Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

( K3 )

DISUSUN OLEH :

LADY NURDIYANI ( 16010120 )

1. RIZKI FAUZIA MUNGGARAN


2. REVI APRIANI
3. SUCI OKTAVIANI
4. NURMAGFIROH
5. TITIN
6. M.FUAD

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR

2017

KATA PENGANTAR

1
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya
untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Bogor,6 april 2017

penyusun

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


K3 menjadi salah satu bagian penting dalam dunia pekerjaan dewasa ini. Efisiensi
biaya dan peningkatan keuntungan semakin diperhatikan seiring dengan penekanan
resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Terjadinya kecelakaan pada perusahaan
menyebabkan terhambatnya pekerjaan yang akan berdampak pada penurunan hasil
serta kerugian perbaikan maupun pengobatan. Oleh karena itu K3 harus dikelola
sebagaimana pengelolaan produksi dan keuangan serta fungsi penting perusahaan yang
lainnya. Salah satu jenis kecelakaan yang sering dijumpai dan menimbulkan kerugian
yang sangat besar adalah kebakaran (Disnaker, 2008).
Kebakaran merupakan hal yang sering terjadi pada gedung yang diawali dari
kebakaran kecil yang kemudian menjadi besar dikarenakan kesiapan peralatan
pemadam api yang kurang memadai atau ketidaksiapan peralatan tersebut pada saat
hendak digunakan. Manajemen Peralatan Proteksi Kebakaran adalah merupakan suatu
rencana yang memuat prosedur yang mengatur peralatan proteksi bencana kebakaran
yang harus disediakan sebagai alat untuk memadamkan api saat terjadi kebakaran
secara mendadak dan tidak dikehendaki yang dapat berakibat mengancam terhadap
kehidupan, aset dan operasi perkantoran serta lingkungan.
Kebakaran adalah terjadinya api yang tidak dikehendaki. Bagi tenaga kerja,
kebakaran perusahaan dapat merupakan penderitaan dan malapetaka khususnya
terhadap mereka yang tertimpa kecelakaan dan dapat berakibat cacat fisik,
trauma,bahkan kehilangan pekerjaan. Sedangkan bagi perusahaan sendiri akan dapat
menimbulkan banyak kerugian, seperti rusaknya dokumen, musnahnya properti serta
terhentinya proses produksi. Kebakaran merupakan salah satu kecelakaan yang paling
sering terjadi. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, kebakaran juga
dapat merusak lingkungan serta gangguan kesehatan yang diakibatkan dari asap
kebakaran tersebut (Sumamur, 1989).
Untuk meminimalisasi terjadinya kebakaran maka perlu penerapan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan kecelakaan
termasuk kebakaran. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran adalah semua
tindakan yang berhubungan dengan pencegahan, pengamatan dan pemadaman
3
kebakaran dan meliputi perlindungan jiwa dan keselamatan manusia serta perlindungan
harta kekayaan (Sumamur, 1989). Salah satu cara sebagai upaya pencegahan dan
penanggulangan kebakaran adalah dengan menyediakan instalasi APAR. APAR
merupakan salah satu alat pemadam kebakaran yang sangat efektif untuk memadamkan
api yang masuh kecil untuk mencegah semakin besarnya api tersebut (Gempur Santoso,
2004). Untuk mempermudah penggunaan dan menjaga kualitas APAR tersebut perlu
dilakukan pemasangan dan pemeliharaan yang sesuai dengan Undang-Undang tentang
syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan APAR.
Oleh karena itu diperlukan suatu pengendalian untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya kebakaran. Salah satu upaya pencegahan dan
penanggulangan kebakaran tersebut adalah dengan menyediakan Instalasi APAR (Alat
Pemadam Api Ringan).
Peralatan Proteksi Kebakaran harus dikelola dengan baik dan terencana mulai
dari letak, posisi, jenis peralatan dan masa berlaku dari peralatan proteksi kebakaran
tersebut karena kecenderungan masyarakat selama ini hanya bereaksi setelah kebakaran
terjadi bahkan bahaya kebakaran sering diabaikan dan tidak mendapat perhatian dari
sistem manajemen.

1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian


a. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
Agar lebih mengerti dan memahami tentang Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan kerja akibat kebakaran dan
mengimplementasikan tindakan sigap dan tanggap sehingga jika terjadi kebakaran
ringan tidak panik, melainkan dapat memadamkannya sehingga tidak terjadi
kebakaran besar.
b. Adapun Manfaat dari penuisan ini adaah :
Sebagai masukan dan tambahan pengetahuan lebih rinci tentang Sistem Manajemen
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam bidang pencegahan kecelakaan kerja
akibat kebakaran sehingga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan
langkah-langkah dalam upaya penerapan standar-standar penentuan pemilihan dan
penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), demi menciptakan lingkungan
kerja yang aman, nyaman, selamat serta dapat mengurangi resiko terjadi kebakaran.

