Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MATA KULIAH

SEDIMENTOLOGI LAUT
LINGKUNGAN PENGENDAPAN MUARA SUNGAI

Disusun Oleh :

DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
TAHUN AJARAN 2017/2018

i
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lingkungan pengendapan merupakan lokasi/tempat mengendapnya


material sedimen beserta kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan
terjadinya mekanisme pengendapan tertentu. (Gould, 1972). Lingkungan
pengendapan secara umum dibagi menjadi 3 macam yaitu lingkungan
pengendapan darat (continental), transisi dan laut (ocean). (Boggs, 2006).
Muara sungai merupakan wilayah badan air yang menjadi pertemuan antara
satu atau lebih sungai dengan laut bebas pada wilayah pesisir dan laut.
Wilayah muara Sungai Bogowonto dan sekitarnya merupakan tempat
mengendapnya material sedimen pada kondisi fisik, kimia dan biologi yang
terjadi di wilayah tersebut. Proses pengendapan atau sedimentasi tersebut
akan menghasilkan jenis endapan tertentu yang terbentuk secara vertikal
maupun lateral.
Jenis endapan yang terbentuk di lingkungan pengendapan di daerah
muara Sungai Bogowonto dan sekitarnya merupakan hasil dari proses
geomorfologi fluvial, angin dan marin. Endapan yang terbentuk secara
vertikal membentuk pelapisan material sedimen dan secara lateral
membentuk bentuklahan di permukaan. Jenis endapan tersebut akan
memiliki karakteristik sedimen akibat proses geomorfologi yang bekerja.
Proses geomorfologi yang berbeda akan mempengaruhi karakteristik fisik
sedimen, salah satunya adalah ukuran butir sedimen. Karakteristik material
sedimen yang terbentuk akan dipengaruhi oleh intensitas proses
pengendapan serta durasi atau lama pengendapan terjadi (Pettijhon, 1957).
Menurut Boggs (2006) suatu tatanan dari sistem geomorfik dengan proses
fisik, kimia dan biologi yang berlangsung, akan menghasilkan suatu jenis
endapan sedimen tertentu. Karakteristik dari endapan sedimen tersebut
secara fisik akan dipengaruhi oleh mekanisme dan intensitas pengendapan
serta kondisi lingkungan pengendapan.

1
2

Identifikasi lingkungan pengendapan dapat dilakukan dengan


pengamatan fisik sedimen di lapangan. Pengamatan fisik sedimen dilakukan
melalui pengamatan struktur dan tekstur sedimen. Pengamatan struktur
sedimen dapat dilakukan melalui interpretasi informasi geologi dari data bor
atau peta geologi yang dicocokkan dengan keadaan lapangan. Pengamatan
tekstur sedimen dapat menggunakan analisis ukuran butir sedimen (grain
size analysis) (Reineck dan Singh, 1975). Penggunaan analisis ukuran butir
sedimen merupakan salah satu alat penting yang dapat digunakan untuk
klasifikasi lingkungan pengendapan (Blott dan Pye, 2001).

1.2 Tujuan
1. Memahami lingkungan pengendapan sedimen yang terjadi di muara
sungai
2. Memahami proses terjadinya lingkungan pengendapan di muara sungai
3. Memenuhi penilaian pada matakuliah sedimentologi laut
II. PEMBAHASAN

2.1 Sedimen
Sedimentasi merupakan sebuah peristiwa atau proses pengendapan
yang terjadi pada beberapa komponen abiotik yang ada di lingkungan
seperti halnya tanah dan juga pasir. Proses pengendapan atau sedimentasi
ini bisa diesbabkan oleh beberapa hal seperti aliran air ataupun hembusan
angin yang dapat memindahkan partikel- partikel kecil dari tanah atau pasir
ke tempat lain hingga mengalami pengendapan dan membentuk sesuatu
yang baru. Proses sedimentasi atau pengendapan ini bisa terjadi di berbagai
tempat seperti di darat, di laut maupun di ekosistem sungai. Material-
material yang dipendahkan ini merupakan material- material sisa dari
pelapukan atau pengikisan yang berlangsung dalam jangka waktu cukup
lama sehingga mudah diangkut (Christina, 1984).
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang
ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan.
Sedangkan batuan sedimen adalah suatu batuan yang terbentuk dari hasil
proses sedimentasi, baik secara mekanik maupun secara kimia dan organik
(Tarigan, 2007).
Menurut Romdania (2010), Terbentuk dari akumulasi mineral-
mineral dan fragmen-fragmen batuan. Faktor-faktor yang penting antara
lain :
1. Sumber material batuan sedimen :
Sifat dan komposisi batuan sedimen sangat dipengaruhi oleh material-
material asalnya. Komposisi mineral-mineral batuan sedimen dapat
menentukan waktu dan jarak transportasi, tergantung dari prosentasi
mineral-mineral stabil dan nonstabil.
2. Lingkungan pengendapan :
Secara umum lingkungan pengendapan dibedakan dalam tiga bagian
yaitu: Lingkungan Pengendapan Darat, Transisi dan Laut. Ketiga
lingkungan pengendapan ini, dimana batuan yang dibedakannya masing-
masing mempunyai sifat dan ciri-ciri tertentu.

