Anda di halaman 1dari 21

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Genetika dengan judul praktikum Persilangan


Drosophila melanogaster yang disusun oleh:
nama : Agung Gunawan
NIM : 1614142001
kelas : Biologi Sains
kelompok : IV (Empat)
telah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten dan Koordinator Asisten maka
dinyatakan diterima.

Makassar, 18 Oktober 2017


Koordinator Asisten, Asisten

Ferry Irawan., S.Pd. Ferry Irawan., S.Pd.

Mengetahui:
Dosen Penanggungjawab,

Hartati., S.Si.,M.Si.,Ph.D._
NIP. 19740405 20003 2 004
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Umumnya gen memiliki pekerjaan sendirisendiri untuk menumbuhkan
karakter, tetapi ada beberapa gen yang berinteraksi atau menumbuhkan karakter.
Gen tersebut mungkin terdapat pada kromosom yang sama atau pada kromosom
yang berbeda. Interaksi antar gen akan menimbulkan perbandingan fenotipe
keturunan yang menyimpang dari hukum Mendel, keadaan ini disebut
penyimpangan Hukum Mendel.
Pewarisan sifat menurut Mendel mempunyai ciri atau karaker yang menjadi
teori sampai sekarang dalam peyilangan atau perkawinan. Teori ini disebut pula
dengan Hukum Mendel. Hukum Mendel I membahas tentang ekspresi gen yang
terjadi akibat pemisahan gen sealel. Hukum Mendel II dalam F2 akan
menghasilkan rasio klasik 9:3:3:1. rasio ini menjadi acuan untuk persilangan
dihirid atau lebih. Kenyataannya tidak semua perkawinan memenuhi rasio klasik
Hukum Mendel. Namun terjadi perubahan rasio pada fenotip. Perubahan rasio ini
terjadi akibat adanya interaksi antara gen yang satu dengan yang lainya serta
adanya penutupan ekspesi oleh pasangan gen lain atau epistasis.
Setelah penemuan Mendel dan penelitian awal tentang pewarisan sifat secara
bebas, diketahui bahwa tidak semua keturunan yang segregasi dapat dipisahkan
menjadi kelas kelas yang jelas dengan frekuensi yang sederhana. Keragaman
perbandingan genetika Mendel dapat dijelaskan berdasarkan adanya interaksi gen,
yaitu pengaruh satu gen terhadap gen lainnya. Akan tetapi dalam kehidupan
sehari-hari seringkali kita mengetahui bahwa cara diwariskannya sifat keturunan
tidak mungkin deterangkan dengan pedoman tersebut di atas, karena sulit sekali
disesuaikan dengan hukum-hukum mendel. Oleh karena itu, untuk membuktikan
ada tidaknya penyimpangan hukum Mendel, dilakukan praktikum interaksi gen.
Kenyataannya memang terjadi banyak penyimpangan yang tidak sesuai dengan
hukum Mendel. Hasil persilangan yang dilakukan memiliki jumlah fenotip yang
saman namun rasionya berbeda, hal ini yang sering disebut dengan penyimpangan
semu pada hukum Mendel. Penyimpangan-penyimpangan ini terjadi karena gen
yang berperan membentuk karakter justru saling berinteraksi dengan gen lain
yang menumbuhkan karakter.
B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui pola-pola modifikasi persilangan dua sifat atau lebih.
2. Menjelaskan penyebab suatu fenotipe hasil persilangan berbeda dengan
hukum Mendel.
C. Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengetahui pola-pola modifikasi persilangan dua sifat
atau lebih.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan penyebab suatu fenotipe hasil persilangan
berbeda dengan hukum Mendel.
BAB II
LANDASAN TEORI

