiman
pedesaan;

3. Kawasan permukiman yang diperkirakan akan tumbuh sebagai akibat


adanya perkembangan wilayah, sentra ekonomi, industri dan
infrastruktur, di antaranya:

a. Kawasan permukiman yang timbul karena pertumbuhan dan


perkembangan kota, seperti Kota Banyuwangi, Genteng, Rogojampi;

b. Kawasan permukiman yang timbul karena pengembangan jalan tol


yang melintasi Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Banyuwangi;

c. Kawasan permukiman yang timbul karena pembangunan kawasan


industri di Bangsring Wongsorejo;

d. Kawasan permukiman yang timbul karena pembangunan bandar


udara Blimbingsari dan Fishery Park Bomo di Kecamatan
Rogojampi;

e. Kawasan permukiman yang timbul karena pembangunan jalur


lintas selatan yang melewati Kecamatan Rogojampi, Srono, Muncar,
Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung, Pesanggaran,
Glenmore dan Kalibaru;

f. Kawasan permukiman yang timbul karena pengembangan lahan


peruntukan industri di Kecamatan Muncar.

Kawasan permukiman di Kabupaten Banyuwangi tersebar di dua


kawasan yaitu kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan.

A. Kawasan Perdesaan

Kawasan perdesaan secara umum dicirikan oleh wilayah yang


mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 32


alam dengan susunan fugsi kawasan sebagai tempat permukiman
perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan
ekonomi. Sedangkan kawasan perkotaan adalah kawasan yang
mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan
ekonomi.

Agar hubungan desa dan kota tetap dinamis maka penataan


struktur kawasan perdesaan dikembangkan dengan sistem Desa Pusat
Pertumbuhan (DPP). Desa-desa pusat pertumbuhan akan menginduk
pada pusat-pusat ibukota kecamatan, sedangkan ibukota kecamatan
menginduk pada pusat sub satuan wilayah pembangunan (SSWP),
sedangkan pusat SSWP akan menginduk ke Pusat Wilayah
Pengembangan. Selain desa pusat pertumbuhan, untuk tetap menjaga
keterkaitan antara kota dan desa (urban-rural linkages) yang bersifat
interpendensi timbal balik dan saling membutuhkan, dimana kawasan
pertanian di perdesaan mengembangkan usaha budidaya (on farm) dan
produk olahan skala rumah tangga (off farm), sebaliknya kota
menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budidaya dan
agribisnis seperti penyediaan sarana pertanian antara lain, modal,
teknologi, informasi, peralatan pertanian dan lain sebagainya.
Keterkaitan tersebut merupakan salah satu ciri dari agropolitan. Pola
penataan struktur ruang perdesaan merupakan upaya untuk
mempercepat efek pertumbuhan dari pusat-pusat SSWP.

B. Kawasan Perkotaan

Untuk mempermudah pembangunan di Kabupaten Banyuwangi


sesuai dengan karakteristik wilayahnya, Kabupaten Banyuwangi dibagi
menjadi 4 (empat) Wilayah Pengembangan yaitu :
1) Wilayah Pengembangan (WP) Banyuwangi Utara;
2) Wilayah Pengembangan (WP) Banyuwangi Tengah Timur;
3) Wilayah Pengembangan (WP) Banyuwangi Tengah Barat;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 33
4) Wilayah Pengembangan (WP) Banyuwangi Selatan.
Dari empat wilayah pengembangan tersebut, ditetapkan 1 (satu)
pusat wilayah pengembangan yang akan menjadi pusat orientasi dari
wilayah-wilayah yang ada di belakangnya. Pusat-pusat pengembangan
tersebut ditetapkan berdasarkan hasil analisa orde kota. Pusat kota yang
dimaksud adalah :
1. Banyuwangi yang berfungsi sebagai pusat pengembangan (WP)
Banyuwangi Utara;
2. Rogojampi ditetapkan sebagai pusat pengembangan untuk
wilayah Banyuwangi Tengah Timur;
3. Genteng ditetapkan sebagai pusat pengembangan untuk wilayah
Banyuwangi Tengah Barat;
4. Bangorejo ditetapkan sebagai pusat pengembangan untuk wilayah
Banyuwangi Selatan.
Penyusunan Kembali (Review) RTRW Kabupaten Banyuwangi
tahun 2005-2015 yang sedang dalam proses penyelesaian diharapkan
dapat menjadi rujukan pemanfatan ruang wilayah di Kabupaten
Banyuwangi termasuk penataan perumahan.

Rancangan Peraturan Daerah tentang Review RTRW Kabupaten


Banyuwangi tahun 2005-2015 pada tahun 2010, sudah dalam tahap
pengajuan untuk mendapatkan rekomendasi dari Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Timur.

Di samping itu, aspek lingkungan hidup sangat terkait dengan


perkembangan pembangunan daerah dan pertumbuhan penduduk.
Meningkatnya jumlah dan aktifitas penduduk telah menyebabkan
meningkatnya beban lingkungan. Rata-rata sampah meningkat dari 912,5
kg per hari pada tahun 2005 menjadi 2920 kg per hari pada tahun 2008.
Demikian pula beban pencemaran limbah industri, mengalami
peningkatan. Untuk itu upaya meminimalisir dampak yang terjadi juga
telah ditingkatkan. Pemeriksaan sampel air limbah industri dan badan air
ditingkatkan dari 44 sampel tahun 2005 menjadi 48 sampel tahun 2008.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 34


Untuk mengurangi pencemaran, pengadaan bibit penghijauan juga terus
dilaksanakan tiap tahunnya dengan rata-rata 3000 bibit per tahun untuk
menstimulasi kesadaran masyarakat.

Selain itu, jumlah penduduk Banyuwangi yang cukup besar


berpotensi memperkuat daya saing daerah, ketika penduduk yang besar
itu memiliki kualitas yang memadai.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 35


BAB III
GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Bab ini berisi uraian tentang gambaran umum mengenai pengelolaan


keuangan di Kabupaten Banyuwangi. Adapun yang menjadi fokus dari bahasan
adalah kinerja keuangan masa lalu dan proyeksi, arah kebijakan pengelolaan
keuangan dan kebijakan umum anggaran.

3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu dan Proyeksi


3.1.1 Kondisi Pendapatan Daerah dan Proyeksi
Untuk melihat kondisi pendapatan daerah Kabupaten Banyuwangi,
didasarkan pada data APBD target yang diproyeksikan selama lima tahun terakhir.
Sebagaimana terlihat di dalam Diagram 3.1, pendapatan Kabupaten Banyuwangi
memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.

Diagram 3.1: Proporsi Pendapatan Kabupaten Banyuwangi


Tahun 2006-2010

Peningkatan pendapatan Kabupaten Banyuwangi dan realisasinya


melampaui proyeksi yang ditargetkan dalam APBD. Kenaikan pendapatan
Kabupaten Banyuwangi berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan yang
diperoleh dari pos pendapatan asli daerah dan dana perimbangan dari tahun ke
tahun. Kecenderungan kenaikan pendapatan daerah ini cukup tinggi jika
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 36
dibandingkan dengan Kabupaten Bondowoso, sebagai daerah terdekat Kabupaten
Banyuwangi. Pendapatan daerah Kabupaten Bondowoso pada tahun 2007 adalah
Rp 519,56 milyar; pada tahun 2008 sebesar Rp 586,83 milyar; dan pada tahun
2009 meningkat menjadi Rp 678,71 milyar. Sedangkan pendapatan Kabupaten
Banyuwangi pada tahun 2007 sebesar Rp 924,73 milyar; pada tahun 2008 sebesar
Rp 1,02 trilyun; dan pada tahun 2009 naik menjadi Rp 1,14 trilyun.
Penyumbang terbesar pendapatan dalam struktur Pendapatan APBD
Kabupaten Banyuwangi selama 5 tahun terakhir bersumber dari pos dana
perimbangan. Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Bondowoso yang
pendapatannya ditopang oleh dana perimbangan hampir 80%. Dana perimbangan
Kabupaten Bondowoso pada tahun 2007 sebesar 88,63% (Rp. 460 juta),
sedangkan pendapatan daerahnya pada tahun 2007 sebesar 516 juta, tahun 2008
dana perimbangan kabupaten Bondowoso 89, 15% (Rp. 523 juta), pada tahun
2009 dana perimbangan mengalami kenaikan menjadi 78,93% (Rp. 535 juta).
Di Kabupaten Banyuwangi dana perimbangan selalu mengalami kenaikan
dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, pertumbuhan dana perimbangan mencapai
14,4%; pada 2008 kenaikan itu mencapai 15%. Secara keseluruhan proporsi
pendapatan daerah Kabupaten Banyuwangi tertopang oleh dana perimbangan
sekitar 80%. Dana perimbangan pada tahun 2006 sebesar 87,98%, pada tahun
2007 dana perimbangan masih menjadi penopang terbesar, sebesar 87,72%.
Sedangkan pada tahun 2008 dana perimbangan mengalami kenaikan yang besar
sekitar 91,48% dari pendapatan daerah. Namun kontribusi pendapatan asli daerah
memang belum maksimal. Adapun prosentase dari pendapatan asli daerah
terhadap pendapatan daerah sebesar 6,6% pada tahun 2006 dan 2007.
Pendapatan asli daerah Kabupaten Banyuwangi masih lebih tinggi dibanding
dengan Kabupaten Bondowoso. Pada tahun 2007 dan 2008 PAD di Kabupaten
Bondowoso masing menyumbang sekitar 5,8% dan 6,03% bagi pendapatan
daerah. Sedang pada tahun 2008 dan 2009 pendapatan asli daerah Kabupaten
Banyuwangi masing-masing sekitar 7,2% dan 7,6%.
Pendapatan daerah juga didapat dari pendapatan lain-lain yang sah. Setiap
tahunnya kenaikan dari pendapatan lain-lain yang sah ini mendekati 5%, kecuali
tahun 2009 yang mendekati angka 12%. Gambaran mengenai proporsi
pendapatan asli daerah di Kabupaten Banyuwangi bisa dilihat dari Diagram 3.2. di
bawah ini.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 37


Diagram 3.2: Perkembangan Anggaran Pendapatan Daerah
Kabupaten Banyuwangi tahun 2006-2010

Gambaran kondisi seperti di atas memperlihatkan perkembangan


pendapatan asli daerah (PAD), pendapatan asli daerah terdiri dari pajak daerah,
restribusi, hasil pengelolaan kekeyaan daerah yang dipisahkan dan pendapatan
lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Pembangunan Kabupaten Banyuwangi pada dasarnya tergantung dari
APBD yang akan disusun dan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. Apabila
melihat stuktur anggaran, di mana pada bagian pendapatan memiliki korelasi
dengan pengelolaan pendapatan asli daerah serta kekayaan daerah yang dimiliki,
maka pendapatan daerah menjadi tolok ukur kemadirian suatu daerah.
Penggalian sumber-sumber pendanaan dari daerah, pemanfaatan sumber-
sumber pendapatan asli daerah perlu ditingkatkan, agar ketergantungan sumber
keuangan dari pemerintahan pusat dan pemerintahan provinsi lambat laun bsa
dikurangi. Untuk itu perlu adanya terobosan-terobosan dalam meningkatkan
pendapatan asli daerah.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 38


Beberapa sektor yang bisa menjadi penyumbang peningkatan PAD antara
lain adalah pajak daerah, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Peningkatan pajak daerah digali dari pajak galian C, pajak reklame, pajak
penerangan jalan, pajak bumi dan bangunan, serta jasa restoran dan hotel.
Proyeksi pajak ke depan akan mengalami pertumbuhan sekitar 10% pada tahun
2011, pertumbuhan pajak daerah 11% pada tahun 2012 sampai tahun 2015
proyeksi pendapatan pajak mengalami pertumbuhan sekitar 12%.
Proyeksi retribusi ke depan akan mengalami kenaikan terutama pada
retribusi dari pengembangan pelayanan pasar, retribusi parkir dan retribusi
lainnya dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5% pada tahun 2011 dan pada tahun
2015 akan mengalami pertumbuhan sekitar 7%.
Pendapatan asli daerah ditopang oleh pendapatan hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Pada pendapatan hasil pengelolaan daerah yang pisahkan proyeksi pertumbuhan
diperkirakan sekitar 10% pada tahun 2011, dan pada tahun 2015 diperkirakan
akan mengalami pertumbuhan sekitar 10,25%.
Sedangkan peningkatan pendapatan asli daerah yang berasal dari lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah akan mengalami pertumbuhan sekitar 5% pada
tahun 2011 dan pada tahun 2015 pertumbuhannya sekitar 9%, pertumbuhan ini
diharapkan dari badan usaha milik daerah, penerimaan lain-lain seperti jasa giro
dan UPTD.
Proyeksi pendapatan lain-lain yang sah ke depan diperoleh dari dana bagi
hasil antara pemerintah pusat dan provinsi. Dana bagi hasil ini bisa didapat dari
bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan ini akan bisa didapat dengan membuat peraturan daerah.
Secara lebih detil, gambaran tentang pertumbuhan pendapatan APBD
Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 terlihat di dalam tabel 3.1 di bawah ini.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 39


Tabel 3.1:
Kondisi dan Proyeksi Pertumbuhan Pendapatan
APBD Kabupaten Banyuwangi
tahun 2011 -2015
Kondisi Pertumbuhan (dalam %) Proyeksi Pertumbuhan (dalam %)
Uraian
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
PENDAPATAN DAERAH 14.74% 10.34% 12.09% 2.02% 6.11% 6.27% 6.38% 6.49% 6.60%
PAD Untuk Pendapatan Daerah 1.00% 1..10% 1.15% 1.20% 1.25%
Pajak Daerah 8.86% 14.25% 4.88% (1.72)% 10.00% 10.50% 11.00% 11.50% 12.00%
Retribusi Daerah 3.06% 48.85% 51.37% (35.80)% 5.00% 5.50% 6.00% 6.50% 7.00%
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 28.63% 29.13% (10.93)% 31.22% 10.00% 10.10% 10.15% 10.20% 10.25%
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah 21.32% 7.16% 10.52% 33.70% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 9.00%
Pendapatan Asli Daerah 13.73% 21.06% 17.58% 0.13% 6.02% 6..10% 6.15% 6.20% 6.25%
Dana Perimbangan Untuk Pendapatan Daerah 5.10% 5.15% 5.20% 5.25% 5.30%
Dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak 18.55% 100.53% (33.55)% (10.10)% 5.00% 5.10% 5.20% 5.30% 5.40%
Dana alokasi umum 10.96% 10.44% (0.56)% (0.64)% 5.00% 5.05% 5.10% 5.15% 5.20%
Dana alokasi khusus 70.60% (6.34)% 41.87% 2.11% 1.50% 2.00% 2.50% 3.00% 3.50%
Dana Perimbangan 14.40% 15.06% (1.74)% (1.13)% 11.50% 12.15% 12.80% 13.45% 14.10%
Lain-lain pendapatan daerah yang sah 0.01% 0.02% 0.03% 0.04% 0.05%
Pendapatan hibah 14.27% 0.05% 0.10% 0.15% 0.20% 0.25%
Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintahan daerah
lainnya (13.59)% (12.23)% 1.50% 2.00% 2.50% 3.00% 3.50%
Dana penyesuaian dan otonomi khusus 10.92% 758.18% 64.57% 3.00% 3.50% 4.00% 4.50% 5.00%
Bantuan keuangan dari Provinsi atau pemerintah daerah
lainnya (89.69)% 4826.41% (6.42)% 1.10% 1.20% 1.30% 1.40% 1.50%
Sumbangan Pihak Ketiga
Lain-lain pendapatan daerah yang sah 21.66% (75.21)% 973.71% 23.86% 0.10% 0.15% 0.20% 0.25% 0.30%

Pertumbuhan PAD di dalam APBD semacam itu didasarkan pada asumsi


asumsi sebagai berikut:
a. Pertumbuhan ekonomi dalam periode tahun ke tahun diasumsikan
sebesar 6,09% pada tahun 2011, dan pada tahun 2015 diasumsikan
sebesar 6,48%. Ini merupakan proyeksi optimis. Sedangkan
proyeknya moderatnya adalah 6,40%. Secara lengkap, asumsi-
asumsi itu terlihat dalam grafik di bawah ini:

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 40


6,60

6,50 6,48

6,40 6,39 6,40


6,32
6,30 6,30
6,24
6,20 6,19
6,15
6,10 6,09

6,00
2011 2012 2013 2014 2015

ProyeksiModerat ProyeksiOptimis

Grafik 3.1: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi


tahun 2011-2015

b. Tingkat inflasi diperkirakan rata-rata antara sebesar 6% - 8% tahun


2011 hingga tahun 2015;
c. Laju pertumbuhan penduduk diperkirakan sebesar 0.2%.

3.1.2. Kondisi Belanja Daerah


Kondisi belanja daerah Kabupaten Banyuwangi mengalami pertumbuhan
sebagaimana pendapatan daerah. Penerapan format anggaran surplus/defisit baik
secara absolut maupun relatif menunjukan adanya suatu peningkatan sisi belanja,
belanja Kabupaten Banyuwangi sebesar Rp 681,2 milyar (2006), Rp 932,4 milyar
(2007), Rp 924,1 milyar (2008), Rp 1,17 trilyun (2009) dan Rp 1,4 trilyun (2010
APBD Perubahan). Sebagai perbandingan, belanja daerah Kabupaten Bondowoso
sekitar Rp 498,6 milyar (2007), Rp 600,9 milyar (2008) dan Rp 705,6 milyar
(2009).
Ditinjau dari komposisi penggunaannya, komponen belanja pelayanan
publik merupakan komponen yang cukup besar menyerap belanja daerah. Pada
tahun 2006 belanja layanan publik atau belanja langsung menyerap 73,2% dan
menyerap sebesar 41% (2007), 31,3% (2008) dan 35,3% (2009). Sedangkan
komponen belanja digunakan untuk belanja tidak langsung di tahun 2006
menyerap 26,8% dan di tahun 2007 menyerap sebesar 59%, dan sebesar 68,7%
tahun 2008 serta sebesar 64,7% tahun 2009. Akan tetapi, kalau mencermati

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 41


kondisi belanja belanja daerah secara umum bisa dilihat secara rinci pada diagram
sebagai berikut:

Diagram 3.3: Kondisi Belanja Kabupaten Banyuwangi


tahun 2006-2010

Berdasarkan struktur anggaran tersebut di atas, secara kumulatif anggaran


untuk menunjang program-program pembangunan (belanja langsung) mengalami
penurunan. Padahal belanja daerah mengalami kenaikan yang digunakan untuk
belanja tidak langsung.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pembiayaan belanja
langsung antara lain:
1. Pemenuhan standar pelayanan publik minimal di daerah;
2. Peningkatan efisiensi pelayanan publik di daerah;
3. Pengimplementasian strategi pro growth (pro investment), pro job,
dan pro poor di daerah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat;
4. Peningkatan akuntabilitas dan transparansi anggaran serta peningkatan
partisipasi masyarakat.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa kebutuhan daerah (fiscal need) di


Kabupaten Banyuwangi belum sebanding dengan kapasitas fiskal yang dimiliki

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 42


daerah (fiscal capacity). Konsekuensinya adalah munculnya kesenjangan fiskal
(fiscal gab). Untuk itu upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
dalam mengurangi kesenjangan fiskal adalah melalui peningkatan kemandirian
daerah, antara lain melalui kebijakan efisiensi dan efektifitas belanja yang
dimanfaatkan sebaik dan seoptimal mungkin untuk peningkatan pelayanan,
pemberdayaan masyarakat dan kemandirian daerah guna mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.
Upaya lainnya adalah melalui perbaikan iklim usaha dan investasi di
wilayah Kabupaten Banyuwangi, yang dapat meningkatkan kegiatan usaha dan
aktifitas perekonomian lainnya. Pada akhirnya kegiatan demikian akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat.
Dalam rangka mempertimbangkan belanja-belanja tersebut di atas, maka
diperlukan struktur anggaran dan pengelolaan keuangan daerah yang tepat.
Struktur anggaran yang tepat merupakan syarat pokok (necessary condition) bagi
pengelolaan keuangan yang baik di daerah. Untuk itu ada beberapa hal yang bisa
dilakukan.
Pertama, struktur anggaran di daerah harus secara eksplisit memisahkan
pendapatan dan pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari utang misalnya, tidak
bisa diklaim sebagai pendapatan karena suatu saat nanti dana tersebut harus
dikembalikan. Demikian pula, penerimaan yang berasal dari kinerja anggaran
tahun-tahun sebelumnya (seperti dana cadangan dan SILPA) ataupun dana-dana
yang sifatnya temporer (seperti hasil penjualan aset daerah) tak bisa dimasukkan
ke dalam komponen pendapatan daerah karena berpotensi mengganggu
perencanaan keuangan daerah.
Kedua, struktur alokasi anggaran harus disusun sesuai prioritasnya, yakni
antara alokasi belanja untuk urusan yang bersifat wajib dan pilihan, serta antara
alokasi belanja yang dirasakan manfaatnya secara langsung dan tidak langsung
oleh masyarakat. Pengelolaan keuangan di daerah meliputi mobilisasi pendapatan,
penetapan alokasi belanja daerah, dan mobilisasi pembiayaan. Untuk memenuhi
syarat kecukupan (sufficient condition) bagi pengelolaan keuangan daerah yang
baik maka daerah perlu memahami dan menggali potensi/keunggulan daerah
serta mengidentifikasi pokok-pokok permasalahan yang ada. Prioritas-prioritas

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 43


pembangunan daerah dengan beberapa pertimbangan tersebut menjadi dasar pola
alokasi belanja di Kabupaten Banyuwangi.

3.1.3. Kondisi Pembiayaan Daerah


Struktur anggaran pembiayaan terdiri dari penerimaan
pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan sebagai berikut :
a. Penerimaan pembiayaan, mencakup :
1) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Sebelumnya: sisa lebih
perhitungan anggaran sebelumnya dianggarkan berdasarkan
estimasi dan pada perubahan APBD sesuai dengan yang ditetapkan
dengan Peraturan Daerah, seperti diagram di bawah ini:

Diagram 3.4: Silpa Kabupaten Banyuwangi


tahun 2006-2010

2) Pencairan dana cadangan: pencairan dari dana cadangan


disesuaikan dengan rencana penggunaan dana cadangan
sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang
Pembentukan Dana Cadangan;
3) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan: hasil penjualan
kekayaan daerah yang dipisahkan dapat berupa penjualan hasil
penjualan perusahaan milik daerah/BUMD penjualan aset milik
pemerintah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, atau hasil
divestasi penyertaan modal pemerintah daerah;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 44


4) Penerimaan pinjaman: Penerimaan pinjaman daerah dianggarkan
sesuai dengan rencana penarikan pinjaman dalam tahun anggaran
sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui. Termasuk
penerimaan dari penerbitan obligasi daerah yang akan
direalisasikan pada tahun anggaran berkenaan.
5) Penerimaan kembali pemberian pinjaman: penerimaan pokok dari
pemberian pinjaman termasuk penerimaan pokok dari pemberian
dana bergulir.

b. Pengeluaran Pembiayaan:
1) Pembentukan dana cadangan: Pembentukan dana cadangan
dianggarkan melalui sejumlah dana cadangan yang harus
disisihkan dalam tahun anggaran sesuai dengan jumlah yang
ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Pembentukan Dana
Cadangan. Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah Daerah
pada dasarnya dapat membentuk dana cadangan guna membiayai
kebutuhan yang tidak dapat dibebankan dalam satu tahun
anggaran. Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud
ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang sekurang-kurangnya
mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan, pengelolaan
dan pertanggungjawabannya;
2) Penyertaan modal Pemerintah Daerah: Penyertaan modal yang
dianggarkan melalui sejumlah penyertaan modal yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah tentang penyertaan modal. Bentuk
penyertaan modal ini, misalnya melalui suntikan dana terhadap
badan usaha daerah yang telah dimiliki, pembentukan usaha baru,
baik secara sendiri oleh Pemerintah Daerah Kabupaten
Banyuwangi, bekerjasama dengan pemerinta daerah lainnya, atau
propinsi dan pemerintah pusat, maupun bekerjasama dengan
sektor swasta. Termasuk di dalam penyertaan modal ini adalah
investasi nirlaba Pemerintah Daerah;
3) Pembayaran pokok utang: Jumlah pembayaran pokok utang yang
jatuh tempo yang dianggarkan sejumlah pokok pinjaman yang
harus dibayarkan dalam tahun anggaran sesuai dengan perjanjian

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 45


yang telah disetujui antara Pemerintah Daerah dengan pemberi
pinjaman;
4) Pemberian pinjaman: Pemberian pinjaman kepada pihak ketiga
termasuk dalam bentuk dana bergulir untuk meningkatkan
kegiatan ekonomi masyarakat.

3.2 Arah Kebijakan Pengelolaan Keuangan


Mengacu kepada proyeksi indikator makro ekonomi dan dampaknya
terhadap pertumbuhan ekonomi, maka strategi-strategi kebijakan fiskal dalam
tahun 2011-2015 akan tetap diarahkan kepada hal-hal berikut: (1)
Mengoptimalkan peningkatan penerimaan daerah yang berasal dari sumber-
sumber PAD dan Dana Perimbangan; (2) Meningkatkan efisiensi pengelolaan
APBD dari sisi belanja; (3) Meningkatkan sumber penerimaan daerah melalui
intensifikasi dan ekstensifikasi PAD dan Bagi Hasil Pajak yang lebih rasional dan
proporsional; (4) Meningkatkan peran serta masyarakat dan sektor swasta, baik
dalam pembiayaan maupun pelaksanaan pembangunan. Cara yang terakhir ini,
misalnya, dilakukan melalui kerjasama melalui model kerjasama masyarakat,
swasta dan pemerintah (public-private patnership). Cara yang tekahir ini perlu
dilakukan mengingat kemampuan pemerintah daerah di dalam menggerakkan
kegiatan-kegiatan ekonomi dan pembangunan lainnya masih sangat terbatas.
Untuk itu, pelibatan masyarakat dan kelompok bisnis menjadi sesuatu yang sangat
dibutuhkan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 46


3.2.1 Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah
Pengelolaan pendapatan daerah lebih diarahkan pada optimalisasi
pendapatan daerah melalui upaya yang efektif dan efisien serta mendapatkan
dukungan masyarakat.
Arah pengelolaan pendapatan:
1. Kewenangan yang lebih luas dalam mengoptimalkan perolehan
pendapatan daerah;
2. Mendayagunakan dana melalui pola deposito;
3. Perubahan manajemen keuangan dengan memberi peran lebih pada
kas umum daerah;
4. Intensifikasi dan ekstensifikasi penggalian sumber-sumber
pendapatan daerah, terutama melalui usaha daerah dan
pendayagunaan aset daerah, termasuk pendapatan dari pihak ketiga;
5. Peningkatan kemampuan dan optimalisasi organisasi di bidang
pendapatan atau organisasi penghasil.
Upaya-upaya efektif dalam penggalian sumber-sumber pendapatan daerah
harus terus dilakukan tanpa harus menambah beban bagi masyarakat. Upaya ini
diperlukan agar pendapatan daerah tidak lagi harus bergantung pada satu atau
dua jenis pajak daerah saja.
Diversifikasi sumber pendapatan daerah menjadi mutlak dicari agar
ketergantungan dan resiko dapat disebar, mengingat struktur ekonomi di
Banyuwangi lebih banyak didominasi oleh sektor primer. Oleh karena itu sudah
saatnya dirancang berbagai tindakan yang dapat menggali sumber-sumber
pendapatan daerah yang berbasis pada sektor primer dan mata rantainya.

3.2.2 Arah Pengelolaan Belanja Daerah


Dalam menentukan belanja daerah terdapat tiga elemen penting yaitu
masyarakat sebagai pemberi amanat, Pemerintah Daerah dan DPRD dengan peran
dan fungsinya masing-masing sebagai pelayan masyarakat. Sehingga hakekat
anggaran belanja daerah sebagai perwujudan dari amanat rakyat kepada
Pemerintah Daerah dan DPRD dalam meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan
kepada masyarakat.
Rencana belanja disusun berdasarkan pendekatan prestasi kerja
(berorientasi pada hasil). Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 47


akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas efektifitas dan efisiensi
penggunaan alokasi anggaran.
Orientasi belanja daerah diprioritaskan untuk efektifitas pelaksanaan tugas
pokok dan fungsi masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Peningkatan alokasi belanja yang direncanakan oleh setiap pengguna anggaran
harus diikuti dengan peningkatan prestasi kerja pelayanan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Belanja Daerah diarahkan pada peningkatan proporsi belanja untuk
memihak kepentingan publik, di samping tetap menjaga eksistensi
penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus
tetap mengedepankan efisiensi dan efektivitas sesuai dengan prioritas, yang
diharapkan dapat memberikan dukungan program-program strategis daerah.
Penggunaan anggaran untuk belanja barang dan jasa, berdasarkan pada
patokan harga dasar yang telah ditetapkan dalam HSPK (Harga Satuan Pokok
Kegiatan).

3.2.3 Arah Pengelolaan Pembiayaan Daerah


Kebijakan Umum Pembiayaan Daerah pada dasarnya merupakan bagian
dari Kebijakan Umum APBD. Karena itu, kebijakan yang disepakati dalam pos
pembiayaan berfungsi sebagai penunjang terhadap pencapaian sasaran dan tujuan
yang diinginkan serta disepakati dalam Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah.
Kebijakan Umum pembiayaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah
sebagai berikut :
1. Peningkatan Manajemen Pembiayaan Daerah dalam rangka akurasi,
efisiensi, efektifitas dan profitabilitas;
2. Apabila APBD dalam keadaan surplus, kebijakan yang diambil adalah
melakukan transfer ke persediaan Kas Daerah dalam bentuk
Giro/Deposito, Penyertaan Modal, atau sisa lebih perhitungan
anggaran tahun berjalan;
3. Apabila APBD dalam keadaan defisit, kebijakan yang diambil adalah
memanfaatkan anggaran yang berasal dari sisa lebih perhitungan
anggaran tahun lalu, rasionalisasi belanja, pinjaman daerah atau

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 48


memperluas kemitraan.

3.3. Kebijakan Umum Anggaran


Berdasarkan arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah maka
kebijakan umum anggaran yang akan ditempuh pemerintah Kabupaten
Banyuwangi adalah sebagai berikut :
1. Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah akan lebih
difokuskan pada upaya untuk memobilisasi sumber-sumber
pendapatan daerah yang muncul sebagai akibat peningkatan aktifitas
ekonomi serta dari adanya berbagai program investasi yang telah
dijalankan pada periode-periode sebelumnya. Kebijakan pendapatan
daerah khususnya untuk Pendapatan Asli Daerah mengalami
pertumbuhan. Dalam periode ini diupayakan adanya pertumbuhan
ekonomi dengan tetap menjaga penciptaan iklim yang kondusif bagi
pengembangan dunia usaha. Dengan demikian dapat diwujudkan
stabilitas fiskal daerah khususnya dalam memberikan ketersediaan
sumber pembiayaan dalam menjaga kelancaran penyelenggaraan
pemerintahan daerah dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
2. Kebijakan belanja daerah pada tahun 2011 hingga tahun 2015 adalah
melalui upaya adanya perimbangan komposisi dari belanja langsung
setiap tahunnya, serta peningkatan alokasi anggaran lebih diarahkan
untuk pembiayaan program-progran pembangunan yang mengarah
pada upaya meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan
masyarakat. Dalam mengalokasikan anggaran harus mengacu pada
norma dan prinsip anggaran yaitu Transparansi dan Akuntabilitas,
Disiplin Anggaran serta Keadilan Anggaran serta Efisiensi dan
efektifitas anggaran:

a. Transparansi dan akuntabilitas anggaran: menyajikan informasi


secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat meliputi
tujuan, sasaran, kebijakan, program, fungsi dan sumber
pendanaan serta korelasi antara besaran anggaran dengan hasil
dan manfaat yang ingin dicapai dari suatu kegiatan. Sehingga
penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 49


dilakukan secara transparan dan akuntabel;
b. Disiplin Anggaran:
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang
terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap
sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan
merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja;
Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya
kepastian penerimaan;
Semua penerimaan dan pengeluaran daerah harus
dianggarkan dalam APBD melalui rekening Kas Umum
Daerah.
c. Keadilan anggaran: tidak adanya diskriminasi penetapan tarif
dalam pungutan yang diberlakukan pada masyarakat, sedangkan
dalam konteks belanja harus mengalokasikan belanja daerah
secara adil dan merata tanpa diskriminasi.
d. Efisiensi dan efektifitas anggaran: untuk dapat mengendalikan
tingkat efisiensi dan efektifitas anggaran harus ditetapkan secara
jelas tujuan, sasaran, hasil dan manfaat, serta indikator prestasi
kerja. Selain itu penetapan harga satuan yang rasional. Sesuai
dengan pendekatan prestasi kerja yang digunakan dalam
penyusunan APBD, setiap alokasi biaya yang direncanakan harus
dikaitkan dengan tingkat pelayanan atau hasil yang diharapkan
dapat dicapai.
3. Usulan program, kegiatan dan anggaran dinilai tingkat kewajarannya
melalui akselerasi dan sinkronisasi program bersama stakeholders.
Penilaian kewajaran meliputi:
a. Kesesuaian tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) dengan program dan kegiatan yang diusulkan
dalam mendukung terwujudnya visi daerah;
b. Kaitan logis antara permasalahan yang akan diselesaikan Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan prioritas program dan
kegiatan yang diusulkan;
c. Kapasitas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk
melaksanakan kegiatan dalam pencapaian kinerja yang

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 50


diinginkan;
d. Keselarasan dan keterpaduan kegiatan dari masing-masing
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga memberikan
manfaat dampak positif bagi masyarakat.
Usulan program dan kegiatan tersebut di atas disesuaikan dengan
kemampuan keuangan daerah.
4. Kebijakan umum anggaran RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun
2011-2015 diarahkan dalam tiga fungsi utama yaitu fungsi alokasi,
fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi.
a. Fungsi alokasi yaitu penganggaran untuk kegiatan pembangunan
yang tidak mungkin dilaksanakan oleh masyarakat/swasta karena
bersifat public services seperti penanganan prasarana dasar,
penyediaan infrastruktur;
b. Fungsi distribusi yaitu penganggaran diarahkan untuk
pemerataan, keadilan sosial dan mengurangi kesenjangan, yang
antara lain meliputi penanganan masalah kemiskinan,
pengembangan wilayah tertinggal dan lainnya;
c. Fungsi stabilisasi yaitu penganggaran diarahkan untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi, perluasan lapangan kerja dan
peningkatan pendapatan masyarakat serta stabilitas keamanan
dan ketertiban.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 51


BAB IV
ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Bab ini menguraikan isu-isu strategis yang dihadapi oleh Kabupaten


Banyuwangi. Isu-isu strategis ini berkaitan dengan permasalahan-permasalahan
pokok yang dihadapi, pemanfaatan potensi dan masalah keberlangsungan
(sustainability) pembangunan.

