Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

MACAM-MACAM CARA PENGUKURAN DEFINISI OPERASIONAL

BLOK METODOLOGI PENELITIAN

Pembimbing : Prof. Dwi Prijatmoko, drg., Ph.D.

DISUSUN OLEH:
Devica Dwi Ratna Putri (141610101047)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2017
MACAM-MACAM CARA PENGUKURAN DEFINISI
OPERASIONAL

1. SKALA LIKERT

Penggagas dan pencipta skala likert adalah Rensis Likert asal Amerika Serikat yang
menerbitkan suatu laporan yang menjelaskan penggunaannya. Skala Likert digunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi
indikator variabel. Skala Likert merupakan metode skala bipolar yang mengukur baik
tanggapan positif ataupun negatif terhadap suatu pernyataan. Empat skala pilihan juga
kadang digunakan untuk kuesioner skala Likert yang memaksa orang memilih salah satu
kutub karena pilihan netral tak tersedia. Dalam membuat skala Likert, ada beberapa
langkah prosedur yang harus dilakukan peneliti, antara lain:

1. Peneliti mengumpulkan item-item yang cukup banyak, memiliki relevansi dengan


masalah yang sedang diteliti, dan terdiri dari item yang cukup jelas disukai dan tidak
disukai.
2. Kemudian item-item itu dicoba kepada sekelompok responden yang cukup
representatif dari populasi yang ingin diteliti.
3. Responden di atas diminta untuk mengecek tiap item, apakah ia menyenangi (+) atau
tidak menyukainya (-). Respons tersebut dikumpulkan dan jawaban yang memberikan
indikasi menyenangi diberi skor tertinggi. Tidak ada masalah untuk memberikan
angka 5 untuk yang tertinggi dan skor 1 untuk yang terendah atau sebaliknya. Yang
penting adalah konsistensi dari arah sikap yang diperlihatkan. Demikian juga apakah
jawaban setuju atau tidak setuju disebut yang disenangi, tergantung dari isi
pertanyaan dan isi dari item-item yang disusun. Sewaktu menanggapi pertanyaan
dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu
pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan
lima pilihan skala dengan format seperti:
Pertanyaan Positif (+):
Skor 1: Sangat (tidak setuju/buruk/kurang sekali)
Skor 2: Tidak (setuju/baik/) atau kurang
Skor 3: Netral / Cukup
Skor 4: (Setuju/Baik/suka)
Skor 5: Sangat (setuju/Baik/Suka)
Pertanyaan Negatif (-):
Skor 1. Sangat (setuju/Baik/Suka)
Skor 2. (Setuju/Baik/suka)
Skor 3. Netral / Cukup
Skor 4. Tidak (setuju/baik/) atau kurang
Skor 5. Sangat (tidak setuju/buruk/kurang sekali)
4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing
item dari individu tersebut.
5. Respon dianalisis untuk mengetahui item-item mana yang sangat nyata batasan antara
skor tinggi dan skor rendah dalam skala total. Misalnya, responden pada upper 25%
dan lower 25% dianalisis untuk melihat sampai berapa jauh tiap item dalam kelompok
ini berbeda. Item-item yang tidak menunjukkan beda yang nyata, apakah masuk
dalam skortinggi atau rendah juga dibuang untuk mempertahankan konsistensi
internal dari pertanyaan.

Contoh Kasus Penghitungan Menggunakan Skala Likert

Sekolompok tim mahasiwa gizi sedang melakukan uji organoleptik (pengujian terhadap
bahan makanan berdasarkan kesukaan) sebuah produk dengan menggunakan skala Likert.
Aspek yang akan diukur dalam uji organoleptik tersebut adalah cita rasanya. Ada 100
responden atau panelis yang memberikan jawaban dari angket yang diberikan. Berikut
rangkuman hasil penilaian 100 responden tersebut.

a. Responden yang menjawab sangat suka (skor 5) berjumlah 8 orang


b. Responden yang menjawab suka (skor 4) berjumlah 14 orang
c. Responden yang menjawab netral (skor 3) berjumlah 21 orang
d. Responden yang menjawab tidak suka (skor 2) berjumlah 31 orang
e. Responden yang menjawab sangat tidak suka (skor 1) berjumlah 26 orang

Rumus: T x Pn

T = Total jumlah responden yang memilih

Pn = Pilihan angka skor Likert

a. Responden yang menjawab sangat suka (5) = 8 x 5 = 40


b. Responden yang menjawab suka (4) = 14 x 4 = 56
c. Responden yang menjawab netral (3) = 21 x 3 = 63
d. Responden yang menjawab tidak suka (2) = 31 x 2 = 62
e. Responden yang menjawab sangat tidak suka (1) = 26 x 1 = 26
f. Semua hasil dijumlahkan, total skor = 247

Interpretasi Skor Perhitungan

Agar mendapatkan hasil interpretasi, terlebih dahulu harus diketahui skor tertinggi (X) dan
skor terendah (Y) untuk item penilaian dengan rumus sebagai berikut:

Y = skor tertinggi likert x jumlah responden

X = skor terendah likert x jumlah responden

Jumlah skor tertinggi untuk item Sangat Suka adalah 5 x 100 = 500, sedangkan item
Sangat Tidak Suka adalah 1 x 100 = 100. Jadi, jika total skor penilaian responden diperoleh
angka 247, maka penilaian interpretasi responden terhadap cita rasa produk tersebut adalah
hasil nilai yang dihasilkan dengan menggunakan rumus Index %.

