Anda di halaman 1dari 5

Pengelolaan Bencana pada Skala Lokal, Nasional, dan Internasional

Pengelolaan bencana pada skala lokal, nasional, dan internasional


Secara umum, ketiganya memiliki kesamaan dalam hal usaha penanggulangan
bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta
rekonstruksi secara adil dan setara (UU RI No. 24 Tahun 2007).Pada tingkat bencana
nasional dan daerah memuat indikator yang meliputi: jumlah korban, kerugian harta benda,
kerusakan prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah yang terkena bencana, dan dampak
sosial ekonomi yang ditimbulkan(UU RI No. 24 Tahun 2007).
Tahap penanganan darurat yang di dalamnya terdapat penetapan status darurat
bencana dilaksanakan sesuai dengan skala bencana. Penetapan status darurat bencana
untuk skala nasional dilakukan oleh Presiden, skala provinsi dilakukan oleh gubernur, dan
skala kabupaten atau kota dilakukan oleh bupati atau walikota(UU RI No. 24 Tahun 2007).

Figure 1Disaster Management in Indonesia. Diakses dari http://www.soi.asia/data/event/20111027- e


disastermng/pdf/4.%20session1%20Disaster%20Management%20in%20Indonesia.pdf
nurut Pan American Health Organization (2003) ada beberapa program pengelolaan
bencana kesehatan nasional yang terdiri dari:
a. Promosi
Mempromosikan aspek kesehatan dan sosial serta manfaat pengelolaan
bencana dengan sektor lain termasuk sektor swasta
Kegiatan minimisasi bencana dalam kegiatan pengembangan program dan
divisi lain pada departemen atau institusi sektor kesehatan
Memberikan pendidikan kepada masyarakat melalui media massa dan
pendidik kesehatan
b. Pembuatan standar, mengenai hal-hal sebagai berikut.
Standar bangunan dan pemeliharaan fasilitas kesehatan di wilayah yang
rantan bencaana
Pembuatan aturan untuk perencanaan, latihan simulasi, dan aktivitas
kesiapsiagaan lainnya
Membuat daftar obat esensial dan persediaan selama kondisi kedaruratan
Protokol telekomunikasi yang terstandardisasi
c. Pelatihan, meliputi kegiatan sebagai berikut.
Pelatihan untuk tenaga kesehatan dari pencegahan sampai tanggapan terhadap
bencana
Promosi pengelolaan bencana dalam kurikulum program studi yang berkaitan
dengan ilmu-ilmu kesehaudutan
Memasukkan topik yang berkaitan dengan kesehatan dalam pelatihan
pengelolaan bencana untuk sektor lain
d. Kerjasama dengan institusi dan sektor lain
Lembaga pengelolaan bencana nasional atau lembaga lain dengan tanggung
jawab lintas-sektor
Titik utama bencana atau komisi di sektor lain
Program bencana di sektor kesehatan di dalam maupun di luar negara
Organisasi pemulihan di tingkat nasional atau internasional
e. Dalam kejadian bencana, program ini bertanggungjawab untuk:
Memobilisasi respon kesehatan
Memberikan saran dan mengoordinasi kegiatan atas nama menteri kesehatan
Pada skala internasional yang dapat dilakukan adalah dengan pelatihan teknis
internasional, terdiri dari: (Lasker)
a. Pelatihan United Nations Disaster Assessment and Coordination (UNDAC) yang
diikuti oleh para wakil anggota UNDAC dan negara-negara yang bergabung
dalam UNDAC meliputi aktivitas-aktivitas pengkajian, koordinasi, dan
pengelolaan informasi.
b. Kursus pembekalan ASEAN-Emergency Rapid Assessment Team (ASEAN-
ERAT) melatih para manajer bencana dari negara-negara anggota ASEAN dalam
memenuhi kebutuhan regional dan/atau internasional, berkoordinasi, dan
pemberian informasi dini yang berkualitas.
c. Pelatihan tentang panduan dan metodologi International Search and Rescue
Advisory Group (INSARAG) dirancang untuk membagikan prosedur dan sistem
yang diterima di tingkat internasional untuk mempertahankan kerjasama antar tim
United States Army Reserve (USAR) dalam keadaan darurat.
d. Pelatihan Humanitarian Civil-Military Coordination (UN-CMCoord) dilatih
dalam konsep dan prinsipprinsip koordinasi kemanusiaan sipil militer serta
penerapan praktisnya dalam keadaan darurat.
e. Pelatihan Environmental Emergencies Centre (EEC)dapat memberikan gambaran
tentang proses respon keadaan darurat lingkungan, memperkenalkan perangkat
untuk mengkaji risiko lingkungan, dan persiapan keadaan darurat di tingkat lokal.
f. RedR memberikan pembelajaran teknis dalam respon keadaan darurat.
g. Pelatihan pusat regional untuk kesiapsiagaan keadaan darurat United Nations
High Commissioner for Refugees(UNHCR) menyediakan informasi mengenai isu
keadaan darurat per sektor terfokus pada migrasi paksa dan perlindungan.
h. Program peningkatan respon keadaan darurat Programme for Enhancement of
Emergency Response (PEER) merupakan program pelatihan regional bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas para aktor nasional dalam mengelola dan bersiaga
terhadap bencana.

Masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan bencana di skala lokal, nasional, dan
internasional
Masalah yang dapat terjadi di tingkat daerah berkaitan dengan pembangunan sistem
penanggulangan bencana terdiri dari: (Bappenas)
a. Masalah kelembagaan, misalnya terjadi benturan bentuk, tugas, dan fungsi antar
sesama lembaga atau antar departemen dalam suatu lembaga. Selain itu, adanya
keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan di bidang
kebencanaan menimbulkan masalah tersendiri berkaitan dengan kurangnya
alokasi anggaran dalam suatu lembaga.
b. Masalah terkait dengan definisi teknis operasional dan status bencana. Belum
adanya kesepakatan yang jelas dan terukur tentang definisi bencana, kategori
status bencana, dan skala bencana (lokal, provinsi atau nasional). Ukuran besar
kecilnya bencana dapat dijadikan tolak ukur bagi pemerintah dalam pemberian
anggaran dan penyaluran sumber daya yang akan digunakan untuk mengatasi
bencana.
c. Masalah kerjasama antar daerah dalam penanggulangan bencana karena belum
adanya peraturan mengenai kemungkinan dan mekanisme kerjasama dalam
penanggulangan bencana antar daerah.Kegagalan mitigasi, kesiapsiagaan, dan
tanggapan bencana juga kebanyakan disebabkan oleh kesenjangan yang ada
diantara berbagai profesi dan kurangnya pelatihan khusus untuk tenaga kesehatan
(Pan American Health Organization, 2003).

Kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi bencana pada skala lokal,


nasional, dan internasional
Kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan aktivitas lintas-sektor yang
berkelanjutan bertujuan untuk menjamin sistem, prosedur, dan sumber daya yang tepat siap
di tempatnya masing-masing untuk memberikan bantuan yang efektif dan segera bagi
korban bencana (Pan American Health Organization, 2003). Pada skala internasional
kesiapsiagaan menghadapi bencana secara hukum sejalan dengan panduan International
Disaster Response Laws (IDRL Guidelines) meliputi inisiasi, fasilitasi, transit, dan
peraturan tentang bantuan bencana internasional dan pemulihan awal (Lasker). Tahap
perencanaan kesiapsiagaan meliputi tinjauan dan penyusunan undang-undang yang
berkaitan dengan penanggulangan bencana tetap berdasarkan pada proses peninjauan dan
penerapan sistem hukum negara tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. RingkasanTelaahan Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia


(Kebijakan, Strategi, dan Operasi).
http://www.bappenas.go.id/files/2113/5228/3473/ringkasan__20091208131455__2473__
7.doc. Diakses pada tanggal 2 Maret 2014 pukul 11.45 WIB.

Lasker, R. Disaster Response in Asia and the Pacific: A Guide to International Tools and
Services.
https://docs.unocha.org/sites/dms/ROAP/Promotional%20Materials/Asia_Disaster_Guid
e_Bahasa.pdf. Diakses pada tanggal 1 Maret 2014 pukul 08.50 WIB.

Pan American Health Organization. (2003). Natural Disasters: Protecting the Publics
Health. Diterjemahkan oleh Munaya Fauziyah. Jakarta: EGC.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan


Bencana.