Orang yang pertama mengadakan percobaan perkawinan silang ialah Gregor


Mendel, seorang rahib Australia yang hidup pada tahun 1822-1884, dan dia
dikenal sebagai pencipta atau Bapak Genetika. Beliau melakukan serangkaian
percobaan persilangan pada kacang ercis (Pisum sativum). Percobaan yang
dilakukannya selama bertahun-tahun tersebut, Mendel berhasil menemukan
prinsip-prinsip pewarisan sifat yang kemudian menjadi landasan utama bagi
perkembangan genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan (Suryo, 2008).
Keturunan yang dihasilkan oleh induknya banyak yang tidak dapat dianalisis
dengan cara Mendel sederhana, seperti dihibrid dan monohibrid. Oleh karena itu,
terjadi penyimpanagan semu pada hukum mendel. Penyimpangan semu hukum
mendel adalah penyimpangan yang tidak keluar dari hukum Mendel walaupun
terjadi perubahan pada rasio F2-nya karena genmemiliki sifat yang berbeda-beda
sehingga rasio fenotipe tidak sama dengan yang diuraikan oleh hukum Mendel
(Abdurrahman, 2008).
Penyimpangan semu hukum Mendel disebabkan oleh genetik dan interaksi
alel dimana alel-elel yang berasal dari gen yang berbada terkadang berinteraksi
dengan memunculkan perbandingan fenotipe yang tidak umum. Hal tersebut
menyebabkan dominasi suatu alel terhadap alel lain tidak selalu terjadi.
Contohnya interaksi bentuk pial pada ayam yang berbentuk rose dan walnut
(Yunus, dkk., 2006).
Penyimpangan semu hukum mendel memiliki lima bentuk, yaitu:
komplementer, polimer, epistatis, hipostatis dan kriptomeri.
1. Komplementer, merupakan bentuk gen yang saling melengkapi. Jika salah
satu gen tidak muncul, maka sifat yang dimaksud oleh gen tersebutjuga tidak
muncul atau muncul tidak sempurna. Berdasarkan hasil persilangan,
perbandingan penyimpangan semu ini adalah 9 : 7.
2. Polimer, adalah dua gen atau lebih yang menempati lokus yang berbeda tetapi
memiliki sifat yang sama. Berdasarkan hasil persilangan, penyimpangan
semu ini menghasilkan perbandingan 15 : 1.
3. Epistatis
Epistatis dan hipostatis saling berinteraksi. Epistatis merupakan sifat yang
menutupi, sedangkan hipostatis adalah sifat yang tertutupi.
a. Epistatis dominan, adalah adanya gen dminan yang menutupi (bersifat
epistatis). Perbandingannya 12 : 3 : 1.
b. Epistatis resesif, yaitu terdapat satu gen resesif yang bersifat epistatis.
Perbandingannya 9 : 3 : 4.
Kriptomeri, adalah suatu sifat tersembunyi pada induk dan akan muncul
pada keturunannya karena adanya dua gen dominan yang bertemu membentuk
sifat lain dan adanya satu gen yang bersifat epistatis. Perbandingan persilangan
ini 9 : 3 : 4 (Abdurrahman, 2008).
Hasil persilangan dari Mendel diantaranya setelah kering ada yang berbiji
keriput dan bulat, polong ada yang berwarna hijau dan kuning. Hasil tersebut
selama penyerbukan Mendel memperhatikan bahwa varietas-varietas tersebut
terus menerus menghasilkan keturunan yang identik dengan induknya (Kimball,
1983).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Kamis, 19 Oktober 2017
Waktu : Pukul 13.00 15.00 WITA.
Tempat : Laboratorium Biologi Lt.2 FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat:
a. Baling-baling Genetika 1 buah
b. Botol Aqua 500 ml 2 buah
c. Gabus/Sterofom 1 buah
2. Bahan:
a. Kertas
b. Pulpen
C. Prosedur Kerja

Siapkan baling-baling yang telah dibuat.

Lakukan pemutaran hingga 80 kali.


Tentukan mana yang bersifat dominan
dan resesif.
Catat dan masukan kedalam tabel Analisis hasil
simulasi persilangan dihibrid dengan rasio
fenotip F2 (9:3:3:1).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Tabel Dihibrid
NO FENOTIPE OBSERVED EXPECTED (O-E)2 (O-E)2/E
(O) (E)
1. A.B. 40 56,25 264,0625 4,694
2. A.bb 15 18,75 14,0625 0,75
3. aaB. 21 18,75 5,0625 0,27
4. aabb 4 16,66 160,2756 9,26
TOTAL 80 110,41 443,4631 15,334

Tabel Monohibrid
NO SEKS OBSERVED EXPECTED (O-E)2 (O-E)2/E
(O) (E)
1. Betina 8 9,75 3, 0625 0,3141025641
2. Jantan 5 3,25 3, 0625 0,3141025641
TOTAL 13 13 6,125 0,6282051282

B. Analisis Data
Dihibrid :
(Data obeserved(O)Data expected(E)) 2
2 = Data expected(E)

(4056,25) 2 (1518,75) 2 (2118,75) 2 (416,66) 2


2 = + + +
56,25 18,75 18,75 16,66

=15,334
keterangan:
2 = Nilai Chi-Square
E = Frekuensi yang teramati atau yang diteliti
O = Frekuensi harapan (menurut teori)
80 = Pengambilan putaran
Monohibrid :
(Data obeserved(O)Data expected(E)) 2
2 = Data expected(E)

(89,75) 2 (53,25) 2
2 = +
9,75 3,25

= 0,6282051282
keterangan:
2 = Nilai Chi-Square
E = Frekuensi yang teramati atau yang diteliti
O = Frekuensi harapan (menurut teori)
- Cara memperoleh Frekuensi harapan (O) :
Rasio Persamaan Dihibrid = 9 : 3 : 3 : 1
9
80 = 56,25
16
3
80 = 18,75
16
3
80 = 18,75
16
1
80 = 16,66
16

Rasio Persamaan Monohibrid = 3 : 1


3
13 = 9,75
4
1
13 = 3,25
4

- Menentukan letak Degrees of Freedom dengan menggunakan tabel Chi-


Square (2):
Data Dihibrid :
Df = N 1
=41
=3
- Pengujian Hipotesis
1) Jika, 2 hitung < 2 table, maka Tidak sesuai dengan Hukum Mendel
2) Jika, 2 hitung > 2 table, maka Sesuai dengan Hukum Mendel
Jawaban:
1) 2 hitung = 15,334 < 2 table = 16,27 (Tidak sesuai dengan Hukum
Mendel
Data Monohibrid :
Df = N 1
=21
=1
- Pengujian Hipotesis
1) Jika, 2 hitung < 2 table, maka Tidak sesuai dengan Hukum Mendel
2) Jika, 2 hitung > 2 table, maka Sesuai dengan Hukum Mendel
Jawaban:
1) 2 hitung = 0,6282051282 < 2 table = 1,07 (Tidak sesuai dengan
Hukum Mendel

Kriptomeri :
Hasil Pengamatan
No Genotip Fenotip Jumlah
1. AABB Antosianin Basa 4
2. AABb Antosianin Basa 8
3. AaBB Antosianin Basa 6
4. AaBb Antosianin Basa 22
5. AAbb Antosianin Tidak Basa 5
6. Aabb Antosianin Tidak Basa 10
7. aaBB Tidak ada Antosianin Basa 7
8. aaBb Tidak ada Antosianin Basa 14
9. aabb Tidak ada Antosianin Tidak Basa 4

Bunga merah : A = ada antosianin, b = tidak basa (asam)


Bunga putih : a = tidak ada antosianin , B = basa (alkali)

P1 : AAbb (merah) x aaBB (putih)


Gamet : Ab aB
F1 : AaBb (ungu)
P2 : AaBb (ungu) x AaBb (ungu)
Gamet : AB,Ab,aB,ab AB,Ab,aB,ab
F2 :