Rumus Index % = Total Skor / Y x 100

Pra Penyelesaian

Sebelum menyelesaikannya kita juga harus mengetahui interval (rentang jarak) dan
interpretasi persen agar mengetahui penilaian dengan metode mencari Interval skor persen
(I).

Rumus Interval

I = 100 / Jumlah Skor (Likert)

Maka = 100 / 5 = 20

Hasil (I) = 20 (Ini adalah intervalnya jarak dari terendah 0 % hingga tertinggi 100%)

Berikut kriteria interpretasi skornya berdasarkan interval:

a. Angka 0% 19,99% = Sangat (tidak setuju/buruk/kurang sekali)


b. Angka 20% 39,99% = Tidak setuju / Kurang baik)
c. Angka 40% 59,99% = Cukup / Netral
d. Angka 60% 79,99% = (Setuju/Baik/suka)
e. Angka 80% 100% = Sangat (setuju/Baik/Suka)

Penyelesaian Akhir

= Total skor / Y x 100

= 247 / 500 x 100

= 49.4 %, berada dalam kategori Cukup/Netral

Keunggulan dan Kelemahan Skala Likert

Kelebihan Skala Likert:

1. Skala Likert mempunyai reliabilitas yang relatif tinggi dibandingkan dengan skala
Thurstone untuk jumlah item yang sama. Makin banyak jumlah item, maka makin
kurang reliabilitasnya. Skala Likert dapat memperlihatkan item yang dinyatakan
dalam beberapa respons alternatif (SS=sangat setuju, S=setuju, R=ragu-ragu,
TS=tidak setuju, STS=sangat tidak setuju). Sedangkan skala Thurstone hanya
membuka dua alternatif saja.
2. Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas menunjukkan hubungan dengan
sikap yang sedang diteliti masih dapat dimasukkan ke dalam skala. Dalam menyusun
skala Thurstone, yang dimasukkan hanya item-item yang telah disetujui bersama dan
jelas berhubungan dengan sikap yang ingin diteliti saja yang dapat dimasukkan.
3. Skala Likert dapat memberikan keterangan yang lebih jelas dan nyata tentang
pendapatan atau sikap responden tentang isu yang dipertanyakan karena jangka
responsi yang lebih besar.

Kelemahan Skala Likert:

1. Skala Likert hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat
membandingkan berapa kali satu individu lebih baik dari individu yang lain. Hal ini
karena ukuran yang digunakan adalah ukuran ordinal.
2. Kadang kala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, karena banyak
pola respons terhadap beberapa item akan memberikan skor yang sama. Adanya
kelemahan di atas sebenarnya dapat dipikirkan sebagai error dari respons yang terjadi.

2. SKALA GUTTMAN

Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Skala ini mempunyai ciri penting,
yaitu merupakan skala kumulatif dan mengukur satu dimensi saja dari satu variabel yang
multi dimensi, sehingga skala ini termasuk mempunyai sifat undimensional. Skala
Guttman yang disebut juga metode scalogram atau analisa skala (scale analysis) sangat
baik untuk menyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang
diteliti, yang sering disebut isi universal (universe of content) atau atribut universal
(universe attribute). Dalam prosedur Guttman, suatu atribut universal mempunyai
dimensi satu jika menghasilkan suatu skala kumulatif yang sempurna, yaitu semua
responsi diatur sebagai berikut:

Setuju dengan Tidak setuju dengan


Skor 4 3 2 1 4 3 2 1
4 X X X X
3 X X X X
2 X X X X
1 X X X X
0 X X X X

Pada pertanyaan yang lebih banyak pola ini tidak ditemukan secara utuh. Adanya
beberapa kelainan Dapat dianggap sebagai error yang akan diperhitungkan dalam analisa
nantinya. Cara membuat skala guttman adalah sebagai berikut:
1. Susunlah sejumlah pertanyaan yang relevan dengan masalah yang ingin diselidiki.
2. Lakukan penelitiaan permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan
diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50.
3. Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang. Jawaban yang
ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh lebih dari 80%
responden.
4. Susunlah jawaban pada tabel Guttman.
5. Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.
Koefisien Reprodusibilitas, yang mengukur derajat ketepatan alat ukur yang telah dibuat
(yaitu daftar pertanyaan tadi) dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Kr= 1

Dimana:

n = total kemungkinan jawaban, yaitu jumlah pertanyaan x jumlah responden.

e = jumlah error.

