Anda di halaman 1dari 15

SATUAN PENYULUHAN

PENCEGAHAN TUBERKULOSIS (TB) PARU

Clinical instruction pendidik :

Dwi P.S.Kep., Ns, M.Sc

Clinical instruction pendidik :

H. Suko Budiono S.kep., Ns

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA

2017-2018
SATUAN PENYULUHAN

PENCEGAHAN TUBERKULOSIS (TB) PARU

DI SUSUN OLEH :

BRAHMAYDA WIJI LESTARI / 151.0006

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA

2017-2018
SATUAN ACARAPENYULUHAN

OSTEOPOROSIS PADA LANSIA

Judul : Tuberkulosis (TB) Paru


Pokok Bahasan : Perawatan Tuberkulosis (TB) Paru
Sub Pokok Bahasan 1. Pengertian Tuberkulosis (TB) Paru
2. Penyebab Tuberkulosis (TB) Paru
3. Tanda dan Gejala Tuberkulosis (TB) Paru
4. Cara Penularan Tuberkulosis (TB) Paru
5. Pencegahan Tuberkulosis (TB) Paru
6. Penatalaksanaan Tuberkulosis (TB) Paru
Sasaran : Pengunjung Puskesmas Jagir Surabaya
Hari / Tanggal : 11 Desember 2017
Tempat : Puskesmas Jagir Surabaya
Penyaji : Mahasiswa S1 STIKES Hang Tuah Surabaya
Waktu : 30 menit

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan peyuluhan kesehatan tentang Tuberkulosis (TB),
diharapkan pengunjung Puskesmas Jagir Surabaya mengerti dan memahami
tentang perawatan pada pasien dengan Tuberculosis Paru

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah dilakukan penyuluhan tentang Tuberkulosis (TB) selama 1x30
menit di harapkan pengunjung Puskesmas Jagir Surabaya mampu :
1. Memahami Pengertian Tuberkulosis (TB) Paru
2. Memahami Penyebab Tuberkulosis (TB) Paru
3. Menyebutkan Tanda dan Gejala Tuberkulosis (TB) Paru
4. Menyebutkan Cara Penularan Tuberkulosis (TB) Paru
5. Menyebutkan Pencegahan Tuberkulosis (TB) Paru
6. Menyebutkan Penatalaksanaan Tuberkulosis (TB) Paru
C. Materi
1. Pengertian Tuberkulosis (TB) Paru
2. Penyebab Tuberkulosis (TB) Paru
3. Tanda dan Gejala Tuberkulosis (TB) Paru
4. Cara Penularan Tuberkulosis (TB) Paru
5. Pencegahan Tuberkulosis (TB) Paru
6. Penatalaksanaan Tuberkulosis (TB) Paru

D. Media
1. Leaflet
2. Power Point

E. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi / Tanya Jawab
3. Demonstrasi yang terdiri dari :
a. Cuci Tangan
b. Etika Batuk
c. Menggunakan Masker

F. Kegiatan penyuluhan
No Acara Waktu Kegiatan Penyuluhan Evaluasi
1 5 menit sebelum 5 menit 1. Petugas menyiapkan 1. Peserta
acara dimulai daftar hadir, ruangan, penyuluhan
tempat untuk peserta mengisi daftar
penyuluhan. hadir dan duduk di
tempat yang telah
disediakan
2. Tim penyuluh 2. Peserta
membagikan leaflet penyuluhan
kepada semua peserta menerima leaflet
penyuluhan
2 Pendahuluan 5 menit Pembukaan :
1. Mengucapkan salam dan 1. Menjawab salam
memperkenalkan diri.

2. Menyampaikan tujuan 2. Mendengarkan


dan maksud penyuluhan. tujuan dan
maksud dari
penyuluhan
3. Menjelaskan kontrak 3. Mendengarkan
waktu dan mekanisme kontrak waktu
4. Menyebutkan materi 4. Mendengarkan
penyuluhan materi
penyuluhan yang
diberikan
3 Pelaksanaan 20 menit Pelaksanaan :
Kegiatan 1. Menggali pengetahuan 1. Menjelaskan
dan pengalaman sasaran apabila
tentang Tuberculosis mengetahui
(TB). tentang TB.

2. Menjelaskan materi 2. Mendengarkan


meliputi : materi penyuluhan
a. Pengertian TB yang disampaikan.
b. Penyebab TB
c. Tanda dan gejala TB
d. Cara penularan TB
e. Pencegahan TB
f. Penatalaksanaan TB

3. Mendemonstrasikan cara 3. Peserta


cuci tangan, etika batuk, penyuluhan
dan menggunakan melakukan
masker demonstrasi
tentang materi
yang diberikan

4. Peserta
4. Memberikan
penyuluhan
kesempatan peserta
mengajukan
untuk mengajukan
pertanyaan
pertanyaan mengenai
mengenai materi
materi yang
yang diberikan
disampaikan

5. Mendengarkan
5. Menjawab pertanyaan
dan
yang diajukan oleh
memperhatikan
peserta penyuluhan
jawaban penyaji
mengenai
pertanyaan peserta
penyuluhan
4 Penutup 5 menit Evaluasi :
1. Menanyakan kembai 1. Peserta
materi yang telah penyuluhan
disampaikan menjawab
2. Penyaji menyimpulkan pertanyaan yang
materi yang telah diajukan oleh
disampaikan penyaji.
2. Peserta
penyuluhan
mendengarkan
kesimpulan materi
yang disampaikan
G. Pengorganisasian Kegiatan
1. Clinical Instruction Pendidik : Dwi P.S.Kep., Ns, M.Sc
2. Clinical Instruction Lahan : H. Suko Budiono S.kep., Ns
3. Penyaji : Brahmayda Wiji Lestari
4. Moderator : Iriani Wahyuni L
5. Observer dan Notulen : Vamila Meydiawati
Qiftia Fatmatuz
6. Fasilitator : Ike Faradillah
Octafiansyah Alwan K.W

D. Setting Tempat

Penyaji

Moderator
Fasilitator 2

Fasilitator 1

P P P P

P P P P

P P P P

Pembimbing Observer dan Notulen

Keterangan :

P : Peserta penyuluhan (Pengunjung Puskesmas Jagir Surabaya)


E. Kriteria Evaluasi
a. Kriteria struktur
a. Kontrak waktu dan tempat diberikan 2 hari sebelum acara dilakukan
b. Pengumpulan SAP 2 hari sebelum pelaksanaan penyuluhan
c. Peserta hadir pada tempat yang telah ditentukan
d. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa bekerja sama
dengan Puskesmas Jagir Surabaya
e. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan
saat penyuluhan dilaksanakan
2. Kriteria Proses
a. Acara dimulai tepat waktu
b. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
c. Peserta mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan
d. Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan
e. Pelaksanaan kegiatan sesuai POA
f. Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description
3. Kriteria Hasil
a. Peserta yang datang sejumlah 15 orang atau lebih
b. Ada umpan balik positif dari peserta seperti dapat menjawab
pertanyaan yang diajukan pemateri
c. Peserta mampu menjawab dengan benar
Lampiran

MATERI PENYULUHAN PERAWATAN PASIEN TB PARU

1. Pengertian Tuberculosis (TB) Paru


Tuberculosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis (TBC). Meskipun dapat menyerang hampir
semua organ tubuh, namun bakteri TBC lebih sering menyerang organ paru
(80-85%) (Depkes, 2008). Tubekulosis yang menyerang paru disebut
tuberculosis paru dan yang menyerang selain paru disebut tuberculosis ekstra
paru. Tuberculosis paru dengan pemeriksaan dahak menunjukkan BTA (Basil
Tahan Asam) positif, dikategorikan sebagai tuberculosis paru menular
(Depkes, 2005).
Penyakit TB paru merupakan penyakit menahun, bahkan dapat seumur
hidup. Setelah seseorang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis,
hampir 90% penderita secara klinis tidak sakit, hanya didapatkan test
tuberkulin positif dan 10% akan sakit. Penderita yang sakit bila tanpa
pengobatan, setelah 5 tahun, 50% penderita TB paru akan mati, 25% sehat
dengan pertahanan tubuh yang baik dan 25% menjadi kronik dan infeksius
(Jusuf, 2010). Namun ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dengan TB paru
aktif yang tidak diobati lebih mungkin meninggal dalam waktu yang lebih
singkat (Green, 2006).
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang
berbagai organ, terutama paru-paru.penyakit ini bila tidak diobati atau
pengobatannya tidak tuntas dapat enimbulkan komplikasi berbahaya hingga
kematian. TB diperkirakan sudah ada di dunia sejak 5000 tahun sebelum
masehi, namun kemajuan dalam penemuan dan pengendalian penyakit TB
baru terjadi dalam 2 abad terakhir (Kemenkes RI, 2015).
2. Penyebab Tuberculosis (TB) Paru
Bakteri TB paru yang disebut Micobacterum tuberculosis dapat dikenali
karena berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6
mikron, tahan terhadap pewarnaan yang asam, sehingga dikenal sebagai
bakteri tahan asam (BTA). Sebagian besar bakteri terdiri dari asam lemak dan
lipid, yang membuat lebih tahan asam. Bisa bertahan hidup bertahun-tahun.
Sifat lain adalah bersifat aerob, lebih menyukai jaringan kaya oksigen
(Achmadi, 2008). Bila dijumpai BTA atau Mycobacterium tuberculosis
dalam dahak orang yang sering batuk-batuk, maka orang tersebut di diagnosis
sebagai penderita TB paru aktif dan memiliki potensi yang sangat berbahaya
(Achmadi, 2011). Secara khas bakteri berbentuk granula dalam paru
menimbulkan nekrosis atau kerusakan jaringan. Bakteri Mycobacterium
tuberculosis akan cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembab. Dalam jaringan
tubuh dapat dormant, tertidur lama selama bertahuntahun (Achmadi, 2008).

3. Tanda dan Gejala Tuberculosis (TB) Paru


Menurut Crofton (2002), gejala yang dirasakan oleh penderita TB paru
dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Serangan pertama menyerupai influenzae akan segera mereda dan
keadaan akan pulih kembali. Berbulan-bulan kemudian akan timbul
kembali serangan influenzae. Tergantung dari daya tahan tubuh,
jumlah dan virulensi basil, serangan kedua bisa terjadi setelah 3 bulan, 6
bulan, 9 bulan dan seterusnya. Dikatakan sebagai multiplikasi 3 bulan.
Serangan kedua akan bertahan Salah satu keluhan pertama penderita TB
paru adalah sering mendapatkan serangan influenzae. Setiap kali
mendapat serangan dengan suhu bisa mencapai 40C-41C.
b. Malaise Peradangan ini bersifat sangat kronik akan di ikuti tanda-tanda
malaise: anoreksia, badan makin kurus, sakit kepala, badan terasa pegal-
pegal, demam subfebril yang diikuti oleh berkeringat malam dan
sebagainya.
c. Batuk Mycobacterium tuberculosis mulai berkembang biak dalam
jaringan paru. Selama bronkus belum terlibat dalam proses penyakit,
orang sakit tidak akan batuk. Batuk pertama terjadi karena iritasi
bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang produk-
produk ekskresi dari peradangan keluar.
d. Batuk Darah (hemoptoe) Batuk darah akan terjadi bila ada pembuluh
darah yang terkena dan kemudian pecah. Tergantung dari besarnya
pembuluh darah yang pecah maka akan terjadi batuk darah ringan,
sedang, atau berat tergantung dari berbagai faktor. Satu hal yang harus
diingat adalah tidak semua batuk darah dengan disertai gambaran lesi di
paru secara radiologis adalah TB paru. Batuk darah juga terjadi pada
berbagai penyakit paru lain seperti penyakit yang namanya bronkiektesi,
kanker paru dan lain-lain.
e. Sakit/Nyeri Dada
f. Keringat Malam
g. Demam
h. Sesak nafas, dll.
Gejala-gejala tersebut diatas di jumpai pula pada penyakit paru selain TB
paru. Oleh karena itu setiap orang yang datang ke Unit Pelayanan Kesehatan
(UPK) dengan gejala tersebut diatas, harus di anggap suspek tuberculosis
atau tersangka penderita TB paru dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak
secara mikroskopis langsung.

4. Cara Penularan Tuberculosis (TB) Paru


Penderita dapat menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk percikan
dahak, yang dalam istilah kedokteran disebut droplet nuclei. Sekali batuk
dapat menghasilkan 3000 percikan dahak. Melalui udara yang tercemar oleh
Mycobacterium tuberculosis yang dilepaskan/ dikeluarkan oleh penderita TB
paru saat batuk. Bakteri akan masuk ke dalam paru-paru dan berkumpul
hingga berkembang menjadi banyak terutama pada orang yang memiliki daya
tahan tubuh rendah.
Pada umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana droplet
(percikan dahak) ada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi
jumlah droplet, sementara cahaya dan sinar matahari langsung dapat
membunuh bakteri. Droplet dapat bertahan beberapa jam dalam kondisi gelap
dan lembab. Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup kedalam
saluran pernapasan. Jadi penularan TB paru tidak terjadi melalui
perlengkapan makan, baju, dan perlengkapan tidur (Depkes, 2005).
Bakteri Mycobacterium tuberculosis sangat sensitif terhadap cahaya
matahari. Cahaya matahari berperan besar dalam membunuh bakteri di
lingkungan, dan kemungkinan penularan di bawah terik matahari sangat kecil
karena bahaya penularan terbesar terdapat pada perumahan-perumahan yang
padat penghuni dengan ventilasi yang kurang baik serta cahaya matahari tidak
dapat masuk kedalam rumah (Achmadi, 2008).