4.1. Pendidikan dan Kesehatan

Pendidikan dan kesehatan adalah dua isu yang paling dominan di dalam
memberi sumbangan terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Manakala
kualitas pendidikan dan kesehatan bagus, kualitas SDM akan sekaligus bagus. Oleh
karena itu, dua hal ini menjadi bagian penting dari MDGs sebagaimana
diprogramkan oleh PBB. Sehingga, negara-negara lain juga menaruh perhatian yang
serius terhadap dua isu ini.

Di Kabupaten Banyuwangi, kualitas SDM masih menjadi permasalahan yang


cukup serius. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), masih berada di bawah rata-rata
IPM Provinsi Jawa Timur. Pada 2004, IPM di Banyuwangi adalah 63,35. Pada waktu
yang sama, IPM Provinsi Jawa Timur sudah 66,85. Pada 2009, realitasnya tidak jauh
berbeda. IPM di Banyuwangi memang meningkat menjadi 68,24, tetapi IPM di
Provinsi Jawa Timur sudah mencapai 70,98.

SDM merupakan faktor utama dari pembangunan. Negara-negara yang


memiliki pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lebih baik, serta memiliki tingkat
kesejahteraan yang juga lebih baik, biasanya adalah negara-negara yang memiliki
SDM yang berkualitas. Pada akhirnya, kualitas SDM menjadi salah satu faktor
penentu bagi kemampuan suatu negara atau daerah untuk menjadi negara atau
daerah yang memiliki daya saing tinggi. Jepang dan sejumlah negara lainnya, tidak
memiliki sumber daya alam yang memadai. Hanya saja mengingat negara-negara itu
memiliki SDM yang berkualitas, mereka mampu menjadi negara yang maju. Karena

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 52


memiliki kualitas SDM yang bagus, banyak negara maju telah menjadi negara yang
jauh lebih kompetitif (competitive state) kalau dibandingkan negara-negara lain. Di
Asia, di antara negara yang kompetitif adalah Jepang dan Singapura.

Untuk meningkatkan kualitas SDM, masalah-masalah yang berkaitan dengan


pendidikan dan kesehatan, harus diatasi. Di Kabupaten Banyuwangi, misalnya, angka
buta huruf, masih lebih tinggi daripada angka buta huruf di Provinsi Jawa Timur.
Pada 2008 angka buta huruf di Jawa Timur tinggal 2,77, sementara di Kabupaten
Banyuwangi masih 3,44. Angka partisipasi kasar juga demikian, masih lebih rendah
dari rata-rata angka partisipasi kasar di Jawa Timur.

Untuk meningkatkan pembangunan di sektor pendidikan, Kabupaten


Banyuwangi dihadapkan pada tantangan untuk mengurangi angka buta huruf dan
meningkatkan angka partisipasi kasar. Upaya demikian akan memungkinkan terjadi
manakala terdapat pemerataan akses pendidikan ke berbagai penjuru wilayah.

Selain itu, juga dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan kualitas


pendidikan. Melalui pendidikan yang berkualitas, para siswa akan lebih mudah untuk
melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi yang
berkualitas. Bagi yang tidak melanjukan pendidikan, bisa lebih mudah terserap di
lapangan kerja, atau bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Masalah
peningkatan kualitas pendidikan ini juga terkait dengan berbagai jenis pendidikan
yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Peningkatan kualitas pendidikan, misalnya,
tidak hanya untuk pendidikan formal, tetapi juga informal dan non-formal. Dengan
demikian, peningkatkan akses dan kualitas pendidikan itu bisa berlangsung lebih
menyeluruh.

Selain pendidikan, kesehatan juga masih menjadi isu penting. Umur Harapan
Hidup (UHH) di Kabupaten Banyuwangi masih di bawah rata-rata Provinsi Jawa
Timur. Pada 2005, UHH di Kabupaten Banyuwangi 65,60, sementara di Jawa Timur
rata-rata sudah mencapai 68,47. Pada 2009, UHH di Kabupaten Banyuwangi
meningkat menjadi 66,83, sementara di Jawa Timur sudah menjadi 69,15. Keadaan
ini diperparah oleh rendahnya pola pangan harapan yaitu pola kecukupan asupan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 53
pangan dan gizi termasuk akses terhadap air bersih. Di samping, angka kematian
bayi dan ibu-ibu yang melahirkan masih cukup tinggi. Keadaan demikian menjadi
tantangan di dalam meningkatkan kualitas kesehatan di Kabupaten Banyuwangi.

4.2. Kemiskinan dan Pengangguran

Kemiskinan dan pengangguran merupakan isu yang sangat berkaitan langsung


dengan kesejahteraan rakyat. Keduanya berkaitan dengan minimnya atau bahkan
ketiadaan pendapatan untuk menopang hidup sehari-hari. Dua isu itu, dengan
demikian, acapkali terkait satu sama lain. Pengangguran merupakan salah satu
penyulut bagi lahirnya dan merebaknya angka kemiskinan. Karena itu, penangguran
merupakan rintangan terbesar bagi upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Sebaliknya, kemiskinan juga menjadi salah satu pendorong lahirnya pengangguran.
Kemiskinan merupakan penghalang seseorang untuk memperoleh pendidikan yang
berkualitas. Ketiadaan pendidikan yang berkualitas merupakan sumber penting bagi
pengangguran. Mengingat seseorang tidak memiliki kualitas SDM yang memadai, dia
tidak bisa berkompetisi ketika harus bersaing di pasar kerja.

Di Kabupaten Banyuwangi, masalah kemiskinan dan pengangguran masih


cukup mendominasi. Angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi memang
mengalami penurunan. Tetapi, jumlah penduduk yang terkatagori sangat miskin dan
miskin masih cukup besar. Pada 2008, penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi
mencapai 157.347 KK. Rinciannya adalah, hampir miskin mencapai 64.649 KK,
miskin 65.451 KK dan sangat miskin 27.247 KK. Secara keseluruhan, penduduk
miskin di Kabupaten Banyuwangi diperkirakan mencapai 29 KK. Selain itu, tingkat
pengangguran di Kabupaten Banyuwangi tergolong tinggi juga. Pada 2009, penduduk
yang terkatagori menganggur mencapai 53.274 orang. Memang, dilihat dari angka
pengangguran terbuka, terdapat penurunan prosentase. Pada 2003, pengangguran
terbuka di Banyuwangi masih mencapai 6,84%. Pada waktu yang sama rata-rata
pengangguran terbuka di Jawa Timur sudah tinggal 4,82%. Tetapi, pada 2009, angka
pengangguran terbuka di Banyuwangi mengalami penurunan menjadi 4,1%.
Sedangkan di Jawa Timur justru naik menjadi 5,1%.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 54


Dalam situasi semacam itu, di antara tantangan besar bagi Kabupaten
Banyuwangi di dalam meningkatkan kemakmuran rakyat adalah menekan angka
kemiskinan dan pengangguran secara terus menerus.

4.3. Revitalisasi Sektor Pertanian dan Pariwisata

Sektor perhatian merupakan penyumbang terbesar bagi PDRB di Kabupaten


Banyuwangi. Dalam lima tahun terakhir ini, rata-ratra sumbangan sektor pertanian
kepada PDRB menjadi 50%. Di samping sebagai penyumbang terbesar pada PDRB,
sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam hal penyerapan angatan
kerja. Hal ini terjadi karena sektor industri olahan, tidak cukup berkembang.
Sementara itu, sektor jasa yang berkembang lebih cepat, secara tradisional memang
dikenal sebagai sektor yang tidak banyak menyerap angkatan kerja.

Meskipun demikian, sektor pertanian di Kapubatan Banyuwangi menghadapi


tantangan-tantangan yang tidak ringan. Secara perlahan, terdapat penurunan
sumbangan sektor pertanian kepada PDRB. Hal ini tidak lepas dari permasalahan-
permasalahan yang dihadapinya. Para petani, menghadapi turunnya kualitas
kesuburan tanah, banyaknya hama dan penyakit tanaman, dan perubahan iklim yang
tidak menentu. Para nelayan, menghadapi masalah dengan penurunan tangkapan
ikan. Di pihak lain, para petani dan nelayan tidak mampu mendayagunakan hasil-
hasil produksi agar memiliki nilai tambah. Sebagian besar, produk yang mereka
hasilkan dijual begitu saja sebagai bahan mentah. Produk-produk pertanian itu belum
dimanfaatkan secara lebih baik menjadi produk-produk olahan, baik setengah jadi
maupun jadi.

Tantangan terbesar bagi Kabupaten Banyuwangi adalah melakukan revitalisasi


sektor pertanian. Melalui revitalisasi ini, produksi sektor pertanian akan meningkat,
sehingga sumbangannya pada PDRB juga akan meningkat. Selain itu, revitalisasi juga
berkaitan dengan upaya mengkaitkan (linkage) produk-produk pertanian dengan
produk-produk industri olahan. Hal ini akan meningkatkan pendapatan para petani
dan nelayan. Pada akhirnya, kesejahteraan para petani dan nelayan juga akan
mengalami peningkatan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 55
Sementara itu, sektor jasa yang memiliki potensi bagi peningkatan sumbangan
terhadap PDRB adalah sektor pariwisata dan yang terkait dengan industri pariwisata,
seperti perhotelan, restoran, dan industri kerajinan. Kabupaten Banyuwangi memiliki
potensi wisata alam yang cukup besar. Potensi ini lebih besar lagi kalau dikaitkan
dengan posisi Banyuwangi, sebagai daerah pintu masuk ke Bali melalui perjalanan
darat. Manakala potensi wisata itu bisa dikembangkan secara baik, industri kaitan
lainnya juga akan berkembang secara baik pula.

4.4. Infrastruktur

Di antara prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah


adalah adanya modal infratruktur, khususnya infrastuktur fisik. Adanya infratsruktur
fisik akan memungkinkan proses produksi yang lebih efisien dan efektif. Demikian
pula proses distribusi, akan bisa dilakukan lebih efisien dan efektif. Karena itu, di
negara atau daerah manapun, ketika terdapat percepatan perbaikan ekonomi, mau
tidak mau harus memperhatikan infratruktur.

Kondisi infrastruktur fisik di Kabupaten Banyuwangi tergolong masih belum


memadai bagi berbagai kegiatan di dalam masyarakat, khususnya kegiatan ekonomi.
Tingkat kerusakan jalan, mencapai 40%. Kondisi demikian jelas tidak kondusif bagi
upaya meningkatkan kegiatan ekonomi dan akses kegiatan masyarakat lainnya.

Keadaan semacam itu bisa jadi bukan tantangan yang cukup serius manakala
terdapat terdapat dana yang memadai. Di Kabupaten Banyuwangi, anggaran untuk
kepentingan pembangunan masih relatif terbatas. Untuk itu, dibutuhkan langkah-
langkah strategis untuk mengatasinya. Di antaranya adalah pengutamaan
pembangunan infrastruktur yang menjadi poros bagi desa satu dengan desa lainnya,
atau antara desa dengan kota, dan infrastruktur-infratruktur lain yang memiliki
keterkaitan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat, seperti pembangunan
dan perbaikan dam dan saluran irigasi.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 56


4.5. Lingkungan

Suatu pembangunan akan bermakna lebih baik manakala memiliki


keberlanjutan (sustainability). Di antara faktor penting bagi adanya keberlanjutan
adalah berkaitan dengan lingkungan.

Di Kabupaten Banyuwangi masalah lingkungan menjadi isu yang sangat


penting karena kegiatan ekonomi masyarakat sebagian besar berkaitan dengan
pemanfaatan sumber-sumber alam. Sektor yang berkaitan dengan pertanian, seperti
perkebunan, pertambangan, dan perikanan, misalnya, jelas sangat tergantung pada
masalah lingkungan. Ketika kualitas lingkungan mengalami penurunan, kegiatan
ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam itu juga akan mengalami
penurunan.

Lingkungan juga terkait dengan kepentingan ekologi, seperti ketersediaan air,


kelestarian keanekaragaman hayati dan mempengaruhi perubahan cuaca. Daya
dukung lingkungan ini mengalami penurunan, seperti menurunnya sumber mata air
untuk kepentingan air bersih dan irigasi, menurunnya keseimbangan ekosistem dan
kualitas udara.

Karena itu, tantangan besar bagi Kabupaten Banyuwangi adalah menjaga


kelestarian lingkungan. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alam itu tidak
hanya untuk kepentingan sesaat dan jangka pendek, melainkan untuk kelangsungan
alam itu sendiri dan kelangsungan pemanfaatannya oleh gerenasi berikutnya.

4.6. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (Good Governance)

Berbagai perencanaan dan program pembangunan akan terlaksana secara baik


manakala terdapat tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Suatu
pemerintahan dikelola secara baik manakala digunakan sejumlah prinsip, seperti
adanya transparansi, keterbukaan, responsifitas, akuntabilitas, keadilan, efektifitas,
efisiensi dan partisipasi.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 57


Adanya tata kelola pemerintahan yang baik akan memudahkan proses
pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik. Sementara itu, adanya birokrasi yang
memadai akan memungkinkan terlaksananya program-program pembangunan dan
pelayanan publik yang lebih baik.

Upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, merupakan tantangan


yang menjadi salah satu tugas pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Perwujudannya
berarti adanya tatanan yang akan menunjang upaya untuk mewujudkan Banyuwangi
lebih baik di masa mendatang.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 58


BAB V

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Bab ini berisikan visi misi Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015, berikut
penjelasannya. Visi misi ini merupakan perwujudan dari visi misi pasangan H.
Abdullah Azwar AnasYusuf Widyatmoko yang telah memenangkan pemilihan
Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi pada 10 Juli 2010. RPJMD Kabupaten
Banyuwangi tahun 2011-2015 merupakan penjabaran atau operasionalisasi dari visi
misi ini.

5.1.Visi

Pasangan H. Abdullah Azwar AnasYusuf Widyatmoko telah membuat visi


Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 sebagai berikut:

TERWUJUDNYA MASYARAKAT BANYUWANGI YANG MANDIRI,


SEJAHTERA DAN BERAKHLAK MULIA MELALUI PENINGKATAN
PEREKONOMIAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA.

Penjelasan Visi :
1. Kemandirian Daerah adalah kemampuan nyata pemerintah daerah dan
masyarakatnya dalam mengatur dan mengurus kepentingan daerah/rumah
tangganya sendiri menurut prakarsa dan aspirasi masyarakatnya, termasuk di
dalamnya upaya yang sungguh-sungguh agar secara setahap demi setahap
misa mengurangi ketergantungan terhadap pihak-pihak lain (luar) tanpa
kehilangan adanya kerjasama dengan daerah-daerah lain yang saling
menguntungkan.

2. Kesejahteraan Masyarakat yang Berakhlak Mulia, ditandai oleh semakin


meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat, dan adanya
perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar pokok manusia, seperti
pangan, papan, sandang, kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja, yang
didukung oleh infrastruktur fisik, sosial budaya ekonomi yang memadai.
Peningkatan kualitas kehidupan ini akan lebih difokuskan pada upaya
pengentasan masyarakat miskin sehingga secara simultan dapat meningkatkan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 59


kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, serta adanya iklim berusaha
dan berkegiatan ekonomi yang sehat untuk kelompok-kelompok masyarakat
lainnya.

Perlu ditekankan di sini bahwa kemajuan-kemajuan yang ingin diraih tidak


hanya sekedar kemajuan di bidang fisik dan ekonomi saja. Kemajuan-
kemajuan itu juga berkaitan dengan dimensi mental spiritual, keagamaan,
kebudayaan dan non fisik, agar kehidupan masyarakat benar-benar sejahtera
lahir dan batin serta berakhlakul mulia.

3. Peningkatan perekonomian diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan


perekonomian rakyat dengan mendorong secara sungguh-sungguh simpul-
simpul ekonomi rakyat utamanya pertanian, industri, perdagangan dan jasa,
lembaga keuangan dan koperasi, serta pariwisata yang didukung oleh
infrastruktur fisik dan non-fisik yang memadai.

4. Untuk mempercepat program-program tersebut perlu ditingkatkan pelayanan


publik melalui optimalisasi kinerja instansi Pemerintah Daerah yang efektif,
terpadu dan berkesinambungan

5.2. Misi

Untuk mewujudkan visi di atas, perlu dipandu melalui misi. Hal ini tidak lepas
dari pemaknaan misi adalah perwujudan dari keinginan menyatukan langkah dan
gerak dalam mencapai visi yang telah ditetapkan. Sedangkan misi untuk mewujudkan
visi tersebut ditetapkan sembilan butir sebagai berikut :

1. Mewujudkan pemerintahan yang efektif, bersih dan demokratis melalui


penyelenggaraan pemerintahan yang profesional, aspiratif, partisipatif dan
transparan;
2. Meningkatkan kebersamaan dan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha
dan kelompok-kelompok masyarakat untuk mempercepat peningkatan
kesejahteraan masyarakat;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 60
3. Membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan
mengoptimalkan sumberdaya daerah yang berpijak pada pemberdayaan
masyarakat, berkelanjutan, dan aspek kelestarian lingkungan;
4. Meningkatkan sumber-sumber pendanaan dan ketepatan alokasi investasi
pembangunan melalui penciptaan iklim yang kondusif untuk pengembangan
usaha dan penciptaan lapangan kerja;
5. Mengoptimalkan ketepatan alokasi dan distribusi sumber-sumber daerah,
khususnya APBD, untuk peningkatan kesejahteraan rakyat;
6. Meningkatkan kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang
beriman dan bertaqwa kehadhirat Tuhan Yang Maha Kuasa;
7. Meningkatkan kualitas pelayanan bidang kesehatan, pendidikan dan sosial
dasar lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
kearifan lokal;
8. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana publik dengan
memperhatikan kelestarian lingkungan;
9. Mendorong terciptanya ketentraman dan ketertiban dalam kehidupan
bernegara, berbangsa dan bermasyarakat melalui pembuatan peraturan
daerah, penegakan peraturan dan pelaksanaan hukum yang berkeadilan.

5.3. Program Prioritas


1. Proses Pembuatan dan Implementasi Keputusan yang Efektif;
2. Meningkatkan Kapasitas Birokrasi;
3. Pengembangan Ekonomi Berbasis Kelompok;
4. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas;
5. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas
6. Revitalisasi Pertanian;
7. Pembangunan Infrastruktur Perdesaan;
8. Pembentukan Daerah Tujuan Wisata yang Kompetitif melalui Pengembangan
Budaya Daerah;
9. Peningkatan Investasi;
10. Penanggulangan Kemiskinan dan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan, dan;
11. Pengembangan Kelautan dan Perikanan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 61
5.4. Tujuan
Tujuan pembangunan Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2011-2015 adalah:
1. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik;
2. Meningkatkan kualitas pelayanan publik;
3. Meningkatkan SDM yang berkualitas dan berakhlak;
4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi;
5. Meningkatkan lapangan pekerjaan;
6. Menurunkan angka kemiskinan;
7. Meningkatkan keunggulan bersaing daerah;
8. Meningkatkan kesejahteraan dan keadilan, dan
9. Meningkatkan kemandirian ekonomi.

5.5. Sasaran
Sasaran pembangunan Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 dibagi kedalam
tiga tahap:
1. Tahap Konsolidasi, baik konsolidasi internal maupun konsolidasi eksternal.
Dalam tahap konsolidasi ini sasaran yang hendak dicapai adalah:
a. Terwujudnya pola pikir kebersamaan;
b. Meningkatnya kualitas SDM aparatur pemerintah daerah;
c. Menguatnya kapasitas kelembagaan;
d. Perbaikan kebijakan dan regulasi;
e. Terwujudnya konsolidasi program;
f. Terciptanya komitmen semua pihak (stakeholders) untuk
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good
governance);
g. Terwujudnya konsolidasi kekuatan-kekuatan yang ada di luar
pemerintahan, baik kekuatan masyarakat sipil maupun pasar;
2. Tahap Peningkatan Kesejahteraan. Yang menjadi sasaran dalam tahap ini
adalah:
a. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi;
b. Meningkatnya lapangan pekerjaan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 62
c. Menurunnya angka kemiskinan;
d. Meningkatnya kesejahteraan dan keadilan;
3. Tahap Peningkatan Kemandirian Masyarakat Banyuwangi. Tahap ini
merupakan sasaran akhir pemerintahan Kabupaten Banyuwangi pimpinan
Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2010-2015. Adanya kemandirian
akan nampak dari:
a. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang
pembangunan;
b. Meningkatnya kinerja aparatur pemerintah daerah;
c. Meningkatnya kesadaran hukum;
d. Meningkatnya iklim usaha yang kondusif bagi kegiatan ekonomi
rakyat;
e. Meningkatnya kinerja ekonomi rakyat;
f. Meningkatnya sumber-sumber pendapatan daerah dan
berkurangnya ketergantungan pada sumber keuangan dari
pemerintah pusat.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 63


BAB VI
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Bab ini berisi uraian tentang strategi pembangunan daerah Kabupaten


Banyuwangi tahun 2011-2015. Penyusunan strategi ini didasarkan pada analisis
SWOT, yaitu analisis yang mencermati kekuatan (strengths), kelemahan
(weaknesses), peluang (opportunities), dan tantangan atau ancaman (threats) secara
bersama-sama. SWOT sendiri merupakan analisis mengenai hal-hal pokok yang ada
di lingkungan yang diasumsikan berpegaruh terhadap apa yang terjadi dan yang akan
terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Lingkungan itu sendiri mencakup dua lingkungan
pokok, yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Faktor lingkungan
internal adalah semua faktor yang dalam waktu singkat bisa diadakan perubahan atau
dikelola (manageable, controllable) di Kabupaten Banyuwangi, yang termasuk di
dalam lingkungan internal mencakup kekuatan dan kelemahan. Sedangkan
lingkungan eksternal merupakan faktor-faktor yang dalam waktu singkat tidak dapat
dikelola dan dikendalikan, yang meliputi peluang dan ancaman.

Melalui analisis SWOT itu, dapat dirumuskan empat strategi utama,


sebagaimana terlihat dari bagan di bawah ini. Pertama, adalah strategi S O, yaitu
strategi menggunakan kekuatan untuk meraih peluang. Kedua, adalah strategi W
O, yaitu strategi menekan kelemahan untuk meraih peluang. Ketiga, adalah strategi S
T, yaitu strategi menggunakan kekuatan untuk mengatasi tantangan. Keempat,
strategi W T, yaitu strategi menekan kelemahan untuk mengatasi tantangan.
Melalui analisis demikian, strategi yang dibuat diharapkan bisa lebih maksimal di
dalam mendayagunakan apa yang ada untuk kepentingan masa depan, karena
didasarkan pada kondisi lingkungan yang riil. Hal ini disebabkan oleh adanya
kombinasi untuk memaksimalkan potensi dan meminimalisasi kelemahan. Dengan
demikian, strategi itu juga mencakup upaya mengatasi berbagai masalah dan
memperbaiki serta meningkatkan potensi yang ada. Konsekuensinya, model analisis
demikian akan membawa manfaat yang lebih baik di dalam perumusan strategi
pembangunan daerah Kabupaten Banyuwangi.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 64


Faktor Kekuatan Kelemahan
Internal
Faktor 1 2 3 4 5 DST 1 2 3 4 5 DST
Eksternal

2
Peluang
3 SO WO

DST

2
Tantangan
3 ST WT

DST

KETERANGAN:
S O : Menggunakan kekuatan (S=strenght) untuk meraih peluang (O=opportunity)
W O : Menekan kelemahan (W=weakness) untuk meraih peluang
S T : Menggunakan kekuatan untuk mengatasi tantangan (T=threat)
W T : Menekan kelemahan untuk mengatasi tantangan
Bagan 6.1: Model Analisis SWOT

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 65


6.1. Lingkungan Strategis

Terdapat dua lingkungan strategis yang ada di Kabupaten Banyuwangi, yaitu


lingkungan internal dan lingkungan eksternal.

6.1.1. Lingkungan Internal

Di dalam lingkungan internal terdapat dua faktor penting yang berpengaruh,


yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan kekuatan dan faktor-faktor yang berkaitan
dengan kelemahan.

Pertama, faktor kekuatan. Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi yang


berfungsi sebagai kekuatan:

1. Kabupaten Banyuwangi merupakan produsen produk-produk primer


yang dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya beras dan perikanan.
Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu lumbung beras di
Provinsi Jawa Timur. Tahun 2006 produksi padi di Kabupaten
Banyuwangi sebesar 656.997,43 ton. Produksi ini meningkat menjadi
724.603,69 ton pada 2008. Kabupaten Banyuwangi juga memiliki
varietas lokal, yaitu Genjah Arum, meskipun saat ini tergolong langka.
Varietas ini memiliki keunikan serta kelebihan dibanding jenis padi
lainnya. Realitas bahwa Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu
lumbung beras di Jawa Timur tidak lepas dari potensi yang dimiliki oleh
Kabupaten Banyuwang. Luasnya lahan persawahan yang mencapai
66.983 ha atau 11,58% dari total luas daratan Banyuwangi. Di samping
itu, Kabupaten Banyuwangi juga memiliki potensi sumber air 12,043
m3/detik dan juga sistem irigasi yang relatif memadai. Selain itu,
Kabupaten Banyuwangi selama ini juga dikenal sebagai salah satu
produsen ikan, khususnya ikan laut. Hal ini tidak lepas dari garis pantai
memanjang yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi, yaitu sebesar
175.8 Km.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 66


2. Potensi Alam

Selain sektor pertanian, Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi alam


lainnya, yaitu di bidang Pariwisata seperti Iren, Plengkung, dan
Sukomade, bidang kelautan dan perikanan, serta di didang
pertambangan. Potensi alam ini pada kenyataannya belum
dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan masyarakat
Kabupaten Banyuwangi. Selain potensi pariwisata, Kabupaten
Banyuwangi juga memiliki potensi alam lainnya, seperti potensi di
bidang pertambangan.

3. Jumlah Penduduk yang Cukup Besar

Jumlah penduduk di Kabupaten Banyuwangi pada 2009 adalah


1.583.918. Secara ekonomi, ini merupakan salah satu potensi untuk
menggerakkan berbagai kekuatan ekonomi, sekaligus berfungsi sebagai
pasar dari produk-produk yang dihasilkan oleh Kabupaten Banyuwangi
sendiri.

4. Posisi Strategi di Perbatasan Jalur Bali dan Jawa Timur

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten paling ujung Timur dari


Provinsi Jawa Timur dan menjadi perbatasan dengan Provinsi Bali.
Meskipun dipisahkan oleh laut, posisi demikian menguntungkan
Kabupaten Banyuwangi ketika dikaitkan dengan berbagai kegiatan,
termasuk kegiatan ekonomi, yang menggunakan transportasi darat dan
laut.

5. Banyaknya Tokoh yang Berpengaruh

Di Kabupaten Banyuwangi terdapat tokoh-tokoh masyarakat yang


berpengaruh. Pengaruh itu bahkan tidak hanya untuk komunitasnya
sendiri, melainkan juga untuk komunitas lainnya. Realitas ini
merupakan potensi yang cukup besar ketika dikaitkan dengan
pembangunan di daerah. Manakala terdapat sinergi yang baik antara
pemerintah, masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat itu, proses
pembangunan akan lebih mudah dilakukan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 67
6. Heterogenitas Budaya Masyarakat

Masyarakat di Kabupaten Banyuwangi tergolong heterogen. Di


dalamnya terdapat tiga katagori besar masyarakat, yaitu masyarakat
osing, Madura dan Jawa. Di samping tiga kelompok itu, terdapat
kelompok-kelompok lain, seperti Mandar dan Bali.

7. Dukungan Politik Mayoritas

Pasangan Kepala Daerah terpilih pada 2010 memperoleh dukungan


yang cukup signifikan, baik dari para pemilih maupun kekuatan politik
di DPRD Kabupaten Banyuwangi. Pasangan H. Abdullah Azwar Anas
Yusuf Widyatmoko memperoleh suara terbanyak di dalam Pemilihan
Kepala Daerah Kabupaten Banyuwangi pada 10 Juli 2010. Sementara
itu, pasangan ini didukung oleh partai-partai yang memiliki kursi
signifikan di DPRD, di antaranya adalah dukungan dari PDIP, PKB,
PKNU, Golkar dan PKS. Dukungan ini akan memungkinkan adanya
relasi yang lebih baik antara eksekutif dan legislatif guna membangun
pemerintahan daerah yang lebih stabil dan efektif.

8. Kekuatan Birokrasi

Keputusan-keputusan politik, berupa kebijakan-kebijakan publik, yang


dibuat oleh pemerintah tidak akan bermakna secara berarti tanpa
diimplementasikan. Untuk itu, birokrasi memiliki peranan yang sangat
penting. Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi birokrasi yang
memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan kebijakan
kebijakan yang dibuat.

Kedua, faktor kelemahan. Di samping memiliki kekuatan, Kabupaten


Banyuwangi juga memiliki kelemahan-kelemahan.

1. Nilai Tambah Produk-Produk Pertanian Rendah

Kabupaten Banyuwangi memiliki kelemahan berkaitan dengan


pemanfaatan pasca panen. Beras, misalnya, masih belum dimanfaatkan
menjadi bahan-bahan olahan. Hal serupa juga pada sektor perikanan.
Hasil ikan tangkapan para nelayan itu masih belum dikelola secara
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 68
maksimal, yang memungkinkan adanya nilai tambah (added values)
dari produk-produk itu.

2. Kualitas SDM yang Masih Rendah

Kalau dilihat dari IPM, Kabupaten Banyuwangi masih tergolong


rendah. Hal ini terlihat dari indeks IPM Kabupaten Banyuwangi yang
mang masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur. Pada
2009, IPM Jawa Timur sudah mencapaai 70,88, sementara itu pada
tahun yang sama IPM di Kabupaten Banyuwangi baru mencapai 68,24.
Dilihat dari angka partisipasi kasar SMU/SMK/MA, Kabupaten
Banyuwangi berada jauh di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur. Pada
2009 di Jawa Timur baru mencapai 57,65 sementara untuk Provinsi
Jawa Timur sudah mencapai 70,98.

3. Pembangunan yang Masih Belum Merata

Tingkat pembangunan di Banyuwangi tidak merata. Terdapat


disparitas antar daerah, khususnya antara wilayah pedesaan dan
perkotaan. Di tingkat kecamatan, pembangunan juga masih belum
merata. Ada kecamatan-kecamatan tertentu yang memiliki dinamika
perkembangan ekonomi lebih baik, seperti di kecamatan kota dan
Genteng, sementara itu ada kecamatan-kecamatan lain yang memiliki
kelambatan di dalam perkembangan ekonomi.

4. Masih Tingginya Angka Kemiskinan dan Angka Pengangguran

Angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi memang mengalami


penurunan. Tetapi, jumlah penduduk yang terkatagori sangat miskin
dan miskin masih cukup besar. Pada 2008, penduduk miskin di
Kabupaten Banyuwangi mencapai 157.347 KK. Rincianya adalah,
hampir miskin mencapai 64.649 KK, miskin 65.451 KK dan sangat
miskin 27.247 KK. Secara keseluruhan, penduduk miskin di Kabupaten
Banyuwangi diperkirakan mencapai 29 KK. Selain itu, tingkat
pengangguran di Kabupaten Banyuwangi tergolong tinggi juga. Pada
2009, penduduk yang terkatagori menganggur mencapai 53.274 orang.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 69


5. Masih Lemahnya Infrastruktur

Infrastruktur di Kabupaten Banyuwangi, khususnya infrastruktur fisik,


masih tergolong jelek dan belum memadai. Jalan-jalan poros desa,
yang menghubungkan desa yang satu dengan desa yang lain, dan antara
pedesaan dengan perkotaan, belum tergolong baik. Selain itu,
infrastruktur pokok lainnya, seperti dam dan saluran irigasi juga perlu
perbaikan-perbaikan. Padahal, infrastruktur demikian sangat
dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan
sektor-sektor terkait lainnya.

6. Masih Rendahnya Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Banyuwangi tergolong


rendah. Rata-rata setiap tahun masih sekitar 6%. Hal ini membuat
pemerintah Kabupaten Banyuwangi masih belum bisa maksimal di
dalam membiayai program-program pembangunan yang direncanakan.
Selain itu, realitas demikian juga menunjukkan bahwa di dalam
masalah sumber keuangan, Kabupaten Banyuwangi masih sangat
tergantung pada pemerintah pusat, baik melalui DAU maupun DAK.