3
4

Sedimentasi adalah proses pengendapan material batuan secara


gravitasi yang dapat terjadi di daratan, zona transisi (garis pantai) atau di
dasar laut karena diangkut dengan media angin, air maupun es. Pada saat
pengikisan batuan hasil pelapukan terjadi, materialnya terangkut oleh angin
maupun air sehingga ketika kekuatan dari pengangkutan material batuan
berkurang maka batuan akan diendapkan di daerah alirannya. Tidak hanya
angin maupun air, gletser juga termasuk kedalam media pengangkutannya.
Walupun pergerakan pengangkutan oleh gletser sangat lambat, tetapi daya
pengangkutannya sangat besar. Pengendapan yang terjadi didasar laut atau
di danau mengakibatkan dasar laut menjadi dangkal. Sedimentasi juga dapat
menjelaskan secara terperinci peristiwa apa saja yang terjadi di suatu daerah
dengan kronologinya. Sehingga banyak peneliti atau geologist yang mencari
sejarah dengan pembuatan kronologi oleh sedimen. Juga sangat berguna
untuk bagian perminyakan (Kalay, 2014).
Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat
yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada
kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun
tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu
sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi
ini sebenarnya tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen
karena ada beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli
sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara sebagai benda padat di
bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material fragmental yang
dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang relatif
tinggi, misalnya endapan lantai laut dalam (Setiady, 2011).
Sedimen yaitu lepasnya puing-puing endapan padat pada permukaan
bumi yang dapat terkandung di dalam udara, air, atau es dibawah kondisi
normal. Sedimentasi adalah proses yang meliputi pelapukan, transportasi,
dan pengendapan. Batuan sedimen adalah batuan yang dibentuk oleh
sedimen. Tekstur sedimen yaitu hubungan bersama antara ukuran butir
dalam batuan dan pada umumnya ukuran butir ini dapat diamati dengan
menggunakan mikroskop. Komposisi sedimen merupakan acuan terhadap
5

mineral-mineral dan struktur kimia dalam batuan. Batuan klastik adalah


batuan dimana material penyusun utamanya berupa material detrital
(misalnya batupasir dan serpihan). Batuan nonklastik adalah batuan dimana
material penyusun utamanya berupa material organik dan unsur kimia
(misalnya batugamping terumbu, halit, dan dolomit) Sedimen yang di
jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber (Setiady, 2010).
Suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi
sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang
terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi
sedimen, zat tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai
dasar lautpun, sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika
hewan laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi dan
tersuspensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh kembali dan
tertimbun ( Bayhaqi, 2015).

2.2 Transport Sedimen


Sedimentasi adalah proses pengendapan yang melibatkan berbagai
faktor dari luar. Proses sedimentasi ini meliputi proses erosi, transportasi
atau angkutan, pengendapan atau deposition, dan pemadatan atau
compaction. Secara umum, proses sedimentasi ini dibedakan menjadi dua
macam yakni proses sedimentasi secara geologis dan proses sedimentasi
yang dipercepat (Kalay, 2014).
Penjelasan mengenai proses tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Proses sedimentasi secara biologis
Pada dasarnya proses sedimentasi secara geologis merupakan proses
erosi tanha yang berjalan secara normal atau secara biasanya. Hal ini berarti
bahwa proses pengendapan yang berlangsung masih dalam batasan yang
dibolehkan atau masih dalam keseimbangan alam dari proses agradasi dan
degradasi pada perataan kulit muka bumi akibat dari adanya pelapukan
(Setiady, 2010).
6

