Anda di halaman 1dari 5

BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, dilakukan uji skrining Mycobacterium tuberculosis

(TB) pada sampel serum, uji skrining dilakukan untuk memastikan apakah seseorang

sudah terinfeksi TB atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibody TB

didalam sampel serum. Hasil dari uji skrining dapat dijadikan dasar acuan untuk

penegakkan diagnosis atau hanya sebagai petunjuk. dan bukan merupakan bukti yang

kuat bahwa seseorang telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis (TB). Adapun

hasil positif palsu bisa saja didapatkan pada pengecekan dengan satu alat rapid tes.

Oleh karena itu diperlukan tes dengan alat yang memiliki sensitivitas dan spesifitas

yang tinggi.

Metode Pada praktikum kali ini adalah Rapid Tes dengan menggunakan prinsip

imunokromatografi assay. Dimana antibodi IgG/IgM yang terdapat pada sampel akan

berikatan dengan antigen TB rekombinan konjugat, sehingga membentuk kompleks Ag

dan Ab. Kemudian kompleks tersebut akan berikatan dengan Antibodi IgG anti

kompleks konjugat yang terdapat pada garis test (IgG) sehingga membentuk warna.

Sedangkan antibodi konjugat yang bebas akan berikatan dengan antibodi IgG anti

antibodi konjugat yang terdapat pada garis control (C) sehingga akan membentuk

warna yang mengindikasikan konjugat berfungsi dengan baik. Hasil positif ditandai

dengan terbentuknya 2 atau 3 garis warna merah yaitu pada area garis tes (IgG),(IgM)

dan kontrol (C) dan hasil negatif terbentuk 1 garis yaitu pada area kontrol (C),

sedangkan hasil invalid apabila terbentuk garis pada area garis tes (IgG) atau (IgM),

atau tidak sama sekali terbentuk pita pada kedua-duannya.


Penentuan pemeriksaan TB selain menggunakan serum bisa menggunakan

spesimen lain seperti plasma. Adapun kondisi spesimen yang ditolak pada saat

pemeriksaan yaitu spesimen yang ditinggalkan pada suhu kamar yang terlalu lama,

darah utuh yang dibekukan, hemolisis pada spesimen, pembacaan hasil setelah 20

menit dan spesimen yang dibekukan dan dicairkan berulang kali. Jika pemeriksaan

diteruskan maka hasil yang didapatkan positif maupun negatif palsu. Adapun

pemeriksaan lain untuk mendeteksi adanya infeksi M. Tuberculosis selama ini

dilakukan dengan beberapa cara antara lain : Pemeriksaan Sputum, Pemeriksaan

Kultur, Pemeriksaan Foto Rontgen Paru dsb. Untuk mendiagnosa tuberkulosis paru

menurut anjuran pemerintah saat ini adalah berdasarkan pemeriksaan mikroskopis

Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum dengan pewarnaan Ziehl Nelseen. Tetapi

karena memerlukan keahlian dan pengalaman yang cukup dari petugas laboratorium,

menjadikan pemeriksaan ini sensitivitasnya rendah. Untuk itu para peneliti terus

mengembangkan metode pemeriksaan lain yang lebih sensitif dan mudah. Salah satu

teknologi termuka akhir saat ini adalah pemeriksaan antigen TB metode rapid

immunochromatography (ICT) yang mewujudkan suatu tes yang cepat, mudah dan

praktis.

Adapun hal yang harus diperhatikan pada Perangkat diagnostik Rapid Test TB

Cassette (Fokus Diagnostik) akan tetap stabil pada suhu 4 - 30C (36 - 86F), jika

kemasannya belum dibuka. Tes dapat digunakan sampai batas kadaluarsa yang tertera

pada etiket kemasannya. Penyimpanan di freezer (dalam keadaan beku), atau pada

suhu terlalu panas sangat tidak dianjurkan. Rapid Test TB Cassette (Fokus Diagnostik)

memerlukan serum atau plasma manusia sebagai sampel. Serum atau plasma yang

segar akan memberikan hasil yang terbaik. Serum atau plasma dapat disimpan sampai
3 hari pada suhu 2 - 8C (36 - 46F), penyimpanan serum dapat dilakukan pada suhu -

20C atau lebih bila pengetesan tidak memungkinkan dilakukan dalam waktu 3 hari.

Window period (periode jendela) adalah masa dimana saat terinfeksi hingga

test dapat mendeteksi adanya perubahan antibodi. Lama dari window period

tergantung dari kondisi tubuh seseorang. Penularan tuberculosis paru terjadi karena

kuman dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara.

Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada

ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana

lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila

partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau

paru-paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5

mikromilimeter.

Apabila pemeriksaan skrining yang dilakukan memberikan hasil yang positif

maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk penegakkan diagnosis yaitu

pemeriksaan konfirmasi untuk menghindari terjadinya hasil positif palsu. Adapun

pemeriksaan lanjutan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu uji serologi dan khusus.

Dimana yang termasuk pemeriksaan khusus yaitu pemeriksaan dengan melakukan uji

polymerase Chain Reaction (PCR) adalah uji yang dapat memeriksa/mendeteksi

DNA,termasuk DNA M.Tuberkulosi salah satu masalah dala pelaksanaan teknik ini

adalag kemungkinan kontaminasi. Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk

menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara benar

dan sesuai dengan standar internasional. Adapun pemeriksaaan konfirmasi yang dapat

dilakukan dengan melakukan uji ELISA teknik ini merupakan salah satu uji serologi

yang dapat mendeteksi respons humoral berupa proses antigen antibodi yang terjadi.

Kelemahan utama dari teknik ELISA ini adalah pengenceran serum yang tinggi dan
perlu dilakukan untuk mencengah ikatan nonspesifik dari imunoglobulin manusia

pada plastik dan ada juga uji PAP (Peroksidase anti peroksidase) uji ini merupakan

salah satu jenis uji yang meneteksi reaksi serologi yang terjadi. Kekurangan metode

konfirmasi adalah waktu pengerjaannya yang lama, membutuhkan keterampilan

tinggi serta biaya pemeriksaan yang tinggi.

Dan berdasarkan pemeriksaan yang telah kami lakukan tidak di lanjutkan pada

pemeriksaan konfirmasi, karena hasil yang di dapatkan negatif (-) yang dapat dilihat

adanya garis padaa daerah control (C) dan tidak terdapat garis pada daerah test.
BAB VI

KESIMPULAN

Berdasarkan pratikum yang telah dilakuakan dapat ditarik kesimpulan

bahwa Sampel serum yang di periksa tidak mengandung Mycobacterium

tuberculosis (TB) atau hasil negatif, hal ini ditandai dengan adanya garis pada

area control (C) Pada alat dan tidak adanya garis pada area test (IgG).