Anda di halaman 1dari 18

PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENDIDIKAN PROGRESIF

Dosen Pengampuh :
Dr. H. Saleh Haji, M.Pd

Oleh :

Kelompok 3

Ani Agustina (A2C016021)

Melisa (A2C0160024)

PROGRAM STUDI PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas akhir ini yang

berjudul Pembelajaran Matematika Pendidikan Progresif. Tugas ini disusun sebagai salah

satu syarat penilaian pada mata kuliah Pembelajaran Matematika yang diampuh oleh Bapak

Dr. H Saleh Haji., M.Pd.

Selama menyelesaikan tugas ini, kami telah banyak menerima bimbingan dan bantuan

dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah memberikan bantuan baik berupa dukungan materil maupun moril.

Kami menyadari penulisan tugas ini masih terdapat kekurangan sehingga memerlukan

perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun

sangat diharapkan. Semoga tugas ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca dan semua

pihak yang terkait.

Bengkulu, Oktober 2017

Penulis
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i


DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................ 2
C. Tujuan .............................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3
A. Sejarah dan Pengertian Filsafat Pendidikan Progresivisme ............................................. 3
B. Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme ......................................................... 5
C. Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Progresivisme ..................................... 6
D. Strategi Progresif .............................................................................................................. 8
E. Pendidikan dalam Progresivisme ...................................................................................... 9
F. Pendidikan Progresif dalam Matematika ........................................................................ 12
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 14
A. Simpulan ........................................................................................................................ 14
B. Saran .............................................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 15
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada saat ini pola serta pandangan tentang dunia pendidikan sudah sangatlah berbeda
dengan beberapa waktu yang lalu. Saat ini pola pendidikan Tradisional yang memandang
proses pendidikan adalah proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada murid,
sudah dianggap tidak tepat lagi jika harus diterapkan pada masa sekarang.

Pada pandangan tradisional tentang pendidikan, guru bertindak sebagai pemimpin


yang memiliki kendali penuh terhadap siswanya. Dengan kondisi yang demikian maka proses
pembelajaran adalah proses searah dari guru kepada siswa, tanpa mempertimbangkan tentang
keadaan siswa tersebut.

Pendidikan dalam perjalanannya selalu berusaha mencari format untuk dapat


mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Banyak tokoh pendidikan berusaha
menawarkan format pendidikan menurut pemahaman dia mengenai pendidikan itu sendiri,
tujuan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan.

Belajar merupakan suatu usaha sadar yang bertujuan untuk merubah sikap seseorang.
Mengingat gaya belajar siswa yang berbeda-beda sehingga banyak tokoh-tokoh pendidik
yang membahas mengenai teori-teori pembelajaran, seperti teori belajar Jean Peaget, teori
belajar Gestalt dan masih banyak lagi.

Dilatarbelakangi kondisi pembelajaran yang semacam itu, maka muncullah beberapa


pandangan tentang pembelajaran yang dianggap lebih efektif menunjang hasil yang lebih
baik. Salah satu pandangan yang ada adalah pandangan Progresivisme yang dikemukakan
oleh John Dewey.

John Dewey merupakan salah seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Amerika


menawarkan tentang pola pendidikan partisipatif. Yang bertujuan untuk lebih
memberdayakan peserta didik dalam jalannya proses pendidikan. Pendidikan partisipatif akan
membawa peserta didik untuk mampu berhadapan secara langsung dengan realitas yang ada
di lingkungannya. Sehingga, peserta didik dapat mengintegrasikan antara materi yang ia
pelajari di kelas dengan realitas yang ada.
1
2

B. Rumusan Masalah
1. Apa Sejarah dan Pengertian Filsafat Pendidikan Progresivisme?
2. Apa Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme?
3. Siapa saja Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Progresivisme?
4. Bagaimana Strategi Progresif?
5. Seperti apa Pendidikan dalam Progresivisme?
6. Bagaimana Pendidikan Progresif dalam Matematika?

C. Tujuan
1. Dapat mengetahui Sejarah dan Pengertian Filsafat Pendidikan Progresivisme
2. Dapat mengetahui Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme
3. Dapat mengetahui siapa saja Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran
Progresivisme
4. Dapat mengetahui Strategi Progresif
5. Dapat mengetahui Pendidikan dalam Progresivisme
6. Dapat mengetahui Pendidikan Progresif dalam Matematika
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah dan Pengertian Filsafat Pendidikan Progresivisme

Progresivisme, progress (maju) adalah sebuah faham filsafat yang lahir pada abad ke-
20. Aliran filsafat kelahiran Amerika ini pengaruhnya terasa di seluruh dunia yang
mendorong usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan. Progresivisme adalah gerakan
pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak
(child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru
(teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).

Progresivisme adalah sebuah aliran filsafat pendidikan yang berkembang di awal abad
ke 20, dan mempunya pengaruh sangat besar dalam dunia pendidikan terutama di Amreka
Serikat. Aliran ini betul-betul kelahiran bumi Amerika, sedangkan yang lainnya, adalah
paham filsafat yang tumbuh dan berkembang di eropa. Progresivisme lahir sebagai
pembaharuan dalam dunia (filsafat) pendidikan, terutama sebagai lawan terhadap kebijak
sanaan konvensional yang diwarisi dari abad kesembilan belas.

Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri
sendiri, malainkan merupakan aliran suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan tahun
1918. Selama 20 tahun menjadi gerakan yang sangat kuat di Amerika Serikat banyak guru
yang ragu-ragu terhadap gerakan ini. Gerakan progeresik terkenal luas karena reaksinya
terhadap formalisme dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin
keras belajar pisik dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan.[2]
Pengaruh progresivisme terasa di seluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Usaha
pembaharuan di dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran
progresivisme ini.[3]

Progresivisme menurut bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan


kemajuan-kemajuan secara cepat. Dalam konteks filsafat pendidikan progresivisme adalah
suatu aliran yang menekankan, bahwa pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan
pengetahuan kepada subjek didik, tetapi hendaklah berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah
pada pelatihan kemampuan berfikir mereka sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berfikir
secara sistematis melalui cara-cara inilah seperti memberikan analisis, pertimbangan, dan

3
4

perbuatan kesimpulan menuju pemilihan alternatif yang paling memungkinkan untuk


pemecahan masalah yang dihadapi.[4]

Sedangkan progresivisme menurut Brubacher, sebagaimana dikutip Muhammad As


Said kemajuan atau progressive merupakan sesuatu yang bersifat alamiah, dan berarti
perubahan. Perubahan memberi sesuatu yang baru harus benar-benar merupakan kenyataan
dan bukan sekedar pemahaman terhadap realita yang sesungguhnya, sebelumnya memang
sudah demikian.[5] Kemajuan atau progressive itu, dari segi makna apapun , terutama
mengandung pengertian mengenai nilai (Value). Cuma, bia ditilik dari sudut pandangan
pragmatis, betapapun nilai itu selalu bersifat eksperimental. Menurut pandangan pragmatis
ini, sesuatu dianggap progressivitas, jika hal itu bisa membawa kepada suatu tujuan.[6]

Progresivisme juga merupakan pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat:

1. Fleksibel (Tidak kaku, tidak menolak perubahan,dan tidak terikat oleh dokrin tertentu)
2. Curious (Ingin mengetahui, ingin menyelidiki)
3. Toleran dan open-minded (Mempunyai hati terbuka)

Aliran progresivisme memiliki sifat-sifat umum yaitu:

a. Sifat Negatif

Sifat itu dikatakan negatif dalam arti bahwa, progresivisme menolak otoritarisme dan
absolutisms dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam agama, politik, etika dan
epistemologi.

b. Sifat Positif

Positif dalam arti, bahwa progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan


alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia sejak ia lahir man's
natural powers. Terutama yang dimaksud adalah kekuatan kekuatan manusia untuk terus-
menerus melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan, takhayul-takhayul dan kegawatan-
kegawatan yang timbul dari lingkungan hidup yang selamanya mengancam.

Progresivisme yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk


mengendalikan hubungannya dengan alam, sanggup meresapi rahasiarahasia alam, sanggup
menguasai alam. Namur disamping keyakinan-keyakinan tersebut ada juga keyakinann
dimana apakah manusia itu sendiri mampu belajar bagaimana mempergunakan kesanggupan
itu, tetapi meskipun demikian progresivisme tetap bersikap optimis, tetap percaya bahwa
5

manusia dapat menguasai seluruh lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan
social.

Aliran progresivisme ini memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada siswa. Siswa
diberikan kebebasan baik secara fisik maupun intelektual agar dapat mengembangkan bakat
dan kemampuan yang dimilikinya tanpa halangan orang lain. Oleh karena itu, aliran
pendidikan ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab akan mematikan daya kreasi
baik secara fisik maupun psikis anak didik.

