Anda di halaman 1dari 12

Tugas Individu

KEBIJAKAN DAN
MANAJEMEN KESEHATAN
( Dr. Syahrir, A. Pasinringi, MS )

ANALISIS SEGITIGA KEBIJAKAN

Oleh :
PATTOLA
K012171136

Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat


Konsentrasi Gizi Masyarakat
Universitas Hasanuddin
Makassar
2017
ANALISIS KEBIJAKAN
DENGAN PENDEKATAN SEGITIGA KEBIJAKAN (TRIANGLE)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 8 TAHUN 2014


TENTANG INISIASI MENYUSU DINI DAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF

Dalam rangka pencapaian indikator Angka Kecukupan Gizi yang


diajurkan, salah satu upaya bangsaa Indonesia terhadap dunia untuk
meningkatkan percepatan perbaikan gizi di Indonesia maka di buatlah
Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu
Ibu Eksklusif, termasuk Kabupaten Bone yang ikut menindaklajuti PP
tersebut dengan menerbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor
8 Tahun 2014 Tentang Inisiasi Menyusu Dini Dan Air Susu Ibu Eksklusif
dalam rangka menjawab dan memperbaiki status gizi anak di Kabupaten
Bone.
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang
merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan
kehidupan, karena inisiasi menyusu dini dapat menyelamatkan 22 persen
dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan. Menyusui satu jam
pertama kehidupan yang diawali dengan kontak kulit antara ibu dan bayi
dinyatakan sebagai indikator global. Ini merupakan hal baru bagi
Indonesia, dan merupakan program pemerintah, sehingga diharapkan
semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik
swasta, maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan
mendukung suksesnya program tersebut, sehingga diharapkan akan
tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas, ujar Ibu Negara pada
suatu kesempatan.

A. Konteks (Context)
ASI Eksklusif sudah diatur oleh Negara. Terdapat dalam
Pengaturan mengenai pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif diatur
dalam Pasal 128 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU
Kesehatan). Selain itu Pemberian ASI eksklusif juga telah diatur
dalam Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri
Kesehatan No. 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008, dan
1177/MENKES/PB/XII/2008 Tahun 2008 tentang Peningkatan
Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja
(Peraturan Bersama). Dalam Peraturan Bersama tersebut antara lain
disebutkan bahwa Peningkatan Pemberian ASI selama waktu kerja di
tempat kerja adalah program nasional untuk tercapainya pemberian
ASI eksklusif 6 (enam) bulan dan dilanjutkan pemberian ASI sampai
anak berumur 2 (dua) tahun (lihat Pasal 1 angka 2).
Kemudian, berdasarkan Peraturan Bersama, Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi bertugas dan bertanggung jawab mendorong
pengusaha/pengurus serikat pekerja/serikat buruh agar mengatur tata
cara pelaksanaan pemberian ASI dalam Peraturan Perusahaan atau
Perjanjian Kerja Bersama dengan mengacu pada ketentuan Peraturan
Perundang-undangan Ketenagakerjaan (lihat Pasal 3 ayat [2] huruf a).
Pemerintah telah menerbitkan Permen Nomor 33 Tahun 2012
yang mengatur tentang pemberian Air susu ibu secara eksklusif
sebagai pedoman bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas
dan fungsinya sebagai dalam upaya memberikan informasi kepada
segenap masyarakat terutama ibu menyusui tentang pentingnya
memberikan ASI ekslusif kepada anak.
Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan
melalui kegiatan penimbangan di Posyandu secara rutin setiap bulan.
Menurut hasil pengumpulan data / indikator SPM bidang kesehatan di
Kabupaten Bone Tahun 2014 sebanyak 52.576 balita dengan
persentase BGM sebanyak 0,49%. Data tersebut menujukkan
peningkatan tipis dibanding tahun 2012 yang tercatat jumlah balita
yang ditimbang sebanyak 54.684 jiwa dengan hasil penimbangan 253
balita (0.46 %) kategori BGM.
Di Kabupaten Bone berdasarkan data/indikator kinerja RPJMD
bidang kesehatan yang terkumpul selama tahun 2014 tercatat cakupan
pemberian ASI esklusif sebesar 63,02%, menurun dibanding tahun
2012 yang mencapai 80.4 %, namun telah melewati target RPJMD
yaitu 57%.

