Anda di halaman 1dari 13

2.2.

Proses Metabolisme Protein

2.2.1. Pencernan dan Absorbsi Asam Amino


Protein dari makanan adalah sumber utama nitrogen terfiksasi bagi hewan
tingkat tinggi. Dalam pencernaan , protein di hidrolisis oleh serangkainan enzim
hidrolisis dalam perut dan usus halus menjadi peptida dan asam amino yang diserap
dari lumen pada jalur gastrointestinal. Enzim enzim ini dikenal sebagai enzim
proteolitik atau protease yang termasuk dalam kelompok enzim yang disebut
hidrolase.
Protein dalam makanan tidak dapat diserap oleh mukosa usus, akan tetapi
setelah dalam bentuk asam amino dapat diserap dengan baik.
1. Pencernaan protein di mulut: secara mekanis, sedangkan secara enzimatis
belum.
2. Pencernaan protein di lambung: sel mukosa lambung yaitu sel parietal
(Chief cell) mensekresikan asam lambung (HCl), sedangkan sel zymogen
mensekresikan proenzim pepsinogen. Proenzim pepsinogen oleh HCl
diaktifkan menjadi enzim pepsin. Protein setelah didenaturasi (dirusak) oleh
HCl, kemudian dihidrolisis oleh enzim pepsin menjadi peptida sederhana.
3. Pencernaan di usus halus: cairan pankreas mengandung proenzim
trypsinogen dan chymotrypsinogen. Proenzim trypsinogen dan
chymotrypsinogen diaktifkan menjadi enzim trypsin dan chymotrypsin oleh
enzim enterokinase yang dihasilkan oleh sel-sel mukosa usus halus. Enzim
trypsin dan chymotrypsin berperan memecah polipeptida menjadi peptida
sederhana. Selanjutnya peptide tersebut dipecah menjadi asam amino oleh
enzim peptidase (erepsin). Enzim peptidase dapat dibedakan menjadi 2
macam berdasarkan aktivitasnya yaitu enzim aminopeptidase memecah
gugus amina dari polipeptida dan karboksipeptidase memecah gugus
karboksil dari polipeptida. Nuklease memecah asam nukleat (DNA dan
RNA) menjadi nukleotida.
4. Absorpsi protein: setelah menjadi asam amino selanjutnya diabsorpsi
dengan cara difusi fasilitasi melalui mukosa yeyenum dan ileum. Asam
amino yang berasal dari makanan (diet) dan dari pemecahan protein tubuh
selanjut dibawa oleh sirkulasi darah ke dalam amino acid pool (gudang
penimbunan asam amino) yaitu darah dan cairan jaringan (interseluler).
Asam amino selanjutnya digunakan untuk: biosintesis protein tubuh di
dalam ribosom, mengganti jaringan yang rusak, dan jika diperlukan dapat
diubah menjadi sumber energi.

