Anda di halaman 1dari 22

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

BAB I
Pendahuluan

1.1 LATAR BELAKANG

RTRW Kota Batu merupakan salah satu dokumen pembangunan yang strategis karena
dokumen tersebut menjadi acuan bagi setiap gerak dan langkah pembangunan, baik yang dilakukan
oleh pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat Kota Batu.
Dinamika perkembangan wilayah
layah Kota Batu saat ini lebih mengarah pada perkembangan Kota
Batu ke depan sebagai sentra pertanian, sentra wisata dengan ikon Kota Batu sebagai Kota
Wisata. Kebutuhan akan ruang di wilayah Kota Batu untuk mendukung program pembangunan
yakni pengembangan
gan perdagangan hasil pertanian dan penguatan industri pertanian (agro-industry),
(agro
penambahan ragam obyek dan atraksi wisata dengan didukung sarana, prasarana dan unsur
penunjang wisata, serta meningkatkan kapabilitas SDM Kota Batu melalui jalur pendidikan dan
membentuk sekolah unggulan bertaraf nasional bahkan internasional. Pengembangan Kota Batu
pada sektor pertanian, wisata dan pendidikan diarahkan khususnya yang sesuai karakteristik Kota
Batu dalam bidang ilmu pengembangan pertanian, pariwisata dan kerajinan,
kera sehingga menuntut
paradigma baru dalam membuat arahan penataan ruang sebagai panduan pembangunan Kota Batu.
Perubahan kualitas lingkungan khususnya degradasi kawasan yang telah ditetapkan sebagai
kawasan lindung di Kota Batu, juga mendorong untuk segera
s melakukan reorientasi dalam membuat
arahan rencana tata ruang. Sebagian kawasan lindung yang dimaksud saat ini telah beralih fungsi
dan sebagian lagi mengalami kerusakan yang mengkawatirkan. Kerusakan kawasan lindung secara
umum mengakibatkan dampak lingkungan serius di beberapa bagian wilayah Kota Batu, bahkan
berdampak ke wilayah diluar wilayah Kota Batu. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan paradigma
pembangunan yang berkelanjutan.

Buku Rencana I-1


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Dasar dan pertimbangan lain perlunya evaluasi dan revisi terhadap produk Rencana Tata 1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN RTRW KOTA BATU
Ruang Wilayah Kota Batu Tahun 2003-2013 yang telah ada sebelumnyameliputi faktor eksternal dan Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu mengacu pada peraturan dan
faktor internal, yakni : kebijaksanaan, antara lain :
A. Faktor Eksternal 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok
Adanya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, didalam pasal-pasal Pokok);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
undang-undang tersebut memuat aturan-aturan yang tegas dan lebih ketat, sehingga
Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik
diperlukan produk perencanaan tata ruang yang lebih aplikatif sesuai dengan ketentuan yang Indonesia Nomor 3274);
telah ditetapkan. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik
Adanya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Indonesia Nomor 3317);
Ruang Wilayah Nasional, sehingga Keberadaan Kota Batu merupakan wilayah kotaperlu 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49,
disesuaikan peranannya sebagai PKN, PKW dan PKL
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
Adanya Peraturan Daerah Propinsi Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman
Propinsi Jawa Timur, sehingga keberadaan RTRW Kota Batu perlu adanya penyesuaian. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3469);
Perencanaan tata ruang Kota Batu di harapkan dapat memecahkan permasalahan isu global,
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
nasional dan regional, seperti; Isu Lingkungan (Global Warming), Isu Krisis Ekonomi Global, Isu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara
Pengangguran dan Pengentasan Kemiskinan, Isu Peningkatan Investasi, dan Isu lainnya. Republik Indonesia Nomor 3470);
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
B. Faktor Internal
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Berdasarkan faktor internal, Produk RTRW lama belum bisa mengakomodasi kebutuhan- Negara Republik Indonesia Nomor 3699);
kebutuhan pembangunan akibat dari: 8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik
Arah kebijakan pembangunan 5 tahun ke depan (yang telah dijabarkan dalam RPJM Daerah). Indonesia Nomor 3881);
Keberadaan RTRW Kota Batu yang ada masih belum mampu mengakomodasikan kebutuhan- 9. Undang-undang Republik indonesia Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pembentukan Kota Batu
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara
kebutuhan dan program pembangunan secara optimal, sehingga diperlukan penyempurnaan
Republik Indonesia Nomor 4118);
pembangunan fasilitas skala besar, seperti rencana rest area, rencana obyek wisata baru, 10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran
rencana perumahan PNS, rencana fasilitas olah raga (Sport Centre), kawasan perkantoran dan Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4377);
lain sebagainya.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Produk RTRW Kota Batu disusun pada tahun 2003, sehingga diperlukan upaya-upaya Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan
penyesuaian melalui proses Evaluasi dan Revisi RTRW Kota Batu untuk kurun waktu tertentu ( Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran
5 tahun). Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 84);
Didalam hasil penyusunan Rencana Tata Ruang yang baru nantinya didasarkan pada Undang- 13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,
Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,dimana jangka waktu RTRW
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
Kabupaten/Kota adalah dua puluh (20) tahun dan ditinjau kembali satu (1) kali dalam lima (5) tahun 14. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
atau lebih dari satu (1) kali dalam lima (5) tahun sesuai dengan ketentuan perundang-undangan Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4433);
yang berlaku.
15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125);

Buku Rencana I-2


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara 32. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan
Nomor 4444); Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3934);
17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana 33. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan
Republik Indonesia Nomor 4723); Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3980);
18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran 34. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota (Lembaran Negara Republik
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68); Indonesia Tahun 2002 Nomor 119);
19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah 35. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2003 Tentang Perum Kehutanan Negara (Lembaran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69); Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 67);
20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan 36. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4959); Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 147);
21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran 37. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Atas
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 Tentang Penyediaan Dan Pemanfaatan Tenaga
Indonesia Nomor 4966); Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 2);
22. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan 38. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem
Jalan Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96; Tambahan Lembaran Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan
Negara Republik Indonesia Nomor 5025); Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490);
23. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan 39. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2006 Tentang Irigasi (Lembaran
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140; Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); Indonesia Nomor 4624);
24. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan 40. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2006 Tentang Perubahan Kedua Atas
Pertanian Pangan Berkelanjutan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149; Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 Tentang Penyediaan Dan Pemanfaatan Tenaga
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068); Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 56, Tambahan Lembaran
25. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Negara Republik Indonesia Nomor 4628);
Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 41. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan (Lembaran
3294); Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
26. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Indonesia Nomor 4655);
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran 42. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Negara Republik Indonesia Nomor 3373); Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
27. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82);
Hak Pakai atas Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 58, Tambahan 43. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3643); Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828);
28. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta 44. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Bentuk dan Tata cara Peranserta masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara
Indonesia tahun 1996, Nomor 104); Republik Indonesia Nomor 4833);
29. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah 45. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2008 tentang Air Tanah (Lembaran
Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik
Negara Republik Indonesia Nomor 5098); Indonesia Nomor 4859);
30. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan suaka 46. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara
alam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Negara Republik Indonesia Nomor 3776); Nomor 4987);
31. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Dampak Lingkungan Hidup 47. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Republik Indonesia Nomor 3838); Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5097);

