Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN

FARMASI
BAB VI
TABLET METODE GRANULASI KERING

DISUSUN OLEH :
ENI SUCITRA MURTI A1162005

Semester Gasal
AKADEMI FARMASI NUSAPUTERA
SEMARANG
2017
BAB VI
TABLET METODE GRANULASI KERING

I. TUJUAN
1. Melakukan formulasi sediaan tablet Vitamin C dengan metode
cetak langsung.
2. Melakukan evaluasi sediaan tablet.
II. DASAR TEORI
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak,
dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau
cembung, mengandung satu jenis obatatau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat
pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau
zat lain yang cocok (FI III,1979).
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau
tanpa bahan pengisi.Berdasarkan metode pembuatan dapat
digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet merupakan
bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam
mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh
bioavailabilitas penuhdan dapat dipercaya dari obat yang sukar
dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk
mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau
gumpalan.
Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya,
melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain
dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak
tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini (FI IV,1995).
Metode granulasi kering disebut juga slugging, merupakan salah
satu metode pembuatan tablet dengan cara mengempa campuran
bahan kering (partikel zat aktif dan eksipien) menjadi massa padat
yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang
berukuran lebih besar (granul) dari serbuk semula. Prinsip dari metode
ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan
pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya (Kloe,2010).
Pada proses ini komponen-komponen tablet dikompakkan dengan
mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakkan dengan
punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut
slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk
untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari
campuran awal. Bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses
diatas dapat diulang (Kloe,2010).
Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan
mekanisme pengikatan tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut
menjadi bentuk sediaan granul terbagi, kapsul, maupun tablet.
Berbagai proses granulasi telah dikembangkan, dari metode
konvensional seperti slugging dan granulasi dengan bahan pengikat
musilago amili hingga pembentukan granul dengan peralatan terkini
seperti spray dry dan freeze dry. Granulasi peleburan atau hot melt
granulation merupakan metode pembentukan dispersi padat berbentuk
granulat dengan bahan pengikat yang melebur di atas suhu kamar.
Granulasi peleburan ini dapat digunakan untuk membentuk granul
dengan bahan pengikat hidrofob seperti lemak dan wax dengan tujuan
penyalutan dan/ atau pembentukan matriks sediaan pelepasan
dimodifikasi (modified release drug). Keunggulan dari granulasi
peleburan ini adalah : tidak membutuhkan bahan pelarut, tidak
memerlukan proses pengeringan, dan prosesnya berlangsung cepat
serta bersih (Kloe,2010).
Pemeriksaan kualitas granul
Bahan obat sebelum ditablet, pada umumnya dicampur
terlebih dahulu, bentuk serbuk yang seragam, menyebabkan
keseragaman pada bentuk tablet (Voigt, 1984).
Persyaratan serbuk yang baik adalah bentuk dan warna
teratur, memiliki daya alir yang baik (free flowing), menunjukkan
kekompakan mekanis yang memuaskan, tidak terlampau kering, dan
hancur baik di dalam air (Voigt, 1984).
Beberapa uji yang biasa digunakan untuk mengetahui kualitas fisik
serbuk antara lain:
1). Waktu alir serbuk
Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi massa tablet adalah
pemeriksaan laju alirnya. Massa tablet dimasukkan sampai penuh ke
dalam corong alat uji waktu alir dan diratakan. Waktu yang diperlukan