b. Proses sedimentasi yang dipercepat


Proses sedimentasi yang dipercepat merupakan proses sedimentasi
yang berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Proses sedimentasi ini
menyimpang dan sangat berbeda dengan proses sedimentasi secara biologis.
Proses sedimentasi yang dipercepat ini memberikan dampak buruk, bersifak
merugikan atau merusak, mengganggu keseimbangan alam atau kelestarian
lingkungan hidup. Proses sedimentasi yang dipercepat ini biasanya terjadi
atau disebabkan karena kegiatan manusia dalam mengolah tanah (Khatib,
2013).
Kesalahan dalam mengolah tanah ini akan menyebabkan
terjadinya erosi tanah dan juga tingkat sedimentasi yng tinggi. hasil dari
sedimentasi ini dapat berupa batuan breksi dan juga batuan konglomerat
yang terendap tidak jauh dari sumber atau asalnya, sementara batu pasir
terendapkan lebih jauh dari batu breksi dan juga batu konglomerat,
sedangkan lempung diendapkan jauh dari sumbernya (Tarigan, 2007).
Itulah jenis- jenis dari proses pengendapan atau proses sedimentasi.
Proses pengendapan atau sedimentasi ini apabila diurutkan maka tahapan-
tahapannya adalah proses pengangkatan, proses pengendapan dan juga
proses pemadatan. Proses sedimentasi hingga menjadi sebuah bentukan
yang baru membutuhkan waktu yang lama dan panjang. Misalnya untuk
membentuk batuan sedimen membutuhkan waktu berpuluh puluh tahun
lamanya. Karena sedimentasi ini melibatkan berbagai kekuatan untuk
mengangkut material, maka dibenadakan menjadi beberapa jenis
sedimentasi.roses degradasi yang masih dalam batasan yang dibolehkan
atau masih dalam keseimbangan degradasi (Romdania, 2010).
7

Gambar 1. Mekanisme Sedimentasi

Proses sedimentasi meliputi proses erosi, transportasi (angkutan),


pengendapan (deposition) dan pemadatan (compaction) dari sedimentasi itu
sendiri. Pada permukaan bumi dimulai dari proses pengangkatan yang
disebabkan oleh adanya tenaga endogen, dengan adanya pengangkatan ini,
batuan kulit bumi akan terangkat sebagian kemudian menjadi relative tinggi
dari daerah lainnya. Proses terjadinya pengangkatan juga dipengaruhi oleh
factor dari luar yaitu tenaga eksogen yang terdiri dari pelapukan,
transportasi, pengendapan (Khatib, 2013).
Menurut Setiady (2011), Proses pengangkatan sedimen dapat
diuraikan menjadi tiga proses, yaitu:
Rainfall detachment, dapat menggerakkan partikel tanah yang
tererosi dan terangkut bersama limpasan permukaan.
Overland flow, mengangkat bahan sedimen yang ada di permukaan
tanah, selanjutnya masuk ke dalam alur-alur dan seterusnya sampai
akhirnya ke sungai.
Pengendapan sedimen yang terjadi saat kecepatan aliran yang dapat
mengangkat dan mengangkut bahan sedimen mencapai kecepatan
pengendapan yang dipengaruhi oleh besarnya partikel-partikel
sedimen dan kecepatan aliran.
8

Gambar 2. Transportasi Sedimen dan Ukuran Butir Sedimen

Menurut Bayhaqi (2015), Proses transportasi adalah proses


perpindahan / pengangkutan material yang diakibatkan oleh tenaga kinetis
yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya gravitasi. Sungai mengangkut
material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu
a. Traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar
sungai.
b. Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding
pada dasar sungai.
c. Saltasi, yaitu material akan terangkut dengan cara meloncat pada
dasar sungai.
d. Suspensi, yaitu proses pengangkutan material secara mengambang
dan bercampur dengan air sehingga menyebabkan air sungai menjadi
keruh.
e. Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan
membentuk larutan kimia.

