Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH

BIO OPTIK
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 2

1. EIGHTEEN MEI KRISDAYANTI GEA


2. JAVARMAN MALAU
3. NISWAN EFENDI PASARIBU
4. YULIANTI LAIA
5. YULITIA SARI

DOSEN : LADESTAM SITINJAK, S.Pd, M.Pd


MATA KULIAH : FISIKA
TINGKAT :I

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMKAB TAPANULI TENGAH
T.A. 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang mana atas
rahmat dan ridho-Nya kami selaku tim penyusun makalah bio optik pada mata kuliah fisika dapat
kami selesaikan sebagaimana mestinya.

Tak lupa pula kami ucapkan rasa terimakasih kepada dosen pembimbing kami Ladestam
sitinjak,S.Pd,M.Pd yang telah memberikan kami pengajaran dan arahan untuk menyelesaikan
makalah ini. Sehingga dengan arahan tersebut kami memiliki arahan yang signifikan untuk belajar
sekaligus menyelesaikan makalah ini dengan usaha dan kemampuan yang kami telah utarakan.

Makalah ini sangat jauh dari kata sempurna, namun sebagaimana atas usaha dan isi
didalamnya kami harapkan dapat memberikan pengetahuan baru serta dapat sebagai rujukan bagi
pembacanya.

Sihaporas, 06 November 2017

Kelompok 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang.....................................................................................................1

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian......................................................................................................2

B. Macam-macam bentuk lensa........................................................................2

C. Instrumen optik.............................................................................................4

D. Jenis-jenis mata dan teknik koreksi............................................................5

E. Peralatan dalam pemeriksaan mata............................................................5

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN..................................................................................................6

SARAN..............................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................7
BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Dalam keseharian kita selalu melihat ada orang yang memakai kaca mata dan ada pula yang
tidak, dan ada pula yang dulunya tidak memakai kacamata tetapi sekarang memakai kaca mata.
Disamping itu ada pula yang memakai kaca mata tetapi masih melihat suatu benda tersebut tidak
jelas. Hal itulah yang membuat penulis mengangkat masalah ini menjadi makalah penulis.

Sampai abad ke-4 sebelum masehi orang masih berpendapat bahwa benda-benda di sekitar
dapat dilihat oleh karena mata mengeluarkan sinar-sinar penglihatan. Anggapan ini didukung oleh
Plato (429 348 ) dan Euclides (287 212 SM) oleh karena pada mata binatang di malam hari
tampak bersinar. Pendapat di atas di tentang oleh Aristoteles (384 322 SM) karena pada kenyataan
kita tidak dapat melihat benda-benda di dalam ruang gelap. Namun demikian Aristoteles tidak dapat
memberi penjelasan mengapa mata dapat melihat benda. Pada abad pertengahan Alhazan (965
1038) seorang Mesir di Iskandria berpendapat bahwa benda di sekitar itu dapat dilihat oleh karena
benda-benda tersebut memantulkan cahaya atau memancarkan cahaya yang masuk ke dalam mata .
teori ini akhirnya di terima sampai abad ke 20 ini.
BAB II

KAJIAN TEORI

A. PENGERTIAN BIOOPTIK

Biooptik, tersusun atas kata bio dan optik. Bio berkaitan dengan makhluk hidup/ zat hidup
atau bagian tertentu dari makhluk hidup, Sedangkan optik dikenal sebagai bagian ilmu fisika yang
berkaitan dengan cahaya atau berkas sinar.

Secara spesifik ada klasifikasi Optik geometri dan optika fisis. Fokus utama dibiooptik
adalah terkait dengan indera penglihatan manusia, yaitu mata.

OPTIK GEOMETRI

Berpangkal pada perjalanan cahaya dalam medium secara garis lurus, berkas-berkas cahaya
di sebut garis cahaya dan gambar secara garis lurus. Dengan cara pendekatan ini dapatlah
melukiskan ciri-ciri cermin dan lensa dalam bentuk matematika.

