Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu dampak globalisasi adalah adanya persaingan bisnis yang semakin ketat,

yang ditandai oleh kegiatan bisnis yang kini tumbuh dan berkembang melewati apa yang

pernah diprediksikan dan di'visi'kan sebelumnya. Pelakunya terbuai dengan visi dan,

misinya, terjebak di antara harapan dan kenyataan. Bisnis bisa dijalankan dengan cara

berbeda antara suatu negara atau organisasi atau perusahaan baik dari sisi budaya, politik,

hukum, ekonomi, perilaku maupun sudut pandang. Bisnis sudah tak mengenal ruang dan

waktu, dari bisnis yang hanya mempertukarkan barang dengan barang (barter) sampai

dengan bisnis dengan menggunakan sarana teknologi dan informasi. Transaksi bisnis kini

dapat diwujudkan tanpa harus adanya pertemuan fisik pembeli dan penjual. Mereka bisa

tinggal dimana saja, dan kapan saja dapat menyelenggarakan aktivitas bisnisnya. Teknologi

dan Informasi (komunikasi) telah mengubah dunia yang begitu luas menjadi semakin kecil,

kini dunia seakan telah menjadi sebuah kampung besar yang dengan mudah dijangkau

manusia.

Etika merupakan suatu keinginan yang murni dalam membantu orang lain.

Kejujuran yang ekstrim, kemampuan untuk menganalisis batas-batas kompetisi

seseorang, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kegagalan. Kompetisi

inilah yang harus memanas belakangan ini. Kata itu mengisyaratkan sebuah konsep

bahwa mereka yang berhasil adalah yang mahir menghancurkan musuh-musuhnya.

Banyak yang mengatakan kompetisi lambang ketamakan. Padahal perdagangan dunia

yang lebih bebas di masa mendatang justru mempromosikan kompetisi yang juga lebih

bebas.

i
Bisnis bagaikan suatu pertempuran sengit tanpa kasih sayang dan rasa kemanusiaan.

Yang satu berusaha dengan segala cara untuk mematikan yang lainnya. Dalam bisnis beretika

persaingan hanyalah sarana untuk memperbaiki citra produk dan perusahaan di mata

pelanggannya. Di samping itu persaingan juga dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki

kinerja organisasional. Justru itu makna persaingan dalam ranah bisnis harus diluruskan,

demikian juga pandangan terhadap bisnis itu sendiri.

1.2 Maksud dan Tujuan

Bisnis yang baik adalah bisnis bermoral, yakni suatu bisnis yang tidak saja

menempatkan dan mementingkan pribadi pelakunya semata. Bisnis tidak melarang

keuntungan yang besar bagi suatu perusahaan. Hanya saja semakin besar keuntungan yang

diperoleh, maka semakin besar pula tanggung jawab etika dan sosialnya kepada masyarakat.

Dalam ajaran etika, selain untuk membahagiakan dirinya, pelaku bisnis juga mengemban

amanah dan kewajiban untuk membahagiakan orang lain dan masyarakat sekitarnya.

Memelihara alam dengan segala sumber dayanya adalah juga tanggung jawab kita semua,

dan pelaku bisnis harus berada di barisan depannya.

Untuk melaksanakan tanggung jawab moral, diperlukan suatu panduan yang

mengandung prinsip-prinsip, norma-norma dan standar, sehingga didapatkan kebenaran

moral dalam sikap dan perilakunya. Kesemuanya itu telah dikemas oleh para ahli dan filosof

dalam bingkai etika. Aplikasi semua nilai-nilai etika dalam kerangka bisnis disebut dengan

etika bisnis. Dengan panduan etika bisnis, pelaku usaha dan partisipan organisasi bisnis

harus berlaku manusiawi dengan menempatkan manusia di atas segalanya. Sebagai mana

dirinya, pebisnis seyogianya menyadari bahwa setiap manusia itu mempunyai hak yang

mendasar dan dilindungi, yakni hak asasi manusia. Sayangnya hak-hak manusia ini sering

diremehkan, diabaikan dan dilecehkan banyak usahawan (pelaku bisnis) saat ini.

ii
Maksud dan dan tujuan makalah ini adalah untuk mempelajari, mensosialisasikan

nilai-nilai etika bisnis dan menjadikannya sebagai acuan dalam setiap perilaku bisnis . Nilai-

nlai positif yang terkandung dalam etika sepantasnya menjadi panutan dari pemimpin

organisasi bisnis dalam dimanapun mereka berada. Terkesan banyak pelaku usaha yang

masih keberatan dengan penyelenggaraan etika dalam usaha bisnisnya. Padahal dalam banyak

hasil penelitian etika, jarang sekali ditemukan pebisnis yang mempraktikkan nilai etika gagal

dalam bisnisnya. Malah sebaliknya praktik etika yang baik dalam setiap kegiatan bisnis

akan mendukung keberhasilan usaha, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka

panjang.

Keberadaan nilai dalam etika bisnis adalah penting, krusial dan strategis. Hal ini

bermakna bahwa penyelenggaraan etika bisnis tidak bisa terlepas dari kemampuan

menerima dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam setiap kegiatan bisnisnya. Nilai

adalah sesuatu yang benar, yang baik dan yang indah. Keberadaan nilai dalam banyak hal

dapat mempersatukan orang-orang yang terlibat dalam suatu bisnis dan menyelesaikan konflik

nilai yang terjadi, sehingga dengan demikian penganutan nilai oleh pelaku bisnis itu akan

memudahkan pencapaian tujuan organisasinya.

iii
BAB II

ETIKA BISNIS

2.1. Pengertian Etika

Istilah etika berasal dari kosa kata bahasa Yunani kuno etos (bentuk tunggal dan etha

(bentuk jamak), yang berarti adat istiadat atau kebiasaan (Sudarmo dan Soedarsono, 2008).

Dalam arti ini, etika berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik

oleh kalangan atau masyarakat tertentu. Kebiasaan ini dianut dan bahkan diwarisi dari satu

generasi ke generasi berikutnya (Sudarmo dan Soedarsono, 2008).

Kata etika memiliki beberapa makna, Websters Collegiate Dictionary yang dikutip

oleh Ronald Duska dalam buku Accounting Ethics memberi empat makna dasar dari kata

etika, yaitu:

1. Suatu disiplin terhadap apa yang baik dan buruk dan dengan tugas moral serta

kewajiban.

