Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH FILSAFAT ILMU

BEBAS NILAI DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN PERSOALAN KITA

Dosen Pembimbing: Dr. Yuni Ahda, M.Si.

Disusun oleh:

Kelompok 7

1. Jenny Ambiani (15177023)


2. Holyza Handika (16177014)
3. Nofriani (16177026)
4. Rima Sylvia (16177033)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan dan Persoalan Kita.
Penulis berharap agar semua orang dapat memperoleh berbagai informasi
yang berguna untuk pembaca dari karya tulis ini. Namun, walaupun demikian
penulis juga percaya bahwa tidak ada gading yang tak retak, untuk itu kritikan dan
saran maupun sumbangsih pikiran yang sifatnya constructive dari pembaca akan
penulis terima dengan senang hati. Demi kesempurnaan makalah ini dan untuk
perbaikan makalah yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan, bantuan dan
bimbingan yang telah diberikan oleh Ibu Dr. Yuni Ahda, M.Si. selaku dosen
pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu serta rekan-rekan yang berpartisipasi dalam
penyusunan makalah ini.

Padang, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang................................................................................................1

B. Rumusan Masalah ...........................................................................................2

C. Tujuan Penulisan ............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Bebas Nilai ..................................................................................3

B. Dua Kecenderungan Dasar dalam Ilmu Pengetahuan ....................................5

C. Paradigma Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan ...........................................6

D. Kegiatan Nilai dan Pergeseran Ilmu ke Arah Praksis ....................................9

E. Ilmu Pengetahuan sebagai Tujuan dan Alat .................................................10

F. Bebas Nilai dan Objektifitas Ilmu .................................................................12

G. Masalah/Persoalan dalam Bebas Nilai .........................................................13

H. Tinjauan Teoritis Masalah Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan ............15

I. Jalan Keluar Mengatasi Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan .....................17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................................................21

B. Saran .............................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.
Namun akibat perkembangan dan tuntutan zaman, obyektifitas terhadap ilmu
pengetahuan menjadi problematika dalam kebutuhan zaman sekarang ini,
dikarenakan penggunaan ilmu pengetahuan dalam kehidupan akan berdampak
besar terhadap hasil dari suatu proses aplikasi ilmu.
Aturanaturan sosial juga ingin berperan dalam ilmu pengetahuan.
Sehingga sangat mempengaruhi dalam proses penggunaan ilmu pengetahuan ke
dalam kehidupan. Proses perolehan ilmu pengetahuan dari dahulu sampai sekarang
dilakukan tanpa nilai etika. Masalah etika yang dilanggar para Ilmuwan banyak
mengorbankan nyawa makhluk hidup lain, bahkan nyawa manusia, semata-mata
untuk mendapatkan nilai kebenaran. Sebagai contohnya dalam masalah medis,
kelinci, katak, monyet, dan sebagainya adalah hewan yang paling banyak
dikorbankan. Untuk masalah teknologi manusialah yang menanggung akibatnya,
misalnya uji senjata nuklir dan sebagainya. Tetapi yang paling menggelitik adalah
nyawa makhluk lain selain manusia yang tak berdaya mempertahankan hidupnya
oleh berbagai percobaan ilmu pengetahuan.
Topik yang hingga saat ini masih diperdebatkan dalam ranah filsafat ilmu
adalah apakah ilmu itu bebas nilai (value-free) alias netral, atau sebaliknya ilmu itu
sarat akan nilai (value-laden). Tidak sedikit respon yang bermunculan dalam
menanggapi hal ini dengan argument yang beragam.
Topik di atas tampaknya tidak sederhana karena setiap jawaban punya
implikasi, tidak hanya dalam ranah filsafat ilmu saja. Banyak sekali aspek
kehidupan manusia yang diatur secara langsung oleh ilmu. Jadi, paham bahwa ilmu
itu value-free atau ilmu itu value-laden, akan mempengaruhi kehidupan manusia
secara langsung.

1
2

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan menjadi
beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, supaya lebih memperjelas
dan lebih memudahkan dalam penyampaian isi dari makalah ini. Beberapa masalah
tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari bebas nilai?
2. Bagaimana kecenderungan dasar dalam ilmu pengetahuan?
3. Bagaimana paradigma bebas nilai dalam ilmu pengetahuan?
4. Bagaimana kegiatan nilai dan pergeseran ilmu ke arah praksis?
5. Bagaimana ilmu pengetahuan sebagai tujuan atau alat?
6. Bagaimana bebas nilai dan objektifitas ilmu?
7. Bagaimana masalah/persoalan bebas nilai dalam ilmu pengetahuan?
8. Bagaimana tinjauan teoritis masalah bebas nilai dalam ilmu pengetahuan?
9. Bagaimana jalan keluar mengatasi pandangan bebas nilai dalam ilmu
pengetahuan?
C. Tujuan Penulisan
Penulis memiliki tujuan dalam penyusunan makalah ini. Tujuan dari
penulisan makalah ini antara lain:
1. Mendeskripsikan pengertian dari bebas nilai.
2. Mendeskripsikan dua kecenderungan dasar dalam ilmu pengetahuan.
3. Mendeskripsikan paradigma bebas nilai dalam ilmu pengetahuan.
4. Mendeskripsikan kegiatan nilai dan pergeseran ilmu ke arah praksis.
5. Mendeskripsikan ilmu pengetahuan sebagai tujuan atau alat.
6. Mendeskripsikan bebas nilai dan objektifitas ilmu.
7. Mendeskripsikan masalah/persoalan bebas nilai dalam ilmu pengetahuan.
8. Mendeskripsikan tinjauan teoritis masalah bebas nilai dalam ilmu pengetahuan.
9. Mendeskripsikan jalan keluar mengatasi pandangan bebas nilai dalam ilmu
pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bebas Nilai