AB Ab aB ab
AB AABB (ungu) AABb (ungu) AaBB (ungu) AaBb (ungu)
Ab AABb (ungu) AAbb (merah) AaBb (ungu) Aabb (merah)
aB AaBB (ungu) AaBb (ungu) aaBB (putih) aaBb (putih)
ab AaBb (ungu) Aabb (merah) aaBb (putih) aabb (putih)

Faktor Basa (B) disebut sebagai faktor tersembunyi (Kriptomer) , faktor B


tidak akan muncul apabila tidak bertemu dengan faktor A yang juga dominan.
Munculnya warna ungu apabila A bertemu dengan B (Antosianin bertemu
dengan basa).
Antosianin Basa = ungu
Antosianin Tidak Basa = merah
Tidak Ada Antosianin Basa = putih
Tidak Ada Antosianin Tidak Basa = putih

Ungu = 40
Merah = 15
Putih = 25

Berdasarkan teori sebenarnya diperoleh fenotip F2 yang terdiri atas


warna :
Ungu : Merah : Putih = 9:3:4

Berdasarkan peristiwa penyimpangan semu Hukum Mendel


melalui praktikum dengan menggunakan dua baling-baling genetika
diperoleh perbandingan fenotip F2 :

Ungu : Merah : Putih = 9,2 : 2,67 : 4,1

Faktor yang kriptomer adalah faktor Basa (B) dan faktor B tidak
akan muncul apabila tidak bertemu dengan faktor A yang juga
dominan. Munculnya warna ungu apabila A bertemu dengan B
(Antosianin bertemu dengan basa).

Hasil Pengamatan
No Genotip Fenotip Jumlah
1. AABB Merah Bulat 4
2. AABb Merah Bulat 8
3. AaBB Merah Bulat 6
4. AaBb Merah Bulat 22
5. AAbb Merah Keriput 5
6. Aabb Merah Keriput 10
7. aaBB Putih Bulat 7
8. aaBb Putih Bulat 14
9. aabb Putih Keriput 4

P1 : AABB (merah bulat) x aabb (putih


keriput)
Gamet : AB ab
F1 : AaBb (merah bulat)
P2 : AaBb (merah bulat) x AaBb
(merah bulat)
Gamet : AB,Ab,aB,ab AB,Ab,aB,ab
F2 :
AB Ab aB ab
AABB AABb AaBB AaBb
AB
(Merah Bulat) (Merah Bulat) (Merah Bulat) (Merah Bulat)
AABb AAbb AaBb Aabb
Ab
(Merah Bulat) (Merah Keriput) (Merah Bulat) (Merah Keriput)
AaBB AaBb aaBB aaBb
aB
(Merah Bulat) (Merah Bulat) (Putih Bulat) (Putih Bulat)
AaBb Aabb aaBb aabb
ab
(Merah Bulat) (Merah Keriput) (Putih Bulat) (Putih Keriput)

Perbandingan Genotip 2
AABB : AABb : AaBB : AaBb : AAbb : Aabb : aaBB : aaBb :
aabb
4 : 8 : 6 : 22 : 5 : 10 : 7 : 14 : 4

Perbandingan Fenotip 2
Merah Bulat : Merah Keriput : Putih Bulat : Putih Keriput
40 : 15 : 21 : 4