4
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Teori dan Anatomi Api


2.1.1. Teori Api
Nyala api adalah suatu fenomena yang dapat diamati gejalanya yaitu
adanya cahaya dan panas dari suatu bahan yang sedang terbakar. Gejala
lainnya yangdapat diamati adalah bila suatu bahan telah terbakar maka akan
mengalami perubahan baik bentuk fisiknya maupun sifat kimianya.Keadaan
fisik bahan yang telah terbakar akan berubah pula menjadi zat baru. Gejala
perubahan tersebut menurut teori perubahan zat dan energi adalah perubahan
secara kimia.
2.1.2. Teori Segitiga Api (Triangel of Fire)
Untuk dapat berlangsungnya proses nyala api diperlukan adanya tiga
unsur pokok yaitu adanya unsur: bahan yang dapat terbakar (fuel), oksigen
(O2) yang cukup dari udara atau bahan oksidator dan panasyang cukup.
Apabila salah satu unsure tersebut tidak berada pada keseimbangan yang
cukup, maka api tidak akan terjadi.

Gambar 2.1 Segitiga Api


(Sumber: http://pkppksupadio.wordpress.com/tag/api/)

2.1.3. Teori Piramida bidang Empat (Tetrahedron of Fire)

5
Fenomena pada suatu bahan yang terbakar adalah terjadi perubahan
bentuk dan sifat-sifatnya yang semula menjadi zat baru, maka proses ini
adalahperubahan secara kimia. Proses pembakaran ditinjau dengan teori
kimia adalah reaksi satu unsur atau satu senyawa dengan oksigen yang
disebutoksidasi atau pembakaran. Produk yang terbentuk disebut oksida.

2.2. Kebakaran
2.2.1. Pengertian Kebakaran
Definisi kebakaran menurut Depnaker yaitu suatu reaksi oksidasi
eksotermis yang berlangsung dengan cepat dari suatu bahan bakar yang
disertai dengan timbulnya api atau penyalaan. Definisi kebakaran menurut
pengertian asuransi secara umum yaitu sesuatu yang benar-benar terbakar yang
seharusnya tidak terbakar dan dibuktikan dengan adanya nyala api secara
nyata, terjadi secara tidak sengaja, tiba-tiba serta menimbulkan kecelakaan
atau kerugian. Definisi umumnya adalah suatu peristiwa terjadinya nyala api
yang tidak dikehendaki, sedangkan defenisi khususnya adalah suatu peristiwa
oksidasi antara tiga unsur penyebab kebakaran. Unsur-unsur penyebab
kebakaran itu adalah:
a. Bahan Padat : seperti kayu, kain, kertas, plastik dan lain sebagainya dan
jika terbakar umumnya akan meninggalkan abu / bara.
b. Bahan Cair : seperti cat, alkohol dan berbagai jenis minyak.
c. Bahan Gas : seperti propane, Butane, LNG dan lain sebagainya.
Pada peristiwa kebakaran dikenal adanya segitiga kebakaran. Segitiga
kebakaran yaitu tiga unsure yg membentuk rantai penyebab terjadinya api.
Tiga unsur tersebut adalah sebagai berikut:
a. Bahan yang mudah terbakar
b. Oksigen atau zat pengoksida, dan
c. Sumber panas yang cukup untuk menaikkan temperatur bahan bakar sampai titik
penyalaannya.
2.2.2. Sifat-sifat Kebakaran
Peristiwa kebakaran memiliki beberapa sifat, antara lain:
a. Terjadinya secara tidak terduga.
b. Tidak akan padam apabila tidak dipadamkan.
c. Kebakaran akan padam dengan sendirinya apabila konsentrasi keseimbangan
hubungan 3 unsur segitiga api tidak terpenuhi lagi.
2.2.3. Sumber Potensi Penyebab Kebakaran
Kebakaran dapat disebabkan oleh beberapa sumber, yaitu:

