Anda di halaman 1dari 27

PAPER BIOMASSA

REAKSI ESTERIFIKASI DAN TRANSESTERIFIKASI


UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL

Disusun Oleh:

FADLI MAULANA FIKRI 3335140639


PIPIET PUTRI UTAMI NAIBAHO 3335140645
VERANANDA KUSUMA ARIYANTO 3335140351

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN
2017
BIODIESEL

Biodiesel merupakan monoalkil ester dari asam-asam lemak rantai panjang yang
terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani untuk digunakan sebagai bahan
bakar mesin diesel. Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterikasi
trigliserida dan atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyak
nabati yang digunakan sebagai bahan baku. Transesterifikasi adalah proses yang
mereaksikan trigliserida dalam minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol rantai
pendek seperti methanol atau etanol (pada saat ini sebagian besar produksi biodiesel
menggunakan metanol) menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty Acids Methyl
Esters / FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping. Katalis
yang digunakan pada proses transeterifikasi adalah basa/alkali, biasanya digunakan
natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH). Esterifikasi adalah proses
yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) dengan alkohol rantai pendek (metanol atau
etanol) menghasilkan metil ester asam lemak (FAME) dan air. Katalis yang digunakan
untuk reaksi esterifikasi adalah asam, biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam fosfat
(H2PO4). Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan
biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2 yaitu :

1. Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan


kalium hidroksida) untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati dengan
kandungan FFA rendah.

2. Esterifikasi dengan katalis asam ( umumnya menggunakan asam sulfat)


untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi dilanjutkan dengan
transesterifikasi dengan katalis basa.

Proses pembuatan biodiesel dari minyak dengan kandungan FFA rendah


secara keseluruhan terdiri dari reaksi transesterifikasi, pemisahan gliserol dari metil
ester, pemurnian metil ester (netralisasi, pemisahan methanol, pencucian dan
pengeringan/dehidrasi), pengambilan gliserol sebagai produk samping (asidulasi
dan pemisahan metanol) dan pemurnian metanol tak bereaksi secara
destilasi/rectification. Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika
minyak nabati mengandung FFA di atas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi
(>5%) langsung ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi
dengan katalis membentuk sabun. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup
besar dapat menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat
terbentuknya emulsi selama proses pencucian. Jadi esterifikasi digunakan sebagai
proses pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjadi metil ester sehingga
mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi
dengan katalis basa untuk mengkonversikan trigliserida menjadi metil ester.

A. Esterifikasi

Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi ester.
Esterifikasi mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Katalis-katalis yang cocok
adalah zat berkarakter asam kuat, dan karena ini, asam sulfat, asam sulfonat organik
atau resin penukar kation asam kuat merupakan katalis-katalis yang biasa terpilih
dalam praktek industrial (Soerawidjaja, 2006). Untuk mendorong agar reaksi bisa
berlangsung ke konversi yang sempurna pada temperatur rendah (misalnya paling
tinggi 120 C), reaktan metanol harus ditambahkan dalam jumlah yang sangat
berlebih (biasanya lebih besar dari 10 kali nisbah stoikhiometrik) dan air produk
ikutan reaksi harus disingkirkan dari fasa reaksi, yaitu fasa minyak. Melalui
kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi-kondisi reaksi dan metode
penyingkiran air, konversi sempurna asam-asam lemak ke ester metilnya dapat
dituntaskan dalam waktu 1 sampai beberapa jam. Reaksi esterifikasi dari asam
lemak menjadi metil ester adalah :

RCOOH + CH3OH RCOOH3 + H2O

Asam Lemak Metanol Metil Ester Air

Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar


asam lemak bebas tinggi (berangka-asam 5 mg-KOH/g). Pada tahap ini, asam
lemak bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. Tahap esterifikasi biasa
diikuti dengan tahap transesterfikasi. Namun sebelum produk esterifikasi
diumpankan ke tahap transesterifikasi, air dan bagian terbesar katalis asam yang
dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi antara lain :

a. Waktu Reaksi

Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat


semakin besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika
kesetimbangan reaksi sudah tercapai maka dengan bertambahnya waktu
reaksi tidak akan menguntungkan karena tidak memperbesar hasil.

b. Pengadukan

Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul


zat pereaksi dengan zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan
reaksi terjadi sempurna. Sesuai dengan persamaan Archenius :

k = A e(-Ea/RT)

dimana, T = Suhu absolut ( C)

R = Konstanta gas umum (cal/gmol K) E = Tenaga aktivasi (cal/gmol)

A = Faktor tumbukan (t-1)

k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)

Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta


kecepatan reaksi. Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting
mengingat larutan minyak-katalis- metanol merupakan larutan yang
immiscible.

c. Katalisator
Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu
reaksi sehingga pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi
semakin besar. Pada reaksi esterifikasi yang sudah dilakukan biasanya
menggunakan konsentrasi katalis antara 1 - 4 % berat sampai 10 % berat
campuran pereaksi (Mc Ketta, 1978).
d. Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak
konversi yang dihasilkan, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Bila
suhu naik maka harga k makin besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil
konversi makin besar.