B. Aktor (Actors)
Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 8 Tahun 2014
Tentang Inisiasi Menyusu Dini Dan Air Susu Ibu Eksklusif merupakan
salah satu upaaya pemerintah daerah Kabupaten Bone
mengatasi/menjawab permasalahan gizi anak sehingga dalam
penyusunannya perda ini melibatkan bukan hanya elit kebijakan lokal,
tetapi juga elit propinsi dan pusat. Pemerintah daerah menyadari
bahwa percepatan perbaikan gizi melibatkan banyak faktor penyebab,
sehingga dalam penyelesaiannya perlu adanya kemitraan beberapa
kementrian dan sektor diluar pemerintah. Setiap jenjang pemerintahan
dilibatkan karena masing-masing memiliki peran dalam menentukan
program kerja, mobilisasi sumber daya, dan besarnya alokasi dana
dalam rangka mendukung program intervensi percepatan gizi, baik gizi
spesifik (langsung) atau gizi sensitif (tidak langsung).
1. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pernberian
Air Susu Thu Eksklusif ( Lernbaran Negara Republik Indonesia
tahun 2012 Nomor 58, Tarnbahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5291);
2. Peraturan Menteri Dalarn Negeri Nornor 1 Tahun 2014 tentang
Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 32);
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 23/
Menkes/ SIC/ I/1978 tentang Pedoman Cara Produksi Yang Baik
Untuk Makanan;
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 237/
Menkes SK / I V/ 1997 tentang Pemasaran, Pengganti Air Susu
Ibu;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu Secara
Eksklusif Pada Bayi di Indonesia;
6. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nornor 6 Tahun 2010
tentang Air Susu Ibu Eksklusif (Lembaran Daerah Provinsi
Sulawesi Selatan Tahun 2010 Nomor 6,Tambahan Lembaran
Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 256);
7. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 68 Tahun 2011
tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
Nomor 6 Tahun 2010 tentang Air Susu Ibu Eksklusif (Berita Daerah
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Nornor 68);

Pada implementasinya, Perpres ini akan melibatkan beberapa


aktor diluar aktor-aktor pembuat kebijakan diatas, yaitu:
1. Perguruan tinggi, Organisasi profesi, Organisasi kemasyarakatan
dan Keagamaan;
2. Media massa;
3. Dunia usaha;
4. Lembaga swadaya masyarakat;
5. Kader-kader masyarakat seperti Posyandu, pemberdayaan
kesejahteraan keluarga, dan/atau kader-kader masyarakat yang
sejenis; dan
6. Masyarakat, khususnya remaja, ibu hamil, ibu menyusui, anak di
bawah usia dua tahun.

