Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia, selain terkenal karena kekayaan dan keindahan alamnya, juga
merupakan negara yang rawan terhadap bencana. Hal ini disebabkan posisi
geografis dan geodinamiknya, sehingga Indonesia memiliki aktivitas vulkanik dan
kegempaan yang cukup tinggi. Posisi ini juga menyebabkan bentuk relief
Indonesia yang sangat bervariasi, mulai dari pegunungan dengan lereng yang
curam sampai daerah landai di sepanjang garis pantai yang sangat panjang, yang
kesemuanya memiliki kerentanan terhadap ancaman bahaya tanah longsor, banjir,
abrasi dan tsunami. Kondisi hidrometeorologis yang beragam juga kadang-kadang
menimbulkan ancaman bahaya banjir dan longsor, angin ribut atau angin puting
beliung, bahaya kekeringan yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lain-lain.
Ancaman lainnya adalah bencana yang disebabkan oleh berbagai kegagalan
teknologi.
Umumnya bencana yang terjadi mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat
baik berupa korban jiwa manusia, kerugian harta benda maupun kerusakan
lingkungan serta musnahnya hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai antara
lain kerusakan sarana dan prasarana serta fasilitas umum, penderitaan masyarakat
dan sebagainya.
Terjadinya bencana besar tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun
2004 dan gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah (Kabupaten Klaten) pada
tahun 2006 dan beberapa bencana lain sebelum dan sesudahnya telah mendorong
bangsa Indonesia untuk menerima kenyataan hidup berdampingan dengan
bencana. Sebagai konsekuensi atas penerimaan tersebut, bangsa Indonesia telah
melahirkan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana. Untuk merealisasikan Undang-Undang tersebut, pada tahun 2008 telah
diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 22 tentang Pendanaan
dan Pengelolaan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 23 tentang Peranserta

1
Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-pemerintah dalam
Penanggulangan Bencana.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi bencana?
2. Apakah definisi manajemen pasca bencana?
3. Apakah tujuan manajemen bencana?
4. Apakah definisi pasca bencana?
5. Apakah definsi manajemen pasca bencana?
6. Apa saja dampak bencana pada lansia?
7. Bagaimana bentuk keperawatan lansia saat bencana?
8. Bagaiman bentuk keperawatan bencana pada lansia setelah bencana?
9. Bagaimana prinsip menangani lansia?
10. Apa saja nasihat nasihat untuk lansia?
11. Bagaimana penanganan berdasarkan kebutuhan pada kelompok lansia?
12. Bagaimana cara berinteraksi dengan lansia?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi bencana.
2. Untuk mengetahui definisi manajemen pasca bencana.
3. Untuk mengetahui tujuan manajemen pasca bencana.
4. Untuk mengetahui pasca bencana.
5. Untuk mengetahui manajemen pasca bencana.
6. Untuk mengetahui dampak bencana pada lansia.
7. Untuk mengetahui bentuk keperawatan lansia saat bencana.
8. Untuk mengetahui bentuk keperawatan bencana pada lansia setelah bencana.
9. Untuk mengetahui prinsip menangani lansia.
10. Untuk mengetahui nasihat nasihat untuk lansia.
11. Untuk mengetahui penanganan berdasarkan kebutuhan pada kelompok lansia.
12. Untuk mengetahui cara berinteraksi dengan lansia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Bencana
Menurut WHO, bencana adalah Peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang
mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian pada kehidupan manusia, serta
memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna, sehingga
memerlukan bantuan luar biasa dari pihak lain.
Sedangkan UNHCR mendefinisikan bencana sebagai Peristiwa/kejadian
berbahaya pada suatu daerah yang mengakibatkan kerugian dan penderitaan
manusia serta kerugian material yang hebat.
Pengertian lain mengenai bencana dikemukakan oleh Bakornas-PBB, yaitu
Suatu kejadian yang terjadi secara alami ataupun yang disebabkan oleh ulah
manusia, yang terjadi secara mendadak maupun berangsur-angsur, dan
menimbulkan akibat yang merugikan sehingga masyarakat dipaksa untuk
melakukan tindakan penanggulangan.