Kr = koefisien reprodusibilitas

Koefisien Skalabilitas:

Ks= 1

dimana:

e = jumlah error

p = jumlah kesalahan yang diharapkan

Ks = koefisien skalabilitas

Kelemahan pokok dari Skala Guttman, yaitu:

1. Skala ini bisa jadi tidak mungkin menjadi dasar yang efektif baik intuk mengukur
sikap terhadap objek yang kompleks atau pun untuk membuat prediksi tentang
perilaku objek tersebut.
2. Satu skala bisa saja mempunyai dimensi tunggal untuk satu kelompok tetapi ganda
untuk kelompok lain, ataupun berdimensi satu untuk satu waktu dan mempunyai
dimensi ganda untuk waktu yang lain

3. SKALA SEMANTIK DEFERENSIAL

Skala Perbedaan Semantik (Semantic Differential) dikembangkan oleh C.E Osgood,


Suci dan Tannenbaum dengan maksud untuk mengukur pengertian suatu obyek atau
konsep oleh seseorang. Responden diminta untuk menilai suatu obyek atau konsep,
(misalnya: sekolah, guru, pelajaran dan sebagainya). Skala bipolar adalah skala yang
berlawanan dan mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap obyek atau
konsep tersebut. Tiga dimensi yang dimaksud, yaitu:

a. Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu obyek.


b. Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu
obyek.
c. Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan suatu obyek.

Sifat dari tiga dimensi tersebut, misalnya sebagai berikut ini.

Dalam penelitian, skala perbedaan semantik (Semantic Differential) dapat digunakan


untuk mengetahui bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu obyek atau konsep
apakah sama atau berbeda. Obyek atau konsep dapat menjangkau banyak masalah,
seperti: masalah politik, pendidikan, sekolah seseorang dan sebagainya. Suatu contoh
dari alat ukur yang digunakan untuk menilai sekolah menurut Kerlinger sebagai berikut.

Huruf dalam tanda kurung menyatakan: A (Aktivitas), E (Evaluasi) dan P (Potensi).


Penempatan sifat bipolar tidak boleh monoton, dari baik ke buruk, tetapi kadangkala
dibalik seperti ditandai oleh *. Hal ini dilakukan agar dapat menghindari tendensi bias
dari responden.

Contoh skala perbedaan semantik (semantic differensial) dari C.E. Osgood sebagai
berikut.
Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial)
sebagai berikut ini:

1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.


2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang
diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang
berbeda secara empiris.

Kelebihan metode ini adalah kemudahan dalam proses penilaian. Rater hanya tinggal
memberikan tanda silang (x) atau contreng (v) pada kolom yang sesuai untuk masing-
masing faktor atau karakteristik yang dinilai.

4. SKALA RATING

A. Pengertian Rating Scale

Rating Scale adalah alat pengumpul data yang digunakan dalam observasi untuk
menjelaskan, menggolongkan, menilai individu atau situasi Rating Scale adalah alat
pengumpul data yang berupa suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku/sifat yang
harus dicatat secara bertingkat. Rating Scale merupakan sebuah daftar yang menyajikan
sejumlah sifat atau sikap sebagai butir-butir atau item. Dari beberapa pendapat tersebut,
dapat disimpulkan pengertian. Rating Scale adalah salah satu alat untuk memperoleh data
yang berupa suatu daftar yang berisi tentang sifat/ciri-ciri tingkah laku yang ingin
diselidiki yang harus dicatat secara bertingkat.

Pada skala rating observer diminta merefleksikan kesan-kesan lampau ke dalam


rating. Teknik ini lebih memberikan cara pencatatan yang mudah dan cepat dalam
meringkaskan kesan-kesan hasil pengamatan. Rating scale adalah perluasan checklist.
Perbedaan dengan checklist adalah pada rating scale observer mengindikasikan
judgement dalam bentuk frekuensi & atau kualitas karakteristik performa (misal: sangat
baik, sedang, kurang), sedangkan pada checklist hanya dituliskan hadir tidaknya
perilaku.

B. Jenis Rating Scale

Ada beberapa jenis skala rating yang dapat digunakan, yaitu :

a. Skala grafis
b. Skala numeris
c. Standard rating
d. Cumulated points rating
e. Force choice rating
f. Semantic differential
a. Skala Grafis

Menggunakan garis lurus horizontal ataupun kadang vertikal dalam penyajiannya.