C. Pembahasan
Penyimpangan semu hukum mendel adalah penyimpangan yang tidak keluar
dari hukum Mendel walaupun terjadi perubahan pada rasio F2-nya karena gen
memiliki sifat yang berbeda-beda sehingga rasio fenotipe tidak sama dengan yang
diuraikan oleh hukum Mendel (Abdurrahman, 2008). Penyimpangan semu hukum
Mendel disebabkan oleh genetik dan interaksi alel dimana Alel-elel yang berasal
dari gen yang berbada terkadang berinteraksi dengan memunculkan perbandingan
fenotipe yang tidak umum. Hal tersebut menyebabkan dominasi suatu alel
terhadap alel lain tidak selalu terjadi. Contohnya interaksi bentuk pial pada ayam
yang berbentuk rose dan walnut (Yunus, dkk, 2006).
Penyimpangan hukum Mendel yang disebabkan oleh interaksi gen memiliki
bentuk - bentuk tersendiri diantaranya komplementer, kriptomeri, epistasis,
hipostasis, dan polimeri.
1. Semi kodominsi
Dua alele (dominan dan resesif) menghasilkan hasil yang sama, kecuali
dalam keadaan tertentu, alele resesif tidak menghasilkan sesuatu. Heterozigot
menghasilkan jumlah yang lebih sedikit dari homozigot dominan, tetapi lebih
banyak dari homozigot resesif. Artinya pada semi kodominasi gen dominan tidak
menutupi pengaruh alel resesifnya dengan sempurna, sehingga muncul sifat antara
(intermedier), makaindividu heterozigot memiliki fenotipe yang berbeda dengan
fenotipe individu homozigot dominan. Akibatnya, pada generasi F2 didapatkan
nisbah 1 : 2 : 1.
Contoh pada gen yang mengatur warna bunga pukul empat.
P1 : RR x rr
merah putih

F1 : Rr
merah muda
F2 : 1 RR : 2 Rr : 1 rr
merah merah muda putih
2. Kodominasi
Dua alele menghasilkan produk berbeda yang kerjanya berlainan dan dapat
diketahui pada heterozigot. Suatu contoh alele kodominan yaitu alele yang
menghasilkan hemoglobin dalam sistem golongan darah ABO pada manusia.
Darah mengandung antigen A dan B.Seperti halnya semi dominansi, kodominansi
menghasilkan nisbah fenotipe 1 : 2 : 1 pada generasi F2. Tetapi pada kodominansi
tidak memunculkan sifat antara pada individu heterozigot, tetapi merupakan hasil
ekspresi masing-masing alel, kedua alel akan sama-sama diekspresikan dan tidak
saling menutupi.
Peristiwa kodominansi pada pewarisan golongan darah sistem ABO pada
manusia. Gen IA dan IB menyebabkan terbentuknya antigen A dan antigen B.
Pada golongan darah (genotipe IAIB) terdapat antigen A dan antigen B yang
diekspresikan pada individu heterozigot tersebut. Perkawinan antara laki-laki dan
perempuan yang bergolongan darah AB akan menghasilkan keturunan sebagai
berikut ;
IAIB x IAIB