2.2.2. Transaminasi dan Deaminasi


Dalam metabolisme asam-amino ada dua macam reaksi yang penting dan
hampir selalu terlibat, baik dalam katabolisme maupun anabolisme asam amino,
yaitu reaksi transminasi dan deaminasi. Kedua reaksi ini merupakan cara tubuh untk
membuang atau memindahkan gugus amina dari asam-asam amino, sehingga akan
diperoleh asam asam keto pasangannya, atau sebaliknya. Dalam reaksi transminasi,
gugus amina akan dipindahkan dari asam amino ke asam keto, sehingga asam
amino semula akan berubah menjadi keto dan sebaliknya asam keto semula akan
berubah menjadi asam amino.
Ada dua enzim transsaminase utama yang berperan dalam metabolisme
asam asam amino, yaitu GOT (glutamat Oksaloasetat transaminase) yang disebut
juga aspartat aminotransfetse , dan GP (Glutamat Piruvat Transaminase) atau yang
di sebut juga alanin aminotransferase.
Enzim GPT (alanin transaminase) memiliki peran penting dalam ekstrasi
nitrogen dari sel sel otot rangka. Nitrogen yang berasal dari asam asam amino yang
dikatabolisme di otot rangka diinkoorporasikan ke dalam asam piruvat, yang
sebagian besar merupakan hasil glikolisis, melalui reaksi transaminasi dengan
katalisator enzim GPT membentuk alanin. Kemudian alanin di angkut kehati
melalui sirkulasi darah di dalam sel-sel hati alanin akan melepaskan gugus amino
tersebut , juga melalui reaksi transaminasi yang dikatalisis oleh GPT, dan kembali
membentuk piruvat yang dapat digunakan kembali membentuk glukosa-alanin.
Dalam reaksi deaminasi, gugus amina akan dikeluarkan sebagai NH3 atau
NH4+. Ada beberapa enzim deaminase yang bekerja spesifik hanya untuk asam
asam amino tertentu saja, oleh sebab itu perannya tidak seluas dan dapat dikatakan
tidak vital. Satu-satunya enzim deaminase yang terdapat sangat berlimpah didalam
sel sel di hati dan memiliki peran vital dan meluas dalam metabolisme asam asam
amino adalah glutamat dehidrogenase. Enzim ini bekerja melepaskan gugus amina
dari asam glutamat dengan NAD atau NADP sebagaikofaktor.
Transaminasi adalah proses perubahan asam amino menjadi jenis asam
amino lain. Proses transaminasi didahului oleh perubahan asam amino menjadi
bentuk asam keto, secara skematik digambarkan sebagai berikut:
Alanin + -ketoglutarat piruvat + glutamat
Transaminasi terjadi pada berbagai jaringan. Selain itu, transaminasi juga
terjadi di dalam sirkulasi darah akibat adanya kerusakan pada jaringan karena
proses patologik, sebagai contoh SGOT (serum glutamic-oxaloacetic
transaminase) yang
meningkat akibat infark miokard (kerusakan otot jantung karena adanya sumbatan
pembuluh darah yang mensuplai kebutuhan otot jantung).
Deaminasi oksidatif adalah proses pemecahan (hidrolisis) asam amino
menjadi asam keto dan ammonia (NH4+), secara skematik digambarkan sebagai
berikut:

1. Deaminasi menghasilkan 2 senyawa penting yaitu senyawa nitrogen dan


non nitrogen.
2. Senyawa nonnitrogen yang mengandung gugus C, H, dan O selanjutnya
diubah menjadi asetil Co-A untuk sumber energi melalui jalur siklus Krebs
atau disimpan dalam bentuk glikogen.
3. Senyawa nitrogen dikeluarkan lewat urin setelah diubah lebih dahulu
menjadi ureum (diagram 2).
4. Proses deaminasi kebanyakan terjadi di hati, oleh karena itu pada gangguan
fungsi hati (liver) kadar NH3 meningkat. Pengeluaran (ekskresi) urea
melalui ginjal dikeluarkan bersama urin.
2.2.3. Metabolisme Amonia di Hati
Amonia merupakan produk dari reaksi deaminasi oksidatif yang bersifat
toksik. Pada manusia, kegagalan salah satu jenjang pada siklus urea dapat berakibat
fatal, karena tidak terdapat lintasan alternatif untuk menghilangkan sifat toksik
tersebut selain mengubahnya menjadi urea. Defisiensi enzimatik pada siklus ini
dapat mengakibatkan simtoma hiperamonemia yang dapat berujung pada kelainan
mental, kerusakan hati dan kematian. Sirosis pada hati yang diakibatkan oleh
konsumsi alkohol berlebih terjadi akibat defisiensi enzim yang menghasilkan
Sarbamil fosfat pada jenjang reaksi pertama pada siklus ini. Ikan mempunyai rasio
amonia yang rendah di dalam darah, karena amonia diekskresi sebagai gugus amida
dalam senyawa glutamina. Reaksi hidrolisis pada glutamina akan menkonversinya
menjadi asam glutamat dan melepaskan gugus amonia. Sedangkan manusia hanya
mengekskresi sedikit sekali amonia, yang dikonversi oleh asam di dalam urin
menjadi ion NH4+, sebagai respon terhadap asidosis karena amonia memiliki
kapasitas seperti larutan penyangga yang menjaga pH darah dengan menetralkan
kadar asam yang berlebih (Poedjiadi, 1994).
Krebs dan Henseleit menemukan bahwa kecepatan pembentukan urea dari
ammonia oleh irisan tipis hati yang disuspensikan di dalam medium buffer aerobic
dipercepat oleh penambahan salah satu dari tiga senyawa spesifik, ornitin, sitrulin,
atau arginin.
Arginin tentunya merupakan salah satu asam amino baku yang ditemukan
pada protein. Walaupun ornitin dan sitrulin juga merupakan asam -amino,
golongan ini tidak terdapat sebagai unit pembangun molekul protein. Ketiga
senyawa ini merangsang aktivitas sintesis urea jauh melampaui aktivitas senyawa
bernitrogen umum lainnya yang diuji. Struktur ketiga senyawa aktif ini
memperlihatkan bahwa ketiganya mungkin berhubungan satu sama lain dalam satu
urutan, dengan ornitin sebagai pemula sitrulin dan selanjutnya sitrulin menjadi
pemula arginin. Arginin telah lama diketahui dapat terhidrolisa menjadi ornitin dan
urea oleh kerja enzim arginase (Faqih, 2012).
Krebs menyimpulkan bahwa suatu proses siklik terjadi, dengan ornitin
memegang peranan serupa dengan oksalaasetat di dalam siklus asam sitrat. Molekul
ornitin bergabung dengan satu molekul NH3 dan satu CO2 membentuk sitrulin.
Molekul kedua ammonia ditambahkan ke sitrulin, membentuk arginin, yang lalu
terhidrolisis menghasilkan urea, dengan pembentukan kembali molekul ornitin.
Semua organisme yang mampu melakukan biosintesis arginin dapat mengkatalisis
reaksi-reaksi ini sampai ke titik arginin, tetapi hanya hewan ureotelik yang
dilengkapi sejumlah besar enzim arginase, yang mengkatalisis hidrolisis tak dapat
balik arginin, membentuk urea dan ornitrin. Ornitrin yang diregenerasi ini lalu siap
untuk memulai putaran selanjutnya siklus urea ini (Strayer, 1995).
Ammonia bersifat toksik, jadi tidak diangkut dalam bentuk bebas dari
jaringan ekstrahepatik. Mekanisme utama yang terjadi pada kebanyakan jaringan
adalah glutamin sintetase akan mengubah ammonia menjadi glutamin yang
nontoksik.
glu + NH4+ + ATP Glutamin Sintase gln + H2O + ADP + Pi
Glutamin didapat dari a-ketoglutarat (tca cycle) melalui reaksi transaminasi
dengan asam amino lain. Glutamin diangkut dlm darah kehati, ginjal dan gut
(usus). Dalam hati glutamin dihidrolisis untuk melepas ammonia yg akan masuk
siklus urea
gln +H2O Glutaminase glu + NH 4+

2.2.4. Tahapan Siklus Urea di Hati


Hans Krebs dan Kurt Henseleit pada tahun 1932 mengemukakan serangkain
reaksi kimia proses pembentukan urea. Mereka berpendapat urea terbentuk dari
amonia dan karbondioksida melalui serangkaian reaksi yang berupa siklus (siklus
urea). Pembentukan urea ini terutama terjadi di hati karena enzim-enzim yang
bekerja sebagai katalis terutama terdapat pada mitokondianya. Urea adalah suatu
senyawa yang mudah larut dalam air, bersifat netral, yang mana terdapat dalam
urine (Poedjiadi, 1994).
Siklus Urea terdiri atas beberapa tahap kompleks. Gugus amino pertama
yang memasuki siklus urea muncul dalam bentuk ammonia bebas, oleh deasimenasi
oksidatif glutamate di dalam mitokondria sel hati. Reaksi ini dikatalisis oleh
glutamate dehidrogenase, yang memerlukan NAD+.
Glutamat- + NAD+ + H2O -ketoglutarat2- + NH4+ + NADH + H+
Gugus-gugus amin dilepaskan menjadi ion amonium (NH4+) yang
selanjutnya dibuang melalui ginjal berupa urin. Proses yang terjadi di dalam siklus
urea digambarkan terdiri atas beberapa tahap yaitu:
1. Dengan peran enzim karbamoil fosfat sintase I, ion amonium bereaksi
dengan CO2 menghasilkan karbamoil fosfat. Dalam raksi ini diperlukan
energi dari ATP
2. Dengan peran enzim ornitin transkarbamoilase, karbamoil fosfat bereaksi
dengan L-ornitin menghasilkan L-sitrulin dan gugus fosfat dilepaskan
3. Dengan peran enzim argininosuksinat sintase, L-sitrulin bereaksi dengan L-
aspartat menghasilkan L-argininosuksinat. Reaksi ini membutuhkan energi
dari ATP
4. Dengan peran enzim argininosuksinat liase, L-argininosuksinat dipecah
menjadi fumarat dan L-arginin
5. Dengan peran enzim arginase, penambahan H2O terhadap L-arginin akan
menghasilkan L-ornitin dan urea.

Reaksi dari siklus urea yaitu:


