Anda di halaman 1dari 4

Seminar Nasional ke-II FTG Universitas Padjadjaran

Identifikasi dan Pemodelan Reservoir Berdasarkan petrophysical


Rock Type pada Reservoir Karbonat
HendraSaputra

Abstrak
Reservoir karbonat memiliki heterogentias yang cukup kompleks yang merupakan
hasil sedimentasi dan diagenesis. Reservoir karbonat umumnya memiliki hubungan porositas
dan permeabilitas yang kompleks sehingga perlu dilakuka karakter reservoir secara khusus
yang berbeda dengan reservoir silisikastik. Konsep Petrophisical Rock Type (PRT) digunakan
dengan menggabungkan unsur-unsur geologi seperti lingkungan pengendapan dan diagenesis,
sifat-sifat petrofisika batuan, serta aliran fluida di dalamnya yang dicerminkan oleh tekanan
kapiler dan saturasi air. Pemodelan dengan metode ini diharapkan dapat menjadi salah satu
metode yang dapat meningkatkan produksi hidrokarbon secara optimal. Metoda yang
digunakan dalam penelitian ini dibagi kedalam dua tahap, yaitu identifikasi PRT pada sumur
yang memiliki data core dan data petrofisika, serta pemodelan PRT yang memiliki fungsi dari
porositas dan saturasi air. Pada tahap pertama, identifikasi PRT dilakukan dengan pendekatan
karakteristik Pore Geometry and Structure (PGS). Tahap kedua meliputi pemodelan fasies,
sifat-sifat petrofisika batuan, PRT dan permeabilitasnya. Berdasarkan hasil PGS, formasi
karbonat penelitian terdiri dari 3 PRT, yaitu PRT 1-Vuggy Porosity dan Moldic Macropore
Patchy Association, PRT-2 Interparticle Meso-Macropore Patchy Association, dan PRT-3
Interparticle Microform Uniform. Dengan Metode PGS didapat hubungan antara geometri
pori (k/) 0.5 dengan strukturpori (C) memiliki distribusi permeabilitas yang dikontrol
langsung oleh PRT.

Kata kunci : 3D-modelling, petrofisik, PRT, PSG, Reservoir Karbonat.


1. Pendahuluan seperti porositas dan permeabilitas serta
Reservoir karbonat memiliki sifat aliran fluida di dalamnya yang
heterogenitas yang cukup kompleks yang dicerminkan oleh tekanan kapiler dan
merupakan hasil dari sedimentasi dan saturasi air. Pemodelan reservoir
diagenesis. Reservoir karbonat umumnya berdasarkan petrophysical rock type
memiliki hubungan porositas dan (PRT), diharapkan dapat menjadi salah
permeabilitas yang kompleks, sehingga satu metode yang dapat meningkatkan
perlu dilakukan karakterisasi reservoir produksi hidrokarbon secara optimal
secara khusus yang berbedadengan
reservoir silisikastik. Archie (1950) m e m 2. Metode Penelitian
perkenalkan konsep petrophysical rock Terdapat dua tahap utama pada
type (PRT) yang didefinisikan sebagai penelitian ini. Tahap pertama adalah
"unit batuan yang diendapkan pada kondisi mengidentifikasi PRT pada sumur yang
yang sama dan kemudian mengalami memiliki data core berupa data sayatan
proses diagenesis yang sama sehingga tipis dan data petrofisika yaitu porositas
menghasilkan batuan yang memiliki dan permeabilitas. Dalam mengidentifikasi
hubungan porositas dan permeabilitas PRT dilakukan dengan pendekatan
tertentu, profil tekanan kapiler tertentu dan karakteristik pore geometry and structure
pada suatu titik di atas free water level (PGS) yang dipublikasikan oleh P.
memiliki saturasi air tertentu". Konsep ini Permadi, dkk(1999). Sedangkan tahap
menggabungkan unsur-unsur geologi kedua adalah melakukan pemodelan PRT
seperti lingkungan pengendapan dan yang memiliki fungsi dari porositas dan
diagenesis, sifat-sifat petrofisika batuan saturasi air. Sedangkan pemodelan

20
Seminar Nasional ke-II FTG Universitas Padjadjaran

permeabilitas dilakukan dengan kontrol fasies dan diagenesis pada tahap pertama
dari penyebarab spasial dari PRT. dimodelkan secara 3-D dalam bentuk
Identifikasi PRT pada tahap pertama model lingkungan pengendapan.
dilakukan melalui analisis data core. Pemodelan lingkungan pengendapan ini
Analisis yang dilakukan meliputi analisis dilakukan dengan kombinasi metode
fasies, asosiasi fasies dan diagenesis. Hal stokastik dan deterministik. Peta distribusi
ini bertujuan untuk mengetahui lingkungan lingkungan pengendapan yang telah
pengendapan dan proses-proses diagenesis diprediksi digunakan sebagai data
serta pengaruh keduanya terhadap rock sekunder, sedangkan penyebaran data
type yang terbentuk. Data sayatan tipis dilakukan secara stochastic dengan
berupa data sekunder diinterpretasi ulang menggunakan metode geostatistik. Model
untuk mendukung analisis fasies, asosiasi lingkungan pengendapan yang dihasilkan
fasies dan diagenesis. selanjutnya digunakan sebagai pengontrol
Analisis petrografi merupakan kunci distribusi dari PRT, porositas dan saturasi
utama dalam identifikasi PRT. Tahap air. Model 3-D sifat-sifat petrofisika
pertama dalam identifikasi PRT adalah reservoir seperti porositas dan saturasi air
melakukan pengelompokan sampel juga dibuat dengan menggunakan metode
berdasarkan lingkungan pengendapan dan geostatistik. Pemodelan PRT dilakukan
proses diagenesisnya. Identifikasi PRT dengan menggunakan fungsi yang telah
selanjutnya dilakukan dengan didapat pada identifikasi PRT
mengklasifikasikan jenis, ukuran, dan menggunakan metode PGS. Fungsi
distribusi rongga pori mengikuti metode tersebut merupakan korelasi antara
klasifikasi petrofisika batuan karbonat dari porositas dan saturasi air, dimana porositas
Lonoy (2006). Metode klasifikasi dari dan saturasi air telah dimodelkan
Lonoy (2006) dipilih karena mampu sebelumnya. Sedangkan pemodelan
menguantifikasi parameter-parameter permeabilitas dilakukan dengan fungsi
petrofisika dengan lebih baik sehingga PRT yang telah dimodelkan tersebut.
PRT yang dihasilkan secara langsung
mengontrol sifat-sifat petrofisika reservoir.
Identifikasi PRT yang dilakukan dengan
pendekatan PGS adalah dengan
mengidentifikasi korelasi antara sayatan
tipis, geometri pori dan struktur pori atau
C dalam suatu grafik log. Persamaan yang
didapat kemudian diintegrasikan dengan
data saturasi air, dikarekan akan lebih
dapat mewakili proses digenesis seperti
disolusi yang terjadi pada batuan karbonat.
Persamaan yang didapat nantinya dapat
mencerminkan PRT dengan
mengintegrasikan data porositas, saturasi
air dan sayatan tipis.
Pada tahap kedua dilakukan pemodelan
fasies, sifat-sifat petrofisika batuan, PRT,
dan permeabilitasnya. Model 3-D dibuat
dalam kerangka struktur tiga dimensi yang
dibangun dengan menggunakan data
marker, bidang-bidang sesar serta bidang Gambar 1. Diagram Alir yang digunakan dalam
permukaan bagian atas dan bawah formasi penelitian
Karbonat. Hasil analisis fasies, asosiasi

21
Seminar Nasional ke-II FTG Universitas Padjadjaran

Dari analisa petrofisik dan data porositas batuan


3. Analisis inti, setiap PRT memiliki besaran porositas
tertentu.

Gambar 2. Analisis Sampel yang dilakukan

Proses proses diagenesa yang terjadi


pada daerah penelitian sejak dari proses Gambar 5. Grafik saturasi vs tekanan untuk tiap
pengendapan hingga migrasi hidrokarbon PRT
kedalam reservoar.
Profil tekanan kapiler dari MICP tiga
sampel. Setiap sampel memberikan warna
dan kode yang berbeda sesuai dengan jenis
PRT-nya. Ketiga PRT yang diidentifikasi
membuktikan adanya perbedaan sifat
aliran dari seluruh PRT.

4. Hasil Penelitian

Gambar 3. Peta Sebaran Lithofasies untuk Tuban


Karbonat

Model 3-D asosiasi fasies pada daerah


penelitian. Terdapat tiga asosiasi fasies,
yaitu :
Back reef
Core reef
Fore reef
Gambar 6. Hasil analisis petrofisik tiap sampel
PRT

Melalui pendekatan Pore Geometry


Structure (PGS), formasi Karbonat
penelitian terdiri dari 3 petrophysical rock
type (PRT), yaitu PRT 1-Vuggy porosity
dan moldic macropore patchy association,
PRT 2-lnterparticle Meso-Macropore
patchy Association, dan PRT 3-
Interparticle micropore uniform.
Gambar 4. Nilai porositas per sample

22
Seminar Nasional ke-II FTG Universitas Padjadjaran

Gambar 10. Peta Sebaran Porositas Formasi Tuban


Gambar 7. Grafik Struktur pori vs Geometri pori Karbonat
Dengan metode PGS yaitu hubungan
antara geometri pori dengan struktur pori,
diketahui bahwa distribusi permeabilitas
secara langsung dikontrol oleh PRT.

Daftar Pustaka
[1]. Archie, G.E. (1950): Introduction to
petrophysics of reservoir rocks,
AAPG bulletin, 34, 943-961.
[2]. Choquette, P. W. dan Pray, L. C.
(1970): Geologic nomenclature and
Gambar 8. Peta Sebaran PRT Formasi Tuban classification of porosity in
Karbonat sedimentary carbonates, AAPG
bulletin, 54, 207-250.
[3]. Dunham, R. J. (1962): Classification
of carbonate rocks according to
depositional texture, dalam W. E.
Ham, eds., Classification of
carbonate rocks: AAPG Memoir, 1,
108-121.
[4]. Lonoy, A. (2006): Making sense of
carbonate pore systems, AAPG
bulletin, 90, 1381-1405.
Gambar 9. Peta Sebaran Permeabilitas Tuban
[5]. Permadi, P., dan Susilo, A. (2009):
Karbonat Permeability Prediction and
Characteristics of Pore Structure and
Geometry as Inferred from Core
Data, SPE 125350-PP, Abu Dhabi.

23