Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

GENETIKA POPULASI

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur


Mata Kuliah Genetika Ikan

Kelompok 4

Kelas B Perikanan

Sunendi 230110140069

Felisha Gitalasa 230110140093

Indriani Okfri Auralia 230110140100

Ahmad Raffi Ukasyah 230110140116

Annisa Putri Septiani 230110140132

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
berkat rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
laporan praktikum yang berjudul Genetika Populasi pada mata kuliah
Genetika Ikan ini.
Laporan praktikum ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Genetika Ikan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas
Padjadjaran. Laporan ini disususn berdasarkan percobaan yang dilakukan hari
Jumaat 6 Novenber 2015. Pada pengambilan kancing untuk perhitungan
frekuensi fenotip alel dan gen pada suatu populasi berdasarkan hukum Hardy-
Wenberg.
Terlepas dari itu semua, penulis banyak mendapat bantuan dan petunjuk
dari beberapa pihak. Oleh karena itu penulis dalam kesempatan ini ingin
mengucapakan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada pihak
yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Penyusun menyadari bahwa
dalam penyusunan laporan ini, masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran
dan kritik yang membangun dari pembaca sungguh penyusun harapkan.
Akhir kata penyusun ucapkan terimakasih kepada pembaca atas
perhatiannya terhadap laporan ini. Semoga dapat berguna dan membuahkan hasil
yang bermanfaat. Amin

Jatinangor, November 2015

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................
1.2 Tujuan Praktikum .......................................................................
1.3 Manfaat Praktikum ......................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pewarisan Sifat ...........................................................................
2.2 Genetika Populasi .......................................................................
BAB III METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat ......................................................................
3.2 Alat dan Bahan ...........................................................................
3.3 Prosedur Kerja ............................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum .........................................................................
4.2 Analisa Data ..............................................................................
4.3 Pembahasan ...............................................................................
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................
5.1 Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Genetika Populasi adalah cabang genetika yang membahas transmisi


bahan genetik pada ranah populasi. Dari objek bahasannya, genetika populasi
dapat dikelompokkan sebagai cabang genetika yang berfokus pada pewarisan
genetik.
Ilmu ini membicarakan implikasi hukum pewarisan Mendel apabila
diterapkan pada sekumpulan individu sejenis disuatu tempat. Berbeda dengan
genetika Mendel, yang mengkaji pewarisan sifat untuk perkawinan antara dua
individu (atau dua kelompok individu yang memiliki genotipe yang sama
),genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap bahan
genetik akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi.
Prinsip keseimbangan Hardy-Weinberg menyatakan bahwa dalam keadaan
tertentu, frekuensi alel dalam satu populasi akan tetap konstan dari satu generasi
ke generasi lain. Prinsip ini dirumuskan secara independen oleh matematikawan
Inggris, G. F. Hardy dan seorang dokter Jerman, W. Weinberg pada tahun 1908.
Hal ini mengasumsikan bahwa setiap alel yang menyebabkan penyakit genetik
berat yang tidak kompatibel dengan reproduksi akan digantikan oleh mutasi baru
(Passarge 2007: 164).
Prinsip Hardy-Weinberg hanya berlaku pada kondisi-kondisi tertentu
seperti : populasi besar dan perkawinan terjadi secara acak, hal ini untuk
menghindari genetics drift, perubahan frekuensi genetik dari deviasi
kebetulan.Kedua, tidak terlibat seleksi alam. Ketiga, populasi ditutup, artinya
individu tidak melakukan migrasi. Hal ini sangat jarang terjadi di kehidupan
nyata. Keempat, tidak adanya mutasi dan terjadinya meiosis (Willet 2006: 150).

1
1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari dilaksanakannya praktikum genetika populasi ini yaitu


untuk dapat :
1. Mengetahui dan mempelajari frekuensi alel dan frekuensi gen pada
ikan dengan simulasi kancing
2. Menghitung frekuensi alel dan frekuensi gen ikan dengan simulasi
kancing

1.3 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari dilaksanakannya praktikum genetika populasi ini


yaitu untuk dapat :
1. Praktikan dapat memahami hubungan dinamis antara gen dalam pool
dengan alel lainnya dan dengan lingkungannya
2. Praktikan dapat membuktikan prinsip keseimbangan hukum Hardy-
Weinberg

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pewarisan Sifat

Terjadinya pewarisan sifat dapat disebabkan karena adanya perkawinan


antara dua individu yang sejenis. Perkawinan dua individu sejenis yang memiliki
sifat berbeda disebut persilangan. Persilangan dapat dilakukan secara sengaja oleh
manusia dengan maksud untuk memperoleh individu baru yang memiliki sifat-
sifat unggul. Teori pewarisan sifat pertama kali di populerkan oleh Gregor Mendel
(1865). Dalam eksperimennya pada tanaman ercis, ia memperoleh galur murni
dan ciri-ciri yang diinginkan
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada
organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya
'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum
Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga
dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.