Buku Rencana I-3


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

48. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban Dan 71. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 tahun 2011 tentang Pedoman teknis
Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 16, Pertanahan;
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5098); 72. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang
49. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Wilayah Propinsi Jawa Timur;
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21; Tambahan 73. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 61 tahun 2006 tentang Pemanfaatan Ruang Pada
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); Kawasan Pengendalian Ketat Skala Regional Di Provinsi Jawa Timur;
50. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan 74. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 3 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 30; Tambahan Lembaran Batu tahun 2003-2013;
Negara Republik Indonesia Nomor 5112);
51. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum;
1.3 AZAS, MAKSUD DAN SASARAN PENYUSUNAN RTRW KOTA BATU
52. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
53. Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2005, perubahan atas Perpres Nomor 36 Tahun 2005 1.3.1. AZAS
tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum;
Azas penataan ruang wilayah Kota Batu dapat disesuaikan dengan Undang-undang No 26.
54. Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional;
55. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 63 Tahun 1993 tentang Garis Sempadan dan Sungai, tahun 2007, azas penataan ruang yakni:
Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai; a) Keterpaduan
56. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran serta Masyarakat
Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah; b) Keserasian, keselarasan dan keseimbangan.
c) Keberlanjutan.
57. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi;
d) Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan.
58. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 01 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan; e) Keterbukaan
59. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Ruang f) Kebersamaan dan kemitraan.
Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor;
g) Perlindungan kepentingan umum.
60. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan
Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah; h) Kepastian hukum, keadilan dan Akuntabilitas.
61. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman Persetujuan
Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
1.3.2. MAKSUD
Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, beserta Rencana Rincinya;
62. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Maksud dari kegiatan ini adalah untuk Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu Tahun 2010-
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota; 2030 :
63. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1991 tentang
Penetapan Kawasan Lindung di Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur; a. Menyajikan data data lapangan yang dapat memberikan gambaran kondisi real perwujudan
64. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Hutan Raya R. ruang di lapangan yang mempengaruhi pelaksanaan pengembangan tata ruang wilayah Kota
Soeryo;
Batu.
65. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Hutan di Jawa
Timur; b. Mengkaji setiap aspek pembangunan melalui kegiatan analisis data lapangan yang
66. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2005 tentang Penertiban dan mempengaruhi proses perencanaan dan pengembangan wilayah Kota Batu.
Pengendalian Hutan Produksi di Provinsi Jawa Timur;
c. Merumuskan konsep, strategi dan arahan pengembangan wilayah Kota Batu hingga 20 tahun
67. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 41 Tahun 2009 tentang Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan
Pertanian; kedepan sebagai bahan dasar dalam merumuskan rancangan rencana kawasan.
68. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan
Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;
1.3.3. SASARAN
69. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 41 Tahun 2007 tentang Pedoman KKriteria Teknis
Kawasan Budi Daya; Sasaran penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu adalah sebagai berikut :
70. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan a) terumuskan kebutuhan pengembangan wilayah;
Perkotaan;

Buku Rencana I-4


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

b) tersusun rencana tata ruang wilayah dan program-program pembangunan yang sesuai dengan Berdasarkan ketinggiannya, Kota Batu diklasifikasikan kedalam 6 (enam) kelas, yaitu:
dinamika perkembangan wilayah dan kebijakan rencana tata ruang wilayah Nasional dan Propinsi a. 600 1.000 DPL dengan luas 6.019,21 Ha
Jawa Timur, serta paradigma baru penataan ruang wilayah. Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah:
c) terkendalinya pembangunan di wilayah kota; dan 1. Kecamatan Batu (terutama Desa Sidomulyo secara keseluruhan, sebagian besar Kelurahan
d) terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Temas, Kelurahan Sisir, Kelurahan Ngaglik dan Desa Sumberejo serta sebagian kecil Desa
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu menjadi pedoman untuk : Oro-oro Ombo, Desa Pesanggrahan dan Kelurahan Songgokerto.
a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang Kota Batu 2. Kecamatan Junrejo (terutama Desa Junrejo, Torongrejo, Pendem, Beji, Mojorejo, Dadaprejo
b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Kota Batu dan sebagian Desa Tlekung)
c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Kota Batu 3. Kecamatan Bumiaji (terutama pada sebagian kecil desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan
d. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan perkembangan antar Bumiaji)
bagian wilayah kota serta keserasian antarsektor b. 1.000 1.500 DPL dengan luas 6.493,64 Ha
e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah: sebagian besar desa-desa yang ada di
f. Penataan ruang kawasan strategis Kota Batu Kecamatan Bumiaji dan sebagian dari desa-desa yang ada di Kecamatan Batu (terutama wilayah
Kelurahan Songgokerto, Desa Oro-oro Ombo dan Desa Pesanggrahan) serta di sebagian kecil
1.4 PROFIL WILAYAH KOTA Desa Tlekung yang berada di wilayah Kecamatan Junrejo.
c. 1.500 2.000 DPL dengan luas 4.820,40 Ha
1.4.1. GAMBARANUMUM KOTA
Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah: sebagian kecil Desa Tlekung Kecamatan
Lingkup Wilayah penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu meliputi
Junrejo. Selain itu juga terdapat di sebagian kecil Desa Oro-oro Ombo dan Desa Pesanggrahan,
seluruh wilayah administratif Kota Batu. Wilayah perencanaan secara administratif terdiri dari 3 (tiga)
terutama di sekitar kawasan Gunung Panderman, Gunung Bokong serta Gunung Punuksari.
kecamatan yaitu :
Sedangkan di wilayah Kecamatan Bumiaji, seluruh bagian desa mempunyai ketinggian ini,
1. Kecamatan Batu
terutama kawasan-kawasan di sekitar Gunung Rawung, Gunung Tunggangan, Gunung
2. Kecamatan Junrejo
Pusungkutuk.
3. Kecamatan Bumiaji
d. 2.000 2.500 DPL dengan luas 1.789,81 Ha
Luasan wilayah Kota Batu adalah 19.908,7Ha.Batas Wilayah Kota Batu sebagai berikut:
Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini relatif sedikit, yaitu di sekitar Gunung Srandil serta
Sebelah Utara : Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan
diujung Desa Oro-oro Ombo Kecamatan Batu yang berbatasan dengan Kecamatan Wagir. Untuk
Sebelah Selatan : Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang
Kecamatan Bumiaji, ketinggian ini berada di sekitar Gunung Anjasmoro dan pada sebagian kecil
Sebelah Barat : Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang
di wilayah Desa Giripurno, Desa Bumiaji, Desa sumbergondo dan Desa Torongrejo.
Sebelah Timur : Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
e. 2.500 3.000 DPL dengan luas 707,32 Ha
Berikut PetaOrientasi1.1danPetaBatas Administrasi 1.2.
Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah sebagian kecil desa-desa yang berada di
Secara umum wilayah Kota Batu merupakan daerah perbukitan dan pegunungan. Diantara
wilayah Kecamatan Bumiaji, terutama pada wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan
gunung-gunung yang ada di Kota Batu, ada tiga gunung yang telah diakui secara nasional, yaitu
Prigen.
Gunung Panderman (2.010 meter), Gunung Welirang (3.156 meter), dan Gunung Arjuno (3.339
f. > 3.000 DPL dengan luas 78,29 Ha
meter). Sedangkan kemiringan lahan (slope) di Kota Batu berdasarkan data dari peta kontur
Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah pada beberapa desa di Kecamatan Bumiaji,
Bakosurtanal 2001 diketahui bahwa, sebagian besar wilayah perencanaan Kota Batu mempunyai
khususnya di sekitar Gunung Arjuno (Desa sumbergondo), Gunung Kembar dan Gunung Wlirang
kemiringan lahan sebesar 25 40% dan kemiringan > 40.
(Desa Tulungrejo).