2.3 Muara Sungai


Muara sungai (estuari) merupakan wilayah badan air yang menjadi
pertemuan antara satu atau lebih sungai pada wilayah pesisir dan laut.
Menurut Pickard (1967) estuari adalah perairan semi tertutup yang
berhubungan dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat
bercampur dengan air tawar. Muara sungai atau estuari juga merupakan
bagian dari sungai yang masih terpengaruh oleh pasang surut (Usman,
9

2008). Daerah sekitar muara yang merupakan daerah yang lebih memilki
karakteristik proses fluvial. Proses pengendapan/sedimentasi tersebut akan
menghasilkan bentuk lahan tertentu yang memiliki karakteristik sedimen
akibat proses geomorfologi yang bekerja.

2.4 Lingkungan Pengendapan


Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik,
kimia dan biologi yang menjadi tempat material sedimen terakumulasi
(Krumbein dan Sloss, 1963). Lingkungan pengendapan juga merupakan
tempat akumulasi endapan material sedimen dengan kondisi fisik, kimia,
dan biologi yang dapat mencirikan mekanisme pengendapan yang terjadi.
(Gould, 1972). Lingkungan pengendapan dapat didefiniskan secara fisik,
biologi, dan kimia. Menurut Boggs (1995) lingkungan pengendapan adalah
karakteristik dari suatu tatanan atau sistem geomorfik dengan proses fisik,
kimia dan biologi berlangsung akan menghasilkan suatu jenis endapan
sedimen tertentu.
Lingkungan pengendapan terjadi pada unit geomorfologi tertentu.
Setiap unit geomorfologi memiliki proses fisik, kimia, dan biologi dengan
karakteristik proses dan intensitas yang berbeda. Hal tersebut membuat
keragaman karakteristik dari material pengendapan yang terbentuk.
Karakteristik material sedimen yang terbentuk dominan akan dipengaruhi
oleh intensitas dan mekanisme proses pengendapan meliputi durasi atau
lama pengendapan (Pettijhon, 1957). Jadi, dapat disimpulkan bahwa proses
pengendapan pada lingkungan pengendapan tersebut akan menghasilkan
jenis endapan tertentu yang dicirikan sebagai bentuk lahan.

2.5 Parameter Fisik Sedimen Untuk Identifikasi Karakteristik


Lingkungan Pengendapan
Parameter fisik sedimen merupakan aspek penting dalam kegiatan
rekonstruksi lingkungan yang terbentuk baik di masa kini maupun masa
lalu. Struktur sedimen dasar dan tekstur sedimen merupakan fitur utama
dalam memberikan informasi tentang media dan jenis transport material
10

yang bekerja (es, angin, atau air) serta kondisi energi dalam masa
pengendapan. Reineck dan Sigh (1975) menyimpulkan bahwa studi
parameter fisik sedimen dapat dibagi dalam 2 grup yaitu :
a. Studi Struktur Sedimen
Studi ini termasuk semua struktur sedimen yang ditemukan di
pelapisan batuan (bedding features) serta material permukaan (surface
features) yang dihasilkan waktu proses pengendapan berjalan. Struktur
sedimen merupakan data dinamis lingkungan pengendapan dimana struktur
sedimen terbentuk oleh proses fisik sebelum, selama dan sesudah
pengendapan terjadi. Struktur sedimen dapat digunakan untuk interpretasi
lingkungan pengendapan. Struktur sedimen dapat memberikan informasi
media transport sedimen dan kondisi energi yang membentuk sedimen.
(Reineck dan Sigh, 1975). Jenis struktur sedimen yang dapat dijumpai di
lapangan menurut Tucker (1991), terdapat 4 klasifikasi yaitu yaitu struktur
erosi, pengendapan, pasca pengendapan dan biogenik dengan beberapa
bentuk struktur di dalamnya.
b. Studi Tekstur Sedimen.
Studi ini termasuk studi granulometri pada material sedimen. Studi
granulometri yang digunakan meliputi ukuran butir, parameter ukuran butir,
bentuk dan kebundaran serta tekstur permukaan. Namun pada penelitian ini
tekstur sedimen dianalisis melalui analisis ukuran butir. Ukuran butir
sedimen merupakan bagian aspek fisik dari material sedimen. Ukuran butir
dari material sedimen dapat digunakan untuk pengukuran sedimen saat
energi medium pengendapan dan energi pengendapan pada sebuah
cekungan. Material sedimen kasar umumnya ditemukan di lingkungan
dengan energi pengendapan yang lebih tinggi, sedangkan untuk sedimen
halus pada energi pengendapan yang lebih kecil. Penurunan arah transport
material juga akan mempengaruhi ukuran besar butir material sedimen.
Contohnya pada proses fluvial dimana ukuran besar butir akan lebih kasar
di daerah hulu dan semakin halus mendekati daerah hilir. (Reineck dan
Singh, 1975).
11

