Anda di halaman 1dari 13

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kebakaran hutan dan lahan adalah salah satu bencana yang yang sering
terjadi di Indonesia terutama terjadi setiap musim kemarau, yaitu pada bulan
Agustus, September, dan Oktober, atau pada masa peralihan (transisi). Wilayah
hutan dan lahan di Indonesia yang sangat berpotensi terbakar adalah wilayah
gambut seperti di Pulau Sumatera (Riau, Sumut, Jambi dan Sumsel) dan Pulau
Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan)
(Kumalawati dkk, 2016).
Belakangan ini kebakaran hutan menjadi perhatian internasional sebagai
isu lingkungan dan ekonomi, khususnya setelah bencana El Nino (ENSO) 1997
yang menghanguskan lahan hutan seluas 25 juta hektar di seluruh dunia.
Kebakaran dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan
karena efeknya secara langsung pada ekosistem, kontribusi emisi karbon dan
dampaknya bagi keanekaragaman hayati. Pencemaran kabut asap merupakan
masalah berulang bahkan selama tahun-tahun ketika peristiwa ENSO di Indonesia
dan negara-negara tetangganya tidak terjadi. Selama peristiwa ENSO 1997/98,
Indonesia mengalami kebakaran hutan yang paling hebat di dunia. Masalah yang
sama teruiang pada 2002 (Tacconi, 2003).
Kebakaran Hutan menurut SK. Menhut. No. 195/Kpts-II/1996 yaitu suatu
keadaan dimana hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan
hasil hutan yang menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungannya. Kebakaran
hutan merupakan salah satu dampak dari semakin tingginya tingkat tekanan
terhadap sumber daya hutan. Dampak yang berkaitan dengan kebakaran hutan
atau lahan adalah terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup, seperti
terjadinya kerusakan flora dan fauna, tanah, dan air. Kebakaran hutan dan lahan di
Indonesia terjadi hampir setiap tahun walaupun frekuensi, intensitas, dan luas
arealnya berbeda.
Akibat dari kebakaran lahan dan hutan telah terjadi pelepasan senyawa
karbon ke udara. Dengan meningkatnya senyawa karbon (CO2) sebagai gas rumah
kaca, maka efek rumah kaca pun meningkat. Efek terpenting yang sangat tidak
2

diharapkan dalam kehidupan makhluk di dunia adalah terjadinya peningkatan


pemanasan bumi secara global pada lapisan biosfer. Meningkatnya emisi gas-gas
rumah kaca ternyata terjadi juga di negara-negara berkembang termasuk Indonesia
sehingga perlu ada upaya penurunan emisi. (Salim, 2007).
Kebakaran hutan dan lahan terjadi disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu
faktor alami dan aktor kegiatan manusia yang tidak terkontrol. Faktor alami antara
lain oleh pengaruh El-Nino yang menyebabkan kemarau berkepanjangan sehingga
tanaman menjadi kering. Tanaman kering merupakan bahan bakar potensial jika
terkena percikan api yang berasal dari batubara yang muncul di permukaan
ataupun dari pembakaran lainnya baik disengaja maupun tidak disengaja. Hal
tersebut menyebabkan terjadinya kebakaran bawah (ground fire) dan kebakaran
permukaan (surface fire) (Rasyid, 2014).
Syarat terjadinya kebakaran atau nyalanya api pertama, harus tersedia
bahan bakar yang dapat terbakar. Selain itu, kedua harus menghasilkan panas
yang cukup yang digunakan untuk menaikkan suhu bahan bakar hingga ke
titik penyalaan. Oksigen diperlukan untuk menjaga proses pembakaran agar
tetap berjalan dan untuk mempertahankan suplai panas yang cukup sehingga
memungkinkan terjadinya penyalaan bahan bakar yang sulit terbakar. Manajemen
bahan bakar adalah tindakan atau praktek yang ditujukan untuk mengurangi
kemudahan bahan bakar untuk terbakar dan mengurangi kesulitan dalam
pemadaman kebakaran hutan. Manajemen bahan bakar dapat dilakukan
secara mekanik, kimiawi, biologi atau dengan menggunakan api. Perlakuan
bahan bakar adalah setiap manipulasi bahan bakar agar bahan bakar itu
tidak mudah terbakar, dengan cara pemotongan, penyerpihan, penghancuran,
penumpukan dan pembakaran (Rumajomi, 2006)
Tujuan
Tujuan dari Kebakaran Hutan dan Lahan yang berjudul Dampak
Kebakaran Hutan pada Vegetasi adalah untuk mengetahui pengaruh bahan bakar
kebakaran terhadap suatu vegetasi yang lebih lama dan lebih luas terbakar karena
kebakaranAyangAterjadiApadaApermukaannya.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Api adalah suatu kejadian/reaksi kimia eksotermik yang diikuti munculnya


panas/kalor, cahaya (nyala), asap dan gas dari bahan yang terbakar. Menurut
Pusdiklatkar api itu diartikan sebagai reaksi kimia yang disertai oleh penguapan
asap, panas, dan gas-gas lainnya. Api juga bisa disebut sebagai hasil reaksi
pembakaran yang cepat (Drysdale, 2006).
Ukuran bahan bakar ada kaitannya dengan kelakuan sifat kebakaran yang
terjadi. Bahan bakar yang halus akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan
sekitarnya, mudah mengering, namun mudah pula menyerap air. Api akan
semakin cepat menjalar bila luas permukaan bahan bakar semakin kecil. Bahan
bakar kasar, kadar air yang bila luas permukaan bahan bakar semakin besar.
Bahan bakar kasar, kadar air yang dikandung lebih stabil, tidak cepat mengering,
sehingga sulit terbakar. Namun apabila terbakar akan memberikan penyalaan api
lebih lama (Purbowaseso, 2000).
Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun dengan luas cakupan dan
jumlah titik api (hot spot) yang bervariasi. Kejadian ini sebenarnya telah
diantisipasi, namun tidak berdaya melakukan pencegahan. Menurut berbagai hasil
kajian dan analisis, penyebab kebakaran hutan dan lahan berhubungan langsung
dengan perilaku manusia yang menginginkan percepatan penyiapan lahan (land
clearing) untuk persiapan penanaman komoditas perkebunan. Para pihak yang
berkepentingan ingin segera menyiapkan lahan dengan biaya yang serendah-
rendahnya dan sekaligus mengharapkan kenaikan tingkat kemasaman (pH) tanah.
(Pasaribu, 2006).
Suatu dampak yang paling penting dari angin adalah menyediakan oksigen
yang banyak untuk terjadinya pembakaran. Arah penjalaran api sangat
dipengaruhi keadaan angin. Udara panas dan angin kencang dapat
menghembuskan bara api dan menimbulkan kebakaran baru pada daerah yang
dilaluinya. Dikatakan pula bahwa angin mempengaruhi penjalaran api dengan
cara memperluas daerah radias dan konveksi dari api (Chandler et al, 1983).
Hubungan ketebalan bahan bakar dengan perilaku api yaitu semakin tebal
bahan bakar maka perilaku api semakin lama merambat namun semakin
4

ketebalannya berkurang bahan bakar satu dengan bahan bakar lainnya maka api
juga semakin cepat untuk merambat dan membakar. Bahan bakar yang kering
juga merupakan salah satu faktor cepat rambatnya api pada bahan bakar. Proses
pembakaran suatu biomasa melibatkan proses-proses pemindahan panas, seperti
konduksi, konveksi dan radiasi. Radiasi dan konveksi dapat mentransfer panas
yang dibutuhkan pyrolisi pada permukaan bahan bakar, namun transfer panas
bagian dalam bahan bakar dilakukan melalui konduksi. (Thoha, 2008).
Volume bahan bakar dalam jumlah besar akan menyebabkan api lebih
besar, temperatur disekitar lebih tinggi, sehingga terjadi kebakaran yang sulit
dipadamkan. Sedangkan volume bahan bahan bakar yang sedikit akan terjadi
sebaliknya yaitu api yang terjadi kecil dan mudah dipadamkan. Hal ini didukung
oleh Wibowo (1995) menyatakan bahwa kecepatan penjalaran api meningkat
secara langsung dan proporsional dengan meningkatnya volume bahan bakar
tersedia. Hal ini dengan asumsi bahwa faktor lainnya dianggap konstan
(Wibowo, 1995).
Penyusunan bahan bakar menggambarkan distribusi semua potongan
bahan bakar yang dapat terbakar pada bidang horizontal dan vertikal. Penyusunan
bahan bakar juga sekaligus menggambarkan kesinambungan (kontinuitas) bahan
bakar ke arah horizontal dan vertikal. Syaufina (2008) menegaskan, adanya gap
akan menghambat terjadinya penjalaran api. Reaksi pembakaran akan
berlangsung paling baik bila bahan bakar cukup tersebar untuk memberi
kesempatan pemasokan oksigen ke zona nyala, tetapi cukup rapat, agar terjadi
pemindahan panas yang efisien (Syaufina, 2008).
Kemudian kebakaran hutan juga berpengaruh pada vegetasi yang ada di
hutan tersebut. Intensitas kebakaran yang tinggi dapat mematikan semua anakan,
liana, pancang, tiang dan pohon yang dapat berakibat pada lahan hutan tanpa
tegakan. Selanjutnya menimbulkan luka dan stress pada pohon sehingga rentan
terhadap pentakit dan hama. Stress juga dapat mengakibatkan riap tegakan
menurun dimana efek samping lainnya dapat menurunkan kualitas kayu.
Selanjutnya diversitas tumbuhan akan berkurang dan mempengaruhi pola suksesi
vegetasi. Apabila banyak pohon yang mati maka fungsi hutan lainnya seperti
fungsi tata air dan perlindungan tanah akan terganggu (Depari, 2009).
5

Kehidupan tumbuhan berhubungan erat dengan hutan yang merupakan


tempat hidupnya. Kebakaran hutan dapat mengakibatkan berkurangnya vegetasi
tertentu. Contoh dampak kebakaran hutan terhadap tumbuhan adalah sebagai
berikut: (a) Tumbuhan tingkat tinggi (akar pohon, semak atau rumput), (b)
Tumbuhan tingkat rendah (bakteri, cendawan dan Ganggang). Terjadinya
kebakaran hutan akan menghilangkan vegetasi di atas tanah, sehingga apabila
terjadi hujan maka hujan akan langsung mengenai permukaan atas tanah, sehingga
mendapatkan energi pukulan hujan lebih besar, karena tidak lagi tertahan oleh
vegetasi penutup tanah. Kondisi ini akan menyebabkan rusaknya struktur tanah
(CIFOR, 2003).
Beberapa akibat yang ditimbulkan dari kebakaran hutan pun menimbulkan
berbagai dampak yang terjadi. Dari aspek ekologi salah satunya adalah kerusakan
tanah yang menurunkan sifat biologi tanah dan rusaknya tanah secara fisik seperti
pemadatan tanah dan struktur tanah menjadi rusak. Penurunan sifat biologi tanah
seperti menurunnya mikroorganisme, total fungi yang ditimbulkan. Kondisi ini
tentunya sangat merugikan karena mikroorganisme berperan dalam meningkatkan
produktivitas lahan seperti keberadaan bakteri penambat nitrogen dan bakteri
pelarut fosfat yang membantu ketersediaan unsur hara dapat hilang. Pembakaran
tanah menyebakan pemadatan tanah yang terlihat dari meningkatnya bulk density
dan porositas tanah. Efek lain dari kebakaran hutan meningkatkan sangganan
tanah seperti KTK tanah, pH tanah dan kejenuhan basa. Meningkatnya sangganan
tanah secara langsung akan meningkatkan ketersedian unsur hara. Jika demikian
yang terjadi, maka dapat terjadi destruksi mikroflora dan hewan-hewan kecil pada
top soil dan tumbuhan bawah di hutan yang dapat mempengaruhi proses
dekomposisi dan kesuburan tanah (Wasis, 2003).
Kekompakan bahan bakar merupakan salah satu faktor yang paling
penting dalam perilaku api kebakaran hutan. Tingkat kekompakan bahan bakar
menentukan seberapa besar api dan seberapa cepat api menjalar. Bahan bakar
yang memiliki tingkat kekompakan kecil lebih mudah terbakar dan lebih mudah
menjalarkan api ke bahan bakar dengan kekompakan yang rendah lainnya. Contoh
sederhana dari hal ini adalah serutan kayu kering lebih cepat terbakar dan
menjalarkan api daripada balok kayu (Sasongko,n2014).
6

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat


Praktikum Kebakaran Hutan dan Lahan yang berjudul Dampak
Kebakaran Hutan Pada Vegetasi ini dilaksanakan tanggal 27 Oktober 2017 pada
pukul 15.00 WIB. Praktikum ini dilakukan di Ruang Kuliah 202 Fakultas
Kehutanan dan di Padang Rumput, Universitas Sumatera Utara.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah stopwacth, penggaris,
kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah daun
lebar kering dan daun jarum kering.

Prosedur
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Setiap 1 kg daun lebar kering dan daun jarum kering ditumpuk sebanyak 1
tumpukan dengan ukuran 50 x 50 cm.
3. Tumpukan daun lebar kering dan daun jarum kering dibakar satu persatu
dengan korek api.
4. Ukur lamanya terbakar (menit), ukur luas terbakar (cm2) dan luas vegetasi
yang rusak (cm2).
5. Dokumentasikan saat daun lebar dan dau jarum terbakar
6. Isi tally sheet yang ada.
Tabel 1. Pengamatan Api Dengan Sumber Korek Api
No SumbernBahan Lama Luas Luas Vegetasi Foto Vegetasi
Bakar Terbakar Terbakar yang Rusak yang Rusak
(menit) (cm2) (cm2)
1. Daun Jarum
2. Daun Lebar
7

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Hasil dari Praktikum Kebakaran Hutan dan Lahan yang berjudul Dampak
Kebakaran Hutan Pada Vegetasi adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Pengamatan Api Dengan Sumber Korek Api
No SumbernBahan Lama Luas Luas Vegetasi Foto Vegetasi
Bakar Terbakar Terbakar yang Rusak yang Rusak
(menit) (cm2) (cm2)
1. Daun Jarum 08;33 750 560 (terlampir)
2. Daun Lebar 19;34 1500 1350 (terlampir)
Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 1 yaitu
dengan sumber bahan bakar yang berbeda didapati hasil pembakaran yang
berbeda-beda. Mulai dari lama terbakarnya, luas terbakar, dan luas vegetasi yang
terbakar pada suatu bahan bakar. Jika dilihat dari lama terbakarnya, sumber bahan
bakar dengan daun lebar memiliki waktu pembakaran yang sangat lama, sangat
berbeda jauh dengan waktu pembakaran yang menggunakan daun jarum. Ini
disebabkan daun lebar termasuk kedalam bahan bakar yang kasar dan memiliki
luas permukaan lebih besar dari tiga bahan bakar lainnya, dan bahan bakar yang
kasar, kadar air yang dikandung lebih stabil, tidak cepat mengering, sehingga sulit
terbakar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Purbowaseso (2000) yaitu Api akan
semakin cepat menjalar bila luas permukaan bahan bakar semakin kecil. Bahan
bakar kasar, kadar air yang bila luas permukaan bahan bakar semakin besar.
Bahan bakar kasar, kadar air yang dikandung lebih stabil, tidak cepat mengering,
sehingga sulit terbakar. Namun apabila terbakar akan memberikan penyalaan api
lebih lama.
Pada bahan bakar daun lebar luas terbakarnya melebihi bahan bakar yang
menggunakan daun jarum, luas bahan bakar juga dapat dipengaruhi oleh
ketebalannya. Ketebalan tumpukan daun lebar yang digunakan pada praktikum
kali ini diduga lebih tebal dari tumpukan daun jarum sehingga luas terbakar daun
jarum lebih kecil dari daun lebar. Ini menunjukkan ketebalan bahan bakarnya
berpengaruh pada perilaku api nya yaitu bahan bakar yang semakin tebal maka
perilaku api semakin lama merambat namun jika ketebalan bahan bakar semakin
8

berkurang maka api juga semakin cepat untuk merambat dan membakar. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Thoha (2008) yaitu Hubungan ketebalan bahan bakar
dengan perilaku api yaitu semakin tebal bahan bakar maka perilaku api semakin
lama merambat namun semakin ketebalannya berkurang bahan bakar satu dengan
bahan bakar lainnya maka api juga semakin cepat untuk merambat dan membakar.
Bahan bakar yang kering juga merupakan salah satu faktor cepat rambatnya api
pada bahan bakar.
Faktor lain menyebabkan daun lebar lebih lama intensitas terbakarnya
daripada daun jarum adalah volume bahan bakar yang digunakan, jika dilihat
lebih teliti volume banyaknya bahan bakar daun lebar lebih banyak dari bahan
bakar daun jarum. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wibowo (1995) yaitu volume
bahan bakar dalam jumlah besar akan menyebabkan api lebih besar, temperatur
disekitar lebih tinggi, sehingga terjadi kebakaran yang sulit dipadamkan.
Sedangkan volume bahan bahan bakar yang sedikit akan terjadi sebaliknya.
Jumlah dari bahan bakar tersedia akan bervariasi dan tergantung dari ukuran,
susunan dan kadar air bahan bakar.
Pada luasan vegetasi yang rusak berbanding lurus dengan lama terbakar
dan luas terbakarnya suatu bahan bakar. Namun faktor lain seperti angin juga
berperngaruh terhadap penyalaan sumber api dan cepat rambat api penjalaran api,
banyak angin yang berhembus, sehingga penjalaran api pada setiap tumpukkan di
masing-masing dapat berjalan maksimal. Hal ini berkaitan dengan Chandler et al
(1983) yaitu Suatu dampak yang paling penting dari angin adalah menyediakan
oksigen yang banyak untuk terjadinya pembakaran. Arah penjalaran api sangat
dipengaruhi keadaan angin. Udara panas dan angin kencang dapat
menghembuskan bara api dan menimbulkan kebakaran baru pada daerah yang
dilaluinya. Dikatakan pula bahwa angin mempengaruhi penjalaran api dengan
cara memperluas daerah radias dan konveksi dari api.
Dampak pada pembakaran diatas rumput, vegetasi rumput ikut terbakar
dan berkurang sehingga dapat dipastikan saat hujan berlangsung, air hujan
langsung jatuh ke mengenai permukaan atas tanah, sehingga mendapatkan energi
pukulan hujan lebih besar, Hal ini sesuasi dengan pernyataan CIFOR (2003) yaitu
Kehidupan tumbuhan berhubungan erat dengan hutan yang merupakan tempat
9

hidupnya. Kebakaran hutan dapat mengakibatkan berkurangnya vegetasi tertentu.


Contoh dampak kebakaran hutan terhadap tumbuhan adalah sebagai berikut: (a)
Tumbuhan tingkat tinggi (akar pohon, semak atau rumput), (b) Tumbuhan tingkat
rendah (bakteri, cendawan dan Ganggang). Terjadinya kebakaran hutan akan
menghilangkan vegetasi di atas tanah, sehingga apabila terjadi hujan maka hujan
akan langsung mengenai permukaan atas tanah, sehingga mendapatkan energi
pukulan hujan lebih besar, karena tidak lagi tertahan oleh vegetasi penutup tanah.
Kondisi ini akan menyebabkan rusaknya struktur tanah
Selain itu, Wasis (2003) juga berpendapat yaitu beberapa akibat yang
ditimbulkan dari kebakaran hutan pun menimbulkan berbagai dampak yang
terjadi. Dari aspek ekologi salah satunya adalah kerusakan tanah yang
menurunkan sifat biologi tanah dan rusaknya tanah secara fisik seperti pemadatan
tanah dan struktur tanah menjadi rusak. Penurunan sifat biologi tanah seperti
menurunnya mikroorganisme, total fungi yang ditimbulkan. Kondisi ini tentunya
sangat merugikan karena mikroorganisme berperan dalam meningkatkan
produktivitas lahan seperti keberadaan bakteri penambat nitrogen dan bakteri
pelarut fosfat yang membantu ketersediaan unsur hara dapat hilang. Pembakaran
tanah menyebakan pemadatan tanah yang terlihat dari meningkatnya bulk density
dan porositas tanah. Meningkatnya sangganan tanah secara langsung akan
meningkatkan ketersedian unsur hara. Jika demikian yang terjadi, maka dapat
terjadi destruksi mikroflora dan hewan-hewan kecil pada tanah dan tumbuhan
bawah di hutan yang dapat mempengaruhi proses dekomposisi dan kesuburan
tanah.
Depari (2009) juga bependapat bahwa kebakaran hutan juga berpengaruh
pada vegetasi yang ada di hutan tersebut. Intensitas kebakaran yang tinggi dapat
mematikan semua anakan, liana, pancang, tiang dan pohon yang dapat berakibat
pada lahan hutan tanpa tegakan. Selanjutnya menimbulkan luka dan stress pada
pohon sehingga rentan terhadap penyakit dan hama. Stress juga dapat
mengakibatkan riap tegakan menurun dimana efek samping lainnya dapat
menurunkan kualitas kayu. Selanjutnya diversitas tumbuhan akan berkurang dan
mempengaruhi pola suksesi vegetasi. Apabila banyak pohon yang mati maka
fungsi hutan lainnya seperti fungsi tata air dan perlindungan tanah akan terganggu
10

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Waktu terbakarnya bahan bakar yang paling lama adalah pada sumber bahan
bakar daun lebar yaitu 19;34 sedangkan yang waktu yang paling singkat
pembakarannya adalah daun jarum yaitu 08;33.
2. Luas terbakar dengan sumber bahan bakar daun lebar memiliki lebih luas
sebesar 1500 cm2 dibandingkan dengan sumber bahan bakar daun jarum yaitu
sebesar 750 cm2.
3. Luas vegetasi yang rusak karena terbakar daun lebar lebih luas sebesar 1350
cm2 dibandingkan dengn sumber bahan bakar daun jarum yaitu 560 cm2.
4. Luas terbakar berbanding lurus dengan luas vegetasi yang rusak
5. Faktor utama yang mempengaruhi daun jarum lebih kecil area terbakarnya
daripada daun lebar salah satunya yaitu kelembaban bahan bakar yang
terkandung didalamnya.

Saran
Sebaiknya sebelum daun jarum dan daun lebar di bakar, kondisi dari bahan
bakar harus di perhatikan seperti kondisi kelembaban dan jumlah bahan bakar itu
sendiri.
11

DAFTAR PUSTAKA

Chandler C, Cheney D, Thomas P, Trabaud L, William D. 1983. Fire in Forestry:


Forest Fire Behavior and Effects.. Canada: John Willley and Sons, iNc.
Vol. 1.
[CIFOR] Center for International Forestry Research . 2003. Kebakaran Hutan di
Indonesia: Penyebab, Biaya, Implikasi Kebijakan. Jakarta

Depari K, Tamapang A, Restu, Surnayanti, Catur W, Stepanus R. 2009. Dampak


Kebakaran Hutan Terhadap Fungsi Hutan. Bogor: IPB.
Drysdale, D. 2006. An Introduction to Fire Dynamics 2nd Edition. England : John
Wiley & Sons.
Kumalawati, R. Putra, H. Arisanty, D. Dewi, D. Normelani, E. 2016. Laporan
Penelitian: Strategi Penanganan Hotspot Pada Setiap Penggunaan Lahan
Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Banjar Kalimantan
Selatan.
Pasaribu, 2006. Memahami Penyebab Kebakaran Hutan Dan Lahan Serta Upaya
Penanggulangannya: Kasus di Provinsi Kalimantan Barat.Badan Litbang
Bogor.
Purbowaseso, Bambang. 2000. Pengendalian Kebakaran Hutan. Fakultas
Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Rasyid, F. (2014). Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Widyaiswara
Network Journal, Vol. 1 (4) hal : 47-59.
Rumajomi. 2006. Kebakaran Hutan di Indonesia dan Dampaknya bagi Kesehatan.
Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor.
Salim, E. 2007. Forest Issues in UNFCCC and Its Relevancy to Indonesia.
National Workshop. Indonesia Forest Climate Alliance. Jakarta.
Sasongko, M.N. 2014. Pengaruh Prosentase Co2 Terhadap Karakteristik
Pembakaran Difusi Biogas Mekanika. Vol. 12 (2) hal : 89-93.
Syaufina, L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia : perilaku api,
penyebab dan dampak kebakaran. Malang : Bayumedia Publishing.
SK. Menhut. No. 195/Kpts-II/1996.
Tacconi, L., 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia: Penyebab, Biaya dan Implikasi
Kebijakan Center for International Forestry Research (CIFOR) Bogor,
Indonesia. Vol. 2
12

Thoha, A. S. 2008. Proses-Proses dan Lingkungan yang Mempengaruhi


Kebakaran Biomassa. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Wasis B. 2003. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Terhadap Kerusakan Tanah.
Jurnal Manajemen Hutan Tropika.
Wibowo, A. 1995. Pembakaran terkendali pada Hutan Eucalyptus Kering di
Wombat State, Viktoria, Australia. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hutan dan Konsenvasi Alam. Bogor.
13

LAMPIRAN

Sumber Bahan Bakar Daun Lebar Sumber Bahan Bakar Daun Jarum

Luas Terbakar Bahan Bakar Luas Terbakar Bahan Bakar


Daun Lebar Daun Jarum

Vegetasi yang Rusak Bahan Bakar Vegetasi yang Rusak Bahan Bakar
Daun Lebar Daun Jarum