Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita,
dimana pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan
menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini
perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial,
emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan
perkembangan berikutnya.
Di Indonesia diperkirakan jumlah balita mencapai 30 % dari 250
juta jiwa penduduk Indonesia, dan menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) nasional diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan
BAK (ngompol) di usia sampai prasekolah mencapai 75 juta anak. Fenomena
ini dipicu karna banyak hal, pengetahuan ibu yang kurang tentang cara
melatih BAB dan BAK, pemakaian (pempres) popok sekali pakai, hadirnya
saudara baru dan masih banyak lainnya.
Kebiasaan yang salah dalam mengontrol BAB dan BAK akan
menimbulkan hal-hal yang buruk pada anak dimasa mendatang. Dapat
menyebabkan anak tidak disiplin, manja, dan yang terpenting adalah dimana
nanti pada saatnya anak akan mengalami masalah psikologi, anak akan
merasa berbeda dan tidak dapat secara mandiri mengontrol buang aiar besar
dan buang air kecil .
Toilet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu
umur 18 bulan sampai 24 bulan. Salah satu masalah kesulitan anak dalam
melakukan toilet training adalah ketidakmampuan anak dalam melakukan
eliminasi, ketidaksiapan fisik anak dalam mengontrol keinginan untuk
berkemih dan defekasi, dan kurangnya perhatian orangtua terhadap tumbuh
kembang anak .
Toilet training adalah latihan berkemih dan defekasi dalam
perkembangan anak usia todler pada tahapan usia 1 tahun sampai 3 tahun.

1
Dan toilet training bermanfaat pada anak sebab anak dapat mengetahui dan
mengenal bagian-bagian tubuh serta fungsinya (anatomi) tubuhnya. Dalam
proses toilet training terjadi pergantian impuls atau rangsangan dan instink
anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar .
Konsep toilet training memang belum banyak dipahami dikalangan
masyarakat, hal ini disebabkan karena informasi terkait tentang toilet training
tidak dikenalkan secara umum dimasyarakat sedangkan fenomena yang
terjadi di masyarakat akibat dari konsep toilet training yang tidak diajarkan
secara benar atau kurang tepat sangatlah tidak sedikit hal ini karena dampak
negative yang ditimbulkan tidaklah dapat dilihat secara langsung, ini yang
menyebabkan konsep toilet training dipandang tidaklah penting dalam tahap
perkembangan anak usia toddler .
Pengetahuan tentang toilet training sangat penting untuk dimiliki
oleh seorang ibu. Hal ini akan berpengaruh pada penerapan toilet training
pada anak. Ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik berarti
mempunyai pemahaman yang baik tentang manfaat dan dampak toilet
training, sehingga ibu akan mempunyai sikap yang positif terhadap konsep
toilet training. Sikap merupakan kecenderungan ibu untuk bertindak atau
berperilaku .

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini, antara
lain :
1. Apa yang dimaksud dengan toilet training?
2. Bagaimana cara mengajarkan toilet training?
3. Bagaimana latihan mengontrol berkemih dan defekasi?
4. Apa faktor-faktor yang mendukung toilet training?
5. Apa saja hal yang perlu diperhatikan selama toilet training?
6. Apa tanda anak siap melakukan toilet training?
7. Apa dampak toilet training?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada toilet training?

2
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini, agar mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan pengertian toilet training, cara mengajarkan toilet training,
latihan mengontrol berkemih dan defekasi, faktor-faktor yang
mendukung toilet training, hal yang perlu diperhatikan selama toilet
training, tanda anak siap melakukan toilet training, dampak toilet
training, pengkajian masalah toilet training.
2. Menjelaskan asuhan keperawatan pada toilet training.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Toilet Training


Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak
agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air
besar. Menurut Supartini (2004), toilet training merupakan aspek penting
dalam perkembangan anak usia todler yang harus mendapat perhatian orang
tua dalam berkemih dan defekasi. Dan toilet training juga dapat menjadi awal
terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk
melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar .
Toilet training adalah latihan mengontrol buang air, usia yang tepat
untuk berlatih sekitar 18-24 bulan sangat tergantung pada perkembangan
beberapa otot tertentu, minat dan kesadaran anak yang bersumber dari anak
tersebut .
Pada tahapan usia 1 sampai 3 tahun atau usia toddler, kemampuan
sfingter uretra untuk mangontrol rasa ingin berkemih dan sfingter ani untuk
mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang (Supartini, 2002).
Sedangkan menurut Gupte (2004) sekitar 90 persen bayi mulai
mengembangkan kontrol kandung kemihnya dan perutnya pada umur 1 tahun
hingga 2,5 tahun. Dan toilet training ini dapat berlangsung pada fase
kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan .
Dalam melakukan latihan buang air kecil dan besar pada anak
membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun secara
intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan anak mampu mengontrol
buang air besar atau kecil sendiri. Pada toilet training selain melatih anak
dalam mengontrol buang air besar dan kecil juga dapat bermanfaat dalam
pendidikan seks sebab saat anak melakukan kegiatan tersebut disitu anak
akan mempelajari anatomi tubuhnya sendiri serta fungsinya. Dalam proses
toilet training diharapkan terjadi pengaturan impuls atau rangsangan dan
instink anak dalam melakukan buang air besar atau buang air kecil dan perlu