2.1.1 Hukum segregasi (Hukum Mendel I)

Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel


kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah
sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya. Secara garis besar,
hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter
turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak
selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam
gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan
huruf besar, misalnya R).

3
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww
dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam
gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada
gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak
secara visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu
terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada
turunannya.
2.1.2 Hukum asortasi bebas (Hukum Mendel II)

Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua
pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak
bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat
yang berbeda tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang
menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling
memengaruhi.
Pola pewarisan gen dalam populasi berhubungan dengan frekuensi dan
interaksi alel dalam suatu populasi Mendel (Mendel Population), yaitu suatu
kelompok interbreeding dari suatu organisme yang masing-masing memiliki gene
pool. Gene pool adalah jumlah dari semua alel yang berlainan dalam populasi.
Gen-gen ini mempunyai hubungan dinamis dengan alel yang lainnya dan dengan
lingkungan seperti seleksi mempunyai kecenderungan untuk mengubah frekuensi
gen yang dapat menyebabkan perubahan evolusi dalam populasi.
Pola pewarisan sifat pada organisme-organisme semacam itu harus
dianalisis menggunakan data hasil pengamatan langsung pada populasi yang ada.
Seluk-beluk pewarisan sifat pada tingkat populasi dipelajari pada cabang genetika
yang disebut genetika populasi. Ruang lingkup genetika populasi secara garis
besar oleh beberapa penulis dikatakan terdiri atas dua bagian, yaitu deduksi
prinsip-prinsip Mendel pada tingkat populasi, dan mekanisme pewarisan sifat
kuantitatif (Ridwan,2011).

4
Untuk mempelajari pola pewarisan sifat pada tingkat populasi terlebih
dahulu perlu difahami pengertian populasi dalam arti genetika atau lazim disebut
juga populasi Mendelian. Populasi mendelian ialah sekelompok individu suatu
spesies yang bereproduksi secara seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang
sama, dan di antara mereka terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masing-
masing akan memberikan kontribusi genetik ke dalam lungkang gen (gene pool),
yaitu sekumpulan informasi genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam
populasi. Deskripsi susunan genetik suatu populasi mendelian dapat diperoleh
apabila kita mengetahui macam genotipe yang ada dan juga banyaknya masing-
masing genotipe tersebut. Sebagai contoh, di dalam populasi tertentu terdapat tiga
macam genotipe, yaitu AA, Aa, dan aa. Maka, proporsi atau persentase genotipe
AA, Aa, dan aa akan menggambarkan susunan genetik populasi tempat mereka
berada. Adapun nilai proporsi atau persentase genotipe tersebut dikenal dengan
istilah frekuensi genotipe. Jadi, frekuensi genotipe dapat dikatakan sebagai
proporsi atau persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi. Dengan
perkataan lain, dapat juga didefinisikan bahwa frekuensi genotipe adalah proporsi
atau persentase individu di dalam suatu populasi yang tergolong ke dalam
genotipe tertentu (Campbell, 2002).

2.2 Genetika Populasi

Genetika populasi merupakan genetika kuantitatif sebagai pelengkap


pemecah masalah-masalah konstitusi genetika pada genetika mendel. Pengertian
mengenai komposisi genetika pada populasi dan pemindahan gen dari suatu
generasi ke generasi berikutnya sangat penting sehubungan dengan perubahan
komposisi genetika pada populasi akibat seleksi alam ataupun seleksi buatan. Saat
ini genetika kuantitatif membantu dalam menentukan apakah suatu populasi
mempunyai potensi untuk diseleksi mana yang paling efisien (Suryo, 1992).
Asas Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel dan frekuensi
genotipe dalam suatu populasi akan tetap konstan, yakni berada dalam
kesetimbangan dari satu generasi ke generasi lainnya kecuali apabila terdapat