B. Transesterifikasi

Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap


konversi dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkyl ester, melalui reaksi
dengan alkohol, dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara
alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/pemasok gugus alkil,
metanol adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah dan
reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis). Jadi, di sebagian
besar dunia ini, biodiesel praktis identik dengan ester metil asam-asam lemak
(Fatty Acids Metil Ester, FAME). Reaksi transesterifikasi trigliserida menjadi
metil ester adalah :

Transesterifikasi juga menggunakan katalis dalam reaksinya. Tanpa adanya


katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan dengan lambat
(Mittlebatch,2004). Katalis yang biasa digunakan pada reaksi transesterifikasi
adalah katalis basa, karena katalis ini dapat mempercepat reaksi.

Reaksi transesterifikasi sebenarnya berlangsung dalam 3 tahap yaitu sebagai


berikut:
Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil asam-
asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah produk,
yaitu:

a. Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi

b. Memisahkan gliserol

c. Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi eksoterm)

2.7.1 Hal-hal yang Mempengaruhi Reaksi Transesterifikasi

Tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu menginginkan agar


didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum. Beberapa kondisi
reaksi yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui
transesterifikasi adalah sebagai berikut (Freedman, 1984):

a. Pengaruh air dan asam lemak bebas


Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam
yang lebih kecil dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan
asam lemak bebas lebih kecil dari 0.5% (<0.5%). Selain itu, semua bahan
yang akan digunakan harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi
dengan katalis, sehingga jumlah katalis menjadi berkurang. Katalis
harus terhindar dari kontak dengan udara agar tidak mengalami reaksi
dengan uap air dan karbon dioksida.
b. Pengaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah
Secara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah
3 mol untuk setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh 3 mol alkil
ester dan 1 mol gliserol. Perbandingan alkohol dengan minyak nabati
4,8:1 dapat menghasilkan konversi 98% (Bradshaw and Meuly, 1944).
Secara umum ditunjukkan bahwa semakin banyak jumlah alkohol yang
digunakan, maka konversi yang diperoleh juga akan semakin bertambah.
Pada rasio molar 6:1, setelah 1 jam konversi yang dihasilkan adalah 98-
99%, sedangkan pada 3:1 adalah 74-89%. Nilai perbandingan yang terbaik
adalah 6:1 karena dapat memberikan konversi yang maksimum.
c. Pengaruh jenis alkohol
Pada rasio 6:1, metanol akan memberikan perolehan ester yang tertinggi
dibandingkan dengaan menggunakan etanol atau butanol.
d. Pengaruh jenis katalis
Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila
dibandingkan dengan katalis asam. Katalis basa yang paling populer untuk
reaksi transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH), kalium
hidroksida (KOH), natrium metoksida (NaOCH3), dan kalium metoksida
(KOCH3). Katalis sejati bagi reaksi sebenarnya adalah ion metilat
(metoksida). Reaksi transesterifikasi akan menghasilkan konversi yang
maksimum dengan jumlah katalis 0,5-1,5%-b minyak nabati. Jumlah katalis
yang efektif untuk reaksi adalah 0,5%-b minyak nabati untuk natrium
metoksida dan 1%-b minyak nabati untuk natrium hidroksida.
e. Metanolisis Crude dan Refined Minyak Nabati
Perolehan metil ester akan lebih tinggi jika menggunakan minyak nabati
refined. Namun apabila produk metil ester akan digunakan sebagai bahan
bakar mesin diesel, cukup digunakan bahan baku berupa minyak yang telah
dihilangkan getahnya dan disaring.
f. Pengaruh temperatur
Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30 - 65 C (titik
didih metanol sekitar 65 C). Semakin tinggi temperatur, konversi yang
diperoleh akan semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat.
Transesterifikasi Langsung Limbah Kopi untuk Produksi Biodiesel