C. Proses (Process)
1. Identifikasi Masalah dan Isu
Permasalahan gizi merupakan suatu isu yang sudah ada
sejak lama. Permasalahan ini sudah mulai dibahasa sejak era
tahun 50an melalui gerakan Empat Sehat, Lima Sempurna. Pada
tahun 90-an gizi masih menjadi salah satu fokus utama dimana
seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan masalah gizi di
Indonesia, perbaikan gizi dilakukan melalui kampanye gizi
seimbang dan keluarga sadar gizi. Permasalahan gizi ini masih
terus berlanjut hingga tahun 2010, dimana gizi menjadi suatu
permasalahan global terutama untuk negara-negara berkembang,
termasuk Indonesia. Berdasarkan data yang ada, Data tahun 2014,
ditemukan 258 kasus BGM (Bawah Garis Merah) pada Balita terdiri
113 laki-laki dan 145 perempuan atau 0,5% dengan sebaran
temuan di 15 wilayah kerja Puskesmas. Sedangkan untuk kasus
gizi buruk tahun 2014 ditemukan 25 kasus gizi buruk pada balita
terdiri 16 laki-laki dan 9 perempuan dengan sebaran temuan di 15
wilayah kerja Puskesmas. Upaya pemantauan terhadap
pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan di
Posyandu secara rutin setiap bulan. Menurut hasil pengumpulan
data / indikator SPM bidang kesehatan di Kabupaten Bone Tahun
2014 sebanyak 52.576 balita dengan persentase BGM sebanyak
0,49%. Data tersebut menujukkan peningkatan tipis dibanding
tahun 2012 yang tercatat jumlah balita yang ditimbang sebanyak
54.684 jiwa dengan hasil penimbangan 253 balita (0.46 %) kategori
BGM. Di Kabupaten Bone berdasarkan data/indikator kinerja
RPJMD bidang kesehatan yang terkumpul selama tahun 2014
tercatat cakupan pemberian ASI esklusif sebesar 63,02%, menurun
dibanding tahun 2012 yang mencapai 80.4 %, namun telah
melewati target RPJMD yaitu 57%.
Tidak tuntasnya masalah tersebut antara lain disebabkan oleh
beberapa hal sebagai berikut :
a. Kebijakan program gizi selama ini masih bersifat umun belum
mengacu pada kelompok 1000 HPK sebagai sasaran utama.
b. Kegiatan intervensi gizi masih sektoral, khususnya kesehatan.
c. Cakupan pelayanan yang masih rendah untuk imunisasi
lengkap, suplementasi tablet besi-folat, pada ibu hamil,
pemanfaatan KMS dan SKDN, promosi inisiasi ASI eksklusif,
cakupan garam beriodium dan sebagainya.
d. Tindakan hukum terhadap pelanggar WHO Code tentang Breast
Feeding belum dilaksanakan karena Peraturan Pemerintah
tentang ASI baru diumumkan awal tahun 2012.
e. Lemahnya penguasaan substansi masalah gizi pada para
pejabat tertentu, petugas gizi dan kesehatan baik yang ditingkat
pusat, provinsi, kabupaten dan lapangan khususnya tentang
perkembangan terakhir dan prospeknya dimasa depan, masalah
anak pendek, beban ganda, dan kaitan gizi dengan PTM.
f. Kekhawatiran akan tidak tercapainya sasaran MDGs ditambah
dengan adanya kecenderungan meningkatnya beban ganda
akibat kekurangan dan kelebihan gizi terutama di negara
berkembang, mencetuskan suatu ide untuk dilakukan gerakan
1000 hari pertama kelahiran.

2. Perumusan Kebijakan
Upaya perbaikan Gizi masyarakat pada hakikatnya
dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi
masyarakat. Beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai
pada kelompok masyarakat adalah kekurangan kalori protein,
kekurangan Vitamin A, gangguan akibat kekurangan yodium dan
anemia gizi besi.
Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang
dipengaruhi oleh status gizi masyarakat yang berkorelasi dengan
perilaku gizi yang baik yang dilakukan pada setiap tahap kehidupan
termasuk pada bayi. Upaya inisiasi menyusu dini oleh bayi untuk
memproleh air susu ibu eksklusif merupakan makanan yang paling
baik bagi bayi sesuai dengan upaya mempersiapkan sumber daya
manusia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Beberapa bentuk kegitan sebagai rumusan dalam dalam
kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pemantauan Pertumbuhan Balita
Pemantauan pertumbuhan merupakan suatu kegiatan
yang dilaksankan dengan rutin berupa aktivitas penimbangan
berat badan. Berat badan yang telah ada tadi dibuat sebuah titik
kedalam KMS sehingga dapat dihubungkan dengan garis
pertumbuhan anak. Tujuan dari kegiatan tersebut tidak lain ilah
untuk mengetahui sejak dini prtumbuhan yang dialami oleh anak
normal atau tidak.
Dari identifikasi pemantauan pertumbuhan akan dilakukan
berbagai upaya untuk menindaklanjuti jika terdapat beberapa
kedala yang menyebabkan pertumbuhan anak terhambat.
Pertumbuhan yang ada tentu saja juga dipengaruhi oleh
gizi yang ada. Dengan kata lain jika asupan gizi yang
dikonsumsi sempurna maka kondisi serta pertumbuhan akan
mengalami proses yang optimal. Sebaliknya bayi yang
mengalami pertumbuhan yang tidak sesuai jelas saja gizi yang
ada pada tubuhnya dapat dinyatakan kurang.
Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak
sangatlah diperlukan. Maka, pada pembahasan ini akan dibahas
mengenai cara penilaian status gizi anak. Selain itu, juga akan
dibahas mengenai penjelasan dan klasifikasi gizi buruk serta
bagaimana penatalaksanaan pada kasus gizi buruk.
Sebagai upaya untuk penceghan gizi buruk sudah sejak
dini digalakkan berbagai upaya yang dapat meminimalisir
terjadinya gizi buruk. Salah satu upaya tersebut ialah dengan
pemantauan pertumbuhan. Dengan KMS pertumbuhan balita
akan dapat terpantau dengan optimal.

b. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


INISIASI Menyusu Dini adalah proses bayi menyusu
segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari puting
susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu).
Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam
keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama
menyusui. Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhannya
hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.

