Anda di halaman 1dari 7

NAMA : I Putu Bayu Agus Saputra

NPM : 173112620110

1. ACARA LATIHAN : PERSILANGAN DIHIBRID


2. TEMPAT DAN WAKTU
a. Tempat Percobaan : Laboratorium Mikrotika
b. Waktu Percobaan : Selasa, 3 Oktober 2017
3. LATAR BELAKANG
Hukum Mendel I yang dikenal sebagai hukum segregasi menyatakan
dalam pembentukan gamet pasangan alel akan memisah secara bebas dan
membentuk individu baru dengan genotip heterozigot dan dihasilkan F2
dengan fenotip 3 : 1. Pada hukum mendel II dengan 2 sifat beda akan
menghasilkan fenotip F2 dengan ratio 9 : 3 : 3 : 1. Persilangan dalam
kehidupan nyata tidak persis menghasilkan F2 dengan perbandingan yang
dinyatakan mendel. Haltersebut terjadi karena adanya penyimpangan atau
deviasi. Untuk itu dilakukan pengujian persilangan dengan menggunakan
kancing berwarna sebagai gen dan fenotipnya. Hasil yang didapat dihitung
menggunakan chi-square test agar ditemukan probabilitas dan diketahui
deviasinya. Dengan analisis data yang didapat dapat diketahui penyebab
perbedaan ratio fenotip pengujian dengan ratio pengujian hukum Mendel.
4. TUJUAN
1. Mempelajari hasil persilangan dihibrid
2. Membuktikan hukum Mendel ke- II dengan melakukan analisis chi
square(X2)
3. Menetukan rasio genotipeee dan rasio fenotipe yang dihasilkan melalui
persilangan dihibrid
4. Memahami pengertian dari fenotipe, genotipeee, dominan dan resesif
5. DASAR TEORI
Dalam hukum Mendel I yang dikenal dengan The Law of Segretation
of Allelic Genesatau Hukum Pemisahan Gen yang Sealel dinyatakan bahwa
dalam pembentukan gamet, pasangan alel akan memisah secara bebas.
Peristiwa pemisahan ini terlihat ketika pembetukan gamet individu yang
memiliki genotip heterozigot, sehingga tiap gamet mengandung salah satu
alel tersebut. Hal inidisebut juga hukum segregasi yang berdasarkan
percobaan persilangan dua individu yang mempunyai satu karakter yang
berbeda. Berdasarkan hal ini, persilangan dengan satu sifat beda akan
menghasilkan perbandingan fenotip keturunan F2 3 : 1. Namun kadang-
kadang individu hasil perkawinan tidakdidominasi oleh salah satu induknya.
Dengan kata lain, sifat dominasitidak muncul secara penuh. Peristiwa ini
menunjukkan adanya sifat intermediet. Hukum Mendel I dikaji dari
persilangan monohybrid (satu sifat beda) (Syamsuri, 2004).
Dalam hukum Mendel II atau dikenal dengan The Law of Independent
assortmen of genesatau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas
dinyatakan bahwa selama pembentukan gamet, gen-gen sealel akan
memisah secara bebas dan mengelompok dengan gen lain yang bukan
alelnya. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau polihibrid, yaitu
persilangan dari 2 individu yang memiliki satu ataulebih karakter yang
berbeda. Persilangan dihibrid akan menghasilkan keturunan F2 dengan
perbandingan 9:3:3:1(Campbell, 2010).
Perbandingan fenotip yang ditemukan dalam persilangan monohybrid
maupun dihibrid tidak sepenuhnya merupakan perbandingan yang pasti.
Dalam kejadian nyata terdapat penyimpangan atau deviasi. Perbandingan
hasil persilangan di dalam kenyataan berbeda atau memiliki selisih dengan
perhitungan. Maka dari itu perlu diadakan evaluasi. Cara evaluasi tersebut
adalah dengan mengadakan chi-square test(2) (Suryo, 1990).
Praktikum ini dilakukan untuk memahami persilangan dan penurunan sifat
berdasarkan hukum mendel, serta dapat menganalisis ratio perbandingan
F2 dalam kehidupan nyata dengan evaluasi chi-square test.

6. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA


a. ALAT DAN BAHAN
1. Jagung hasil persilangan dihibrid
2. Tabel distribusi uji chi square (X2)
b. CARA KERJA
1. Siapkan jagung hasil persilangan dihibrid
2. Hitunglah biji jagung berdasarkan fenotipe warna dan bentuknya (biji
ungu bulat, biji ungu keripu, biji kuning bulat dan biji kuning keriput)
3. Jumlahkan biji jagung tersebut sehingga diperoleh jumlah
keseluruhan dari biji jagung tersebut
4. Data yang didapat tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabel uji
chi square (X2)

7. HASIL PERCOBAAN
Biji jagung ungu bulat : 376
Biji jagung ungu keriput : 128
Biji jagung kuning bulat : 127
Biji jagung kuning keriput : 37
Jumlah biji jagung : 668

Warna ungu :U
Warna kuning :u
Bentuk Bulat :B
Bentuk keriput :b
Parental (P1) : UUBB ><uubb
Gamet (G) : U , Bu , b
Filial (F1) : UuBb ( Biji jagung Ungu Bulat )

Parental (P2) : UuBb >< UuBb


Gamet (G) : UB , Ub UB , Ub
uB , ub uB , ub
Filial (F2) :

UB Ub uB ub

UUBB UUBb UuBB UuBb
UB
(ungu bulat) (ungu bulat) (ungu bulat) (ungu bulat)
UUBb UUbb UuBb Uubb
Ub
(ungu bulat) (ungu keriput) (ungu bulat) (ungu keriput)
UuBB UuBb uuBB uuBb
uB
(ungu bulat) (ungu bulat) (kuning bulat) (kuning bulat)
UuBb Uubb uuBb Uubb
ub
(ungu bulat) (ungu keriput) (kuning bulat) (kuning keriput)

Rasio genotipe : (1:2:2:1:4:2:1:2:1)


Rasio fenotipe : (9 : 3 : 3 : 1)
Biji jagung ungu bulat : 9/16 x jumlah biji jagung seluruhnya
Biji jagung ungu keriput : 3/16 x jumlah biji jagung seluruhnya
Biji jagung kuning bulat : 3/16 x jumlah biji jagung seluruhnya
Biji jagung kuning keriput : 1/16 x jumlah biji jagung seluruhnya

8. ANALISIS
Ungu Ungu Kuning Kuning
Jumlah
bulat keriput bulat keriput
Observed (O) 376 128 127 37 668
Expected (E) 376 125 125 42 668
Deviation (O-E) 0 3 2 -5
Deviation2 (D2) 0 9 4 25
X2hitung D2/ E - 0,072 0,032 0,595 0,699
X2tabel = 0,05
7,82
df-3
()2
Atau langsung dengan menggunakan rumus [ ].

Jadi didapatkan hasil X2 hasil perhitungan < X2 tabel = 0,05 dan df= 3, yaitu
0,699< 7,82.
9. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini akan membahas mengenai hukum


