Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI

BAB V
TABLET METODE GRANULASI BASAH

DISUSUN OLEH :
ENI SUCITRA MURTI A1162005

Semester Gasal
AKADEMI FARMASI NUSAPUTERA
SEMARANG
2017
BAB V
TABLET METODE GRANULASI BASAH

I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melakukan formulasi sediaan tablet dengan metode
granulasi basah.
2. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi sediaan tablet.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk
tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu
jenis obatatau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan
dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat
pembasah atau zat lain yang cocok (FI III,1979).
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi.Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan
tablet kempa. Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak
tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk
memperoleh bioavailabilitas penuhdan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi
dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan
kahesi yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat
tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas,
mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak
tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini (FI IV,1995).
Granulasi basah adalah cara pembuatan tablet dengan mencampurkan zat aktif dan
eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat
dengan jumlah yang tepat sehingga diperoleh masa lembab yang dapat digranulasi.
metode ini bisa dilakukan apabila zat aktif tahan lembab dan tahan panas dan
sifat alirannya buruk (Kloe,2010).
Keuntungan granulasi basah :
- memperoleh aliran yang lebih baik
- meningkatkan kompresibilitas
- untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
- mengontrol pelepasan
- mencegah pemisahan komponen selama prose
- meningkatkan distribusi keseragaman kandungan
Kekurangan/kerugian granulasi basah :
- tahap pengerjaan lebih lama
- banyak tahapan validasi yang harus dilakukan
- biaya cukup tinggi
- zat aktif tidak tahan lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan metode ini
(Kloe,2010).
Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme
pengikatan tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut menjadi bentuk sediaan granul
terbagi, kapsul, maupun tablet. Berbagai proses granulasi telah dikembangkan, dari
metode konvensional seperti slugging dan granulasi dengan bahan pengikat musilago
amili hingga pembentukan granul dengan peralatan terkini seperti spray dry dan freeze
dry. Granulasi peleburan atau hot melt granulation merupakan metode pembentukan
dispersi padat berbentuk granulat dengan bahan pengikat yang melebur di atas suhu
kamar. Granulasi peleburan ini dapat digunakan untuk membentuk granul dengan
bahan pengikat hidrofob seperti lemak dan wax dengan tujuan penyalutan dan/ atau
pembentukan matriks sediaan pelepasan dimodifikasi (modified release drug).
Keunggulan dari granulasi peleburan ini adalah : tidak membutuhkan bahan pelarut,
tidak memerlukan proses pengeringan, dan prosesnya berlangsung cepat serta bersih
(Kloe,2010).

Pemeriksaan kualitas granul


Bahan obat sebelum ditablet, pada umumnya dicampur terlebih dahulu, bentuk
serbuk yang seragam, menyebabkan keseragaman pada bentuk tablet (Voigt, 1984).
Persyaratan serbuk yang baik adalah bentuk dan warna teratur, memiliki daya alir yang
baik (free flowing), menunjukkan kekompakan mekanis yang memuaskan, tidak
terlampau kering, dan hancur baik di dalam air (Voigt, 1984).
Beberapa uji yang biasa digunakan untuk mengetahui kualitas fisik serbuk antara lain:
1). Waktu alir serbuk
Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi massa tablet adalah
pemeriksaan laju alirnya. Massa tablet dimasukkan sampai penuh ke dalam corong alat
uji waktu alir dan diratakan. Waktu yang diperlukan seluruh massa untuk melalui
corong dan berat massa tersebut dicatat. Laju alir dinyatakan sebagai jumlah gram
massa tablet yang melalui corong perdetik (Lachman et al, 1994).
2). Sudut diam serbuk
Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk
kerucut dengan bidang horizontal. Jika sejumlah granul atau serbuk dituang ke dalam
alat pengukur, besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk ukuran dan
kelembaban serbuk. Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 30 menunjukkan
bahwa serbuk dapat mengalir bebas, bila sudut lebih besar atau sama dengan 40
biasanya daya mengalirnya kurang baik (Lachman et al, 1994).
3). Pengetapan serbuk
Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan/tapping terhadap sejumlah
serbuk dengan menggunakan alat volumeter/mechanical tapping device. Pengetapan
dilakukan dengan mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume
setelah konstan (Vt) (Sulaiman,2007).

Uji Fisik Tablet


1). Keseragaman ukuran tablet
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet
2). Kekerasan
Uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang
diukur dengan memberikan tekanan pada tablet (Sulaiman,2007).
3). Kerapuhan (friability)
Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan permukaan tablet
dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet.
Kerapuhan dapat dievaluasi dengan menggunakan friabilator. Tablet yang akan diuji
sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu dibebas debukan dan ditimbang. Tablet tersebut
selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran (4 menit).
Tablet tersebut selanjutnya ditimbang kembali, dan dihitung prosentase kehilangan bobot
sebelum dan sesudah perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1 %
(Sulaiman, 2007).
4). Keseragaman bobot
Farmakope Indonesia memberi aturan cara uji keseragaman bobot dan batas toleransi
yang masih dapat diterima, yaitu tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman
bobot yang ditetapkan sebagai berikut : timbang 20 tablet satu per satu, hitung bobot rata-
ratanya dan penyimpangan bobot rataratanya. Persyaratan keseragaman bobot terpenuhi
jika tidak lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-
rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak satu pun tablet yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada
kolom B. Apabila tidak mencukupi dari 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satu
tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari bobot rata-rata yang ditetapkan pada
kolom B (Tabel 1) (Sulaiman, 2007)
5). Waktu hancur
Suatu sediaan tablet yang diberikan peroral, agar dapat diabsorbsi maka tablet tersebut
harus terlarut (terdisolusi) atau terdispersi dalam bentuk molekular. Tahap pertama untuk
tablet agar dapat terdisolusi segera adalah tablet harus hancur (Sulaiman, 2007).
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan dalam tiap tube, ditutup dengan
penutup dan dinaik-turunkan ke ranjang tersebut dalam medium air dengan suhu 37oC.
Dalam monografi yang lain disebutkan mediumnya merupakan simulasi larutan gastrik
(gastric fluid). Waktu hancur dihitung berdasarkan tablet yang paling terakhir hancur.
Pernyaratan waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah kurang dari 15 menit, untuk
tablet salut gula dan salut nonenterik kurang dari 30 menit. Sementara untuk tablet salut
enterik tidak boleh hancur dalam waktu 60 menit dalam medium asam, dan harus segera
hancur dalam medium basa (Sulaiman, 2007).

III. FORMULA
A. Formula
Antalgin 500mg
PVP 3%
Avicol 5%
Nipagin 0,1%
Talcum 2%
Mg Stearat 1%
Aquadest qs
Amylum Manihot ad 700mg
B. Pemerian dan kelarutan
Antalgin
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan.
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam metanol, dan tidak larut
dalam Eter.
Khasiat : analgetik dan antipiretik
PVP (Povidanum)
Pemerian : Serbuk putih/ putih kekuningan,berbau lemah
Kelarutan : mudah larut dalam air, etanol 95% dan kloroform
Kegunaan : pengikat
Avicel
Pemerian : Serbuk hablur sangat halus; putih; tidak berbau
Kelarutan : Sedikit larut dalam 5% b/v larutan sodium hidroksi,
praktis tidak larut dalam air, asam encer, dan pelarut organik lainnya.
Kegunaan : Penghancur
Nipagin
Kegunaan : pengawet
Magnesium stearat
Pemerian : serbuk halus,putih,bau khas lemah
Kelarutan : tidak larut dalam air,dalam etanol dan eter
Kegunaan : lubrican
Talcum
Pemerian : serbuk hablur sangat halus, putih, berkilat
Kegunaan : pelicin
Amylum Manihot
Pemerian : Tidak berbau dan berasa, serbuk berwarna putih berupa granul-
granul kecil berbentuk sferik atau oval dengan ukuran dan bentuk yang berbeda
untuk setiap varietas tanaman.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin (95%) dan air dingin.
Amilum mengembang dalam air dengan konsentrasi 5-10 % pada 37
Kegunaan : Glidan; pengisi tablet dan kapsul; penghancur tablet dan kapsul;
pengikat tablet.
III. ALAT DAN BAHAN
ALAT
1. Gelas ukur 10. sudip
2. Mortir dan stamper 11. baskom
3. Pipet tetes 12. oven
4. Timbangan 13. Flowability tester
5. Ayakan no 14 dan 18 14. Tapped density tester (manual)
6. Beker glass 15. Hardness tester
7. Jangka sorong 16. Friability tester
8. Disintegration tester 17. Disollution tester
9. Mesin cetak tablet 18. Loyang

BAHAN
1. Antalgin
2. Pvp
3. Avicel
4. Nipagin
5. Talkum
6. Mg stearat
7. Amylum manihot

IV. PERHITUNGAN BAHAN


berat tablet 700 mg x 150 = 105
Bahan obat Berat teori Berat sebenarnya
Antalgin 500 x 150 = 75 g 75 g
Polivinil alkohol 1g 1,002 g
Avicel 4/ 100 x 105 = 10,5 g 10,506 g
Nipagin 0,1/ 100 x 105 = 0,105 g 0,108 g
Talkum 1/100 x 105 = 1,05 g 1,053 g
Mg stearat 7/100 x 105 = 2, 1 g 2,104 g
Amylum Manihot 16, 245 g 16,246 g
V. PROSEDUR PEMBUATAN

Siapkan alat dan bahan

Timbang semua bahan

Campurkan Antalgin, PVP, avicel, dan nipagin sampai


homogen, lalu tambahkan air secukupnya hingga
terbentuk massa untuk digranul

Ayak adonan dengan ayakan no 12

Timbang granul basah,kemudian masukkan granul


yang terbentuk ke dalam loyang, kemudian simpan
dalam oven 40-60C

Setelah kering, ayak kering dengan ayakan no 14


kemudian timbang lalu uji kecepatan alirnya

Timbang granul seluruhnya

Tambahkan magnesium stearat dan talkum ke dalam


granul kering yang sudah ditimbang, campur
homogen, kemudian cetak menjadi tablet

Lakukan uji fisik terhadap tablet antalgin yang sudah


jadi
VII. HASIL EVALUASI

Sifat fisik granul


1. Uji Organoleptis granul

Bau : tidak berbau


Bentuk : serbuk hablur
Warna : putih
2. Uji kadar air granul

Kadar air granul 2,141 %


3. Uji waktu alir granul

Waktu alir : 11 detik


4. Sudut diam


Tan =

1,9
= = 0,28
14,6,75

Tan = 0,28

= 15,69o < 40
5. Uji pengetapan
Bobot : 42,118 g
BJ Ketuk : Bobot volume/volume setelah pengetukan
: 42,118/85,5
: 0,4926
42,118
BJ Ruah : 100 = 100

: 0,42118 g/ml

Pengetapan : x 100%

0,49260,42118
: x 100%
0,4926

: 14,49%
Sifat fisik tablet
a. Keseragaman bobot
No Bobot penimbangan Bobot penyimpangan
1 0,649 g 0,64350,649
x 100 % = 0,85 %
0,6435

2 0,615 g 0,64350615
x 100 % = 4,42 %
0,6435

3 0,636 g 0,64350,636
x 100 % = 1,16 %
0,6435

4 0,640 g 0,64350,640
x 100 % = 0,54 %
0,6435

5 0,647 g 0,64350,647
x 100 % = 0,54 %
0,6435

6 0,635 g 0,64350,635
x 100 % = 1.32 %
0,6435

7 0,651 g 0,64350,651
x 100 % = 1,16 %
0,6435

8 0,654 g 0,64350,654
x 100 % = 1,63 %
0,6435

9 0,645 g 0,64350,645
x 100 % = 0,23 %
0,6435

10 0,637 g 0,64350637
x 100 % = 1,01 %
0,6435

11 0,656 g 0,64350,656
x 100 % = 1,94 %
0,6435

12 0,666 g 0,64350,666
x 100 % = 3,49 %
0,6435

13 0,621 g 0,64350,621
x 100 % = 3,49 %
0,6435

14 0,633 g 0,64350,633
x 100 % = 1,63 %
0,6435

15 0,634 g 0,64350,634
x 100 % = 1,47 %
0,6435

16 0,649 g 0,64350,649
x 100 % = 0,85 %
0,6435

17 0,657 g 0,64350,657
x 100 % = 2,09 %
0,6435

18 0,648 g 0,64350,648
x 100 % = 0,69 %
0,6435
19 0,642 g 0,64350,642
x 100 % = 0,23 %
0,6435

20 0,655 g 0,64350,655
x 100 % = 1,78 %
0,6435

b. Keseragaman ukuran

d tebal

1,21 0,705
1,21 0,72 Uji keseragam ukuran :
1,21 0,705
14,265
Tebal = 20
1,21 0,715
= 0,71
1,21 0,71
1,21 0,72 3x tebal = 3 x 0,71 : 2,13
1,21 0,71 1 13 tebal = 1 13 x 0,71 : 0,923

1,22 0,71 23,5096


d = 20
1,21 0,71
= 1,17 < 3x tebal > 1 13 tebal
1,205 0,72
1,21 0,715
1,21 0,705
1,21 0,705
1,22 0,715
1,205 0,715
1,21 0,705
1,21 0,715
1,205 0,73
1,205 0,715
1,205 0,72

c. Kerapuhan tablet

Kerapuhan tablet : Tablet menjadi granul lagi

d. Kekerasan Tablet
Kekerasan tablet : 1, 1.5, 1, 1, 1.5, 2, 1, 2, 1.5, 1.5

e. Uji waktu hancur

Waktu hancur 2 tablet masing-masing : 6 menit 13 detik dan 9 menit 23


detik.

VIII. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan tablet dengan metode granulasi
basah. Granulasi basah adalah metode pembuatan tablet dengan mencampurkan
bahan obat dan bahan pengisi, kemudian ditambah bahan pengikat sampai masa
terbentuk granul.
Hal pertama yang dilakukan adalah menimbang semua bahan yang akan
digunakan dalam pembuatan tablet. Setelah bahan ditimbang, dicampur hingga
homogen bahan aktif dan bahan tambahan. Kemudian ditambah sedikit demi sedikit
aquadest yang berfungsi sebagai pengikat. Pengikat ini berperan penting dalam
pembuatan granul, yaitu sebagai unsur yang membantu merekatkan bahan dengan
bahan lain sehingga terbentuk granul.
Masa granul diayak dengan ayakan nomor 12 agar terbentuk granul yang
diinginkan. Lalu granul dikeringkan dalam oven dengan maksud untuk
menghilangkan air yang terkandung dalam granul dengan cara pemanasan. Pada
proses pengeringan berlangsung terjadi perpindahan panas dan perpindahan masa.
Panas berasal dari ruangan almari pengering dan masuk kedalam partikel granul.
Sedangkan perpindahan masa berupa difusi air dari granul ke permukaan, untuk
kemudian berubah menjadi uap dan lepas mengikuti aliran udara kering.
Setelah granul kering, kemudian granul diayak lagi dengan ayakan no 14. Setelah
selesai diayak granul dicampur dengan bahan pelicin dan pelincir. Bahan pelicin
digunakan untuk memacu aliran granul dengan jalan mengurangi gesekan antar
partikel. Sedangkan pelincir berfungsi untuk mempercepat aliran granul dalam
corong ke dalam rongga cetakan.
Dilakukan berbagai uji pada pada tablet dan granul. Seperti uji fisik granul dan
uji fisik tablet. Pada uji kadar air granul, didapatkan hasil penyusutan sebesar
2,141% dan hasil ini sesuai dengan kadar syarat yang ditentukan yaitu sekitar 2-4%
(Lachman et al, 1994). Pada uji waktu alir granul, didapat hasil 11 detik untuk waktu
alirnya. Hasil ini tidak sesuai dengan syarat ketentuan (Siregar,2008) yaitu kurang
dari 10 detik. Uji sudut diam yang dilakukan mendapat hasil yaitu 15,69o . Hasil
sesuai dengan ketentuan (Lachman et al,1994) yaitu sudut diam tidak lebih besar
dari 40o . Pada uji pengetepan didapat hasil pengujian dengan menghitung persentase
selisih volume granul tanpa dimampatkan terhadap volume setelah pemampatan
sebesar 14,49%. Hasil ini sangat sesuai dengan ketentuan (Charles,35) dengan
melihat tabel hubungan indeks carr & kemampuan alir serbuk.
Uji fisik pada tabelt dilakukan uji keseragam bobot, dari hasil penimbangan dan
perhintungan hasil yang didapat sesuai dengan syarat dan ketentuan, yaitu
penyimpangan tidak melebihi 5% dilihat dari tabel penyimpangan bobot rata-rata
yang ada di Farmakope Indonesia Edisi III. Uji keseragam ukuran yang dilakukan
dengan 20 tablet menggunakan jangka sorong. Hasil rata-rata diameter tablet yang
diuji adidalah 1,17cm sedangkan tebalnya adalah 0,71cm. Dari hasil perhitungan uji
kseragaman bobot memenuhi syarat karena diameter tidak lebih dari 3x tebal tablet
dan lebih dari 1 13 tablet. Pada uji kekeradan tablet dengan 10 tablet menggunakan
hardness tester didapatkan hasil yang tidak memenuhi syarat ketentuan karena tablet
yang langsung pecah pada angka 1-2, sedangkan syarat ketentuannya adalah 4-8. Uji
terakhir yang dilakukan adalah uji waktu hancur pada dua tablet dan didapat hasil
sekitar 6 menit 13 detik dan 9 menit 23 detik.
Adanya hasil pengujian tablet yang tidak sesuai dikarenakan hasil tablet yang
tercetak kurang baik. Beberapa tablet langsung pecah seketika sebelum diuji sehinga
banyak tablet yang tidak jadi. Hal ini dikarenakan kurangnya pengikat yang
digunakan saat pembuatan tablet sehingga tablet yang terbentuk tidak maksimal.

IX. KESIMPULAN

Granul kami terdapat bagian serbuk halusnya berwarna putih dan tidak
berbau. Granul kami tidak memenuhi syarat kelembapan karena hasilnya sebesar
1,775 % waktu alir granul tidak memenuhi syarat karena hasilnya 6.02 s lebih dari
4 s untuk 40 g granul . granul memenuhi syarat uji sudut diam yaitu 28,36 tidak
lebih dari 40C.
Keseragaman bobot kapsul tidak memenuhi syarat keseragaman bobot
karena ada 7 kapsul yang melebihi % kolom A dan B. kapsul kami memenuhi syarat
waktu hancur karena tidak lebih dari 15 menit yaitu 8 menit 57 detik.

X. DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 1997, Ilmu Meracik Obat, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta
Anonim, 2007, Ilmu Resep Jilid I, Depkes RI, Jakarta