Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di zaman modern ini banyak alat yang mendukung dalam menciptakan suatu trobosan
di dunia kesehatan, alat tersebut tentunya memudahkan dalam penggunaan dan
mempunyai kedudukan yang penting bagi penggunanya. Salah satu bagian penting dari
dunia kesehatan khususnya di dunia kedokteran adalah alat bedah dan anastesi, dari
sekian banyak alat bedah dan anastesi, ESU merupakan alat yang cukup penting oleh
karena itu mahasiswa tekhnik elekrtomedik harus memiliki pengetahuan yang cukup.
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang alat bedah dan anastesi mendasari
mahasiswa untuk terus belajar. dengan praktikum ESU akan membuat mahasiswa
memiliki penambahan perbendaharaan pengetahuan dan keterampilan. Praktikum ESU
tidak hanya dikenalkan alatnya saja. Tetapi juga diadakan trouble shooting, hal ini
ditujukan melatih mahasiswa untuk menyikapi secara tepat. Menyikapi dengan step by
step.

1.2. Tujuan

1. Mengetahui prinsip kerja melalui blog diagram


2. Mampu menganalisa masalah jika terjadi trouble shooting.
3. Mampu membaca dengan tepat dengan wiring diagram.
4. Mengerti dan memahami cara perawatan dan perbaikan.
BAB II DASAR TEORI

2.1. Teori Singkat

Electrosurgery adalah suatu alat bedah medis yang memanfaatkan frekwensi tinggi
dari arus listrik yang digunakan untuk memotong, mengental, dan mengeringkan jaringan.
Electrosurgical selalu digunakan selama proses operasi, dengan alat ini diharapkan selama
proses operasi pasien tidak mengalami kehilangan banyak darah karena alat ini selain dapat
digunakan untuk melakkan pembedahan juga dapat digunakan untuk menutup jaringan
setelah mengalami pembedahan (Ansell Care).

Alat ini memiliki prinsip kerja merusak jaringan tubuh tertentu dengan memanaskan
jaringan tersebut. Panas didapat dengan cara pemusatan arus listrik frekuensi tinggi pada
jaringan tubuh tertentu dengan menggunakan elektroda sebagai medianya. Adapun jangkauan
frekuensi yang biasa dipakai berkisar antara 500 kHz sampai dengan 2,5 MHz.

Pengoperasian ESU dibagi menjadi 2 (dua) mode, yaitu bipolar dan monopolar. Mode
bipolar biasa digunakan pada bedah minor untuk proses koagulasi (pembekuan). Sebuah
elektroda berbentuk pinset digunakan untuk menjepit jaringan yang tidak diinginkan,
kemudian arus listrik frekuensi tinggi mengalir dari ujung elektroda melewati jaringan tadi
kemudian menuju ujung elektroda yang lain. Pada mode monopolar digunakan dua elektroda
terpisah, yaitu elektroda aktif dan elektroda pasif/ netral dengan permukaan yang lebih luas
yang ditempatkan dekat dengan lokasi yang akan dibedah. Arus listrik akan terpusat pada
elektroda aktif dan elektroda netral didesain untuk mendistribusikan arus listrik dengan
tujuan mencegah kerusakan jaringan. Mode monopolar lazimnya digunakan pada bedah
mayor dengan metode pemotongan/ cutting. Oleh karena itu, mode bipolar lebih banyak
digunakan untuk melakukan pembedahan minor.

Pada umumnya, pesawat electrosurgery unit bisa menghasilkan berbagai bentuk


gelombang listrik. Perubahan dari bentuk gelombang tersebut akan menghasilkan efek yang
berbeda terhadap jaringan. Penggunaan suatu bentuk gelombang yang kontinyu menyebabkan
terjadinya penguapan atau pemotongan jaringan. Bentuk gelombang kontinyu menyebabkan
terjadinya pemanasan yang sangat cepat.
Dengan menggunakan suatu bentuk gelombang intermitten (terpotong potong) maka
akan dihasilkan panas lebih sedikit.Karena hal tersebut maka pada jaringan akan terjadi
pengentalan atau koagulasi. Bentuk gelombang campuran (blend 1,2 dan 3) bukanlah
pencampuran dari gelombang kontinyu dan intermitten, melainkan modifikasi pada siklus
tugas dari gelombang utama. Dari blend 1 sampai blend 3 siklus tugasnya semakin dikurangi.
Semakin rendah siklus tugasnya maka panas yang dihasilkan juga semakin berkurang. Pada
blend 1 memiliki efek pemanasan yang tinggi dengan efek hemostasis yang rendah.
Sedangkan pada Blend 3 memiliki efek pemanasan yang rendah dengan efek hemostasis
tinggi.