5
pengaruh-pengaruh tertentu yang mengganggu kesetimbangan tersebut. Pengaruh-
pengaruh tersebut meliputi perkawinan tak acak, mutasi, seleksi, ukuran populasi
terbatas, hanyutan genetik, dan aliran gen. Adalah penting untuk dimengerti
bahwa di luar laboratorium, satu atau lebih pengaruh ini akan selalu ada. Oleh
karena itu, kesetimbangan Hardy-Weinberg sangatlah tidak mungkin terjadi di
alam. Kesetimbangan genetik adalah suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan
sebagai garis dasar untuk mengukur perubahan genetik. Frekuensi alel yang statis
dalam suatu populasi dari generasi ke generasi mengasumsikan adanya
perkawinan acak, tidak adanya mutasi, tidak adanya migrasi ataupun emigrasi,
populasi yang besarnya tak terhingga, dan ketiadaan tekanan seleksi terhadap
sifat-sifat tertentu.
Contoh paling sederhana dapat terlihat pada suatu lokus tunggal beralel
ganda: alel yang dominan ditandai A dan yang resesif ditandai a. Kedua frekuensi
alel tersebut ditandai p dan q secara berurutan;
frekuensi (A) = p;
frekuensi (a) = q; p + q = 1.
Apabila populasi berada dalam kesetimbangan, maka frekuensi (AA) = p2 untuk
homozigot AA dalam populasi, frekuensi (aa) = q2 untuk homozigot aa, dan
freq(Aa) = 2pq untuk heterozigot. Konsep ini juga dikenal dalam berbagai nama:
Kesetimbangan Hardy-Weinberg, Teorema Hardy-Weinberg, ataupun Hukum
Hardy-Weinberg. Asas ini dinamakan dari G. H. Hardy dan Wilhelm Weinberg.

2.2.1 Syarat berlakunya asas Hardy-Weinberg

a) Setiap gen mempunyai viabilitas dan fertilitas yang sama


b) Perkawinan terjadi secara acak
c) Tidak terjadi mutasi gen atau frekuensi terjadinya mutasi, sama besar.
d) Tidak terjadi migrasi
e) Jumlah individu dari suatu populasi selalu besar
Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka frekuensi alel dan frekuensi
genotip dalam suatu populasi akan konstan dan evolusi pun tidak akan terjadi.

6
Tetapi dalam kehidupan, syarat-syarat tersebut tidak mungkin terpenuhi sehingga
evolusi dapat terjadi. Suatu keseimbangan yang lengkap di dalam gene pool tidak
pernah dijumpai, perubahan secara evolusi adalah sifat sifat fundamental dari
kehidupan suatu populasi.( Sweety Hamster Rescue, 2012)Godfrey Harold Hardy
dan Wilhelm Weinberg tahun 1908 secara terpisah menemukan dasar-dasar
frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi. Prinsip yang berupa pernyataan
teoritis tersebut dikenal sebagai hukum (prinsip kesetimbangan) Hardy-Weinberg.
Pernyataan itu menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip suatu populasi (gene
pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi tertentu.
Kondisi-kondisi yang menunjang Hukum Hardy-Weinberg sebagai berikut:
a) Ukuran populasi harus besar
b) Ada isolasi dari polulasi lain
c) Tidak terjadi mutasi
d) Perkawinan acak
e) Tidak terjadi seleksi alam
Formulasi hukum Hardy-Weinberg dapat dijelaskan berikut ini:
Pada suatu lokus, gen hanya mempunyai dua alel dalam satu populasi. Para ahli
genetika populasi menggunakan huruf p untuk mewakili frekuensi dari satu alel
dan huruf q untuk mewakili frekuensi alel lainnya. (Anonim, 2012)

2.2.2
Perub
ahan Perbandingan Frekuensi Gen (Genotip) pada Populasi

Hukum Hardy-Weinberg tidak berlaku untuk proses evolusi karena hukum


Hardy-Weinberg tidak selalu menghasilkan angka perbandingan yang tetap dari
generasi ke generasi. Kenyataannya, frekuensi gen dalam suatu populasi selalu
mengalami perubahan atau menyimpang dari hukum Hardy-Weinberg. Beberapa
faktor yang menyebabkan perubahan keseimbangan hukum Hardy-weinberg
dalam populasi yaitu adanya:
a) Hanyutan genetik (genetic drift),

7
b) Arus gen (gene flow),
c) Mutasi,
d) Perkawinan tidak acak, dan
e) Seleksi alam. Masing-masing penyebab perubahan kesetimbangan hukum
Hardy-Weinberg atau perubahan frekuensi genetik populasi merupakan
kondisi kebalikan yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan Hardy-
weinberg.
Hukum ini menyatakan bahwa dalam suatu kondisi tertentu yang stabil,
frekuensi gen dan frekuensi genotif akan tetap konstan dari satu generasi ke
generasi dalam suatu populasi yang berbiak seksual, bila syarat berikut dipenuhi:
a) Genotif yang ada memiliki viabilitas (kemampuan hidup) dan fertilitas
(kesuburan) yang sama
b) Perkawinan yang terjadi berlangsung secara acak
c) Tidak ada mutasi gen
d) Tidak terjadi migrasi
e) Tidak terjadi seleksi
Hukum Hardy-Weinberg ini berfungsi sebagai parameter evolusi dalam
suatu populasi. Bila frekuensi gen dalam suatu populasi selalu konstan dari
generasi ke generasi, maka populasi tersebut tidak mengalami evolusi. Bila salah
satu saja syarat tidak dipenuhi maka frekuensi gen berubah, artinya populasi
tersebut telah dan sedang mengalami evolusi.(Anonim,2012)

2.2.3
Penera
pan dan Teori Evolusi Hukum HardyWeinberg

Bila frekuensi gen yang satu dinyatakan dengan simbol p dan alelnya
dengan simbol q , maka secara matematis hukum tersebut dapat ditulis sebagai
berikut:
Contoh penggunaan hukum ini adalah sebagai berikut:

8
Bila dalam suatu populasi masyarakat terdapat perasa kertas PTC 64% sedangkan
bukan perasa PTC (tt) 36%,
a. Berapa frekuensi gen perasa (T) dan gen bukan perasa (t) dalam populasi
tersebut?
b. Berapakah rasio genotifnya?

Popula
si mendelian yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak
(panmiksia) di antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu
memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan
genotipe yang sama maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin
acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Prinsip
ini dirumuskan oleh G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg,
dokter dari Jerman,. sehingga selanjutnya dikenal sebagai hukum keseimbangan
Hardy-Weinberg. Di samping kawin acak, ada persyaratan lain yang harus
dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak
terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Dengan perkatan lain, terjadinya peristiwa-
peristiwa ini serta sistem kawin yang tidak acak akan mengakibatkan perubahan
frekuensi alel.
Deduksi terhadap hukum keseimbangan Hardy-Weinberg meliputi tiga langkah,
yaitu :
1) Dari tetua kepada gamet-gamet yang dihasilkannya
2) Dari penggabungan gamet-gamet kepada genotipe zigot yang dibentuk
3) Dari genotipe zigot kepada frekuensi alel pada generasi keturunan.
Secara lebih rinci ketiga langkah ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Kembali kita misalkan bahwa pada generasi tetua terdapat genotipe AA, Aa, dan
aa, masing-masing dengan frekuensi P, H, dan Q. Sementara itu, frekuensi alel A
adalah p, sedang frekuensi alel a adalah q. Dari populasi generasi tetua ini akan
dihasilkan dua macam gamet, yaitu A dan a. Frekuensi gamet A sama dengan
frekuensi alel A (p). Begitu juga, frekuensi gamet a sama dengan frekuensi alel a
(q). Dengan berlangsungnya kawin acak, maka terjadi penggabungan gamet A dan

9
a secara acak pula. Oleh karena itu, zigot-zigot yang terbentuk akan memilki
frekuensi genotipe sebagai hasil kali frekuensi gamet yang bergabung.
Kita ketahui bahwa frekuensi gene pool dari generasi ke generasi pada
waktu ini (populasi hipotesis) adalah 0,9 dan 0,1; dan perbandingan genotip
adalah 0,81; 0,81; dan 0,01. Dengan angka angka ini kita akan mendapatkan
harga yang sama pada generasi berikutnya. Hasil yang sama ini akan kita jumpai
pada generasi seterusnya, frekuensi genetis dan perbandingan genotip tidak
berubah. Dapat kita simpulkan bahwa perubahan evolusi tidak terjadi. Hal ini
dapat diketahui oleh Hardy (1908) dari Cambrige University dan Weinberg dari
jerman yang bekerja secara terpisah. Secara singkat dikatakan di dalam rumus
Hardy-Weinberg
Di bawah suatu kondisi yang stabil, baik frekuensi gen maupun perbandingan
genotip akan tetap (konstan) dari generasi ke generasi pada populasi yang
berbiak secara seksual

2.2.4
Kondis
i yang Diperlukan untuk Keseimbangan Genetis

Perlu diteliti apakah yang dimaksud dengan kondisi pada hokum Hardy
Weinberg, sehingga menyebabkan gene pool dari suatu populasi berada di dalam
keseimbangan genetis. Kondisi tersebut digambarkan sebagai berikut:
a) Populasi harus cukup besar, sehingga suatu faktor kebetulan saja tidak
mungkin mengubah frekuensi genetis secara berarti.
b) Mutasi tidak boleh terjadi, atau harus terjadi keseimbangan secara mutasi.
c) Harus tidak terjadi emigrasi dan imigrasi.
d) Reproduksi harus sama sekali sembarang (random).
Secara teoritis, suatu populasi harus begitu besar sehingga dapat dianggap
bukan merupakan faktor penyebab dari perubahan frekuensi genetis. Dalam
kenyataan, tidaklah ada populasi yang besarnya tidak terbatas, tetapi beberapa
populasi alami dapat cukup besar sehingga perubahan sedikit saja tidak cukup

10
menjadi penyebab dari perubahan yang berarti pada frekuensi genetis gene pool
mereka. Suatu populasi produktif yang terdiri lebih dari 10.000 anggota yang
dapat berbiak, mempunyai kemungkinan besar tidak dipengaruhi secara berarti
oleh perubahan sembarang, yang dapat menuju kepada lenyapnya suatu alel dari
gene pool, meskipun alel itu merupakan alel superior.
Di dalam populasi yang demikian, ternyata hanya terdapat sangat kecil alel
yang mempunyai frekuensi antara, rupanya semua alel itu mempunyai
kecenderungan untuk hilang dengan segera atau tertahan sebagai satu satunya
alel yang ada. Dengan perkataan lain, populasi kecil mempunyai kecenderungan
besar untuk menjadi homozigot, sedangkan populasi besar cenderung untuk lebih
bermacam macam.
Hukum ini ternyata mengikuti model matematis dengan rumus binomium
(a + b)n dimana memperlihatkan pemisahan dari sepasang alel tunggal (Aa) pada
persilangan monohibrid dapat digambarkan sebagai berikut :
(a + b) = (A + a)2 = 1 AA + 2 Aa + 1 aa
Penggunaan istilah frekuensi alel yang ditinjau dari aspek genetika adalah sebagai
berikut :
Definisi Frekuensi Alel :
(Jumlah fenotipe homozigot dominan)+Jumlah fenotipe heterozigot
F (A) = 2
2 (jumlah alel dalam populasi)
(Jumlah fenotipe homozigot resesif)+Jumlah fenotipe heterozigot
F (a) = 2
2 (jumlah alel dalam populasi)

Definisi Frekuensi Gen :


F (AA) = F (A)
F ( Aa ) = 2 x F(A) x F(a)
F ( aa ) = F (a)
F (AA) + F(Aa) + F(aa) = 1

11
BAB III
METODELOGI

3.1 Waktu
dan Tempat
3.1.1 Waktu
Praktikum dilakukan pada tanggal 6 November 2015, pada pukul 13.00
14.00 WIB.

3.1.2
Tempa
t

12
Praktik
um dilakukan di Laboratorium Akuakultur Dekanat Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat
dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapu
n alat dari dilaksanakannya praktikum genetika populasi ini yaitu
a) Toples 2 buah
b) Alat tulis
c) Kertas dengan tabel punnet

3.2.1 Bahan
Adapu
n bahan dari dilaksanakannya praktikum genetika populasi ini yaitu
a) Kancing berwarna hitam, menunjukan sifat dominan. Kancing kecil untuk
jantan dan kancing besar untuk betina.
b) Kancing berwarna merah muda menunjukan sifat resesif. Kancing kecil untuk
jantan dan kancing besar untuk betina.

