Anda di halaman 1dari 6

MODUL-5

Pengelolaan Limbah

Pengendalian pencemaran lingkungan, dilakukan dengan cara mengurangi /


Menghilangkan dampak yang timbul akibat kegiatan manusia. Jika manusia tidak perduli dengan
upaya pengendalian dampak lingkungan, pada saat semakin tinggi kegiatannya, maka semakin
tinggi potensi timbulnya pencemaran linkungan.
Kegiatan orang-orang di dalam rumh sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan,
dewasa ini dirasakan semakin kompleks, hal mana dapat menjadi sumber pencemaran penyakit
jika limbah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut tidak dikendalikan dengan baik.
Sumber-sumber yang sering menimbulkan limbah antara lain kegiatan yang berasal dari
ruang perawatan, pemeriksaan/penunjang diagnostik, kegiatan non medik seperti dapur, laundry,
CSSD, dll. Limbah yang dihasilkan dapat berbentuk limbah padat, limbah cair, udara/gas, baik
itu yang berasal dari kegiatan klinis maupun kegiatan non klinis, sehingga jenis limbah yang
dihasilkan dapat disebut degan limbah medis atau limbah non medis.
Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah
patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah
radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.
Limbah padat non-medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah
sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman, dan halaman yang dapat
dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah
sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang
berbahaya bagi kesehatan.
Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan
pembakaran di rumah sakit seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anastesi, dan
pembuatan obat citotoksik. Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak
secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup
untuk menularkan penyakit pada manusia rentan. Limbah sangat infeksius adalah limbah berasal
dari pembiakan dan stock bahan sangat infeksius, otopsi, organ binatang percobaan dan bahan
lain yang telah diinokulasi, terinfeksi atau kontak dengan bahan yang sangat infeksius.
Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan
pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk
membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup.
Minimasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah
limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan (reduce), menggunakan kembali limbah
(reuse) dan daur ulang limbah (recycle).

TUJUAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


Menghilangkan dan mengurangi kontaminan yang terdapat di dalam limbah cair tersebut,
agar hasil dari pengolahan limbah dapat dapat dimanfaatkan kembali tanpa mengganggu
lingkungan jika dibuang ke tanah atau kesungai (badan air penerima). Secara spesifik
pengolahan limbah dilakukan dengan cara mengurangi:
jumlah suspended solid (padatan yang melayang dalam limbah cair.
Jumlah padatan terapung,
Jumlah bahan organik (unsur C, H, O, N, P, S),
Membunuh bakteri pathogen.
Jumlah bahan kimia yang beracun,
Jumlah unsur nutrisi (N dan P) yang berlebihan.
Unsur lain yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem.

2. UNIT PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


Pengolahan fisik, pengolahan kimia, pengolahan biologis, pengolahan lumpur hasil proses.
a. Pengolahan fisik (unit operasi fisik):
Untuk pengolahan yang menaikkan kualitas fisik air,
Caranya pemilahan/penapisan, penyaringan, pengendapan, pengapungan partikel tersuspensi.
b. Proses pengolahan kimia:
Mengurangi atau menghilangkan kontaminan dengan bahan kimia, sehingga berbentuk senyawa
atau pelepasan ion a.l: koagulasi, presipitasi, oksidasi, reduksi, absorbsi dan gas transfer.
c. Proses pengolahan biologis:
Mengurangi substansi organik yang terdegradasi baik terlarut maupun partikel colloide (antara
terlarut dan tak terlarut), dengan menggunakan bakteri/mikroba dengan atau tanpa oksigen.

TINGKATAN PENGOLAHAN
1. Pengolahan Pertama (primary treatment proses fisik) : penyisihan partikel kasar, mengendap dan
mengapung, contoh minyak dan lemak,
2. Pengolahan Kedua (secondary treatment proses kimia dan biologis)
3. Pengolahan Ketiga (tertiary treatment proses kombinasi fisik, kimia dan biologis).

HASIL PENGOLAHAN
Setiap tahap pengolahan berbentuk LUMPUR yang perlu diolah secara khusus untuk
memisahkan padatan dari air sehingga airnya dapat dibuang atau digunakan kembali. Sementara
lumpurnya menjadi pupuk atau dibakar (infectious).

KRITERIA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


1. Tingkat pengolahan dinyatakan dalam % pengurangan BOD, COD, SS serta organik N dan P cukup
tinggi.
Catatan:
BOD (Biochemical Oxygen Demand)= Kadar oksigen yang dibutuhkan untuk proses oksidasi
bahan organik dalam cairan secara biologis/ microorganisme.
COD (Chemical Oxygen Demand) = Kadar oksigen yang dibutuhkan untuk oksidasi bahan organik
dalam cairan secara kimiawi.
SS (suspended solid)= partikel padatan yang melayang-layang di dalam media cair atau disebut
partikel tersuspensi (melayang).
2. Stabilitas unit proses terutama terhadap shock loading dan bahan beracun.
3. Sistem sederhana dengan proses yang minimum, pengoperasiannya mudah, tetapi sangat
dimungkinkan untuk pengembangan di masa depan,
4. Tidak menimbulkan produk sampingan yang membahakan bagi manusia ataupun menimbulkan
dampak negatif.
Analisa kualitas limbah dilakukan dengan mengukur parameter fisik (dengan warna yang
netral/bening), parameter kimiawi dan parameter khusus yang berkaitan dengan baku mutu dan kualitas
olahan. Limbah Dapur banyak mengandung kontaminan padat (sisa nasi, lemak, dll). Limbah laundry
mengandung detergen dengan temperatur > 50%. Limbah CSSD, kadang mengandung detergen dengan
temperatur ~ 70%.

RUANG PENGHASIL LIMBAH


Dapur,
Laundry,
Ruang Radiologi/nuklir,
Laboratorium,
Ruang Perawatan,
Ruang Gawat Darurat
Ruang Perawatan Intensif (ICU CVC)
Ruang Operasi
Ruang persalinan, dll.

KETERANGAN:
PRE TREATMENT:
SG = SCREEN & GREAT CHAMBER; OC = OIL CATHER
C = COMMINUTOR
TREATMENT UNIT:
1. EKUALISASI; 2. FLOW METER; 3. KOAGULASI; 4. FLOKULASI; 5. SEDIMENTASI; 6. SLUDGE
THICKENER; 7. SLUDGE DRYING BED; 8. NETRALISASI Ph; 9. DESINFEKSI.
2. PROSES FISIKA BIOLOGI
Proses fisika biologi
Pengolahan biologis untuk menguraikan limbah yang memiliki kandungan organik, secara
aerobik atau anaerobik (banyak kita kenal dengan nama septic tank).

PROSES FISIKA KIMIA BIOLOGI


Proses Fisika Kimia Biologi
Sistem yang menggabungkan proses fisika kimia biologis, Digunakan pada pengolahan
limbah yang tercemar organik yang mudah terurai atau anorganik konsentrasi tinggi.
Limbah dengan kandungan kimiawi tinggi (COD tinggi) diolah dengan proses koagulasi dan flokulasi,
sedangkan untuk proses biologi menggunakan proses anaerobik yang memerlukan pengaturan Ph.

Proses gabungan
Septic tank resapan desinfeksi.
Septic tank /stabilization pond - maturation pond desinfeksi
Ekualisasi - UASB (Upflow Anaerob Sludge Blanket) Tangki Aerasi Pengering lumpur (Sludge
drying bed) Desinfeksi.
Ekualisasi- netralisasi sedimentasi activated sludge sedimentasi pengering lumpur
desinfeksi.

PRE TREATMENT
1. SCREEN & GRID CHAMBER
2. OIL CATHER
3. COMMUNITOR

COMPLETE TREATMENT
1. EKUALISASI; 2. FLOW METER; 3. KOAGULASI; 4. FLOKULASI; 5. SEDIMENTASI -1; 6.
NETRALISASI; 7. AS/TF/OD/RBC; 8. SEDIMENTASI -2; 9. SLUDGE THICKENER; 10. SLUDGE
DRYING BED.
KEPUSTAKAAN
1. Pengolahan limbah, Teknologi Pengolahan Limbah Rumah Sakit, Modul.
2. Environmental Protection Agency (1991), Idustrial Waste Treatment, California State University,
Saeramento.
3. Horan N.J (1990), Biological Waste Treatment Systems: Theory and Operation, John Wiley & Sons
Chichester.