Yang Liu, Qingshi Tu, Gerhard Knothe,Mingming Lu

2017

A. Bahan
Limbah Biji Kopi
Methanol
N Hexane
Ispropyl Alcohol

B. Alat
Soxlet
Oven
Distillation Flask

C. Proses Percobaan
Limbah biji kopi diimpregnasi dengan katalis untuk esterifikasi langsung.
Ketika kadar asam lemak melebihi 2 mg KOH/ g oil, maka asam sulfat dipilih
sebagai katalis untuk menghindari adanya penyabunan. Selanjutnya 200 mL Air
demin ditambahkan untuk proses coating.
50 g Limbah biji kopi terimpregnasi ditambahkan kedalam labu destilasi dengan
penambahan 250 mL metanol untuk dilakukan transesterifikasi. Setelah itu
dilakukan pencucian dan pemisahan antara biodisel dan glicerin.

D. Variabel
Waktu reaksi: 3, 4, 5, 6, 7, 10, 12, dan 17 jam
Temperatur reaksi: 60, 70, dan 80C
Dosis katalis H2SO4 : 5, 10, 15, 20 %wt
E. Hasil
Oil Content 17,32 0,93 %wt. Nilai asam lemak 6,18 6,94 mg KOH/ g oil.
Pengaruh Temperatur Reaksi terhadap Yield Biodiesel dan Nilai Asam
Lemak
Gambar 1. Grafik Temperatur reaksi terhadap yield biodisel dan nilai asam lemak

Semua sampel diimpregnasi dengan 20 %wt asam sulfat dan direaksikan


selama 17 jam untuk memastikan reaksi berjalan tuntas. Peningkatan yield biodiesel
dari 16,19% wt menjadi 17,08 %wt terjadi pada peningkatan suhu reaksi dari 60C
menjadi 70C. Pada temperatur 80C yield biodiesel bernilai 16,86 %wt. Pada
temperatur 70C nilai rata rata asam lemak adalah senilai 0,79 mg KOH/ g oil
adalah yang terendah diantara ketiga temperatur reaksi. Nilai FFA terbesar adalah
pada temperatur 80C, karena pada temperatur ini berhubungan dengan methanol
yang hilang menguap pada temperatur ini, ini mempengaruhi rate of reaction dari
transesterifikasi. Berdasarkan hal diatas, temperatur reaksi sebesar 70C dipilih
sebagai kondisi optimum untuk esterifikasi langsung.
Pengaruh konsentrasi asam sulfat pengimpregnasi terhadap yield
biodiesel
Gambar 2. Grafik pengaruh konsentrasi asam sulfat pengimregnasi terhadap yield
biodiesel
Seluruh sampel direaksikan pada 70C dan garis titik titik menunjukkan
nilai maksimum dari minyak biji kopi hasil ekstraksi. Ketika impregnasi dilakukan
dengan konsentrasi asam sulfat tinggi, maka yield dari biodiesel akan meningkat.
Waktu reaksi yang lebih lama akan berasosiasi juga dengan yield biodiesel yang
lebih tinggi. Ketika konsentrasi asam sulfat impregnasi mencapai 20% wt pada 7,
12, dan 17 jam maka yield biodiesel akan meningkat mencapai 17 % wt.

Gambar 3. Grafik pengaruh konsentrasi asam sulfat pengimpregnasi terhadap


Nilai asam lemak

Nilai asam untuk sampel 7 dan 17 jam menurun dengan peningkatan konsentrasi
asam sulfat. Sampel 17 jam memiliki nilai asam yang lebih rendah pada semua
konsentrasi asam sulfat. Pada saat yang sama, sampel 12 jam memiliki nilai asam
yang sama dengan sampel 17 jam pada konsentrasi asam sulfat 20% wt. Meskipun
demikian, spesifikasi nilai asam berdasarkan ASTM D6751 hanya sebesar 0,5 mg
KOH/ g oil tidak dimiliki oleh sampel pada kondisi manapun. Penambahan
perlakuan seperti pencucian dengan alkali bisa diaplikasikan untuk memenuhi
standar nlai asam. Berdasarkan analisa dua grafik diatas Konsentrasi asam sulfat
20% wt adalah konsentrasi impregnasi terbaik.
Pengaruh Waktu reaksi terhadap yield biodiesel dan nilai asam
Gambar 4. Grafik pengaruh waktu reaksi terhadap yield biodiesel

Sampel diimpregnasi dengan konsentrasi asam sulfat sebesar 20% wt pada


temperatur 70C. Yield rata rata untuk 7, 12, dan 17 jam adalah 16,32; 17,08; dan
17,08% wt.