2. Seperangkat prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai.

3. Sebuah teori atau sistem atas nilai-nilai moral.

4. Prinsip atas pengaturan prilaku suatu individu atau kelompok.

Sedangkan etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan

usaha termasuk dalam berinteraksi dengan pemangku kepentingan. Penerapan nilai-nilai

perusahaan dan etika bisnis secara berkesinambungan mendukung terciptanya budaya

perusahaan. Setiap perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yaitu yang mencangkup

panduan tentang benturan kepentingan, pemberian dan penerimaan hadiah dan donasi,

kepatuhan terhadap peraturan, kerahasiaan informasi, dan pelaporan terhadap perilaku yang

tidak etis.

iv
Beberapa alasan mempelajari etika menurut Ronald Duska :

1. Beberapa kepercayaan moral yang dipegang mungkin tidak cukup karena itu

hanya kepercayaan sederhana tentang isu-isu komplek. Pelajaran etika dapat

membantu seseorang memecahkan isu yang komplek tersebut, dengan melihat

apa yang prinsip-prinsip katakan tentang kasus itu.

2. Etika dapat menyediakan pengertian yang mendalam bagaimana menimbang

dan memutuskan terhadap konflik prinsip dan menunjukan mengapa tindakan

tertentu lebih dibutuhkan dari pada yang lain.

3. Cerminan etika dapat membuat kita lebih berpengetahuan dan teliti dalam

masalah-masalah moral.

4. Alasan yang penting untuk mempelajari etika adalah untuk mengerti keadaan

dan mengapa opini-opini kita berharga. Contohnya ketika tanggung jawab ke

keluarga berbenturan dengan tanggung jawab kita terhadap pekerjaan dan

bagaimana jalan keluarnya.

5. Alasan terakhir dalam mempelajari etika adalah untuk belajar mengidentifikasi

prinsip-prinsip dasar etika yang dapat diaplikasikan pada tindakan.

Menurut ilmu pengetahuan, etika dibagi menjadi dua (Duska Duska,2005), yaitu:

1. EtikaUmum

2. Etika Khusus

Etika umum membahas prinsip-prinsip moral dasar. Sedangkan etika khusus

membahas tentang prinsip-prinsip dasar pada masing-masing bidang dalam kehidupan

masyarakat. Etika khusus dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika

individual membahas tentang kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri, sedangkan etika

sosial membahas tentang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat (hubungan dengan

sesama dan lingkungan) yang kemudian berkembang menjadi etika politik, etika keluarga,

v
etika lingkungan, dan etika profesi. Profesi adalah suatu pekerjaan yang menuntut

pengetahuan yang tinggi dan keahlian khusus, seperti dokter, notaris, akuntan yang

selanjutnya disebut sebagai subjek profesional. Subjek professional memiliki apa yang

disebut sebagai kode etik. Kode etik secara bahasa dikatakan sebagai sekumpulan azas atau

nilai yang berkenaan dengan manusia.

Berdasarkan suatu teori etika, keputusan moral yang kita ambil bisa menjadi

beralasan. Teori etika mampu menjelaskan mengapa tindakan-tindakan benar atau salah.

Dengan kata lain suatu teori etika membantu kita untuk mengambil keputusan moral yang

tahan uji, jika ditanyakan dasarnya. Sehingga teori etika dianggap mampu menyediakan

justifikasi untuk keputusan kita.

2.2. Relativitas Moral

Persaingan global yang ketat tanpa mengenal adanya perlindungan dan dukungan

politik tertentu, semua perusahaan bisnis mau tidak mau harus bersaing berdasarkan prinsip

etika tertentu. Terdapat tiga pandangan umum yang dianut. Pandangan pertama adalah bahwa

norma etis berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain, artinya perusahaan mengikuti

aturan norma dan moral yang berlaku di tempat perusahaan beroperasi. Pandangan kedua

adalah bahwa norma sendirilah yang paling benar dan tepat, artinya perusahaan mengikuti

aturan norma dan aturan moral di tempat perusahaan itu berasal. Pandangan ketiga adalah

immoralis naif yang menyatakan bahwa tidak norma moral yang perlu diikuti sama sekali.

Menurut De George, ada tiga pandangan umum yang dianut.

1. Norma etis berbeda antara 1 tempat dengan tempat lainnya.

Artinya perusahaan harus mengikuti norma dan aturan moral yang berlaku di Negara

tempat perusahaan tersebut beroperasi. Yang menjadi persoalan adalah anggapan

bahwa tidak ada nilai dan norma moral yang bersifat universal yang berlaku di semua

Negara dan masyarakat, bahwa nilai dan norma moral yang berlaku di suatu Negara

vi
berbeda dengan yang berlaku di negara lain. Oleh karena itu, menurut pandangan ini

norma dan nilai moral bersifat relatif. Ini tidak benar, karena bagaimanapun mencuri,

merampas, dan menipu dimanapun juga akan dikecam dan dianggap tidak etis.

2. Nilai dan norma moral sendiri paling benar dalam arti tertentu mewakili

kubu moralisme universal.

Yaitu bahwa pada dasarnya norma dan nilai moral berlaku universal, dan karena itu

apa yang dianggap benar di Negara sendiri harus diberlakukan juga di negara lain

(karena anggapan bahwa di negara lain prinsip itu pun pasti berlaku dengan

sendirinya). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa moralitas menyangkut

baik buruknya perilaku manusia sebagai manusia, oleh karena itu sejauh manusia

adalah manusia, dimanapun dia berada prinsip, nilai, dan norma moral itu akan tetap

berlaku.

3. Immoralis naif.

Pandangan ini menyebutkan bahwa tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama

sekali.

2.3. Teori Etika Modern ( Kognitivisme)

1. Utilitarisme

Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti bermanfaat. Menurut teori ini,

suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut

bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan .Menurut suatu

perumusan terkenal, dalam rangka pemikiran utilitarisme (utilitarianism) criteria untuk

menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest happiness of the greatest

number, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar.

vii
2. Deontologi

Deontologi (Deontology) berasaldari kata dalam BahasaYunani yaitu,deon yang

artinya adalah kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya. Dalam hal ini

konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan

dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi

menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya.Tujuan yang baik tidak

menjadi perbuatan itu juga baik.

3. Teori Hak

Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang

paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku.

Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, Karena hak berkaitan

dengan kewajiban.

4. Teori Keutamaan

Teoriti peter akhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau

akhlak seseorang.Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan

sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam

mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma. Keutamaan bias didefinisikan sebagai

berikut :disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk

bertingkah laku baik secara moral, misalnya : Kebijaksanaan, Keadilan, Kerendahan hati,

Suka bekerja keras.

Masalah-masalah yang berkaitan dengan keadilan dan kesamaan biasanya dapat

dibagi ke dalam tiga kategori.

1. Kategori pertama, keadilan distributif, berkaitan dengan distribusi yang adil atas

keuntungan dan beban dalam masyarakat. Prinsip dasar dari keadilan distributif

viii
adalah bahwa yang sederajat haruslah diperlakukan secara sederajat dan yang tidak

sama juga harus diperlakukan dengan cara yang tidak sama.

2. Kategori kedua, keadilan retributif, mengacu pada pemberlakuan hukuman yang adil

pada pihak-pihak yang melakukan kesalahan. Hukuman yang adil adalah hukuman

yang dalam artian tertentu layak diterima oleh pihak yang melakukan kesalahan.

3. Kategori ketiga, keadilan kompensatif, berkaitan dengan cara yang adil dalam

memberikan kompensasi pada seseorang atas kerugian yang mereka alami akibat

perbuatan orang lain. Kompensasi yang adil adalah kompensasi yang dalam artian

tertentu proporsional dengan nilai kerugian yang diderita.

2.4. Prinsip-prinsip Etika Dalam Bisnis

Secara umum, prinsip-prinsip yang dipakai dalam bisnis tidak akan pernah lepas dari

kehidupan keseharian kita. Namun prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis sesungguhnya

adalah implementasi dari prinsip etika pada umumnya.

1. Prinsip Otonomi

Orang bisnis yang otonom sadar sepenuhnya akan apa yang menjadi kewajibannya

dalam dunia bisnis. la akan sadar dengan tidak begitu saja mengikuti saja norma dan nilai

moral yang ada, namun juga melakukan sesuatu karena tahu dan sadar bahwa hal itu

baik, karena semuanya sudah dipikirkan dan dipertimbangkan secara masak-masak. Dalam

kaitan ini salah satu contohnya perusahaan memiliki kewajiban terhadap para pelanggan,

diantaranya adalah:

(1) Memberikan produk dan jasa dengan kualitas yang terbaik dan sesuai dengan

tuntutan mereka;

(2) Memperlakukan pelanggan secara adil dalam semua transaksi, termasuk pelayanan

yang tinggi dan memperbaiki ketidakpuasan mereka;

ix
(3) Membuat setiap usaha menjamin mengenai kesehatan dan keselamatan pelanggan,

demikian juga kualitas Iingkungan mereka, akan dijaga kelangsungannyadan

ditingkatkan terhadap produk dan jasa perusahaan;

(4) Perusahaan harus menghormati martabat manusia dalam menawarkan,

memasarkan dan mengiklankan produk.

Untuk bertindak otonom, diandaikan ada kebebasan untuk mengambil keputusan dan

bertindak berdasarkan keputusan yang menurutnya terbaik. karena kebebasan adalah

unsur hakiki dari prinsip otonomi ini. Dalam etika, kebebasan adalah prasyarat utama

untuk bertindak secara etis, walaupun kebebasan belum menjamin bahwa seseorang

bertindak secara otonom dan etis. Unsur lainnya dari prinsip otonomi adalah

tanggungjawab, karena selain sadar akan kewajibannya dan bebas dalam mengambil

keputusan dan tindakan berdasarkan apa yang dianggap baik, otonom juga harus bisa

mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya (di sinilah dimung-kinkan adanya

pertimbangan moral). Kesediaan bertanggungjawab merupakan ciri khas dari

makhluk bermoral, dan tanggungjawab disini adalah tanggung jawab pada diri kita

sendiri dan juga tentunya pada stakeholder

2. Prinsip Kejujuran

Bisnis tidak akan bertahan lama jika tidak ada kejujuran, karena kejujuran merupakan

modal utama untuk memperoleh kepercayaan dari mitra bisnis-nya, baik berupa

kepercayaan komersial, material, maupun moril. Kejujuran menuntut adanya keterbukaan

dan kebenaran. Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang berkaitan dengan kejujuran:

1. Kejujuran relevan dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak

2. Kejujuran relevan dengan penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang

baik.

x
3. Kejujuran relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan yaitu

antara pemberi kerja dan pekerja, dan berkait dengan kepercayaan.

3. Prinsip Keadilan

Prinsip ini menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan

yang adil dan kriteria yang rasional objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keadilan berarti tidak ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya. Salah satu teori

mengenai keadilan yang dikemukakan oleh Aristoteles adalah:

1. Keadilan legal. Ini menyangkut hubungan antara individu atau kelompok masyarakat

dengan negara. Semua pihak dijamin untuk mendapat perlakuan yangsama sesuai

dengan hukum yang berlaku. Secara khusus dalam bidang bisnis, keadilan legal

menuntut agar Negara bersikap netral dalam memperlakukan semua pelaku ekonomi,

negara menjamin kegiatan bisnis yang sehat dan baik dengan mengeluarkan aturan

dan hukum bisnis yang berlaku secara sama bagi semua pelaku bisnis.

2. Keadilan komunitatif. Keadilan ini mengatur hubungan yang adil antara orang yang

satu dan yang lain. Keadilan ini menyangkut hubungan vertikal antara negara dan

warga negara, dan hubungan horizontal antar warga negara. Dalam bisnis keadilan ini

berlaku sebagai kejadian tukar, yaitu menyangkut pertukaran yang fair antara pihak-

pihak yang terlibat.

3. Keadilan distributif. Atau disebut juga keadilan ekonomi, yaitu distribusi ekonomi

yang merata atau dianggap adil bagi semua warga negara. Dalam dunia bisnis

keadilan ini berkaitan dengan prinsip perlakuan yang sama sesuai dengan aturan dan

ketentuan dalam perusahaan yang juga adil dan baik.

4. Prinsip Saling Menguntungkan

xi
Prinsip ini menuntut agar semua pihak berusaha untuk saling mengun tungkan satu

sama lain. Dalam dunia bisnis, prinsip ini menuntut persaingan bisnis haruslah bisa

melahirkan suatu win-win situation.

5. Prinsip Integritas Moral

Prinsip ini menyarankan dalam berbisnis selayaknya dijalankan dengan tetap menjaga

nama baiknya dan nama baik perusahaan.

Dari kelima prinsip yang tentulah dipaparkan di atas, menurut Adam Smith, prinsip

keadilanlah yang merupakan prinsip yang paling penting dalam berbisnis. Prinsip ini

menjadi dasar dan jiwa dari semua aturan bisnis, walaupun prinsip lainnya juga tidak akan

terabaikan. Karena menurut Adam Smith, dalam prinsip keadilan khususnya keadilan

komutatif berupa no harm, bahwa sampai tingkat tertentu, prinsip ini telah mengandung

semua prinsip etika bisnis lainnya. Karena orang yang jujur tidak akan merugikan orang

lain, orang yang mau saling menguntungkan dengan pibak Iain, dan bertanggungjawab untuk

tidak merugikan orang lain tanpa alasan yang diterima dan masuk akal.

2.5. Lingkungan Etika Untuk Akuntan Profesional

Apresiasi terhadap berlangsungnya arus perubahan dalam lingkungan etika untuk

bisnis merupakan hal yang penting untuk memahami suatu informasi tentang bagaimana

akuntan profesional harus menafsirkan kode profesi mereka sebagai karyawan perusahaan.

Meskipun masyarakat mengharapkan semua akuntan profesional untuk menghormati nilai-

nilai profesional objektivitas, integritas, dan kerahasiaan, yang dirancang untuk melindungi

hak-hak dasar publik, seorang karyawan-akuntan harus merespon ke arah manajemen dan

kebutuhan pemegang saham saat ini. Akuntan profesional harus memastikan nilai-nilai etika

mereka saat ini dan mereka siap untuk bertindak mematuhi nilai etika tersebut serta menjaga

kredibilitas profesi akuntan.

xii
Globalisasi dan internasionalisasi telah berkembang dalam dunia usaha, pasar modal,

dan akuntabilitas perusahaan. Dalam profesi akuntansi, gerakan menuju harmonisasi secara

global dalam sekumpulan prinsip-prinsip akuntansi dan audit yang berlaku umum (GAAP)

dan (GAAS) untuk memberikan efisiensi analisis bagi penyedia pasar modal dunia serta

efisiensi komputasi san audit di seluruh dunia. Akibatnya, ada rencana untuk menyelaraskan

secara bertahap sekumpulan GAAP yang dikembangkan oleh berbagai negara yang menjadi

suatu rangkaian umum yang berlaku di semua negara.

Secara bersamaan, Federasi Akuntan Internasional (IFAC) sedang mengembangkan

kode etik yang bersifat internasional untuk para akuntan profesional, dan prinsip dalam kode

tersebut akan menjadi dasar perilaku dan pendidikan para akuntan di dunia di masa

mendatang. Kantor akuntan publik juga sedang mengembangkan standar audit global untuk

melayani klien mereka, dan standar perilaku yang mendukung untuk memastikan bahwa

penilain mereka independen, objektif, dan akurat.

Dalam lingkungan global baru-baru didefinisikan ulang, penawaran layanan nonaudit

kepada klien audit, yang merupakan isu perdebatan untuk Arthur dalam bencana Enron, akan

dibatasi sehingga ekspektasi konflik kepentingan yang lebih ketat dapat dipenuhi. Para

akuntan profesional harus mewaspadai terjadinya konflik, di mana nilai-nilai dan kode

profesional lain yang mereka pekerjakan berbeda dengan profesi akuntansi.

Dampak meningkatnya ekspektasi untuk bisnis pada umumnya dan untuk direktur,

eksekutif dan akuntan pada khususnya, telah membawa tuntutan reformasi tata kelola,

pengambilan keputusan etis dan pengelolaan yang akan mendapat manfaat dari pemikiran

terkini tentang bagaimana mengelola risiko etika dan peluang. Pendekatan manajemen krisis

telah dikembangkan untuk memastikan bahwa perusahaan dan para eksekutif tidak

mengalami kehancuran yang lebih buruk atas prospek dan reputasi yang mereka inginkan.

Pada kenyataannya apabila aspek etis dan krisis telah dikelola dengan baik, maka reputasi

xiii
dapat ditingkatkan. Kombinasi antara etika dengan manajemen krisis dapat mengubah risiko

menjadi peluang .

2.6. Hubungan Good Corporate Governance (GCG) dengan Etika Profesi Akuntansi

Profesi akuntansi merupakan sebuah profesi yang menyediakan jasa atestasi maupun

non-atestasi kepada masyarakat dengan dibatasi kode etik yang ada. Akuntansi sebagai

profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika

profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga

kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Peran akuntan dalam

perusahaan tidak bisa terlepas dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG)

dalam perusahaan. Meliputi prinsip kewajaran (fairness), akuntabilitas (accountability),

transparansi (transparency), dan responsibilitas (responsibility). Dalam hubungannya dengan

prinsip GCG, peran akuntan secara signifikan di antaranya :

Prinsip Kewajaran.

Laporan keuangan dikatakan wajar bila memperoleh opini atau pendapat wajar tanpa

pengecualian dari akuntan publik. Laporan keuangan yang wajar berarti tidak mengandung

salah saji material, disajikan secara wajar sesuai prinsip akuntansi berterima umum di

Indonesia (dalam hal ini Standar Akuntansi Keuangan). Adanya kewajaran laporan keuangan

dapat mempengaruhi investor membeli atau menarik sahamya pada sebuah perusahaan.

Jelaslah bahwa kegunaan informasi akuntansi dalam laporan keuangan akan dipengaruhi

adanya kewajaran penyajian.

Prinsip Akuntabilitas.

Merupakan tanggung jawab manajemen melalui pengawasan yang efektif, dengan

dibentuknya komite audit. Bapepam mensyaratkan, dalam keanggotaan komite audit,

minimum sebanyak 3 orang dan salah satu anggotanya harus akuntan. Komite audit

mempunyai tugas utama melindungi kepentingan pemegang saham ataupun pihak lain yang

xiv
berkepentingan dengan melakukan tinjauan atas reliabilitas dan integritas informasi dalam

laporan keuangan, laporan operasional serta parameter yang digunakan untuk mengukur,

melakukan klasifikasi dan penyajian dari laporan tersebut.

Prinsip Transparansi.

Prinsip dasar transparansi berhubungan dengan kualitas informasi yang disampaikan

perusahaan. Kepercayaan investor akan sangat tergantung pada kualitas penyajian informasi

yang disampaikan perusahaan. Oleh karena itu akuntan manajemen dituntut menyediakan

informasi jelas, akurat, tepat waktu dan dapat dibandingkan dengan indikator yang sama.

Prinsip Responsibilitas.

Prinsip ini berhubungan dengan tanggungjawab perusahaan sebagai anggota masyarakat.

Prinsip ini juga berkaitan dengan kewajiban perusahaan untuk mematuhi semua peraturan

dan hukum yang berlaku. Seiring perubahan sosial masyarakat yang menuntut adanya

tanggungjawab sosial perusahaan, profesi akuntan pun mengalami perubahan peran.

Pandangan pemegang saham dan stakeholderlain saat ini tidak hanya memfokuskan pada

perolehan laba perusahaan, tetapi juga memperhatikan tanggungjawab sosial dan lingkungan

perusahaan.

xv
BAB III

STUDI KASUS WORLD COM

3.1. Profil perusahaan

Long Distance Discount Services, Inc (LDDS) pada awalnya berdiri di Hattiesburg,

Mississippi pada tahun 1983. Kemudian pada tahun 1985 Bernard Ebbers LDDS dipilih

menjadi CEO nya. Perusahaan LDDS go public pada tahun 1989 melalui merger dengan

Advantage Companies Inc, sejak saat itu nama perusahaan diganti menjadi LDDS WorldCom

pada tahun 1995, dan kemudian diganti lagi menjadi WorldCom pada tahun 2003.

Pertumbuhan perusahaan WorldCom yang paling utama didorong oleh akuisisi

terhadap perusahaan - perusahaan telekomunikasi lainnya yang terjadi selama tahun 1990an

dan mencapai puncaknya dengan dengan mengakuisisi MCI pada tahun 1998. Diantaranya

perusahaan yang bergabung atau dibeli oleh WorldCom adalah Advanced Communications

Corp pada tahun 1992, Metromedia Communication Corp pada tahun 1993, Resurgens

Communications Group pada tahun 1993, IDB Communications Group, Inc pada tahun 1994,

Williams Technology Group, Inc pada tahun 1995, dan MFS Communications Company pada

tahun 1996.

Akuisisi MFS termasuk UUNET Technologies, Inc, yang telah diakuisisi oleh MFS

lama sebelum merger dengan WorldCom.Pada februari 1998, WorldCom melakukan

pembelian online CompuServe yang merupaka pelopor dari perusahaan induk Blok H & R

nya. WorldCom kemudian mempertahankan Compuserve. Divisi Layanan Jaringan, menjual

layanan online untuk America Online dan menerima pembagian jaringan AOL & ANS. Pada

tanggal 10 November 1997, WorldCom dan MCI Communications mengumumkan merger

senilai $37 milyar untuk membentuk MCI WorldCom, sehingga hal ini menjadi merger

terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

xvi
Pada tanggal 15 September 1998 perusahaan baru MCI WorldCom mulai dibuka

untuk bisnis. Pada 5 Oktober 1999 Sprint Corporation dan MCI WorldCom mengumumkan

perjanjian merger antara dua perusahaan sebesar $ 129 milyar. Namun pada tanggal 13 Juli

2000 dewan direksi dari kedua pihak perusahaan bertindak untuk mengakhiri merger.Hal ini

karena mendapat larang dari pemerintah Amerika Serikat, sebab perjanjian kerjasama dua

perusahaan telekomunikasi besar tersebut dianggap merupakan bagian praktik monopoli.Kini

MCI WorldCom menamai dirinya dengan WorldCom tanpa Sprint Corp yang menjadi bagian

dari perusahaan. Perusahaan dengan kode saham Wcom di bursa Nasdaq ini telah memiliki

sekitar hamper 80.000 pegawai yang tersebar diseluruh dunia dan sebanyak 8.300

diantaranya adalah pegawai yang tinggal di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

3.2. Skandal WorldCom

Pada awal tahun 2000 perusahaan komunikasi tersebut sudah mulai mengalami

kemerosotan yang disebabkan oleh pendapatan mengalami penurunan dan utang semakin

banyak.Nilai saham juga terus mengalami penurunan. Melihat kondisi tersebut Bernard

Ebbers sebagai CEO, Scott Sullivan sebagai CFO dan David Myers sebagai auditor senior

memutuskan mengambil langkah keluar dengan cara mengubah laporan keuangan. Ada dua

cara yang mereka tempuh. Yang pertama, mereka membukukan line cost sebagai

pemasukan, padahal pada kenyataannya merupakan pengeluaran. Dan yang kedua, mereka

meningkatkan pendapatan dengan entri akun palsu yang ditulis sebagai akun pendapatan

perusahaan yang tidak teralokasi. Dan dilaporkan sekitar $ 3,005 milyar telah salah

diklasifiksi pada tahun 2001, sementara sisanya sekitar $ 797 juta pada triwulan pertama

tahun 2002 berdasarkan data WorldCom $14,7 milyar pad tahun 2001 disajikan sebagai

biaya dengan memindahkan akun beban kepada akun modal, WorldCom mampu menaikkan

pendapatan atau laba. WorldCom mampu menaikan laba karena akun beban dicatat lebih

xvii
rendah, sedangkan akun aset dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi disajikan sebagai

beban investasi.

Dalam laporannya pada 25 Juni Worldcom mengakui bahwa perusahan

mengklasifikasikan lebih dari $ 3,8 milyar untuk beban jaringan sebagai pengeluaran modal

beban jaringan adalah beban yang dibayar oleh Worldcom kepada perusahaan lain untuk

jaringan telekomunikasi, seperti biaya akses dan biaya pengiriman pesan bagi Worldcom.

Dilaporkan sekitar $ 3,005 milyar telah salah diklasifiksi pada tahun 2001, sementara sisanya

sekitar $ 797 juta pada triwulan pertama tahun 2002.berdasarkan data Worldcom $14,7

milyar pad tahun 2001 disajikan sebagai biaya.

Dengan memindahkan akun beban kepada akun modal, Worldcom mampu menaikkan

pendapatan atau laba.Worldcom mampu menaikan laba karena akun beban dicatat lebih

rendah, sedangkan akun aset dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi disajikan sebagai

beban investasi. Kalau hal itu tidak terdeteksi praktek ini akan berakibat pendapatan bersih

yang lebih rendah dalam tahun-tahun brikutnya. Karena beban kapitalisasi jaringan tersebut

akan didepresiasikan.secara esensi beban kapitalisasi jaringan akan memungkinkan

perusahaan untuk mengalokasikan biyanya dalam beberapa tahun dimasa depan, mungkin

antara 10 tahun bahkan lebih.