6
a. Api Terbuka
Penggunaan api terbuka di daerah berbahaya atau terdapat bahan
yangmudah menyala sering dapat menjadi sumber penyebab
terjadinyakebakaran, antara lain : Pengelasan, dapur api dll.
b. Permukaan Panas
Pesawat/instalasi pemanas, pengering, oven apabila tidak terkendali/kontak
dengan bahan hingga mencapai suhu penyalaan dapat menyebabkan
kebakaran.
c. Peralatan Listrik
Peralatan listrik dapat menjadi sumber kebakaran bila tidak memenuhi
syarat keamanan (PUIL), pembebanan lebih, tegangan melebihi kapasitas,
dan terdapat bunga api pada motor listrik.
d. Reaksi Eksotermal
Reaksi eksotermal yaitu reaksi yang menghasilkan panas juga
menghasilkan gas yang mudah terbakar. Contoh: reaksi batu karbitdengan
air dan reaksi bahan kimia yang peka terhadap asam
e. Gesekan Mekanis
Akibat gerakan secara mekanis seperti pada peralatan yang bergerak bila
tidak diberi pelumasan secara teratur dapat menimbulkan panas. Bunga api
mekanis/gram bubutan atau gerinda dapat menjadi sumber nyala bila
kontak dengan bahan mudah terbakar.
f. Loncatan Bunga Api Listrik Statis
Akibat pengaruh mekanis pada bahan non konduktor akan dapat terjadi
penimbunan elektron (akumulasi listrik statis). Contoh:
Minyak adalah bahan non konduktor. Bila minyak dialirkan melalui slang
dengan tekanan tinggi maka elektron akan tertimbun pada minyak tersebut.
Pada keadaan tertentu elektron dapat terjadi loncatan elektron dan dapat
menjadi sumber penyebab kebakaran.

2.2.4. Klasifikasi Kebakaran


Klasifikasi kebakaran yang dimiliki di Indonesia mengacu pada standard
Nasional Fire Protection Association (NFPA Standard No. 10, for the
installation of portable fire extinguishers) yang telah dipakai oleh
PERMENAKERTRANS RI No. Per 04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat
Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

7
Klasifikasi dari kebakaran adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Klasifikasi Kebakaran Menurut NFPA
Kelas Klasifikasi kebakaran
Kelas A Kebakaran pada benda pada mudah terbakar yang emnimbulkan
arang atau karbon( contoh :
kayu,kertas,karbon/karus,kain,plastik dll).
Kelas B Kebakaran pada benda cair dan gas yang mudah terbakar,
( contoh:bahan bakar, bensin,lilin,minyak tanah dll.
Kelas C kebakaran pada benda yang menghasilkan listrik atau yang
mengandung unsur listrik

Kelas D Kebakaran pada logam mudah terbakar (contoh : Sodium,


lithium,radium)

2.2.5. Bahaya Hunian


Bahaya kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a. Bahaya kebakaran ringan
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas rendah dan menjalarnya api lambat.
b. Bahaya kebakaran sedang
Bahaya kebakaran tingkat ini dibagi lagi menjadi dalam tiga kelompok,
yaitu:
1) Kelompok I
Adalah bahaya kebakaran pada tempat di mana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan
yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2.5 meter dan
apabila terjadi kebakaran, melepaskan panas sedang sehingga
menjalarnya api sedang.
2) Kelompok II
Adalah bahaya kebakaran pada tempat di mana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan
yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4 meter dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas sedang sehingga menjalarnya api
sedang.
3) Kelompok III

8
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas tinggi dan menjalarnya api cepat.
c. Bahaya kebakaran berat
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas sangat tinggi dan menjalarnya api sangat
cepat.
2.2.6. Fenomena Kebakaran
Fenomena kebakaran atau gejala pada setiap tahapan mulai awal
terjadinya penyalaan sampai kebakaran padam, dapat diamati beberapa fase
tertentu seperti source energy, initiation, growth, flashover, full firedan
bahaya-bahaya spesifik pada peristiwa kebakaran seperti : back draft,
penyebaran asap panas dan gas dll. Tahapan - tahapan tersebut antara lain:
Tahap awal
Pada tahap ini kebakaran dini yang dimulai oleh terjadinya penyalaan;
Kebakaran terbatas hanya pada benda yang tersulut atau penyalaan;
Asap dan gas hasil pembakaran mulai dihasilkan dan terkumpul dilangit-
langit ruangan;
Perubahan dari tahap ini ketahap selanjutnya akan terjadi Rollover.
Pada tahap awal temperature ruangan sedikit diatas 38 derjat celcius, gas
panas mulai naik dan udara ruangan berkisar 20% oksigen.
Rollover adalah suatu keadaan dimana uap yang sangat panas menyala
dan kobaran muka api atau lidah api melintasi langit-langit.

Tahap kebakaran mantap


Pada tahap ini penyalaan bebas oksigen dan bahan bakar didalam
bangunan atau ruangan tersedia dalam jumlah yang cukup, sehingga api
dapat menyala bebas dan membakar seluruh ruangan;
Dan terjadilah flashover, ini adalah kejadian dimana seisi ruangan
memiliki titik nyala yang hamper sama dan akan menyala bersamaan.
Pada tahap kebakaran mantap temperature ruangan berkisar 700 derajat
celcius, panas berkumpul pada bagian atas ruangan, suplai oksigen tinggi
dan keterlibatan api penuh.