7. Meningkatnya Dekadensi Moral

Dalam dekade belakangan, kecenderungan munculnya dekadensi moral


cenderung meningkat di Kabupaten Banyuwangi, seperti adanya
penyalahgunaan Narkoba dan obat terlarang, perilaku seks di luar
nikah, dan pornografi di kalangan remaja.

8. Rendahnya Kesadaran dan Kepatuhan Hukum

Angka kriminalitas seperti pencurian cenderung meningkat di


Kabupaten Banyuwangi, misalnya pencurian sapi dan barang-barang
lainnya. Di samping itu, tingkat pelanggaran hukum semakin
meningkat, misalnya pelanggaran lalu lintas di jalan raya.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 70


9. Cenderung Ditinggalkannya Budaya Lokal

Kabupaten Banyuwangi memiliki budaya lokal yang khas, mulai seni


musik, seni suara, dan menari. Tetapi, budaya demikian mulai tidak
lagi mempunyai daya tarik bagi kalangan muda. Sebagaimana di
daerah-daerah lain, kalangan muda di Banyuwangi lebih menyukai
budaya modern, bahkan budaya asing.

6.1.2. Lingkungan Eksternal

Di dalam lingkungan eksternal terdapat dua faktor penting yang juga


berpengaruh, yaitu faktor-faktor yang berkaitan kesempatan dan faktor-faktor
ancaman atau tantangan.

Pertama, faktor peluang.

1. Arus Manusia, Barang, dan Arus Modal antara Bali dan Provinsi Jawa
Timur

Sebagai daerah perbatasan antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi


Bali, menjadikan Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah transit bagi
penduduk yang hendak berkunjung ke Bali atau sebaliknya, melalui
jalan darat dan laut. Selain itu, arus modal dan barang yang melibatkan
dua provinsi ini juga bisa melalui Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten
Banyuwangi memiliki potensi untuk memanfaatkan kesempatan ini
untuk kepentingan masyarakat dan Kabupaten Banyuwangi. Dengan
demikian, arus manusia, barang dan modal itu tidak hanya melewati
Banyuwangi, melainkan seharusnya memberi imbas positif dalam
menggerakkan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi.

2. Sumber Keuangan dari Pemerintah Pusat dan Provinsi

Kabupaten Banyuwangi memperoleh dana perimbangan yang cukup


besar dari pemerintah pusat, baik berupa DAU maupun DAK. Selain
itu, Kabupaten Banyuwangi juga memperoleh sumber-sumber
pembiayaan dari berbagai instansi di pemerintah pusat maupun

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 71


provinsi yang berkaitan dengan program-program yang mereka
lakukan di daerah.

3. Arus Investasi

Iklim investasi di Indonesia membaik di dalam tahun-tahun


belakangan. Iklim demikian telah membuat anyak investor, baik
domestik maupun asing, mulai melirik kembali untuk menanamkam
modalnya di Indonesia. Ketertarikan ini tidak lepas dari realitas bahwa
berinvestasi di Indonesia termasuk menguntungkan. Karena itu, dalam
tahun-tahun belakangan, arus invesatsi itu semakin meningkat.

4. Kesempatan Mengirim Tenaga Kerja ke Luar Negeri

Kesempatan untuk mengirimkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar


negeri masih terbuka lebar, termasuk dari Kabupaten Banyuwangi.
Tenaga Kerja dari Banyuwangi sudah terkirim ke sejumlah negara,
seperti di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan negara-negara lain di
Timur Tengah. Kabupaten Banyuwangi memiliki kesempatan untuk
mengirim tenaga-tenaga kerja yang memiliki ketrampilan sehingga
memiliki nilai lebih kalau dibandingkan dengan tenaga kerja dari
daerah atau negara lain. Sayangnya, sebagian besar tenaga kerja dari
Banyuwangi yang pergi ke luar negeri, merupakan para tenaga kerja
yang tidak dibekali oleh ketrampilan dan kemampuan yang memadai.

5. Meluasnya Ekonomi Pasar

Ekonomi pasar telah menjadi bagian penting bagi perekonomian


Indonesia, termasuk di dalamnya Kabupaten Banguwangi. Di antara
ciri dari ekonomi pasar adalah adanya keterbukaan bagi semua pelaku
pasar untuk terlibat di dalamnya. Hal ini merupakan potensi dari
Kabupaten Banyuwangi untuk menyiapkan dan mendukung para
pelaku ekonomi untuk memasuki ekonomi pasar itu, sehingga
keberadaannya membawa manfaat untuk Kabupaten Banyuwangi.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 72


Kedua, faktor tantangan.

1. Penetrasi Kekuatan Ekonomi Pasar Global

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang bertumpu pada kekuatan ekonomi


global semakin menguat dan menjadi bagian dari kegiatan . Hal ini,
misalnya, terlihat dari masuknya bisnis ritel sampai ke berbagai daerah.
Kekuatan besar ini telah berpengaruh terhadap hidup matinya bisnis
ritel tradisional. Manakala kekuatan ekonomi pasar global itu tidak
diatur secara baik, dan tidak ada kesiapan SDM serta infrastrukrur
pendukung yang memadai, kehadiran kekuatan pasar global itu akan
menjadi ancaman yang serius bagi pelaku ekonomi di Kabupaten
Banhyuwangi.

2. Perubahan Iklim yang Tidak Menentu

Pemanasan global telah berpengaruh terhadap perubahan iklim yang


tidak menentu. Hal ini terlihat kuat pada 2010. Kita tidak mengetahui
secara pasti mana bulan-bulan yang terkatagori musim hujan dan mana
bulan-bulan yang terkatagori musim kemarau. Kecenderungan
demikian mengganggu pola tanam yang dilakukan oleh petani. Para
nelayan juga terganggu karena pola iklim yang tidak menentu itu juga
berpengaruh terhadap naik turunnya ombak di laut. Konsekuensinya,
para petani dan nelayan itu mengalami kerugian akibat iklim yang tidak
menentu tersebut.

3. Hama Penyakit Tanaman

Hama tanaman masih menjadi salah satu ancaman serius bagi usaha
para petani. Hama wereng, misalnya, telah menghancurkan harapan
para petani untuk menikmati hasil dari lahan-lahan yang mereka garap.
Setiap saat, terdapat potensi ancaman hama yang menyerang tanaman
para petani.

4. Kerusakan Lingkungan dan Bencana Alam

Tingkat kerusakan lingkungan di Kabupaten Banyuwangi termasuk


cukup tinggi. Kerusakan itu, misalnya, terlihat dari semakin tidak
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 73
suburnya lahan-lahan yang ditanami para petani. Hal ini tidak lepas dari
pola tanam yang tidak bagus dan penggunaan pupuk serta obat-obatan
kimia yang berlebihan. Konsekuensinya, produktivitas lahan di
Kabupaten Banyuwangi mengalami penurunan setiap tahun. Ketika hal
ini dibiarkan, bisa berpengaruh terharap kesejahteraan para petani.
Selain itu, Kabupaten Banyuwangi termasuk bagian dari jalur yang
rawan bencana alam, khususnya di bagian selatan.

5. Persaingan Ekonomi Antar Daerah

Persaingan ekonomi antar daerah semakin tinggi setelah


diimplementasikannya kebijakan otonomi daerah. Kabupaten
Banyuwangi, cotohnya, harus bersaing dengan daerah-daerah lainnya
untuk memeproleh alokasi dana dari pemerintah pusat. Juga harus
bersaing di dalam menarik para investor.

6.2. Analisis Strategi

Bedasarkankan analisis SWOT di atas kita bisa mengetahui bahwa Kabupaten


Banyuwangi memiliki potensi dan kesempatan yang cukup besar yang bisa
dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi, kekuatan dan
kesempatan besar itu belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena Kabupaten
Banyuwangi juga memiliki kelemahan-kelemahan, berikut ancaman lingkungan
eksternal yang sulit dikelola dan dikendalikan.

Untuk mengatasi hal itu, perlu disusun strategi pembangunan daerah


Kabupaten Banyuwangi berdasarkan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman
sebagaimana dijabarkan di atas. Strategi itu mencakup empat strategi utama.
Pertama adalah strategi S O, yaitu strategi menggunakan kekuatan untuk meraih
peluang. Kedua adalah strategi W O, yaitu strategi menekan kelemahan untuk
meraih peluang. Ketiga adalah strategi S T, yaitu strategi menggunakan kekuatan
untuk mengatasi tantangan. Keempat, strategi W T, yaitu strategi menekan
kelemahan untuk mengatasi tantangan. Secara lebih lengkap hal itu terlihat di dalam
bagan 6.2.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 74


Faktor
Internal
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
Faktor
Eksternal

Strategi S-O Strategi W-O

1. Melakukan 1. Meningkatkan
Revitalisasi Sektor Daya Saing
Pertanian; Koperasi, Usaha
Mikro, Kecil dan
2. Meningkatkan
Menengah
Kapasitas Birokrasi
Berbasis
dan Kualitas
Kelompok dan
Pelayanan Publik;
Kluster;
3. Peningkatan
2. Peningkatan Akses
Investasi;
dan Kualitas
4. Membangun Tata Pendidikan Yang
Kelola Berakhlak;
Pemerintahan Yang
3. Peningkatan Akses
Baik dan efektif
Peluang (O) Pelayanan dan
(good Governance);
Kualitas
5. Mengembangkan Kesehatan;
Pariwisata Berbasis
4. Pengembangan
Kearifan Lokal;
Infrastruktur dan
6. Pengasutamaan tata ruang;
Jender dan
5. Mengembangkan
Perlindungan Anak
Program
Perlindungan dan
Jaminan Sosial;
6. Pengentasan
Kemiskinan dan
Pengangguran;
7. Pengembangan
pendidikan
berbasis moral
dan keagamaan;
8. Peningkatan
kesadaran hukum.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 75


Strategi S-T Strategi W-T

1. Bertani Selaras 1. Pengembangan


Lingkungan; Industri Olahan
dan Kreatif
2. Pemberdayaan
Berbasis
Kelompok
Pertanian;
Masyarakat;
3. Mengembangkkan 2. Regulasi
Tantangan (T) penguatan
Jejaring antar
ekonomi
daerah, pemerintah
Provinsi dan pusat, kerakyatan daerah;
serta kekuatan- 3. Peningkatan Akses
kekuatan ekonomi; Transportasi dan
Informasi
4. Rehabilitasi Lahan
dan Hutan;
5. Pelestarian dan
Pengembangan
Budaya Lokal

KETERANGAN:
S O : Menggunakan kekuatan (S=strenght) untuk meraih peluang (O=opportunity)
W O : Menekan kelemahan (W=weakness) untuk meraih peluang
S T : Menggunakan kekuatan untuk mengatasi tantangan (T=threat)
W T : Menekan kelemahan untuk mengatasi tantangan.
Bagan 6.2: Strategi Pembangunan Daerah Berdasar SWOT

6.3 Strategi Pembangunan Daerah Kabupaten Banyuwangi

Sebagaimana terlihat dari visi misi Bupati dan Wakil Bupati pada bab lima,
tujuan pokok dari pembangunan di Kabupaten Banyuwangi adalah untuk
meningkatkan kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat Banyuwangi. Tidak
hanya sejahtera, melainkan juga mandiri dan berakhlak. Semua itu dilakukan melalui
dua pilar pokok yaitu peningkatan perekonomian dan kualitas sumber daya manusia.

Untuk mencapai kesejahteraan semacam itu, digunakan tiga strategi pokok yaitu
strategi pro growth, pro job dan pro poor. Pro job berarti, pembangunan diarahkan
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sejumlah instrumen seperti
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 76
adanya peningkatan investasi dan pembangunan infrastruktur. Pro job berarti
pembangunan diarahkan untuk mendorong terbukanya peluang kerja bagi angkatan
kerja, khususnya bagi lulusan sekolah. Pro poor berarti, pembangunan memiliki
dimensi keberpihakan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang tidak beruntung
atau termarjinalkan. Strategi demikian dilakukan melalui program-program
perlindungan dan pemberdayaan. Ketiga strategi itu sekaligus berarti adanya upaya
untuk menggabungkan dua strategi pokok pembangunan yang selama ini kita kenal,
yaitu strategi pertumbuhan dan strategi pemerataan. Melalui ketiga strategi itu,
diharapkan bisa tercipta adanya tingkat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang
relatif tinggi secara bersama-sama. Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi
diusahakan tidak hanya dinikmati oleh sekelompok orang atau sektor, melainkan oleh
banyak orang. Karena itu, selain mendukung pertumbuhan ekonomi, juga
mendukung adanya alokasi dan distribusi sumber-sumber ke berbagai sektor dan
wilayah.

Sebagaimana terlihat di dalam bagan 6.2, terdapat empat kelompok strategi


pembangunan daerah Banyuwangi berdasarkan analisis SWOT. Masing-masing
kelompok berisikan strategi-strategi.

Pertama adalah strategi S O, yaitu strategi menggunakan kekuatan untuk


meraih peluang. Di dalam strategi yang pertama ini mencakup:

1. Melakukan Revitalisasi Sektor Pertanian;


2. Meningkatkan Kapasitas Birokrasi dan Kualitas Pelayanan Publik;
3. Peningkatan Investasi;
4. Membangun Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan efektif (good
Governance);

5. Mengembangkan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal;


6. Pengasutamaan Jender dan Perlindungan Anak.

Kedua adalah strategi W O, yaitu strategi menekan kelemahan untuk meraih


peluang. Di dalam strategi yang kedua ini mencakup:

1. Meningkatkan Daya Saing Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah


Berbasis Kelompok dan Kluster;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 77


2. Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Yang Berakhlak;
3. Peningkatan Akses dan Kualitas Kesehatan;
4. Mengembangkan Program Perlindungan dan Jaminan Sosial;
5. Pengentasan Kemiskinan dan Pengangguran;
6. Pengembangan Infrastruktur dan Tata Ruang;

7. Pengembangan Pendidikan Berbasis Moral dan Keagamaan;


8. Peningkatan Kesadaran Hukum

Ketiga adalah strategi S T, yaitu strategi yang menggunakan kekuatan untuk


menghadapi atau menaklukkan tantangan atau ancaman. Di dalam strategi ini
mencakup:

1. Bertani Selaras Lingkungan;


2. Pemberdayaan Kelompok Masyarakat;
3. Mengembangkkan Jejaring antar daerah pemerintah Provinsi dan pusat, serta
kekuatan-kekuatan ekonomi;

Keempat, strategi W T, yaitu strategi menekan kelemahan untuk menghadapi


tantangan. Di dalam strategi ini mencakup:

1. Pengembangan Industri Olahan dan Kreatif Berbasis Pertanian;


2. Regulasi Penguatan Ekonomi Kerakyatan Daerah;
3. Peningkatan Akses Transportasi dan Informasi;
4. Rehabilitasi Lahan dan Hutan;

5. Pelestarian dan Pengembangan Budaya Lokal;

Keempat strategi utama itu dimaksudkan untuk mencapai adanya masyarakat


Banyuwangi yang mandiri, sejahtera dan adil. Di dalam mewujudkan masyarakat
demikian, peran Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi pada dasarnya berkaitan
dengan tiga hal pokok, yaitu memberikan pelayanan (to serve), melakukan
pengaturan (to regulate) dan memberdayakan (empowering).

Adapun langkah-langkah utamanya dibagi ke dalam tiga tahapan pokok.


Pertama adalah tahap konsolidasi, baik konsolidasi internal maupun konsolidasi
eksternal. Konsolidasi internal berkaitan dengan upaya untuk mengkonsolidasikan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 78
pola pikir dan peningkatan kualitas SDM aparatur pemerintah daerah, penguatan
kapasitas kelembagaan, perbaikan kebijakan dan regulasi, konsolidasi program, dan
adanya komitmen banyak pihak (stakeholders) untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance). Sedangkan konsolidasi eksternal
dilakukan terhadap kekuatan-kekuatan yang ada di luar pemerintahan, baik kekuatan
masyarakat sipil maupun pasar. Kedua adalah tahap peningkatan kesejahteraan.
Tahap ini dilakukan melalui penerapan tiga strategi pokok di dalam pembangunan,
yaitu pro growth, pro job dan pro poor. Melalui tiga strategi pokok ini, adanya
pertumbuhan sekaligus pemerataan pembangunan akan lebih mudah diraih. Tahap
terakhir adalah adanya peningkatan kemandirian masyarakat Banyuwangi dalam
berbagai dimensi, mulai dari segi ekonomi sampai budaya. Tahap yang terakhir ini
memungkinkan terbukanya pintu lebih lebar bagi terwujudnya masyarakat
Banyuwangi yang sejahtera dan adil.

6.4 Faktor Penentu Keberhasilan


Untuk menentukan faktor-faktor penentu keberhasilan (FPK) di dalam
pembangunan Daerah Kabupaten Banyuwangi didasarkan pada analisis SWOT
sebagaimana dikemukakan di atas dan dikaitkan dengan visi dan misi Bupati.
Berdasarkan analisis SWOT dan visi misi itu, beberapa faktor yang terkatagori
sebagai FPK adalah sebagai berikut:
1. Revitalisasi Sektor Pertanian dan Pengembangan Industri Pengolahan
Berbasis Sektor Pertanian;
2. Pengembangan Sektor Pariwisata;
3. Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Yang Berakhlak dan Akses
Pelayanan dan Kualitas Kesehatan
4. Tersedianya Infrastruktur, baik infrastruktur fisik, seperti jalan, bendungan
dan saluran irigasi; sarana dan prasarana informasi dan komunikasi, serta
pendidikan dan kesehatan; pasar; maupun infraatruktur non-fisik seperti
adanya regulasi yang melindungi masyarakat; mendorong iklim investasi;
5. Peningkatan Kapasitas Birokrasi dan Layanan Publik yang Berkualitas.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 79


BAB VII
KEBIJAKAN UMUM
DAN
PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

7.1 Kebijakan Umun


Bagian ini menguraikan arah kebijakan umum pembangunan Kabupaten
Banyuwangi tahun 2011-2015. Arah kebijakan umum ini berfungsi sebagai pedoman
bagi SKPD dan instansi yang terkait di dalam merumuskan kebijakan dan program
sesuai dengan fungsi masing-masing. Arah kebijakan umum ini merupakan
penjabaran lebih detil dari visi misi pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih.
Adapun visi dari pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih adalah: Terwujudnya
Masyarakat Banyuwangi Yang Mandiri, Sejahtera dan Berakhlak Mulia Melalui
Peningkatan Perekonomian dan Kualitas Sumber Daya Manusia.
Arah kebijakan umum ini merupakan instrumen untuk mencapai visi misi
tersebut melalui strategi yang telah disebut di dalam bab IV. Arah umum ini, dengan
demikian, merupakan penjabaran dari empat strategi utama yang dirumuskan di bab
sebelumnya. Di dalam menjabarkan strategi itu masing-masing diuraikan
permasalahan, sasaran dan arah kebijakan.

7.1.1 Strategi Menggunakan Kekuatan untuk Meraih Peluang


Jika dibandingkan dengan daerah lain, Kabupaten Banyuwangi memiliki
banyak potensi dan keunggulan serta peluang. Masalahnya adalah, pemanfaatan
berbagai keunggulan atau kekuatan untuk meraih dan memanfaatkan peluang belum
dilakukan secara maksimal.

7.1.1.1 Melakukan Revitalisasi Sektor Pertanian


Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar PDRB Kabupaten
Banyuwangi. Dalam satu dekade belakangan, sumbangan sektor pertanian terhadap
PDBR Kabupaten Banyuwangi berkisar 50%. Dibandingkan dengan Indonesia pada
umumnya, sumbangan ini jauh lebih besar, karena untuk Indonesia sumbangan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 80


sektor pertanian dalam kurun waktu yang sama kurang dari 20%. Selain itu, sektor
pertanian merupakan penyerap angkatan kerja terbesar. Ketika sektor-sektor lain
belum mampu menyerap banyak tenaga kerja, sektor pertanian bisa berfungsi
sebagai katup pengaman untuk mengatasi pengangguran.

A. Permasalahan
1. Proses Budidaya Pertanian
a. Terdapat kecenderungan menurunnya sumbangan sektor pertanian
(termasuk perkebunan, peternakan dan perikanan) kepada PDRB;
b. Para petani mengalami kesulitan di dalam mengakses permodalan,
teknologi dan pasar;
c. Cenderung meningkatnya gangguan iklim dan hama penyakit;
d. Para petani mengalami kesulitan di dalam memperoleh bibit unggul,
pupuk dan obatan-obatan;
e. Masih lemahnya menejemen pengairan dalam pertanian;
f. Lemahnya pengelolaan sumber daya pesisir.
2. Pasca Panen
a. Belum terintegrasinya produksi pertanian dengan produk-produk lain,
seperti produk olahan dan jasa;
b. Harga produksi gabah mengalami penurunan pada masa panen, hasil
tangkapan, hasil perkebunan, hasil pertenakan;
c. Minimnya peralatan pasca panen, pengering gabah, dan pengolah hasil;
d. Lemahnya jaringan produksi pasca panen seperti;
e. Tidak memiliki penyimpanan hasil produksi, sehingga hasil produksi
langsung dijual kepada tengkulak;
f. Rendahnya nilai tukar petani (NTP);

3. Infrastruktur
a. Belum memadai ketersediaan sarana pertanian, seperti DAM dan
saluran irigasi;
b. Belum memadainya jalan, sarana dan prasarana transportasi;
c. Belum tersedia (atau memadai) pasar hasil-hasil pertanian.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 81
4. Sumber Daya Manusia
a. Terjadinya penurunan minat kaum anak-anak muda untuk menjadi
petani. Pada 2007 jumlah penduduk yang menekuni sektor pertanian
mencapai 26,45%. Angka ini mengalami penurunan menjadi 25,45%
pada 2008;
b. Rendahnya ketrampilan petani dalam mengadopsi dan melaksanakan
teknologi baru pertanian;
c. Pengetahuan tentang pertanian masih bersifat tradisional dan turun
temurun.
5. Kelembagaan
a. Kurangnya tenaga penyuluh pertanian, baik dalam kuantitas maupun
kualitas;
b. Lemahnya peran serta kelompok tani dan nelayan serta gabungan
kelompok tani dan nelayan;
c. Rendahnya peran organisasi petani dan nelayan;
d. Rendahnya peran lembaga perekonomian perdesaan;
e. Rendahnya peran litbang dalam pembangunan pertanian
f. Belum padunya antar sektor dalam menunjang pembangunan pertanian
g. Rendahnya luas kepemilikan lahan petani;
h. Kurang optimalnya kinerja dan pelayanan birokrasi pertanian.

B. Sasaran
1. Meningkatnya produktivitas dan nilai tambah hasil pertanian;
2. Meningkatnya akses petani terhadap permodalan, teknologi dan pasar;
3. Meningkatnya daya adaptasi petani terhadap iklim dan pengendalian
hama penyakit tanaman;
4. Meningkatnya ketersediaan bibit unggul dan sarana produksi pertanian;
5. Optimalisasi pengunaan sumber daya air;
6. Meningkatnya nilai tukar petani;
7. Meningkatnya nilai tambah produk-produk pertanian;
8. Meningkatnya pengunaan peralatan pertanian;
9. Meningkatnya minat kaum muda pada sektor pertanian;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 82
10. Meningkatnya kualitas SDM pertanian;
11. Meningkatnya jumlah dan kualitas penyuluh pertanian;
12. Meningkatnya peran litbang pertanian;
13. Meningkatnya infrastruktur penunjang pertanian;
14. Meningkatnya peran organisasi petani dan kelompok tani;
15. Meningkatnya komitmen birokrat terhadap sektor pertanian;
16. Meningkatnya intergrasi vertikal maupun horisontal sektor pertanian.

C. Arah Kebijakan
1. Proses Budidaya Pertanian
a. Memanfaatkan lahan pertanian dan laut seoptimal mungkin;
b. Pengembangan produk-produk unggulan sektor pertanian di masing-
masing desa (one village one product);
c. Mengembangkan pupuk dan obatan-obatan organik;
d. Mengembangkan teknologi on-farm;
e. Mempermudah akses permodalan bagi petani;
f. Mengembangkan pola pergiliran tanaman;
g. Mengalakan budidaya perairan dan pantai;
h. Pemberdayaan petani.
2. Pasca Panen
a. Mengembangkan teknologi off-farm;
b. Mengembangkan agroindustri;
c. Mengembangkan usaha agribisnis pedesaan;
d. Meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga petani.
3. Infrastruktur
a. Memperbaiki dan mengembangkan DAM dan saluran irigasi;
b. Memperbaiki dan mengembangkan jalan poros desa
c. Membangun akses pasar
4. Sumber Daya Manusia
a. Membangun image pertanian di kalangan anak muda;
b. Mengalakan penyuluhan pertanian;
c. Meningkatkan pengetahuan dan profesionalisme petani.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 83
5. Kelembagaan
a. Membangun sistem agribisnis;
b. Membangun visi bersama antara birokrasi, organisasi pertanian,
kelompok tani;
c. Penataan organisasi penyuluh pertanian;
d. Rekuitmen dan pelatihan tenaga penyuluh;
e. Menumbuhkan kepekaan dan kreatifitas penelitian dan pengembangan
pertanian.

7.1.1.2 Meningkatkan Kapasitas Birokrasi dan Kualitas Pelayanan


Publik
Birokrasi, khususnya birokrasi di tingkat pelaksana (street level bureaucracy),
merupakan ujung tombak implementasi kebijakan publik berikut pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat (public service). Berhasil tidaknya suatu pemerintahan,
karena itu, sangat tergantung kepada bagaimana birokarsi mengimplementasikan
kebijakan-kebijakan publik yang telah dibuat dan kemampuan memberikan
pelayanan kepada masyarakat.

A. Permasalahan
1. Rekruitmen
a. Proses rekruitmen masih belum didasarkan pada analisis kebutuhan;
b. Proses rekruitmen masih belum sepenuhnya didasakan pada merit
system.
2. Sumber Daya Manusia
a. Masih lemahnya kualitas sumber daya birokrasi;
b. Masih kurangnya tenaga spesialis, ahli, kepakaran untuk kebutuhan
pelayanan dasar.
3. Pengembangan Karir dan Promosi
a. Di dalam mengembangkan karir dan penempatan pegawai tidak
sepenuhnya mempertimbangkan kompetensi pokok yang dimiliki oleh
pegawai;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 84


b. Promosi pegawai tidak didasarkan pada aspek linearitas dan
kompetensi, dan masih didasarkan pada pertimbangan suka atau tidak
suka.
4. Budaya Organisasi
a. Belum berkembangnya orientasi budaya memberi pelayanan, dan
masih kuatnya budaya dilayani;
b. Belum kuatnya budaya organisasi di kalangan birokrat;
5. Renumerasi
a. Proses penggajian tidak didasarkan pada kinerja (performance).
Konsekuensinya, pegawai yang memiliki beban kerja (load) yang
berlebihan diberi gaji yang sama dengan pegawai yang memiliki beba
kerja sedikit;
b. Lemahnya pembinaan pegawai;

B. Sasaran
1. Meningkatnya kapasitas dan kompetensi pegawai;
2. Meningkatnya etos kerja dan budaya kerja pegawai;
3. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan publik;
4. Meningkatnta kepuasan kualitas pelayanan publik;
5. Meningkatnya kapasitas organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah;
6. Meningkatnya visi bersama (integeritas) kalangan birokrat.

C. Arah Kebijakan
1. Rekruitmen
a. Mengembangkan sistem pengangkatan, penempatan dan
pemberhentian sesuai dengan kompetensi, prestasi, dan
pengabdiannya (reward and punishment), dengan menggunakan
pendekatan merit system;
b. Pengembangan sistem rekruitmen berbasis analisis kebutuhan;
c. Pengembangan sistem rekruitmen berbasis merit system.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 85


2. Sumber Daya Manusia;
a. Meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan daerah melalui
program training dan retraining, serta peningkatan jenjang
pendidikan pegawai yang disesuaikan dengan kebutuhan unit kerja
masing-masing;
b. Meningkatkan jenjang keahlian, spesialisasi dan kepakaran.
3. Pengembangan Karir dan Promosi
a. Pengembangan sistem karir dan promosi berdasarkan kompetensi;
b. Mengembangkan sistem pengembangan karir berdasarkan
kemampuan linier (spesialisasi) dan kemampuan umum (general)
sebagai basis pengembangan karir dan promosi.
4. Budaya Organisasi
a. Membangun disiplin dan etos kerja;
b. Mengembangkan budaya melayani;
c. Mengembangkan budaya organisasi;
d. Penataan organisasi pemerintahan di daerah sesuai dengan
kebutuhan dengan berpedoman pada peraturan perundang-
undangan yang ada;
e. Melakukan koordinasi, penyelarasan sistem dan unit-unit kerja
supaya bekerja sesuai dengan tupoksinya.
5. Renumerasi
a. Mengembangkan sistem renumerasi;
b. Mengembangkan penggajian berbasis kinerja;
c. Meningkatkan pembinaan pegawai.

7.1.1.3 Peningkatan Investasi


Investasi merupakan salah satu faktor (push factor) bagi berkembangnya
perekonomian suatu pemerintahan (daerah). Manakala arus investasi tinggi, suatu
wilayah memungkinkan untuk mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
juga. Investasi juga berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Investasi sendiri bisa datang dari dalam negeri (PMDN) dan bisa berasal dari luar

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 86


negeri (PMA). Di daerah, investasi itu bisa berasal dari dalam daerah sendiri, dari
luar daerah, dan dari luar negeri.

A. Permasalahan
1. Belum berkembangnya iklim usaha dan dunia usaha;
2. Birokrasi perijinan terlalu panjang dan berbelit-belit;
3. Jaminan kepastian hukum dan keamanan;
4. Rendahnya promosi investasi;
5. Rendahnya sarana dan prasarana pedukung investasi;
6. Rendahnya daya tarik investor di Kabupaten Banyuwangi.

B. Sasaran
1. Meningkatnya jumlah investasi;
2. Meningkatnya variasi sektoral dalam investasi;
3. Pemerataan investasi di setiap wilayah.

C. Arah Kebijakan
1. Meningkatkan promosi;
2. Membangun iklim usaha dan dunia usaha yang kondusif bagi
datangnya investor dan berkembangnya dunia usaha..
3. Menghapus ekonomi biaya tinggi antara lain dengan penyederhanaan
prosedur perijinan, menciptakan kepastian hukum yang menjamin
kepastian usaha;
4. Mengembangkan pelayanan satu atap di dalam perjinan dan
pengelolaan investasi;
5. Menyempurnakan kelembagaan yang menangani investasi agar berdaya
saing efisien, transparan dan non diskriminatif;
6. Tersedianya dan optimalisasi ICT (Information Communication and
Technology).

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 87


7.1.1.4 Membangun Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan efektif
(good Governance)
Adanya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan
pemerintahan yang efektif merupakan prasyarat utama bagi pembangunan suatu
daerah. Ketika terbangun good governance, proses pembuatan keputusan-keputusan
publik akan mudah dilakukan. Di samping itu, good governance juga berarti adanya
dukungan kuat dari pemangku yang lain (stakeholders), baik dari kekuatan-kekuatan
yang ada di dalam masyarakat (civil society) maupun kekuatan-kekuatan yang ada di
pasar (market).

A. Permasalahan
1. Pemerintahan
a. Adanya hubungan yang tidak harmonis antara eksekutif dan legislatif;
b. Adanya hubungan yang tidak harmonis antara kepala daerah dengan
birokrasi;
c. Lemahnya koordinasi antara SKPD-SKPD di dalam
mengimplementasikan program-program pembangunan
d. Sering terjadi mutasi dalam kurun waktu singkat (kurang dari satu
tahun ada mutasi pegawai antar SKPD).
2. Dukungan Masyarakat
a. Dukungan masyarakat terhadap pemerintahan lemah;
b. Tidak adanya koordinasi antara pemerintah dengan kekuatan-kekuatan
masyarakat di dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan-
kebijakan publik;
c. Lemahnya upaya pemerintah di dalam membangun komunikasi dengan
kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat.
3. Dukungan Pasar
a. Lemahnya dukungan kekuatan pasar di dalam menopang kegiatan
ekonomi yang dilakukan pemerintah;
b. Lemahnya upaya pemerintah di dalam membangun komunikasi dengan
para pelaku ekonomi.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 88


B. Sasaran
1. Meingkatnya hubungan yang harmonis antara eksekutif dan legislatif;
2. Meningkatnya komunikasi antara bupati, wakil bupati dan Birokrasi
dalam menjalankan program;
3. Meningkatnya dukungan masyarakat terhadap pemerintah kabupaten
Banyuwangi;
4. Meningkatnya hubungan dan kordinasi pemerintah daerah dengan
kekuatan masyarakat dan melibatkan dalam proses pembangunan;
5. Meningkatnya hubungan dan dukungan pelaku pasar serta kekuatan
pasar di dalam menopang kegiatan ekonomi yang dilakukan pemerintah.

C. Arah Kebijakan
1. Pemerintahan
a. Membangun komunikasi dan kerjasama dengan berbagai kekuatan
politik, khususnya antara eksekutif dan legislatif, di dalam memecahkan
berbagai permasalahan strategis yang ada di dalam masyarakat;
b. Menciptakan iklim yang kondusif dengan membangun pola komunikasi
yang intens antara dengan birokrasi.
2. Dukungan Masyarakat
a. Membangun komunikasi dengan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam
masyarakat agar keputusan-keputusan yang dibuat itu memperoleh
dukungan dan dapat diimplemtasikan di tengah-tengah;
b. Melibatkan masyarakat dalam pembangunan baik pada proses
perencanaan dan implementasinya.
3. Dukungan Pasar
a. Membangun komunikasi dengan para pelaku usaha;
b. Memperkuat dan melakukan koordinasi serta intervensi terhadap pasar
yang berdampak langsung pada masyarakat kecil.

