Anda di halaman 1dari 34

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi pembangunan merupakan komunikasi yang dilakukan untuk

melaksanakan rencana pembangunan suatu negara. Tujuan komunikasi

pembangunan ialah untuk memajukan pembangunan. Pembangunan suatu negara

sangatlah luas cakupannya, salah satu kegitan pembangunan yang dilakukan oleh

pemerintah ialah pembangunan peternakan. Seperti yang diketahui bahwa

dominasi peternakan indonesia merupakan peternak rakyat. Dimana yang pada

intinya mental dan kesiapan peternak rayat terkait program pembangunan menjadi

titik fokusnya.

Desa Haurngombong merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan

Pamulihan Kabupaten Sumedang. Sebagian besar wilayah desa ini merupakan

lahan untuk pertanian, dimana dominasi petaninyapun beternak. Desa

Haurngombong ini merupakan salah satu desa yang sudah mendapatkan perhatian

dari pihak pemerintah maupun instansi lainnya. Dimana telah ada sebuah

kelompok wanita tani yang mengkordinir kegiatan tani mereka sehingga kondisi

peternakan didesa tersebut dirasa sudah lebih terarah. Biogas merupakan salah

satu hal yang dihasilkan oleh kelomok tani tersebut yang mana telah memberikan

sebuah penghargaan tersendiri untuk desa Haurngombong terkait

kebermanfaatannya, selain itu desa Haurngombongpun dijadikan sebagai desa

percontohan di kanca nasioal.

Oleh karena itu, atas dasar hal tersebut kami beserta kelompok yang

terbentuk dalam matakuliah Komunikasi Pembangunan menjadikan desa

1
Haurngombong sebagai objek untuk melakukan studi kasus terkait pembangunan

peternakan yang dilakukannya. Adopsi inovasi serta pengambilan keputusan

peternak untuk melakukan suatu tindakan merupakan fokus pembahasan kami.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana fenomena peternakan yang terjadi di Desa Haurngombong

terkait komunikasi pembangunan baik itu adovasi adopsi serta pengambilan

keputusan dalam menjalankan program pembangunan.

1.3 Maksud dan Tujuan

Untuk mengetahui fenomena peternakan yang terjadi di Desa

Haurngombong terkait komunikasi pembangunan baik itu adovasi adopsi serta

pengambilan keputusan dalam menjalankan program pembangunan.

1.4 Waktu dan Tempat


Hari, tanggal : Kamis, 07 Desember 2017

Waktu : 07.00-10.00 WIB

Tempat : Desa Haungmawung Kecamatan Pamulihan Kabupaten

Sumedang Jawa Barat.

2
II

LANDASAN TEORI

2.1 Komunikasi Pembangunan, Model dan Fidelity Komunikasi Berlo

Definisi Pembangunan

Sebagai alat adalah "perangkat upaya terencana dan sistematis yang

dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup warga masyrakat. Sebagai

proses adalah proses pertumbuhan dari suatu keadaan yang tidak baik menuju
keadaan yang lebih baik (sifatnya dikehendaki dan direncanakan). Dan sebagai

pertumbuhan dan perubahan sosial adalah (1) Pertumbuhan ekonomi (produksi

dan penggunaan sumber 5 sumberdaya). (2) Perubahan social adalah perubahan

dasar kualitatif dan distributive di dalam struktur masyarakat.

Pengertian Komunikasi

Komunikasi (communication) berasal dari kata latin yaitu communis

yang berati sama (maknanya sama). Communico, communication atau

communicare yang berarti membuat sama (to make common). Adapun arti

komunikasi lain yaitu :

1) Penyimpanan lambang lambang atau symbol dari sumber pesan ke

penerima pesan, sehingga tercapai pengertian bersama tentang tujuan dan

penggunaan lambang tersebut (Berlo, 1960).

2) Proses penggunaan pesan oleh dua orang atau lebih, dimana semua pihak

saling berganti peran sebagai pengirim dan penerima pesan, sampai ada saling

3
pemahaman atas pesan yang disampaikan oleh semua pihak (Schramm,

1977).

Pengertian Model

Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak,

dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut (alat untuk

menjelaskan fenomena) atau model adalah gambaran informal untuk menjelaskan

atau menerapkan teori (teoroi yang lebih disederhanakan). Macam model

komunikasi terdiri dari model S-R, model Aristoteles, model Lasswell, model

Shannon Weaver, model Schramm, model Berlo dan model Interaksional

(Yunasaf, 2011).

Model Berlo

Dalam model komunikasi David K. Berlo, terdapat unsur-unsur utama

komunikasi yang dikenal dengan SCMR, yaitu Source (sumber), Channel

(saluran), Message (pesan), dan Receiver (penerima). Di samping itu, terdapat

juga tiga unsur lain, yaitu Feedback (tanggapan balik), Efek , dan Lingkungan.

Setiap unsur ini akan saling bergantung satu sama lain dan memiliki peranan

penting dalam membangun proses komunikasi.

1) Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pengirim

informasi. Sumber terdiri dari satu orang atau kelompok. Misalnya partai,

organisasi atau lembaga.

4
2) Pesan

Pesan adalah sesuatu (pengetahuan, hiburan, informasi, nasehat atau

propaganda) yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat

disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media.

3) Saluran

Saluran komunikasi adalah media yang membawa pesan. Saluran komunikasi

ini terdiri dari komunikasi lisan, tertulis, dan elektronik.

4) Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh

pengirim.

5) UmpanBalik

Umpan balik merupakan respons atau reaksi yang diberikan oleh penerima.

6) Efek

Efek atau pengaruh merupakan perbedaan antara apa yang dipikirkan,

dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima

pesan.

7) Lingkungan

Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat

mempengaruhi jalannya komunikasi.

