Anda di halaman 1dari 89

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL .................................................................................................... iv


DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. v
BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................. 13
1.3. Tujuan Peneltian ..................................................................................... 13
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................. 14
1.5. Sistematika Penulisan ............................................................................ 14

BAB II:TELAAH PUSTAKA .................................................................................. 16


2.1. Teori Keagenan ....................................................................................... 16
2.2 Nilai Perusahaan ..................................................................................... 18
2.2.1 Tobin s Q............................................................................. 19
2.3 Kepemilikan Institusional ....................................................................... 20
2.4 Kepemilikan Manajerial .......................................................................... 24
2.5 Kepemilikan Keluarga............................................................................. 27
2.4 Manajemen laba ...................................................................................... 31
2.4.1 Defenisi Manajemen Laba .................................................... 31
2.4.2 Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba .......................... 32
2.4.3 Teknik Manajemen Laba ...................................................... 33
2.4.4 Pola Manajemen Laba ......................................................... 34
2.5 Penelitian Terdahulu ............................................................................... 35
2.6. Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis ......................... 44
2.6.1 Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba . 45
2.6.1.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap
Manajemen laba ............................................................... 45
2.6.1.2 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap
Manajemen Laba ............................................................. 46
2.6.1.3 Pengaruh kepemilikan Keluarga Terhadap Manajemen
Laba ................................................................................... 47
2.6.2 Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan.. 48
2.6.2.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai
perusahaan ....................................................................... 48

i
2.6.2.2 Pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai
perusahaan ....................................................................... 49
2.6.2.3 Pengaruh kepemilikan keluarga terhadap nilai
perusahaan ....................................................................... 50
2.6.2.4 Pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan
............................................................................................ 52
2.6.3 Pengaruh Struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan
dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi ................ 53
2.6.3.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai
perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel
mediasi .............................................................................. 53
2.6.3.2 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai
Perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai Variabel
Mediasi. ............................................................................. 55
2.6.3.3 Pengaruh kepemilikan keluarga Terhadap Nilai
Perusahaan dengan Manajemen Laba Sebagai
Variabel Mediasi ............................................................... 57
2.7. Model Penelitian ...................................................................................... 59

BAB III : METODE PENELITIAN .......................................................................... 56


3.1. Populasi dan Sampel.............................................................................. 56
3.2. Jenis dan Sumber Data.......................................................................... 58
3.3. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 59
3.4. Defenisi Operasional variabel dan Pengukuran Variabel ................. 59
3.4.1 Variabel Endogen (Dependen) ............................................. 59
3.4.2 Variabel Eksogen (Independen) ........................................... 60
3.4.3 Variabel Mediasi................................................................... 62
3.5. Teknik Analisis Data ............................................................................... 66
3.5.1. Statistik Deskriptif ................................................................. 66
3.5.2 Analisis Partial Least Square................................................ 67
3.5.3 Evaluasi Model Pengukuran (Outer model) ......................... 68
3.5.3.1 Indikator Weight ............................................................... 69
3.5.4 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) ............................... 69
3.5.4.1 Koefisien Determinasi ..................................................... 70
3.5.4.2 Model Fit Index ................................................................. 71
3.5.5 Pengujian Hipotesis ............................................................. 72

ii
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. i

iii
DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu .............................................................. 39


Tabel 3.1 : Kriteria Penetapan Sampel .................................................... 57
Tabel 3.2 : Daftar Nama Perusahaan Sampel ......................................... 57
Tabel 3.3 : Definisi Operasional Variabel ................................................. 65

iv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 1 : Nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek


Indonesia Tahun 2005-2016 ................................................. 3
Gambar 2.1 : Model Penelitian................................................................. 59
Gambar 3 1 : Diagram Jalur Penelitian ....... Error! Bookmark not defined.
Gambar 3 2 : Substruktur 1 Diagram Jalur PenelitianError! Bookmark not
defined.
Gambar 3 3 : Substruktur 2 Diagram Jalur Penelitian Error! Bookmark not
defined.

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perusahaan didirikan dikarenakan oleh banyaknya tujuan yang

hendak dicapai, salah satu tujuan perusahaan didirikan adalah untuk

meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimalkan nilai perusahaan

melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham.

Brigham (2001) menyebutkan bahwa nilai perusahaaan merupakan harga

yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut

dijual. Berbagai kebijakan diambil oleh manajemen dalam upaya

meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik

dan pemegang saham tercermin pada harga saham. Sujoko dan

Soebiantoro (2007) mendefenisikan nilai perusahaan merupakan persepsi

investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan

dengan harga saham. Haruman (2008) menjelaskan bahwa nilai

perusahaan yang tinggi akan memiliki dampak terhadap kemakmuran bagi

para pemegang saham, sehingga para pemegang saham

menginvestasikan modalnya ke perusahaan tersebut.

Nilai perusahaan menjadi salah satu faktor fundamental yang

dipertimbangkan oleh sebagian besar investor, karena pentingnya dalam

menentukan kelangsungan hidup sebuah perusahaan (Barde dan Hamidu,

2015). Pihak investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada

perusahaan yang memiliki nilai perusahaan yang tinggi untuk mendapatkan

return atas investasi yang dilakukannya.

1
Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur dengan beberapa

aspek, diantaranya adalah harga pasar pasar saham. Harga pasar dari

saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat

terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham

dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya (Mahendra,

2011). Selain harga pasar saham dalam mengukur nilai perusahaan, PBV

biasanya juga digunakan dalam mengukur nilai perusahaan. Nilai pasar

saham dan nilai buku atau disebut dengan PBV (Price to Book Value) dapat

digunakan untuk mengukur nilai perusahaan, semakin tinggi nilai PBV

(Price to Book Value), semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal

(Husnan, 2006).

Salah satu ukuran yang biasa digunakan dalam menilai suatu nilai

perusahaan adalah menggunakan rasio Tobins Q. Rasio Tobins Q

merupakan salah satu alternative pengukuran kinerja perusahaan yang

dapat digunakan dengan menggabungkan antara nilai buku dan nilai pasar

ekuitas. Rasio ini diukur dari nilai pasar ekuitas ditambah nilai buku total

kewajiban kemudian dibagi dengan nilai buku total asset (Hariati dan

Rihatiningtyas, 2015). Nilai perusahaan yang diukur dengan Tobins Q

merupakan gambaran dari kesejahteraan pemegang saham. Semakin

tinggi nilai perusahaan, maka dapat menggambarkan semakin sejahtera

pula pemiliknya (Putri dan Rohman, 2012).

Nilai perusahaan sering kali dikaitkan dengan harga saham suatu

perusahaan dipasar modal. Pada tahun 2015 indeks harga saham

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengalami stuasi

2
dengan grafik IHSG yang menurun. Artinya pada tahun 2015 tersebut harga

saham gabungan pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia

mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Berikut ini merupakan

gambar IHSG perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun

2005-2016.

Gambar 1 1: Nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek


Indonesia Tahun 2005-2016
Sumber : www.idx.com

Pada gambar 1.1 diatas dapat diketahui bahwa nilai IHSG

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2005-2016

mengalami fluktuasi yang sangat bervariasi. Akan tetapi apabila dilihat lebih

lanjut nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia pada

tahun 2009 mengalami peningkatan dari nilai sekitar 1.000 hingga akhir

tahun 2014 mendekati nilai sebesar 5.500, selanjutnya pada akhir tahun

2015 nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia

mengalami penurunan menjadi sebesar 4.000.

3
Disamping adanya fluktuasi nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di

bursa efek diatas dan turunnya nilai IHSG perusahaan pada tahun 2015

tersebut, peneliti juga melihat bahwa pada tahun 2015 tersebut terdapat

pernyataan dari pihak direktur bursa saham Indonesia yaitu Ito warsito yang

menyatakan bahwa persentase kepemilikan saham di Indonesia masih di

dominasi oleh investor institusi yang mencapai 73,14% jika dibandingkan

dengan investor individu (www.suara.com). Artinya pada tahun 2015

tersebut saham perusahaan - perusahaan yang terdaftar di bursa efek

Indonesia didominasi oleh investor institusional. Akan tetapi pada akhir

tahun 2015 tersebut tingkat IHSG perusahaan manufaktur mengalami

penurunan hingga menyentuh titik 4.500 dari nilai 5.500. Hal ini tidak sesuai

dengan teori yang menyebutkan bahwa kepemilikan saham oleh investor

institusional dapat meningkatkan nilai perusahaan, karena nilai perusahaan

itu sendiri merupakan gambaran dari harga saham perusahaan.

Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang jumlahnya

mendominasi di bursa efek Indonesia. Perusahaan manufaktur merupakan

perusahaan yang memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari

masyarakat, artinya produk perusahaan manufaktur akan selalu dibutuhkan

oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dan ini akan menyebabkan

perusahaan manufaktur akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

Disamping banyaknya jumlah perusahaan manufaktur hal ini akan memicu

terjadinya persaingan dalam menarik perhatian investor agar berinvestasi

pada perusahaan tersebut, sehingga pada akhirnya perusahaan akan

menggunakan manajemen laba dalam penyusunan laporan keuangan yang

4
bertujuan untuk menarik perhatian investor untuk berinvestasi pada

perusahaan tersebut. Perusahaan manufaktur juga merupakan perusahaan

yang memiliki kerja operasi yang sangat kompleks dibandingkan dengan

perusahaan lainnya. Sehingga hal ini akan mempermudah manajemen

dalam melakukan tindakan manajemen laba dalam penyusunan laporan

keuangan.

Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen

dapat menyebabkan kualitas laporan keuangan menjadi rendah. Hal ini

akan menyebabkan investor salah dalam membuat keputusan investasi

sehingga menyebabkan investor akan menarik kembali dana yang telah di

investasikan yang pada akhirnya akan menyebabkan nilai perusahaan

menjadi rendah atau turun.

Siahan (2013) menyatakan bahwa dalam peningkatan nilai

perusahaan dapat tercapai apabila terdapat kerja sama antara manajemen

perusahaan dengan pihak lain yang meliputi shareholder dan stakeholder

dalam membuat keputusan-keputusan keuangan dengan tujuan

memaksimumkan modal kerja yang dimiliki. Apabila tindakan antara

manajer dengan pihak lain tersebut berjalan sesuai, maka masalah diantara

kedua pihak tersebut tidak akan terjadi. Dalam kenyataanya penyatuan

kepentingan kedua pihak tersebut sering kali menimbulkan masalah.

Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (lebih-lebih yang

terdaftar di pasar modal), seringkali terjadi pemisahan antara pengelola

perusahaan (pihak manajemen, disebut juga sebagai agent) dengan

pemilik perusahaan (pemegang saham, disebut juga sebagai principal).

5
Pengelolaan yang terpisah dari pemilik (pemegang saham) memungkinkan

terjadi perbedaan kepentingan antara pihak pengelola (manajemen) dan

pemilik (pemegang saham tersebut) (Husnan, 2006) Perbedaan

kepentingan ini sering disebut sebagai agency problem.

Herawaty (2008) menjelaskan bahwa salah satu bentuk

penyimpangan yang dilakukan oleh manajemen sebagai agen yaitu dalam

proses penyusunan laporan keuangan manajemen dapat mempengaruhi

tingkat yang ditampilkan dalama laporan keuangan atau sering disebut

manajemen laba (earnings management). Tujuan manajemen laba adalah

untuk meningkatkan kesejahteraan pihak tetentu walaupun dalam jangka

panjang tidak terdapat perbedaan laba kumulatif perusahaan dengan laba

yang didapat diidentifikasikan sebagai keuntungan.

Beberapa kasus yang mencerminkan adanya permasalahan

keagenan (agency problem) yang terjadi yaitu modus kecurangan yang

terjadi pada WorldCom seperti menggolongkan pengeluaran biasa menjadi

investasi dalam pembukuan, sehingga pengeluaran tidak harus dikurangi

dari pendapatan dan keuntungan pun menjadi tampak jauh lebih besar.

Selain itu, membukukan tagihan yang tidak diakui oleh kliennya sebagai

pendapatan, dan membuat jalinan rumit transaksi-transaksi tidak terpuji

antara perusahaan dengan para eksekutifnya (www.kabarindonesia.com)

dalam Herawaty, dkk (2016). Terakhir pada tahun 2015, salah satu

perusahaan eletronik di Jepang yaitu perusahaan Thosiba yang terlibat

skandal penyimpangan akuntansi dengan menggelembungkan laba

usahaa thosiba sebesar 151,8 miliar (setara dengan Rp 15,85 triliun / US$

6
1,2 miliar) sejak tahun 2008. Dengan adanya kasus tersebut harga saham

perusahaan Toshiba menjadi turun.

Sedangkan di Indonesia permasalahan keageanan yang telah

diketahui yaitu pada kasus PT Kimia Farma Tbk yang merupakan salah satu

perusahaan manufaktur yang terindikasi melakukan manipulasi berupa

oversated dalam menilai persediaan barang jadi serta overstated dalam

mencatat nilai penjualan. Fenomena ini mengakibatkan overstated laba

pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 (Bapepam,

2002).

Siallagan dan Machfoed (2006) menyatakan bahwa tindakan

manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajer akan menyebabkan

kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan akan menurun,

sehingga menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam membuat

keputusan investasi dan pada akhir akan menyebabkan nilai perusahaan

menjadi menurun.

Menurut Jensen dan Meckling (1976), salah satu metode untuk

meminimalkan masalah keagenan adalah dengan kepemilikan saham yang

besar, dimana mayortitas pemegang saham dapat melakukan kontrol dan

fungsi monitoring terhadap manajemen. Kepemilikan saham yang besar ini

biasanya identik dengan kepemilikan institusional yang merupakan salah

satu mekanisme eksternal good corporate governance yang efektif dan

sangat penting. Kelompok investor institusional memiliki posisi untuk

mempengaruhi praktek bisnis yang diadopsi perusahaan dan kehadiran

mereka dapat menyebabkan perubahan perilaku dalam perusahaan. Hal ini

7
akibat dari pengawasan yang lebih efektif yang dilakukan oleh investor

insitusional (Velury and Jenkins, 2006).