Menurut progresivisme, nilai terus berkembang karena adanya pengalaman-


pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan.
Dengan pendidikan yang progres ini diharapkan anak didik dapat memiliki kualitas dan terus
maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.

B. Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme

Aliran progresivisme lahir dan sangat berpengaruh dalam abad ke-20 di Amerika.
Progresivisme ini bukan merupakan bangunan filsafat yang berdiri sendiri, namun merupakan
suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan tahun 1918. Kaum progresif memiliki
harapan mengenai perubahan yang sangat cepat agar tujuan dapat dicapai dengan cepat.
Perubahan dalam dunia pendidikan yang tujuannya adalah untuk perubahan yang lebih maju
dan bersifat lebih ilmiah yang secara nyata bukan hanya sekedar realita tetrapi benar-benar
terlihat fungsi dan kegunaannya.

Aliran progresivisme ini dianggap sebagai aliran pikiran yang baru muncul dengan jelas
pada pertengahan abad ke-19, namun garis perkembangannya dapat ditarik jauh kebelakang
sampai pada zaman Yunani purba. Misalnya Hiraclitus (544-484 SM), Socrates (469-399
SM), Protagoras (480-410 SM), dan Aristoteles. Mereka pernah mengemukakan pendapat
yang dapat dianggap sebagai unsur-unsur yang ikut menyebabkan sikap jiwa yang disebut
pragmatisme-Progresivisme.

Kemudian sejak abad ke-16, Francis Bacon, John Locke, Rousseau, Kant, dan Hegel
dapat disebut sebagai penyumbang pikiran-pikiran munculnya aliran Progresivisme. Francis
Bacon memberikna sumbangan dengaan usahanya memperbaiki dan memperhalus metode
ilmiah dalam pengetahuan alam. Locke dengan ajarannya tentang kebebasan politik.
Rousseau dengan keyakinannya bahwa kebaikan berada didalam manusia karena kodrat yang
baik dari para manusia. Kant memuliakan manusia, menjunjung tinggi akan kepribadian
6

manusia, memberi martabat manusia suatu kedudukan yang tinggi. Hegel mengajarkan
bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan bergerak,
dalam proses perubahan dan penyesuaian yang tak ada hentinya.

C. Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Progresivisme


1. William James (11 Januari 1842 - 26 Agustus. 1910)
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik,
barns mempunyai fungsi biologic dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar
fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu
pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi
teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.

2. John Dewey (1920-1950)

Tulisan-tulisan John Dewey berkontribusi besar dalam penyebaran gagasan progresif.


Progresivisme pengikut Dewey didasarkan pada enam asumsi, yaitu:

a. Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat-minat siswa bukannya dari disiplin-
disiplin akademik.

b. Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan anak secara menyeluruh dan


minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungannya dengan bidang-bidang
kognitif, afektif, dan psikomotor.

c. Pembelajaran pada pokoknya aktif bukanlah pasif. Guru yang efektif memberi siswa
pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka belajar dengan melakukan
kegiatan.

d. Tujuan dari pendidikan adalah mengajar para siswa berpikir secara rasional sehingga
mereka menjadi cerdas, yang memberi kontribusi pada anggora masyarakat.

e. Di sekolah, para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan juga nilai-nilai sosial

f. Umat manusia ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan
memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.

2. Henderson (1959)

Pendidikan progresivisme dilandasi oleh filsafat naturalisme romantik dari Rosseau,


dan pragmatisme dari John Dewey. Filsafat Jean Jacques Rosseau yang mendasari pendidikan
7

progresivisme adalah pandangan tentang hakikat manusia, sedangkan dari pragmatisme


Dewey adalah pandangan tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan.

Hans Vaihinger Menurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan
obyeknya tidak mungkin dibuktikan. Satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam
bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian
itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia,
bolehlah dianggap benar, asal orang tabu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali
kekeliruan yang berguna saja.

Dalam aliran progresif ini Proses belajar mengajar di kelas ditandai dengan beberapa
hal antara lain :

Guru merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
Selain membaca buku siswa juga diharuskan berinteraksi dengan alam misalnya melalui
kerja lapangan atau lintas alam.
Guru membangkitkan minat siswa melalui permainan yang menantang siswa untuk
berpikir.
Siswa didorong untuk berinteraksi dengan sesamanya untuk membangun pemahaman
sosial.
Kurikulum menekankan studi alarm dan siswa dipajankan (exposed) terhadap
perkembangan barn dalam saintifik dan sosial.
Pendidikan sebagai proses yang terus menerus memperkaya siswa umuk tumbuh, bukan
sekedar menyiapkan siswa untuk kehidupan dewasa. Para pendidik aliran ini sangat
menentang praktik sekolah tradisional, khususnya dalam lima hal : (1) guru yang otoriter,
(2) terlampau mengandalkan metode berbasis buku teks, (3) pembelajaran pasif dengan
mengingat fakta (4) filsafat empat tembok, yakni terisolasinya pendidikandari kehidupan
nyata, dan (5) penggunaan rasa takut atau hukuman badan sebagai alat untuk
menanamkan disiplin pada siswa.[8]
3. Rosseau

Rosseau seorang ahli filsafat Perancis mendasari pemikiran-pemikiran pendidikannya


dengan ucapannya yang terkenal, yaitu Everything is good as it comes from the hands of the
Author of Nature, but everything degenerates in the hand of man. Jadi, segala sesuatu,
termasuk anak dilahirkan adalah baik berasal dari pencipta alam, maupun semuanya itu
8

mengalami degenerasi, penyusutan martabat, dan nilai-nilai kemanusiaannya karena tangan-


tangan manusia.

Manusia memiliki kebebasan bertindak yang bila diingkari berarti mengingkari


kualitasnya sebagai manusia dan menyangkal hak serta kewajiban kemanusiaan. Karena
semua itu bertentangan dengan hakikat manusia.

D. Strategi Progresif

Karena filsafat progresif ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa
kini mungkin tidak benar di masa mendatang, maka cara terbaik untuk mempersiapkan siswa
harus menggunakan strategi pemecahan masalah yang tepat. Agar mereka mampu mengatasi
tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat
ini. Yaitu melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan. Siswa dapat mengidentifikasi
nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.

Orang-orang progresif berpikir bahwa kehidupan berkembang menuju arah positif dan
manusia dapat bertindak dengan minat-minat terbaik mereka sendiri. Dalam hal ini pendidik
dapat memberi kebebasan kepada siswa dalam menentukan pengalaman sekolah mereka.
Namun guru tidak sepenuhnya bebas melakukan apa yang mereka inginkan, tapi ia harus
mengarahkan siswa untuk dapat melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat
meningkatkan kehidupan mereka.

Guru berperan dalam membimbing siswanya dan menjadi sumber yang memiliki
tanggung jawab dalam memfasilitasi pembelajaran siswa. Guru dapat memberikan
pengalaman-pengalaman baru kepada siswanya melalui suatu eksperimen dalam tugas
kelompok untuk memecahkan suatu permasalaan. Hal ini dapat menambah pengalaman bagi
siswa.

Usahakan pendidikan berpusat pada anak agar potensi siswa dapat dikembangkan
secara maksimal. Untuk mencapai tujuan itu perlu dihindari praktek-praktek pendidikan
tradisional yang bersifat otoriter dan pasif. Sebisa mungkin buatlah agar siswa turut aktif.
Pengajaran yang bersifat otoriter dan pasif dapat mengakibatkan lemahnya partisipasi siswa.

Guru dapat mencoba mengembangkan pendekatan ilmiah dalam proses pendidikan


demokratis. Melalui konsep ini dicoba dikembangkan dalam diri anak kemampuan rasional,
kritis, penarikan kesimpulan berdasarkan pembuktian, keterbukaan, dan akuntabilitas yang
9

diperlukan bagi individu untuk hidup dalam alam demokrasi agar mampu memecahkan
masalah kehidupan sehari-hari.

E. Pendidikan dalam Progresivisme

1. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan menurut aliran ini adalah harus memberikan keterampilan dan alat-
alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses
perubahan secara terus menerus. Siswa diharapkan memiliki keterampilan pemecahan
masalah yang dapat digunakkan untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah.

Pendidikan bertujuan agar siswa memilki kemampuan memecahkan berbagai masalah


baru dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan
lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan. Selain itu, pendidikan juga
bertujuan membantu peserta didik untuk menjadi warga negara yang demokratis yang mampu
mengemukakan pendapatnya sesuai minat yang dimilikinya melalui pengalamannya

Proses belajar mengajar terpusatkan pada siswa dalam perilaku dan disiplin diri. Tujuan
keseluruhan pendidikan sendiri adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara
sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan
tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap
anak. Agar dapat bekerja siswa diharapkan memiliki keterampilan, alat dan pengalaman
sosial, dan memiliki pengalaman memecahkan masalah.

2. Kurikulum Pendidikan

Kalangan progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbu sekolah (child-
centered). Mereka lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang
berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subjek didik. Jadi, ketertarikan anak
adalah titik tolak bagi pengalaman belajar. Imam Barnadib menyatakan bahwa kurikulum
progresivisme adalah kurikulum yang tidak beku dan dapat direvisi, sehingga yang cocok
adalah kurikulum yang berpusat pada pengalaman.

Kurikulum disusun dengan pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun


pengalaman sosial, selain sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam
pengalaman-pengalaman siswa dan dalam pemecahan masalah serta dalam suatu kegiatan
kelompok. Menurut Progresivisme, kurikulum hendaknya :
10

a. Tidak universal melainkan berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada

b. Disesuaikan dengan sifat-sifat peserta didik (minat, bakat, dan kebutuhan setiap peserta
didik) atau chil centered.

c. Berbasis pada masyarakat.

d. Bersifat fleksibel dan dapat berubah atau direvisi.

3. Metode Pendidikan

Metode pendidikan yang biasanya dipergunakan oleh aliran progresivisme diantaranya


adalah :

a. Metode Pendidikan Aktif

Pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang


memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk
mengembangkan bakat dan minatnya.

b. Metode Memonitor Kegiatan Belajar

Mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan


apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut.

c. Metode Penelitian Ilmiah

Pendidikan progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada
penyusunan konsep.

d. Pemerintahan Pelajar

Pendidikan progresif memperkenalkan pemerintahan pelajar dalam kehidupan sekolah


dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah.

e. Kerjasama Sekolah dengan Keluarga

Pendidikan Progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga


dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk
mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak.

f. Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan

Sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai laboratoriun
dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
11

4. Pelajar

Proses belajar terpusat pada anak dengan memberikan perhatian anak. Namun guru
tidak membiarkan anak mengikuti apa yang ia inginkan, karena anak belum cukup matang
untuk menentukan tujuan yang memadai. Anak membutuhkan bimbingan dan arahan dari
guru dalam melaksanakan aktifitasnya.

Anak didik adalah subjek aktif, bukan pasif, sekolah adalah dunia kecil (miniatur) dari
masyarakat besar, aktifitas ruang kelas difokuskan pada praktik pemecahan masalah, serta
atmosfer sekolah diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis. Mereka menganut
prinsip pendidikan perpusat pada anak (child-centered). Mereka menganggap bahwa anak itu
unik. Anak adalah anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak mempunyai alur
pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan
kecemasan sendiri yang berbeda dengan orang dewasa.

5. Peranan Guru

Guru dalam melakukan tugasnya mempunyai peranan sebagai :

a. Fasilitator, orang yang menyediakan diri untuk memberikna jalan kelancaran proses
belajar sendiri siswa.

b. Motivator, orang yang mampu membangkitkan minat siswa untuk terus giat belajar
sendiri.

c. Konselor, orang yang membantu siswa menemukan dan mengatasi sendiri masalah-
masalah yang dihadapi oleh setiap siswa. Dengan demikian guru perlu mempunyai
pemahaman yang baik tentang karakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin
perkembangan siswa, serta kecintaan pada anak agar dapat menjalankan peranannya
dengan baik.

6. Prinsip Prinsip Pendidikan

Prinsip-prinsip pendidikan menurut pandangan progresivisme menurut Kneller


meliputi:

a. Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup.

b. Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak, minat individu yang
dijadikan sebagai motivasi belajar
12

c. Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi presenden terhadap pemberian subject
matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi
kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berpikir melewati
beberapa tahapan yang disebut metode berpikir ilmiah, sebagai berikut:

1) Anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah.

2) Menganalisis masalh tersebut dan menduga atau menyusun hipotesis-hipotesis


yang mungkin.

3) Mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas masalah.

4) Memilih dan menganalisis hipotesis.

5) Mencoba, menguji, dan membuktikan.

d. Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa.

e. Sekolah harus memberi semangat bekerja sama, bukan mengembangkan persaingan.

f. Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan.

F. Pendidikan Progresif dalam Matematika


Faham John Dewey yang mengemukakan faham progresif. Faham ini menyatakan
bahwa dalam proses pembelajaran harus diutamakan belajar insidental. Menurut aliran
ini adalah bahwa orang pada dasarnya akan mempelajari sesuatu jika hal itu sesuai dengan
tuntutan kebutuhannya.
Contoh : Seorang yang ingin melukis, misalnya ia akan mempelajari bagaimana
memadukan dua warna, tiga warna, atau lebih, bagaimana menggunakan kuas atau kanvas,
bagaimana membuat goresan di atas kanvas dan akhirnya mewarnai gambar atau lukisan
tersebut. Berarti seorang yang butuh suatu materi tertentu maka ia akan berusaha untuk
menguasainya.
Seorang siswa akan mempelajari berhitung atau matematika, jika suasana sekitarnya
sudah cukup mendukung. Karena itu pengajaran matematika akan menjadi lebih baik dan
berhasil jika waktunya sudah menuntut untuk belajar matematika.
Faham ini hanya menekankan agar suasana yang cukup menunjang untuk
melaksanakan proses belajar matematika sesuai dengan topik yang diperlukan. Urutan materi
yang diajarkan tidak jadi masalah. Yang penting jika suasana yang mengarah ke arah
tuntunan belajar suatu topik sudah ada, maka topik itu dapat diajarkan.
13

Daru uraian di atas, berarti faham John Dewey menyatakan bahwa pemahaman
materi sangat diutamakan. Siswa dituntut untuk memahami suatu materi dan siswa
diarahkan utnuk menyenangi dan membutuhkan materi pelajaran. Jika dibandingkan teori
Thorndike yang menekankan hanya pada latihan (drill) saja, maka faham John Dewey ini
sangat bertentangan.
Pada abad ke 19, terdapat penemuan yang menyatakan bahwa doktrin disiplin formal
adalah faham yang keliru. Menurut disiplin formal latihan otak lebih diutamakan bukan
materi yang diajarkan. Tetapi berdasarkan penelitian dan penemuan ternyata belajar itu
merupakan proses bertingkah laku, berpikir, memanipulasi, bereksperimen, berdiskusi,
dan sebagainya sehingga semua yang dipelajari harus berfungsi.
Setelah adanya penemuan dan penelitian tersebut maka para ahli pendidikan
melakukan penelitian materi pelajaran dan metode mengajar. Misalnya materi aritmatika
apakah materinya berfungsi, bagaimana kegunaannya dan bagaimana kaitannya dengan topik
yang lain. Demikian juga dengan cabang-cabang matematika yang lain seperti geometri,
aljabar, dan sebagainya.
Pada abad ke 19, maka dilakukan pengkajian ulang terhadap program
aritmatika. Berdasarkan pengkajian tersebut ternyata materi aritmatika yang diajarkan terlalu
banyak, terlalu padat, dan banyak keterampilan berhitung yang kurang banyak
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya penarikan akar, pecahan-pecahan
desimal, ciri habis dibagi dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Progresivisme, progress (maju) adalah sebuah faham filsafat yang lahir pada abad
ke-20. Aliran filsafat kelahiran Amerika ini pengaruhnya terasa di seluruh dunia
yang mendorong usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan. Progresivisme
adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan
disekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan
pendidikan yang berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran
(subject-centered).
2. Aliran progresivisme lahir dan sangat berpengaruh dalam abad ke-20 di Amerika.
Progresivisme ini bukan merupakan bangunan filsafat yang berdiri sendiri, namun
merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan tahun 1918. Kaum
progresif memiliki harapan mengenai perubahan yang sangat cepat agar tujuan
dapat dicapai dengan cepat. Perubahan dalam dunia pendidikan yang tujuannya
adalah untuk perubahan yang lebih maju dan bersifat lebih ilmiah yang secara nyata
bukan hanya sekedar realita tetrapi benar-benar terlihat fungsi dan kegunaannya.
3. Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Progresivisme, yaitu: 1. John
Dewey (1920-1950), 2. Henderson (1959), dan 3. Rosseau.
4. Karena filsafat progresif ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa
kini mungkin tidak benar di masa mendatang, maka cara terbaik untuk
mempersiapkan siswa harus menggunakan strategi pemecahan masalah yang tepat.
Agar mereka mampu mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan
kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini, penulis sarankan kepada pembaca untuk dapat
menerapkan teori pendidikan progresif pada mata pelajaran, khususnya matematika.

14
15

DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/337866002/Makalah-Filsafat-Pendidikan-Matematika

http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-
MODES/MODEL_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA/modul_2.pdf

http://ansharbrengos-balter-jaya.blogspot.co.id/2015/02/teori-pendidikan-progresivisme.html