Bebas nilai dalam bahasa inggris disebut dengan value free, bahwa ilmu dan
juga teknologi bersifat otonom untuk dikembangkan dengan tidak memperhatikan
nilai-nilai atau tujuan lain di luar ilmu pengetahuan (Situmorang, 1996). Ilmu secara
otonom tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Pembatasan-
pembatasan etis hanya akan menghalangi eksplorasi pengembangan ilmu. Bebas
nilai berarti semua kegiatan yang terkait dengan penyelidikan ilmiah harus
disandarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Tuntutan dasarnya adalah agar ilmu
pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan, tidak boleh
dikembangkan dengan didasarkan pada pertimbangan lain di luar ilmu
pengetahaun.
Kriteria yang menentukan apakah sebuah kajian itu ilmiah atau tidak
ditentukan oleh bagaimana kemampuan seorang peneliti dalam memaparkan
informasi secara obyektif. Tuntutan dalam prinsip bebas nilai adalah kegiatan
ilmiah yang didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri (Situmorang,
1996). Artinya, tidak ada campur tangan eksternal di luar struktur obyektif sebuah
pengetahuan. Obyektivitas hanya bisa diraih dengan mengandaikan ilmu
pengetahuan yang bebas nilai (value-neutral).
Bebas nilai sesungguhnya adalah tuntutan yang ditujukan kepada ilmu
pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan
nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Tuntutan dasarnya adalah agar ilmu
pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan, dan karena itu ilmu
pengetahuan tidak boleh dikembangkan dengan didasarkan pada pertimbangan lain
di luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan hanya semata-
mata berdasarkan pertimbangan ilmiah murni.
Maksud dasar dari tuntutan ini adalah agar ilmu pengetahuan tidak tunduk
kepada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan sehingga malah mengalami
distorsi. Asumsinya, selama ilmu pengetahuan dalam seluruh prosesnya tunduk
kepada pertimbangan lain di luar ilmu pengtahuan, baik itu pertimbangan politik,

3
4

religius, maupun moral, maka ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang secara
otonom. Itu berarti, ilmu pengetahuan tunduk kepada otoritas lain di luar ilmu
pengetahuan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan kalah terhadap pertimbangan lain
dan dengan demikian ilmu pengetahuan menjadi tidak murni sama sekali.
Satu catatan penting yang perlu dikemukakan sebelum kita melangkah lebih
jauh adalah bahwa sesungguhnya tuntutan bebas nilai itu sendiri tidak mutlak
karena tuntutan agar ilmu pengetahuan bebas dari nilai tertentu, hanya berlaku bagi
nilai lain di luar nilai yang menjadi taruhan utama ilmu pengetahuan. Yang berarti,
sesungguhnya ilmu pengetahuan pada dirinya sendiri peduli terhadap nilai tertentu,
yakni nilai kebenaran dan dalam kaitan dengan itu nilai kejujuran. Oleh karena itu,
yang dimaksud dengan tuntutan agar ilmu pengatahuan bebas nilai di sini hanya
dimaksudkan bahwa ilmu pengetahuan bebas dari nilai lain di luar nilai-nilai yang
diperjuangkan ilmu pengetahuan karena ilmu pengatahuan sendiri harus tetap
peduli akan nilai kebenaran dan kejujuran.
Dengan demikian, yang mau diwujudkan dengan tuntutan bebas nilai adalah
tuntutan agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi kebenaran saja, dan
tidak perlu tunduk kepada nilai dan pertimbangan lain di luar ilmu pengtahuan.
Latar belakangnya adalah kekhawatiran bahwa kalau ilmu pengetahuan tidak bebas
dari nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan, kebenaran sangat mungkin
dikorbankan demi nilai lain tadi. Kalau ilmu pengetahuan harus tunduk kepada
kekuasaan pemerintah, hanya demi menjaga keutuhan masyarakat misalnya, ada
bahaya bahwa kita terpaksa berbohong demi menjaga keutuhan masyarakat.
Demikian pula, kalau ilmu pengetahuan harus tunduk kepada nilai-nilai religius dan
moral, ada bahaya yang sangat besar bahwa kebenaran dikalahkan demi menjaga
keluhuran nilai religius dan moral itu. Akibatnya, kita tidak pernah sampai pada
kebenaran ilmiah yang objektif dan rasional. Ilmu pengetahuan kemudian berubah
menjadi ideologi yang hanya berfungsi untuk melayani kepentingan pihak tertenu
dan demi itu rela mengorbankan kebenaran. Itu berarti ilmu pengetahuan berhenti
menjadi dirinya sendiri.
5

B. Dua Kecenderungan Dasar dalam Ilmu Pengetahuan


1. Kecenderungan Puritan-Elitis
Puritan-elite beranggapan bahwa tujuan akhir dari ilmu pengetahuan adalah
demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Bagi kaum puritan-elite kebenaran ilmiah hanya
dipertahankan demi kebenaran murni begitu saja. Penjelasan atau kebenaran ilmiah
ini terutama hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia saja. Maka, ilmu
pengetahuan bagi mereka dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan.
Kepuasan seorang ilmuan di sini terutama terletak dalam menemukan teori-
teori besar yang mampu menjelaskan segala persoalan, teka-teki, dan gejala alam
ini, terlepas dari apakah ilmu pengetahuan itu berguna atau tidak bagi kehidupan
praktis manusia. Bagi kaum puritan-elite, ilmu pengetahuan memang hanya
bertujuan untuk mencapai penjelasan dan pemahaman tentang masalah-masalah
dalam alam ini. Mereka tidak mempersoalkan aplikasinya bagi kehidupan kongkret.
Konsekuaensinya, ilmu pengetahuan menjadi bidang yang sangat elitis.
Ilmu pengetahuan hanya dicapai dan digeluti oleh sedikit orang saja. Tidak semua
orang dapat mencapainya. Ilmu pengetahuan lalu menjadi sesuatu yang mewah,
jauh dari kehidupan yang real manusia.
Berdasarkan uraian di atas, kecenderungan kaum puritan-elitis adalah
bahwa ilmu pengetahuan harus lepas dari segala pertimbangan lain di luar ilmu
pengetahuan, termasuk pertimbangan nilai guna dari ilmu pengetahuan. Kebenaran
harus ditegakkan apapun kensekuensi dan kegunaan praktis ilmu pengetahuan.
Bagi kecenderungan kaum puritan-elite, ilmu pengetahuan mempunyai
otonomi yang mutlak. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan demi ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak boleh kalah dan pada mengalah terhadap
pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Supaya ilmu pengetahuan bisa sampai
pada kebenaran obyektif, ilmu pengetahuan harus dibebaskan darisegala macam
nilaidan pertimbangan lain diluar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus
dibebaskan dari tujuan kemanusiaan, kebahagiaan, dan keselamatan bagi manusia
karen selama ilmu pengetahuan dikembangkan demi membantu manusia, demi
memecahkan berbagai persoalan hidup manusia, kebenaran bisa dikalahkan oleh
pertimbangan lain tersebut.
6