5
Gambar 1. Model Berlo

6
Pengertian Fidelity Komunikasi

Fidelity merupakan suatu tingkat ketepatan yang memperkenalkan

keberhasilan komunikasi antara sumber dan penerima pesan.

1) Seorang encoder memiliki ketepatan/fidelity yang tinggi bila mampu

mengekspresikan arti/maksud/tujuan sumber dengan baik.

2) Seorang decoder memiliki ketetapan yang tinggi bila dapat menterjemahkan

pesan kepada penerima dengan sempurna (Yunasaf, 2011).

Unsur-unsur fidelity dan analisis fidelity menurut Model Berlo (dalam

Unang Yunasaf 2011:26) menjelaskan ada empat yaitu :

1) Fidelity sumber dipengaruhi:

a. Keterampilan berkomunikasi, menunjukkan tingkat ketepatan dengan cara:

(1) mempengaruhi kemampuan menganalisis maksud/tujuan, dan (2)

mempengaruhi kemampuan menyandi pesan.

b. Sikap, merupakan predisposisi, tendensi atau harapan terhadap sesuatu.

Mencakup sikap terhadap: diri sendiri, isi pesan, penerima pesan.

c. Tingkat pengetahuan, terhadap materi dan keadaan penerima pesan.

d. Sistem sosial budaya (dimana sumber dan pendengar berada).

2) Fidelity penerima pesan dipengaruhi:

a. Keterampilan berkomunikasi

b. Sikap (terhadap diri sendiri, materi pesan, dan kepada sumber pesan)

c. Tingkat pengetahuan (terhadap materi pesan dan keadaan sumber hipesan)

d. Sistem sosial budaya (dimana penerima berada dan sumber pesan)

3) Fidelity pesan dipengaruhi

a. Kode pesan (sekumpulan simbol-simbol yang bisa diterapkan/dimengerti

orang lain)

7
b. Isi pesan (muatan materi pada pesan), harus memilih cara yang tepat dalam

menentukan struktur dan isi pesan

c. Perlakuan isi pesan (keputusan yang diambil untuk menyatakan isi dan

kode pesan)

4) Fidelity saluran dipengaruhi:

a. Penyandi (encoder) dan penterjemah sandi (decoder)

b. Pembawa pesan

c. Media pengantar pesan (Yunasaf, 2011).

2.2 Inovasi dan Laju Adopsi

Karakteristik Inovasi

Karakteristik/ciri-ciri inovasi (Rogers dan Shoemakers, 1971):

1) Keuntungan relatif

a. Derajat yang menunjukkan apakah suatu inovasi dianggap lebih

menguntungkan dibandingkan dengan ide sebelumnya.

b. Keuntungan relatif ditunjukkan dengan keuntungan ekonomis, atau

identitas imbalan akibat pengadopsian inovasi (keuntungan sosial).

2) Kompatabilitas

a. Derajat yang menunjukkan apakah suatu inovasi dianggap sesuai dengan

sistem tata nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan klien.

b. Suatu inovasi harus memiliki kesesuaina dengan: (1) nilai-nilai dalam

sistem sosial, (2) ide yang telah ada sebelumnya, dan (3) kebutuhan klien

akan inovasi.

8
3) Kompleksitas

a. Derajat yang menunjukkan bahwa suatu inovasi dipandang relatif sukar

untuk dimengerti dan digunakan.

b. kompleksitas berkorelasi negatif dengan laju adopsi.

4) Trialabilitas

a. Derajat yang menunjukkan apakah suatu inovasi dapat dicoba dalam skala

terbatas.

b. Triabilitas berkolerasi positif denganlaju adopsi.

5) Observabilitas

a. Derajat dimana suatu hasil inovasi mudak untuk diamati atau diukur serta

dikomunikasi kepada orang lain.

b. Observabilitas berkolerasi positif dengan laju adopsi inovasi (Yunasaf,

2011).

Pengertian Laju Adopsi

Laju adopsi adalah kecepatan relatif suatu inovasi diadopsi oleh anggota-

anggota suatu sistem sosial. Umumnya diukur dengan jumlah klien yang

menerima ide baru pada suatu kurun waktu (Yunasaf, 2011).

2.3 Agen Pembaharu

Pengertian Agen Pembaharu

Agen pembaharu (change agent) merupakan pekerja proesional yang

berusaha mempengaruhi atau mengarahkan keputusan inovasi orang lain selaras

dengan yang diinginkan oleh Lembaga pembaharuan dimana ia bekerja. Fungsi

utamanya adalah menjadi mata rantai penghubung antara dua sistem sosial atau

9
lebih. Agem pembaharu merupakan tangan-tangan lembaga pembaharu (badan,

dinas atau organisasi yang bertujuan mengadakan perubahan-perubahan di

masyarakat), kebanyakan agen pembaharu adalah orang luar bagi sistem klien

(Yunasaf, 2011).

Peranan agen pembaharu dalam keputusan inovasi opsional (Rogers,

1971) :

1) Membangkitkan kebutuhan untuk berubah

2) Mengadakan hubungan untuk perubahan

3) Mendiagnosis masalah

4) Mendorong atau menciptakan motivasi untuk berubah pada diri klien

5) Merencanakan tindakan pembaharuan

6) Memelihara program pembaharuan dan mencegahnya dari kemacetan

7) Mencapai hubungan terminal.

2.4 Keputusan Kolektif, Keputusan Kekuasaan, dan Konsekuensi

Inovasi Keputusan Kolektif

Keputusan inovasi kolektif adalah keputusan untuk menerima atau

menolak inovasi yang dibuat individu-individu yang ada dalam sistem sosial

melalui consensus. Prosesnya lebih panjang dan memakan waktu. Unit

pengambilan keputusan adalam dalam sistem sosial.