Gambar 5. Grafik pengaruh waktu reaksi terhadap nilai asam lemak

Nilai asam rata rata untuk 7, 12, dan 17 jam adalah 1,09; 0,8; dan 0,79 mg
KOH/ g Oil. Berdasarkan grafik diatas, ketika yield biodiesel tetap tidak berubah
setelah 7 jam, nilai asam menurun terus menerus. Merujuk pada ASTM D6751,
nilai asam maksimum yang diizinkan adalah sebesar 0,5 mg KOH/ g oil. Pencucian
sampel biodiesel 12 jam dengan 1% NaOH dapat menurunkan nilai asam hingga
0,31 mg KOH/ g oil yang sudah masuk kedalam standar.
Packed Bed Reaktor Berpengaduk untuk Meningkatkan Biodiesel dari
Esterifikasi Transesterifikasi dengan Menurunkan Ketahanan
Perpindahan Massa

Zih-Hua Li, Pei-Hsuan Lin, Jeffrey C.S. Wu, Yu-Tzu Huang, Kuen-Song
Lin, Kevin C.W. Wu

2013

A. Bahan
CaO
Metanol
2-Propanol
Gliserol
Asam Palmiat
Soybean Oil
Resin Amberlyst 15
B. Alat
Packed Bed Reactor
C. Prosedur Percobaan

Soybean Oil dan metanol dipanaskan pada labu leher dua untuk mencampur
dan mereaksikan, kemudian dipompa menuju Pcked Bed Reactor. Untuk proses
yang kontinyu, produk dikeluarkan dari bawah reaktor dan dialirkan dengan pompa.

D. Variabel
Molar ratio metanol to oil: 5, 10, 15, dan 20
Residence time: 23 123 menit
Temperatur reaksi: 40, 50, dan 60C.
Kecepatan putaran: 200, 500, dan 800 rpm.
E. Hasil
Pengaruh Temperatur reaksi dan residence time terhadap yield biodiesel
Gambar 6 . Grafik pengaruh temperatur terhadap yield biodiesel

Temperatur reaksi bervariasi antara 40 - 60C. Yield biodiesel bertambah


seiring bertambahnya temperatur karena persentase kinetika molekul yang tinggi
bertambah pada temperatur yang lebih tinggi, rate reaction bertambah dan
menghasilkan yield yang lebih tinggi.

Gambar 7 . Grafik pengaruh waktu tinggal terhadap yield biodiesel

Kenaikan jumlah metanol akan meningkatkan jumlah yield biodiesel. Profil


aliran fasa liquid dan distribusi katalis diantara fasa liquid memiliki dampak yang
signifikan pada reaction rate dan produk. Saat metanol dan oil tidak dapat
bercampur, banyak studi menggunakan metanol/oil molar ratio yang tinggi untuk
mengatur dispersi oil untuk mendapatkan yield transesterifikasi yang lebih tingi.
Penambahan metanol dapat mengurangi fraksi katalis dalam biodiesel dengan
meningkatkan volume gliserin. Sebab lain untuk menambahkan banyak metanol
adalah karena reaksi transesterifikasi adalah reaksi irreversibel, maka kelebihan
metanol akan mengarahkan reaksi menuju pembentukan biodiesel berdasarkan asas
Le Chatelier. Dengan demikian, oil yang bernilai akan dapat lebih maksimal untuk
terkonversi menjadi biodiesel. Metanol yang tidak bereaksi dapat dengan mudah
dipisahkan dengan separasi dan direcycle.

Pengaruh Jumlah air terhadap yield biodiesel

Gambar 8. Grafik pengaruh jumlah air terhadap yield biodiesel

Air memiliki pengaruh yang besar terhadap yield biodiesel. Ketika air tidak
dihilangkan, terbentuk banyak sabun dalam reaktor, dan yield hanya sebesar 41%.
Air dapat menghidrolisis trigliserida menjadi digliserida dan monogliserida yang
dapat menghasilkan lebih banyak asam lemak yang dapat bereaksi membentuk
sabun. Sebaliknya, air yang didehidrasi dapat menghasilkan yield lebih besar dari
95% tanpa adanya pembentukan sabun.
Penggunaan Dikationik Ion SO3-H Terbarukan Studi Perbandingan Reaksi
Esterifikasi dengan Ultrasonik Kavitasi dan Pengadukan Mekanis Untuk
Produksi Biodiesel