1 1 1 s= jarak benda
= +
f s s'
s = jarak bayangan
f = focus = titik api

OPTIK FISIK

Gejala cahaya seperti dispersi, interferensi dan polasisasi tidak dapat di jelaskan malui
metode optika geometri. Gejala-gejala ini hanya dapat dijelaskan dengan menghitung ciri-ciri fisik
dari cahaya tersebut.

B. MACAM-MACAM BENTUK LENSA

Berdasarkan bentuk permukaannya, lensa dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Lensa yang mempunyai permukaan sferis, dibagi menjadi dua macam pula, yaitu:

Lensa Cembung/ Konvergen/ Positif

Lensa Cekung/ Divergen/ Negatif


2.Lensa yang mempunyai permukaan silindris

Adalah lensa yang mempunyai silinder, lensa ini mempunyai fokus yang positif dan ada
pula yang mempunyai panjang fokus negatif.

Kekuatan Lensa (Dioptri)

Kekuatan lensa dinyatakan dengan satuan dioptri (m-1). Kekuatan lensa (P) sama dengan
kebalikan panjang fokusnya (1/f). Jika panjang fokus dalam meter, kekuatan lensa adalah dalam
dioptri (D):

P = = + dioptri s = jarak benda dari lensa (m)

P = Kekuatan lensa (dioptri) s = jarak bayangan dari lensa (m)

F = fokus lensa (m) 1D = 1 m-1

Kesesatan Lensa

Berdasarkan persamaan yang berkaitan dengan jarak benda, jarak bayangan , jarak focus, radius
kelengkungan lensa serta sinar-sinar yang datang paraksial akan kemungkinan adanya kesesatan
lensa (aberasi lensa).

Aberasi ada bermacam-macam :

1.Aberasi sferis( disebabkan oleh kecembungan lensa).

Aberasi sferis merupakan hasil dari kenyataan bahwa permukaan melengkung hanya
memfokuskan sinar-sinar paraksial (sinar-sinar yang berjalan dekat sumbu utama) pada sebuah titik
tunggal. .

2. Koma,Aberasi ini terjadi akibat tidak sanggupnya lensa membentuk bayangan dari sinar di
tengah-tengah dan sinar tepi.

3. Astigmatisma,Merupakan suatu sesatan lensa yang disebabkan oleh titik benda membentuk
sudut besar dengan sumbu sehingga bayangan yang terbentuk ada dua yaitu primer dan sekunder.
4. Kelengkungan medan,Bayangan yang dibentuk oleh lensa pada layer letaknya tidak dalam satu
bidang datar melainkan pada bidang lengkung. Peristiwa ini disebut lengkungan medan atau
lengkungan bidang bayangan.

5. Distorsi,Distorsi atau gejala terbentuknya bayangan palsu. Terjadinya bayangan palsu ini oleh
karena di depan atau di belakang lensa diletakkan diafragma atau cela.

6. Aberasi kromatis,Prinsip dasar terjadinya aberasi kromatis oleh karena focus lensa berbeda-beda
untuk tiap-tiap warna. Akibatnya bayangan yang terbentuk akan tampak berbagai jarak dari lensa.

C. INSTRUMEN OPTIK.

a.MATA, Bagian-bagian Mata:

Kornea, merupakan selaput kuat yang tembus cahaya dan berfungsi sebagai pelindung
bagian dalam bola mata

Iris, merupakan selaput berbentuk lingkaran, mata dapat membedakan warna.

Pupil, merupakan celah lingkaran pada mata yang dibentuk oleh iris, berfungsi mengatur
banyaknya cahaya yang masuk ke mata.

Lensa mata, merupakan lensa cembung yang terbuat dari bahan bening, berfungsi mengatur
pembiasan cahaya.

Retina, merupakan lapisan yang berisi ujung-ujung saraf yang sangat peka terhadap cahaya.
Retina berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk oleh lensa mata.

