Anda di halaman 1dari 12

Tulisan Perantau

karena ucapan kadang terlupakan.

Friday, February 24, 2017

Teknik Produksi : Well Completion


Setelah pemboran telah mencapai formasi yang merupakan terget terakhir dan
pemboran telah selesai, maka sumur perlu dipersiapkan untuk diproduksikan.
Persiapan atau penyempurnaan sumur untuk diproduksikan ini disebut dengan
komplesi sumur atau well completion. Pada well completion, dilakukan pemasangan
alat-alat dan perforasi apabila diperlukan dalam usahanya untuk mengalirkan
hidrokarbon ke permukaan. Tujuannya adalah untuk menyerap hidrokarbon secara
optimal. Komplesi sumur meliputi bagian tahapan operasi produksi, yaitu :

1. Tahap pemasangan dan penyemenan pipa selubung produksi (production casing)


2. Tahap perforasi dan/atau pemasangan pipa liner.
3. Tahap penimbaan (swabbing) sumur.

1. Jenis-jenis Well Completion


Well completion berdasarkan fungsi dan tujuannya dapat dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu formation completion, tubing completion dan well head completion.

1.1. Formation Completion


Metode formation (down hole) completion dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu open
hole completion, perfarated casing completion dan sand exclusion types.

1.1.1. Open Hole Completion


Metode ini merupakan metode yang sederhana dimana casing dipasang hanya sampai
puncak formasi produktif sehingga formasi produktif tidak tertutup secara mekanis.
Dengan demikian aliran fluida reservoir dapat langsung masuk ke dalam sumur tanpa
halangan. Metode ini hanya cocok digunakan pada formasi yang kompak atau tidak
mudah runtuh. Bila laju produksi besar maka produksi dilakukan melalui casing
sedangkan untuk laju produksi kecil produksi dilakukan melalui tubing.
Penggunaan metode open hole completion memiliki beberapa keuntungan diantaranya
adalah Fluida mengalir ke lubang sumur dengan diameter penuh dan tanpa hambatan,
sehingga dengan cara ini umumnya dapat diperoleh laju produksi yang lebih besar
dibandingkan dengan cara lain. Memperkecil kemungkinan terjadinya kerusakan
formasi (formation damage). Interpretasi log yang dilakukan memberikan hasil yang
cukup baik, dan mudah ditambah kedalaman bila diperlukan serta mudah ditambah
secara liner atau perforated completion.
Sedangkan kerugiannya adalah sukar dilakukan pengontrolan terdapat produksi air atau
gas, dan sukar melakukan stimulasi pada interval produksi bila diperlukan suatu
selective stimulation. Harus sering dibersihkan pada interval formasi produktifnya,
terutama bila formasinya kurang kompak, serta pemasangan casing dilakukan dengan
coba-coba sebelum pemboran terhadap formasi produktif.

1.1.2. Perforated Casing Completion


Dalam metode ini casing produksi dipasang sampai dasar formasi produktif dan
disemen. Selanjutnya lubang diperforasi pada interval-interval yang diinginkan. Dengan
adanya casing maka formasi yang mudah gugur dapat ditahan. Perforated casing
completion umumnya digunakan pada formasi-formasi dengan faktor sementasi (m)
sebesar 1,4.
Adapun keuntungan dalam penggunaan metode ini adalah dapat mengontrol air dan
gas berlebihan, stimulasi dan treatment dapat dilakukan lebih selektif. Kemudian akan
mudah untuk menambah kedalaman jika diperlukan. Casing produksi yang dipasang
hingga dasar formasi akan menghalangi masuknya pasir, komplesi tambahan dapat
dilakukan sesuai dengan teknik pengontrolan pasir yang dikehendaki, serta dapat
disesuaikan dengan semua kongurasi multiple completion. Sedangkan kerugiannya
adalah memerlukan biaya perforasi yang besar, interpretasi log kritis, dan kemungkinan
terjadinya kerusakan formasi lebih besar.

Open dan Cased Hole Completion, via DrillingFormulas.com

1.1.3. Sand Exclusion Type Completion


Metode ini digunakan untuk mencegah terproduksinya pasir dari formasi produktif yang
kurang kompak. Metode yang umum digunakan untuk menanggulangi masalah
kepasiran adalah liner completion, gravel pack completion dan sand consolidation.
Metode pertama adalah Liner Completion biasa digunakan untuk formasi
produktif dengan faktor sementasi antara 1,4 sampai 1,7. Liner completion dapat
dibedakan menjadi dua berdasarkan cara pemasangannya, yaitu screen liner
completion dan perforated liner completion.

Pada metode Screen Liner Completion, casing dipasang sampai puncak


dari lapisan atau zona produktif. Kemudian liner dipasang pada formasi
produktif sehingga pasir yang ikut aliran produksi tertahan oleh screen
tersebut.. Dalam screen liner completion, dijumpai beberapa macam jenis
screen liner yang dapat digunakan, yaitu slotted screen liner, wire wrapped
screen liner dan prepack screen liner.

Sedangkan dalam metode Perforated Liner Completion, casing dipasang di


atas zona produktif, kemudian zona produktif dibor dan dipasang casing
liner dan disemen. Selanjutnya liner diperforasi untuk produksi.

Metode kedua adalah metode Gravel Pack Completion. Metode ini dilakukan bila
screen liner masih tidak mampu menahan terproduksinya pasir. Caranya adalah
dengan menginjeksikan sejumlah gravel dan fomasi produktif disekeliling
casingnya hingga fluida akan tertahan oleh pasir yang membentuk barrier di
belakang gravel dan gravel ditahan oleh screen. Dari keadaan lubang sumur
ketika gravel pack ini dipasangkan, pemasangannya dibagi menjadi eksternal dan
internal.

Gravel Pack, via petrowiki.org

External gravel pack, adalah jenis gravel pack yang diterapkan pada kondisi
open hole. Open hole (external) gravel pack akan sesuai untuk diterapkan
pada sumur yang indeks produktivitasnya tidak mengalami penurunan yang
besar selama produksi.
Internal gravel pack, adalah jenis gravel pack yang diterapkan pada kondisi
lubang bor dalam keadaan tercasing dan terperforasi. Faktor utama yang
harus diperhatikan dalam cased hole gravel pack ini adalah dilakukan
pembersihan lubang perforasi dengan menggunakan fluida komplesi
sebelum gravel dimasukkan ke dalam lubang sumur atau formasi, hal ini
dapat mencegah terjadinya sumbatan pada alur maupun lubang perforasi.
Metode cased hole (internal) gravel pack dapat diterapkan pada dua situasi
:

Formasi dengan internal produksi yang panjang, dimana penempatan


pasir (sand) consolidation tidak dapat diterapkan.
Formasi yang berlapis-lapis, dimana produksi diharapkan dapat
dilakukan melalui satu rangkaian pipa produksi.

Metode terakhir dari tipe komplesi Sand Exclusion adalah Sand Consolidation,
dimana masalah kepasiran juga terjadi di dalam komplesi formasi yang secara
alamiah tidak terkonsolidasi. Dalam hal ini para ahli mencoba untuk
meningkatkan pengontrolan pasir dengan melakukan konsolidasi batuan. Cara ini
dikenal dengan sand consolidation. Metode ini umumnya dilakukan pada lapisan
tipis berbutir relatif besar, permeabilitas seragam (uniform) dan clean sand.
Prinsip dari metode ini adalah menginjeksikan bahan kimia ke dalam lapisan
pasir sehingga butiran pasir yang terlepas menjadi tersemen. Bahan kimia yang
umum digunakan adalah epoxy resin, furun dan phenol formaldehyde.

1.2. Tubing Completion


Penentuan jenis tubing completion terutama didasarkan atas jumlah tubing yang akan
digunakan dimana hal ini erat hubungannya dengan jumlah atau zone produktif yang
dimiliki serta produktivitas formasinya. Tubing completion dapat dibedakan menjadi
tiga jenis yang didasarkan jumlah production string (pipa produksi) yang
digunakan dalam satu sumur. Jenis-jenis tersebut adalah : single completion,
comingle completion, multiple completion.

1.2.1. Single Completion


Merupakan metode produksi yang hanya menggunakan satu pipa produksi dimana
sumurnya hanya memiliki satu zone produktif. Berdasarkan kondisi reservoir dan
lapisan batuan produktifnya, single completion dibedakan menjadi dua jenis, yaitu open
hole dan perforated completion. Open Hole Completion merupakan cara komplesi yang
dilakukan bila formasinya cukup kompak. Sedangkan Perforated Completion, yaitu cara
komplesi yang dilakukan bila formasinya kurang kompak dan bila diselingi lapisan-
palisan tipis dari air atau gas.

1.2.2. Commingle Completion


Metode jenis ini dilakukan pada sumur yang mempunyai reservoir berlapis atau memilki
lebih dari satu zone lapisan produktif. Metode ini dapat diterapkan dengan syarat tidak
menimbulkan interflow antara lapisan produktif. Macam-macam commingle completion
dapat digolongkan pada beberapa jenis sebagai berikut :

1. Single tubing dengan single packer, merupakan cara produksi yang dipakai untuk
sumur yang mempunyai dua lapisan produktif, dimana dua lapisan produktif
tersebut dibatasi oleh packer. Fluida produksi dari lapisan bawah diproduksikan
melalui tubing, sedangkan untuk lapisan di atasnya diproduksikan melalui annulus
antara tubing dan casing. Jenis komplesi ini diterapkan untuk sumur yang
produktivitasnya rendah. Keuntungan metode ini terutama adalah biaya ringan
karena hanya menggunakan satu tubing. Sedangkan kerugiannya hanya lapisan
bawah yang dapat dilakukan pengangkatan buatan bila nanti diperlukan,
production casing tidak terlindungi dari tekanan sumur dan fluida korosif, endapan-
endapan solid dari lapisan di atasnya dapat merusak tubing string, dan diperlukan
untuk mematikan lapisan bawah bila akan dilakukan work over (kerja ulang) pada
lapisan tersebut.
2. Single Tubing dengan Dual Packer dan Tubing. Pada komplesi ini diinginkan untuk
memproduksikan fluida formasi bagian atas melalui dalam tubing dengan bantuan
croos over atau dengan regulator flow choke. Sedangkan untuk fluida formasi dari
bawah diproduksikan malalui tubing itu juga, dan kemudian melalui annulus tubing
dan casing.Komplesi jenis ini akan lebih murah jika dibandingkan dengan multiple
completion tapi cukup menimbulkan kesulitan bila terjadi gangguan pada salah
satu lapisan produktifnya harus mematikan lapisan yang lain untuk melakukan
kerja ulang. Dalam hal perencanaan pamakaian tubing juga mendasarkan pada
cara single completion, hanya perlu dipertimbangkan produktivitas lapisan secara
keseluruhan untuk mendapatkan kapasitas tubing yang sesuai. Komplesi ini dapat
dipasang pada packer dibagian bawah untuk memisahkan aliaran fluida masing-
masing lapisan.

1.2.3. Multiple Completion


Multiple completion merupakan metode komplesi yang digunakan untuk sumur yang
mempunyai lapisan lebih dari satu zone produktif. Dimana setiap lapisan produktif
tersebut diproduksikan sendiri-sendiri secara terpisah sesuai dengan produktivitas
masing-masing. Metode komplesi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai
berikut :

1. Two Packer-two Tubing Strings paralel Dual Completion, Metode komplesi jenis
ini, fluida dialirkan melalui dua tubing yang terpisahkan oleh dua packer. Dengan
demikian masalah kepasiran dan articial lift dapat diselesaikan dengan baik, akan
tetapi biaya komplesinya menjadi mahal, dikarenakan setiap lapisan mempunyai
komplesi sendiri-sendiri.
2. Dual Well with Two Alternated Completion, Metode ini didasarkan letak kedua
lapisan produktif yang akan diplilh untuk diselesaikan, maka dapat diproduksikan
melalui rangkaian tubing yang panjang atau yang pendek.
3. Triple Completion-Three Zones, Two Paker or Three Packer and Twoor Three Tubing
Strings, Komplesi jenis ini diselesaikan dengan dua atau tiga tubing dan dua atau
tiga packer. Dengan cara ini dapat menghasilkan total produksi harian yang tinggi
tiap lubang sumur dan pada umumnya dapat memperbaiki ongkos yang telah
dikeluarkan. Tetapi komplesi ini sulit untuk dipasang dan mudah dikenai problem
komunikasi antar lapisan.
4. Multiple Packer Completion, Jenis komplesi ini memisahkan aliran fluida dari
masing-masing zona yang dilakukan dengan memakai packer. Kelemahan metode
ini adalah articial lift sulit diterapkan dan workover tidak mudah dilakukan.
5. Multiple Tubingless Completion, Sistem komplesi ini tidak memakai production
tubing, tetapi menggunakan casing berukuran kecil, biasanya berukuran 27/8.
Metode ini sesuai untuk sumur-sumur yang mempunyai masa produksi relatif
panjang, adanya masalah fracturing, acidizing, sand control dan masalah lain yang
memerlukan stimulasi atau treatment. Untuk sumur yang menghasilkan fluida
bersifat korosif, cara ini tidak cocok karena casing produksi disemen secara
permanen.

Multiple Zone Completion, via DrillingFormulas.com

1.3. Wellhead Completion


Wellhead atau kepala sumur adalah suatu istilah yang digunakan untuk menguraikan
peralatan yang terpaut pada bagian atas dari rangkaian pipa didalam suatu sumur
untuk menahan dan menopang rangkaian pipa, menyekat daripada masing-masing
casing dan tubing serta untuk mengontrol produksi sumur. Komponen-komponen
utama dari wellhead terdiri dari casing head, tubing head dan christmas tree.

1.3.1. Casing Head


Casing head disebut juga sebagai landing base, digunakan untuk menahan casing
berikutnya yang lebih kecil, memberikan suatu hubungan dengan annulus dan sebagai
landasan dari BOP. Casing head dapat dibagi menjadi dua, yaitu lower casing head dan
intermediate casing head.

Casing Head, via FMCTechnologies.com


Lower casing head, merupakan casing head paling bawah yang berpaut dengan
bagian atas surface casing serta menyekat annulus antara rangkaian casing.

Intermediate Casing Head, disebut juga sebagai casing head spool, yang
berfungsi untuk menahan casing berikutnya yang lebih kecil dan memberikan
suatu hubungan dengan annulus antara kedua casing.

1.3.2. Tubing Head


Tubing head ditempatkan diatas casing head dan berfungsi untuk menggantungkan
tubing string dan memberikan suatu pack off antara tubing string dan production string.
Disamping itu juga memberikan hubungan annulus casing dan tubing melalui outlet
samping. Pemilihan tubing head untuk single completion maupun untuk multiple
completion didasarkan pada perencanaan mangkuk tubingnya (tempat
menggantungnya tubing hanger). Fungsi utama dari tubing head adalah :

1. Sebagai penyokong (support) rangkaian tubing.


2. Menutup ruang antara casing dan tubing.
3. Cairan dan gas dapat dikontrol dengan adanya connection diatas permukaan

Tubinh Head, via www.diytrade.com

Adapun bagian-bagian dari peralatan tubing head adalah sebagai berikut :

1. Top flange, disini dilengkapi dengan locksrew yang berfungsi untuk menahan
tubing hanger pada tempatnya dan memberikan tekanan pada tubing hanger seal
dan seal annulus.
2. Tubing hanger, fungsinya untuk menggantung tubing dan memberikan penyekat
antara tubing dengan tubing head.
3. Outlet, merupakan saluran keluar yang jumlahnya bisa satu atau dua buah.
4. Lower flange, merupakan tempat untuk memasang bit guide dan secondary seal.
1.3.3. Christmas-tree
Christmas-tree atau X-mas tree merupakan suatu susunan dari katup-katup (valve) dan
tting yang ditempatkan di atas tubing head untuk mengatur sarta mengalirkan fluida
dari sumur. Chistmas-tree dibuat dari baja berkualitas tinggi, sehingga di samping
mampu menahan tekanan tinggi, juga mampu menahan aliran air formasi yang bersifat
korosif yang mengalir bersama-sama minyak atau dapat menahan pengikisan yang
disebabkan oleh pasir yang terbawa oleh aliran fluida formasi. Komponen-komponen
yang terdapat di christmas-tree adalah :
Mastre gate, berfungsi untuk menutup sumur bila diperlukan dan untuk sumur
tekanan tinggi, biasanya dipasang dua buah.

Wing valve, digunakan untuk membuka dan menutup dari aliran bercabang.

Manometer, berfungsi untuk mengukur tekanan casing (Pc) dan tekanan tubing
(Pt)

Choke, berfungsi untuk menahan sebagian aliran fluida sehingga produksi fluida
formasi diatur menurut kebutuhan

X-mass tree, via SAPWELLSGLOBAL.com

Choke
Choke atau beam (jepitan) digunakan pada sumur-sumur sembur alam (natural flow
atau flowing well) dan pada sumur gas lift, yaitu pada inlet gas injeksinya. Fungsinya
untuk mengontrol atau mengatur produksi minyak dan gas dari sumur tersebut. Choke
ini terbuat dari besi baja berkualitas tinggi supaya dapat menahan kikisan pasir serta
fluida yang korosif. Ada dua macam choke yang terkenal dalam industri minyak dan
gasbumi, yaitu positive choke dan adjustable choke.
Positive choke terbuat dari besi baja pejal, dimana pada bagian dalamnya
terdapat lubang dengan ukuran tertentu (orice), dimana minyak atau gas dapat
mengalir didalamnya. Karena aliran fluida melalui choke ini, maka akan terjadi
penurunan tekanan yang besarnya tergantung pada besarnya diameter orice dari
choke tersebut. Positive choke ini hanya mempunyai satu ukuran orice untuk
setiap choke (xed orice).

Adjustable Choke, untuk mencegah penutupan sumur sewaktu mengganti ukuran


choke atau perubahan laju produksi, maka lebih praktis memakai adjustable
choke, yaitu dengan memutar handweel yang akan menaik-turunkan stem tip
menjauhi/medekati removable seat, dimana ini berarti
memperbesar/memperkecil ukuran orice. Di sini fluida harus mengalir
mengelilingi stem tip terlebih dahulu, sehingga aliran akan lebih bersifat turbulen,
sehingga ini akan memperbesar kemungkinan terjadinya sumbatan (plug) pada
orice oleh pasir atau padatan-padatan lainnya. Karena sifat dan konstruksinya
ini, maka jenis choke ini sangat sesuai pemakaiannya bila kita harus sering
mengubah-ubah laju produksi.
Seringkali, positive dan adjustable choke mempunyai choke body yang sama, sehingga
choke dapat diganti dari adjustable ke positive atau sebaliknya, tanpa melepas choke
body dari X-mas tree.

2. Tahap Perforasi
Pembuatan lubang menembus casing dan semen sehingga terjadi komunikasi antara
formasi dengan sumur yang mengakibatkan fluida formasi dapat mengalir ke dalam
sumur disebut dengan perforasi. Alat untuk melakukan perforasi disebut dengan
perforator. Perforator dibedakan atas dua tipe yakni Bullet/Gun perforator dan Shape
charge/Jet perforator.

Gambaran proses perforasi, via Halliburton.com

a. Bullet / Gun perforator


Komponen utama dari bullet perforator meliputi fluida seal disk, gun barrel, gun body,
bullet, thread sell, shear disk, powder centrifuge, contact-pin assembly, back contact
spring, dan electrick wire.
Fluida seal disk berfungsi menahan masuknya fluida sumur ke dalam alat dimana dapat
melemahkan kekuatan membakar powder. Gun body terdiri dari silinder besi panjang
yang dilengkapi dengan suatu alat kontrol untuk penembakan dimana barrel
disekrupkan dan juga untuk menempatkan sumbu (igniter) dan propelant dengan shear
disk didasarnya, untuk memegang bullet ditempatnya sampai tekanan maksimum
tercapai karena terbakarnya powder. Sedangkan Electric Wire merupakan kawat listrik
yang meneruskan arus untuk pengontrolan pembakaran powder charge.
Prinsip kerja bullet perforator adalah susunan gun yang sudah ditempatkan dengan
interval tertentu diturunkan kedalam sumur dengan menggunakan kawat (electric wire-
line cable) dimana kerja gun dikontrol dari permukaan melalui wireline untuk
melepaskan peluru (penembakan) baik secara sendiri maupun serentak. Karena arus
listrik melalui wireline timbul pembakaran pada propelant dalam centrifuge-tube
sehingga terjadi ledakan yang melontarkan bullet dengan kecepatan tinggi.

b. Jet Perforator
Prinsip kerja jet perforator berbeda dengan gun perforator, bukannya gaya powder yang
melepas bullet tetapi powder yang eksplosif diarahkan oleh bentuk powder chargenya
menjadi suatu arus yang berkekuatan tinggi yang dapat menembus casing, semen, dan
formasi.

2.1.Kondisi Kerja Perforasi


2.1.1. Conventional Overbalance
Merupakan kondisi kerja di dalam sumur dimana tekanan formasi dikontrol oleh
fluida/lumpur komplesi atau dengan kata lain bahwa tekanan hidrostatik lumpur (Ph)
lebih besar dibandingkan tekanan formasi (Pf), sehingga memungkinkan dilakukan
perforasi, pemasangan tubing dan perlengkapan sumur lainnya. Cara overbalance ini,
umumnya digunakan pada :

1. Komplesi multizona.
2. Komplesi gravel-pack (cased-hole).
3. Komplesi dengan menggunakan liner.
4. Komplesi pada casing intermidiate.

Masalah/problem yang sering timbul dengan teknik overbalance ini adalah :

1. Terjadinya kerusakan formasi (damage) yang lebih besar, akibat reaksi antara
lumpur komplesi dengan mineral-mineral batuan formasi.
2. Penyumbatan oleh bullet/charge dan runtuhan batuan.
3. Sulit mengontrol terjadinya mud-loss dan atau kick.
4. Clean-up sukar dilakukan.

2.1.2. Underbalance
Merupakan kebalikan dari overbalance, dimana tekanan hidrostatik lumpur komplesi
lebih kecil dibandingkan tekanan formasi. Cara ini sangat cocok digunakan untuk
formasi yang sensitif/reaktif dan umumnya lebih baik dibandingkan overbalance,
karena :

1. Dengan Ph < Pf, memungkinkan terjadinya aliran balik : dari formasi ke sumur,
sehingga hancuran hasil perforasi (debris) dapat segera terangkat keluar dan tidak
menyumbat hasil perforasi.
2. Tidak memungkinkan terjadinya mud-loss dan skin akibat reaksi antara lumpur
dengan mineral batuan.
3. Clean-up lebih cepat dan efektif.

2.2.Teknik/Cara Perforasi
Berdasarkan cara menurunkan gun ke dalam sumur, ada dua teknik perforasi, yaitu
dengan wireline (wireline conveyed perforation) dan dengan tubing (tubing conveyed
perforation).

2.2.1. Wireline Conveyed Perforation


Pada sistem ini gun diturunkan ke dalam sumur dengan menggunakan wireline (kawat
listrik).
Wireline conveyed perforation. Biasanya menggunakan gun berdiameter besar.
Kondisi kerja perforasi dengan teknik ini adalah overbalance, sehingga tidak
terjadi aliran setelah perforasi dan menara pemboran dengan blow out preventer
(BOP) masih tetap terpasang untuk penyelesaian sumur lebih lanjut.

Wireline conveyed tubing gun. Gun berdiameter kecil dimasukkan kedalam sumur
melalui X-mastree dan tubing string, setelah tubing dan packer terpasang diatas
interval perforasi. Penyalaan gun dilakukan pada kondisi underbalance dan untuk
operasi ini, umumnya tidak diperlukan menara pemboran tetapi cukup dengan
lubricator (alat kontrol tekanan) atau snubbing unit.
2.2.2. Tubing Conveyed Perforator (TCP).
Gun berdiameter besar dipasang pada ujung bawah tubing atau ujung tail-pipe yang
diturunkan kedalam sumur bersama-sama dengan tubing string. Setelah pemasangan
X-mastree dan packer, perforasi dilakukan secara mekanik dengan menjatuhkan bar
atau go-devil melalui tubing yang akan menghantam ring-head yang ditempatkan di
bagian atas perforator. Perforasi ini dapat dilakukan baik pada kondisi overbalance
maupun underbalance dan setelah perforasi dilakukan, gun dibiarkan tetap tergantung
atau dijatuhkan ke dasar sumur (rathole).

3. Tahap Penimbaan (Swabbing)


Swabbing adalah pengisapan fluida sumur/fluida komplesi setelah perforasi pada
kondisi overbalance dilakukan, sehingga fluida produksi dari formasi dapat mengalir
masuk kedalam sumur dan kemudian diproduksikan ke permukaan. Ada 2 sistem
pengisapan fluida yang berbeda pada sumur sebelum diproduksikan, yaitu :

1. Penurunan densitas cairan.


Dengan menginjeksikan lumpur yang mempunyai densitas lebih kecil dari fluida yang
berada di sumur, sehingga densitas lumpur baru akan memperkecil tekanan hidrostatik
(Ph) fluida sumur, sehingga akan terjadi aliran dari formasi menuju sumur produksi
selanjutnya ke permukaan.
2. Penurunan kolom cairan.
Seperti halnya penurunan densitas, untuk tujuan menurunkan tekanan hidrostatik fluida
dalam sumur agar lebih kecil dari tekanan formasi, dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu dengan pengisapan dan timba.

Macam-macam swab-cup, via OileldSupply.com

Pengisapan, dengan memasukkan karet penghisap (swabb-cup) yang


berdiameter persis sama dengan tubing untuk swabbing. Dengan cara menari
swab-cup keatas, maka tekanan dibawah swab-cup menjadi kecil sehingga akan
terjadi surge dari bawah yang akan mengakibatkan aliran.

Timba, mekanisme dengan cara ini adalah timba dimasukkan melalui tubing,
dimana pada saat timba diturunkan, katup pada ujung membuka dan bila ditarik
katup tersebut akan menutup. Dengan cara ini, maka suatu saat tekanan
formasiakan melebihi tekanan hidrostatik kolom lumpur.

Ryannaldo Noorhidayat at 2:40 PM

Share

No comments:

Post a Comment

Home
View web version

About me
Ryannaldo Noorhidayat
Follow 135