Asiah Nusaibah Masri, M.I. Abdul Mutalib, Noor Fathanah Aminuddin,


Jean-Marc Leveque

2017

A. Bahan
Asam Oleat
Metanol
Katalis (H2SO4; HCF3SO3; TEABSHSO4; TEABS CF3SO3;
TMEDADBS[HSO4]2; TMEDADBS[CF3SO3]2; DABCODBS[HSO4]2;
DABCODBS[CF3SO3]2)
B. Alat
Labu Leher 3
Kondensor Refluks
Magnetic Stirrer
Hot Plate
Dekanter
Rotary Evaporator
Buret
Double-Jacketed Flask
Sonic Vibracell Generator (20 KHz, VCX 750 W, Newton, USA)
C. Prosedur Percobaan
Mechanical Stirring Method

Semua bahan dimasukkan kedalam Labu leher tiga dan dilengkapi dengan
kondensor refluks dan magnetic stirrer. Reaksi esterifikasi dijalankan dengan
proses pengadukan yang kuat dan dijaga pada kondisi yang sudah ditentukan.
Setelah reaksi selesai, campuran dipisahkan dengan dekantasi, dimana dua lapisan
akan terbentuk ketika menggunakan asam mineral dan monokationik ILs dan tiga
lapisan akan terbentuk menggunakan dikationik ILs. FAME akan terletak pada
lapisan atas sedangkan metanol, air, dan katalis ada pada lapisan bawah. Katalis
kemudian di recovery menggunakan rotary evaporator untuk emisahkan metanol
dan air.

Ultrasound Assisted Method

Reaksi esterifikasi dilakukan dengan iradiasi ultrasonik dengan kondisi


yang sama seperti dengan Machanical Stirring agar dapat dibandingkan. Reaksi
dilakukan pada Double-jacketed flask untuk dapat mengatur temperatur dengan
baik. Campuran bahan diradiasi dengan 14mm horn system. Daya Ultrasonik yang
diterima oleh campuran ditentukan dengan metode kalorimetri untuk mencapai 30
accoustic W. Setelah reaksi selesai, kemudian campuran disentrifugasi selama 30
menit dengan kecepatan 4000 rpm.

D. Variabel
Jenis Katalis (H2SO4; HCF3SO3; TEABSHSO4; TEABS CF3SO3;
TMEDADBS[HSO4]2; TMEDADBS[CF3SO3]2; DABCODBS[HSO4]2;
DABCODBS[CF3SO3]2)
Perlakuan reaksi (Pengadukan mekanis dan iradiasi Ultrasonik)
Waktu reaksi (10, 20, 30, 40, 50, 60 menit)
Perbandingan molar metanol dan minyak (3, 6, 9, 12, 15)
Temperatur (25, 30, 40, 50, 60 C)
Jumlah katalis (0,2 ; 0,4; 0,6; 0,8; 1 %)
E. Hasil
Konversi Biodiesel
Gambar 9 . Grafik Jenis Katalis dan Perlakuan Reaksi Terhadap Konversi
Biodiesel

Penggunaan iradiasi ultrasonik frekuensi rendah dapat menghasilkan


konversi reakasi 2,2 kali lipat dibandingkan dengan reaksi dengan pengadukan
mekanis tanpa katalis. Untuk adanya penggunaan katalis, diperoleh nilai rata rata
konversi reaksi 1,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan reaksi yang
menggunakan pemgadukan mekanis.

Studi Perbandingan Pengaruh Paramater Reaksi pada Reaksi Esterifikasi


dengan Metode Iradiasi Ultrasonik dan Pengadukan Mekanis

Hasil percobaan menunjukkan bahwa katalis berbasis DABCO dikationik


IL memberikan hasil yang terbaik, maka untuk seluruh percoban dilakukan dengan
menggunakan katalis ini. Pada skala industri, penggunaan anion HSO4 memiliki
nilai yang lebih ekonomis daripada penggunaan anion CF3SO3. Namun, pada
percobaan ini digunakan katalis yang mengandung anion CF3SO3 dalam studi
perbandingan untuk mengetahui pengaruh beberapa parameter penting reaksi baik
pada Iradiasi Ultrasonik maupun pada Pengadukan Mekanis.
Gambar 10. Grafik Pengaruh Waktu Reaksi Pada Iradiasi Ultrasonik dan
Pengadukan Mekanis Terhadap Konversi Biodiesel

Untuk reaksi dengan metode Iradiasi Ultrasonik dan Pengadukan Mekanis,


semakin lama waktu reaksi yang digunakan maka asam oleat yang terkonversi
menjadi biodiesel akan semakin besar. Namun, reaksi tidak berlangsung sempurna
pada waktu maksimal 1 jam. Artinya dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi agar
reaksi berjalan sempurna.

