Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN

Disusun Oleh:

Nugraha Aji Swara 114150014


Maulidina Inayah 114150001
Vivi Livia Yasinta Kaurow 114140027

STUDIO SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN


PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN

Diajukan untuk memenuhi kelulusan Praktikum Sistem Informasi Lingkungan,


Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta

Disusun Oleh:

Nugraha Aji Swara 114150014


Maulidina Inayah 114150001
Medy Ismatullah S 114150024
Vivi Livia Yasinta Kaurow 114140027

Yogyakarta, 4 Desember 2017


Disetujui Oleh:

Asisten Lapangan Dosen Pembimbing

Nur Idham Kholid Andi Renata Ade Yudono, S.T.,M.Sc.


NPM 114.130.006 NPY. 2.7609.12.0360

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Tinjauan pustaka
BAB II METODE
BAB III RUANG LINGKUP
3.1
a. Iklim/curah hujan
b. Bentuklahan
c. Tata Air
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSATAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang
Air tanah merupakan bagian air di alam yang terdapat di bawah permukaan
tanah. Pembentukan air tanah mengikuti siklus peredaran air di bumi yang disebut
daur hidrologi, yaitu proses alamiah yang berlangsung pada air di alam yang
mengalami perpindahan tempat dan perubahan wujud secara berurutan dan terus
menerus. Adapun wujud air seperti kita ketahui adalah gas, cair, dan padat yang kita
kenal dengan es. Jumlah air di sekitar bumi ini selalu tetap, tetapi kwantitas
wujudnya yang selalu berubah.
Masalah terkait dengan air tanah selalu menarik untuk dibahas mengingat air
merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup di bumi. Namun sering kali timbul
permasalahan air tanah seperti kekeringan, air tercemar dan kelangkaan air bersih.
Seiring perkembangan lingkungan yang terus mengikuti pesatnya pembangunan,
maka berdampak terhadap bentuk lahan dan ketersediaan sumber air pada daerah
tersebut. Adanya penggunaan atau penyedotan air secara berlebih, dapat
menyebabkan penurunan permukaan tanah. Hal tersebut karena adanya pembuatan
sumur bor yang banyak sehingga mempercepat proses penurunan permukaan tanah
yang tingkat kekerasannya masih rendah.
Permasalahan yang terjadi akibat kurangnya kepekaan terhadap kondisi
lingkungan yang terus dikembangkan bukanlah menjadi tanggung jawab satu pihak
saja, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh pihak untuk tetap menjaganya
sesuai dengan peruntukkannya. Pembangunan yang melibatkan pertimbangan akan
kondisi air di lingkungan merupakan hal penting dan dapat menyelamatkan bumi ini.

1.2 Maksud dan tujuan


Maksud dan tujuan penelitian ini yaitu:
1. Mengukur kedalaman muka air tanah di daerah penelitian.
2. Membuat peta kontur muka air tanah daerah penelitian.
3. Menganalisis tinggi muka air tanah berdasarkan kontur muka air tanah, kemiringan
lereng dan topografi daerah penelitian.