Paradigma pengambilan keputusan inovasi kolekti terdiri dari:

1) Stimulasi minat ke arah kebutuhan akan ide-ide baru (oleh stimulator)

2) Inisiasi ide-ide baru ke dalam sistem sosial (oleh inisiator)

3) Legitimasi ide baru (oleh pemegang kekuasaan atau legitimator)

10
4) Keputusan untuk melaksanakan penggunaan ide baru (oleh anggota sistem

sosial)

5) Tindakan atau pelaksanaan penerapan ide baru di masyarakat (oleh anggota

sistem sosial).

Keputusan Kekuasaan

Keputusan kekuasaan adalah pengambilan keputusan inovasi yang

didasarkan atas kepemilikan kekuasaan atau kewenangan seseorang atau yang

berada dalam posisi atasan yang memerintahkan kepada unit adopsi untuk

menerima atau menolak inovasi. Penerimaan anggota terhadap keputusan inovasi

otoritas berhubungan positif dengan tingkat partisipasi dan dengan kohesi anggota

dengan sistem sosial. Kohesi adalah tingkat keterikatan anggota dengan sistem

sosial menurut persepsinya sendiri.

Paradigma pengambilan keputusan inovasi otoritas terdiri dari:

1) Pengenalan kebutuhan untuk berubah dan inovasi

2) Persuasi dan penilaian terhadap inovasi oleh unit pengambilan keputusan

3) Keputusan berupa penerimaan atau penolakan oleh unit pengambilan

keputusan

4) Komunikasi keputusan kepada unit-unit adopsi dalam organisasi

5) Tindakan atau implementasi keputusan pengadopsian atau penolakan inovasi

oleh unit adopsi (Yunasaf, 2011).

Konsekuensi Inovasi

Konsenkuensi inovasi adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada

individu atau sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.

11
1) Konsekuensi fungsional (yang diinginkan) x konsekuensi disfungsional (tidak

diinginkan)

2) Konsekuensi langsung x konsekuensi tidak langsung

3) Konsekuensi yang tampak (manifest) x konsekuensi yang tidak tampak

(latent) (Yunasaf, 2011).

2.5 Pendekatan dan Model Komunikasi Pembangunan

Pembangunan adalah suatu perubahan sosial yang bersifat partisipatori

secara luas untuk meningkatkan keadaan sosial dan materi (termasuk keadilan,

kebebasaan, dan kualitas mayoritas masyarakat yang tinggi) melalui perolehan

pada kontrol yang lebih besar terhadap lingkunganya.

2.5.1 Faktor-faktor Utama dalam Pendekatan Komunikasi Pembangunan

Tabel 1. Faktor-faktor utama dalam pendekatan komunikasi

1. Kelompok-kelompok (leasing a. Para profesional


group) yang meningkatkan b. Kader-kader partai politik
pembangunan dan pemraksa
pembangunan
2. Masyarakat (desa) sebagai pe- a. Kelompok-kelompok keluarga
metik manfaat pembangunan yang berpengaruh
b. Lembaga-lembaga sosial
3. Saluran komunikasi a. Media massa
b. Komunikasi interpersonal
4. Pesan komunikasi a. Ideologis
b. Informatoris
5. Arus komunikasi a. Vertikal
b. Horizontal

12
2.5.2 Jenis-jenis Pendekatan

1) Pendekatan penyuluhan dan pembangunan masyarakat


a. Pendekatan yang tertua dan umum dipakai
b. Pemanfaatan lembaga-lembaga pelayanan di luar desa untuk kepentingan
penyebaran informasi pertanian, ekonomi rumah tangga, dan kesehatan
masyarakat kegiatan penyuluhan pembangunan.
c. Didasarkan anggapan bahwa: (1) diperlukan adanya lembaga-lembaga
teknik atau penelitian yang dapat membantu masyarakat meningkatkan
penghasilan dan kesejahteraannya; (2) masyarakat desa sangat tertarik
pada informasi-informasi baru yang mendukung kebutuhan pokok
mereka.
d. Wujudnya: penyuluhan pengembangan yang melayani masyarakat,
mengunjungi desa-desa, melakukan peragaan-peragaan, mengadakan
proyek-proyek percontohan dan mengadakan kontak dengan keluarga-
keluarga di pedesaan.
e. Contohnya program pembangunan masyarakat di insia. Pendekatannya
didasarkan anggapan bahwa buta huruf dan kemiskinan yang tinggi di
pedesaan merupakan tantangan bagi usaha menggali sumber-sumber
pembangunan. Keluarga-keluarga di desa diikutsertakan dan dibekali
dengan pengetahuan praktis tentang masalah kemasyarakatan dan
teknologi. Setiap unit pembangunan dilayani sebuah tim yang didukung
oleh para ahli yang beerja dengan bantuan penasehat bidang
pembangunan desa. Program perencanaan, diarahkan dan didukung oleh
lembaga pembangunan desa tingkat naisonal. Anggota unit pembangunan
merupakan komunikator utama. Di Indonesia, dikenal bpp (balai
penyuluhan pertanian), suatu lembaga penyuluhan yang berada di tingkat
kecamatan, yang memiliki fungsi tugas mengelola kegiatan penyuluhan
di desa-desa sesuai wilayah cakupan kerjanya. Di dalam pbb ada tenaga
ppl (penyuluh pertanian lapangan) yag memiliki tanggungjawab
melakukan kegiatan penyulihan di tingkat desa.
2) Pendekatan ideologi dan mobilisasi massa

13
a. Isi pesan terutama bersifat idiologis dan senantiasa dihubungkan dan
disubordinasikan dengan kepentingan idiologi.
b. Pembangunan dipandang sebagai proses perubahan radikal ke arah
pembentukan masyarakat baru.
c. Tugas pokoknya adalah meningkatkan kesadaran politik masyarakat tani
dan wburuh di pedesaan.
d. Sarana utamanya adalah buruh dan tani yang dianggap potensial dalam
mengendalikan produksi serta usaha berdiri sendiri (self reliance).
e. Contohnya pembentukan masyarakat Afrika yang sosialis berdasarkan
Ujammaa atau kekeluargaan di Tanzania, dan pembangunan desa oleh
komune (unit masyarakat yang memiliki regu-regu kerja dan brigade
produksi yang membawahi unit-unit kecil politik, administrasi dan
organisasi) di RRC.
3) Pendekatan memalui mass media pendidikan
a. Unumnya di Amerika Latin
b. Mas media memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan-
pesan informasi kepada masyarakat desa.
c. Pesan tersebut disampaikan melalui sumber informasi yang terpusat dan
dikendalikan oleh sebuah organisasi non politism sedangkan
pelaksanaannya adalah para profesional
d. Sarana utama pembangunan adalah menghilangkan secara tuntas
hambatan-hambatan sosial psikologis dan budaya, yang dilakukan
melalui pendidikan terpadu.
e. Pendidikan terpadu menitikberatkan pada usaha peningkatan informasi
dan pengetahuan tentang: pemberantasan buta huruf, matematika,
kesehatan, ekonomi dan kerohanian
f. Informasi yang disampaikan harus relevan dengan situasi nyata
kehidupan masyarakat.
g. Tujuan jangka panjangnya adalah mengusahakan agar masyarakat dapat
mandiri dalam menentukan langkah-langkah yang harus diambil dalam
pembangunan desanya
h. Contohnya gerakan ACPO (action Cultural Populator) di Columbia, yang
bergerak atas dasar pertimbangan bahwa hambatan-hambatan umum
pembangunan adalah buta huruf, sikap tradisional, acuh tak acuh,

14
ketergantungan pada orang lain dan lemahnya gairah kerja. ACPO
disponsori gereja katolik, pelaksanaannya dilakukan organisasi otonom,
program dirancang tenaga profesional. Sistem penyampaian informasi
melalui jaringan-jaringan radio, dan bagian kebudayaan berkewajiban
mempersiapkan program-program pendidikan dan pengadaan bahan
tercetak. Acara-acara informasi pendidikan dilakukan melalui siaran
radao pendidikan (untuk kelompok-kelompok kecil amasyarakat) dan
siaran terbuka (untuk keluarga-keluarga tani). Siaran radio penddikan
dilengkapi dengan pemberian buku-buku teks, surat kabar mingguan,
poster dan alat peraga.

15
III

KAJIAN UMUM

3.1 Tata Lokasi

Desa Haurngombong merupakan sebuah desa yang berada di wilayah

Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang. Lokasinya berada di bagian barat

wilayah kecamatan dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tanjungsari. Jika

dilihat dari pusat Kecamatan Pamulihan, lokasinya berada di sebelah selatan

dengan jarak sekitar 1,5 kilometer.

Berdasarkan data Kecamatan Pamulihan dalam angka tahun 2014 yang

dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang, pada tahun

2013 Desa Haurngombong memiliki status sebagai pedesaan dengan klasifikasi

sebagai desa swadaya mula. Secara topografis, Desa Haurngombong memiliki

bentang permukaan tanah berupa pegunungan dengan ketinggian wilayah dimana

kantor desa berlokasi pada 848 meter di atas permukaan laut. Secara geografis,

wilayah Desa Haurngombong dibatasi oleh wilayah-wilayah sebagai berikut: Desa

Ciptasari dan Desa Cigendel di sebelah utara, Desa Cigendel dan Desa Cilembu di

sebelah timur, Desa Mekarbakti di sebelah selatan serta Desa Gunungmanik

Kecamatan Tanjungsari di sebelah baratnya. Dan secara administratif, wilayah

Desa Haurngombong terbagi ke dalam enam Rukun Warga dan 30 Rukun

Tetangga.

Untuk luas wilayahnya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang

sama, Desa Haurngombong memiliki luas wilayah sebesar 219 hektar. Luas

wilayah tersebut terbagi ke dalam beberapa peruntukan seperti sebagai lahan

pertanian dan lahan pemukiman. Untuk lahan pertaniannya mencakup luasan

16
sebesar 160 hektar. Dan sisanya seluas 59 hektar diperuntukan sebagai lahan

pemukiman dan pekarangan. Lahan pertaniannya terbagi ke dalam dua jenis yaitu

lahan pesawahan dan lahan pertanian bukan pesawahan. Lahan pesawahannya

sendiri memiliki luasan sebesar 31,2 hektar, dan sisanya seluas 128,8 hektar

merupakan lahan perkebunan, ladang dan huma.

Jika dilihat menggunakan Google Maps, wilayah Desa Haurngombong

berada di sebelah selatan jalur jalan yang menghubungkan Bandung - Sumedang.

Wilayahnya dilewati jalur alternatif Simpang - Parakanmuncang. Bentang

permukaanya merupakan kawasan perbukitan dengan perbedaan ketinggian yang

tidak terlalu mencolok. Wilayah bagian selatan memiliki elevasi lebih tinggi

dibandingkan dengan kawasan bagian utaranya. Wilayah Desa Haurngombong

didominasi oleh lahan pertanian terutama lahan ladang yang tersebar di semua

kawasan. Lahan pesawahannya mengalir mengikuti aliran anak sungai yang

melewati bagian tengah wilayah dari selatan ke utara. Kawasan penduduk juga

cukup luas dan tersebar.

Gambar 2. Peta Desa

Haurngombong

17
3.2 Kependudukan

Berkaitan dengan kependudukan, sebagaimana disajikan oleh sumber

data yang sama, pada tahun 2013 Desa Haurngombong dihuni penduduk sebanyak

6.017 jiwa. Dengan rincian sebanyak 3.085 orang berjenis kelamin laki-laki

ditambah 2.932 jiwa berjenis kelamin perempuan. Jumlah kepala keluarganya

sebanyak 1.848 KK. Sementara kepadatan penduduk Desa Haurngombong, untuk

tiap kilometer luas wilayahnya dihuni penduduk rata-rata sebanyak 2.7449 jiwa.

Berkaiatan dengan mata pencahariannya, tidak dijelaskan secara

mendetail. Namun menilik pada data sektor pertanian yang ada, sebagian

masyarakat Desa Haurngombong bekerja di sektor pertanian baik sebagai petani

maupun buruh tani. Sebagian lainnya bekerja di sektor peternakan, industri baik

industri kecil, menengah maupun industri besar, sektor perdagangan dan

transportasi.

Berkaitan dengan sektor pertaniannya, lahan pesawahan di Desa

Haurngombong sudah menggunakan sistem pengairan teknis sehingga

mendukung kegiatan pertanian dan memiliki produktivitas yang bagus dalam

menghasilkan produk utama berupa padi. Produk pertanian lainnya berupa

palawija seperti jagung baik jagung hibrida, jagung manis maupun jagung lokal,

ubi jalar. Tak ketinggalan juga produk berupa sayuran seperti cabai merah dan

cabai rawit. Sektor industri yang berlokasi di Desa Haurngombong bukan hanya

industri kecil saja, namun sudah ada industri sedang dan industri besar.

Desa Haurngombong memiliki keunggulan di bidang peternakan,

terutama peternakan sapi. Peternakan sapi di Desa Haurngombong sudah

dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih luas, yaitu sebagai bahan baku

pembuatan biogas. Pemanfaatan ini telah membawa Desa Haurngombong sebagai

18
Desa Mandiri Energi yang sudah dimulai semenjak tahun 2009. Keberhasilan

Desa Haurngombong dalam memanfaatkan biogas dari peternakan sapi ini

membawa Desa Haurngombong menjadi proyek percontohan dari Team Temu

Nasional.

19
IV

KAJIAN KHUSUS

4.1 Informasi Sumber

Berikut beberapa informasi khusus yang didapatkan dari proses

wawancara dengan Ibu Irah selaku narasumber. Ibu Irah merpakan salah seorang

petani dan peternak yang tergabung dalam kelompok wanita tani desa

Haurngombong yang diketuai oleh Ibu Yayah. Ibu Irah merupakan wanita ternak

dengan usia 54 tahun, Ibu Irah mulai beternak sejak tahun 2000 dimana awal

ternak yang ia miliki sebanyak 2 ekor, hingga saat iniyang tersisa yaitu 6 ekor (3

Betina, 1 Pejantan, dan 2 pedet). Ibu Irah berhubungan baik dengan wanita-wanita

lainnya yang tergabung dalam kelompok tersebut. Tiap hari Ibu Irah menyetorkan

susu yang diproduksinya ke kelompok yang kemudian baru disetor ke koperasi.

Terkait penyetoran susu, pengecekan kualitas susu rutin dilakukan di kediaman

Ibu Yayah selaku ketua kelompok. Barulah setelah kualitasnya diketahui, susu

tersebut dapat disetor ke koperasi dengan harga sesuai kualitasnya. Ibu Irah biasa

menyetor susu rata-rata 36 liter tiap hari, dan dijual dengan harga kisaran Rp.

4.300,- hingga Rp. 4.500,-. Namun, sesekali ada warga yang ingin membelinya

secara langsung susu yang telah diolah yang kemudian dijual dengan hara Rp.

8.000,- tiap liternya.

Berbicara mengenai kelompok, di kediaman Ibu Yayah sendiri telah

tersedia alat untuk mengolah hasil produksi susu yang bisa diolah menjadi susu

20
pasteurisasi, yougurt, kerupuk susu, dan lain sebagainya. Kegiatan ini biasa

dilakukan oleh Ibu Yayah dan dipasarkan diwarga sekitar, ujar Ibu Irah. Selain

pengolahan hasil susu, pengolahan limbah menjadi biogas yang dilakukan oleh

kelompok ini dijadikan sebagai senjata untuk keberhasilan kelompok ini dimata

nasional. Namun, berdasarkan informasi yang didapat pengolahan limbah ternak

menjadi biogas kini sudah tidak berlangsung. Hal ini disebabkan oleh beberapan

faktor, baik internal maupun eksternal. Dikarenakan oleh beberapa faktor pula.

Ibu Irah mengatakan bahwa keberadaan kelompok tadi yang berjumlahkan 5

anggota aktif ini akan dialihkan ke kelompok tani lainnya. Dalam artian kelompok

wanita tani yang diketuai oleh Ibu Yayah akan dipindahkan ke kelompok lain.

4.2 Pemasalahan Pembangunan

Poin-poin Pembahasan :

1. Jenis Pembangunan Yang Dilakukan


Seperti yang telah dijelaskan pada informasi umum, bahwa Desa

Haurngombong ini merupakan salah satu desa yang terkenal dengan

pembangunan peternakananya, khusunya dalam hal pengolahan limbah ternak

menjasi biogas. Berdasarkan informasi dan kunjungan yang dilakukan memang

benar adanya pengolahan limbah menjadi biogas yang dilakukan oleh kelompok

tani yang diketua oleh Ibu Yayah. Menurut Beliau pengolahan limbah menjadi

biogas ini merupakan salah satu bentuk program pembangunan yang dilakuakn

dikelompoknya. Selain pengolahan limbah, terdapat juga program pemberdayaan

peternak sekitar. Dimana produksi yang didapatkan oleh peternak secara rutin

21
dikumpulkan oleh Ibu Yayah yang kemudian disetor ke pihak koperasi yang

membetuk sebuah kemitraan kerja. Dan untuk kreativitas yang dilakukan oleh

kelompok ini ialah adanya program atau kegitan pengolahan susu ini sebagai

upaya untuk peningkatan asupa nutrisi warga sekitar dengan mengonsumsi produk

olahan susu.

2. Tingkat Keberhasilan Program Tersebut

Berbicara mengenai tingkat keberhasilan dari program ini tentu berbicara

mengenai keberlanjutan dari programnya hingga saat ini. Jika dilihat dari awal

terbentuknya kelompok hingga tersebar nama Desa Haurgombong Kecamatan

Pamulihan Kabupaten Sumedang yang terkenal dengan pemanfaatan biogasnya.

Sampai pemanfaatan biogas tersebut berlangsung dapat dikatakan bahwa program

ini dikatakan berhasil. Namun berdasarkan informasi yang didapat dari Ibu Irah,

Beliau mengatakan bahwa kegiatan ini sudah tidak berlangsung lagi. Hal ini

dikarenakan oleh beberpa faktor, yaitu alat-alat yang digunakan sudah rusak,

proses pembuatannya yang lama dan anggota kelompok yang mulai sibuk dengan

urusan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa program ini terhenti oleh hal-hal

tersebut, dengan kata lain program ini sudah tidak berjalan lagi.

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa kegagalan program atau

terhentinya program pengolahan biogas ini dipengaruhi oleh beberpa faktor.

Adapun indikator yang menyatakan bahwa suatu program dinyatakan berhasil

atau tidaknya, yaitu sebagai berikut : penyadaran (sensiting), pemberitahuan

22
(informing), dan mendidik (educating) kelompok-kelompok tertentu sesuai

dengan tujuan perilaku (behavioral objectives) yang hendak dicapai (Yunasaf,

2011).

3. Faktor Yang Mempengarui Keberhasilan (Model Berlo Dan

Fidelity)

Berkaitan dengan keberhasilan sebuah program pembangunan,

khususnya pengolahan limbah ternak menjadi biogas di Desa Haurngombong

Kecamatan Pamulihan ini bersumber dari ketersediannya sarana prasarana untuk

menjalankan program tersebut. Selain ketersedian barang-barang tersebut,

kesiapan dan kesadaran peternak menjadi sebuah faktor terpenting diantara yang

lainnya.

Model dan fidelity komunikasi sangat penting diperhatikan demi

terselesaikannya suatu program pembangunan. Berbicara mengenai model,

menurut (Yunasaf, 2011) model merupakan representasi suatu fenomena, baik

ynyata ataupun abstrak dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena

tersebut (alat untuk menjelaskan fenomena tersebut), model komunikasi juga

dapat dikatakan sebagia gambaran informal untuk menjelaskan atu menerapkan

teori.

Berdasarkan fenomena yang terjadi di desa Haurngombong terkait

keberlangsungan program pemanfaatan limbah menjadi biogas jika dilihat dari

sisi model komunikasi yang digunakannya, menurut teori Berlo dimana sebuah

23
komunikasi termuat 5 unsur yaitu source, message, channl, dan reciver (Yunasaf,

2011). Jika dilihat secara keseluruhan dalam perealisasian program tersebut telah

memenuhi ke 5 unsur tersebut, hal ini dibuktikan dengan berlangsungnya program

yang direncanakan. Tolak keberhasilan program tersebut juga dapat dilihat dengan

dikenalnya desa Haurngobong sebagai desa dengan pengolahan biogasnya.

Begitupun dengan fidelity komunikasinya, dimana sebuah program telah

terlaksana sehingga dapat disimpulkan bahwa fidelity komunikasinya berhasil

dicapai. Seperti yang dikatakan oleh (Yunasaf, 2011) fidelity komunikasi

merupakan suatu tingkat ketepatan yang memperkenalkan keberhasilan

komunikasi antara sumber dan penerima. Dimana dalam perealisasiannya telah

memperhatikan 4 unsur dari fidelity komunikasi yaitu fidelity sumber yang

dipengaruhi (meliputi: keterampilan berkomunikasi, sikap, tingkat pengetahuan,

sistem sosial budaya), fidelity penerima pesan, fidelity pesan (meliputi: kode

pesan, isi pesan), dan fidelity saluran.

Jika dilihat dari komponen yang menunjang keberhasilan sebuah

komunikasi sehingga dapat terealisasinya suatu program adalah adanya pemeritah

atau instansi terkait yang menjadi sumber pemberi informasi, program

pembangunan (pengolaha biogas) sebagai pesannya, ketua kelompok tani sebagai

salurannya, serta peternak sebgai penerima pesannya.

Hal ini pun didukung oleh teori Komunikasi Penunjang Pembangunan

(KPP) yang menyatakan bahwa, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan

suatu program pembangunan adalah sebagai berikut : penyadaran (sensitising),

24
pemberitahuan (informing), dan mendidik (educating) kelompok-kelompok

tertentu sesuai dengan tujuan perilaku (behavioral objectives) yang hendak dicapai

(Yunasaf, 2011).

4. Faktor yang Menyebabkan Ketidak Berhasilan (Model Berlo dan

Fidelity)

Ketidak berhasilannya suatu program pembangunan, khususnya

keberlangsungan program pengolahan biogas di desa Haurngombong Kecamatan

Pamulihan ini tidak lepas dari unsur-unsur yang ada dalam fidelity model

komunikasi berlo. Dimana ke 4 unsur yang menjadi pokok dalam penyampaian

pesannya harus diperhatikan, begitupun dengan ke 5 faktor demi ketepatannya

sebuah penyapian informasi menjadi kunci utamanya (Yunasaf, 2011).

Berdasarkan informasi dan kunjungan yang dilakukan, jika dikaitan

dengan model komuniaksi berlo, tidak berhasilnya program ini disebabkan oleh

adanya ketidak sesuaian informasi yang berasal dari penyampai pesan, yaitu

akibat adanya ketidak berlanjutan pengawasan program ini sehingga

keberlanjutannyapun menjadi sebuah kekhawatiran terendiri yang berujung pada

sebuah ketidak berhasilan.

Adapun teori yang menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi

ketidak berhasilan suatu program pembangunan adalah sebagai berikut:

1. Penyampaian inovasi yang kurang tepat


Kurangnya inovator menguasai cara penyampaian pesan yang benar
menyebabkan masyarakat kurang menangkap isi pesan yang disampaikan

25
inovator, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan ketidakberhasilan
pembangunan di bidang peternakan.
2. Tingkat kepraktisan rendah
Tingkat kepraktisan rendah adalah inovasi yang diberikan kepada masyarakat
tidak praktis, contohnya prosesnya yang lama, alat dan bahannya yang
banyak, atau yang lainnya. Hal ini dapat membuat masyarakat enggan
untutuk melanjutkan inovasi pembangunan yang telah diberikan inovator.
3. Tingkat biaya yang tinggi
Tingkat biaya yang tinggi juga dapat mempengaruhi ketidakberhasilan
pembangunan di bidang peternakan, karena biaya yang tinggi masyarakat
lebih memilih tidak melanjutkan inovasi tersebut, atau lebih memilih uang
yang seharusnya digunakan untuk menerapkan inovasi yang diterima
disimpan (ditabung). Seperti pembuatan biogas, saat pertama kali peternak
menerima inovasi tersebut peternak tetap menjalankannya. Tetapi ketika alat
digester yang diberikan rusak, maka hampir sebagian besar peternak tidak
melanjutkan lagi inovasi tersebut dikarenakan alat digester mahal. Sehingga
banyak peternak yang beranggapan bahwa uang yang dihasilkan lebih baik
disimpan untuk kebutuhan kedapan daripada dibelikan alat digester.
4. Kurangnya pelatihan
Kurangnya pelatihan juga berpengaruh terhadap ketidakberhasilan
pembangunan di bidang peternakan. Pelatihan pembuatan yoghurt walau
inovasi tersebut cukup praktis, tetapi apabila pelatihan tersebut hanya sekali
dilakukan maka dapat mengurangi tingkat keberhasilan penyuluhan.

5. Pengambilan Keputusan, Adopsi Inovasi dari Mana

Berdasarkan wawancara yang tekah dilakuakan, jika menganalisis sebuah

tipe masyarakat Haurngobong terkait pengambilan sebuah keputusan dapat

26
dikategorikan sebagabagi kelompok yang menggunakan tipe keputusan menurut

Prof. Dr. PrajudiAtmosudirjo, SH.

Menurut Ralph C. Davis, Keputusan adalah hasil pemecahan masalah

yang dihadapi dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti

terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus bias menjawab pertanyaan tentang

apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan bias

juga berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana

semula.

Menurut Mary Follet, Keputusan adalah suatu atau sebagai hokum

situasi. Jika semua fakta dari situasi tersebut bias didapatkannya dan semua yang

terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hokum ataupun

ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal

dilaksanakan namun itu merupakan wewenang hokum situasi.

Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH, Keputusan adalah suatu

pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu problem atau masalah untuk

menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut

dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.

27
6. Penjelasan Kegagalan Menggunakan Paradifma Variabel (Ciri-Ciri,

Inovasi, Tipe Keputusan Inovasi, Saluran Komunikasi, Sistem Sosial,

Usaha Agen Pembaharu

Berkaitan dengan penggunaan paradigma variabel dalam menunjang

sebuah pelaksanaan program, jika dilihat secara mendetail program pembangunan

yang dijalankan di desa Haurngobong ini, seorang inisiotor merupakan pihak dari

luar yang memberikan aspirasinya kepada peternak yang kemudian program ini

dijalankan bersama. Pada kondisi ini seorang peternak dikenakan posisinya

segbagai seorang adaptor.

Jika dilihat dri variabel yang mempengaruhi keberhasilan program ini,

terdapat 2 variabel yang berpengaruh menururt (Yunasaf, 2011) yaitu variabel

pemgaruh yang meliputi ciri-ciri inovasi, tipe keputusan inovasi, saluran

komunikasi, sistem sosial, dan usaha agen pembaharu. Setelah unsur-unsur

terpenuh barulah sebuah inovasi dapat diapsi dengan baik oleh peternak. Dimana

yag menjadi variabel terpengaruh adalah laju adopsi.

Berkaitan dengan kegagalan program ini jika dikaitkan dengan 2 variabel

tersebut bersumber dan usaha agen pembaharu. Dimana sebuah inovasi yang

diberikannya tidak lagi diawasi sehingga keberlanjutan program ini sangat berat

dilakukan. Begitupun dengan ketua kelompok yang mana pada intinya memimpin

dan mengkordinir anggota kelompoknya, kurang memeberikan ketegasan kepada

peternak untuk mengumpulkan fesenya di bangker yang telah tersedia serta

mengingatkan tujuan dan manfaat dari program yang sedang dijalankannya ini.

28
Jika dilihat dari ciri-ciri inovasi, kriteria program ini sudah menjawab semua ciri-

ciri dari sebuah inovasi. Untuk saluran penyampain inofrmasinya dilakukan secara

interpersonal, dimana jika dilihat ke efektifan fidelitynya jauh lebih besar jika

hanya dibandingkan dengan penyebaran melalui media masa. Sedangkan untuk

sistem sosial masyarakat Haurngombong masih tergolong tradisional karena

orientasi beternak bagi mereka hanyalah untuk kegiatan sampingan saja. Ibu Irah

mengatakan bahwa ibu beternak juga menunjang untuk kegitan bertani.

Akibat terjadinya sedikit masalah yang berkaitan dengan variabel yang

menjadi pengaruh terhadap laju adopsi inovasi, program pengolahan limbah

ternak menjadi biogas ini sudah tidak berjalan lagi. Dimana pengaruh utamanya

berada pada agen pembaharu yaitu pemerintah dan pihak Unpad yang kurang

memberikan ketegasan dan kontrol kepada wanita tani yang tergabung dlaam

kelompok tersebut. Hal ini menyebabkan terhambatnya laju adopsi inovasi

sehingga program ini terhenti.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rogers (1995) yang

menyatakan bahwa kegagalan suatu program dapat di lihat dari 5 variabel yaitu

karakter inovasi (paling berpengaruh 49% - 87%), jenis keputusan mengadopsi,

saluran komunikasi, karakteristik sistem sosial dan usaha promosi yang di lakukan

oleh agen pembaharu.

29
7. Rekomendasi Yang Didasari Teori Pendekatan Dan Model

Komunikasi Pembangunan.

Seperti yang diketahui bahwa pendekatan dan model komunikasi

pembangunan sangat berpengaruh terhadap keberhaslan suatu program

pembangunan yang dicanangkan. Sesungguhnya terdapat beberapa faktor utama

dalam pendekatan adalah kaelompok-kelompok, masyarakat, saluran komunikasi,

pesan komunikasi, dan arus komunikasi (Unang, 2011).

Jika dilihat dari sistem dan program yang dilakukannya, program

pembangunan peternakan di desa Haurngobong ini menggunakan pendekatan

penyuluhan dan pembangunan masyarakat. Terlihat ketika ada lembaga yang

melakukan penyuluhan berupa pemanfaatan limbah peternakan menjadi biogas.

Tapi pendekatan tersebut kurang berhasil karena kegiatan penyuluhan tesebut

hanya dilakukan sekali dan tidak ada tindak lanjutnya kembali.

Akan lebih baik jika suatu program pembangunan yang dilakukan itu

menggunakan pendekatan mass media pendidikan dengan alasan peternak di haur

gombong memerlukan edukasi bahwa beternak itu usaha yang menguntungkan

dan edukasi tentang rasa malas yang ada di dalam diri peternak tersebut.

Dan jika dikaitan dengan model komunikasi yang baik digunakan dalam

sebuah program pembangunan khususnya pembangunan peternakan seperti yang

dilakukan di Desa Haurngombong ini adalah model komunikasi Berlo alasannya

yaitu di model ini terdapat unsur-unsur utama komunikasi seperti sumber, saluran,

pesan, dan penerima. Sumber pesan disini yaitu lembaga yang melakukan

30
penyuluhan. Salurannya komunikasinya berupa langsung lisan kepada warga.

Pesannya berupa pengetahuan tentang peternakan. Penerimanya yaitu peternak di

Haurgombong.

31
V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan informasi dan kunjungan yang telah dilakukan dan

kemudian dikaitakan dengan teori komunikasi pembangunan, dapat disimpulkan

bahwa :

Pada hari Kamis, 7 Desember 2017 kelompok kami melakukan

wawancara dengan kelompok peternak di Wilayah Kecamatan Pamulihan , Desa

Haurngombong, Tanjung sari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Di desa ini

mayoritas rakyat bekerja sebagai Petani dan buruh pabrik, dan khususnya pada

peternakan, rakyat desa ini beternak menjadi peternak sapi perah.

Peternakan di desa ini dikelola kebanyakan oleh Ibu-ibu rumah tangga.

Kebanyakan suami mereka bekerja sebagai buruh pabrik dan petani rakyat . Hasil

dari susu perah tersebut di jual di Koperasi setempat . Pemanfaatkan hasil limbah

dipeternakan rakyat tersebut masih sangat minim. Pada tahun 2009 pemanfaatan

hasil limbah sebagai biogas ini sempat dijalankan, karena adanya penyuluhan dari

UNPAD dan UIN. Namun program biogas ini terhenti akibat tidak adanya

penyuluhan kembali dan alat-alat tersebut rusak dan tidak dapat digunakan

kembali.

5.2 Saran

Pengelolaan limbah menjadi biogas menjadi suatu hal yang perlu dikelola

kembali karena sangat membantu masyarakat dalam kebutuhan sehari-hari seperti

untuk memasak, biaya sekolah, dsb.

32
LAMPIRAN

33
DAFTAR PUSTAKA

Atmosudirdjo, Prajudi. 1999. Teori Organisasi. STIA-Lembaga Administrasi


Negara Press, Jakarta.

Harun, Rochajat, and Elvinaro Ardianto. 2011. Komunikasi Pembangunan &


Perubahan Sosial: Perspektif Dominan, Kaji Ulang, dan Teori Kritis.
Rajawali Pers, Jakarta.

Rogers, E.M., and Shoemaker, F.F. 1971. Communication of Innovation. The Free
Press, New York.

Rogers, E.M. 1995. Diffusion of Innovation. 4th edition. The Free express, New
York.

Schramm, W. 1977. Big Media Little Media. Sage Public-Baverly Hills, London.

Yunasaf, Unang. 2011. Komunikasi Pembangunan : Suatu Rangkuman. Fakultas


Peternakan Universitas Padjadjaran, Sumedang.

34