Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUGAS KHUSUS

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI RUMAH SAKIT dr. SUYOTO

JL. RC. VETERAN NO. 178 BINTARO JAKARTA SELATAN

PERIODE 1 MARET 28 APRIL 2017

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

Memperoleh gelar Apoteker (APT)

Program Studi Profesi Apoteker

Disusun oleh :

Kartika Sari Jeffry Rimo ( 1643700032)

PROGRAM PROFESI APOTEKER ANGKATAN XXXVII

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945

JAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien
yang mengacu kepada pharmaceutical care(asuhan kefarmasian). Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi
pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari
pasien.
Secara lebih spesifik, farmasis memiliki tiga tanggung jawab utama; (i) memastikan
bahwa terapi obat pasien diindikasikan secara tepat, paling efektif yang tersedia, paling
aman, paling nyaman digunakan, dan paling ekonomis; (ii) mengidentifikasi, memecahkan
dan mencegah permasalahan-permasalahan terapi obat-obatan (iii) memastikan bahwa
tujuan terapi obat pasien terpenuhi dan hasil-hasil optimal terkait kesehatan tercapai. Semua
tanggung jawab tersebut berpusat pada menghadapi permasalahan-permasalahan terkait obat
pasien (Jones, 2008)
Permasalahan terkait obat (Drug Related Problem/DRPs) adalah setiap peristiwa tidak
diinginkan yang dialami pasien yang melibatkan terapi obat dan pada kenyataannya (atau
kemungkinan besar) mengganggu hasil yang diharapkan (Cipolle dkk,2004). Dengan kata
lain, permasalahan terapi obat adalah permasalahan pasien yang di akibatkan oleh atau dapat
di atasi dengan obat. Permasalahan terapi obat dalam masyarakat mengakibatkan jumlah
morbiditas dan mortalitas yang berarti (Jones,2008)
Tanggung jawab seorang farmasis salah satunya adalah mengidentifikasi masalah
terkait obat yang nyata atau berpotensi terjadi dan memberikan rekomendasi penanganan
atau pencegahannya. Oleh sebab itu, studi kasus masalah terkait obat dilakukan terhadap dua
orang pasien di salah satu ruang rawat inap di Rumah Sakit dr Suyoto Bintaro melalui
penelusuran rekam medis pasien.
Selanjutnya kegiatan ini diharapkan mampu memberikan gambaran kepada para tenaga
kefarmasian dalam melakukan kegiatan farmasi klinis terutama dalam hal identifikasi,
pencegahan dan pemecahan masalah DRPs. Agar tercipta sistem pelayanan yang optimal
untuk mendapatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Tujuan
a. Mengetahui jenis penyakit dan pengobatan pasien pada kasus yang dipilih.
b. Mengawasi dan mengkaji pengobatan pada pasien.
c. Memberikan intervensi bila ditemukan maslah dalam pengobatan.
BAB II
TINJAUAN KASUS I
2.1 Asma
2.1.1 Definisi
Asma adalah penyakit paru berupa keradangan disaluran napas yang

mengakibatkan hiper respon saluran napas terhadap berbagai macam rangsangan yang

dapat menyebabkan penyempitan saluran napas yang menyeluruh sehingga dapat

timbul sesak napas yang reversible baik secara spontan maupun dengan terapi.

2.1.2 Epidemiologi

Asma dapat timbul pada segala umur, di mana 30% penderita mempunyai gejala

pada umur 1 tahun, sedangkan 8090% anak yang menderita asma gejala pertamanya

muncul sebelum usia 45 tahun. Sebagian besar anak yang terkena kadang-kadang

hanya mendapat serangan ringan sampai sedang yang relatif mudah ditangani.

Sebagian kecil mengalami asma berat yang berlarut-larut, biasanya lebih banyak yang

terus menerus dari pada musiman. Hal tersebut yang menjadikannya tidak mampu dan

mengganggu kehadirannya di sekolah, aktivitas bermain, dan fungsi dari hari ke hari.

10,15 Prevalensi asma anak di Australia dengan usia 1213 tahun pada tahun 1982

sebesar 12,9% meningkat menjadi 29,7% pada 1992. Penelitian di Indonesia

memberikan hasil yang bervariasi antara 38%, penelitian yang dilakukan di Medan,

Palembang, Ujung Pandang, dan Yogyakarta memberikan angka berturut-turut 7,99%,

8,08%, 17% dan 4,8%. Penelitian epidemiologi asma yang dilakukan pada siswa SMP

di beberapa tempat di Indonesia, antara lain Palembang di mana prevalensi asma

sebesar 7,4%, Jakarta prevelansi asma sebesar 5,7% dan Bandung prevalensi asma

sebesar 6,7%.
2.1.3 Etiologi

Faktor genetik, lingkungan, allergen, saluran napas (terutama virus), polusi udara,

dan makanan.

2.1.4 Faktor Pencetus

Alergen, fisik, bahan kimia, infeksi, mekanik, psikis.

2.1.5 Patofisiologi

Masuknya bahan alergen kedalam saluran napas akan mengakibatkan reaksi

antara alergen dengan immunoglobulin E. Terjadi pelepasan bahan-bahan mediator

dari mastosit, yang berakibat terjadinya keradangan dimukosa dan submukosa bronkus

sehingga timbul kontraksi otot polos bronkus.

Mekanisme Asma
2.1.6 Gejala Fisis

Sesak napas yang kumat-kumatan dengan napas bunyi ngiik, serta batuk dengan

sputum yang lengket.

2.1.7 Penatalaksanaan asma berdasarkan beratnya keluhan Permenkes No 5- Tahun

2014.

Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila
dibutuhkan, tidak melebihi 3-4 kali sehari
Berat Asma Medikasi pengontrol Alternatif lain Alternatif lain
harian
Asma Tidak perlu - -
Intermiten
Asma Glukokortiko steroid Teofilin lepas Ditambah agonis
Persisten inhalasi (200-400 g lambat beta-2 kerja lama
Ringan BB/hari atau Kromolin oral, atau
ekuivalennya) Leukotriene Ditambah teofilin
modifier lepas lambat
Asma Kombinasi inhalasi Glukokortiko
Persisten glukokortikosteroid steroid inhalasi
Sedang (400-800 g BB/hari (400-800 g BB
atau ekuivalennya) dan atau ekuivalennya)
agonis beta-2 kerja lama ditambah Teofilin
lepas lambat, atau
Glukokortikosteroi
d inhalasi (400-
800 g BB/hari
atau ekuivalennya)
ditambah agonis
beta-2 kerja lama
oral, atau
Glukokortikosteroi
d inhalasi dosis
tinggi (>800 g
BB atau
ekuivalennya) atau

Glukokortikosteroi
d inhalasi (400-
800 g BB atau
ekuivalennya)
ditambah
eukotriene
modifiers
Asma Kombinasi inhalasi Prednisolon/
Persisten glukokortiko steroid (> metilprednisolon
Berat 800 g BB atau oral selang sehari
ekuivalennya) dan agonis 10 mg ditambah
beta-2 kerja agonis beta-2 kerja
lama. Diambah 1 di lama oral,
bawah ini : ditambah teofilin
teofilin lepas lambat lepas lambat
leukotriene modifiers
glukokortikosteroid ora
KASUS 1
PROSTAT

A. Identitas Pasien
1. Nama Pasien :
2. Tanggal Lahir :
3. No. RM :
4. Tinggi Badan :
5. Berat Badan :
6. Tanggal Masuk RS :
a. 21 Maret 2017 jam 10:00 Masuk IGD
b. 21 Maret 2017 jam 12:00 Masuk Rawat Inap ruang Anyelir
7. Riwayat Penyakit Dahulu :
8. Riwayat Penyakit Keluarga :
9. Riwayat Pengobatan :
10. Ketergantungan/kebiasaan :
11. Riwayat Alergi :
12. Anamnesa :
13. Diagnosa :
B. Data Subjektif Pasien

Perkembangan Keluhan Pasien


Keluhan Pasien 21/3 21/3 22/3 22/3 22/3 23/3 23/3 23/3
(12:00) (17:00) (09:00) (13:00) (20:00) (07:00) (12:00) (17:00)
BAK tdk lancar
Nyeri post OP
Mual
Tidak ada keluhan
Skala nyeri

Keluhan Pasien Perkembangan Keluhan Pasien


24/3 24/3 24/3 25/3 26/3 26/3 27/3 27/3
(05:00) (13:00) (20:00)) (06:00) (07:00) (16:00) (07:00) (10:00)
BAK tdk lancar
Nyeri post OP
Mual
Tidak ada keluhan
Skala nyeri

C. Data Obyektif Pasien

1. Fisiologi

Perkembangan Tanda-Tanda Vital Pasien Ket


Parameter 21/3 21/3 22/3 22/3 22/3 23/3 23/3 23/3 24/3
(12:00) (18:00) (06:00) (12:00) (18:00) (06:00) (12:00) (18:00) (06:00)
TD mmHg
Nadi x/menit
Pernapasan x/menit
0
Suhu C

Perkembangan Tanda-Tanda Vital


Parameter 24/3 24/3 25/3 25/3 25/3 26/3 26/3 26/3 27/3 Ket
(12:00) (18:00) (06:00) (12:00) (18:00) (06:00) (12:00) (18:00) (06:00)
TD mmHg
Nadi x/menit
Pernapasan x/menit
0
Suhu C
2. Hasil Pemeriksaan Penunjang Lain

NO Tanggal Pemeriksaan Hasil


1 21/3/2017 RO Thorax Elongasi Aorta, Kardiomegali, tidak ada
kelainan pada paru
2 21/3/2017 USG Ginjal Kristal ginjal kanan kiri tidak tampak
obstruksi, vesica urinaria dalam batas
normal, hipertrofi prostat volume kurang
lebih 46,4 cc dengan prostrusi ke vu kurang
lebih 0,7 cm
3 21/3/2017 EKG Sinus Rhytem, Nstemi Komplikasi
4 21/3/2017 Konsul Penyakit Dalam Riwayat HT&DM (Acc operasi)
5 21/3/2017 Konsul Jantung dan Riwayat HT&DM (Acc operasi)
Pembuluh darah
3. Hasil Laboratorium

Parameter Hasil Nilai Normal/Rujukan Satuan


21/3/2017 (09:30)
HEMATOLOGI
Hematokrit 46 P : 40-48 W:37-43 %
Hemoglobin 15,0 P: 13-16 W:12-14 gr/dL
Leukosit 7.100 5.000 10.000 /L
Trombosit 222.000 150.000 400.000 /L

HEMOSTATIS
Masa Pendarahan 300 1-6 Menit
Masa Pembekuan 1000 5-15 Menit

DIABETES
Gula Sewaktu 151 < 180 mg/dL

FUNGSI GINJAL
Ureum 49 10-50 mg/dL
Creatinin 1,7** 0,6 1,1 mg/dL

Keterangan :
* Hasil laboratorium < dari nilai normal
** Hasil laboratorium > dari nilai normal

Implikasi Klinik :

Peningkatan Creatinin menunjukan adanya penurunan fungsi ginjal dan penyusutan masa
otot rangka (AY. Sutedjo 2008 : 79)
Parameter Hasil Nilai Normal/Rujukan Satuan
26/3/2017 (11:30)
HEMATOLOGI
Hematokrit 45 P : 40-48 W:37-43 %
Hemoglobin 14,6 P: 13-16 W:12-14 gr/dL
Leukosit 8.600 5.000 10.000 /L
Trombosit 231.000 150.000 400.000 /L

HEMOSTATIS
Masa Pendarahan 230 1-6 Menit
Masa Pembekuan 800 5-15 Menit

DIABETES
Gula Sewaktu 146 < 180 mg/dL

FUNGSI GINJAL
Ureum 39 10-50 mg/dL
Creatinin 1,9** 0,6 1,1 mg/dL

FUNGSI HATI
SGOT 20 <35 u/L
SGPT 19 <35 u/L

Keterangan :
* Hasil laboratorium < dari nilai normal
** Hasil laboratorium > dari nilai normal

Implikasi Klinik :

Peningkatan Creatinin menunjukan adanya penurunan fungsi ginjal dan penyusutan masa
otot rangka (AY. Sutedjo 2008 : 79)
4. Profil Pengobatan

Aturan 21/3 22/3 23/3


Nama Obat Kekuatan Rute
Pakai P S S M P S S M P S S M

RL 500 cc Infus 20 tpm Belum terpasang

Glikuidone 30 mg oral 3x1/2 06:00 06:00 18:00 06:00 18:00


Amlodipine 5 mg oral 1x1 06:00 06:00 06:00
CaCO3 500 mg oral 3x1 06:00 12:00 18:00 06:00 12:00 18:00 06:00 12:00 18:00
Nitrokaf 2,5 mg oral 1x1 18:00 18:00 18:00
Candersartan 16 mg oral 1x1 18:00 18:00 18:00
Metformin 500 mg oral 1x1 18:00 18:00 18:00
HCT 25 mg oral 1x1 06:00 06:00 06:00
Bisoprolol 5 mg oral 1x1 12:00 12:00 S T O P
Clonidine 0,15 mg oral 2x1
Alprazolam 0,5 mg oral 1x1
Ciprofloxacin 500 mg oral 2x1
As. mefenamat 500 mg oral 3x1
Harnal Ocas 0,4 mg oral 1x1
Ceftriaxon 1 gr iv 2x1 09:00 21:00 09:00 21:00
Ketorolac 30 mg iv 3x1 17:00 05:00 13:00 21:00
Ranitidine 50 mg iv 2x1 17:00 09:00 21:00
Kalnex 500 mg iv 3x1 21:00 05:00 13:00 21:00

Aturan 24/3 25/3 26/3


Nama Obat Kekuatan Rute
Pakai P S S M P S S M P S S M

RL S T O P

Gluikuidon 30 mg oral 3x1/2 06:00 12:00 18:00 06:00 12:00 18:00 06:00 12:00
Amlodipine 5 mg oral 1x1 06:00
CaCO3 500 mg oral 3x1 06:00 12:00 18:00 06:00 12:00 18:00 06:00 12:00 18:00
Nitrokaf 2,5 mg oral 1x1 18:00 18:00 18:00
Candersartan 16 mg oral 1x1 18:00 18:00 18:00
Metformin 500 mg oral 1x1` 18:00 18:00 18:00
HCT 25 mg oral 1x1 06:00 06:00 06:00
Bisoprolol 5 mg oral 1x1 S T O P S T O P
Clonidine 0,15 mg oral 2x1 06:00 18:00 06:00 18:00
Alprazolam 0,5 mg oral 1x1 22:00 22:00 22:00
Ciprofloxacin 500 mg oral 2x1 06:00 18:00
As. mefenamat 500 mg oral 3x1 06:00 12:00 18:00
Harnal Ocas 0,4 mg oral 1x1 22:00
Ceftriaxone 1 gr iv 2x1 09:00 21:00
Ketorolac 30 mg iv 3x1 05:00
Ranitidine 50 mg iv 2x1 09:00 21:00
Kalnex 500 mg iv 3x1 05:00 13:00 21:00 05:00

Aturan 27/3
Nama Obat Kekuatan Rute
Pakai P S S M

RL S T O P

Gluikuidon 30 mg oral 3x1/2 06:00


Amlodipine 5 mg oral 1x1 06:00
CaCO3 500 mg oral 3x1 06:00
Nitrokaf 2,5 mg oral 1x1
Candersartan 16 mg oral 1x1
Metformin 500 mg oral 1x1
HCT 25 mg oral 1x1 06:00
Bisoprolol 5 mg oral 1x1
Clonidine 0,15 mg oral 1x1 06:00
Alprazolam 0,5 mg oral 1x1
Ciprofloxacin 500 mg oral 2x1 06:00
As.mefenamat 500 mg oral 3x1 06:00
Harnal Ocas 0,4 mg oral 1x1
Ceftriaxone 1 gr iv 2x1
Ketorolac 30 mg iv 3x1
Ranitidine 50 mg iv 2x1
Kalnex 500 mg iv 3x1

Obat Pulang (27/3/2017 jam 11:00)

Nama Obat Kekuatan Rute Aturan Pakai


Gluikuidon (Gluinorm) 30 mg oral 3x1
Amlodipine 10 mg oral 1x1
CaCO3 500 mg oral 3x1
Candersartan 16 mg oral 1x1
Clonidine 0,15 mg oral 2x1
D. Assesment dan plan
1. Data Kajian Dosis Obat Pasien
NAMA DOSIS PADA DOSIS PADA LITERATUR KET
OBAT RESEP
Gluikuidon 3x15 mg Dewasa: dosis sesuai
Dosis dan frekuensi pemberian harus
disesuaikan, bersama pengaturan diet, untuk
menentukan kontrol diabetes terbaik yang
mungkin diperoleh selama sehari penuh.
Dosis awal:
15 mg sehari sebelum makan pagi. Jika
respon yang diharapkan belum memuaskan,
maka dosis dapat dinaikkan perlahan-lahan
dengan setiap kenaikan sebesar 15 mg sampai
45-60 mg sehari yang dapat dibagi 2-3 kali
pemberian, dimana dosis yang terbesar
dberikan sebelum makan pagi.
Maksimal: Dosis tunggal 60 mg
Dosis sehari 120 mg
Sebaiknya selama fase penstabilan sering
dilakukan kadar glukosa darah dan glukosa
urin, sehingga bila perlu, dapat dilakukan
penyesuaian dosis.
Amlodipine 1x5 mg Hipertensi : 5 mg / hari awalnya; Dapat dosis sesuai
ditingkatkan 2,5 mg / hari setiap 7-14 hari;
Tidak melebihi 10 mg / hari; Perawatan: 5-10
mg / hari Penyakit arteri koroner
Pengobatan angina stabil kronis dan angina
vasospastik (Prinzmetal atau varian angina)
dan angiographically didokumentasikan
penyakit arteri koroner (CAD) pada pasien
tanpa gagal jantung atau fraksi ejeksi (EF)
<40% : 5-10 mg / hari awalnya;
Pemeliharaan: 10 mg / hari Angina
CaCO3 3x500mg Suplemen kalsium, atau zat pengikat fosfat dosis sesuai
(dengan makan) pada gagal ginjal, sesuai
dengan kebutuhan penderita.
Nitrokaf 1x2,5 mg Angina Pectoris (profilaksis):Awal 2,5-6,5 dosis sesuai
mg 6-8hr
Gagal Ginjal: CrCl: 10-50 mg / menit:
Berikan 24-72hr, CrCl <10 mL / menit: 72-
96hr
Candersartan 1x16 mg Dosis candesartan untuk hipertensi: Dosis dosis sesuai
awal: 16 mg oral sekali sehari, Dosis lanjutan:
sehari 8-32 mg, dikonsumsi sekali atau dua
kali sehari. Dosis candesartan untuk gagal
jantung: Dosis awal: 4 mg oral sekali sehari.
Dosis target adalah 32 mg sekali sehari,
dicapai dengan menggandakan dosis dalam
interval dua minggu, berdasarkan toleransi
pasien terhadap obat.
Metformin 1x500mg Dosis Awal: 500 mg selama 12hr atau 850 dosis rendah
mg setiap hari dengan makan,
dosis Pemeliharaan: 1500-2550 mg / hari
dibagi 8-12 jam dengan makan
Tidak melebihi 2550 mg / hari
Dapatkan eGFR sebelum memulai metformin
EGFR <30 mL / min / 1.73 m:
Kontraindikasi
EGFR 30-45 mL / min / 1.73 m: Tidak
dianjurkan untuk memulai perawatan
HCT 1x25 mg Hipertensi : dosis Awal: 20 mg / 12,5 mg , dosis sesuai
Bisa meningkat menjadi 40 mg / 25 mg
setelah 2 minggu
Gangguan ginjal : CrCl <30 mL / menit:
Tidak disarankan
Bisoprolol 1x0,5 mg Hipertensi :2,5-5 mg/hari ; Dapat meningkat dosis sesuai
menjadi 10 mg dan jika perlu sampai 20
mg/hari
Gagal jantung : 1,25 mg/ hari; Kenaikan
secara bertahap jika perlu tidak melebihi 10
mg / hari
Gangguan ginjal > 40 mL / menit:
Penyesuaian dosis tidak diperlukan <40 mL /
menit: 2,5 mg / hari pada awalnya; Titrasi
perlahan dan monitor
Clonidine 2x0,15 mg Hipertensi : tablet 0,1 mg selama 12hr dosis sesuai
Rentang: 0,1-0,2 mg / hari selama 12hr;
Tidak melebihi 2,4 mg / hari
Transdermal : Terapkan 1 patch selama 7hr;
Mulai dengan 0,1 mg; Meningkat 0,1 mg
setelah interval 1-2Week; Rentang dosis yang
biasa adalah 0,1-0,3 mg
Alprazolam 1x0,5 mg Kegelisahan :0,25-0,5 mg 6-8 jamTidak Dosis sesuai
melebihi 4 mg / hari
Kecemasan Terkait dengan Depresi : 4 mg /
hari dibagi 8hr
Gangguan ginjal : Gunakan dengan hati-hati
Ciprofloxacin 2x500 mg Prostatitis Bakteri Kronis :Diindikasikan dosis sesuai
untuk prostatitis bakteri kronis yang
disebabkan oleh Escherichia coli atau Proteus
mirabilis :Ringan / sedang: 500 mg selama
12hr atau 400 mg IV selama 28 hari
Asam 3x500 mg dikonsumsi sebanyak 500 mg sebanyak tiga dosis sesuai
mefenamat kali sehari. Dosis asam mefenamat tergantung
kepada tingkat keparahan rasa sakit serta
respons tubuh terhadap obat.
Harnal Ocas 1x1 tab (0,4 mg) dosis 0,2-0,4 mg 1 x/hari. dosis sesuai
Ceftriaxon 2x1 gr Dewasa dan anak >12 tahun : 1 kali sehari 1- dosis sesuai
2 g tergantung pada tingkat keparahan
infeksi. Maksimal : 4 g sehari dalam 2 dosis
terbagi. Anak berusia 3 minggu-12 tahun : 20
mg/kg BB/hari. Maksimal : 80 mg/kg; Anak
50 kg : dosis dewasa harus digunakan;
Anak 2 minggu : 20-50 mg/kg BB/hari.
Meningitis : 100 mg/kg BB/hari. Maksimal :
4 g/hari. Gonore : 250 mg IM dosis tunggal.
Profilaksis : 1-2 g dosis tunggal 30-90 menit
pra operasi.
Ketorolac 3x30 mg IV: 30 mg sebagai dosis tunggal atau 30 mg dosis sesuai
6hr; Tidak melebihi 120 mg / hari
IM: 60 mg sebagai dosis tunggal atau 30 mg
6hr; Tidak melebihi 120 mg / hari
Ranitidine 2x50 mg Pada umumnya ranitidin dikonsumsi dosis sesuai
sebanyak 300 mg per hari. Dosis ini bisa
diminum sekaligus atau dibagi menjadi dua.
Ranitidin bisa diberikan selama 2-12 minggu,
tergantung pada kondisi dan respons pasien
terhadap pengobatan.
Kalnex 3x500mg Dosis 2,5 - 5 mL per hari disuntikkan secara dosis sesuai
(100mg/5ml) intravena atau intramuskular, dibagi dalam 1 -
2 dosis pada waktu atau sesudah operasi, bila
perlu, 5 - 25 mL diberikan dengan cara infus
intravena.
E. ANALISIS PCNE (ASSESSMENT AND PLAN (IDENTIFIKASI, MANAJEMEN AND PLAN
DRP)

Obat Assessment (Indikasi DRP) Plain /Rekomendasi


Nama obat Rute Aturan Problem Causes Intervensi Outcome Ket
pakai
CaCO3 oral 3x1 P1.3 Efek C1.1 Obat I1.1Menginfor O3.3 Masalah Dilakukan
Ceftriaxone yang tidak yang tidak masikan tidak pada dokter
RL diinginkan tepat (termasuk kepada dokter terselesaikan, penanggung
dari terapi kontraindikasi) intervensi tidak jawab pasien
efektif (DPJP)
\
(KONTRAI Risiko Melakukan Terapi tetap
NDIKASI) presipitasi diskusi dengan dilanjutkan
partikulat yang DPJP
berpotensi
fatal di paru-
paru, ginjal.
Pisahkan
setidaknya 48
jam.
Bisoprolol oral 1x1 P1.3 Efek C1.1 Obat I1.1Menginfor O1.0Masalah Dilakukan
Amlodipine yang tidak yang tidak masikan terselesaikan pada dokter
diinginkan tepat (termasuk kepada dokter seluruhnya penanggung
dari terapi kontraindikasi) jawab pasien
(DPJP)
(MAYOR) meningkatkan Melakukan Terapi bisoprolol
pemblokiran diskusi dengan di stop
saluran anti- DPJP
hipertensi
Metformin oral 1x1 P1.3.Efek C1.1 Obat I1.1Menginfor O3.3Masalah Dilakukan
Ranitidine yang tidak yang tidak masikan tidak pada dokter
diinginkan tepat (termasuk kepada dokter terselesaikan, penanggung
dari terapi kontraindikasi) intervensi tidak jawab
efektif pasien
(DPJP)
(MAYOR) Ranitidin akan Melakukan Terapi tetap
meningkatkan diskusi dengan dilanjutkan
tingkat atau DPJP
efek metformin
dengan
mengurangi
pembersihan
ginjal
Metformin oral 1x1 P1.2.Efek C3.1Dosis I1.1Menginfor O1.0Masalah Dilakukan
500mg pengobatan terlalu rendah masikan terselesaikan pada dokter
tidak kepada dokter seluruhnya penanggung
optimal. jawab
dosis Melakukan GFR 30-45 mL pasien
Pemeliharaan: diskusi dengan / min / 1.73 m: (DPJP
1500-2550mg/ DPJP Tidak
hr dibagi 8-12 dianjurkan
jam untuk memulai
perawatan

Dikarenakan
hasil kreatinin
pasien
mengalami 1.9
mg/dL
Peningkatan
kreatinin
menunjukan
adanya
penurunan
fungsi ginjal
dan penyusutan
masa otot
rangka (AY.
Sutedjo 2008 :
79)

Dosis diberikan
rendah oleh
Dokter DPJP

Alprazolam oral 1x1 P3.2 Terapi C7.2 Pasien I3.5Menghenti O3.3 Masalah Dilakukan
obat yang menggunakan kan tidak pada dokter
tidak perlu. obat yang tidak pengobatan terselesaikan, penanggung
diperlukan intervensi tidak jawab pasien
efektif (DPJP)

Alprazolam Penggunaan Terapi tetap


digunakan alprazolam dilanjutkan
untuk tidak tepat Karena pasien
mengatasi sebaiknya di tidak bisa tidur
kecemasan dan STOP efek nyeri post
serangan panik OP
F. ANALISIS DRP

KATEGORI DRP KETERANGAN

Ada obat tanpa indikasi


Ada indikasi tanpa obat -
Dosis obat terlalu tinggi -
Dosis obat terlalu rendah
Pemilihan obat kurang tepat
Reaksi obat tidak dikehendaki
Interaksi obat
Pasien gagal menerima obat -

Lain lain -

G. PEMBAHASAN

Pasein Tn. Muller Siregar berumur 66 tahun dirawat sejak tanggal 21 Maret 2017
sampai 27 Maret 2017. Pasien masuk ke UGD dengan keluhan BAK tidak lancar dengan
riwayat penyakit Hipertensi dan Diabetes Millitus. Riwayat penyakit keluarga tidak ada
(dalam keluarga tidak ada yang pernah mengalami keluhan atau gejala seperti ini), riwayat
alergi tidak ada. Riwayat pengobatan sebelum masuk di RS dr.Suyoto Amlodipine 5 mg,
Candesartan 16 mg, Gluikuidon, Metformin 500 mg. Pasien di diagnosa Benign Prostatic
Hyperplasia (BPH).
Pada saat masuk pasien dilakukan pemeriksaan umum dengan hasil yaitu Tekanan
Darah 180/100 mmHg dari nilai normalnya 120/80 mmHg, Suhu Tubuh 360C, Pernafasan
22x/menit, Nadi 64x/menit dan Kadar gula darah 151mg/dl. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan laboratorium dengan hasil yaitu nilai fungsi ginjal Creatinin tinggi yaitu 1,7
mg/dl (rujukan 0,6-1,1 mg/dl). Peningkatan Creatinin menunjukan adanya penurunan
fungsi ginjal dan penyusutan masa otot rangka (AY. Sutedjo 2008 : 79).
Pasien diberikan terapi pengobatan awal dengan oral seperti Glikuidone, Amlodipine,
CaCO3, Nitrokaf, Candersartan, Metformin, HCT, Bisoprolol. Hari pertama pasien masuk
blm di berikan infusan Range Laktat tetapi dihari kedua pasien baru terpasang infus. Pasien
direncanakan operasi
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), karena pasien memiliki riwayat penyakit DM dan
Hipertensi pasien di konsultasikan dengan dokter DPJP penyakit Dalam dan dokter DPJP
penyakit Jantung dan Pembuluh darah setelah dikonsultasikan pasien di perbolehkan
dilakukan tindakan operasi.
Tindakan operasi di lakukan pada tanggal 22/3/2017 jam 12:30 sebelumnya pasien
dilakukan skin test Ceftriaxone injeksi untuk pemberian antibiotik injeksi post operasi.
Setelah operasi pasien diberikan terapi injeksi Ceftriaxon inj untuk antibiotik, Keterolac inj
untuk analgetik , Ranitidin inj antialergi dan tukak lambung dan Kalnex inj untuk
pendarahan. Setelah terapi injeksi diberikan selama kurang lebih 3 hari pasien diberikan
terapi oral yaitu Ciprofloxacin untuk antibiotik, Asam mefenamat untuk analgetik. Tanggal
25 terapi oral obat Bisoprolol di stop dan digantikan dengan diberikan terapi oral Clonidine.
Terapi inhibitor reseptor H2 (ranitidin) diberikan untuk mencegah timbunya perdarahan
lambung (PERDOSSI, 2011:61). Pasien ini memperoleh terapi ranitidin dengan dosis 2 x 50
mg (injeksi IV). Dosis yang digunakan termasuk adekuat, dalam BNF edisi 61 (2009:53)
untuk mereduksi asam lambung (mencegah pengeluaran asam lambung), injeksi intravena
lambat (2 menit), 50 mg diencerkan dengan 20 mL diberikan tiap 8 jam. Dapat dilanjutkan
dengan penggunaan oral 2 x sehari 150 mg. Dosis yang digunakan pasien 2 x 1 ampul,
sediaan ranitidin 2 mL untuk 1 ampul dengan kekuatan 25 mg/mL jadi 1 ampul = 50 mg/2
mL. Setelah pasien pulang diganti dengan ranitidin tablet 2 x 150 mg. Penyesuaian dosis
ranitidin diperlukan pada pasien dengan eGFR < 50 mL/minute/1.73m2 (BNF edisi 61,
2009:53). Pada pasien ini dosis ranitidin disesuaikan karena pasien mengalami gangguan
ginjal, berdasarkan hasil serum kreatinin 1,9 mg/dL, usia 66 tahun, berat badan 79 kg, maka
dihitung klirens kreatinin = 42,73 (stage 1/normal; KDIGO, 2012:5).
Pemberian obat Caco3 bersamaan dengan Ceftriaxon inj dan infus RL terjadi DRP Efek
yang tidak diinginkan dari terapi yaitu Risiko presipitasi partikulat yang berpotensi fatal di
paru-paru, ginjal. Pisahkan setidaknya 48 jam. Setelah dilakukan diskusi dengan dokter DPJP
terapi tetap dilanjutkan. Pemberian Bisoprolol dengan Amlodipine dapat menyebabkan
terjadinya DRP dapat menyebabkan meningkatkan pemblokiran saluran anti-hipertensi
menurut (Medscape) Setelah dilakukan diskusi dengan dokter DPJP terapi Bisoprolol di stop.
Pemberian Metformin berserta Ranitidine dapat menyebabkan efek samping yang tidak
diinginkan karena Ranitidin akan meningkatkan tingkat atau efek metformin dengan
mengurangi pembersihan ginjal karena pasein mengalamin kerusakan ginjal dengan hasil
Creatinin pasein 1,9 mg/dL sebaiknya pemberian Ranitidine distop tetapi setelah dilakukan
diskusi dengan dokter DPJP tetap terapi dilanjutkan.
Pemberian dosis Metformin terlalu rendah hanya 1x500 mg sehari efek pengobatan tidak
optimal karena dosis Pemeliharaan: 1500-2550mg/ hr dibagi 8-12 jam (Medscape) setelah
dilakukan diskusi dengan dokter DPJP karena GFR 30-45 mL / min / 1.73 m: Tidak
dianjurkan untuk memulai perawatan, dikarenakan hasil kreatinin pasien mengalami 1.9
mg/dL. Peningkatan kreatinin menunjukan adanya penurunan fungsi ginjal dan
penyusutan masa otot rangka (AY. Sutedjo 2008 : 79) terapi tetap dilanjutkan dengan Dosis
diberikan rendah oleh Dokter DPJP.
Pemberian terapi oral tambahan Aprazolam tidak tepat karena Alprazolam digunakan
untuk mengatasi kecemasan dan serangan panik keadaan pasien tidak cemas hanya
merakasan nyeri setelah operasi pemberian obat analgetik ketorolac inj sudah cukup tetapi
Karena pasien tidak bisa tidur efek nyeri post OP pememberian terapi Aprazolam tetap
diberikan.

H. ASUHAN KEFARMASIAN

1. Pemantauan Terapi Obat Pasien


a. Melakukan visite ke pasien untuk mengetahui kondisi pasien sehubungan dengan
penentuan/pemastian terapi obat pasien
b. Melakukan visit ke pasien untuk memastikan obat infuse yang diberikan benar dan
kebutuhan cairan terpenuhi
2. Konseling Pengobatan Pasien
a. Memberikan informasi pada pasien bahwa sebaiknya minum Asam mefenamat setelah
makan agar tidak menyebabkan iritasi lambung.
b. Sebaiknya pasien tidak minum jus buah bersamaan dengan minum obat.
c. Sebaiknya pada saat minum obat yang diresepkan dokter, pasien tidak minum obat
lainnya

I. KESIMPULAN

1. Pasien Tn. Muller Siregar didiagnosa menderita Pasien di diagnosa Benign Prostatic
Hyperplasia (BPH).
2. Adanya DRP (Drug Related Problem) diantaranya yaitu :
a. Adanya interaksi obat CaCO3+Ceftriaxone+RL : risiko presipitasi partikulat yang
berpotensi fatal di paru-paru, ginjal. Pisahkan setidaknya 48 jam.
b. Adanya interaksi obat Bisoprolol+Amlodipine : meningkatkan pemblokiran saluran anti-
hipertensi.
c. Adanya interaksi Metformin+Ranitidien : meningkatkan pemblokiran saluran anti-
hipertensi.
d. Dosis terlalu rendah Metformin 1x500mg : dosis Pemeliharaan: 1500-2550mg/ hr
dibagi 8-12 jam.
e. Terapi obat yang tidak perlu pemberian obat Aprazolam : Alprazolam digunakan untuk
mengatasi kecemasan dan serangan panik

J. SARAN
1. Pemberian Ceftriaxone sebaiknya dilakukan dengan cara di drip dengan NaCl 100 ml.
2. Pemberian bisoprolol dan amlodipine sebaiknya di pisah atau di stop salah satunya.
3. Pemberian Metformin di jedah waktunya dengan pemberian obat Ranitidine.
4. Peningkatan dosis Metformin menjadi 3x500mg (1500mg).
Pemberian Alprazolam tidak perlu diberikan