Anda di halaman 1dari 132

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

2011
KATA PENGANTAR

Perkembangan pajak di Indonesia semakin meningkat


dari masa ke masa dan kini sudah sangat dirasakan bahwa
pajak menjadi suatu kebutuhan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Hal tersebut dapat dilihat dari makin tingginya
target penerimaan negara yang berasal dari pajak, dan untuk
tahun 2010 target penerimaan pajak adalah sebesar Rp 661,
49 trilyun.
Salah satu usaha Direktorat Jenderal Pajak memenuhi
penerimaan negara tersebut adalah dengan melakukan
Ekstensifikasi di seluruh Indonesia. Untuk mensukseskan
program Ekstensifikasi tersebut di pandang perlu untuk
memberikan pengetahuan tentang hak dan kewajiban pajak.
Khususnya kepada orang pribadi agar dapat lebih mengetahui
hak dan kewajiban perpajakannya dengan lebih baik.
Buku ini disusun dalam rangka sosialisasi perpajakan,
berisi tentang hak dan kewajiban Wajib Pajak secara umum,
khususnya Orang Pribadi, baik cara mendapatkan Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP) maupun kewajiban yang muncul
setelah mendapatkan NPWP.
Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kepada
Wajib Pajak sebagai salah satu program yang ditekankan oleh
Direktur Jenderal Pajak, maka kita mencoba untuk menyusun

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

iii
buku ini, semoga buku kecil ini dapat bermanfaat dan
membantu wajib pajak baru orang pribadi dalam pemenuhan
hak dan kewajiban perpajakannya.

Jakarta, November 2011


Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas

Euis Fatimah
NIP. 195812121982102001

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

iv
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................... iii


Daftar Isi ............................................................................ v
I . PENDAHULUAN ...................................................... 3
A. Jenis Pajak .............................................................. 4
B. Wajib Pajak ............................................................ 9
C. Manfaat Pajak ........................................................ 9
II. HAK DAN KEWAJIBAN WAJIB PAJAK .................. 13
Kewajiban Wajib Pajak .............................................. 13
A. Kewajiban Mendaftarkan Diri ................................ 13
B. Kewajiban Pembayaran, Pemotongan/
Pemungutan, Dan Pelaporan Pajak ........................ 19
C. Kewajiban Dalam Hal Diperiksa ............................ 49
D. Kewajiban Memberi Data ...................................... 51
Hak Wajib Pajak ......................................................... 52
A. Hak Atas Kelebihan Pembayaran Pajak .................. 52
B. Hak Dalam Hal Wajib Pajak Dilakukan
Pemeriksaan ........................................................... 53
C. Hak Untuk Mengajukan Keberatan,
Banding & Peninjauan Kembali ................................ 54
D. Hak-Hak Wajib Pajak Lainnya .............................. 63
III. INFORMASI LEBIH LANJUT ................................ 71
IV. PELAYANAN DAN KELUHAN ................................ 75
V. SINGKATAN SINGKATAN ...................................... 79
VI. LAMPIRAN ................................................................ 83

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

v
Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

vi
BAB 1
Pendahuluan
BAB 1
BUKU SAKU PERPAJAKAN
BAGI UMKM

1. PENDAHULUAN

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang


oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Pembayaran pajak merupakan
perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta Wajib Pajak
untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban
perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Sesuai falsafah undang-undang perpajakan, membayar pajak bukan
hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap
warga Negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta
terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Tanggung jawab atas kewajiban pembayaran pajak, sebagai
pencerminan kewajiban kenegaran di bidang perpajakan berada
pada anggota masyarakat sendiri untuk memenuhi kewajiban
tersebut. Hal tersebut sesuai dengan sistem self assessment yang
dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia. Pemerintah dalam
hal ini Direktorat Jenderal Pajak, sesuai dengan fungsinya
berkewajiban melakukan pembinaan/penyuluhan, pelayanan, dan
pengawasan. Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Direktorat
Jenderal Pajak berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

3
kepada masyarakat sesuai visi dan misi Direktorat Jenderal Pajak.
Penerbitan buku saku ini merupakan salah satu perwujudan dari
fungsi di atas dengan maksud memberikan pemahaman yang lebih
komprehensif tentang pelaksanaan kewajiban perpajakan kepada
masyarakat khususnya yang tergolong sebagai Usaha Mikro, Kecil
dan Menengah (UMKM).
Sebelum menjelaskan tentang apa saja yang wajib dilaksanakan
oleh Wajib Pajak yang tergolong dalam Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah, perlu disampaikan dalam buku saku ini tentang jenis
dan macam pajak yang berlaku di Indonesia sebagai tambahan
cakrawala pengetahuan perpajakan.

A. JENIS PAJAK

Penggolongan pajak berdasarkan lembaga pemungutannya di


Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu Pajak Pusat dan
Pajak Daerah. Pajak Pusat adalah pajak-pajak yang dikelola oleh
Pemerintah Pusat yang dalam hal ini sebagian besar dikelola oleh
Direktorat Jenderal Pajak - Kementerian keuangan. Sedangkan
Pajak Daerah adalah pajak-pajak yang dikelola oleh Pemerintah
Daerah baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota.
Segala pengadministrasian yang berkaitan dengan pajak pusat,
akan dilaksanakan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor
Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) dan
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak serta di Kantor Pusat
Direktorat Jenderal Pajak. Untuk pengadministrasian yang
berhubungan dengan pajak derah, akan dilaksanakan di Kantor

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

4
Dinas Pendapatan Daerah atau Kantor Pajak Daerah atau Kantor
sejenisnya yang dibawahi oleh Pemerintah Daerah setempat.

Pajak-pajak pusat yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak


meliputi :
1. Pajak Penghasilan (PPh)
PPh adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau
badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu
Tahun Pajak. Yang dimaksud dengan penghasilan adalah setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak baik yang berasal baik dari Indonesia maupun
dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan
dengan nama dan dalam bentuk apapun. Dengan demikian
maka penghasilan itu dapat berupa keuntungan usaha, gaji,
honorarium, hadiah, dan lain sebagainya.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


PPN adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean (dalam
wilayah Indonesia). Orang Pribadi, perusahaan, maupun
pemerintah yang mengkonsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak dikenakan PPN. Pada dasarnya, setiap barang dan
jasa adalah Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, kecuali
ditentukan lain oleh Undang-undang PPN.

3. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)


Selain dikenakan PPN, atas pengkonsumsian Barang Kena

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

5
Pajak tertentu yang tergolong mewah, juga dikenakan PPnBM.
Yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak yang tergolong
mewah adalah :
a. Barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan
pokok; atau
b. Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu;
atau
c. Pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh
masyarakat berpenghasilan tinggi; atau
d. Barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status;
atau
e. Apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral
masyarakat, serta mengganggu ketertiban masyarakat.

4. Bea Meterai
Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan atas pemanfaatan
dokumen, seperti surat perjanjian, akta notaris, serta kwitansi
pembayaran, surat berharga, dan efek, yang memuat jumlah
uang atau nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan
ketentuan.

5. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)


PBB adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan atau
pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB merupakan Pajak
Pusat namun demikian hampir seluruh realisasi penerimaan
PBB diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik Propinsi
maupun Kabupaten/Kota.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

6
Mulai 1 Januari 2010, PBB Perdesaan dan perkotaan menjadi
Pajak Daerah sepanjang Peraturan Daerah tentang PBB yang
terkait dengan Perdesaan dan Perkotaan telah diterbitkan. Apabila
dalam jangka waktu dari 1 Januari 2010 s.d Paling lambat
31 Desember 2013 Peraturan Daerah belum diterbitkan, maka
PBB Perdesaan dan Perkotaan tersebut masih tetap dipungut oleh
Pemerintah Pusat. Mulai 1 januari 2014, PBB pedesaan dan
Perkotaan merupakan pajak daerah. Untuk PBB Perkebunan,
Perhutanan, Pertambangan masih tetap merupakan Pajak Pusat.

Pajak-pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah baik


Propinsi maupun Kabupaten/Kota antara lain meliputi :

1. Pajak Propinsi
a. Pajak Kendaraan Bermotor ;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor;
d. Pajak Air Permukaan;.
e. Pajak Rokok.
2. Pajak Kabupaten/Kota
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
g. Pajak Parkir.
h. Pajak Air Tanah

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

7
i. Pajak sarang Burung Walet
j. Pajak Bumi dan Bangunan perdesaan dan perkotaan
k. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan

C. WAJIB PAJAK
Siapa yang digolongkan sebagai Wajib Pajak adalah orang
pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan
pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.

D. MANFAAT PAJAK
Sebagaimana halnya perekonomian dalam suatu rumah tangga
atau keluarga, perekonomian negara juga mengenal sumber-sumber
penerimaan dan pos-pos pengeluaran. Pajak merupakan sumber
utama penerimaan negara. Tanpa pajak, sebagian besar kegiatan
negara sulit untuk dapat dilaksanakan. Penggunaan uang pajak
meliputi mulai dari belanja pegawai sampai dengan pembiayaan
berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti
jalan-jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, kantor polisi
dibiayai dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak.
Uang pajak juga digunakan untuk pembiayaan dalam rangka
memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap
warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal
dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang
semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak. Pajak
juga digunakan untuk mensubsidi barang-barang yang sangat

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

8
dibutuhkan masyarakat dan juga membayar utang negara ke luar
negeri. Pajak juga digunakan untuk membantu UMKM baik dalam
hal pembinaan dan modal. Dengan demikian jelas bahwa peranan
penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan
dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan
pembangunan.
Disamping fungsi budgeter (fungsi penerimaan) di atas, pajak
juga melaksanakan fungsi redistribusi pendapatan dari masyarakat
yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih tinggi kepada
masyarakat yang kemampuannya lebih rendah. Oleh karena itu
tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya secara baik dan benar merupakan syarat mutlak untuk
tercapainya fungsi redistribusi pendapatan. Sehingga pada akhirnya
kesenjangan ekonomi dan sosial yang ada dalam masyarakat dapat
dikurangi secara maksimal.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

9
Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

10
BAB 2
Hak dan Kewajiban
Wajib Pajak
BAB 2
HAK DAN KEWAJIBAN WAJIB PAJAK

Dalam rangka untuk lebih memberikan keadilan di bidang


perpajakan yaitu antara keseimbangan hak negara dan hak warga
Negara pembayar pajak, maka Undang-Undang Perpajakan
yaitu Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan mengakomodir mengenai hak dan kewajiban Wajib
Pajak.

KEWAJIBAN WAJIB PAJAK ADALAH :


A. KEWAJIBAN MENDAFTARKAN DIRI

Sesuai dengan sistem self assessment maka Wajib Pajak


mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri ke KPP
atau KP2KP yang wilayahnya meliputi tempat tinggal atau
kedudukan Wajib Pajak untuk diberikan Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP). ;
Disamping melalui KPP atau KP2KP, pendaftaran NPWP
juga dapat dilakukan melalui e-register, yaitu suatu cara
pendaftaran NPWP melalui media elektronik on-line (internet).
Bagi UMKM baik perseorangan maupun badan (PT, CV,
BUMD, firma, kongsi, koperasi, persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik) yang
memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak, wajib mendaftarkan
sendiri ke KPP atau K2KP untuk memperoleh NPWP. UMKM
milik perseorangan yang wajib memiliki NPWP adalah yang

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


13
telah memenuhi persyarat subjektif dan syarat objektif. Syarat
subjektifnya adalah orang pribadi, sedangkan syarat objektifnya
adalah memiliki penghasilan yang akan dikenakan pajak
melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Penghasilan Tidak Kena Pajak

Sebulan
Setahun (Rp)
(Rp)

untuk Wajib Pajak orang pribadi


tidak kawin dan tidak mempunyai 15.840.000,- 1.320.000,-
tanggungan (TK/-)

untuk Wajib Pajak orang pribadi


kawin dan tidak mempunyai 17.160.000,- 1.430.000,-
tanggungan (K/-)

untuk Wajib Pajak orang pribadi


18.480.000,- 1.540.000,-
kawin + 1 tanggungan (K/1)

untuk Wajib Pajak orang pribadi


19.800.000,- 1.650.000,-
kawin + 2 tanggungan (K/2)

untuk Wajib Pajak orang pribadi


21.120.000,- 1.760.000,-
kawin + 3 tanggungan (K/3)

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

14
untuk Wajib Pajak Kawin +
33.000.000,- 2.750.000,-
Penghasilan istri digabung (K/I/-)

Untuk Wajib Pajak Kawin +


Penghasilan istri digabung + 1 34.320.000,- 2.860.000,-
tanggungan (K/I/1)

Wajib Pajak Kawin + Penghasilan istri


35.640.000,- 2.970.000,-
digabung + 2 tanggungan (K/I/2)

Wajib Pajak Kawin + Penghasilan istri


36.960.000,- 3.080.000
digabung + 3 tanggungan (K/I/3)

Tanggungan adalah anggota keluarga sedarah dan semenda


dalam satu garis keturunan lurus, serta anak angkat yang
menjadi tanggungan sepenuhnya.
PTKP ditentukan berdasarkan keadaan pada awal tahun
kalender,

Fungsi NPWP adalah :


Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan;
Sebagai identitas Wajib Pajak;
Menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan
pengawasan administrasirasi perpajakan;
Menjadi persyaratan dalam pelayanan umum, misalnya
passpor, kredit bank dan lelang.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


15
Dengan memiliki NPWP, Wajib Pajak memperoleh beberapa
manfaat langsung lainnya, seperti : memenuhi salah satu
persyaratan ketika melakukan pengurusan Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP), dan salah satu syarat pembuatan Rekening
Koran di bank-bank, dan memenuhi persyaratan untuk bisa
mengikuti tender-tender yang dilakukan oleh Pemerintah.
1. NPWP
NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak
sebagai sarana yang merupakan tanda pengenal atau identitas
bagi setiap Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan
kewajibannya di bidang perpajakan. Untuk memperoleh
NPWP, Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada KPP,
atau KP2KP dengan mengisi formulir pendaftaran dan
melampirkan persyaratan administrasi yang diperlukan, atau
dapat pula mendaftarkan diri secara on-line melalui e-register.

Data pendukung yang perlu disiapkan oleh Wajib Pajak untuk
mengisi formulir permohonan antara lain sebagai berikut:
a. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dokumen yang diperlukan
hanya berupa KTP yang masih berlaku.
b. Bagi Wajib Pajak Badan, dokumen yang diperlukan antara
lain :
Akte Pendirian dan Perubahannya;
KTP yang masih berlaku sebagai penanggung jawab;
dan

Kepada Wajib Pajak diberikan Surat Keterangan Terdaftar


(SKT) dan Kartu NPWP diberikan paling lambat 1 (satu)
hari kerja setelah diterimanya permohonan secara lengkap.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

16
Perlu diketahui masyarakat bahwa untuk pengurusan NPWP
tersebut di atas TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN.

2. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)


Bagi UMKM yang telah memiliki NPWP, wajib dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) oleh KPP atau KP2KP
apabila telah memenuhi persyaratan tertentu. Syarat untuk
dikukuhkan sebagai PKP adalah pengusaha orang pribadi atau
badan tersebut melakukan penyerahan barang kena pajak atau
jasa kena pajak dengan jumlah peredaran bruto/penerimaan
bruto (omzet) melebihi Rp600.000.000,- setahun. UMKM
yang tidak memenuhi persyaratan, dapat juga melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.

Bagi pengusaha yang telah diukuhkan sebagai PKP, diwajibkan


untuk memungut PPN dari setiap pembeli/pemakai jasanya
dengan menerbitkan faktur pajak. PPN yang sudah dipungut,
kemudian dilaporkan dalam laporan bulanan (SPT Masa)
dan apabila ternyata ada PPN yang harus disetor ke bank
atau kantor pos, maka harus disetor terlebih dahulu sebelum
dilaporkan ke ke KPP tempat Wajib Pajak tersebut terdaftar.
KPP atau KP2KP akan melakukan penelitian mengenai
keberadaan dan kegiatan usaha di tempat usaha Wajib Pajak
yang telah dikukuhkan sebagai PKP tersebut.

B. KEWAJIBAN PEMBAYARAN, PEMOTONGAN/


PEMUNGUTAN, DAN PELAPORAN PAJAK

Wajib Pajak UMKM (orang pribadi atau badan) dalam


melaksanakan kewajiban perpajakannya harus sesuai dengan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


17
sistem self assessment, yaitu wajib melakukan sendiri penghitungan,
pembayaran, dan pelaporan pajak terutang.
1. Pembayaran Pajak
Mekanisme Pembayaran Pajak bagi UMKM
a. Membayar sendiri pajak yang terutang :
1) Pembayaran angsuran PPh setiap bulan (PPh Pasal
25).
Pembayaran PPh Pasal 25 yaitu pembayaran Pajak
Penghasilan secara angsuran. Hal ini dimaksudkan
untuk meringankan beban Wajib Pajak dalam melunasi
pajak yang terutang dalam satu tahun pajak. Wajib
Pajak diwajibkan untuk mengangsur pajak yang akan
terutang pada akhir tahun dengan membayar sendiri
angsuran pajak tersebut setiap bulan.
Khusus untuk UMKM yang merupakan Wajib Pajak
Orang Pribadi yang sumber penghasilannya dari usaha
dan pekerjaan bebas, pembayaran angsuran PPh Pasal
25 terbagi atas 2 yaitu :
a) Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu (OPPT).
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu
adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha penjualan barang baik secara grosir
maupun eceran dan usaha penyerahan jasa, yang
mempunyai satu atau lebih tempat usaha termasuk
yang memiliki tempat usaha yang berbeda dengan
tempat tinggal.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

18
Angsuran PPh Pasal 25 Wajib Pajak OPPT :
0,75% x jumlah peredaran usaha ( omset ) setiap
bulan dari masing-masing tempat usaha
b) Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang
Pribadi Selain Pengusaha Tertentu (OPPT).
Wajib Pajak Orang Pribadi Selain Pengusaha
Tertentu (OPPT) adalah Orang Pribadi yang
melakukan kegiatan usaha tanpa melalui tempat
usaha misalnya sebagai pekerja bebas atau sebagai
karyawan.
Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang
Pribadi Selain Pengusaha Tertentu :
Penghasilan Kena Pajak x Tarif PPh Pasal 17 ayat (1)
huruf a UU PPh : 12 bulan.

Tarif Pasal 17 ayat (1) a UU PPh adalah :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp 50.000.000,00 5%

di atas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp


15%
250.000.000,00

di atas Rp 250.000.000,00 sampai dengan Rp


25%
500.000.000,00

di atas Rp 50.000.000,00 30%

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


19
Untuk UMKM yang berbentu Wajib Pajak badan, besarnya
pembayaran Angsuran PPh 25 yang terutang diperoleh dari
penghasilan kena pajak dikalikan dengan tarif PPh yang diatur di
Pasal 17 ayat (1) huruf b Undang Undang Pajak Penghasilan. Tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) UU PPh adalah 25%.

Khusus untuk Wajib Pajak badan yang peredaran bruto


setahun sampai dengan Rp50.000.000.000,00 mendapat
fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif
pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) UU PPh, yang
dikenakan atas penghasilan kena pajak dari peredaran
bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,00
Contoh penghitungan angsuran PPh Pasal 25 Wajib
Pajak orang pribadi.
Si A adalah Pengusaha Warung Makan di Jogjakarta
yang memiliki penjualan pada tahun 2010 sebesar
Rp180.000.000,00. si A statusnya kawin dan
mempunyai 2 (dua) orang anak. Si A menyelenggarakan
pencatatan untuk menghitung pajaknya.
Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 yang harus dibayar
sebagai angsuran dalam tahun berjalan dihitung sebagai
berikut :
Jumlah peredaran setahun Rp180.000.000,00
Presentase penghasilan norma (lihat daftar presentase norma)
= 20%
Penghasilan neto setahun = 20% x Rp180.000.000,00
= Rp 3.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak = penghasilan neto dikurangi
PTKP

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

20
Rp 36.000.000,00 Rp 19.800.000,00 = Rp
6.200.000,00
ajak Penghasilan yang terutang :
5% x Rp6.200.000,00 = Rp310.000,00
PPh Pasal 25 (angsuran) yang harus dibayar si A setiap
bulan:
Rp310.000,00 : 12 = Rp 25.833,00

Berikut contoh penghitungan angsuran PPh Pasal 25


Wajib Pajak badan.
Koperasi Unit Desa A bergerak dibidang simpan
pinjam. Pada tahun 2010 memiliki penerimaan bruto
dalam setahun sebesar Rp500.000.000,00 dan seluruh
biaya-biaya yang berkaitan dengan usaha (sesuai
ketentuan perpajakan) sebesar Rp4250.000.000,00.
Dengan demikian, penghasilan netonya adalah :
Rp500.000.000,00 Rp425.000.000,00 =
Rp75.000.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang :
Rp75.000.000,00 x 25% x 50% = Rp9.375.000,00
Tarif 50% di atas dikarena Koperasi Unit Desa A
mendapat fasilitas.
PPh Pasal 25 (angsuran) yang harus dibayar KUD A
setiap bulan:
Rp9.375.000,00 : 12 = Rp781.250,00

2) Pembayaran kekurangan PPh selama setahun (PPh


Pasal 29).
Pembayaran PPh Pasal 29 yaitu pelunasan Pajak
Penghasilan yang dilakukan sendiri oleh Wajib Pajak

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


21
pada akhir tahun pajak apabila pajak terutang untuk
suatu tahun pajak lebih besar dari jumlah total pajak
yang dibayar sendiri (angsuran PPh Pasal 25) dan pajak
yang dipotong atau dipungut pihak lain sebagai kredit
pajak.

Contoh I:
Koperasi Unit Desa A, setelah menghitung PPh
terutang tahun pajak 2010 diketahui PPh terutang
setahun sebesar Rp12.000.000,00. kemudian telah
melunasi angsuran PPh Pasal 25 selama tahun 2010
(12 bulan) sebesar :
Rp781.250,00 x 12 = Rp9.375.000,00
PPh Pasal 29 yang harus dilunasi oleh KUD A adalah
sebesar :
PPh yang terutang angsuran PPh Pasal 25
Rp12.000.000, Rp9.375.000,00 = Rp2.625.000,00
Contoh II :
Si A adalah pengusaha restoran (UMKM) di Jakarta
yang tergolong sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi
Pengusaha Tertentu dan menggunakan pencatatan
dalam penghitungan besarnya PPh. Jumlah peredaran
usaha (omzet) selama setahun adalah Rp510.500.000,-
dan PPh Pasal 25 (WP OPPT) yang sudah dilunasi
(0,75 x Rp510.500.000) adalah Rp3.828.750,- Setelah
dihitung PPh yang terutang selama setahun adalah
10.975.750.
PPh Pasal 29 yang harus dilunasi oleh si A adalah sebesar :
Rp 10.975.750 Rp 3.828.750 = Rp 7.147.000

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

22
b. Membayar PPh melalui pemotongan dan pemungutan
oleh pihak lain (PPh Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal
21, 22, dan 23, serta PPh Pasal 26).
Pihak lain disini adalah :
1) Pemberi penghasilan;
2) Pemberi kerja; atau
3) Pihak lain yang ditunjuk atau ditetapkan oleh
pemerintah.

Penjelasan lebih lanjut mengenai pemotongan dan


pemungutan pajak diuraikan lebih lanjut pada bagian
Pemotongan/ Pemungutan (butir 2).

c. Membayar PPN kepada pihak penjual atau pemberi jasa


ataupun oleh pihak yang ditunjuk pemerintah.
Tarif PPN adalah 10% dari harga jual atau penggantian
atau nilai ekspor atau nilai lainnya.

d. Pembayaran Pajak-pajak lainnya :


1) Pembayaran PBB yaitu pelunasan berdasarkan Surat
Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). Untuk daerah
Jakarta dan daerah tertentu lainnya, pembayaran PBB
sudah dapat dilakukan dengan menggunakan ATM di
Bank-bank tertentu.

Tarif PBB terdiri dari 2 tarif yaitu


a. 1/1000 dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
khusus untuk yang NJOP-nya kurang dari
Rp1.000.000.000,-
b. 2/1000, dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


23
khusus untuk yang NJOP-nya kurang dari
Rp1.000.000.000,-

2) Pembayaran Bea Meterai yaitu pelunasan pajak


atas dokumen yang dapat dilakukan dengan cara
menggunakan benda meterai berupa meterai tempel
atau kertas bermeterai atau dengan cara lain seperti
menggunakan mesin teraan.
Meterai tempel yang terutang untuk dokumen yang
menyebut jumlah (kuitansi) di atas Rp250.000,00
sampai dengan Rp1.00.000,00 adalah Rp3.000,00.
Untuk dokumen yang menyebut jumlah di atas
Rp1.000.000,00 dan surat-surat perjanjian terutang
materai tempel sebesar Rp6.000,00.

Wajib Pajak UMKM yang tidak melaksanakan kewajiban


membayar pajaknya, Direktorat Jenderal Pajak akan
melakukan penagihan pajak. PENAGIHAN PAJAK
dilakukan Apabila Wajib Pajak tidak membayar
pajak terutang sesuai dengan jangka waktu yang telah
ditentukan dalam Surat Tagihan Pajak(STP), atau Surat
Ketetapan Pajak (skp), Surat Keputusan Pembetulan,
Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, maka DJP
dapat melakukan tindakan penagihan. Proses penagihan
dimulai dengan Surat Teguran dan dilanjutkan dengan
Surat Paksa. Dalam hal WP tetap tidak membayar tagihan
pajaknya maka dapat dilakukan penyitaan dan pelelangan
atas harta WP yang disita tersebut untuk melunasi pajak
yang tidak/belum dibayar.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

24
Adapun jangka waktu proses penagihan sebagai berikut :
- Surat Teguran diterbitkan apabila dalam jangka 7
(tujuh) hari dari jatuh tempo pembayaran Wajib Pajak
tidak membayar hutang pajaknya.
- Surat Paksa diterbitkan dalam jangka 21 (dua puluh
satu) hari setelah Surat Teguran apabila Wajib Pajak
tetap belum melunasi hutang pajaknya.
- Sita dilakukan dalam jangka waktu 2 x 24 jam sejak
Surat Paksa disampaikan.
- Lelang dilakukan paling singkat 14 (empat belas) hari
setelah pengumuman lelang. Sedangkan pengumuman
lelang dilakukan paling singkat 14 (empat belas) hari
setelah penyitaan.
DJP dapat melakukan pencegahan dan penyanderaan
terhadap Wajib Pajak/penanggung pajak yang tidak
kooperatif dalam membayar hutang pajaknya.

2. Pemotongan / Pemungutan Pajak


Selain pembayaran bulanan yang dilakukan sendiri, ada
pembayaran bulanan yang dilakukan dengan mekanisme
pemotongan/pemungutan yang dilakukan oleh pihak
pemberi penghasilan. Pihak pemberi penghasilan adalah
pihak yang ditunjuk berdasarkan ketentuan perpajakan untuk
memotong/memungut, antara lain yang ditunjuk tersebut
adalah badan Pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap atau perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya. Apabila UMKM tergolong
sebagai subjek pajak badan dalam negeri, maka diwajibkan
juga sebagai pemotong/pemungutan pajak.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


25
Adapun jenis pemotongan/pemungutan adalah PPh Pasal 21,
PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26, PPh Pasal 4 ayat 2,
PPh Pasal 15 dan PPN dan PPn BM.

Adapun definisi dari masing-masing pajak tersebut adalah


sebagai berikut :
- PPh Pasal 21 adalah pemotongan pajak yang dilakukan
oleh pihak pemberi penghasilan kepada oleh Wajib Pajak
Orang Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan
atau kegiatan yang dilakukan. Misalnya pembayaran gaji
yang diterima oleh pegawai dipotong oleh perusahaan
pemberi kerja.
UMKM berbentuk badan ditunjuk oleh UU Perpajakan
sebagai pemotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang
dibayarkan kepada karyawannya maupun yang bukan
karyawannya. UMKM perseorangan dapat juga
ditunjuk sebagai pemotong PPh Pasal 21 sepanjang ada
penunjukannya dari KPP tempat UMKM terdaftar.
Selain diwajibkan memotong PPh Pasal 21, UMKM
perseorangan bisa juga dilakukan pemotongan PPh Pasal
21 atas penghasilan yang diterimanya.

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 21


atas gaji karyawan UMKM.
Polan (tidak kawin) yang tel;ah memiliki NPWP adalah
karyawan Koperasi, menerima gaji Rp 1.700.000,-/bulan,
tunjangan beras Rp 300.000,-/bulan. Penghitungan PPh
pasal 21:

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

26
Penghasilan bruto :
(1.700.000,- + 300.000,-) = Rp 2.000.000,-
Biaya jabatan :
(5% x Rp 2.000.000) = Rp 100.000,-
Iuran pensiun : = Rp 100.000,-
Penghasilan neto sebulan = Rp 1.800.000,-
Penghasilan neto setahun :
(12 x Rp 1.800.000,-) = Rp 21.600.000,-
Penghasilan Tidak Kena Pajak(TK/-) = Rp 15.840.000,-
Penghasilan Kena Pajak = Rp 5.760.000,-
PPh Pasal 21 setahun :
5% x Rp5.760.000,- = Rp 288.000,-
PPh Pasal 21 sebulan :
Rp288.000,- : 12 = Rp 24.000,-

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 21


atas gaji karyawan UMKM.
Polan (kawin tanpa tanggungan) yang telah memiliki
NPWP adalah karyawan Tuan A (UMKM) yang telah
ditunjuk KPP sebagai pemotong PPh Pasal 21 , menerima
gaji Rp 2.000.000,-/bulan, Penghitungan PPh pasal 21:
Penghasilan bruto :
(2.000.000,- ) = Rp 2.000.000,-
Biaya jabatan :
(5% x Rp 2.000.000) = Rp 100.000,-
Iuran pensiun : = Rp 100.000,-
Penghasilan neto sebulan = Rp 1.800.000,-

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


27
Penghasilan neto setahun :
(12 x Rp 1.800.000,-) = Rp21.600.000,-
Penghasilan Tidak Kena
Pajak(TK/-) = Rp17.160.000,-
Penghasilan Kena Pajak = Rp 4.440.000,-

PPh Pasal 21 setahun :


5% x Rp4.440.000,- = Rp 222.000,-
PPh Pasal 21 sebulan :
Rp222.000,- : 12 = Rp 18.500,-

- PPh Pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan


oleh pihak tertentu yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan
barang (seperti penyerahan barang oleh rekanan kepada
bendaharawan pemerintah), impor barang dan kegiatan
usaha di bidang-bidang tertentu serta penjualan barang
yang tergolong sangat mewah.

Pemungutan PPh Pasal 22 ini antara lain adalah :


1. Pemungutan PPh atas pembelian barang oleh instansi
Pemerintah;
2. Pemungutan PPh atas kegiatan impor barang;
3. Pemungutan PPh atas produksi barang-barang tertentu
misalnya produksi baja, kertas, rokok, dan otomotif;
4. Pemungutan atas pembelian bahan-bahan untuk
keperluan industri atau ekspor oleh badan usaha
industri atau eksportir di bidang perhutanan,
perkebunan, pertanian dan perikanan dari pedagang
pengumpul;

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

28
5. Pemungutan PPh atas penjualan atas barang yang
tergolong mewah

UMKM dapat ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22


atau dapat juga sebagai pihak yang dipungut PPh Pasal
22.

Contoh pemungutan dan penghitungan PPh Pasal 22


atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri
(UMKM berbentuk badan atau perseorangan).
Polin adalah UMKM perseorangan (memiliki NPWP)
yang telah ditunjuk KPP sebagai pemungut PPh Pasal
22, membayar Rp10.000.000,- untuk pembelian kayu
dari pedagang pengumpul. Besarnya PPh Pasal 22 yang
dipungut oleh Polin :
Rp10.000.000,- x 0,25 = Rp25.000,-

Contoh pemungutan dan penghitungan PPh Pasal 22


atas impor barang yang dilakukan oleh UMKM
CV Polan (UMKM berbentuk badan memiliki
NPWP) melakukan import barang dengan nilai impor
Rp50.000.000,-. CV Polan tidak mempunyai Angka
Pengenal Impor (API). Besarnya PPh Pasal 22 yang harus
disetor oleh CV Polan :
Rp50.000.000,- x 7,5% = Rp3.750.000,-

- PPh Pasal 23 adalah pemotongan pajak yang dilakukan


oleh pihak pemberi penghasilan sehubungan dengan
pembayaran berupa deviden, bunga, royalty, sewa, dan jasa
kepada WP badan dalam negeri, dan BUT.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


29
UMKM berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh
Pasal 23, sedangkan UMKM perseorangan tidak ditunjuk
untuk memotong PPh Pasal 23. Demikian sebaliknya,
apabila UMKM meneriman penghasilan yang merupakan
objek pemotongan PPh Pasal 23 dan pemberi penghasilan
(pemberi kerja) juga merupakan pemotong PPh Pasal
23, maka atas penghasilan yang diterima UMKM akan
dipotong PPh Pasal 23 oleh si pihak pemotong tersebut.

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 23


atas jasa tertentu (jasa service mesin atau komputer)
yang pemotongannya dilakukan oleh UMKM berbentuk
badan.
PT Polan (UMKM berbentuk badan memiliki NPWP)
membayar ke perusahaan yang bergerak di bidang service
komputer dengan nilai jasa Rp5.000.000,-. Besarnya PPh
Pasal 23 yang harus dipotong PT Polan : Rp5.000.000,-
x 2% = Rp100.000,-

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 23


atas jasa tertentu (jasa service mesin atau komputer)
yang diberikan UMKM ke pihak lain (pemotong).
PT Polan (UMKM berbentuk badan memiliki NPWP)
menerima penghasilan dari PT Delta karena memberikan
jasa cleaning service dengan nilai kontrak Rp50.000.000,-.
Besarnya penghasilan yang diterima PT Polan tersebut
yang harus dipotong PPh Pasal 23 oleh PT Delta adalah
sebagai berikut :
Rp50.000.000,- x 2% = Rp1.000.000,-

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

30
- PPh Pasal 26 adalah pemotongan pajak yang dilakukan
oleh pihak pemberi penghasilan sehubungan dengan
pembayaran berupa deviden, bunga, royalty, hadiah dan
penghasilan lainnya kepada WP luar negeri.

UMKM baik yang berbentuk perseoranan maupun badan


ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 26.

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 26


atas penghasilan tertentu (royalty) yang dilakukan oleh
UMKM berbentuk badan.
PT Polan (UMKM berbentuk badan) membayar royalty
ke perusahaan yang berada di luar negeri dengan jumlah
Rp100.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 26 yang harus
dipotong PT Polan :
Rp100.000.000,- x 20% = Rp20.000.000,-

- PPh Final (Pasal 4 ayat (2)


Pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak pemberi
penghasilan sehubungan dengan pembayaran untuk
objek tertentu seperti sewa tanah dan/atau bangunan, jasa
konstruksi, pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan
dan lainnya. Yang dimaksud final disini bahwa pajak
yang dipotong, dipungut oleh pihak pemberi penghasilan
atau dibayar sendiri oleh pihak penerima penghasilan,
penghitungan pajaknya sudah selesai dan tidak dapat
dikreditkan lagi dalam penghitungan Pajak Penghasilan
pada SPT Tahunan.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


31
UMKM berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh
Pasal 4 ayat (2), sedangkan UMKM perseorangan tidak
ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4 ayat (2) Demikian
sebaliknya, apabila UMKM meneriman penghasilan yang
merupakan objek pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) dan
pemberi penghasilan (pemberi kerja) juga merupakan
pemotong PPh Pasal 4 ayat (2), maka atas penghasilan yang
diterima UMKM akan dipotong PPh Pasal 4 ayat (2) oleh
si pihak pemotong tersebut. Namun, apabila UMKM
menerima penghasilan yang merupakan objek PPh Pasal
4 ayat (2) dan pihak pemberi penghasilan adalah orang
pribadi (bukan pemotong), maka UMKM tersebut wajib
menyetor sendiri PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut.

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 4


ayat (2) atas penghasilan dari persewaan tanah dan atau
bangunan yang dilakukan oleh UMKM (berbentuk
badan).
CV Polan (UMKM berbentuk badan memiliki NPWP)
membayar kepada Tuan A sebesar Rp10.000.000,-. atas
sewa toko. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus
dipotong CV Polan :
Rp10.000.000,- x 10% = Rp1.000.000,-

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 4


ayat (2) atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi
yang diterima oleh UMKM (berbentuk badan).
CV Polan (UMKM berbentuk badan memiliki NPWP)
menerima penghasilan atas jasa kosntruksi yang

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

32
diserahkannya ke Dinas Pendidikan kota A sebesar
Rp500.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus
dipotong Dinas Pendidikan Kota A atas penghasilan yang
diterima CV Polan :
Rp500.000.000,- x 2% = Rp10.000.000,-

Contoh penyetoran sendiri dan penghitungan PPh Pasal


4 ayat (2) atas penghasilan dari pengalihan hak atas
tanah dan atau bangunan yang diterima oleh UMKM
(berbentuk badan).
Tuan Bonar (UMKM berbentuk perseorangan memiliki
NPWP) menerima penghasilan atas penjualahan tanah
berikut bangunannya sebesar Rp1.000.000.000,-. Besarnya
PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus disetor sendiri oleh Tuan B
atas penghasilan yang diterimanya : Rp1.000.000.000,- x
5% = Rp50.000.000,-

- PPh Pasal 15 adalah pemotongan Pajak penghasilan yang


dilakukan oleh pihak pemberi penghasilan kepada Wajib
Pajak tertentu yang menggunakan norma penghitungan
khusus. Wajib Pajak tertentu tersebut adalah perusahaan
pelayaran atau penerbangan international, perusahaan
asuransi luar negeri, perusahaan pengeboran minyak, gas
dan panas bumi, perusahaan dagang asing, perusahaan yang
melakukan investasi dalam bentuk bangun guna serah.

UMKM berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh


Pasal 15, sedangkan UMKM perseorangan tidak ditunjuk
untuk memotong PPh Pasal 15. Demikian sebaliknya,
apabila UMKM meneriman penghasilan yang merupakan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


33
objek pemotongan PPh Pasal 15 dan pemberi penghasilan
(pemberi kerja) juga merupakan pemotong PPh Pasal 15,
maka atas penghasilan yang diterima UMKM akan dipotong
PPh Pasal 15 oleh si pihak pemotong tersebut. Namun,
apabila UMKM menerima penghasilan yang merupakan
objek PPh Pasal 15 dan pihak pemberi penghasilan adalah
orang pribadi (bukan pemotong), maka UMKM tersebut
wajib menyetor sendiri PPh Pasal 15 tersebut.

Contoh pemotongan dan penghitungan PPh Pasal


15 atas penghasilan dari sewa (charter) kapal milik
perusahaan pelayaran dalam negeri yang dibayarkan
oleh UMKM (berbentuk badan).
CV Polan (UMKM berbentuk badan memiliki NPWP)
membayar kepada PT C yang merupakan perushaan
pelayaran sebesar Rp50.000.000,-. Atas sewa kapal
(charter). Besarnya PPh Pasal 15 yang harus dipotong oleh
CV Polan :Rp50.000.000,- x 1,2% = Rp600.000,-

Contoh penyetoran sendiri dan penghitungan PPh


Pasal 15 atas penghasilan dari usaha pelayaran milik
UMKM (berbentuk badan).
CV Utama (UMKM berbentuk badan) memiliki usaha
perkapalan dan menerima penghasilan atas sewa kapal
selama sebulan dari perseorangan (bukan pemotongan)
sebesar Rp10.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 15 yang
harus disetor sendiri oleh CV Utama atas penghasilan yang
diterimanya :Rp10.000.000,- x 1,2% = Rp120.000,-

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

34
- PPN dan PPnBM adalah pemungutan PPN dan PPnBM
oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau Pemungutan
yang ditunjuk (misalnya Bendahara Pemerintah) atas
pengkonsumsian barang dan/atau jasa kena pajak.
Pengusaha Kena Pajak yang ditunjuk untuk memungut
PPN dan PPnBM adalah pengusaha yang memiliki
peredaran bruto (omzet) melebih Rp600.000.000,- setahun
atau pengusaha yang memilih sendiri untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak.

UMKM baik berbentuk perseorangan maupun badan yang


telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, wajib
memungut PPN dan juga PPnBM (bila barangnya yang
diserahkan tergolong mewah) dari pembeli atau pemakai
jasanya. UMKM juga wajib membayar PPN dan PPnBM
bila mengkonsumsi barang atau jasa dari Pengusaha Kena
Pajak.

Contoh pumungutan dan penghitungan PPN atas


penjualan Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh
UMKM .
CV Polan (UMKM sudah dikukuhkan sebagai PKP)
menyerahkan (menjual) Barang Kena Pajak berupa Alat-
alat tulis kepada pembelinya seharga Rp2.000.000,-.
Besarnya PPN yang harus dipungut oleh CV Polan dari
pembeli:
Rp2.000.000,- x 10% = Rp200.000,-
Sehingga total yang ditagih CV Polan kepada pembelinya :
Rp2.000.000,- + Rp200.000,- =Rp2.200.000,-

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


35
Contoh pumungutan dan penghitungan PPN atas
penjualan Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh
UMKM kepada Kantor Pemerintahan (ditunjuk sebagai
pemungut PPN).
CV Polan (UMKM sudah dikukuhkan sebagai PKP)
menyerahkan jasa catering kepada Bendahara Kementerian
Keuangan dengan kontrak harga Rp20.000.000,-. Besarnya
PPN yang harus dipungut oleh CV Polan dari pembeli
(Kementrian Keuangan):
Rp20.000.000,- x 10% = Rp2.000.000,-
Sehingga total yang ditagih CV Polan kepada Bendahara
Kementerian Keuangan:
Rp2.000.000,- + Rp200.000, =Rp2.200.000,-

Namun karena Bendahara Kementerian Keuangan


ditunjuk sebagai pemungut, maka PPN yang ditagih CV
Polan (sebesar Rp200.000), disetor sendiri oleh Bandahara
Kementerian Keuangan tersebut ke bank atau kantor pos

Contoh pumungutan dan penghitungan PPN atas


pembelian Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak
yang diterima oleh UMKM .
CV Polan (UMKM sudah dikukuhkan sebagai PKP)
membeli mesin cetak (Barang Kena Pajak) dari PT Bagus
(PKP) seharga Rp50.000.000,-. Besarnya PPN yang harus
dibayar oleh CV Polan dari pembeli:
Rp50.000.000,- x 10% = Rp5.000.000,-
Sehingga total yang dibayar CV Polan kepada PT bagus :
Rp50.000.000,- + Rp5.000.000,- =Rp55.000.000,-

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

36
Apabila pihak-pihak yang diberi kewajiban oleh Undang-
Undang Perpajakan untuk melakukan pemotongan/
pemungutan tidak melakukan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, maka dapat dikenakan sanksi administrasi
berupa bunga 2% dan kenaikan 100%.
Mengenai objek PPh dan tarif secara rinci terlampir dalam
baku panduan ini.

3. Pelaporan
Sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Perpajakan,
Surat Pemberitahuan (SPT) mempunyai fungsi sebagai
suatu sarana bagi Wajib Pajak di dalam melaporkan dan
mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang
sebenarnya terutang. Selain itu Surat Pemberitahuan berfungsi
untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak baik yang
dilakukan Wajib Pajak sendiri maupun melalui mekanisme
pemotongan dan pemungutan yang dilakukan oleh pihak
pemotong/pemungut, melaporkan harta dan kewajiban,
dan pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang
pemotongan dan pemungutan pajak yang telah dilakukan.
Sehingga Surat Pemberitahuan mempunyai makna yang cukup
penting baik bagi Wajib Pajak maupun aparatur pajak.

Pelaporan pajak disampaikan ke KPP atau KP2KP dimana


Wajib Pajak UMKM terdaftar. SPT dapat dibedakan sebagai
berikut :
1) SPT Masa, yaitu SPT yang digunakan untuk melakukan
pelaporan atas pembayaran pajak bulanan. Ada beberapa
SPT Masa :
- PPh Pasal 21,

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


37
- PPh Pasal 22,
- PPh Pasal 23,
- PPh Pasal 25,
- PPh Pasal 26,
- PPh Pasal 4 (2)
- PPh Pasal 15
- PPN dan PPnBM
- Pemungut PPN

2) SPT Tahunan, yaitu SPT yang digunakan untuk pelaporan


tahunan. Ada beberapa jenis SPT Tahunan :
- Badan
- Orang Pribadi
Saat ini khusus untuk SPT Masa PPN sudah dapat
disampaikan secara elektronik (on-line) melalui aplikasi
e-filing. Penyampaian SPT Tahunan PPh juga dapat
dilakukan secara online melalui aplikasi e-SPT.

Keterlambatan pelaporan untuk SPT Masa PPN dikenakan


denda sebesar Rp500.000,- (lima ratus ribu rupiah),
dan untuk SPT Masa lainnya dikenakan denda sebesar
Rp100.000,- (seratus ribu rupiah). Sedangkan untuk
keterlambatan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi khususnya
mulai Tahun Pajak 2008 dikenakan denda sebesar
Rp100.000,- (seratus ribu rupiah), dan SPT Tahunan PPh
Badan dikenakan denda sebesar Rp1.000.000,- (satu juta
rupiah).

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

38
Batas Waktu Batas Waktu
No Jenis SPT
Pembayaran Pelaporan

Masa

Tgl. 10 bulan Tgl. 20 bulan


1 PPh Pasal 4 ayat (2)
berikut berikut

Tgl. 10 bulan Tgl. 20 bulan


2 PPh Pasal 15
berikut berikut

Tgl. 10 bulan Tgl. 20 bulan


3 PPh Pasal 21/26
berikut berikut

Tgl. 10 bulan Tgl. 20 bulan


4 PPh Pasal 23/26
berikut berikut

PPh Pasal 25 (angsuran


Tgl. 15 bulan Tgl. 20 bulan
5 pajak) untuk Wajib Pajak
berikut berikut
orang pribadi dan badan

PPh Pasal 25 (angsuran


pajak) untuk Wajib Pajak Tgl.20 setelah
kriteria tertentu yang Akhir masa pajak berakhirnya
6
diperbolehkan melaporkan terakhir Masa Pajak
beberapa Masa Pajak dalam terakhir
satu SPT Masa

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


39
Hari kerja
terakhir
minggu
PPh Pasal 22, PPN & PPn 1 hari setelah
7 berikutnya
BM oleh Bea Cukai dipungut
(melapor
secara
mingguan)

Pada hari yang


PPh Pasal 22 - Bendahara sama saat Tgl. 14 bulan
8
Pemerintah penyerahan berikut
barang

Sebelum
9 PPh Pasal 22 - Pertamina Delivery Order
dibayar

PPh Pasal 22 - Pemungut Tgl. 10 bulan Tgl. 20 bulan


10
tertentu berikut berikut

Akhir bulan
berikutnya
Akhir bulan
setelah
berikutnya
berakhirnya
11 PPN dan PPn BM - PKP setelah
Masa Pajak
berakhirnya
dan sebelum
Masa Pajak
SPT Masa PPN
disampaikan

PPN dan PPn BM - Tgl. 7 bulan Tgl. 14 bulan


12
Bendaharawan berikut berikut

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

40
PPN & PPn BM - Tgl. 15 bulan Tgl. 20 bulan
13
Pemungut Non Bendahara berikut berikut

PPh Pasal 4 ayat (2), Pasal Tgl.20 setelah


Sesuai batas
15,21,23, PPN dan PPnBM berakhirnya
14 waktu per SPT
Untuk Wajib Pajak Kriteria Masa Pajak
Masa
Tertentu terakhir

Batas Waktu Batas Waktu


No Jenis SPT
Pembayaran Pelaporan
Tahunan

akhir bulan ketiga


PPh - Orang Sebelum SPT Tahunan setelah berakhirnya
1
Pribadi PPh disampaikan tahun atau bagian
tahun pajak

akhir bulan keempat


Sebelum SPT Tahunan setelah berakhirnya
2 PPh - Badan
PPh disampaikan tahun atau bagian
tahun pajak

6 (enam) bulan sejak


3 PBB tanggal diterimanya ----
SPPT

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


41
C. KEWAJIBAN DALAM HAL DIPERIKSA

Untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi


kewajiban perpajakannya, Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan
pemeriksaan terhadap Wajib Pajak. Pelaksanaan pemeriksaan
dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan terhadap
Wajib Pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan Wajib
Pajak.

Kewajiban Wajib Pajak yang diperiksa adalah :


1. memenuhi panggilan untuk datang menghadiri Pemeriksaan
sesuai dengan waktu yang ditentukan khususnya untuk jenis
Pemeriksaan Kantor;
2. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain termasuk
data yang dikelolah secara elektronik, yang berhubungan
dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan
bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak. Khusus
untuk Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak wajib memberikan
kesempatan untuk mengakses dan/atau mengunduh data yang
dikelolah secara elektronik;
3. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang
yang dipandang perlu dan memberi bantuan lainnya guna
kelancaran pemeriksaan;
4. menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat
Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
5. Meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh
Akuntan Publik khususnya untuk jenis Pemeriksaan Kantor;
6. memberikan keterangan lain baik lisan maupun tulisan yang
diperlukan.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

42
D. KEWAJIBAN MEMBERI DATA

Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain,


wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan
perpajakan kepada Direktorat Jenderal Pajak yang ketentuannya
diatur pada Pasal 35A UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan Sebagaimana Telah Diubah
Dengan UU Nomor 16 Tahun 2009.
Dalam rangka pengawasan kepatuhan pelaksanaan kewajiban
perpajakan sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment,
data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang
bersumber dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak
lain sangat diperlukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Data dan
informasi dimaksud adalah data dan informasi orang pribadi atau
badan yang dapat menggambarkan kegiatan atau usaha, peredaran
usaha, penghasilan dan/atau kekayaan yang bersangkutan, termasuk
informasi mengenai nasabah debitur, data transaksi keuangan dan
lalu lintas devisa, kartu kredit, serta laporan keuangan dan/atau
laporan kegiatan usaha yang disampaikan kepada instansi lain di
luar Direktorat Jenderal Pajak.
Setiap orang yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban
memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau
denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Sedangkan untuk setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan
tidak terpenuhinya kewajiban pejabat dan pihak lain (kewajiban
memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan)
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau
denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


43
HAK WAJIB PAJAK ADALAH :

A. HAK ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

Dalam hal pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak


ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak, atau dengan kata lain
pembayaran pajak yang dibayar atau dipotong atau dipungut lebih
besar dari yang seharusnya terutang, maka Wajib Pajak mempunyai
hak untuk mendapatkan kembali kelebihan tersebut. Pengembalian
kelebihan pembayaran pajak dapat diberikan dalam waktu 12 (dua
belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap.
Untuk Wajib Pajak masuk kriteria Wajib Pajak Patuh,
pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat dilakukan
paling lambat 3 bulan untuk PPh dan 1 bulan untuk PPN sejak
permohonan diterima. Perlu diketahui pengembalian ini dilakukan
tanpa pemeriksaan.

Wajib Pajak dapat melakukan permohonan pengembalian


kelebihan pembayaran pajak melalui dua cara :
1. melalui Surat Pemberitahuan (SPT),
2. dengan mengirimkan surat permohonan yang ditujukan
kepada
Kepala KPP.

Apabila Direktorat Jenderal Pajak terlambat mengembalikan


kelebihan pembayaran yang semestinya dilakukan, maka Wajib
Pajak berhak menerima bunga 2% per bulan maksimum 24 bulan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

44
B. HAK DALAM HAL WAJIB PAJAK DILAKUKAN
PEMERIKSAAN

Pemeriksaan
Direktorat Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan
dengan tujuan menguji kepatuhan Wajib Pajak dan tujuan lain
yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Dalam hal dilakukan pemeriksaan, Wajib Pajak berhak :
- Meminta Surat Perintah Pemeriksaan
- Melihat Tanda Pengenal Pemeriksa
- Mendapat penjelasan mengenai maksud dan tujuan
pemeriksaan
- Meminta rincian perbedaan antara hasil pemeriksaan dan SPT
- untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam
batas waktu yang ditentukan

Berdasarkan ruang lingkupnya jenis-jenis pemeriksaan


sebagaimana disebutkan di atas dapat dibedakan menjadi
pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan kantor. Pemeriksaan
Kantor dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan
dan dapat diperpanjang menjadi 6 (enam) bulan yang dihitung
sejak tanggal Wajib Pajak datang memenuhi surat panggilan dalam
rangka Pemeriksaan Kantor sampai dengan tanggal Laporan Hasil
Pemeriksaan.
Pemeriksaan Lapangan dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 4 (empat) bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling
lama 8 (delapan) bulan yang dihitung sejak tanggal Surat perintah
Pemeriksaan sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


45
C. HAK UNTUK MENGAJUKAN KEBERATAN, BANDING
& PENINJAUAN KEMBALI

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Direktorat


Jenderal Pajak, maka akan diterbitkan suatu surat ketetapan pajak,
yang dapat mengakibatkan pajak terutang menjadi kurang bayar,
lebih bayar, atau nihil. Jika Wajib Pajak tidak sependapat maka dapat
mengajukan keberatan atas surat ketetapan tersebut. Selanjutya
apabila belum puas dengan keputusan keberatan tersebut maka
Wajib Pajak dapat mengajukan banding. Langkah terakhir yang
dapat dilakukan oleh Wajib Pajak dalam sengketa pajak adalah
peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.
Penetapan pajak dapat dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Jenis-jenis ketetapan yag dikeluarkan adalah : Surat Ketetapan
Pajak Lebih Bayar (SKPLB), Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
(SKPKBT), dan Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). Disamping
itu dapat diterbitkan pula Surat Tagihan Pajak (STP) dalam hal
dikenakannya sanksi administrasi dapat berupa denda, bungan, dan
kenaikan.

Sanksi Administrasi

No Pasal Masalah Sanksi Ket.