Gambar 11. Grafik Pengaruh Perbandingan Molar Metanol dan Minyak Pada
Iradiasi Ultrasonik dan Pengadukan Mekanis Terhadap Konversi Biodiesel
Untuk reaksi dengan metode Iradiasi Ultrasonik dan Pengadukan Mekanis,
dengan meningkatkan perbandingan molar metanol dan asam oleat kesetimbangan
reaksi bergeser ke arah produk dan meningkatkan kecepatan reaksi. Dengan
demikian konversi asam oleat menjadi biodiesel akan meningkat. Namun,
peningkatan nilai perbandingan diatas 9 akan menyebabkan konversi menurun
karena katalis akan lebih terlarut dalam campuran.

Gambar 12. Grafik Pengaruh Temperatur Pada Iradiasi Ultrasonik dan


Pengadukan Mekanis Terhadap Konversi Biodiesel

Dengan menaikkan temperatur, kelarutan metanol dalam asam oleat akan


meningkat. Dengan begitu, homogenitas dalam campuran akan meningkat,
meningkatkan kontak antara molekul metanol dan asam oleat. Disamping itu,
menaikkan temperatur akan menaikkan kecepatan reaksi. Homogenitas dalam
sistem dan kecepatan reaksi yang lebih tinggi akan menaikkan aktivitas katalitik
dan konversi biodiesel secara simultan. Temperatur percobaan dilakukan maksimal
pada 60C, sedikit dibawah titik didih metanol 64,7C. Meningkatkan temperatur
lebih tinggi lagi akan meningkatkan konversi biodiesel. Namun, pada industri,
penggunaan temperatur melebihi titik didih metanol akan berdampak secara
ekonomis karena akan membutuhkan pendinginan yang lebih untuk
mengkondensasikan kembali metanol yang telah menguap.
Gambar 13. Grafik Pengaruh Jumlah Katalis Pada Iradiasi Ultrasonik dan
Pengadukan Mekanis Terhadap Konversi Biodiesel

Dengan meningkatkan jumlah katalis, maka keasaman, jumlah partikel, dan


sisi aktif pada penggunaan gugus SO3H akan meningkat. Dengan demikian
konversi asam oleat menjadi biodisel akan meningkat. Hal ini disebabkan
penggunaan katalis akan menurunkan energi aktivasi dari sebuah reaksi sehingga
akan dapat mempercepat reaksi.

Secara umum, untuk seluruh parameter reaksi, reaksi dengan Iradiasi


Ultrasonik memberikan hasil yang lebih baik dbandingkan dengan reaksi dengan
pengadukan mekanis.
Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa Sawit dengan Katalis Padat
Berpromotor Ganda Dalam Reaktor Fixed Bed

M Isa Anshary, Oktavia Damayanti dan Achmad Roesyadi

2012

A. Bahan dan Alat


Minyak Kelapa Sawit yang sudah melewati proses RBD (Refined, Bleaching
and Deodorized) , dengan kadar FFA maksimal 0,08 %
Metanol
KI powder
CaO powder
CH3COOH
-Al2O3 powder
Aquadest

B. Variabel Penelitian
Untuk uji katalitik produksi biodiesel dalam reactor fixed bed continue

Suhu Reaksi (0C) : 125, 150, 175, 200 C


Berat katalis (gram) : 10, 15 dan 20
Ratio molar : 1 : 36

C . Prosedur percobaan

Pembuatan katalis padat dilakukan dengan proses pengadukan CaO, KI


dan -Al2O3 6 jam disertai dengan penguapan. Selanjutnya dilakukan
pengeringan di dalam oven selama 12 jam pada suhu 120oC.
Tahap transesterifikasi

C . Hasil dan diskusi


Gambar 13. Uji Xrd Katalis

Pada Terlihat bahwa katalis CaO/KI/- Al2O3 mempunyai bentuk yang


tidak beraturan dengan ukuran partikel rata-rata 10. Dari data tersebut dapat
dikatakan bahwa katalis hasil sintesa termasuk dalam meso partikel.metanol dan
minyak sangat jelek, sehingga mengakibatkan reaksi tidak banyak