2.6 Analisa Ukuran Butir


Analisis ukuran butir sedimen merupakan salah satu alat penting yang
dapat digunakan untuk klasifikasi lingkungan pengendapan (Blott dan Pye,
2001).Ukuran butir adalah komponen yang paling mendasar mengenai
kondisi partikel sedimen. Ukuran butir sedimen akan mempengaruhi
kondisi fisik sedimen, proses transportasi dan endapan material yang akan
bekerja. Analisis ukuran butir akan memberikan petunjuk penting asalnya
sedimen, sejarah transportasi dan kondisi pengendapan. (Ward, 1957;
Friedman, 1979; dan Bui et al., 1990). Meskipun pendekatan empiris dapat
digunakan untuk membedakan mekanisme deposisi dalam lingkungan
pengendapan, namun masih memerlukan analisis ukuran butir dalam
menjelaskan perbedaan secara detail lingkungan tertentu (Friedman dan
Sanders 1978).
Hasil pengukuran sedimen pada lingkungan pengendapan daerah
muara Sungai Bogowonto dan sekitarnya akan menghasilkan data ukuran
butir. Data ukuran butir tersebut dapat digunakan untuk membedakan tipe
sedimen. Tipe sedimen tersebut dapat berasal dari pantai, gumuk pasir yang
terangkut angin, dan sedimen dari aktivitas fluvial yaitu sungai. (Mason dan
Folk, 1958; Friedman, 1978; Visher, 1969; Stapor dan Tanner, 1975).
Analisis tekstur sedimen atau sering disebut granulometri adalah pusat
dari setiap penelitian sedimentologis. Analisis granulometri pada ukuran
butir sedimen dapat digunakan sebagai indeks untuk menguraikan atau
mendeskripsikan kondisi lingkungan pengendapan. Analisis granulometri
menampilkan fluktuasi yang signifikan pada grafik yang dibangun dari data
mean, sortasi, skewness, dan kurtosis. Fluktuasi terjadi karena sedimen
terbentuk di lingkungan pengendapan muara sungai dekat pantai juga
terpengaruh dari variasi energi gelombang dan tingkat turbulensi pergerakan
sedimen. (Saravanan dan Chandrasekar, 2010).
Analisis ukuran butir merupakan analisis statistik yang dapat
digunakan dalam membedakan lingkungan pengendapan. Duane (1964)
mengatakan untuk membedakan antara lingkungan pengendapan dapat
menggunakan berbagai ukuran statistik. Metode statistik telah banyak
12

diterapkan dalam mendiagnosis perbedaan yang mungkin ada dalam


lingkungan tertentu pada unit fisiografi yaitu dune (gumuk) , tanggul, dan
daerah kepesisiran yang memeiliki ciri sedimen saat air pasang, pertengahan
pasang, dan air surut (Mohan dan Rajamanickam 2000). Penerapan metode
analisis geostatistik menggunakan parameter ukuran butir juga dapat
digunakan untuk mengetahui pengaruh jarak terhadap karakteristik
sedimen. Metode analisis tren sedimen tersebut merupakan cara yang efektif
untuk memahami gerakan dan gradasi sedimen permukaan. (Ren dkk.,
2012).
Analisis besar butir mempertimbangkan besaran butir material
sedimen yang diambil pada tiap perlapisan tanah dari endapan tanah atau
bentuklahan Hasil analisis besar butir material sedimen akan menghasilkan
klasifikasi lingkungan pengendapan yang disebabkan oleh proses fluvial,
aeolin maupun marine. Proses tersebut akan membagi karakteristik
lingkungan pengendapan fluvial, aeolin dan marine (Fuchtbauer dan Muller,
1970).
Distribusi ukuran besar butir dilakukan analisis melalui plot pada
kurva kumulatif. (Visher, 1969). Kurva kumulutif dibagi pada kuartil Q1
(25%), Q2 (50%), dan Q3(75%) (Gambar 1.1).