3.3
Prosed
ur Kerja

13
3.3.1
Prakti
kum I
a) Gunakan frekuensi gen p (A) q (a) = 0,5
b) Menghitung kancing sebanyak 64 buah terbagi atas 32 kancing hitam dan 32
kancing merah muda dalam toples.
c) Toples yang telah berisi kancing dikocok agar tercampur.
d) Kancing diambil satu per satu dari setiap toples secara acak.
e) Mencatat hasil kancing apa yang diambil pada tabel punnet.
f) Mengulang langkag 3-5 sebanyak 64 kali hingga tabel punnet terisi penuh.
g) Menghitung jumlah alel dominan homozigot, resesif homozigot dan
heterozigot menggunakan rumus kesetimbangan.

3.3.2
Prakti
kum II
a) Gunakan frekuensi gen p (A) = 0,75 q (a) = 0,25
b) Menghitung kancing sebanyak 64 buah terbagi atas 32 kancing hitam dan 32
kancing merah muda dalam toples.
c) Toples yang telah berisi kancing dikocok agar tercampur.
d) Kancing diambil satu per satu dari setiap toples secara acak.
e) Mencatat hasil kancing apa yang diambil pada tabel punnet.
f) Mengulang langkag 3-5 sebanyak 64 kali hingga tabel punnet terisi penuh.
g) Menghitung jumlah alel dominan homozigot, resesif homozigot dan
heterozigot menggunakan rumus kesetimbangan.

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil Praktikum

Data Praktikum Tanggal 6 November 2015

p(A) = 0.5 dan q(A) = 0.5

: Kancing Kecil : Warna


Hitam :A
Warna Merah : a
: Kancing Besar : Warna
Hitam : A

Warna
Merah : a
Kotak Punnet :

aa Aa AA Aa Aa Aa aa Aa

aa Aa aa Aa AA AA AA Aa

aa Aa Aa Aa Aa Aa aa Aa

Aa Aa AA Aa aa aa aa aa

Aa aa Aa Aa AA aa Aa Aa

15
AA aa aa AA aa Aa AA AA

Aa aa Aa aa Aa AA AA AA

Aa Aa Aa aa AA Aa Aa Aa

Jumlah fenotipe alel homozigot dominan ( AA )


= 13
Jumlah fenotipe alel heterozigot ( Aa )

= 33
Jumlah fenotipe alel homozigot resesif ( aa )

= 18
= 64

Data Praktikum Tanggal 14 November 2014

p(A) = 0.75 dan q(A) = 0.25

: Kancing Kecil : Warna


Hitam :A
Warna Merah : a
: Kancing Besar : Warna
Hitam : A

Warna
Merah : a
Kotak Punnet :

AA AA AA Aa Aa AA AA aa

16
Aa Aa Aa Aa AA AA AA AA

AA Aa Aa Aa AA Aa Aa AA

AA Aa AA Aa AA Aa AA Aa

Aa Aa Aa AA Aa aa AA Aa

Aa Aa aa AA AA AA Aa Aa

Aa AA Aa AA AA AA aa AA

Aa Aa AA Aa AA AA AA Aa

Jumlah fenotipe alel homozigot dominan ( AA )


= 30
Jumlah fenotipe alel heterozigot ( Aa )

= 28
Jumlah fenotipe alel homozigot resesif ( aa )

=6
= 64

4.2
Analis
a Data
Data Praktikum Tanggal 7 November 2014

1. Frekuensi alel

17
Frekuensi alel F (A)
= 2 ( fenotipe homozigot dominan ) + ( fenotipe heterozigot )
2( fenotipe total )
= 2 ( 13 ) + ( 33 )
2 ( 64 )
= 26 + 33
128
= 59
128
= 0.46

Frekuensi alel F ( a )
= 2( fenotipe homozigot resesif) + ( fenotipe heterozigot )
2 ( fenotipe total )
= 2 ( 18 ) + ( 33 )
2 ( 64 )
= 36 + 33
128
= 59
128
= 0.54

2. Frekuensi Gen
F (AA) = F
(A)
= 0.46
= 0.2116

F ( Aa ) =2x
F(A) x F(a)
= 2 x 0.46 x 0.54

18
= 0.4958

F ( aa ) = F (a)
= 0.54
= 0.2916

Jadi :F
(AA) + F(Aa) + F(aa)

= 0.21
16 + 0.4958 + 0.2916

= 1.0

Data Praktikum Tanggal 14 November 2014

1. Frekuensi alel
Frekuensi alel F (A)
= 2 ( fenotipe homozigot dominan ) + ( fenotipe heterozigot )
2 ( fenotipe total )
= 2 ( 30 ) + ( 28 )
2 ( 64 )
= 60 + 28
128
= 88
128
= 0.6875