5. Pencegahan Tuberculosis (TB) Paru


a. Memberikan obat anti tuberculosis yang benar dan cukup, serta dipakai
dengan patuh sesuai ketentuan penggunaan obat.
b. Mengurangi atau menghilangkan faktor resiko, yaitu :
- Pengaturan rumah agar memperoleh cahaya matahari
- Mengurangi kepadatan anggota keluarga
- Mengatur kepadatan penduduk
- Menghindari meludah sembarangan
- Menghindari batuk sembarangan
- Mengkonsumsi makanan yang bergizi baik dan seimbang.

6. Penatalaksanaan Tuberculosis (TB) Paru


a. Prinsip Pengobatan TB
Obat Anti Tuberculosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam
pengobatan TB. Pengobatan TB adalah merupakan salah satu upaya paling
efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB.
Pengobatan yang adekuat aharus memenuhi prinsip:
- Pengobatan diberikan dalam bentuk panduan OAT yang tepat
mengandung minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya
resistensi
- Diberikan dalam dosis yang tepat
- Ditelan secara teratur dan diaasi secara langsung oleh PMO (Pengawas
Minum Obat) untuk memastikan agar obat benar-benar tertelan atau
tidak sampai selesai pengobatan
- Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi dalam
tahap awal serta tahap lanjutan untuk mencegah kekambuhan

b. Tahapan Pengobatan TB
Pengobatan TB harus selalu meliputi pengobatan tahap awal dan
tahap lanjutan dengan maksud :
- Tahap awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan
pada tahap ini adalah dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan
jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir
pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resistan
sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Pengobatan tahap
awal pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. pada
umumnya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit,
daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan selama 2
minggu.
- Tahap lanjutan: Pengobatan tahap lanjutan merupakan tahap yang
penting untuk membunuh sisa-sisa kuman yang masih ada dalam tubuh
khususnya kuman persister sehingga pasien dapat sembuh dan
mencegah terjadinya kekambuhan.
-
Cara Batuk Efektif yang Baik dan Benar
1. Hal-hal perlu anda perlukan:
a. Lengan baju
b. Tissue
c. Sabun dan air
d. Gel pembersih tangan
e. Pot/kaleng kecil

2. Berikut langkah-langkah batuk efektif yang benar:


a. Mengatur posisi duduk: badan tegak, kepala menghadap ke depan
b. Meminta pasien meletakkan 1 tangan di dada dan 1 tangan di perut
c. Melatih pasien melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui
hidung selama 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
d. Meminta pasien merasakan mengembangnya perut (cegah lengkung
pada punggung)
e. Meminta pasien menahan nafas hingga tiga hitungan.
f. Meminta pasien menghembuskan nafas perlahan dalam tiga hitungan
(lewat mulut, bibir seperti meniup)
g. Meminta pasien merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi dari
perut
h. Meminta pasien untuk melakukan nafas dalam 2 kali, yang ke-3:
melakukan tarik nafas tahan nafas dan terakhir dibatukkan dengan kuat.
i. Menampung dahak ke tempat tertutup/pot kecil.
j. Menggunakan masker baik dirumah atau saat berpergian.
k. Cuci tangan setelah melakukan tindakan

Cara mempersiapkan tempat untuk membuang dahak:


1. Siapkan tempat pembuangan dahak: kaleng berisi cairan desinfektan yang
dicampur dengan air (air sabun/detergen, air bayclin, atau pasir)
2. Isi cairan sebanyak 1/3 kaleng
3. Buang dahak ke tempat tersebut
4. Bersihkan kaleng tiap 2 atau 3 hari sekali
5. Buang isi kaleng bila berisi pasir: kubur dibawah tanah.
6. Bila berisi air desinfektan: buang di toilet, lalu siram.
7. Bersihkan kaleng dengan sabun dan cairan desinfektan.
DAFTAR PUSTAKA

Crofton, A. Horne, M. Miller, F. 2002. Tuberkulosis Klinis. Jakarta : Widya


Medika

Depkes RI, Ditjen PP & PL. 2005. Manual Pemberantasan Penyakit Menular.
Jakarta

Depkes, RI. 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Edisi 2


Cetakan ke-2. Jakarta

Jusuf, W. M., dkk., 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Departemen
Ilmu Penyakit Paru FK Unair-RSUD Dr. Soetomo.

Kemenkes, RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:


Kementerian Kesehatan RI

Kemenkes RI. 2015. Tuberculosis Temukan, Obati Sampai Sembuh. Jakarta: Pusat
Data dan Informasi Kemenkes RI