Menurut Alves (2012) investor institusional memiliki kesempatan,

sumber daya, dan kemampuan yang lebih besar untuk memantau tindakan

manajer. Oleh karena itu, pemantauan yang efisien menunjukkan bahwa

kepemilikan institusional adalah pemantauan yang lebih baik dari kegiatan

manajemen, sehingga dapat mengurangi kemampuan manajer untuk

melakukan tindakan oportunistik memanipulasi laba.

Selain kepemilikan institusional, kepemilikan oleh pihak manajerial

juga dipercaya mampu meningkatkan nilai perusahaaan melalui

pengawasan yang dilakukan oleh pihak manajemen sendiri. Kepemilikan

manajerial diartikan sebagai persentase kepemilikan saham yang dimiliki

oleh manajer dalam suatu perusahaan (Boediono, 2005). Menurut teori

keagenan, kepemilikan saham manajerial mendorong manajer untuk

meningkatkan nilai perusahaan, karena manajer menanggung proporsi efek

kekayaan sebagai pemegang saham. Akibatnya, kepemilikan saham oleh

manajemen dapat menyebabkan konvergensi kepentingan antara manajer

dengan pemegang saham. Sebagai konsekuensinya, semakin

meningkatnya kepemilikan saham manajerial maka insentif untuk

melakukan manajemen laba akan menurun (Alves, 2012). Penelitian

Muryati dan Suardikha (2014) membuktikan bahwa kepemilikan oleh pihak

manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan

saham oleh pihak manajemen yang tinggi dapat menyatukan kepentingan

8
manajer dengan pemegang saham sehingga berdampak positif pada

peningkatan nilai perusahaan.

Struktur kepemilikan yang dipandang mampu untuk mengurangi

permasalahan keagenan selanjutnya adalah kepemilikan pihak keluarga.

Arifin (2003) menyatakan bahwa perusahaan yang sahamnya sebagian

besar dimiliki oleh keluarga dapat mengurangi masalah agensi dibanding

dengan perusahaan publik yang tidak memiliki pengendali utama.

Rendahnya biaya agensi diharapkan akan meningkatkan nilai perusahaan.

Di Indonesia sekitar 90% perusahaan yang sahamnya dimiliki dan

dikendalikan oleh satu keluarga (bukan perusahaan konglomerasi).

Burkart et al. (2003) menyatakan bahwa konsentrasi kepemilikan

keluarga memberdayakan anggota keluarga untuk mencapai tujuan mereka

lebih baik dari pada pemegang saham lainnya. Kontrol dari pihak keluarga

dapat meniadakan atau secara signifikan menghilangkan masalah

keagenan yang berasal dari konflik antara pemegang saham dan

manajer. Kekayaan keluarga terkait erat dengan kinerja

perusahaan; dengan demikian, anggota keluarga memiliki dorongan kuat

untuk mengawasi manajer dan meningkatkan kinerja perusahaan. selain itu

Pukthuanthong et al (2012) juga menyatakan bahwa nilai Tobins Q pada

perusahaan keluarga lebih tinggi dari pada perusahaan non keluarga.

Shyu (2011) dalam penelitiannya membuktikan bahwa kepemilikan

keluarga dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam hal ini adalah

tobins Q. Konsentrasi kepemilikan keluarga di Taiwan menunjukan bahwa

kekayaan keluarga berkaitan erat dengan kinerja perusahaan, dimana

9
keluarga memiliki insentif yang kuat untuk memaksimalkan kinerja

perusahaan. hal ini disebabkan oleh anggota keluarga memiliki informasi

internal yang lebih dan bisa meramal prospek dari perusahaan tertentu

dengan lebih mudah.

Penelitian mengenai struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga, terhadap

nilai perusahaan telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya. Akan

tetapi masih banyak terdapat perbedaan hasil peneltian antara satu peneliti

dengan peneliti yang lain. Muryati dan Suardikha, (2014) dalam

penelitiannya membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh pihak institusi

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan saham oleh

pihak institusional mampu menjadi mekanisme pemantauan yang efektif

terhadap kinerja manajemen yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai

perusahaan.

Berbeda dengan hasil penelitian yang oleh Zurriah (2016) yang

meneliti tentang analisis factor yang mempengaruhi nilai perusahaan

melalui praktek manajemen laba: studi pada perusahaan yang terdaftar di

JII membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh pihak insititusional tidak

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Artinya kepemilikan saham oleh

pihak institusi tidak dapat meningkatkan nilai perusahaan yang terdaftar di

JII.

Selain pengujian pengaruh langsung kepemilikan institusi terhadap

nilai perusahaan beberapa peneliti juga melakukan penelitian mengenai

pengaruh tidak langsung variabel kepemilikan institusional terhadap nilai

10
perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi. Hasil dari

penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya juga masih banyak

terdapat perbedaan hasil peneliti dengan peneliti lainnya.

Nasser (2008) menguji pengaruh struktur kepemilikan dan corporate

governance terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba dan

kebijakan hutang sebagai variabel intervening, membuktikan bahwa

manajemen laba dan hutang merupakan variable intervening pada

hubungan struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan institusional

terhadap nilai perusahaan.

Berbeda dengan hasil penelitian Pinayungan (2015) yang melakukan

penelitian yang berjudul corporate governance, manajemen laba, leverage

dan nilia perusahaan studi empiris pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2010-2013, membuktikan bahwa

manajemen laba tidak memediasi pengaruh kepemilikan institusional

terhadap nilai perusahaan,

Penelitian ini merupakan penggabungan dari penelitian yang

dilakukan oleh Thanatawee (2014) yang mana pada penelitian yang

dilakukan oleh Thanatawee (2014) menguji pengaruh kepemilikan

institusional terhadap nilai perusahaan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Alves (2012) yang menguji pengaruh struktur kepemilikan terhadap

manajemen laba. Alasan peneliti mengambil variabel struktur

kepemilikan,dalam hal ini (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial

dan kepemilikan keluarga), manajemen laba dan nilai perusahaan diteliti

adalah disebabkan oleh masih banyak terdapat perbedaan hasil penelitian

11
yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya mengenai hubungan variabel

tersebut. oleh karena itu peniliti tertarik untuk meneliti kembali bagaimana

pengaruh dari variabel-variabel tersebut khususnya pada perusahaan yang

ada di Indonesia.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah,

pada penelitian Thanatawee (2014) hanya menguji pengaruh kepemilikan

isntitusional terhadap nilai perusahaan, sedangkan pada penelitian ini

menggunakan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga

pada variabel independennya. Selain itu model penelitian ini menggunakan

variabel mediasi yaitu variabel manajemen laba (earnings management).

Alasan peneliti menggunakan manajemen laba sebagai variabel mediasi

pada pengaruh struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan adalah

masih banyaknya perbedaan hasil penelitian antara satu peneliti dengan

peneliti lainnya mengenai pengaruh struktu kepemilikan terhadap nilai

perusahaan, sehingga peneliti berasumsi bahwa manajemen laba dapat

memediasi pengaruh struktur kepemilikan terhadap nilai peruahaan.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti mengambil

judul : Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan

Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Mediasi Studi pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek indonesia Tahun

2010-2015.

12
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uarian latar belakang masalah, rumusan masalah yang

diajukan pada penelitian ini adalah:

Apakah terdapat pengaruh struktur kepemilikan dalam hal ini

kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan keluarga

terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel

mediasi?

1.3. Tujuan Peneltian

Penelitian tentang hubungan antara kepemilikan institusional,

manajemen laba dan nilai perusahaan memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pengaruh struktur kepemilikan terhadap

manajemen laba.

b. Untuk mengetahui pengaruh struktur kepemilikan terhadap nilai

perusahaan.

c. Untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap nilai

perusahaan.

d. Untuk mengetahui pengaruh tidak langsung struktur kepemilikan

terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai

variabel mediasi

e. Untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung

kepemilkan keluarga terhadap nilai perusahaan dengan

manajemen laba sebagai variabel mediasi

13
f. Untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap nilai

perusahaan.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut:

a. Bagi penulis dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan dan

lebih memahami mengenai bagaimana pengaruh antara variabel

struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan institusional,

kepemilikan manajerial, dan kepemilikan keluarga terhadap nilai

perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi.

b. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan referensi

tambahan dan pembanding untuk penelitian selanjutnya dengan

menggunakan topik yang sama atau variabel dependen yang

sama.

1.5. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai bagian-

bagian yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka penulis

menguraikan secara singkat isi masing-masing bab dengan

sistematika sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan tentang

hal-hal pokok dalam penelitian yang meliputi: latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

14
BAB II : Tinjauan Pustaka

Bab ini akan diuraikan teori-teori yang melandasi penelitian

ini.

BAB III : Metodologi Penelitian

Bab ini menjelaskan metode-metode penelitian yang

digunakan dalam penulisan penelitian, meliputi :

populasi dan sampel, jenis dan sumber data, teknik

pengumpulan data, definisi operasional variabel, metode

analisis data dan pengujian hipotesis

15
BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1. Teori Keagenan

Anthony dan Govindarajan (2005: 269) mendefinisikan konsep teori

keagenan adalah hubungan agensi ada ketika salah satu pihak (prinsipal)

menyewa pihak lain (agen) untuk melaksanakan suatu jasa dan, dalam

melakukan hal itu, mendelegasikan wewenang untuk membuat keputusan

kepada agen tersebut. Dalam suatu korporasi, pemegang saham

merupakan principal dan CEO adalah agen mereka. Pemegang saham

mempekerjakan CEO untuk bertindak sesuai dengan kepentingan principal.

Salah satu elemen kunci dari teori agensi ialah bahwa principal dan agen

memiliki preferensi atau tujuan yang berbeda. Agency theory memiliki

asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh

kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan

antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak

untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas perusahaannya yang

selalu meningkat.

Teori keagenan menganalisis kepentingan dan perilaku dari pihak

yang bertindak sebagai pembuat keputusan bagi pihak lain yang bertindak

sebagai pemberi wewenang kepada pihak pertama dengan maksud agar

pihak pertama bertindak dan membuat keputusan sesuai dengan

kepentingannya selaku pemberi wewenang. Jensen dan Meckling (1976)

mendefinisikan hubungan keagenan (agency relationship) sebagai kontrak

di mana satu atau lebih orang (pemilik atau principal) mengikat orang lain

16
(agent) untuk melakukan beberapa jasa atas kepentingannya dan

melibatkan pendelegasian beberapa otoritas pembuat keputusan kepada

agen. Asumsi yang mendasari teori keagenan adalah pihak manajemen

digaji tetap dengan kurangnya aktivitas pengawasan (monitoring) serta

kurangnya kesediaan agen membatasi aktivitasnya agar sesuai kontrak.

Agen secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan

keuntungan para prinsipal. Namun disisi kepentingan pribadi, agen juga

mempunyai kepentingan memaksimumkan kesejahteraan mereka.

Sehingga ada kemungkinan besar agen tidak selalu bertindak demi

kepentingan terbaik prinsipal (Jensen dan Meckling, 1976).

Konflik kepentingan yang mungkin terjadi karena perbedaan

kepentingan antara principal dan agen dapat menyebabkan timbulnya biaya

keagenan. Menurut Jensen & Meckling (1976) terdapat tiga jenis biaya

keagenan yaitu :

1. Biaya pengawasan (monitoring cost) : biaya yang dikeluarkan

oleh principal untuk mengawasi agen sehingga dapat membatasi

aktivitas yang menyimpang dari agen yang disebabkan

perbedaan kepentingan antara agen dan principal.

2. Biaya yang mengikat (bonding cost) : sumber daya perusahaan

yang dibelanjakan agen untuk menjamin bahwa agen tidak akan

bertindak yang dapat merugikan principal atau untuk meyakinkan

bahwa principal akan memberikan kompensasi jika dia benar

benar melakukan tindakan tersebut.

17
3. Biaya residu ( residual cost) : nilai uang yang ekuivalen dengan

pengurangan kesejahteraan yang dialami principal jika terjadi

divergensi antara keputusan keputusan yang dapat

memaksimalkan kesejahteraan agen

Agen sebagai pihak yang menghasilkan laporan keuangan memiliki

keinginan untuk mengoptimalisasi kepentingannya, sehingga dimungkinkan

agen melakukan manipulasi data atas kondisi perusahaan. Optimalisasi

kepentingan baik prinsipal maupun agen yang tidak sesuai dapat

menimbulkan terjadinya asimetri informasi. Asimetri informasi dan konflik

kepentingan ini mendorong agen untuk menyajikan informasi yang tidak

sebenarnya kepada prinsipal, terutama jika informasi tersebut berkaitan

dengan kinerja agen (Widyaningdyah, 2001).

2.2 Nilai Perusahaan

Sujoko dan Soebiantoro, (2007) mendefiniskan nilai perusahaan

sebagai persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang

sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat

nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat

pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga

pada prospek perusahaan di masa depan. Sedangkan Sukirni (2012)

menjelaskan bahwa nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang

telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan

masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan

selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai

dengan saat ini.

18
Brigham (1996) menyebutkan nilai Perusahaan merupakan nilai atau

harga pasar yang berlaku atas saham umum perusahaan. Nilai perusahaan

sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh

tingginya kemakmuran pemegang saham. Tujuan utama perusahaan

adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi

dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, dan para

pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada perusahaan

tersebut (Permanasari, 2010),

2.2.1 Tobin s Q

Tobins q adalah indikator untuk mengukur kinerja perusahaan,

khususnya tentang nilai perusahaan, yang menunjukkan suatu proforma

manajemen dalam mengelola aktivitas perusahaan. Nilai Tobins Q

menggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki perusahaan

atau potensi pertumbuhan perusahaan. Tobins Q merupakan salah satu

rasio yang digunakan perusahaan dalam mengukur nilai pasar perusahaan.

Rasio Tobins Q merupakan salah satu alternative yang digunakan dalam

menentukan nilai perusahaan yang dikembangkan`oleh Professor James

Tobin. Rasio ini merupakan konsep yang penting karena menunjukan

estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai pengembalian dari setiap

rupiah investasi incremental. Penjelasan dari nilai rasio - Q ini adalah:

1. Jika rasio-q di atas satu, ini menunjukkan bahwa investasi dalam

aset menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi

daripada pengeluaran investasi, hal ini akan meransang investasi

baru karena investor menilai perusahaan tinggi dan mempunyai

19
kinerja baik dan dinilai mampu menghasilkan aliran kas yang lebih

baik dimasa yang akan datang.

2. Jika rasio-q dibawah satu, investasi dalam aset dinilai rendah oleh

pasar. Hal ini akan menyebabkan investor enggan untuk

melakukan investasi pada perusahaan tersebut.

Mokhtari, et al (2013) menyebutkan bahwa rasio Tobins Q

digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai kinerja perusahaan.

Apabila rasio hasil perhitungan Tobins Q > 1, artinya terdapat insentif yang

kuat untuk melakukan investasi, yang berarti peluang pertumbuhan yang

berharga bagi perusahaan. Penurunan rasio Tobins Q dari waktu ke waktu

merupakan pencerminan penurunan nilai perusahaan.

2.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institutional merupakan persentase kepemilikan saham

oleh investor institutional, seperti perusahaan investasi, bank, perusahaan

asuransi maupun kepemilikan lembaga dan perusahaan lain (Tarjo, 2008)

Struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan institusional) oleh

beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan

yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai

tujuan perusahaan yaitu peningkatan nilai perusahaan. Menurut Jensen

dan Meckling (1976), kepemilikan institusional merupakan salah satu alat

yang dapat digunakan untuk mengurangi agency conflict. Dengan kata lain

semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional, semakin kuat tingkat

pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan,

20
sehingga agency cost yang terjadi di dalam perusahaan semakin berkurang

dan nilai perusahaan juga semakin meningkat.

Menurut Pozen (1994) investor institusi dapat dibedakan menjadi

dua yaitu investor pasif dan investor aktif. Investor aktif ingin terlibat dan

aktif dalam pengambilan keputusan manajerial sedangkan investor pasif

tidak terlalu ingin terlibat atau pasif dalam pengambilan keputusan

manajerial. Keberadaan institusional ini mampu menjadi alat monitoring

efektif bagi perusahaan.

Dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional

diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih

baik dibandingkan investor individual. Kepemilikan institusional mewakili

suatu sumber kekuasaan (source of power) yang dapat digunakan untuk

mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen.

Kepemilikan saham oleh investor iinstitusional seperti bank,

asuransi, dan insititusi lainnya memiliki kemampuan dan pengalaman yang

baik di bidang bisnis dan keuangan, sehingga akan mendorong

peningkatan efektifitas pengawasan kinerja manajemen, dimana fungsi

pengendalian akan semakin efektif. Semakin besar kepemilikan saham oleh

investor institusional, maka semakin besar kekuatan suara dan dorongan

institusi keuangan untuk mengawasi manajemen, sehingga dapat

mendisiplinkan kinerja manajer untuk bertindak memaksimalkan

kesejahteraan pemegang saham dan memberikan dorongan yang lebih

besar untuk mengoptimalkan nilai perusahaan (Haryono, dkk. 2015).

21
Investor institusional merupakan salah satu komponen dalam

mekanisme good corporate governance. Thantawee (2014) menyatakan

bahwa dengan besarnya kepemilikan saham institusional, investor

institusional akan memiliki insentif yang kuat untuk memantau perilaku

manajer dalam menjalankan perusahaan serta memberikan peran

pengawasan yang efektif, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai

perusahaan.

Penelitian Wening (2009) membuktikan bahwa semakin besar

kepemilikan oleh institusi keuangan maka semakin besar pula kekuatan

suara dan dorongan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan. Kepemilkan

Institusional memiliki kelebihan antara lain:

1. Memiliki profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga

dapat menguji keandalan informasi.

2. Memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan pengawasan lebih

ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.

Kepemilikan oleh pihak institusional menurut Hassan (2011) dapat

mengurangi tindakan opportunistic pihak manajemen dalam menjalankan

perusahaan, hal ini disebabkan oleh pihak institusional memiliki sumber

daya yang lebih untuk mengawasi dan mendisiplinkan manajer untuk

bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham minoritas, serta

pihak institusional juga memiliki keahlian dalam keuangan yang

memungkinkan mereka untuk mendeteksi prilaku opportunistic manajer.

Beberapa peneliti telah melakukan penelitian mengenai kepemilikan

institusional. Baik itu pengaruhnya terhadap nilai perusahaan atau pun

22
terhadap manajemen laba. Beberapa peneliti tersebut meyakini bahwa

dengan kepemilkan institusi yang besar mampu mempengaruhi jalannya

perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan

dengan kinerja yang baik, maka nilai perusahaan akan meningkat.

Thanatawee (2014) dalam penelitiannya membuktikan bahwa

investor institusional memberikan peran pengawasan yang efektif,

sehingga meningkatkan nilai perusahaan bagi perusahaan-perusahaan

Thailand. Hal ini berarti semakin tinggi kepemilikan institusional dalam

suatu perusahaan maka hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan

disebabkan efektifnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi.

Menurut Alves (2012) investor institusi memiliki kesempatan, sumber

daya, dan kemampuan yang lebih besar untuk memantau tindakan

manajer. Oleh karena itu, pemantauan yang efisien menunjukkan bahwa

kepemilikan institusional adalah pemantauan yang lebih baik dari kegiatan

manajemen,sehingga dapat mengurangi kemampuan manajer untuk

melakukan tindakan oportunistik memanipulasi laba.

Cornet et al. (2008) dalam penelitiannya membuktikan bahwa

manajemen laba secara signifikan dikurangi dengan pemegang saham

institusional apakah pemegang saham institusional diukur berdasarkan

proporsi saham yang dimiliki oleh semua institusi pemegang saham atau

dengan keterlibatan institusional dalam perusahaan.

Gideon (2005) menyatakan melalui mekanisme kepemilikan

institusional, efektivitas pengelolaan sumber daya perusahaan oleh

manajemen dapat diketahui dari informasi yang dihasilkan melalui reaksi

23
pasar atas pengumuman laba. Kepemilikan institusional memiliki

kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses

monitoring secara efektif sehingga mengurangi tindakan manajemen untuk

melakukan manajemen laba. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh

institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang

tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak

manajemen.

2.4 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan (Boediono, 2005).

Kepemilikan manajerial dapat diartikan sebagai pemegang saham dari

pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan

perusahaan (Direktur dan Komisaris).

Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara

manajer dan pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang

biasa disebut agency conflict. Konflik kepentingan yang sangat potensial ini

menyebabkan pentingnya suatu mekanisme yang diterapkan guna

melindungi kepentingan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976).

Shleifer dan Vishny dalam Siallagan dan Machfoedz, (2006)

menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi nilai

ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Secara teoritis ketika

kepemilikan manajemen rendah, maka insentif terhadap kemungkinan

terjadinya perilaku oportunistik manajer akan meningkat. Menurut Jensen

dan Meckling (1976) kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan

24
dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara

pemegang saham luar dengan manajemen. Dengan adanya kepemilikan

manajemen dalam sebuah perusahaan akan menimbulkan dugaan yang

menarik bahwa nilai perusahaan meningkat sebagai akibat kepemilikan

manajemen yang meningkat. Kepemilikan oleh manajemen yang besar

akan efektif memonitoring aktivitas perusahaan (Permanasari, 2010)

Ruan (2011) dalam penelitian yang dilakukannya membuktikan

bahwa kepemilikan manajerial memiliki hubungan nonlinier terhadap nilai

perusahaan. penelitian tersebut membuktikan bahwa Tobin Q meningkat

ketika kepemilikan saham oleh pihak manajerial sebesar 17,5 %, kemudian

menurun ketika kepemilkan manajerial mencapai 64,3%. Setelah itu tobin

Q mengalami sedikit peningkatan ketika kepemilikan pihak manajerial

mencapai lebih dari 64,3%.

Alves (2012) menyatakan bahwa dalam teori keagenan, kepemilikan

saham manajerial dapat mendorong manajer untuk meningkatkan nilai

perusahaan, karena manajer menanggung proporsi efek kekayaan sebagai

pemegang saham. Akibatnya, kepemilikan saham oleh manajemen dapat

menyebabkan menyamakan kepentingan antara manajer dengan

pemegang saham. Sebagai konsekuensinya, semakin meningkatnya

kepemilikan saham oleh pihak manajerial maka insentif untuk melakukan

manajemen laba akan menurun.

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan salah satu cara untuk

mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham

oleh manajemen. Proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer

25
dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Kepemilikan manajerial akan

mensejajarkan kepentingan manajamen dan pemegang saham (outsider

ownership), sehingga akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan

yang diambil serta menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari

pengambilan keputusan yang salah. Pernyataan tersebut menyatakan

bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan,

maka manajemen cenderung lebih giat untuk kepentingan pemegang

saham yang notabene adalah dirinya sendiri (Wahyudi dan Pawestri, 2006).

Kepemilikan manajerial akan mensejajarkan manajer dengan

pemegang saham sehingga manajer akan bertindak sesuai dengan

keinginan pemegang saham. Dengan adanya kepemilikan manajerial maka

manajer akan lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hal

ini karena manajer merupakan salah satu pemilik perusahaan dan bukan

hanya sebagai pihak eksternal yang dipekerjakan untuk memenuhi

kepentingan pemilik perusahaan. Manajer memegang peranan penting

karena manajer melaksanakan perencanaan, pengorganisasian,

pengarahan, pengawasan serta pengambil keputusan (Sukirni, 2012)

Menurut Boediono (2005) Dari sudut pandang teori akuntansi,

manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan.

Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen laba yang

berbeda, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang

saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Hal ini sesuai

dengan sistem pengelolaan perusahaan dalam dua kriteria: perusahaan

dipimpin oleh manajer dan pemilik (owner-manager); dan perusahaan yang

26
dipimpin oleh manajer dan non pemilik (non owners-manager). Dua kriteria

ini akan mempengaruhi manajemen laba, sebab kepemilikan seorang

manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan

terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang

mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu

kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi

tindakan manajemen laba.

Dalam penelitian yang dilakukan Ujiyantho dan Pramuka (2007)

membuktikan bahwa kepemilikan oleh pihak manajerial mampu menjadi

mekanisme corporate governance yang dapat mengurangi

ketidakselarasan kepentingan anatara manajemen dengan pemilik atau

pemegang saham.

2.5 Kepemilikan Keluarga

Kepemilikan keluarga merupakan kepemilikan saham oleh individu

maupun perusahaan yang bukan public (Faccio dan Lang , 2002). Morck

dan Yeung (2004) mendefinisikan kepemilikan keluarga adalah kepemilikan

saham oleh keluarga atau sekelompok orang yang masih memiliki relasi

kerabat umumnya terdapat pada perusahaan keluarga yang sudah

diwariskan turun temurun. Perusahaan keluarga memiliki ciri khas yaitu

umumnya memiliki struktur piramida yang menunjukan hubungan antara

perusahaan induk (parent) dengan beberapa perusahaan anak.

Perusahaan dikatakan dimiliki oleh keluarga (family owned) jika

keluarga tersebut merupakan controlling shareholders, atau mempunyai

27
saham setidaknya 20% dari voting rights dan merupakan pemilik saham

tertinggi dibandingkan dengan shareholders lainnya (Chakrabarty, 2009).

Sirmon dan Hitt (2003) dalam Phuktuantong et, al (2012) menyebutkan

bahwa perusahaan keluarga memiliki keuntungan dari perusahaan non

keluarga dalam empat bidang, yaitu:

1. Kelebihan pada modal manusianya

Perusahaan keluarga cenderung memiliki sumber daya manusia

yang lebih baik dari pada non keluarga, karena mereka

menunjukan komitmen yang lebih kuat terhadap tenaga kerja yang

dihasilkan lebih hangat, ramah, dan hubungan kerja lebih intim.

2. Kelebihan pada modal sosial

Melibatkan hubungan antara individu-individu yang berbeda dalam

organisasi yang sama oleh keluarga yang sama merupakan aset

penting karena memungkinkan komunikasi lebih mudah dan

adanya perasaan "kekeluargaan."

3. Kelebihan pada modal keuangan

Modal keuangan merupakan aset berharga bagi perusahaan

keluarga karena merupakan modal finansial yang diinvestasikan

dalam waktu lama tanpa ancaman likuidasi. Perusahaan keluarga

yang memiliki modal ini memiliki keunggulan dalam mengejar

strategi yang lebih kreatif dan inovatif yang seringkali

membutuhkan waktu lama untuk mengeksekusi.

4. Keuntungan dari modal bertahan hidup

28
Bisnis keluarga cenderung mendapatkan keuntungan dari modal

bertahan hidup, yang mewakili mengumpulkan sumber daya

pribadi yang dipinjamkan oleh anggota keluarga untuk keuntungan

bisnis mereka. Selain itu, seringkali mencakup tenaga kerja pribadi

yang dimasukkan anggota bisnis keluarga. Modal yang dapat

bertahan dapat membantu bisnis keluarga mempertahankan diri

selama kemerosotan ekonomi karena keluarga memiliki dorongan

kuat untuk memperjuangkan kelangsungan hidup perusahaan

mereka daripada investor dan / atau manajer yang tidak terafiliasi.

Andreas (2008) dalam Puktuantong et, al (2012) menyebutkan

bahwa kepemilikan pihak keluarga memiliki insentif yang kuat untuk

meluangkan waktu dan uang untuk mengawasi manajer untuk mengurangi

biaya agensi dan meningkatkan kinerja parusahaan. Selain itu kepemilikan

keluarga memiliki insentif yang lebih kuat dari pada pemegang saham besar

lainnya karena mereka menginvestasikan kekayaan pribadi mereka di

perusahaan, dan karena mereka tidak terdiversifikasi dengan baik,

sehingga pemegang saham keluarga lebih memperhatikan kinerja

perusahaan dan memiliki insentif yang lebih kuat untuk memantau para

manajer.

Caselli dan Gennaioli (2002) dan Burkart et al. (2003) menyatakan

bahwa konsentrasi kepemilikan memberdayakan anggota keluarga untuk

mencapai tujuan mereka lebih baik dari pada pemegang saham

lainnya. Pengendalian dari keluarga dapat meniadakan atau secara

signifikan menghilangkan masalah keagenan yang berasal dari konflik

29
antara pemegang saham dan manajer. Kekayaan keluarga terkait erat

dengan kinerja perusahaan; Dengan demikian, anggota keluarga memiliki

dorongan kuat untuk mengawasi manajer dan meningkatkan kinerja

perusahaan (Shyu, 2011).

Kepemilikan keluarga lebih berfokus pada investasi jangka panjang,

hal ini terlihat dari keputusan investasi yang dibuat oleh perusahaan

keluarga yang biasanya dibuat untuk memaksimalkan keuntungan jangka

panjang,bukan untuk memaksimalkan keuntungan jangka pendek (james,

1999).

Casson (1999) dan Chami (1999) menyatakan bahwa perusahaan

keluarga memperlakukan perusahaan bukan sebagai bagian dari kekayaan

mereka, tapi sebagai asset bagi keturunan mereka. Kelangsungan hidup

perusahaan adalah perhatian utama, hal ini menunjukan bahwa anggota

keluarga adalah pendukung peningkatan nilai perushaan jangka panjang.

Saleem (2016) menyatakan bahwa kepemilikan keluarga dapat

menurunkan tindakan manajemen laba dalam suatu perusahaan, Artinya

dengan adanya kepemilikan keluarga pada perusahaan maka hal ini akan

memberikan peran pengawasan terhadap pihak manajemen perusahaan

sehingga tindakan manajemen untuk melakukan manajemen laba menjadi

berkurang.

Shyu (2011) dalam penelitiannya membuktikan bahwa kepemilikan

keluarga dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam hal ini adalah

tobins Q. Konsentrasi kepemilikan keluarga di Taiwan menunjukan bahwa

kekayaan keuarga berkaitan erat dengan kinerja perusahaan, dimana

30
keluarga memiliki insentif yang kuat untuk memaksimalkan kinerja

perusahaan. hal ini disbebkan oleh anggota keluarga memiliki informasi

internal yang lebih dan bisa meramal prospek dari perusahaan tertentu

dengan lebih mudah.

2.4 Manajemen laba

2.4.1 Defenisi Manajemen Laba

Manajemen laba adalah suatu tindakan intervensi yang dilakukan

manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk

memenuhi kebutuhan pribadi. Sering kali proses ini mencakup

mempercantik laporan keuangan terutama angka yang paling bawah, yaitu

laba (Schipper (1989) dalam Subramanyam (2010)

Scott (2000) dalam Rahmawati dkk. (2006) membagi cara

pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.

1. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk

memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak

kompensasi, kontrak utang, dan political costs (opportunistic

earnings management).

2. Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif

efficient contracting (efficient earnings management), dimana

manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk

melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi

kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak

yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat

mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui manajemen laba,

31
misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan

pertumbuhan laba sepanjang waktu.

2.4.2 Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba

Positive Accounting Theory menjelaskan tiga hipotesis yang

mendorong manajer perusahaan melakukan tindakan manajemen yang

dirumuskan oleh Watts dan Zimmerman (1986) dalam Halim (2005) adalah

a. The bonus plan hypothesis

Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus,

manajemen perusahaan akan lebih memilih metode akuntansi yang

dapat menggeser laba dari masa depan ke masa kini sehingga dapat

menaikkan laba saat ini. Hal ini dikarenakan manajer lebih menyukai

pemberian upah yang lebih tinggi untuk masa kini. Dalam kontrak bonus

dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk

mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Pada saat laba

berada di bawah atau bogey, tidak ada bonus yang diperoleh manajer.

Sedangkan pada laba berada di atas atau cap, manajer tidak akan

mendapat bonus tambahan. Sehingga jika laba bersih berada di atas

atau cap, maka manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan

memperoleh bonus pada periode berikutnya, sebaliknya jika laba

berada di bawah atau bogey. Jadi hanya jika laba bersih berada di

antara bogey dan cap, manajer akan berusaha menaikkan laba bersih

perusahaan

b. The debt to equity hypothesis (debt covenant hypothesis)

32
Pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity tinggi,

manajer perusahaan cenderung menggunakan metode akuntansi yang

dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan yang memiliki

rasio debt to equity yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam

memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor bahkan perusahaan

terancam melanggar perjanjian utang.

c. The political cost hypothesis (size hypothesis)

Pada perusahaan besar yang memiliki biaya tinggi, manajer

akan lebih memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang

dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga

dapat memperkecil laba yang dilaporkan. Biaya ini muncul dikarenakan

profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan

konsumen.

2.4.3 Teknik Manajemen Laba

Menurut Setiawati dan Naim (2000), teknik dan pola manajemen

laba dapat dilakukan dengan tiga teknik antara lain:

a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi.

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement

(perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat

piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau

amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi dan lain-lain.

b. Mengubah metode akuntansi.

Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat

suatu transaksi, contohnya mengubah metode depresiasi aktiva tetap

33
dengan cara perhitungan dan pencatatan depresiasi aktiva tetap dari

metode depresiasi angka tahun menjadi metode depresiasi garis lurus.

c. Menggeser periode biaya atau pendapatan.

Rekayasa periode atas biaya atau pendapatan, dapat dicontohkan

dengan mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan

pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya,

mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode

berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke

pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak

terpakai.

2.4.4 Pola Manajemen Laba

Manajemen memiliki beragam strategi dalam melakukan manajemen

laba. Subramanyam (2010 : 131) membagi 3 jenis strategi manajemen laba

yang sering dilakukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan manajemen

laba jangka panjang dengan memilih satu atau kombinasi dari 3 strtegi ini,

yaitu:

a. Meningkatkan laba

Salah satu teknik manajemen laba adalah meningkatkan laba yang

dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandang

lebih baik. Cara ini juga memungkinkan peningkatan laba selama

beberapa periode.

b. Big bath

Strategi big bath dilakukan melalui penghapusan (write off) aktiva

sebanyak mungkin pada suatu periode. Periode ini yang dipilih

34
biasanya periode dengan kinerja yang buruk atau peristiwa saat terjadi

satu kejadian yang tidak biasa seperti perubahan manajemen, marger

atau restrukturisasi.

c. Perataan laba

Perataan laba merupakan bentuk umum manajemen laba. Pada

strategi ini, manejer meningkatkan atau menurunkan laba yang

dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya. Perataan laba juga

mencakup tidak melaporkan bagian laba pada periode baik dengan

menciptakan cadangan atau bank laba dan kemudian melaporkan laba

ini pada periode yang buruk.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai hubungan kepemilikan institusional,kepemilikan

manajerial dan kepemilikan keluarga terhadap manajemen laba dan nilai

perusahaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Berikut ini

merupakan beberapa penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian

yang akan peneliti teliti.

Thanatawee (2014) melakukan penelitian yang berjudul kepemilikan

institusional dan nilai perusahaan di Thailand. Penelitian tersebut dilakukan

pada perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Thailand tahun 2007-2011

membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh pihak institusional dapat

meningkatkan tatakelola perusahaan yang baik melalui pengawasan yang

efektif yang dilakukan oleh pihak investor institusional, sedangkan

kepemilikan institusional asing tidak aktif dalam memantau para manajer

35
dan bahkan bisa jadi mengambil alih sumber daya perusahaan dengan

mengorbankan pemegang saham minoritas.

Alves (2012) meneliti tentang pengaruh struktur kepemiikan dalam hal

ini (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan

terkonsetrasi) terhadap manajemen laba pada perusahaan yang berada di

Portugal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Alves (2012) membuktikan

bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap manajemen

laba, sedangkan kepemilikan manajerial dan kepemilikan terkonsentrasi

berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Saleem (2016) meneliti struktur kepemilikan terhadap manajemen

laba: bukti dari Jordan. Struktur kepemilikan yang digunakan pada

penelitian tersebut adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan

isntitusional, kepemilikan keluarga dan kepemilikan asing. Hasil penelitian

yang dilakukan oleh Saleem (2016) membuktikan bahwa struktur

kepemilikan dalam hal ini kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,

kepemilikan keluarga dan kepemilikan asing berpengaruh negaif terhadap

manajemen laba.

Puktuanthong (2013) meneliti apakah kepemilikan keluarga membuat

atau menghancurkan nilai perusahaaan pada perusahaan yang ada di

Canada. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Puktuanthong (2013)

membuktikan bahwa kepemilikan oleh keluarga mampu menjadi

mekanisme yang dapat mengurangi permasalahan agensi antara pemilik

saham dengan pihak manajemen yang pada akhirnya dapat meningkatkan

nilai perusahaan.

36
Purwaningtyas dan Pengestuti (2010) meneliti pengaruh mekanisme

good corporate governance (kepemilikan institusional, kepemilikan

manajemen, dewan komisaris, komite audit dan dewan direksi) terhadap

nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada

tahun 2007-2009. Pada penelitian tersebut menunjukan bahwa kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial dan ukuran dewan direksi

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Nasser (2008) meneliti pengaruh struktur kepemilikan dan dewan

komisaris independen terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba

dan kebijakan hutang sebagai variable intervening. Pada penelitian tersebut

menunjukan bahwa kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional

berpengaruh positif terhadap manajemen laba, variable komisaris

independen berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Penelitian

tersebut juga menunjukan bahwa variabel corporate governance dalam hal

ini kepemilikan manaajerial dan dewan komisaris tidak berpengaruh

signifikan terhadap nilai perusahaan dan variabel kepemilikan institusional

berpengaruh negative signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian

Nasser (2008) juga menunjukan bahwa manajeme laba merupakan

variabel intervening pada pengaruh variabel kepemilikan manajerial,

kepemilkan institusional dan komisaris independen terhadap nilai

perusahaan.

Pinayungan (2015), meneliti tentang Corprate governance dalam hal

ini (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial), manajemen laba,

leverage dan nilai perusahaan dengan sampel perusahaan ,manufaktur

37
yang terdaftar di BEI tahun 2010-2013. Hasil penelitian tersebut

menemukan bahwa kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial

berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Selanjutnya kepemilikan

institusional, manajemen laba dan leverage berpengaruh positif terhadap

nilai perusahaan. pada penelitian tersebut juga menunjukan bahwa

manajemen tidak memediasi hubungan antara mekanisme corporate

governance terhadap nilai perusahaan.

Zurriah (2016) meneliti analisis factor yang mempengaruhi nilai

perusahaan melalui praktek manajemen laba, studi pada perusahaan yang

terdaftar di Jakarta Islamic Index. Penelitian tersebut membuktikan bahwa

kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris,

arus kas bebeas, ukuran perusahaan dan leverage secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Secara parsial

kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris

dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

sedangkan arus kas bebas dan ukuran perusahaan berpengaruh positif dan

signifikan terhadap nilai perusahaan. Menajemen laba rill berpengaruh

negatif dan siginifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil uji

Sobel pada variabel kepemilikan institusional, komisaris independen,

ukuran dewan komisaris, arus kas bebas dan ukuran perusahaan

menunjukkan bahwa manajemen laba rill tidak terbukti sebagai variable

intervening. Sedangkan hasil uji Sobel pada varibael leverage menunjukkan

bahwa manajemen laba rill terbukti sebagai variabel intervening.

38
Berikut ini merupakan table ringkasan penelitian terdahulu yang

berkaitan dengan penelitian akan peneliti laksanakan:

Tabel 2. 1 : Penelitian Terdahulu


Peneliti Persamaan dan
No Judul Variabel Hasil
(tahun) Perbedaan

1 Thanatawe Institutional Dependen: Persamaan :


e (2014) Owneship - Firm value - Variabel
and Firm dependen yaitu
Value in Independen: nilai
Thailand - Institusional - Berpengaruh perusahaan.
(2014) ownsership positif - Variabel
independen nya
yaitu :
kepemilikan
institusional

Perbedaan :
- Variable
independen
yang digunakan
adalah
kepemilikan
isntitusional,
kepemilikan
manajerial dan
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

2 Sandra Ownership Dependen: Persamaan :


Alves Structure and - Manajemen - Variabel
(2012) Earnings laba independen nya
Management yaitu :
: Eviden from Independen: - Berpengaruh kepemilikan
Portugal - kepemilikan positif institusional,
institusional - Berpengaruh kepemilikan
- Kepemilikan negative manajerial
manajerial - Berpengaruh
- Kepemilikan negative Perbedaan :
terkonsentra - Variable
si independen
yang digunakan
adalah

39
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba,
sedangkan
pada penelitian
Alves, variabel
manajemen
laba merupakan
variabel
dependenden
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

3 Ebraheem Ownership Dependen: Persamaan :


Saleem Structure and - Earnings - Variabel
Salem earnigs managemen independen nya
Alzoubi management t yaitu :
(2016) : eviden from kepemilikan
Jordan Independen: - Berpengaruh (-) institusional,
- kepemilikan kepemilikan
institusional - Berpengaruh (-) manajerial dan
- Kepemilikan kepemilikan
manajerial - Berpengaruh (-) keluarga
- Kepemilikan - Terdapat
keluarga - Berpengaruh (-) variabel yang
- Kepemilikan sama yang diuji
asing Yaitu
manajemen
laba

Perbedaan :
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur
- Pada penelitian
ini variabel
dependennya
adalah nilai
perusahaan

4 Kuntara Does family Dependen: Persamaan :


Pukthuant ownership - Nilai - Variabel
hong create or Perusahaan dependen yaitu
(2013) destroy value

40
? Eviden Independen: nilai
from Canada - kepemilikan - Berpengaruh(+) perusahaan.
keluarga - Variabel
independen nya
yaitu :
kepemilikan
keluarga

Perbedaan :
- Pada penelitian
ini
menggunakan
variabel
independen ny
adalah
kepemilikan
institusional,
kepemilikan
manajerial dan
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

5 Purwaning Analisis Dependen: Persamaan :


tyas dan pengaruh - Nilai - Variabel
Pengestuti mekanisme Perusahaan dependen yaitu
(2010) good nilai
corporate Independen: perusahaan.
governance - kepemilikan - Berpengaruh(+) - Variabel
terhadap nilai institusional independen nya
perusahaan. - Kepemilikan - Berpengaruh(+) yaitu :
manajerial kepemilikan
- dewan - Tidak institusional,
komisaris berpengaruh kepemilikan
independen manajerial

- dewan - Berpengaruh(+)
direksi Perbedaan :
- Pada penelitian
- komite audit - Tidak ini
berpengaruh menggunakan
variabel
independen ny
adalah
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat

41
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

6 Ferdawati Pengaruh Dependen: Persamaan :


(2009) manajemen - Nilai - Variabel
laba real Perusahaan dependen yakni
terhadap nilai nilai
perusahaan Independen: perusahaan.
- manajemen - Berpengaruh(+)
laba real Perbedaan :
- Pada penelitian
ini
menggunakan
variabel
independen
kepemilikan
instiotusional,
kepemilikan
manajerial dan
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

7 Kurnia Corporate Dependen: - Kepemilikan Persamaan :


Pinayungan Governance, - Nilai manajerial dan - Variabel
(2015) Manajemen Perusahaan institusional dependen yakni
Laba, berpengaruh nilai
Leverage Independen: negative perusahaan.
Dan Nilai - Kepemilikan terhadap - Variabel
Perusahaan institusional manajemen independe :
- Kepemilikan laba. kepemilikan
Manajerial institusional dan
- Komite audit - Kepemilikan keoemilikan
- Manajemen institusional, manajerial
laba manajemen
- Leverage. laba dan Perbedaan :
-. leverage - Variabel
berpengaruh independennya
postif terhadap penleitia
nilai menggunakan
perusahaan. variabel
kepemilikan
keluarga.