Gambar 14. Hubungan katalis dengan % yield biodiesel


Pada gambar 5. terlihat bahwa terjadi kenaikan cukup signifikan pada berat
katalis 10 gram menuju 15 gram, dengan kenaikan sebesar 14,825%. Sedangkan
pada berat katalis 15 gram menuju 20 gram terjadi penurunan signifikan yaitu dari
15,51% menjadi 0,051%, hal ini terjadi karena di dalam eksperimen tekanan dalam
reaktor naik, sehingga P naik yang mengakibatkan rate umpan menjadi sulit
kontak antara metanol dan minyak sangat jelek, sehingga mengakibatkan reaksi
tidak banyak .
Pembuatan Biodiesel Dari
Minyak Kelapa Sawit Dengan Katalis Cao Disinari Dengan Gelombang
Mikro

Susila Arita.R., Attaso.K, Rangga Septian

2013

A. Bahan dan Alat


katalis Heterogen (CaO) 96%
Refined Palm Oil
Metanol 98%
H2SO4 98%

B. Variable Penelitian

Variable bebas
Konsentrasi katalis 1%,3%5% dari berat katalis
kekuatan daya gelombang mikro 200 watt, 300 watt, dan 400 watt.

Variable tetap
perbandingan mol metanol dan minyak sebesar 18:1,
waktu reaksi 20 menit,
kecepatan pengadukan transesterifikasi 600 rpm,
jumlah katalis asam sulfat 3% dari berat minyak sebanyak 100 gram untuk
setiap sampel.

C . Prosedur percobaan

Langkah pertama yang dilakukan dengan pengurangan FFA melalui reaksi


esterifikasi terlebih dahulu untuk mengubah asam lemak, menjadi ester dengan
pemanasan konvensional selama 60 menit dengan temperature 65oC dijaga konstan
sampai reaksi selesai. Hasil esterifikasi didiamkan selama 24 jam di corong
pemisah dan hasil esterifikasi pada lapisan bawah corong pisah akan digunakan
pada reaksi transesterifikasi. .Langkah selanjutnya dalam penelitan ini adalah
pretreatment katalis kalsium oksida dengan kalsinasi katalis CaO di dalam tungku
dengan temperature 500oC selama 1 jam, lalu dicampurkan dengan metanol yang
akan direaksikan dan diaduk selama 15 menit dengan kecepatan pengadukan 300-
400 rpm. Setelah perlakuan katalis selesai, reaksi metanolis dilakukan pada reaktor
batch berupa labu reaksi yang dihubungkan dengan kondensor pada microwave
konvensional seperti yang ditunjukkan gambar 2. Reaksi dilakukan untuk semua
variasi katalis dan daya gelombang mikro. Hasil transesterifikasi didiamkan pada
corong pisah selama 6 jam dan biodiesel dipisahkan dari gliserol, katalis lalu dicuci
dengan aquades dengan perbandingan 1:1, temperature aquades 50-60oC untuk
memisahkan sabun dari crude biodiesel. Pencucian dilakukan di corong pisah
selama 2 kali dan biodiesel dikeringkan pada oven laboratorium dengan
temperature 90oC selama 6 jam untuk menghilangkan kadar air. Dari hasil uji
biodiesel akan didapatkan perolehan yield biodiesel, FFA hasil transesterifikasi,
angka asam, densitas, dan konversi biodiesel yang dianalisa gas kromatografi AS
2000.

D. Hasil dan Diskusi

Gambar 15. Grafik Perbandingan Terhadap Yield Biodiesel Dengan Variasi


Katalis dan Daya Gelombang Mikro

Kita bisa melihat dari data yang ditampilkan hasil tertinggi adalah 300 watt
daya microwave dan katalis 1 % CaO menghasilkan 91% yield biodiesel. Dan yield
terendah pada 200 watt daya dan dengan katalis 1 % CaO yang hanya memiliki
60,48% yield biodiesel. Itu berarti 300 watt lebih baik daripada 200 watt . kekuatan
daya gelombang mikro telah dipelajari Putra,RP dkk ( 2012) , mereka mendapatkan
hasil sekitar 60,11% yield biodiesel dalam 20 menit reaksi pada 200 watt dengan
katalis 1 % CaO.
Tapi untuk kondisi reaksi dengan suhu 300 watt dengan konsentrasi katalis
3 % dan 5 % , yield biodiesel adalah berkurang dari 91,15% menjadi 86,6 % dan
77,34 % . Diduga bahwa terjadi human error saat pencucian biodiesel. Karena
berdasarkan grafik di atas bahwa 200 watt dan 400 watt daya gelombang mikro ,
yield biodiesel akan naik untuk katalis yang lebih tinggi

