Anda di halaman 1dari 11

TUBERKULOSIS

A. Definisi
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura (selaput paru) (PDPI, 2006).
B. Etiologi
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini termasuk kedalam kelompok
Bakteri Tahan Asam (BTA). Secara umum sifat kuman TB adalah kuman
yang tahan terhadap suhu rendah, peka terhadap panas, peka terhadap sinar
matahari, peka terhadap sinar ultraviolet, dan dapat bersifat dorman (PDPI,
2006).
C. Patofisiologi
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang
di jaringan paru. Penularan TB dapat terjadi melalui beberapa hal berikut
(Depkes RI, 2014; PDPI, 2006):
1. Dapat menular melalui percik dahak yang dikeluarkan melalui batuk atau
bersin dan terhirup.
2. Pasien dengan BTA negatif belum tentu tidak terdapat kuman didalam
dahaknya, sehingga masih dapat menularkan kuman TB.
TB dapat terjadi dalam 4 tahapan perjalanan alamiah penyakit sebagai berikut:
1. Paparan
Terdapat paparan dari pasien TB ke orang sehat.
2. Infeksi
Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi setelah 6 14 minggu setelah
infeksi. Reaksi imun lokal terjadi ketika kuman masuk ke alveoli dan di
tangkap oleh makrofag. Rekasi imun umum terjadi dengan tanda tes
tuberkulin positif.
Ketika pasien dengan TB dinyatakan sembuh, hal ini belum tentu semua
kuman sudah hilang. Masih terdapat kemungkinan kuman TB dorman
dan suatu saat akan aktif kembali.
3. Sakit TB
Pasien dengan faktor risiko menghirup kuman dalam jumlah yang
banyak, paparan yang lama, usia paparan, dan daya tahan tubuh yang
menurun dapat meningkatkan kejadian TB.
4. Meninggal dunia
D. Diagnosis
Pedoman Nasional TB (2014) menyatakan, tahapan awal untuk
menjaring orang dengan kecurigaan TB dapat dilihat dari gejala utama berupa
batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk juga dapat disertai gejala
tambahan dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan terasa
lemas, nafsu makan menurun, penurunan berat badan, malaise, berkeringat di
malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Jika
seseorang hanya mengalami gejala utama dan gejala tambahan tersebut, maka
kecurigaan TB dapat ditegakan sehingga evaluasi riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik dan penunjang harus dilakukan (Kemenkes RI, 2014).
Pemeriksaan fisik yang ditemukan pada pasien TB tergantung dari
organ yang terlibat. Pada pasien dengan TB paru, temuan pemeriksaan fisik
ditentukan juga oleh luas kelainan struktur paru. Awalnya mungkin tidak
didapatkan kelainan pada pemeriksaan fisik, biasanya kelaian pada awal
perkembangan penyakit terdapat pada daerah lobus superior terutama daerah
apex dan segmen posterior. Pada auskultasi paru dapat ditemukan suara nafas
bronkial, amforik, suara nafas melemah, dan ronki basah. Pasien dengan
pleuritis TB mungkin didapatkan adanya efusi pada rongga pleura, sehingga
pada perkusi ditemukan pekak. Pasien dengan limfadenitis TB dapat terlihat
pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher dan ketiak (Depkes RI,
2014; PDPI, 2006).
a. Pemeriksaan bakteriologis
1) Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
potensi penularan dan menilai keberhasilan terapi. Pemeriksaan
dilakukan dengan mengumpulkan sampel uji dahak 3 kali dalam dua
hari kunjugan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
(PDPI, 2006):
a) Sewaktu
Dahak yang ditampung pada saat pasien TB berkunjung ke
fasilitas kesehatan. Lalu pasien membawa dua pot dahak kerumah.
b) Pagi
Dahak yang ditampung pada pagi hari kedua setelah kunjungan ke
fasilitas kesehatan.
c) Sewaktu
Dahak yang ditampung pada saat pasien TB menyerahkan dahak
pagi pada hari kedua kunjungan ke fasilitas kesehatan .
2) Pemeriksaan biakan dahak
Pemeriksaan biakan bertujuan untuk mengidentifikasi M.tuberculosis
dan menegakkan diagnosis pasti TB pada pasien TB ekstra paru, TB
anak, atau pemeriksan dahak dengan hasil BTA negatif.
b. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan yang biasanya digunakan adalah pemeriksaan foto thorax PA
dengan atau tanpa foto lateral. Gambaran radiologi dengan kecurigaan TB
aktif adalah (PDPI, 2006):
1) Bayangan berawan atau nodular di segmen apikal dan posterior lobus
superior paru dan segmen superior lobus inferior paru
2) Kavitas labih dari satu dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular
3) Bayangan bercak milier
4) Efusi pleura unilateral
Sedangkan pada TB inaktif terdapat gambaran
1) Fibrotik pada segmen apikal superior dan atau posterior lobus superior
2) Kalsifikasi atau fibrotik
3) Fibrotoraks
Pada saat melihat hasil radiologi foto thorax pasien TB penentuan luas
lesi harus dilakukan terutama pada pasien dengan BTA dahak negatif.
Penetuan lesi dapat dibagi menjadi dua yaitu
a) Lesi minimal
Lesi mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak
melebihi dari volume paru yang terletak diatas chondrosternal
junction dari iga kedua depan dan processus spinosus dari vertebrae
torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5 atau sela iga 2 dan tidak
didapatkan kavitas.
b) Lesi luas
Luas lesi melebihi lesi minimal
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan pada pasien dengan kecurigaan TB
yaitu (PDPI, 2006):
a. Polymerase chain reaction (PCR)
b. Serologi
c. BACTEC
d. Cairan pleura
e. Histopatologi jaringan
f. Pemeriksaan darah
g. Uji tuberkulin
Gambar 1.1 Alur diagnosis dan tindak lanjut TB paru pad apasien dewasa
(Depkes RI, 2014).
E. Tatalaksana
a. Tahap awal
Pengobatan diberikan setiap hari. Tahap ini bertujuan untuk menurunkan
jumlah kuman secara efektif dan meminimalisir pengaruh kuman yang
mungkin resisten. Tahap ini dilakukan sealma 2 bulan. Biasanya setelah
melewati tahap awal secara teratur daya penularan pasien TB akan menurun
setelah 2 minggu tahap awal.
b. Tahap lanjutan
Tahap ini berfungsi untuk membunuh sisa kuman yang masih ada didalam
tubuh khususnya kuman peristen agar tidak terjadi kekambuhan.
1. Obat anti tuberkulosis (OAT) (Depkes RI, 2014).

Tabel 2.1 OAT lini pertama (Depkes RI, 2014).

Tabel 2.2 Dosis OAT lini pertama (Depkes RI, 2014).


Tabel 2.3 OAT pada TB MDR (Depkes RI, 2014).

2. Panduan OAT lini pertama


a. Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3
OAT dapat berupa kombinasi dosis tetap (OAT-KDT) yang terdiri dari
kombinasi 2 atau 4 jenis obat. Dosis disesuaikan dengan berat badan pasien.
Selain OAT-KDT, obat dapat berupa paket kombipak yang merupakan obat
lepas yang terdiri dari isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol
yang dikemas dalam bentuk blister. OAT kategori 1 diberikan kepada
pasien:
1) TB paru terkonfirmasi bakteriologis
2) TB paru terdiagnosis klinis
3) TB ekstra paru
Tabel 2.4 Dosis OAT-KDT kategori 1 (Depkes RI, 2014).

Tabel 2.5 Dosis Kombipak kategori 1 (Depkes RI, 2014).


b. Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
OAT kategori 2 diberikan kepada pasien:
1) Pasien kambuh
2) Pasien gagal pada pengobatan dengan panduan OAT kategori 1
3) Putus berobat

Tabel 2.6 Dosis OAT-KDT kategori 2 (Depkes RI, 2014).

Tabel 2.7 Dosis Kombipak kategori 2


c. Kategori anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4-10 hari
F. Prognosis
Resolusi penuh umumnya diharapkan dalam kasus-kasus non-MDR-
dan non-XDR-TB,
ketika pengobatan dengan obat anti TB telah selesai. Dari penelitianpenelitia
n yang diterbitkan yang melibatkan DOT sebagai strategi pengobatan TB,
tingkat kekambuhan 0-14 %. D i negara-negara dengan tingkat TB
yang rendah, kekambuhan biasanya terjadi dalam waktu
12 bulan setelah pengobatan TB selesai. Di negara dengan tingkat TB yang le
bih tinggi, sebagian besar kambuh setelah pengobatan yang tepat,
yang terjadi lebih banyak adalah kasusrein&eksi daripada kasus
kekambuhan.

Prognosis yang buruk ditandai dengan adanya keterlibatan TB


ekstrapulmoner, pada orang tua, dan riwayat pengobatan sebelumnya
yang buruk. Untuk kasus dengan resistensi obat, pasien dengan
resistensi hanya rifampisin mempunyai prognosis yang lebih baik
daripada kasus MDR-TB tetapi mempunyai risiko yang lebih tinggi terjadi
kegagalan pengobatan.

Departemen Kesehatan RI. 2014. Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter: di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Depkes RI.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2006. Tuberkulosis: Pedoman


Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta : Indah Offset Citra
Grafika.
Efusi Pleura
A. Definisi
Efusi Pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang plaural yang terjadi
karena proses penyakit primer dan dapat juga terjadi karena penyakit sekunder
akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih yang merupakan
transudat, dan berupa pus atau darah (Baughman, 2000)
B. Etiologi
Menurut Hudak dan Gallo (1998 : 562) penyebab efusi pleura adalah
1. Peningkatan tekanan negatif intra pleura
2. Penurunan tekanan osmotik koloid darah
3. Peningkatan tekanan kapiler subpleural
4. Ada inflamasi atau neoplastik
C. Patofisiologi

Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan dalam rongga


pleura berfungsi untuk melicinkan kedua pleura viseralis dan pleura parietalis
yang saling bergerak karena pernapasan. Dalam keadaan normal juga
selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pleura
parietalis dan diabsorpsi oleh kapilerdan saluran limfe pleura viseralis dengan
kecepatan yang seimbang dengan kecepatan pembentukannya . Gangguan
yang menyangkut proses penyerapan dan bertambahnya
kecepatan proses pembentukan cairan pleura akan menimbulkan penimbunan
cairan secara patologik di dalam rongga pleura. Mekanisme yang berhubunga
n dengan terjadinyaefusi pleura yaitu

1. Kenaikan tekanan hidrostatik dan penurunan tekan onkotik pada


sirkulasikapiler
2. Penurunan tekanan kavum pleura
3. Kenaikan permeabilitas kapiler dan penurunan aliran limfe dari
rongga pleura.
D. Diagnosis
Adapun beberapa pemeriksaan yang menunjang adanya efusi pleura adalah :
1. Foto Rontgen
Foto thorax dapat mengetahui adanya cairan dalam cavum plaura
walaupun cairan masih sedikit pada efusi pleura ringan.
2. Ultra Sonografi
Untuk mengetahui lokasi cairan untuk tujuan pungsi.
3. Torakosintesis
Suatu tindakan pengambilan cairan plaura untuk membedakan cairan
tersebut transudat, eksudat, atau pas.
E. Tatalaksana
Efusi pleura besar-besaran yang disebabkan kanker pada umumnya
merupakan stadium lanjut dari suatu keganasan dan perawatan terhadap
keganasan pada stadium ini biasanya tidak memberikan hasil yang baik.
Oleh karena itu, penanganan efusi pleura oleh karena kanker atau keganasan
hampir selalu bersifat paliatif yang bertujuan untuk meringankan gejala-gejala
dan mencegah pembentukan cairan pleura. Pengobatan terhadap kanker
primer dapat diberikan apabila diketahui lokasi serta tersedia terapi dan
pengobatan untuk tumor tersebut.
Penanganan paliatif pada efusi pleura akibat keganasan dapat berupa aspirasi
cairan, pleurodesis, dan ataupun pembedahan. Tujuan tindakan ini adalah
untuk mengurangi serta mencegah penimbunan kembali cairan pleural,
menghindari komplikasi akibat efusi pleura, dan mengembalikan fungsi
normal pleura dan paru-paru