9
Flashover dapat juga disebut penyalaan simultan terhadap semua benda
yang mudah menyala didalam ruangan dan tingkat panas yang tinggi dari
lantai hingga langit-langit.
Tahap panas menyurut atau mengecil
Pada tahap ini api menurun secara perlahan karena menipisnya atau
dipindahkanya persediaan bahan bakar atau oksigen;
Apabila tersedia bahan bakar baru akan membuat tahap pengembangan
awal yang kedua (api menyala kembali).
Pada tahap panas menyurut atau mengecil temperature ruangan terus
meninggi, tingkat karbon monoksida dan karbon tinggi dan diruangan atau
didalam asap sangat tebal serta oksigen dibawah 15%. Pada keadaan ini jika
ada kesempatan udara masuk maka akan terjadi backdraft. Backdraft adalah
masuknya oksigen menyebabkan kobaran api disertai ledakan dan api kembali
ketahap awal dan mantap.
2.2.7. Teori Piramida bidang Empat (Tetrahedron of Fire)
Fenomena pada suatu bahan yang terbakar adalah terjadi perubahan
bentuk dan sifat-sifatnya yang semula menjadi zat baru, maka proses ini
adalah perubahan secara kimia. Proses pembakaran ditinjau dengan teori
kimia adalah reaksi satu unsur atau satu senyawa dengan oksigen yang
disebut oksidasi atau pembakaran. Produk yang terbentuk disebut oksida.

2.3. APAR
Alat pemadam api ringan (APAR) ialah alat yang ringan serta mudah dilayani
oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran.
2.3.1. Jenis-jenis APAR
Fire Extinguisher atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR), terdiri dari:
a. APAR jenis Air (Water Fire Extinguisher)
Efektif untuk jenis api kelas A: Kayu, Kertas, Kain, Karet, Plastik, dll. Air
merupakan salah satu bahan pemadam api yang paling berguna sekaligus
ekonomis. Semua pemadam api berbahan air produksi memiliki aplikasi
tipe jet yang mampu menghasilkan arus yg terkonsentrasi sehingga
membuat operator mampu melawan api dari jarak yang lebih jauh dari
pada Nozzle semprot biasa.

10
b. APAR jenis Tepung Kimia (Dry Chemical Powder)
Efektif untuk jenis api kelas A (Kayu, Kertas, Kain, Karet, Plastik, dll.),
kelas B (Bensin, Gas, Oil, Cat, Solvents, Methanol, Propane, dll) dan kelas
C (Komputer, Panel Listrik, Genset, Gardu Listrik, dll.).
Alat Pemadam Api Ringan berbahan bubuk kering, sangat serbaguna untuk
melawan api Kelas A, B & C, serta cocok untuk mengatasi resiko tinggi.
Selain berguna dalam mengatasi bahaya listrik, cairan mudah terbakar dan
gas, bubuk juga efektif untuk kebakaran kendaraan.

c. APAR jenis Busa (Foam Liquid AFFF)


Alat Pemadam Api Ringan berbahan busa, cocok untuk melawan
api Kelas A & B. Alat pemadam berbahan busa memiliki kemampuan
untuk mengurangi resiko menyalanya kembali api setelah pemadaman.
Setelah api dipadamkan, busa secara efektif menghilangkan uap
bersamaan dengan pendinginan api.
Alat pemadam api berbahan busa menyediakan kemampuan yang
cepat dan kuat dalam mengatasi api kelasA dan B. Sangat efektif
terhadap bensin dan cairan yang mudah menguap, membentuk segel api
diatas permukaan dan mencegah pengapian ulang. Ideal untuk penggunaan
multi-risiko.

11
Peringkat Api menyediakan cara untuk mengukur efektivitas dari
suatu alat pemadam dalam hal ukuran maksimum api yang bisa
dipadamkan. Kelas A contohnya kotak api kayu yang terbakar dengan
lebar 0.5m x tinggi 0.56m x panjang. Angka rating adalah sepuluh kali
panjang dalam meter, misalnya. 13A menggunakan tumpuka kayu 1,3
meter. Kelas B terkait dengan kebakaran luas permukaan dan angka rating
untuk jumlah cairan yang mudah terbakar dalam rasio 1 / 3 air , 2 / 3 bahan
bakar yang dapat dipadamkan dalam areal melingkar. Gambar Foam
Extinguisher

Gambar 2.5 Foam Extinguisher


(Sumber: Guide to fire risk assasment)

d. APAR jenis CO2 (Carbon Dioxide)