1. Reaksi pada sintesis karbamil fosfat
Amonia bebas yang terbentuk segera dipergunakan, bersama-sama dengan
karbon dioksida yang dihasilkan di dalam mitokondria oleh respirasi, untuk
membentuk karbamoil fosfat di dalam matriks, pada suatu reaksi yang bergantung
kepada ATP, yang dikatalisis oleh enzim karbamoil fosfat sintetase I. Angka
Romawi ini menunjukkan bentuk mitokondria enzim ini, untuk membendakannya
dari bentuk sitosolnya (II). Dalam reaksi pembentukan karbamil fosfat ini, satu mol
ammonia bereaksi dengan satu mol karbondioksida dengan bantuan enzim
karbamilfosfat sintetase. Reaksi ini membutuhkan energy, karenanya reaksi ini
melibatkan dua mol ATP yang diubah menjadi ADP. Disamping itu sebagai
kofaktor dibutuhkan Mg2+ dan N-asetil-glutamat.
Karbamoil fosfat sintetase I merupakan enzim pengatur, enzim ini
memerlukan N-asetilglutamat sebagai modulator positif atau perangsangnya.
Karbamoil fosfat merupakan senyawa berenergi tinggi, molekul ini dapat
dipandang sebagai suatu pemberi gugus karbamoil yang telah diaktifkan.
Perhatikan bahwa gugus fosfat ujung dari dua molekul ATP dipergunakan untuk
membentuk satu molekul karbamoil fosfat (Strayer, 1995).
2. Reaksi pada pembentukan siturulin 11
Pada tahap selanjutnya dari siklus urea, karbamoil fosfat memberikan
gugus karbamoilnya kepada ornitin untuk membentuk sitrulin dan membebaskan
fosfatnya, dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh ornitin transkarbamoilase yang
terdapat pada bagian mitokondria sel hati, yakni enzim mitokondria yang
memerlukan Mg2+.
Karbamoil fosfat + ornitin sitrulin + Pi + H+
Sitrulin yang terbentuk sekarang meninggalkan mitokondria dan menuju
ke dalam sitosol sel hati. Gugus amino yang kedua sekarang datang dalam bentuk
L-aspartat, yang sebaliknya diberikan dari L-glutamat oleh kerja aspartat
transaminase.
Oksalasetat + L-glutamat L-aspartat + -ketoglutarat
L-Glutamat tentunya menerima gugus amino dari kebanyakan asam amino
umum lainnya oleh transaminasi menjadi -ketoglutarat. Pemindahan gugus amino
kedua ke sitrulin terjadi dengan reaksi pemadatan di antara gugus amino aspartat
dan karbon karbonil sitrulin dengan adanya ATP, untuk membentuk
agininosuksinat. Reaksi ini dikatalisa oleh arginosuksinat sintetase sitosol hati,
suatu enzim yang tergantung kepada Mg2+ (Faqih, 2012).
3. Reaksi pada asam argininosuksinat 12
Selanjutnya siturulin bereaksi dengan asam aspartat membentuk asam
argininosuksinat. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim
argininosuksinat sintese. Dalam reaksi tersebut ATP merupakan sumber energy
dengan jalan melepaskan gugus fosfat dan berubah menjadi AMP (Faqih, 2012).
Sitrulin + aspartat + ATP argininosuksinat + AMP + PPi + H+
Hubungan Antar organ
Tubuh manusia memiliki mekanisme detoksifikasi yang mengeluarkan
racun-racun dari dalam tubuh. Liver berfungsi sebagai pusat detoksifikasi alamiah
yang mampu menetralisirkan semua racun di dalam tubuh. Liver, organ paling
utama dalam proses detoks di dalam tubuh, melakukan detoksifikasi setiap hari
(Aryati, 2009). Detoksifikasi adalah sebuah untuk membersihkan tubuh dengan
menghilangkan racun yang mengendap dalam tubuh. Tanpa kita sadari, dalam
kehidupan sehari-hari, banyak sekali racun (toxin) yang menyerang tubuh kita.
Racun yang masuk ke dalam tubuh kita biasanya berasal dari luar tubuh (exotoxin),
baik yang masuk mulut atau dari makanan maupun dari hidung berupa udara.
Detoksifikasi secara alamiah dilakukan tubuh untuk mengusir penyakit
keluar tubuh melalui cairan keringat, tinja, urine juga pernapasan. Di samping
mengusir racun keluar dari tubuh, detoksifikasi juga berguna untuk meningkatkan
imunitas dan membuat kulit mulus. Zat-zat yang bersifat racun berasal dari ampas
makanan karena tidak tercena dengan baik, zat makanan aditif, alkohol, udara
tercemar bahkan pikiran dan emosi negatif harus dikeluarkan segera dari dalam
tubuh. Zat-zat tadi bersifat racun karena itu secara teratur setiap hari dibuang
melalui sistem pembuangan tubuh.
a. Otot
Alanin dan glutamin merupakan 50% dari total nitrogen asam amino
yang dilepaskan dari jaringan otot. Sebaliknya otot secara konsisten mengambil
sejumlah kecil serin, sistein, dan glutamat dari sirkulasi darah
b. Hati dan Usus
Hati dan usus (jaringan splanknikus) secara konsisten mengambil dari
darah sejumlah besar alanin dan glutamin, asam-asam amino utama yang
dilepaskan oleh otot. Hati merupakan tempat primer pengambilan alanin, sementara
usus untuk pengambilan glutamin. Dalam usus, kebanyakan gugus amino pada
glutamin dilepaskan dari jaringan tersebut dalam bentuk alanin atau amonia bebas.
Serin juga diekstraksi baik oleh jaringan splanknikus maupun jaringan otot (Strayer,
1995).
c. Ginjal
Ginjal merupakan sumber utama pelepasan serin, selain itu ginjal
melepaskan alanin dalam jumlah sedikit tapi cukup berarti. Ginjal mengambil
glutamin, prolin, dan glisisn dari sirkulasi darah.
d. Otak
Pengambilan valin oleh otak melampaui pengambilan asam amino lainnya,
dan kemampuan otak tikus untuk mengoksidasi asam-asam amino rantai cabang
(leusin, isoleusin, dan valin) sedikitnya 4 kali lebih besar daripada kemampuan otot
maupun hati (Strayer, 1995).
NH3 dihasilkan dari hasil katabolisme nitrogen asam amino di jaringan
tubuh, dan hasil kerja bakteri usus terhadap sisa protein/ asam amino dalam
makanan dan urea dalam sekresi usus. Akibatnya kadar ammonia dalam vena porta
lebih besar dibandingkan di dalam darah sistemik. Ammonia akan diubah menjadi
urea di hati. Pada cirrhosis hati kadar ammonia darah meningkat, apalagi bila
disertai perdarahan gastrointestinal. Ammonia bersifat toksik terutama pada sistem
saraf: terjadi gangguan penglihatan, gangguan bicara, flapping tremor, coma
sampai kematian. Sedangkan pada kerusakan ginjal berat: terjadi uremia (kadar
ureum meningkat) (Martoharsono,1976).
Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat
yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun
demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak
menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna empedu
adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan
disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi urobilinogen
yang berguna memberi warna pada tinja dan urin.Asam urat merupakan sisa
metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai
daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air
rendah (Sherwood,2001).

2.2.5. Siklus Glukosa-Alanin


Alanin dipindahkan ke sirkulasi oleh berbagai jaringan, tetapi umumnya
oleh otot. Alanin dibentuk dari piruvat. Hati mengakumulasi alanin plasma,
kebalikan transaminasi yang terjadi di otot dan secara proporsional meningkatkan
produksi urea. Alanin dipindahkan dari otot ke hati bersamaan dengan transportasi
glukosa dari hati kembali ke otot. Proses ini dinamakan siklus glukosa-alanin. Fitur
kunci dari siklus ini adalah bahwa dalam 1 molekul, alanin, jaringan perifer
mengekspor piruvat dan amonia ke hati, di mana rangka karbon didaur ulang dan
mayoritas nitrogen dieliminir.
Ada 2 jalur utama untuk memproduksi alanin otot yaitu:
1. Secara langsung melalui degradasi protein
2. Melalui transaminasi piruvat dengan bantuan enzim alanin transaminase,
ALT (juga dikenal sebagai serum glutamat-piruvat transaminase, SGPT).
Glutamat + piruvat -ketoglutarat + alanin

2.2.6. Metabolisme Asam Amino untuk Masuk Siklus Krebs


Metabolisme protein dimulai setelah protein di pecah menjadi asam amino.
Asam amino akan memasuki siklus TCA bila dibutuhkan sebagai sumber energi
atau bila berada dalam jumlah berlebih dari yang di butuhkan untuk sintesisi protein
. mula-mula asam amino akan mengalami deaminase , yaitumelepas gugus amino.
Proses ini memerlukan vitamin B6 dalam bentuk PLP. Asam aminokemudian
dikatabolisme melalui tiga cara . Kira-kira separuh dari asam amino yaitu alanin,
serin, glisin, sistein, metionin, dan triptofan diubah menjadi piruvat. Kurang lebih
lebih separuh lagi yaitu fenilalainin, tirosin, leusin,isoleusin,dan lisin, seperti asam
lemak diubh menjadi asetil KoA. Sisa asam amino kecuali asam aspartat diubah
menjadi asam glutamat , dideminase dan langsung memasuki siklus TCA.
2.2.7. Katabolisme Asam Amino
Jalur metabolik utama dari asam-asam amino terdiri atas tiga jalur, pertama
produksi asam amino dari pembongkaran protein tubuh, digesti protein diet serta
sintesis asam amino di hati. Kedua, pengambilan nitrogen dari asam amino.
Sedangkan ketiga adalah katabolisme asam amino menjadi energi melalui siklus
asam serta siklus urea sebagai proses pengolahan hasil sampingan pemecahan asam
amino. Keempat adalah sintesis protein dari asam-asam amino.
Reaksi metabolisme asam amino melalui proses pelepasan gugus amino dan
kemudian baru perubahan kerangka karbon pada molekul asam amino. Proses
pelepasan gugus amino tersebut meliputi reaksi transaminasi dan deaminasi.
Transaminasi merupakan proses katabolisme asam amino yang melibatkan
pemindahan gugus amino dari satu asam amino pada asam amino lain. Asam amino
tersebut dipindahkan pada salah satu dari tiga senyawa keto (asam piruvat,
ketoglutarat atau oksaloasetat) sehingga senyawa keto tersebut diubah menjadi
asam amino. Deaminasi oksidatif pelepasan amin dari glutamat menghasilkan ion
ammonium.