Di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bone persoalan dan


tantangan yang sering dihadapi adalah belum banyak rumah
sakit ataupun bidan yang mengakomodasi proses inisiasi
menyusui dini ini. Oleh karenanya, untuk dapat menerapkan
proses ini, penting bagi para calon ibu untuk memilih rumah
sakit yang pro-ASI dan pro-IMD. Berikut beberapa hal yang
wajib ditanyakan saat mencari tempat bersalin jika ingin
menerapkan inisiasi menyusui dini:
Apakah rumah sakit tersebut memiliki kebijakan untuk
menempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan
atau rooming-in pasca persalinan.
Rumah sakit tersebut sebaiknya tidak menyarankan ibu,
terutama yang belum berhasil memproduksi ASI, untuk
memberikan susu formula kepada bayi.
Apakah dokter dan atau perawat yang akan membantu
persalinan pro-ASI dan siap membantu ibu untuk menyusui.
Kepastian untuk memberikan waktu kepada ibu dan bayi
untuk melakukan inisiasi menyusui dini setelah persalinan
dan membiarkan bayi menyusu selama yang ia butuhkan.
Keperluan lain seperti memandikan dan menimbang bayi
dapat ditunda setelah proses IMD.

c. Pemberian ASI Esklusif


Air Susu Ibu Ekslusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan
pada bayi sejak lahir sampai usia 6 (enam) bulan. ASI
eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi tanpa ada
makanan tambahan cairan lain misalnya susu formula, segala
buah, air teh, madu maupun tanpa ada makanan tambahan
padat seperti halnya pisang, pepaya, bubur, susum biscuit dan
hal lain yang sejenis.

3. Pelaksanaan Kebijakan
Setelah ditetapkannya Perda Kabupaten Bone No. 8 Tahun
2014, Pemerintah Kabupaten Bone menyelenggarakan program
Bina Desa dengan membentuk Tim Koordinasi Kecamatan untuk
mendukung Tim Kordinasi Kabupaten.
Tim Koordinasi Kecamatan terdiri dari :
Camat, sebagai ketua Tim Koordinasi Kecamatan
Kepala UPTD Puskemas, sebagai Sekretaris Tim Koordinasi
Kecamatan
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek), sebagai Anggota
Komandan Rayon Militer (Koramil), sebagai Anggota
Ketua Tim Penggerak PKK, sebagai Anggota
Kepala UPTD Pendidikan, sebagai Anggota
Kepala Kantor Urusan Agama, sebagai Anggota
Para Kepala Desa dan Lurah, sebagai Anggota
Unsur Tokoh Masyarakat, sebagai Anggota
Unsur Tokoh Agama, sebagai Anggota
Unsur Tokoh Pemuda, sebagai Anggota
Unsur Tokoh Perempuan, sebagai Anggota
Masyarakat secara perseorangan maupun kelompok
(organisasi) ikut berperan serta, yakni keikutsertaan secara aktif
dan kreatif dengan memberikan informasi dan manfaat dari Inisisasi
Menyusu Dini dan Pemberian ASI Eksklusif. Media Massa baik
Media cetak maupun media elektronik dapat berperan serta
mendukung Inisiasi Menyusu Dini dan pemberian ASI eksklusif.
Untuk mengefektifkan pembinaan, pengawasan, dan
pengendalian termasuk sosialisasi yang dikoordinasikan oleh dinas
kesehatan, dialokasikan pada APBD sesuai ketentuan. Selain biaya
Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian serta sosialisasi,
diperlukan pula dukungan biaya fasilitasi yang mendorong
tercapainya maksud dan tujuan pengaturan Inisiasi Menyusu Dini
dan ASI Eksklusif. Sumber dana dapat berasal dari sumber dana
lain (diluar APBD) yang sah dan tidak mengikat.