Staf akuntan Worldcom telah diwawancara sebelum tanggal 25 Juni. Pada Maret 2002

SEC meminta data dari perusahaan berupa item-item yang berhubungan dengan Laporan

Keuangan. Termasuk didalamnya :

a. Komisi penjualan dan tagihan-tagihan yang bermasalah


b. Sanksi administrsi terhadap pendapatan yang berhubungn dengan pelanggan dalam

skala besar
c. Kebijakan akuntansi untuk merger
d. Pinjaman kepada CEO
e. Integrasi sistem komputer Worldcom dengan MCI
f. Analisis ekspektasi pendapatan saham WC

xviii
Pada tanggal 1 Juli 2002 worldcom mengumumkan bahwa akun cadangan di

Worldcom juga diinvestigasi atau diperiksa.Perusahaan membuat akun ini untuk

mengantisipasi kejadian-kejadian luar biasa yang tidak dapat diprediksi. Seperti utang pajak

tahun depan. Seharusnya akun ini tidak boleh dimanipulasi untuk memperoleh pendapatan.

Pada 8 Agustus, Worldcom mengakui bahwa mereka telah menggunakan akun cadangan

secara tidak benar. Dakwaan yang dilaporkan pada tanggal 28 agustus adalah bahwa akun

cadangan dikurangi untuk menutupi biaya jaringan yang telah dikapitalisasi.

3.3. Skandal CEO Bernard Ebbers

CEO Bernard Ebbers menjadi sangat kaya dari kenaikan harga sahamnya di saham

WorldCom umum. Namun, pada tahun 2000, industri telekomunikasi memasuki masa krisis

yang menyebabkan WorldCom mengalami kemunduran serius, menyebabkan pemerintah AS

melalui Departemen Kehakiman memaksa perusahaan ini untuk membatalkan rencana

merger dengan Sprint pada pertengahan 2000. Pada saat itu, saham WorldCom menurun dan

Ebbers berada di bawah tekanan tinggi dari bank untuk menutupi kewajiban kekurangan

margin pada saham WorldCom-nya yang digunakan untuk membiayai jenis usaha yang

lainnya, seperti kayu, kapal pesiar.

Oleh karena itu selama tahun 2001, Ebbers membujuk para dewan direksi WorldCom

untuk memberinya kredit korporasi dan jaminan lebih dari AS $ 400 juta untuk menutupi

kewajiban margin tersebut. Permohonan ini dikabulkan karena para dewan direksi berharap

bahwa pinjaman yang diminta CEP Ebbers tersebut akan mencegah Ebbers untuk menjual

sejumlah besar saham WorldCom pada akhirnya akibat tekanan di harga pasar saham yang

kian anjlok. Namun, akhirnya strategi ini gagal dan Ebbers digulingkan sebagai CEO pada

bulan April 2002 dan digantikan oleh John Sidgmore, mantan CEO UUNET Technologies,

Inc.

xix
Skandal akuntansi di dalam tubuh perusahaan ini sendiri dimulai sejak pertengahan

tahun 1999 dan terus berlanjut hingga Mei 2002. Di bawah Bernard Ebbers (CEO), Scott

Sullivan (CFO), David Myers (Pengawas) dan Buford "Buddy" Yates (Direktur Jenderal

Akuntansi) memanipulasi laporan akuntansi perusahaan, membuat laporan akuntansi palsu

untuk menutupi pendapatan WorldCom yang hakikatnya mengalami penurunan dengan

membuat gambar pertumbuhan keuangan dan profitabilitas palsu untuk menopang harga

saham WorldCom di pasar saham. Penipuan itu dilakukan terutama dalam dua cara :

1. Underreporting 'line cost` (biaya interkoneksi dengan perusahaan telekomunikasi

lainnya) dengan memanfaatkan biaya-biaya pada neraca daripada fakta pengeluaran

mereka.
2. Menggelembungkan pendapatan dengan memasukkan catatan akuntansi palsu dari

"alokasi dana perusahaan yang belum diisi".

Pada tahun 2002, sebuah tim audit internal WorldCom bekerja secara rahasia,

menyelidiki dan menggali kemana alokasi dana perusahaan yang hilang sebesar $ 3,8 milyar.

Hingga pada akhirnya, mereka menemukan jawabannya bawa dana perusahaan tersebut telah

diselewengkan oleh CEO dan rekan-rekan kerjanya untuk memperkaya diri mereka sendiri

diluar standar pendapatan seharusnya. Segera kemudian komite audit perusahaan dan dewan

direksi diberitahu oleh para audit mengenai masalah penipuan akuntansi ini. Tidak lama

kemudian, mereka segera memanggil dan memecat CFO Scott Sullivan, dan David Myers

segera mengundurkan diri.Kemudian pada tahun 2001, Arthur Andersen dan US Securities

and Exchange Commission (SEC) meluncurkan sebuah investigasi masalah ini pada tanggal

26 Juni 2002. Sehingga pada akhir tahun 2003, diperkirakan bahwa total aset perusahaan ini

ternyata telah diselewengkan oleh CEO mereka sekitar $ 11 miliar.

Akibat masalah besar yang diakibatkannya, pada 15 Maret 2005 Bernard Ebbers

dinyatakan bersalah dari semua tuduhan, karena telah terbukti melakukan kecurangan,

konspirasi dan pengajuan dokumen palsu dengan regulator-semua terkait dengan skandal

xx
akuntansi AS $ 11 miliar di perusahaan telekomunikasi yang dia dirikan. Dia dijatuhi

hukuman 25 tahun penjara. Pejabat WorldCom lainnya seperti mantan CFO Scott Sullivan

dituntut dengan hukuman pidana dalam kaitannya pada tanggal 2 Maret 2004 untuk tuduhan

penipuan sekuritas, konspirasi dan mengajukan laporan palsu. Sedangkan mantan pengawas

keuangan David Myers juga telah mengaku bersalah atas penipuan sekuritas, konspirasi

untuk melakukan penipuan sekuritas, dan mengajukan laporan palsu pada tanggal 27

September, 2002. Mantan direktur akuntansi Buford Yates juga telah mengaku bersalah atas

konspirasi dan tuduhan penipuan pada 7 Oktober , 2002). Mantan-mantan manajer akuntansi

Betty Vinson dan Troy Normand juga mengaku bersalah atas konspirasi dan penipuan

sekuritas pada tanggal 10 Oktober 2002.