B. Definisi Manajemen Pasca Bencana


Manajemen PB adalah serangkaian kegiatan yang berkesinambungan yang
dikelola untuk pengendalian dampak bencana untuk mempersiapkan kerangka
kerja bagi masyarakat untuk menghindari atau mengatasi dampak bencana yang
melanda wilayah/lingkungannya.
Manajemen PB adalah serangkaian kegiatan, yang dilaksanakan sejak
sebelum terjadinya suatu peristiwa bencana, selama kejadian bencana, dan
sesudah terjadinya bencana, dalam rangka mencegah, mengurangi dan mengatasi
dampak bencana, yang ditimbulkannya.

C. Tujuan
1. Mengurangi, menghindari tingkat ancaman terhadap kelangsungan hidup
manusia, potensi kerugian fisik dan ekonomi serta kerusakan infrastruktur.
2. Mengurangi dampak yang merugikan terhadap Individu.
3. Mencapai upaya pemulihan yang cepat dan berkelanjutan.

3
D. Pasca Bencana
Kondisi pasca bencana adalah keadaan suatu wilayah dalam proses pemulihan
setelah terjadinya bencana. Pada kondisi ini dipelajari langkah apa yang dilakukan
oleh berbagai pihak terkait dalam hal upaya untuk mengembalikan tatanan
masyarakat seperti semula sebelum terjadinya bencana.

E. Manajemen Pasca Bencana


Manajemen pemulihan (pasca bencana) adalah pengaturan upaya
penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat
mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana
dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana secara
terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh setelah terjadinya bencana
dengan fase-fasenyanya yaitu:
1. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik
atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana
dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua
aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.
2. Rekonstruksi
Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana,
kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan
maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban,
dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

F. Dampak Bencana Bagi Lansia


1. Secara Umum
a. Ketika stresor lansia besar seperti bencana misalnya, maka daya kesiapan
dan daya adaptasi menurun dan melemah secara drastis
b. Kurangnya perhatian pada lansia dalam penanganan daruratpun menjadi
penyebab utama terjadinya tidak dapat beradaptasi, sehingga

4
menghilangkan kemandirian fisik dari lansia dan mengakibatkan
penurunan fungsi tubuh.
c. Bencana akan menjadi pengalam kehilangan bagi lansia
d. Jika melihat dari sisi ekonomi, penyokong nafkah lansia kebanyakan
adalah lansia itu sendiri yaitu bertahan menggunakan upah pensiunan.
Kehilangan rumah dan harta akan mengakibatkan kehilangan harapan
untuk membangkitkan kehidupan dan harapan untuk masa depan.
e. Perioritas pada saat bencana adalah memindahkan lansia ketempat yang
aman. Lansia sulit memperoleh informasi karena penurunan pada
pendengaran maupun penglihatan
f. Lansia cenderung memiliki rasa cinta yang dalam pada tanah dan
rumahnya, maka tindakan untuk mengungsi cenderung terlambat.
g. Lansia adalah objek yang relatif mudah dipengaruhi oleh lingkungan.
Jika kebutuhan dari lingkungan melebihi daya adaptasi yang dimiliki
lansia maka terjadilah ketidakcocokan (unfit) dan keadaan tersebut bisa
memunculkan perasaan yang negatif. Perubahan lingkungan pasca
bencanadapat membawa beban pearasaan, gangguan tidur dan gangguan
ingatan sebagai gangguan fungsi otak sementara.
h. Lansia yang masuk ke pemukiman semnetara terpaksa harus
mengadaptasikan atau harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan
baru. Jika komunitasnya berubah lansia akan kehilangan bantuan dari
orang terdekat atau yang ia kenal, dan sulit menciptakan hubungan yang
baru, maka mudah beubah menjadi pergaulan yang dangkal, menyendiri
dan terisolasi. Selain itu perlu diperhatikan bahwa kematian karena
kecelakaan dapat disebabkan oleh pemukiman sementara itu sendiri.
i. Kegelisahan nyata seperti kehilngan fondasi kehidupan dan masalah
ekonomi serta masalah rumah untuk masa depan akan muncul sebagai
masalah realistis. Selain itu tekanan mental/stres dari pengalaman yang
menakutkan dari bencana, pengalaman kehilangan rumah dan tanah,
kelelahan fisik dan mental karena kehidupan ditempat pengungsian yang
berlanjut lama, dan perubahan lingkungan dengan pindah rumah, maka
dapat menyebabkan depresi pada lansia dengan semua masalah yang ada.

