Anda di halaman 1dari 28

KELOMPOK 4 :

1. NURUL
2. DEVI
3. MELA (201751211)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Makanan merupakan sumber nutrisi tubuh. Tetapi makanan juga bisa menjadi
sumber petaka. Di dalam bahan pangan, baik secara alami maupun
kontaminasi mikroba banyak terdapat senyawa beracun. Selain itu, dalam
makanan yang kita konsumsi sehari-hari ternyata mengandung zat-zat kimia
yang bersifat racun, baik itu sebagai zat aditif pada makanan, maupun akibat
dari sisa buangan hasil aktivitas manusia (seperti pestisida) yang
terkontaminasi dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang dikonsumsi
manusia. Zat-zat kimia ini berpengaruh terhadap tubuh kita dalam level sel,
sehingga kebanyakan kita akan mengetahui dampaknya dalam waktu yang
lama. Dampak negatif yang bisa terjadi adalah dapat memicu kanker, kelainan
genetik, cacat bawaan ketika lahir, dan lain-lain.
Tidak ada cara untuk menghindar 100% dari bahaya senyawa-senyawa
beracun itu dalam kehidupan kita sehari-hari, yang perlu kita lakukan adalah
meminimalkan penggunaannya sehingga tidak melewati ambang batas yang
disarankan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1 Apa saja golongan bahan beracun pada pangan dan contohnya?
1.2.2 Bagaimana menganalisa Aflatoksin pada pangan?
1.2.3 Bagaimana menganalisa bahan beracun Timbal pada pangan?
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.1 Analisa
Analisa berasal dari istilah Yunani Kuno analusis yang artinya melepaskan.
Analusis merupakan kata yang tercipta dari dua suku kata yakni ana yang artinya
kembali dan luein yang artinya melepaskan. Sehingga analisa dapat diartikan
sebagai sebuah usaha untuk mengamati dengan rinci terhadap objek dengan cara
menguraikan komponen penyusunnya untuk dikaji atau dipelajari lebih lanjut.

2.1.2 Bahan Beracun


Pengertian beracun karena bahan tersebut dapat langsung meracuni manusia atau
mahluk hidup lain. Sifat keracunan tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek
maupun jangka panjang.
Bila sampai masuk ke lingkungan, di lokasi pembuangan yang tidak terkontrol,
bahan beracun ini dapat tercuci serta masuk ke dalam air tanah sehingga dapat
mencemari sumur penduduk di sekitarnya dan berbahaya bagi penduduk yang
menggunakan air tersebut.

2.1.3 Pangan
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber daya hayati dan air, baik
yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia. Termasuk di dalam pengertian pangan adalah
bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan-bahan lainnya yang
digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan
dan minuman. Pengertian pangan di atas merupakan definisi pangan yang
dikeluarkan oleh badan dunia untuk urusan pangan, yaitu Food and Agricultural
Organization (FAO)
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Golongan Bahan Beracun Pada Pangan


A. Bahan Beracun Alamiah

Sejumlah jenis bahan makanan sudah mengandung bahan beracun secara


alamiah sejak asalnya. Racun ini berupa ikatan organik yang disintesa (hasil
metabolisme) bahan makanan, baik makanan nabati maupun bahan makanan
hewani, seperti jenis ikan tertentu, kerang-kerangan dan sebagainya.
Singkong (Manihot utilissima), kandungan sianida dalam singkong sangat
bervariasi. Kadar sianida rata-rata dalm singkong manis dibawah 50 mg/kg berat
asal, sedangkan singkong pahit diatas 50 mg/kg. Menurut FAO, singkong dengan
kadar 50 mg/kg masih aman untuk dikonsumsi manusia. Bahan makanan ini suatu
ikatan organic yang dapat menghasilkan racun biru (HCN) yang sangat toksik:
bahkan dahulu dipergunakan untuk melaksanakan hukuman mati kepada
terhukum. Juga beberapa jenis kacang koro (Macuna spp) dikonsumsi di daerah-
daerah tertentu pada masa paceklik, padahal jenis kacang tersebut juga
mengandung bahan beracun yang menghasilkan HCN. Tergantung jumlahnya
hidrogen sianida dapat menyebabkan sakit sampai kematian (dosis yang
mematikan 0,5-3,5 mg HCN/kg berat badan).
Kentang, racun alami yang dikandung kentang termasuk dalam golongan
glikoalkaloid dengan dua macam racun utama yaitu solanin dan chaconine.
Biasanya racun yang dikandung oleh kentang berkadar rendah dan tidak
menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia.
Meskipun demikian, kentang yang berwarna hijau, bertunas dan secara fisik telah
rusak atau membusuk dapat menyebabkan glikoalkaloid dalam kadar yang tinggi.
Racun tersebut terutama terdapat pada daerah yang berwarna hijau, kulit atau
daerah dibawah kulit.
Kadar glikoalkoid yang tinggi dapat menimbulkan rasa seperti terbakar di mulut,
sakit perut, mual dan muntah. Sebaiknya kentang disimpan di tempat yang sejuk,
gelap, dan kering serta dihindarkan dari paparan sinar matahari atau sinar lampu.
Untuk mencegah terjadinya keracunan sebaiknya kentang dikupas kulitnya dan
dimasak sebelum dikonsumsi.
Seledri, mengandung senyawa psoralen yang termasuk racun golongan
kumarin. Senyawa itu bisa menimbulkan reaksi sensitivitas pada kulit jika
terpapar matahari.
Untuk menghindari efek toksik psoralen, sebaiknya hindari terlalu banyak
mengkonsumsi seledri mentah. Lebih aman jika seledri dimasak sebelum
dikonsumsi karena psoralen dapat terurai melalui proses pemasakan.

Bermacammacam senyawa beracun yang sering kali terdapat dalam bahan


nabati dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Table 1 Batas Maksimum Penggunaan Pemutih dan Pematang Tepung (Flour


Treatment Agent)

Nama Senyawa kimia Sumber Gejala Keracunan


Toksin
Proteasa Protein Kacang- Pertumbuhan dan
Inhibitor BM: 4.000- kacangan, penggunaan
24.000 kacang polong, makanan kurang
kentang, ubi baik, pembesaran
jalar, biji-bijian kelenjar pankreas
Hemaglutinin Protein Kacang- Pertumbuhan dan
BM: 10.000- kacangan, penggunaan
124000 kacang polong, makanan kurang
baik, penggupalan
butir darah merah
(invitro)
Saponin Glikosida Kedelai, bit, Hemolisis butir darah
kacang tanah, merah
bayam,
asparagus
Glikosinolat Tioglikosida Kol dan Hipotiroid dan
sejenisnya, pembengkakan
lobak, mustard kelenjar tiroid
Sianogen Glukosida Kacang- Keracunan HCN
sianogenetik kacangan,
kacang polong,
rami, buah-
bauhan berbiji
keras, singkong,
linseed
Pigmen Gosipol Biji kapas Kerusakan hati,
gosipol pendarahan,
pembengkakan.
Latirogen -aminopropio- Vetch, chickpea Osteolatirisme
nitril dan (susunan kerangka
turunannya asam Chikpea tak sempurna)
-N-Oksalil-L-, Neurolatirisme
-diamino Alergi
Alergen Protein (?) Semua bahan Kanker hati dan
pangan organ lain.
Sikasin Metilazoksi- Biji-bijian dari Anemia hemolitik
metanol genus Cycas yang akut
Favison Vasin dan Kacang-kacang Merangsang syaraf
konvisin fava beans pusat, kelumpuhan
(pirimidin-- organ pernapasan
glukosida)
Fitoaleksin Furan sederhana Ubi jalar Pulmonary edema,
(ipomeamarone) kerusakan hati dan
ginjal
Benzofuran Seledri, parsnips Sensivitas kulit
(prosalin) terhdap sinar
matahari
Asetilenat furans Broad beans
(wyrone)
Isoflavonoid Peas, french Cell lysis in vitro
(pisatin dan beans
faseolin)
Pirolizidin dihipropiroles Families Kerusakan hati dan
alkaloid compositae and paru paru,
borag inaccae; karsinogen
herbal teas
Safrol Allyl-sibtutited Sassafras, lada Karsinogen
benzene hitam
- Amantin Bicyclic Amanita Salvia, muntah-
octapeptides phalloid, jamur muntah, konvulsi,
meninggal
Atraktilosida Glikosida steroid Theistle Glikogen deplesi
(Atractylis
gummifera)
Pikirizida ** (?) Biji bengkuang
*fennema (1997) ** Poerwosoedarmo dan sediaoetama (1977) dalam Winarno
(2002)
Kandungan racun dalam bahan makanan biasanya rendah sehingga bila
dikonsumsi dalam jumlah normal oleh orang yang kesehatannya normal tidak
banyak membahayakan tubuh. Penganekaragamanan makanan dalam menu sangat
penting ditinjau dari kemungkinan zat racun tersebut mencapai jumlah ynag
membahayakan.
Pengolahan ternyata dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan
kandungan racun dalam bahan pangan. Seperti misalnya singkong, kulitnya dikupas
dulu sebelum diolah, singkongnya dikeringkan, direndam sebelum dimasak, dan
difermentasi selama beberapa hari. Dengan perlakuan tersebut linamarin banyak
yang rusak dan hidrogen sianidanya ikut terbuang keluar sehingga tinggal sekitar
10-40 mg/kg. Disamping itu hidrogen sianida akan mudah hilang oleh
penggodokan, asal tidak ditutup rapat. Dengan pemanasan, enzim yang
bertanggung jawab terhadap pemecahan linamarin menjadi inaktif sehingga
hidrogen sianida tidak dapat terbentuk. Glikosidanya sendiri pada umumnya bukan
merupakan racun. Walaupun demikian, masih terdapat banyak kontradiksi terhadap
akibat konsumsi glikosida yang belum terurai, karena ternyata bakteribakteri yang
ada pada saluran pencernaan bagian bawah dapat memecah glikosida tersebut
menjadi hidrogen sianida.
Mimosin, banyak terdapat di dalam biji lamtoro atau petai cina (Leucae
naglauca), bersifat sangat mudah larut dalam air. Cara menghilangkan atau
menurunkan senyawa beracun tersebut dilakukan dengan merendam biji lamtoro
dengan air pada suhu 70oC (24 jam) atau pada 100oC selam 4 menit. Dengan cara
tersebut kandungan mimosin dapat diturunkan dari 4,5% menjadi 0,2% atau
penurunan sebanyak 95% (Costillo, 1962 dalam Winarno, 2002). Demikian juga
dengan proses pembuatan tempe kadar mimosin dapat banyak dikurangi,
kandungan mimosin dalam biji lamtoro gung 63 mg/kg dan dalam tempe lamtoro
tinggal 0,001 mg/kg (Dewi Slamet, 1982 dalam Winarno, 2002). Bila bereaksi
dengan logam, misalnya besi, mimosin akan membentuk senyawa kompleks yang
berwarna merah.
Biji kapas mengandung 0,4-1,7% pigmen gosipol dan pigmen lain yang
serupa. Senyawa gosipol ini reaktif dan menyebabkan gejala-gejala keracunan pada
hewan peliharaan maupun hewan percobaan. Adanya gosipol dalam biji kapas akan
menurunkan nilai nutrisi tepung biji kapas yang merupakan sumber protein nabati.

Gambar 1. Gosipol

B. Senyawa Racun dari Mikroba


Sebelum membahas senyawa racun dari mikroba, perlu terlebih dahulu
dipahami dua istilah yang mirip pengertiannya, yaitu infeksi dan keracunan. Infeksi
adalah suatu istilah yang digunakan bila seseorang setelah mengkonsumsi makanan
atau minuman yang mengandung bakteri patogen mendapat gejala-gejala penyakit.
Keracunan yang disebut juga intoksikasi disebabkan mengkonsumsi makanan yang
telah mengandung senyawa beracun yang diproduksi oleh mikroba, baik bakteri
maupun kapang.
Beberapa senyawa racun yang dapat menyebabkan intoksikasi adalah
bakteri clostridium botulinum, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas
cocovenenans sedang dari kapang, biasanya disebut mikotoksin yaitu Aspergillus
flavus, Penicillium sp, dan lain sebagainya.
Pencemaran makanan dapat pula terjadi dengan mikroba atau jasad renik
yang kemudian menghasilkan racun dan ikut tertelan bersama makanan tersebut;
dapat menyebabkan keracunan makanan (Food intoxication) .
Jenis coccus sering mencemari makanan kue basah, yang tidak disimpan
cukup hygenik dan telah aak lama disimpan di udara terbuka sebelumm
dikonsumsi. Jenis coccus yang pathogen dapat tumbuh subur dan menghasilkan
exotoxin maupun endotoxin; bahan toksik ini kemudian ikut termakan. Exotoxin
ialah racun yang dihasilkan kemudian dikeluarkan dari sel mikroba, sedangkan
endotoxin tetap di dalam sel mikroba, tetapi setelah mikroba mati dan dihancurkan
di dalam saluran pencernaan, endotoxin tersebut keluar sari sel dan menyebabkan
keracunan. Di sini yang menyebabkan penyakit bukan mikrobanya secara infeksi,
tetapi bahan beracunnya yang telah dihasilkan oleh mikroba tersebut, tidak peduli
mikrobanya masih hidup atau tidak.
1. Pseudomonas cocovenenans
Senyawa beracun yang dapat diproduksi oleh Pseudomonas cocovenenans
adalah toksoflavin dan asam bongkrek. Kedua senyawa beracun tersebut diproduksi
dalam jenis makanan yang disebut tempe bongkrek, suatu tempe yang dibuat
dengan bahan utama ampas kelapa. Pada umumnya tempe bongkrek yang jadi atau
berhasil dengan baik (kompak dan berwarna putih) hanya ditumbuhi kapang tempe
rhizopus oligosporus, tetapi tempe yang gagal dan rapuh disamping R. Oligosporus
biasanya juga tumbuh sejenis bakteri yang diebut Pseudomonas cocovenenans,
bakteri yang sebenarnya tidak dikehendaki ada dalam tempe bongkrek. Bakteri
inilah yang menyebabkan terbentuknya toksin dalam tempe bongkrek.
Toksoflavin (C7H7N5O2) merupakan pigmen berwarna kuning, bersifat
flouresens, dan stabil terhadap oksidator. LD50 toksoflavin adalah 1,7 mg per kg
berat badan.

Gambar 2. Asam bongkrek

Asam bongkrek (C28H38O7) merupakan asam trikarboksilat tidak jenuh.


Dosis fatal untuk monyet 1,5 mg per kg berat badan, sedangkan untuk tikus 1,41 kg
per berat badan. Asam bongkrek bersifat sangat fatal dan biasanya merupakan
penyebab kematian. Hal ini disebabkan toksin tersebut dapat mengganggu
metabolisme glikogen dengan memobilisasi glikogen dari hati sehingga terjadi
hiperglikimia yang kemudian berubah menjadi hipoglikimia. Penderita
hipoglikimia biasanya meninggal empat hari setelah mengkonsumsi tempe
bongkrek yang beracun. Tempe bongkrek banyak dikonsumsi di daerah Banyumas
dan Tegal di Jawa Tengah. Pertumbuhan Pseudomonas cocovenenans
dilaboratorium dapat dicegah bila pH subtrat diturunkan dibawah 5,5 atau dengan
penambahan garam NaCl pada subtrat pada konsentrasi 2,75-3,0%.

2. Staphylococcus aureus

Senyawa beracun yang diproduksi Staphylococcus aureus disebut


enterotoksin dan dapat berbentuk dalam makanan karena pertumbuhan bakteri
tersebut. Disebut enterotoksin karena menyebakan gastro enteritis. Enterotoksin
sangat stabil terhadap panas, dan paling tahan panas ialah enterotoksin tipe B.
Pemanasan yang dilakukan oleh proses pemasakan normal tidak akan mampu
menginaktifkan toksin tersebut dan tetap dapat menyebabkan keracunan.
Sumber penularan Staphylococcus aureus adalah manusia atau hewan
melalui hidung, tenggorokan, kulit, dan luka yang bernanah. Gejala keracunan yang
terjadi adalah banyak mengeluarkan ludah, mual, muntah, kejang perut, diare, sakit
kepala, berkeringat dingin yang terjadi hanya satu dan dua hari. Sesudah itu,
penderita akan sembuh. Biasanya jarang terjadi kematian.

C. Mikotoksin

Mikotoksin sebagai metabolit sekunder dari kapang (fungi) merupakan


senyawa toksik yang dapat mengganggu kesehatan manusia dan hewan berupa
mikotoksikosis dengan berbagai bentuk perubahan klinis dan patologis yang
ditandai dengan gejala muntah, sakit perut, pru-paru bengkak, kejang, koma, dan
pada kasus yang jarang terjadi dapat menyebabkan kematian. Namun, perlu
dijelaskan bahwa tidak semua kapang memproduksi toksin, bahkan beberapa
diantaranya berguna bagi proses pengolahan makanan seperti tempe, tauco, kecap,
dan keju. Hingga saat ini telah dikenal 300 jenis mikotoksin, lima jenis diantaranya
sering ditemukan dalam bebijian yaitu aflatoksin, vomitoksin, okratoksin A,
fumonisin dan zearalenon.

Tabel 2 Mikotoksin dalam Beberapa Komoditas dan Efeknya


Mikotoksin Komoditas Sumber Efek Kesehatan
Kapang
Aflatoksin B1, Jagung, A. Flavus Aflatoksin B1 oleh IARC
B2, G1 G2 kacang tanah diidentifikasikan sebagai
dan karsinogen potensial bagi
komoditas manusia. Mempunyai
lainnya efek terhadap kesehatan
pada bebbagai
hewankhususnya ayam.
Deoksinivalenol Gandum, F. Toksisitas pada manusia
(DON) jagung dan graminearium terjadi di India, Cina,
barley F. Jepang, dan Korea.
croowellense
F. Culmorum Toksik pada hewan
terutama babi.
Fumosin B1 Jagung, F. moniliforme IARC menduga
karsinogen pada manusia.
Toksik terhadap babi dan
unggas. Penyebab ELEM
(Euguine
Leucoencephalomalacia),
penyakit fatal pada kuda.
Okratoksin A Barley, A. Ochraceus, IARC menduga sebagai
gandum, dan penicillium, karsinogen pda manusia.
komoditasnya verrucosum Karsinogen pada uji
laboratorium hewan dan
babi.
Zaralenon Jagung, F. IARC mengindentifikasi
gadum graminearium sebagai karsinogen
F. potensial pada manusia.
croowellense Mempengaruhi sistem
F. Culmorum reproduksi pada babi
betina.

1. Aflatoksin

Aflatoksin adalah senyawa beracun yang diproduksi oleh Aspergillus


flavus, atau oleh jenis Asprgillus lain misalnya A. Parasiticus, aflatoksin dapat
digolongkan menjadi aflaktoksi B (flouresencens biru) dan aflatoksin G
(flouresencens hijau) serta turunan-turunannya. Jenis-jenis aflatoksin yang telah
dikenal dan berhasil diisolasi adalah aflatoksin B1, B2, G1, G2, M1, M2, GM1,
B2a, Ro, B3, 1-OCH3B2, dan 1-CH3G2.
Aflatoksin B2 dan G2 adalah aflatoksin B1 dan G1 yang telah mengalami
dehidrasi, sedangkan aflatoksin M1 dan M2 merupakan derivat hidroklisasi dari
aflatoksin B1 dan B2. Dari berbagai jenis aflatoksin tersebut, aflatoksin B1
merupakan jenis yang paling beracun terhadap beberapa jenis ternak terutama
kalkun dan bersifat karsinogenik pada hati.

Gambar 3. Aflatoksin

Batas maksimum kandungan aflatoksin yang diperbolehkan dalam bahan


makanan di Amerika Serikat adalah 20 ppb, sedang di Australia 15 ppb untuk
kacang tanah dan 5 ppb untuk bahan bukan kacang tanah. Untuk menangani masalh
KKP di daerah miskin, FAO/WHO mengijinkan sampai batas maksimum bagi
makanan yang diberiakn sebagai bahan makanan campuran (BMC).

2. Deoksinivalenol (DON)

Deoksinivalenol (DON, vomitoksin) adalah mikotoksin jenis trikotesena


tipe B yang paling polar dan stabil yang diproduksi oleh kapang (fusarium
graminerium (Gibberella zeae) dan F. Culmorum): stabil secara termal karena itu
sangat sulit untuk menghilangkannya dari komoditas pangan. Keberadaan DON
kadangkala disertai pula oleh mikotoksin lain yang dihasilkan oleh Fusarium
seperti zearalenon, nivalenon (dan trikotesena lain) dan juga fumonisin. DON
antara lain dapat menyebabkan terjadinya mikotoksikosis pada hewan.
DON banyak terdapat pada tanaman biji-bijian seperi gandum, barley, oat,
gandum hitam, tepung jagung, sorgum, tritikalus, dan beras. Pembentukan DON
pada tanaman pertanian tergantungpada iklim dan sangat bervariasi antara daerah
dengan geografis tertentu. Karena senyawa ini stabil, DON dapat pula ditemukan
pada produk sereal seperti sereal untuk sarapan, roti, mie instan, makanan bayi, malt
dan bir.

Gambar 5. Deaoksinivalenol

Toksisitas akut DON diperlihatkan pada babi dengan gejala keracunan


seperti muntah-muntah, tidak mau makan, penurunan berat badan dan diare.
Menurut IARC tahun1993, DON tidak diklasifikasikan bersifat karsinogen pada
manusia. DON tidak mutagen pada bakteri, namun pada studi in vivo dan in vitro
ditemukan adanya penyimpangan pada kromosom yang mengindikasikan DON
genotoksik.

3. Fumonisin

Fumonisin termasuk kelompok toksin fusarium yang dihasilkan oleh


kapang Fusarium sp., terutam F.moniliforme dan F.proliferatum. Kapang lain yang
juga mampu memproduksi fumonisin, yaitu F. Nygamai, F. Anthiphilum, F.diamini
dan F.napiforme.
F.moniliforme tumbuh pada suhu optimal antara 22,5-27,50 oC dengan suhu
maksimum 32-370oC. Kapang fusarium ini tumbuh dan tersebar diberbagai negara
di dunia, terutama negara beriklim tropis dan subtropis. Komoditas pertanian yang
sering dicemari kapang ini adalah jagung, gandum, sorgum, dan berbagai produk
pertanian lainnya.
Hingga saat ini telah diketahui 11 jenis senyawa Fumonisin, yaitu
Fumonisin B1 (FB1), FB2, FB3, dan FB4, FA1, FA2, FC1, FC2, FP1, FP2, dan
FP3. Diantara jenis fumonisin tersebut, FB1 mempunyai toksisitas yang dan dikenal
dengan juga dengan nama makrofusin. FB1 dan FB2 banyak mencemari jagung
dalam jumlah cukup besar dan FB1 juga ditemukan pada beras yang terinfeksi oleh
F.proliferatum.
4. Okratoksin A

Okratoksin A (OTA) merupakan jenis mikotoksin yang banyak


mengkontaminasi komoditas pertanian dan pakan. Okratoksin A ini diketahui
pertama kali pada tahun 1965 di Afrika Selatan yang diproduksi oleh kapang
Aspergillus ochraceus. OTA dapat juga dihasilkan oleh kapang penecillium
verrucosum dan P. Viridicatum (umumnya subtropis) dan A. Carbonarius
(umumnya tropis). Selain OTA terdapat okratoksin B (C20H19NO6), C
(C22H22ClNO6) a dan b. OTA merupakan molekul yang cukup stabil, dan dapat
bertahan pada produk olahan bahan pangan.
OTA pertama kali ditemukan sebagai kontaminan alami pada sampel
jagung. Konsentrasi OTA biasanya kurang dari 50 mcg/kg (ppb); namun jika
diproduk pangan tersebut disimpan dengan cara yang tidak baik maka konsentrasi
OTA tersebut bisa meningkat. Senyawa ini terdapat pada produk seperti kopi, bir,
buah kering, wine, kakao, dan kacang-kacangan. Keberadaan OTA juga ditemukan
selama proses pembuatan bir, roti, sereal sarapan dan pengolahan kopi, pakan, dan
daging.

Gambar 6. Okratoksin

OTA merupakan mikotoksin yang bersifat teratogenik, mutagenik dan


karsinogenik dan berpotensi menyebabkan kerusakan terutama pada hati dan ginjal
(akut maupun kronis). OTA dapat pula menyebabkan gangguan pada sistem
kekebalan untuk sejumlah spesies mamalia.

5. Zearalenon

Zearalenon merupakan toksin estrogenik yang dihasilkan oleh kapang


fusarium graminearum, F. Tricinctum, dan F. Moniliforme. Kapang ini tumbuh
pada suhu optimum 20-250oC dan kelembaban 40-60%. Zearalenon pertama kali
diisolasi pada tahun 1962. Mikotoksin ini cukup stabil dan tahan terhadap suhu
tinggi.

Gambar 7. Zearalenon

Hingga saat ini paling sedikit terdapat 6 macam turunan zearalenon,


diantranya -zearalenon yang memiliki aktifitas estrogenik 3 kali lipat daripada
senyawa induknya. Senyawa turunan lainnya adalah 6,8-dihidroksizearalenon,
8-hidroksizearalenon, 3-hidroksizearalenon, 7-dehidrozearalenon, dan
5-formilzearalenon. Komoditas yang banyak tercemar zearalenon adalah jagung,
gandum, kacang kedelai, beras dan serelia lainnya.

D. Residu Peptisida dan Insektisida

Peptisida yag jumlahnya ratusan bahkan ribuan yang telah beredar dipasaran
dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok: 1) berdasarkan zat kimianya,
menjadi pestisida organik dan anorganik; 2) berdasarkan tujuan dan sasarannya,
pestisida dapat dibedakan menjadi golongan insektisida (serangga), herbisida,
fungisida, nematosida (cacing), rodentisida (tikus), bakterisida dan sebagainya.
Berbagai jenis insektisida pada mulanya berasal dari zat anorganik, yaitu
logam berat yang beracun seperti misalnya timbal, antimon, arsen, merkuri,
selenium, sulfur, thallium, zink dan fluorine. Daya racunnya terutama dapat
mengganggu transmisi axonic dari impuls-impuls syaraf, dan karena itu
mengganggu sistem syaraf terutama otak. Residu pencemaran merupakan sisa
buangan hasil aktivitas manusia yang terkontaminasi dengan tumbuh-tumbuhan
dan hewan yang dikonsumsi manusia, seperti pestisida.
Kita semua terpapar dengan pestisida pada dasarnya yang berketerusan. Makanan
yang kita makan, terutama buah dan sayuran segar, mengandung residu pestisida.
The National Academy of Sciences (NAS) tahun 1987 mengeluarkan laporan
tentang pestisida dalam makanan. Pada dasar data dalam penelitian, resiko
potensial yang diberikan oleh pestisida penyebab kanker dalam makanan kita
lebih dari sejuta kasus kanker tambahan dalam masyarakat Amerika selama hidup.
Karena sekitar 30 macam pestisida karsinogen terdapat dalam makanan kita, dan
selama ini belum menyebutkan potensi pemaparan terhadap pestisida karsinogen
dalam air minum
Jenis Pestisida dan potensi bahaya bagi kesehatan manusia
1. Asefat Insektisida Kanker, mutasi gen, kelainan alat reproduksi
2. Aldikard Insektisida Sangat beracun pada dosis rendah
3. BHC Insektisida Kanker, beracun pada alat reproduksi
4. Kaptan Insektisida Kanker, mutasi gen
5. Karbiral Insektisida Mutasi gen, kerusakan ginjal
6. Klorobensilat Insektisida Kanker, mutasi gen, keracunan alat reproduksi
7. Klorotalonis Fungisida Kanker, keracunan alat reproduksi
8. Klorprofam Herbisida Kanker, mutasi gen, pengaruh kronis
9. Siheksatin Insektisida Karsinogen
10. DDT Insektisida Cacat lahir, pengaruh kronis

E. Pencemaran Logam Berat

1. Timbal
Timbal (Plumbum, Pb) disebut juga timah hitam adalah jenis logam tertua
yang pernah dikenal manusia.
Di jaman peradaban kuno, timbal telah banyak digunakan sebagai bahan
pengemas atau wadah, atap rumah, saluran air, alat-alat rumah tangga serta berbagai
hiasan. Dalam bentuk oksida, timbal banyak digunakan sebagai pigmen atau zat
pewarna dalam industry kosmetik dan glace, serta warna dan dekorasi pada
keramik, termasuk peralatan dapur. Timbal banyak digunakan untuk mematri atau
menyambung logam, seperti; air dan menyolder kemasan kaleng untuk makanan.
Pencemaran timbal pada lingkungan begitu hebat sehingga makanan yang
kita konsumsi, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup, biasanya telah
terkontaminasi timbal. Karena itu, timbal merupakan non-essential trace element
yang paling tinggi kadarnya dalam tubuh manusia, yaitu 100-400 mg per orang,
tergantung berat badan. Meskipun hampir di setiap tenunan tubuh terdapat residu
timbal, tetapi sebagian besar terkontaminasi di dalam tulang serta jeroan hati dan
ginjal. Karena alasan tersebut hasil ternak tersebut tinggi kandungan timbalnya.
Sumber kontaminasi timbal berasal dari udara yang tercemari akibat
banyaknya gedung-gedung yang dirubuhkan, dari asap yang dikeluarkan melalui
knalpot mobil, serta air yang melalui pipa saluran dari timbal atau pematrian timbal.
Kontaminasi dalam makanan dapat terjadi melalui kemasan kaleng yang dipatri, zat
warna tekstil, atau makanan yang tercemari oleh udara dan air yang telah tercemar
oleh timbal. Makanan/jajanan di berbagai stasiun bus dan angkot banyak terekspos
debu timbal di udara dengan kadar 2-8 mikrogram/m3. Demikian juga para petugas
karcis tol berpeluang menghirup debu timbal pada kadar yang tinggi setiap hari. Di
Bandung, sekitar 30-46% pengemudi dan polisi, serta 50% pedagang kaki lima,
memiliki kadar timbal di atas normal dalam darahnya, yakni lebih besar dari
40g/dl darah.
Setiap makanan, termasuk ASI (Air Susu Ibu) telah pula tercemar oleh
timbal. Makanan yang dilaporkan tinggi kadar timbalnya adalah makanan kaleng
(50-100 g/kg); jeroan terutama hati, ginjal ternak (150 g/kg), ikan (170 g/kg)
dan kelompok paling tinggi adalah kerang-kerangan (molusca) dan udang-udangan
(crustacean) rata-rata lebih tinggi dari 250 g/kg.
Jenis makanan yang tergolong rendah derajat kontaminasi timbalnya adalah
susu sapi, buah-buahan dan sayuran serta biji-bijian (15-20 g/kg) sedang daging
masih termasuk kadar medium (50 g/kg). Biasanya hasil tanaman rendah
kandungan timbalnya, sayur-sayuran berbentuk daun, lebih tinggi daripada ubi atau
biji-bijian. Hasil tanaman yang berasal dari daerah dekat jalan raya atau jalan tol 10
kali lebih tinggi kadar timbalnya dibanding dari daerah pedalaman atau di pedesaan,
misalnya kangkung dan bayam yang ditanam di tepi jalan Kota Jakarta kandungan
timbalnya rata-rata 28,78 ppm, jauh di atas ambang batas 2 ppm yang diizinkan
Ditjen Pengawasan Obat dan makanan.
Yang mengejutkan adalah kadar timbal dalam ASI rata-rata (20-30 g/kg)
relative lebih tinggi dari susu sapi. ASI ibu-ibu yang berdomisili di daerah pinggiran
kota lebih tinggi kadar timbalnya (10-30 g/kg) dari ASI ibu-ibu yang berdomisili
di daerah (1-2 g/kg). jadi ASI ibu pedesaan lebih bersih terhadap cemaran timbal.
Telah diperkirakan bahwa jumlah rata-rata konsumsi timbal per orang yang masuk
melalui makanan saja lebih dari 300 mg per hari.
Kaleng kemasan dan alat-alat dapur juga dapat merupakan sumber
kontaminasi timbal, khususnya alat dapur yang terbuat dari kuningan/tembaga yang
dilapisi timah hitam dan timah putih. Kandungan timbal pada peralatan tersebut
banyak terlepas dan larut dalam sayur dan lauk pada saat pemasakan.

2. Keracunan timbal

Secara umum tertimbunnya timbal dalam tubuh akan bersifat racun


kumulatif, yang dapat mengakibatkan efek yang kontinyu. Terutama pada sistem
hematopoietic dan urat syaraf dan ginjal serta mempengaruhi perkembangan otak
anak balita. Pada wanita hamil muda, kadar timbal yang tinggi dapat menyebabkan
keguguran atau kelahiran premature. Pada kadar yang agak tinggi akan
menghambat perkembangan sistem syaraf dan otak janin (fetus) dalam kandungan.
Ion timbal ikut menyebar di setiap kalsium yang bergerak dalam sistem
syaraf, sehingga hal itu akan mempengaruhi biokimia dan perkembangan sel-sel
otak tanpa membunuh si jabang bayi itu sendiri. Karena air susu ibu sebagian besar
berasal dari darah, adanya timbal dalam darah merupakan ancaman tersendiri pada
bayi yang akan disusuinya.
Pada wanita usia setengah lanjut maupun yang telah lanjut usia, keracunan
timbal dapat mengakibatkan osteoporosis. Osteoporosis adalah penyakit rapuh
tulang yang mengakibatkan bengkoknya tulang punggung sehingga menjadi
bungkuk. Dr. Ellen Silbergerd (1989) menyatakan bahwa kadar timbal di dalam
darah wanita akan meningkat setelah menopause. Hal ini terjadi karena timbal yang
biasanya telah disimpan oleh tubuh di dalam tulang, hati dan ginjal; pada saat
memasuki menopause terjadi proses perubahan hormonal yang mengakibatkan
timbal yang telah dipindahkan ke tulang dan bagian tubuh lain beberapa tahun
sebelumnya ditarik kembali masuk ke dalam darah.
Kadar timbal yang cukup tinggi di dalam darah dapat menginaktifkan
vitamin D dan akibatnya akan mempengaruhi penggunaan ion kapur (kalsium) di
dalam tubuh, dimana adanya vitamin D dan kalsium diperlukan untuk memperkuat
struktur tulang. Semakin tinggi kadar timbal dalam tulang wanita semasa muda
akan mempertinggi peluang terjadinya osteoporosis ketika wanita tersebut
memasuki usia lanjut.
Perubahan hormonal dapat juga mempengaruhi kadar timbal dalam tenunan
tubuh wanita yang sedang mengandung atau menyusui. Timbal yang disimpan
dalam tulang sebelu wanita itu mengandung, apabila telah mengandung maka
timbal ditarik kembali ke dalam darah dan akhirnya masuk ke dalam janin (fetus)
melalui ari-ari (placenta).
Anak kecil dan bayi senang sekali pada benda yang manis. Cat mainan anak
yang mengandung timbal dan cadmium justru banyak yang manis rasanya, dengan
demikian anak-anak senang menggigitnya. Ditambah dengan konsumsi air,
makanan dan ASI yang tercemar timbal akan berakibat sangat serius pada anak,
yakni sangat membahayakan bagi kecerdasan si anak.
Keracunan timbal pada balita sangat membahayakan perkembangan
kecerdasannya. Hal ini disebabkan karena tahun pertama pada kehidupannya, otak
mengalami perkembangan yang sangat cepat. Pada saat perkembangan, otak sangat
peka terhadap keracunan timbal. Perlu diketahui bahwa pada anak usia 7 tahun,
lebih dari 95%pembentukan sel-sel otak telah selesai dan otak telah memiliki
ukuran yang sama dengan otak orang dewasa.
Sejak tahun 1972 JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah
mengeluarkan pedoman batas toleransi konsumsi timbal per minggu, yaitu
maksimum 50 g/kg beratbadan orang dewasa. Sedang untuk bayi dan anak
maksimum 25 g/kg berat badan. Codex Alimentarius Commision (FAO/WHO)
telah pula menentukan batas maksimum timbal pada sari buah dan nectar, yang
diolah memakai alat-alat logam, yaitu berturut-turut 0,3 dan 0,2 mg/kg. Sedangkan
oleh ISO (International Standart Organization) telah ditentukan batas maksimum
timbal yang boleh terlepas (bermigrasi) masuk kedalam makanan melalui alat-alat
dapur dan alat makan yang etrbuat dari keramik adalah 1,7 mg/dm2 untuk alat yang
datar dan 2,5 sampai 5,0 mg/L bagi wadah yang cekung.
Berbagai Negara secara aktif telah melarang produksi kaleng untuk
makanan yang sambungannya masih dipatri dengan timbal dan disarankan untuk
dilakukan dengan electric welding. Seperti diketahui bahwa makanan yang
disimpan dalam kaleng yang dipatri mengandung timbal cukup tinggi (50-100
g/kg), sedangkan kaleng yang dilas kandungan timbalnya hanya 10 g/kg.

3. Merkuri

Logam merkuri bila menguap akan mengumpul di udara. Di udara gas


merkuri akan turun ke bumi lewat air hujan dan kembali ke tanah dan perairan di
muka bmi ini dari danau, sungai hingga laut. Sebagin besar merkuri akan menempel
pada sediment dan diubah menjadi metal merkuri oleh bakteri Methanohacterium
omellanskii. Merkuri yang sudah berubah menjadi senyawa metil merkuri tetap
akan larut dalam air. Di perairan, metal merkuri masuk ke tubuh ikan lalu
terakumulasi pada pemangsa alaminya hingga meracuni manusia. Daya serap metil
merkuri di tubuh mencapai 95 persen.
Batas maksimum merkuri yang boleh dikomsumsi adalah 0,3 mg/orang per
minggu atau 0,005 mg/kg berat badan, dan dari jumlah tersebut tidak boleh lebih
dari 0,0033 mg/kg berat badan sebagai metil merkuri. Merkuri selain meracuni
ikan, juga bertanggung jawab terhadap keracunan bahan makanan. Pada gambar
dapat dilihat jalur keracunan merkuri pada manusia melalui makanan, baik secara
langsung maupun tidak langsung.

Gambar 7. Jalur keracunan merkuri pada manusia melalui makanan (Wilson et al,
1975).

F. Senyawa Beracun Sintetis


1. Sakarin
Sakarin adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat manis, kira-
kira 550 kali lebih manis dari pada gula biasa. Oleh karena itu ia sangat
populer dipakai sebagai bahan pengganti gula.
Tikus-tikus percobaan yang diberi makan 5% sakarin selama lebih dari 2
tahun, menunjukkan kanker mukosa kandung kemih (dosisnya kira-kira
setara 175 gram sakarin sehari untuk orang dewasa seumur hidup).
Sekalipun hasil penelitian ini masih kontroversial, namun kebanyakan
para epidemiolog dan peneliti berpendapat, sakarin memang
meningkatkan derajat kejadian kanker kandung kemih pada manusia kira-
kira 60% lebih tinggi pada para pemakai, khususnya pada kaum laki-laki.
Food and Drug Administation (FDA) Amerika menganjurkan untuk
membatasi penggunaan sakarin hanya bagi para penderita kencing manis
dan obesitas. Dosisnya agar tidak melampaui 1 gram setiap harinya

2. Siklamat
Siklamat adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan kira-kira 30 kali
lebih mains dari pada gula tebu (dengan kadar siklamat kira-kira 0,17%).
Bilamana kadar larutan dinaikkan sampai dengan 0,5%, maka akan terasa
getir dan pahit. Siklamat dengan kadar 200 mg per ml dalam medium
biakan sel leukosit dan monolayer manusia (in vitro) dapat
mengakibatkan kromosom sel-sel tersebut pecah. Tetapi hewan percobaan
yang diberi sikiamat dalam jangka lama tidak menunjukkan pertumbuhan
ganda. Di Inggris penggunaan siklamat

3. Nitrosamin
Sodium nitrit adalah bahan kristal yang tak berwama atau sedikit semu
kuning. Ia dapat berbentuk sebagai bubuk, butir-butir atau bongkahan dan
tidak berbau. Garam ini sangat digemari, antara lain untuk
mempertahankan warna asli daging serta memberikan aroma yang khas
seperti sosis, keju, kornet, dendeng, ham, dan lain-lain.
Untuk pembuatan keju dianjurkan supaya kandungan sodium nitrit tidak
melampaui 50 ppm, sedangkan untuk bahan pengawet daging dan
pemberi aroma yang khas bervariasi antara 150 500 ppm.
Sodium nitrit adalah precursor dari nitrosamines, dan nitrosammes sudah
dibuktikan bersifat karsinogenik pada berbagai jenis hewan percobaan.
Oleh karena itu, pemakaian sodium nitrit harus hati-hati dan tidak boleh
melampaui 500 ppm. Makanan bayi sama sekali dilarang mengandung
sodium nitrit.

4. Zat Pewarna Sintetis


Dari hasil pengamatan di pasar-pasar ditemukan 5 zat pewarna sintetis
yang paling banyak digemari di Indonesia adalah warna merah, kuning,
jingga, hijau dan coklat. Dua dari lima zat pewarna tersebut, yaitu merah
dan kuning adalah Rhodamine-B dan metanil yellow. Kedua zat pewarna
ini termasuk golongan zat pewarna industri untuk mewarnai kertas,
tekstil, cat, kulit dsb. dan bukan untuk makanan dan minuman. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian kedua zat warna tersebut
kepada tikus dan mencit mengakibatkan limfoma.
Selain itu, boraks, juga merupakan zat pewarna favorit yang sering
digunakan oleh produsen makanan

3.2 Analisa Aflatoksin pada pangan


Untuk mengidentifiksi Afltoksin dapat digunakan metode kromagrafi.
Metode ini antara lain kromatografi lapis tipis , kromatografi kolom, dan
HPLC. Analisis yang digunakan adalah kromatografi lapis tipis (KLT) .

A. Uji Kualitatif
Ekstrak diambil 2 ul dan 5 ul , sedangkan pada larutan standar aflatoksin
volume yang diambil divariasikan dari 0.2 1.4 ul, lalu di totolkan pada
lempeng silica gel berukuran 10 x 20 cm. setelah kering, lempeng silica
gel tersebut dimasukkan kedalam bejana pengembang yang berisi
larutan kloroform; aseton (9:1) . setelah larut bergerak sejauh 9.5 cm ,
lempeng silica gel diangkat dan keringkan. Setelah itu ditentukan nilai
R nya dengan melihat fluoresens nya dibawah sinar UV pada panjang
gelombang 366 nm

B. Uji Konfirmasi
Uji Konfirmasi dilakukan untuk menegaskan bahwa senyawa yang
berfluoresens biru dan hijau dibawah sinar UV adalah aflatoksin. Uji ini
dilakukan dengan menambahkan TFA pada ekstrak.
Ekstrak ditotolkan pada lempeng silica berukururan 10 X 20 cm ,
kemudian ditambah 1 tetes larutan TFA dan dikeringkan . lempeng silica
gel tersebut kemudian dimasukkan kedalam bejana pengembang yang
berisi kloroform;aseton (9:1) . setelah pelarut bergerak sejauh 9,5 cm .
lempeng silica gel diangkat , lalu di keringkan . lalu di tentukan nilai R
nya dan dibandingkan dengan niali R tanpa penambahan TFA.

C. Uji Semi Kuantitatif


Kadar aflatoksin dapat ditentukan secara semi kuantitatif dengan
metode kromatografi lapis tipis . yakni berdasarkan intensitas warna
contoh yang terjadi di bandingkan dengan intensitas warna dari standar
aflatoksin. Kadar aflatoksin dapat ditentukan secara semi kuantitatif
dengan metode kromatografi lapis tipis, dengan rumus sebagai berikut :
3.3 Analisa Logam Timbal Pada Pangan
A. Uji Kualitatif :
1. Pengujian I
Sampel 5,0 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, atur pH 8,5 dengan
penambahan NH4OH 1N, tambah beberapa kristal KCN, tambahkan 5,0ml
larutan ditizon 0,005% b/v, kocok selama 30 detik, warna hijau pada larutan
akan berubah menjadi merah.
2. Pengujian II Sampel 5,0 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
ditambah serbuk Na2CO3 akan terbentuk endapan putih.

B. Uji Kuantitatif
Membuat kurva kalibrasi. Dari larutan stok Pb 1000 ppm dibuat
larutan baku kerja dengan konsentrasi 0,03;0,05;0,1;0,5;1,0 dan1,5
ppm. Larutan contoh diukur dengan SSA pada 217 nm.

3.4 Analisa HCN


Analisis HCN dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu Metode Spektrofotometri
dan Metode Argentometri
Analisis HCN Metode SpektrofotometriPrinsip kerja metode ini adalah cianida
dalam contoh diubah menjadi cianogen chloride(CNCl) karena bereaksi dengan
chloramin T pada pH kurang dari 8 terhidrolisa menjadicianat. Setelah
bereaksi secara sempurna, CNClmembentuk warna merah biru dengan
asam barbiturat dalam piridin dan warna yang terjadidibaca pada panjang
gelombang 578 nanometer.2. Analisis HCN Metode ArgentometriArgentometri
adalah suatu proses titrimetridengan menggunakan larutan standar
sekunder perak nitrat. Sebelum digunakan sebagai titran,larutan ini harus
dibakukan dulu dengan larutanstandar primer. Selain itu juga diperlukan
suatuindikator untuk melihat parubahan pada titikakhir titrasi
Pertama sampel ditumbuk halus dimasukkan25 gram ke dalam erlenmeyer,
kemudianditambahkan asam tartrat 5 % sebanyak 10 ml,lalu celupkan kertas saring ke dalam
larutanasam pikrat jenuh, dan keringkan di udara (angi-angunkan), Setelah itu kertas saring
menjadikering dibasahi dengan larutan Na2CO38%, lalu gantung kan kertas saring tersebut
pada leher erlenmeyer yang berisi larutan sampel, Dan erlenmeyer ditutup sedemikian rupa
sehinggakertas saring tidak bersinggungan dengan
larutan. Kemudian dipanaskan erlenmeyer yang berisi campuran diatas penangas air
50oC selama15 menit dan amati perubahan pada kertas
saring jika warna pikrat menjadi merah, berarti dalam bahan terdapat asam sianida

3.5 Analisa Sakarin

sampel diasamkan dengan HCl kemudian diekstrak dengan eter dan


diuapkan. Residu yang mengandung sakarin diuji secara organoleptic
uji kualitatif
positif mengandung pemanis sintetis berupa siklamat ditandai dengan
terbentuknya endapan putih pada ujung gelas piala. Prinsip identifikasi
adanya siklamat dalam sampel yaitu dengan cara pengendapan.
Pengendapan dilakukan dengan cara menambahkan Barium klorida dalam
suasana asam kemudian ditambah Natrium nitrit sehingga akan terbentuk
endapan Barium sulfat. Penambahan HCl 10% dalam sampel berfungsi
untuk mengasamkan larutan. Larutan dibuat dalam keadaan asam agar
reaksi yang akan terjadi dapat lebih mudah beraksi. Penambahan BaCl2
berfungsi untuk mengendapkan pengotor-pengotor yang ada dalam
larutan, seperti adanya ion karbonat. Penambahan NaNO2 berfungsi untuk
memutuskan ikatan sulfat dalam siklamat.

Uji Kuantitatif

Menambahkan sampel 5 gr dalam larutan BaCl2, kemudian ditambahkan larutan


NaNO2 yang berfungsi untuk memutuskan ikatan sulfat dalam siklamat, setelah
ikatan sulfat dalam siklamat terpisah maka sirup tersebut disaring dengan
menggunakan kertas whatman sehingga siklamat yang ada di dalam sirup tersebut
tersimpan dalam kertas whatman, kemudian dikeringkan lalu ditimbang, dengan
demikian kadar siklamat dalam minuman jajanan anak sekolah dapat diketahui
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Golongan Bahan Beracun pada pangan yaitu berasal dari alamiah,
Mikroba , Mitoksin, Residu Peptisida & Insektisida, Cemaran Logam
Berat, Residu Pangan Hewan, Residu Monomer Kemasan Platik
4.2 Analisa Aflatoksin, untuk mengidentifikasi Afltoksin dapat digunakan
metode kromagrafi. Metode ini antara lain kromatografi lapis tipis ,
kromatografi kolom, dan HPLC. Analisis yang digunakan adalah
kromatografi lapis tipis (KLT) .
4.3 Analisa Timbal Pada Pangan, hasil uji kualitatif : (1). menggunakan
pereaksi KCN + ditizon 0,005%. (2) menggunakan pereaksi serbuk
Na2CO3. Kuantitatif dengan menggunakan SSA.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/31884/G99tar.p
df?sequence=1&isAllowed=y (diakses 08 Desember 2017)
2. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=275714&val=741
&title=ANALISIS%20LOGAM%20TIMBAL%20(Pb)%20PADA%20
IKAN%20PETEK%20(Leiognathus%20sp.)%20DAN%20IKAN%20
TERI%20(Stelophorus%20sp.)%20DI%20KAWASAN%20LAUT%2
0TELUK%20PALU%20SECARA%20SPEKTROFOTOMETRI%20S
ERAPAN%20ATOM (diakses 09 Desember 2017)
3. https://www.academia.edu/8834123/SENYAWA_BERACUN_DALA
M_BAHAN_BAHAN_PANGAN (diakses 09 Desember 2017)
4. lms2.unhas.ac.id/cl1/claroline/.../user_work.php?. (Diakses 09
Desember 2017)
5. http://e-journal.uajy.ac.id/1589/3/2EP12752.pdf (Diakses 09 Desember
2017)
6. https://www.academia.edu/26064716/PENGUJIAN_ASAM_SIANID
A_SECARA_KUALITATIF (Diakses 10 Desember 2017)
7. ojs.uho.ac.id/index.php/jstp/article/download/1038/680 (Diakses 10
Desember 2017)