Alat pemadam api berbahan CO2 sangat cocok untuk peralatan ber-
listrik dan api Kelas B. Kemudian kemampuan tingginya yang tidak
merusak serta efektif dan bersih yang sangat dikenal luas. CO2 memiliki
sifat non-konduktif dan anti statis. Karena gas ini tidak berbahaya untuk
peralatan dan bahan yang halus, sangat ideal untuk lingkungan kantor yang
modern, dimana minyak, solvent dan lilin sering digunakan.
Kinerja yang tidak merusak dan sangat efektif serta bersih
sangatlah penting. Kedua model memiliki corong yang tidak ber-

12
penghantar dan anti statis, cocok untuk situasi yang melibatkan cairan
yang mudah terbakar dan bahaya listrik.
Gas (yang dihasilkan) tidak (bersifat) merusak peralatan dan bahan
yang halus. Ideal untuk lingkungan kantor modern, dengan semua risiko
elektronik-nya, dan dimana minyak, bahan pelarut dan lilin sering
digunakan.
Peringkat Api menyediakan cara untuk mengukur efektivitas dari
suatu alat pemadam dalam hal ukuran maksimum api yang bisa
dipadamkan. Kelas B ini terkait dengan kebakaran luas permukaan dengan
angka rating untuk jumlah cairan yang mudah terbakar dalam rasio air 1/3,
2/3 bahan bakar yang dapat dipadamkan dalam 1 area melingkar.

e. APAR jenis Hallon (Thermatic Halotron)


Efektif untuk jenis api kelas A (Kayu, Kertas, Kain, Karet, Plastik,
dll.) dan C (Komputer, Panel Listrik, Genset, Gardu Listrik, dll.)
Alat Pemadam Api Otomatis yang berisi Clean Agent Halotron I.
Alat pemadam Api Ringan (APAR) Otomatis ini menggunakan gas
pendorong Argon, dan alat pengukur tekanan dipasang di Alat pemadam
Api Ringan (APAR) Otomatis. Kapasitas unit 2 kg dan 5 kg difungsikan
otomatis oleh sensitifitas panas dengan kepala sprinkler dan lengkap
dengan tekanan. Alat pemadam Api Ringan (APAR) Otomatis ini
memerlukan pemeliharaan minimum 1 tahun dan Thermatic Halotron I
ini juga bergaransi 1 tahun. Menjadi agent/media isi yang paling bersih,
tidak meninggalkan residu setelah digunakan. Aman jika terhirup manusia
dan juga ramah lingkungan. Thermatic Halotron I ini desain sebagai
pengganti gas Halon dan tidak mengandung CFC.

13
Cara Kerja Thermatic Halotron I integrasi fire alarm adalah
sebagai berikut :
Keberadaan asap dalam ruangan dideteksi smoke detector yang
mengcover kebakaran ruangan yang diproteksi, sehingga alarm bell
berbunyi.
Apabila ada kebakaran dan belum sempat dipadamkan dan suhu
ruangan mencapai panas 68OC, bulb sprinkler otomatis pecah dan gas
Halotron I menyemprot otomatis sehingga api dalam sekejap akan
segera padam.

2.3.2. Penandaan dan Pengenalan


a. Penandaan APAR
Penandaan yang disyaratkan
Kalimat yang bermakna umum tidak menjurus seperti mutu,
umum,atau universal tidak boleh dituliskan pada pelat nama yang
dipasang pada badan APAR. Setiap APAR harus memiliki keterangan
sebagai berikut:
Kata jenis tepung Kimia Kering yang disusul tipe APAR sesuai
denganketentuan Tipe Tabung Gas atau Tipe Tabung Bertekanan
Tetap
- Cara pemakaian
- Nama dan alamat pabrik pembuat atau penjualnya yang
bertanggungjawab.
b. Cara Penandaan
Penandaan APAR dapat dialkukan dengan cara:
- Huruf timbul atau sketsa pada plat logam yang disolder atau
diikatpada tabung APAR
14
- Dicat langsung pada tabung APAR
- Dengan label yang tahan lama
- Tahun harus ditandakan secara permanen pada badan APAR
c. Warna Pengenal
Badan APAR harus berwarna merah. (DEPNAKER, 1999)

15
BAB III
PENANGANAN KEBAKARAN

3.1. PENANGGULANGAN KEBAKARAN


3.1.1. Tindakan Pencegahan/Preventif
Pencegahan/ preventif adalah segala upaya yang dilakukan agar kebakaran
tidak terjadi kebakaran :
Hal-hal yang dilakukan dalam upaya pencegahan yaitu :
1. Memberikan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan
2. Menempatkan barang-barang yang mudah terbakar di tempat yang aman
dan jauh dari api
3. Tidak merokok dan melakukan pekerjaan panas di tempat barang-barang
yang mudah terbakar
4. Membuat/memasang instalasi listrik dengan baik dan benar
5. Tidak memasang steker listrik bertumpuk-tumpuk
6. Memasang tanda-tanda peringatan pada tempat yang mempunyai resiko
bahaya kebakaran tinggi
7. Menyediakan apar ditempat yang strategis/ sesuai dengan kelas kebakaran
8. Matikan aliran listrik bila tidak digunakan
9. Buang puntung rokok di asbak dan matikan apinya
10. Bila akan menutup tempat kerja, periksa dahulu hal-hal yang dapat
menyebabkan kebakaran
3.1.2. Tindakan Pemadaman/Represif
Tindakan pemadaman/ represif yaitu tindakan yang dilakukan untuk
memadamkan kebakaran sebagai upaya memperkecil kerugian yang
ditimbulkan dan mencegah agar kebakaran tidak meluas