Buku Rencana I-5


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Sedangkan kemiringan lahan (slope) di Kota Batu berdasarkan data dari peta kontur
Bakosurtanal 2001 diketahui bahwa, sebagian besar wilayah perencanaan Kota Batu mempunyai
kemiringan lahan sebesar 25 40% dan kemiringan > 40. Rincian mengenai kemiringan ini adalah :
0 8 % seluas 2.207,21 Ha.
8 15 % seluas 2.223,73 Ha.
15-25 % seluas 1.799,37 Ha.
25 40 % seluas 4.529,85 Ha.
> 40 % seluas 4.493, 33 Ha.

Buku Rencana I-6


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Buku Rencana I-7


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Buku Rencana I-8


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Buku Rencana I-9


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Dilihat dari formasi geologi diatas menunjukan bahwa Kota Batu merupakan wilayah yang
subur untuk pertanian karena jenis tanahnya merupakan endapan dari sederetan gunung yang c. Permukiman Wisata (Villa)
mengelilingi Kota Batu, sehingga di Kota Batu mata pencaharian penduduk didominasi oleh sektor Sedangkan untuk kawasan permukiman berupa villa lebih banyak tersebar di beberapa
pertanian. Kota Batu secara geologis tersusun atas endapan gunung api yang aktif pada masa tempat antara lain disekitar Jalan Mawar, Jalan Trunojoyo, Jalan Flamboyan dan daerah
lampau. Endapan hasil aktifitas gunung api ini sering disebut endapan Epiklastik dan Tiroklastika. sekitar Songgoriti.
o
Kota Batu merupakan daerah pegunungan dengan hawa dingin dengan suhu udara 21,3 C Gambar 1.1
o
dan 34,2 C. Adapun Kota Batu memiliki 2 iklim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Persebaran Permukiman EstatE di Kota Batu

Kondisi hidrologi Kota Batu banyak di pengaruhi oleh sungai-sungai yang mengalir di bagian
pusat kota, sehingga akan berpengaruh juga terhadap perkembangan kota. Hidrologi di Kota Batu
dibedakan menjadi 3 (tiga ) jenis yaitu air permukaan, air tanah dan sumber mata air.Sampai saat
ini di wilayah Kota Batu telah diinventarisasi sebanyak 83 sumber mata air yang produktif dan
selama ini telah digunakan oleh PDAM Unit Batu, PDAM Kabupaten Malang, PDAM Kota Malang
Villa Klub Bunga
maupun digunakan oleh swasta dan masyarakat untuk berbagai keperluan.

A. Sistem Pusat Permukiman


Pemukiman di wilayah Kota Batu terdiri atas 2 jenis yaitu jenis permukiman/perumahan alami
dan permukiman estate. Bangunan permukiman tersebut hampir semuanya merupakan bangunan
permanen dengan kondisi bangunan yang beragam. Kawasan perumahan/permukiman penduduk Bukit Batu Permata

umumnya tersebar merata disetiap wilayah yang ada Kota Batu dengan pola linier. Kepadatan paling
tinggi berada di Kecamatan Batu yaitu di Kelurahan Pesanggrahan tepatnya di sekitar Jalan Panglima
Sudirman, Jalan Hasanudin, Jalan Samadi, Jalan Cempaka. Untuk lebih jelasnya mengenai
permukiman tersebut adalah :
a. Permukiman Kampung
Permukiman kampung di Kota Batu tersebar di sepanjang poros jalan utama di wilayah Vila Panderman

perencanaan. Kondisi perkampungan beberapa diantaranya telah tertata dan beberapa


Permukiman agropolitan baik yang memiliki bentuk kompak ataupun menyebar umumnya
diantaranya belum tertata dengan baik. Pada umumnya tidak tertatanya perkampungan
memiliki pusat pengembangan masing-masing yang sangat potensial mendorong
dilihat dari kondisi lingkungan dan ketersediaan fasilitas.
perkembangan kawasan perdesaan yang ada, serta terdapat banyak perdesaan yang mampu
b. Permukiman Estate
mendorong perkembangan perdesaan dalam skala yang lebih luas;
Pada wilayah Kota Batu, perkembangan permukiman cukup pesat terutama permukiman
yang dikembangkan oleh developer. Permukiman jenis ini termasuk di dalam permukiman
B. Fasilitas Pendidikan
perkotaan. Berikut permukiman estat yang terdapat di Kota Batu :
Untuk fasilitas pendidikan di Kota Batu pada tahun 2010 meliputi Taman Kanak-kanak (TK)
Green Apple Regency berlokasi di Kecamatan Junrejo dengan luas lahan 0,391 Ha
sejumlah 84 unit, Sekolah Dasar (SD) sejumlah 72 unit, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Perum Pondok Batu Indah berlokasi di Kecamatan Junrejo dengan luas lahan 1,468
(SLTP) sejumlah 26 unit , Sekolah Menengah Umum (SMU) sejumlah 9 unit, Sekolah Menengah
Ha
Villa Bukit Mas berlokasi di Kecamatan Junrejo dengan luas lahan 1,679 Ha