Aquaeuos humor, merupakan cairan mata.

Saraf optic, merupakan saraf yang menyampaikan informasi tentang kuat cahaya dan warna
ke otak.

b. Pembentukan Bayangan Pada Mata


Ada tiga komponen penginderaan penglihatan, yaitu:.Mata memfokuskan bayangan pada
retina,Sistem saraf mata yang member informasi ke otak,Korteks penglihatan salah satu bagian
yang menganalisa penglihatan

D. JENIS-JENIS MATA

a) Mata Normal, Sering disebut juga mata emetrop. Mata normal memiliki titik dekat 25 cm dan
titik jauh tak terhingga. Apabila mata memiliki titik dekat tidak sama dengan 25 cm dan titik jauh
tidak sama dengan tak terhingga, maka dikatakan sebagai cacat mata. Hal ini mengakibatkan mata
sulit melihat benda yang jauh maupun dekat karena bayangan tidak jatuh tepat pada retina.

b) Rabun Jauh (Miopi), Disebut juga mata terang dekat, memiliki titik dekat kurang dari 25 cm
(< 25 cm) dan titik jauh pada jarak tertentu. Orang yang menderita miopi dapat melihat dengan jelas
benda pada jarak 25 cm, tetapi tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas.cacat mata ini dapat
diatasi dengan memakai kacamata berlensa cekung (minus).

c) Rabun Dekat (Hipermetropi), Rabun dekat memiliki titik dekat lebih dari 25 cm (> 25 cm),
dan titik jauhnya pada jarak tak terhingga. Cacat mata ini dapat diatasi dengan kacamata berlensa
cembung (plus).

d) Mata Tua (Presbiopi), Pada penderita presbiopi tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas
serta tidak dapat membaca pada jarak baca normal. Jenis mata ini dapat ditolong dengan kacamata
berlensa rangkap (minus di atas dan plus di bawah) yang disebut kacamata bifocal.

e) Astigmatisma, Cacat mata ini disebabkan oleh kornea mata yang tidak berbentuk sferis, tapi
lebih melengkung pada satu sisi daripada sisi yang lain. Penderita astagmatisma dapat diatasi
dengan menggunakan kacamata berlensa silindris.

f) Mata Campuran, Penderita yang matanya sekaligus mengalami prsesbiopi dan miopi, maka
memiliki titik dekat yang letaknya terlalu jauh dan titik jauh terlalu kecil, dapat ditolong dengan
kacamata berlensa rangkap atau bifocal (negatif di atas dan positif di bawah).
E. PERALATAN DALAM PEMERIKSAAN MATA
Peralatan dalam pemeriksaan mata dan lensa ada 6 macam yaitu :

1.OPTHALMOSKOP 4.TONOMETER
2.RETINOSKOP 5.PUPILOMETER DARI EINDHOVEN
3.KERATOMETER 6.LENSOMETER
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Mata sebagai alat optik yang paling penting dalam kehidupan. Mata sebagai instrumen
yang harus dijaga dan dikenali agar tercipta kebaikan. Sehingga berbagai hal yang tidak
semestinya mendatangi mata dapat kita cegah sebelum terjadinya. Kekuatan mata yang pada
hakikatnya melebihi kekuatan alat bantu apapun setelah mata kita rusak.

SARAN

Makalah ini sangatlah jauh dari kata sempurna dan jelas isinya. Sehingga kami selaku
tim penyusun dari kelompok IV meminta saran dan kritik yang membangun untuk masukan dan
sebagai pembelajaran kami kedepannya demi kebaikan untuk selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. J.F. Gabriel,2003, Fisika Kedokteran, EGC, Jakarta

2. Ganong, W.F, 1999, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 17, EGC, Jakarta

3. Sumber: http://arwinlim.blogspot.com/2007/10/bio-optik-dalam- keperawatan.html

4. Gabriel, J. F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC

5. Kanginan M. 2002. Fisika Untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga