Anda di halaman 1dari 11

REVIEW JURNAL

Analisis Perilaku Balok-Untuk-Kolom Koneksi


Dengan Koneksi Reformasi Baru T-Rintisan Oleh Fungsi Eksponensial

Penulis: Soo-Mi Shin dan Hyun-Jung Park


Instansi: Universitas Nasional Pusan, Divisi Arsitektur Korea,
Universitas Silla, Korea.

Disusunoleh:
DIDIEK HERMANSYAH
5150811095

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2017
FORMAT REVIEW JOURNAL ILMIAH TEKNIK SIPIL

Analisis Perilaku Balok-Untuk-Kolom Koneksi


Judul
Dengan Koneksi Reformasi Baru T-Rintisan Oleh Fungsi Eksponensial.
Penulis Soo-Mi Shin dan Hyun-Jung Park.
Universitas Nasional Pusan, Divisi Arsitektur Korea, Universitas Silla,
Instansi
Korea.
Jurnal International Journal of Software Engineering and Its Applications.
Reviewer Didiek Hermansyah
NIM 5150811095
Instansi Universitas Teknologi Yogyakarta
Mata Kuliah Analisis Struktur Metode Matrik
Tanggal Review 7 Maret 2017-16 Mei 2017

Hubungan balok dan kolom sangatlah penting dalam keseluruhan


struktur bangunan, dan memiliki dampak langsung terhadap keselamatan
dan efisiensi ekonomi bangunan. Karena balok dan kolom secara langsung
mempengaruhi keselamatan bangunan, ada kebutuhan untuk menjamin
keamanan struktur melalui analisis yang tepat. Serta secara khusus, balok
dan kolom harus mempertahankan kekakuan struktur maupun
mempertahankan kemampuan kekuatan dan deformasi terhadap desain.
Balok dan kolom memiliki kekakuan dan daktilitas yang diperlukan untuk
perilaku dan transmisi bangunan. Pada setiap kontruksi gedung, panel
pertemuan (sambungan) kolom dan balok merupakan bagian yang rawan
pada suatu struktur tahan gempa karena sifat pemecaran energinya yang
spesifik. Pada saat struktur dilanda gempa, akan terjadi gaya geser yang
sangat besar pada sambungan balok dan kolom terutama ketika timbulnya
sendi plastis balok pada muka kolom. Gaya geser ini dapat mengakibatkan
keruntuhan pada inti panel join baik karena dilampuinya kapasitas geser
atau karena hancurnya lekatan (bond) dari tulangan atau akibat dari
keduanya (Lillyantina 2008). Terlebih lagi karena daya lekat natural antara
profil baja dan beton pada struktur balok atau kolom sangat kecil
Latar Belakang dibandingkan dengan gaya tekan pada balok beton yang bekerja di atas
flange profil baja. Bila kapasitas geser pada bidang pertemuan ini tidak
mencukupi, keretakan dapat terjadi, dan kegagalan struktur pun tak dapat
dicegah. Oleh karena itu sangatlah penting untuk bisa memperkirakan
kekuatan geser yang dimiliki daerah sambungan balok-kolom komposit ini.
Sehingga dengan demikian daerah pertemuan balok-kolom ini dapat
direncanakan dengan lebih baik.
Untuk itu pada penelitian ini akan dilakukan studi analisa mengenai
analisis perilaku balok-untuk-kolom koneksi dengan koneksi baru reformed
t-rintisan oleh fungsi eksponensial. Deformasi khas H-berbentuk balok
dengan baru T-rintisan koneksi ini diselidiki untuk efek sendi ini pada
perilaku elastis balok-balok dalam makalah ini. Penelitian ini berlaku
model fungsi eksponensial berdasarkan persamaan keseimbangan dan
kompatibilitas persamaan di lokasi baut. Tindakan mencongkel mengurangi
kapasitas beban utama dan kelelahan baut tidak dianggap dalam studi ini.
Perilaku elasto-plastik telah dipelajari melalui berbagai model dengan
parameter panjang T-flange, jarak baut dan diameter baut. Hasilnya
mengindikasikan bahwa jarak baut memiliki efek yang besar pada akhir
kekuatan dan deformasi kapasitas koneksi Tstub. Metode yang disajikan
dapat menjadi alat yang berguna untuk desain koneksi T-rintisan. Dengan
menganalisa kekuatan pada sambungan balok-kolom struktur ini,
diharapkan daerah sambungan balok-kolom ini dapat direncanakan dengan
lebih baik terutama dalam menahan beban akibat gempa maupun beban
lain dari luar.