1.3 Tinjauan Pustaka


a. Air
Fadhil dkk (2014) dalam Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk
Pemetaan Pola Aliran Air Tanah di Kawasan Sukajadi Pekanbaru menyatakan air
yang jatuh ke bumi sebagian besar akan tersimpan sebagai air tanah (groundwater)
dengan mengisi tanah atau bebatuan dekat permukaan bumi yang disebut akuifer
dangkal, dan sebagian lagi terus masuk ke dalam tanah untuk mengisi lapisan akuifer
yang lebih dalam. Proses ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Lokasi
pengisian (recharge area) dapat jauh sekali dari lokasi pengambilan airnya (discharge
area) yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama ke
permukaan tanah di daerah-daerah yang rendah (groundwater run off) limpasan air
tanah.
Air yang meresap kedalam tanah akan mengalir mengikuti gaya gravitasi
bumi. Akibat adanya gaya adhesi butiran tanah pada zona tidak jenuh air,
menyebabkan pori-pori tanah terisi air dan udara dalam jumlah yang berbeda-beda.
Setelah hujan, air bergerak kebawah melalui zona tidak jenuh air. Sejumlah air
beredar didalam tanah dan ditahan oleh gaya - gaya kapiler pada pori-pori yang kecil
atau tarikan molekuler di sekeliling partikel-partikel tanah. Bila kapasitas retensi dari
tanah telah habis, air akan bergerak kebawah kedalam daerah dimana pori-pori tanah
atau batuan terisi air. Air di dalam zona jenuh air ini disebut air tanah. Air tanah
memerlukan energi untuk dapat bergerak mengalir melalui ruang antar butir. Tenaga
penggerak ini bersumber dari energi potensial. Energi potensial air tanah
dicerminkan dari tinggi muka airnya pada tempat yang bersangkutan. Air tanah
mengalir dari titik dengan energi potensial tinggi ke arah titik dengan energi
potensial rendah. Antara titik titik-titik dengan energi potensial sama tidak terdapat
pengaliran air tanah.
Garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang sama energi potensialnya
disebut garis kontur muka air tanah. Sepanjang garis kontur tersebut tidak terdapat
aliran air tanah, karena arah aliran air tanah tegak lurus dengan garis kontur. Arah
aliran air tanah untuk unconfined aquifer dapat ditentukan dengan metode tree point
problem. Untuk itu diperlukan pengukuran elevasi muka freatik dari tiga sumur yang
diketahui posisinya secara tepat. Arah aliran air tanah selalu tegak lurus 90 kontur
air tanahnya dan mengalir dari kontur tinggi ke rendah. Peta atau gambar yang berisi
kontur dan arah aliran air tanah sering dikenal sebagai flownets.
b. Akuifer
Akuifer merupakan tempat penyimpanan air tanah. Akuifer dapat dibedakan
menjadi dua yaitu akuifer bebas dan tertekan. Pada dasarnya, yang membedakan
antara air tanah bebas dan air tanah tertekan adalah variasi konduktivitas hidrolik
material geologinya. (ASCE Manuals and Reports on Engineering Practice No.40,
1987 dalam Kodoatie, 2012) Definisi akuifer ialah suatu lapisan, formasi, atau
kelompok satuan formasi geologi yang permeabel baik yang terkonsolidasi maupun
tidak terkonsolidasi (pasir) dengan kondisi jenuh air dan mempunyai suatu besaran
konduktivitas 8 hidraulik (K) sehingga dapat membawa air (atau air dapat diambil)
dalam jumlah (kuantitas) yang ekonomis (Kodoatie, 2012).
Berdasarkan kemampuan memuluskan air dari bahan pembatasnya, akuifer
dapat dibedakan menjadi :
a) Akuifer bebas yaitu akuifer yang lapisan pembatasnya, yang merupakan
akuifer, hanya pada bagian bawahnya dan tidak ada pembatasnya akuitar dilapisan
atasnya, bagian atasnya berupa muka air tanah. Dengan kata lain merupakan akuifer
yang mempunyai muka air tanah ( Kodoatie, 2012 ). Muka air tanah pada akuifer
tidak tertekan bersifat bebas untuk naik turun tergantung pada musim. Akuifer bebas
terjadi ketika muka air tanah bertemu pada bagian yang rendah, air akan mengalir ke
samping kolam, rawa, danau, pinggir laut dan rembesan air di atas mata air.
b) Akuifer Tertekan atau disebut juga akuifer artesis atau akuifer tertekan
yaitu air tanah yang terletak antara 2 strata yang relatif kedap air. Airnya ada dibawah
tekanan dan bagian atasnya dibatasi oleh permukaan piezometrik. Kawasan yang
memasok air ke akuifer tertekan disebut daerah pengisian (recharge area). Perhatikan
bahwa permukaan piezometrik merupakan suatu permukaan imajiner serupa dengan
aras tekanan hidrostatik air pada akuifer.
c. Jaringan Aliran
Jaringan aliran air adalah garis-garis aliran air tanah yang arahnya ditentukan
oleh bentuk kontur muka air tanah suatu daerah. Garis aliran air tanah adalah
garisgaris yang mempunyai arah tegak lurus 90 dengan garis kontur air tanahnya
dan mengalir dari kontur tinggi ke kontur yang rendah. Gambar jaringan aliran air
tanah oleh Cadergren (Todd,1995) dapat dilihat pada gambar 1.1
Gambar 1.1 Jaringan Aliran Air Tanah (Sumber : Todd, 1995)