5
j. Stres terbesar bagi lansia pada saat bencana adalah kematian keluarga
dan saudara. Ikeda mengatakan bahwa peranan keluarga sangat penting
bagi lansia karena masalahkesehatan paling banyak adalah stres
mengenai kehidupan.

2. Dampak bencana berdasarkan penggolongan sebagai berikut:


a. Masalah Perilaku
1) Menarik diri dan memisahkan diri dari lingkungan social.
2) Keterbatasan mobilitas
3) Masalah-masalah penyesuaian diri pada tempat baru
4) Menghindari aktivitas atau tempat yang dapat memicu ingatan
terhadap bencana
5) Ketidakmampuan untuk merelakan/menerima apa yang telah terjadi
b. Masalah Fisik
Pertambahan usia adalah normal, dan fungsi fisiologis menurun secara
perlahan-lahan. Namun demikian, derajat tersebut tidak smadan terdapat
perbedaan anatara setiap individu. Oleh karena itu, pengaruh dari
bencana terhadap lansia pun beragam sesuai dengan fungsi fisiologis
yang dimiliki oleh setiap individu.
1) Bertambah parahnya penyakit-penyakit kronis
2) Gangguan tidur
3) Gangguan-gangguan ingatan
4) Simptom-simptom somatis
5) Lebih sensitif terhadap hypo- dan hyperthermia (suhu badan yang
abnormal)
6) Keterbatasan sensoris dan fisik (penglihatan, pendengaran) dapat
mengganggu proses penyembuhan
7) Kelelahan
8) Meningkatnya tekanan darah dan jantung berdebar
c. Masalah Emosional dan Psikologis
Lansia telah memiliki beberapa pengalaman kehilangan. Bettis
mengatakan bahwa pada proses menua terdapat dua proses, yakni proses

6
yang memungkinkan beradaptasi diri pada kehilangan dan proses yang
membuat yang bersangkutan sulit mengadaptasikan diri pada kehilangan.
1) Khawatir akan keselamatan
2) Kekecewaan/kesedihan yang mendalam akibat kehilangan
3) Hilang semangat dan simpati
4) Bingung, disorientasi
5) Rasa curiga
6) Mudah tersinggung, marah
7) Kecemasan pada lingkungan yang tidak dikenal ( lingkungan baru )
8) Mimpi buruk
9) Rasa percaya diri yang rendah
10) Depresi

G. Bentuk Keperawatan Lansia Saat Bencana


1. Tempat Aman
Yang diprioritaskan pada saat terjadi bencana adalah memindahkan orang
lansia ke tempat yang aman. Orang lansia sulit memperoleh informasi karena
penurunan daya pendengaran dan penurunan komunikasi dengan luar.
2. Rasa Setia
Selain itu, karena mereka memiliki rasa setia yang dalam pada tanah dan
rumah diri sendiri, maka tindakan untuk mengungsi berkecendrungan
terlambat dibandingkan dengan generasi lain.
3. Penyelamatan Darurat (Triage, Treatment, dan Transportation)
Penyelamatan darurat (Triage, Treatment, dan Transportation) dengan cepat.
Fungsi indera orang lansia yang mengalami perubahan fisik berdasarkan
proses menua maka memunculkan respons pun mengalami peningkatan
sensitivitas sehingga mudah terkena mati rasa.