42
Manajemen laba - Tahun
bukan variabel pengamatan
intervening. yaitu tahun
2010-2013.

8 Etty M. Pengaruh Dependen: Persamaan :


Nasser Struktur - Nilai - Variabel
(2008) Kepemilikan Perusahaan dependen yakni
dan Dewan nilai
Komsiaris Independen: perusahaan.
independen - Kepemilikan - Berpengaruh (-) - Variabel
Terhadap institusional independen :
nilai - Kepemilikan - Tidak kepemilikan
perusahaan Manajerial Berpengaruh institusional dan
dengan - Dewan - Tidak kepemilikan
manajemen komisaris Berpengaruh manajerial
laba dan independen, - Varibel
kebijakan intervening :
hutang Intervening: manajemen
sebagai - Manajemen - Kepemilikan laba
variable laba manajerial Perbedaan :
intervening Kebijakan ,Kepemilikan - Tidak terdapat
hutang. institusional variabel
berpengaruh kepemilikan
positif signifikan keluarga pada
terhadap variabel
manajemen independennya.
laba.
- Sample yang
- Manajemen digunakan oleh
laba dan Nasser adalah
hutang perusahaan
merupakan manufactur
variabel yang terdapat
intervening pada JSE.

- Tahun
pengamatan
2002-2004

9 Zurriah Analisis Dependen : Persamaan :


(2016) Faktor yang - nilai - Variabel
mempengaru perusahaan dependen yakni
hi nilai nilai
perusahaan Independen : perusahaan.
melalui - Kepemilikan - Tidak - Varibel
praktek institusional berpengaruh intervening :
manajemen - Komisaris - Tidak manajemen
laba : studi independen berpengaruh laba
pada - Ukuran - Tidak
perusahaan dewan berpengaruh Perbedaan :
yang komisaris - Variabel
terdaftar di JII - leverage. - Tidak independennya
berpengaruh yang digunakan
- Arus Kas - Berpengaruh 6 variabel yaitu :
(+) kepemilikan

43
- Ukuran - Berpengaruh institusional,
Perusahaan (-) kepemilikan
- manajerial,
intervening : ukuran dewan
- manajemen - Berpengaruh komisaris, arus
laba (-)s kas bebas,
- Variabe ukuran
manajemen persuahaan dan
laba mediasi leverage.
pada variabel - Sample yang
Leverage digunakan
terhadap nilai perusahaan
perusahaan yang terdaftar di
JII

Berdasarkan penelitian - penelitian terdahulu mengenai variabel

yang mempengaruhi nilai perusahaan membuktikan bahwa banyak

terdapat perbedaan hasil dari satu peneliti dengan peneliti lainnya dan

dengan banyaknya peneliti melakukan penelitian yang berkaitan dengan

nilai perusahaan, hal ini berarti begitu pentingnya nilai perusahaan ini bagi

para investor atau masyarakat untuk mendapatkan pengembalian atas

investasi yang dilakukan karena dengan nilai perusahaan yang tinggi dapat

memberikan kemakmuran kepada investor atau pemegang saham. Maka

dari itu pada penelitian ini peneliti ingin menguji bagaiaman sebetulnya

pengaruh dari variable struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga terhadap

nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi..

2.6. Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel dari

mekanisme corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan

manajemen laba sebagai variable mediasi. Bentuk Pengaruh yang

44
ditimbulkan oleh masing-masing variable tersebut secara teoritis adalah

sebagai berikut:

2.6.1 Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba

2.6.1.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap Manajemen laba

Kepemilikan intitusional merupakan kepemilikan saham yang

dimiliki oleh lembaga lain. Hal ini merupakan salah satu cara untuk

memonitori kinerja manajer dalam mengelola perusahaan sehingga dengan

adanya kepemilikan oleh institusi lain diharapkan bisa mengurangi perilaku

manajemen laba yang dilakukan manajer. Kepemilikan institusional

memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui

proses monitoring secara efektif. Cornet et al, (2006) membuktikan dalam

penelitiannya bahwa tindakan pengawasan yang dilakukan oleh sebuah

perusahaan dan pihak investor institusional dapat membatasi perilaku

opportunistik manajer.

Hassan (2011) dalam penelitiannya membuktikan bahwa

kepemilikan saham oleh pihak institusional dapat mengurangi tindakan

manajemen laba. Hal ini disebabkan oleh pihak institusional memiliki

sumber daya yang lebih untuk mengawasi dan mendisiplinkan manajer

untuk bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham minoritas,

serta pihak institusional juga memiliki keahlian dalam keuangan yang

memungkinkan mereka untuk mendeteksi prilaku opportunistic manajer.

Saleem (2016) dalam penelitian nya juga membuktikan bahwa

kepemilikan isntitusional berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini

disebabkan oleh adanya pengawasan secara aktif yang dilakukan oleh

45
investor institusional karena banyaknya kekayaan yang mereka

investasikan pada perusahaan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang akan diuji dalam

penelitian ini adalah:

H1 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap

Manajemen Laba

2.6.1.2 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba

Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh pihak

manajemen perusahaan. dari sudut pandang teori akuntansi, manajemen

laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan. kepemilikan

manajerial berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Dengan

adanya kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer maka manajer akan

bertindak selaras dengan kepentingan pemegang saham sehingga dapat

memperkecil perilaku oportunis manajer. Dalam kepemilikan saham yang

rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya perilaku

oportunistik manajer akan meningkat (Shleifer dan Vishny, 1986) dalam

Herawaty (2008)

Kepemilikan saham oleh pihak manajerial mendorong manajemen

untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena manajer menanggung

proporsi efek kekayaan perusahaan sebagai pemegang saham.

Selanjutnya, dengan adanya kepemilikan saham manajerial mendorong

manajemen untuk menyelaraskan antara kepentingan manajer dan

pemegang saham. Akibatnya, dengan meningkatnya kepemilikan

46
manajerial, maka insentif manajemen untuk melakukan manajemen laba

atau memanipulasi laba akan menurun (Alves, 2012).

Hasil penellitian yang dilakukan oleh Alves (2012) membuktikan

bahwa kepemilikan oleh pihak manajerial berpengaruh negative terhadap

manajemen laba. Artinya semakin besar kepemilikan saham pihak

manajerial dalam suatu perusahaan maka tindakan manajer dalam

melakukan manajemen laba akan berkurang.

Berdasarkan uraian dan peneltian terdahulu diatas, maka hipotesis

yang diajukan adalah :

H2 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Manajemen

Laba

2.6.1.3 Pengaruh kepemilikan Keluarga Terhadap Manajemen Laba

Konsentrasi kepemilikan memberdayakan anggota keluarga untuk

mencapai tujuan mereka lebih baik dari pada pemegang saham

lainnya. Pengendalian dari keluarga dapat meniadakan atau secara

signifikan menghilangkan masalah keagenan yang berasal dari konflik

antara pemegang saham dan manajer. Kekayaan keluarga terkait erat

dengan kinerja perusahaan, dengan demikian, anggota keluarga memiliki

dorongan kuat untuk mengawasi manajer dan meningkatkan kinerja

perusahaan (Burkart et al. 2003) dalam (Shyu, 2011). Artinya apabila

masalah keagenan telah diminimalsirkan pada suatu perusahaan maka hal

ini membuat pihak manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemilik

47
yang pada akhirnya pihak manajemen tidak dapat melakukan manajemen

laba.

Saleem (2016) membuktikan dalam penelitiannya bahwa

kepemilikan keluarga dapat menurunkan tindakan manajemen laba,

dengan adanya kepemilikan keluarga pada perusahaan maka hal ini akan

memberikan peran pengawasan terhadap pihak manajemen perusahaan

sehingga tindakan manajemen untuk melakukan manajemen laba menjadi

berkurang.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang akan diuji dalam

penelitian ini adalah:

H9 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap Manajemen

Laba

2.6.2 Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan

2.6.2.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan

Jensen & Meckling (1979) menyatakan bahwa kepemilikan

institusional merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk

mengurangi agency conflict. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat

kepemilikan institusional, maka semakin kuat tingkat pengendalian yang

dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan, sehingga agency cost

yang terjadi di dalam perusahaan juga dapat semakin meningkat.

Besarnya kepemilikan saham institusional, investor institusional

memiliki insentif yang kuat untuk memantau perilaku manajer dalam

menjalankan perusahaan serta memberikan peran pengawasan yang

48
efektif, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan sesuai

keinginan pemilik Thanatawee (2014). Artinya dengan kepemilikan saham

yang besar dari pihak investor institusional, investor institusional lebih

terdorong untuk mengawasi kinerja dari manajemen dalam menjalankan

atau mengelola perusahaan sehingga dapat mempengaruhi kinerja

manajemen dan pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Purwanityas dan Pangestuti (2010),

serta Muryati dan Suardika (2014) serta Thanatawee (2014) membuktikan

bahwa kepemilikan saham pihak institusional berpengaruh positif terhadap

nilai perusahaan. Artinya semakin tinggi kepemilikan saham oleh pihak

institusional maka pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi terhadap

kinerja perusahaan semakin efektif yang pada akhirnya berpengaruh

terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang akan diuji dalam

penelitian ini adalah :

H4 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan

2.6.2.2 Pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan

Jensen & Meckling (1979) menyatakan bahwa salah satu cara

untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan

saham oleh manajemen. Proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh

manajer dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Kepemilikan

manajerial akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang

49
saham, sehingga akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan yang

salah.

Ruan, Tian & Ma (2011) menyebutkan bahwa konflik keagenan

timbul akibat perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan

manajemen yang dapat menurunkan nilai perusahaan. Kenaikan porsi

kepemilikan manajerial dapat membantu menyelaraskan kepentingan

pemilik dan manajemen sebagai bagian dari pemegang saham, sehingga

akan mewujudkan pengambilan keputusan yang lebih baik dan selanjutnya

dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Muryati dan Suwardika (2014) serta Purwanityas dan Pangestuti

(2010) dalam penelitian nya membuktikan bahwa kepemilikan manajerial

berpengaruh positif terhadap niliai perusahaan. Meningkatnya kepemilikan

oleh pihak manajemen akan menyatukan kepentingan antara pemegang

saham dengan kepentingan pihak manajemen dan pada akhirnya akan

meningkatkan nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian dan peneltian terdahulu diatas, maka hipotesis

yang diajukan adalah :

H5 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan

2.6.2.3 Pengaruh kepemilikan keluarga terhadap nilai perusahaan

Casson (1999) dan Chami (1999) dalam Shyu (2011) menyatakan

bahwa perusahaan keluarga memperlakukan perusahaan bukan sebagai

bagian dari kekayaan mereka, tapi sebagai asset bagi keturunan mereka.

Kelangsungan hidup perusahaan adalah perhatian utama, hal ini

50
menunjukan bahwa anggota keluarga adalah pendukung peningkatan nilai

perusahaan jangka panjang.

Burkart et al. (2003) menyatakan bahwa konsentrasi kepemilikan

memberdayakan anggota keluarga untuk mencapai tujuan mereka lebih

baik dari pada pemegang saham lainnya. Pengendalian dari keluarga dapat

meniadakan atau secara signifikan menghilangkan masalah keagenan

yang berasal dari konflik antara pemegang saham dan manajer. Kekayaan

keluarga terkait erat dengan kinerja perusahaan, dengan demikian, anggota

keluarga memiliki dorongan kuat untuk mengawasi manajer dan

meningkatkan kinerja perusahaan (Shyu, 2011). Artinya dengan adanya

kepemilikan keluarga dalam suatu perusahaan hal ini akan memberikan

peran pengawasan terhadap pihak manajemen perusahaan mengenai

kinerja persusahaan.

Shyu (2011) dalam penelitiannya membuktikan bahwa kepemilikan

keluarga dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam hal ini adalah

tobins Q. Konsentrasi kepemilikan keluarga di Taiwan menunjukan bahwa

kekayaan keuarga berkaitan erat dengan kinerja perusahaan, dimana

keluarga memiliki insentif yang kuat untuk memaksimalkan kinerja

perusahaan. hal ini disbebkan oleh anggota keluarga memiliki informasi

internal yang lebih dan bisa meramal prospek dari perusahaan tertentu

dengan lebih mudah.

Astuti dan Muna (2017) membuktikan bahwa kepemilikan pihak

keluarga berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti

dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak keluarga maka pengawasan

51
yang dilakukan oleh pihak keluarga tersebut semakin meningkat. Dengan

adanya pengawasan yang dilakukan oleh pihak keluarga ini dapat

meningkatkan kinerja perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh

terhadap nilai perusahaan atau nilai perusahaan menjadi meningkat pula..

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang akan diuji dalam

penelitian ini adalah:

H6 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap nilai

perusahaan

2.6.2.4 Pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan

Manajemen laba adalah suatu tindakan intervensi yang dilakukan

manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk

memenuhi kebutuhan pribadi. Sering kali proses ini mencakup

mempercantik laporan keuangan terutama angka yang paling bawah, yaitu

laba.

Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajer akan

menyebabkan kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan akan

menurun, sehingga menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam

membuat keputusan investasi dan pada akhir akan menyebabkan nilai

perusahaan menjadi menurun (Siallagan dan Machfoed, 2006).

Kariasih (2011) membuktikan bahwa semakin tinggi manajemen laba

dilakukan maka nilai perusahaan akan semakin rendah. Hal ini terjadi

karena manajer mengelola laba untuk memberikan informasi yang tidak

disampaikan dalam laba sebelum dimanipulasi. Herawati (2008) menguji

pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan dengan corporate

52
governance sebagai variabel moderasi. Dalam penelitian tersebut

membuktikan bahwa manajemen laba berpengaruh negative terhadap nilai

perusahaan. Achyani, dkk (2014) juga menemukan bahwa manajemen laba

berpengaruh negative terhadap nilai perusahaan. Artinya perusahaan yag

melakukan manajemen laba dapat menurunkan nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian dan peneltian terdahulu diatas, maka hipotesis

yang diajukan adalah :

H7 : Manajemen Laba berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan

2.6.3 Pengaruh Struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi

2.6.3.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi

Kepemilikan institusional memiliki peranan yang sangat penting

dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi antara manajer dan

pemegang saham. Keberadaan investor institusional dianggap mampu

menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan yang

diambil oleh manajer. Hal ini disebabkan investor institusional terlibat dalam

pengambilan yang strategis perusahaan (Jensen, dan Meckling, 1976).

Saleem (2016) dalam penelitiannya membuktikan bahwa

kepemilikan oleh pihak institusional berpengaruh nengatif terhadap

manajemen laba. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar

kepemilikan saham oleh pihak institusi maka tindakan manajemen laba

53
akan dapat dicegah melalui pengawasan yang dilakukan oleh pihak

institusi.

Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajer akan

menyebabkan kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan akan

menurun, sehingga menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam

membuat keputusan investasi dan pada akhir akan menyebabkan nilai

perusahaan menjadi menurun (Siallagan dan Machfoed, 2006).

Dengan adanya pengawasan dari pihak investor instituisonal maka

tindakan manajemen untuk melakukan manajemen laba akan berkurang,

sehingga hal ini akan meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan oleh

pihak manajemen. Dengan adanya kualitas laba yang tinggi hal ini

menyebabkan pihak investor tidak salah dalam mengambil keputusan

investasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Hasil penelitian Nasser (2008) yang menguji pengaruh struktur

kepemilikan dan dewan komsiaris independen terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba dan kebijakan hutang sebagai variable intervening

membuktikan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai

perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel intevening.

Berdasarkan uraian dan peneltian terdahulu diatas, maka hipotesis

yang diajukan adalah :

H8 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel

Mediasi

54
2.6.3.2 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan

dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Mediasi.

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa salah satu cara

untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan

saham oleh manajemen, karena proporsi kepemilikan saham yang dikontrol

oleh manajer dapat mempengaruhi arah kebijakan perusahaan.

Kepemilikan manajerial akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan

pemegang saham, sehingga manajemen akan memperoleh manfaat

langsung dari keputusan yang diambil berikut menanggung kerugian

sebagai konsekuensi dari kesalahan pengambilan keputusan.

Kepemilikan saham manajerial mendorong manajemen untuk

meningkatkan kinerja perusahaan, karena manajer menanggung proporsi

efek kekayaan perusahaan sebagai pemegang saham. Selanjutnya,

dengan adanya kepemilikan saham pihak manajerial, hal ini akan

mendorong manajemen untuk menyelaraskan antara kepentingan manajer

dan pemegang saham. Akibatnya, dengan meningkatnya kepemilikan

manajerial, maka insentif manajemen untuk melakukan manajemen laba

atau memanipulasi laba akan menurun (Alves, 2012).

Saleem (2016) menyatakan apabila manajer memiliki suatu bagian

tertentu dari kekayaan mereka dalam bentuk saham pada perusahaan yang

mereka jalani, maka mereka akan cenderung untuk semakin menyesuaikan

kepentingan mereka dengan kepentingan para pemegang saham

(konvergensi kepentingan hipotesis), serta menampilkan akrual

diskresioner yang lebih rendah (Hashim, 2009; Jung dan Kwon, 2002).

55
Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajer akan

menyebabkan kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan akan

menurun, sehingga menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam

membuat keputusan investasi dan pada akhir akan menyebabkan nilai

perusahaan menjadi menurun (Siallagan dan Machfoed, 2006).

Herawati (2008) dan Achyani, dkk (2014) dalam penelitian mereka

membuktikan bahwa manajemen laba berpengaruh negative terhadap nilai

perusahaan. Artinya perusahaan yag melakukan tindakan manajemen laba

dapat menurunkan nilai perusahaan yang disebabkan oleh rendahnya

kualitas laporan keuangan sehingga pengguna salah dalam membuat suatu

kepeutusan keuangan..s

Dengan adanya kepemilikan manajerial maka hal ini akan

menyebabkan manajemen laba menjadi rendah, ketika tindakan

manajemen laba menurun, hal ini akan berdampak pada kualitas laba yang

dilaporkan oleh pihak menejemen perusahaan, dengan adanya kualitas

laba yang baik hal ini akan dinilai positif oleh investor sehingga akan

menyebabkan investor tidak salah dalam mengambil keputusan investasi

yang pada akhirnya nilai perusahaan menjadi meningkat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nasser (2008) membuktikan

bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba dan hutang sebagai variabel intervening. Hal ini

berarti dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak manajerial terlebih

dahulu mempengaruhi tindakan manajemen laba pada sautu perusahaan

yang pada akhirnya berdampak pada nilai perusahaan.

56
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas dan penelitian terdahulu,

maka hipotesis yang diajukan adalah

H8 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai variabel

mediasi

2.6.3.3 Pengaruh kepemilikan keluarga Terhadap Nilai Perusahaan

dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Mediasi

Andreas (2008) dalam Phuktuantong et, al (2012) menyebutkan

bahwa kepemilikan pihak keluarga memiliki insentif yang kuat untuk

meluangkan waktu dan uang untuk mengawasi manajer untuk mengurangi

biaya agensi dan meningkatkan kinerja parusahaan. Selain itu kepemilikan

keluarga memiliki insentif yang lebih kuat dari pada pemegang saham besar

lainnya karena mereka menginvestasikan kekayaan pribadi mereka di

perusahaan, dan karena mereka tidak terdiversifikasi dengan baik,

sehingga pemegang saham keluarga lebih memperhatikan kinerja

perusahaan dan memiliki insentif yang lebih kuat untuk memantau para

manajer

Dengan adanya pemantauan terhadap kinerja manajemen hal ini

dapat menurunkan tindakan opportunistic yang dilakukan oleh pihak

manajemen. Sehingga dengan adanya pengawasan tersebut tindakan

manajemen untuk melakukan tindakan manajemen laba akan berkurang.

Selanjtunya ketika tindakan manajamen laba dalam suatu perusahaan

berkurang hal ini akan berdampak pada kualitas laba yang lebih baik dan

57
menyebabkan pihak investor tidak salah dalam mengambil keputusana

investasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Sallem (2016) dalam penelitiannya membuktikan bahwa

kepemilikan pihak keluarga berpengaruh negative terhadap manajemen

laba. Artinya dengan adanya saham pihak keluarga dalam suatu

perusahaan memberikan pengawasan terhadap pihak manamen sehingga

tindakan manajemen laba untuk melakukan pengelolaan laba akan

berkurang.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh herawaty (2008) dan Achyani

(2014) membuktikan bahwa manajemen laba berpengaruh negative

terhadap nilai perusahaan. Artinya tindakan manajemen laba dapat

membuat kualitas laporan keuangan menjadi rendah sehingga

menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam mengambil

keputusan yang pada akirnya berdampak pada nilai perusahaan turun.

Dari hasil penelitian beberapa peneliti diatas yang menyatakan

bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh negative terhadap manajemen

laba. Dengan adanya pengawasan yang dilakukan oleh pihak keluarga

dalam suatu perusahaan, maka hal ini akan menyebabkan tindakan

manajemen laba menjadi berkurang, dengan berkurangnya tindakan

manajemen laba ini maka kualitas laporan keuangan menjadi bagus dan

pemakai laporan keuangan tidak salah dalam membuat keputusan dan

pada akirnya akan dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang akan diuji dalam

penelitian ini adalah:

58
H10 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai variabel

mediasi.

2.7. Model Penelitian

Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan, dapat digambarkan

model penelitian pada pengaruh struktur kepemilikan dalam hal ini

kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga

terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai varibel mediasi

adalah sebagai berikut:

Variabel Eksogen Variabel Mediasi Variabel Endogen

Kepemilikan
Institusional (X1)

Kepemilikan
Nilai Perusahaan
Manajerial Manajemen laba
(Z)
(X2) (Y)

Kepemilkan
Keluarga
(X3)

Gambar 2. 1 : Model Penelitian


Sumber : Dibangun untuk penelitian tahun 2017

59
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Populasi dan Sampel

Sekaran (2010) mendefiniskan populasi adalah keseluruhan

kelompok dari orang-orang, kejadian, atau berbagai hal yang ingin diteliti

oleh peneliti dimana peneliti ingin membuat kesimpulan atas populasi

tersebut. Sedangkan sampel merupakan sub kelompok atau sebagian dari

populasi.Sampel terdiri dari beberapa unsur yang dipilih dari populasi yang

nantinya kesimpulan penelitian akan diambil dari sampel tersebut dan

digeneralisasikan pada populasi.

Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah perusahaan-

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk

periode 2013-2015. Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan

metode purposive sampling, yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria

dan karakteristik tertentu (Sugiyono, 2010). Adapun kriteria yang digunakan

untuk memilih sampel dalam penelitian ini adalah:

a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada

tahun 2010-2015.

b. Menerbitkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31

Desember tahun 2010-2015.

c. Memiliki laporan keuangan tahunan dan data yang berkaitan dengan

variabel penelitian yang lengkap.

Berdasarkan kriteria diatas, maka diproleh jumlah sampel yang akan

diteliti dalam penelitian ini yang termuat pada tabel 3.1

61
Tabel 3.1 : Kriteria Penetapan Sampel
Jumlah
No Kriteria Sampel
Perusahaan

Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa


1 135
Efek Indonesia untuk periode 2010-2015

Perusahaan Manufaktur yang delisting di Bursa


2 (6)
Efek Indonesia pada tahun 2010-2015

Perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan,


3 (93)
tahunan yang lengkap dan data variabel penelitian

Total Sampel x 3 tahun observasi 34 x 6 = 204

Sumber : Data Olahan 2017

Tabel 3.2 dibawah ini merupakan nama-nama perusahaan

manufaktur yang terpilih dijadikan sampel berdasarkan kriteria pada tabel

3.1 diatas.

Tabel 3.2 : Daftar Nama Perusahaan Sampel

NO Stock Code Stock Name

1 ARGO Argo Pantes Tbk


2 ASII Astra International Tbk.
3 AUTO Astra Otoparts Tbk.
4 BRAM Indo Kordsa Tbk.
5 BRNA Berlina Tbk.
6 BTON Betonjaya Manunggal Tbk.
7 CTBN Citra Tubindo Tbk.
8 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk.
9 ETWA Eterindo Wahanatama Tbk
10 GGRM Gudang Garam Tbk.
11 GJTL Gajah Tunggal Tbk.
12 INDS Indospring Tbk.
13 JPRS Jaya Pari Steel Tbk
14 KICI Kedaung Indah Can Tbk
15 LION Lion Metal Works Tbk.
Sumber : Data olahan 2017

61
Tabel 3.2 : Daftar Nama Perusahaan Sampel Lanjutan

NO Stock Code Stock Name


16 LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk.
17 MASA Multistrada Arah Sarana Tbk.
18 MLIA Mulia Industrindo Tbk
19 NIKL Pelat Timah Nusantara Tbk.
20 PRAS Prima Alloy Steel Universal Tbk.
21 PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk
22 PYFA Pyridam Farma Tbk
23 SKLT Sekar Laut Tbk.
24 SRSN Indo Acidatama Tbk
25 STTP Siantar Top Tbk.
26 TCID Mandom Indonesia Tbk.
27 TPIA Chandra Asri Petrochemical Tbk.
28 TRST Trias Sentosa Tbk.
29 YPAS Yanaprima Hastapersada Tbk
30 IKBI Sumi Indo Kabel Tbk.
31 INAI Indal Aluminium Industry Tbk
32 KBLM Kabelindo Murni Tbk
33 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk
34 LMSH Lionmesh Prima Tbk
Sumber : Data olahan 2017

3.2. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder

adalah sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung

melalui media perantara.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan

keuangan tahunan / Annual report perusahaan manufaktur yang terdaftar

di Bursa efek indonesia pada tahun 2010-2015 yang diperoleh dari

Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan IDX Statistik tahun 2010-

2015 yang diakses melalui situs (www.idx.co.id).

61
3.3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting, karena

data yang dikumpulkan akan digunakan untuk pemecahan masalah yang

sedang diteliti atau untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Dalam

mendapatkan data sekunder yang di perlukan untuk penelitian ini, penulis

memperolehnya dengan metode observasi data di Bursa Efek Indonesia

(www.idx.co.id).

3.4. Defenisi Operasional variabel dan Pengukuran Variabel

Dalam penelitian ini terdapat 3 jenis variabel yang digunakan, yaitu

variabel dependen, variabel independen, dan variabel mediasi. Variabel

dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh

variabel independen. Variabel independen adalah tipe variabel yang

menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain. Variabel intervening

merupakan variabel antara atau mediasi yang berfungsi memediasi

hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali,

2005).

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

struktur kepemilikan dalam hal ini (kepemilikan institusional, kepemilikan

manjerial dan kepemilikan keluarga), variabel dependennya adalah nilai

perusahaan dan variabel mediasi adalah manajemen laba.

3.4.1Variabel Endogen (Dependen)

Variabel endogen sebagai variabel laten yang nilainya ditentukan

oleh variabel lain didalam model (dikenai anak panah dan atau memanah)

61
(Sholihin & Ratmono, 2013. Dalam analisis regresi baik regresi berganda

maupun regresi sederhana, variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain

dalam suatu model penelitian disebut variabel dependen (Ghozali & Fuad,

2012). Adapun variabel endogen dalam penelitian ini adalah nilai

perusahaan. Sujoko dan Soebiantoro (2007) mendifinisikan nilai

perusahaan merupakan persepsi investor mengenai tingkat kemakmuran

pemegang saham yang berkaitan dengan harga pasar saham perusahaan.

Nilai perusahaan pada penelitian ini diukur menggunakan rasio Tobins Q.

yang di kembangkan oleh James Tobin yang dihitung menggunakan rumus

seperti pada penelitian Nasser (2008):

(+)
= (+)

Keterangan :

Q = Nilai Perusahaan

MVE = Nilai pasar Ekuitas (Equity Market Value),


Merupakan dari hasil perkalian harga saham
penutupan (closing price) akhir tahun dengan jumlah
saham yang beredar pada akhir tahun.

D = Nilai buku dari total utang perusahaan

EBV = Nilai buku dari total Ekuitas

3.4.2 Variabel Eksogen (Independen)

Variabel eksogen sebagai variabel laten yang nilainya ditentukan

oleh variabel lain diluar model (tidak dikenai anak panah) (Sholihin &

Ratmono, 2013). Dalam analisis regresi baik regresi berganda maupun

regresi sederhana, variabel yang mempengaruhi variabel lain dalam suatu

61
model penelitian disebut variabel independen (Ghozali & Fuad, 2012).

Adapun variabel eksogen dalam penelitian ini adalah struktur kepemilikan

yang diantaranya yaitu: kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,

dan kepemilikan keluarga.

3.4.2.1Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah saham perusahaan yang dimiliki

oleh institusi atau lembaga (perusahaan asuransi, bank, perusahaan

investasi dan kepemilikan institusi lain). Kepemilikan institusional dipercaya

oleh beberapa peneliti dapat mempengaruhi jalannya perusahaan yang

pada akhirnya akan berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai

tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan (Praditia, 2010).

Kepemilikan institusional dapat dihitung dengan cara sebagai berikut

(Susanti, 2014) :

Jumlah saham pihak institusi dan Perusahaan lain


KInst = x 100%
Jumlah saham perusahaan yang beredar

3.4.2.2Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola

(Boediono, 2005). Kepemilikan manajerial dalam penelitian ini diukur

dengan persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari

seluruh modal saham perusahaan yang beredar.

Jumlah saham yang dimiliki pihak manajer


K mngr = x 100%
Jumlah saham perusahaan yang beredar

61
3.4.2.3Kepemilikan Keluarga

Morck dan Yeung (2004) mendefinisikan kepemilikan keluarga

adalah kepemilikan saham oleh keluarga atau sekelompok orang yang

masih memiliki relasi kerabat umumnya terdapat pada perusahaan keluarga

yang sudah diwariskan turun temurun. Harijono (2013) menjelaskan

bahwa penelusuran kepemilikan keluarga dilakukan dengan melihat nama

dewan direksi dan dewan komisaris. Jika nama dewan direksi dan dewan

komisaris cenderung sama dalam beberapa tahun dan mempunyai saham

dalam kepemilikan perusahaan maka bisa saja perusahaan tersebut

termasuk dalam kepemilikan oleh keluarga (Rezki, 2015).

Jumlah saham yang dimiliki pihak keluarga


K keluarga = x 100%
Jumlah saham perusahaan yang beredar

3.4.3 Variabel Mediasi

3.4.3.1 Manajemen laba

Variabel mediasi yang digunakan pada penelitian ini, yaitu

Manajemen Laba. Menurut (Schipper,1989) dalam Subramanyam (2010)

Manajemen laba adalah suatu tindakan intervensi yang dilakukan

manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk

memenuhi kebutuhan pribadi.

Manajemen laba pada penelitian ini diukur menggunakan

discretionary accruals (DA), dihitung dengan Modified Jones Model .

Beberapa peneliti berpendapat bahwa discretionary accrual saat ini

merupakan model paling kuat diantara model-model yang ada untuk

61
mengukur manajemen laba (Alves, 2012). rumus menghitung discretionary

accrual adalah sebagai berikut:

1. Menghitung Total Accrual

Total akrual yang diterapkan dalam penelitian ini mengunakan

data arus kas dari aktivitas operasi yang langsung diambil dari

laporan arus kas. Dengan pendekatan laporan arus kas maka total

akrual dihitung sebagai berikut:

= ...................................................... (1)

Dimana:

TAccit = Total Accrual perusahaan i pada periode t

EBXTit = Laba perusahaan i sebelum pos-pos luar operasi

yang dihentikan untuk periode t

OCFit = Operating Cash Flow perusahaan i untuk periode

tetap

2. Menghitung Nondiscretionary Accrual

Untuk melihat manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan,

nilai total akrual selanjutnya dibedakan menjadi akrual non

diskresi dan akrual diskresi. Dan selisih antara total akrual dengan

nondiscretionary accrual akan menggambarkan discretionary

accrual atau akrual yang sengaja diterapkan manajemen untuk

tujuan tertentu.

Untuk menghitung nondiscretionary accrual sebagai berikut:

( )
= + + + ... (2)
, , ,

61
Dimana :

NDAccit = Nondiscretionary Accrual perusahaani pada periode

(1-3) = Koefisien regresi

TAi,t-1 = Total aset untuk perusahaan i pada akhir tahun t-1

REVit = Perubahan dalam pendapatan untuk perusahaan i

pada akhir tahun t, dibagi total aset perusahaan i

pada akhir tahun t-1

RECit = Perubahan dalam piutang bersih untuk perusahaan

i pada tahun t, dibagi total aset untuk perusahaan i

pada akhir tahun t-1

PPEit = Aktiva tetap perusahaan i pada tahun t dibagi total

asset perusahaan i pada akhir tahun t-1

it = Error perusahaan i pada tahun t

3. Menghitung Discretionary Accrual

Discretionary accrual diestimasi dengan cara sebagai berikut:

( )
= ................................................... (3)
,

61
Tabel 3 . 3 : Definisi Operasional Variabel
Skala
No Variabel Definisi / Sumber Indikator
ukur

1. Variabel Dependen Persepsi investor mengenai


tingkat kemakmuran
+
Nilai Perusahaan pemegang saham yang = Rasio
+
(Tobins q) berkaitan dengan harga
pasar saham perusahaan Alves, (2012)
(Sujoko dan Soebiantoro,
2007)

2. V Kepemilikan Kepemilikan institusional Jumlah saham Rasio


Institusional adalah saham perusahaan yang dimiliki pihak
a institusional dan
yang dimiliki oleh institusi
r perusahaan
atau lembaga (perusahaan lainny/Jumlah
i asuransi, bank, perusahaan saham yang
a investasi dan kepemilikan beredar (Susanti,
institusi lain) (Sari & Ridwan, 2014)
b
2013).
e
l
Kepemilikan Tingkat kepemilikan saham Jumlah saham Rasio
I Manajerial oleh pihak manajemen yang dimiliki pihak
n perusahaan (Sari & Manajer / Jumlah
d Ridwan,2013) saham yang
e beredar (Alves,
p 2012)
e
n Kepemilikan Morck dan Yeung (2004) Jumlah saham Rasio
d Keluarga mendefinisikan kepemilikan yang dimiliki pihak
e keluarga adalah kepemilikan keluarga / Jumlah
n saham oleh keluarga atau saham yang
sekelompok orang yang beredar (Rezky,
masih memiliki relasi kerabat 2015)
umumnya terdapat pada
perusahaan keluarga yang
sudah diwariskan turun
temurun.

61
3. Variabel intervening Manajemen laba adalah . = Rasio
: suatu tindakan intervensi
Manajemen Laba yang dilakukan manajemen
1. =
dengan sengaja dalam
proses penentuan laba, +
,
( )
biasanya untuk memenuhi +
,
kebutuhan pribadi Schipper
(1989) dalam +
,
Subramanyam (2010).
2. =
( )

,

Model jhones
modified (1991)
dalam Alves (2012)

3.5. Teknik Analisis Data

3.5.1. Statistik Deskriptif

Dalam penelitian ini statistik deskriptif digunakan sebagai teknik

analisis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan informasi

deskripsi mengenai variabel kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, dewan komisaris independen dan komite audit (jumlah komite

audit, jumlah rapat dalam satu tahun dan jumlah anggota komite audit yang

memiliki keahlian di bidang akuntansi ) yang terdapat pada penelitian.

Statistik deskriptif ini digunakan untuk memberikan informasi

mengenai variabel - variabel penelitian. Statistik deskriptif memberikan

gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari rata rata (mean),

standar deviasi, varian, maksimum dan minimum, sum, range, kurtosis dan

skewness (Gozali, 2011).

61
3.5.2 Analisis Partial Least Square

Pengujian pada penelitian ini dilakukan dengan pendekatan

Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan software Partial

Least Square (PLS) yaitu software warpPLS versi 4.0. PLS merupakan

metoda SEM berbasis varian yang didesain untuk menyelesaikan

persoalan yang tidak dapat dilakukan oleh CB-SEM seperti jumlah sampel

kecil, data tidak berdistribusi normal secara multivariate, adanya missing

values, dan adanya problem multikolinieritas antar variable eksogen (Latan

dan Ghozali, 2012).

Latan dan Ghozali (2012) menyatakan bahwa PLS sering disebut

juga soft modeling karena meniadakan asumsi-asumsi regresi OLS

(Ordinary Least Square) seperti data harus berdistribusi normal secara

multivariate dan tidak adanya problem multikolinieritas antar variable

independen (eksogen).

Latan dan Ghozali,(2012) menyebutkan Keunggulan-keunggulan

dari PLS-SEM diantaranya adalah :

1. Mampu menhandel model yang kompleks dengan multiple variabel

eksogen dan endogen dengan banyak indicator.

2. Mampu mengelola data dengan masalah multikolinearitas antar

variable eksogen.

3. Hasil tetap roboust walaupun terdapat data yang tidak normal dan

hilang.

61
4. Menghasilkan variabel laten independen secara langsung berbasis

cross-product yang melibatkan variabel laten dependen sebagai

kekuatan prediksi.

5. Dapat digunakan pada konstruk reflektif dan formatif

6. Dapat digunakan pada sampel kecil.

7. Tidak mensyaratkan data berdistribusi normal.

8. Dapat digunakan pada data dengan tipe skala berbeda, yaitu:

nominal, ordinal, dan kontinus.

Alasan peneliti menggunakan PLS pada penelitian ini adalah: 1)

pada penelitian ini memiliki data variabel kepemilikan manajerial yang

memiliki perbedaan nilai yang sangat tinggi sehingga data dipastikan tidak

normal. Sedangkan dalam analisis dalam PLS tidak mensyaratkan data

harus berdistribusi normal. 2) Pada penelitian ini menggunakan variabel

mediasi yang mana dalam PLS dapat dianalisis dengan satu kali operasi,

sedangkan pada regresi tidak bisa dilakukan dengan 1 kali operasi.

Menurut Latan dan Ghozali (2012) analisis PLS-SEM biasanya terdiri

dari dua sub model yaitu model pengukuran (measurement model) atau

sering disebut outer model dan model struktural (structural model) atau

sering disebut inner model.

3.5.3 Evaluasi Model Pengukuran (Outer model)

Evaluasi model pengukuran atau outer model dilakukan untuk

menilai validitas dan reliabilitas model. Ghozali dan Latan (2012

menyebutkan bahwa software Warp PLS didesain untuk analisis dengan

61
variabel laten dengan indicator-indikator yang mengukur variabel laten

tersebut. Sedangkan dalam analisis regresi, variabel yang dianalisis bukan

variabel laten tetapi variabel yang berssifat observe. Jadi cara

mengatasinya adalah dengan membuat variabel laten dengan satu

indicator yang bersifat formatif (yang berarti variabel laten sekarang menjadi

variabel observed). Outer model dengan Indikator formatif dievaluasi

melalui melihat signifikansi dari indicator weight.

3.5.3.1 Indikator Weight

Latan dan Ghozali (2012) menyebutkan bahwa konstruk dengan

indicator formatif mengasumsikan bahwa setiap indikatornya

mendefinisikan atau menjelaskan karakteristik domain konstruknya. Arah

indicatornya yaitu dari indicator ke konstruk.

Sholihin dan Ratmono (2013) menyatakan bahwa untuk

mengevaluasi kelayakan pengukuran indicator formatif adalah dengan

menggunakan dua kriteria:

1. Bobot indikator (indicator weight) harus signifikan secara statistis

2. Multikolinieritas atau nilai VIF (Variance Infation Factor) harus

lebih kecil dari 3,3.

3.5.4 Evaluasi Model Struktural (Inner Model)

Latan & Ghozali (2012) menjelaskan bahwa model struktural (inner

model) merupakan model struktural untuk memprediksi hubungan

kausalitas antar variabel laten. PLS-SEM hanya mampu mengestimasi

model recrusive yaitu model persamaan struktural yang hanya mempunyai

61
satu hubungan kausalitas, sedangkan untuk model non-recrusive harus

menggunakan program SEM berbasis covariance. Model struktural dalam

penelitian ini dapat ditulis persamaanya sebaga berikut:

= + + + .................................................................(1)

= + + + + ...................................................(2)

Dimana adalah variabel endogen yang terdiri dari 1 (manajemen

laba), 2 (nilai perusahaan) dan 1 (Kepemilikan Institusional), 2

(Kepemilikan manajerial), 3 (Kepemilikan keluarga) adalah variabel

eksogen, adalah koefisien jalur yang menghubungkan prediktor eksogen

dengan endogen, adalah koefisien jalur yang menghubungkan prediktor

endogen dengan endogen sedangkan adalah inner residual variable.

Langkah berikutnya adalah evaluasi model persamaan struktural

(inner model) yang menjelaskan pengaruh variabel eksogen terhadap

variabel endogen. Untuk memprediksi adanya hubungan kausalitas dalam

SEM-PLS dengan menggunakan program WarpPLS 4.0 yang dapat di ukur

dengan:

3.5.4.1 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi menggunakan R-squared atau adjusted R2

yang menunjukkan berapa persentase variasi konstruk endogen/kriterion

dapat dijelaskan oleh konstruk yang dihipotesiskan memengaruhinya

(eksogen/prediktor). R-squared hanya ada untuk variabel endogen

(Sholihin & Ratmono, 2013). Nilai R-square atau adjusted R-square 0,70

(model kuat), 0,45 (model moderate) dan 0,25 (model lemah). Semakin

tinggi R-squared menunjukkan model yang baik, artinya menunjukkan

61
bahwa prediktor model semakin baik dalam menjelaskan variance (Sholihin

& Ratmono, 2013)

3.5.4.2 Model Fit Index

Evaluasi nilai model fit indices and P value yang bertujuan untuk

mengevaluasi apakah model fit (sesuai atau didukung) oleh data. Untuk

mengevaluasi model fit dapat ditentukan oleh beberapa indikator fit yaitu :

i). Average path coefficient (APC), average R-squared (ARS), average

adjusted R-squared (AARS) yakni mengukur rata-rata nilai path

coefficient, R-square dan adjusted R-square yang dihasilkan dalam

model. Nilai cut-off P-value untuk APC, ARS dan AARS yang

direkomendasikan sebagai indikasi model fit adalah nilai P-value

(0,05) dengan level signifikan yang digunakan adalah 5% (Kock,

2013 dalam 2014 Sholihin & Ratmono, 2013).

ii). Average variance inflation factor (AVIF) dan average full collinearity

variance inflation factor (AFVIF) merupakan dua ukuran model fit

yang digunakan untuk menguji masalah collinearity di dalam model

fit PLS. Nilai AVIF dan AFVIF akan meningkat jika satu variabel laten

untuk model ditambahkan didalamnya juga akan menambah full

collinearity atau sering disebut multikolonieritas (vertical dan lateral).

Idealnya nilai yang direkomendasikan untuk kedua ukuran tersebut

harus 3,3 dengan asumsi kebanyakan konstuk/variabel didalam

model diukur dengan dua atau lebih indikator (Kock, 2013 dalam

Ghozali & Latan, 2014). AVIF dan AFVIF sebagai indikator

61
multikolinieritas harus lebih kecil dari 5 (Sholihin & Ratmono,

2013:61).

iii). Untuk overall fit index dapat menggunakan kriteria goodness of fit

yang dikembangkan oleh Tenenhaus et al., (2004), yang dapat dilihat

dari nilai Tenenhaus GoF. Dimana jika GoF small (GoF=0,10), GoF

medium (GoF=0,25) dan GoF large (GoF=0,36) (Latan & Ghozali,

2012:88).

3.5.5 Pengujian Hipotesis

Rumusan hipotesis dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:

a. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap manajemen

laba.

Ho1 : Kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen

laba.

Ha1 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap manajemen

laba.

b. Kepemilikan Manajerial mempunyai pengaruh terhadap manajemen

laba.

Ho2: Kepemilikan Manajerial tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba.

Ha2 : Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap manajemen

laba.

c. Kepemilikan keluarga mempunyai pengaruh terhadap manajemen laba.

61
Ho3 : Kepemilikan keluarga tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba.

Ha3 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap manajemen

laba.

d. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Ho4 : kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

e. Ha4 : kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai

perusahaanKepemilikan manajerial mempunyai pengaruh terhadap

nilai perusahaan.

Ho5 : Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Ha5 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

f. Kepemilikan keluarga mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan

Ho6 : kepemilikan keluarga tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Ha6 : kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

g. Manajemen laba mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan.

Ho7 : manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Ha7 : manajemen laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

61
h. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ho8 : kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ha8 : kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

i. Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ho9 : kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ha9 : kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

j. Kepemilikan keluarga mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan

melalui manajemen laba.

Ho10 : kepemilikan keluarga tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ha10 : kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap nilai perusahaan

melalui manajemen laba.

Uji signifikansi analisis jalur dicari yaitu membandingkan antara nilai

probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas sig. Dasar pengambilan

keputusan sebagai berikut:

a. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai

probabilitas sig atau [ 0,05 sig ], maka ho diterima dan ha ditolak,

artinya tidak signifikan.

61
b. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai

probabilitas sig atau [ 0,05 sig ], maka ho ditolak dan ha diterima,

artinya signifikan.

Menurut Sholihin dan Ratmono (2013) prosedur dalam pengujian

mediasi dalam SEM-PLS adalah dengan menggunakan model yang

dikembangkan oleh Baron dan Kenny, 1986; Hair dkk., 2010; Kock, 2011

dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Melakukan estimasi direct effect variabel eksogen variabel

endogen pada model (1).

2. Melakukan estimasi indirect effect secara simultan pada model (2)

Persyaratan efek mediasi yang harus dipenuhi adalah:

1) Koefisien jalur direct effect pengaruh variabel eksogen

variabel endogen harus signifkan (p < 0,05) pada model (1).

2) Koefisien jalur variabel eksogen variabel mediasi dan variabel

mediasi variabel endogen harus signifikan (p < 0,05) pada

model (2).

Pengambilan kesimpulan tentang mediasi adalah sebagai berikut:

a. Jika koefisien jalur direct effect dari hasil estimasi model (2) tetap

signifikan dan tidak berubah dari koefisien jalur direct effect

model (1), maka hipotesis mediasi tidak didukung.

b. Jika koefisien jalur direct effect pada model (2) nilainya turun dari

direct effect pada model (1), tetapi tetap signifikan maka bentuk

mediasi adalah mediasi sebagian (partial mediation).

61
Jika koefisien jalur direct effect pada model (2) nilainya turun dari

koefisien jalur direct effect pada model (1) dan menjadi tidak signifikan

maka bentuk mediasi adalah mediasi penuh (full mediation).

Pengujian hipotesis yang ke delapan, sembilan dan sepuluh

menggunakan prosedur yang digunakan oleh Sholihin dan Ratmono (2013)

untuk menguji variabel mediasi dengan ketentuan seperti yang dijelaskan

pada metode Baron dan Kenny. Apabila terdapat pengaruh mediasi maka

H0 : ditolak dan Ha : diterima. Begitu pula sebaliknya apabila tidak terdapat

pengaruh mediasi maka H0 : diterima dan Ha : Ditolak.

61
DAFTAR PUSTAKA

Alves, Sandra., 2012, Ownership Structure and Earnings Management:


Evidence from Portugal, Australasian Accounting, Business and
Finance Journal, Vol. 6 (1), pp. 57-74.

Anthony, Robert N dan Govindarajan, Vijay. 2005. Management Control


System. Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.

Barde, Ibrahim Magaji & Hamidu, Ibrahim. 2015. Corporate Governance


and Market Value of Firm in the Nigerian Chamical and Paints
Industry. Proceedings of 11th International Business and Social
Science Research Conference 8 - 9 January, 2015, Crowne Plaza
Hotel, Dubai, UAE, ISBN: 978-1-922069-70-2: 1-10.

Burkart, M., Panunzi, F. Shleifer, A. (2003). Family Firm, Journal of


Finance, Vol. 58, pp. 2167-2202.

Faccio, M. and Lang, L.H.P. (2002), "The ultimate ownership of Western


European corporations", Journal of Financial Economics, Vol. 65,
pp.365395.

Ferdawati. 2009. Pengaruh Manajemen Laba Riil Terhadap Nilai


Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Vol. 4, No. 1 Juni
2009, hal. 59-74.

Gideon SB, Boediono. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme


Corporate Governace dan Dampak Manajemen Laba dengan
Menggunakan Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII

Haryono, Selly Anggreini, dkk 2015. Analisis pengaruh struktur modal dan
struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan. Simposium
Nasional Akuntansi XVII. Medan

Herawati, Vinola (2008).Peran Praktek Corporate Governance sebagai


Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management
terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.
10 No. 2 Nopember 2008: 97-108.

Herawaty, Netty, dkk (2016) Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Struktur


Pengelolaan Terhadap Kinerja Keuangan Serta Implikasinya
Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan LQ 45 di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2012-2014

61
Kariasih, Ni Putu, 2011 Pengaruh Corporate Governance, Investment
Opportunity Set (IOS) terhadap Kualitas Laba dan Nilai
Perusahaan, Jurnal Akuntansi Vol. 1, No.1 Februari 2011 hal 92-
121

Man, Chi-Keung. Brossa Wong, 2013. Corporate Governance And


Earnings Mangement A Survey and Literature The Journal of
Applied Business Research March/April 2013, Volume 29,
Number 2.

Mokhtari, Zobeideh., Makerani Khosro Faghani., 2013. Relationship of


Institutional Ownership with Firm Value and Earnings Quality:
Evidence from Tehran Stock Exchange., International Journal of
Economy, Management and Social Sciences, 2 (7) July 2013,
Pages 495-502.

Morck, Randall, and Bernard Yeung. 2004. Special Issues Relating to


Corporate Governance & Family Control. World Bank Policy
Research Working Paper No. 3406

Nasution, Marihot dan Doddy Setiawan. 2007. Pengaruh Corporate


governance Terhadap Manajemen Laba di Industri Perbankan
Indonesia, Simposium Nasional Akuntansi X.

Nasser, Etti M. 2008. Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Dewan


Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening. Media Riset
Akuntansi, Audititng dan Informasi, Vol. 8 No.1, April 2008 : 1-27.

Nuryaman. 2008. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran


Perusahaan, dan Mekanisme Corporate governance Terhadap
Manajemen Laba. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak.

Pukthuanthong, Kuntara, Thomas J. Walker and Dolruedee Nuttanontra


Thiengtham. 2011,Does Family Ownership Create Or Destroy
Value? Eviden From Canada. International Journal of Managerial
Finance, Vol.9 , No.1, pp,13-48.

Saleem, Ebraheem Salem Alzoubi. 2016. Ownership Structure and


Earnings Management : Eviden From Jordan International Journal
of Accounting & Information Mnagement, Vol. 24 Iss 2 pp

Sari ,Enggar Fibria Verdana dan Akhmad Riduwan. 2013 Pengaruh


Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan: Kualitas Laba
Sebagai Variable Intervening, Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Vol

61
1 nomor 1.Sartono, Agus. 2004. Manajemen Keuangan, Teori dan
Aplikasi. Edisi Keempat. Yogyakarta : BPFE.

Shyu, Jonchi. 2011. Family Ownership and Firm Performance: Eviden from
Taiwanese Firms International Journal Of Managerial Finance, Vol.
7 Iss 4 pp. 397-411

Siahaan, Melina Risomas. 2013.Pengaruh Kepemilikan Manajerial Dan


Institusional Serta Kebijakan Utang Terhadap Kebijakan Dividen d
an Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Penanaman
Modal Asing di BEI. Thesis. Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatra Utara Medan.

Siallagan, Hamonangan dan Masud Machfoedz. 2006. Mekanisme


Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan.
Simposium Nasional Akuntansi IX, 23-26 Agustus 2006, Padang.

Siswantaya, I Gede, 2007. Mekanisme Corporate Governance dan


Manajemen laba Studi pada perusahaan perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta Thesis Magister Sains Akuntansi
Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

Subramanyam,dkk. 2010. Analisi laporan keuangan. Edisi 10 jakarta :


selemba empat.

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alfabeta,


Bandung.

Sujoko dan Soebiantoro, U., 2007. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham,


Leverage, Faktor Intern dan Faktor Ekstern terhadap Nilai
Perusahaan, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 9, 47.

Sukirni, Dwi. 2012. Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional,


Kebijakan Dividen dan Kebijakan Hutang Analisis terhadap Nilai
Perusahaan. Accounting Analysis Journal. Jurnal Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang 1 (2): 1-12, ISSN
2252-6765.

Susanti, Niken Angraheni, Rahmawati, dan Anni Aryani. 2010. Analisis


Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Nilai
Perusahaan dengan Kualitas Laba sebagai Variabel Intervening
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2004-2007. Simposium Nasional Keuangan I,
2010.

61
Susanti, Serli Ike Ari. 2011. Pengaruh Kualitas Corporate Governance,
Kualitas Audit, dan Earnings Management Terhadap Kinerja
Perusahaan. Jurnal ekonomi dan bisnis, 5(2): h: 145-161.

Ujiyantho, Moh. Arief dan Bambang Agus P. 2007. Mekanisme Corporate


governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan ,Simposium
Nasional Akuntansi X

Tarjo. 2008. Pengaruh Keluarga Kepemilikan Institusional dan Leverage


terhadap Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham serta Cost of
Equity Capital. Simposium Nasional Akuntansi XI, Pontianak

Thanatawee, Yordying. 2014. Institutional Ownership and Firm Value in


Thailand. Asian Journal of Business and Accounting 7(2), 2014.
ISSN 1985-4064

Zurriah. 2016. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan


Melalui Praktek Manajemen Laba studi pada perusahaan yang
terdaftar di Jakarta Islam Index. Thesis. Magister Akuntansi
Fakultas dan Bisnis Universitas Sumatra Utara. (Diakses Tanggal
19 Nopember 2016).

61