Denda

SPT Terlambat
1 7 (1)
disampaikan :

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

46
Rp100.000
a. Masa atau Per SPT
Rp500.000

Rp100.000
b. Tahunan atau Per SPT
Rp1.000.000

Dari jumlah
Pembetulan sendiri dan pajak yang
2 8 (3) 150%
belum disidik kurang
dibayar

pengusaha yang telah


dikukuhkan sebagai
PKP, tetapi tidak
3 14 (4) membuat faktur pajak 2% Dari DPP
atau membuat faktur
pajak, tetapi tidak tepat
waktu;

pengusaha yang telah


dikukuhkan sebagai
PKP yang tidak mengisi 2%
faktur pajak secara
lengkap

PKP melaporkan faktur


pajak tidak sesuai
2%
dengan masa penerbitan
faktur pajak

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


47
Bunga

Per bulan,
dari jumlah
8 (2 Pembetulan SPT Masa
1. 2% pajak yang
dan 2a) dan Tahunan
kurang
dibayar

Per bulan,
Keterlambatan
9 (2a dari jumlah
2. pembayaran pajak masa 2%
dan 2b) pajak
dan tahunan
terutang

Per bulan,
Kekurangan dari jumlah
3. 13 (2) pembayaran pajak 2% kurang
dalam SKPKB dibayar, max
24 bulan

SKPKB diterbitkan
Dari jumlah
setelah lewat waktu
paak yang
5 tahun karena
4. 13 (5) 48% tidak mau
adanya tindak pidana
atau kurang
perpajakan maupun
dibayar.
tindak pidana lainnya

Per bulan,
dari jumlah
a. PPh tahun berjalan pajak tidak/
5. 14 (3) 2%
tidak/kurang bayar kurang
dibayr, max
24 bulan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

48
Per bulan,
dari jumlah
pajak tidak/
b. SPT kurang bayar 2%
kurang
dibayr, max
24 bulan

PKP yang gagal


berproduksi dan telah
14 (5) 2%
diberikan pengembalian
Pajak Masukan

SKPKBT diterbitkan
Dari jumlah
setelah lewat waktu
pajak yang
5 tahun karena
6. 15 (4) 48% tidak atau
adanya tindak pidana
kurang
perpajakan maupun
dibayar
tindak pidana lainnya

SKPKB/T, SK Per bulan,


Pembetulan, SK atas jumlah
Keberatan, Putusan pajak yang
7. 19 (1) 2%
Banding yang tidak atau
menyebabkan kurang kurang
bayar terlambat dibayar dibayar

Per bulan,
bagian
Mengangsur atau dari bulan
8. 19 (2) 2%
menunda dihitung
penuh 1
bulan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


49
Atas
Kekurangan pajak kekurangan
9. 19 (3) 2%
akibat penundaan SPT pembayaran
pajak

Kenaikan

Pengungkapan ketidak Dari pajak


1. 8 (5) benaran SPT sebelum 50% yang kurang
terbitnya SKP dibayar

Apabila: SPT
tidak disampaikan
sebagaimana disebut
dalam surat teguran,
PPN/PPnBM yang
2. 13 (3)
tidak seharusnya
dikompensasikan atau
tidak tarif 0%, tidak
terpenuhinya Pasal 28
dan 29

Dari PPh
a. PPh yang tidak atau yang tidak/
50%
kurang dibayar kurang
dibayar

Dari PPh
b. tidak/kurang yang tidak/
dipotong/ dipungut/ 100% kurang
disetorkan dipotong/
dipungut

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

50
Dari PPN/
PPnBM
c. PPN/PPnBM tidak
100% yang tidak
atau kurang dibayar
atau kurang
dibayar

Dari jumlah
Kekurangan pajak pada kekurangan
3. 15 (2) 100%
SKPKBT pajak
tersebut

1. Keberatan

Wajib Pajak mempunyai hak untuk mengajukan keberatan


atas suatu ketetapan pajak dengan mengajukan keberatan
secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat
3 bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak
tanggal pemotongan atau pemungutan kecuali apabila Wajib
Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak
dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya., dan atas
keberatan tersebut Direktur Jenderal Pajak akan memberikan
keputusan paling lama dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan sejak surat keberatan diterima.

Syarat pengajuan keberatan adalah :


- Mengajukan surat keberatan kepada Direktur Jenderal
Pajak c.q. Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat atas
SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN, dan Pemotongan dan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


51
Pemungutan oleh pihak ketiga.
- Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan
mengemukakan jumlah pajak terutang menurut
perhitungan Wajib Pajak dengan menyebutkan alasan-
alasan yang jelas.
- Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga)
bulan sejak surat ketetapan pajak, kecuali Wajib Pajak
dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat
dipenuhi karena di luar kekuasaannya.
- Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan di atas
tidak dianggap sebagai Surat Keberatan, sehingga tidak
dipertimbangkan.
- Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat
ketetapan pajak, Wajib Pajak wajib melunasi pajak yang
masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah
disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil
pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.

Perlu diketahui bahwa apabila permohonan keberatan


Wajib Pajak ditolak dan Wajib Pajak tidak mengajukan banding
maka Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan
keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar
sebelum mengajukan keberatan.

2. Banding
Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan Surat
Keputusan Keberatan atas keberatan yang diajukannya, maka
Wajib Pajak masih dapat mengajukan banding ke Badan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

52
Peradilan Pajak. Permohonan banding diajukan secara tertulis
dalam bahasa Indonesia dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak
keputusan diterima dilampiri surat Keputusan Keberatan
tersebut. Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat
Banding. Pengadilan Pajak harus menetapkan putusan paling
lambat 12 (dua belas) bulan sejak Surat Banding diterima.
Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan
sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan
Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang
telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

3. Peninjauan Kembali (PK)


Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan Putusan
Banding, maka Wajib Pajak masih memiliki hak mengajukan
Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung. Permohonan
Peninjauan Kembali hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada
Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak.
Pengajuan permohonan PK dilakukan dalam jangka waktu
paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahuinya
kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim
Pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap atau
ditemukannya bukti tertulis baru atau sejak putusan banding
dikirim.
Mahkamah Agung mengambil keputusan dalam jangka
waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan PK diterima.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


53
D. HAK-HAK WAJIB PAJAK LAINNYA

- Hak Kerahasiaan Bagi Wajib Pajak


Wajib Pajak mempunyai hak untuk mendapat perlindungan
kerahasiaan atas segala sesuatu informasi yang telah
disampaikannya kepada Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka
menjalankan ketentuan perpajakan. Disamping itu pihak lain
yang melakukan tugas di bidang perpajakan juga dilarang
mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak, termasuk tenaga
ahli, sepert ahli bahasa, akuntan, pengacara yang ditunjuk oleh
Direktur Jenderal Pajak untuk membantu pelaksanaan undang-
undang perpajakan.

Kerahasiaan Wajib Pajak antara lain :


Surat Pemberitahuan, laporan keuangan, dan dokumen
lainnya yang dilaporkan oleh Wajib Pajak;
Data dari pihak ketiga yang bersifat rahasia;
Dokumen atau rahasia Wajib Pajak lainnya sesuai ketentuan
perpajakan yang berlaku.

Namun demikian dalam rangka penyidikan, penuntutan


atau dalam rangka kerjasama dengan instansi pemerintah
lainnya, keterangan atau bukti tertuils dari atau tentang Wajib
Pajak dapat diberikan atau diperlihatkan kepada pihak tertentu
yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

- Hak Untuk Pengangsuran atau Penundaan Pembayaran


Dalam hal-hal atau kondisi tertentu, Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan menunda pembayaran pajak.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

54
- Hak Untuk Penundaan Pelaporan SPT Tahunan
Dengan alasan-alasan tertentu, Wajib Pajak dapat menyampaikan
perpanjangan penyampaian SPT Tahunan baik PPh Badan
maupun PPh Orang Pribadi.

- Hak Untuk Pengurangan PPh Pasal 25


Dengan alasan-alasan tertentu, Wajib Pajak dapat mengajukan
pengurangan besarnya angsuran PPh Pasal 25.

- Hak Untuk Pengurangan PBB (Pajak Bumi dan


Bangunan)
Wajib Pajak orang pribadi atau badan karena kondisi tertentu
objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak atau
karena sebab-sebab tertentu lainnya serta dalam hal objek
pajak yang terkena bencana alam dan juga bagi Wajib Pajak
anggota veteran pejuang kemerdekaan dan veteran pembela
kemerdekaan, dapat mengajukan permohonan pengurangan
atas pajak terutang. Khusus untuk Pajak Bumi dan Bangunan
Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2) yang sudah dialihkan ke
Pemerintah Daerah (Kota/Kabupaten), pengurusan untuk
pengurangan PBB tidak lagi di Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
tetapi di Kantor Dinas Pendapatan Kota/kabupaten setempat.
- Hak Untuk Pembebasan Pajak
Dengan alasan-alasan tertentu, Wajib Pajak dapat mengajukan
permohonan pembebasan atas pemotongan/ pemungutan
Pajak Penghasilan.

- Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak


Wajib Pajak yang telah memenuhi kriteria tertentu sebagai Wajib
Pajak Patuh dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


55
pembayaran pajak dalam jangka waktu paling lambat 1 bulan
untuk PPN dan 3 bulan untuk PPh sejak tanggal permohonan.

- Hak Untuk Mendapatkan Pajak Ditanggung Pemerintah


Dalam rangka pelaksanaan proyek pemerintah yang dibiayai
dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri PPh yang terutang
atas penghasilan yang diterima oleh kontraktor, konsultan dan
supplier utama ditanggung oleh pemerintah.

- Hak Untuk Mendapatkan Insentif Perpajakan


Di bidang PPN, untuk Barang Kena Pajak tertentu atau
kegiatan tertentu diberikan fasilitas pembebasan PPN atau
PPN Tidak Dipungut. BKP tertentu yang dibebaskan dari
pengenaan PPN antara lain Kereta Api, Pesawat Udara, Kapal
Laut, Buku-buku, perlengkapan TNI/POLRI yang diimpor
maupun yang penyerahannya di dalam daerah pabean oleh
Wajib Pajak tertentu. Perusahaan yang melakukan kegiatan di
kawasan tertentu seperti Kawasan Berikat mendapat fasilitas
PPN Tidak Dipungut antara lain atas impor dan perolehan
bahan baku.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

56
BAB 3
Informasi Lebih Lanjut
BAB 3
INFORMASI LEBIH LANJUT

Apabila anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang perpajakan,


Wajib Pajak UMKM dapat menghubungi Kantor Wilayah, KPP dan
KP2KP terdekat. Anda juga dapat mengakses Website DJP dengan
alamat www.pajak.go.id untuk mengetahui ketentuan perpajakan
yang berlaku.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

59
Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

60
BAB 4
Pelayanan dan Keluhan
BAB 4
PELAYANAN DAN KELUHAN

Sampaikan keluhan, kritik dan sarana anda atas pelayanan


Direktorat Jenderal Pajak secara langsung ke Kotak Pos 111 JKTM
12700.
Sampaikan keluhan, kritik dan sarana anda atas pelayanan
Direktorat Jenderal Pajak melalui Komisi Ombudsman Nasional,
Jl. Adityawarman No. 43 Kebayoran Baru Jakarta 12160 telepon
(021) 7258574-78 fax (021) 7258579.
Wajib Pajak yang ingin mendapat informasi perpajakan dan
menyampaikan keluhan dapat menghubungi :
Kring Pajak : 500 200 (Informasi & Pengaduan)
Pengaduan : pengaduan@pajak.go.id
: pusat.pengaduan.pajak@gmail.com
Web : www.pajak.go.id

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

63
Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

64
BAB 5
Singkatan - Singkatan
BAB 5
SINGKATAN SINGKATAN

Dibawah ini ada beberapa singkatan yang telah biasa digunakan


dalam kegiatan sehari-hari di perpajakan :

- BKP : Barang Kena Pajak


- BPHTB : Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
- DJP : Direktorat Jenderal Pajak
- JKP : Jasa Kena Pajak
- KPP : Kantor Pelayanan Pajak
- KP2KP : Kantor Pelayanan Penyuluhan dan
Konsultasi Perpajakan
- NOP : Nomor Objek Pajak
- NJOP : Nilai Jual Objek Pajak
- NPWP : Nomor Pokok Wajib Pajak
- PBB : Pajak Bumi dan Bangunan
- PKP : Pengusaha Kena Pajak
- PPKP : Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
- PPN : Pajak Pertambahan Nilai
- PPn BM : Pajak Penjualan atas Barang Mewah
- PPh : Pajak Penghasilan
- PTKP : Penghasilan Tidak Kena Pajak
- SKP : Surat Ketetapan Pajak
- SKPKB : Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
- SKPKBT : Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

67
- SKPLB : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
- SKPN : Surat Ketetapan Pajak Nihil
- SPT : Surat Pemberitahuan
- SPOP : Surat Pemberitahuan Objek Pajak
- SPPT : Surat Pemberitahuan Pajak Terutang
- SSP : Surat Setoran Pajak
- SSB : Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah
dan Bangunan
- STTS : Surat Tanda Terima Setoran (Pajak Bumi dan
Bangunan)
- STP : Surat Tagihan Pajak
- WP : Wajib Pajak
- OPPT : Orang Pribadi Pengusaha Tertentu

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

68
BAB 6
Lampiran
BAB 6
LAMPIRAN
Lampiran I : Contoh Pengisian SSP
Lampran II : Petunjukan Pengisian SSP, Kode Jenis Pajak dan
Jenis Setoran
Lampiran III : Informasi Perpajakan Lainnya
Lampiran IV : Alamat Kantor Pelayanan Pajak

Lampiran I

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

71
BUKU PETUNJUK PENGISIAN SURAT SETORAN
PAJAK (SSP)
Lampiran II

I. NPWP, Nama WP dan Alamat


Diisi sesuai dengan :
1. NPWP diisi dengan Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP
yang dimiliki Wajib Pajak.
2. Nama WP diisi dengan Nama Wajib Pajak.
3. Alamat diisi sesuai dengan alamat yang tercantum
dalam
Surat Keterangan Terdaftar (SKT).

Catatan : Bagi WP yang belum memiliki NPWP


1. NPWP diisi :
a. Untuk WP berbentuk Badan Usaha diisi dengan
01.000.000.0-XXX.000
b. Untuk WP Orang Pribadi diisi dengan
04.000.000.0-XXX.000
2. XXX diisi dengan Nomor Kode KPP Domisili
pembayar
pajak.
3. Nama dan Alamat diisi dengan lengkap sesuai dengan
Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau identitas lainnya
yang sah.

II. Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran


1. Kode Akun Pajak diisi dengan angka Kode Akun Pajak yang

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

72
tertera di atas tabel-tabel berikut untuk setiap jenis pajak yang
akan dibayar atau disetor.
2. Kode Jenis Setoran (KJS) diisi dengan angka dalam kolom
Kode Jenis Setoran untuk setiap jenis pajak yang akan
dibayar atau disetor pada tabel berikut sesuai dengan
penjelasan dalam kolom Keterangan.
Catatan : Kedua kode tersebut harus diisi dengan benar dan
lengkap agar kewajiban perpajakan yang telah dibayar dapat
diadministrasikan dengan tepat.
III. Uraian Pembayaran (untuk SSP Standar)
Diisi sesuai dengan uraian dalam kolom Jenis Setoran yang
berkenaan dengan Kode MAP dan Kode Jenis Setoran pada
tabel berikut.
Khusus PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas transaksi Pengalihan
Hak atas Tanah dan Bangunan, dilengkapi dengan nama
pembeli dan lokasi objek pajak.
Khusus PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Persewaan Tanah dan
Bangunan yang disetor oleh yang menyewakan, dilengkapi
dengan nama penyewa dan lokasi objek sewa.
IV. Masa Pajak
Diisi dengan memberi tanda silang pada salah satu kolom bulan
untuk masa pajak yang dibayar atau disetor. Pembayaran atau
setoran untuk lebih dari satu masa pajak dilakukan dengan
menggunakan satu SSP untuk setiap masa pajak.
V. Tahun Pajak
Diisi tahun terutangnya pajak.
VI. Nomor Ketetapan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

73
Diisi nomor ketetapan yang tercantum pada surat ketetapan
pajak (SKPKB, SKPKBT) atau Surat Tagihan Pajak (STP)
hanya apabila SSP digunakan untuk membayar atau menyetor
pajak yang kurang dibayar/disetor berdasarkan surat ketetapan
pajak atau STP.

VII. Jumlah Pembayaran


Diisi dengan angka jumlah pajak yang dibayar atau disetor
dalam rupiah penuh.
Pembayaran pajak dengan menggunakan mata uang Dollar
Amerika Serikat (bagi WP yang diwajibkan melakukan
pembayaran pajak dalam mata uang Dollar Amerika Serikat),
diisi secara lengkap sampai dengan sen.

VIII. Terbilang (untuk SSP Standar)


Diisi jumlah pajak yang dibayar atau disetor dengan huruf
latin dan menggunakan bahasa Indonesia.

IX. Diterima oleh Kantor Penerima Pembayaran (untuk SSP


Standar)
Diisi tanggal penerimaan pembayaran atau setoran oleh
Kantor Penerima Pembayaran (Bank Persepsi/Devisa Persepsi
atau PT. Pos Indonesia), tanda tangan, dan nama jelas petugas
penerima pembayaran atau setoran, serta cap/stempel Kantor
Penerima Pembayaran.
X. Wajib Pajak/Penyetor (untuk SSP Standar)
Diisi tempat dan tanggal pembayaran atau penyetoran, tanda
tangan, dan nama jelas Wajib Pajak/Penyetor serta stempel
usaha.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

74
XI. Ruang Validasi Kantor Penerima Pembayaran (untuk SSP
Standar)
Diisi Nomor Transaksi Pembayaran Pajak (NTPP) dan atau
Nomor Transaksi Bank (NTB) atau Nomor Transaksi Pos
(NTP) hanya oleh Kantor Penerima Pembayaran yang telah
mengadakan kerja sama Modul Penerimaan Negara (MPN)
dengan Direktorat Jenderal Pajak.

XII. Pemberlakuan SSP Baru


SSP dan kode akun pajak sebagaimana terlampir ini mulai
berlaku pada tanggal 1 Juli 2009

TABEL KODE AKUN PAJAK DAN KODE JENIS


SETORAN

1. Kode Akun Pajak 411121 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 21.

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran pajak yang


mzasih harus disetor yang
100 Masa PPh Pasal 21
tercantum dalam SPT Masa
PPh Pasal 21.

Pembayaran untuk pembayaran pajak


199 Pendahuluan skp PPh sebelum diterbitkan surat
Pasal 21 ketetapan pajak PPh Pasal 21.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

75
untuk pembayaran pajak
yang masih harus disetor
200 Tahunan PPh Pasal 21
yang tercantum dalam SPT
Tahunan PPh Pasal 21.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
300 STP PPh Pasal 21 tercantum dalam
Surat Tagihan Pajak (STP) PPh
Pasal 21.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB PPh Pasal 21
tercantum dalam SKPKB PPh
Pasal 21.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Final
yang masih harus dibayar yang
Pasal 21 Pembayaran
tercantum dalam SKPKB PPh
Sekaligus Atas Jaminan
311 Final Pasal 21 pembayaran
Hari Tua, Uang
sekaligus atas Jaminan Hari
Tebusan Pensiun, dan
Tua, Uang Tebusan Pensiun,
Uang Pesangon
dan Uang Pesangon.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
320 SKPKBT PPh Pasal 21
tercantum dalam SKPKBT
PPh Pasal 21.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

76
untuk pembayaran jumlah
SKPKBT PPh Final yang masih harus dibayar yang
Pasal 21 Pembayaran tercantum dalam SKPKBT
Sekaligus PPh Final
321
Atas Jaminan Hari Tua, Pasal 21 pembayaran sekaligus
Uang Tebusan Pensiun, atas Jaminan Hari Tua, Uang
dan Uang Pesangon Tebusan Pensiun dan Uang
Pesangon.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

PPh Final Pasal 21 untuk pembayaran PPh Final


Pembayaran Sekaligus Pasal 21 pembayaran sekaligus
401 Atas Jaminan Hari Tua, atas Jaminan Hari Tua, Uang
Uang Tebusan Pensiun, Tebusan Pensiun, dan Uang
dan Uang Pesangon Pesangon.

PPh Final Pasal 21


untuk pembayaran PPh Final
atas honorarium atau
Pasal 21 atas honorarium atau
imbalan
imbalan lain yang
402 lain yang diterima
diterima Pejabat Negara, PNS,
Pejabat Negara, PNS,
anggota TNI/POLRI dan para
anggota TNI/POLRI
pensiunnya.
dan para pensiunnya

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

77
2. Kode Akun Pajak 411122 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 22.

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran pajak yang


100 Masa PPh Pasal 22 harus disetor yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 22.

Pembayaran untuk pembayaran pajak


199 Pendahuluan skp PPh sebelum diterbitkan surat
Pasal 22 ketetapan pajak PPh Pasal 22.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
200 STP PPh Pasal 22
tercantum dalam STP PPh
Pasal 22.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB PPh Pasal 22
tercantum dalam SKPKB PPh
Pasal 22.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Final yang masih harus dibayar yang
311
Pasal 22 tercantum dalam SKPKB PPh
Final Pasal 22.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

78
untuk pembayaran jumlah
SKPKBT PPh Pasal yang masih harus dibayar yang
320
22 tercantum dalam SKPKBT
PPh Pasal 22.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Final yang masih harus dibayar yang
321
Pasal 22 tercantum dalam SKPKBT
PPh Final Pasal 22.

Pembayaran atas untuk pembayaran jumlah


Surat Keputusan yang masih harus dibayar
Pembetulan, yang tercantum dalam Surat
390
Surat Keputusan Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau Keputusan Keberatan, atau
Putusan Banding Putusan Banding.

PPh Final Pasal 22 untuk pembayaran PPh Final


401
atas Penebusan Migas Pasal 22 atas Penebusan Migas.

PPh Final Pasal 22 atas


untuk pembayaran PPh Final
Penyerahan Rokok
402 Pasal 22 atas penyerahan rokok
Produksi Dalam
produksi dalam negeri.
Negeri

untuk pembayaran PPh


Pemungut PPh Pasal
900 Pasal 22 yang dipungut oleh
22
Pemungut.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

79
3. Kode Akun Pajak 411123 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 22
Impor.
KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran pajak yang


harus
Masa PPh Pasal 22
100 disetor yang tercantum dalam
Impor
SPT Masa PPh Pasal 22 atas
transaksi impor.

untuk pembayaran pajak


Pembayaran
sebelum diterbitkan surat
199 Pendahuluan skp PPh
ketetapan pajak PPh Pasal 22
Pasal 22 Impor
Impor.

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Pasal 22 yang masih harus dibayar yang
300
Impor tercantum dalam STP PPh Pasal
22 atas transaksi impor.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Pasal 22 yang masih harus dibayar yang
310
Impor tercantum dalam SKPKB PPh
Pasal 22 atas transaksi impor.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Pasal yang masih harus dibayar yang
320
22 Impor tercantum dalam SKPKBT PPh
Pasal 22 atas transaksi impor.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

80
untuk pembayaran jumlah
Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

4. Kode Akun Pajak 411124 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 23


KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran PPh Pasal 23


yang harus disetor (selain PPh
100 Masa PPh Pasal 23 Pasal 23 atas dividen, bunga,
royalti, dan jasa) yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 23.

untuk pembayaran PPh Pasal 23


yang harus disetor atas dividen
PPh Pasal 23 atas yang dibayarkan kepada Wajib
101
Dividen Pajak dalam negeri yang
tercantum dalam SPT Masa PPh
Pasal 23.

untuk pembayaran PPh Pasal 23


yang harus disetor atas bunga
(termasuk premium, diskonto
PPh Pasal 23 atas dan imbalan karena jaminan
102
Bunga pengembalian utang) yang
dibayarkan kepada Wajib Pajak
dalam negeri yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 23.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

81
untuk pembayaran PPh Pasal
23 yang harus disetor atas
PPh Pasal 23 atas royalti yang dibayarkan kepada
103
Royalti Wajib Pajak dalam negeri yang
tercantum dalam SPT Masa PPh
Pasal 23.

untuk pembayaran PPh Pasal 23


yang harus disetor atas jasa yang
104 PPh Pasal 23 atas Jasa dibayarkan kepada Wajib Pajak
dalam negeri yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 23.

Pembayaran untuk pembayaran pajak


199 Pendahuluan skp PPh sebelum diterbitkan surat
Pasal 23 ketetapan pajak PPh Pasal 23.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
tercantum dalam STP PPh Pasal
300 STP PPh Pasal 23
23 (selain STP PPh Pasal 23
atas dividen, bunga, royalti, dan
jasa).

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Pasal 23 yang masih harus dibayar yang
301 atas Dividen, Bunga, tercantum dalam STP PPh Pasal
Royalti, dan Jasa 23 atas dividen, bunga, royalti,
dan jasa.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

82
untuk pembayaran jumlah
yang masih harus dibayar yang
tercantum dalam SKPKB PPh
310 SKPKB PPh Pasal 23
Pasal 23 (selain SKPKB PPh
pasal 23 atas dividen, bunga,
royalti dan jasa).

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Pasal 23 yang masih harus dibayar yang
311 atas Dividen, Bunga, tercantum dalam SKPKB PPh
Royalti, dan Jasa Pasal 23 atas dividen, bunga,
royalti, dan jasa.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Final yang masih harus dibayar yang
312
Pasal 23 tercantum dalam SKPKB PPh
Final Pasal 23.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
SKPKBT PPh Pasal tercantum dalam SKPKBT PPh
320
23 Pasal 23 (selain SKPKBT PPh
Pasal 23 atas dividen, bunga,
royalti, dan jasa).

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Pasal
yang masih harus dibayar yang
23 atas Dividen,
321 tercantum dalam SKPKBT PPh
Bunga, Royalti, dan
Pasal 23 atas dividen, bunga,
Jasa
royalti, dan jasa.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

83
untuk pembayaran jumlah
SKPKBT PPh Final yang masih harus dibayar yang
322
Pasal 23 tercantum dalam SKPKBT PPh
Final Pasal 23.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

PPh Final Pasal 23 untuk pembayaran PPh Final


401 atas Bunga Simpanan Pasal 23 atas bunga simpanan
Anggota Koperasi anggota koperasi.

5. Kode Akun Pajak 411125 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal


25/29 Orang Pribadi

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN
untuk pembayaran Masa PPh
100 Masa PPh Pasal 25
Pasal 25

Orang Pribadi Orang Pribadi yang terutang.

untuk pembayaran Masa


Masa PPh Pasal
PPh Pasal 25 Orang Pribadi
101 25 Orang Pribadi
Pengusaha Tertentu yang
Pengusaha Tertentu
terutang.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

84
untuk pembayaran pajak
Pembayaran
sebelum diterbitkan surat
199 Pendahuluan skp PPh
ketetapan pajak PPh Pasal 25
Pasal 25 Orang Pribadi
Orang Pribadi.

untuk pembayaran pajak


Tahunan PPh Orang yang masih harus dibayar
200
Pribadi yang tercantum dalam SPT
Tahunan PPh Orang Pribadi.

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Orang yang masih harus dibayar yang
300
Pribadi tercantum dalam STP PPh
Orang Pribadi.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Orang yang masih harus dibayar yang
310
Pribadi tercantum dalam SKPKB PPh
Orang Pribadi.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Orang yang masih harus dibayar yang
320
Pribadi tercantum dalam SKPKBT
PPh Orang Pribadi.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas Surat
yang masih harus dibayar
Keputusan Pembetulan,
yang tercantum dalam Surat
390 Surat Keputusan
Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau
Keputusan Keberatan, atau
Putusan Banding
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

85
6. Kode Akun Pajak 411126 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal
25/29 Badan

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

Masa PPh Pasal 25 untuk pembayaran Masa PPh


100
Badan Pasal 25 Badan yang terutang.

PPh Atas
untuk pembayaran PPh Badan
Pengalihan Hak
101 Atas Pengalihan Hak Atas Tanah
Atas Tanah dan/
dan/atau Bangunan yang tidak
atau

bersifat final atas transaksi


pengalihan hak atas tanah dan/
atau bangunan yang dilakukan
Bangunan yang oleh Wajib Pajak Badan yang
tidak bersifat final kegiatan utamanya bukan
Badan melakukan pengalihan hak atas
tanah dan/atau bangunan dan
merupakan bagian pembayaran
pendahuluan (PPh Pasal 25)

Pembayaran untuk pembayaran pajak sebelum


199 Pendahuluan skp diterbitkan surat ketetapan pajak
PPh Pasal 25 Badan PPh Pasal 25 Badan.

untuk pembayaran pajak yang


Tahunan PPh masih harus dibayar yang
200
Badan tercantum dalam SPT Tahunan
PPh Badan.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

86
untuk pembayaran jumlah
300 STP PPh Badan yang masih harus dibayar yang
tercantum dalam STP PPh Badan.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB PPh Badan
tercantum dalam SKPKB PPh
Badan.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh yang masih harus dibayar yang
320
Badan tercantum dalam SKPKBT PPh
Badan.

Pembayaran atas
untuk pembayaran jumlah
Surat Keputusan
yang masih harus dibayar yang
Pembetulan,
390 tercantum dalam Surat Keputusan
Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, atau
Keberatan, atau Putusan Banding.
Putusan Banding

7. Kode Akun Pajak 411127 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 26

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran PPh Pasal 26


100 Masa PPh Pasal 26 yang harus disetor (selain PPh
Pasal 26 atas

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

87
dividen, bunga, royalti, jasa dan
laba setelah pajak BUT) yang
tercantum dalam SPT Masa PPh
Pasal 26.

untuk pembayaran PPh Pasal 26


yang harus disetor atas dividen
PPh Pasal 26 atas
101 yang dibayarkan kepada Wajib
Dividen
Pajak luar negeri yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 26.

untuk pembayaran PPh Pasal


26 yang harus disetor atas
bunga (termasuk premium,
diskonto, premi swap dan
PPh Pasal 26 atas
102 imbalan sehubungan dengan
Bunga
jaminan pengembalian utang)
yang dibayarkan kepada Wajib
Pajak luar negeri yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 26.

untuk pembayaran PPh Pasal 26


yang harus disetor atas royalti
PPh Pasal 26 atas
103 yang dibayarkan kepada Wajib
Royalti
Pajak luar negeri yang tercantum
dalam SPT Masa PPh Pasal 26.

untuk pembayaran PPh Pasal 26


yang harus disetor atas jasa yang
PPh Pasal 26 atas
104 dibayarkan kepada Wajib Pajak
Jasa
luar negeri yang tercantum dalam
SPT Masa PPh Pasal 26.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

88
untuk pembayaran PPh Pasal
PPh Pasal 26 atas 26 yang harus dibayar atas
105 Laba setelah Pajak laba setelah pajak BUT yang
BUT tercantum dalam SPT Tahunan
PPh BUT.

Pembayaran untuk pembayaran pajak sebelum


199 Pendahuluan skp diterbitkan surat ketetapan pajak
PPh Pasal 26 PPh Pasal 26.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
tercantum dalam STP PPh Pasal
300 STP PPh Pasal 26
26 (selain STP PPh Pasal 26 atas
dividen, bunga, royalti, jasa dan
laba setelah pajak BUT).

STP PPh Pasal untuk pembayaran jumlah


26 atas Dividen, yang masih harus dibayar yang
301 Bunga, Royalti, Jasa, tercantum dalam STP PPh Pasal
dan Laba Setelah 26 atas dividen, bunga, royalti,
Pajak BUT jasa, dan laba setelah pajak BUT.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
tercantum dalam SKPKB PPh
SKPKB PPh Pasal
310 Pasal 26 (selain SKPKB PPh
26
Pasal 26 atas dividen, bunga,
royalti, jasa dan laba setelah pajak
BUT).

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

89
SKPKB PPh Pasal untuk pembayaran jumlah
311 26 atas Dividen, yang masih harus dibayar yang
Bunga, tercantum dalam

Royalti, Jasa, dan SKPKB PPh Pasal 26 atas


Laba Setelah Pajak dividen, bunga, royalti, jasa, dan
BUT laba setelah pajak BUT.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
tercantum dalam SKPKBT PPh
SKPKBT PPh Pasal
320 Pasal 26 (selain SKPKBT PPh
26
Pasal 26 atas dividen, bunga,
royalti, jasa dan laba setelah pajak
BUT).

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Pasal
yang masih harus dibayar yang
26 atas Dividen,
tercantum dalam SKPKBT PPh
321 Bunga, Royalti, Jasa,
Pasal 26 atas dividen, bunga,
dan Laba Setelah
royalti, jasa, dan laba setelah
Pajak BUT
pajak BUT.

Pembayaran atas untuk pembayaran jumlah


Surat Keputusan yang masih harus dibayar
Pembetulan, yang tercantum dalam Surat
390
Surat Keputusan Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau Keputusan Keberatan, atau
Putusan Banding Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

90
8. Kode Akun Pajak 411128 Untuk Jenis Pajak PPh Final dan
Fiskal Luar Negeri

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran Fiskal


100 Fiskal Luar Negeri
Luar Negeri.

untuk pembayaran pajak


Pembayaran Pendahuluan
199 sebelum diterbitkan surat
skp PPh Final
ketetapan pajak PPh Final.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar/
300 STP PPh Final
disetor yang tercantum
dalam STP PPh Final.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
SKPKB PPh Final Pasal 4
310 yang tercantum dalam
ayat (2)
SKPKB PPh Final Pasal 4
ayat (2).

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Final Pasal yang masih harus dibayar
311
15 yang tercantum dalam
SKPKB PPh Final Pasal 15.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

91
untuk pembayaran jumlah
SKPKB PPh Final Pasal yang masih harus dibayar
312
19 yang tercantum dalam
SKPKB PPh Final Pasal 19.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
SKPKBT PPh Final Pasal
320 yang tercantum dalam
4 ayat (2)
SKPKBT PPh Final Pasal 4
ayat (2).

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
SKPKBT PPh Final Pasal
322 yang tercantum dalam
19
SKPKBT PPh Final Pasal
19.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas Surat
yang masih harus dibayar
Keputusan Pembetulan,
yang tercantum dalam Surat
390 Surat Keputusan
Keputusan Pembetulan,
Keberatan, atau Putusan
Surat Keputusan Keberatan,
Banding
atau Putusan Banding.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 4 ayat (2)
401 Final Pasal 4 ayat (2) atas
atas Diskonto/
diskonto/bunga obligasi.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

92
untuk pembayaran PPh
PPh Final Pasal 4 ayat (2)
Final Pasal 4 ayat (2) atas
402 atas Pengalihan Hak atas
Pengalihan Hak atas Tanah
Tanah dan/atau Bangunan
dan/atau Bangunan.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 4 ayat (2)
Final Pasal 4 ayat (2) atas
403 atas Persewaan Tanah dan/
Persewaan Tanah dan/atau
atau Bangunan
Bangunan.

PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh


atas Bunga Deposito / Final Pasal 4 ayat (2) atas
404
Tabungan, Jasa Giro dan bunga deposito/tabungan,
Diskonto SBI jasa giro dan diskonto SBI.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 4 ayat (2)
405 Final Pasal 4 ayat (2) atas
atas Hadiah Undian
hadiah undian.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 4 ayat (2)
Final Pasal 4 ayat (2) atas
406 atas Transaksi Saham dan
transaksi saham dan obligasi
Obligasi di Bursa Efek
di Bursa Efek.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

93
PPh Final Pasal 4 ayat untuk pembayaran PPh
407 (2) atas Penjualan Saham Final Pasal 4 ayat (2) atas
Pendiri penjualan Saham Pendiri.

PPh Final Pasal 4 ayat untuk pembayaran PPh


(2) atas Penjualan Saham Final Pasal 4 ayat (2) atas
408
Milik Perusahaan Modal penjualan saham milik
Ventura Perusahaan Modal Ventura.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 4 ayat (2)
409 Final Pasal 4 ayat (2) atas
atas Jasa Konstruksi
jasa konstruksi.

PPh Final Pasal 15 atas untuk pembayaran PPh


410 Jasa Pelayaran Dalam Final Pasal 15 atas jasa
Negeri pelayaran dalam negeri.

untuk pembayaran
PPh Final Pasal 15 atas
PPh Final Pasal 15 atas
411 Jasa Pelayaran dan/atau
jasa pelayaran dan/atau
Penerbangan Luar Negeri
penerbangan luar negeri.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

94
PPh Final Pasal 15 atas untuk pembayaran PPh
412 Jasa Penerbangan Dalam Final Pasal 15 atas jasa
Negeri penerbangan dalam negeri.

untuk pembayaran
PPh Final Pasal 15 atas
PPh Final Pasal 15 atas
413 Penghasilan Perwakilan
penghasilan perwakilan
Dagang Luar Negeri
dagang luar negeri.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 15 atas
414 Final Pasal 15 atas pola bagi
Pola Bagi Hasil
hasil.

untuk pembayaran
PPh Final Pasal 15 atas
415 PPh Final Pasal 15 atas
Kerjasama Bentuk BOT
kerjasama bentuk BOT.

untuk pembayaran PPh


PPh Final Pasal 19 atas
416 Final Pasal 19 atas revaluasi
Revaluasi Aktiva Tetap
aktiva tetap.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

95
9. Kode Akun Pajak 411129 Untuk Jenis Pajak PPh Non Migas
Lainnya

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

PPh Non Migas untuk pembayaran masa PPh


100
Lainnya Non Migas lainnya.

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Non Migas yang masih harus dibayar yang
300
Lainnya tercantum dalam STP PPh Non
Migas lainnya.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Non yang masih harus dibayar yang
310
Migas Lainnya tercantum dalam SKPKB PPh
Non Migas lainnya.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Non yang masih harus dibayar yang
320
Migas Lainnya tercantum dalam SKPKBT PPh
Non Migas lainnya.

untuk pembayaran jumlah yang


390 Pembayaran atas Surat
masih

harus dibayar yang tercantum


Keputusan
dalam Surat Keputusan
Pembetulan, Surat
Pembetulan, Surat Keputusan
Keputusan Keberatan,
Keberatan, atau Putusan
atau Putusan Banding
Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

96
10. Kode Akun Pajak 411111 Untuk Jenis Pajak PPh Minyak Bumi

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran masa PPh


100 PPh Minyak Bumi
Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Minyak yang masih harus dibayar yang
300
Bumi tercantum dalam STP PPh
Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Minyak yang masih harus dibayar yang
310
Bumi tercantum dalam SKPKB PPh
Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh yang masih harus dibayar yang
320
Minyak Bumi tercantum dalam SKPKBT PPh
Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

97
11. Kode Akun Pajak 411112 Untuk Jenis Pajak PPh Gas
Alam
KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran masa PPh


100 PPh Gas Alam
Gas Alam.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
300 STP PPh Gas Alam
yang tercantum dalam STP
PPh Gas Alam.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
310 SKPKB PPh Gas Alam
yang tercantum dalam
SKPKB PPh Gas Alam.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Gas yang masih harus dibayar
320
Alam yang tercantum dalam
SKPKBT PPh Gas Alam.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas Surat
yang masih harus dibayar
Keputusan Pembetulan,
yang tercantum dalam Surat
390 Surat Keputusan
Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau Putusan
Keputusan Keberatan, atau
Banding
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

98
12. Kode Akun Pajak 411113 Untuk Jenis Pajak PPh Lainnya
dari Minyak Bumi

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

PPh Lainnya Dari untuk pembayaran masa PPh


100
Minyak Bumi lainnya dari Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Lainnya yang masih harus dibayar yang
300
Dari Minyak Bumi tercantum dalam STP PPh
lainnya dari Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPh Lainnya yang masih harus dibayar yang
310
Dari Minyak Bumi tercantum dalam SKPKB PPh
lainnya dari Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Lainnya yang masih harus dibayar yang
320
Dari Minyak Bumi tercantum dalam SKPKBT PPh
lainnya dari Minyak Bumi.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

99
13. Kode Akun Pajak 411119 Untuk Jenis Pajak PPh Migas
Lainnya

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

untuk pembayaran masa PPh


100 PPh Migas Lainnya
Migas Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


STP PPh Migas yang masih harus dibayar yang
300
Lainnya tercantum dalam STP PPh
Migas Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB PPh Migas
tercantum dalam SKPKB PPh
Lainnya
Migas Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPh Migas yang masih harus dibayar yang
320
Lainnya tercantum dalam SKPKBT
PPh Migas Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

100
14. Kode Akun Pajak 411211 Untuk Jenis Pajak PPN Dalam
Negeri

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN
untuk pembayaran pajak yang
Setoran Masa PPN masih harus dibayar yang
100
Dalam Negeri tercantum dalam SPT Masa
PPN Dalam Negeri.
untuk pembayaran PPN
Setoran PPN BKP
terutang atas pemanfaatan BKP
101 tidak berwujud dari
tidak berwujud dari luar Daerah
luar Daerah Pabean
Pabean.

untuk pembayaran PPN


Setoran PPN JKP dari
102 terutang atas Pemanfaatan JKP
luar Daerah Pabean
dari luar Daerah Pabean.

untuk pembayaran PPN


Setoran Kegiatan
103 terutang atas Kegiatan
Membangun Sendiri
Membangun Sendiri.

Setoran Penyerahan untuk pembayaran PPN


Aktiva yang menurut terutang atas penyerahan aktiva
tujuan semula tidak yang menurut tujuan semula
untuk diperjualbelikan tidak untuk diperjualbelikan.
104
Setoran Atas Pengalihan untuk pembayaran PPN yang
Aktiva Dalam Rangka terutang atas pengalihan aktiva
Restrukturisasi dalam rangka restrukturisasi
Perusahaan perusahaan.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

101
untuk pembayaran pajak
Pembayaran
sebelum diterbitkan surat
199 Pendahuluan skp PPN
ketetapan pajak PPN Dalam
Dalam Negeri
Negeri.

untuk pembayaran jumlah


STP PPN Dalam yang masih harus dibayar yang
300
Negeri tercantum dalam STP PPN
Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPN Dalam yang masih harus dibayar yang
310
Negeri tercantum dalam SKPKB PPN
Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPN yang masih harus dibayar yang
Pemanfaatan BKP tidak tercantum dalam SKPKB PPN
311
berwujud dari luar atas pemanfaatan BKP tidak
Daerah Pabean berwujud dari luar Daerah
Pabean.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPN yang masih harus dibayar yang
312 Pemanfaatan JKP dari tercantum dalam SKPKB PPN
luar Daerah Pabean atas pemanfaatan JKP dari luar
Daerah Pabean.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

102
untuk pembayaran jumlah
yang masih harus dibayar yang
SKPKB PPN Kegiatan
313 tercantum dalam SKPKB PPN
Membangun Sendiri
atas Kegiatan Membangun
Sendiri.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
SKPKB Pemungut
314 tercantum dalam SKPKB
PPN Dalam Negeri
PPN yang menjadi kewajiban
pemungut.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPN Dalam yang masih harus dibayar yang
320
Negeri tercantum dalam SKPKBT PPN
Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPN yang masih harus dibayar yang
Pemanfaatan BKP tidak tercantum dalam SKPKBT
321
berwujud dari luar PPN atas pemanfaatan BKP
Daerah Pabean tidak berwujud dari luar Daerah
Pabean.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPN yang masih harus dibayar yang
322 Pemanfaatan JKP dari tercantum dalam SKPKBT PPN
luar Daerah Pabean atas pemanfaatan JKP dari luar
Daerah Pabean.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

103
untuk pembayaran jumlah
SKPKBT PPN atas yang masih harus dibayar yang
323 Kegiatan Membangun tercantum dalam SKPKBT
Sendiri PPN atas Kegiatan Membangun
Sendiri.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT Pemungut yang masih harus dibayar yang
324 PPN Dalam Negeri tercantum dalam SKPKBT PPN
Dalam Negeri yang menjadi
kewajiban pemungut.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas Surat
yang masih harus dibayar
Keputusan Pembetulan,
yang tercantum dalam Surat
390 Surat Keputusan
Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau
Keputusan Keberatan, atau
Putusan Banding
Putusan Banding.

untuk penyetoran PPN dalam


Pemungut PPN Dalam
900 negeri yang dipungut oleh
Negeri
Pemungut.

15. Kode Akun Pajak 411212 Untuk Jenis Pajak PPN Impor

KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

Setoran Masa PPN untuk pembayaran PPN


100
Impor terutang pada saat impor BKP.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

104
Pembayaran untuk pembayaran pajak
199 Pendahuluan skp PPN sebelum diterbitkan surat
Impor ketetapan pajak PPN Impor.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
300 STP PPN Impor
tercantum dalam STP PPN
Impor.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB PPN Impor
tercantum dalam SKPKB PPN
Impor.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
320 SKPKBT PPN Impor
tercantum dalam SKPKBT
PPN Impor.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas Surat
yang masih harus dibayar
Keputusan Pembetulan,
yang tercantum dalam Surat
390 Surat Keputusan
Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau Putusan
Keputusan Keberatan, atau
Banding
Putusan Banding.

untuk penyetoran PPN impor


900 Pemungut PPN Impor
yang dipungut oleh pemungut.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

105
16. Kode Akun Pajak 411221 Untuk Jenis Pajak PPnBM Dalam
Negeri

KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

untuk pembayaran pajak yang


Setoran Masa PPnBM masih harus dibayar yang
100
Dalam Negeri tercantum dalam SPT Masa
PPnBM Dalam Negeri.

Pembayaran untuk pembayaran pajak sebelum


199 Pendahuluan skp diterbitkan surat ketetapan pajak
PPnBM Dalam Negeri PPnBM Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


STP PPnBM Dalam yang masih harus dibayar yang
300
Negeri tercantum dalam STP PPnBM
Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB Masa PPnBM yang masih harus dibayar yang
310
Dalam Negeri tercantum dalam SKPKB PPnBM
Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
SKPKB Pemungut
311 tercantum dalam SKPKB PPnBM
PPnBM Dalam Negeri
Dalam Negeri yang menjadi
kewajiban pemungut.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

106
untuk pembayaran jumlah
SKPKBT Masa yang masih harus dibayar yang
320
PPnBM Dalam Negeri tercantum dalam SKPKBT
PPnBM Dalam Negeri.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
SKPKBT Pemungut
321 tercantum dalam SKPKBT
PPnBM Dalam Negeri
PPnBM Dalam Negeri yang
menjadi kewajiban pemungut.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

untuk penyetoran PPnBM Dalam


Pemungut PPnBM
900 Negeri yang dipungut oleh
Dalam Negeri
pemungut.

17. Kode Akun Pajak 411222 Untuk Jenis Pajak PPnBM


Impor
KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

Setoran Masa PPnBM untuk pembayaran PPnBM


100
Impor terutang pada saat impor BKP.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

107
Pembayaran untuk pembayaran pajak
199 Pendahuluan skp sebelum diterbitkan surat
PPnBM Impor ketetapan pajak PPnBM Impor.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
300 STP PPnBM Impor
tercantum dalam STP PPnBM
Impor.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB PPnBM Impor
tercantum dalam SKPKB
PPnBM Impor.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPnBM yang masih harus dibayar yang
320
Impor tercantum dalam SKPKBT
PPnBM Impor.

untuk pembayaran jumlah


Pembayaran atas
yang masih harus dibayar
Surat Keputusan
yang tercantum dalam Surat
390 Pembetulan, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan,
Keputusan Keberatan, atau
atau Putusan Banding
Putusan Banding.

untuk penyetoran PPnBM


Pemungut PPnBM
900 Impor yang dipungut oleh
Impor
pemungut.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

108
18. Kode Akun Pajak 411219 Untuk Jenis Pajak PPN Lainnya

KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

Setoran Masa PPN untuk pembayaran PPN Lainnya


100
Lainnya yang terutang.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar yang
300 STP PPN Lainnya
tercantum dalam STP PPN
Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


SKPKB PPN yang masih harus dibayar yang
310
Lainnya tercantum dalam SKPKB PPN
Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT PPN yang masih harus dibayar yang
320
Lainnya tercantum dalam SKPKBT PPN
Lainnya.

Pembayaran atas
untuk pembayaran jumlah
Surat Keputusan
yang masih harus dibayar yang
Pembetulan,
390 tercantum dalam Surat Keputusan
Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, atau
Keberatan, atau Putusan Banding.
Putusan Banding

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

109
19. Kode Akun Pajak 411229 Untuk Jenis Pajak PPn BM
Lainnya
KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

Setoran Masa PPnBM untuk pembayaran PPnBM


100
Lainnya Lainnya yang terutang.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
300 STP PPnBM Lainnya
yang tercantum dalam STP
PPnBM Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
310 SKPKB PPnBM Lainnya
yang tercantum dalam
SKPKB PPnBM Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


yang masih harus dibayar
320 SKPKBT PPnBM Lainnya
yang tercantum dalam
SKPKBT PPnBM Lainnya.

untuk pembayaran
jumlah yang masih harus
Pembayaran atas Surat
dibayar yang tercantum
Keputusan Pembetulan,
390 dalam Surat Keputusan
Surat Keputusan Keberatan,
Pembetulan, Surat
atau Putusan Banding
Keputusan Keberatan, atau
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

110
20. Kode Akun Pajak 411611 Untuk Bea Meterai

KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN
untuk pembayaran penggunaan
100 Bea Meterai
Bea Meterai.

Pembayaran untuk pembayaran pajak


199 Pendahuluan skp Bea sebelum diterbitkan surat
Meterai ketetapan pajak Bea Meterai.
untuk pembayaran jumlah
yang masih harus dibayar yang
300 STP Bea Meterai
tercantum dalam STP Bea
Meterai.
untuk pembayaran jumlah
yang masih harus dibayar yang
310 SKPKB Bea Meterai
tercantum dalam SKPKB Bea
Meterai.
untuk pembayaran jumlah
yang masih harus dibayar yang
320 SKPKBT Bea Meterai
tercantum dalam SKPKBT Bea
Meterai.
untuk pembayaran jumlah
Pembayaran atas Surat
yang masih harus dibayar
Keputusan Pembetulan,
yang tercantum dalam Surat
390 Surat Keputusan
Keputusan Pembetulan, Surat
Keberatan, atau Putusan
Keputusan Keberatan, atau
Banding
Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

111
21. Kode Akun Pajak 411612 untuk Penjualan Benda Meterai

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN
Penjualan Benda untuk pembayaran penjualan
100
Meterai Benda Meterai.

Pembayaran
199 untuk pembayaran pajak sebelum
Pendahuluan

diterbitkan surat ketetapan pajak


skp Benda Meterai
Benda Meterai.
untuk pembayaran jumlah
yang masih harus dibayar yang
300 STP Benda Meterai
tercantum dalam STP Benda
Meterai.
untuk pembayaran jumlah
SKPKB Benda yang masih harus dibayar yang
310
Meterai tercantum dalam SKPKB Benda
Meterai.
untuk pembayaran jumlah
SKPKBT Benda yang masih harus dibayar yang
320
Meterai tercantum dalam SKPKBT Benda
Meterai.
Pembayaran atas untuk pembayaran jumlah
Surat Keputusan yang masih harus dibayar yang
390 Pembetulan, Surat tercantum dalam Surat Keputusan
Keputusan Keberatan, Pembetulan, Surat Keputusan
atau Putusan Banding Keberatan, atau Putusan Banding.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

112
22. Kode Akun Pajak 411619 Untuk Pajak Tidak Langsung Lainnya

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN
Setoran Masa Pajak
untuk pembayaran Pajak Tidak
100 Tidak Langsung
Langsung Lainnya yang terutang.
Lainnya
untuk pembayaran jumlah
STP Pajak Tidak yang masih harus dibayar yang
300
Langsung Lainnya tercantum dalam STP Pajak Tidak
Langsung Lainnya.
untuk pembayaran jumlah
SKPKB Pajak Tidak yang masih harus dibayar yang
310
Langsung Lainnya tercantum dalam SKPKB Pajak
Tidak Langsung Lainnya.

untuk pembayaran jumlah


SKPKBT Pajak
yang masih harus dibayar yang
320 Tidak Langsung
tercantum dalam SKPKBT Pajak
Lainnya
Tidak Langsung Lainnya.
Pembayaran atas
untuk pembayaran jumlah yang
Surat
masih
Keputusan
harus dibayar yang tercantum
390 Pembetulan,
dalam Surat Keputusan
Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, atau
Keberatan, atau Putusan Banding.
Putusan Banding
Pemungut Pajak untuk penyetoran Pajak Tidak
900 Tidak Langsung Langsung Lainnya yang dipungut
Lainnya oleh pemungut.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

113
23. Kode Akun Pajak 411619 Untuk Pajak Tidak Langsung Lainnya

KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

STP atas Bunga untuk pembayaran STP Bunga


300
Penagihan PPH Penagihan PPH.

24. Kode Akun Pajak 411622 Untuk Bunga Penagihan PPN


KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

STP atas Bunga untuk pembayaran STP Bunga


300
Penagihan PPN Penagihan PPN.

25. Kode Akun Pajak 411623 Untuk Bunga Penagihan PPnBM

KODE
JENIS JENIS SETORAN KETERANGAN
SETORAN

STP atas Bunga untuk pembayaran STP Bunga


300
Penagihan PPnBM Penagihan PPnBM.

26. Kode Akun Pajak 411624 Untuk Bunga Penagihan PTLL

KODE
JENIS
JENIS KETERANGAN
SETORAN
SETORAN

STP atas Bunga untuk pembayaran STP Bunga


300
Penagihan PTLL Penagihan PTLL.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

114
DAFTAR PERSENTASE NORMA PENGHITUNGAN
UNTUK PEREDARAN USAHA

WAJIB PAJAK
PERSEORANGAN
NO.
KODE JENIS USAHA 10 IBU KOTA
URUT DAERAH
KOTA PROP
LAINNYA
PROP LAINNYA
10000 PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN, PERBURUAN DAN
PERIKANAN
1. 11000 Pertanian tanaman pangan 15 15 15
2. 12111 Kelapa dan kelapa sawit 11.5 11 10
3. 12113 Kopi 11.5 11 10
4. 12131 Tembakau 11.5 11 10
5. 12132 Teh 11.5 11 10
6. 12141 Pertanian tanaman karet 11.5 11 10
7. 12161 Tebu 11.5 11 10
8. 12200 Pertanian tanaman lainnya
- Meliputi usaha pertanian atau perkebunan dalam penyiapan/
pelaksanaan penanaman,pembibitan, persemaian,
pemeliharaan dan pemanenan hasil tanaman 11.5 11 10
9. 13000 Peternakan.
- Meliputi usaha peternakan untuk mengambil daging, kulit,
tulang, bulu, telur, susu, madu dan kepompong/ sarangnya
baik yang dilakukan oleh usaha perorangan ataupun suatu
badan usaha. 11 10 9
10. 14000 Jasa pertanian dan Peternakan.
- Meliputi usaha jasa dibidang pertanian dan , baik yang
dilakukan oleh perorangan, usaha atas dasar balas jasa atau
kontrak. 25 25 24
11. 15000 Kehutanan dan penebangan hutan.
- Meliputi usaha penanaman, pemeliharaan maupun
pemindahan jenis tanaman/kayu, penebangan/pemotongan
kayu pengumpulan hasil hutan lainnya, dan semua usaha
yang melayani kebutuhan kehutanan yang dilakukan atas
dasar balas jasa atau kontrak. 16 16 16
12. 16000 Perburuan/ penangkapan dan pembiakan binatang liar.
- Meliputi usaha perburuan/ penangkapan binatang liar dengan
jerat atau perangkap dan pembiakan marga satwa liar kecuali
untuk sekedar hoby atau olahraga. 18 17 16
13. 17000 Perikan laut.
- Meliputi usaha penangkapan, pengambilan hasil laut.
Pemeliharaan dan pelayanan perikanan laut yang dilakukan
atas dasar balas jasa atau kontrak, seperti sortasi, gradasi,
persiapan lelang ikan dan lain-lain. 25 23 22
14. 18300 Perikanan darat
- Meliputi usaha budidaya ikan, pemeliharaan, pembibitan,
penangkapan dan pengambilan hasil serta pelayanan
perikanan darat yang dilakukan atas dasar balas
jasa/kontrak. 25 23 22

20000 PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN


15. 21100 Pertambangan batu bara.
- Meliputi usaha penambangan antrasit, batu bara merah
lignite, dan penghancuran, penggilingan dan penyaringan
batu bara termasuk pengubahan batu bara menjadi briket
atau dalam bentuk lain di tempat penambangan - - -
16. 22000 Pertambangan minyak dan gas bumi
- Meliputi pengusaha sumur minyak dan gas bumi, eksplorasi
minyak bumi, pengeboran, penyelesaian dan perlengkapan
sumur minyak dan gas yang tidak berdasarkan balas jasa/
- - -

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

115
kontrak, termasuk pengusahaan alat pemisah pemecah
emulsi, penyulingan, penambangan minyak dan gas bumi
untuk dipasarkan/sampai di tempat pemuaian yang
dilaksanakan di daerah produksi.
17. 23000 Pertambangan bijih logam.
- Meliputi usaha pertambangan yang menyelenggarakan
ekstraksi bijih besi, pasir besi, timah, nikel, mangan. Emas,
perak dan logam lainnya dan usaha pemanfaatan dari bijih
bijih tersebut dengan segala cara. - - -
18. 23210 Timah - - -
19. 23220 Bauksit dan Alumunium - - -
20. 23230 Tembaga - - -
21. 23240 Nikel - - -
22. 25000 Penambangan dan penggalian garam
- Meliputi usaha penggalian, penguapan garam di tambak/
empang termasuk usaha pengumpulan, pembersihan,
penggilingan dan pengolahan dengan cara lain terhadap
mineral tersebut. 11 11 11
23. 26000 Pertambangan mineral bahan kimia dan bahan pupuk.
- Meliputi usaha pertambangan mineral bahan kimia dan pupuk
termasuk usaha penghancuran, pembersihan dan pengolahan
dengan cara lain terhadap mineral bahan kimia. - - -
24. 29000 Pertambangan dan penggalian lain 16 15 14

30000 INDUSTRI PENGOLAHAN


25. 31110 Pemotongan hewan dan pengawetan daging
- Seperti pemotongan hewan, pemotongan kulit, penjemuran
tulang,pensortiran bulu, pembuatan sosis, kaldu dan pasta
daging. 15 14.5 14
26. 31120 Industri Susu dan Makanan dari Susu.
- Seperti pembuatan susu kental/bubuk/asam, pembuatan ,
mentega, keju dan es krim dari susu 12.5 10 8.5
27. 31130 Industri pengolahan, pengawetan buah-buahan dan sayur-
sayuran.
- Seperti pengalengan, pengasinan, pemanisan, pelumatan,
pengeringan buah-buahan dan sayur-sayuran. 15 14.5 14
28. 31140 Industri Pengolahan dan Pengawetan ikan dan sejenisnya.
- Seperti pengalengan, penggaraman, pengasaman,
pembekuan ikan dan sejenisnya. 15 14.5 14
29. 31150 Industri Minyak Makan dan Lemak dari Nabati dan Hewani.
- Seperti minyak makan dari nabati dan hewani, margarine
minyak goreng dari kelapa/kelapa sawit 12.5 10 8.5
30. 31160 Industri pengupasan, pembersihan dan penggilingan Padi-padian.
Biji-bijian, Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, termasuk
pembuatan kopra.
- Seperti Industri penggilingan padi, penyosohan beras,
pemberisihan padi-padian, pengupasan dan pembersihan
kopi. Kacang-kacangan, biji-bijian lain, umbi-umbian dan
pembuatan kopra, tepung terigu, berbagai tepung dari padi-
padian, biji-bjian, kacang-kacangan dan umbi-umbian. 12.5 10 8.5
31. 31170 Industri Makanan dari Tepung, kecuali Kue Basah.
- Seperti Makaroni, mie, spaghetti, bihun, soun, roti dan kue
kering lainnya. 15 12.5 10
32. 31180 Industri Gula dan Pengolahan Gula.
- Seperti pembuatan gula pasir, gula tebu, gula merah, sirop
dan pengolahan gula lainnya selain sirop. 15 12.5 10
33. 31190 Industri Coklat dan Kembang Gula.
- Seperti pembuatan bubuk coklat dan makanan dari coklat dan
kembang gula. 15 12.5 10
34. 31210 Industri makanan lainnya. 17 16.5 15
35. 31230 Industri Es
- Seperti es batu, es balok, es curah, es lilin, es mambo. 17 16.5 15
36. 31240 Industri makanan dari kedele dan kacang-kacangan lainnya

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

116
- Seperti kecap, tauco, tempe, oncom, tahu dan pengolahan
kedele/kacang-kacangan lainnya. 15 12.5 10
37. 31250 Industri kerupuk dan sejenisnya.
- Seperti kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk kulit, kerupuk
terung, emping, ceriping, karak, gendar, opak dan macam-
macam keripik kecuali kerupik tempe/tahu/oncom/paru dan
peyek. 15 12.5 10
38. 31260 Industri bumbu masak dan penyedap masakan.
- Seperti pembuatan bumbu masak dan penyedap masakan 17 16 15
39. 31270 Industri makanan lainnya yang belum terliput
- Seperti industri terasi, petis, kue basah, tape, dodol, keripik,
tempe/tahu/oncom/paru dan peyek. 15 12.5 10
40. 31280 Industri makanan ternak, unggas, ikan dan hewan lainnya.
- Seperti industri ransum dan konstrate makanan ternak,
unggas, ikan dan hewan lainnya. 17 16 15
41. 31310 Industri minuman keras
- Yaitu minuman yang mengandung alkohol lebih dari 20%. 24.5 24 24
42. 31320 Industri Anggur
- Yaitu minuman yang mengandung alkohol 5-20 %. 24.5 24 24
43. 31330 Industri Malt dan minuman yang mengandung Malt. 24.5 24 24
44. 31340 Industri minuman ringan. 15 14.5 14
45. 31410 Industri pengeringan dan pengolahan tembakau.
- Seperti pengeringan, pengasapan dan perajangan daun
tembakau. 19 18 17
46. 31420 Industri rokok kretek
- Yaitu pembuatan rokok yang mengandung cengkeh. 5 4.5 4
47. 31430 Industri rokok putih
- Yaitu rokok yang tidak mengandung cengkeh. 7 6.5 5
48. 31440 Industri rokok lainnya
- Seperti cerutu, rokok kelembak menyan. 5 4.5 4
49. 31490 Industri hasil lainnya dari tembakau, bumbu rokok dan
klobot/kawung.
- Seperti tembakau bersaus, pembuatan bumbu rokok,
pembungkus rokok (klobot kawung) dari pembuatan
kelengkapan rokok termasuk pembuatan filter. 6 5.5 5

32000 INDUSTRI TEKSTIL, PAKAIAN JADI DAN KULIT


50. 32100 Industri tekstil 13.5 13 12.5
51. 32200 Industri pakaian jadi, kecuali untuk keperluan kaki. 13.5 13 12.5
52. 32300 Industri kulit dan barang dari kulit, kecuali untuk keperluan kaki. 17.5 16.5 16
53. 32400 Industri barang keperluan kaki. 17 16 15

33000 INDUSTRI KAYU DAN BARANG DARI KAYU, TERMASUK PERABOT


RUMAH TANGGA.
54. 33100 Indusri kayu dan barang dari kayu, bambu, rotan dan kayu. 15 13.5 12.5
55. 33200 Industri perabot serta kelengkapan rumah tangga dan alat dapur
dari kayu, bumbu dan rotan. 15 13.5 12.5

34000 INDUSTRI KERTAS DAN BARANG DARI KERTAS, PERCETAKAN


DAN PENERBITAN.
56. 34100 Industri kertas, barang dari kertas dan sejenisnya 14.5 13 12
57. 34200 Industri percetakan dan penerbitan
- Seperti uaha percetakan secara stensil, offset lithografi untuk
segala jenis cetakan termasuk penjilidan buku dan penerbitan
hasil/ barang cetakan. 14.5 13 12

35000 INDUSTRI KIMIA DAN BARANG-BARANG DARI BAHAN KIMIA,


MINYAK BUMI, BATUBARA, KARET, DAN PLASTIK.
58. 35100 Industri bahan kimia. 13 12.5 11
59. 35200 Industri kimia lain. 13 12.5 11
60. 35220 Industri Farmasi dan Jamu.
- Seperti pembuatan/fabrikasi dan pengolahan bahan obat,
bahan pembantu dan bahan pengemas obat, pembuatan dan 20 19 18

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

117
pengolahan obat-obatan yang berbentuk jadi, pengolahan
bahan jamu (simplisia) dan macam-macam jamu (misalnya
berbentuk pil, kapsul, bubuk dan bentuk cairan).
61. 35230 Industri sabun, bahan pembersih keperluan rumah tangga,
kosmetika dan sejenisnya.
- Yaitu pembuatan sabun dalam berbagai bentuk termasuk
industri detergent, bahan pembersih rumah tangga lainnya
dan tapal gigi dan pembuatan berbagai macam kosmetika
kecuali minyak wangi sintetis dan minyak atsiri. 17 16 15
62. 35300 Industri pembersih pengilangan minyak bumi.
- Yaitu pengilangan yang menghasilkan bahan bakar
penggerakn motor dan minyak bakar seperti bensin, solar,
avtur, bensol, minyak tanah, pelumas, gemuk, LPG dan
spritus putih. - - -
63. 35400 Industri barang-barang dari hasil kilang minyak bumi. - - -
64. 35500 Industri karet dan barang dari karet. 17.5 16.5 16
65. 35600 Industri barang dari plastik.
- Seperti industri pipa dan slang dari plastik, industri barang
plastik untuk keperluan kaki, industri barang plastik
lembaran, industri media rekam dari plastik dan indutri
barang-barang plastik lainnya. 17.5 16.5 16

36000 INDUSTRI BARANG GALIAN BUKAN LOGAM KECUALI MINYAK


BUMI DAN BATUBARA.
66. 36110 Industri porselin. 10 9 8.5
67. 36300 Industri semen, kapur dan barang dari semen dan kapur 16.5 16 15.5
68. 36400 Industri pengolahan tanah liat 16.5 16 15.5
69. 36900 Industri barang galian lain bukan logam 17 16 15

37000 INDUSTRI LOGAM DASAR


70. 37100 Industri logam dasar besi dan baja
- Seperti pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar (iron
dan slell making), pengenceran besi baja, penggilingan baja
(steel rolling) dan penempaan besi baja. 10 9 8.5
71. 37200 Industri logam dasar bukan besi.
- Seperti usaha pemurniaan, peleburan, penuangan,
pengecoran, penempaan dan ekstruksi logam bukan besi
(misalnya dalam bentuk ingot/ruangan/plate, kuningan,
alumina, perak, perunggu, seng, tembaga, dan timah). 10 9 8.5

38000 INDUSTRI BARANG DARI LOGAM, MESIN DAN PERALATANYA.


72. 38100 Industri barang dari logam, kecuali mesin dan peralatanya. 20 19 18
73. 38200 Industri mesin dan perlengkapannya. 20 19 18
74. 38300 Industri mesin, perlatan dan perlengkapan listrik serta bahan
keperluan listrik. 20 19 18
75. 38400 Industri alat angkutan. 20 19 18
76. 38500 Industri peralatan profesional, ilmu pengetahuan, pengukur dan
pengatur. 13.5 12 11

39000 INDUSTRI PENGOLAHAN LAINNYA.


77. 39010 Industri barang perhiasan.
- Seperti pemotongan, pengasahan, penghalusan batu berharga
dan permata, pembuatan perhiasan lainnya dari logam mulia
dan bukan logam mulia. 12.5 11.5 10
78. 39020 Industri alat-alat musik.
- Seperti pembuatan alat musik tradisional (kecapi, seruling,
angklung, calung, kulintang, gong, rebana, gendang dan
sebagainya), alat-alat musik lainnya (gitar, biola musik
tiup/trompet, harmonika, piano dan sebagainya). 15 12.5 12.5
79. 39030 Industri perlengkapan dan alat-alat keperluan olah raga.
- Seperti pembuatan alat-alat olah raga, kecuali yang bahan
utamanya dari karet (alat tinju, golf, bola bowling, tennis,
bulutangkis, dan atletik lainnya). 15 12.5 12.5

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

118
80. 39040 Industri mainan anak-anak
- Seperti pembuatan mainan anak-anak kecuali mainan anak-
anak yang bahan utamanya dari karet dan plastik. 15 12.5 12.5
81. 39050 Industri alat-alat tulis dan gambar.
- Seperti pembuatan alat tulis menulis dan gambar
menggambar 15 12.5 12.5
82. 39090 Industri pengolahan lain yang belum terliput.
- Seperti pembuatan papan nama, papan reklame, lapu display,
payung, pipa rokok, lencana, stempel, kap lampu dan lain
sebagainya yang belum tercakup dalam golongan industri
manapun. 15 12.5 12.5

40000 LISTRIK GAS DAN AIR


83. 41000 Listrik
- Termasuk pembangkit tenaga listrik yang dilakukan oleh satu
unit perusahaan lain, jika kegiatannya dilaporkan secara
terpisah. - - -
84. 42000 Gas uap dan air panas - - -
85. 43000 Penjernihan, penyediaan dan penyaluran air minum. - - -

50000 BANGUNAN
86. 52000 Bangunan sipil 20 19 18
87. 53000 Bangunan listrik, air dan komunikasi 25 22.5 20

61000 PERDAGANGAN BESAR


88. 61100 Eksportir - - -
89. 61200 Importir - - -
90. 61310 Perdagangan besar hasil-hasil pertanian.
- Meliputi usaha perdagangan dalam partai besar hasil-hasil
pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan yang belum
diolah (bukan hasil pengolahan), termasuk rumah pelelangan
hasil perikanan. 25 20 20
91. 61312 Perdagangan besar hasil-hasil pertanian lainnya.
- Yaitu perdagangan besar hasil -hasil pertanian lainnya yang
belum terliput. 25 20 20
92. 61314 Perdagangan besar hasil pertanian (pangan non pangan),
peternakan dan perikanan.
- Yaitu perdagangan hasil-hasil pertanian, peternakan, dan
perikanan yang belum mudah diolah termasuk ternak bibit,
susu segar dan pelelangan hasil-hasil perikanan. 20 15 15
93. 61316 Perdagangan besar hasil kehutanan dan penebangan hutan.
- Seperti perdagangan dalam partai besar kayu gelondongan,
getah damar, rotan dan sejenisnya. 25 20 20
94. 61320 Perdagangan besar barang-barang hasil pertambangan dan
penggalian. 25 20 20
95. 61330 Perdagangan besar barang-barang hasil industri pengolahan.
- Meliputi perdagangan dalam partai besar segala macam
barang hasil industri pengolahan baik yang dilaksanakan oleh
pemerintah maupun swasta 25 20 20
96. 61331 Perdagangan besar hasil industri (bahan) makanan, minuman
dan hasil pengolahan tembakau.
- Seperti daging ataupun yang diawetkan, susu dan makanan
dari susu, buah-buahan, sayur-sayuran, dan hasil perikanan
yang diawetkan, macam-macam makanan dan bahan
makanan hasil pengolahan, macam-macam minuman
keras/ringan dan hasil pengolahan tembakau (rokok
tembakau shaag dan bumbu rokok). 25 20 20
97. 61332 Perdagangan besar tekstil, pakaian jadi hasil pemintalan,
pertenunan dan hasil pengolahan kulit termasuk bahan keperluan
kaki.
- Seperti komoditi, tekstil, pakaian jadi, kain batik, macam-
macam benang, tali benang, tali temali, karpet/permadani
hasil perajutan, kulit dan kulit imitasi, barang untuk keperluan 25 20 20

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

119
kaki dan tas.
98. 61333 Perdagangan besar kertas, barang-barang dari kertas, alat tulis
(kantor) dan barang cetakan.
- Seperti komoditi macam-macam kertas untuk keperluan alat
tulis, kertas pembungkus, kertas karton, barang-barang dari
kertas (dus, kotak dan barang sejenisnya), macam-macam
alat tulis, barang-barang cetakan (blanko, faktur, nota,
kwitansi, kalender, agenda, majalah, buku tulis/bacaan) dan
barang cetakan lainnya. 25 20 20
99. 61334 Perdagangan besar hasil-hasil industri kimia, farmasi dan
kosmetik.
- Seperti barang-barang hasil industri kimia, berupa gas asam,
soda caustic, zat pewarna, glyeerin, alkohol dan sejenisnya,
macam-macam pupuk, bahan kimia untuk pemberantas hama
(pestisida, insektisida dan lain-lain) macam-macam hasil
industri farmasi dan jamu. Macam-macam sabun dan bahan
pembersih lainnya. Macam-macam kosmetik, parfum dan
bahan perawatan lainnya untuk rambut dan kulit. 25 20 20
100. 61335 Perdagangan besar bahan bakar minyak/gas dan minyak
pelumas.
- Seperti premium, solar, minyak tanah, bahan bakar, minyak
lainnya termasuk juga bahan bakar gas (elpiji) dan minyak
pelumas. 5 5 3
101. 61336 Perdagangan besar bahan bangunan, kecuali bahan bangunan
dari usaha penggalian.
- Seperti berbagai macam/komoditi bahan untuk keperluan
bangunan berupa semen, genteng, seng,cat, macam-macam
besi, macam-macam kayu/kayu lapis, fibreboard, hard board,
kaca dan barang-barang lainnya untuk keperluan
perlengakapan bangunan , kecuali yang berasal dari usaha-
usaha penggalian (batu koral, pasir, tanah liat). 25 20 20
102. 61337 Perdagangan besar mesin-mesin, alat angkutan dan onderdil/
perlengkapannya.
- Meliputi macam-macam mesin dan perlengkapan baik untuk
keperluan industri, pertanian, kantor dan transport seperti
mesin pembangkit tenaga, turbin, traktor, bulldozer, dan
msin berata lainnya yang sejenis, mesin hitung,mesin tik,
duplikator, foto copy, mesin pengolah data, mesin cuci, mesin
jahit, pompa air, dan mesin alat-alat rumah tangga lainnya,
berbagai macam mesin alat transportasi darat, laut dan
udara, termasuk macam-macam onderdil dan
perlengkapannya. 25 20 20
103. 61338 Perdagangan besar barang-barang elektronik, perlengkapan
listrik, alat komunikasi, fotografi dan optik.
- Meliputi macam-macam barang elektronik seperti radio,
kaset, taperecorder, televisi, video, amplipier dan
perlengkapan sound sytem lainnya, alat perlengkapan listrik
seperti dinamo, transformer, kabel listrik, sekring, lampu
pijar, TL dan perlengkapan listrik lainnya, alat keperluan
rumah tangga lainnya seperti sterika, listrik, kipas angin, alat
pengaduk dan alat pembuat kue alat masak lainnya, alat-alat
komunikasi dan optik, pesawat telepon, pemancar radio,
telex, intercom, macam-macam lensa, kamea, microscope,
proyektor dan sejenisnya. 25 20 20
104. 61339 Perdagangan besar barang-barang lainnya hasi industri.
- Yaitu barang-barang hasil industri yang belum termasuk
dalam golongan tersebut di atas, seperti macam-macam
perabot/perlengkapan rumah tangga dari kayu, bambu, rotan,
plastik, logam maupun karet, barang-barang perhiasan yang
dibuat dari batu permata, logam mulia, jam/arloji, alat-alat
olahraga, musik dan mainan anak-anak serta
alat/perlengkapan laboratorium 25 20 20
105. 61500 Perdagangan besar lainnya yang belum terlipat. 25 20 20

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

120
62000 PERDAGANGAN ECERAN
106. 62200 Perdagangan eceran barang-barang kelontong, supermarket dan
warung langsam.
- Yaitu perdagangan eceran macam-macam hasil industri untuk
keperluan rumah tangga, kantor, sekolah, maupun keperluan
perorangan seperti toko kelontong, toko serba ada,
supermarket dan warung langsam 30 25 20
107. 62310 Perdagangan eceran hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan,
kehutanan dan perburuan.
- Meliputi usaha perdagangan, eceran hasil pertanian,
peternakan, perikanan, kehutanan dan perburuan. 20 15 15
108. 62320 Perdagangan eceran hasil industri (bahan) makanan, minuman
dan hasil pengolahan tembakau.
- Seperti daging segar ataupun yang diawetkan, susu, buah-
buahan, sayur-sayuran dan hasil perikanan yang diawetkan,
macam-macam minyak makan hasil penggilingan biji-bjian
keras (beras, kopi, jagung dan sejenisnya), macam-macam
tepung gula, dan hasil pengolahan gula, teh, es batu,
makanan dari kedelai, kerupuk, bumbu masak, macam-
macam minuman (keras dan ringan) dan hasil pengolahan
tembakau (rokok, tembakau shag dan bumbu rokok). 25 20 20
109. 62410 Perdagangan eceran tekstil, pakaian jadi hasil pemintalan ,
pertenunan, perajutan, hasil pengolahan kulit, termasuk barang
keperluan kaki.
- Seperti tekstil, pakain jadi, kain batik, macam-macam
benang, tali-temali, karpet/ permadani dari bahan tekstil
macam-macam hasil perajutan, kulit/ kulit imitasi, barang-
barang dari kulit dan barang-barang keperluan kaki. 30 25 20
110. 62420 Perdagangan eceran perabotan rumah tangga dan dapur.
- Seperti furniture (baik dari kayu, rotan, plastik dan logam),
alat-alat perlengkapan dapur, barang-barang pecah belah dan
lain sejenisnya. 30 25 20
111. 62422 Perdagangan eceran barang-barang elektronik, perlengkapan
listrik, alat komunikasi, fotografi dan optik.
- Yaitu barang-barang elektronik seperti radio, kaset/tape
recorder, televisi, video, amplifier dan perlengkapan sound
sytem, alat-alat perlengkapan listrik seperti dinamo,
transformer, macam-macam kabel listrik, lampu pijar TL,
sekring, alat-alat rumah tangga seperti setrika listrik, alat
pengaduk, kipas angin, alat komunikasi dan optik seperti
fotografi, optik pesawat telepon, telegraf/telex. Pemancar
radio, telecall, intercome dan sejenisnya. Macam-macam
lensa dan kamera, mikroskop, proyektor dan sejenisnya. 30 25 20
112. 62430 Perdagangan eceran barang-barang industri kimia, bahan bakar
minyak/gas dan minyak pelumas Pharmasi dan Kosmetika.
- Seperti barang-barang hasil industri kimia (gas asam, soda,
causic, zat pewarna glycerin) alkohol dan sejenisnya macam-
macam pupuk, bahan kimia pemberantas hama (pestisida,
insektisida), macam-macam bahan bakar minyak (premium,
minyak tanah, solar), bahan bakar gas (elpiji), minyak
pelumas, macam-macam hasil industri pharmasi dan jamu,
macam-macam sabun dan bahan pembersih lainnya. Macam-
macam kosmetik parfum dan bahan-bahan perawatan kulit
dan rambut lainnya. 30 25 20
113. 62440 Perdagangan eceran bahan bangunan kecuali bahan bangunan
berasal dari usaha penggalian.
- Seperti semen, seng, cat, macam-macam besi, macam-
macam kayu/kayu lapis, kaca dan barang-barang lainnya
untuk perlengkapan bangunan. 30 25 20
114. 62445 Perdagangan eceran barang-barang hasil penggalian. 25 20 20
115. 62450 Perdagangan eceran barang-barang hasil industri pengolahan
- Meliputi usaha perdagangan eceran segala macam barang 30 25 20

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

121
hasil-hasil industri pengolahan.
116. 62461 Perdagangan eceran kertas, barang-barang dari kertas, alat tulis
(kantor) dan barang cetakan.
- Seperti kertas alat tulis, pembungkus karton, kemasan dari
kertas berupa dus, kotak dan sejenisnya, macam-macam alat
tulis sekolah/kantor, barang-barang cetakan (faktur/nota,
kwitansi, kalender/agenda, majalah, macam-macam buku
bacaan/pelajaran dan barang cetakan lainnya). 30 25 20
117. 62470 Perdagangan eceran mesin-mesin, alat angkutan dan
onderdil/perlengkapannya.
- Yaitu macam-macam mesin dan perlengkapannya baik untuk
keperluan pertanian, industri, kantor,alat trasnportasi, mesin
pembangkit tenaga, turbun, traktor, bulldozer dan mesin-
mesin berat lainnya, macam-macam mesin kantor seperti
mesin hitung,mesin tik, duplikator, photo copy, mesin
pengolah data, mesin keperluan rumah tangga seperti mesin
cuci, AC, mesin jahit, mesin pembangkit listrik,mesin pompa
air dan sejenisnya, macam-macam alat transportasi darat,
laut dan udara termasuk macam-macam onderdil dan
perlengkapan kendaraan 30 25 20

63000 RUMAH MAKAN DAN MINUM


118. 63100 Rumah makan dan minum
- Seperti restoran/rumah makan, night club, catering, restorasi
kereta api, cafetaria, kantin, warung nasi/kopi dan
sejenisnya, tidak termasuk night club, restoran dan bar yang
merupakan salah satu fasilitas hotel dan penginapan. 25 20 20

64000 HOTEL DAN PENGINAPAN


119. 64100 Hotel dan penginapan
- Seperti hotel, hostel, motel, losmen, dan sejenisnya termasuk
fasilitas restoran, bar dan night clubnya. 25 20 20

70000 ANGKUTAN PENGGUDANGAN DAN KOMUNIKASI


120. 71100 Angkutan kereta api - - -
121. 71200 Angkutan jalan raya 20 15 15
122. 71300 Angkutan dengan saluran pipa
- Seperti pengangkutan air, minyak dan gas melalui saluran air
atas dasar balas jasa kontrak - - -
123. 71400 Jasa angkutan darat
- Seperti jalan tol, parkir kendaraan, terminal, penyewaan
mobil/truk tanpa pengemudi. 25 20 20
124. 72100 Angkutan samudera dan perairan pantai
- Seperti pelayaran samudera, pelayaran antar pulau dan
peleyanan pantai. 13.5 13 12.5
125. 72200 Angkutan sungai, danau dan kanal
- Seperti pengangkutan melalui sungai, kanal dan danau,
termasuk ferry penyeberangan. 13.5 13 12.5
126. 72300 Jasa penunjang angkutan air
- Seperti pemeliharaan dan pelayanan dermaga, dok kapal atau
perahu, pandu kapal, peralatan navigasi dan usaha bongkar
muat barang dari dan ke kapal. 25 20 20
127. 73000 Angkutan udara 15 12.5 12
128. 73200 Jasa penunjang angkutan udara
- Seperti pelayanan pelabuhan udara, pelayanan navigasi dan
dengan fasilitasnya (trafic control) termasuk usaha
penyewaan pesawat terbang tanpa operatornya dan usaha
bongkar muat dari dan ke kapal terbang. 25 20 20
129. 74100 Pengepakan dan pengiriman
- Seperti usaha pengiriman dan pengepakan, keagenan/biro
perjalanan dan sejenisnya. 30 30 25
130. 74200 Penggudangan
- Seperti cold storage, bonded warehousing dan fasilitas- 30 30 25

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

122
fasilitas penggudangan lainnya.
131. 75000 Komunikasi
- Seperti pelayanan komunikasi melalui pos dan telepon,
telegraph/telex atau hubungan radio. 15 13 12

80000 KEUANGAN ASURANSI, USAHA PERSEWAAB BANGUNAN, TANAH


DAN JASA PERUSAHAAN.
132. 81000 Lembaga keuangan - - -
133. 81100 Lembaga keuangan Bank - - -
134. 81120 Lembaga kuangan non Bank - - -
135. 81200 Usaha persewaan/jual-beli tanah, gedung dan tanah.
- Meliputi usaha persewaan/jual-beli barang-barang tidak
bergerak (bangunan dan tanah yang disiapkan untuk
bangunan), real estate (yang tidak melakukan konstruksi)
yangmenjual tanah, broker dan manager yang mengurus
persewaan pembelian, penjualan dan penaksiran nilai
tanah/bangunan atas balas jasa/kontrak. 20 17.5 17
136. 81410 Asuransi - - -
137. 82220 Jasa persewaan mesin dan peralatan.
- Meliputi usaha persewaan mesin dan peralatannya (tanpa
operator) untuk keperluan pertanian, pertambangan dan
ladang minyak industri pengolahan, konstruksi dan penjualan
mesin-mesin kantor termasuk usaha leasing. 49 49 48
138. 82300 Jasa pengolahan data dan tabulasi.
- Meliputi usaha jasa tabulasi data yang bersifat umum baik
secara elektronik maupun manual, seperti lembaga-lembaga
pengolahan data dan sistem informasi, lembaga komputer
dan lain sejenisnya. 55 53 51
139. 82900 Jasa perusahaan, kecuali jasa persewaan mesin dan
peralatannya. 27.5 25 20
140. 82910 Jasa hukum
- Meliputi usaha jasa pengacara/ advoka seperti lembaga
bantuan hukum Peradin, Pusbadhi dan lain sejenisnya. 51 48.5 48.5
141. 82910 Notaris 55 50 50
142. 82910 Pembuatan akte tanah 55 50 50
143. 82910 Penasehat hukum (advokat) 51 48.5 48.5
144. 82920 Jasa akuntansi dan pembukuan.
- Meliputi usaha jasa pengurusan Tata Buku dan pemeriksaan,
pembukuan seperti kantor-kantor akuntan dan lembaga
konsultan audit lainnya. 36 35 35
145. 82930 Jasa Periklanan dan riset Pemasaran.
- Meliputi usaha jasa periklanan dan reklame dengan berbagai
macam media masa seperti pembuatan poster/gambar dan
tulisan yang menyolok selebaran/riset pemasaran yang
dilakukan atas dasar balas jasa 20 17.5 15
146. 82940 Jasa Bangunan, Arsitek dan Teknik.
- Meliputi usaha jasa konsultasi bangunan/arsitek, perancang
bangunan, survai geologi dan penyelidik tambang dan
sebagainya, seperti usaha biro/konsultasi bangunan dan lain-
lain. 47 46 45
147. 82940 Pekerjaan bebas bidang teknik 25 22.5 20
148. 82950 Pekerjaan bebas bidang konsultan. 55 53 51
149. 82950 Penasehat Ahli/Hukum lainnya. 51 48.5 48.5
150. 82990 Jasa perusahaan lainnya, kecuali jasa persewaan mesin dan
peralatan.
- Meliputi usaha jasa perusahaan yang belum tercakup yang
dilakukan atas dasar balas jasa atau kontrak seperti jasa
perencanaan, pelayanan foto copy, stenografi, jasa konsultan
management perusahaan, jasa pemberitaan/pers dan
sebagainya. 32 31 29

90000 JASA KEMASYARAKATAN DAN SOSIAL


151. 92000 Jasa pendidikan

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

123
- Yaitu pendidikan formal mulai dari pra sekolah (TK), SD,
SLTP, SLTA dan Akademi/Perguruan Tinggi . 30 27.5 25
152. 93210 Jasa Kesehatan 30 27.5 25
153. 93213 Dokter 45 42.5 40
154. 93214 Pekerjaan bebas bidang medis 29 28 27
155. 93215 Pekerjan bebas bidang farmasi dan kimia 25 22.5 20
156. 93220 Dokter hewan 25 22.5 20
157. 93230 Jasa kebersihan dan sejenisnya
- Seperti usaha jasa kebersihan/cleaning service,
pembuangan/pemusnahan sampah, pemusnahan sampah,
pemusnahan rayap/kuman dan lain-lain. 40 37 35
158. 94000 Jasa sosial dan kemasyarakatan 30 30 29
159. 96000 Jasa hiburan dan kebudayaan 35 32.5 31.5
160. 96214 Pekerjaan bebas bidang seni 35 32.5 30
161. 97000 Jasa perorangan dan rumah tangga 32 31 29
162. 97110 Reparasi kendaraan bermotor 20 18.5 17.5
163. 97120 Reparasi kendaraatn tidak bermotor 20 18.5 17.5
164. 97130 Reparasi macam-macam jam dan barang perhiasan. 20 18.5 17.5
165. 97130 Reparasi barang keperluan kaki dan barang dari kulit. 20 18.5 17.5
166. 97140 Reparasi alat dan pesawat elektronik/listrik 20 18.5 17.5
167. 97140 Reparasi mesin-mesin kantor 20 18.5 17.5
168. 97190 Reparasi macam-macam atau fotografi. 20 18.5 17.5
169. 97190 Reparasi lainnya yang belum tercakup
- a.l reparasi alat-alat musik, alat-alat olahraga dan mainan
anak-anak 20 18.5 17.5
170. 97200 Jasa binatu pencelupan dn pembersihan barang-barang
tekstil/pakaian jadi 40 38 36
171. 97400 Pemangkas rambut dan salon kecantikan.
- Yaitu jasa pemeliharaan rambut dan kecantikan termasuk
kursus menata rambut/rias dan kecantikan. 30 28 27
172. 97910 Foto studio termasuk fotografi komersil.
- Yaitu foto studio dan fotografi yang melayani agen-agen
periklanan,penerbit dan lain-lain. 38 37 35
173. 97920 Jasa Penjahit 34 31 28
174. 97990 Jasa perseorangan lainnya yang belum tercakup. 35 35 35
175. 98000 Jasa pemerintahan - - -

00000 KEGIATAN YANG TIDAK JELAS BATASANNYA DAN KEGIATAN


LAIN YANG BELUM TERLIPUT.
176. 00000 Badan non subyek - - -
177. 00000 Karyawan/pegawai - - -
178. 00000 Karyawan/pegawai Badan Usaha Milik Negara - - -
179. 00000 Karyawan/ pegawai swasta - - -
180. 00000 Pekerjaan bebas bidang profesi lainnya. 50 47.5 45
181. 00000 Pemborong bukan bangunan/ konstruksi, termasuk levereansir
dan lain-lain. 20 19 18
182. 00000 Pedagangan perantara/ komisioner. 40 35 35
183. 00000 Kegiatan lain yang tidak jeals batasannya dankegiatan yang
belum terliput dalam salah satu golongan tersebut diatas. 40 35 35

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

124
Norma penghitungan Penghasilan Neto dikelompokkan menurut wilayah sebagai
berikut :
a. 10 (sepuluh) ibukota propinsi yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak;
b. ibukota propinsi lainnya;
c. daerah lainnya.

CONTOH PEMAKAIAN NORMA

A. Wajib Pajak A kawin dan mempunyai 3 (tiga) orang anak. Ia seorang dokter
bertempat tinggal di Jakarta yang juga memiliki industri rotan di Cirebon.
- Peredaran Usaha dari Industri Rp. 40.000.000,00
Rotan (setahun) di Cirebon
- Penerimaan bruto sebagai Rp. 72.000.000,00
dokter (setahun) di Jakarta
Penghasilan neto dihitung sebagai berikut :

- Dari industri rotan :


12,5% X Rp. 40.000.000,00 = Rp. 5.000.000,00
- Sebagai dokter :
45% X Rp. 72.000.000,00 = Rp. 32.400.000,00
jumlah penghasilan Neto = Rp. 37.400.000,00

Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Neto dikurangi Penghasilan Tidak


Kena Pajak
= Rp. 37.400.000,00 - Rp. 21.120.000,00 = Rp. 16.280.000,00
Pajak penghasilan yang terutang :
- 5% X Rp. 16.280.000,00 = Rp. 1.250.000,00
Jumlah = Rp. 81.400,00
Catatan :
a. Angka 12,5% untuk industri rotan, lihat kode 33100
b. Angka 45% sebagai dokter, lihat kode 93213
c. Istri tidak punya penghasilan.

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

125
B. Seorang Wajib Pajak baru memiliki usaha sebagai pedagang eceran bahan
makanan di Jakarta. Penjualan dalam satu bulan diperkirakan sebesar Rp.
15.000.000,00. Ia kawin dan mempunyai 2 (dua) orang anak.

Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 yang harus dibayar sebagai angsuran


dalam tahun berjalan dihitung sebagai berikut :
Jumlah peredaran setahun = 12 X Rp. 15.000.000,00
= Rp. 180.000.000,00
Persentase penghasilan menurut norma Kode 62320 = 25%
Penghasilan neto setahun = 25% X Rp. 180.000.000,00
= Rp. 45.000.000,00

Penghasilan Kena Pajak = penghasilan neto dikurangi Penghasilan Tidak


Kena Pajak
= Rp. 45.000.000,00 - Rp. 19.360.000,00 = Rp. 25.640.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang
= 5% X Rp. 25.640.000,00 = Rp. 1.282.000,00
Pajak Penghasilan Pasal 25 yang harus dibayar
= 1/12 X Rp. 1.282.000,00 = Rp. 106.833,00

Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

126