3.2. TEKNIK DAN TAKTIK PENANGGULANGAN KEBAKARAN


3.2.1. Teknik Penanggulangan Kebakaran
Teknik penanggunalangan kebakaran adalah kemampuan maksimal
dalam menggunakan peralatan yang tersedia guna memadamkan kebakaran
3.2.2. Taktik Penanggulangan Kebakaran
Merupakan sebuah kemampuan maksimal tentang cara-cara yang
digunakan dalam rangka pemadaman kebakaran
3.3. SISTEM PEMADAMAN
3.3.1. Sistem Isolasi

16
Sistem pemadaman dengan cara isolasi yaitu sebuah cara pemadaman
dengan tidak memberi oksigen pada benda yang terbakar, yaitu :
Menutup dengan karung basah
Menimbun dengan tanah, pasir atau lumpur
3.3.2. Sistem Pendinginan
Yaitu cara pemadaman dengan menurunkan suhu pada benda yang terbakar
Menyiram dengan air
Menimbun dengan daun, batang pohon yang mengandung air
3.3.3. Sistem Urai
Cara pemadaman dengan membagi-bagi benda yang terbakar menjadi bagian
kecil sehingga api mudah dikendalikan. Hal ini dilakukan bila sistem isolasi
dan pendinginan tidak dapat dilakukan

3.4. LANGKAH-LANGKAH PENANGGULANGAN KEBAKARAN :


a. Memadamkan dengan alat pemadam yang sesuai, jika api tidak padam, panggil
teman terdekat
b. Bunyikan alarm / tanda bahaya kebakaran jika api belum padam
c. Hubungi unit pemadam kebakaran untuk minta bantuan dengan identitas yang
jelas
d. Amankan lokasi dan bantu kelancaran petugas pemadam
e. Beritahu petugas pemadam tempat sumber air
f. Utamakan keselamatan jiwa dari pada harta benda

3.5. PERHATIKAN FAKTOR PENTING DALAM PEMADAMAN


Hal yang harus diperhatikan dalam pemadaman kebakaran yaitu :
a. Arah angin
b. Jenis benda yang terbakar
c. Volume benda yang terbakar
d. Berapa lama telah terbakar
e. Situasi, kondisi dan lingkungan

f. Keselamatan diri :
Peralatan dan perlengkapan yang digunakan
Asap tebal akibat proses kebakaran
Kemungkinan terjadinya ledakan
Kemungkinan terjadinya radiasi

3.6. SIKAP DAN TINDAKAN DALAM PEMADAMAN KEBAKARAN


a. Harus Selalu Disertai Resque Operator
1. Tegas dan disiplin
2. Yakin akan kemampuan diri
3. Tenang, waspada, tanggap akan situasi
4. Kompak dalam kerjasama (team work)
5. Cepat bertindak dan efisien

17
b. Perlu Latihan Secara Rutin
c. Mengenal Alat Pemadam Api Dan Cara Penggunaannya
1) Alat pemadam api tradisional
Jenis alat pemadam api tradisional diantaranya :
a) Pasir
b) Tanah
c) Air
d) Dll
Keuntungan alat pemadaman dengan cara tradisional ini yaitu :
Sangat baik untuk pemadaman awal
Terutama dalam rumah tangga atau perkantoran yang tidak begitu luas
2) Alat pemadam api modern
Jenis alat pemadam api modern diantaranya :
1. Kimia:
DCP
Co2
Busa
Hermatic
2. Hidrant Kebakaran

3.7. PENGGUNAAN ALAT PEMADAM TRADISIONAL


a. Menggunakan Pasir / Tanah:
Menggunakan alat pemadam tradisional seperti ini, yaitu :
Sangat baik untuk kebakaran lantai / tanah datar
Dapat dipakai untuk membendung tumpahan minyak, sehingga kebakaran
tidak meluas
Dapat dipakai untuk pemadaman awal semua jenis kebakaran
Cara pemakaian: (sistim isolasi)
Pasir / tanah ditaburkan mulai dari tepi hingga seluruh permukaan yang terbakar
tertutup rata
b. Selimut Api / Karung Goni:
Cara pemadaman seperti ini merupakan cara ;
Cocok uktuk kebakaran kompor (kebakaran minyak) dan semua jenis
kebakaran, kecuali kebakaran listrik
Bahan murah dan mudah didapat
Cara pemakaian (sistim pendinginan) :
Basahi karung goni dengan air kemudian tutupkan secara rata pada bagian yang
terbakar, jika dengan satu karung tidak cukup, tambah lagi.