2. Kecenderungan Pragmatis
Kecenderungan pragmatis beranggapan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya
bertujuan untuk menemukan kebenaran sampai disitu saja, tetapi yang penting bahwa
ilmu pengetahuan itu pada akhirnya berguna bagi kehidupan manusia yaitu untuk
memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Karena
kecenderungan pragmatis yang kuat, diliputi oleh nilai; ilmu pengetahuan mau tidak
mau harus peduli atas harkat, martabat, keselamatan manusia.

C. Paradigma Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan


Madzhab positivistime, sebagai salah satu aliran filsafat, telah berkembang
dalam alur sejarahnya sendiri. Madzhab pemikiran ini berkembang sebagai bagian
dari upaya untuk menemukan dan membangun pengetahuan yang benar, dengan
cara memurnikan ilmu pengetahuan, yang dilakukan melalui proses kontemplasi
bebas-kepentingan (sikap teoritis murni).
Akar sejarah perkembangan madzhab positivisme dapat diruntut dari mulai
munculnnya pemikiran filosofis dalam masyarakat Yunani yang bermaksud
melakukan demitologisasi pemikiran-pemikiran mistis. Sebelum munculnya
pemikiran filosofis ini, kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan yang benar telah
ada dalam tradisi pemikiran Yunani purba.
Pada masa itu upaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar, dilakukan
dengan mempertautkan antara teori dan praxis hidup manusia sehari-hari, yang
senantiasa mengacu pada cita-cita etis, seperti: kebaikan, kebijaksanaan atau
kehidupan sejati, baik secara individual maupun secara kolektif, di dalam polis
(negara kota). Melalui teori, manusia memperoleh suatu orientasi untuk bertindak
secara tepat, sehingga praxis hidupnya dapat merealisasikan kebaikan,
kebahagiaan, dan kemerdekaan. Dengan kata lain, dalam tradisi pemikiran Yunani
purba, pengetahuan tidak dipisahkan dari kehidupan konkret. Pemahaman
mengenai pengetahuan semacam itu tertuang secara padat dalam istilah bios
theoretikos (Hardiman, 2009).
Bios theoretikos merupakan suatu bentuk kehidupan, suatu jalan untuk
mengolah dan mendidik jiwa, dengan membebaskan manusia dari perbudakan dan
7

doxa dan dengan jalan itu manusia mencapai otonomi dan kebijaksanaan hidup
(Chariri, 2012).
Dalam filsafat modern pada jalur pertama tampil aliran rasionalisme, yang
dirintis oleh Ren Descartes, dan kemudian diikuti oleh Malebrache, Spinoza,
Leibniz, dan Wolf. Para pendukung aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan
sejati dapat diperoleh dalam rasio sendiri dan bersifat a-priori, yang teraplikasi
dalam bentuk pernyataan logis dan matematis. Pengetahuan murni semacam ini
disebut pengetahuan trensedental, karena mengatasi pengamatan empiris yang
bersifat khusus dan berubah-ubah. Pengetahuan manusia bersifat universal dan
trans-historis.
Pada jalur lain tampil aliran empirisme yang didukung oleh para pemikir
seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume. Mereka beranggapan bahwa
pengetahuan sejati dapat diperoleh hanya melalui pengamatan empiris dan
karenanya bersifat a-posteriori. Teori ilmiah semacam ini dapat diperoleh melalui
evidensi pengamatan indrawi. Meskipun kedua aliran tersebut menawarkan cara
berbeda untuk memperoleh pengetahuan murni, akan tetapi keduanya sama-sama
berkeyakinan bahwa teori murni hanya mungkin diperoleh dengan jalan
membersihkan pengetahuan dari dorongan dan kepentingan manusia (Ibid, 2012).
Upaya-upaya untuk melakukan pemisahan antara teori dengan praxis
tersebut semakin mendapatkan bentuknya ketika Francis Bacon berupaya
meninggalkan ilmu pengetahuan lama dan mengusahakan ilmu yang baru. Menurut
Bacon, hakikat pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima
orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Persentuhan ini biasanya
disebut pengalaman.
Bacon berpendapat bahwa pengalaman dari hasil pengamatan yang
bersifat partikular akan menemukan pengetahuan yang benar, dan oleh karena itu
ia yakin bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan sejati. Berdasarkan
pemikirannya tersebut, Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern.
Menurutnya, metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada
pemeriksaan yang teliti dan telaten mengenai data-data partikular, yang pada tahap
8

selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam


(interpretatio natura).
Puncak pembersihan pengetahuan dari kepentingan terjadi dengan
lahirnya madzhab positivisme yang dirintis oleh Auguste Compt. Filsafat Compte
adalah filsafat anti-metafisis. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara
positif-ilmiah. Bila dalam empirisme dan rasionalisme pengetahuan masih
direfleksikan, dalam positivistisme pengetahuan diganti metodologi, dan satu-
satunya metodologi yang berkembang secara meyakinkan sejak renaissance, dan
subur pada masa Aufklrung adalah metode ilmu-ilmu alam. Oleh karena itu,
positivisme menempatkan metodologi ilmu-ilmu alam pada ruang yang dulunya
menjadi refleksi epistemologi, yaitu pengetahuan manusia tentang kenyataan.
Manusia bebas ala Renaissance adalah manusia yang tidak mau lagi
terikat oleh ototitas yang manapun (tradisi, sistem gereja, dan lain sebagainya),
kecuali otoritas yang ada pada masing-masing diri pribadi. Manusia bebas ala
Renaissance itu kemudian didewasakan oleh zaman Aufklarung, yang ternyata
telah melahirkan sikap mental menusia yang percaya akan kemampuan diri sendiri
atas dasar rasionalitas, dan sangat optimis untuk dapat menguasai masa depannya,
sehingga manusia (Barat) menjadi kreatif dan inovatif. Ada daya dorong yang
mempengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi yaitu pandangan untuk
menguasai alam. Tiada hari tanpa hasil kreasi dan inovasi.
Semenjak itulah dunia Barat telah melakukan tinggal landas mengarungi
angkasa ilmu pengetahuan yang tiada bertepi untuk menaklukkan dan menguasai
alam demi kepentingan kesejahteraan hidupnya. Hasilnya adalah teknologi supra-
modern yang mereka miliki, sebagaimana dapat dilihat sekarang ini (Wibisono,
1992).
Watak sains modern adalah netral, yaitu tidak berprasangka, tidak
memberikan penilaian baik atau buruk, dan bebas dari kepentingan-kepentingan
manusiawi. Watak-watak objektivistis semacam ini, secara meyakinkan melekat
pada ilmu-ilmu alam, dan secara tegas dibedakan dengan etika, yang justru berciri
preskriptif, personal dan menilai tindakan. Dengan watak-watak macam ini, sains
merupakan pembawa nilai-nilai modern yang paling mendasar dikalangan
9

komunitas ilmiah, seperti sikap toleran, tak memihak, rasional dan demokratis,
karena penelitian ilmiah bagaimanapun meyakini adanya kebenaran objektif yang
tidak tergantung pada perspektif, dan autoritas subjektif. Asumsi inilah yang
kemudian oleh Tom Sorrel disebut saintisme, atau menjelma menjadi ideologi
sebagaimana dikemukan oleh Herbert Marcuse (Wartaya, 1987).
Berubahnya positivisme menjadi saintisme, berawal bergesernya
pendulum epistemologi, dari subjek (yang dipergunakan oleh Ren Descrates
sebagai tokoh aliran rasionalisme, menjadi objek. Kondisi ini tidak hanya
mereduksi manusia ke matra objektifnya, tetapi karena terjadi fragmentasi ilmu-
ilmu terjadi juga fragmentasi kenyataan, yang pada gilirannya menyebabkan
fragmentasi pandangan tentang manusia (Hardiman, 2003).
Menurut Herbert Marcuse teknologi dan ilmu pengetahuan bukan lagi
dipandang sebagai salah satu teori tentang pengetahuan, akan tetapi telah berubah
menjadi cara berfikir masyarakat (yaitu cara berpikir yang positif), Ilmu
pengetahuan dan teknologi telah menjadi ideologi, karena telah menjelma menjadi
sistem total yang melegitimasi masyarakat dan keadaannya. Ilmu ditempatkan
sebagai satu-satunya penafsir realitas dan kebenaran, dan menjadi sistem
pandangan dunia yang menyeluruh.

D. Kegiatan Nilai dan Pergeseran Ilmu ke Arah Praksis


Dalam kaitan dengan otonomi ilmu pengetahuan, masih ada hal lain yang
perlu kita perhatikan. Otonomi ilmu pengetahuan tentu tidak bisa dan tidak boleh
berarti penelitian ilmiah tidak perlu menghiraukan nilai luar ilmiah apa pun. Pada
situasi konflik perlu diperhatikan bahwa konflik sebenarnya tidak berlangsung
antara nilainilai etis di suatu pihak dan nilainilai ilmiah di lain
pihak. Dikarenakan kewajiban etis bersifat absolut. Ilmu pengetahuan tidak pernah
bebas nilai, dikarenakan ia sendiri memperhatikan suatu nilai etis, bertambah
relevansi etisnya karena semakin erat kaitannya dengan praksis.
1. Pergeseran ke Arah Praksis
Dalam konteks historis kita lihat terjadinya pergeseran: dari ilmu
pengetahuan sebagai theoria, demi pengetahuan, menuju ilmu pengetahuan sebagai
10

praksis, demi kegunaan bagi kehidupan. Pergeseran historis ke arah praksis


menyangkut sesuatu yang khusus, yaitu bahwa ilmu pengetahuan menjadi berguna
bagi semua aspek sehari-hari.
2. Tujuan-Tujuan Praksis
Ditinjau dari segi historis, ada dua faktor yang sangat memperluas tujuan-
tujuan natural ini. Faktor pertama, ilmu pengetahuan bisa berguna untuk praksis
dan menambah kemungkinan-kemungkinannya dengan cara tak terduga. Faktor
lain adalah tradisi Yahudi-Kristiani yang minta perhatian untuk sesama yang
menderita, untuk manusia yang tidak berdaya dan juga tidak berhak atas bantuan ,
karena tidak sanggup menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat yang dapat
menjadi dasar bagi haknya.
Pertautan theoria dan praksis yang begitu khas bagi perkembangan ilmu
pengetahuan, mendapat juga juga suatu makna khusus. Pertautan itu dapat dikaitkan
dengan kesatuan awal yang menurut filsafat Yunani terdapat antara theoria
sebagai pengenalan dan etika sebagai praxis. Seluruh ilmu pengetahuan yang telah
berkembang dari filsafat Yunani tertuju pada praxis yang berorientasi etis:
membantu manusia yang menderita untuk hidup pantas.