Frekuensi alel F ( a )
= 2( fenotipe homozigot resesif) + ( fenotipe heterozigot )
2 ( fenotipe total )

19
= 2 ( 6 ) + ( 28 )
2 ( 64 )
= 12 + 28
128
= 40
128
= 0.3125

2. Frekuensi Gen
F (AA) = F
(A)
= 0. 6875
= 0.4726

F ( Aa ) =2x
F(A) x F(a)
= 2 x 0.6875 x 0.3125
= 0.4297

F ( aa ) = F (a)
= 0.03125
= 0.0977

Jadi :F
(AA) + F(Aa) + F(aa)

= 0.47
26 + 0.4297 + 0.0977

= 1.0

20
4.3
Pemba
hasan

Dari hasil kedua praktikum yang telah kami lakukan, data yang kami
peroleh menunjukkan perbedaan alel dan gen yang bervariasi.
Pada praktikum pertama kami melakukannya dengan perbandingan 1:1 atau 50:50
atau p(A) = 0.5 dan q(A) = 0.5. Dimana alel dominan sebanyak 50% atau 32 buah
kancing jantan dan 32 buah kancing betina. dan alel resesif sebanyak 50% atau 32
buah kancing jantan dan 32 buah kancing betina. Setelah kami melakukan
penganmbilan kancing yang dilakukan secara random kami mendapati hasil
sebagai berikut : jumlah frekuensi gen homozigot dominan sebanyak 13, frekuensi
gen homozigot resesif sebanyak 18 dan frekuensi gen heterozigot sebanyak 33.
Penentuan alel ini diambil acak dengan jumlah keseluruhan 64.
Pada
praktikum kedua kami melakukannya dengan perbandingan 3:1 atau 75:25 atau
p(A) = 0.75 dan q(A) = 0.25. Dimana alel dominan sebanyak 75% dan alel resesif
sebanyak 25%. Setelah kami melakukan penganmbilan kancing yang dilakukan
secara random kami mendapati hasil sebagai berikut : jumlah frekuensi gen
homozigot dominan sebanyak 30, frekuensi gen homozigot resesif sebanyak 6 dan
frekuensi gen heterozigot sebanyak 28. Penentuan alel ini diambil acak dengan
jumlah keseluruhan 64.

21
Berdasarkan perbandingan jumlah alel yang praktikan lakukan,
menunjukkan jumlah yang berbeda juga pada pengambilan secara acak. Pada
praktikum pertama jumlah gen homozigot dominan sama besar dengan jumlah
gen homozigot resesif. Sedangkan pada praktikum kedua pertama jumlah gen
homozigot dominan tiga kali lebih besar dibanding dengan jumlah gen homozigot
resesif.
Kancing-kancing ini diibaratkan sebagai suatu populasi ikan. Dan dalam
prosesnya terjadi pengambilan kancing secara random yang menunjukkan
persilangan secara random. Kancing yang sudah dipasangkan tetap diletakkan
dalam wadah yang sama dan tidak dipindahkan ini sesuai dengan syarat yang
harus dilakukan pada hukum Hardy-Weinberg yaitu sistem kawin acak, dan
berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi,
mutasi, dan seleksi. Sehingga setelah melakukan kawin silang kami meletakan
kancing yang telah disilangkan dimasukan lagi kedalam toples atau wadah.
Perhitungan akhir pada frekuensi gen atau frekuensi alel adalah satu. Hal
ini menunjukkan bahwa hukum Heidy-Weinberg berlaku pada praktikum ini.
Pada saat perhitungan data praktikum pertama, kami mendapatkan hasil : F
(AA) sebesar 0.2116, F(Aa) sebesar 0.4958, dan F(aa) sebesar 0.2916. Ketika
kami jumlahkan semuanya hasilnya menunjukan nilai 1.0 dimana ketika hasil
yang didapatkan sebesar 1.0 maka (prinsip kesetimbangan) atau hukum Hardy-
Weinberg terbukti. Pernyataan itu menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip
suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi
tertentu.
Pada
saat perhitungan data praktikum pertama, kami mendapatkan hasil : F
(AA) sebesar 0.4726, F(Aa) sebesar 0.4297, dan F(aa) sebesar 0.0977. Ketika
kami jumlahkan semuanya hasilnya menunjukan nilai 1.0 dimana ketika hasil
yang didapatkan sebesar 1.0 maka (prinsip kesetimbangan) atau hukum Hardy-
Weinberg terbukti. Pernyataan itu menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip
suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi
tertentu.

22
Ketika praktikum pertama dengan perbandingan alel 1:1 dan praktikum
kedua dengan perbandingan alel 3:1 tetap menghasilkan nilai 1.0. Ini menandakan
bawha berapapun rasio yang terdapat dalam suatu populasi, jika dilakukan kawin
silang dengan memerhatikan syarat hukum Hardy-Weinberg maka hasil yang
didapatkan akan tetap 1.0 dan status hukum Hardy-Weinberg Terbukti.
Keterb
uktian hukum Hardy-Weinberg dapat dilihat dari kesimpulan hasil praktikum
pertama dan kedua ini.
Praktikum Tanggal 7 November 2014
P(A) + Q (a)
= 1.0
P2 +2PQ + Q2
= 1.0
(A)2 + 2(A) (a) + (a)2 = 1.0
Maka

= 0.21
16 + 0.4958 + 0.2916

= 1.0
Praktikum Tanggal 7 November 2014
P(A) + Q (a)
= 1.0
P2 +2PQ + Q2
= 1.0
(A)2 + 2(A) (a) + (a)2 = 1.0
Maka

23
= 0.47
26 + 0.4297 + 0.0977

= 1.0
Dari data diatas dapat dikatakan jika kita melakukan persilangan dalam genetika
populasi, dengan memperhatikan syarat-syarat dari hukum Hardy-Weinberg.
Maka hukum Hardy-Weinberg dinyatakan terbukti.

24
BAB V
PENUTUP

5.1
Kesim
pulan
Geneti
ka Populasi adalah cabang genetika yang membahas transmisi bahan genetik pada
ranah populasi. Dari objek bahasannya, genetika populasi dapat dikelompokkan
sebagai cabang genetika yang berfokus pada pewarisan genetik.
Pola pewarisan gen dalam populasi berhubungan dengan frekuensi dan
interaksi alel dalam suatu populasi Mendel (Mendel Population), yaitu suatu
kelompok interbreeding dari suatu organisme yang masing-masing memiliki gene
pool. Gene pool adalah jumlah dari semua alel yang berlainan dalam populasi.
Gen-gen ini mempunyai hubungan dinamis dengan alel yang lainnya dan dengan
lingkungan seperti seleksi mempunyai kecenderungan untuk mengubah frekuensi
gen yang dapat menyebabkan perubahan evolusi dalam populasi
Keseimbangan dapat bertahan dari generasi ke generasi dapat terjadi apabila :
a) Populasi ikan cukup besar
b) Persilangan yang terjadi diantara individu dalam populasi bersifat random.
c) Tidak terjadi migrasi
d) Tidak terjadi mutasi
e) Tidak terjadi seleksi diantara anggota populasi.
Hasil yang diperoleh dari praktikum pertama dengan perbandingan alelnya adalah
1:1 atau 50:50 atau p(A) = 0.5 dan q(A) = 0.5 dan praktikum kedua dengan
dengan perbandingan 3:1 atau 75:25 atau p(A) = 0.75 dan q(A) = 0.25. Tetap
menghasilkan nilai akhir 1.0

5.2 Saran

25
Praktikum ini terlihat sepele namun ternyata memiliki ketelitian yang tinggi
untuk menyebutkan dan menuliskan pasangan kancing sehingga disarankan ruangan
tenang dan mengurangi kegaduhan.

DAFTAR PUSTAKA

Kimball, J. W. 1990. Biologi Jilid 1, 2, dan 3. Erlangga, Jakarta

Suryo. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005.

Abbas, M. 1997. Biologi Cetakan Ketiga. Yudistira. Jakarta.

Eberhard P. 2007. Color atlas of genetics. Thieme Stuttgart. New York: 497 hlm

Suryo, 1995. Sitogenetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta: xii + 531
hlm

Wolfe, Stephen L. 1993. Molecular and cellular biology. Wadsworth, Inc.


California: xviii + 1145 hlm.

Harth, Daniel L., Jones E. 2005. Genetics: Analysis of genes & genomes. Jane
Bartlett Publishers, Inc. Canada: 763 hlm.

26