H. Bentuk Keperawatan Bencana Bagi Lansia Setelah Bencana


1. Lingkungan dan Adaptasi
Dalam kehidupan di tempat pengungsian, terjadi berbagai ketidakcocokan
dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh fungsi fisik yang dibawa

7
oleh setiap setiap individu sebelum bencana dan perubahan lingkungan hidup
di tempat pengungsian. Kedua hal ini saling mempengaruhi sehingga
mengakibatkan penurunan fungsi fisik orang lansia yang lebih parah lagi.
2. Manajemen Penyakit dan Pencegahan Penyakit Sekunder
Lingkungan di tempat pengungsian mengundng tidak hanya ketidakcocokan
dalam kehidupan sehari-hari bagi orang lansia, tetapi juga keadaan yang
serius pada tubuh. Seperti penumpukan kelelahan karena kurang tidur dan
kegelisahan.
3. Lanjut Usia dan Perawatan pada Kehidupan di Rumah Sendiri
Lansia sudah kembali ke rumahnya, pertama membereskan perabotan di luar
dan dalam rumah. Dibandingkan dengan generasi muda, sering kali lansia
tidak bisa memperoleh informasi mengenai relawa, sehingga tidak bisa
memanfaatkan tenaga tersebut dengan optimal.
4. Lanjut Usia dan Perawatan di Permukiman Sementara
Lansia yang masuk ke permukiman sementara terpaksa mengadaptaikan/
menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru (lingkungan hubungan manusia
dan lingkungan fisik) dalam waktu yang singkat.
5. Mental Care
Orang lansia mengalami penurunan daya kesiapsiagaan maupun adaptasi,
sehingga mudah terkena dampak secara fisik oleh stresor. Namun demikian,
orang lansia itu berkecendrungan sabar dengan diam walaupun sudah terkena
dampak dan tidak mengekspresikan perasaan dankeluhan.

I. Prinsip Menangani Lansia


Secara umum dalam menangani lansia, professional maupun relawan harus
memahami prinsip-prinsip berikut :
1. Berikan keyakinan yang positif secara verbal dan berulang-ulang
2. Dampingi dalam pemulihan fisik, buat kunjungan-kunjungan secara berkala,
atur untuk pertemuan-pertemuan.
3. Berikan perhatian yang special untuk mendapatkan kenyamanan pada lokasi
penampungan, idealnya tempatkan pada lingkungan yang ia kenali (misalnya
tetangga atau keluarga yang selamat)

8
4. Bantu untuk membangun kembali kontak dengan keluarga maupun
lingkungan social lainnya
5. Dampingi untuk mendapatkan pengobatan dan bantuan keuangan

J. Nasihat Nasihat Untuk Lansia


Nasihat-nasihat yang dapat membantu lansia memulihkan diri akibat bencana:
1. Reaksi-reaksi fisik yang timbul akibat suatu bencana adalah hal yang wajar.
2. Memahami perasaan diri sendiri dapat membantu proses pemulihan diri.
3. Meminta bantuan terhadap apa yang diri kita butuhkan dapat membantu
menyembuhkan diri.
4. Memfokuskan pada kekuatan dan kemampuan yang kita miliki sekarang.
5. Menerima pertolongan dari program-program yang diberikan
masyarakat/pemerintah merupakan hal yang tepat dan sehat.
6. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dan cara yang berbeda dalam
menghadapi dampak dari bencana tersebut.
Sangatlah penting bagi lansia untuk pulih dengan membicarakan perasaan-
perasaan mereka. Berbagi pengalaman dengan para korban bencana dapat
membantu memahami bahwa mereka tidak sendiri. Tentunya dengan keterlibatan
terhadap proses pemulihan dan membantu orang lain tersebut maka dengan
sendirinya juga membantu pemulihan diri sendiri.
Lansia harus diberi dukungan untuk meminta segala bentuk bantuan yang
dibutuhkan, seperti kebutuhan keuangan, emosional, pengobatan dan sebagainya.
Meminta bantuan pendamping adalah suatu langkah dari kemajuan dan
kemandirian. Lansia adalah generasi yang bertahan dan apabila didukung dengan
baik maka mereka akan semakin kuat dan lebih mampu dalam menghadapi
tantangan di masa yang akan datang.