7.1.1.5 Mengembangkan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal


Industri pariwisata telah berkembang di berbagai negara dan daerah. Di
negara-negara atau daeah-daerah itu Industri pariwisata itu menjadi salah satu
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 89
penyumbang besar perekonomian. Selain didasarkan pada potensi alam, industri
pariwisata itu juga dikembangkan berdasarkan kreativitas.

A. Permasalahan
1. Belum optimalnya pemanfaatan potensi alam untuk pengembangan
pariwisata;
2. Belum terkaitnya pengembangan sektor pariwisata dengan sektor-sektor
lainnya, seperti sektor pertanian, usaha kecil menengah, dan budaya;
3. Belum optimalnya infrastruktur penunjang pariwisata seperti jalan, rest
area;
4. Belum termanfaatkannya potensi Kabupaten Banyuwangi sebagai tempat
transit wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui jalan darat dan laut.
5. Belum terbangunnya ikon pariwisata dan brand image;
6. Program pariwisata belum terintegrasi secara multisektor;
7. Belum adanya peta wisata (terutama di hotel-hotel dan undangan-
undangan resmi);
8. Kurangnya promosi;
9. Kurangnya optimalisasi kerjasama antara Pemerintah Kabupaten
Banyuwangi, Pemerintah Kabupaten lain (seperti Bali) maupun dengan
pihak swasta

B. Sasaran
1. Meningkatnya pemanfaatan potensi pariwisata seperti Kawah Ijen, Pantai
Plengkung, Sukamade dan lainnya;
2. Mengingkatnya koordinasi antar sektor yang terkait pariwisata, seperti
sektor pertanian, usaha kecil menengah, industri kreatif, seni dan budaya
dalam menopang sektor pariwisata;
3. Pengingkatan sarana dan prasarana infrastruktur pariwisata.

C. Arah Kebijakan
1. Mengembangkan dan membangun pusat-pusat wisata unggulan;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 90


2. Meningkatkan pemasaran dan jaringan pariwisata dengan cara
intensifikasi;
3. Meningkatkan mutu layanan dan diversifikasi produk wisata melalui
penyediaan sarana dan prasarana wisata yang memiliki keunggulan
strategis;
4. Menguatkan SDM pariwisata melalui pelatihan yang relevan dan
berkelanjutan;
5. Meningkatkan kerjasama antar daerah dan pengusaha wisata dalam bidang
promosi wisata dan industri wisata di tingkat provinsi dan nasional;
6. Jaringan transportasi dan komoditas dengan daerah lain juga masyarakat
sekitar lokasi wisata.

7.1.1.6 Pengarusutamaan Jender dan Perlindungan Anak


Jumlah perempuan dan anak merupakan mayoritas penduduk Kabupaten
Banyuwangi. Secara keseluruhan jumlah perempuan dan anak di Kabupaten
Banyuwangi mencapai lebih dari 70% penduduk.

A. Permasalahan
1. Permasalahan Jender
a. Masih adanya kesenjangan peran laki-laki dan perempuan di sektor
publik;
b. Belum adanya pengarusutamaan jender dalam program-program
pembangunan;
c. Masih kuatnya budaya patriarki di dalam masyarakat;
d. Meningkatnya kekerasan domestik yang menimpa perempuan;
e. Meningkatnya angka perdagangan manusia dan TKI ilegal.
2. Permasalahan Anak
a. Rendahnya kesadaran perlindungan anak;
b. Masih adanya perdagangan anak;
c. Meningkatnya kekerasan terhadap anak;
d. Masih tingginya anak usia sekolah yang tidak lagi mengenyam
pendidikan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 91
e. Masih tingginya nilai kenakalan pada remaja dan anak anak;
f. Meningkatnya korban anak-anak terlantar dan anak jalanan.
g. Masih minimnya pendampingan anak yang harus diberikan pelatihan;
h. Pemahaman pelatihan kepemimpinan bagi anak.

B. Sasaran
1. Meningkatnya jumlah dan peran perempuan di sektor publik;
2. Meningkatnya program-program pembangunan yang berbasis pada
pengarusutamaan jender;
3. Berkurangnya budaya patriarkhi;
4. Menurunnya kekerasan domestik terhadap perempuan dan anak;
5. Menurunnya perdagangan manusia yang melibatkan perempuan dan anak;
6. Menurunnya jumlah drop-out anak-anak usia sekolah;
7. Menurunnya jumlah angka anak jalanan dan anak terlantar;
8. Meningkatkanya program-program PUHA (Pengarusutamaan Hak Anak)
kepedulian pada anak dan kewajiban anak dalam rangka menfasilitasi
KLA ( Kota Layak Anak).

C. Arah Kebijakan
1. Jender
a. Masuknya isu jender di dalam berbagai kebijakan pemerintah;
b. Masuknya isu jender di dalam pendidikan sekolah;
c. Peningkatan kualitas perempuan di dalam pendidikan dan ketrampilan;
d. Pengawasan dan penindakan terhadap kejahatan kekerasan domestik dan
perdagangan manusia dan TKW ilegal;
2. Anak
a. Meningkatkan program-program pembangunan terhadap perlindungan
anak;
b. Pengawasan dan penindakan terhadap kejahatan kekerasan terhadap anak
dan perdagangan anak;
c. Pegembangan pusat rehabilitasi dan ketrampilan terhadap anak-anak
putus sekolah;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 92
d. Pengembangan pembinaan kepada anak korban kekerasan, anak jalanan
dan perdagangan Anak;
e. Pengembangan Pusat Kegiatan Seni dan Ketrampilan bagi anak Jalanan
dan Putus Sekolah;
f. Memberikan peran dalam pengembangan hak dan suara anak;
g. Meningkatkan jiwa kepemimpinan bagi anak dalam ikut serta memberikan
akses pembangunan yang lebih maju dan efisien di kalangan anak-anak;
h. Mengembangan kreatifitas anak melalui Forum Anak.

7.1.2 Strategi Menekan Kelemahan untuk Meraih Peluang


Seperti dijelaskan di bab empat, di Kabupaten Banyuwangi terdapat
kelemahan-kelemahan, tetapi juga terdapat peluang-peluang. Bagian ini akan
menguraikan strategi untuk menekan kelemahan dan memanfaatkan peluang.

7.1.2.1 Meningkatkan Daya Saing Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan


Menengah Berbasis Kelompok dan Kluster
Kegiatan ekonomi berbasis pada masyarakat terletak di Usaha Mikro, Kecil
dan Menengah (UMKM) dan Koperasi. Apabila kegiatan ekonomi berbasis UMKM
dan Koperasi berkembang secara baik, berarti kegiatan perekonomian masyarakat
pada umumnya berkembang baik juga. Untuk itu, mengembangkan UMKM dan
Koperasi merupakan suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

A. Permasalahan
1. Koperasi
a. Koperasi belum dikelola secara profesional sebagai unit bisnis yang
sekaligus berfungsi sosial;
b. Masih sangat kecilnya peranan Koperasi dalam kegiatan ekonomi
masyarakat;
c. Adanya pandangan negatif masyarakat terhadap Koperasi;
2. UMKM
a. Bisnis dalam UMKM sangat beragam dan berskala mikro;
b. Tidak efisien;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 93
c. Tidak kompetitif;
d. Kesulitan akses permodalan;
e. Akses pasar lemah;
f. Teknologi dan informasi kurang dan masih sederhana;
3. Sumber Daya Manusia
a. Kompentensi (inovasi, kreatifitas dan kewirausahaan) pengelola Koperasi
dan pengusaha UMKM masih rendah;
b. Masih lemahnya kerjasama dan networking antar pelaku Koperasi dan
UMKM:

B. Sasaran
1. Meningkatnya profesionalisme pengelolaan Koperasi dan UMKM;
2. Meningkatnya produktivitas Koperasi dan UMKM;
3. Terbangunnya image positif Koperasi di mata masyarakat;
4. Meningkatnya sinergisitas antar unit bisnis dalam Koperasi dan UMKM;
5. Meningkatnya akses permodalan, teknologi, informasi dan pasar;
6. Meningkatnya efisiensi dan daya saing unit bisnis dalam Koperasi dan
UMKM;
7. Terbangunya jejaring usaha Koperasi dan UMKM, baik internal maupun
eksternal.

C. Arah Kebijakan
1. Koperasi
a. Meningkatkan profesionalisme pengelola Koperasi;
b. Melakukan pendampingan terhadap kegiatan Koperasi;
c. Membangun image positif Koperasi di mata masyarakat;
d. Memfasilitasi kebutuhan modal bagi Koperasi dan UMKM.

2. UMKM
a. Mengembangkan bisnis UMKM dengan pendekatan kluster;
b. Meningkatkan skala produksi UMKM;
c. Mengembangkan dan menerapkan teknologi tepat guna bagi UMKM;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 94
d. Mengembangkan microfinace di tingkat komunitas UMKM;
e. Mengembangkan dan mempermudah proses dan prosedur permodalan;
f. Mengembangkan jejaring dengan stakeholders dari hulu ke hilir;
g. Mengembangkan pengunaan teknologi komunikasi dan informasi bagi
UMKM.
3. Sumber Daya Manusia
a. Membangun kompentensi (inovasi, kreatifitas dan kewirausahaan)
pengelola Koperasi dan pengusaha UMKM;
b. Membangun jejaring antar pelaku dari hulu ke hilir;

7.1.2.2 Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Yang Berakhlak


Pendidikan merupakan kunci dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pelajaran dari berbagai negara menunjukkan bahwa negara-negara yang mengalami
kemajuan pembangunan yang cepat, tidak lepas dari adanya kualitas sumber daya
manusia yang memadai. Negara-negara yang penduduknya memiliki pendidikan
yang memadai, memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantages) kalau
dibandingkan dengan negara-negara lain yang tidak memiliki pendidikan yang
memadai. Ketika suatu daerah bermaksud mempercepat peningkatan kemajuan, mau
tidak mau harus menaruh perhatian pada peningkatan akses dan kualitas pendidikan.
Tetapi, adanya peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang memadai saja itu
tidak cukup. Semua itu juga harus diiringi oleh adanya pendidikan yang berakhlak.

A. Permasalahan
1. Masih tingginya angka buta aksara;
2. Belum maksimalnya pendidikan anak usia dini;
3. Belum meratanya akses pendidikan dasar, menengah dan tinggi bagi
masyarakat;
4. Rendahnya daya bayar masyarakat terhadap pendidikan;
5. Rendahnya keahlian dan keterampilan;
6. Infrastruktur pendidikan belum memadai;
7. Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan
8. Rendahnya profesionalisme guru, penyelengara lembaga pendidikan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 95
9. Sistem evaluasi yang masih belum memadai.

B. Sasaran
1. Turunnya angka buta aksara;
2. Meningkatnya angka partisipasi pendidikan;
3. Meningkatnya jumlah kelulusan anak didik;
4. Meningkatnya akses pendidikan dasar, menengah dan tinggi bagi
masyarakat;
5. Meningkatnya keahlian dan keterampilan;
6. Meningkatnya infrastruktur pendidikan;
7. Mingkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan;
8. Meningkatnya profesionalisme guru dan penyelenggara lembaga
pendidikan;
9. Meningkatnya sistem evaluasi penyelenggaraan pendidikan.

C. Arah Kebijakan
1. Meningkatkan perluasan dan pemerataan pendidikan menengah;
2. Meningkatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD);
3. Menyelenggarakan pendidikan non formal yang bermutu untuk
masyarakat yang tidak mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan
formal;
4. Menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan antar kelompok
masyarakat yang selama ini kurang terjangkau oleh layanan pendidikan;
5. Mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan iptek
serta perkembangan global, regional, nasional dan lokal;
6. Mengembangkan jiwa kewirausahaan di lembaga-lembaga pendidikan,
baik formal maupun non-formal;
7. Menyediakan pendidikan dan tenaga kependidikan serta menyedikan
prasarana dan sarana pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang
memadai;
8. Menyelenggarakan training dan retraining serta meningkatkan jenjang
pendidikan bagi tenaga kependidikan dan pendidik;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 96
9. Meningkatakan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik;
10. Mengembangan sistem evaluasi pendidikan
11. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan
12. Menata sistem pembiayaan pendidikan yang berprinsip adil, transparan
dan akuntabel;
13. Memberikan insentif kepada guru ngaji;
14. Meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan
menumbuhkan budaya olah raga.

7.1.2.3 Peningkatan Akses Pelayanan dan Kualitas Kesehatan


Akses terhadap pelayanan dan peningkat kualitas kesehatan telah menjadi
salah satu prioritas program pemerintah Indonesia dan daerah, termasuk di
Kabupaten Banyuwangi. Bagian ini akan mengidentifikasi permasalahan-
permasalahan yang dihadapi, sasaran dan arah kebijakan di bidang peningkatan
akses pelayanan dan peningkatan kualitas kesehatan.

A. Permasalahan
1. Upaya Kesehatan
a. Masih tingginya angka kematian Ibu dan Bayi;
b. Masih tingginya angka kesakitan, penyakit menular maupun tidak
menular.
c. Kualitas dan kelengkapan sarana prasarana kesehatan yg masih belum
memenuhi standar;
d. Usia harapan hidup yg masih rendah;
e. Akses dan kualitas pelayanan kesehatan masih terbatas;
f. Masih adanya persalinan yang memakai jasa dukun bayi;
g. Masih adanya bayi dan balita dengan status gizi kurang.
2. Pembiayaan Kesehatan
a. Masyarakat belum mampu memenuhi pembiayaan pelayanan
kesehatan, karena masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat;
b. Anggaran untuk pembiayaan kesehatan dari pemerintah masih terbatas.
3. Sumber Daya Manusia
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 97
a. Masih terbatasnya jumlah dan jenis tenaga kesehatan tenaga medis;
b. Masih relatif rendahnya tingkat kompetensi tenaga kesehatan;
c. Medis dan para medis;
d. Tidak meratanya distribusi tenaga kesehatan.
4. Manajemen Kesehatan dan Informasi Kesehatan
a. Belum optimalnya sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan;
b. Fungsi manajemen kesehatan belum optimal;
c. Informasi kesehatan belum bisa diakses secara mudah oleh masyarakat.
5. Ketersediaan, Keterjangakauan dan Pemerataan Farmasi
a. Keterbatasan jumlah dan jenis perbekalan kesehatan dan farmasi;
b. Masih rendahnya keamanan penggunaan obat / farmasi di masyarakat.
6. Pemberdayaan Masyarakat
a. Belum dikelolanya UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat)
secara optimal;
b. Belum dilibatkannya secara optimal organisasi kemasyarakatan / profesi
thd penanganan masalah kesehatan;
c. Masih rendahnya tingkat pencapaian PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat).

B. Sasaran
1. Meningkatnya usia harapan hidup;
2. Menurunnya angka kematian bayi;
3. Menurunnya jumlah kematian maternal;
4. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan;
5. Menurunnya anak balita di bawah garis merah;
6. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita;
7. Meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan;
8. Meningkatnya peserta KB aktif;
9. Tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang aman, bermutu dan
bermanfaat serta terjangkau oleh masyarakat;
10. Tersedianya berbagai kebijakan, pedoman dan akses sistem informasi
kesehatan (SIK) daerah di seluruh institusi pelayanan kesehatan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 98
11. Tersedianya tenaga kesehatan yang cukup, berkualitas dan profesional;
12. Terbangunya jalinan, komitmen dan peran serta masyarakat dan
organisasi-organisasi kemasyarakatan dalam proses kesehatan;
13. Melibatkan pesantren di dalam pelayanan kesehatan, seperti terlibat
dalam Posyandu, Polindes, dan Pos-siaga serta Poskestren.

C. Arah Kebijakan
Kebijakan umum untuk meningkatkan akses pelayanan dan kualitas
kesehatan kepada masyarakat mencakup:
1. Upaya Kesehatan
a. Peningkatan kesehatan ibu dan anak;
b. Peningkatan status gizi bagi balita;
c. Pengendalian penyakit menular dan tidak menular;
d. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan;
e. Peningkatan pelayanan primer, sekunder dan dan upaya pelayanan
kesehatan rujukan;
f. Pengawasan penyehatan makanan dan minuman;
g. Peningkatan cakupan dan kualitas imunisasi;
h. Peningkatan pengetahuan ibu;
i. Peningkatan Pengetahuan remaja dan Ibu;
j. Peningkatan akses dan mutu pelayanan KB

2. Pembiayaan Kesehatan
a. Peningkatan program-program pembiayaan kesehatan yang berpihak
pada keluarga miskin & hampir miskin yg tidak mampu membiayai
pengobatan. jamkesmas dan jamkesda bagi keluarga miskin;
b. Pembiayaan program kesehatan inovasi lokal (JPKMB, Puskesmas
berhati MP3, puskesmas PLUS, Harga PAS, Gemmass, dll);
c. Peningkatan anggaran kesehatan secara proporsional (sesuai UU 36
tahun 2009 ttg kesehatan);
d. Peningkatan keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam
pembiayaan kesehatan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 99
3. Sumber Daya Manusia
a. Pemerataan penyebaran tenaga medis dan para medis di daerah-
daerah;
b. Peningkatan jumlah dan jenis tenaga kesehatan;
c. Peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga kesehatan;
d. Peningkatan persebaran tenaga kesehatan.
4. Manajemen Kesehatan dan Informasi Kesehatan
a. Peningkatan pengelolaan manajemen kesehatan;
b. Pengembangan sistem informasi kesehatan (SIK);
c. Penelitian dan pengembangan kesehatan;

5. Ketersediaan, keterjangakauan dan pemerataan farmasi


a. Peningkatan jumlah dan jenis perbekalan kesehatan dan farmasi;
b. Peningkatan ketersediaan obat jenerik;
c. Peningkatan pengawasan keamanan penggunaan obat / farmasi di
masyarakat;
d. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan dan pemerataan obat;
e. Peningkatan pemakaian obatan-obatan tradisional;

6. Pemberdayaan Masyarakat
a. Peningkatan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM),
seprti Posyandu, Polindes, Desa Siaga, Pos UKK (Upaya Kesehatan
Kerja), Toga (taman obat keluarga);
b. Peningkatan peran serta organisasi-organisasi masyarakat, seperti
Pesantren, dan LSM dalam upaya kesehatan masyarakat;
c. Peningkatan perilaku hidup sehat dan bersih.

7.1.2.4 Mengembangkan Program Perlindungan dan Jaminan Sosial


Kesejahteraan rakyat tidak boleh hanya dinikmati oleh sekelompok orang.
Karena itu, perlu pengembangan kebijakan redistribusi dan realokasi sumber-
sumber. Hal ini diwujudkan melalui program perlindungan dan jaminan sosial.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 100


Strategi demikian akan memungkinkan orang-orang yang tidak beruntung dan
terpinggirkan memperoleh perlingungan dari pemerintah.

A. Permasalahan
1. Masih rendahnya jaminan dan perlindungan sosial masyarakat;
2. Belum mengertinya masyarakat akan arti pentingnya jaminan sosial;
3. Belum mengertinya masyarakat tentang proses dan prosedur jaminan
perlindungan dan jaminan masyarakat;
4. Masih adanya anak-anak dan orang-orang terlantar, seperti gelandangan,
orang gila, peminta-minta, dan pengamen jalanan.

B. Sasaran
1. Meningkatnya jaminan dan perlindungan sosial masyarakat;
2. Meningkatnya pemahaman arti pentingnya jaminan dan perlindungan
sosial bagi masyarakat;
3. Meningkatnya kesadaran proses dan prosedur jaminan dan perlindungan
s0sial masyarakat;
4. Berkurangnya orang gila di jalan, gelandangan, peminta-minta dan
pengamen jalanan;

C. Arah Kebijakan
1. Peningkatan program jaminan perlindungan dan jaminan sosial
masyarakat;
2. Penyederhanaan prosedur pemberian jaminan sosial;
3. Pengembangan pusat rehabilitasi dan ketrampilan bagi orang-orang yang
tidak beruntung secara sosial ekonomi.

7.1.2.5 Pengentasan Kemiskinan dan Pengangguran


Pengentasan kemiskinan dan pengangguran merupakan bagian penting yang
harus dilakukan oleh pemerintahan daerah, peningkatan kesejahteraan masyarakat
Banyuwangi terkait faktor kemiskinan dan pengangguran yang harus diatasi.
A. Permasalahan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 101
1. Masih tingginya angka kemiskinan;
2. Masih tingginya angka Pengangguran;
3. Belum terkordinasikannya program-program kemiskinan diberbagai sektor.
B. Sasaran
1. Penurunan angka kemiskinan;
2. Pengurangan jumlah pengangguran;
3. Mendorong terciptanya lapangan kerja baru.
C. Arah Kebijakan
1. Pemetaan kemiskinan dan pengangguran;
2. Penyusunan rencana strategis pengentasan kemiskinan;
3. Penyusunan rencana strategis mengatasi pengangguran;
4. Peningkatan koordinasi antar SKPD untuk mengatasi kemiskinan melalui
Tim Kordinasi Penangulangan Kemiskinan Kabupaten Banyuwangi (TKPK).

7.1.2.6 Pengembangan Infrastruktur dan Tata Ruang


Adanya infrastuktur yang baik merupakan salah satu faktor kunci bagi
bergeraknya perekonomian suatu negara atau daerah. Demikian pula adanya tata
ruang yang baik, akan memungkinkan suatu daerah memiliki arah yang lebih jelas
tentang pengembangan yang akan dilakukan.

A. Permasalahan
1. Infrastruktur
a. Adanya disparitas antar wilayah, khususnya antara wilayah perkotaan
dan pedesaan;
b. Kualitas infrastruktur fisik, seperti jalan, bendungan, dan irigasi yang
tidak memadai;
2. Tata Ruang
a. Adanya tidak konsistensi antara perencanaan dan implementasi
pembangunan dengan tata ruang daerah;
b. Tata ruang belum menjadi rujukan di dalam pengembangan wilayah;
3. Sumber Daya Manusia

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 102


a. Kualitas perencana infrastruktur dan tata ruang yang masih belum
memadai;
b. Kualitas pelaksana dan penjaga infrastruktur dan tata ruang yang belum
memadai;
B. Sasaran
1. Adanya peningkatan jumlah jalan poros desa;
2. Adanya peningkatan kuantitas dan kualitas jalan dan sarana serta
prasarana yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi;
3. Adanya peningkatan kualitas dan kuantitas jalan dan sarana serta
prasarana yang mengubungkan daerah-daerah tujuan wisata;

C. Arah Kebijakan

1. Infrastruktur
a. Pembangunan poros-poros desa, untuk mengurangi kesenjangan antara
pedesaan dan perkotaan;
b. Peningkatan kuantitas dan kualitas pembangunan infrastruktur fisik,
seperti jalan, bendungan, dan irigasi.

2. Tata Ruang
a. Penataan ulang tata ruang atau rencana tata ruang dan tata wilayah
(RTRW) Kabupaten Banyuwangi;
b. Penegakan implementasi tata ruang atau rencana tata ruang dan tata
wilayah (RTRW) yang telah dibuat dan ditetapkan.
3. Sumber Daya Manusia
a. Peningkatan jumlah tenaga yang berkaitan dengan infrastruktur dan tata
ruang;
b. Pelatihan tenaga pelaksana dan penjaga infrastruktur dan tata ruang.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 103


7.1.2.7 Pengembangan Pendidikan Berbasis Moral dan Keagamaan
Negara Indonesia memiliki perbedaan dengan negara-negara lain. Di antaranya
adalah berkaitan dengan ditempatnya masalah moral keagamaan di tempat yang
cukup tinggi. Hal ini perlu dilakukan karena yang menjadi tolok ukur bagi Indonesia
bukan hanya masalah-masalah material, melainkan juga masalah spiritual. Adanya
pendidikan yang berbasis moral keagamaan merupakan sesuatu yang sangat penting;

A. Permasalahan
1. Menurunnya kesadaran moral peserta didik;
2. Lemahnya ketauladanan dari pendidik dan masyarakat;
3. Meningkatnya kejahatan yang bersumber pada dekadensi moral, seperti
kejahatan seksual dan Narkoba;
4. Meningkatnya gaya hidup bebas di kalangan anak muda;
5. Derasnya arus informasi negatif.

B. Sasaran
1. Meningkatnya kesadaran moral peserta didik;
2. Menurunnya angka kejahatan bersumber dekadensi moral;
3. Meningkatnya gaya hidup anak muda bersumber moral dan agama;
4. Meningkatnya selektifitas informasi.
5. Meningkatnya ketauladanan pendidik dan tokoh-tokoh masyarakat.

C. Arah Kebijakan
1. Meningkatnya muatan pendidikan berbasis moral dan keagamaan di dalam
pendidikan sekolah, khususnya di dalam bentuk contoh-contoh kongkrit
(uswatun hasanah);
2. Adanya integrasi pendidikan berbasis umum dan keagamaan.

7.1.2.8 Peningkatan Kesadaran Hukum


Suatu negara atau daerah akan berjalan secara baik manakala masyarakatnya
memiliki kesadaran yang berimbang akan hak-hak dan kewajibannya. Melalui
kedasaran akan hak, masyarakat akan terdorong untuk berpartisipasi di dalam
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 104
berbagai program pembangunan. Sementara itu, melalui kesadaran akan kewajiban,
masyarakat akan memiliki kesadaran untuk mentaati keputusan bersama, termasuk
mentaati peraturan yang berlalu (hukum). Kondisi demikian akan memungkinkan
adanya ketertiban sosial guna menopang berbagai program pembangunan.

A. Permasalahan
1. Rendahnya tingkat kesadaran hukum dari masyarakat;
2. Rendahnya sosialisasi dan internalisasi peraturan perundang-undangan;
3. Meningkatnya angka kejahatan;
4. Meningkatnya pelanggaran berlalu lintas.

B. Sasaran
1. Meningkatnya kesadaran hukum masyarakat;
2. Meningkatnya sosialisasi dan internalisasi peraturan perundang-
undangan;
3. Berkurangnya angka kejahatan dan pelanggaran hukum.

C. Arah kebijakan
1. Koordinasi di dalam pemberian penyuluhan hukum dengan berbagai
instansi terkait dan organisasi-organisasi masyarakat;
2. Sosialisasi dan internalisasi peraturan perundang-undangan;
3. Ketegasan dalam penegakan hukum (law enforcement).

7.1.3 Strategi Menggunakan Kekuatan untuk Mengatasi Tantangan

Fokus utama dari kelompok strategi yang ketiga ini adalah memanfaatkan
kekuatan untuk meminimalisasi tanyangan yang dihadapi oleh Kabupaten
Banyuwangi.

7.1.3.1 Bertani Selaras Lingkungan


Bertani selaras lingkungan telah menjadi salah satu prioritas program
pemerintah Indonesia dan daerah, termasuk di Kabupaten Banyuwangi. Bagian ini
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 105
akan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi, sasaran dan arah
kebijakan di bidang bertani selaras lingkungan.
A. Permasalahan
1. Teknik bertani
a. Tingginya pemakaian pupuk anorganik di masyarakat;
b. Rendahnya pemakaian pupuk organik di masyarakat;
c. Tingginya pemakaian pestisida kimia di masyarakat;
d. Pemanfaatan sumber daya air yang tidak bertanggungjawab;
e. Lemahnya pemahaman masyarakat terhadap sistem pertanian berbasis
lingkungan.
2. Lingkungan
a. Semakin meningkatnya pencemaran dan kerusakan lingkungan, seperti
pencemaran air, tanah dan udara;
b. Konsentrasi penduduk yang tidak merata;
c. Perubahan iklim global;
d. Penurunan unsur hara pada lahan pertanian;
e. Eksploitasi sumberdaya alam cenderung berlebihan;
f. Kerusakan lingkungan akibat penambangan liar.
3. Manajemen Pengelolaan
a. Lemahnya kelembagaan dan posisi tawar petani dan nelayan;
b. Kurangnya pelibatan kelembagaan pedesaan dalam pembuatan dan
implementasi kebijakan;
c. Pengelolaan pertanian yang tidak berwawasan lingkungan;
d. Pengelolaan sumberdaya lahan (pertambangan) yang belum ramah
lingkungan.
4. Sumberdaya Manusia
a. Masih terbatasnya tenaga penyuluh pertanian;
b. Masih relatif rendahnya tingkat kompetensi tenaga penyuluh pertanian;
c. Masih rendahnya profesionalisme tenaga penyuluh pertanian.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 106


5. Pemberdayaan masyarakat
a. Belum dilibatkannya secara maksimal masyarakat dalam sistem
pertanian berbasis lingkungan;
b. Belum dilibatkannya secara maksimal organisasi-organisasi
kemasyarakatan serta Lembaga Swadaya Masyarakat, seperti NU dan
Muhammadiyah dalam sistem pertanian berbasis lingkungan.
B. Sasaran
1. Meningkatnya pemakaian pupuk organik;
2. Menurunnya pemakaian pupuk anorganik;
3. Menurunnya pemakaian pestisida;
4. Pengelolaan pertanian yang berwawasan lingkungan;
5. Pemahaman masyarakat terhadap sistem pertanian berbasis
lingkungan;
6. Kualitas lingkungan, baik air, udara, maupun tanah masih memenuhi
kriteria baku mutu lingkungan;
7. Tersedianya tenaga penyuluh pertanian yang cukup, berkualitas dan
profesional;
8. Terbangunnya jalinan, komitmen dan peran serta masyarakat dan
organisasi-organisasi kemasyarakatan dalam sistem pertanian berbasis
lingkungan;
9. Pengelolaan sumberdaya lahan (pertambangan).

C. Arah kebijakan
1. Teknik bertani
a. Mengurangi pemakaian pupuk anorganik di masyarakat;
b. Meningkatkan pemakaian pupuk organik di masyarakat;
c. Mengurangi pemakaian pestisida kimia di masyarakat;
d. Pemanfaatan sumber daya air yang bertanggungjawab;
e. Meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sistem pertanian
berbasis lingkungan.
2. Lingkungan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 107


a. Mengurangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, seperti
pencemaran air, tanah dan udara;
b. Pemerataan konsentrasi penduduk di setiap daerah;
c. Mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang memicu
peningkatan perubahan iklim global;
d. Peningkatan unsur hara pada lahan pertanian;
e. Pengurangan eksploitasi sumberdaya alam;
f. Mengurangi kerusakan lingkungan akibat penambangan liar.
3. Manajemen Pengelolaan
a. Meningkatkan peran kelembagaan dan posisi tawar petani dan
nelayan;
b. Meningkatkan pelibatan kelembagaan pedesaan dalam proses
pembuatan dan implementasi kebijakan;
c. Penataan lembaga penyuluh pertanian;
d. Pengelolaan limbah pertanian dan nelayan;
e. Pengelolaan pertanian yang berwawasan lingkungan;
f. Pengelolaan sumberdaya pertambangan.
4. Sumberdaya Manusia
a. Menambah jumlah tenaga tenaga penyuluh pertanian;
b. Meningkatkan kompetensi tenaga penyuluh pertanian;
c. Meningkatkan profesionalisme tenaga penyuluh pertanian.
5. Pemberdayaan Masyarakat
a. Dilibatkannya secara maksimal masyarakat dalam sistem pertanian
berbasis lingkungan;
b. Dilibatkannya secara maksimal organisai-organisasi
kemasyarakatan serta Lembaga Swadaya Masyarakat, seperti NU
dan Muhammadiyah dalam sistem pertanian berbasis lingkungan.

7.1.3.3 Pemberdayaan Kelompok Masyarakat


Suatu pembangunan tidak akan berjaloan secara baik tanpa adanya
dukungan dari masyarakat. Agar lebih efektif, dukungan dari masyarakat itu akan
lebih mudah didapat melalui kelompok-kelompok yang ada di dalamnya, khususnya
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 108
kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan di dalam menggerakkan
anggotanya untuk bersama-sama dengan yang lain mengembangkan diri.
D. Permasalahan
1. Meningkatnya anggota masyarakat yang cenderung bercorak
individualistik;
2. Belum menguatnya budaya berkelompok untuk mencapai tujuan
bersama di dalam masyarakat;
3. Belum berdayanya kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat;

E. Sasaran
1. Meningkatnya kesdaran berkelompok untuk mencapai tujuan bersama di
dalam dalam masyarakat;
2. Meningkatnya peranan kelompok-kelompok dalam masyarakat di dalam
berbagai kegiatan pembangunan.

F. Arah Kebijakan
1. Menumbuhkan kesadaran dalam masyarakat akan pentingya
kebersamaan;
2. Membentuk kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk mencapai
tujuan bersama, seperti kelompok petani, pengrajin dan kelompok-
kelompok lain;
3. Melakukan pemberdayaan terhadap kelompok-kelompok yang sudah
ada di dalam masyarakat.

7.1.3.4 Mengembangkan Jejaring antar Daerah, Pemerintah Provinsi


dan Pusat serta Kekuatan-Kekuatan Ekonomi
Jejaring merupakan salah satu kata kunci bagi keberhasilan pembangunan di
suatu negara atau daerah. Bagaimanapun juga, negara atau daerah tidak ada di dalam
ruang yang tertutup. Mereka merupakan bagian dari sistem secara umum. Untuk itu,
kemampuan membangun jaringan dan memanfaatkan jaringan itu sangat penting.
Bagi Kabupaten Banyuwangi, jejaring itu mencakup dengan pemerintah pusat,
provinsi, dengan daerah lain, serta dengan kekuatan-kekuatan ekonomi.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 109
A. Permasalahan
1. Belum maksimalnya jaringan antar daerah;
2. Minimnya intregrasi antar daerah, baik propinsi maupun pusat;
3. Rendahnya jejaring pelaku ekonomi.