Gambar 3. Diagram Distribusi Tipe Sedimen pada Kurva Komulatif


(Visher, 1969)

Perhitungan parameter besar butir sedimen salah satunya dilakukan


dengan menggunakan rumus :
13

Dimana : P90 percentil 90, Q1 = kuartil 25% , Q3 = kuartil 75%


P10 percentil 10, Q2 = kuartil 50%

Analisis besar butir menggunakan parameter nilai sortasi, skewness


dan median untuk menggambarkan distribusi besar butir material sedimen.
Distribusi ukuran partikel secara umum diketahui melalui perhitungan 4
parameter yaitu nilai rata-rata (mean), sortasi, skewness dan kurtosis.
Analisis ukuran butir melalui parameter ukuran sedimen dapat digunakan
untuk klasifikasi lingkungan pengendapan. Fuchtbauer dan Muller (1970)
dalam Reineck dan Singh (1975) mengungkapkan terdapat 3 kelas
lingkungan pengendapan yaitu lingkungan pengendapan fluvial, eolin dan
marine yang ditentukan dengan menganalisis karakteristik parameter
ukuran butir.
A. Lingkungan Pengendapan Fluvial
Dasar sungai (river bed) dan gosong sungai (point bar) dengan nilai
sortasi >1,2 ; pada sungai yang tidak teratur alurnya nilai skewness
sebagian besar >1,3 jarang <1 .
Dataran banjir (flood plain) dengan sortasi > 2 ; skewness selalu <
1 (ukuran butir baik dan halus pada distribusinya)

B. Lingkungan Pengendapan Eolin


Gumuk Pasir (Sand dune) dengan kondisi sortasi buruk, skewness <
1 dengan butir material agak kasar. Variasinya kecil pada sekuen
vertikal pelapisan sedimen yang terbentuk. Diameter median antara
0,15 dan 0,35 mm.
14

Sedimen lepas (Loess sediment) dengan kondisi sortasi yang buruk,


skewness <1 (fraksi berbutir halus banyak), median dengan diameter
<0,1.

C. Lingkungan Pengendapan Marine


Gisik (Beach) dengan kondisi sortasi sedimen pantai paling baik (1,1
1,23), skewness > 1 , dan pada kertas log kurva komulative
menunjukkan sedimen masuk pada tipe saltation population.
Laut Dangkal (shallow marine) atau rataan pasang surut (tidal flats)
dengan sortasi buruk, skwness <1 , di garis pantai hampir tidak
ditemukan fraksi pasir kasar.
Laut dalam (deep sea) terdapat pada dasar laut ditemukan material
debu, pada daerah abisal lempung berdebu, material terombak akibat
adanya turbulen dari arus.
DAFTAR PUSTAKA

Bayhaqi, Ahmad. (2015). Distribusi butiran sedimen di pantai Dalegan , Gresik ,


Jawa Timur Distribution of sediment grain in Dalegan beach , Gresik , East
Java, 4(3), 153159.

Boggs, Sam, J. R., 2006, Principles of Sedimentology and Stratigraphy, University


of Oregon, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey
Christina, J. (1984). Studi perubahan garis pantai selatan teluk ambon luar dengan
metode komar dan bikjer, (911).

Kalay, D. E., & Manilet, K. (2014). DI PESISIR UTARA PULAU AMBON ( The
Slope of The Beach With Sediment Distribution in Coastal North Ambon
Island ), 10, 91103.

Khatib, A. (2013). Analisis sedimentasi dan alternatif penanganannya di pelabuhan


selat baru bengkalis (061a), 7(KoNTekS 7), 2426.

Setiady, D. (2010). Proses Sedimentasi Dan Erosi Pengaruhnya Terhadap


Pelabuhan , Sepanjang Pantai Bagian Barat Dan Bagian Timur , Selat Bali,
8(236), 8594.

Setiady, D. (2011). Kandungan Mineral Pada Sedimen Pantai Dan Laut ,


Hubungannya Dengan Batuan Sumber Di Pesisir Kabupaten Rembang , Jawa
Tengah, 9(3), 135144.

Tarigan, M. S. (2007). Perubahan garis pantai di wilayah pesisir perairan cisadane,


provinsi banten. Makara Sains, 11(1), 4955.

15