K. Penanganan Berdasarkan Kebutuhan pada Kelompok Lansia


Menurut Japanese Red Cross Society dan PMI (2009) penanganan kebutuhan
berdasarkan kebutuhan pada kelompok lansia adalah:
1. Penanganan pada kelompok lansia
Ciri khas lansia dan pengaruh dari bencana

9
Ciri khas lansia dan bencana
Kelompok lansia terbentuk dari setiap individu dengan dipengaruhi
sejumlah unsur, seperti gaya hidup, ciri khas, keluarga, sumber daya
sosial dan ekonomi, budaya dan adaptasi, lingkungan, struktur gen, dan
sebagianya.
1) Ciri khas fisik dan bencana
Peningkatan usia adalah sebuah proses yang normal dan fungsi
fisiologis menurun secara perlahan-lahan. Pengaruh dari bencana
terhadap lansia beragam sesuai dengan fungsi fisiologis yang dimiliki
oleh setiap individu. Ciri khas fisik yang disebabkan oleh peningkatan
usia adalah:
(a) Penurunan hemostatis. Hemostatis adalah sebuah fungsi untuk
mengendalikan dan mempertahankan kondisi dalam tubuh dengan
menggunakan segala daya tahan, daya kesiapan, dan daya
adaptasi pada saat adanya tekanan dari luar (stresor) yang
beraneka ragam. Ketika stresor lansia besar seperti bencana
misalnya, maka daya kesiapan dan daya adaptasi menurun dan
melemah secara drastis. Karena banyak stresor akan bermunculan
pada saat bencana maka diperlukan menghilangkan atau
mengurangi stresor dan mempertahnkan fungsi fisik lansia.
(b) Penurunan fungsi organ. Efek dari bencana akan berbeda
tergantung pada level penurunan fungsi, lansia akan dipersulit
oleh adaptasi yang tidak atau kurang berfungsi. Kurangnya
perhatian pada lansia dalam penanganan daruratpun menjadi
penyebab utama terjadinya tidak dapat beradaptasi, sehingga
menghilangkan kemandirian fisik dari lansia dan mengakibatkan
penurunan fungsi tubuh.
2) Ciri khas mental dan bencana
Bencana akan menjadi pengalam kehilangan bagi lansia. Menurut
Bettis bahwa ada proses menua terdapat dua proses yakni proses yang
memungkinkan beradaptasi diri pada kehilangan dan proses yang
membuat yang bersangkutan sulit beradaptasi diri pada kehilangan.

10
Sootoka berpendapat bahwa lansia merespons pada keadaan kerugian
dengan baik, maka pada kehilangan keluarga lansia memperlihatkan
pemulihan daripada usia yang lebih muda. Identifikasi, menggali dan
mengetahui kondisi mental seperti kegelisahan dan ketakutan pada
lansia.
3) Ciri khas sosial dan bencana
Ada beberapa struktur keluarga yang mempersulit lansia memperoleh
keamanan dan bantuan (support) dari orang-orang terdekat. Jika
melihat dari sisi ekonomi, penyokong nafkah lansia kebanyakan
adalah lansia itu sendiri yaitu bertahan menggunakan upah pensiunan.
Kehilangan rumah dan harta akan mengakibatkan kehilangan harapan
untuk membangkitkan kehidupan dan harapan untuk masa depan.
2. Lansia dan perawatan dalam keadaan bencana pada masa pasca akut
a. Perawatan didalam siklus bencana
1) Lansia dan perawatan dalam keadaan bencana pada masa akut
Perioritas pada saat bencana adalah memindahkan lansia ketempat
yang aman. Lansia sulit memperoleh informasi karena penurunan
pada pendengaran maupun penglihatan. Lansia cenderung memiliki
rasa cinta yang dalam pada tanah dan rumahnya, maka tindakan untuk
mengungsi cenderung terlambat. Oleh karena itu penting bagi perawat
untuk mengetahui keberadaan lansia dan kondisi fisik mereka sebelum
melakukan tindakan penyelamatan lansia agar evakuasi dapat
dilakukan dengan cepat dan tepat pada saat bencana. Segera dilakukan
triase, treatment, dan transportation dengan cepat dapat menuragi
komplikasi pada lansia mengingat struktur dan fungsi orga lansia
yang sudah mengalami penurunan.
2) Lansia dan perawatan dalam keadaan bencana pada masa pasca akut
a) Lansia dan perawatan pada pengungsian
Perubahan lingkungan hidup ditempat pengungsian membawa
berbagai efek pada lansia