Gambar 16. Hasil analisa dari gas Chromatography

Dari tabel di atas terlihat bahwa Biodiesel dari minyak sawit memiliki
senyawa utama metil ester antara lain metil palmitat, metil palmitoleat, metil stearat
dan metil oleat dimana konversi tertinggi dimiliki oleh metil palmitat karena asam
lemak ini merupakan asam lemak dominan pada minyak kelapa sawit. Senyawa lain
yang dihasilkan dari analisis dengan Gas Chromatography, kemungkinan sebuah
turunan alkil ester asam lemak. Di dalamnya ada juga metil ester tak jenuh, yaitu
metil ester palmitoleate (C16:1) meskipun persentasenya sangat kecil. Hasil
konversi yang dihitung dari masing-masing sampel yang dianalisa oleh GC dapat
ditampilkan dalam lampiran.
Dan grafik di bawah ini dapat menggambarkan tentang jumlah konversi
yang terbentuk. Dari grafik di atas kita bisa mendapatkan kesimpulan bahwa
kondisi tertinggi adalah untuk daya 400 watt dan 5 % Kalsium Oksida . Daya 400
watt juga menghasilkan konversi metil ester tertinggi dari yang lainnya , dan terlihat
pada grafik jumlah katalis juga mempengaruhi konversi metil ester, semakin
banyak jumlah katalis, hasil konversi semakin besar. Dalam grafik kita dapat
melihat bahwa konversi biodiesel terlalu kecil untuk 200 watt dan 300 watt.
Handayani SP (2010) telah membuktikan penggunaan microwave dalam
pembuatan biodiesel dengan katalis basa homogen pada 300 watt , konversi
biodiesel kurang dari 70% . Hanya saja diduga bahwa pada daya 300 watt terdapat
human error atau reaksi katalitik rendah .sehingga hanya dimiliki 6 sampel data
untuk menggambarkan persentase konversi yang dipengaruhi oleh katalis. Untuk
daya 400 watt memiliki hasil yang memuaskan untuk 1% katalis sampai 5% katalis
dari berat minyak. Untuk daya 200 watt ,penambahan katalis juga mempengaruhi
konversi biodiesel tetapi tidak terlalu banyak karena pada daya 200 watt , minyak
sawit belum dikonversi setinggi 400 watt menjadi FAME. Penambahan CaO
sebagai katalis heterogen masih memiliki masalah di dalamnya , karena CaO lebih
mudah untuk menyerap CO2 di udara dan tidak tahan dalam udara lembab .

Gambar 17. Analisa angka asam


Dari grafik terlihat bahwa hasil bilangan asam pada 200 watt dan 400 watt
dengan jumlah katalis yang sama memiliki angka asam sesuai dengan standar
biodiesel dalam ASTM D-6751 yang mengizinkan bilangan asam tertinggi adalah
0,5%. Penambahan katalis mempengaruhi nilai bilangan asam pada daya 200 watt.
Hal tersebut ditunjukkan bahwa jumlah katalis 1% memiliki angka asam 018% ,
pada penambahan 3% CaO terjadi kenaikan angka asam tapi grafik turun kembali
ke 0,18% ketika penambahan katalis dalam 5%, kondisi yang sama juga terjadi pada
daya 400 watt.dapat disimpulkan bahwa penambahan katalis CaO sebanyak 5%
berat minyak merupakan titik terendah dri setiap daya microwave, dengan kata lain
kondisi inilah yang terbaik dengan angka asam yang kecil.
Gamar 18. Hasil Analisa Densitas

Ditunjukkan bahwa daya microwave mempengaruhi densitas. daya yang lebih


tinggi dapat mengurangi nilai densitas yang juga dipengaruhi oleh penambahan
CaO sebagai katalis, dan kondisi terbaik berada pada daya 400 watt . Densitas
standar Eropa EN-12414 memiliki persyaratan minimum adalah 860 kg/m3 dan
maksimum adalah 900 kg/m3, katalis dalam kondisi ini tidak mempengaruhi hasil
secara signifikan. grafik dari pengukuran densitas dapat dilihat pada gambar 6.
Dalam daya microwave 400 watt menunjukkan bahwa hasil uji densitas adalah 860
kg /m dengan variasi katalis 1%, 3%, dan 5% dari berat minyak. Ini adalah hasil
terbaik sesuain dengan standar biodiesel Eropa EN-12414. Menurut Prihandana et
al., (2006), densitas biodiesel yang melebihi ketentuan akan membuat reaksi
pembakaran tidak sempurna. Dengan demikian dapat meningkatkan emisi dan
membuat mesin diesel cepat rusak. Densitas 860 kg/m3 dapat menghasilkan
pembakaran sempurna.