Pada 13 Juli 2005 Bernard Ebbers menerima hukuman yang akan membuat dia

dipenjara selama 25 tahun. Pada saat vonis dijatuhkan, Ebbers telah berusia 63 tahun.Pada

tanggal 26 September 2006, Ebbers menyerahkan diri ke Biro Penjara Federal penjara di

Oakdale, Louisiana, Federal Lembaga Pemasyarakatan Oakdale untuk mulai menjalani

hukuman.

3.4. Pihak-pihak yang Terkait

1) Bernard Ebbers.

Sebagai CEO WorldCom, Bernard Ebbers meminjam uang kepada perusahaannya untuk

membeli saham WorldCom. Namun, kenyataannya uang perusahaan tersebut digunkan

untuk kepentingannya sendiri bukan untuk membeli kembali saham WorldCom]

2) Cynthia Cooper

Salah satu auditor internal WorldCom dan menjabat sebagai vice presiden yang

mengetahui adanya sesuatu yang tidak beres dengan laporan keuangan WorldCom

3) Arthur Endersen

xxi
Sebagai Auditor Eksternal Independen merupakan pihak yang seharusnya menjungjung

tinggi independensi, dan profesionalisme, telah melakukan pelanggaran kode etik profesi

dan ingkar dari tanggungjawab terhadap profesi maupun masyarakat dengan tidak

melaporkan temuan audit yang dimanipulasi oleh WorldCom.

Arthur Andersen sebagai Auditor Eksternal Worldcom. Dia menyetujui tindakan

manipulasi karena :

- Tidak adanya integritas dalam praktik audit Arthur Andersen, sehingga kecurangan yang

dilakukan tidak diungkapkan dalam opini auditor.

- Adanya hubungan antara Arthur Andersen dengan Sullivan dan Myers yang merupakan

pekerja di KAP Arthur Andrsen sebelum bergabung dengan WorldCom.

Arthur Andersen menyulap biaya sewa yang seharusnya merupakan biaya operasional

rutin yang akan mengurangi pendapatan pada tahun yang sama menjadi biaya investasi,

sehingga bisa disebar untuk jangka 10 tahun. Biaya yang disulap oleh WorldCom per

kuartalnya sebesar US$ 500-800 juta. Dengan manipulasi data seperti ini, WorldCom bisa

melaporkan laba bersih US$ 1,4 miliar pada kuartal I/2001 dan US$ 172 juta pada kuartal

I/2002. Padahal, kalau manajemen WorldCom melaporkan apa adanya, selama lima

kuartal rapornya akan merah. Inilah informasi yang menyesatkan para investor dan

kreditor.

4) Scott D. Sullivan

Scott D. Sullivan Sebagai CFO WorldCom, dengan sengaja telah memasukkan US$ 3,85

miliar (dari total biaya sewa jaringan yang pada 2001 saja mencapai US$ 8,12 miliar) ke

pos yang tak seharusnya.

5)Dewan Direksi

Menyetujui pemberian pinjaman dana lebih dari $408 juta kepada Ketua dan Mencegah

manipulasi yang dilakukan manajemen

xxii
6) Staff Akuntan WorldCom

Dalam hal ini akuntan WorldCom sangat berperan aktif dalam skandal yang

terjadi.Berikut adalah beberapa alasan akuntan Worldcom mau diajak bekerja sama

dalam memanipulasi laporan keuangan yaitu :

- Money : Adanya iming-iming uang dan bonus yang besar bagi para akuntan jika

mereka mau bekerja sama dengan pihak manajemen untuk memanipulasi laporan

keuangan.
- Pressure : Adanya tekanan dari atasan untuk memanipulasi laporan keuangan. Yang

mana jika tidak dituruti akan mengakibatkan para akuntan dipecat.


- Culture : Budaya perusahaan, yang menghalalkan segala cara untuk dapat

memperoleh penghasilan, agar perusahaan tetap terlihat baik dimata publik dan harga

saham perusahaan tidak turun drastis.


- Internal Controll : Lemahnya pengendalian internal perusahaan, sehingga tindakan

manipulasi dan kecurangan dapat terjadi dalam perusahaan.


- Chance : Adanya kesempatan untuk memanipulasi LK worldcom, dimana dalam hal

ini semua pihak dari manajemen puncak hingga staf akuntansi dapat diajak bekerja

sama untuk memanipulasi LK perusahaan.


- Etika : Kurangnya etika profesi akuntansi, para akuntan yang bekerja di worldcom

tidak berpegang teguh pada etika profesi akuntansi ataupun GAAP, sehingga mereka

bersedia untuk melakukan tindakan yang melanggar kegiatan kode etik profesi

akuntansi.

7) Buford "Buddy" Yates

Ditetapkan bersalah karena melakukan penipuan sekuritas dan konspirasi dan setuju

untuk bekerja sama dalam pemalsuan laporan keuangan WorldCom

8) David F. Myers

sebagai auditor senior memutuskan mengambil langkah keluar dari permasalahan

keuangan dengan cara mengubah laporan keuangan

xxiii
Manajemen WorldCom berperan dalam menggelembungkan angka pada periode

berjalan dengan cara:

- Biaya jaringan yang telah dibayarkan pihak worldcom kepada pihak ketiga

dipertanggungjawabkan dengan tidak benar. Dimana biaya jaringan yang seharusnya

dibebankan dalam laporan laba rugi, oleh perusahaan dibebankan ke rekening modal.

Hal ini mengakibatkan laba periode berjalan menjadi lebih besar dari laba yang

sebenarnya didapat oleh perusahaan. Dengan cara ini worldcom mampu

meningkatkan keuntungannya hingga $ 3.85 M


- Dana cadangan untuk beberapa biaya operasional dinaikkan oleh perusahaan. Dana

cadangan yang sudah terbentuk, nantinya akan dikurangi secara tidak benar oleh

perusahaan untuk memanipulasi jumlah keuntungan yang diperoleh perusahaan pada

periode berjalan. Dengan praktik ini, Worldcom berhasil memanipulasi

keuntungannya sebesar $ 2 M.

3.5. Kode Etik yang dilanggar

- Dalam kasus WorldCom, Arhur Andersen selaku Auditor eksternal tidak menjalankan

tugasnya sesuai dengan prosedur, karena tidak melaporkan laporan temuan audit yang

telah dimanipulasi oleh perusahaan WorldCom

- Adanya hubungan Arthur Andersen dengan Scott D. Sullivan dan Myers yang merupakan

pekerja KAP Arthur Andersen sebelum bergabung dengan WorldCom

- Rekayasa laporan keuangan milyaran dollar AS dapat terealisasi karena dibantu oleh pihak

eksternal Arthur Andersen dan Staff akuntansi perusahaan WorldCom

- Beberapa SPE digunakan untuk menghasilkan keuntungan palsu, menyembunyikan

kerugian, dan mengurangi biaya pada laporan keuangan.

- CEO WorldCom menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya.

xxiv
3.6. Kaitan kasus WorldCom dengan Etika Bisnis:

Dalam kasus WorldCom, jelas terlihat bahwa terjadi suatu tindakan yang melanggar

etika bisnis dimana pihak manajemen dan pemilik WorldCom melakukan suatu itikad bisnis

yang tidak baik. Manajemen WorldCom dengan sengaja memalsukan data keuangan mereka

dengan memasukan US$ 3,9 milyar dollar AS yang merupakan biaya operasi normal ke

dalam pos investasi hanya untuk agar kinerja mereka terlihat bagus yang diharapkan akan

dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya ke perusahaan mereka. Selain

itu, pemilik WorldCom, Ebbers, juga melakukan suatu tindakan yang menyimpang dari

prinsip beretika dalam bisnis. Ia menyalahgunakan wewenangnya sebagai pemilik untuk

memperoleh keuntungan pribadi. Ini tentunya sangat merugikan pihak lain, seperti investor

dan kreditur karena mereka ditipu atas adanya praktik kecurangan yang dilakukan oleh

WorldCom.

Selain itu, KAP Arthut Andersen yang seharusnya melakukan pengungkapan atas

kecurangan yang dilakukan oleh WorldCom, justru bekerjasama dengan manajemen untuk

menutupi kecurangan yang sebenarnya mudah dideteksi keberadaannya. KAP Arthur

Endersen dalam hal ini telah melanggar kode etiknya sebagai akuntan, yaitu bertanggung

jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan. Dalam hal ini, yang

bertanggungjawab dalam kasus ini adalah:

1. Pihak manajemen perusahaan. Pihak manajemen perusahaan dengan sengaja

memalsukan data keuangan mereka dengan memasukan US$ 3,9 milyar dollar AS

yang merupakan biaya operasi normal ke dalam pos investasi hanya untuk agar

kinerja mereka terlihat bagus.

2. Pemilik perusahaan, yaitu Bernard Ebbers. Bernard Ebbers menyalahgunakan

wewenangnya sebagai pemilik untuk memperoleh keuntungan pribadi, dengan

xxv
melakukan pinjaman sebesar US$ 400 juta dan menjadikan saham perusahaan sebagai

jaminannya.

3. Auditor internal perusahaan. Auditor internal perusahaan tidak menggungkapkan

kesalahan paktek-praktek akuntansi dan kecurangan akuntansi yang dilakukan

manajemen perusahaan. Mengingat nilai kapitalisasi yang begitu besar dan

pengaruhnya terhadap nilai pendapatan bersih dan total aktiva, harusnnya praktik ini

bisa diungkap lebih cepat.

4. Auditor eksternal perusahaan, dalam hal ini KAP Arthur Endersen. KAP Arthur

Anderson tahu mengenai salah saji yang dilakukan pihak Worldcom. Karena

seharusnya KAP Arthur Anderson bertugas untuk mengaudit kesalah semacam itu,

apalagi kesalah ini sangat material. KAP Arthur Anderson seharusnya lebih peka

terhadap kondisi keuangan Worldcom, yang dapat mengakibatkan manajemen

perusahaan melakuakan hal diluar kewajaran praktek akuntansi.

BAB III

KESIMPULAN

Perusahaan memerlukan dukungan dari stakeholders seperti pemegang saham,

pegawai, konsumen, kreditur, supplier, pemerintah, dan aktivis untuk dapat mencapai tujuan

jangka panjangnya. Dukungan untuk bisnis secara umum tergantung pada kredibilitas

penempatan stakeholders dalam komitmen perusahaan, reputasi perusahaan, dan kekuatan

dari keunggulan kompetitif perusahaan. Kini, stakeholder menginginkan kegiatan

xxvi
perusahaan akan lebih menghargai kepentingan dan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka,

dalam arti luas perusahaan diminta untuk menentukan sikap etis dalam mencapai kesuksesan.

Faktor-faktornya terdiri dari urusan lingkungan, sensitivitas moral, penilaian buruk dan

aktivis, ekonomi dan tekanan persaingan, skandal keuangan: kesenjangan ekspektasi dan

kesenjangan kredibilitas, kegagalan kepemimpinan dan penilaian resiko, peningkatan

keinginan transparansi dan sinergi semua faktor dan penguatan institusional.

WorldCom dan KAP Arthur Andersen sudah melanggar kode etik yang seharusnya

menjadi pedoman dalam melaksanakan tugasnya dan bukan untuk dilanggar.

a. Pihak manajemen WorlComtelah melakukan berbagaipelanggaran praktik bisnis yang

sehat dan keluar dari prinsip good corporate governance yang pada akhirnya

perusahaan mengalami kehancuran yang tragis

b. KAP Andersen sebagai pihak yang seharusnya menjungjung tinggi independensi, dan

profesionalisme telah melakukan pelanggaran kode etik profesi dan ingkar dari

tanggungjawab terhadap profesi maupun masyarakat dan pada akhirnya

mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Leonard J. 2007. Business & Professional Ethics for Directors, Executives, &

Accountans. Toronto: Thomson South-Western

Duska, Ronald F. and B.S. Duska. 2005. Accounting Ethics. Blackwell Publishing

https://yvesrey.wordpress.com/2011/02/10/kasus-skandal-akuntansi-pada-worldcom/

http://memebali.blogspot.com/2013/03/etika-bisnis-dan-profesi-lingkungan.html

xxvii
TUGAS KELOMPOK
Mata Kuliah: Good Corporate Governance

MAKALAH
INTRODUCTION TO BUSINESS ETHICS

xxviii
Oleh:
Kelompok 4
SRI WAHYUNI ZANRA (1510248102)
WIDIA YULIANTI (1510248121)
YANURIZA(1510248120)
YOCHI LAJOBHI PUTRI (1510248119)
YUANDA KHAN (1510248127)

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS RIAU
2017

xxix
30