11
(1) Perubahan lingkungan dan adaptasi
Lansia adalah objek yang relatif mudah dipengaruhi oleh
lingkungan. Jika kebutuhan dari lingkungan melebihi daya
adaptasi yang dimiliki lansia maka terjadilah ketidakcocokan
(unfit) dan keadaan tersebut bisa memunculkan perasaan
yang negatif. Perubahan lingkungan pasca bencanadapat
membawa beban pearasaan, gangguan tidur dan gangguan
ingatan sebagai gangguan fungsi otak sementara. Identifikasi
demensia dan penanganan yang tepat melalui pengkjian
fungsi kognitif dan perilaku. Perlunya menata lingkungan
yang mudah untuk lansia beradaptasi melalui analisis
keadaan lingkungan dengan menerapkan pengetahuan
keperawatan dan mngetahui pengaruh pada kemandirian dan
fungsi organ lansia.
(2) Manajemen penyakit dan pencegahan penyakit sekunder
Dalam memanajemen penyakit dan pencegahan penyakit
sekunder pada lansia penting adanya pemanfaatan
keterampilan keperawatan dasar seperti observasi,
pengukuran dan mendengarkan. Selain itu harus berusaha
untuk memulai pemeriksaan kesehatan dan konsultasi
kesehatan secepat mungkin untuk mengidentifikasi keadaaan
dan kebutuhan kesehatan lansia serta memungkinkan untuk
menemukan penyait baru. Penting mempertimbangkan
pengobatan dan manajemen penyakit kronis dan memantau
metode pengobatan.
(3) Mental care
Sangat penting adanya upaya untuk memahami ciri khas
lansia yang tampak kontradiksi, mendengarkan apa yang
lansia ceritakan, membantu lansia mengekspresikan
perrasaannya sehingga diharpkan dapat meringankan stres.
Secott menjelaskan kemungkinan akan memperkuat reaksi
stres dari interaksi antara individu dan lingkungan.

12
Olehkarena itu penting mengatasi berbagai penyebab seperti
permasalahan lingkungan hidup yang akan memperburuk
stres dan perlu memperhatikan gejala stres.
3. Lansia dan perawatan dalam keadaan bencana pada masa kronis
Terdapat 2 kelompok lansia pada fase ini yaitu :
a. Lansia dan perawatan pada kehidupan dirumah sendiri
Memberikan informasi mengenai relawan terutama pada keluarga yang
memiliki lansia diaman keluarga tersebut memrlukan bantuan orang lain.
Selain itu diperlukan koordinasi agar relawan dapat beraktivitas
membantu lansia. Mengidentifikasi keadaan dan kesehatan lansia,
mempertimbangkan perlu atau tidaknya bantuan dan memfasilitasi lansia
dan memberikan sosial support.
b. Lansia dan perawatan pemukiman sementara
1) Perubahan lingkungan dan adaptasi
Lansia yang masuk ke pemukiman semnetara terpaksa harus
mengadaptasikan atau harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan
baru. Jika komunitasnya berubah lansia akan kehilangan bantuan
dari orang terdekat atau yang ia kenal, dan sulit menciptakan
hubungan yang baru, maka mudah beubah menjadi pergaulan yang
dangkal, menyendiri dan terisolasi. Selain itu perlu diperhatikan
bahwa kematian karena kecelakaan dapat disebabkan oleh
pemukiman sementara itu sendiri.
Diperlukan pengkajian lingkungan dari sudut pandang keperawatan
dengan mengingat ciri khas lansia lalu melaksanan intervensi seperti
mengusulkan pemanfaatan peralatan kesejahteraan dan perbaikan
rumah sesuai dengan keadaan masing-masing lansia.
2) Manajemen diri sendiri pada penyakit
Dalam hal ini penting sekali memberikan informasi mengenai sarana
medis terdekat dan membantu untuk membangun hubungan dengan
dokter agar proses pengobatan berjalan lancar. Selain itu diperlukan
pula adanya pendidikan kesehatan untuk melengkapi daya dan upaya
untuk mempertahankan kesehatan dengan diri sendiri.

13
c. Mental care
Kegelisahan nyata seperti kehilngan fondasi kehidupan dan masalah
ekonomi serta masalah rumah untuk masa depan akan muncul sebagai
masalah realistis. Selain itu tekanan mental/stres dari pengalaman yang
menakutkan dari bencana, pengalaman kehilangan rumah dan tanah,
kelelahan fisik dan mental karena kehidupan ditempat pengungsian yang
berlanjut lama, dan perubahan lingkungan dengan pindah rumah, maka
dapat menyebabkan depresi pada lansia dengan semua masalah yang ada.
Pada fase ini diperlukan upaya berkelanjutan untuk mendengarkan
pengalaman dan perasaan dari lansia sebagai bantuan upaya fisik dan
mental agar lansia tersebut dapat beristirahat dengan baik. Perlu juga
adanyan pendekatan pada lansia yang ssering menyendiri atau bertambah
konsumsi rokok dan minuman keras untuk didorong berpartisipasi pada
kegiatan yang lebih produktif, misalnya jalan-jalan dan sebagainya. .
4. Lansia dan perawatan dalam keadaan bencana pada masa rehabilitasi
a. Rekontruksi kehidupan
Pemukiman rekontruksi memiliki keunggulan disisi keamanan dan
lingkungan dalam rumah yang dapat meningkatkan kualitas tidur atau
istirahat lansia. Keadaan ekonomi lansia tidak hanya secara langsung
mempengaruhi mutu kehidupan, tetapi juga bisa mengakibatkan
penurunan fungsi fisk, memperburuk penyakit dan memunculkan
penyakit baru. Diperlukan melihat penanganan dari pemerintah seperti
keringanan dalam biaya sewa dan memberikan bimbingan kehidupan
tepat yang sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebiasaan hidup dari
lansia.
b. Mental care.
Stres terbesar bagi lansia pada saat bencana adalah kematian keluarga
dan saudara. Ikeda mengatakan bahwa peranan keluarga sangat penting
bagi lansia karena masalahkesehatan paling banyak adalah stres
mengenai kehidupan. Selain itu menurut penelitian penurunan self-care
lansia seperti kontrol penyakit dan gejala , tindakan untuk mengikuti
pemeriksaan dan minum obat upaya untuk kesehatan dan penanganan

14
stres, sejumlah dukungan seperti dorongan mental dan penanganan dari
orang terdekat, agama harapankepada kehidupan masa depan dan
pemanfaatan pelayanan kesejjahteraan menjadi penyebab utama untuk
meningkatkan self-care.
5. Lansia dan perawatan dalam keadaan bencana pada masa persiapan
a. Rekontruksi komunitas
Diperlukan penyusunan perencanaan bantuan pengungsian yang konkret
dan bekerja sama dengan komunitas untuk mengetahui lokasi dimana
lansia berada, menetukan orang yang membantu pengungsian,
mendirikan jalur penyampaian informasi, menentukan isi dari bantuan
yang dibutuhkan secara konkret berdasarkan keadaan fisik masing-
masing sebagai kesiapsiagaan pada bencana.
b. Persiapan untuk memanfaatkan tempat pengungsian kesejahteraan
Adanya peraturan mengenai penempatan tempat pengungsian
kesejahteraan (tempat pengungsian sekunder). Hal bermaksud untuk
memanfaatkan saranayang sudah ada perhatian khusus seperti Pusat
Kesejahteraaan Lansia dan Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi orang-orang
yang membutuhkan perawatan jika UU penyelamatan bencana
diterapkan. Pemanfaatan seperti ini belum pernah ada, namun diperlukan
menginspeksi lingkungan tempat pengungsia kesejahteraan dari
pandangan keperawatan lansia agar sarana-sarana tersebut bisa segera
dimanfaatkan jika terjadi bencana. Selain itu diperlukan upaya untuk
menyusun perancanaan pelaksanaan pelatihan praktek dan pelatihan
keperawatan supaya pemanfaatan yang realistis dan bermanfaat akan
tercapai.

L. Cara Berinteraksi dengan Lansia


Lansia diklasifikasikan ke dalam populasi spesial atau kelompok rentan
(kelompok yang beresiko tinggi terhadap masalah kesehatan jiwa, DepKes).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan lansia adalah sebagai
berikut:

15
1. Menurunnya fungsi alat indera
Kemampuan penciuman, sentuhan, penglihatan dan pendengaran yang mulai
berkurang dibandingkan populasi umum lainnya, dapat menyebabkan
timbulnya kesulitan dalam menghadapi situasi yang gawat (bencana).
2. Lambatnya Respon
Lansia kemungkinan akan lebih lambat dalam mencari pertolongan karena
berkurangnya aktivitas kognitif dan motorik yang mulai menurun karena
proses penuaan.
3. Kondisi Kesehatan
a. Lansia pada umumnya memiliki kesehatan yang sudah menurun sehingga
tekanan yang ditimbulkan akibat bencana dapat menambah buruk kondisi
kesehatan.
b. Gangguan ingatan juga dapat mempengaruhi lansia dalam mengingat dan
memproses informasi (terganggunya proses komunikasi).
c. Pengobatan juga dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan
ingatan atau kebingungan.
d. Dehidrasi, hipo/hipertermia (suhu tubuh yang sangat rendah/suhu tubuh
yang sangat tinggi) juga merupakan ganguan kesehatan yang dapat
timbul pada lansia ketika mengalami bencana.
e. Lansia biasanya malu/takut karena mengalami masalah kesehatan mental
dan tidak memahami konseling sebagai bentuk dukungan. Pelayanan
kesehatan mental harus menekankan pada pendampingan dan
dialog/ngobrol.
4. Pengaruh kehilangan yang berlipat ganda.
Lansia pada umumnya telah mengalami kehilangan semasa hidupnya seperti
berkurangnya kemampuan fisik, pendapatan yang berkurang (pensiun,
kehilangan pekerjaan), bahkan ditinggal pasangannya. Dengan adanya
bencana tentunya akan menambah tekanan yang telah dirasakan sebelumnya
sehingga dapat menghambat proses penyembuhan.
5. Trauma ketika dikirim ke lokasi. Lingkungan yang tidak dikenal dan
kehilangan lingkungan tempat ia tinggal sebelum bencana dapat
menyebabkan depresi dan disorientasi.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kondisi pasca bencana adalah keadaan suatu wilayah dalam proses pemulihan
setelah terjadinya bencana. Pada kondisi ini dipelajari dampak seperti apakah
yang dialami lansia dan bagainana perawat melakukan intervensi untuk
menangani lansia .
2. Selain dampak fisik, bencana juga berdampak pada psikososial. Munculnya
gejala gangguan psikologis dapat bervariasi, tergantung banyak factor. Jika
tidak diatasi dan diselesaikan dengan tepat dan cepat, reaksi tersebut dapat
menjadi gangguan psikologis yang serius.
3. Untuk mengatasi masalah diatas, dilakukan berbagai inervensi. Salah satu
pendekatan yang dilakukan dalam menangani korban-korban bencana
khususnya permasalahan psikologis dalam lingkungan masyarakat adalah
metode intervensi psikososial. Intervensi psikologis merupakan kegiatan
untuk mencari jawaban tentang kebutuhan psikologis dan sosial secara
kelompok.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan
bagi pembaca khususnya tentang pemulihan pasca bencana khususnya mengenai
dampak bencana pada lansia.

17
DAFTAR PUSTAKA

Adeney, Farsijana. (2007). Perempuan dan Bencana. Yogyakara: Selendang


Ungu Press

Kharismawan, Kuriake. Panduan Program Psikososial Paska Bencana. Diakses


tanggal 01 Oktober 2017 dari http://www.sintak.unika.ac.id/

Lubis, Misran. (2010). Perlindungan Anak Dalam Situasi Bencana. Diakses


tanggal 01 Oktober 2017 dari http://www.ccde.or.id

Martam, Irma S. (2010). Pemulihan Psikososial Berbasis Komunitas. Diakses


tanggal 01 Oktober 2017 dari http://www.pulih.or.id

18