E. Ilmu Pengetahuan sebagai Tujuan atau Alat


Ilmu pengetahuan bukan saja sarana tapi juga tujuan. Fungsinya sebagai
tujuan harus dapat dilihat, setidak-tidaknya sedikit. Sebab, kegiatan ilmiah
merupakan suatu unsur penting dari perkembangan manusia seutuhnya dan karena
itu harus sudah dihayati sekarang juga, walaupun fungsinya sebagai sarana paling
menyolok.
Kesimpulan penting untuk menentukan prioritas-prioritas sekarang dengan
cara praktis dan efektif, dapat diajukan dua argument:
1. Manusia tidak pernah dapat dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
2. Menjadi tugas generasi sekarang bukan hanya memajukan ilmu pengetahuan,
tapi juga memajukan dengan visi yang tepat. Sehingga manusia tidak menjadi
budak teknologi dan budak tata susunan teknologis yang diciptakannya.
11

Lahirnya dan berkembangnya ilmu pengetauhan telah banyak membawa


perubahan dalam kehidupan manusia, terlebih lagi dengan makin intensnya
penerapan ilmu dalam bentuk teknologi yang telah menjadi manusia lebih mampu
memahami berbagai gejala serta mengatur kehidupan secara lebih efektif dan
efesien.hal itu berarti bahwa ilmu mempunyai dampak besar bagi kehidupan
manusia, dan ini tidak terlepas dari tujuan ilmu.
Tujuan dari ilmu itu sendiri adalah untuk memahami, memprediksi, dan
mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, disamping untuk menemukan atau
memformulasikan teori, dan teori ini sendiri pada dasarnya merupakan suatu
penjelasan tentang sesuatu sehingga dapat di peroleh kefahaman, dan teori tersebut
telah teruji kebenarannya. Tujuan ilmu pengetahuan antara lain adalah:
1. Secara Praktis
Ilmu pengetahuan merupakan suatu aktifitas kognitif yang harus mematuhi
berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat
erat dengan logika. Dengan demikian, prosedur yang tergolong metode logis
termasuk dalam pula ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduktif,
abstraksi, penalaran analogis, dan analisis analogis.
2. Secara Teoritis.
Pada dasarnya ilmu adalah sebuah proses yang bersifat rasional dan
kognitif, juga bercorak teleologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para
ilmuan dalam melakukan aktifitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin
dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuan.
Dengan demikian ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan. Tujuan ilmu itu
dapat bermacam-macam sesuai apa yang diharapkan masing-masing ilmuan.
Demikianlah, ternyata bahwa ilmu mengarah pada berbagai tujuan. Tujuan
yang ingin dicapai atau yang dilaksanakan yaitu Pengetahuan, Kebenaran,
Pemahaman, Penjelasan, Pengendalian, Penerapan.
Dengan demikian, ilmu tidak mengarah pada tujuan tunggal yang terbatas
melainkan pada macam-macam tujuan yang tampaknya dapat berkembang terus
sejalan dengan pemikiran para ilmuan. Ilmu tidak memiliki satu tujuan melainkan
banyak dan pertumbuhannya telah melampaui banyak tahap-tahap yang
12

bertentangan. Seperti halnya semua aktivitas kritis, ilmu tidak mempunyai satu
melainkan sejumlah tujuan yang bertalian, ini harus berusaha memenuhi semua
sejauh mungkin dalam keserasian, dan ilmu berhak menentukan tujuan-tujuan baru.

F. Bebas Nilai dan Obyektifitas Ilmu


Salah satu kesulitan yang dihadapi ilmuilmu manusia ialah cara khusus
manusia terlibat dalam ilmuilmu itu, sebagai subyek maupun obyek. Ia terlibat
sebagai subyek tentu karena dialah yang mempraktekkan ilmu pengetahuan alam.
Tapi ia terlibat sebagai obyek, hanya sejauh ia sebagai makhluk alam bisa menjadi
pokok pembicaraan ilmu alam. Sebab, sebagai makhluk alam ia dikuasai oleh
hukumhukum fisik, kimiawi, dan biologis. Tetapi kegiatan yang dilakukan ilmu
alam tidak merupakan obyek penelitian ilmu alam. Karena ilmu alam merupakan
suatu aktivitas manusiawi yang khas.
Praktek ilmiah merupakan suatu kegiatan psikis (termasuk obyek
Psikologi). Praktek ilmiah merupakan kegiatan sosial (termasuk obyek sosiologi).
Praktek ilmiah merupakan suatu kegiatan historis (obyek penelitian ilmu sejarah).
Di kawasan ilmu pengetahuan kemanusiaan terdapat berbagai aliran : (1)
aliran yang ingin bekerja seobyektif mungkin, dalam arti meregistrasi tingkah
laku manusia dari luar, supaya ditemukan keajekan-keajekan tertentu. (2) Aliran
yang melalui metode merasakan berusaha mengerti sebaik mungkin manusia
yang bertindak. Demi menjamin obyektivitas adalah dengan mempraktekkan kedua
metode sekaligus, yaitu metode Versteben (mengerti) dan metode Erklaren
(menjelaskan).
Ilmu ekonomi mengisyaratkan tujuan-tujuan mana dapat dicapai dan tujuan-
tujuan mana tidak, dan sarana-sarana mana harus dipakai untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Ilmu alam dan teknologi memperlihatkan hal-hal teknis yang
mungkin dilaksanakan, tapi tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan apakah hal-hal
itu juga seharusnya dilaksanakan.
13

Obyektivitas Ilmu
Ilmu diharapkan agar objektif. Objektif artinya sesuai dengan kebenaran
realitas. Objek berada diluar dari pengamat, ada diluar sana. Itu artinya apapun
kondisi yang mempengaruhi pengamat maka suatu realitas diluar sana tidak
berubah. Pengetahuan yang objektif artinya sesuai dengan objek yang ada diluar
sana. Dengan kata lain pengetahuan yang objektif masyarakat suatu pengetahuan
yang tidak terpengaruh oleh kondisi subjek pengamat.
Objektifitas atau objektif dalam keilmuan berarti upaya-upaya untuk
menangkap sifat alamiah (mengidentifikasi) sebuah objek yang sedang diteliti/
dipelajari dengan suatu cara dimana hasilnya tidak tergantung pada fasilitas apapun
dari subjek yang menyelidikinya. Keobjektifan pada dasarnya, tidak berpihak,
dimana sesuatu secara ideal dapat diterima oleh semua pihak, karena pernyataan
yang diberikan terhadapnya bukan merupakan hasil dari asumsi (kira-kira),
prasangka, ataupun nilai-nilai yang dianut oleh subjek tertentu (Ghazali, 2005).