Permasalahan yang ditinjau dari analisa perilaku sambungan balok-kolom


ini antara lain :
1. Bagaimana hasil analisa prediksi kekuatan geser dari sambungan balok
kolom dengan menggunakan dengan koneksi baru reformed t-rintisan
oleh fungsi eksponensial.
Identifikasi 2. Bagaimana hasil analisa prediksi kekuatan geser dari sambungan balok
Masalah kolom dengan koneksi baru reformed t-rintisan oleh fungsi
eksponensial.
3. Bagaimana perbandingan hasil analisa kekuatan geser sambungan
balok kolom antara struktur kolom komposit baja (Steel Reinforced
Concrete Steel) dengan struktur baja (Steel Structure).

Adapun maksud dan tujuan dari studi analisa ini adalah :


1. Memprediksi kekuatan geser dari sambungan balok-kolom dengan
koneksi baru reformed t-rintisan oleh fungsi eksponensial.
Rumusan 2. Membandingkan hasil analisa kekuatan geser sambungan balok
Masalah kolom antara struktur kolom Komposit baja (Steel Reinforced
Concrete Steel) dengan struktur baja (Steel Structure).

Beberapa penelitian mengenai tinjauan keruntuhan lentur pada struktur


betonyang mengalami kerusakan akibat beban gempa yang disimulasikan
Kajian Penelitian dengan beban siklik telahdilakukan. Salah satu manfaat penelitian ini
Relevan adalah untuk mengetahui pola keruntuhan lentur pada joint balok-kolom
beton bertulang eksterior akibat beban siklik.

Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran


sambunganbalok-kolom pracetak yang menggunakan sambungan plat
akibat beban olak balik dengan maksud untuk mengetahui perilaku,
kestabilan struktur dan model perilaku joint interior. Untuk
mendapatkan hasil penelitian yang baik dan sesuai dengan tujuan
penelitian, maka penelitian ini diorganisasikan dalam tiga tahapan,
sebagai berikut.
1. Tahap pertama : pra-analisa, tahap ini diawali dengan penyusunan
proposal yang berguna untuk mengetahui state of the art dari
Metode Penelitian penelitian yang dilakukan, serta studi pustaka untuk mendalami
materi yang relevan dengan penelitian ini. Pada tahap ini
dilakukan analisa teoritis terhadap komponen struktur yang akan
diteliti. Analisa yang dilakukan utamanya untuk mengetahui
perilaku, kestabilan struktur dan model sambungan balok-kolom
pracetak tipe plat. Analisa teoritis ini akan menggunakan
parameter-parameter yang relevan untuk memprediksi perilaku
tersebut. Analisa awal (preliminary analysis) ini berguna untuk
merencanakan penelitian secara detail serta memprediksi hasil
yang akan diperoleh pada saat eksperimental nanti. Analisa awal
ini bersifat sementara karena nantinya pada saat eksperimental
akan timbul faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi asumsi
pada saat awal, misalnya, ukuran penampang, bentuk
sambungan, ketebalan sambungan plat, ukuran diameter baut, dan
atau berubahnyamutu beton (mutu beton target tidak sama dengan
mutu beton eksperimental) demikian juga dengan mutu bajanya.

2. Tahap kedua: Eksperimental laboratorium tahapan ini meliputi desain


sambungan plat(lihat Gambar 2.1), bentuk penataan benda uji(lihat
Gambar 2.2), dan pola pembebanan(lihat Gambar 2.3).