1 IAIA (golongan darah A)
2 IAIB (golongan darah AB)
1 IBIB (golongan darah B)
Golongan darah A : AB : B = 1 : 2 : 1
3. Gen Letal
Gen letal merupakan alele yang menghasilkan suatu produk, atau tidak ada
produk yang dihasilkan, dan menghalangi suatu individu untuk berkembang biak
atau menyebabkan kematian. Gen letal terdiri dari gen letal dominan dan gen letal
resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek
subletal atau kelainan fenotipe, sedangkan gen letal resesif cenderung
menghasilkan fenotipe normal pada individu heterozigot.
Contoh gen letal yaitu pada kedelai. Kedelai dengan gen resesif tidak
mampu membentuk klorofil, sehingga tanaman akan mati.
Gg x Gg
Hijau Hijau
1 GG 2 Gg 1 gg
Hijau Hijau Albino (mati)
Interaksi antar alele pada lokus yang berbeda yaitu pengruh suatu gen pada
suatu lokus terhadap penampakan (ekspresi) gen pada lokus lain ; mungkin ada
interaksi antar kedua gen atau tekanan terhadap penampakan gen yang lain.
Umpama ada dua pasang gen yang memisah secara bebas tetapi saling interaksi.
Pada banyak peristiwa interaksi nisbah yang diharapkan 9:3:3:1 akan berubah
(Crowder, 2006).
Gen Koepistatik yaitu apabila dua gen yang bukan alelenya (pada lokus
yang berbeda) kerjanya berlainan, seperti pada alele kodominan. Contohnya
adalah persilangan antar jengger mawar dn jengger kacang menghasilkan fenotipe
baru yaitu tipe walnut dan nisbahnya 9:3:3:1. Ini dapat digambarkan sebagai
berikut :
P1 : RRpp x rrPP
Rose Pea
RpRp
Walnut
F2 : 9 R-P- : 3 R-pp : 3 rrP- : 1 rrpp
Epistasi merupakan penutupan ekspresi suatu gen oleh gen lain yang bukan
alelnya. Gen yang menutupi disebut epistasis, dan yang ditutupi disebut
hipostasis.
Epistasis dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Epistasis dominan
Menurut Crowder (2006), pada peristiwa epistasis dominan terjadi
penutupan ekspresi gen oleh suatu gen dominan yang bukan alelnya.
Perbandingan fenotipe pada generasi F2 dengan adanya epistasis dominan adalah
12 : 3 : 1.Peristiwa epistasis dominan dapat dilihat misalnya pada pewarisan
warna buah waluh besar (Cucurbita pepo). Terdapat gen Y yang menyebabkan
buah berwarna kuning dan alelnya y yang menyebabkan buah berwarna hijau.
Selain itu, ada gen W yang menghalangi pigmentasi dan w yang tidak
menghalangi pigmentasi. Persilangan antara waluh putih (WWYY) dan waluh
hijau (wwyy) menghasilkan nisbah fenotipe generasi F2 sebagai berikut :
P : WWYY x wwyy
putih hijau
F1 : WwYy
Putih
F2 : 9W-Y- :3 W-yy : 3 wwY- : 1 wwyy
Putih putih kuning Hijau
: 12 3 1
Putih Kuning Hijau
2. Epistasis resesif
Menurut Crowder (2006), peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu gen
resesif menutupi ekspresi gen lain yang bukan alelnya. Akibat peristiwa ini, pada
generasi F2 akan diperoleh nisbah fenotipe 9 : 3 : 4. Contoh epistasis resesif dapat
dilihat pada pewarisan warna bulu mencit(Mus musculus). Ada dua pasang gen
nonalelik yang mengatur warna bulu pada mencit, yaitu gen A menyebabkan bulu
berwarna kelabu, gen a menyebabkan bulu berwarna hitam, gen C menyebabkan
pigmentasi normal, dan gen c menyebabkan tidak ada pigmentasi. Persilangan
antara mencit berbulu kelabu (AACC) dan albino (aacc) dapat digambarkan
seperti pada diagram berikut ini :
P : AACC x aacc
Kelabu albino
AaCc
Kelabu
F2 : 9 A-C- 3 A-cc 3 aaC- 1 aacc

Kelabu albino hitam albino

9 3 4

Kelabu Hitam Albino

3. Epistasis Dominan-Resesif
Menurut Crowder (2006), epistasis dominan-resesif terjadi apabila gen
dominan dari pasangan gen I epistatis terhadap pasangan gen II yang bukan
alelnya, sementara gen resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap
pasangan gen I. Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 13 : 3 pada generasi
F2.
Contoh peristiwa epistasis dominan-resesif dapat dilihat pada pewarisan
warna bulu ayam ras. Dalam hal ini terdapat pasangan gen I, yang menghalangi
pigmentasi, dan alelnya, i, yang tidak menghalangi pigmentasi. Selain itu,
terdapat gen C, yang menimbulkan pigmentasi, dan alelnya, c, yang tidak
menimbulkan pigmentasi. Gen I dominan terhadap C dan c, sedangkan gen c
dominan terhadap I dan i.
P : IICC x iicc
Putih putih
IiCc
Putih
F2 : 9 I-C- : 3 I-cc : 3 iiC- : 1 iicc