G. Masalah/Persoalan dalam Bebas Nilai


Akhir-akhir ini banyak dijumpai pasangan suami isteri yang sudah puluhan
tahun menikah, tetapi belum dikaruniai keturunan datang kepada dokter ahli
kandungan (spesialis reproduksi, obstetri, dan ginekologi). Tentunya pasangan
suami isteri itu datang dengan membawa impian, setelah keluar dari ruang dokter
spesialis kandungan mereka memperoleh alternatif solusi yang membantu mereka
agar segera bisa menimang momongan. Alternatif solusi tersebut adalah bayi
tabung.
Penemuan metode bayi tabung sebagai solusi bagi para pasangan suami
isteri yang menginginkan keturunan di luar cara reproduksi alamiah tersebut
memang cukup diterima oleh masyarakat. Para pasangan yang tadinya sulit
memperoleh momongan karena kelainan yang terjadi dalam organ reproduksi
mereka atau disebabkan faktor usia serta berbagai faktor lainnya, kini bisa
memperoleh keturunan melalui proses bayi tabung. Penemuan dalam bidang
reproduksi itu pun kemudian disusul dengan penemuan lain yang lebih spektakuler
lagi, yakni kloning (reproductive cloning). Dengan reproductive cloning,
14

dimungkinkan adanya proses duplikasi manusia, bahkan dengan disertai motivasi


untuk mendapatkan kualitas individu yang sempurna. Namun, untuk penemuan
yang terakhir itu, masih tersisa kontroversi yang menyertainya.
Dalam sebuah kuliah umum yang berbicara tentang perkembangan teknik
reproduksi buatan yang ditinjau dari kaca mata etika dan hukum, disampaikan
sebuah ilustrasi yang menggambarkan fenomena futuristik yang mungkin terjadi 1
abad, 50 tahun, atau mungkin bahkan hanya dalam waktu 10 tahun yang akan
datang. Nantinya telah dibuka mall genetics sebagai bentuk perseroan (bisnis),
minimal dalam bentuk kooperasi kedokteran (badan usaha), untuk merangkai
kesempurnaan genetik, sebagai ekspresi genetik pesanan bagi bayi yang diidamkan
oleh seorang gadis atau seorang pemuda, sebagai single parent, sebagai ekspresi
kasih sayang manusia di abad itu. (Moeloek, F.A, Etika dan Hukum Teknik
Reproduksi Buatan, disampaikan pada Kuliah Umum Temu Ilmiah I Fertilitas
Endokrinologi Reproduksi, Bandung, 4-6 Oktober 2002).
Ilustrasi tersebut ingin mengatakan bahwa dengan perkembangan sains dan
teknologi dalam ranah ilmu pengetahuan bukan tidak mungkin apa yang
sebelumnya tak pernah dipikirkan manusia dalam masalah yang selama ini
dianggap sebagai urusan Yang Kuasa semata, nantinya bisa menjadi kenyataan.
Saat ini kloning masih menjadi kontroversi, entah bagaimana nanti yang terjadi di
tahun 2020. Keniscayaan teknik reproduksi yang semakin canggih karena
berkembangnya ilmu pengetahuan bisa jadi tidak akan sekedar menjadi wacana.
Dengan penemuan-penemuan yang begitu spektakuler dan fenomenal, ilmu
pengetahuan memang semakin menemukan jati dirinya. Namun, nilai lain tidak
bisa dimungkiri berpotensi pula mencampuri otonomi ilmu pengetahuan itu sendiri.
Moralitas, etika, dan hukum yang berlaku dalam konteks sosial dan berkembang
dalam kehidupan publik mau tidak mau ikut mewarnai perkembangan ilmu
pengetahuan, meskipun intervensi tersebut telah diminimalisir. Terkait dengan hal
itu, perdebatan yang selalu menarik dalam membicarakan ilmu pengetahuan dan
kontroversi setiap penemuan yang dilahirkannya adalah masalah bebas nilai. Di
satu sisi ilmu pengetahuan hendak berkembang secara independen, dengan tanpa
memperhatikan nilai lain di luar dirinya. Namun, di sisi lain tidak bisa dielakkan
15

ada nilai tertentu yang menyertai perkembangannya (politik, religius, maupun


moral). Hingga akhirnya perdebatan tentang bebas nilai dalam ilmu pengetahuan
dirasa sia-sia karena pada faktanya ilmu pengetahuan itu sendiri terbebani oleh
nilai-nilai yang menyertainya pada zaman dan konteks berkembangnya ilmu
pengetahuan itu sendiri. Dalam kasus ini, kloning menjadi salah satu contohnya.
Kontroversi yang mencakup nilai moral, etika, serta hukum di dalamnya menjadi
satu bukti nyata yang mengerucut pada relevansi bebas nilai dalam ilmu
pengetahuan.

H. Tinjauan Teoritis Masalah Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan


Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral.
Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam
dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan
sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi
antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi
metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya,
sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada
pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang
keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut
timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi
pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama
dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari
(Junando. 2012: 152).
Kilasan sejarah yang mengangkat penemuan teori heliosentris itu menjadi
contoh kedua setelah kloning, yang menyinggung tentang masalah bebas nilai ilmu
pengetahuan. Dalam hal ini Galileo menjadi tokoh yang dikorbankan demi suatu
upaya pemurnian jati diri ilmu pengetahun. Nilai moral (otoritas agama), telah
mencampuri wilayah ilmiah ilmu pengetahuan untuk menemukan suatu kebenaran
dari data empiris yang digalinya.
16