2.2.8. Anabolisme asam amino non essensial


Semua jaringan memiliki kemampuan untuk men-sintesis asam amino non
esensial, melakukan remodeling asam amino, serta mengubah rangka karbon non
asam amino menjadi asam amino dan turunan lain yang mengandung nitrogen.
Tetapi, hati merupakan tempat utama metabolisme nitrogen. Dalam kondisi surplus
diet, nitrogen toksik potensial dari asam amino dikeluarkan melalui transaminasi,
deaminasi dan pembentukan urea. Rangka karbon umumnya diubah menjadi
karbohidrat melalui jalur glukoneogenesis, atau menjadi asam lemak melalui jalur
sintesis asam lemak. Berkaitan dengan hal ini, asam amino dikelompokkan menjadi
3 kategori yaitu asam amino glukogenik, ketogenik serta glukogenik dan ketogenik.
Asam amino glukogenik adalah asam-asam amino yang dapat masuk ke
jalur produksi piruvat atau intermediat siklus asam sitrat seperti -ketoglutarat atau
oksaloasetat. Semua asam amino ini merupakan prekursor untuk glukosa melalui
jalur glukoneogenesis. Semua asam amino kecuali lisin dan leusin mengandung
sifat glukogenik. Lisin dan leusin adalah asam amino yang semata-mata ketogenik,
yang hanya dapat masuk ke intermediat asetil KoA atau asetoasetil KoA
Sekelompok kecil asam amino yaitu isoleusin, fenilalanin, threonin,
triptofan, dan tirosin bersifat glukogenik dan ketogenik. Akhirnya, seharusnya kita
kenal bahwa ada 3 kemungkinan penggunaan asam amino. Selama keadaan
kelaparan pengurangan rangka karbon digunakan untuk menghasilkan energi,
dengan proses oksidasi menjadi CO2 dan H2O.
Dari 20 jenis asam amino, ada yang tidak dapat disintesis oleh tubuh kita
sehingga harus ada di dalam makanan yang kita makan. Asam amino ini dinamakan
asam amino esensial. Selebihnya adalah asam amino yang dapat disintesis dari
asam amino lain. Asam amino ini dinamakan asam amino non-esensial.

Asam amino Alanine, Asparagine, Aspartate, Cysteine, Glutamate,


non-esensial Glutamine, Glycine, Proline, Serine, Tyrosine

2.2.9. Pengertian dan Reaksi Umum Dekarboksilat


Dekarboksilasi oksidatif adalah reaksi yang mengubah asam piruvat yang
beratom 3 C menjadi senyawa baru yang beratom C dua buah, yaitu asetil koenzim-
A (asetil ko-A). Reaksi dekarboksilasi oksidatif ini (disingkat DO) sering juga
disebut sebagai tahap persiapan untuk masuk ke siklus Krebs. Reaksi DO
berlangsung di intermembran mitokondria
Dekarboksilasi adalah lepasnya CO2 dari gugus karboksil suatu senyawa.
Hampir semua asam karboksilat jika dipanaskan pada suhu tinggi mengalami reaksi
dekarboksilasi termal.

Pada suhu sedang, sebagian besar asam karboksilat tidak mengalami


dekarboksilasi tetapi hanya melebur atau mendidih. Yang termasuk perkecualian
adalah asam karboksilat yang mengandung gugus karbonil pada posisi . Asam
dengan tipe ini mengalami dekarboksilasi dengan cepat pada suhu sedang.
Reaksi dekarboksilasi seperti di atas merupakan sifat unik dari asam 3-
oksokarboksilat (suatu asam -keto) karena memang tidak dijumpai pada asam-
asam -keto yang Lain.
Keberadaan gugus karbonil yang berposisi mempermudah dekarboksilasi,
termasuk pula pada gugus -COOH atau -COOR (ester). Sebagai contoh, asam
malonat dan asam malonat yang tersubstitusi akan mengalami dekarboksilasi bila
dipanaskan pada suhu sedikit di atas titik leburnya.