seluruh massa untuk melalui corong dan berat massa tersebut dicatat.
Laju alir dinyatakan sebagai jumlah gram massa tablet yang melalui
corong perdetik (Lachman et al, 1994).
2). Sudut diam serbuk
Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan
partikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal. Jika sejumlah
granul atau serbuk dituang ke dalam alat pengukur, besar kecilnya
sudut diam dipengaruhi oleh bentuk ukuran dan kelembaban serbuk.
Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 30 menunjukkan bahwa
serbuk dapat mengalir bebas, bila sudut lebih besar atau sama dengan
40 biasanya daya mengalirnya kurang baik (Lachman et al, 1994).
3). Pengetapan serbuk
Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan/tapping terhadap
sejumlah serbuk dengan menggunakan alat volumeter/mechanical
tapping device. Pengetapan dilakukan dengan mengamati perubahan
volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume setelah konstan (Vt)
(Sulaiman,2007).
Uji Fisik Tablet
1). Keseragaman ukuran tablet
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1
1/3 tebal tablet.
2). Kekerasan
Uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara
keseluruhan, yang diukur dengan memberikan tekanan pada tablet
(Sulaiman,2007).
3). Kerapuhan (friability)
Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan
permukaan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang
menyebabkan abrasi pada permukaan tablet. Kerapuhan dapat
dievaluasi dengan menggunakan friabilator. Tablet yang akan diuji
sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu dibebas debukan dan ditimbang.
Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan
diputar sebanyak 100 putaran (4 menit). Tablet tersebut selanjutnya
ditimbang kembali, dan dihitung prosentase kehilangan bobot sebelum
dan sesudah perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak
lebih dari 1 % (Sulaiman, 2007).
4). Keseragaman bobot
Farmakope Indonesia memberi aturan cara uji keseragaman bobot
dan batas toleransi yang masih dapat diterima, yaitu tablet tidak
bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan
sebagai berikut : timbang 20 tablet satu per satu, hitung bobot rata-
ratanya dan penyimpangan bobot rataratanya. Persyaratan
keseragaman bobot terpenuhi jika tidak lebih dari dua tablet yang
masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar
dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak satu pun tablet
yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari
harga yang ditetapkan pada kolom B. Apabila tidak mencukupi dari 20
tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satu tabletpun yang bobotnya
menyimpang lebih dari bobot rata-rata yang ditetapkan pada kolom B
(Tabel 1) (Sulaiman, 2007).
5). Waktu hancur
Suatu sediaan tablet yang diberikan peroral, agar dapat diabsorbsi
maka tablet tersebut harus terlarut (terdisolusi) atau terdispersi dalam
bentuk molekular. Tahap pertama untuk tablet agar dapat terdisolusi
segera adalah tablet harus hancur (Sulaiman, 2007).
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan dalam tiap
tube, ditutup dengan penutup dan dinaik-turunkan ke ranjang tersebut
dalam medium air dengan suhu 37oC. Dalam monografi yang lain
disebutkan mediumnya merupakan simulasi larutan gastrik (gastric
fluid). Waktu hancur dihitung berdasarkan tablet yang paling terakhir
hancur. Pernyaratan waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah
kurang dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik
kurang dari 30 menit. Sementara untuk tablet salut enterik tidak boleh
hancur dalam waktu 60 menit dalam medium asam, dan harus segera
hancur dalam medium basa (Sulaiman, 2007).
III. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Gelas ukur 6. Bakerglass
2. Lumpang & alu 7. Jangka sorong
3. Pipet tetes 8. Desintegran tester
4. Timbangan digital 9. Hardness tester
5. Ayakan nomor 18 dan 10. Friability tester
11. Loyang
20
12. Mesin cetak tablet
Bahan :
1. Vitamin C 4. Talkum
2. MCC 5. Magnesium stearat
3. Nipagin 6. Laktosa

IV. FORMULA DAN PERHITUNGAN BAHAN


Formula
Massa tablet : 700mg x 250 tablet = 175 g
Formula Jumlah Bahan yang ditimbang
Vitamin C 300 mg 300mg x 250 = 75g
MCC 6% 6% x 175g = 10,5g
Nipagin 0,1 % 0,1% x 175g = 0,175g
Talkum 2% 2% x 175g = 3,5g
Mg. Stearat 1% 1% x 175g = 1,75g
Laktosa Ad 700 mg 175 (15,925g + 175g) = 84,075g

V. CARA PEMBUATAN

Disiapkan alat dan bahan


Ditimbang semua bahan

Di campurkan fase internal (zat aktif, bahan


penghancur dan pengikat) dengan fase internal
(pelincir dan pelicin) secara homogen
Dicetak menjadi granul besar
(slugging)
Di ayak menjadi granul yang lebih
kecil / sesuai yang diinginkan

Dilakukan uji fisik granul

Dicetak granul menjadi tablet

Dilakukan uji fisik tablet


VI. EVALUASI HASIL
Sifat fisik granul
1. Uji kadar air
Hasil : 0,364%
Syarat : kadar lembab granul 2-4% (Lachman et al, 1994)
Kesimpulan : tidak memenuhi syarat
2. Waktu alir
Hasil : 12 detik
Syarat : tidak > 10 detik (Siregar, 2008)
Kesimpulan : tidak memenuhi syarat
3. Sudut diam
Hasil : d = 11,3cm
r = 5,65cm
h = 5cm
tan = 0,8849
tan = 41,5o
Syarat : tidak lebih besar dari 40o (Lachman et al, 1994)
Kesimpulan : tidak memenuhi syarat
4. Pengetapan
Hasil :
- Bobot : 62,195g
- BJ ketuk : 0,77
- Bj Ruah : 0,63
- Pengetapan : 18,18%
Kesimpulan : Berdasarkan tabel hubungan indeks Carr &
kemampuan alir serbuk (Charles, hal.35) hasil agak baik.
Sifat fisik tablet
1. Keseragaman bobot
Rata-rata bobot 20 tablet : 0,5301
No Bobot penimbangan Bobot penyimpangan
1 0,529 g
x 100 % = 0,2 %

2 0,517 g
x 100 % = 2,4 %

3 0,546 g
x 100 % = 2,9 %

4 0,507 g
x 100 % = 4,3 %

5 0,535 g
x 100 % = 0,9 %

6 0,542 g
x 100 % = 2,2 %

7 0,552 g
x 100 % = 4,1 %

8 0,528 g
x 100 % = 0,39 %

9 0,544 g
x 100 % =2,6 %

10 0,536 g
x 100 % = 1,1 %

11 0,522 g
x 100 % = 1,5 %

12 0,528 g
x 100 % = 0,39 %

13 0,540 g
x 100 % = 1,8 %
14 0,536 g
x 100 % = 1,1 %

15 0,531 g
x 100 % = 0,16 %

16 0,505 g
x 100 % = 4,7 %

17 0,507 g
x 100 % = 4,3 %

18 0,534 g
x 100 % = 0,73 %

19 0,533 g
x 100 % = 0,54 %

20 0,514 g
x 100 % = 3,03 %

Kesimpulan : hasil tidak ada yang melebihi 5% sehingga memenui


syarat.
2. Keseragaman ukuran

d tebal

1,205 0,43
1,205 0,43
1,21 0,44
1,21 0,425
1,21 0,435
1,21 0,44
1,2075 0,4275 Tebal : 0,44cm
1,21 0,44 3x tebal : 1,32cm
1,205 0,44
1 tebal : 0,572
1,205 0,43
1,21 0,44
1,21 0,44 d : 1,2075cm
1,21 0,44 >1 tebal
1,21 0,435
1,21 0,44 < 3x tebal
1,21 0,42
Kesimpulan : Memenuhi syarat.
1,21 0,51
1,21 0,43
1,21 0,435
1,21 0,4325

3. Kekerasan
Hasil :
1. 2,5 6. 1,5
2. 0,5 7. 1
3. 1,5 8. 2
4. 3 9. 2
5. 2 10. 2,5
Rata-rata : 1,85 kg
Syarat : antara 4-8 kg (Ansel, 1989)
Kesimpulan : Tidak memenuhi syarat.
4. Kerapuhan
Bobot awal : 10,556 g
Bobot akhir : 8,833 g

x 100% = 16,32%
Syarat : Kurang dari 8% (Voight, 1994)
Kesimpulan : tidak memenuhi syarat
5. Waktu hancur
Hasil : 2 tablet di uji hancur hasilnya masing-masing hancur pada
30 detik dam 36 detik.
Syarat : tidak lebih dari 25 menit (Anonim, 1979)
Kesimpulan : memenuhi syarat
VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tablet dengan
metode granulasi kering. Granulasi kering dilakukkan dengan
mencampurkan seluruh bahan dalam suatu formulasi tablet tanpa
menggunakan cairan penggranul. Granulasi kering dibuat dengan
mengempa langsung seluruh campuran bahan formula menjadi
granul besar (Slugging). Setelah itu di ayak menjadi ukuran granul
yang lebih kecil baru kemudian dicetak menjadi tablet.
Dalam praktikum digunakan Vitamin C sebagai bahan aktif
dan laktosa sebagai pengisi. PVP dipilih sebagai pengikat dan
magnesium stearat dan talkum sebagaimpelicin dan pelincir. Dalam
metode ini bahan pengisi biasanya juga bersifat sebagi pengikat.
Hal ini erat hubungannya dengan sifat alir dan kompaktibilitas
yang baik. Pencampuran semua bahan dalam metode ini juga
sangat penting, karena terkait dengan fabrikan tablet yang harus
dapat memenuhi syarat yang telah ditetapkan.
Dalam metode ini, terjadi dua kali pengempaan. Yang
pertama setalah semua bahan yang telah campur dikempa menjadi
granul besar. Kemudian setelah itu, diayak kembali menjadi granul
yang lebih kecil dan di kempa lagi menjadi tablet. Dilakukan dua
kali pengempaan ini karena dalam pembuatannya tablet tidak
digunakan air, sehingga dibutuhkan pengempaan lebih agar tablet
dapat merekat sempurna.
Dari hasil yang didapat kemudian dilakukan uji fisik granul
dan uji fisik tablet. Dari uji fisik ganul yaitu, uji kadar air didapat
hasil 0,364 yang tidak memenuhi syarat. Kemudian hasil waktu alir
dan sudut diam masing-masing 12 detik dan 41,5o yang juga tidak
memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Dari hasil uji pengetapan
diperoleh hasil yang agak baik yaitu sekitar 18,18%.
Dari hasil uji fisik tablet, hasil yang tidak memenuhi syarat
adalah uji kekerasan dan kerapuhan, yaitu 1,85 kg yang seharusnya
sekitar 4-8kg untuk uji kekerasan dan 16,32% yang harusnya tidak
boleh lebih dari 0,8%. Untuk hasil keseragaman bobot tidak ada
yang hasilnya melebihi 5%. Hasil uji keseragaman ukuran juga
memenuhi syarat yaitu 1,2075 yang tidak melebihi 3x tebal dan

lebih dari 1 tebal. Untuk hasil uji waktu hancur juga memenuhi

syarat yaitu sekitar 30 detik, dengan syarat tidak lebih dari 15


menit.
Banyaknya hasil uji fisik yang tidak memenuhi syarat dapat
diakibatkan oleh beberapa faktor. Yaitu adanya kesalahan
penimbangan atau perhitungan formula yang kurang tepat. Selain
itu hasil dari tablet juga tidak homogen, karena terdapat bintik-
bintik hitam. Hal ini mungkin dikarenakan adanya oksidasi dari
vitamin C sebagai zat aktif.
VIII. KESIMPULAN
Metode granulasi kering adalah suatu metode pembuatan
tablet dengan cara mengempa semua bahan yang telah dicampur
menjadi granul besar yang kemudian dipecah lagi menjadi pertikel
yang lebih kecil untuk dicetak menjadi tablet.
Dari hasil yang didapat, beberapa uji banyak yang tidak
memenuhi syarat. Namun ada pula yang sudah memenuhi syarat
seperti uji keseragam bobot dan ukuran serta uji waktu hancur
tablet.
IX. DAFTAR PUSTAKA
Depkes. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
Depkes. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
Kloe. 2010. Metode granulasi kering. Available online at :
http://duniafarmasi.com/farmasetika/metode-granulasi-kering
[diakses 27 April 2013]
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek
Farmasi Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas
Indonesis Press. Jakarta
Sulaiman, T. N. S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet.
Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM.
Yogyakarta.
Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi, Edisi V. diterjemahkan
oleh Soewandhi, S. N., Edisi 5. UGM Press. Yogyakarta.