Gambar 2.1 Detail Sambungan Balok-Kolom

Gambar 2.2 Penataan Benda Uji


Gambar 2.3 Pola Pembebanan
Benda uji dikatakan berkinerja memuaskan bilamana semua kriteria
berikut ini dipenuhi di kedua arah responnya(Hawkins and Ghosh, 2000)
(Nurjaman dkk. 2011):
1) Benda uji harus mencapai tahanan lateral minimum sebesar
Ensebelum rasiosimpangannya 2% melebihi nilai yang konsisten
dengan batasan rasio simpangan yang diijinkan peraturan gempa
yang berlaku, seperti ilustrasi pada Gambar 3.4.
2) Tahanan lateral maksimum Emaksimumyang tercatat pada pengujian
tidak bolehmelebihi nilai En, dimana adalah faktor kuat-lebih
kolom uji yangdisyaratkan;
3) Untuk beban bolak balik pada level simpangan maksimum yang
harus dicapaisebagai acuan untuk penerimaan hasil uji, dimana
nilainya tidak boleh kurangdari 0,035, karakteristiksiklus penuh
ketiga pada level simpangan tersebutharus memenuhi,
a) Gaya puncak pada arah beban yang diberikan tidak boleh
kurang daripada 0,75 E maksimum pada arah beban yang sama
(lihat Gambar 2.4);

Gambar 2.4 Kriteria Kekuatan


b) Kekakuan sekan garis yang menghubungkan titik rasio
simpangan 0,0035 ke rasio simpangan +0,0035 harus tidak
kurang dari 0,05 kalikekakuan awal, seperti ilustrasi Gambar 2.5
dibawah ini.
Gambar 2.5 Kriteria kekakuan
3. Tahap ketiga : penulisan laporanPerilaku yang didapatkan dari hasil
eksperimen akan dibandingkan dengan hasil analisa awal, kajian
dan pembahasan terhadap hasil-hasil tersebut, selanjutnya akan ditarik
kesimpulan serta saran-saran yang berguna untuk diterapkan, atau
merekomendasikan hal-hal yang mungkin akan penting untuk diteliti
selanjutnya.
Sebagai kaidah baku dalam perencanaan struktur beton bertulang di
Indonesia, SNI 03-28472002juga memuatsecara khusus tatacara
perhitunganstrukturbetontahan gempa.Pasal23 dalam SNI 03-2847-2002
memuat secara lengkap peraturan desain struktur beton tahan gempa.
Dalam pasal23.5 dijelaskan pula tata cara untuk melakukan desain pada
suatu hubungan balok kolom.
Beberapa ketentuan dalam perencanaan hubungan balok-kolom
dijelaskan dalam pasal 23.5SNI 03-2847-2002 sebagai berikut: (1) gaya-
gaya pada tulangan longitudinal balok di muka hubunganbalok-kolom
harus ditentukan dengan menganggap bahwa tegangan pada tulangan tarik
lentur adalah1,25 kali tegangan leleh tulangan (1,25 fy ); (2) kuat
hubungan balok-kolom harus direncanakanmenggunakan faktor reduksi
kekuatan sebesar 0,8; (3) apabila tulangan longitudinal balok
diteruskanhingga melewati hubungan balok-kolom, dimensi kolom dalam
arah paralel terhadap tulanganlongitudinal balok tidak boleh kurang
daripada 20 kali diameter tulangan longitudinal terbesar balokuntuk beton
normal, dan tidak kurang dari 26 kali diameter tulangan longitudinal untuk
beton ringan.
Dalam hal perencanaan kuat geser, kuat geser nominal hubungan
balok-kolom tidak bolehdiambil lebih besar daripada ketentuan berikut: (1)
untuk hubungan balok-kolom yang terkekang padakeempat sisinya: 1,7f
cAj; (2) untuk hubungan yang terkekang pada ketiga sisinya atau dua sisi
yangberlawanan: 1,25f cAj; (3) untuk hubungan lainnya: 1,0f cA.
Panduan menentukan luas efektifhubungan balok-kolom, Aj, ditunjukkan
dalam Gambar 2.6
Gambar 2.6 Luas efektif hubungan balok-kolom.