Karena tidak mengalir melewati batas yang imperameable, garis aliran akan
sejajar. Demikian pula jika aliran melewati permukaan akuifer bebas, arah aliran
yang sesuai dengan batas aliran permukaan. Karena itu, dalam kondisi sejajar, elevasi
pada setiap titik dipermukaan air. Dengan tiga elevasi air tanah dari sumur penduduk
bentuk garis kontur air tanah bebas dan arah aliran dapat ditentukan seperti gambar
1.2

Gambar 1.2 Penentuan kontur muka air tanah dan arah aliran air tanah
bedasarkan elevasi permukaan air tanah di tiga sumur (Sumber : Todd,1995)

Peta kontur air tanah, dan dengan garis aliran berguna untuk dasar
pembuatan lokasi sumur baru. Garis aliran sebagai batas impermeable karena
aliran dapat melintasi garis aliran, jika akuifer tebal seragam seperti gambar 1.3
berikut :
Gambar 1.3 Peta kontur air tanah dengan garis aliran (Sumber : Todd,1995)

Pada saat sumur dipompa, air diambil dari akuifer didekat sumur, dan
muka air tanah atau permukaan pizieometrik. Surutan (drawdown) pada suatu
titik tertentu adalah jarak penurunan muka air. Kurva surutan menunjukan
variasi surutan dengan jarak dari sumur. Dalam kurva surutan tiga dimensi
menggambarkan bentuk kerucut sama seperti kurva surutan. Begitu juga batas
luar kerucut surutan mendefinisikan pengaruh dari sumur.

BAB II
METODE
Input Proses Output
Pekerjaan Studio I Pekerjaaan Studio II Analisis Kuantitatif,
(Pengolahan Data Deskriptif, dan
(Persiapan Survei Spasial
Lapangan) Primer & Sekunder)
Pembuatan Peta Pembuatan Peta
Administrasi Muka Air Tanah
Pembuatan Peta Pembuatan Peta
Topografi Penggunaan Lahan
Pekerjaan Lapangan Pembuatan Peta
(Survei Secara Kemiringan Lereng
Langsung)
Pemetaan sumur
Pengukuran
kedalaman muka air
tanah
Observasi
Penggunaan Lahan
Pengumpulan Data
Sekunder (Kondisi
Geofisik)