Misalnya :

b. Skala Numeris

Angka dalam kebanyakan skala rating digunakan sebagai anchor, tetapi penggunaan
angka ini harus didefinisikan secara jelas. Di depan ataupun di belakang setiap deskripsi
disediakan ruang untuk membubuhkan tanda (biasanya tanda ) yang menunjukkan
kesesuaiannya dengan subjek yang diamati. Bentuk numeris ini kadang disertai bentuk
grafis, sehingga observer atau rater hanya menandai angka yang menjadi
pilihannya. Misalnya skala enam jenjang utk mengukur orientasi pelayanan pelanggan :

Atau

1. Bagaimanakah partisipasi peserta didik dalam diskusi kelas? 1 2 3 4 5


2. Bagaimanakah hubungan peserta didik dengan kelompoknya? 1 2 3 4 5

Catatan:

1 = tidak memuaskan

2 = di bawah rata-rata.

3 = rata-rata

4 = di atas rata-rata

5 = sempurna
c. Standard Rating

Bentuk rating ini sering juga disebut sebagai skala presentase. Anchor presentase
meminta observer merating subjek ke dalam suatu kontinum yang bergerak dari 0 s/d
100, dalam perbandingan dengan subjek amatan lain atau kelompok khusus. Misalnya
mengukur interpersonal persuasiveness ability :

d. Cumulated Points Rating

Item yang disusun merupakan indikator suatu trait yang akan diukur. Skor akhir skala
merupakan penjumlahan kelseluruhan aitem. Misalnya, bagaimana seorang pemilik toko
mengobservasi kemampuan pegawainya dalam memberikan pelayanan pada konsumen :

e. Force Choice Rating

Bentuk ini biasanya digunakan dalam bidang militer atau bisnis. Observer diminta
memilih kalimat yang menggambarkan kondisi subjek amatan. Misalnya :

f. Semantic Differential

Skala ini menggunakan pasangan kata sifat yang berlawanan dalam memberikan
rating. Secara ringkas penyusunan skala sbb :

1. Pilih suatu konsep yang akan diamati


2. Tentukan pasangan kata sifat yang akan digunakan
3. Susun kutub pasangan kata tersebut secara random

Misalnya :

C. Kelebihan Rating Scale

1. Mudah penggunaannya.
2. Dapat mengetahui intensitas dan gambaran keadaan suatu perilaku/kejadian.
3. Dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan antara realitas dengan persepsi
subjektif rater.

D. Kekurangan Menggunakan Rating Scale

Observer dapat melakukan kesalahan dalam membuat kesimpulan, antara lain :

1. Error of leniency : terlalu longgar


2. Error of central tendency : cenderung ke pusat skala
3. Hallo effect : terkesan hal umum
4. Error of logic : cenderung sama karena dianggap berhubungan
5. Error of contast : memiliki dua arah
6. Ketidakjelasan dalam penggunaan istilah
7. Social desirability effect : secara sosial lebih diterima
8. Skala rating tidak memberi informasi sebab terjadinya perilaku
9. The generosity effect : terjadi ketika ragu-ragu
10. Carry over effect : tidak memisahkan gejala

E. Kegunaan Pemakaian Rating Scale

Hasil observasi dapat dikuantifikasikan beberapa pengamat menyatakan penilaiannya


atas seorang siswa terhadap sejumlah alat/sikap yang sama sehingga penilaian-penilaian
itu (ratings) dapat dikombinasikan untuk mendapatkan gambaran yang cukup
terandalkan.

F. Kesalahan-kesalahan dalam Rating Scale

Kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi pada rating scale adalah sebagai berikut :

1. Pengamat membuat generalisasi mengenai sikap atau sifat seseorang karena


bergaul akrab dengan siswa
2. Pengamat tidak berani untuk memberikan penilaian sangat baik atau sangat
kurang dan karena itu menilai suatu item dalam daftar pada gradasi cukupan (error
ofcentral tendency).
3. Pengamat membiarkan dirinya terpengaruh oleh penilaiannya terhadap satu dua
sikap atau sifat yang dinilai sangat baik atau sangat kurang, sehingga penilaiannya
terhadap item-item lain cenderung jatuh pula pada gradasi sangat baik atau sangat
kurang (hallo effect). Misalnya bila guru sudah mempunyai kesan negatif terhadap
seorang siswa (A) yang penampilannya kurang menarik dan kemudian memilih
gradasi kurang pada item-item yang lain.
4. Pengamat tidak menangkap maksud dari butir-butir dalam daftar dan kemudian
mengartikannya menurut interprestasi sendiri (logical error)
5. Pengamat kurang memisahkan jawaban terhadap butir yang satu dari jawaban
terhadap butir yang lain (carry over effect).

Referensi

1. Moh. Nasir, Ph.D, 1999, Metode Penelitian,Ghalia Indonesia.


2. M. Singarimbun, Sofian Effendi, 1997, Metode Penelitian Survai, LP3ES.