4
diketahui bahwa buang air besar merupakan suatu alat pemuasan untuk
melepaskan ketegangan dengan latihan ini anak diharapkan dapat melakukan
usaha penundaan pemuasa.
Toilet training secara umum dapat dilaksanakan pada setiap anak
yang sudah mulai memasuki fase kemandirian pada anak. Suksesnnya toilet
training tergantung pada kesiapan yang ada pada diri anak dan keluarga,
seperti kesiapan fisik, dimana kemampuan anak secara fisik sudah kuat dan
mampu. Hal ini dapat ditunjukkan anak mampu duduk atau berdiri sehingga
memudahkan anak untuk dilatih buang air besar dan kecil, demikian juga
kesiapan psikologis dimana anaka membutuhkan suasana yang nyaman agar
mampu mengontrol dan konsentrasi dalam merangsang untuk buang air besar
dan kecil. Persiapan intelektual pada anak ujga dapat membantu dalam proses
buang air besar dan kecil. Hal ini dapat ditunjukkan apabila anak memahami
buang aor besar atau kecil sangat memudahkan proses dalam pengontrolan,
anak dapat mengetahui kapan saatnya harus buang air kecil dan kapan saatnya
buang air besar, kesiapan tersebut akan menjadikan anak selalu mempunyai
kemandirian dalam mengontrol khususnya buang air kecil dan buang air besar
(toilet training). Pelaksanaan toilet training dapat dimulai sejak dini untuk
melatih respons terhadap kemampuan untuk buang air kecil dan buang air
besar.

B. Cara Mengajarkan Toilet Training pada Anak


Latihan buang air besar atau buang air kecil pada anak atau dikenal
dengan nama toilet training merupakan suatu hal yang harus dilakukan pada
orang tua anak, mengingat dengan latihan itu diharapkan anak mempunyai
kemampuan sendiri dalam melaksanakan buang air kecil dan buang air besar
tanpa merasakan ketakutan atau kecemasan sehingga anak akan mengalami
pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia tumbuh kembang anak. Banyak
cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam melatih anak untuk buang air
besar dan kecil, di antaranya:

5
1. Teknik Lisan
Merupakan usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan
intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum atau sesudah buang air kecil
dan buang air besar. Cara ini kadang-kadang merupakan hal biasa yang
dilakukan pada orang tua akan tetapi apabila kita perhatikan bahwa
teknik lisan ini mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan
rangsangan untuk buang air kecil atau buang air besar dimana lisan ini
persiapan psikologis pada anak akan semakin matang dan akhirnya anak
mampu dengan baik dalam melaksanakan buang air kecil dan air besar.
2. Teknik Modelling
Merupakan usaha untuk melatih anak dalam melakukan buang
air besar dengan cara meniru untuk buang air besar atau mamberikan
contoh. Cara ini juga dapat dilakukan dengan memberikan contoh-contoh
buang air kecil dan buang air besar atau membiasakan buang air kecil
dan buang air besar secara benar. Dampak yang jelek pada cara ini adalah
apabila contoh yang diberikan salah sehingga akan dapat diperlihatkan
pada anak akhirnya anak juga mempunyai kebiasaan salah. Selain cara
tersebut di atas terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan seperti
melakukan observasi waktu pada saat anak merasakan buang air kecil
dan buang air besar, tempatkan anak di atas pispot atau ajak ke kamar
mandi, berikan pispot dalam posisi aman dan nyaman, ingatkan pada
anak bila akan melakukan buang air kecil dan buang air besar, dudukkan
anak di atas pispot atau orang tua duduk atau jongkok di hadapannya
sambil mengajak bicara atau bercerita, berikan pujian jika anak berhasil
jangan disalahkan dan dimarahi, biasakan akan pergi ke toilet pada jam-
jam tertentu dan beri anak celana yang mudah dilepas dan dikembalikan.

