Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3 ); Sept 2013

KERJASAMA TIM DALAM BUDAYA KESELAMATAN PASIEN


DI RS X (STUDI KUALITATIF DI SUATU RSUD DI PROPINSI JAWA BARAT)
Apriningsih1, Desmawati2,Mohamad Joesro3

1
Tenaga pengajar Kesmas FIKES UPN Veteran Jakarta
2,3
Tenaga pengajar Keperawatan FIKES UPN Veteran Jakarta
Alamat korespondensi: apriningsih@gmail.com

ABSTRAK

Keselamatan Pasien merupakan salah satu indikator dalam mutu pelayanan yang perlu di tegakkan. Salah satu pilar
dari program keselamatan pasien adalah mempromosikan budaya keselamatan pasien. Terdapat beberapa variabel
yang menjadi parameter budaya keselamatan pasien, diantaranya kerjasama tim . Penelitian ini mencoba
mengeksplorasi secara kualitatif tentang pentingnya kerjasama tim dalam implementasi budaya keselamatan pasien di
RSUD X. Suatu rumah sakit pemerintah tipe C yang termasuk dalam propinsi Jawa Barat. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Sampel penelitian ini adalah wakil dari pihak
manajemen, karyawan RSUD X dan pasien yang diambil secara purposive sampling. Rumah Sakit Umum Daerah X
terletak di perbatasan ibu kota DKI Jakarta dan menjadi sebuah kebanggaan masyarakat Kota tersebut. Di RSUD X,
sebagian besar narasumber menyatakan bahwa belum ada komunikasi khusus untuk patient safety dari pimpinan,
hanya rapat bulanan secara umum saja dan keselamatan pasien menjadi agenda di dalamnya bila ada kebutuhan selain
itu ada post conference saat pergantian shift sebagai saluran komunikasi. Namun demikian keterbukaan dan keadilan
yang menjadi dasar dalam budaya keselamatan pasien sudah mulai terbentuk. Manager dan pimpinan tim keselamatan
pasien perlu untuk melakukan pendekatan sistem, bertindak tidak dengan menyalahkan seseorang yang di sebabkan
ketidakmampuannya atau kurang motivasi, namun berfokus pada aspek desain sistem yang buruk sebagai penyebab
masalah. Kepatuhan terhadap prosedur standard keamanan di RSUD X masih perlu di tingkatkan lagi sebab
pengawasan masih kurang dan belum pernah ada evaluasi tentang kepatuhan terhadap standard keamanan di RSUD X.

Kata kunci : kerjasama tim keselamatan pasien

Pendahuluan dengan rentang 3,2-16,6% pada rumah sakit di berbagai


negara, yaitu Amerika, Inggris, Australia, dan Denmark.
Keselamatan Pasien merupakan salah satu Sedangkan laporan insiden keselamatan pasien dari
indikator dalam mutu pelayanan yang perlu di KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien-Rumah Sakit)
19
tegakkan . Keselamatan pasien penting untuk di mengenai KTD (Kejadian Tidak di Harapkan) di
perhatikan karena menyangkut keselamatan jiwa Indonesia pada tahun 2010, menemukan bahwa terjadi
manusia. Salah satu pilar dari program keselamatan peningkatan kasus KTD dari 46,2% pada tahun 2007
pasien adalah mempromosikan budaya keselamatan menjadi 63%. Dampaknya adalah memperpanjang masa
pasien. Upaya menciptakan atau membangun budaya rawat, meningkatkan cidera, kematian, perilaku saling
keselamatan (safety culture) merupakan langkah menyalahkan, konflik antara petugas dan pasien,
pertama dalam langkah-langkah mencapai Keselamatan tuntutan dan proses hukum, blow up media massa,
Pasien, sebagaimana tercantum pula dalam langkah dapat menurunkan citra dari sebuah rumah sakit, serta
pertama dari konsep Tujuh Langkah Menuju dapat mengindikasikan bahwa mutu pelayanan di
Keselamatan Pasien Rumah Sakit di Indonesia, yaitu 5
rumah sakit masih kurang baik . Bidang spesialisasi
Bangun Kesadaran akan Nilai Keselamatan Pasien. unit kerja di temukan kasus paling banyak pada unit
Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan penyakit dalam, bedah dan anak yaitu sebesar 56,7%
adil. Selain itu, hambatan terbesar untuk memperbaiki dibandingkan unit kerja yang lain. Sedangkan untuk
pelayanan kesehatan yang lebih aman adalah budaya pelaporan jenis kejadian, near miss lebih banyak
dari organisasi kesehatan3. Peningkatan keselamatan dilaporkan sebesar 47,6% dibandingkan KTD sebesar
pasien membutuhkan sistem pelayanan kesehatan yang 46,2%7. Dalam Penelitian ini peneliti mencoba
memiliki akses informasi yang mendukung belajar dari mengeksplorasi secara kualitatif tentang pentingnya
4
kesalahan . kerjasama tim dalam implementasi budaya keselamatan
pasien di RSUD X. Suatu rumah sakit pemerintah tipe
Laporan Institute of Medicine, USA6, rata-rata C yang termasuk dalam propinsi Jawa Barat.
pasien mati akibat kesalahan medis di USA 44.000-
98.000/tahun. WHO (2004) menemukan kasus KTD
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3 ); Sept
2013 Metodelogi Penelitian a. Komunikasi dalam unit, antar unit dan
komunikasi terbuka
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
dengan menggunakan pendekatan etnografi yaitu jenis Sebagian besar narasumber menyatakan bahwa
penelitian sosial yang bertujuan untuk mendapatkan belum ada komunikasi khusus untuk patient safety dari
9
suatu gambaran dari fenomena yang di teliti . Sampel pimpinan, hanya rapat bulanan secara umum saja dan
penelitian ini adalah wakil dari pihak manajemen, keselamatan pasien menjadi agenda di dalamnya bila
karyawan RSUD DEPOK dan pasien yang diambil ada kebutuhan selain itu ada post conference saat
secara purposive sampling. Teknik Purposive sampling pergantian shift sebagai saluran komunikasi.
biasanya digunakan dalam penelitian kualitatif dan Staf akan bebas berbicara jika mereka melihat
dapat didefinisikan sebagai unit seleksi (misalnya sesuatu yang akan berdampak negatif kepada pasien
individu, kelompok individu, institusi) berdasarkan dan merasa bebas bertanya terhadap keputusan atau
pada tujuan yang spesifik dihubungkan dengan tindakan dari mereka yang mempunyai otoritas lebih
menjawab pada pertanyaan-pertanyaan penelitian 10. tinggi.
Selanjutnya Maxwell (1997) dalam Yu dan Tedli, Mereka bebas berbicara, meskipun nantinya
10 menyakitkan manajemen dan direktur, dokter dan
(2007) menjelaskan purposive sampling sebagai suatu
jenis sampling dimana tatanan tertentu, orang-orang perawat lah yang paling banyak memberikan atau
atau kejadian yang dipilih secara sengaja untuk membicarakan masalah secara bebas (Kabid
informasi penting yang tidak dapat di temukan dari keperawatan).
sumber yang lain. Ya, tetapi tidak semua staf karena, semua staf tidak
selalu bisa mengkomunikasikan apa yang ingin
Hasil ditanyakan kepada pihak yang mempunyai otoritas
yang lebih tinggi.(PJ)
Rumah Sakit Umum Daerah X mulai dibangun
pada tahun 2004 dan merupakan satu-satunya Rumah Sebagian besar narasumber menyatakan bahwa
Sakit milik Pemerintah yang berada di Kota X. Kota staf merasa takut untuk bertanya jika sesuatu hal yang
yang terletak di perbatasan ibu kota DKI Jakarta. terlihat tidak benar (negatif). Karena tidak semua orang
Rumah sakit ini menjadi sebuah kebanggaan memiliki keberanian untuk berbicara dan memiliki
masyarakat Kota tersebut. Oleh karenanya sebagai perasaan takut untuk di salahkan namun biasanya
rumah sakit yang menjadi tumpuan harapan masyarakat mereka akan menyampaikannya kepada temannya
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman untuk kemudian di teruskan kepada pimpinan.
dan bermutu, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mendapatkan deksripsi penerapan budaya keselamatan b. Kepercayaan/Trust
pasien di rumah sakit ini. Tulisan ini membahas tentang Sebagian besar narasumber menyatakan
pentingnya kerjasama tim sebagai salah satu parameter bahwa Staf merasa kesalahan kesalahan mereka
penerapan budaya keselataman pasien di rumah sakit. ditimpakan kepada mereka, namun sudah mulai di
bangun sistem untuk tidak menyalahkan orangnya
Dalam penelitian ini dilakukan wawancara
melainkan memperbaiki sistem. jika suatu kejadian
mendalam untuk mendapatkan informasi mengenai
dilaporkan, lebih dituliskan masalahnya bukan
budaya keselamatan pasien di RSUD X yang berasal
orangnya.
dari 10 orang narasumber yaitu Kepala Bidang
keparawatan, Kepala seksi Rawat inap dan Rawat jalan, Ada yang takut, tetapi mereka memilih untuk
Penanggung jawab Ruangan rawat inap, dua tenaga menceritakan-nya kepada teman mereka, untuk
pelaksana keperawatan/ staf perawat, dan lima orang kemudian diungkapkan oleh temannya ke atasan,
pasien. Obervasi dilakukan terhadap ruangan rawat inap karena tidak semuanya bisa berkomunikasi dengan
dan rawat jalan rumah sakit dan dilakukan pula telaah baik, dan memiliki perasaan takut di salahkan (PJ)
dokumen terutama dokumen SOP (Standard of Kami menuliskan orang dan masalahnya, tetapi kami
Procedure) dan laporan KTD (Kejadian Tidak Di lebih mengutamakan untuk membahas masalahnya,
harapkan) maupun KNC (Kejadian Nyaris Cedera). pelapor atau orang ditulis hanya sebagai pihak yang
akan bertanggungjawab akan laporan yang diberikan
Kerjasama tim (KRR)
Kerjasama tim antar unit mempermudah
implementasi suatu program kerja dan pelaksanaan
c. Pembelajaran Organisasi dan Perbaikan
hasil tindak lanjut20. Penelitian ini menggunakan Berkelanjutan
variabel Kerjasama tim yang terdiri dari tiga sub
variabel yaitu komunikasi dalam unit, antar unit dan Organisasi belajar dari insiden yang terjadi
untuk melakukan perbaikan.Setelah ada kejadian maka
komunikasi terbuka, kepercayaan atau trust, dan akan ada pelaporan sesuai prosedur dan melakukan
Pembelajaran organisasi dan Perbaikan berkelanjutan. tindak lanjut.
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3 ); Sept 2013
Melaporkannya sesuai tatacara pelaporan, Praktek mencuci tangan di kalangan petugas
menganalisa, membuat kronologis dan memperbaikinya RS sudah di praktekkan sesuai standard dan pihak
atau memberikan follow up untuk mengatasi insiden manajemen sudah menyediakan handscrub di depan
itu (KRR) setiap ruangan rawat inap. Namun terkadang botol
handscrub tidak terisi cairan pembersih sebab masih
Umpan balik berupa pelatihan terkait dengan kurangnya pegawai yang mengontrol dan mengisi
keselamatan dari Supervisor di rasakan masih kurang ulang.
bahkan oleh tenaga pelaksana shift malam di rasakan
tidak ada. Terakhir pelatihan di lakukan bulan Juni Sudah baik mengikuti 7 langkah mencuci tangan,
2013, sehubungan dengan di bentuknya Tim KPRS tetapi kami lebih banyak menyediakan scrub di depan
yang baru. setiap ruangan. Untuk mengisi hand scrub, tetapi tidak
ada tenaga untuk mengontrol itu sehingga hanya
d. Kesadaran individual bagian manajerial yang kemungkinan lagi ada waktu
luang yang akan melakukannya (Kasie Ranap& rajal)
Staf pernah di minta untuk melakukan penilaian
kompetensi diri setahun sekali namun belum terbudaya Pegawai RSUD X lebih mengutamakan
untuk self report dari jumlah kejadian yang dilaporkan. keselamatan pasien meskipun berdampak pada
peningkatan biaya. Hal ini dapat di lihat dari di
Self assestment, bagi perawat ada self sediakannya tabung oksigen portable, alat ICU
assestment yang dilakukan setahun sekali (Kabid walaupun belum tersedia ruang ICU, Ventilator, kasur
Keperawatan) decubitus, dan kulkas khusus untuk penyimpanan obat.
Organisasi melakukan penilaian risiko yang Pegawai mempunyai cukup waktu untuk
bersifat proaktif mencakup suatu pendekatan sistematik memberikan pelayanan yang aman bagi pasien, namun
untuk mengidentifikasi bagaimana suatu proses dapat pada tataran tenaga pelaksana merasakan masih kurang
gagal, mengapa bisa gagal, dan bagaimana untuk terutama apabila jumlah pasiennya sedang banyak.
membuatnya lebih aman. Penilaian dilakukan dengan
analisa penanganan masalah yang terus berlangsung Ya, keselamatan pasien utama walaupun mahal,
saat ini. contohnya menyediakan tabung oksigen sebagai
cadangan (portable) yang tidak hanya didapat dari
Kepatuhan terhadap prosedur standard cabang, menyediakan alat ICU, Ventilator, Kasur
keamanan di RSUD X di nilai sudah cukup oleh decubitus dan tempat penyimpanan obat di kulkas
sebagian besar narasumber, namun di ungkapkan oleh khusus obat (Kasie Ranap& rajal)
narasumber yang lain masih perlu di tingkatkan lagi
sebab pengawasan masih kurang dan belum pernah ada .Ya, setiap pegawai mempunyai tugasnya masing-
evaluasi tentang kepatuhan terhadap standard masing dan itu cukup bila pasien observasinya tidak
keamanan di RSUD . banyak(Kasie Ranap & rajal)
Kepatuhannya perlu ditingkatkan karena supervisinya Pembahasan
kurang, kurang ini dikarenakan belum ada orang yang
mengisi di supervisi ini dan belum pernah di lakukan Keselamatan pasien adalah usaha suatu tim, tim
evaluasi tentang kepatuhan petugas terhadap nilai- yang paling efektif mempunyai tujuan yang sama dalam
nilai keselamatan pasien (Kasie Ranap & Rajal & bekerja, dan adanya kerja tim yang tidak efektif
Kabid Keperawatan) menciptakan berbagai peluang untuk terjadinya
kesalahan/errors (Merry & Brown, 2002; White, 2004).
Seluruh narasumber menyatakan bahwa staf aktif 3
Pronovost (2003) dalam Rachmawati 2012 ,
melakukan hal-hal yang memperbaiki Keselamatan menyatakan bahwa kesenjangan komunikasi di antara
pasien sebab kesalahan yang ada akan dilaporkan dan anggota tim adalah dasar dari kebanyakan kesalahan
dievaluasi atau ditindak langsung untuk perubahan ke medis yang terjadi.
arah yang baik.
Di RSUD X, sebagian besar narasumber
Belum ada evaluasi khusus untuk melihat menyatakan bahwa belum ada komunikasi khusus
keefektifan program Keselamatan pasien di RSUD X untuk patient safety dari pimpinan, hanya rapat bulanan
sebab berkaitan dengan baru terbentuknya Tim KPRS secara umum saja dan keselamatan pasien menjadi
baru pada bulan Juni 2013. agenda di dalamnya bila ada kebutuhan selain itu ada
post conference saat pergantian shift sebagai saluran
Sebagian besar narasumber menyatakan bahwa komunikasi. Padahal Komunikasi merupakan kunci
para pegawai di RSUD X akan mempertimbangkan 16
bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien .
keselamatan pasien jika ada perubahan program/proses Menurut Budiharjo
12
Komunikasi menjadi saluran
layanan atau bila ada peralatan/ sarana baru dan akan penting dalam penanaman nilai-nilai safety yaitu antara
menginformasikannya kepada pasien. lain : sosialisasi informal maupun formal, misalnya
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3 ); Sept 2013
pada morning tea session selalu dilakukan penanaman Kepatuhan terhadap prosedur standard
nilai-nilai melalui cerita ataupun diskusi. Sosialisasi keamanan di RSUD X masih perlu di tingkatkan lagi
dapat pula dilakukan melalui walk the talk, atau MBWA sebab pengawasan masih kurang dan belum pernah ada
(Management By Walking Around); para pemimpin evaluasi tentang kepatuhan terhadap standard
secara berkala mendatangi para stafnya selain keamanan di RSUD X. Pengawasan yang dilakukan
mengontrol juga meningatkan pentingnya safety. Di kepala ruangan berpengaruh terhadap kinerja perawat
samping itu, dilakukan sosialisasi ritual tertentu seperti dan harus dilakukan secara objektif untuk pembinaan
misalnya pemilihan karyawan teladan dan acara-acara perawat dan pencapaian target kerja. Pelaksanaan
formal family day. Slogan-slogan, poster, dan simbol- pengawasan bukan hanya untuk mengawasi apakah
simbol yang mempromosikan keselamatan pasien seluruh staf menjalankan tugasnya sesuai instruksi atau
seyogianya dipasang di tempat-tempat strategis RS agar ketentuan yang berlaku namun pengawasan juga
semua karyawan dan pasien ikut berpartisipasi dalam melakukan pengamatan secara langsung dan berkala
menanamkan budaya keselamatan pasien. untuk kemudian bila ditemukan masalah segera
Di RSUD X sebagian besar staf akan bebas diberikan bantuan yang bersifat langsung untuk
berbicara jika mereka melihat sesuatu yang akan mengatasinya 21.
berdampak negatif kepada pasien dan merasa bebas
bertanya terhadap keputusan atau tindakan dari mereka Kesimpulan
yang mempunyai otoritas lebih tinggi. Hal ini
merupakan hal yang menunjukkan bahwa keterbukaan Budaya keselamatan pasien di RSUD X sudah
dan keadilan yang menjadi dasar dalam budaya ada sejak tahun 2011 seiring dengan pembentukan Tim
keselamatan pasien sudah mulai terbentuk. Namun Keselamatan Pasien RS (KPRS), namun dalam
masih di dapatkan informasi bahwa masih ada staf yang perkembangannya sempat vakum. Budaya keselamatan
merasa sungkan untuk berbicara sehingga perlu di di RSUD X mulai kembali digalakkan lagi setelah tidak
dorong dan di beri motivasi agar mau bebas berbicara. berjalan selama 2 tahun. Dengan di bentuknya tim
Manager dan pimpinan tim keselamatan pasien perlu Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang baru pada bulan
untuk melakukan pendekatan sistem, bertindak tidak Juni 2013 di harapkan program keselamatan pasien
dengan menyalahkan seseorang yang di sebabkan mulai berjalan secara aktif dan budaya keselamatan
ketidakmampuannya atau kurang motivasi, namun pasien yang sudah ada bisa terinternalisasi dalam setiap
berfokus pada aspek desain sistem yang buruk sebagai diri petugas Rumah Sakit dari jajaran manajemen
18 hingga jajaran pelaksana. Kerjasama tim merupakan
penyebab masalah .
variabel yang penting dalam parameter budaya
Dalam team work di unit RS menunjukkan keselamatan pasien. Pelaksanaan kerjasama tim di
sejauh mana anggota suatu divisi kompak dan bekerja RSUD X, sudah baik dengan terciptanya keterbukaan
sama dalam tim. Juga adanya keterbukaan yang dalam komunikasi dan budaya tidak menghakimi,
menunjukkan sejauh mana keterbukaan antar-anggota namun demikian terdapat faktor yang perlu mendapat
dan pimpinan. Ada pula umpan balik dan komunikasi perhatian dan perlu di tingkatkan yaitu komunikasi
tentang kesalahan yang menunjukkan sejauh mana khusus tentang keselamatan pasien, umpan balik berupa
umpan balik diberikan para pimpinan. Kemudian, pelatihan dan supevisor dan budaya self report dari
respon non-punitif terhadap kesalahan: menunjukkan kejadian yang membahayakan keselamatan pasien.
sejauh mana pengakuan akan kesalahan tidak
12 Saran
ditanggapi dengan hukuman .
Umpan balik/pelatihan terkait dengan Hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk
keselamatan dari Supervisor di rasakan masih kurang peningkatan berkelanjutan adalah perlu di tingkatkan
bahkan oleh tenaga pelaksana di rasakan tidak ada. lagi budaya pencatatan dan pelaporan kasus
Terakhir pelatihan di lakukan bulan Juni 2013, keselamatan pasien di RSUD X, komunikasi rutin
sehubungan dengan di bentuknya Tim KPRS yang baru. tentang KP, penilaian risiko pasien jatuh mulai dari
Padahal dalam penerapan sistem manajemen yang pendaftaran, saat transfer dari satu unit ke unit yang
berdasarkan model Competency-Based Human Asset, lain, setelah pasien jatuh dan regular interval (harian,
kompetensi seseorang dinilai dari sudut hard skill mingguan dan bulanan), penyediaan fasilitas dan sarana
(pengetahuan dan keahlian) dan soft skill prasarana untuk mencegah kasus pasien jatuh, dan perlu
3
(perilaku,motivasi, talenta) . Seorang perawat harus di lakukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi
selalu memperbaharui/update pengetahuan dan tim KPRS yang baru terbentuk secara umum dan
ketrampilannya, kemampuan teknis, berpikir kritis dan penelitian tentang implementasi pencegahan dan
ketrampilan hubungan interpersonal, dalam lapangan pengendalian infeksi di instalasi lain (UGD,Rawat
jalan, dll). Melakukan sosialisasi tentang keselamatan
yang selalu berubah3. Kompetensi juga
pasien secara berkesinambungan.
mengembangkan budaya kerja yang positif, karena
keyakinan akan kompetensi rekan kerja akan Ucapan terimakasih
meningkatkan kerja tim/teamwork.
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3 ); Sept 2013
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Rektor UPN Tedllie Charles dan Yu Fen.2007.Mixed Methods
Veteran Jakarta dan Dekan FIKES UPN Veteran Sampling. A Typology With Examples.Jourbal of
Jakarta yang telah memberikan dukungan dana untuk Mixed Methods Research.Tersedia di
penelitian ini. Staf Pengajar di FIKES UPNVJ ,Staf http://mmr.sagepub.com di unduh pada Januari 2009
LPPM dan Rekan Dosen di FIKES UPNVJ atas
masukan dan saran yang di berikan untuk perbaikan Handler, S.M., Castle, N.G., Studenski, S.A., Perera, S.,
laporan penelitian ini. Fridsima, D.B., Nace,D.A., & Hanlon, J.T. (2006).
Patient safety culture assessment in the nursing home.
Journal of Quality Safety Health Care, 15, 400-404.
Daftar Pustaka
Budihardjo.Andreas. Pentingnya Safety Culture di
RS.Upaya Meminimalkan Adverse Events. Prasetya
Gaba DM, Howard SK, Jump B. Production pressure Mulya Business School.
in the work environment. California anesthesiologists
attitudes and experiences. Anesthesiology
1994;81:488500. Singer Sara J and Tucker,L.Anita 2005. Creating a
Culture of Safety in Hospitals. http://iis-
db.stanford.edu/evnts/4218/Creating_Safety_Culture-
Leape LL, Woods DD, Hatlie MJ, et al. Promoting SSingerRIP.pdf. di unduh tgl 12 Juni 2013
patient safety by preventing medical error. JAMA
1998;280:14447.[CrossRef][Medline][Web of
Science] Devi Nurmalia.2012. Pengaruh Program Mentoring
Keperawatan Terhadap Penerapan Budaya Keselamatan
Pasien Di Ruang Rawat Inap RS Islam Sultan Agung
Rachmawati Emma 2012. Model Pengukuran Budaya Semarang. Tesis. Universitas Indonesia.
Keselamatan Pasien Di RS Muhamaddiyah-Aisyiah
Tahun 2011. Disertasi.DepokFKM UI.2012
Mulyati Lia dan Sufyan Asep. Pengembangan Budaya
Patient Safety dalam Praktik Keperawatan.
Reason JT. Organizational accidents: the management http://www.stikku.ac.id/wp-
of human and organizational factors in hazardous content/uploads/2011/02/PENGEMBANGAN-
technologies. Cambridge: Cambridge University Press, BUDAYA-PATIENT-SAFETY.pdf di unduh tgl 14
1997.
Juni 2013
Nursyabaniah Wardhani, Noer Bahry Noor,
Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah sakit
Syahrir A. Pasinringi 2013. Hubungan Kepemimpinan Depkes R.I. 2006
Efektif Kepala Ruangan Dengan Penerapan Budaya
Keselamatan Pasien Di Instalasi Rawat Inap RS
UNHAS Tahun 2013. Tjahjono, Herry. (2010). Culture Based Leadership.
Jakarta. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama
Agency for Healthcare Research and Quality. 2013.
Making health care safer II: an updated critical Panozzo J Stacey.2007. Lessons to be learnt:
analysis of the evidence for patient safety practices. Evaluating aspects of patient safety culture and quality
(available at http://www.ahrq.gov improvement within an intensive care unit.

Setiowati,D,2010..Hubungan Kepemimpinan Efektif Dwi Utari Widyastuti.2012. Pengembangan Sistem


Head Nurse dengan Penerapan Budaya Keselamatan Informasi Indikator Keselamatan Pasien untuk
Pasien oleh Perawat Pelaksana di RSUPN Mendukung Monitoring Mutu Pelayanan Keperawatan
Ciptomangunkusumo. Tesis.Depok.FIK.UI.2010 di Rumah Sakit Haji Surabaya.Tesis. Program Pasca
sarjana Magister Kesehatan Masyarakat. Universitas
Diponegoro.
Pathak,Jagdis.2001. Organisation, Culture and
manager.Tersedia di
http://globalcomment.com/v2/bus2.asp. di akses bulan Herin, Fransisca Romana dan Murwani Clara.
Juli 2013 Membangun Budaya Keselamatan sebagai upaya
Mewujudkan Keberhasilan Implementasi Keselamatan
Pasien RSPR.
Smith.A.F.D.Goodwin,M,Morth, and C.Pope.2006.
Adverse events in anaesthethic practice: qualitative
study of definition, discussing and reporting.British Suarli, S dan Bahtiar, Y. (2010). Manajemen
Journal of Anaesthesia 96(6) : 715-21. Tersedia di Keperawatan dengan pendekatan praktis. Penerbit
http://bja.oxfordjournals.org pada 5 Juni 2013 Erlangga. Jakarta
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3 ); Sept 2013