B. Sasaran
1. Meningkatnya jejaring antar daerah;
2. Meningkatnya intergarsi antar daerah, propinsi dan pusat;
3. Meningkatnya jejaring pelaku ekonomi;

C. Arah Kebijakan
1. Meningkatkan jejaring antar daerah;
2. Meningkatkan intergasi antar daerah, propinsi dan pusat;
3. Meningkatnya jejaring antar pelaku ekonomi.

7.1.4 Strategi Menekan Kelemahan untuk Mengatasi Tantangan

Kelompok strategi yang terakhir berkaitan dengan upaya untuk menekan


kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi untuk mengatasi
berbagai tantangan atau ancaman yang dimiliki. Strategi demikan perlu dilakukan,
untuk memaksimalkan strategi-strategi yang telah diuraikan terlebih dahulu.

7.1.4.1 Pengembangan Industri Olahan dan Kreatif Berbasis Pertanian


Industri olahan masih belum berkembang secara baik di Kabupaten
Banyuwangi. Untuk itu, perlu didorong adanya industri olahan yang mampu bersaing
dengan industri olahan dari daerah atau negara lain. Agar industri olahan itu tidak
memiliki kesenjangan dengan akar sejarah lokal, didorong adanya industri olahan
dan kreatif yang berbasis pada sektor pertanian. Dengan demikian, strategi demikian
sekaligus menopang bergeraknya upaya untuk menciptakan nilai tambah dari
produk-produk pertanian.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 110


A. Permasalahan
1. Petani masih menjual produk primer;
2. Belum berkembangnya industri olahan dan kreatif berbasis pertanian.

B. Sasaran
1. Meningkatkan industri olahan dan kreatif berbasis pertanian;
2. Meningkatnya nilai tambah produk olahan;
3. Meningkatnya lapangan kerja;
4. Meningkatnya produktivitas kerja.

C. Arah Kebijakan
1. Menumbuhkan industri olahan dan kreatif berbasis pertanian;
2. Peningkatan nilai tambah produk olahan, terbukanya tenaga kerja dan
peningkatan produktivitas kerja.

7.1.4.2 Regulasi Penguatan Ekonomi Kerakyatan Daerah


Upaya untuk memadukan antara strategi pertumbuhan dan pemerataan harus
diiringi oleh adanya regulasi yang memungkinkan ekonomi kerakyatan itu tumbuh
dan berkembang. Regulasi itu bisa menyangkut dua aspek pokok. Pertama adalah
berkaitan dengan pengaturan kompetisi antar pelaku ekonomi, dan yang kedua
adalah berkaitan dengan perlindungan terhadap pelaku-pelaku ekonomi lemah atau
yang termarjinalkan.
A. Permasalahan
1. Belum adanya regulasi yang berpihak pada ekonomi kerakyatan daerah;
2. Kuatnya pengaruh ekomoni global;
3. Persaingan pasar yang tidak seimbang.

B. Sasaran
1. Adanya regulasi yang berhubungan dengan kompetisi kegiatan ekonomi
di daerah;
2. Adanya regulasi yang berhubungan dengan perlindungan terhadap
kegiatan ekonomi kerakyatan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 111
3. Terminimalisasinya pengaruh negatif kekuatan ekonomi global;
4. Menguatnya daya saing ekonomi kerakyatan daerah.

C. Arah Kebijakan
1. Membuat regulasi tentang kompetisi kegiatan ekonomi di daerah;
2. Membuat regulasi tentang perlindungn terhadap kegiatan ekonomi
kerakyatan daerah;
3. Membuat regulasi untuk penguatan ekonomi kerakyatan;
4. Menjadikan ekonomi kerakyatan daerah lebih efektif dan efisien.

7.1.4.3 Peningkatan Akses Transportasi dan Informasi


Akses transportasi dan informasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi
bergeraknya pembangunan suatu daerah. Efisiensi, efektivitas, dan munculnya
inovasi, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari adanya akses terhadap transportasi dan
informasi.

A. Permasalahan
1. Masih banyaknya wilayah yang terisolir dan jauh dari pusat informasi;
2. Belum tersedianya sarana informasi dan transportasi;
3. Rendahnya alat transportasi;
4. Rendahnya pengunaan teknologi informasi;

B. Sasaran
1. Terbukanya daerah yang terisolir;
2. Meningkatnya sarana informasi dan alat transportasi;
3. Meningkatnya pengunaan informasi dan alat transportasi.

C. Arah Kebijakan
1. Membangun jalan akses daerah terisolir;
2. Meningkatkan sarana informasi dan alat trasportasi;
3. Meningkatkan pengunaan informasi dan alat transportasi.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 112


7.1.4.4 Rehabilitasi Lahan dan Hutan
Rehabilitasi lahan dan hutan telah menjadi salah satu prioritas program
pemerintah Indonesia dan daerah, termasuk di Kabupaten Banyuwangi. Bagian ini
akan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi, sasaran dan arah
kebijakan di bidang rehabilitasi lahan dan hutan.

A. Permasalahan
1. Lahan
a. Produktivitas dan penggunaan lahan belum maksimal;
b. Tingginya konversi (alih fungsi) lahan;
c. Masih luasnya lahan kritis;
d. Masih terjadinya degradasi lahan;
e. Tidak dipergunakannya secara maksimal lahan terlantar;
f. Kurang upaya perlindungan lahan pertanian produktif;
g. Masih meluasnya kemiringan lahan.
2. Hutan
a. Luas kawasan hutan semakin berkurang;
b. Laju degradasi dan deforestasi hutan semakin tinggi;
c. Pemanfaatan fungsi ekologi, ekonomi dan sosial hutan belum
optimal;
d. Media pengatur tata air daerah aliran sungai kurang berfungsi;
e. Kurang upaya perlindungan hutan, baik hutan produksi maupun
hutan lindung.
3. Rehabilitasi
a. Rehabilitasi hutan belum maksimal;
b. Penghijauan lahan belum maksimal;
c. Belum maksimalnya pembangunan sipil teknis dalam konteks
konservasi tanah dan air;
d. Masih kurangnya keikutsertaan pihak ketiga/swasta dalam upaya
rehabilitasi lahan dan hutan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 113


4. Manajemen Pengelolaan
a. Manajemen pengelolaan lahan belum maksimal, baik lahan
produktif, lahan kritis, maupun lahan terlantar;
b. Manajemen pengelolaan hutan belum maksimal, baik hutan
produksi maupun hutan lindung;
c. Manajemen pengelolaan cagar alam, suaka margasatwa, taman
nasional, dan taman wisata alam belum maksimal;
d. Penelitian dan Pengembangan lahan dan Kehutanan belum
maksimal;
e. Pengawasan hutan belum maksimal.
5. Sumberdaya Manusia
a. Masih terbatasnya tenaga tenaga penyuluh, baik penuyuluh lahan
maupun kehutanan;
b. Masih relatif rendahnya tingkat kompetensi tenaga penyuluh, baik
penuyuluh lahan maupun kehutanan;
c. Masih terbatasnya polisi hutan.
6. Pemberdayaan Masyarakat
a. Belum dilibatkannya secara maksimal masyarakat dalam rehabilitasi
lahan dan hutan, seperti kelompok tani, masyarakat pinggir hutan;
b. Belum dilibatkannya secara maksimal organisasi-organisasi
kemasyarakatan serta Lembaga Swadaya Masyarakat, seperti NU
dan Muhammadiyah dalam rehabilitasi lahan dan hutan.

B. Sasaran
1. Menurunnya laju deforestasi;
2. Menurunnya lahan kritis;
3. Menurunnya luas lahan terlantar;
4. Menurunnya degradasi lahan;
5. Peningkatan produktivitas dan penggunaan lahan;
6. Peningkatan luas lahan berhutan;
7. Pemanfaatan fungsi ekologi, ekonomi dan sosial hutan;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 114


8. Tersedianya tenaga penyuluh lahan dan kehutanan yang cukup,
berkualitas dan profesional;
9. Terbangunya jalinan, komitmen dan peran serta masyarakat dan
organisasi-organisasi kemasyarakatan dalam proses rehabilitasi lahan
dan hutan;
10. Keikutsertaan pihak ketiga/swasta dalah upaya rehabilitasi lahan dan
hutan.

C. Arah Kebijakan
1. Lahan
a. Peningkatan produktivitas dan penggunaan lahan;
b. Penataan konversi (alih fungsi) lahan;
c. Rehabilitasi lahan kritis;
d. Pencegahan degradasi lahan;
e. Peningkatan pemanfatan lahan terlantar;
f. Peningkatan upaya perlindungan lahan pertanian produktif;
g. Rehabilitasi dan pengelolaan kemiringan lahan.
2. Hutan
a. Kawasan hutan semakin berkurang;
b. Laju deforestasi hutan semakin tinggi;
c. Pemanfaatan fungsi ekologi, ekonomi dan sosial hutan belum optimal;
d. Memfungsikan Media pengatur tata air daerah aliran sungai;
e. Meningkatkan upaya perlindungan hutan, baik hutan produksi
maupun hutan lindung.
3. Rehabilitasi
a. Rehabilitasi hutan;
b. Penghijauan lahan dan hutan;
c. Memaksimalnya pembangunan sipil teknis dalam konteks konservasi
tanah dan air;
d. Mengikutsertakan pihak ketiga/swasta dalah upaya rehabilitasi lahan
dan hutan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 115


4. Manajemen Pengelolaan
a. Memaksimalkan manajemen pengelolaan lahan, baik lahan produktif,
lahan kritis, maupun lahan terlantar;
b. Memaksimalkan manajemen pengelolaan hutan, baik hutan produksi
maupun hutan lindung;
c. Memaksimalkan manajemen pengelolaan cagar alam, suaka
margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam;
d. Memaksimalkan penelitian dan Pengembangan lahan dan Kehutanan;
e. Memaksimalkan pengawasan hutan.
5. Sumberdaya Manusia
a. Menambah jumlah tenaga tenaga penyuluh, baik penuyuluh lahan
maupun kehutanan;
b. Meningkatkan kompetensi tenaga penyuluh, baik penuyuluh lahan
maupun kehutanan;
c. Menambah jumlah polisi hutan.
6. Pemberdayaan Masyarakat
a. Melibatkan secara maksimal masyarakat dalam rehabilitasi lahan dan
hutan, seperti kelompok tani, masyarakat pinggir hutan.
b. Melibatkan secara maksimal organisai-organisasi kemasyarakatan serta
Lembaga Swadaya masyarakat, seperti NU dan Muhammadiyah dalam
rehabilitasi lahan dan hutan

7.1.4.5 Pelestarian dan Pengembangan Budaya Lokal


Kabupaten Banyuwangi memiliki kekayaan budaya lokal yang cukup besar.
Tetapi, dalam perkembangannya, budaya lokal itu belum termanfaatkan secara baik
dan bahkan ada kecenderungan untuk memudar. Untuk itu, secara khusus perlu
dikembangkan upaya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal.

A. Permasalahan
1. Terpingirkannya budaya lokal;
2. Minat terhadap budaya lokal yang rendah;
3. Persaingan budaya asing yang kuat;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 116
4. Minimnya ruang apresiasi terhadap budaya lokal.

B. Sasaran
1. Meningkatnya minat masyarakat terhadap budaya lokal;
2. Semakin berkembangnya kegiatan-kegiatan budaya lokal.

C. Arah Kebijakan
1. Menumbuhkan minat masayarakat terhadap budaya lokal;
2. Penguatan terhadap kelompok dan komunitas pelestari budaya lokal;
3. Mengadakan pelatihan; festival budaya dan kesenian lokal;
4. Menetapkan kurikulum lokal (budaya, seni) dalam pendidikan;
5. Mengembangkan ruang apresiasi terhadap budaya lokal.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 117


7.2. Program Pembangunan Daerah
Dalam sub bagian ini diuraikan secara mendetail program-program berikut
kegiatan-kegiatan dari urusan-urusan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lintas
SKPD, maupun program kewilayahan di Kabupaten Banyuwangi. Program dan
kegiatan yang dituangkan ini diderivasi dari kebijakan yang telah dituangkan pada
bab sebelumnya. Penyusunan program dan kegiatan dasarkan pada Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 54 Tahun 2010. Kodifikasi dan klasifikasi bidang pembangunan disusun
menurut fungsi untuk keselarasan dan keterpaduan pelaksanaan pembangunan serta
pengelolaan keuangan daerah.
Program dan kegiatan pembangunan di Kabupaten Banyuwangi dalam RPJMD
tahun 2011-2015 terdiri dari program dan kegiatan pada setiap Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) yang dikelompokkan pada masing-masing urusan, yang
meliputi program dan kegiatan dalam kerangka regulasi dan kegiatan dalam rencana
kerja anggaran. Rencana kerja regulasi adalah kegiatan pemerintah yang bersifat
pengaturan, memfasilitasi dan mendorong agar kegiatan masyarakat senantiasa dapat
tumbuh berkembang serta berpartisipasi dalam pembangunan. Adapun rencana kerja
anggaran adalah kegiatan pemerintah dalam rangka penyedian barang dan jasa sesuai
dengan kewajiban pemerintah yang tidak dapat dihasilkan oleh masyarakat sendiri.
Di samping itu, program dan kegiatan dalam dua kerangka tersebut dikelompokkan
ke dalam tiga kelompok, yaitu prioritas wajib, prioritas utama dan prioritas
pendukung. Secara rinci, program pembangunan daerah Kabupaten Banyuwangi
sebagai berikut:

7.2.1 Program Urusan Wajib


7.2.1.1 Urusan Pendidikan
Urusan pendidikan ini merupakan implementasi turunan dari strategi
pembangunan daerah yang dituangkan dalam bagian sebelumnya. Penekanan urusan
pendidikan ini pada Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Yang Berakhlak
dan Bermoral.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 118


Program-program pembangunan pendidikan antara lain :

1. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


a. Pengembangan kurikulum, bahan ajar dan model pembelajaran
anak usia dini;
b. Penambahan muatan keagamaan dan moral dalam kurikulum (soft
skills) bahan ajar dan model pembelajaran anak usia dini;
c. Publikasi dan sosialisasi pendidikan anak usia dini;
d. Penghadiran tokoh-tokoh tauladan pada hari anak nasional (HAN);
e. Training/Retraining tenaga pendidik bagi program pendidikan anak
usia dini dengan menekankan muatan akhlak dan moral;
f. Pengadaan komputer;
g. Bantuan Operasional PAUD Formal;
h. Rehab sarana dan prasarana Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ);
i. Bantuan Alat Peraga Edukatif (APE) dan sarana TPQ;
j. Pembangunan pagar sekolah;
k. Pembangunan gedung sekolah;
l. Penambahan ruang kelas sekolah;
m. Pembangunan sarana dan prasarana bermain;
n. Pengadaan meubelair sekolah;
o. Rehab sedang/berat bangunan sekolah;
p. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
a. Pelatihan kompetensi tenaga pendidik (Training and Retraining)
dengan memasukkan dan menekankan muatan akhlak dan moral;
b. Pelatihan kompetensi siswa berprestasi;
c. Pelatihan penyusunan dan pengembangan kurikulum;
d. Penambahan muatan keagamaan dan moral dalam kurikulum,
bahan ajar dan model pembelajaran siswa;
e. Penyediaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) jenjang
SD/MI/SDLB dan SMP/MTs serta Pesantren Salafiyah/Diniyyah
dan satuan pendidikan Non Islam setara SD dan SMP;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 119


f. Penyelenggaraan paket A setara SD;
g. Penyelenggaraan paket B setara SMP;
h. Pembinaan kelembagaan dan managemen sekolah dengan
penerapan managemen berbasis sekolah (MBS) di satuan
Pendidikan Dasar;
i. Pembinaan minat bakat dan kreatifitas siswa;
j. Pengembangan materi belajar mengajar dan metode pembelajaran
dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi;
k. Pelatihan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis
akhlak dan moral;
l. Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan dasar;
m. Penyelenggaraan akreditasi Sekolah Dasar;
n. Monitoring, evaluasi dan pelaporan;
o. Muatan lokal tata krama dan moral;
p. Muatan lokal bahasa dan budaya Osing;
q. Pengawasan PBM wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun;
r. Pembangunan ruang unit kesehatan sekolah;
s. Rehab KM dan WC;
t. Pembangunan ruang serba guna/aula;
u. Pembangunan pagar dan pavingisasi sekolah;
v. Pembangunan gedung sekolah;
w. Penambahan ruang kelas sekolah;
x. Pembangunan/perbaikan laboratorium dan ruang praktikum
sekolah;
y. Pembangunan/perbaikan perpustakaan sekolah;
z. Pengadaan buku-buku mata pelajaran dan alat tulis siswa;
aa. Pengadaan alat praktek dan peraga siswa;
bb. Pengadaan meubelair sekolah;
cc. Pengadaaan perlengkapan sekolah;
dd. Pengadaan sarana mobilitas sekolah;
ee. Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 120


ff. Rehabilitasi sedang/berat rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga
sekolah;
gg. Rehabilitasi sedang/berat perpustakaan sekolah;
hh. Bantuan alat teknologi informatika (TI);
ii. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pendidikan Menengah Atas
a. Pelatihan kompetensi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
(Training and Retraining) dengan memasukkan dan menekankan
muatan akhlak dan moral;
b. Pelatihan kompetensi siswa berprestasi;
c. Pelatihan penyusunan dan pengembangan kurikulum berbasis
akhlak dan moral;
d. Penambahan muatan keagamaan dan moral dalam kurikulum,
bahan ajar dan model pembelajaran siswa;
e. Penyelenggaraan paket C setara SMU;
f. Pembinaan kelembagaan dan managemen sekolah dengan
penerapan Managemen Berbasis Sekolah (MBS) di satuan
Pendidikan Menengah;
g. Pembinaan minat bakat dan kreatifitas siswa;
h. Pengembangan materi belajar mengajar dan metode pembelajaran
dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi;
i. Pelatihan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis
akhlak dan moral;
j. Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan
menengah;
k. Penyelenggaraan akreditasi Sekolah Menengah;
l. Rehab ruang guru;
m. Rehab ruang OSIS, Koperasi, pramuka, PMR dan UKS;
n. Pelengkapan peralatan Lab. IPA;
o. Pembangunan ruang kesenian;
p. Pembangunan gedung sekolah di daerah-daerah yang masih minim
gedung sekolah;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 121
q. Pembangunan penambahan ruang kelas sekolah bagi sekolah-
sekolah yang kekurangan ruang kelas sekolah;
r. Pembangunan laboratorium dan ruang praktikum sekolah
(laboratorium bahasa, IPA, IPS, dan lain-lain);
s. Pembangunan/perbaikan taman, lapangan upacara, fasilitas parkir
dan lapangan olah raga;
t. Pembangunan/renovasi ruang ibadah;
u. Pembangunan/renovasi perpustakaan sekolah;
v. Pembangunan/renovasi sarana air bersih dan sanitary;
w. Pengadaan buku-buku dan alat tulis siswa;
x. Pengadaan pakaian olah raga;
y. Pengadaan alat praktek dan peraga siswa;
z. Pengadaan meubelair sekolah;
aa. Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah;
bb. Penyediaan bantuan operasional manajemen mutu;
cc. Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan SMK;
dd. Penyediaan beasiswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi dan dari
keluarga tidak mampu;
ee. Penyelenggaraan paket C setara SMU;
ff. Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan
menengah;
gg. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pendidikan Non Formal
a. Publikasi dan sosialisasi Pendidikan Non Formal;
b. Pengawasan pelaksanaan PBM Non Formal;
c. Pelatihan penyusunan dan pengembangan kurikulum berbasis
akhlak dan moral pada pendidikan Non Formal;
d. Pelatihan manajemen dan kewirausahaan pemuda/karang taruna;
e. Bantuan Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP);
f. Pelatihan ketrampilan dan sertifikasi keahlian seperti menjahit,
otomotif, elektronik, pertukangan, dsb;
g. Validasi data buta huruf dan putus sekolah;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 122
h. Bantuan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat);
i. Penyediaan/peningkatan sarana dan prasarana Pendidikan Non
Formal;
j. Bantuan operasional UKS;
k. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pendidikan Madrasah Diniyyah
a. Program perbaikan sarana dan prasarana pendidikan madrasah
diniyyah;
b. Program pengembangan penyetaraan pendidikan madrasah
diniyyah dengan pendidikan formal;
c. Program pelatihan tenaga pendidik (training dan retraining) di
lembaga-lembaga pendidikan madrasah diniyyah;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
a. Peningkatan mutu Guru, Kepala Sekolah, Pengawas dan Penilik Luar
Sekolah;
b. Pelatihan dan retraining penyusunan, pendalaman materi dan
pengembangan kurikulum berbasis akhlak dan moral bagi Guru;
c. Pelatihan pengembangan soft skills siswa bagi Guru;
d. Diklat penataran bahasa dan budaya Osing;
e. Diklat tenaga perpustakaan dan pengembangan perpustakaan;
f. Pelaksanaan sertifikasi Guru;
g. Pelaksanaan uji kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan;
h. Pelatihan bagi pendidik untuk pengembangan profesi dan standar
kompetensi;
i. Pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk menunjang proses belajar
mengajar;
j. Pembinaan kelompok kerja dan organisasi guru;
k. Pendidikan lanjutan bagi pendidik untuk memenuhi standar
kualifikasi;
l. Pengembangan sistem penghargaan dan perlindungan terhadap
profesi guru;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 123
m. Bantuan Guru berprestasi;
n. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan
a. Supervisi, pembinaan dan stimulasi pada perpustakaan umum,
perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah dan perpustakaan
Masyarakat;
b. Pengadaan perpustakaan keliling;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
8. Program Pelayanan Manajemen Pendidikan
a. Pelatihan pengelolaan pelayanan pendidikan;
b. Rolling (perputaran) kegiatan mengajar bagi beberapa Guru dari
satu sekolah ke sekolah lain berdasarkan zona (wilayah);
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.2 Urusan Kesehatan


Urusan kesehatan di sini merupakan turunan implementatif dari strategi di
bidang kesehatan dengan menekankan pada Peningkatan Akses dan Kualitas
Kesehatan.

Program-program pembangunan kesehatan antara lain:

1. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan


a. Penyediaan layanan obat gratis bagi keluarga yang tidak mampu;
b. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan;
c. Peningkatan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan;
d. Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit;
e. Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Upaya Kesehatan Masyarakat


a. Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana
puskesmas dan jaringannya;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 124


b. Pengaturan jadwal pelayanan pada puskesmas rawat inap,
puskesmas pembantu dengan layanan kegawatdaruratan dan
observasi serta ponkesdes di wilayah masyarakat petani sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, seperti petani misalnya (citizens
charter);
c. Peningkatan akses pelayanan dan penanggulangan masalah
kesehatan khususnya bagi masyarakat yang tidak/kurang mampu;
d. Peningkatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
e. Peningkatan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat dan
ketergantungan obat;
f. Peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak;
g. Peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar di
puskesmas beserta jaringannya;
h. Peningkatan mutu pelayanan reproduksi;
i. Validasi data upaya pelayanan di puskesmas dan rumah sakit;
j. Jejaring (linkage) dan MoU (Memorandum of Understanding)
Dinas Kesehatan, puskesmas dan rumah sakit (baik rumah sakit
pemerintah maupun swasta) khususnya untuk kebutuhan rujukan
dan pembiayaan untuk pengembangan pelayanan terintegrasi;
k. Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan
jaringannya (JAMKESDA);
l. Pengadaan peralatan & perbekalan kesehatan termasuk obat generik
esential;
m. Peningkatan kesehatan masyarakat;
n. Peningkatan pelayanan kesehatan dan penanggulangan masalah
kesehatan;
o. Pengembangan Ponkesdes;
p. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pengawasan Obat dan Makanan
a. Penyuluhan keamanan pemakaian obat dan makanan;
b. Peningkatan pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 125
4. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
a. Pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat;
b. Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat);
c. Sosialisasi TOGA dan obat-obatan tradisional (herbal);
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Perbaikan Gizi Masyarakat

a. Pemberian tambahan makanan dan vitamin;


b. Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), anemia gizi besi,
Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), kurang vitamin A dan
kekurangan zat gizi mikro lainnya;
c. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Penyehatan Lingkungan

a. Pengembangan sarana dan prasarana kesehatan lingkungan


berbasis masyarakat;
b. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum (STTU);
c. Pengembangan SAPL melalui partisipatory;
d. Pemicu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBS);
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

a. Penyemprotan/fogging sarang nyamuk;


b. Pengadaan alat fogging dan bahan-bahan fogging;
c. Pengadaan vaksin penyakit menular;
d. Pelayanan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular;
e. Peningkatan imunisasi;
f. Peningkatan surveillance epidemilogi dan penanggulangan wabah;
g. Pengadaan bahan pemberantasan penyakit;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
8. Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana
puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 126


a. Pembangunan dan rehab puskesmas;
b. Pengadaan puskesmas keliling;
c. Pengadaan sarana dan prasarana puskesmas;
d. Pengadaan sarana dan prasarana puskesmas keliling;
e. Peningkatan puskesmas pembantu menjadi puskesmas;
f. Rehabilitasi sedang/berat puskesmas pembantu;
g. Pembangunan sarana dan prasarana kesehatan;
h. Pengadaan sarana dan prasarana pondok kesehatan desa;
i. Peningkatan kualitas pelayanan puskesmas;
j. Penyediaan akses kesehatan bagi masyarakat kurang/tidak mampu
di puskesmas;
k. Pembangunan puskesmas pembantu;
l. Peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap;
m. Pengadaan sarana dan prasarana puskesmas keliling;
n. Pengadaan sarana dan prasarana puskesmas pembantu;
o. Pengadaan sarana dan prasarana posyandu;
p. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana puskesmas;
q. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana puskesmas
pembantu;
r. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana puskesmas
keliling;
s. Pembangunan ruang spesialistik Puskesmas;
t. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

9. Program Pelayanan Kesehatan Anak Balita

a. Penyuluhan kesehatan anak balita;


b. Pelatihan dan pendidikan perawatan anak balita;
c. Pengaktifan Posyandu, Polindes, Ponkesdes dan organisasi-
organisasi masyarakat;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 127


9. Program Peningkatan Kesehatan Lansia.

a. Pelayanan pemeliharaan kesehatan lansia;


b. Pembangunan panti asuhan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
11. Program Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan

a. Sistem informasi manajemen kesehatan;


b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
12. Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan

a. Peningkatan manajemen kesehatan;


b. Peningkatan kualitas SDM kesehatan melalui pendidikan dan
latihan bagi tenaga medis dan paramedis;
c. Penambahan tenaga medis dan paramedis, termasuk penambahan
dan bantuan pendidikan dokter spesialis;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
13. Program Jaminan Kesehatan
a. Peningkatan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas);
b. Peningkatan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda);
c. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembiayaan kesehatan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
14. Program Pengembangan dan Peningkatan Badan Layanan Umum Daerah
(BLUD)
a. Peningkatan Pelayanan;
b. Peningkatan pendukung layanan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.3 Urusan Pekerjaan Umum


Urusan pekerjaan umum merupakan prioritas wajib yang menunjang secara
vital berbagai urusan lain seperti pendidikan, kesehatan dan urusan-urusan yang
menyangkut pengembangan perekonomian, wisata, pertanian, dan sebagainya.
Sebagaimana termaktub dalam bab sebelumnya mengenai strategi pembangunan

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 128


daerah, yakni Pengembangan Infrastruktur, maka di sini pengembangan
infrastruktur dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: a. infrastruktur umum; b.
infrastruktur perdesaan (pertanian); dan c. infrastruktur pariwisata. Berikut ini
program-program dan kegiatan-kegiatan dalam urusan pekerjaan umum:

1. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan


a. Perencanaan pembangunan tiga kategori infrastruktur;
b. Pembangunan jalan-jalan umum di dalam Kabupaten;
c. Pembangunan jalan-jalan khususnya di titik-titik wilayah basis
pertanian, dan poros desa;
d. Pembangunan jalan-jalan khususnya di titik-titik wilayah objek
wisata;
e. Pembangunan jembatan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pembangunan Saluran Drainase/gorong-gorong
a. Perencanaan Pembangunan Saluran Drainase/gorong-gorong;
b. Pembangunan Saluran Drainase/gorong-gorong;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pembangunan Turap/Talud/Brojong
a. Pembangunan Turap/Talud/Brojong;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Pembangunan Jalan dan Jembatan
a. Rehabilitasi/pemeliharaan pembangunan jalan;
b. Rehabilitasi/pemeliharaan pembangunan jembatan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan
Jaringan Pengairan Lainnya.
a. Pembangunan reservoir;
b. Pembangunan dan rehab DAM dan check-DAM;
c. Perencanaan pembangunan jaringan irigasi;
d. Perencanaan pembangunan jaringan air bersih/air minum;
e. Pembangunan jaringan irigasi;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 129


f. Pembangunan jaringan air bersih/air minum;
g. Rehabilitasi pemeliharaan jaringan irigasi;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Penyediaan dan Penglolaan Air Baku
a. Pembangunan sumur-sumur air tanah;
b. Peningkatan Distribusi Penyediaan Air Baku;
c. Pemberdayaan Himpunan Pemakai Air Minum (Hipam);
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Pengendalian Banjir
a. Pembangunan reservoir pengendali banjir;
b. Peningkatan Pembersihan dan pengerukan sungai/kali;
c. Pembangunan Prasarana Pengaman pantai;
d. Pembangunan pusat-pusat serapan air;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
8. Program Pembangunan infrastruktur Perdesaan
a. Pembangunan pasar perdesaan;
b. Rehabilitasi/pemeliharaan pasar perdesaan;
c. Pembangunan jalan dan jembatan perdesaan;
d. Pembangunan sarana dan prasarana air bersih perdesaan;
e. Rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan perdesaan;
f. Rehabilitasi/pemeliharaan pasar perdesaan;
g. Pembangunan sarana sanitasi;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
9. Program Rehabilitasi / Pemeliharaan Saluran Drainase / Gorong-gorong
a. Rehabilitasi / Pemeliharaan saluran drainase / Gorong-gorong;
b. Rehabilitasi / Pemeliharaan Trotoar;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.4 Urusan Perumahan


1. Program Perumahan Keluarga Miskin (Gakin)
a. Pembangunan dan rehabilitasi rumah untuk keluarga miskin;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 130
2. Program Peningkatan Kesiagaan dan Pencegahan bahaya kebakaran
a. Program Pengadaan Sarana dan Prasarana Pencegahan bahaya
kebakaran;
b. Pengadaan rumah/penampungan sementara bagi keluarga yang
rumahnya terbakar;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pengelolaan Area Pemakaman
a. Koordinasi pengelolaan areal pemakaman;
b. Koordinasi penataan areal pemakaman;
c. Pembangunan sarana dan prasarana pemakaman;
d. Pemeliharaan sarana dan prasarana Pemakaman;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.5 Urusan Penataan Ruang


1. Program Perencanaan Tata Ruang
a. Penyusunan kembali Rencana Tata Ruang Kawasan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang
a. Penyusunan Kebijakan Pengendalian Pemanfaatan Ruang selaras
lingkungan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan
a. Penyediaan lahan pengelolaan sampah;
b. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
a. Penataan RTH;
b. Reboisasi jalan-jalan dan taman-taman;
c. Pemeliharaan RTH;
d. Pengembangan taman rekreasi;
e. Program Perencanaan Tata Ruang;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 131


f. Survey dan Pemetaan;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pemanfaatan Ruang
a. Pemanfaatan ruang-ruang kosong sebagai taman dan pusat usaha
kecil menengah yang terkoordinasi.