Putih putih berwarna putih


F2 : 13 : 1
Putih Berwarna
Misalnya pada persilangan bunga Linaria maroccana merah (Aa) dengan
bunga Linaria maroccana putih (Bb). Apabila kedua alel dominan A dan B ada
dalam satu induvidu (AB) maka warna bunga ungu. Apabila alel dominan saja
yang ada sedang gen interaksinya hanya alel resesif b-nya yang ada (Ab) maka
bunga akan berwarna merah. Apabila alel A dominan tidak ada dan alel B ada
atau tidak ada maka warna bunga putih semua. Oleh karena itu hasil F2 fenotipnya
yaitu terdiri dari 3 kelas diantaranya warna ungu, merah, dan putih, dengan
perbandingan 9:3:4. Epistasis dan hipostasis, epistasis merupakan peristiwa
dimana suatu gen menutupi atau mengalahkan pengaruh gen dominan lainnya
yang tidak sealel. Epistasi terbagi menjadi beberapa macam diantaranya epistasis
resesif merupakan dua pasang gen dominan yang lengkap tetapi gen resesif pada
satu lokus menekan penampakan pada lokus lain, epistasis dominan merupakan
dua pasang gen dominan lengkap yang memiliki fungsi mengatur sifat yang sama
tetapi satu alel dominan pada satu lokus dapat menghasilkan fenotip tertentu dan
tidak tergantung gen pada lokus lain dominan atau resesif, epistasis resesif ganda
merupakan dua gen homozigot resesif yang menghasilkan keturunan fenotip yang
sama, dan yang terakhir epistasis dominan dan resesif merupakan satu gen
dominan dalam satu lokus dan homozigot resesif dalam lokus yang lain bersifat
epistatik (Campbell, 2001).
Penyimpangan hukum Mendel sangat bermanfaat dalam kehidupan.
Penyimpangan hukum Mendel bermanfaat dalam banyak bidang salah satunya
yaitu dalam bidang pertanian. Manfaat dari penyimpangan hukum Mendel
diantaranya adalah kita dapat mengetahui berbagai macam variasi keturunan yang
baru, dapat juga mengetahui pengaruh dari gen pengubah (modifying gen), dan
dengan mempelajari penyimpangan hukum Mendel kita dapat mengetahui
pengaruh lingkungan yang bermacam-macam yang dapat mempengaruhi
penampakan gen dan modifikasi perkembangan sifat yang nampak pada makhluk
hidup. Itulah mengapa kita harus mempelajari hukum Mendel karena jika kita
melihat seluruhnya maka kita dapat menyimpulkan bahwa ada hubungan antara
hukum Mendel dengan dunia pertanian sendiri seperti yang sudah saya jelaskan
diatas. Hasil akhir yang diperoleh dengan meneggunakan uji Chi Squere yaitu
15.334 untuk data dihibrid, kemudian dibandingan dengan X2tabel, menghasilkan
kesimpulan X2hitung < X2tabel, tidak signifikan artinya pengujian tidak sesuai dengan
perbandingan harapan. Hasil ini didapatkan karena kemungkinan saat melakukan
pengambilan pemutaran baling-baling genetika yang tidak homogeny sehingga
data yang didapat tidak akurat.

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa
penyimpangan hukum Mendel disebabkan oleh genetik dan interaksi alel dimana
alel-elel yang berasal dari gen yang berbeda terkadang berinteraksi dengan
memunculkan perbandingan fenotipe yang tidak umum. Penyimpangan hukum
Mendel meliputu komplementer, kriptomeri, polimeri, epistatis dan hipostatis.
Penyimpangan semu hukum mendel adalah penyimpangan yang tidak keluar dari
hukum Mendel walaupun terjadi perubahan pada rasio F2-nya karena gen memiliki
sifat yang berbeda-beda sehingga rasio fenotipe tidak sama dengan yang diuraikan
oleh hukum Mendel
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Deden.et al. 2008.Biologi Kelompok Pertanian. Grafindo Media


Pratama.Bandung.

Campbell, dkk. 2001. Biologi Jilid I Edisi Kedelapan. Erlangga. Jakarta.

Crowder. 2006. Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Kimball, John W. 1994. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

Suryo. 2008. Genetika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Yunus, Rosman.et al. 2006.Teori Darwin dalam Pendangan Sains dan Islam.
Prestasi.Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai