Anda di halaman 1dari 5

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

No. /RSMH-SK/DIR/ /2014


TENTANG
KEBIJAKAN TRANSFER INTERNAL DAN SERAH TERIMA PASIEN
DI RUMAH SAKIT
DIREKTUR RUMAH SAKIT

Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan di rumah sakit perlu menjaga


kesinambungan perawatan pasien dan serah terima pasien;
b. bahwa untuk itu rumah sakit perlu memiliki acuan dalam transfer
internal (pemindahan) dan serah terima pasien;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan b di atas, maka
perlu ditetapkan Kebijakan Transfer Internal Dan Serah Terima
Pasien Di Rumah Sakit dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran.
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.
3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
4. Peraturan Direktur Rumah Sakit Nomor
001/RSAB-SK/DIR/VI/2012 tentang Kebijakan Pelayanan Rumah
Sakit
5. Keputusan Direktur PT Bersama Nomor
001/APBM/01/2011 tentang Visi, Misi, Falsafah, Tujuan dan Motto
Rumah Sakit

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT TENTANG
KEBIJAKAN TRANSFER INTERNAL DAN SERAH TERIMA
PASIEN DI RUMAH SAKIT

Kedua : Kebijakan Transfer Internal dan Serah Terima Pasien Di Rumah Sakit
sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.

Ketiga : Memberlakukan Kebijakan yang dimaksud pada Diktum Kedua agar


dapat menjadi acuan bagi staf rumah sakit dalam pelayanan pasien yang
berkesinambungan dan tepat.

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian

1
hari ternyata terdapat kekeliruan di dalam keputusan ini maka akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di :
Pada tanggal :
Direktur RS

2
Lampiran
Keputusan Direktur RS ..
Nomor : 021/RSMH-SK/DIR/II/2015
Tanggal :

KEBIJAKAN TRANSFER INTERNAL DAN SERAH TERIMA PASIEN


DI RUMAH SAKIT

I. KEBIJAKAN UMUM
1. Pasien yang akan ditransfer maka kegawatannya harus diatasi terlebih dahulu di
unit yang akan merujuk.
2. Pasien yang akan dipindahkan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter jaga
atau DPJP dan ditransfer dalam keadaan stabil dan transportable
3. Keputusan untuk pemindahan (transfer) pasien ditentukan oleh DPJP atau dokter
UGD/dokter bangsal
4. DPJP atau dokter UGD/dokter bangsal memberikan penjelasan mengenai alasan
pemindahan pasien sebelum pemindahan dilakukan
5. Sebelum pasien dipindahkan, dipastikan kesiapan ruang penerima pasien dan
kesiapan tenaga medis di ruangan yang dituju
6. Sebelum dan selama proses pasien transfer pasien harus dilakukan observasi yang
meliputi keadaan umum dan tanda vital pasien, pemberian cairan dan obat-obatan
sesuai dengan instruksi dokter dan dicatat di rekam medis pasien berikut jam
periksa. Interval observasi ditentukan oleh dokter/DPJP sesuai kondisi pasien.
Pendampingan pasien selama proses pemindahan (transfer) dan serah terima
dilakukan perawat dan atau dokter sesuai kebutuhan pasien
7. Untuk mendampingi pasien disiapkan tenaga medis yang kompeten dan
dilengkapi dengan peralatan sesuai dengan kebutuhan dan harus mengantisipasi
kemungkinan risiko yang terjadi selama transfer dan mempersiapkan peralatan
sesuai dengan risiko yang diperkirakan terjadi misalnya :
a. Pasien-pasien yang memerlukan pemantauan tanda vital secara
berkesinambungan (EKG, tekanan darah, saturasi oksigen) dan peralatan
resusitasi lengkap termasuk defibrilator perlu mendapat perhatian khusus.
DPJP atau dokter jaga wajib melakukan pendampingan.
b. Perawat wajib melakukan pendampingan transfer pasien jika pasien mendapat
transfusi darah, terapi obat kewaspadaan tinggi, pasien dengan masalah irama
jantung.

8. Serah terima dapat menggunakan metode SOAP untuk memberikan dan menerima
informasi:
o Subjective (Keluhan Subjektif): Keluhan Utama dan riwayat penyakit, dll

3
o Objective (Objektif): Keadaan umum dan tanda vital
o Assessment (Pengkajian): Pengkajian dokter
o Planning (Terapi): terapi dan rencana tindakan
9. Petugas dari unit yang mentransfer pasien harus melakukan serah terimab
Formulir Pemindahan pasien Antar Ruangan, hasil pemeriksaan, status rekam
medis pasien kepada petugas di ruangan penerima pasien.
10. Setelah pasien di ruangan harus diperiksa kembali keadaan umum tanda vital
pasien dan dicatat di catatan integrasi berikut jam periksa oleh perawat ruangan
yang dituju.

II. KEBIJAKAN KHUSUS PROSES TRANSFER INTERNAL DI DALAM


RUMAH SAKIT

1. SEBELUM TRANSFER
1.1 Memastikan bahwa kamar tersedia dan kesiapan petugas di ruang penerima
pasien yang dituju
1.2 Menyiapkan peralatan yang diperlukan saat pemindahan (transfer) pasien
seperti peralatan : Nierbekken, standar infus, tabung oksigen, underpad, baju
pasien, dan lain-lain
1.3 Menginformasikan kondisi pasien, hasil pemeriksaan penunjang, dan alat yang
dibutuhkan kepada petugas di ruang penerima pasien
1.4 Memastikan administrasi dan dokumentasi sudah selesai dan lengkap seperti
file rekam medis, obat pasien, hasil pemeriksaan penunjang, dan lain-lain

2. SELAMA TRANSFER
2.1 Mengantisipasi risiko kemungkinan terjadi selama proses pemindahan (transfer)
dan mempersiapkan peralatan sesuai dengan risiko yang diperkirakan terjadi
misalnya :
Pasien tiba-tiba apnoe
Pasien muntah
Pasien kejang
Resiko terjadi hal lain selama perawatan (decubitus )

2.2. Melakukan observasi keadaan umum dan tanda vital pasien secara teratur
sesuai keadaan pasien.

4
3. SESUDAH TRANSFER
3.1 Melakukan follow up tentang kondisi pasien ke ruangan tempat pasien
ditransfer
3.2 Melakukan follow up kondisi pasien setelah operasi

Direktur RS