7.2.1.6 Urusan Perencanaan Pembangunan


1. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh
a. Perencanaan pengembangan tiga kategori infrastruktur;
b. Penyusunan rencana tata ruang kawasan berbasis potensi kawasan
(spatial planning);
c. Penyusunan Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan
cepat tumbuh;
d. Perencanaan pembangunan dan pengembangan wilayah objek
wisata;
e. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan.
2. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang
a. Penyusunan Kebijakan Pengendalian Pemanfaatan Tata Ruang;
b. Pengendalian konversi lahan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pengembangan Data/Informasi
a. Evaluasi pelaksanaan kegiatan;
b. Penyusunan dan pengumpulan data/informasi kebutuhan
penyusunan dokumen perencanaan;
c. Penyusunan dan analisis data/informasi perencanaan pembangunan
kawasan rawan bencana;
d. Penyusunan Buku Banyuwangi Dalam Angka;
e. Pengkoordinasian dan penyelarasan data/informasi perencanaan
pembangunan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Perencanaan Pengembangan Kota-kota Menengah dan Besar

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 132


a. Perencanaan pengembangan sarana prasarana perkotaan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Perencanaan Pembangunan Daerah
a. Penyusunan Rancangan RPJPD;
b. Penyelenggaraan Musrenbang untuk RPJPD;
c. Penetapan RPJPD;
d. Pengembangan Partisipasi masyarakat dalam perumusan program
dan kebijakan layanan publik;
e. Penyusunan Rancangan RPJMD;
f. Penyelenggaraan Musrenbang untuk RPJMD;
g. Penetapan RPJMD;
h. Penyusunan Rancangan RKPD;
i. Penyelenggaraan Musrenbang RKPD;
j. Penetapan RKPD;
k. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi
a. Penyusunan masterplan pembangunan ekonomi daerah;
b. Penyusunan indikator ekonomi daerah;
c. Penyusunan perencanaan pengembangan ekonomi masyarakat
dengan pendekatan kluster;
d. Koordinasi perencanaan pembangunan bidang ekonomi;
e. Penyusunan masterplan penanggulangan kemiskinan;
f. Penyusunan indikator dan pemetaan daerah rawan pangan;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan
8. Program Perencanaan Sosial Budaya
a. Koordinasi penyusunan master plan pendidikan;
b. Koordinasi penyusunan master plan kesehatan;
c. Koordinasi Perencanaan Pembangunan Bidang Sosial;
d. Koordinasi Perencanaan Pembangunan Bidang Budaya;
e. Penyusunan Profil Ketenagakerjaan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 133


9. Program Perencanaan Prasarana Wilayah dan Sumber Daya Alam
a. Studi pengembangan kawasan budidaya pengembangan sumber
daya laut di Kabupaten Banyuwangi;
b. Pengembangan kawasan industri perkebunan;
c. Eksplorasi, pengelolaan dan pengendalian kawasan pertambangan;
d. Pengembangan minapolitan;
e. Pengembangan agropolitan;
f. Pengembangan dan pelestarian mangrove;
g. Pengembangan dan pelestarian hutan;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
10. Program Pembangunan Wilayah Perbatasan
a. Penyusunan perencanaan pembangunan wilayah perbatasan;
b. Penyusunan program kerjasama antar wilayah;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
11. Program Penyusunan Laporan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah
Daerah
a. Koordinasi penyusunan Informasi Laporan Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah (ILPPD);
b. Koordinasi Penyusunan Laporan Rencana Kerja Pembangunan
Daerah (RKPD);
c. Koordinasi Penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban
(LKPJ);
d. Koordinasi Penyusunan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah
Daerah (EPPD);
e. Koordinasi Penyusunan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah (EKPPD).
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 134


7.2.1.7 Urusan Perhubungan
Program-program pembangunan perhubungan antara lain:

1. Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan


a. Koordinasi dalam pembangunan prasaranan dan fasilitas perhubungan ;
b. Peningkatan pengelolaan terminal angkutan sungai, danau dan
penyebrangan;
c. Pembangunan sarana dan prasarana jembatan timbang;
d. Peningkatan pengelolaan terminal angkutan darat;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor


a. Pengadaan alat pengujian kendaraan bermotor;
b. Pelaksanaan uji petik kendaraan bermotor;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas
a. Pengadaan marka jalan;
b. Pengadaan rambu-rambu lalu lintas;
c. Pengadaan pagar pengaman jalan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Pembangunan sarana dan prasarana perhubungan
a. Pembangunan infrastruktur bandar udara;
b. Pembangunan jembatan dan gedung terminal;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program peningkatan pelayanan angkutan
a. Kegiatan penciptaan keamanan dan kenyamanan penumpang di
lingkungan terminal;
b. Kegiatan pemilihan dan pemberian penghargaan sopir/juru mudi/awak
kendaraan angkutan umum teladan;
c. Pemindahan jalur-jalur transportasi antar kota meliwati (ke dalam)
pusat-pusat Produk Unggulan Kabupaten (Prukab) Banyuwangi;
d. Pengembangan angkutan pedesaan;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 135


e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ
a. Rehabilitasi/pemeliharaan sarana alat pengujian kendaraan bermotor;
b. Rehabilitasi/pemeliharaan prasarana balai pengujian kendaraan
bermotor;
c. Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana jembatan timbang;
d. Rehabilitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.8 Urusan Komunikasi dan Informatika


1 Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa
a. Pembentukan dan pengembangan jaringan komunikasi dan informasi
pemerintahan daerah yang terintegrasi (sistem on line);
b. Pembinaan dan pengembangan sumber daya komunikasi dan informasi
c. Monitoring dan evaluasi jaringan internet;
d. Pengembangan media cetak;
e. Pengadaan komputer dan alat komunikasi;
f. Program pemeliharaan teknologi dan pengembangan sistem informasi;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2 Program Pengkajian dan Penelitian Bidang Informasi dan Komunikasi


a. Pengkajian dan penelitian bidang informasi dan komunikasi;
b. Perencanaan dan Pengembangan kebijakan komunikasi dan informasi;
c. Pengkajian dan Pengembangan sistem informasi;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

3 Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi


a. Pelatihan SDM dalam bidang komunikasi dan informasi;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

4 Program Kerjasama Informasi dengan Media Massa


RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 136
a. Penyebarluasan informasi pembangunan daerah;
b. Penyebarluasan informasi yang bersifat penyuluhan bagi masyarakat;
c. Penyebarluasan informasi potensi wilayah;
d. Penggunaan jaringan internet untuk kegiatan dan transaksi ekonomi;
e. Pembangunan media promosi;
f. Penyebarluasan informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.9 Urusan Lingkungan Hidup


Dalam urusan lingkungan hidup ditekankan adanya perencanaan dan
pengendalian lingkungan terhadap perubahan iklim sebagaimana termaktub
dalam strategi pembangunan daerah.

Program-program pembangunan lingkungan hidup antara lain :


1. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan
a. Penyusunan kebijakan manajemen pengelolaan sampah;
b. Penyusunan kebijakan kerjasama pengelolaan persampahan;
c. Penyediaan sarana prasarana pengelolaan persampahan;
d. Pengembangan teknologi pengolahan persampahan;
e. Bimbingan teknis persampahan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
a. Koordinasi penertiban kegiatan Penambangan Tanpa Ijin (PETI);
b. Regulasi pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan;
c. Peningkatan pengelolaan lingkungan pertambangan;
d. Koordinasi penilaian kota sehat/adipura;
e. Pemantauan kualitas lingkungan dan air;
f. Peningkatan peringkat kinerja perusahaan (Proper);
g. Koordinasi pengelolaan Program Kali Bersih (Prokasih)/Surat
Pernyataan Kali Bersih (Superkasih);
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam (SDA)

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 137


a. Pengelolaan sumberdaya air;
b. Peningkatan konservasi daerah tangkapan air dan sumber-sumber air;
c. Peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan
konservasi sumber daya alam (SDA);
d. Pengendalian dampak perubahan iklim;
e. Pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan;
f. Pengembangan dan pelestarian lahan dan hutan;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

4. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam


dan Lingkungan Hidup
a. Peningkatan edukasi dan komunikasi masyarakat di bidang lingkungan;
b. Pengembangan data dan informasi lingkungan;
c. Penyusunan data sumberdaya alam dan neraca sumber daya hutan
(NSDH) daerah;
d. Penguatan jejaring informasi lingkungan hidup pusat dan daerah;
e. Training dan retraining bagi dinas dan badan yang terkait lingkungan
hidup;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Peningkatan Pengendalian Polusi
a. Pengujian emisi udara akibat aktivitas industri;
b. Pengujian kadar polusi limbah padat, cair dan gas;
c. Penyuluhan dan pengendalian polusi dan pencemaran;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.10 Urusan Pertanahan


1. Program Pembangunan Sistem Pendaftaran Tanah
a. Penyusunan sistem pendaftaran tanah;
b. Sosialisasi sistem pendaftaran tanah;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 138


2. Program Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan
Tanah
a. Penataan penguasaan, pemilikan , penggunaan dan pemanfaatan tanah;
b. Penyuluhan hukum pertanahan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Penyelesaian konflik-konflik pertanahan
a. Fasilitasi Penyelesaian konflik-konflik pertanahan;
b. Penyelenggaraan sertifikasi tanah bagi petani dan masyarakat miskin.

7.2.1.11 Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil


Program-program pembangunan kependudukan dan catatan sipil
antara lain :

1. Program Penataan Administrasi Kependudukan

a. Pembangunan dan pengoperasian Sistem Informasi dan Administrasi


Kependudukan (SIAK) secara terpadu;
b. Pelatihan tenaga pengelola SIAK;
c. Implementasi SIAK (membangun, updating dan pemeliharaan);
d. Pengolahan dalam penyusunan laporan informasi kependudukan;
e. Pengembangan dan penyelarasan data base kependudukan;
f. Peningkatan pelayanan publik dalam bidang kependudukan;
g. Sosialisasi kebijakan kependudukan;
h. Peningkatan kapasitas kelembagaan kependudukan;
i. Pengadaan blanko akta catatan sipil dan buku register;
j. Desentralisasi pengurusan KTP dan AKTA Kelahiran;
k. Pelayanan KTP dan AKTA keliling;
l. Monitoring, evaluasi dan pelaporan;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 139


7.2.1.12. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Anak
Program-program pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak
antara lain:
1. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Jender dan Anak
a. Fasilitasi pengembangan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan
perempuan (P2TP2);
b. Penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak;
c. Peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan
perempuan dan anak;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan

2. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan;


a. Penyusunan sistem perlindungan bagi perempuan;
b. Sosialisasi dan advokasi kebijakan penghapusan buta aksara perempuan
(PBAP);
c. Sosialisasi dan advokasi kebijakan perlindungan tenaga kerja
perempuan;
d. Sosialisasi sistem pencatatan dan pelaporan KDRT;
e. Fasilitasi upaya perlindungan perempuan terhadap tindak kekerasan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Jender dalam
Pembangunan
a. Kegiatan pendidikan dan pelatihan peningkatan peran serta dan
kesetaraan jender;
b. Kegiatan penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam membangun
keluarga sejahtera;
c. Kegiatan bimbingan manajemen usaha bagi perempuan dalam
mengelola usaha;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Jender
a. Workshop peningkatan peran perempuan dalam pengambilan
keputusan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 140
b. Pemberdayaan lembaga yang berbasis gender;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pengembangan dan Perlindungan Anak
a. Kegiatan pengawasan dan penindakan terhadap kejahatan kekerasan
terhadap anak dan perdagangan anak;
b. Pembangunan pusat rehabilitasi dan ketrampilan terhadap anak-anak
putus sekolah;
c. Pembinaan kepada anak korban kekerasan, anak jalanan dan
perdagangan Anak;
d. Pendirian Pusat Kegiatan Seni dan Ketrampilan bagi anak Jalanan dan
Putus Sekolah;
e. Pembentukan Forum Anak;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.13. Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera


Program-program pembangunan keluarga berencana dan keluarga
sejahtera antara lain :

1. Program Keluarga Berencana


a. Penyediaan Pelayanan KB dan Alat Kontrasepsi bagi Keluarga Miskin;
b. Peningkatan perlindungan hak reproduksi individu;
c. Memperkuat dukungan dan partisipasi masyarakat;
d. Promosi pelayanan Keselamatan Ibu dan Anak Baru Lahir (Kibla);
e. Pembinaan Keluarga Berencana;
f. Promosi pelayanan kelangsungan hidup Ibu, Bayi dan Anak;
g. Penyediaan dan pelayanan KB dan alat kontrasepsi bagi keluarga
miskin;
h. Penyelenggaraan Posyandu, Pos-jaga, Poskesga dan Polindes;
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Pembinaan Peran Serta Masyarakat dalam Pelayanan KB/KR yang


Mandiri

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 141


a. Fasilitasi pembinaan operasional petugas lapangan dan institusi
masyarakat;
b. Sosialisasi pelayanan KB/KR Mandiri;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program pelayanan kontrasepsi
a. Sosialisasi pemasangan kontrasepsi;
b. Pelayanan kontrasepsi gratis;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Peningkatan Penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS
a. Penyuluhan penanggulangan narkoba dan PMS di sekolah;
b. Pembangunan pusat rehabilitasi narkoba;
a. Sosialisasi bahaya HIV/AIDS dan seks bebas;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Penyiapan Tenaga Pendamping Kelompok Bina Keluarga
a. Pelatihan tenaga pendamping kelompok bina keluarga di Kecamatan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.14 Urusan Sosial


1. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT)
dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya
a. Peningkatan Kemampuan (Capacity Building) petugas dan pendamping
sosial pemberdayaan Fakir Miskin, KAT dan Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya;
b. Pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin
c. Fasilitasi Manajemen Usaha bagi Keluarga Miskin, KAT dan PMKS
lainnya;
d. Pengadaan sarana dan prasarana pendukung usaha bagi keluarga
miskin (kredit bunga ringan);
e. Pelatihan keterampilan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 142


a. Pengembangan Kebijakan tentang akses sarana dan prasarana publik
bagi penyandang cacat dan lansia;
b. Pelayanan dan perlindungan sosial, hukum bagi korban eksploitasi,
perdagangan perempuan dan anak;
c. Pelaksanaan KIE konseling dan kampanye sosial bagi Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS);
d. Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar
termasuk anak jalanan, anak cacat, anak nakal;
e. Pelayanan psikososial bagi PMKS di trauma centre termasuk bagi
korban bencana;
f. Pembentukan pusat informasi penyandang cacat dan trauma center;
g. Koordinasi perumusan kebijakan dan sikronisasi pelaksanaan upaya-
upaya penanggulangan kemiskinan dan penurunan kesenjangan;
h. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat
darurat dan kejadian luar biasa;
i. Penanganan dan rehabilitasi korban kejadian luar biasa.
3. Program Pembinaan Anak Terlantar
a. Pembangunan sarana dan prasarana tempat penampungan anak
terlantar (rumah singgah);
b. Penyusunan data dan analisis permasalahan anak terlantar;
c. Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar;
d. Peningkatan keterampilan tenaga pembinaan anak terlantar;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pembinaan para Penyandang Kemampuan Khusus (diffable) dan
Eks-trauma
a. Pendataan penyandang cacat dan penyakit kejiwaan;
b. Pembangunan sarana dan prasarana perawatan para penyandang cacat
dan trauma;
c. Pendidikan dan pelatihan bagi para Penyandang Kemampuan Khusus
dan Eks-trauma;
d. Sertifikasi pendidikan dan ketrampilan bagi para Penyandang
Kemampuan Khusus dan Eks-trauma;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 143
e. Peningkatan keterampilan tenaga pelatihan dan pendidik;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial (eks Narapidana,
PSK, Narkoba dan Penyakit Sosial lainnya).
a. Pendidikan dan pelatihan keterampilan berusaha bagi eks penyandang
penyakit sosial;
b. Pembangunan pusat bimbingan/ konseling bagi eks penyandang
penyakit sosial;
c. Rehabilitasi bagi Eks penyandang penyakit sosial;
d. Pemberdayaan eks penyandang penyakit sosial;
g. Sertifikasi pendidikan dan ketrampilan berusaha bagi eks penyandang
penyakit sosial;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial
a. Peningkatan jejaring kerjasama pelaku-pelaku usaha kesejahteraan
sosial masyarakat;
b. Peningkatan kualitas SDM kesejahteraan sosial masyarakat;
c. Pengembangan model kelembagaan perlindungan sosial;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Pengelolaan Areal Pemakaman
a. Pemeliharaan sarana dan sarana pemakaman;
b. Pemberian penghargaan bagi juru kunci makam;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.15 Urusan Ketenagakerjaan


1. Program Peningkatan Kualitas dan Produktifitas Tenaga Kerja
a. Pembekalan ketrampilan dan keahlian terhadap calon tenaga kerja,
termasuk terhadap calon TKI;
b. Pembentukan pusat pelatihan tenaga kerja daerah;
c. Fasilitasi Penetapan dan Penerapan UMK;
e. Pelatihan tenaga kerja dengan sistem pemagangan di luar negeri;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 144
2. Program Peningkatan Kesempatan Kerja
a. Pengembangan kelembagaan produktivitas dan pelatihan
kewirausahaan;
b. Penyusunan Informasi bursa tenaga kerja;
c. Pemberian fasilitasi dan mendorong sistem pendanaan pelatihan
berbasis masyarakat;
d. Penyiapan tenaga kerja siap pakai;
f. Sertifikasi pendidikan dan ketrampilan bagi tenaga kerja;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan
a. Regulasi perlindungan tenaga kerja;
b. Pengendalian dan pembinaan lembaga penyalur tenaga kerja;
c. Peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja;
d. Pemantauan kinerja lembaga penyalur tenaga kerja;
g. Pengembangan hubungan industrial yang harmonis, dialogis, adil dan
bermartabat serta perbaikan upah, syarat kerja dan kesejahteraan
buruh/pegawai;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pengembangan Wilayah Strategis
a. Peningkatan kerjasama antar wilayah, antar pelaku dan antar sektor
dalam rangka pengembangan kawasan transmigrasi;
b. Pengerahan dan fasilitasi perpindahan serta penempatan transmigrasi
untuk memenuhi kebutuhan SDM;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Transmigrasi Lokal dan Regional
a. Penyuluhan transmigrasi lokal dan regional;
b. Pelatihan transmigrasi lokal dan regional;
c. Penggalakan transmigrasi lokal dan regional bagi penduduk di
kawasan-kawasan padat;
d. Kerjasama antar daerah dalam penempatan dan perpindahan
transmigrasi;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 145
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.16 Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah


1. Program Penciptaan Iklim Usaha Usaha Kecil Menengah Yang Kondusif
a. Penyusunan kebijakan tentang Usaha Kecil Menengah;
b. Penyederhaan regulasi terkait dengan UMKM dan Koperasi;
c. Fasilitasi pengembangan UMKM dan Koperasi;
d. Pendirian unit penanganan pengaduan;
e. Pengembangan jaringan infrastruktur Usaha Kecil Menengah;
f. Fasilitasi Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Berbasis
Kelompok dan Kluster;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi UMKM


a. Koordinasi penggunaan dana Pemerintah bagi UMKM;
b. Koordinasi penggunaan dana CSR bagi pengembangan UMKM dan
pemberdayaan masyarakat;
c. Pengembangan sarana pemasaran produk UMKM;
d. Peningkatan kerjasama jaringan antar lembaga;
e. Pengembangan sistem informasi bagi UMKM;
f. Fasilitasi bantuan modal bagi UMKM dengan bungan ringan;
g. Pengembangan usaha keuangan mikro (micro finance);
h. Pemantauan pengelolaan penggunaan dana pemerintah bagi UMKM;
i. Penyelenggaraan promosi produk UMKM;
j. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi
a. Sosialisasi prinsip prinsip pemahaman per-Koperasian;
b. Pelatihan manajemen Koperasi berbasis kelompok atau kluster;
c. Peningkatan dan pengembangan jaringan kerjasama usaha Koperasi;
d. Pembinaan, pengawasan dan penghargaan Koperasi berprestasi;
e. Penyebaran model-model pola pengembangan Koperasi;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 146
4. Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif
UMKM
a. Penyelengaraan pelatihan kewirausahaan;
b. Fasilitasi promosi produk-produk unggulan kompetitif usaha kecil
menengah;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.17 Urusan Penanaman Modal


1. Program Peningkatan Promosi dan Kerja Sama Investasi

a. Pengembangan potensi unggulan daerah dan pariwisata;


b. Koordinasi antar lembaga dalam pengendalian pelaksanaan investasi
PMDN/PMA;
c. Pertemuan lembaga-lembaga dan para investor;
d. MoU dan Koordinasi lembaga-lembaga dan para investor;
e. Penyusunan kebijakan PMDN dan PMA;
f. Regulasi PMDN, PMA dan persaingan usaha dalam konteks daerah;
g. Koordinasi perencanaan dan pengembangan penanaman modal;
h. Peningkatan koordinasi dan kerjasama di bidang penanaman modal
dengan instansi pemerintah dan dunia usaha;
i. Peningkatan kualitas SDM guna peningkatan pelayanan investasi;
j. Penyelenggaran pameran investasi;
k. Pengembangan kerjasama dengan kelompok-kelompok swasta dalam
permodalan (public-private partnership);
l. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi
a. Penyusunan kebijakan investasi bagi pembangunan fasilitas
infrastruktur;
b. Memfasilitasi dan koordinasi kerjasama di bidang investasi;
c. Penyusunan cetak biru (master plan) pengembangan penanaman
modal;
d. Pengembangan sistem informasi penanaman modal;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 147
e. Penyederhanaan prosedur perijinan dan peningkatan pelayanan
penanaman modal;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.18 Urusan Pemuda dan Olahraga


1. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga
a. Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana olahraga;
b. Peningkatan peran dunia usaha dalam pengembangan sarana dan
prasarana olahraga;
c. Peningkatan kerjasama pola kemitraan antara pemerintah dan
masyarakat untuk membangun sarana dan prasarana olahraga;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Pembinaan Pemuda dan Olahraga


a. Pelaksanaan identifikasi bakat dan potensi pelajar dalam olahraga;
b. Pembinaan Olahraga dan organisasi kepemudaan yang berkembang di
masyarakat;
c. Pemberian beasiswa bagi atlit-atlit muda berprestasi;
d. Pengembangan dan pembinaan pemuda pelopor pembangunan;
e. Penyaluran atlit-atlit muda berprestasi ke jenjang lebih tinggi;
f. Peningkatan jaminan kesejahteraan bagi masa depan atlet, pelatih dan
teknisi olahraga;
g. Pengembangan dan pemanfaatan IPTEK olahraga sebagai pendorong
peningkatan pretasi olahraga;
h. Pengembangan olahraga rekreasi;
i. Penyelenggaraan kompetisi olah raga;
j. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

3. Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan


a. Pembinaan akhlak dan moral di kalangan generasi muda;
b. Pembinaan organisasi kepemudaan dan manajemen organisasi;
c. Pendidikan dan pelatihan dasar kepemimpinan dan soft skills;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 148
d. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan;
e. Penyuluhan pencegahan penggunaan narkoba di kalangan generasi
muda;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.19 Urusan Kebangsaan, Politik dan Perlindungan Masyarakat


1. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan.
a. Peningkatan toleransi dan Kerukunan dalam kehidupan beragama;
b. Peningkatan rasa solidaritas dan ikatan sosial dikalangan masyarakat;
c. Peningkatan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur budaya
bangsa;
d. Pelestarian budaya lokal khususnya Osing yang berwawasan nusantara;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Kebangsaan.


a. Seminar, talkshow, diskusi wawasan kebangsaan;
b. Fasilitasi pencapaian halaqoh dan berbagai forum keagamaan lainnya
dalam upaya peningkatan wawasan kebangasaan;
c. Pentas Seni dan budaya festival, lomba cipta dalam upaya peningkatan
wawasan kebangsaan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

3. Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Menjaga Ketertiban dan


Keamanan
a. Pembentukan satuan keamanan lingkungan di masyarakat;
b. Pembinaan kesadaran masyarakat akan ketertiban dan keamanan
(LATSAR LINMAS);
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

4. Program Pendidikan Politik Masyarakat


a. Penyuluhan dan pendidikan politik kepada masyarakat;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 149
b. Kordinasi forum forum diskusi politik dengan kekuatan-kekuatan
politik di daerah;
c. Peningkatan pelibatan kelompok-kelompok masyarakat dalam
perencanaan dan penganggaran daerah;
d. Penyusunan data base partai politik dan organisasi-organisasi politik;
e. Sosialisasi dan pemantauan pemilu/pemilukada
f. Pengarusutamaan gender dalam politik;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

5. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam


a. Pendidikan bencana alam bagi anak usia dini di sekolah;
b. Pemantauan dan penyebarluasan informasi potensi bencana;
c. Pengadaan tempat penampungan sementara dan evakuasi penduduk
dari ancaman/korban bencana alam;
d. Pengadaan logistik dan obat-obatan bagi penduduk ditempat
penampungan sementara;
e. Pelatihan SAR dan Sosialisasi penanggulangan bencana alam;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

6. Program Pemeliharaan Kantrantibmas dan Pencegahan Tindakan


Kriminal
a. Pengawasan pendalian dan evaluasi kegiatan Polisi Pamong Praja;
b. Peningkatan Kapasitas Aparat dalam rangka pingingkatan
Siskamswakarsa di daerah;
c. Pembinaan, pemeliharaan dan pengendalian kegiatan LINMAS;
d. Sosialisasi dan gerakan sadar hukum;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7. Program pengembangan Wawasan Budaya Lokal


a. Sosialisasi dan pengembangan budaya lokal;
b. Pelestarian dan pengembangan bahasa dan budaya Osing;
c. Pengintegrasian budaya lokal dengan pengembangan pariwisata;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 150
d. Penyusunan buku dan penelitian sejarah lokal Banyuwangi;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.20 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan


Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

1. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah


a. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD;
b. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang penjabaran APBD;
c. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang perubahan APBD;
d. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang penjabaran perubahan
APBD;
e. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggung-
jawaban Pelaksanaan APBD;
f. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang penjabaran
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD;
g. Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah;
h. Peningkatan Manajemen Keuangan Daerah;
i. Jasa pemungutan pajak Daerah;
j. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian


Pelaksanaan Kebijakan KDH
a. Pelaksanaan pengawasan internal secara berkala;
b. Penanganan kasus pengaduan di Lingkungan Pemerintah Daerah;
c. Tindak Lanjut hasil temuan pengawasan;
d. Review laporan keuangan daerah;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

3. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur


a. Pendidikan dan Pelatihan prajabatan bagi calon PNS Daerah;
b. Pendidikan, Latihan dan Retraining Struktural bagi PNS Daerah;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 151
c. Pendidikan, Latihan dan Retraining Tugas dan Fungsi bagi PNS Daerah;
d. Pendidikan, Latihan dan Retraining Fungsional bagi PNS Daerah;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

4. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur


a. Pembangunan/pengembangan sistem informasi kepegawaian daerah;
b. Penyusunan rencana Pembinaan karir PNS;
c. Seleksi Penerimaan Calon PNS;
d. Penempatan PNS;
e. Penataan penempatan PNS berbasis kompetensi;
f. Penataan Sistem Administrasi Kenaikan Pangkat Otomatis PNS;
g. Pengembangan sistem penggajian berbasis kinerja (renumerasi);
h. Proses Penanganan kasus-kasus Pelanggaran Disiplin PNS;
h. Penyelenggaraan ujian-ujian Dinas dan seleksi kompetensi jabatan;
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

5. Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Daerah


a. Pembahasan rancangan peraturan daerah;
b. Hearing/ dialog dan koordinasi dengan pejabat pemerintah daerah dan
tokoh masyarakat/ tokoh agama;
c. Rapat-rapat alat kelengkapan dewan;
d. Rapat-rapat paripurna;
e. Kegiatan Reses;
f. Kunjungan kerja pimpinan dan anggota DPRD dalam daerah;
g. Peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPRD;
h. Sosialisasi peraturan perundang-undangan;
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

6. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala


Daerah
a. Dialog / audiensi dengan tokoh-tokoh masyarakat, pimpinan/anggota
organisasi sosial dan kemasyarakatan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 152
b. Penerimaan Kunjungan Kerja Pejabat Negara / Departemen / Lembaga
Pemerintah non Departemen Luar Negeri;
c. Rapat Koordinasi unsur MUSPIDA;
d. Kunjungan kerja/Inspeksi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;
e. Koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah lainnya;
f. Penunjang Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah / Wakil
Kepala Daerah;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah


a. Penyusunan standar satuan harga;
b. Peningkatan manajemen aset / barang daerah;
c. Peningkatan pelayanan pengadaan barang dan jasa daerah;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

8. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian


Pelaksanaan Kebijakan KDH
a. Pengendalian manajemen pelaksanaan kebijakan KDH;
b. Pelaksanaan pengawasan internal secara berkala;
c. Koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

9. Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi


a. Penyusunan dan penerapan sistem informasi terhadap layanan
publik;
b. Manajemen agenda surat menyurat;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

10. Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan


a. Program Legislasi Daerah (Prolegda);
b. Masukan untuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas);

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 153


c. Kajian Peraturan Perundang-undangan yang baru, lebih tinggi dan
keserasian antar peraturan Perundang-undangan Daerah;
d. Pembuatan dokumentasi peraturan Perundang-undangan;
e. Program penataan daerah otonomi baru;
f. Fasilitasi percepatan penyelesaian tapal batas wilayah administrasi
antar daerah;
g. Fasilitasi penyiapan data dan informasi pendukung proses
pemekaran daerah;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

11. Program Pendidikan Kedinasan


a. Pendidikan dan pelatihan teknis kedinasan;
b. Training dan retraining bagi aparatur pemerintahan daerah;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

12. Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Penyelesaian Masalah


Hukum
a. Penyuluhan hukum dan sosialisasi peraturan perundang-undangan;
b. Penyelesaian permasalahan hukum Kabupaten Banyuwangi;
c. Pemantapan pelaksanaan peraturan Perundang-undangan dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.21 Urusan Ketahanan Pangan


1. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
a. Penanganan daerah rawan pangan;
b. Penyusunan data base potensi produk pangan;
c. Laporan berkala kondisi ketahanan pangan daerah;
d. Pemanfaatan pekarangan untuk pengembangan pangan;
e. Pengembangan desa mandiri pangan;
f. Pengembangan diversifikasi pangan;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 154


g. Pemantauan dan analisis akses pangan masyarakat;
h. Pemantauan dan analisa akses harga pangan pokok;
i. Penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian;
j. Pengembangan lumbung pangan desa;
k. Peningkatan mutu dan keamanan pangan;
l. Koordinasi kebijakan perberasan;
m. Pengembangan pertanian pada lahan kering;
n. Pengembangan model distribusi pangan yang efisien;
o. Pengembangan perbenihan/perbibitan;
p. Pengembangan sistem informasi pasar;
q. Koordinasi perumusan kebijakan pertanahan dan infrastruktur pertanian
dan perdesaan;
r. Penelitian dan pengembangan sumber daya pertanian, teknologi
budidaya dan pasca panen;
s. Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk perkebunan,
produk pertanian;
t. Penyuluhan sumber pangan alternatif;
u. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Peningkatan Hasil Pemasaran Pertanian/Perkebunan


a. Pembangunan sarana dan prasarana pasar kecamatan/perdesaan
produksi hasil pertanian/perkebunan;
b. Pemeliharan rutin/berkala sarana dan prasarana pasar
kecamatan/pedesaan produksi hasil pertanian/perkebunan;
c. Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggulan daerah;
d. Penyuluhan pemasaran produksi pertanian/perkebunan guna
menghindari tengkulak dan sistem ijon;
e. Penyuluhan distribusi pemasaran atas hasil produksi
pertanian/perkebunan masyarakat;
f. Penyuluhan kualitas dan teknis kemasan hasil produksi
pertanian/perkebunan yang akan dipasarkan;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 155
7.2.1.22 Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
1. Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
a. Pemberdayaan Lembaga dan Organisasi Masyarakat Perdesaan;
b. Pembentukan dan penguatan kelompok-kelompok masyarakat
pedesaan;
c. Penyelenggaraan Diseminasi Informasi bagi Masyarakat Desa;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Perdesaan
a. Fasilitasi permodalan bagi usaha mikro kecil dan menengah di
Perdesaan;
b. Fasilitasi kemitraan swasta dan usaha miro kecil dan menengah di
Perdesaan;
c. Fasilitasi program-program CSR bagi pengembangan ekonomi
perdesaan;
d. Fasilitasi Pembinaan Produk Unggulan Desa;
e. Pelatihan ketrampilan usaha budidaya tanaman;
f. Pelatihan ketrampilan manajemen badan usaha milik desa;
g. Pelatihan ketrampilan usaha industri kerajinan;
h. Pelatihan ketrampilan usaha pertanian dan perternakan;
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Membangun Desa
a. Pembinaan kelompok masyarakat pembangunan desa;
b. Pelaksanaan musyawarah pembangunan desa;
c. Bulan bakti gotong royong masyarakat;
d. Pelaksanaan lomba desa dan kelurahan;
e. Fasilitasi pembinaan lembaga adat;
f. Pemberian stimulan pembangunan desa;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Peningkatan Kapasitas Apatarur Pemerintahan Desa
a. Pelatihan aparatur pemerintahan desa dalam bidang manajemen
pemerintahan desa;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 156


b. Pelatihan aparatur pemerintahan desa dalam pengelolaan keuangan
desa;
c. Pelatihan aparatur pemerintahan desa di dalam pembangunan
pedesaan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan
Jaringan Pengairan lainnya
a. Pembentukan Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa);
b. Pemberdayaan Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa);
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1.23 Urusan Kearsipan


1. Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan
a. Pembangunan Database informasi kearsipan;
b. Pengumpulan Data;
c. Pengklarifikasian Data;
d. Kajian Sistem Administrasi kearsipan;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen/Arsip Daerah
a. Pengadaan sarana pengolahan dan penyimpanan arsip;
b. Pendataan dan penataan dokumen/arsip daerah;
c. Penduplikatan dokumen/arsip daerah dalam bentuk informatika;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan kondisi dan situasi data.
3. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi
a. Penyusunan dan Penerbitan Naskah Sumber Arsip;
b. Penyediaan Sarana Layanan Informasi Arsip;
c. Sosialisasi/Penyuluhan Kearsipan di Lingkungan Instansi
Pemerintah;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 157


7.2.1.24 Urusan Perpustakaan
1. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan
a. Pemasyarakatan minat dan kebiasaan membaca untuk mendorong
terwujudnya masyarakat pembelajar;
b. Pengembangan minat dan budaya baca;
c. Penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat baca di
Daerah;
d. Publikasi dan sosialisasi minat dan budaya baca;
e. Penyediaan bahan pustaka perpustakaan umum daerah;
f. Pengadaan perpustakaan keliling;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.1 Program Urusan Pilihan


7.2.2.1 Urusan Pertanian

1. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani


a. Penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku agribisnis;
b. Peningkatan kemampuan lembaga petani pertanian/perkebunan;
c. Pelatihan petani tentang pertanian terintegrasi (integrated
farming);
d. Pengembangan desa-desa percontohan untuk program integrated
farming;
e. Pelatihan tentang tanaman atau produk-produk yang disesuaikan
dengan perubahan iklim;
f. Pemberdayaan kelompok-kelompok tani;
g. Pengembangan satu desa satu produk (one village one product);
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan
a. Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggulan
daerah;
b. Pemeliharaan prasarana distribusi hasil produksi
pertanian/perkebunan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 158
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan
a. Pengadaan Sarana dan Prasarana Teknologi Pertanian/Perkebunan
Tepat Guna;
b. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana teknologi
pertanian/perkebunan tepat guna;
c. Kegiatan penyuluhan penerapan teknologi pertanian/perkebunan
tepat guna;
d. Pelatihan dan bimbingan pengoperasian teknologi pertanian /
perkebunan tepat guna;
e. Pelatihan penerapan teknologi pertanian/perkebunan modern
bercocok tanam;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Progam Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan
a. Penyuluhan peningkatan produksi pertanian/perkebunan;
b. Penyediaan sarana produksi pertanian/perkebunan;
c. Pengembangan bibit unggul pertanian/perkebunan;
d. Pengembangan pupuk dan obat-obatan organik;
e. Penyusunan kebijakan pencegahan alih fungsi lahan pertanian;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak
a. Pendataan masalah peternakan;
b. Pengendalian penyakit flu burung (Avian Influenza);
c. Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak;
d. Pemusnahan ternak yang terjangkit penyakit endemik;
e. Pengawasan perdagangan ternak antar daerah;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan
a. Pembibitan dan perawatan ternak;
b. Penyuluhan pengelolaan bibit ternak yang didistribusikan kepada
masyarakat;
c. Pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 159
d. Penyuluhan kualitas gizi dan pakan ternak;
e. Pengembangan agribisnis pertenakan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan
a. Penyuluhan distribusi pemasaran atas hasil produksi peternakan
masyarakat;
b. Promosi atas hasil produksi peternakan unggulan daerah;
c. Penyuluhan kualitas dan teknis kemasan hasil produksi peternakan
yang akan dipasarkan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
8. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Hewan Piaraan
(Anjing, Kucing)
a. Pemetaan penyakit hewan piaraan;
b. Program pembinaan kesehatan dan pencegahan penyakit hewan
piaraan;
c. Program penyembuhan penyakit hewan piaraan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.2.2 Urusan Kehutanan


1. Program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan
a. Pembentukan kesatuan pengelolaan hutan produksi;
b. Pengembangan hutan tanaman;
c. Pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan;
d. Perencanaan dan pengembangan hutan kemasyarakatan;
e. Pengelolaan dan pemanfaatan hutan;
f. Pengembangan industri dan pemasaran hasil hutan;
g. Pengembangan pengujian dan pengendalian peredaran hasil hutan;
h. Peningkatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan
lahan;
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
a. Koordinasi penyelenggaraan reboisasi dan penghijauan hutan;
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 160
b. Pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan;
c. Sosialisasi pencegahan dan dampak kebakaran hutan dan lahan;
d. Penanaman pohon pada kawasan hutan industri dan hutan wisata;
e. Pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan rehabilitasi
hutan dan lahan;
f. Peningkatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan
lahan;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Perlindungan dan konservasi sumber daya hutan.
a. Pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan;
b. Sosialisasi pencegahan dan dampak kebakaran hutan dan lahan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pemanfaatan Kawasan Hutan Industri
a. Pengembangan tanaman pendamping;
b. Pengembangan wisata hutan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pembinaan dan Penertiban Industri Hasil Hutan
a. Pengawasan dan penertiban pelaksanaan peraturan daerah mengenai
pengelolaan industri hasil hutan;
b. Perluasan akses layanan informasi pemasaran hasil hutan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.2.3 Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral

1. Pengembangan Energi
a. Pembinaan ketenagalistrikan;
b. Pemetaan dan pengembangan energi alternatif;
c. Pembangunan listrik rakyat untuk daerah-daerah terisolasi;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan
a. Penyusunan regulasi mengenai kegiatan penambangan bahan galian C;
b. Sosialisasi regulasi mengenai kegiatan penambangan bahan galian C;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 161


c. Koordinasi dan pendataan tentang hasil produksi di bidang
pertambangan;
d. Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan penambangan galian C;
e. Kerjasama eksplorasi potensi tambang;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat yang Berpotensi
Merusak Lingkungan
a. Pengawasan penertiban kegiatan pertambangan rakyat;
b. Penyebaran peta daerah rawan bencana alam geologi;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan dampak kerusakan lingkungan akibat
kegiatan pertambangan rakyat.

7.2.2.4 Urusan Pariwisata


1. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata
a. Peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dalam pemasaran
pariwisata;
b. Pengembangan jaringan kerjasama promosi pariwisata;
c. Peningkatan koordinasi dengan sektor pendukung pariwisata;
d. Peningkatan promosi pariwisata nusantara di dalam dan di luar negeri;
e. Analisa pasar untuk promosi dan pemasaran objek pariwisata;
f. Peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dalam pemasaran
pariwisata;
g. Koordinasi dengan sektor pendukung pariwisata;
h. Pelatihan pemandu wisata terpadu;
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Pengembangan Destinasi Pariwisata
a. Pembangunan dan Pengembangan objek pariwisata unggulan;
b. Peningkatan pembangunan sarana dan perasarana pariwisata;
c. Pengembangan jenis dan paket wisata unggulan;
d. Pelaksanaan koordinasi pembangunan objek pariwisata dengan
lembaga/dunia usaha;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 162


e. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pengembangan destinasi
pemasaran pariwisata
f. Pengembangan daerah tujuan wisata;
g. Pengembangan, sosialisasi dan penerapan serta pengawasan
standardisasi;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

5. Program Pengembangan Kemitraan


a. Kerjasama dengan swasta dalam pembiayaan pembangunan dan
pengembangan daerah-daerah tujuan wisata melalui model bagi modal,
menejemen dan keuntungan;
b. Pengembangan dan penguatan, informasi dan database;
c. Pengembangan dan penguatan litbang, kebudayaan dan pariwisata;
d. Pengembangan SDM di bidang kebudayaan dan pariwisata bekerjasama
dengan lembaga lainnya;
e. Fasilitasi pembentukan forum komunikasi antar pelaku industri
pariwisata dan budaya;
f. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program peningkatan kemitraan;
g. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program peningkatan kemitraan;
h. Pengembangan sumber daya manusia dan profesionalisme bidang
pariwisata;
i. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan kemitraan
pariwisata;
j. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.2.5 Urusan Kelautan dan Perikanan

1. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir.


a. Pelimpahan kewenangan dari camat kepada kepala desa dalam hal
pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir;
b. Pembinaan kelompok ekonomi masyarakat pesisir;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 163
2. Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengawasan dan Pengendalian
Sumber Daya Kelautan
a. Pembentukan kelompok masyarakat swakarsa pengamanan sumber
daya kelautan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Peningkatan Kesadaran dan Penegakan Hukum dalam
Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan
a. Pelimpahan kewenangan dari camat kepada kepala desa dalam hal
pendayagunaan sumberdaya kelautan;
b. Penyuluhan hukum dan pendayagunaan sumberdaya kelautan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pengembangan Budidaya Perikanan
a. Pengembangan bibit ikan unggul;
b. Pendampingan pada kelompok tani pembudidaya ikan;
c. Pembinaan dan pengembangan perikanan;
d. Penyuluhan perikanan budidaya;
e. Perlindungan Sumber daya perikanan (Prolinda);
f. Peningkatan mutu benih balai ikan;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pengembangan Perikanan Tangkap
a. Pendampingan pada kelompok nelayan perikanan tangkap;
b. Pengembangan lembaga usaha perdagangan perikanan tangkap;
c. Sarana dan prasarana tangkap;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan
a. Kajian optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan;
b. Optimalisasi pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI);
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
7. Program Pengembangan Kawasan Budidaya Laut, Air Payau dan Air Tawar
a. Kajian kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
8. Program Pengembangan Minapolitan
RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 164
a. Pembangunan infrastruktur minapolitan;
b. Penataan kawasan minapolitan;
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
9. Program Penyediaan Sarana dan Prasarana Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perikanan
a. Pembangunan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil
perikanan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
10. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Perikanan.
a. Pemanfaatan ICT untuk informasi perikanan;
b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.2.6 Urusan Perdagangan

1. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan


a. Koordinasi peningkatan hubungan kerja dengan lembaga perlindungan
konsumen;
b. Peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa;
c. Pengaturan usaha retail besar untuk melindungi usaha retail rakyat;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor
a. Pengembangan database informasi potensi unggulan;
b. Sosialisasi kebijakan penyederhanaan prosedur dan dokumen ekspor
dan impor;
c. Kerjasama standardisasi mutu produk baik nasional, bilateral, regional,
dan internasional
d. Pembangunan promosi perdagangan antar daerah dan internasional;
e. Membangun jejaring dengan eksportir;
f. Koordinasi program pengembangan ekspor dengan instansi terkait;
g. Pengembangan kluster produk ekspor;
h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
3. Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan dalam Negeri

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 165


a. Fasilitasi kemudahan perijinan pengembangan usaha;
b. Sosialisasi peningkatan penggunaan produk dalam negri
c. Pengembangan pasar lelang daerah;
d. Pengembangan kelembagaan kerjasama kemitraan;
e. Peningkatan sistem dan jaringan informasi perdagangan;
f. Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan
a. Kegiatan pembinaan organisasi pedagang kakilima dan asongan;
b. Kegiatan penyuluhan peningkatan disiplin pedagang kakilima dan
asongan;
c. Kegiatan penataan tempat berusaha bagi pedagang kakilima dan
asongan;
d. Kegiatan fasilitasi modal usaha bagi pedagang kakilima dan asongan;
e. Kegiatan pengawasan mutu dagangan pedagang kakilima dan asongan;
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

7.2.2.6 Urusan Perindustrian

1. Program Peningkatan Kapasitas IPTEK Sistem Produksi


a. Koordinasi modal ventura bagi industri berbasis teknologi;
b. Pelayanan pengambangan modal ventura dan inkubator;
c. Pengembangan Infrastruktur kelembagaan standarisasi;
d. Pengembangan kapasitas pranata pengukuran, standarisasi, pengujian
dan kualitas;
e. Pengembangan sistem inovasi teknologi industri;
f. Penguatan kemampuan industri berbasis teknologi;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
2. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah.
a. Fasilitasi bagi industri kecil dan menengah terhadap pemanfaatan
sumber daya;

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 166


b. Pembinaan industri kecil dan menengah dalam memperkuat jaringan
klaster industri;
c. Penyusunan kebijakan industri terkait dan industri penunjang industri
kecil dan menengah;
d. Pemberian kemudahan izin usaha industri kecil dan menengah;
e. Pemberian fasilitas kemudahan akses perbankan bagi industri kecil dan
menengah;
f. Fasilitasi kerjasama kemitraan industri mikro, kecil dan menengah
dengan swasta;
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

3. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri


a. Pembinaan kemampuan teknologi industri;
b. Perluasan peningkatan standar produk industri manufaktur;
c. Perluasan penerapan SNI untuk mendorong daya saing industri
manufaktur;
d. Pemanfaatan teknologi tepat guna bagi pengembangan industri mikro,
kecil dan menegah;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
4. Program Penataan Struktur Industri
a. Kebijakan keterkaitan industri hulu hilir;
b. Penyediaan sarana maupun prasarana klaster industri;
c. Pembinaan keterkaitan produksi industri hulu hingga ke hilir;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
5. Program Pengembangan Sentra-Sentra Industri Potensial
a. Pemetaan sentra-sentra industri;
b. Pembangunan akses transportasi sentra-sentra industri potensial;
c. Pengembangan sentra-sentra industri melalui strategi kluster;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 167


7.2.3 URUSAN PENDUKUNG

Selain melaksanakan program-program dan kegiatan teknis tersebut,


masing-masing SKPD juga melaksanakan program-program dan kegiatan yang
ada pada setiap SKPD yaitu :

1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran


a. Penyediaan jasa surat menyurat;
b. Penyediaan jasa komunikasi, sumberdaya air dan listrik;
c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor;
d. Penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan PNS ;
e. Penyediaan jasa jaminan barang milik daerah;
f. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan
dinas/operasional;
g. Penyediaan jasa administrasi keuangan;
h. Penyediaan jasa kebersihan kantor;
i. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja;
j. Penyediaan alat tulis kantor;
k. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan;
l. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan
kantor;
m. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor;
n. Penyediaan peralatan rumah tangga;
o. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan;
p. Penyediaan bahan logistik kantor;
q. Penyediaan makanan dan minuman;
r. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah;
s. Penyediaan jasa tenaga penunjang administrasi/teknis;
t. Penyediaan jasa pelayanan medik;
u. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

2. Program Peningkatan Sarana Prasarana Aparatur

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 168


a. Pembangunan rumah jabatan;
b. Pembangunan rumah dinas;
c. Pembangunan gedung kantor;
d. Pengadaan mobil jabatan;
e. Pengadaan kendaraan dinas/operasional;
f. Pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas;
g. Pengadaan perlengkapan gedung kantor;
h. Pengadaan mebelair;
i. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas, gedung, kendaraan,
peralatan dll;
j. Rehabilitasi sedang/berat rumah, gedung, kendaraan dll;
k. Pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya;
l. Pengadaan pakaian kerja lapangan;
m. Pengadaan pakaian korpri;
n. Pengadaan pakaian khusus hari-hari tertentu;
o. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

4. Program Fasilitasi Pindah/Purna Tugas PNS

a. Pemulangan pegawai yang pensiun;


b. Pemulangan pegawai yang tewas dalam melaksanakan tugas;
c. Pemindahan tugas PNS;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

5. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur

a. Pendidikan dan pelatihan formal;


b. Sosialisasi peraturan perundang-undangan;
c. Bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan;
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 169


6. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja
dan Keuangan

a. Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja


SKPD;
b. Penyusunan pelaporan keuangan semesteran;
c. Penyusunan pelaporan prognosis realisasi anggaran;
d. Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun;
e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 170


BAB VIII
INDIKATOR KINERJA DAERAH

Bab ini menguraikan indikator kinerja RPJMD. Indikator kinerja dimaksudkan


untuk mengukur keberhasilan pencapaian visi dan misi yang telah dicanangkan oleh
Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi pada akhir periode masa jabatan. Indikator ini
merupakan gambaran dari akumulasi pencapaian indikator outcome program
pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap
tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat
dicapai.

8.1. Penentuan Indikator Kinerja


Indikator kinerja daerah dibuat untuk menjadi panduan bagi kinerja SKPD
dalam menjalankan program-programnya. Dengan demikian indikator kinerja daerah
tidak lain merupakan akumulasi kinerja SKPD. Indikator kinerja daerah ini merupakan
target Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi yang harus dikejar dan didukung SKPD.
Indikator kinerja daerah merupakan target selama lima tahun yang dicapai secara
bertahap setiap tahunnya, dan target ditetapkan untuk setiap tahun pencapaiannya.
Oleh karena itu indikator kinerja daerah untuk RPJMD ini memiliki karakter
yang berbeda sesuai aspek, fokus dan urusannya. Indikator kinerja daerah sebagian
bersifat dampak langsung, tetapi sebagian lainnya bersifat dampak tidak langsung dari
program-program yang dilaksanakan SKPD. Karakter indikator yang berbeda tersebut
menjadikan sejumlah indikator memiliki tingkat validitas yang berbeda pula sesuai
dengan tingkat kedekatan indikator kinerja tersebut dengan tujuannya. Tingkat
validitas indikator kinerja dimaksud terdiri dari indikator-indikator:
a. Exact: ukuran yang (secara langsung) ideal untuk mengukur hasil pencapaian
sasaran strategis yang diharapkan.
b. Proxy: indikator yang mengukur hasil tidak secara langsung, tetapi sesuatu
yang mewakili hasil tersebut.

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 171


c. Activity: indikator kinerja yang mengukur jumlah, biaya, dan waktu dari
kegiatan-kegiatan yang berdampak pada sasaran strategis yang
bersangkutan.
Sebagian besar indikator kinerja daerah untuk RPJMD merupakan indikator
exact dan proxy. Sementara indikator activity lebih banyak dipakai untuk mengukur
kinerja SKPD. Namun pada aspek, fokus dan urusan tertentu, indikator kinerja SKPD
langsung dijadikan indikator RPJMD.
Disadari bahwa penentuan indikator kinerja RPJMD dengan sejumlah target
tertentu bukanlah hal yang mudah. Karena hal ini dipengaruhi capaian kegiatan atau
program tertentu dengan sasaran tertentu pula, yang dilaksanakan SKPD maupun lintas
SKPD. Indikator kinerja RPJMD ini dibuat sebagai acuan indikator kinerja SKPD, meski
demikian penyusunannya bersifat timbal balik. Dengan kata lain meski menjadi acuan
SKPD, tetapi penentuan indikator kinerja RPJMD juga memperhatikan kemampuan
SKPD berdasarkan analisa SWOT.
Indikator kinerja RPJMD pada dasarnya merupakan kompromi antara apa yang
dinginkan Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi dengan kemampuan dan kesanggupan
SKPD. Indikator kinerja ini memperhatikan kemampuan SDM, ketersediaan anggaran,
dukungan/partisipasi masyarakat serta memperhatikan tantangan dan hambatan yang
ada. Salah satu rujukan ukuran kemampuan daerah adalah melihat kondisi eksisting
pencapaian indikator kepemimpinan sebelumnya. Pertimbangan demikian perlu
dilakukan karena bagaimanapun juga apa yan diinginkan oleh Bupati dan Wakil Bupati
itu tidak akan terlaksana secara baik tanpa dukungan kemampuan SKPD, partisipasi
masyarakat serta potensi yang dimiliki oleh daerah.
Dengan kondisi yang ada kepemimpinan yang baru tertantang untuk berbuat
lebih baik daripada sebelumnya. Karenanya kepemimpinan yang baru membutuhkan
semangat dan loyalitas aparatnya. Semangat dan loyalitas ini salah satunya tercermin
dari komitmen bersama antara pimpinan dan birokrasi dalam menentukan indikator
kinerja. Indikator kinerja ini membutuhkan dukungan pula dari masyarakat serta
DPRD secara secara objektif dan rasional.
Oleh karena itu keseluruhan tahapan penyusunan RPJMD termasuk penentuan
indikator kinerjanya telah diupayakan memenuhi aspek politik dan aspok formal yang

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 172


disyaratkan. Aspek politik menyangkut proses yang melibatkan partisipasi masyarakat
yang diwujudkan dalam konsultasi publik dan Musrenbang penyusunan RPJMD. Aspek
formal meliputi pemenuhan atas prosedur, tahapan, dan administratif sesuai ketentuan
yang ada.
Aspek formal tersebut diantaranya menyangkut perumusan indikator kinerja dan
capaian kinerja dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut:
a. Relevant, yaitu indikator terkait secara logis dan langsung dengan tugas institusi,
serta realisasi tujuan dan sasaran strategis.
b. Well Defined, yaitu definisi indikator jelas dan tidak bermakna ganda sehingga
mudah untuk dimengerti dan digunakan.
c. Measurable, yaitu indikator yang digunakan diukur dengan skala penilaian tertentu
yang disepakati, dapat berupa pengukuran secara kuantitas, kualitas atau harga.
d. Approriate, yaitu indikator yang dipilih harus sesuai dengan upaya peningkatan
pelayanan/kinerja.
e. Reliable, yaitu indikator yang digunakan akurat dan dapat mengikuti perubahan
tingkatan kinerja.
f. Verifiable, yaitu memungkinkan proses validasi dalam sistem yang digunakan
untuk menghasilkan idikator.
g. Cost-effective, kegunaan indikator sebanding dengan biaya pengumpulan data.
Kriteria di atas sebagian dipakai untuk menentukan indikator RPJMD, namun
sebagian yang lain dipakai dalam menentukan indikator kinerja SKPD.

8.2. Indikator dan Target Kinerja


Untuk menjamin aspek akuntabilitas pencapaian kinerja RPJMD sekaligus
sebagai acuan penyusunan Renstra dan Renja SKPD, indikator dan target kinerja
dinyatakan dengan jelas pada RPJMD ini. Indikator kinerja RPJMD ditampilkan
dengan menggambarkan kondisi awal dan target tahunan selama periode 2011 sampai
2015. Bahkan sebagai referensi digambarkan pula kondisi lima tahun sebelumnya,
sebagai pembanding.

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 173


Sebisa mungkin target kinerja mencoba menggambarkan secara langsung
pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah dengan memenuhi kriteria
specific, measurable, achievable, relevant, time bond dan continously improve
(SMART-C). Spesifik sesuai urusan wajib dan urusan pilihan yang menjadi kewenangan
pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Terukur (Measurable) karena memiliki angka
pencapaian tertentu. Terjangkau (achievable) karena telah memperhitungkan
kemampuan dan kondisi daerah melalui analisa SWOT. Relevan (relevant) karena
telah berusahan menyesuaikan aspirasi dan dinamika masyarakat. Terikat waktu (time
bond) karena memiliki batasan periode tahun 2011-2015 serta target tahunannya.
Peningkatan yang berkelanjutan (continously improve) karena berusaha melakukan
peningkatan secara terus menerus dan bertahap setiap tahunnya. Penetapan indikator
kinerja daerah selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut.

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 174


TabelPenetapanIndikatorKinerjaDaerah
TerhadapCapaianKinerjaPenyelenggaraanUrusanPemerintahan
RPJMDKabupatenBanyuwangi20112015
ASPEK,FOKUSDANINDIKATORKINERJAMENURUTBIDANGURUSANPENYELENGGARAANPEMERINTAHANKABUPATENBANYUWANGI

Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
ASPEKKESEJAHTERAANMASYARAKAT
FokusKesejahteraan&PemerataanEkonomi
1. IndikatorMakro LintasSKPD
13.569.765 15.511.565 18.134.482
1.1. PertumbuhanPDRB 20.490.127 23.154.387 26.463.677 30.245.710 34.568.380 39.508.840 45.155.382 LintasSKPD

6,1 7,1 11 4,2 5,2 5 4,8 4,6 4,4 4,2


1.2. Lajuinflasi LintasSKPD 3.62
8.608.465,0
10.153.642,0 11.449.129,0 12.865.486,0 13.246.700,0 16.550.995,0 18.862.697,0 21.497.278,0 24.499.834,0 27.921.763,0
1.3. PDRBperkapita(Rp.Juta) 0 0 0 0 0 LintasSKPD

1.4. IndeksGini


P LintasSKPD

1.5. PemerataanpendapatanversiBankDunia LintasSKPD


IndeksketimpanganWilliamson(Indeks 116.31 115.93 115.81 116.5 115.31 115.06 114.81 114.57 114.32 114.07
1.6. LintasSKPD
KetimpanganRegional)
1.7. Persentasependudukdiatasgariskemiskinan LintasSKPD
1.8. Angkakriminalitasyangtertangani LintasSKPD
1.9. IPM(IndeksPembangunanManusia) 66.8 67.24 67.80 68.24 68.80 69.24 69.80 70.24 70.80 71.24 71.24 LintasSKPD 70.98 73,4
FokusKesejahteraanSosial
1. Pendidikan
1.1. Angkamelekhuruf(AMH) 97.45 96.67 97.23 97.86 98.25 97.92 98.18 98.45 98.71 98.98 98.98 Disdik 96.66
1.2. Angkarataratalamasekolah 6.68 6.54 6.96 6.64 6.70 6.75 7.25 7.75 7.25 7.75 7.75 Disdik 7.23
1.3. Angkapartisipasikasar 82,95 85,43 87,59 89,54 91,38 93,15 94,87 96,57 96,57 Disdik
1.4. Angkapendidikanyangditamatkan Disdik
1.5. AngkaPartisipasiMurni Disdik
1.5.1. AngkaPartisipasiMurni(APM)
95,16 96,04 96,78 97,4 97,92 98,36 98,73 99,03 99,03 Disdik
SD/MI/PaketA
1.5.2. AngkaPartisipasiMurni(APM)
67,88 73,53 77,61 80,48 82,47 83,82 84,74 85,36 85,36 Disdik
SMP/MTs/PaketB

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 175


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
1.5.3. AngkaPartisipasiMurni(APM))
35,58 38,35 41,67 45,67 50,55 56,55 64 73,38 73,38 Disdik
SMA/SMK/MA/PaketC
2. Kesehatan
Angkakelangsunganhidupbayi(kematian
2.1. 44.90 43.90 40.79 40.60 37.00 35.54 30.00 25.00 20.00 15.00 15.00 Dinkes 31.41
bayiper1000kelahiran)
Angkakematianibumelahirkan(per100.000
2.2. 65.00 103.00 97.00 80.00 75.00 70.00 65.00 60.00 55.00 50.00 Dinkes
kelahiranhidup)
2.3. Angkausiaharapanhidup 65.95 65.94 66.78 66.89 67.00 67.20 67.50 67.90 68.20 68.50 68.50 Dinkes 69.15
2.4. Persentasebalitagiziburuk 0,35 0,36 0,39 0,31 0,27 5% 5% 5% 5% 5% 1.00 Dinkes

3. Pertanahan
3.1. Persentasependudukyangmemilikilahan
4. Ketenagakerjaan
4.1. Rasiopendudukyangbekerja Disnaker
FokusSeniBudayadanOlahraga
1. Kebudayaan
1.1. Jumlahgrupkesenian
1.2. Jumlahgedung
2. PemudadanOlahraga
2.1. a.Jumlahklubolahraga 58 58 60 61 62 63 64 65 65
2.2. b.Jumlahgedungolahraga 1 1 1 1 2 2 2 2 2
ASPEKPELAYANANUMUM
FokusLayananUrusanWajib
1. Pendidikan
1.1. Pendidikandasar:
1.1.1. Angkapartisipasisekolah 101.26 102.65 102.49 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Disdik
1.1.2. Rasioketersediaansekolah/pendudukusia 52,65 56,76 60,45 63,73 66,61 69,12 71,29 52,65 56,76 60,45
Disdik
sekolah
1.1.3. Rasioguru/murid 16,61 16,41 16,31 16,26 16,23 16,21 16,2 16,2 16,2 Disdik
37,85 37,93 38 38,06 38,11 38,15 38,18 37,85 37,93 38
1.1.4. Rasioguru/muridperkelasratarata Disdik

1.2. Pendidikanmenengahpertama:(SLTP/MTs) Disdik

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 176


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
1.2.1. Angkapartisipasisekolah 87.46 86.12 91.07 87.97 91.57 93.50 96.00 98.00 100.00 100.00 Disdik
1.2.2. Rasioketersediaansekolahterhadap 48,14 52,65 56,76 60,45 63,73 66,61 69,12 48,14
Disdik
pendudukusiasekolah
14,02 14,4 14,73 15 15,24 15,44 15,61 14,02
1.2.3. Rasioguruterhadapmurid Disdik

Rasioguruterhadapmuridperkelasrata 37,75 37,85 37,93 38 38,06 38,11 38,15 37,75


1.2.4. Disdik
rata
1.3. Pendidikanmenengahatas:(SMA/SMK/MA) Disdik
1.3.1. Angkapartisipasisekolah 39.92 43.04 59.03 63.09 71.09 80.00 85.00 90.00 95.00 95.00 Disdik
1.3.2. Rasioketersediaansekolahterhadap
Disdik
pendudukusiasekolah
1.3.3. Rasioguruterhadapmurid Disdik
1.3.4. Rasioguruterhadapmuridperkelasrata 37,85 37,93 38 38,06 38,11 38,15 38,18 37,85 37,93 38
Disdik
rata
1.3.5. Pendudukyangberusia>15Tahunmelek 99,65 99,65 99,82 99,86 99,89 99,9 99,92 99,65 99,65 99,82
Disdik
huruf(tidakbutaaksara)
1.4. FasilitasPendidikan: Disdik
1.4.1. SekolahpendidikanSD/MIkondisibangunan 77,93 81,03 83,72 86,03 88,01 89,7 91,13 77,93 81,03 83,72
100.00 Disdik
baik
1.4.2.SekolahpendidikanSMP/MTskondisi 82,83 83,51 84,08 84,56 84,97 85,3 85,59 82,83 83,51 84,08
100.00 Disdik
bangunanbaik
1.4.2. SekolahpendidikanSMA/SMK/MAkondisi
86.85 94.08 96.59 89.85 90.70 90.00 94.00 98.00 100.00 100.00 Disdik
bangunanbaik
1.5. PendidikanAnakUsiaDini(PAUD): Disdik
51,2 52,24 53,3 54,39 55,49 56,62 57,77 51,2 52,24 53,3
1.5.1. PendidikanAnakUsiaDini(PAUD) Disdik

1.6. AngkaPutusSekolah: Disdik


0,08 0,06 0,05 0,04 0,03 0,03 0,02 0,08 0,06 0,05
1.6.1. AngkaPutusSekolah(APS)SD/MI Disdik

0,68 0,61 0,54 0,49 0,44 0,39 0,35 0,68 0,61 0,54
1.6.2. AngkaPutusSekolah(APS)SMP/MTs Disdik

1.6.3. 1,53 1,49 1,42 1,29 1,07 0,72 0,27 1,53 1,49 1,42
AngkaPutusSekolah(APS)SMA/SMK/MA Disdik

1.7. AngkaKelulusan: Disdik


99,75 99,75 99,75 99,75 99,75 99,75 99,75 99,75 99,75 99,75
1.7.1. AngkaKelulusan(AL)SD/MI Disdik

95,74 96,1 96,17 96,18 96,18 96,18 96,18 95,74 96,1 96,17
1.7.2. AngkaKelulusan(AL)SMP/MTs Disdik

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 177


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
95,08 95,32 95,55 95,78 96 96,23 96,45 95,08 95,32 95,55
1.7.3. AngkaKelulusan(AL)SMA/SMK/MA Disdik

1.7.4. AngkaMelanjutkan(AM)dariSD/MIke 99,68 99,69 99,69 99,69 99,69 99,69 99,69 99,68 99,69 99,69
100.00 Disdik
SMP/MTs
1.7.5. AngkaMelanjutkan(AM)dariSMP/MTske 87,57 87,97 88,36 88,74 89,13 89,51 89,88 87,57 87,97 88,36
100.00 Disdik
SMA/SMK/MA
1.7.6. 73,25 78,14 82,38 85,92 88,78 91,07 92,86 73,25 78,14 82,38
GuruyangmemenuhikualifikasiS1/DIV Disdik

2. Kesehatan
1:37 1:37 1:37 1:37 1:37 1:37 1:37 1:37 1:37 1:37
2.1. Rasioposyandupersatuanbalita Dinkes

Rasiopuskesmas,poliklinik,pustupersatuan 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12
2.2. Dinkes
penduduk
0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007
2.3. RasioRumahSakitpersatuanpenduduk Dinkes

0,07 0,07 0,08 0,07 0,06 0,07 0,07 0,08 0,08 0,09
2.4. Rasiodokterpersatuanpenduduk Dinkes

0,12 0,13 0,13 0,11 0,11 0,11 0,12 0,12 0,13 0,13
2.5. Rasiotenagamedispersatuanpenduduk Dinkes

Cakupankomplikasikebidananyang 84^ 100^ 40,1^ 49,1^ 32** 80 80 80 80 80


2.6. Dinkes
ditangani
2.7. Cakupanpertolonganpersalinanolehtenaga 87,9 86,14 86.9 92 72,7 91 92 93 94 95
kesehatanyangmemilikikompetensi 100.00 Dinkes
kebidanan
CakupanDesa/kelurahanUniversalChild 35% 51% 62% 78% 68% 85% 90% 95% 100% 100%
2.8. Dinkes
Immunization(UCI)
CakupanBalitaGiziBurukmendapat 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
2.9. Dinkes
perawatan
Cakupanpenemuandanpenanganan 48% 51% 47% 46% 38% 70% 70% 70% 70% 70%
2.10. Dinkes
penderitapenyakitTBCBTA
Cakupanpenemuandanpenanganan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
2.11. Dinkes
penderitapenyakitDBD
Cakupanpelayanankesehatanrujukan 52,89% 29,24% 15,39% 15% 15% 15% 15% 15%
2.12. Dinkes
pasienmasyarakatmiskin
58,30% 48,47% 60,40% 72,00% 67,10% 84% 86% 88% 90% 90%
2.13. Cakupankunjunganbayi Dinkes

187,5% 187,5% 187,5% 187,5% 187,5% 187,5% 187,5% 187,5% 187,5% 187,5%
2.14. Cakupanpuskesmas Dinkes

48,38% 48,38% 48,38% 48,38% 48,38% 48,38% 48,38% 48,38% 48,38% 48,38%
2.15. Cakupanpembantupuskesmas Dinkes

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 178


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
3. PekerjaanUmum
Proporsipanjangjaringanjalandalamkondisi
3.1.
baik
75 80 85 90 95 100 100 75 80 85
3.2. RasioJaringanIrigasi

8 10 10 10 10 12 45 8 10 10
3.3. Rasiotempatibadahpersatuanpenduduk

65 70 75 75 80 85 85 65 70 75
3.4. Persentaserumahtinggalbersanitasi

Rasiotempatpemakamanumumpersatuan 40 45 45 45 50 50 55 40 45 45
3.5.
penduduk
Rasiotempatpembuangansampah(TPS)per 40 45 45 45 50 50 55 40 45 45
3.6.
satuanpenduduk
20 20 25 30 35 45 60 20 20 25
3.7. Rasiorumahlayakhuni

20 20 25 30 35 45 60 20 20 25
3.8. Rasiopermukimanlayakhuni

0,0008 0,0006 0,0005 0,0004 0,0003 0,0002 0,0002 0,0008 0,0006 0,0005
3.9. PanjangjalandilaluiRoda4

JalanPenghubungdariibukotakecamatanke
3.10. kawasanpemukimanpenduduk(mimal
dilaluiroda4)
Panjangjalankabupatendalamkondisibaik( 86,49 87,32 89,86 92,39 94,93 97,46 100,00 86,49 87,32 89,86
3.11.
>40KM/Jam)
Panjangjalanyangmemilikitrotoardan
3.12. drainase/saluranpembuanganair(minimal
1,5m)
Sempadanjalanyangdipakaipedagangkaki 40 45 40 30 20 10 0 40 45 40
3.13.
limaataubangunanrumahliar
3.14. Sempadansungaiyangdipakaibangunanliar
Drainasedalamkondisibaik/pembuangan
3.15.
aliranairtidaktersumbat
Pembangunanturapdiwilayahjalan
3.16. penghubungdanaliransungairawanlongsor
lingkupkewenangankota
95 98 99 99 100 100 100 95 98 99
3.17. LuasirigasiKabupatendalamkondisibaik

38.175 45.810 54.972 65.967 79.160 94.992 113.991 38.175 45.810 54.972
3.18. LingkunganPemukiman