mandel II , pada percobaan kali ini dilakukan persilangan dengan dua sifat
beda atau persilangan dihibrit. Sifat - sifat yang akan disilangkan yaitu
warna biji dan bentuk biji . pada percobaan ini sifat pertama pertama yaitu
warna ungu diberi simbol (U) karena sifatnya yang dominan dan warna
kuning yang resesif diberi simbol (u), kemudian untuk sifat kedua yaitu biji
bulat dijadikan sebagai sifat yang dominan dan diberi simbol (B) sedangkan
biji keriput sebagai sifat resesif dan diberi simbol(b).
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui kesesuaian hasil
persilangan jagung dihibrid dengan hukum mandel ke II . dalam praktikum
ini persilangan yang dilihat adalah dua sifat beda yang disebut persilangan
dihibrid . persilangan dihibrit terbentuk empat gamet yang berbeda secara
genetik dengan frekuensi sebanding akibat pasangan pasangan
kromosom non homolog berorientasi secara acak pada lempeng metaphase
meiosis pertama.
Jika dua dihibrida disilangkan akan menghasilkan 4 macam gamet dengan
frekuensi yang sama baik pada betina dan jantan . persilangan ini dapat
membuktikan kebenaran Hukum Mandel II yaitu bahwa gen gen yang
terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas
dan dihasilkan empat macam fenotipe dengan perbandingan 9:3:3:1. Rasio
ini diperoleh bila alel-alel pada kedua lokus memperlihatkan hubungan
dominan dan resesif. Bukti kebenaran hokum Mendel ke- II ini dapat juga
dengan uji silang antara F1 terhadap tetua resesif akan menghasilkan
turunan dengan perbandingan 1:1:1:1(Birawata, 2015).
Pada sampel jagung dilakukan persilangan dihibrit antara jagung
warna ungu bulat (UUBB) dengan warna jagung kuning kriput (uubb) . pada
F1 di dapatkan hasil semua biji jagung berwarna ungu bulat (UuBb), hal ini
terjadi karena warna ungu bersifat dominan terhadap warna kuning dan
pada bentuk biji bulat dominan terhadap bentuk biji kriput . hasil F1 tersebut
disilangkan dengan sesamanya dan diperoleh hasil perbandingan genotipe
pada F2 adalah 1:2:2:1:4:2:1:2:1 dan perbandingan fenotipe adalah 9:3:3:1
adalah dengan perincian 9/16 jagung dengan biji ungu bulat, 3/16 jagung
denganbiji ungu keriput, 3/16 jagung dengan biji kuning bulat dan 1/16
jagung dengan biji kuning keriput.
Didapatkan jumlah biji jagung warna ungu bulat sebanyak 376 biji, biji
jagung warna ungu keriput sebanyak 128, biji jagung warna kuning bulat
sebanyak 127 dan biji jagung warna kuning keriput sebanyak 37 biji, dengan
total jumlah biji pada jagung tersebut sebanyak 668 biji. Selanjutnya hasil
()2
pengamatan itu dianalisa dengan uji chi square dengan rumus [ ] dan

didapatkan hasil perhitungan X2 sebesar 0,699. Hasil uji ini kemudian


dibandingkan dengan nilai X2 yang terdapat dalam tabel distribusi uji chi
square dengan = 0,05 dan df = 3. Persilangan dihibrid dengan
perbandingan fenotipe 9:3:3:1 memiliki 4 kategori sehingga derajat (df= n-1),
dimana n= jumlah kategori, berarti df = 4-1 = 3.
Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan hasil bahwa X2 hasil
perhitungan kurang dari nilai X2 pada tabel distribusi uji chi square dengan
= 0,05 dan df= 3, yaitu sebesar 0,699 < 7,82 ,hal ini berarti hasil
persilangan jagung tersebut sudah sesuai dengan hukum Mendel ke- II.

10. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwahasil yang diperoleh sesuai dengan hukum Mendel ke- II karena
didapatkan nilai X2 hasil perhitungan < nilai X2 dalam tabel distribusi uji chi
square dengan = 0,05 dan df= 3 yaitu 0,699< 7,82.
DAFTAR PUSTAKA

Fransica, Cahyono. 2010. Kombinatorial Dalam Hukum Pewarisan Mendel.


Institut Teknologi Bandung.
Indarmawan, 2013. Penggunaan Uji Hipotesis Statistik X2 Dalam Penelitian
Biologi. Universitas Jenderal Soedirman.
Indrayani, Sri H. dkk. 2010. Laporan Percobaan Genetika Uji Chi Square (X2)
dan
Model Perbandingan Genetik Menurut Mendel. UPI.
Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Erlangga: Jakarta.
Anggraini,dkk. 2014. Simulasi Persilangan Dihibrida. Jurusan Biologi. UNS
Birawata, S. 2015. Genetika Tumbuhan Persilangan Dihibrid. Universitas
Jenderal Soedirman
Murdiono. 2011. Hukum Mendel II. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu