Anda di halaman 1dari 11

IDENTIFIKASI MASALAH

Dari data epidemiologi, mual dan muntah dalam kehamilan, atau sering disebut nausea dan
emesis gravidarum adalah hal yang wajar dan sering ditemukan dalam kehamilan terutama
dalam trimester pertama kehamilan, sedangkan Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan
muntah yang berkelanjutan sehingga menganggu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan
kekurangan cairan dan terganggunya keseimbangan elektrolit. Emesis maupun Hiperemesis
merupakan keadaan yang fisiologis terjadi pada setiap kehamilan. Kurangnya informasi dan
pengetahuan mengenai emesis dan hiperemesis dapat mempengaruhi kesiapan kondisi fisik
maupun psikis seorang ibu hamil. Karena dampak yang ditimbulkan dapat terjadi pada ibu dan
janin, seperti ibu akan kekurangan nutrisi dan cairan sehingga keadaan fisik ibu menjadi lemah
dan lelah dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa, penumoni aspirasi, robekan mukosa
pada hubungan gastroesofagi yang menyebabkan perdarahan ruptur eso fagus, kerusakan hepar
dan kerusakan ginjal, ini akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin
karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau tidak sesuai dengan kehamilan, yang mengakibatkan
peredaraan darah janin berkurang, oleh karenanya perlu adanya peningkatan informasi dan
pengetahuan terutama bagi ibu-ibu hamil mengenai emesis dan hiperemesis gravidarum, hal
inilah yang mendorong pengkaji untuk memberikan penyuluhan sebagai upaya peningkatan
informasi.
II. Pengantar
Bidang studi : Medical Science.
Topik : Kehamilan
Subtopik : Emesis dan Hiperemesis Gravidarum
Sasaran :
Hari / Tanggal :
Jam :
Waktu : 35 menit.
Tempat :
III. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM. (TIU)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkandapat
mengetahui secara spesifik mengenai emesis dan hiperemesis gravidarum serta tatalaksana yang
harus dilakukan
IV. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, .dapat menjelaskan kembali :
1. Pengertian emesis dan hiperemesis gravidarum.
2. Menjelaskan penyebabnya.
. Menyebutkan klasifikasinya, gejala klinis, dan komplikasinya.
. Menyebutkan Pencegahannya
. Menyebutkan Penatalaksanaannya
V. Materi (Terlampir)
1. Pengertian emesis dan hiperemesis gravidarum.
2. Penyebabnya Emesis dan Hiperemesis Gravidarum
3. Klasifikasi, gejala klinis, komplikasi Emesis dan Hiperemesis Gravidarum.
. Pencegahan yang dilakukan
5. Penatalaksanaan Emesis dan Hiperemesis Gravidarum
VI. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
VII. Media
Materi SAP
Leaflet

VIII. Kegiatan Pembelajaran


No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 5 menit Pembukaan:
1. Memberi Salam 1. Menjawab salam
2. Menyampaikan tujuan penyuluhan 2. Mendengarkan dan
3. Menjelaskan materi yang akan memperhatikan
disampaikan 3. Memperhatikan

2. 15 menitA. Memberikan penjelasan secara berurutan Menyimak,memperhatikan,


dan teratur tentang: dan menyiapkan pertanyaan
1. Pengertian Emesis dan Hiperemesis untuk diajukan.
Gravidarum
2. Penyebab Emesis dan Hiperemesis
Gravidarum
3. Klasifikasi, gejala klinis, dan komplikasi
Emesis dan Hiperemesis Gravidarum
4. Pencegahan yang dilakukan
5. Penatalaksanaan Emesis dan Hiperemesis
Gravidarum.
B. Memberikan kesempatan
kepada..untuk bertanya.

3 15 menit A. Memberikan pujian atas pertanyaannya Menjawab Pertanyaan


B. Evaluasi:
1. Memintauntuk mengulang Memperhatikan dan
penjelasan yang kita berikan Menjawab
2. Meminta pujian pada
3. Mengucapkan terimakasih atas perhatian
dan waktunya
4. Mengucapkan salam
IX. PENGESAHAN

Yogyakarta, 200

Sasaran Pemberi Materi Penyuluh

Ibu-ibu Mahasiswa PKL Smester B


Stikes Aisyiyah Yogyakarta

Mengetahui:

Kepala Pedukuhan Pembimbing PKL

. Drs. Sugianto, A. Md. Kep. M. Kes

X. Evaluasi
Jenis: Tanya Jawab
Teknik: Lisan
Jumlah: . buah
XI. Lampiran Materi
XII. Daftar Pustaka.
LAMPIRAN MATERI

EMESIS DAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

A. Pengertian Emesis dan Hiperemesis Gravidarum.


Mual dan muntah dalam kehamilan, atau sering disebut nausea dan emesis gravidarum adalah
hal yang wajar dan sering ditemukan dalam kehamilan terutama dalam trimester pertama
kehamilan. Menurut penelitian, 60% sampai 80% dari wanita yang pertama kali mengandung
(primigravida) dan 40% sampai 60% dari wanita yang sudah pernah mengandung (multigravida)
mengaku mengalami masalah mual muntah ini. Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan
muntah yang berkelanjutan sehingga menganggu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan
kekurangan cairan dan terganggunya keseimbangan elektrolit.
B. Etiologi dan Patofisiologi
Penyebab Hiperemesis Gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa
faktor prodisposisi yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
a. Faktor adaptasi dan hormonal
Pada waktu hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi Hiperemesis Gravidarum
dapat dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia,
wanita primigravida overdistensi rahim, ganda dan hamil mola hidatidosa. Sebagai kecil
primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan koreonik gonadotropin ,
sedangkan pada hamil ganda dan mola hidahdosa jumlah hormon yang dikeluarkan terlalu tinggi
dan menyebabkan terjadinya Hiperemesis Gravidarum
b. Faktor Psikologis
Hubungan faktor psikologis dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum belum jelas, jelas
besar kemungkinan bahwa wanita yang mendadak kehamilan, takut kehilangan pekerjaan,
keretakan hubungan dengan suami, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dan sebagainya,
diduga dapat menjadi faktor kejadian Hiperemesis Gravidarum. Dengan perubahan suasana dan
masuk rumah sakit penderitanya dapat berkurang sampai menghilang.
c. Faktor Alergi
Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili karralis yang masuk kedalam
peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan terjadinya Hiperemesis
Gravidarum.
d. Patofisiologi
Peranan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terus menerus dapat
menyebabkan clehidrasi, hiponatremia, hipokloremia, penurunan klorida urine, selanjutnya
terjadi hemokonsentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbun
nya zat toksik. Pemakaian cadangan karbohidrat dan lemak mennyebabkan oksidasi lemak tidak
sempurna sehingga terjadi ketosis hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan
selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar selaput lendir esophagus dan
lambung dapat robek (sindrom malory weiss) sehingga terjadi perdarahan gastro Intestinal (Mans
joer, 2001,259).

C. Kalsifikasi dan gejala klinis


Berdasarkan berat ringanya, gejala, Hiperemesis dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan
yaitu :
a. Tingkat I (Hiperemesis Gravidarum ringan)
b. Tingkat II (Hiperemesis Gravidarum sedang)
c. Tingkat III (Hiperemesis Gravidarum berat)
(Manuba, 1998,210)
Gambaran gejala Hiperemesis Gravidarum secara klinis sesuai dengan tingkatan
Hiperemesis Gravidarum, yaitu :
a. Hiperemesis Gravidarum tingkat I : Ringan
1) Muntah terus menerus lebih dari 10 x / hari
2) Keadaan umum lemah
3) Tidak mau makan
4) Berat badan menurun
5) nyeri di darah epigastrium
6) Turgor kulit mengunang / tonusnya lemah
7) nadi meningkat sekitar 100 x / menit dan tekanan darah menurun.
8) lidah mengering dan mata cekung.
b. Hiperemesis Gravidarum tingkat II sedang
1) Mual dan muntah yang hebat
2) Keadaan umum lebih lembah dan apatis
3) Turgor kulit lebih berkembang
4) Lidah menyaring dan tampak kotor
5) Nadi kecil dan cepat serta tekanan darah turun.
6) Suhu kadang-kadang naik.
7) Mata sedikit ikterik / ikterik ringan
8) Berada badan turun.
9) Hiperemesis Gravidarum, oliguria dan konstipasi.
10) Nafas berbau aseton.
c. Hiperemesis Gravidarum tingkat III berat
1) Muntah berkurang atau berlebih
2) Keadaan umum makin menurun, tekanan darah turun, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat,
keadaan dihidarasi makin jelas
3) Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus.
4) Gangguan kesadaran dalam bentuk, samnolen sampai koma
(Manuaba, 1998, 210-211).
d. Komplikasi
Dampak yang ditimbulkan dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti ibu akan kekurangan nutrisi
dan cairan sehingga keadaan fisik ibu menjadi lemah dan lelah dapat pula mengakibatkan
gangguan asam basa, penumoni aspirasi, robekan mukosa pada hubungan gastroesofagi yang
menyebabkan perdarahan ruptur eso fagus, kerusakan hepar dan kerusakan ginjal, ini akan
memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin karena nutrisi yang tidak
terpenuhi atau tidak sesuai dengan kehamilan, yang mengakibatkan peredaraan darah janin
berkurang
D. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengubah emesis agar tidak terhadi Hiperemesis :
a. Penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses psikologis.
b. Makan sedikit-sedikit tetapi sering, berikan makanan selingan super biskuit, roti kering dengan
teh hangat saat bangun pagi dan sebelum tidur. Hindari makanan berminyak dan berbau,
makanan sebaik disajikan dalam keadaan hangat.
c. Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa oyong, mual dan muntah, difekasi
hendaknya diusahakan terakhir.
E. Penatalaksanaan
Konsep pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut :
a. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang
baik, alat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk kedalam
kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan tidak diberikan makan atau
minum selama 24 jam kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang / hilang
tanpa pengobatan.
b. Terapi psikologik
Perlu di yakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, berikan
pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, norma dan fisiologis jadi tidak perlu
takut dan khawatir, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta
menghilangkan masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
c. Cairan Parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup ekektrolit, karbohidrat dan proten dengan glukosa
% dalam cairan garam fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan
vitamin khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C bila ada kekurangan protein dapat
diberikan asam amino secara intravena.
Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan keluar, air kencing perlu diperiksa
terhadap protein. Astion, khorida dan bilirubin, suhu dan udara perlu diperiksa setiap 4 jam dan
tekanan darah 3 x sehari. Dilakukan pemeriksaan hemaltrokrit. Pada permulaan dan seterusnya
menurut keperluan. Bila dalam 24 jam pertama penderita tidak muntah dan keadaan umum
bertambah baik dapat di coba untuk memberikan minuman dan lambat laun minuman dapat
ditambah dengan makanan.
d. Obat yang dapat diberikan
Memberikan obat pada Hiperemesis Gravidarum sebaiknya berkomunikasi dengan
dokter, sehingga dapat dipilih obat yang tidak bersifat teratogenik (susunan obat) yang dapat
diberikan adalah :
1) Sedativa ringan
a) Phenobarhal (luminal) 30 mgr
b) Valium
2) Inti Alergi
a) Medramer
b) Dramamin
c) Avemim
3) Obat anti mual-muntah
a) Mediamer B6
b) Emetrole
c) Stimetil
d) Avopreg
4) Vitamin
a) Terutama vitamin B kompleks
b) Vitamin C
e. Mengentikan kehamilan
Pada sebagian kecil kasus, keadaan tidak menjadi baik bahkan mundur. Usahakan mengadakan
pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirrum, kebutaan, takhikardi,
iklerus, anuriq, dan perdarahan merupakan monifestasi komplikasi organik dalam keadaan
demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan
abortus terputik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat
tetapi dalam pihak tidak boleh menunggu sampai menjadi gejala irreversibel pada organ vital
(Prawirohardjo, 1992).