C. Latihan Mengontrol Berkemih dan Defekasi pada Anak


Orang tua harus diajarkan bagaimana cara melatih anak untuk
mengontrol rasa ingin berkemih, di antaranya pot kecil yang bisa diduduki
anak apabila ada, atau langsung ke toilet, pada jam tertentu secara regular.

6
Misalnya, setiap dua jam anak dibawa ke toilet untuk berkemih. Anak
didudukkan pada toilet atau pot yang bisa diduduki dengan cara menapakkan
kaki dengan kuat pada lantai sehingga dapat membantunya untuk mengejan.
Latihan untuk merangsang rasa untuk mengejan ini dapat dilakukan selam 5
sampai 10 menit. Selama latihan, orang tua harus mengawasi anak dan
kenakan pakaian anak yang mudah untuk dibuka.

D. Faktor-faktor yang Mendukung Toilet Training pada Anak


Faktor-faktor yang mendukung toilet training pada anak, antara lain:
1. Kesiapan Fisik
a. Usia telah mencapai 18-24 bulan.
b. Dapat jongkok kurang dari 2 jam.
c. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan.
d. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan
pakaian.
2. Kesiapan Mental
a. Mengenal rasa ingin berkemih dan defekasi.
b. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih.
c. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku
orang lain.
3. Kesiapan Psikologis
a. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri
dulu.
b. Mempunyai rasa ingin tahu dan rasa penasaran terhadap kebiasaan
orang dewasa dalam buang air keci, dan buang air besar.
c. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat
dicelana dan ingin segera diganti segera.
4. Kesiapan Orang Tua
a. Mengenal tingkat kesiapan anak dalam berkemih dan defekasi.
b. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan
defekasi pada anak.

7
c. Tidak mengalami konflik tertentu atau stres keluarga yang berarti
(Perceraian).

E. Hal-hal yang Perlu diperhatikan Selama Toilet Training


Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Selama Toilet Training, antara lain:
1. Hindari pemakain popok sekali pakai.
2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan buang air
kecil dan buang air besar dengan benar.
3. Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci
tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat bangun tidur.
4. Jangan memarahi anak saat anak dalam melakukan toilet training.

F. Tanda Anak Siap untuk Melakukan Toilet Training


Tanda Anak Siap untuk Melakukan Toilet Training, antara lain:
1. Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari minimal 3-4 jam.
2. Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol.
3. Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan
menggunakan kata-kata pup.
4. Sudah mampu memberi tahu bila celana atau popok sekali pakainya
sudah basah dan kotor.
5. Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara memegang
alat kelamin atau minta ke kamar mandi.
6. Bisa memakai dan melepas celana sendiri.
7. Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah meringis, merah atau
jongkok saat merasa BAB dan BAK.
8. Tertarik dengan kebiasaan masuk ke kamar mandi seperti kebiasaan
orang sekitarnya.
9. Minta diajari menggunakan toilet.
10. Mampu jongkok lima sampai sepuluh menit tanpa berdiri dulu.

8
G. Dampak Toilet Training
Dampak yang paling umum dalam kegagalan toilet training seperti
adanya perlakuan atau aturan yang ketat bagi orang tua kepada anaknya yang
dapat mengganggu kepribadian anak atau cenderung bersifat retentif dimana
anak cenderung bersikap keras kepala bahkan kikir.Hal ini dapat dilakukan
oleh orang tua apabila sering memarahi anak pada saat buang air besar atau
kecil, atau melarang anak saat bepergian. Bila orang tua santai dalam
memberikan aturan dalam toilet training maka anak akan dapat mengalami
kepribadian ekspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka
membuat gara-gara, emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan
sehari-hari.

H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengkajian Masalah Toilet Training
Pengkajian kebutuhan terhadap toilet training merupakan sesuatu
yang harus diperhatikan sebelum anak melakukan buang air kecil
dan buang air besar, mengingat anak yang melakukan buang air
besar atau buang air kecil akanmengalami proses keberhasilan dan
kegagalan, selama buang air kecil dan buang air besar. Proses
tersebut akan dialami oleh setiap anak, untuk mencegah terjadinya
kegagalan maka dilakukan sesuatu pengkajian sebelum melakukan
toilet training yang meliputi pengkajian fisik, pengkajian psikologis,
dan pengkajian intelektual.
b. Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik yang harus diperhatikan pada anak yang akan
melakukan buang air kecil dan buang air besar dapat meliputi
kemampuan motorik kasar seperti berjalan, duduk, meloncat dan
kemampuan motor ik halus seperti mampu melepas celana sendiri.
Kemampuan motorik ini harus mandapat perhatian karena
kemampuan untuk buang air besar ini lancar dan tidaknya dapat

9
dilihat dari kesiapan fisik sehingga ketika anak berkeinginan untuk
buang air kecil dan buang air besar sudah mampu dan siap untu
melakukannya.Selain itu, yang harus dikaji adalah pola buang air
besar yang sudah teratur, sudah tidak mengompol setelah tidur.
c. Pengkajian Psikologis
Pengkajian psikologis yang dapat dilakukan adalah gambaran
psikologis pada anak ketika akan melakukan buang air kecil dan
buang air besar seperti anak tidak rewel ketika akan buang air besar,
anak tidak menangis sewaktu buang air besar atau buang air kecil,
ekspresi wajah menunjukan kegembiraan dan ingin melakukan
secara sendiri, anak sabar dan sudah mau ke toilet selama 5 sampai
10 menit tanpa rewel atau meninggalkannya, adanya
keinginantahuan kebiasaan toilet training pada orang dewasa atau
saudaranya, adanya ekspresi untuk menyenangkan pada
orangtuanya.
d. Pengkajian Intelektual
Pengkajian intelektual pada latihan buang air kecil dan buang air
besar antara lain kemampuan anak untuk mengerti buang air kecil
dan buang air besar, kemampuan mengkomunikasikan buang nair
kecil dan buang air besar, anak menyadari timbulnya buang air kecil
dan buang air besar, mempunyai kemampuan kognitif untuk meniru
prilaku yang tepat seperti buang air kecil dan buang air besar pada
tempatnya serta etika dalam buang air kecil dan buang air besar.
Dalam melakukan pengkajian kebutuhan buang air kecil dan buang
air besar, terdapat beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan selama
toilet training, diantaranya:
1) Hindari pemakaian popok sekali pakai dimana anak akan merasa
aman
2) Ajari anak mengucapkan kata-kata yang khas yang berhubungan
dengan buang air besar

10
3) Mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti
cuci muka saat bangun tidur, cuci muka, cuci kaki, dan lain-lain.
4) Jangan marah bila anak gagal dalam melakukan toilet training
2. Diagnosis dan NOC-NIC
Beberapa diagnosa keperawatan beserta NOC-NIC yang
mungkin muncul, antara lain:
Diagnosa NOC NIC
1. Kesiapan untuk Dalam waktu 1 1. Pengajaran :
peningkatan minggu klien siap Toilet Training
pengetahuan untuk meningkatkan Intruksikan
(adanya atau pengetahuan dengan kepada orang tua
pemerolehan menggunakan : tentang
informasi kognitif 1. Pengetahuan : bagaimana
yang berhubungan aktivitas yang menentukan
dengan tofik di anjurkan ( kesiapan fisik
tertentu yang skala 1-5) anak untuk toilet
memadai untuk Aktivitas dan training
memenuhi tujuan latihan yang Instuksikan
terkait kesehatan ditetapkan orang tua tentang
dan dapat Tujuan aktivitas bagaimana
ditingkatkan) Strategi menentukan
Batasan karakteristik : peningkatan kesiapan
Mengekspresikan aktivitas secara psikososial anak
ketertarikan dalam bertahap untuk toilet
belajar Menunjukkan training
Mendeskripsikan ketepatan dalam Instuksikan
pengalaman yang latihan orang tua tentang
berkaitan dengan Keuntungan bagaimana
topik aktivitas dan menentukan
latihan kesiapan

11
keluarga anak
untuk toilet
training
Menyediakan
informasi untuk
mempromosikan
toilet training
Menyediakan
informasi tentang
bagaimana
melepaskan
pakaian anak
Menyediakan
informasi tentang
strategi
komunikasi,
harapan, dan
peningkatan
pemberi
perawatan
lainnya.
Dukung orang
tua selama
proses ini
Dorong orang
tua untuk kreatif
dan fleksibel
dalam
perkembangan
dan implemntasi

12
strategi training
Menyediakan
informasi
tambahan,
seperti yang
diminta atau
dibutuhkan
2. Kesiapan Dalam waktu 1 1. Pelatihan bowel
Meningkatkan minggu klien dapat Rencana
Eliminasi siap meningkatkan Program usus
Urinarius (suatu eliminasi urinarius dengan pasien
pola fungsi dengan dan tepat
urinarius yang menggunakan : Ajarkan pasien/
cukup untuk 1. Perawatan diri keluarga prinsip-
memenuhi :toileting prinsip pelatihan
kebutuhan eliminasi Merespon usus
dan dapat kandung kemih Pastikan asupan
ditingkatkan) penuh dalam cairan yang
Batasan karakteristik : waktu yang tepat cukup
Jumlah hakuaran Merespon Pastikanlatihan
dalam batas normal keinginan untuk yang cukup
Mengekspresikan melakukan Pastikanprivasi
keinginan untuk buang air besar MengevaluasiSta
meningkatkan dalam waktu tusususteratur
eliminasi urinarius yang tepat ModifikasiProgr
Mempromosikan Mendapatkan amusus, yang
diri untuk masuk dan diperlukan
mengosongkan keluar dari 2. Pelatihan
kandung kemih kamar mandi Urinkandung
Asupan cairan Melepas pakaian kemih

13
adekuat untuk Mengosongkan Membantu
kebutuhan cairan kandung kemih pasien untuk
Mengosongkan mengidentifikasi
usus pola
Membersihkan inkontinensia
diri setelah Tinjauan
buang air kecil berkemih harian
Membersihkan dengan pasien
diri setelah Menetapkan
buang air besar interval jadwal
Mendapat naik toilet awal,
daritoilet berdasarkanpola
atautoilet berkemih
Menetapkan
awal dan akhir
waktu untuk
toilet jadwal jika
tidak untuk 24
jam
Menyediakan
privasi untuk
toileting
Gunakan
kekuatan untuk
membantu pasien
sugestionuntuk
membatalkan
Ajarkan pasien
untuk sadar
menahan

14
kencingsampai
waktu yang
dijadwalkan
toileting

3. Kesiapan Dalam waktu 1 1. Bantuan


meningkatkan minggu klien siap perawatan diri :
perawatan diri dalam meningkatkan Toileting
(pola feforma perawatan diri Lepaskan
aktivitas individu dengan pakaian penting
yang membantu menggunakan : untuk
memenuhi tujuan 1. Perawatan diri memungkinkan
terkait kesehatan :toileting eliminasi
dan dapat Merespon Pertimbangkan
ditingkatkan) kandung kemih usia anak ketika
Batasan karakteristik : yang penuh mempromosikan
Mengungkapkan dalam waktu kegiatan
keinginan untuk yang tepat perawatan diri
meningkatkan Merespon Membantu
kemandirian dalam keinginan untuk pasien untuk
meningkatkan melakukan toilet
kesehatan buang air besar /toilet/pispot/frak
Mengungkapkan dalam waktu tur pan/urinoir
keinginan untuk yang tepat pada selang
meningkatkan Dapat masuk dan waktu tertentu
pengetahuan keluar dari Pertimbangkan
tentang strategi kamar mandi respons pasien
perawatan diri Melepas pakaian terhadap
Mengungkapkan Mengosongkan kurangnya
keinginan untuk kandung kemih privasi

15
meningkatkan mengosongkanus Menyediakan
tanggung jawab us privasi selama
perawatan diri Membersihkan proses eliminasi
Mengungkapkan diri setelah Ganti pakaian
keinginan untuk buang air kecil anak setelah
meningkatkan Membersihkan eliminasi
perawatan diri diri setelah Menyiram
buang air besar toilet/membersih
Mendapat naik kan alat
dari toilet atau eliminasi (toilet,
toilet pispot)
Instruksikan
jadwal buang air
Memantau
pasien dengn
integritas kulit

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak
agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air
besar.Dalam melakukan latihan buang air kecil dan besar pada anak
membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun secara
intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan anak mampu mengontrol
buang air besar atau kecil sendiri. Pada toilet training selain melatih anak
dalam mengontrol buang air besar dan kecil juga dapat bermanfaat dalam
pendidikan seks sebab saat anak melakukan kegiatan tersebut disitu anak
akan mempelajari anatomi tubuhnya sendiri serta fungsinya.
Teknik yang digunakan bisa melalui lisan maupun modeling.terdapat
beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan selama toilet training, diantaranya:
Hindari pemakain popok sekali pakai dimana anak akan merasa aman, ajari
anak mengucapkan kata-kata yang khas yang berhubungan dengan buang air
besar, mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci
muka saat bangun tidur, cuci muka, cuci kaki, dan lain-lain, jangan marah
bila anak gagal dalam melakukan toilet training.

B. Saran
Bagi para mahasiswa agar lebih aktif dalam diskusi maupun
bertanya dengan orang yang lebih tahu sehingga para mahasiswa dapat
memperoleh pengetahuan yang lebih dalam. Bagi para dosen agar dapat
menjelaskan pada mahasiswa lebih detail lagi pada bagian yang masih kurang
pada pembahasan yang dilakukan pada saat diskusi.

17
DAFTAR PUSTAKA

Gupte, S. (2004). Pedoman Perawatan Anak. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Supartini, Y. (2002). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

___________(2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.