4. Evaluasi Kebijakan
Evaluasi kebijakan perda tersebut juga diberikan oleh
Legislator Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten
Bone dengan menyoroti implementasi Peraturan Daerah (Perda)
Inisiasi Menyusui Dini yang pelaksanaannya belum maksimal.
Anggota Komisi 1 DPRD Bone, HA Suaedi mengatakan masih
banyak SKPD yang belum memiliki bilik ASI seperti yang diatur
dalam Perda tersebut. Menurutnya pemerintah harus
memaksimalkan pelaksanaan Perda tersebut, karena pemberian
ASI wajib didapatkan bagi para bayi yang baru lahir dan dalam
masih umur menyusui. Meski demikian, imbuh Suaedi, masih
banyak anak bayi yang belum mendapatkan ASI secara maksimal
bahkan ada juga yang belum mendapatkan sama sekali. Saya
juga melihat banyak pegawai SKPD (Perempuan) yang kesulitan
ketika hendak menyusui, terangnya.

D. Isi (Content)
Ruang lingkup pengaturan dan perda ini meliputi :
1. Tatacara pemberian dukungan IMD dan ASI Eksklusif;
2. Pemberian ASI Eksklusif dari Pendonor ASI;
3. Tatacara penyelenggaraan konseling ASI Eksklusif;
4. Syarat dan tatacara pelaksanaan, pembinaan, pengawasan dan
pengendalian terhadap IMD pemberian ASI Eksklusif dan susu
formula;
5. Syarat dan tatakerja Tim Koordinasi Kecamatan; Tatacara
pelaksanaan peran serta. masyarakat;
6. Tatacara pemberian penghargaan; dan
7. Tatacara pengenaan sanksi administratif.
E. Analisis Kebijakan
Secara garis besar, Perda Kabupaten Bone No 8 Tahun 2014
telah mampu mengakomodasi tujuan dari gerakan 1000 Hari Pertama
Kehidupan sebagai salah satu bentuk upaya pemerintah Kabupaten
Bone mendukung Pemerintah Indonesia pada Gerakan Nasional
Percepatan Perbaikan Gizi. Akan tetapi ada beberapa pasal yang perlu
diperjelas dan dikuatkan untuk mencapai indikator tersebut, yaitu :
1. Bab III, Pasal 3, point d :
Bab III : Tatacara Pemberian Dukungan Imd Dan Asi Eksklusif,
Pasal 3 : Pemberian dukungan IMD Dan Pemberian ASI Eksklusif
dapat dilakukan dengan cara, point d : Penyediaan tempat
menyusui.
2. Bab III, Pasal 5, Ayat 1 dan 2, point a :
Bab III : Tatacara Pemberian Dukungan IMD dan Asi Eksklusif,
Pasal 3 : Pemberian dukungan IMD Dan Pemberian ASI Eksklusif
dapat dilakukan dengan cara, point d : Penyediaan tempat
menyusui.
Ayat (1) Pelaksanaan fasilitasi sebagairnana dimaksud dalam Pasal
3 huruf b disediakan oleh Badan Usaha, Pemerintah Daerah dan
Instansi lainnya dan (2) Fasilitasi dapat dilakukan dengan cara
menyediakan. Point a : Ruang Laktasi/Pojok ASI;

Hanya 40 Persen Ibu di Bone Menyusui Bayinya seperti data


yang di rilis BONE, RAKYATSULSEL.COM Kepala Bidang
(Kabid) Kesehatan Masyarakat dan Keluarga, Dinas Kesehatan
Kabupaten Bone, Eko Nugroho, mengungkapkan, hanya 40
persen ibu menyusui bayinya dengan Air Susu Ibu (ASI) ekslusif di
Kabupaten Bone. Selebihnya, menggunakan susu formula. Hal ini,
katanya, menjadi salah satu penyebab kematian bayi semakin
meningkat tiap tahun. Ini akibat kurangnya peningkatan
kesehatan ibu dan bayi. Olehnya itu, perlu adanya pemberian
ASI ekslusif pada bayi. masih banyak SKPD yang belum memiliki
bilik ASI seperti yang diatur dalam Perda tersebut.