3.8. PENGGUNAAN ALAT PEMADAN APAR (Alat Pemadam Api Ringan)


Alat pemadam api ringan (APAR) atau fire extinguisers adalah alat pemadam api
yang mudah dipergunakan oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal

18
terjadinya kebakaran. APAR dapat berupa tabung jinjing, gendong maupun beroda.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa APAR berhasil menanggulangi sekitar
30 % kejadian kebakaran.
a. Syarat Penempatan APAR
1) Pada jalur keluar,
2) Dekat dengan daerah yang mempunyai resiko kebakaran tinggi,
3) Mudah dilihat, dijangkau dan diambil oleh pengguna,
4) Diberi tanda yang menunjukkan tentang adanya apar dengan warna merah
Catatan:
Pada posisi yang sama di setiap lantai,
Pada sudut-sudut koridor,
Dekat dengan pintu
b. Cara menggunakan alat pemadam api ringan ini adalah:
1) Menarik PIN Segel.
2) Mengarahkan Nozzle ke titik api.
3) Menekan handle & semprotkan ketitik api sampai api padam/jika anda sudah
lelah.
Apabila terjadi kebakaran ada beberapa hal yang harus anda perhatikan,
diantaranya adalah:
1) Jangan panik !! Tetap tenang & sabar.
2) Harus berani bertindak dengan penuh perhitungan, jangan ceroboh.
3) Benda yang terbakar harus di perhatikan jenisnya.

19
BAB IV
DATA PEMBAHASAN

4.1. DENGAN CARA TRADISIONAL


Cara penggunaan alat pemadam api tradisional cukup mudah namun lebih
berbahaya dibandingkan alat pemadam kebakaran modern yang telah dirancang untuk
keselamatan dan lebih paktis. Jika menggunakan kain goni atau kain lainnya maka kain
harus dibasahkan terlebih dahulu, prinsipnya adalah mendinginkan panas kebakaran
terlebih dahulu untuk kemudian menutup suplai oksigen. Apabila kain tidak dibasahi
maka potensi kain untuk ikut terbakar sangat besar. Jika penggunaan pasir, semen atau
tanah maka caranya adalah memindahkan bahan menggunakan sekop dan diratakan ke
bagian yang terbakar hingga padam. Hal yang tak boleh disepelehkan dalam melakukan
pemadaman kebakaran khususnya menggunakan alat pemadam kebakaran tradisionala
adalah menjaga keselamatan diri. Misalnya saat saat menggunakan karung goni, posisi
tangan, wajah dan tubuh harus tertutupi dengan sempurna agar tidak terkena api.
Baik alat pemadam api tradisonal maupun modern memiliki fungsi dan prinsip
yang sama namun keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
kelebihan dari tradisional adalah Anda tidak perlu mengeluarkan untuk membeli alat
pemadam kebakaran, bahan kimia dan perawatan namun kelemahannya adalah tidak
praktis dan lebih berbahaya saat action dibandingkan dengan alat pemadam modern.
Oleh sebab itu, kami tetap menyarankan Anda untuk mempersiapkan keselamatan baik
jiwa maupun harta Anda dengan alat pemadam kebakaran modern.

4.2. DENGAN ACARA APAR


Alat pemadam api ringan (APAR) atau fire extinguisers adalah alat pemadam api yang
dikemas dengan menggunakan tabung dengan bahan-bahan yang mamapu
memadamkan api, namu salain itu adapun kelebihan dan kekurangannya diantaranya :
4.2.1. Kelebihan dari APAR berbahan air:
APAR berbahan utama air sangat baik digunakan untuk menurunkan suhu
ruangan.
APAR yang menggunakan bahan utama air ini sangat cocok digunakan untuk
pemadaman air dengan menggunakan sistem cooling atau pendinginan.
APAR berbahan utama air lebih mudah didapat dan jauh lebih murah
harganya.
20
Untuk anda yang mungkin memikirkan masalah harga dan kemudahan
mencarinya di pasaran, APAR berbahan utama air ini adalah salah satu jenis
APAR yang selain mudah ditemukan dipasaran juga harganya jauh lebih
murah.