Gaya geser terfaktor yang bekerja pada hubungan balok-kolom, Vj,


dihitung sebagai berikut (Nawy, 2005):
Vu = T1 + C2 Vkolom (2.a)
= T1 + T2 V kolom (2.b)
dengan
T1 adalah gaya tarik pada baja tulangan di balok akibat momen negatif
T2 adalah gaya tarik pada baja tulangan di balok akibat momen positif
C2 adalah gaya tekan beton akibat momen positif
V kolom adalah gaya geser pada kolom di sisi atas dan bawah
hubungan balok-kolom

Tulangan transversal pada hubungan balok-kolom diperlukan untuk


memberikan kekanganyang cukup pada beton, sehingga mampu
menunjukkan perilaku yang daktail dan tetap dapat memikulbeban vertikal
akibat gravitasi meskipun telah terjadi pengelupasan pada selimut
betonnya. Luas totaltulangan transversal tertutup persegi tidak boleh
kurang daripada (Hassoun & Manaseer, 2005):
Ash = 0,09shc( fc/f y) (2)

(3)
dengan
Ash adalah luas tulangan transversal yang disyaratkan
s adalah jarak antar tulangan transversal
hc adalah lebar inti kolom yang diukur dari as tulangan longitudinal kolom
Ag adalah luas penampang kolom
Ach adalah luas inti penampang kolom

Untuk suatu hubungan balok-kolom dengan ukuran lebar balok sekurang-


kurangnya adalahtiga perempat dari lebar kolom, nilai-nilai dalam persamaan (2)
dan (3) dapat direduksi sebesar 50%.Tulangan transversal yang diperlukan harus
dipasang sepanjang l dari setiap muka hubungan balokkolom,dengan panjang lo
ditentukan tidak kurang daripada tinggi penampang komponen struktur padamuka
hubungan balok-kolom atau seperenam bentang bersih komponen struktur atau
tidak kurang dari500 mm.
Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang mempelajari perilaku
hubungan (joint) eksterior balok-kolom beton pracetak dengan kolom berbentuk
T, yang dibebani secara quasi static siklik pada ujung atas kolom.
Objek penelitian berupa dua buah benda uji joint balok kolom dengan kuat
tekan beton rencana dan dimensi yang sama, sedangkan detail tulangan balok,
kolom dan beban aksial yang bekerja berbeda. Benda uji joint balok-kolom terdiri
dari balok dan kolom yang dikerjakan secara pracetak, sedangkan joint merupakan
pekerjaan cor di tempat (cast in situ), dimana komponen balok pracetak berbentuk
setengah I dan komponen kolom practeak berbentuk T.
Variabel Hasil penelitian berupa analisis kurva hysteresis beban perpindahan,
Penelitian daktilitas, degradasi kekuatan dan kekauan, disipasi energi dan pengamatan pola
retak dan keruntuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retak pertama dan
tulangan leleh pertama terjadi pada balok. Retak domain yang terjadi pada daerah
sendi plastis balok adalah retak lentur, sehingga keruntuhan yang terjadi adalah
keruntuhan lentur yang bersifat daktail. Berarti konsep perencanaan kolom kuat
balok lemah terbukti dimanifestasikan oleh system ini, sehingga baik dan aman
untuk digunakan pada bangunan bertingkat yang menerima beban siklik. Hal ini
dapat dilihat dari kondisi kolom dan joit balok-kolom tidak mengalami kerusakan,
sementara kehancuran pada sendi plastis balok telah terjadi.

Pengamatan pola retak, pengamatan pola retak bertujuan untuk


mengetahui perkembangan retak yang terjadi pada benda uji secara
kontinu dari awal sampai dengan akhir pembebanan pengujian.
Pengamatan ini dilakukan dengan pembuatan sket pada benda uji.
Hubungan beban dan perpindahanPengujian beban bolak-balik,
dilakukan dengan 2 metode, yaitu: metode load controldan metode
displacement control. Load controladalah pengujian berdasarkan kontrol
terhadap beban. Sedangkan displacement controladalah pengujian
berdasarkan kontrol terhadap perpindahan (displacement).

Pelaksanaan
Penelitian

Gambar 2.7 Pengukuran Perpindahan


Pada metode displacement control,pola pembebanan dimulai dari
displacementterkecil secara bertahap sampai dengan displacementterbesar
yang bisa dicapai.Metode pengujian yang digunakan berdasarkan
NEHRP 2009. Seperti ilustrasi Gambar 2.3 diatas.Pada tahap pembebanan
awal diperoleh perkiraan besar lendutan yang mengakibatkan tulangan
tarik mulai leleh 1, pada tingkat daktalitas 1, yaitu 1/0.75 dari rata-
rata perpindahan lateral positif dan negatif yang dikukur pada puncak dua
siklus pertama.Tahap berikutnya menerapkan tahap pembebanan tingkat
daktalitas 2 dan 4 (masing-masing 2 siklus) dengan menggunakan acuan
perpindahan pada pembebanan awal sebagai kontrol, sistem ini dinamakan
sistem displacement control.Beban diberikan sebesar 75%P pada
kondisi tekan sampai diperoleh lendutan tekan, selanjutnya
unloadingsampai kondisi beban tarik diperoleh tarik1, hal ini
dikerjakan sampaidiperoleh tekan2dan tarik2pada siklus ke dua
pembebanan, hingga masing-masing kondisi pembebanan diperoleh
rata-rataTahapan siklus dan interval ditambahkan berdasarkan
keperluan. Siklus pengujian untuk sambungan balok kolom monolitdapat
dilustrasikan pada Gambar 2.8

Gambar 2.8 Pola Siklus Pembebanan Balok-Kolom Monolit

Disipasi energi, disipasi energi adalah kemampuan suatu struktur


untuk memancarkan energimelalui proses leleh didaerah sendi plastis.
Proses leleh akan terjadi dengan baik apabila sendi plastis mempunyai sifat
daktail sehingga deformasi yang cukup panjang dapat terbentuk sebelum
keruntuhan. Besarnya disipasi energi akibat beban bolak balik
Hasil Penelitian adalah berupa luas daerah putaran histeristik (hysteristic loop) dari
kurva hubungan beban dan perpindahan.Besarnya nilai disipasi energi
tergantung dari kuat tekan beton, dimensi penampang balok-kolom,
rasio tulangan tarik dan tekan, dimensi tulangan geser, riwayat
pembebanan, slip yang terjadi antara tulangan dan beton, dan kekuatan
longitudinal yang tgelah mengalami pembebanan bolak balik sebelumnya.
Daerah hubungan balok-kolom merupakan daerah kritis pada suatu
struktur rangka beton bertulang, yang harus didesain secara khusus untuk
berdeformasi inelastik pada saat terjadi gempa kuat. Sebagai akibat yang
timbul dari momen kolom di atas dan di sebelah bawahnya, serta momen
momen dari balok pada saat memikul beban gempa, daerah hubungan
balok-kolom akan mengalami gaya geser horizontal dan vertikal yang
besar. Gaya geser yang timbul ini besarnya akan menjadi beberapa kali
lipat lebih tinggi daripada gaya geser yang timbul pada balok dan kolom
yang terhubung. Akibatnya apabila daerah hubungan balok-kolom tidak
Pembahasan
didesain dengan benar, akan menimbulkan keruntuhan geser yang bersifat
getas dan membahayakan pengguna bangunan.
Guna mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman dan tahan
terhadap bencana, terutama akibat gempa bumi, struktur harus didesain
sedemikian rupa mematuhi kaidah atau aturan konstruksi yang baku.
Dalam hal struktur beton bertulang, seluruh bangunan gedung di Indonesia
harus didesain mengikuti Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung, SNI 03-2847-2002 (Badan Standarisasi Nasional,
2002). Dalam standar tersebut diatur mengenai dasar-dasar analisis dan
perencanaan suatu struktur bangunan beton bertulang, dan dalam pasal 23
diatur mengenai ketentuan khusus untuk perencanaan gempa.
Komposisi balok-beton pracetak yang ada di pasaran sama seperti
beton konvesional biasa. Kompoisi balok-beton pracetak tersebut berupa
komposit beton dan baja tulangan, sedangkan balok-beton pracetak dengan
komposit beton dan baja ringan tergolong baru dipasaran. Secara teoritis
baja ringan memiliki kekutan struktur yang dapat disandingan dengan baja
tulangan biasa. Baja ringan juga memiliki bobot yang lebih ringan daripada
baja tulangan biasa, sehingga dapat mengurangi berat sendiri balok
tersebut. Balok-beton pracetak komposit baja ringan dapat digunakan pada
rumah tinggal sederhana, karena memiliki berat sendiri yang lebih ringan.

Dari hasil yang diharapkan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa


teknologi beton pracetak ini tampil sebagai salah satu solusi untuk
mendapatkan efesiensi yang tinggi, menggantikan sistem konversional.
Efesiensi pada sistem pracetak ini tentu tidak berlaku umum dan
tanpa kendala tergantung kasus yang dihadapi, tetapi secara umum
dapat dikatakan bahwa sistem ini efektif jika diterapkan pada jenis
pekerjaan yang sifatnya massal dan berulang. Jadi sistem pracetak
pada hubungan elemen struktur harus dirancang sedemikian rupa
sehingga memiliki perilaku yang dikehendaki. Efisiensi struktur beton
Kesimpulan
pra cetak berpengaruh pada perilaku sistem penyambungan termasuk
hubungan balok-kolom. Hubungan tersebut akan menyalurkan gaya
yang dipikul suatu bagian struktur kebagian yang lain sehingga
seluruh konstruksi akan memikul perlakuan gaya luar sesuai dengan
perilaku elemen masing-masing. Maka konstruksi sambungan tersebut
akan terjadi suatu perilaku yang cukup kompleks. Sehingga beton
pracetak yang digabungkan bermacam tipe sambungan harus daktail
terhadap beban lateral maupun vertikal dengan beton cor ditempat yang
kontinuitas dan merupakan bagian dari struktur.
Dalam perencanaan struktur bangunan gedung beton bertulang
yang tahan gempa, daerah hubungan balok-kolom merupakan daerah kritis
yang perlu didesain benar-benar akurat sehingga mampu mendisipasi
energi dengan baik pada saat terjadi gempa. Kemampuan hubungan balok-
kolom untuk berdeformasi pada daerah inelastik memberikan struktur
Saran
dengan daktilitas baik, sehingga mampu meminimalisasi kerusakan yang
terjadi akibat goyangan gempa bumi. Sehingga dalam perencanaan
pembuatan kolom maupun balok harus mengacu pada Standar Nasional
yang berlaku, dan pengaplikasian sambungan mapun proses pencetakan
juga harus berdasarkan aturan aturan yang berlaku.

Yogyakarta, 16 Mei 2017


Reviewer

(DIDIEK HERMANSYAH)
5150811095
IRVAN JUNICO MAHENDRA
515 0811 053
ANALISIS METODE MATRIK B

Catatan:
1.Jumlah halaman minimal review = (jumlah halaman jurnal x 3)
2.Margin diatur sebagai berikut:
a. Batas atas : 2,5cm
b. Batas kanan : 2 cm
c. Batas kiri : 2 cm
d. Batas bawah : 1,5 cm
3. Jurnal diketik dalam 1 spasi (line spacing option before: 0; after: 0); boleh menggunakan
header dan footer sesuai dengan pilihan masing-masing.
4. Huruf ditentukan sebagai berikut:
a. Times New Roman : font 12
b. Arial : font 11
5. Referensi pustaka pada jurnal harus dikumpulkan satu minggu setelah jurnal di ACC melalui
email.
Referensi jurnal akan digunakan untuk membuat review.
6. Progres review jurnal adalah mingguan (ada lembar konsultasi)
7. Format review harus seperti yang sudah ditabelkan di atas.
8. Batas maksimal pengumpulan jurnal adalah pada pertemuan ke-13
9. Review jurnal adalah bukan terjemahan dari jurnal aslinya.
10. Mengumpulkan referensi dari jurnal yang direview minimal 5 buah, bila ditemukan jurnal
berbayar silahkan discreenshoot.

Semoga Sukses
Salam,

Faqih Maarif
Maris