4. Perumahan

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 179


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
6.833.144 7.038.138 7.128.900 7.322.478 7.468.927 7.619.325 7.771.712 6.833.144 7.038.138 7.128.900
4.1. Rumahtanggapenggunaairbersih

276.151 281.674 290.124 298.827 307.792 317.026 326.537 276.151 281.674 290.124
4.2. Rumahtanggapenggunalistrik

336.720 410.798 423.121 435.815 448.890 462.356 476.227 336.720 410.798 423.121
4.3. RumahtanggaberSanitasi

46.920 47.950 58.500 713.700 87.075 106.230 129.600 46.920 47.950 58.500
4.4. Lingkunganpemukimankumuh

469.200 479.522 585.016 713.720 870.739 1.062.301 1.296.007 469.200 479.522 585.016
4.5. Rumahlayakhuni

5. PenataanRuang
RasioRuangTerbukaHijauperSatuanLuas
5.1.
WilayahberHPL/HGB
RasiobangunanberIMBpersatuan
5.2.
bangunan
5.3. Ruangpublikyangberubahperuntukannya
6. PerencanaanPembangunan
TersedianyadokumenperencanaanRPJPDyg
6.1. ada ada ada ada ada
telahditetapkandgnPERDA
TersedianyaDokumenPerencanaan:RPJMD
6.2. ada ada ada ada ada
ygtelahditetapkandgnPERDA/PERKADA
TersedianyaDokumenPerencanaan:RKPD
6.3. ada ada ada ada ada
ygtelahditetapkandgnPERKADA
6.4. PenjabaranProgramRPJMDkedalamRKPD ada ada ada ada ada
7. Perhubungan
1.537.539 1255914 1.568.444 1.584.129 1.599.970 1.248.212 1.537.539 1255914 1.568.444 1.584.129
7.1. Jumlaharuspenumpangangkutanumum

0,00032 0,00033 0,00034 0,00034 0,00035 0,00035 0,00032 0,00033 0,00034 0,00034
7.2. Rasioijintrayek

9.834 9.889 9.944 9.999 10.054 10.109 9.834 9.889 9.944 9.999
7.3. Jumlahujikirangkutanumum

8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
7.4. JumlahPelabuhanLaut/Udara/TerminalBis

0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010
7.5. Angkutandarat

68,9% 67,9% 67,2% 66,4% 65,4% 64,7% 68,9% 67,9% 67,2% 66,4%
7.6. KepemilikanKIRangkutanumum

Lamapengujiankelayakanangkutanumum 20menit 20menit 20menit 20menit 20menit 20menit 20menit 20menit 20menit 20menit
7.7.
(KIR)

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 180


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500
7.8. Biayapengujiankelayakanangkutanumum

0,97 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0,97 1,00 1,00 1,00
7.9. PemasanganRamburambu

8. LingkunganHidup
8.1. Persentasepenanganansampah
8.2. PersentasePendudukberaksesairminum
8.3. PersentaseLuaspemukimanyangtertata
63 68 78 89 89 89 90 90 91 91
8.4. Pencemaranstatusmutuair

Cakupanpenghijauanwilayahrawanlongsor 60 63 65 67 68 74 78 81 87 89
8.5.
danSumberMataAir
Cakupanpengawasanterhadappelaksanaan 40 53,3 55,55 60 68 73,33 74,19 75 75,76 76,47
8.6.
amdal.
Tempatpembuangansampah(TPS)per
8.7.
satuanpenduduk
50 62,5 80 72,72 70 90 100 60 80 100
8.8. Penegakanhukumlingkungan

9. Pertanahan
9.1. Persentaseluaslahanbersertifikat
9.2. PenyelesaiankasustanahNegara
0 0 0 39,0% 97,0% 95,0% 97,7% 97,4% 97,4% 91,4%
9.3. Penyelesaianizinlokasi

10. KependudukandanCatatanSipil
RasiopendudukberKTPpersatuan 1:1,42 1:1,34 1:1,16 1:1,07 1:1,03 1:1,003 1:1,42 1:1,34 1:1,16 1:1,07
10.1.
penduduk
7,44 26,70 46,00 65,00 84,60 103,90 7,44 26,70 46,00 65,00
10.2. Rasiobayiberaktekelahiran

0,12 0,142 0,164 0,186 0,206 0,228 0,12 0,142 0,164 0,186
10.3. Rasiopasanganberaktenikah

70,15 74,57 85,71 93,19 97,03 99,64 70,15 74,57 85,71 93,19
10.4. KepemilikanKTP(%)

Kepemilikanaktakelahiranper1000 2,51 5,27 8,03 10,79 13,55 16,31 2,51 5,27 8,03 10,79
10.5.
penduduk
Ketersediaandatabasekependudukanskala ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada
10.6.
provinsi

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 181


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah sudah Sudah Sudah Sudah
10.7. PenerapanKTPNasionalberbasisNIK

11. PemberdayaanPerempuandanPerlindungan

Anak
Persentasepartisipasiperempuandi 14,95 14 14 15 15 16 14,95 14 14 15
11.1.
lembagapemerintah
85,05 85 85 86 86 86 85,05 85 85 86
11.2. Partisipasiperempuandilembagaswasta

11.3. RasioKDRT
Persentasejumlahtenagakerjadibawah
11.4.
umur
11.5. Partisipasiangkatankerjaperempuan
Penyelesaianpengaduanperlindungan
82,6 81,28 85,5 87,44 89,3 93,45 82,6 81,28 85,5 87,44
11.6. perempuandananakdaritindakan
kekerasan
12. KeluargaBerencanadanKeluargaSejahtera
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
12.1. Rataratajumlahanakperkeluarga 2

12.2. RasioakseptorKB
74 72 72 73 73 74 74 72 72 73
12.3. CakupanpesertaKBaktif

KeluargaPraSejahteradanKeluarga 41,68 42 42 42 42 42 41,68 42 42 42


12.4.
SejahteraI
13. Sosial
Saranasosialsepertipantiasuhan,panti
13.1.
jompodanpantirehabilitasi
13.2. PMKSygmemperolehbantuansosial
Penangananpenyandangmasalah
13.3.
kesejahteraansosial
14. Ketenagakerjaan
14.1. Angkapartisipasiangkatankerja
Angkasengketapengusahapekerjaper
14.2.
tahun
14.3. Tingkatpartisipasiangkatankerja
14.4. Pencarikerjayangditempatkan
14.5. Tingkatpengangguranterbuka(%) 6.70 5.80 5.60 4.10 4.09 3.80 3.30 2.80 2.40 2.10 2.10 LintasSKPD 5.10
14.6. Keselamatandanperlindungan

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 182


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
Perselisihanburuhdanpengusahaterhadap
14.7.
kebijakanpemerintahdaerah
15. KoperasiUsahaKecildanMenengah
95% 78% 78% 79% 0% 85% 87% 89% 91% 93%
15.1. Persentasekoperasiaktif

20.000 20.100 20.400 20.700 20.800 20.900 21.000 23.000 25.000 27.000
15.2. JumlahUKMnonBPR/LKMUKM

40 750 1.100 1.300 1.500 1.700 1.900 2.250 2.600 3.000


15.3. JumlahBPR/LKM

8 13 24 29 36 44 52 61
15.4. UsahaMikrodanKecil

16. PenanamanModal
Jumlahinvestorberskalanasional 40 1 2 3 4 5
16.1.
(PMDN/PMA)
Jumlahnilaiinvestasiberskalanasional 748,28 50 100 225 350 550
16.2.
(PMDN/PMA)
236 240 245 250 255 260
16.3. Rasiodayaseraptenagakerja

Kenaikan/penurunanNilaiRealisasiPMDN 1 3 5 8 10
16.4.
(milyarrupiah)
17. Kebudayaan
17.1. Penyelenggaraanfestivalsenidanbudaya
17.2. Saranapenyelenggaraansenidanbudaya
Benda,SitusdanKawasanCagarBudayayang
17.3.
dilestarikan
18. KepemudaandanOlahraga
18.1. Jumlahorganisasipemuda
18.2. Jumlahorganisasiolahraga
18.3. Jumlahkegiatankepemudaan
18.4. Jumlahkegiatanolahraga
Gelanggang/balairemaja(selainmilik
18.5.
swasta)
18.6. Lapanganolahraga
19.
KesatuanBangsadanPolitikDalamNegeri

KegiatanpembinaanterhadapLSM,Ormas 20% 40% 60% 80% 100%


19.1.
danOKP

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 183


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
20% 40% 60% 80% 100%
19.2. Kegiatanpembinaanpolitikdaerah

OtonomiDaerah,PemerintahanUmum,
20.
AdministrasiKeuanganDaerah,Perangkat

Daerah,KepegawaiandanPersandian
RasiojumlahPolisiPamongPrajaper10.000 1:0,96 1:0,93 1:0,86 1:0,84 1:0,81 1:0,84 1:0,84 1:0,91 1:0,94 1:0,96
20.1.
penduduk
60 55,79 51,9 44,4 39,2 42,86 51,24 60,55 73,91 60
20.2. JumlahLinmasperJumlah10.000Penduduk

RasioPosSiskamlingperjumlah
20.3.
desa/kelurahan
5,07 5,59 5,76 6,04 6,06 6.34 6.63 6.93 7.24 7.57
20.4. Pertumbuhanekonomi

20.5. Kemiskinan
SisteminformasiPelayananPerijinandan tidak tidak tidak ada ada ada ada ada ada ada
20.6.
adiministrasipemerintah
85% 86% 87% 88% 87% 89% 91% 93% 95% 85%
20.7. PenegakanPERDA

82 84 86 88 90 96 144 192 240 82


20.8. CakupanpatrolipetugasSatpolPP

TingkatpenyelesaianpelanggaranK3
72% 74% 75% 76% 77% 82% 87% 92% 95% 72%
20.9. (ketertiban,ketentraman,keindahan)di
Kabupaten
20.10. PetugasPerlindunganMasyarakat(Linmas)di

Kabupaten
20.11. Cakupanpelayananbencanakebakaran 0,0002 0,0002 0,0002 0,0003 0,0003 0,0006 0,0009 0,0012 0,0012 0,0002

kabupaten
Tingkatwaktutanggap(responsetimerate)
20.12. 42% 43% 44% 45% 46% 75% 80% 85% 90% 42%
daerahlayananWilayahManajemen

Kebakaran(WMK)
20.13. Cakupansaranaprasaranaperkantoran

pemerintahandesayangbaik
20.14 SistimInformasiManajemenPemda
20.15. 2,50 2,50 2,50 2,50 2,50 2,50 2,50 2,50
IndeksKepuasanLayananMasyarakat

21. KetahananPangan
1 1 1 1 1
21.1. Regulasiketahananpangan

11.240 11.221 11.204 11.189 11.357 11.527 11.700 11.875 12.054 12.234
21.2. Ketersediaanpanganutama

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 184


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
22. PemberdayaanMasyarakatdanDesa
Rataratajumlahkelompokbinaanlembaga 70 70 75 80 85 90 95
22.1.
pemberdayaanmasyarakat(LPM)
70 70 75 80 85 90 95
22.2. RataratajumlahkelompokbinaanPKK

0 1 2 4 6 8 10
22.3. JumlahLSM

15 20 30 40 50 60 70
22.4. LPMBerprestasi

90 90 95 100 100 100 100


22.5. PKKaktif

90 60 95 100 100 100 100


22.6. Posyanduaktif

SwadayaMasyarakatterhadapProgram 60 65 70 75 80 85 90
22.7.
pemberdayaanmasyarakat
PemeliharaanPascaProgrampemberdayaan 15 20 25 30 35 40 50
22.8.
masyarakat
23. Statistik
23.1. Bukukabupatendalamangka ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada ada
23.2. BukuPDRBkabupaten ada ada ada ada ada ada
24. Kearsipan
30% 30% 30% 30% 30% 40% 40% 50% 60% 70%
24.1. Pengelolaanarsipsecarabaku

1 kali 1kali 0 0 0 2kali 2kali 2kali 2kali 2kali


24.2. PeningkatanSDMpengelolakearsipan

25. KomunikasidanInformatika
25.1. Jumlahjaringankomunikasi
25.2. Rasiowartel/warnetterhadappenduduk
25.3. Jumlahsuratkabarnasional/lokal
25.4. Jumlahpenyiaranradio/TVlokal
25.5. Websitemilikpemerintahdaerah ada ada ada ada ada ada ada ada ada
25.6. Pameran/expo
26. Perpustakaan
67 75 80 89 120 120 225 225 300 350
26.1. Jumlahperpustakaan

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 185


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
31.000 33.000 37.000 45.000 49.000 53.900 53.800 65.700
26.2. Jumlahpengunjungperpustakaanpertahun

Koleksibukuyangtersediadiperpustakaan 34.600 37.092 40.029 40.829 47.648 52.412 57.653 60.535 63.561 66739
26.3.
daerah
FokusLayananUrusanPilihan
1. Pertanian
Produktivitaspadiataubahanpanganutama 58,9 59,93 60,36 62,51 63,45 63,76 65,03 66,33 67,65 69,03
1.1.
lokallainnyaperhektar
Kontribusisektorpertanian/perkebunan 49,59 49,53 49,28 49,18 49,23 49,25 49,27 49,3 49,37 49,41
1.2.
terhadapPDRB
Kontribusisektorpertanian(palawija) 25,01 25,25 25,29 25,3 25,3 25,32 25,34 25,35 25,37 25,41
1.3.
terhadapPDRB
Kontribusisektorperkebunan(tanaman 9,53 9,29 9,04 8,99 8,99 8,99 9,05 9,12 9,15 9,17
1.4.
keras)terhadapPDRB
KontribusiProduksikelompokpetani
1.5.
terhadapPDRB
25,03 25,17 25,35 25,75 25,95 26,05 26,15 26,55 26,75 26,95
1.6. Cakupanbinakelompokpetani

2. Kehutanan
0,8 0,85 0,9 1,01 1,01 1,03 1,05 1,07 1,09 1,1
2.1. Rehabilitasihutandanlahankritis

0,08 0,06 0,05 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,03
2.2. KerusakanKawasanHutan

1,05 1,06 1,06 1,06 1,06 1,06 1,07 1,07 1,08 1,09
2.3. KontribusisektorkehutananterhadapPDRB

3. EnergidanSumberDayaMineral
3.1. Pertambangantanpaijin
Kontribusisektorpertambanganterhadap
3.2.
PDRB
4. Pariwisata
4.1. Kunjunganwisata
4.2. KontribusisektorpariwisataterhadapPDRB
5. KelautandanPerikanan
119 118 79 102 100 98,3 98,1 94,6 96,4 99,6
5.1. Produksiperikanan

100 98,9 100 100 99,3 100,3 99,6 98,7 98,4 98,4
5.2. Konsumsiikan

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 186


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
29 15 32 0 0 55 91 88 83 77
5.3. Cakupanbinakelompoknelayan

0,26 0,31 0,6 0,39 0,26 0,26 0,48 0,48 0,69 0,81
5.4. Produksiperikanankelompoknelayan

6. Perdagangan
KontribusisektorPerdaganganterhadap 23,46 23,77 23,78 23,79 23,80 23,81 23,82 23,83 23,84
6.1.
PDRB
11.497.87 13.840.65 15.501.52 17.162.30 18.823.18 20.484.05 22.144.93

6.2. EksporBersihPerdagangan 5 0 9 8 7 6 4

Cakupanbinakelompokpedagang/usaha
6.3.
informal
7. Perindustrian
7.1. KontribusisektorIndustriterhadapPDRB
Kontribusiindustrirumahtanggaterhadap
7.2.
PDRBsektorIndustri
7.3. PertumbuhanIndustri.
7.4. Cakupanbinakelompokpengrajin
8. Ketransmigrasian
8.1. Transmigranswakarsa
8.2. KontibusitransmigrasiterhadapPDRB
ASPEKDAYASAINGDAERAH
FokusKemampuanEkonomiDaerah
OtonomiDaerah,PemerintahanUmum,
1. AdministrasiKeuanganDaerah,Perangkat
Daerah,KepegawaiandanPersandian
Pengeluarankonsumsirumahtanggaper
1.1.
kapita
1.2. Pengeluarankonsumsinonpanganperkapita
1.3. Produktivitastotaldaerah
2. Pertanian
110,05 110,1 110,17 110,25 110,51 110,55 110,65 110,75 111 111,5
2.1. Nilaitukarpetani

FokusFasilitasWilayah/Infrastuktur
1. Perhubungan

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 187


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
0,008 0,008 0,008 0,009 0,010 0,008 0,008 0,008 0,008 0,009
1.1. Rasiopanjangjalanperjumlahkendaraan

Jumlahorang/barangyangterangkut 1.537.539 1.255.914 1.568.444 1.584.129 1.599.970 1.248.212 1.537.539 1.255.914 1.568.444 1.584.129
1.2.
angkutanumum
Jumlahorang/barangmelalui 1.537.539 1.255.914 1.568.444 1.584.129 1.599.970 1.248.212 1.537.539 1.255.914 1.568.444 1.584.129
1.3.
dermaga/bandara/terminalpertahun
2. PenataanRuang
2.1. KetaatanterhadapRTRW
2.2. Luaswilayahproduktif
2.3. Luaswilayahindustri
2.4. Luaswilayahkebanjiran
2.5. Luaswilayahkekeringan
2.6. Luaswilayahperkotaan
OtonomiDaerah,PemerintahanUmum,
3.
AdministrasiKeuanganDaerah,Perangkat

Daerah,KepegawaiandanPersandian
3.1. Jenisdanjumlahbankdancabang
Jenisdanjumlahperusahaanasuransidan
3.2.
cabang
3.3. Jenis,kelas,danjumlahrestoran
3.4. Jenis,kelas,danjumlahpenginapan/hotel
4. LingkunganHidup
PersentaseRumahTangga(RT)yang
4.1.
menggunakanairbersih
5. KomunikasdanInformatika
5.1. Rasioketersediaandayalistrik
Persentaserumahtanggayang
5.2.
menggunakanlistrik
Persentasependudukyangmenggunakan
5.3.
HP/telepon
FokusIklimBerinvestasi
OtonomiDaerah,PemerintahanUmum,
1. AdministrasiKeuanganDaerah,Perangkat
Daerah,KepegawaiandanPersandian
1.1. Angkakriminalitas

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 188


Kondisi Jatim Nasional
KondisiKinerjaPeriodeSebelumnya TargetCapaianTahunRPJMD SKPD
Kinerjaakhir 2009 2009
NO BIDANGURUSAN/INDIKATOR Penanggung
periode Rata2 Rata2
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 jawab
RPJMD
1.2. Jumlahdemo
80 85,71 85,7 92,31 92,31 100 100
1.3. Lamaprosesperijinan

Jumlahdanmacampajakdanretribusi
1.4.
daerah
1.5. JumlahPerdayangmendukungiklimusaha
Persentasedesaberstatusswasembada
1.6.
terhadaptotaldesa
FokusSumberDayaManusia
1. Ketenagakerjaan
1.1. RasiolulusanS1/S2/S3per10.000penduduk
1.2. Rasioketergantungan NA 45.60 39.20 35.18 34.20 33.80 32.70 31.90 31.50 30.00 30.00

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 189


8.3. Proyeksi Target Kinerja
Penyusunan target kinerja sebagaimana digambarkan di atas ditetapkan
berdasarkan proyeksi tertentu yang memperhatikan visi misi Bupati dan Wakil Bupati
terpilih. Proyeksi ini berupa titik target yang ingin dicapai dari kondisi titik nol awal
kepemimpinan. Batasan titik target ini bisa berupa angka rata-rata nasional, angka
rata-rata provinsi, atau sekedar meningkatkan posisi Kabupaten Banyuwangi di
antara daerah lainnya.
Bagian ini akan mencoba memperjelas argumentasi penentuan indikator
kinerja yang menjadi target masing-masing bidang atau urusan sesuai aspek dan
fokusnya. Indikator kinerja dan upaya-upaya untuk mencapainya juga
mempertimbangkan tingkat kendali (degree of controllability) pemerintahan
Kabupaten Banyuwangi atas apa yang ditargetkan dari kinerja tersebut. Penentuan
program diupayakan merata ditiap fokus untuk menjaga kepaduan dan daya ungkit
strategi terhadap target indikator kinerja RPJMD keseluruhan.
Namun demikian, tidak selalu tiap fokus terdapat program prioritas,
tergantung strategi untuk mencapai sasaran. Untuk mempermudah pembahasan
terbagi kedalam tiga kelompok aspek, yaitu Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan
Umum, dan Daya Saing Daerah. Masing-masing aspek memiliki ulasan menyangkut
fokus-fokus bidang urusan yang mempengaruhinya.

8.3.1. Aspek Kesejahteraan Masyarakat


Indikator kinerja RPJMD pada aspek kesejahteraan masyarakat ini sebagian
besar merupakan indikator proxy dimana angka-angkanya tidak merupakan akibat
langsung dari program pemerintah kabupaten. Indikator tersebut dipengaruhi pula
faktor di luar sentuhan pemerintah daerah. Kalaupun program pemerintah banyak
berpengaruh terhadap capaian yang ada, biasanya program yang bersifat lintas
sektoral atau gabungan SKPD. Sentuhan langsung pemerintah lebih banyak sebagai
pemicu untuk lebih meningkatkan pencapaiannya. SKPD yang diberi tanggungjawab
pun lebih sebagai fungsi koordinasi.
Di antara fokus yang menjadi bagian aspek kesejahteraan masyarakat
terdapat fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi yang kinerjanya diukur
dengan indikator makro ekonomi. Indikator makro ekonomi ini sesungguhnya
Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 190
merupakan akumulasi dengan hasil kinerja program-program pemerintah kabupaten
pada aspek lain serta upaya di luar yang dilakukan pemerintah kabupaten. Tetapi
dengan komitmen yang tinggi, pemerintah Kabupaten Banyuwangi bertekad
meningkatkan capaian indikator-indikator tersebut dengan upaya pemerintah
Kabupaten serta dukungan masyarakat. Karenanya untuk beberapa indikator, pada
akhir periode RPJM tahun 2015 pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupaya
melampaui capaian rata-rata Jawa Timur pada 2009.
Untuk fokus kesejahteraan sosial diwakili dengan indikator proxy dari upaya
akses masyarakat terhadap kesehatan, pendidikan, kepemilikan lahan dan pekerjaan.
Untuk fokus ini RPJM mentargetkan peningkatan/perbaikan yang optimal yaitu
sampai akhir periode mencapai angka penyelesaian masalah sampai tersisa 0% (nol
persen) atau perluasan akses sampai 100%.
Sementara untuk fokus seni budaya dan olah raga indikator RPJMD lebih
mendorong upaya peningkatan fasilitasi dan pelembagaan yang menunjang di
masyarakat. Adapun target indikator lebih menekankan perbaikan dan peningkatan
dari tahun ke tahun sampai akhir periode. Indikator tersebut secara tidak langsung
ingin memperlihatkan komitmen pelestarian seni budaya masyarakat Banyuwangi
dan prestasi keolahragaan.

8.3.2. Aspek Pelayanan Umum


Indikator kinerja RPJMD pada aspek pelayanan umum (layanan publik)
merupakan indikator yang paling gemuk karena menyangkut dua puluh enam urusan
wajib dan delapan urusan pilihan. Untuk aspek layanan ini, penentuan indikator
kinerja lebih banyak ditentukan oleh kekuatan anggaran dan etos kerja aparat
birokrasi. Karenanya kepala daerah dan wakil kepala daerah berkomitmen
mengoptimalkan belanja untuk layanan umum dan mempertinggi kinerja birokrasi
agar target pelayanan umum bisa terpenuhi. Upaya meningkatkan kapasitas birokrasi
dan kualitas layanan publik menjadi hal utama. Persoalannya hanya pada pembagian
yang proporsional antar berbagai urusan yang ada sesuai urutan prioritas.
Diantara urusan wajib dan urusan pilihan, keduanya mengandung urusan
prioritas di kabupaten Banyuwangi. Karena pada hakekatnya urusan pilihan adalah
urusan yang disesuaikan dengan karakter dan kondisi daerah. Karenanya pendidikan
dan kesehatan yang merupakan urusan wajib serta pertanian (dalam arti luas
Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 191
termasuk perikanan, peternakan, perkebunan) menjadi prioritas pelayanan umum
yang digenjot peningkatannya di Kabupaten Banyuwangi.
Mengingat sebagian besar indikator yang bersifat terpengaruh langsung oleh
program pemerintah, maka kepemimpinan Banyuwangi dengan RPJMD 2011-2015
sebagian besar mentargetkan tuntas 2015. Untuk angka yang sifatnya kenaikan
prosentase, beberapa mentargetkan peningkatan setiap tahun hingga tuntas 100%
(seratus persen) pada 2015. Untuk indikator yang sifatnya menyelesaikan masalah
ditandai dengan penurunan prosentase masalah tersebut secara bertahap hingga
tahun 2015 mencapai angka 0% (nol persen). Untuk beberapa indikator kinerja,
memang ada target yang tidak bisa tuntas. Hal ini dikarenakan beberapa perhitungan
rasional yang sebagian tetap dipengaruhi faktor lain. Sebagai contoh perubahan
perilaku atau merubah kebiasaan yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Fokus utama aspek pelayanan umum memang masih memprioritaskan
pendidikan, kesehatan, dan pertanian (dalam arti luas menyangkut pula perikanan,
peternakan, perkebunan). Dalam beberapa fokus ini indikator kinerja RPJM memang
diupayakan loncatan yang meningkat dari tahun ke tahun secara optimal. Meski
demikian urusan lain tetap ditargetkan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Hal ini karena urusan yang tidak prioritas juga mendukung pelayanan urusan yang
prioritas.
Untuk pendidikan dan kesehatan, indikator kinerjanya memang lebih
terperinci dan meliputi banyak hal. Meski demikian RPJMD menetapkan target yang
optimal sampai akhir periode 2015. Hal ini karena bagaimanapun pendidikan dan
kesehatan menjadi prioritas utama kepemimpinan periode ini.
Pertanian merupakan penyumbang terbesar PDRB di Banyuwangi karenanya
peningkatan di sektor ini diprioritaskan untuk digenjot. Hal ini dilakukan melalui
revitalisasi pertanian. Sebagaimana dipaparkan di bab sebelumnya arah kebijakan
dan sasaran urusan pertanian begitu komprehensip, namun pada indikator kinerja ini
hanya dimunculkan beberapa target. Dengan demikian upaya pemerintah di bidang
ini sesungguhnya lebih kompleks, dalam arti indikator kinerja dengan target yang ada
secara langsung mewakili kompleksitas upaya pemerintah kabupaten Banyuwangi.
Hal ini sebagimana tampak pada indikator kinerja layanan urusan pertanian,
ketahanan pangan, kelautan dan perikanan, kehutanan.
Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 192
Pariwisata menjadi indikator kinerja yang dimunculkan dengan target tahunan
yang meningkat. Untuk Kabupaten Banyuwangi hal ini dikembangkan melalui
pariwisata berbasis kearifan lokal yang meliputi potensi wisata bahari, wisata budaya,
wisata agro, wisata pendidikan. Disamping meningkatkan kunjungan wisata, juga
menunjang perkembangan UKM pendukungnya. Dengan upaya ini kontribusi
pariwisata terhadap PDRB ditargetkan terus meningkat.
Disamping UKM, penguatan Koperasi dan usaha kecil lainnya menjadi target
tahunan RPJMD yang terus meningkat. Pelembagaan UKM, Koperasi, LKM
(Lembaga Keuangan Mikro) menjadi indikator kinerja yang menggambarkan upaya
pemerintah.

8.3.3. Aspek Daya Saing Daerah


Indikator kinerja RPJMD pada aspek daya saing daerah merupakan indikator
yang paling dinamis. Hal ini dikarenakan indikator ini lebih mencermeinkan
komparasi langsung dengan daerah lain. Dalam pengertian ketika Kabupaten
Banyuwangi berusaha meningkatkan daya saing tertentu bersifat relative karena pada
saat sama daerah lain melakukannya. Demikian pula dalam banyak hal ketika terjadi
perubahan kondisi di Banyuwangi, pada saat yang sama terjadi pula perubahan
kondisi di daerah lain.
Untuk fokus kemampuan ekonomi daerah, karena banyak terpengaruh aspek
lain termasuk perekonomian regional Jatim dan makro ekonomi Nasional. Maka
RPJMD hanya mentargetkan peningkatan berkala dengan akselerasi moderat untuk
tingkat konsumsi masyarakat. Untuk nilai tukar petani meski peningkatannya
bertahap dan moderat, tetapi pemkab Banyuwangi akan berusaha optimal
memperjuangkan bargaining position petani (peternak/nelayan) atas hasil
produksinya.
Beberapa fokus dapat disentuh langsung oleh program pemerintah Kabupaten
Banyuwangi, seperti sebagian fokus iklim investasi dan penyediaan infrastruktur
wilayah. Penyediaan infrastruktur wilayah terus ditingkatkan dengan anggaran yang
ada, ditunjang perbaikan tata ruang yang memperhatikan aspek lingkungan.
Demikian pula fokus Iklim investasi dapat ditunjang kebijakan perbaikan perijinan,
serta regulasi pajak dan retribusi daerah yang tidak membebani masyarakat.

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 193


Untuk fokus SDM, indikator kinerja memang lebih banyak diukur dengan
pendidikan formal sehingga target RPJMD terlihat lebih sebagai kenaikan berkala.
Akan tetapi dibalik itu pemerintah kabupaten Banyuwangi melakukan peningkatan
kualitas SDM masyarakat dengan berbagai upaya bersifat pendidikan non formal.
Baik berupa pelatihan kelompok petani, nelayan, UKM dan sebagainya. Meski
demikian, pemkab juga memicu masyarakat agar berpendidikan formal tinggi
sehingga prosentasi penduduk berpendidikan S1/S2/S3 makin meningkat dari tahun
ke tahun. Salah satunya stimulus peningkatan pendidikan formal pegawai negeri sipil
(PNS), baik tenaga fungsional maupun struktural.

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 194


BAB IX

PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2011-2015 ini merupakan dokumen


perancanaan, yang berkaitan dengan arah kebijakan dan program-program yang
hendak diimplementasikan selama lima tahun ke depan (2011-2015). Termasuk di
dalamnya adalah berisi target-target yang hendak dicapai dan berbagai langkah
untuk mencapai program-program itu.

Sebagai bagian dari upaya untuk merealisasi visi misi Bupati dan Wakil
Bupati terpilih, RPJMD ini juga berisikan rencana untuk mencapai program-
program prioritas. Bupati dan Wakil Bupati terpilih telah menetapkan sebelas
prioritas pembangunan pada saat kampanye. Program prioritas adalah:

1. Proses Pembuatan dan Implementasi Keputusan yang Efektif;


2. Meningkatkan Kapasitas Birokrasi;
3. Pengembangan Ekonomi Berbasis Kelompok;
4. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas;
5. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas
6. Revitalisasi Pertanian;
7. Pembangunan Infrastruktur Perdesaan;
8. Pembentukan Daerah Tujuan Wisata yang Kompetitif melalui
Pengembangan Budaya Daerah;
9. Peningkatan Investasi;
10. Penanggulangan Kemiskinan dan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan, dan;
11. Pengembangan Kelautan dan Perikanan.

Program-program prioritas ini disinergikan dengan program-program lain,


guna mencapai visi besar, yaitu: Terwujudnya Masyarakat Banyuwangi yang
Mandiri, Sejahtera dan Berkahlak Melalui Peningkatan Perekonomian dan
Kualitas Sumber Daya Manusia.

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 195

9. 1. Pedoman Transisi

Proses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang


berkesinambungan, berlangsung secara terus menerus. RPJMD Kabupaten
Banyuwangi 2011-2015, karena itu, memiliki titik sambung dengan program-
program pembangunan pemerintahan sebelumnya. Demikian pula halnya,
PRJMD ini akan memiliki kseinambungan dengan RPJMD periode selanjutnya.
Karena itu, di akhir RPJMD ini juga membuka ruang adanya periode transisi
untuk berjalannya program-program pembangunan pemerintahan selanjutnya.

Ruang transisi semacam itu dimaksudkan agar tidak terdapat ruang kosong
dan diskontinuitas bagi proses pembangunan di Kabupaten Banyuwangi. Melalui
adanya RPJMD transisi, bisa berfungsi sebagai dokumen perencanaan
pembangunan guna mengisi kekosongan dokumen perencanaan jangka
menengah. RPJMD transisi akan berfungsi sebagai menjadi pedoman dalam
penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi
pada tahun transisi, juga sebagai acuan bagi seluruh pemangku pembangunan
daerah (stakeholders) untuk mewujudkan tujuan bersama. RPJMD transisi
semacam itu juga bisa berfungsi sebagai pedoman dalam penyusunan RKPD
Kabupaten Banyuwangi dan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja
(Renja) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam tahun transisi.

9.2. Kaidah Pelaksanaan


Betapapun baiknya sebuah RPJMD, tidak akan memiliki makna yang
berarti tanpa diimplementasikan secara baik. Agar terlaksana secara baik, terdapat
sejumlah kaidah-kaidah, seperti berikut:

1. Dinas, Badan, instansi pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi dan


stakeholders yang lain, menjadikan RPJMD 2011-2015 sebagai pedoman dan
rujukan di dalam menyusun rencana dan program-program pembangunan;

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 196

2. Dinas, Badan, instansi pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi dan


stakeholders yang lain, menjadikan RPJMD 2011-2015 sebagai pedoman
dan rujukan di dalam membuat kebijakan-kebijakan yang berkaitan
dengan alokasi dan distribusi anggaran.

BUPATI BANYUWANGI

H. Drs. Abdullah Azwar Anas, M.Si

Rancangan Akhir RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2011-2015 197