Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peran agama dalam keperawatan adalah topik yang jarang untuk dibahas,
padahal kita tahu hal ini sangat berpengaruh di dalam pelayanan, hal ini terbukti dengan
di dalam keperawatan kita juga mengenal tentang kebutuhan spiritual (walaupun tidak
benar-benar dapat disamakan dengan agama). Tapi kali ini dari kelompok kami hanya
ingin membagi ide atau pemikiran kami, bukan tentang pemenuhan kebutuhan spiritual,
tetapi yang berhubungan dengan pendidikan agama bagi keperawatan. Agama tetap
penting untuk diajarkan, karena untuk menekankan aspek tertentu bagi masyarakat kita.
Keanekaragaman suku bangsa dengan budayanya di seluruh Indonesia
merupakan kekayaan bangsa. Kekayaan ini mencakup wujud-wujud kebudayaan yang
didukung oleh masyarakatnya. Setiap suku bangsa memiliki nilai-nilai budaya yang khas,
yang membedakan jati diri mereka daripada suku bangsa lain. Indonesia yang terbentang
dari Sabang sampai Merauke pada tiap wilayahnya memiliki beraneka suku bangsa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian agama dan sekte agama Hindu ?
2. Apa saja etnik suatu agama ?
3. Bagaimana gambaran praktik budaya kesehatan ?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui pengertian agama dan sekti agama hindu
2. Dapat mengetahui macam-macam etnik suatu agama
3. Dapat mengetahui gambaran praktik budaya kesehatan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Gambaran Suku atau Komunitas Hindu


1. Agama Hindu
a. Pengertian Agama Hindu
Kata Hindu (melalui bahasa Persia) berasal dari
kata Sindhu dalam bahasa Sanskerta, yaitu nama sebuah sungai di sebelah barat
daya Subbenua Indiasebagian besar alirannya terletak di wilayah
negara Pakistanyang dalam bahasa Inggris disebut Indus. Menurut Gavin
Flood, pada mulanya istilah 'hindu' muncul sebagai istilah geografis bangsa
Persia untuk menyebut suku bangsa yang tinggal di seberang sungai Sindhu.
Para sejarawan pun menyebut peradaban suku tersebut sebagai Peradaban
Lembah Indus. Maka dari itu, awalnya istilah 'Hindu' merupakan istilah
geografis dan tidak mengacu pada suatu agama.
Kata Hindu diserap oleh bahasa-bahasa Europa dari istilah Arab al-
Hind, dan mengacu kepada negeri bagi bangsa yang mendiami daerah sekitar
sungai Sindhu. Istilah Arab tersebut berasal istilah Persia Hind, yang mengacu
kepada seluruh suku di India. Pada abad ke-13, Hindustan muncul sebagai nama
alternatif India yang acap disebutkan, yang memiliki arti "Negeri para Hindu".
Istilah agama Hindu kemudian sering digunakan dalam beberapa teks
berbahasa Sanskerta seperti Rajatarangini dari Kashmir (Hinduka, kr. 1450)
dan beberapa teks mazhab Gaudiya Waisnawa dari abad ke-16 hingga ke-
18 yang berbahasa Bengali, seperti Caitanyac aritamerta dan Caitanya
bhagawata. Istilah itu digunakan untuk membedakan Hindu
dengan Yawana atau Mleccha. Sejak abad ke-18 dan seterusnya, istilah Hindu
digunakan oleh para kolonis dan pedagang dari Eropa untuk menyebut para
penganut agama tradisional India secara umum. Istilah Hinduism diserap ke
dalam bahasa Inggris pada abad ke-19 untuk menyebut tradisi keagamaan,
filasat, dan kebudayaan asli India.
Keberadaan agama Hindu sebagai agama tersendiri yang berbeda
dengan agama Buddha dan Jainisme diperkuat oleh penegasan para
penganutnya bahwa agama mereka memang demikian berbeda. Berbeda dengan
dua agama tersebut, Hinduisme bersifat lebih teistik. Sebagian besar sekte dan
aliran Hinduisme meyakini suatu pengatur alam semestadasar bagi segala
fenomena di dunia yang memanifestasikan diri dalam berbagai wujudyang
disebut dengan berbagai nama, seperti Iswara, Dewa, Batara, Hyang, dan lain-
lain. Sebagian aliran meyakini bahwa berbagai kemajemukan di dunia
merupakan bagian dari Brahman. Dalam agama Hindu, seorang umat boleh
berkontemplasi tentang misteri Brahman (dalam konteks tertentu, Brahman
dapat didefinisikan sebagai Tuhan personal ataupun impersonal) dan
mengungkapkannya melalui mitos yang jumlahnya tidak habis-habisnya, serta
melalui penyelidikan filosofis. Mereka mencari kemerdekaan atas penderitaan
melalui praktik-praktik brata atau meditasi yang mendalam, atau dengan
mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cinta kasih (bhakti) dan percaya
(sradha).
Menurut Prof. Dr. IGN Nala, pakar pengobatan tradisional, dalam
tulisannya pernah menyampaikan bahwa kitab-kitab umat Hindu memuat
berbagai macam jenis penyakit dan teknik pengobatan. Dicontohkan penyakit
kencing Manis (diabetes mellitius). Penyakit ini, menurut Nala, sudah
ditemukan sekitar 3.000 tahun yang lalu. Ini dibuktikan dengan disebutkannya
penyakit ini dalam kitab Ayur Veda. Kitab Ini merupakan bagian dari kelompok
kitab Upa Veda.Sementara kitab Upa Veda ini sendiri termasuk dalam kitab suci
umat Hindu, yakni kitab Veda Smerti. Kitab Ayur Veda, kata Nala, sering
dikelirukan dengan kitab suci Yajur Veda, salah satu dari kitab suci Catur Veda
Sruti. Padahal, lanjut Nala, isi dari kitab Ayur Veda hampir tidak ada
hubungannya dengan kitab Yajur Veda yang mengupas masalah yadnya atau
upacara serta upakara keagamaan.Sementara itu, menurut Gede Suwindia, dosen
STAHN Denpasar, dalam agama Hindu dikenal adanya konsep keseimbangan.
Karena itulah, dalam Upanisad disebutkan bahwa keberadaan berbagai tanaman
yang ada di dunia ini memiliki guna dan fungsi yang sangat vital bagi manusia.
Ada banyak tanaman di muka bumi ini yang memiliki kegunaan bagi manusia,
terutama dalam penyembuhan penyakit. ''Di sini diwajibkan bagi manusia untuk
menghargai alam terutama tumbuh-tumbuhan,'' kata Suwindia.
b. Empat Aliran Utama
Empat aliran utama yang sering didapati adalah Waisnawa, Saiwa,
Sakta, dan Smarta. Dalam masing-masing aliran, ada beberapa perguruan atau
aliran lain yang menempuh caranya sendiri.

1) Waisnawa: aliran dalam tubuh Hinduisme yang memuja Wisnudewa


pemelihara menurut konsep Trimurti (Tritunggal)beserta sepuluh
perwujudannya (awatara). Aliran ini menekankan pada kebaktian, dan para
pengikutnya turut memuja berbagai dewa, termasuk Rama dan Kresna yang
diyakini sebagai perwujudan Wisnu. Pengikut aliran ini biasanya non-
asketis, monastis (mengikuti cara hidup biarawan), dan menekuni praktik
meditasi serta melantunkan lagu-lagu pemujaan. Biasanya umat Waisnawa
bersifat dualisme. Aliran ini memiliki banyak tokoh suci, kuil, dan kitab
suci. Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Sri
Sampradaya (Waisnawa yang memuja Laksmi sebagai pasangan
Wisnu), Brahma Sampradaya (Waisnawa yang memuja Wisnu secara
eksklusif), Rudra Sampradaya (Waisnawa yang memuja Wisnu atau
para awatara, seperti Kresna, Rama, Balarama, dan lain-lain), Kumara
Sampradaya (Waisnawa yang memuja Caturkumara).
2) Saiwa: aliran dalam tubuh Hinduisme yang memuja Siwa. Kadangkala
Siwa digambarkan sebagai Bhairawa yang menyeramkan. Umat Saiwa
lebih tertarik pada tapa brata daripada umat Hindu aliran lainnya, dan biasa
ditemui berkeliaran di India dengan wajah yang dilumuri abu dan
melakukan ritual penyucian diri. Mereka bersembahyang di kuil dan
melakukan yoga, berjuang untuk dapat menyatukan diri dengan Siwa.
Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Pasupata (Saiwa yang
menekankan tapa brata, terutama tersebar di Gujarat, Kashmir,
dan Nepal), Saiwa Siddhanta (Saiwa yang mendapat
pengaruh Tantra), Kashmira Saiwadarshana (Saiwa
yang monistis dan idealistis), Natha Siddha Siddhanta (Saiwa yang
monistis), Linggayata (Saiwa yang monoteistis), Saiwa Adwaita (Saiwa
yang monistis dan teistis).
3) Sakta: aliran Hinduisme yang memuja Sakti atau Dewi. Pengikut Saktisme
meyakini Sakti sebagai kekuatan yang mendasari prinsip-
prinsip maskulinitas, yang dipersonifikasikan sebagai pasangan dewa. Sakti
diyakini memiliki berbagai wujud. Beberapa di antaranya tampak ramah,
seperti Parwati (pasangan Siwa) atau Laksmi (pasangan Wisnu). Yang
lainnya tampak menakutkan, seperti Kali atau Durga. Sakta memiliki kaitan
dekat dengan Hinduisme Tantra, yang mengajarkan ritual dan praktik untuk
penyucian pikiran dan tubuh. Umat Sakta menggunakan mantra-mantra,
sihir, gambar sakral, yoga, dan upacara untuk memanggil kekuatan
kosmis. Aliran ini mengandung dua golongan utama,
yaitu: Srikula(pemujaan kepada dewi-dewi yang bergelar Sri)
dan Kalikula(pemujaan kepada dewi-dewi perwujudan Kali).
4) Smarta: aliran Hindu-monistis yang memuja lebih dari satu dewa
meliputi Siwa, Wisnu, Sakti, Ganesa, dan Surya di antara dewa dan dewi
lainnya tetapi menganggap bahwa dewa-dewi tersebut merupakan
manifestasi dari zat yang Maha Esa. Dibandingkan tiga aliran Hinduisme
yang disebutkan di atas, Smarta berusia relatif muda. Berbeda
dengan Waisnawa atau Saiwa, aliran ini tidak bersifat sektarian secara
gamblang, dan berdasarkan pada iman bahwa Brahman adalah asas
tertinggi di alam semesta dan meresap ke dalam segala sesuatu yang
ada. Pada umumnya, umat Smarta memuja Yang Mahakuasa dalam enam
personifikasi: Ganesa, Siwa, Sakti, Wisnu, Surya, dan Skanda. Karena umat
Smarta menerima keberadaan dewa-dewi Hindu yang utama, mereka
dikenal sebagai umat liberal atau non-sektarian. Mereka mengikuti praktik-
praktik filosofis dan meditasi, serta menekankan persatuan antara individu
dengan Tuhan melalui kesadaran.

c. Sekte dan Aliran Lainnya


1) Agama Hindu Newa: agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar suku
Newa di Nepal. Agama Hindu ini mengenal beberapa tradisi unik seperti tarian
sakral dengan topeng yang disebut Chachaa Pyakhan. Agama Hindu ini juga
mengenal sejumlah hari raya, dan adakalanya bertepatan dengan perayaan Buddhis
di sana.
2) Agama Hindu Nusantara: tradisi serta kepercayaan masyarakat Indonesia yang
telah mengalami akulturasi/berasimilasi dengan konsep-konsep Hindu dari India,
sehingga membentuk suatu tradisi Hindu yang unik, contohnya Hindu
Jawa dan Hindu Bali. Karena sikap lembaga Hindu yang terbuka,
beberapa kepercayaan asli Nusantara pun diakui sebagai bagian dari agama Hindu
Nusantara sehingga mendapatkan label Hindu, contohnya Hindu
Kaharingan dan Hindu Tollotang.
3) Agama Hindu Swaminarayana: agama yang dianut oleh sebagian besar
orang Hindu Gujarat. Pengikut Hindu Swaminarayana
memuja Wisnu atau Kresna sebagai Tuhan sehingga sering dianggap sebagai salah
satu aliran dalam Waisnawa. Tetapi tidak seperti aliran Waisnawa pada umumnya
Hindu Swaminarayana tidak membedakan Wisnu dan Siwa. Aliran ini menggunakan
pemahaman sebagaimana aliran Smarta bahwa para dewa adalah manifestasi
dari Brahman.
4) Ayyavazhi: sistem kepercayaan monistis berdasarkan darma yang berasal dari India
Selatan. Aliran ini dikatakan sebagai agama tersendiri oleh media massa dan
beberapa penganutnya, tetapi banyak penganutnya yang mengaku sebagai umat
Hindu, sehingga Ayyavazhi juga dianggap sebagai sekte Hindu. Ayyavazhi berpusat
pada ajaran dan khotbah Ayya Vaikundar; gagasan dan filosofi mereka berdasarkan
kitab Akilattirattu Ammanai dan Arul Nool. Ayyavazhi memiliki banyak kesamaan
dengan Hinduisme dalam hal mitologi dan praktik, namun memiliki perbedaan
dalam konsep baik dan buruk, serta perbedaan pandangan tentang darma.
5) Balmiki: sekte yang memuja Begawan Walmiki sebagai leluhur dan dewa mereka.
Pengikutnya meyakini bahwa Walmiki adalah awataraTuhan, dan menghormati
karya-karya gubahannya, seperti Ramayanadan Yoga Vasistha, sebagai kitab suci.
6) Ekasarana Dharma: aliran Hindu-panenteistis yang dirintis oleh Srimanta
Sankardeva pada abad ke-15. Kini, banyak penganutnya yang tinggal di negara
bagian Assam. Aliran kepercayaan ini menolak upacara dan ritus berbasis Weda,
menentang pelaksanaan kurban hewan, dan hanya melakukan pemujaan dengan
menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Kitab pegangan bagi aliran ini
adalah Sankardewa Bhagawata. Aliran kepercayaan ini terbagi menjadi empat
golongan: Brahma-sanghati, Purusha-sanghati, Nika-sanghati, dan Kala-sanghati.
7) Ganapatya: sekte Hinduisme yang berfokus pada pemujaan Ganesasebagai Tuhan
Yang Mahakuasa. Ganesa dipuja sebagai bagian dari Saiwa sejak sekitar abad ke-5.
Sekte Ganapatya mulai muncul sekitar abad ke-6 dan ke-9. Kemudian, sekte ini
dipopulerkan oleh Sri Morya Gosavi. Sekte Ganapatya mulai masyhur antara abad
ke-17 dan ke-19 di Maharashtra.
8) Kapadi Sampradaya: aliran dan tradisi Hinduisme yang dianut sebagian
masyarakat kesatria di Gujarat, terutama di Kutch. Pengikut tradisi ini
memuja Rama sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Kepercayaan ini terbagi menjadi
empat golongan: Ramsnehi, Ashapuri, Sravani, dan Makadbantha.
9) Kaumaram: sekte Hinduisme yang berfokus pada
pemujaan Muruganatau Skanda di kawasan India Selatan, terutama yang didominasi
oleh suku Tamil. Tradisi tersebut juga dapat ditemui di luar India, khususnya di
kawasan permukiman imigran Tamil.
10) Mahima Dharma: sekte Hinduisme yang penganutnya banyak terdapat
di Orissa, India. Sekte ini diprakarsai oleh seorang guru spiritual yang dikenal
dengan nama Mahima Swami atau Mahima Gosain. Sekte ini memusatkan kebaktian
pada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Alekha, serta menolak pemujaan Tuhan
dengan sarana arca, gambar, ataupun pratima.
11) Pranami Sampradaya: disebut pula Nijananda Sampradaya, adalah suatu aliran
monoteistis yang memuja Tuhan dengan sebutan Raj Jiatau Prannath Ji. Pengikut
kepercayaan ini tidak diperkenankan makan daging, mengonsumsi alkohol, atau
merokok. Mereka juga memiliki kitab tersendiri yang disebut Kuljam
Swarup atau Tartam Sagar. Pengikut kepercayaan ini banyak terdapat
di Najarpur, Nepal.
12) Ravidassia: sistem kepercayaan monoteistis berdasarkan ajaran Guru Ravidass,
tokoh yang dikenal oleh umat Hindu ataupun Sikh. Umat Ravidassia meyakini
bahwa Ravidass adalah guru spiritual, sedangkan umat Sikh menganggapnya
sebagai bhagat (orang suci). Ajaran Ravidassia merupakan cabang dari gerakan
Bhakti yang muncul di India sejak abad ke-15. Ravidassia mengajarkan umatnya
untuk memuja Tuhan yang disebut Hari, dan tujuan kehidupan adalah
mencapai moksa, yaitu bertemu dengan Hari.
13) Saura: sekte Hinduisme yang memuja Surya sebagai Saguna-brahman. Aliran ini
berpangkal dari tradisi Weda kuno. Kini, hanya ada sedikit penganut aliran ini di
India.
14) Srauta: golongan brahmana ortodoks yang mengikuti Purwamimamsa, berbeda
dengan Wedanta yang diikuti oleh kaum brahmana lainnya. Mereka merupakan
penganut tradisi ritual konservatif dan membentuk golongan minoritas di antara
umat Hindu di India. Penganut aliran ini biasanya terdapat di negara
bagian Kerala (kaum Nambudiri) dan Karnataka (Mattur, Holenarsipur, Sringeri).

2. Etnik
a. Suku Bali
Asal usul suku Bali terbagi ke dalam tiga periode atau gelombang migrasi:
gelombang pertama terjadi sebagai akibat dari persebaran penduduk yang terjadi di
Nusantara selama zaman prasejarah; gelombang kedua terjadi secara perlahan selama
masa perkembangan agama Hindu di Nusantara; gelombang ketiga merupakan
gelombang terakhir yang berasal dari Jawa, ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15
seiring dengan Islamisasi yang terjadi di Jawa sejumlah rakyat Majapahit memilih
untuk melestarikan kebudayaannya di Bali, sehingga membentuk sinkretisme antara
kebudayaan Jawa klasik dengan tradisi asli Bali.
Kebudayaan Bali terkenal akan seni tari, seni pertujukan, dan seni ukirnya.
Covarrubias mengamati bahwa setiap orang Bali layak disebut sebagai seniman, sebab
ada berbagai aktivitas seni yang dapat mereka lakukan lepas dari kesibukannya sebagai
petani, pedagang, kuli, sopir, dan sebagainya mulai dari menari, bermain musik,
melukis, memahat, menyanyi, hingga bermain lakon. Dalam suatu desa yang bobrok
sekalipun dapat dijumpai sebuah pura yang indah, pemain gamelan andal, dan bahkan
aktor berbakat. Bahkan sesajen yang dibuat wanita Bali memiliki sisi artistik pada
jalinan potongan daun kelapa dan susunan buah-buahan yang rapi dan menjulang.
Menurut Covarrubias, seniman Bali adalah perajin amatir, yang melakukan aktivitas
seni sebagai wujud persembahan, dan tidak peduli apakah namanya akan dikenang atau
tidak. Seniman Bali juga merupakan peniru yang baik, sehingga ada pura yang
didekorasi dengan ukiran menyerupai dewa khas Tionghoa, atau dihiasi relief
kendaraan bermotor, yang mereka contoh dari majalah asing.
Sebagaimana di Jawa, suku Bali juga mengenal pertunjukan wayang, namun
dengan bentuk wayang yang lebih menyerupai manusia daripada wayang khas Jawa.
Suku Bali juga memiliki aspek-aspek unik yang terkait dengan tradisi religius mereka.
b. Suku Dayak Kaharingan
Suku Dayak dalam kepercayaan Hindu Kaharingan, untuk selanjutnya
disebut suku DHK sebagai salah satu suku bangsa yang tersebar di Indonesia, secara
turun-temurun telah mengembangkan sistem kesehatan atau pengobatan secara
tradisional yang populer disebut obat kampung dan praktisi medisnya disebut dengan
tabit atau lasang, (dukun). Hingga kini, walaupun ilmu dan teknologi kedokteran sudah
mengalami kemajuan pesat, namun peran dan eksistensi tatamban obat kampung
sebagai sumber alternatif masih tetap berfungsi dalam masyarakat suku DHK
c. Suku Tengger
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu
yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang
berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu,
agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan
ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono.
Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga.
Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger.
Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah
mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.
d. Suku Osing
Masih dipegang teguhnya tradisi dan budaya yang erat kaitannya dengan hal
mistis ini menimbulkan banyak persepsi negatif bagi masyarakat yang hanya
mengetahui sebagian saja dari tradisi Osing, terutama karena sebagian besar tradisi
masyarakat Osing yang memang masih sangat dekat dengan budaya sebelum islam.
Masyarakat Using dikenal dengan masyarakat yang kaya akan kebudayaan.
Kebudayaan yang mereka ciptakan ini masih dijaga dengan baik dan masih
dilestarikan, namun ada beberapa yang hampir punah. Kesenian pada masyarakat Using
merupakan produk adat yang mempunyai relasi dengan nilai religi dan pada pola mata
pencaharian di bidang pertanian. Kesenian bagi masyarakat Using merupakan jiwa bagi
masyarakat Using dan masih menjaga adat serta pemahaman mereka terhadap
pentingnya kesenian sebagai ungkapan rasa syukur kepada para petani telah
menjadikan kesenian Using masih dijaga hinga sekarang.
Masyarakat Using saat ini sebagian besar adalah pemeluk agama Islam, yang
memiliki latar belakang agama Hindu yang cukup kuat, yaitu pada masa Kerajaan
Hindu Ciwa. Oleh karena itu, maka tradisi-tradisi yang mengandung nilai-nilai Hindu
tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, bahkan ajaran Islam berjalan beriringan dengan
adat-istiadat yang ada.
B. Gambaran Praktek Budaya Pelayanan Kesehatan/Fase Kehidupan
Keperawatan saat ini tengah mengalami masa transisi panjang yang tampaknya
belum akan segera berakhir. Keperawatan yang awalnya merupakan vokasi dan sangat
didasari oleh mother instinct naluri keibuan, mengalami perubahan atau pergeseran
yang sangat mendasar atas konsep dan proses, menuju keperawatan sebagai profesi.
Perubahan ini terjadi karena tuntutan dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan
pelayanan kesehatan secara umum, perkembangan IPTEK dan perkembangan profesi
keperawatan sendiri.Keperawatan sebagai profesi harus didasari konsep keilmuan yang
jelas, yang menuntun untuk berpikir kritis-logis-analitis, bertindak secara rasionaletis,
serta kematangan untuk bersikap tanggap terhadap kebutuhan dan perkembangan
kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan.
Keperawatan sebagai direct human care harus dapat menjawab mengapa
seseorang membutuhkan keperawatan, domain keperawatan dan keterbatasan lingkup
pengetahuan serta lingkup garapan praktek keperawatan, basis konsep dari teori dan
struktur substantif setiap konsep menyiapkan substansi dari ilmu keperawatan sehingga
dapat menjadi acuan untuk melihat wujud konkrit permasalahan pada situasi kehidupan
manusia dimana perawat atau keperawatan diperlukan keberadaannya.
Secara mendasar, keperawatan sebagai profesi dapat terwujud bila para
profesionalnya dalam lingkup karyanya senantiasa berpikir analitis, kritis dan logis
terhadap fenomena yang dihadapinya, bertindak secara rasional-etis, serta bersikap
tanggap atau peka terhadap kebutuhan klien sebagai pengguna jasanya. Sehingga perlu
dikaitkan atau dipahami dengan filsafat untuk mencari kebenaran tentang ilmu
keperawatan guna memajukan ilmu keperawatan.Pengaplikasian Agama dalam
pelayanan keperawatan sangatlah penting dimana dalam memberiakan pelayanan
keperawatan yang dapat memberikan hasil yang maksimal.
1. Analisis Perawatan Persalinan Dan Nifas Dalam Perspektif Ibu Di Suku Rejang
Di Wilayah Kerja Puskemas Semelako, Kecamatan Lebong Tengah,
Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu
Peristiwa persalinan dan nifas merupakan suatu fenomena yang normal
serta wajar terjadi dalam kehidupan manusia, namun setiap individu memiliki aneka
persepsi dengan berbagai implikasinya terhadap kesehatan. Ibu, dan dukun
memandang peristiwa persalinan dan nifas sebagai proses terjadinya berbagai
perubahan pada diri ibu, baik itu perubahan fisik, psikologis dan sosial. Sedangkan,
Tenaga kesehatan hanya memandang peristiwa ini sebagai suatu bentuk perubahan
fisik pada ibu yang diwujudkan dalam tanda-tanda khas menjelang persalinan.
Kepala desa atau Patai serta kerabat terdekat ibu hanya memandang peristiwa
persalinan sebagai suatu bentuk perubahan peran bagi ibu.
Masyarakat Suku Rejang merupakan masyarakat yang masih kental
melaksanakan praktik budaya, khususnya pada saat persalinan dan nifas.
Pelaksanaan adat merupakan campuran antara budaya setempat dengan ajaran
agama islam. Mereka mempercayai sistem pengobatan modern, namun cara
tradisional masih ada yang tetap dipertahankan, seperti penggunaan jimat atau
ramuan tertentu yang dipercaya dapat memperlancar proses persalinan. Seperti
umumnya kebiasaan atau budaya di daerah lain, kebiasaan atau adat dalam
kehidupan bermasyarakat Suku Rejang di wilayah kerja Puskesmas Semelako sudah
banyak yang mulai ditinggalkan karena pengaruh perkembangan zaman.
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi ibu dalam memilih
penolong persalinan dan tempat persalinan, misalnya: faktor kepercayaan,
kekerabatan, ekonomi, persepsi ibu, ketidakpuasan karena kondisi pelayanan
kesehatan yang tidak sesuai dengan harapan ibu, pengambilan keputusan oleh
keluarga dan lain-lain. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan ibu enggan melalui
proses persalinan di puskesmas maupun pusat pelayanan kesehatan lainnya
walaupun pelayanan kesehatan tersebut ada yang diberikan secara gratis. Dukungan
sosial yang berasal dari tenaga kesehatan, dukun, keluarga serta kerabat dekat
lainnya yang selalu siap membantu ibu bersalin dan nifas, akan membuat ibu merasa
aman dan nyaman dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi.
2. Analisis Praktik Budaya dalam Kehamilan, Persalinan dan Nifas pada Suku
Dayak Sanggau, Tahun 2006
Kepercayaan masyarakat Suku Dayak Sanggau pada saat hamil meliputi
pantangan dan anjuran. Pantangan yang dilakukan masyarakat yang berhubungan
dengan ibu hamil meliputi pantang makan dan pantang perbuatan. Pantangan makan
pada saat hamil menurut masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak terlalu banyak
mereka hanya melarang ibu hamil untuk tidak makan daging binatang yang hidup
didalam lobang seperti trenggiling, daging ular dan daging labi-labi (sejenis kura-
kura) dengan alasan takut kalau melahirkan akan susah keluar (persalinan macet).
Keyakinan tersebut didapat secara turun temurun dan harus ditaati agar tidak terkena
badi (kualat atau dampak melanggar pantang).
Persepsi masyarakat terhadap kehamilan, persalinanmdan nifas adalah
pandangan masyarakat terhadap bahaya kehamilan, bersalin dan nifas juga
pandangan terhadapmkejadian kematian ibu. Masyarakat Suku Dayak Sanggau
mempunyai pandangan tersendiri terhadap bahaya kehamilan, persalinan dan nifas.
Menurut sebagian besar informan saat yang berbahaya adalah saat melahirkan
karena pada saat itu ibu bisa mengalami perdarahan, persalinan macet, sedangkan
pada saat hamil dan nifas tidak berbahaya karena hamil dan nifas bersifat alami.
Tetapi ada sebagian kecil informan yang mengatakan bahwa hamil, bersalin dan
nifas berbahaya. Menurut mereka pada saat hamil jika ibu tidak sehat nantinya susah
melahirkan, sedangkan pada saat melahirkan bahaya jika terjadi perdarahan, partus
macet. Pada masa nifas berbahaya karena badan lemah, demam. Sedangkan persepsi
mereka tentang penyebab kematian ibu bervariasi dari segi medis dan dari segi non
medis. Dari segi medis mereka beranggapan kematian ibu disebabkan oleh
perdarahan, sakit, sedangkan dari segi non medis mereka menganggap penyebabnya
karena hantu.
Pada penelitian ini praktek budaya terhadap kehamilan, persalinan, dan
nifas dapat di bagi menjadi praktek budaya yang mendukung dan membahayakan.
Praktek budaya tersebut didapat dari pengetahuan, kepercayaan persepsi dan
tindakan yang dilakukan oleh bidan kampung pada masyarakat Suku Dayak
Sanggau. Paktek budaya yang membahayakan kehamilan adalah adanya anjuran
selama hamil ibu harus tetap beraktifitas rutin. Masyarakat Suku Dayak Sanggau
sebagian besar bekerja sebagai petani dengan ibu rumah tangga melakukan
pekerjaan tersebut mendampingi suami. Porsi pekerjaan wanita di ladang lebih berat
daripada pria. Pada saat hamil, hal tersebut tetap dilakuakn sehingga memperbesar
resiko aborsi pada trimester pertama dan lahir prematur pada trimester keempat.
Padahal mereka seharusnya tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Teknik
mengangkat peranakan yang dilakukan minimal tiga kali selama masa kehamilan
olah bidan kampung dapat membahayakan bagi keselamatan ibu dan janinnya.
Tindakan tersebut dapat menyebabkan robeknya kandungan (ruptur uteri) dan
kematian janin.
Pada masa persalian, banyak praktek budaya yang membahayakan
kesehatan ibu dan bayinya. Penolong persalian yang dipilih adalah bidan kampung
karena selalu ada jika dibutuhkan. Pertolongan persalinan oleh bidan kampung tentu
akan berisiko kematian ibu tinggi. Meskipun terlatih, pertolongan dukun kampung
terbukti tidak menurunkan tingkat kematian ibu. Tindakan mengetahui letak
terendah bayi (presentasi) dengan memasukkan tangan kedalam rongga vagina tanpa
menggunakan sarung tangan. Sebelum melakukan tindakan tersebut bidan kampung
mencuci tangan dengan air yang dicampur daun sirsak. Tindak tersebut dapat
meningkatkan resiko infeksi pada ibu dan janin. Persalinan yang dilakukan di dapur
tidak memenuhi azas bersih alat, bersih tempat, ini akan memperbesar resiko
terjadinya infeksi, terutama infeksi nifas.Untuk mempermudah proses persalinan
bidan kampung melakukan dorongan(nyurung) pada perut ibu (pundus uteri).
Tindakan tersebut sangat berbahaya karena dapat menyebabkan sobeknya rahim
(ruptur uteri). Tindakan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan kelengkapan
pembukaan kandungan. Tindakan tersebut dilakukan berulang-ulang sampai bayi
lahir. Bidan kampung tidak segera merujuk persalinan lama rumah sakit atau
puskesmas. Biasanya mereka berusaha untuk mencari penyebab hambatan tersebut
melalui teknik perdukunan (belian). Upaya tersebut dapat memperlambat rujukan
sehingga membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
3. Analisis Sistem Medis Tradisional Suku Dayak Dalam Kepercayaan Hindu
Kaharingan Di Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah
Suku Dayak dalam kepercayaan Hindu Kaharingan, untuk selanjutnya
disebut suku DHK sebagai salah satu suku bangsa yang tersebar di Indonesia, secara
turun-temurun telah mengembangkan sistem kesehatan atau pengobatan secara
tradisional yang populer disebut obat kampung dan praktisi medisnya disebut
dengan tabit atau lasang, (dukun). Hingga kini, walaupun ilmu dan teknologi
kedokteran sudah mengalami kemajuan pesat, namun peran dan eksistensi tatamban
obat kampung sebagai sumber alternatif masih tetap berfungsi dalam masyarakat
suku DHK.
Koentjaraningrat (1987) dijadikan refrensi utama dalam membahas
keyakinan religi, sikap manusia terhadap alam gaib atau hal yang gaib, dan upacara
religi dalam pelaksanaan pengobatan tradisional suku DHK. Hal tersebut tampak
pada kuatnya keyakinan suku DHK dalam melakukan perawatan penyakit melalui
ritual pengobatan, magi dan laku mistik suku DHK.
Pada masyarakat suku DHK, baik yang tinggal di pedesaan maupun di
perkotaan kepercayaan terhadap gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
gabungan faktor naturalistik dan personalistik hingga kini tampak masih sangat
dominan. Masih kuatnya kepercayaan masyarakat suku DHK terhadap etiologi
gangguan kesehatan secara kombinasi antara kuasa naturalistik dan personalistik
menjadi faktor motivasi yang signifikan terhadap penggunaan pengobatan
tradisional sebagai alternatif yang pertama dan utama, di samping menggunakan
pengobatan rumah sakit. Bagi masyarakat suku DHK, oleh karena sakit di pandang
tidak hanya merupakan gejala biologis yang bersifat individual, tetapi di pandang
berkaitan secara holistik dengan alam, manusia dan Tuhan, maka setiap upaya
kesehatan yang dilakukan tidak hanya menggunakan obat sebagai sarana
pengobatan, tetapi juga menggunakan sarana ritual-ritual tertentu, kajian-kajian atau
mantra-mantra yang termuat dalam bahasa Sangiang sebagai bagian dari proses
tersebut. Dengan demikian, menyembuhkan atau menanggulangi suatu penyakit
tertentu umumnya yang ditangani oleh tabit atau lasang, bukan hanya aspek biologis
dari pasien, tetapi juga aspek sosial-budaya dan spiritual (Nila Riwut, 2003: 325).
Hal yang membuat menarik untuk dijadikan bahan kajian adalah pada saat
pemerintah mengampanyekan masalah bidang kesehatan masyarakat, baik itu di
bidang sarana dan prasarana kesehatan modern, namun justru masyarakat suku DHK
tetap mengeksiskan dan mempertahankan sistem medis tradisionalnya.
a. Kosmologi suku DHK
Kondisi sehat dan sakit (barigasdan haban) diyakini oleh suku DHK
karena faktor-faktor alam, manusia dan roh-roh. Sistem keyakinan terhadap sehat
sakit (barigas haban) dalam tradisi suku DHK, tampak dalam sistem kosmologi
Suku DHK yaitu tentang harmonisasi manusia dan alam Suku DHK serta
pelestarian budaya. Kosmologi suku DHK dapat digolongkan menjadi dua
golongan yaitu kosmologi lisan dan tulisan. Kosmologi lisan suku DHK, populer
dalam masyarakat dengan sebutan tetek tatum (cerita dari nenek moyang suku
DHK), lime sarahan dan telu kapataut belum. Sedangkan kosmologi tulisan
adalah dalam bentuk kitab Panaturan. Sistem keyakinan terhadap sehat sakit
(barigas haban) dalam tradisi suku DHK, lebih terfokus pada sebab-sebab
terjadinya suatu penyakit baik yang menyangkut kausal naturalistik maupun
kausal personalistik. Artinya konsepsi yang dimiliki oleh suku DHK bahwa
terjadinya suatu penyakit tidak hanya disebabkan oleh faktor alamiah, tetapi juga
dapat dilakukan oleh orang atau bukan orang. Di samping itu, dapat juga
dilakukan oleh dukun sakti dan tukang sihir dengan jalan memasukkan benda-
benda ke tubuh seseorang sehingga seseorang yang kemasukan benda-benda
tersebut akan mengalami sakit.
Penggolongan etiologi atau penyebab penyakit ke dalam salah satu dari
keduanya akan berpengaruh terhadap upaya penanggulangan yang dilakukan,
berkenaan dengan bagaimana dan kepada siapa mereka harus meminta
pertolongan sekaligus pemberian label terhadap jenis penyakit yang diderita
(Klienman,1980; Helman,1984). Hal tersebut terartikulasikan bahwa penyakit
tidak hanya merupakan gangguan yang bersifat biologis semata, tetapi juga
menyangkut dimensi yang lebih luas, yakni dimensi psikologis dan sosial budaya.
Sehubungan dengan itu, upaya menyembuhkan suatu penyakit tidak cukup hanya
ditangani masalah biologinya, tetapi juga harus ditangani secara holistik,
termasuk masalah psikologinya.
1) Tetek tatum dalam konteks sehat sakit (barigas haban)
Tetek tatum adalah cerita tentang para dewa dan dewi (raja dan
kameluh) dari tetua suku Dayak kepada masyarakat (orang tua kepada
anaknya) yang berlangsung secara regenerasi. Dari pandangan tersebut,
diungkapkan bahwa keyakinan sukuDHK terhadap para dewa (raja) ini
dituangkan dalam bentuk simbol, yang disebut dengan batang garing.
Pemberian simbol tersebut merupakan hasil konvensi atau kesepakatan
masyarakat suku DHK sesuai dengan makna yang terkandung dalam simbol
batang garing. Batang garing merupakan simbol alam para dewa (raja) yang
berkuasa atas ketiga lapisan alam tersebut.Batang garing diyakini merupakan
awal terjadinya ciptaan di dunia oleh para dewa-dewa.
2) Lime Sarahan dalam Konteks Sehat Sakit (Barigas Haban)
Selain mengenal keyakinan terhadap alam para dewa,masyarakat
suku DHK juga memiliki amalan yang menjadi keyakinan (lime sarahan)
dalam aktivitas keberagamaannya. Artinya orang suku DHK meyakini unsur
tanah memberikan sumber kehidupan bagi makhluk hidup di dunia karena
makanan muncul dari tanah. Nyalung kapanduyan, unsur air juga merupakan
sumber kehidupan bagi makhluk di dunia. Talata kapadudukan atau unsur
energi (api) lingkungan merupakan tempat aktivitas kerja sehari-hari
(menjalankan kewajiban). Unsur kehidupan yang ada pada ajaran keyakinan
lime sarahan tersebut memiliki unsur yang sama dengan unsur kehidupan
dalam ajaran agama Hindu, yaitu panca maha bhuta yang terdiri atas sapah
(zat padat), teja (air), bayu (energi, api), akasa (angin)
3) Telu Kapatut Belum dalam Konteks Sehat Sakit (barigas haban)
Pandangan suku DHK terhadap hubungan manusia dengan Tuhan,
hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan
alam terwujud dalam ajaran telu kapatut belum. Tiga relasi tersebut benar-
benar harus dijaga keharmonisannya sebagai berikut. Pertama, hubungan
manusia dengan Ranying Hatalla (Tuhan). Penyang Ije Kasimpei, Penyang
Ranying Hatalla Langit, artinya beriman kepada Yang Tunggal yaitu
Ranying Hatalla Langit. Kedua, hubungan manusia dengan manusia lainnya,
baik secara kelompok maupun individu. Hatamuei Lingu Nalata. Artinya,
saling mengenal, tukar pengalaman dan pikiran, serta saling menolong.
Hatindih Kambang Nyahun Tarung, Mantang Lawang Langit. Artinya,
berlomba-lomba menjadi manusia baik agar diberkati oleh Tuhan di langit,
serta bisa memandang dan menghayati kebesaran Tuhan.
4) Kitab Panaturan dalam Konteks Sehat Sakit (Barigas Haban)
Ajaran yang termuat dalam teks-teks Panaturan merupakan cerita
alam semesta beserta isinya termasuk ilmu pengetahuan yang menjadi
keyakinan masyarakat suku DHK. Suku DHK percaya bahwa manusia sama
dengan asal mula alam raya, yaitu manusia diciptakan oleh Tuhan lalu
diturunkan ke bumi (danum kalunen).Manusia yang berasal dari langit di atas
turun dalam wujud tiga bersaudara. Akan tetapi, dua saudaranya kembali ke
alam para dewa, sedangkan yang satu hidup di Danum Kalunen (bumi),
sebagaimana layaknya kehidupan manusia. Tiga saudara tersebut bernama
Raja Sangen, Raja Sangiang,dan Raja Bunu. Raja Sangen,dan Raja
Sangiang,kembali ke alam para dewa, sedangkan Raja Bunu tetap berada di
dunia. Raja Bunu diyakini sebagai leluhur manusia suku DHK di dunia.

b. Bentuk Perawatan Penyakit Dalam Sistem Medis Tradisional Suku DHK


Kepercayaan masyarakat suku DHK terhadap dukun (tabit) dan
pengobatan tradisional (tatamban obat kampung) masih cukup kuat sekalipun
pelayanan kesehatan modern telah tersebar merata dan mudah dijangkau oleh
masyarakatnya. Jenis-jenis penyakit tertentu diduga disebabkan oleh faktor medis
atau nonmedis (supranatural), seperti patah tulang, luka, gangguan jiwa, penyakit
yang tak kunjung sembuh, dan yang lainnya.
Terkait dengan hal itu, pengobatan tradisional suku DHK justru sering
menjadi pilhan pertama sebelum pasien dibawa ke rumah sakit atau ke dokter.
Jadi secara keseluruhan bentuk perawatan penyakit yang dilakukan dukun (tabit)
suku DHK tersebut, tampak beragam akan tetapi mengerucut pada dua tindakan,
yaitu pengobatan tradisional yang erat kaitannya dengan tindakan etiologi
penyakit yang bersifat personalistik dan tindakan beomedis (rumah sakit).
Perawatan penyakit dalam pengobatan tradisional suku DHK dilakukan dukun
(tabit) dengan menentukan diagnosis sampai pengambilan tindakan pengobatan.
Menegakkan diagnosis dalam perawatan penyakit oleh para dukun (tabit) sangat
mempengaruhi keberhasilan penyembuhan pasien sakit. Sejalan dengan hal
tersebut, Utama, (2003: 32) menyatakan sebagai berikut.
Diagnosis atau prognosis sangat penting dalam dunia kedokteran
tradisional dan modern. Karena dengan hal tersebut, akan lebih memudahkan bagi
para penyembuh dalam mengambil tindakan medis. Seorang dukun (tabit atau
vaidhya) dalam pengobaatan tradisional dengan berdasarkan diagnosis yang
ditegakkannya mengetahui bahwa prognosis penyakit tersebut adalah buruk.
Artinya, penyakit yang diderita pasien sakit tidak dapat disembuhkan atau segera
akan meninggal sehingga pengobatan tidak akan dilanjutkan.
Pernyataan tersebut, menunjukkan bahwa seorang dukun (tabit) sangat
penting mengetahui prakiraan jalannya suatu penyakit yang akan datang atau
prognosis penyakit. Karena penyakit yang diderita manusia terkadang dapat
disembuhkan dan terkadang pula tidak dapat disembuhkan.Dalam Ayurveda,
selain pemeriksaan dapat pula dipergunakan mimpi (svapa) dan pertanda lainnya
yang dirasakan oleh pasien sakit. Mimpi pada dunia modern kurang mendapat
perhatian, tetapi bagi Ayurveda ikut memegang peranan dalam menentukan
kesehatan seseorang. Informasi yang diperoleh dari pemeriksaan masalah mimpi
merupakan tambahan yang bermanfaat bagi para dukun (tabit atau vaidhya) dan
juga dokter Ayurveda untuk menetapkan penyakit apa yang diderita seorang
pasien sakit dan bagaimana perjalanan penyakitnya. Dengan mengetahui
prognosis penyakit pasien seorang dukun (tabit) akan lebih mudah untuk
mengambil tindakan dan memberikan terapinya (Utama, 2003: 39).
Suku DHK meyakini bahwa mimpi merupakan realitas yang bermakna
bagi kehidupannya. Seperti halnya pernyataan Dikae sebagai berikut. Apabila
seseorang mengalami mimpi buruk, begitu tersadar dari mimpi buruk itu, ujung
rambut dipotong lalu dikuburkan atau diletakan di atas tanah. Artinya, seseorang
yang bermimpi buruk akan terhindar dari mara bahaya, apabila telah memotong
ujung rambutnya. Kami suku DHK sangat meyakini arti dari mimpi. Menurut
kami mimpi buruk tersebut adalah mimpi darah tercecer memiliki makna
pertarungan atau pertengkaran, mimpi terjatuh memiliki makna dipermalukan,
mimpi dikejar ular memiliki makna akan diintai musuh atau dicelakai musuh
(lawan politik) dan juga mimpi-mimpi buruk yang lainnya
Pengetahuan tentang penyakit yang diderita pasien sakit sangat penting
bagi para dukun (tabit) suku DHK terutama dalam menentukan obat yang
dipergunakan untuk menanggulangi gangguan penyakit pasien. Hal tersebut,
sejalan dengan pandangan Gunadha, (2003: 51) menyatakan bahwa. Terdapat
banyak ragam obat yang dapat dipergunakan oleh para dukun (tabit) dalam
melakukan perawatan penyakit sehingga pasien sakit dapat diobati, disembuhkan,
dan ditingkatkan derajat kesehatan tubuhnya. Bentuk obat beragam jenisnya, hal
tersebut, bertujuan untuk memudahkan dalam memberikan terapi atau
pengobatan.
Berdasarkan hal tersebut, bentuk perawatan penyakit suku DHK di
Kota Palangkaraya, sesuai dengan iklimnya yang tergolong panas para dukun
(tabit) menegakkan obat kepada pasien sakit menyesuaikan dengan keadaan,
situasi, dan adat kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun dari nenek
moyangnya. Bentuk perawatan penyakit yang telah dilakukan oleh masyarakat
suku DHK menurut Persons adalah sebagai berikut. Persons mengungkapkan
bahwa sistem jaringan dari bagian pengobatan tradisional suku DHK yang
berbeda-beda untuk menjelaskan bagian dari struktur pengobatan
tersebut.Pengobatan tradisional suku DHK tampak berstruktur apabila dilihat dari
penanggulangan penyakit yang dilakukan masyarakat dan juga dukun (tabit) suku
DHK. Misalnya, mengalami gangguan kesehatan seperti panas dingin,
batukbatuk, dan sakit kepala.
Pengobatan awal dilakukan dengan mempergunakan air tawar seribu.
Apabila tidak sembuh maka penderita sakit akan dimungul (pengambilan
penyakit dengan sarana minyak dan batu). Pengobatan dengan mungul digunakan
sarana minyak pisik (minyak pancing), minyak pisik diurapkan ditangan tabit
setelah itu baru diusapkan pada badan pasien sakit. Tujuan pengobatan mungul
adalah sebagai penetralisir penyakit atau membunuh penyakit yang di derita
pasien sakit. Pengobatan yang telah dilakukan tersebut juga tidak mendatangkan
kesembuhan maka barulah pasien sakit dirujuk ke rumah sakit. Apabila dengan
pengobatan rumah sakit juga mengalami hal yang sama, maka dilakukan
pengobatan terakhir dengan balian sangiang atau tenung. Dalam proses
pengobatan apabila salah cara menegakkan diagnosis dan mengobati atau
memberikan obat dapat menyebabkan penyakit semakin parah. Sebaliknya,
apabila diagnosis ditegakkan secara tepat dan obat yang diberikan juga tepat,
maka penyakit itu akan menjadi cepat sembuh atau pasien menjadi sehat
(barigas).
Ketepatan diagnosis merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan.
Artinya, kesalahan diagnosis dapat berakibat pada ketidaktepatan dalam
pemberian obat. Selajutnya bisa memperparah kondisi pasien, bahkan sangat
berbahaya bagi keselamatan jiwa pasien.Oleh karena itu, demi keselamatan
pasien, para praktisi kesehatan (baik dokter, peramedis, maupun dukun atau tabit)
secara etik dituntut agar dapat menegakkan diagnosis secara tepat, bekerja secara
profesional, dan mengutamakan keselamatan pasien berdasrakan kode etik
profesinya masing-masing.

c. Perawatan Penyakit Fisik (PanyakitLaut)


Perawatan penyakit fisik (panyakit laut) yang dilakukan oleh suku
DHK telah berlangsung sejak nenek moyangnya. Tradisi pengobatan suku DHK
hampir sama dengan yang dilakukan oleh suku-suku lain di Indonesia. Namun,
tradisi perawatan penyakit fisik (panyakit laut) oleh suku DHK memiliki
perbedaan dalam hal cara dan pengobatannya. Dalam perawatan penyakit fisik
(panyakit laut) suku DHK menggunakan tumbuhan obat. Selain itu, juga
menggunakan minyakminyak gaib yang terbukti ampuh dalam menyembuhkan
suatu penyakit. Perawatan penyakit yang dilakukan meliputi sakit fisik (haban
laut) atau adanya kerusakan fungsi organ tubuh akibat kelalaian atau kesialan
sehingga menimbulkan sakit (pehek / luka) pada fungsi organ tubuh, baik
menyangkut organ dalam tubuh maupun di luar tubuh manusia. Khusus sakit
karena luka (pehek), seperti patah tulang, luka memar, atau luka bakar bisa
disembuhkan dengan ramuan minyak.
Masyarakat suku DHK memiliki kebiasaan pengobatan secara
tradisional sejak nenek moyangnya hingga sekarang ini. Apabilamengalami sakit
(haban), baik karena kelalaiannya sehingga mengalami luka (pehek) maupun
penyakitpenyakit dalam dan kronis tidak kunjung sembuh, dilakukan pengobatan
dengan menggunakan minyak-minyak dan tumbuhan obat. Dalam pengobatan
melalui sarana minyak tersebut yang dimaksud,misalnya minyak bintang, minyak
jelawat, minyak kuyang, dan yang lainnya. Di pihak lain pengobatan dengan
tumbuhan obat digunakan, baik akar, batang,maupun daundaun tumbuhan yang
ada di hutan Kalimantan. Tumbuhan obat tersebut diutarakan lebih terperinci
berdasarkan hasil-hasil penelitian, baik yang dilakukan di Kalimantan maupun di
luar Kalimantan. Akan tetapi, tumbuhan tersebut ada dan tumbuh di hutan
Kalimantan.
d. Perawatan Penyakit Non Fisik (Panyakit Ngaju)
Perawatan penyakit nonfisik (panyakit ngaju) dalam sistem medis
tradisional suku DHK terfokus pada pengobatan melalui magi dan religi atau
kausal personalistik. Artinya, bentuk perawatan penyakit dilakukan dengan cara
ritual atau melakukan persembahan berupa hewan kurban dan saji-sajian. Hal ini
dimaksudkan untuk bisa berdamai dengan makhluk-makhluk yang bertanggung
jawab atas munculnya penyakit tersebut. Ritual pengobatan suku DHK tampak
beragam dan diyakini masyarakatnya mampu menanggulangi gangguan penyakit
nonfisik (panyakitngaju). Ritual pengobatan tersebut merupakan tradisi
pengobatan yang telah diwariskan dari leluhur nenek moyang suku DHK. Hal itu
sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat (1987:58).
Pendekatannya berorientasi kepada keyakinan religi, sikap manusia
terhadap alam gaib atau hal yang gaib, dan upacara religi.Berdasarkan keyakinan
yang kuat terhadap roh-roh leluhur, dengan perantara dukun (tabit) sebagai
mediator, hingga saat ini suku Dayak (uluh Dayak) masih melaksanakan ritual
pengobatan apabila penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh.Ritual
pengobatan tersebut antara lain sebagai berikut.
Pertama, ritual sangiang. Ritual sangiang merupakan ritual pengobatan
terhadap berbagai macam penyakit melalui bantuan roh leluhur (sahur parapah)
dengan bantuan lasang sebagai mediator. Ritual tersebut dilaksanakan oleh
masyarakat suku Dayak (uluh Dayak) khususnya yang beragama Hindu
Kaharingan. Tradisi ritual pengobatan manyangiang sampai saat ini diyakini
mampu memberikan kesembuhan dari berbagai macam penyakit dengan bantuan
roh leluhur. Nila, (2003:495-496) mengungkapkan bahwa sangiang dalam
kepercayaan suku DHK dikenal sebagai salah satu saudara Raja Bunu (manusia
pertama) yang mendiami pantaisangiang yang menjadi perantara komunikasi
manusia dengan Ranying Hatalla Langit /Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu,
proses komunikasi menggunakan media manusia terpilih yang dikenal dengan ba-
sangiang.Ritual sangiang tersebut merupakan permohonan kesembuhan kepada
saur parapah (roh leluhur). Dalam hal ini roh leluhur diyakini mampu
memberikan kesembuhan terhadap berbagai macam penyakit baik secara
naturalistik maupun personalistik, yang pengobatannya melalui mediator lasang
sangiang.
Kedua, ritual menenung. Secara umum manenung merupakan ritual
untuk mencari atau meramal sesuatu yang tidak bisa diketahui manusia secara
akal sehat, tetapi akhirnya dapat ditemukan atau diketahui. Menenung berusaha
untuk mencari atau mendapatkan petunjuk dari dewa atau leluhur oleh manusia
yang tidak dapat ditemukan dengan berbagai cara. Tujuannnya adalah agar dapat
diselesaikan atau ditemukan sumbernya dan selanjutnya dilaksanakan ritual
sesuai dengan petunjuknya. Manenung adalah memberitahukan dan
menggunakan malaikat Tuhan yang disebut dengan putir santang bawi sintung
uju, bertempat tinggal di lewu tasik baragantung langit (rahan dare) (khayangan)
untuk hadir di rumah tempat melaksanakan ritual manenung berlangsung.

e. Fisioterapi suku DHK


Sistem medis tradisonal suku DHK juga mengupayakan dengan metode
dan cara-cara yang telah dilakukan sejak nenek moyangnya agar fisik manusia
dapat selalu berfungsi dengan baik. Apabila terjadi gangguan terhadap fungsi
tersebut, maka praktisi-praktisi medis tradisional suku DHK dapat melakukan
pengobatan dan hal ini masih diyakini oleh masyarakat pendukungnya bahwa
gangguan fungsi fisik tersebut akan dapat normal kembali. Sistem medis
tradisional suku DHK berupaya menyembuhkan suatu gangguan penyakit dengan
tanaman obat dan ramuan minyak.
Di samping itu, juga memiliki kemampuan dalam meramu bahan obat
untuk mencegah penyakit yang menghambat keberlangsungan fungsi organ
manusia. Fisioterapi dalam sistem medis suku DHK adalah sebagai berikut.
Pertama, fisioterapi dengan ritual mandi kembang. Fisioterapi mandi kembang
merupakan suatu proses ritual pengobatan untuk menghilangkan penyakit pada
penderita gangguan penyakit, seperti kepohonan, gangguan roh halus,
menghilangkan mata luka, gangguan ilmu hitam (black magic). Kepohonan, yaitu
berupa kesialan yang mengakibatkan seseorang celaka dan menderita sehingga
berujung pada kematian. Begitu juga gangguan roh halus bisa membuat seseorang
mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga menjadikan seseorang kerasukan
(trend). Selain itu, juga ada yang sampai stres atau menjadi gila.
Gangguan roh halus juga bisa terjadi karena kepohonan. Kedua,
fisioterapi dengan tumbuhan obat. Tumbuhan obat yang sudah dikenal secara
luas, baik dalam masyarakat suku DHK maupun di luar masyarakatnya, ada
beberapa tumbuhan obat masuk dalam industri perdagangan yang bertaraf
international. Seperti halnya tumbuhan dengkek dan tepadu.Tumbuhan tersebut
merupakan jenis tumbuhan obat yang batangnya mengandung banyak air, tetapi
tanaman ini memiliki warna yang berbeda.
Warna batang tumbuhan dengkekadalah tampak kuning, sedangkan
warna batang tumbuhan tepaduadalah tampak merah. Air tumbuhan tepaduini
tidak hanya sematamata menghilangkan dahaga, tetapi warga masyarakat suku
Dayak (uluh Dayak) telah menjadikan air, akar, dan batang tanaman tersebut
untuk bahan pengobatan tradisional. Air tepadu batang merah dapat digunakan
untuk menyem buhkan demam. Selain itu, tanaman ini dipercaya juga untuk
menangkal demam pada anak yang sakit karena gangguan makhluk halus.
Di pihak lain tumbuhan dengkek, batang dan akarnya berwarna kuning
dipercaya ampuh untuk menyembuhkan penyakit hepatitis atau sakit kuning.
Selain menggunakan air yang menetes dari batangnya, batang pohon tersebut juga
bisa dimanfaatkan dengan cara direbus, lalu diminum air hasil rebusannya.
Sedangkan tumbuhan bawang dayak digunakan sebagai obat kanker dengan cara
mengeringkan umbi dan mengunyahnya.
Di pihak lain paduan bawang dayak dan jahe merah, berkhasiat untuk
meningkatkan stamina/vitalitas, memperkuat daya tahan sperma, mengobati sakit
pinggang, melancarkan air seni, serta mengatasi bronchitis dan batuk. Apabila
dicampur dengan sadaguri dan kencur, khasiat bawang dayak ini bisa mengobati
radang usus, maag, sembelit, hepatitis, dan limpa. Bawang dayak ini jika diramu
dengan jati belanda dan temu giring berkhasiat untuk menurunkan berat badan
atau melangsingkan badan (obesitas) dan menurunkan kadar lemak. Untuk kaum
perempuan, bawang ini juga bisa bermanfaat sebagai sari rapet jika dicampur
dengan cabai jawa.
Di samping itu berkhasiat mengatasi gangguan nifas, membersihkan
rahim, merapatkan vagina, mengencangkan perut dan mengurangi lemak.
Demikian halnya dengan tumbuhan obat Saluang Belum. Akar saluang belum
bagi masyarakat khususnya suku Dayak Kalimantan Tengah, bermanfaat bagi
vitalitas kaum laki-laki, saluang belum juga dipercaya mampu meningkatkan
gairah seksual serta meningkatkan kesuburan pria. Tumbuhan tersebut memiliki
kesamaan dengan tumbuhan pasak bumi. Khasiat pasak bumi telah terbukti dan
dirasakan sejak dulu sampai sekarang ini.
Pasak bumi mengandung ekstrak yang disebut dengan ethanolic yang
berperan sangat besar dalam menambah jumlah hormon testosteron pada pria.
Tanaman pasak bumi juga mengandung strichnin dan brusin yang sangat
berkhasiat untuk menambah vitalitas pria karena memiliki sifat afrodisiak. Daun
pasak bumi yang masih muda bisa dimanfaatkan untuk mengobati sakit perut.
Kulitakar pasak bumi sangat ampuh untuk mengobati demam, penyembuh luka di
gusi atau gangguan cacing, dan tonikum pascamelahirkan.
Kulit batang pasak bumi banyak dimanfaatkan untuk koagulan
pascaseorang ibu melahirkan. Selain itu, bisa juga digunakan untuk mengobati
nyeri pada tulang, Bagian bunga dan buah pasak bumi bisa digunakan untuk
mengobati penyakit disentri. Ketiga, fisioterapi dengan menggunakan ramuan
minyak. Fisioterapi dengan ramuan minyak biasanya digunakan untuk
penyembuhan penyakit fisik akibat luka atau patah tulang biasanya dengan
menggunakan minyak bintang. Minyak bintang merupakan ramuan minyak yang
tidak ada duanya. Pengobatan dengan minyak ini tentunya memiliki magis
tersendiri, seperti halnya dengan kesaksian seorang ibu yang terkena luka bakar
50 % (separoh badan) hangus terbakar karena kelaliannya sendiri.
Kesimpulan : Sistem kepercayaan sehat sakit dalam tradisi suku DHK
yaitu: keadaan sehat apabila kondisi pisik, psikis dan mental dalam keadaan
seimbang begitu juga sebaliknya dengan keadaan sakit pabila kondisi pisik, psikis
dan mentalnya terjadi ketidak seimbangan. Kondisi sehat dan sakit diyakini oleh
suku DHK karena faktor-faktor alam, manusia dan roh-roh. Fenomena tersebut
apabila dikaitkan dengan pandangan Foster dan Anderson disebut dengan faktor
naturalistik dan personalistik.Selain sistem keyakitan terhadap sehat sakit, pada
aspek yang lebih luas sistem medis tradisional suku DHK memiliki bentuk
perawatan penyakit yang tampak cukup beragam akan tetapi mengerucut pada
dua tindakan yaitu pengobatan alternatif dan pengobatan beomedis (rumah sakit).
Dalam pengobatan alternatif meliputi pengobatan melalui tabit-tabit (dukun).
Pengobatan alternatif tersebut erat kaitannya dengan persepsi orang suku DHK
terhadap etiologi yang bersifat personalistik.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Agama merupakan suatu keyakinan akan keberadaan Tuhan yang menjadikan
sumber ketentraman dan semangat hidup serta kepadaNya jugalah kita akan kembali.
Agama Hindu dengan kitab suci Weda sebagai pegangan dan dasar hidup serta
kehidupannya meyakini bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang Maha Suci telah
menurunkan ajaran Weda melalui Para Maha Rsi, dan mengajarkannya kepada umat
manusia melalui berbagai cara dan menyesuaikannya dengan tempat, waktu serta
keadaan yang berlaku pada masa itu.
Dalam ajaran Hindu, agama dan budaya (adat-istiadat) yang berlaku pada
suatu daerah terjalin hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Sepanjang prinsip
ajaran Hindu itu tidak berobah dan bertentangan, maka budaya agama yang berkembang
dapat dipergunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran suci Weda kepada umat
manusia.
Dalam pandangan Hindu, budaya daerah yang nilainya positif, yang
mendukung kearah terciptanya ketentraman dan kedamaian didalam hidup akan
dirangkul dan bukan dianggap sebagai suatu ancaman atau musuh yang harus
dimusnahkan dan dicurigai. Dengan dimikan agama dan budaya (adat-istiadat) dapat
hidup saling berdampingan, saling mengisi seperti apa yang diharapkan dan
diprogramkan oleh pemerintah untuk tetap utuh dan bersatunya bangsa dalam wadah
Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

B. Saran
Kami para penulis dapat berharap kepada para pembaca, setelah membaca
makalah ini. Para pembaca dapat mengaplikasikanya nanti. dapat mengetahui bagaimana
system medis menurut kepercayaan atau agama dan etnis.
DAFTAR PUSTAKA

Ayad Rohaidi, Lokal Genius, Jakarta, 1986


Bujur Sitepu, Cs, Pilar-Pilar Budaya Karo, 1996
DR. I Made Titib, Teologi dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu, Surabaya, 2003
DR. I Made Titib, Weda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan
G. Pudja, SH, MA & Tjokord Rai Sudharta, MA, Manawadharma Sastra (Weda Smerti),
Jakarta, 1995
G. Pudja, SH. MA, Reg Weda, Jakarta, 1985
Anastasia, Murdiyasti dkk. 2013. Eksekutiv Summary:
Kebijakan AkselerasiPengembangan Kawasan wisata Using. Jember: Lembaga
Penelitian Universitas Jember.

Evan Permana, Proposal film documenter seri Kebudayaan Osing dalam program budaya
Tribute to East Java Heritage. Surabaya: Institute Teknologi Sepuluh November.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial.


2002. KehidupanSosial Budaya Komunitas Adat Terpencil, Departemen Sosial
RI.

Saputra, Heru S.P. Dari Lisan ke Tulisan dan Seni Pertunjukan, KajianBandingan:
Resepsi dan Transformasi Mantra Using. Makalah dipresentasikan pada seminar
internasional sastra Bandingan di Fakultas Sastra Universitas Jember, 10
Desember 2004.

Suprapti (ed). 1994.Nilai-nilai Kemasyarakatan pada masyarakat Using Banyuwangi,


(Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jedral Kebudayaan
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan
Nilai-nilai BudayaPusat.

Suprijanto, Iwan. Rumah Tradisional Osing :Konsep dan Bentuk, Dimensi Teknik Arsitektur
Vo. 30, No. 1, Juli 2002.

Sutarto, Ayu (ed). 2008. Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur:


SebuahUpaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember: Biro Mental Spiritual
Pemerintah Provinsi Jawa Timur Bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim-
Jember.

Utomo,Slamet. 2008.Masuknya Islam Ke Ujung TimurJawa, Banyuwangi: Tim Independen

Zainuddin, Shodaqohdkk.1996. Orientasi Nilai Budaya Osing di


KabupatenBanyuwangi. Laporan Penelitian. Jember: Lembaga Penelitian
Universitas Jember.

Edy Suprabowo, 2006. Praktik Budaya dalam Kehamilan, Persalinan dan Nifas pada Suku
Dayak Sanggau. Jurnal : Pendidikan Kesehatan Ilmu Perilaku

Kheli FA, 2008. Perawatan Persalinan Dan Nifas Dalam Perspektif Ibu Di Suku Rejang Di
Wilayah Kerja Puskema Semelako, Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten
Lebong, Provinsi Bengkulu.

Kadek Sukiada. 2015. Sistem Medis Tradisional Suku Dayak Dalam Kepercayaan Hindu
Keharingan di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Vol. XIII: 1-
135