Tubuh manusia mempunyai suatu tahanan atau resistansi dari elemenelemen di dalam
tubuh yang berbeda-beda, namun besarnya relatif sama dengan kadar air yang dikandung dari
masing-masing elemen: otot berkadar air 72%, hingga 75%, otak berkadar air sekitar 68%,
lemak 14%, semakin banyak kadar air yang dimiliki jaringan maka semakin baik daya hantar
listriknya. Apabila tahanan ini dialirkan arus listrik, maka akan ada energi listrik yang hilang
dan berubah menjadi panas. Semakin besar arus listrik yang dihasilkan maka semakin besar
pula panas yang dihasilkan, serta makin besar juga efek perusakan pada jaringan tubuh

Dalam penggunaan pesawat ESU terdapat beberapa efek yang dapat mempengaruhi
jaringan-jaringan biologis pada tubuh yang diakibatkan karena frekuensi tinggi. Dampak
yang ditimbulkan dari frekuensi tinggi itu antara lain :

1) Efek Thermal Efek Thermal yaitu terjadinya panas pada jaringan tubuh yang
disebabkan oleh aliran frekuensi tinggi yang masuk ke dalam tubuh.
2) Efek Faradik Efek Faradik ini dapat timbul karena bila suatu otot pada tubuh
diberikan arus dengan frekuensi tertentu maka secara refleks otot akan
bergerak akibat rangsangan yang diterimanya. Untuk menghindari terjadinya
efek faradik itu maka frekuensi yang digunakan sekurang-kurangnya 300KHz,
3) Efek Elektrolitik Efek Elektrolitik adalah efek yang ditimbulkan karena
mengalirnya arus listrik di dalam jaringan biologis sehingga mengakibatkan
terjadinya pergerakan ion-ion dalam tubuh.

2.2. Cara Pengoprasian

1. Sebelum menghidupkan ESU bersihkan ESU dan bagian-bagiannya dari debu dan
kotoran lainnya. Pastikan bahwa tidak ada barang apapun diatas ESU terutama cairan
2. Pastikan bahwa semua accesories dalam kondisi baik dan telah terpasang dengan baik.
3. Masukkan kabel power ESU ke stop kontak listrik di dinding.Pastikan kabel power
telah tertancap dengan mantap di stop kontak, apabila stop kontak tidak ada ground,
hubungkan ESU dengan ground tambahan.
4. Hidupkan ESU dengan menekan saklar power.
5. Atur dosis/daya yang diinginkan dengan menekan tombol up/down, baik untuk
cutting maupun coagulation. Lukukan juga pemilihan efek yang diinginkan untuk
cutting dan mode yang diinginkan untuk coagulating, bila memang dibutuhkan.
6. ESU siap untuk digunakan, setelah netral elektroda terpasang ke pasien dengan baik.
7. Rapikan kembali ESU beserta semua accecories.

2.3. Kalibrasi

Cara kalibrasi :

1. Siapkan ESU beserta alat kalibrasi


2. Siapkan tranduser pisau pemotong (positif), tranduser yang satu (graund) dan lembar
kerja
3. Liat tegangan mak.ESU sebagai acuan pengaturan pengukuran pada alata kalibrasi.
4. Seting ESU pada CUT, COAG, dan BIPOLAR secara bergantian masing-masing dari
tegangan keci kebesar.
5. Pengambilan data diambil 6x sesuai dengan prosedur yang ditentukan oleh LIPI.
6. Bandingkan tampilan display/indicator pada ESU dengan tampilan alat kalibrasi
toleransi sebesar 10%.
7. Bila dalam mengkalibrasi data terjadi perbedaan yang cukup signiikan (melebihi
toleransi) maka alat perlu disurvey, begitu juga sebaliknya.
2.4. Block Diagram

Cara Kerja:

Rangkaian Power supply berfungsi mensupply tegangan ke semua rangkaian. Mula mula
tegangan dari power suppy masuk menuju rangkaian oscillator, rangkaian oscilator berfungsi
sebagai pembangkit frekuensi. Kemudian tegangan akan dikendalikan oleh rangkaian driver.
Dari rangkaian driver frekuensi diberikan batas yang hanya meloloskan frekuensi diatas cut
off oleh High Pass Filter. Kemudian control sebagai pengatur baik user mau menggunakan
cutting/coagulation. Dari kontrol ada yang menuju modulator dan ada yang menuju penguat
daya (power Amp), di bagian modulator frekuensi yang masuk mempunyai jarak antar
frekuensi yang berbeda, tergantung user saat menggunakan control. Power amp output
diarahkan ke pasien dan apabila terjadi over load, akan diarahkan ke rangkaian overload
protection. Selanjutnya tegangan kembali masuk menuju rangkaian oscilator.

2.5. Wiring Diagram


BAB III ISI

3.1 Trouble Shooting

1. Pada alat ESU merk A kondisi alat masih bagus namun tidak bisa digunakan untuk
cutting? Hanya lampu power yang hidup.

3.2 Cara Perbaikan

1. Lakukan pengecekan pada kabel power dan diukur menggunakan multitester, untuk
memastikan kabel terhubung.
2. Pasang acesoris, sebelum elektroda dipasang, buzzer akan berbunyi. Setelah dipasang
ternyata cutting relay tidak berfungsi.
3. Analisa menggunakan bantuan wiring diagram, pemeriksaan dilakukan pada
rangkaian buzzer, tegangan pada trafo,dan setelah dicek semua berfungsi dengan
normal.
4. Selanjutnya yang dicek adalah bagian fuse, ternyata tidak ada tegangan yang masuk
ke dalam fuse, hal ini menandakan fuse putus dan perlu diganti. Setelah fuse diganti,
alan dicoba dan hasilnya alarm dan relay dapat berfungsi tapi masih mengalami
masalah karena masih tidak bisa untuk cutting.
5. Alat dalam kondisi yang belum bisa digunkan untuk cutting, selanjutnya periksa
rangkaian osilator. Rangkaian osilator berfungsi sebagai penghasil frekuensi. Ada 10
titik pengukuran (MP1-MP10) dalam manual book. Pada titik pengukuran ini masing-
masing titik akan diamati melalui osciloskop, namun sebelum digunakan osciloskop
dikalibrasi terlebih dahulu.
6. Pada Titik pengukuran yang pertama (MP1) sambungkan probe positif pada MP1 dan
negatif pada ground, sesuaikan tegangan dan refrensi dengan manual book, yaitu
berbentuk gelombang kotak dengan tegangan 5,5,V dan frekuensi 700kHz bila belum
sesuai atur lebar dan tinggi gelombang pada osiloskop. Dan setelah dilakukan
pengecekan di MP1 ternyata tidak ada masalah.
7. Selanjutnya pengecekan dilakukan di bagian MP2, di pengukuran ini saat coagulasi
jarak puncak ke puncak ( pic to pic) lebih lebar dibandingkan saat melakukan cutting
dan dalam bentuk gelombang sinus dan selanjutanya lakukan pengecekan hingga
MP10 dan ternyata seletah sampai di pengukuran di MP5, output tidak sesuai dengan
hasil pada manual book, pada MP5 mengalami masalah karena tidak ada intensitas /
tidak muncul frekuensi tinggi dan di rangkaian MP5 terdapat potensio, untuk
selanjutnya gunakan potensio tersebut untuk mengatur frekuensi yang diharapkan.

BAB IV PENUTUP

4.1. Simpulan
Hal utama yang harus dilakukan ketika trouble shooting adalah analisa step by
step dari bagian yang paling utama (luar) seperti catu daya yang masuk, fuse dan
sebagainya, jika masih mengalami masalah dapat dicek menuju bagian dalam
(komponen). Dalam ESU praktikum kemarin didapatkan membutuhkan pengecekan
titik pengukuran sesuai manual book. Masalah yang ditemukan saat praktikum
kemarin adalah pada fuse yang mati dan MP5. Pada MP5 tidak muncul frekuensi
tinggi.