Sekurang-kurangnya ada dua tujuan yang hendak dicapai dari


pemberlakuan tuntutan agar ilmu pengetahuan dikembangkan tanpa
memperhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Tujuan tersebut adalah:
1. Agar ilmu pengetahuan tidak mengalami distorsi.
Distorsi ilmu pengetahuan bisa terjadi jika ilmu pengetahuan tunduk pada
pertimbangan lain (politik, religius, maupun moral) di luar ilmu pengetahuan itu
sendiri. Dengan tunduk pada pertimbangan lain, ilmu pengetahuan tidak bisa
berkembang secara otonom. Itu berarti ilmu pengetahuan menjadi tidak murni sama
sekali.
2. Agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi kebenaran saja.
Latar belakangnya adalah apabila ilmu pengetahuan tidak bebas dari nilai-
nilai lain di luar ilmu pengetahuan, kebenaran sangat mungkin dikorbankan demi
nilai lain itu.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapai akses ilmu dan
teknologi yang bersifat merusak para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan
pendapat. Ilmuwan golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat
netral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam
tahap ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang
lain untuk mempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakan
untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan yang buruk.
Ilmuwan golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu
terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam
penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada asas-asas moral.
Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni, (1) ilmu
secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan
dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi
keilmuan; (2) ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin esoterik sehingga
kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bila
terjadi salah penggunaan; dan (3) ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga
terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang
paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.
17

Berdasarkan ketiga hal itu maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara
moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau
mengubah hakikat kemanusiaan (Bakhtiar, 2005: 85).
I. Jalan Keluar Mengatasi Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan.
Filsafat sebagai phylosophy of life mempelajari nilai-nilai yang ada
dalam kehidupan dan berfungsi sebagai pengontrol terhadap keilmuan manusia.
Teori nilai berfungsi mirip dengan agama yang menjadi pedoman kehidupan
manusia. Dalam teori nilai terkandung tujuan bagaimana manusia mengalami
kehidupan dan memberi makna terhadap kehidupan ini.
Nilai, bukan sesuatu yang tidak eksis, sesuatu yang sungguh-sungguh
berupa kenyataan, bersembunyi dibalik kenyataan yang tampak, tidak tergantung
pada kenyataan- kenyataan lain, mutlak dan tidak pernah mengalami perubahan.
Netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan,
sedangkan dalam penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada
asas-asas moral.
Ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa
merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan, dengan
pertimbangan; (1) ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh
manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan
teknologi-teknologi keilmuan; (2) ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin
esoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang
mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan; dan (3) ilmu telah berkembang
sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah
manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika
dan teknik perubahan sosial (Suriasumatri, 2002).
Jalan keluar dari Bebas Nilai dalam ilmu pengetahuan dapat ditelusuri
dengan dua cara berikut :
a. Context of Discovery
Menyangkut konteks dimana ilmu pengetahuan ditemukan. Bahwa ilmu
pengetahuan tidak terjadi, ditemukan, dan berlangsung dalam kevakuman. Ilmu
pengetahuan selalu ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang dan waktu
18

tertentu. Termasuk di dalamnya adalah kenyataan bahwa ilmu pengetahuan muncul


dan berkembang demi memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
manusia. Karena itulah, manusia melakukan kegiatan ilmiah. Jadi ilmu
pengetahuan tidak muncul secara mendadak begitu saja. Ada konteks tertentu yang
melahirkannya. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan berkembang
dalam konteks tertentu yang sekaligus sangat mempengaruhi nilai obyektifnya dan
sejauhmana ia dapat mengungkapkan realitas (kebenaran) (Ash-Shadr, 1999).
Dengan kata lain, ada banyak faktor yang jauh lebih luas dari sekedar faktor
murni ilmiah, yang ikut mendorong lahirnya ilmu pengetahuan. Juga, ada berbagai
macam nilai dan tujuan yang ikut melahirkan ilmu pengetahuan, termasuk nilai dan
tujuan yang sepele dan tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu pengetahuan. Semua
ini mempengaruhi seliruh kegiatan ilmiah.
Berkaitan dengan hal itu, tidak bisa dimungkiri bahwa ilmuwan bisa saja
melakukan kegiatan ilmiah bukan demi kepentingan ilmiah murni, tetapi demi
sesuatu diluar ilmu pengetahuan. Yaitu demi keselamatan manusia atau demi
mendapatkan penghargaan. Jadi, harus diakui ilmu pengetahuan berkembang dan
berlangsung dalam masyarakat. Oleh karena itu, sulit dibayangkan bahwa ilmu
pengetahuan sejak awal tidak bertalian, bersentuhan, dan peduli dengan nilai-nilai
dan hal sepele di luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan justru berkembang
dalam interaksi dan keterkaitan sengan semua nilai dan semua hal di luar ilmu
pengetahuan itu dan bahkan semua hal ikut mempengaruhi perkembangan dan
kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Penelitian ilmiah dan ilmu pengetahuan itu sendiri merupakan hasil dari
berbagai faktor berikut ini, baik sendiri maupun kombinasi.
1. Keputusan masing-masing ilmuwan tantang mana yang ingin mereka teliti atau
pecahkan.
2. Keputusan dari berbagai lembaga penelitian tentang jenis penelitian yang
mereka lakukan.
3. Keputusan lembaga penyandang dana.
4. Keputusan dan kebijaksanaan umum dalam masyarakat yang bersangkutan.
19

Berdasarkan keterangan diatas, tidak bisa disangkal bahwa ilmu pengetahuan


berkembang dalam konteks tertentu yang sekaligus ikut sangat mempengaruhinya.
Berkaitan dengan ini, sulit dibayangkan bahwa ilmu pengetahuan bebas dari nilai-
nilai baik yang dianut oleh setiap ilmu pengetahuan secara individual maupun yang
dianut oleh setiap lembaga dan masyarakat di mana ilmu pengetahuan itu
dikembangkan.
b. Context of Justification.
Menyangkut konteks dimana kegiatan ilmiah dan hasil-hasilnya diuji
berdasarkan kategori dan kriteria yang murni ilmiah. Kegiatan ilmiah dan hasil-
hasilnya diuji berdasarkan kategori dan kriteria yang murni ilmiah. Di mana yang
berbicara adalah data dan fakta apa adanya serta keabsahan metode ilmiah yang
dipakai tanpa mempertimbangkan kriteria dan pertimbangan lain di luar itu. Jadi,
satu-satunya yang dipertimbangkan adalah bukti empiris dan penalaran logis
rasional dalam membuktikan kebenaran suatu hipotesis atau teori, semua faktor
ekstra ilmiah harus ditinggalkan dan yang diperhitungkan adalah bukti empiris dan
penalaran logis-rasional. Satu-satunya nilai yang berlaku dan diperhitungkan adalah
nilai kebenaran pada hal-hal yang dapat dibuktikan melalui observasi ilmiah
(Gharawiyan, 2012).
Dari sintesis ini dapat dipahami bahwa dalam context of discovery ilmu
pengetahuan tidak bebas nilai, tetapi dalam context of justification, ilmu
pengetahuan harus bebas nilai. Dalam context of discovery ilmu pengetahuan mau
tidak mau peduli akan berbagai nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Namun, dalam
context of justification, satu-satunya yang menentukan adalah benar tidaknya
hipotesis atau teori itu berdasarkan bukti-bukti empiris dan penalaran logis yang
bisa ditunjukkan.
Lalu, apakah perdebatan tentang masalah bebas nilai dalam ilmu
pengetahuan itu tetap relevan untuk dibicarakan? Jawabannya adalah masih.
Jawaban ini tentu disertai oleh alasan yang mendukung. Alasan pertama adalah,
tuntutan bebas nilai dalam ilmu pengetahuan memiliki tujuan yang harus
senantiasa dijaga dan dijunjung dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dengan
itu ilmu pengetahuan tetap otonom dan murni ilmiah. Harapannya, ilmu
20

pengetahuan tidak serta merta bisa dijadikan alat bagi pihak tertentu yang ingin
melegitimasikan otoritas demi kepentingannya semata. Kedua, perdebatan tentang
bebas nilai dalam ilmu pengetahuan itu perlu dilihat sebagai upaya check and
balances, yang bisa ditinjau dengan sintesis context of discovery maupun context of
justification. Hal ini dimaksudkan untuk menggugah kesadaran ilmuwan agar tidak
sekedar mengembangkan ilmu pengetahuan yang bersifat destruktif, tetapi juga
tetap memerhatikan aspek utiliter ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal tersebut tidak
dimaksudkan untuk membatasi otonomi ilmu pengetahuan, hanya untuk
menegaskan bahwa kebenaran memang harus diwujudkan, tapi apakah perlu,
tentunya itu dikembalikan kepada para ilmuwan sendiri.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam menggunakan ilmu pengetahuan, seharusnya melihat berbagai
aspek, dari segi norma, sosial, dan kegunaan dari ilmu sendiri. Karena hasil dari
ilmu, pasti akan berdampak besar dengan yang lainnya. Seperti kemajuan ilmu
pengetahuan suatu negara akan mendorong perekonomian negara tersebut.
Sehingga ilmu itu harus terikat nilai. Karena perlu di perhatikan faktor sebab dan
akibat dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Dan juga subyek dan obyek ilmu
sendiri adalah manusia, sehingga karena manusia memiliki tatanan nilai lainnya,
tentunya akan mempengaruhi dalam penggunaan ilmu.
Dalam filsafat terdapat dua pandangan mengenai ilmu, yaitu ilmu bebas
nilai dan ilmu terikat nilai/tidak bebas nilai. Ilmu bebas nilai mengemukakan bahwa
antara ilmu dan nilai tidak ada kaitannya, keduanya berdiri sendiri. Menurut
pandangan ilmu bebas nilai, dengan tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan kita
boleh mengeksplorasi alam tanpa batas dan tidak harus memikirkan nilai-nilai
yang ada, karena nilai hanya akan menghambat perkembangan ilmu.

B. Saran
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis dan pembaca sebagai bahan
pendukung penulisan-penulisan berikutnya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shadr, M. 1999. Falsafatuna; Pandangan Muhammad Baqir ash-Shadr


terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia. diterjemahkan dari Falsafatuna:
Dirasah Mawdhuiyyah fi Mutarak al-Shira al-Fikriy al-Qaim baina
Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyyah wa al-Falsafah al-Islamiyyah wa al-
Maddiyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah), oleh M. Nur Mufid bin Ali.
Bandung : Penerbit Mizan, cet. VII.

Bakhtiar, A. 2005. Filsafat ilmu. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Chariri, A. 2012. Critical Theory. Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP.

Gharawiyan, M. 2012. Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam,


diterjemahkan dari Dar Amadi Bar Amuzesye Falsafe, terbitan Instisyarat-e
Syefq, Qum.Iran, oleh Muhammad Nur Djabir. Jakarta: Sadra Press, Cet. I.

Ghazali, B. 2005. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.

Hardiman, F. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis


tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyarakta : Penerbit
Kanisius.

________. 2009. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan


Kepentingan Bersama Jrgen Habermas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius.

Junando, P. 2012. Berkarya bersama, filsfat, ilmu bebas nilai dan tidak bebas
nilai. (online) http://junandopandiangan.co.id /2014/12/filsafat -ilmu-
prinsip-bebas-nilai-dan.html. diakses tanggal 18 Oktober 2017.

Keraf, A. Sonny & Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan
Filosofis. Yogyakarta : Kanisius.

Mustansyir, R dan M, Munir. 2009. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

RifaI, A. 2010. Ilmu, Antara Bebas Atau Terikat Nilai. (online). http://makalah-
ilmu-bebas-nilai-filsafat-ilmu.html. diakses tanggal 18 Oktober 2017.

Situmorang, Joseph MMT. 1996. Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai, dalam


Majalah Driyarkara, Tahun XXII, No.4.

Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia Suatu Pengantar.


Jakarta: Bumi Aksara.

22
23

Suriasumantri, J. 2002. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka


Sinar Harapan.

Suseno, F, M. 2010. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius.

Wartaya, W.Y. 1987. Ilmu dan Teknologi sebagai Kerangka Budaya Modern,
Majalah Basis. Agustus.

Wibisono, K. 1992. Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, Dinamika


Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Yazdi, M.T. Misbah. 2010. Philosophichal Instructions: an Introductions to


Contemporary Islamic Philosophy, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
oleh Musa Kazhim dan Saleh Baqir dengan judul Buku Daras Filsafat
Islam, Jakarta: Shadra Press. Cet. I.