Buku Rencana I - 10
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Kejuruan (SMK) 10 unit, Madrasah Ibtidaiyah (MI) sejumlah 11 unit, Madrasah Tsanawiyah (MTs) No. Kecamatan Jumlah Fasilitas (Unit)
sejumlah 3 unit dan Madrasah Aliyah (MA) sejumlah 2 unit. 3 Bumiaji - 1 4 51 - 1
Tabel 1.1 Jumlah 5 4 4 186 3 10
Fasilitas Pendidikan di Kota Batu Tahun 2010 Sumber : Kota Batu Dalam Angka, 2009
Jumlah Fasilitas ( Unit )
No. Kecamatan SD SLTP SMU SMK Gambar 1.2
TK MI MTs MA
N S N S N S N S Persebaran Fasilitas Kesehatan di Kota Batu
1 Batu 40 26 6 2 13 1 6 1 6 7 1 2
2 Junrejo 19 16 - 1 4 1 - 1 1 2 1 1
3 Bumiaji 25 23 1 4 2 - 1 1 - 2 1 -
Jumlah 84 65 7 7 19 2 7 3 7 11 3 3
Sumber : Kota Batu Dalam Angka, 2009

a. Fasilitas Peribadatan Bidan Widiyani

Fasilitas peribadatan yang ada di kota Batu berupa masjid sejumlah 138 unit, langgar/musholla
sejumlah 397 unit, Gereja sejumlah 14 unit, Wihara sejumlah 5 unit dan Pura sejumlah 1 unit
yang cenderung menyebar di setiap kecamatan. Sebagian besar penduduk Kota Batu beragama
Islam, hal ini bisa dilihat dari penyebaran jumlah fasilitas peribadatan yang mendominasi adalah R.S. Paru Kec.Batu
masjid dan langgar/ musholla. fasilitas peribatan dapat dilihat pada tabel 1.2

Tabel 1.2
Fasilitas Peribadatan di Kota BatuTahun 2010 R.S. William Booth
Jumlah Fasilitas ( Unit ) Surabaya
No. Kecamatan Langgar/
Masjid Gereja Vihara Pura
Musholla
1 Batu 50 175 10 4 -
2 Junrejo 50 79 2 1 -
3 Bumiaji 38 143 2 - 1 R.S.Baptis Batu
Jumlah 138 397 14 5 1 Kec.Junrejo
Sumber : Kota Batu Dalam Angka, 2009

b. Fasilitas Kesehatan PuskesmasPembantu


Kec.Bumiaji
Pusat pelayanan kesehatan di Kota Batu dilayani oleh rumah sakit umum sejumlah 5 unit,
Puskesmas sejumlah 4 unit, puskesmas pembantu sejumlah 4 unit, posyandu sejumlah 186 unit,
rumah bersalin sejumlah 3 unit dan apotik sejumlah 10 unit yang lokasinya tersebar di seluruh
kecamatan.
Tabel 1.3
Fasilitas Kesehatan di Kota BatuTahun 2010
Jumlah Fasilitas (Unit)
No. Kecamatan Rumah Puskes Puskesmas Rumah
Posyandu Apotik R.S.Haji Kec.Batu
Sakit mas Pembantu Bersalin
1 Batu 4 1 - 89 3 8
2 Junrejo 1 2 - 46 - 1

Buku Rencana I - 11
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Gambar 1.3
c. Fasilitas Perdagangan dan Jasa Persebaran Fasilitas Perkantoran Di Kota Batu
Skala perdagangan di Kota Batu meliputi perdagangan skala kecil, menengah dan besar yang
tersebar merata di seluruh kecamatan. Sedangkan menurut jenisnya meliputi supermarket/
swalayan sejumlah 26 unit, pertokoan sejumlah 2353 unit, ruko sejumlah 350 unit, restauran/
rumah makan sejumlah 45 unit, kios dan warung sejumlah 1231 unit. Adapun untuk persebaran
perdagangan tertinggi menurut skala berada di Kecamatan Batu meliputi 7 unit perdagangan
kecil, 17 unit perdagangan menengah dan 73 unit perdagangan besar. Begitu pula untuk jenis
perdagangan tertinggi juga berada di Kecamatan Batu sejumlah 3736 unit. Kantor Pos dan Kantor
Walikota di Jl P. Sudirman
Kantor Permukiman
Purnawirawan AU
Tabel 1.4
Jumlah Fasilitas Perdagangan di Kota Batu Tahun 2010
Jumlah
No Nama
Kec. Batu Kec. Bumiaji Kec. Junrejo
1 Supermarket/ Swalayan 20 3 3
2 Pertokoan 2226 73 54
3 Ruko
4 Restaurant/RumahMakan 31 4 10 Kantor Bappeda di
Sidomulyo
3 Ruko 303 41 6
4 Restauran/ Rumah Kantor
31 4 10 CamatBatu
Makan
5 Kios - - -
6 Warung 1156 57 18
Jumlah 3736 178 91
Sumber : Disperindag, 2009

Kantor DPR
C. Fasilitas perkantoran Kantor Kantor
Kejaksaan DISPENDUK CAPIL
Kota Batu pada umumnya masih memiliki kawasan perkantoran yang menyebar di setiap
wilayah. Hal ini di sebabkan karena masih banyak kantor pemerintah maupun swasta yang belum
terpusat. Untuk kawasan perkantoran cenderung memusat di Kecamatan Batu dengan jenis
perkantoran antara lain yaitu kantor Walikota dan kantor pos berada di jalan P.Sudirman, kantor
Kecamatan Batu, kantor Pengendalian dampak lingkungan, Kantor Dinas Cipta Karya dan Tata
Ruang, Dinas Pariwisata dan Koramil, Kantor Lingkungan Hidup, kantor Pertanian, berada sekitar
Kantor PEPABRI Kantor
di jalan Dinas Perhubungan berada di jalan Dewi Sartika, Kantor POLRES Batu berada di Junrejo. Bakesbanglinmas
Potensi persebaran fasilitas perkantoran dapat dilihat pada gambar 1.3
Kantor Kecamatan Batu, kantor
Dispendukcapil, Kantor Pengairan Bina Marga,
Dinas Pariwisata dan Koramil, kantor
Bakesbang Linmas berada di Jl. Ridwan,
kantor Dinas Perhubungan berada di jl.Dewi
Sartika

Buku Rencana I - 12
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

D. Kawasan Pertahanan dan Keamanan 1.4.2. KEPENDUDUKAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA
Kota Batu juga memiliki kawasan strategis yakni adanya kawasan militer Arhanud di Desa Jumlah penduduk Kota Batu pada tahun 2010 sebesar 206.980 jiwa yang tersebar di 3
Pendem, Kecamatan Junrejo. Di sekitar kawasan ini ada juga kawasan perumahan militer dan kecamatan. Persebaran penduduk relatif memusat di Kecamatan Batu yaitu sebesar 97.881 jiwa
Kantor Lanud sehingga harus diamankan dari penggunaan lahan yang memiliki intensitas dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 49.373 jiwa dan perempuan sebesar 48.508 jiwa,
kegiatan yang tinggi sehingga tidak menimbulkan masalah pada kawasan tersebut.Potensi sedangkan untuk jumlah persebaran penduduk terkecil berada di Kecamatan Junrejo sebesar 50.447
persebaran kawasan militer dapat dilihat pada gambar 1.4 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 25.447 jiwa dan penduduk perempuan sebesar
25.000 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.5 berikut;
Gambar 1.4 Tabel 1.5
Kawasan Militer di Kota Batu Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Per Kecamatan di Kota Batu
Tahun 2009
Luas Jumlah Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan
No. Kecamatan
Wilayah(Km2) Penduduk Laki-laki Perempuan (jiwa/Km2)
1 Batu 45,46 97.881 49.373 48.508 2.153

2 Junrejo 25,65 50.447 25.447 25.000 1.967

3 Bumiaji 127,98 58.652 29.559 29.053 458


Jumlah 199,087 206.980 104.419 102.561 1.040
Sumber : BPS Kota Batu, 2009

Untuk pertumbuhan penduduk di Kota Batu selama 5 tahun terakhir mengalami kenaikan
setiap tahunnya, dimana rata-rata kenaikan pertumbuhan penduduk dari tahun 2005 hingga tahun
2009 sebesar 0,04%. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah penduduk di wilayah perencanaan
selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada grafik pertumbuhannya pada gambar1.5

Gambar 1.5
Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Batu Tahun 2005-2009

210000
200000
E. Sektor informal/Pedagang kaki lima 190000
Keberadaan pedagang kaki lima di Kota Batu tersebar di lokasi antara lain Jl.Bukit Berbunga, 180000
Desa Sidomulyo Kecamatan Batu berupa tanaman hias, Jl.Kartini berupa buah buahan dan 170000

Jl.Sudiro berupa pedagang makanan dan minuman Kelurahan Ngaglik Kecamatan Batu. 160000
2004 2005 2006 2007 2008 2009

Sumber : BPS Kota Batu, 2009

Buku Rencana I - 13
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Buku Rencana I - 14
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Jumlah penduduk Kota Batu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga lereng yang terjal, lapisan tanah yang tebal, daya kohesinya kecil (tidak kompak), kejenuhan air
berpengaruh terhadap kepadatan penduduk di setiap wilayah kecamatan. Berdasarkan data tahun tinggi (adanya mata air), dan lajur patahan (sesar) menjadikan kawasan ini rawan longsor, yang
2
2007 menunjukkan tingkat kepadatan penduduk di Kota Batu sebesar 870 jiwa/Km , dimana dipercepat oleh kegiatan manusia yang tidak memperhatikan lingkungan. Kawasan rawan longsor di
Kecamatan Batu memiliki tingkat kepadatan paling tinggi dibandingkan kecamatan lainnya yaitu Batu terdapat di Kecamatan Bumiaji. Wilayah kecamatan Bumiaji mempunyai kelerengan diatas
sebesar 1.783 jiwa/Km dengan luas wilayah sebesar 45,46 Km, sedangkan tingkat kepadatan 40%.
paling rendah sebesar 401 jiwa/Km berada di Kecamatan Bumiaji. Gambar 1.7
Mata pencaharian penduduk di Kota Batu terdiri atas pertanian, pertambangan, industri, BencanaAlam Dan KerusakanLingkungan

listrik, gas & air, konstruksi, perdagangan, komunikasi, keuangan, jasa, dan lainnya. Jumlah
penduduk menurut jenis mata pencaharian di Kota Batu didominasi oleh sektor jasa dan lainnya
serta sektor pertanian, dimana masing-masing sektor menyerap tenaga kerja sebanyak 75.104 jiwa
untuk sektor jasa dan lain atau sebanyak 51,07% dari total jumlah keseluruhan penduduk menurut
mata pencaharian di Kota Batu, sedangkan sebanyak 34.546 jiwa untuk sektor pertanian atau
sebanyak 23,49%.
Gambar 1.6
Proporsi Jumlah Penduduk Menurut Mata PencaharianDi Kota Batu Tahun 2009

Pertanian
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
7,88%
Listrik, Gas & Air Bersih
1,20% 1,10% Konstruksi
20,69%
1,81% Perdagangan
Komunikasi
0,89%
19,93% Keuangan
5,56%
Jasa
0,22% 1.4.4. POTENSISUMBERDAYAALAM
Lainnya
4,19% Kawasan Hutan Lindung
Sumber : BPS Kota Batu, 2009 Kawasan hutan lindung berfungsi memberikan perlindungan bagi kawasan sekitarnya dan
bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah erosi dan banjir yang mutlak fungsinya
Berdasarkan kondisi eksisting yang ada di Kota Batu ini pola sebaran penduduk di dalam
sebagai penyangga kehidupan dan tidak dapat dialihkan peruntukkannya. Luas kawasan
bermukim cenderung menyebar mengikuti pola jaringan jalan ada di setiap wilayah Kota Batu, akan
hutan lindung di Kota Batu adalah sebesar 5197,40 Ha ( termasuk sempadan sungai dan
tetapi sebaran paling tinggi berada di Kecamatan Batu yaitu terutama di Kelurahan Sisir.
SUTT seluas 1.634,10 Ha) menyebar di seluruh kecamatan, kecamatan yang memiliki hutan
lindung terluas adalah kecamatan Bumiaji yaitu 3674,40 Ha, selanjutnya Kecamatan Junrejo
sebesar 810,20 Ha dan yang terakhir Kecamatan Batu sebesar 622,80 Ha. Potensi persebaran
1.4.3. BENCANAALAM
kawasan hutan lindung dapat dilihat pada table 1.6
Kawasan rawan bencana tanah longsor adalah kawasan dengan kerentanan tinggi untuk
terkena bencana tanah longsor, terutama jika kegiatan manusia menimbulkan gangguan pada lereng
kawasan ini. Kawasan ini menempati puncak-puncak dan tubuh lajur gunung api tengah. Kondisi

Buku Rencana I - 15
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Buku Rencana I - 16
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Tabel 1.6 Taman Wisata Alam


Luas Hutan Lindung di Kota Batu Tahun 2009 Batu memiliki banyak objek wisata alam yang menarik. Diantaranya Taman Wisata Selekta.
Luas Lahan Hutan
No Kecamatan Desa/Kelurahan Objek wisata andalan Batu yang menyediakan arena bermain, berenang, sepeda air dan
Lindung (Ha)
Kecamatan Bumiaji ekowisata berupa hutan pinus.Sebagai daerah penghasil utama apel, Batu juga memiliki
1 Tulungrejo 2649.20 tempat agrowisata di Kusuma Agrowisata. Selain itu bisa dinikmati hawa dingin pegunungan
2 Sumbergondo 46.50
di berbagai objek wisata yang tersebar di daerah pinggiran Kota Batu. Sebut saja Pemandian
3 Bumiaji -
4 Pandanrejo - Air Panas Songgoriti, Pemandian Air Panas Cangar, Air Terjun Coban Rondo, Coban Rais,
5 Punten 200.80 Coban Talun, serta Coban Banteng. Ada pula objek wisata sejarah seperti Candi Renggo,
6 Bulukerto 219.10
Patung Ganesha, dan Junggo. Untuk kegiatan ekstrim, Gunung Panderman, G.Banyak, dan
7 Gunungsari 304.10
G.Arjuno, serta gua di Cangar dan Tlekung menawarkan keekstremannya masing-masing
8 Giripurno 344.70
Jumlah 3764.40 melalui kegiatan mountain hiking, serta olahraga Paralayang.
Kecamatan Batu
1 Sisir -
1.4.5. POTENSIEKONOMI WILAYAH
2 Ngaglik -
3 Temas - Perkembangan nilai PDRB di Kota Batu pada tahun 2009 didasarkan pada harga yang
4 Oro-oro Ombo 203.80 berlaku, dimana perkembangannya berdasarkan sektor/ sub sektor yang memberikan kontribusi
5 Pesanggrahan 297.20
terhadap PDRB meliputi sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,
6 Songgokerto 80.50
gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi,
7 Sumberejo 41.30
8 Sidomulyo - keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa.
Jumlah 622.80 Gambar 1.8
Kecamatan Junrejo Grafik Distribusi Sektoral terhadap PDRB Kota Batu Tahun 2009
1 Tlekung 810.20
2 Junrejo - 50,00% Pertanian
3 Mojerejo - 45,00%
Pertambangan Dan
4 Beji - 40,00% Penggalian
5 Torongrejo - Industri Pengolahan
35,00%
6 Pendem - Listrik, Gas & Air Bersih
30,00%
7 Dadaprejo -
25,00% Bangunan
Jumlah 810.20
20,00% Perdagangan, Hotel &
Sumber : Dinas Kehutanan, 2009
15,00% Restoran
Pengangkutan &
Taman Hutan Raya 10,00% Komunikasi
Keuangan, Persewaan &
5,00%
Tahura R. Soeryo memiliki potensi wisata yang cukup bervariasi selain flora dan fauna serta Jasa Perusahaan
0,00% Jasa-jasa
pemandangan alam yang indah pada kawasan tersebut terdapat juga tempat pemandian
sumber air panas, Arboretum Cangar yaitu tempat koleksi tanaman langka, Arboretum Sumber : BPS Kota Batu, 2009

Sumber Brantas, Gua-gua Jepang, Petapaan Abiyoso, Padang Rumput Lalijiwo, Pondok
Welirang, Puncak Welirang dan Petapaan Indrokilo. Beberapa kegiatan wisata alam yang
dapat dilakukan diantaranya : lintas alam, menikmati pemandangan alam pegunungan,
berkemah, mandi air panas dan lain-lain.

Buku Rencana I - 17
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Buku Rencana I - 18
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

Berdasarkan gambar diatas maka dapat dilihat jika sektor perdagangan, hotel dan restoran terbesar berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Batu yang jika ditinjau secara agroklimat dan
memberikan kontribusi terbesar yaitu sebanyak 20,34% dari total keseluruhan nilai PDRB Kota Batu. agroekosistem, Desa Sidomulyo sangat cocok sebagai pusat pengembangan budidaya air tawar
Sedangkan sektor terkecil kontribusinya adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar dengan kondisi air yang memenuhi syarat secara teknis.
0,21%.
1.5 ISU-ISU STRATEGIS
Berdasarkan pembahasan mengenai PDRB di atas. Kegiatan-kegiatan perekonomian yang
menonjol dan memberi dampak cukup besar terhadap struktur pemanfaatan ruang wilayah Kota Isu yang berkaitan dengan pengembangan ruang wilayah kota :
Batu adalah sektor-sektor yang dijabarkan berikut ini: A. Pemanasan global (Global Warming)
Sektor PertanianTamanamPangan Pemanasan global (Global Warming) yang terjadi saat ini menyebabkan perubahan iklim.
Sektor pertanian yang ada di Kota Batu merupakan salah sektor yang mempunyai peranan besar Perubahan iklim terjadi karena :
terhadap peningkatan perekonomian. Hasil produksi dari sektor pertanian yang ada di Kabupaten Komposisi atmosfer terganggu terutama sebagai konsekuensi dari aktivitas manusia
Batu antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah. Adapun hasil produksi terbesar Populasi dunia terus meningkat, saat ini telah melampaui 6 milyar orang (6 kali lipat
yaitu padi dengan hasil produksi sebesar 5.958,46Ton, sedangkan hasil produksi terkecil yaitu selama abad ke-20) sehingga mengakibatkan peningkatan permintaan akan sumberdaya
kacang tanah sebesar 104,49 Ton. Selain produksi tanaman pangan padi dan palawija, Kota Batu alam, energi, pangan, dan barang-barang konsumsi. Proses tersebut akan menyumbang
juga berpotensi besar sebagai daerah penghasil tanaman hias yang dominan berada di Kecamatan sejumlah gas yang mengubah komposisi atmosfer dan kapasitasnya dalam mengatur
Bumiaji. suhu.
Sektor PertanianHortikultura Peningkatan pemanasan global disebabkan akumulasi gas-gas rumah kaca (greenhouse
Sektor perkebunan yang ada di Kota Batu merupakan salah sektor yang mempunyai peranan gases) yaitu karbondioksida, methan, nitrogen oksida,dan lain-lain. Selain itu sumber gas
besar terhadap peningkatan perekonomian. Hasil produksi dari sektor perkebunan yang ada di Kota rumah kaca yang lain adalah bahan bakar fosil yangapabila terbakar akan melepaskan CO2
Batu antara lain buah alpukat, buah jeruk siam/keprok, buah pisang dan buah apel. Adapun hasil ke atmosfir sehinggaberpengaruh terhadap pemanasan dan perubahan iklim global.
produksi terbesar yaitu buah apel sebesar 712.558 Kwintal dengan daerah penghasil terbesar berada Hutan dan perubahan iklim mempunyai hubungan yang unik. Di satusisi, perubahan iklim
di Kecamatan Bumiaji, hal ini dikarenakan kondisi topografi serta klimatologi di Kota Batu sangat global telah menekan hutan melalui peningkatansuhu rata-rata tahunan, mengganggu pola
cocok untuk pengembangan tanaman holtikultura terutama buah apel. Sedangkan hasil produksi curah hujan dan kondisicuaca yang ekstrim. Pada saat yang samahutan dan kayu
terkecil yaitu buah pisang sebesar 8.108 Kwintal dengan persebaran terbesar di Kecamatan Batu. yangdihasilkan menangkap dan menyimpan karbondioksida (CO2)mempunyai peran penting
Sektor Peternakan dalam mitigasi perubahan iklim. Di sisi lainketika hutan dirusak karena terbakar, illegal
Sektor peternakan yang ada di Kota Batu terdiri atas ternak besar yang meliputi sapi potong, sapi logging, perambahanhutan atau dipanen secara berlebihan maka hutan menjadi sumberdari
perah, kerbau, dan kuda, ternak kecil yang meliputi kambing, domba, dan kelinci, serta unggas yang gas rumah kaca.
meliputi ayam buras, ayam pedaging, ayam petelur dan itik. Produksi ternak terbesar berada di B. Krisis Ekonomi Global
Kecamatan Batu, jika ditinjau dari kondisi klimatologi maka Kota Batu sangat cocok untuk Krisis ekonomi global yang berimbas pada kelangkaan likuiditas akan mempengaruhi
pengembangan hewan ternak terutama sapi perah. perekonomian karena itu investasi perlu terus didorong dan ditingkatkan guna mewujudkan
Sektor Perikanan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan serta dapat menyerap lebih banyak tenaga
Sektor perikanan di Kota Batu meliputi hasil komoditi ikan di karamba, ikan di kolam dan ikan kerja. Berkaitan dengan Pemilu TAHUN 2009 akan sangat dimengerti kecenderungan para
hias. Adapun berdasarkan jenis komoditinya ikan di karamba dan ikan di kolam meliputi jenis ikan investor untuk bersikap hati-hati dalam melakukan investasi atau ekspansi. Namun, data dari
emas, ikan nila, ikan lele dan ikan patin dengan hasil produksi terbesar adalah jenis ikan mas BKPM menunjukkan cukup banyak proyek yang akan dilaksanakan pada tahun 2009. Untuk
sebesar 1726 kg dan untuk jenis ikan hias meliputi ikan koi, komet, grass carp dan ikan koki dengan investasi sektor riil (Foreign Direct Investment/ FDI), saat ini yang menarik adalah bidang usaha
hasil produksi terbesar adalah ikan koi sebesar 7.376 kg. Daerah penghasil produksi ikan yang yang berdimensi jangka panjang yang pengembaliannya kurang terpengaruhi oleh situasi

Buku Rencana I - 19
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

perlambatan ekonomi global, seperti sumber daya alam termasuk energi, infrastruktur, 1.6 VISI MISI PENATAAN RUANG
telekomunikasi dan lainnya.
Visi penataan ruang di Kota Batu adalah KOTA BATU SEBAGAI KOTA WISATA DAN
C. Pengangguran Dan Pengentasan Kemiskinan
AGROPOLITAN DI JAWA TIMUR
Kemiskinan dalam pengertian konvensional pada umumnya (income) komunitas yang berada
Misi penataan ruang di Kota Batu, meliputi :
dibawah satu garis kemiskinan tertentu. Masalah kemiskinan dan pengangguran di tanah air ini
a) Mendayagunakan secara optimal dan terkendali sumber-sumber daya daerah, baik Sumber Daya
merupakan fenomena laten yang telah berlangsung cukup lama semenjak pemerintahan Orde
Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Budaya (SDB) sebagai
Lama hingga sekarang. Kenyataan ini menggambarkan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi
unsur-unsur internal untuk penopang upaya pengembangan K ota Batu ke depan.
nasional selama ini masih sangat rendah. Selama kurun waktu lima tahun terakhir misalnya pada
b) Meningkatkan peran Kota Batu sebagai Kota Pertanian (Agropolitan), khususnya untuk jenis
setiap satu persen angka pertumbuhan ekonomi, jumlah lapangan kerja yang tercipta hanya
tanaman sayur, buah dan bunga, serta menguatnya perdagangan hasil pertanian dan industri
diperuntukkan bagi sekitar 250 ribu orang per tahun. Hal-hal yang patut diwaspadai terkait
pertanian (agro-industri) yang diperhitungkan baik pada tingkat regional (Jawa Timur) maupun
dengan kemiskinan adalah :
tingkat nasional guna memperkuat ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian.
Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun terakhir:
c) Meningkatkan posisi dan peran Kota Batu dari "Kota Wisata" menjadi "Sentra Wisata" yang
seperempat anak dibawah usia lima tahun menderita gizi buruk di Indonesia, dengan angka
diperhitungkan di tingkat regional atau bahkan nasional, dengan melakukan penambahan ragam
gizi buruk tetap sama dalam tahun-tahunterakhir kendati telah terjadi penurunan angka
obyek dan atraksi wisata, yang didukung oleh oleh sarana dan prasarana serta unsur penunjang
kemiskinan.
wisata yang memadai dengan sebaran yang relatif merata di penjuru wilayah Kota Batu guna
Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di kawasan yang
memperluas lapangan pekerjaan dalam rangka mengatasi pengangguran dan meningkatkan
sama angka kematianibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000 kelahiran hidup), tiga kali
pendapatan warga maupun PAD Kota Batu yang berbasis pariwisata.
lebih besar dari Vietnam dan enam kalilebih besar dari Cina dan Malaysia, hanya sekitar 72%
d) Pengembangan sektor fisik berkenaan dengan perkantoran Pemerintah, fasilitas publik,
persalinan dibantu oleh bidan terlatih.
prasarana dan sarana transportasi, serta penataan ruang secara menyeluruh guna mendukung
Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke sekolah menengah
pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas layanan publik.
masih rendah khususnya di antara penduduk miskin, di antara kelompok umur 16-18 tahun
Penataan ruang kota secara menyeluruh dengan mengedepankan keseimbangan ekosistem.
pada kuintil termiskin hanya 55% yang lulus SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya
adalah 89% untuk kohor yang sama.
1.7 WAKTU PERENCANAAN
Rendahnya akses terhadap air bersih khususnya di antara penduduk miskin. Untuk jumlah
paling rendah hanya 48% yang memiliki akses air bersih di daerah pedesaan, sedangkan Kurun waktu implementasi perencanaan adalah selama 20 tahun, untuk kurun waktu tahun

untuk perkotaan 78%. 2010 sampai dengan tahun 2030, dengan peninjauan kembali setiap 5 tahun sekali.

Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan puluh persen penduduk Tahap pertama : 2010-2015

miskin di pedesaan dan 59% penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap Tahap Kedua : 2016-2020

tangki septik, sementara itu hanyakurang dari satu persen dari seluruh penduduk Indonesia Tahap Ketiga : 2021-2025

yang terlayani oleh saluran pembuangan kotoranberpipa. Tahap Keempat : 2026-2030


Peninjauan kembali RTRW Kota dapat dilakukan kurang dari 5 (lima) tahun jika:
1. terjadi perubahan kebijakan dan strategi yang mempengaruhi pemanfaatan ruang wilayah,
dan

Buku Rencana I - 20
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

2. terjadi dinamika internal yang mempengaruhi pemanfaatan ruang secara mendasar antara 9. Rencana pola ruang wilayah kota adalah rencana distribusi peruntukan ruang wilayah kota yang
lain berkaitan dengan bencana alam skala besar dan pemekaran wilayah yang ditetapkan meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung clan budidaya sampai dengan akhir masa
dengan peraturan perundang-undangan. berlakunya RTRW kota yang dapat memberikan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kota
hingga 20 (dua puluh) tahun mendatang.
1.8 KETENTUAN UMUM 10. Kawasan lindung kota adalah kawasan lindung yang secara ekologis merupakan satu ekosistem
yang terletak pada wilayah kota, kawasan lindung yang memberikan pelindungan terhadap
Pengertian yang berkaitan dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu yaitu:
kawasan bawahannya yang terletakdiwilayah kota, dan kawasan-kawasan lindung lain yang
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan pengelolaannya merupakan kewenangan
kota, yang berisi rencana operasional pembangunan wilayah kotasesuai dengan peran dan fungsi
pemerintah daerah kota.
wilayah kota yang telah ditetapkan dalam RTRW diatasnya yang akan menjadi landasan dalam
11. Kawasan budidaya kota adalah kawasan di wilayah kota yang ditetapkan dengan fungsi utama
pelaksanaan pembangunan di wilayah kota.
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,
2. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota adalah tujuan yang ditetapkan pemerintah daerah kota
dan sumber daya buatan.
yang merupakan perwujudan visi dan misi pembangunan jangka panjang kota pada aspek
12. Kawasan strategis kota adalah kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
keruangan, yang pada dasarnya mendukung terwujudnya ruang wilayah nasional yang aman,
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota terhadap ekonomi, sosial, budaya,
nyaman, produktif, clan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan
dan/atau lingkungan, dan pendayagunaan sumberdaya alam dan teknologi tinggi.
Nasional.
13. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kota adalah arahan untuk mewujudkan struktur ruang dan
3. Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kota adalah arahan pengembangan wilayah yang ditetapkan
pola ruang wilayah kota sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kota melalui penyusunan dan
oleh pemerintah daerah kota guna mencapai tujuan penataan ruang wiiayah kota dalam kurun
pelaksanaan program beserta pembiayaannya, dalam suatu indikasi program utama jangka
waktu 20 (dua puluh) tahun.
menengah lima tahunan kota yang berisi usulan program utama, sumber pendanaan, instansi
4. Strategi Penataan Ruang Wilayah Kota adalah penjabaran kebijakan penataan ruang ke dalam
pelaksana, dan waktu pelaksanaan.
langkah-langkah pencapaian tindakan yang lebih nyata yang menjadi dasar dalam penyusunan
14. lndikasi program utama jangka menengah lima tahunan adalah petunjuk yang memuat usulan
rencana struktur dan pola ruang wilayah kota.
program utama, perkiraan pendanaan beserta sumbernya, instansi pelaksana, dan waktu
5. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota adalah rencana yang mencakup sistem perkotaan wilayah
pelaksanaan, dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata
kota dalam wilayah pelayanannya dan jaringan prasarana wilayah kota yang dikembangkan
ruang.
untuk mengintegrasikan wilayah kota selain untuk melayani kegiatan skala kota, meliputi sistem
15. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota adalah ketentuan-ketentuan yang
jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringantelekomunikasi, dan
dibuat/disusun dalam upaya mengendalikan pemanfaatan ruang wilayah kota agar sesuai dengan
sistemjaringan sumber daya air.Rencana susunan pusat-pusat pelayanan kegiatan kota yang ber-
RTRW kota yang dirupakan dalam bentuk ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan
hirarki sampai 20 tahun mendatang yang satu sama lain dihubungkan oleh sistem jaringan
perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi wilayah kota.
prasarana wilayah kota.
16. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem kota adalah ketentuan umum yang mengatur
6. Pusat pelayanan kota adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi yang
pemanfaatan ruang dan unsur-unsur pengendalian pemanfaatan ruang yang disusun untuk
melayani seluruh wilayah kota dan/atau regional.
setiap klasifikasi peruntukan/fungsi ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kota.
7. Subpusat pelayanan kota adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi yang
17. Ketentuan perizinan adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kota
melayani sub wilayah kota.
sesuai kewenangannya yang harus dipenuhi oleh setiap pihak sebelum pemanfaatan ruang, yang
8. Pusat lingkungan adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi yang
digunakan sebagai alat dalam melaksanakan pembangunan keruangan yang tertib sesuai dengan
melayanilingkungan di wilayah kota.
rencana tata ruang yang telah disusun dan ditetapkan.

Buku Rencana I - 21
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

18. Ketentuan insentif dan disinsentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan Bab ini menjelaskan tentang perumusan kebijkaan strategis operasional rencana tata
terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang dan juga perangkat ruang wilayah dan rencana tata ruang kawasan strategis, serta prioritas dan tahapan
untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pembangunan.
rencana tata ruang.
19. Arahan sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi siapa saja yang melakukan BAB VII KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH
pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku. Bab ini menjelaskan tentang pengaturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif
20. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disingkat BKPRD adalah Badan yang dan disinsentif serta arahan sanksi.
bersifat ad-hoc di Provinsi dan di Kabupaten/Kota dan mempunyai fungsi membantu pelaksanaan BAB VIII PENUTUP
tugas Gubernur dan Bupati/Walikota dalam koordinasi penataan ruang di daerah. Bab ini berisikan kesimpulan dan rekomendasi.

1.9 SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan Laporan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu, sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini meguraikan tentang dasar hukum penyusunan RTRW kabupaten, profil wilayah
kotameliputigambaran umum kota yang dilengkapi dengan peta orientasi dan pembagian
wilayah kota; kependudukan dan sumber daya manusia; potensi bencana alam; potensi
sumber daya alam; danpotensi ekonomi wilayah, Isu-isu strategis, waktu perencanaan,
ketentuanumumdansistematikapembahasan
BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI RUANG WILAYAH KOTA
Bab ini menguraikan tentang tujuan penataan ruang wilayah kabupaten; dankebijakan
dan strategi penataan ruang wilayah kota.
BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KOTA
Bab ini berisikan tentang penetapan pusat kota dan kota transisi, pembentuk sistem
hirarki pusat kegiatan, dan rencana sistem prasarana wilayah Kota.
BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH KOTA
Bab ini berisikan Rencana pelestarian kawasan lindung, dan rencana pengembangan
kawasan budidaya, sertarencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka, serta
prasarana dan sarana umum meliputi : ruang terbuka hijau kota dan ruang terbuka non
hijau kota, jaringan pejalan kaki, sistem sirkulasi dan jalur angkutan umum, ruang
kegiatan sektor informal, dan ruang evakuasi bencana.
BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS WILAYAH KOTA
Bab ini menjelaskan tentang penetapan kawasan strategis meliputi kawasan strategis
pengembangan kawasan ekonomi dan kawasan strategis penyelamatan lingkungan hidup.
BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH

Buku Rencana I - 22