4.2.2. Kekurangan dari APAR berbahan utama air:


APAR yang menggunakan bahan utama air dapat menghantarkan listrik.
Jika anda hendak memadamkan api dengan menggunakan APAR
berbahan air, harap berhati-hati karena APAR ini dapat menghantarkan listrik.
Pastikan aliran listrik di tempat kebakaran sudah terputus.
APAR berbahan air dapat merusak berbagai macam barang elektronik.
Karena memang bahan utama menggunakan air, maka APAR berbahan
air juga sangat rentan menyebabkan kerusakan tambahan pada peralatan
elektronik anda yang tidak terbakar. Oleh sebab itu, harap berhati-hati dalam
memadamkan api menggunakan APAR jenis ini sehingga barang elektronik
yang tidak terbakar tidak mengalami kerusakan akibat tersiram air dari alat
pemadam kebakaran.

21
BAB V
PENUTUP

Kebakaran adalah bahaya yang nyata yang timbul karena pemakaian listrik.
Kebakaran menyebabkan kehilangan nyawa dan tak hanya meliputi seseorang saja, tetapi
dapat terjadi di tempat-tempat di mana banyak manusia berkumpul, seperti pabrik, pusat
perbelanjaan dan sebagainya. Sebab terjadinya kebakaran: Sambaran petir, Kecerobohan
manusia, Aktivitas vulkanis, Tindakan yang disengaja, dan Kebakaran di bawah tanah. Tanda-
tanda terjainya kebakaran adalah Muncul bau benda terbakar masuk ke ruang kabin terkadang
disertai asap. Daerah yang rawan kebakaran adala: Daerah pemukiman padat penduduk, Di
daerah hutan dan lahan gambut, Daerah pertokoan atau pasar, Daerah dengan banyak
bangunan vertical, dan Daerah pertambangan.
Dampak kebakaran: Dampak Terhadap Bidang Sosial, Budaya dan Ekonomi,
Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan, Dampak Terhadap Hubungan Antar
Negara, Dampak terhadap Perhubungan dan Pariwisata. untuk mengatasi kebakaran hutan
tersebut perlu dilakukan ialah: Perencanaan (Planning), Pengeorganisasian (Organizing),
Penggerakan pengarahan (Actuating), dan Pengawasan (Controlling). Mitigasi bencana
kebakaran adalah salah satu upaya agar bahaya kebakaran tidak terjadi. Pengananan bahaya
kebakaran adalah segala upaya pencegahan, peringatan dini, mitigasi, dan kesiapsiagaan
ketika sebelum terjadi kebakaran, penanganan darurat melalui memadamkan api yang tak
terkendali, pencarian, pertolongan, penyelamatan korban maupun harta benda dan pemberian
bantuan pada saat terjadi kebakaran, serta pengungsian, pemulihan mental, rehabilitasi dan
rekontruksi sarana/prasarana/fasilitas fisik sosial/umum ketika sesudah terjadi kebakaran.

22
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Untuk melakukan penanggulangan kebakaran, maka banyak hal yang harus
diperhatikan yaitu yang kita kenal dengan segitiga kebakaran. Kebakaran hanya
mungkin bila ketiga sisinya saling sambung menyambung merupakan segitiga
yang tertutup, bila diambil salah satu sisinya saja maka tak mungkin terjadi
kebakaran atau terpadamkanlah kebakaran itu. Jadi untuk menyebabkan atau
memungkinkan kebakaran diperlukan 3 unsur:
1. Bahan yang mudah terbakar
2. Oksigen
3. Suhu
Biasanya bahan yang mudah terbakar dan oksigen telah berada
berdampingan. Kini hanya diperlukan kenaikan suhu ini dapat berasal
daripercikan api,korek api,api gas, rokok dan sebagainya.

5.2. SARAN
Untuk mengurangi korban dan kerugian akibat kebakaran, maka kita harus
senantiasa mencegah terjadinya kebakaran serta menjauhkan barang barang
yang mudah terbakar dan mudah meledak dari sumber api. Selain itu alat proteksi
juga perlu diperhatikan, agar senantiasa kebakaran bisa teratasi sejak dini
sehingga kemungkinan kebakaran tidak menjadi meluas.

23
DAFTAR PUSTAKA

http://pemadamapi.wordpress.com/definisi-pengertian-kebakaran/ (diakses April 2017)


http://hasyimibrahim.wordpress.com/2010/01/23/definisi-dan-pencegahan-bahaya-kebakaran/
(diakses April 2017)
http://pemkab-asahan.go.id/a/index.php-menu=news&id_news1=167&iduser=5 &hal=4.htm
(diakses April 2017)
http://syahrianira.blogspot.com/ (diakses April 2017)
http://www.jayafire.com/tipe-kebakaran-dan-cara-memadamkannya/ (diakses April 2017)
http://kazethelight.wordpress.com/2013/10/03/materi-k3-mencegah-dan-menanggulangi-kebakaran-
oleh-djoko-kustono/ (diakses April 2017)

24