Gambar 2.1 Diagram alir metode penelitian


Metode penelitian yang digunakan terdiri dari pekerjaan studio dan pekerjaan
lapangan dengan tahap Pekerjaan Studio I, Pekerjaan Lapangan, dan Pekerjaan
Studio II. Pekerjaan lapangan adalah survei lapangan yang bertujuan untuk
mendapatkan data primer berupa data koordinat sumur dan data kedalaman muka air
tanah. Pekerjaan lapangan tersebut didukung oleh data sekunder berupa Peta
Administrasi dan Peta Topografi. Selain melakukan pemetaan muka air tanah,
observasi penggunaan lahan di daerah penelitian juga dilakukan untuk mendukung
data sekunder penggunaan lahan pada tahap Pekerjaan Studio II. Data yang
diperoleh, data primer maupun data sekunder, diolah pada tahap Pekerjaan Studio II.
Hasil dari tahap ini merupakan Peta Muka Air Tanah, Peta Penggunaan Lahan, dan
Peta Kemiringan Lereng.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kukantitatif,
deskriptif dan spasial. Data hasil survei lapangan akan dianalisa secara kuantitatif.
Data sekunder berupa kondisi geofisik daerah penelitian dianalisa secara deskriptif.
Analisis spasial dilakukan dengan mengkaitkan peta-peta yang dihasilkan dari
pekerjaan studio.
BAB III
RUANG LINGKUP KEGIATAN
3.1 Daerah Penelitian
Daerah penelitian terletak di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten
Sleman, DIY. Desa Jogotirto terletak di bagian tenggara Kabupaten Sleman.
Jarak daerah penelitian dengan pusat pemerintahan yakni sejauh 23,6 Km.
Daerah ini terletak pada koordinat x = 420000 - 450000 dan y = 9130000
9160000. Pada bagian timur laut Desa Jogotirto terdapat Daerah Madu Rejo,
pada bagian timur terdapat Daerah Sumber Harjo, pada bagian tenggara terdapat
Daerah Srimartani, pada bagian barat daya terdapat Daerah Srimulyo, pada
bagian barat terdapat Daerah Tegal Tirto dan pada bagian barat laut terdapat
Daerah Kali Tirto.
Hasil dari pembuatan Peta Topografi terhadap daerah penelitian
menunjukkan bahwa daerah tersebut tidak termasuk daerah yang curam. Hal
tersebut ditandai dengan adanya kontur yang renggang. Namun, pada beberapa
bagian di daerah penelitian didapati kontur yang rapat dimana kontur tersebut
merupakan perbukitan. Selain itu, pada daerah tersebut juga dijumpai cukup
banyak sungai yang alirannya melewati Desa Jogotirto. Kemudian, dibuat
sayatan yakni sayatan A-A untuk mengetahui hasil penampang profil dari
topografi dan Muka Air Tanah (MAT) daerah tersebut. Secara keseluruhan, Desa
Jogotirto merupakan daerah yang landai mengingat daerah tersebut juga
merupakan daerah padat pemukiman dan kondisi topografi dengan MAT dalam
kondisi yang sebagaimana mestinya.
Hasil dari pembuatan Peta Kemiringan Lereng Daerah Desa Jogotirto,
didapati persentase kemiringan lereng yang mendominasi daerah tersebut adalah
klasifikasi topografi datar. Pada bagian barat ke utara didapati beberapa daerah
yang memiliki topografi landai dan jika mengamati Peta Topografi yang ada lalu
disesuaikan dengan peta kemiringan lereng, maka daerah yang merupakan
perbukitan masuk ke dalam klasifikasi topografi lereng miring sampai topografi
lereng sedang.
Peta Citra menunjukan jalur yang dilalui dalam memperoleh data di lapangan.
Daerah penelitian dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor,
namun tidak semua jalan di Desa Jogotirto tersebut dapat dilalui oleh kendaraan
roda 4.
Peta Administrasi dapat dilihat pada Gambar 3.1, Peta Citra dapat dilihat pada
Gambar 3.2 dan Peta Lintasan dapat dilihat pada Gambar 3.3.
3.2 Geofisik
a. Iklim/curah hujan
Data curah hujan yang digunakan adalah data tahunan selama 10 tahun
terakhir, yaitu dari tahun 2002-2011. Data curah hujan Kabupaten Sleman sebagai
berikut:
Tabel 3.1. Data Curah Hujan Kabupaten Sleman 2002-2011

Berdasarkan Tabel 3.1 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata curah hujan
tahunan di Kabupaten Sleman selama 10 tahun sebesar 2.141,2 mm/tahun. Rata-rata
curah hujan terbesar adalah 375,7 mm terjadi pada bulan Desember, sedangkan rata-
rata curah hujan terkecil sebesar 16,8 mm 90 terjadi pada bulan Agustus. Rata-rata
bulan basah adalah 7 bulan, rata-rata bulan lembab 0,6 bulan dan rata- rata bulan
kering 4,4 bulan.

b. Bentuklahan
Menurut Wirosuprojo (2005) Kecamatan Berbah termasuk kedalam
bentuklahan dataran alluvial gunung api. Di wilayah Kabupaten Sleman secara
geomorfologis terdiri dari bentuklahan yang terbentuk oleh proses gunungapi dan
denudasional. Beberapa satuan bentuklahan tersebut dijelaskan pada Tabel 3.2
berikut.
Tabel 3.2 Bentuklahan Daerah Sleman

Karakteristik lahan di setiap satuan lahan dapat diperoleh melalui pengamatan


dan pengukuran sifat tanah, lereng, erosi dan banjir serta keairan. Data hasil
pengukuran dipakai untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan disetiap satuan
bentuklahan di daerah penelitian.
Hasil dari pembuatan peta topografi terhadap daerah penelitian menunjukkan
bahwa daerah tersebut tidak termasuk daerah yang curam. Hal tersebut ditandai
dengan adanya kontur yang renggang. Namun, pada beberapa bagian di daerah
penelitian didapati kontur yang rapat dimana kontur tersebut merupakan perbukitan.
Selain itu, pada daerah tersebut juga dijumpai cukup banyak sungai yang alirannya
melewati Desa Jogotirto. Secara keseluruhan, Desa Jogotitro menunjukan
bentuklahan berupa dataran mengingat daerah tersebut juga merupakan daerah padat
pemukiman dan kondisi topografi dengan MAT dalam kondisi yang sebagaimana
mestinya. Peta Topografi dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Hal tersebut juga didukung oleh Peta Kemiringan Lereng, dari hasil
pembuatan peta kemiringan lereng daerah Desa Jogotirto, didapati persentase
kemiringan lereng yang mendominasi daerah tersebut adalah klasifikasi topografi
datar. Pada bagian barat ke utara didapati beberapa daerah yang memiliki topografi
landai dan jika mengamati peta topografi yang ada lalu disesuaikan dengan peta
kemiringan lereng, maka daerah yang merupakan perbukitan masuk ke dalam
klasifikasi topografi lereng miring sampai topografi lereng sedang. Peta Kemiringan
Lereng dapat dilihat pada Gambar 3.4.

c. Tata Air
Air permukaan yang teradapat di Desa Jogotirto hanya berupa sungai dan
terdapat air tanah yang berasal dari akuifer bebas. Hasil dari pembuatan peta MAT
berdasarkan dari data yang diperoleh langsung di lapangan dapat diketahui kontur
dari MAT tersebut. Pengambilan titik sumur dilakukan secara menyeluruh di daerah
tersebut, supaya tiap bagian dari Desa Jogotirto dapat terwakilkan dalam pengerjaan
data sehingga hasilnya lebih dapat dipertanggung jawabkan dan akurat.
Jumlah sumur yang diperoleh di lapangan sebanyak 26 sumur dengan rincian
data ketinggian MAT, yaitu:
Sumur 1: 98.33 m, Sumur 2: 98.70 m Sumur 3: 98.70 m, Sumur 4: 98.70 m, Sumur
5: 99.30 m, Sumur 6: 99.37 m, Sumur 7: 99.30 m, Sumur 8: 99.16 m, Sumur 9: 97.74
m, Sumur 10: 97.74 m, Sumur 11: 97.32 m, Sumur 12: 98.98 m, Sumur 13: 100.38
m, Sumur 14: 94.29 m, Sumur 15: 95.06 m, Sumur 16: 95.06 m, Sumur 17: 96.58 m,
Sumur 18: 97.80 m, Sumur 19: 91.79 m, Sumur 20: 94.65 m, Sumur 21: 93.73 m,
Sumur 22: 97.45 m, Sumur 23: 96.48 m, Sumur 24: 103.70 m, Sumur 25: 91.82 m
dan Sumur 26: 92.68 m.
Sumur yang terdapat di Desa Jogotirto teridiri dari sumur gali dan sumur bor,
namun sebagian besar penduduk masih menggunakan sumur gali untuk memenuhi
kebutuhannya sehari-hari. Berdasarkan survey dan kegiatan Tanya jawab dengan
penduduk, dikatakan bahwa daerah tersebut hampir tidak pernah mengalami
kekeringan dan kondisi air juga tetap terjaga, dimana maksudnya adalah tidak keruh
ataupun berbau. Rata-rata kedalam sumur pada daerah ini adalah 6 14 meter.
Berdasarkan arah alirannya, air mengalir dari arah utara ke selatan peta. Peta MAT
dapat dilihat pada gambar 3.6.

3.3 Sosial
Hasil dari pembuatan peta penggunaan lahan Daerah Desa Jogotirto didapati
penggunaan lahan yang mendominasi adalah sawah irigasi, mengingat daerah
tersebut merupakan daerah pedesaan dimana pembangunan masih terbatas.
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Desa
Jogotirto bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, berdasarkan hasil
pengamatan dapat dikatakan bahwa sanitasi lingkungan Daerah Desa Jogotirto
tergolong baik karena tidak ditemukannya perlakuan masyarakat yang menyebabkan
adanya penurunan kualitas lingkungan. Peta Penggunaan Lahan dapat dilihat pada
Gambar 3.7

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan studi lapangan terkait dengan pembuatan peta MAT, diperoleh hasil
sebagai berikut:
1. Daerah penelitian terletak di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman,
DIY.
2. Jarak daerah penelitian dengan pusat pemerintahan yakni sejauh 23,6 Km
3. Curah hujan di Kabupaten Sleman:
- Tertinggi: 375,7 mm (bulan Desember)
- Terendah: 16,8 mm (bulan Agustus)
4. Bentuklahan daerah penelitian merupakan dataran alluvial gunungapi.
5. Kondisi batuan daerah penelitian terdiri dari batuan sedimen vulkanistik.
6. Kondisi hidrogeologi dipengaruhi oleh keberadaan Gunung Merapi dimana material
vulkanik Merapi muda ini terbagi menjadi Formasi Sleman dan formasi Yogyakarta
yang berfungsi sebagai lapisan pembawa air utama yang sangat potensial dan
membentuk satu sistem akifer yang di sebut Sistem Akifer Merapi (SAM).
7. Desa Jogotirto tergolong daerah dengan topografi datar yang didominasi oleh
penggunaan lahan berupa sawah irigasi.
8. Titik sumur yang diperoleh sebanyak 26 titik dengan kedalaman sumur rata-rata
yakni 6 14 meter.

4.2 Saran
1. Data titik sumur harus lebih banyak lagi agar dapat terlihat lebih detail dalam
pembuatan Peta MAT
2. Pada pelaksanaan pengukuran di lapangan harus dilakukan dengan baik dan
maksimal, seperti lebih teliti dalam pengambilan dan perhitungan data.
3. Penguasaan terhadap aplikasi yang akan dipakai untuk pembuatan peta.

DAFTAR PUSTAKA
Fadhil, Nur. dkk. 2014. Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Sig) Untuk Pemetaan
Pola Aliran Air Tanah Di Kawasan Sukajadi Pekanbaru. Jom FTEKNIK
Volume 1 No. 2 Oktober 2014. Riau: Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Riau
Imam, Fajri D. dkk. 2013. Potensi Air Tanah Dangkal Daerah Kecamatan Ngemplak
dan Sekitarnya, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Yogyakarta: Teknik
Geologi Universitas Gadjah Mada.
Kodoatie, Robert J. 2012. Tata Ruang Air Tanah. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Pristanto, Adhitya Irvan. 2010. Upaya Peningkatan Pemahaman Masyarakat
Tentang Mitigasi Bencana Gempa Bumi di Desa Tirtomartani Kecamatan
Kalasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Tood, Peter and Chin Wayne. W. 1995. On The Use, Usefullness and Ease of Use a
Structural Equation Modeling in MIS Research: A Note of Caustion. MIS
Quarterly.