Anda di halaman 1dari 8

TRANSMIGRAI SEBAGAI BENTUK PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM

PEMBANGUNAN
BAB I
LATAR BELAKANG

Menurut data yang ada ,Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah penduduk
terpadat setelah Cina, India, Uni Soviet, dan Amerika Serikat. Penduduk Indonesia saat ini sekitasr
250 juta jiwa . Namun Dari seluruh jumlah penduduk Indoensia, 60% nya tinggal di pulau Jawa
dan Madura yang luasnya hanya 7% dari luas daerah Indonesia. Hal ini menjadikan pembangunan
di Indonesia kurang merata, karena sumber daya manusia hanya terpusat di jawa, pulau jawa
menjadi proritas dalam pembagunan karena memegang mayoritas dari suara rakyat Indonesia yang
menjadikan dana lebih dialokasikan kepada pemabngunan di pulau jawa.

Dalam hal ini pemerintah telah membuat program guna mengatasi masalah tersebut yaitu
program trasmigrasi . Trasmigrasi adalah program pemerintah denagan memindahkan penduduk
dari daerah yang padat penduduk ke daerah yang jarang penduduknya tetunya dengan ketentuan
yang telah diatur oleh pemerintah. Trasmigrasi sendiri Terbagi atas dua macam transmigrasi, yaitu
transmigrasi umum dan transmigrasI swakarsa. Transmigrasi umum adalah transmigrasi yang
biayanya ditanggung oleh pemerintah biasanya ini karena ada suatu hal yang menjadikan
seseorang harus melakukan tarsmigrasi. Sedangkan yang kedua adalah transmigrasi swakarsa
secara harfiah adalah transmigrasi yang dilaksanakan atas dorongan sendiri, dengan kemauan dan
biaya ditanggung sendiri, berpindah dari daerah asal dan menetap di daerah transmigrasi tanpa
paksaan.

Dengan mengikuti trasmigrasi ini seseorang dapat digolongkan berpasisipasi aktif dalam
pembanguan . karena telah mendukung program pemerintah dalam rangka pemerataan
pembanguan

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat di buat menjadi beberapa rumusan msalah yaitu :

1. Apa yang di maksud pembangunan ?


2. Apa yang dimaksut partisipasi dalam pembangunan ?
3. Apa yang dimaksud dengan teransmigrasi ?
4. Mengapa Trasmigrasi dapat di digongkan partisipasi pembanguan ?

BAB II

KAJIAN TEORI

Pembangunan

Kemudian menurut Galtung (dalam Trijono, 2007:3) Pembangunan merupakan upaya


untuk memenuhan kebutuhan dasar manusia, baik secara individual maupun kelompok, dengan
cara-cara yang tidak menimbulkan kerusakan, baik terhadap kehidupam sosial maupun
lingkuangan alam.

Sedangkan menurut Katz (dalam Yuwono, 2001:47) mengatakan pembangunan yang besar
dari suatu keadaan tertentu ke keadaan yang dipandang lebih bernilai.Pada umumnya tujuan-
tujuan pembangunan adalah pembinaan bangsa (national building) atau perkembangan sosial
ekonomi. Maka untuk mencapai pembangunan yang telah dicanangkan selama ini bahwa dapat
berjalan sesuai harapan bersama bahwa peningkatan kesejahteraan manusia menjadi fokus sentral
dari pembangunan dimana pelaksanaan pembangunan masyarakatlah yang menentukan tujuan,
sumber-sumber pengawasan dan pengarahan proses-proses pelaksanaan pembangunan.

Menurut Rogers (dalam Agus Suryono 2001: 132) pembangunan adalah suatu proses
perubahan sosial dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan untuk
kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya keadilan, kebebasan dan kualitas
lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol yang lebih besar yang mereka
peroleh terhadap lingkungan mereka. Adapun pembangunan sarana fisik diartikan sebagai alat atau
fasilitas yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat seperti yang dimaksud
berupa:

a. Prasarana perhubungan yaitu: jalan, jembatan dan lain-lain.

b. Prasarana pemasaran yaitu: gedung, pasar.

c. Prasarana sosial yaitu: gedung sekolah, rumah-rumah ibadah, dan puskesmas.

d. Prasarana produksi saluran air.


Partisipasi dalam pembangunan

Partisipasi sebenarnya berasal dari bahasa inggris yaitu dari kata participation yang dapat
diartikan suatu kegiatan untuk membangkitkan perasaan dan diikut sertakan atau ambil bagian
dalam kegiatan suatu organisasi. Sehubungan dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan,
partisipasi merupakan keterlibatan aktif masyarakat atau partisipasi tersebut dapat berarti
keterlibatan proses penentuan arah dari strategi kebijaksanaan pembangunan yang dilaksanakan
pemerintah.

Dalam pelaksanaan pembangunan harus ada sebuah rangsangan dari pemerintah agar masyarakat
dalam keikutsertaannya memiliki motivasi. Menurut Simatupang (dalam Yuwono, 2001:124)
memberikan beberapa rincian tentang partisipasi sebagai berikut :

a. Partisipasi berarti apa yang kita jalankan adalah bagian dari usaha bersama yang dijalankan
bahu-membahu dengan saudara kita sebangsa dan setanah air untuk membangun masa
depan bersama.
b. Partisipasi berarti pula sebagai kerja untuk mencapai tujuan bersama diantara semua warga
negara yang mempunyai latar belakang kepercayaan yang beraneka ragam dalam negara
pancasila kita, atau dasar hak dan kewajiban yang sama untuk memberikan sumbangan
demi terbinanya masa depan yang baru dari bangsa kita.
c. Partisipasi tidak hanya berarti mengambil bagian dalam pelaksanaan-pelaksanaan,
perencanaan pembangunan. Partisipasi berarti memberikan sumbangan agar dalam
pengertian kita mengenai pembangunan kita nilai-nilai kemanusiaan dan cita-cita
mengenai keadilan sosial tetap dijunjung tinggi.
d. Partisipasi dalam pembangunan berarti mendorong ke arah pembangunan yang serasi
dengan martabat manusia. Keadilan sosial dan keadilan Nasional dan yang memelihara
alam sebagai lingkungan hidup manusia juga untuk generasi yang akan datang.

Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat penerima program dalam pembangunan
menurut Cohen dan Uphoff (dalam Supriatna, 2000:61-63) yaitu:
1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan

Setiap penyelenggaraan, terutama dalam kehidupan bersama masyarakat pasti melewati tahap
penentuan kebijaksanaan. Dalam rumusan yang lain adalah menyangkut pembuatan keputusan
politik. Partisipasi masyarakat pada tahap ini sangat besar sekali, terutama karena putusan politik
yang diambil menyangkut nasib mereka secara keseluruhan. Semakin besar kemampuan untuk
menentukan nasib sendiri, semakin besar partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Pengambilan keputusan program pembangunan harus dilaksanakan keterlibatan masyarakat dalam
pengambilan keputusan sangat penting oleh Korten (dalam Supriatna, 2000:61) bahwa walaupun
dalam tahap pertama usaha pembangunan dengan titik berat pada pengerahan dana dan daya orang
kebanyakan bersedia menerima pengambilan keputusan yang terpusat pada satu titik ia
menghendaki diikutsertakan dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi
perikehidupannya dan perikehidupan anggota keluarga setempat.

2. Partisipasi dalam Pelaksanaan

Partisipasi ini merupakan tindak lanjut dari tahap pertama di atas. Dalam hal ini Uphoff
menegaskan bahwa partisipasi dalam pembangunan ini dapat dilakukan melalui keikutsertaan
masyarakat dalam memberikan kontribusi guna menunjang pelaksanaan pembangunan yang
berwujud tenaga, uang, barang, material, ataupun informasi yang berguna bagi pelaksanaan
pembangunan.

3. Partisipasi dalam memanfaatkan hasil

Setiap usaha bersama manusia dalam pembangunan misalnya bagaimanapun ditunjukkan untuk
kepentingan dan kesejahteraan bersama anggota masyarakatnya. Oleh sebab itu, anggota
masyarakat berhak untuk berpartisipasi dalam menikmati setiap usaha bersama yang ada.

Partisipasi dalam menikmati hasil dapat dilihat dari tiga segi yaitu dari aspek manfaat materialnya
(material benefits), manfaat sosialnya (social benefits) dan manfaat pribadi (personal benefits ).

4. Partisipasi dalam Evaluasi

Sudah umum diketahui bahwa setiap penyelenggaraan apapun dalam kehidupan bersama, hanya
dapat dilihat berhasil apabila dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Untuk mengetahui hal
ini sudah sepantasnya masyarakat diberi kesempatan menilai hasil yang telah dicapai. Demikian
pula dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, masyarakat dapat dijadikan sebagai hakim yang
adil dan jujur dalam menilai hasil yang ada.

Transmigrasi

Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan


kesejahteraan dan menetap di kawasan transmigrasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah. (PP
NOMOR 3 TAHUN 2014)

Transmigrasi (dari bahasa Belanda: transmigratie) adalah suatu program yang dibuat oleh
pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk
(kota) ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia. Penduduk yang melakukan transmigrasi
disebut transmigran.( id.wikipedia.org)

Menurut PP Nomor 3 Tahun 2014 trasmigrasi terbagi ke dalam 3 jenis yaitu :

1. Transmigrasi Umum yang selanjutnya disingkat TU adalah jenis Transmigrasi yang


dilaksanakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi penduduk yang mengalami
keterbatasan dalam mendapatkan peluang kerja dan usaha.
2. Transmigrasi Swakarsa Berbantuan yang selanjutnya disingkat TSB adalah jenis
Transmigrasi yang dirancang oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan
mengikutsertakan badan usaha sebagai mitra usaha Transmigran bagi penduduk yang
berpotensi berkembang untuk maju.
3. Transmigrasi Swakarsa Mandiri yang selanjutnya disingkat TSM adalah jenis
Transmigrasi yang merupakan prakarsa Transmigran yang bersangkutan atas arahan,
layanan, dan bantuan Pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi penduduk yang telah
memiliki kemampuan
BAB III

PEMBAHSAN

Di indoneisa pembanguan yang terjadi sangatlah tidak merata. Pembangunan di Indonesia


masih terpusat di pulau jawa. Roda ekonomi di Jawa dan Sumatra masih terlalu dominan
kontribusinya kepada kue ekonomi nasional. Sementara, roda ekonomi di Kalimantan, Sulawesi,
Papua, dan Nusa Tenggara masih terlalu lamban untuk mengimbangi. Hal ini terlihat dari tabel
yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam jumpa pers Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Selasa
(5/5).( http://www.republika.co.id/)

Hal ini memmuculkan sebuah pandangan Hidup di Jawa Selalu Lebih Enak Hal ini
memang tidak 100% benar ,tetepi memeng dilihat dari beberapa sisi pemebangunan infrasktur
masih terpusat di pulau Sumatra dan jawa (Khususnya pulau jawa). Pembangunan dan
infrasrtuktur mungkin hampir serupa, tapi kali ini coba kita lebih kerucutkan. Di Jawa memang
tersebar berbagai infrastruktur handal dan modern. Mulai dari kampus-kampus, fasilitas kesehtan
seperti rumah sakit, jalan-jalan, serta sarana transportasi lain. Bahkan baru-baru ini pemerintah
juga tengah getol membangun jalur kereta cepat di Jakarta.

Jawa begitu hebat soal infrastruktur, namun tidak begitu di daerah lain. Tak usah bicara
yang muluk-muluk, di sana memang serba minim untuk segala sesuatunya. Memang ada beberapa
kampus atau mall yang ada di pualu selain jwa, namun jika dibandingkan dengan Jawa tentu saja
masih kalah jauh. Berita pembangunan kereta cepat itu seolah makin menunjukkan ketimpangan
yang besar. Padahal di pelosok-pelosok masih ada yang belum kecipratan listrik hingga hari ini.
Salah satu penyebab dari fenomena ini dalah kareana penduduk masih terpusat di pulu jawa yang
karena mayoritas penduduk Indonesia ada yang menjadikan dana pemerintah lebih dipusatkan
untuk membangun infrastruktur di pulau jawa, bisa di bilang bahwa pembanguan di pulau jawa
dapat mengabarkan pertumbuhan Indonesia .
GRAFIK PERSEBARAN PENDUDUK

Dari grafik ini dapat dilihat hampir 60% penduduk penduduk indonesia masih terpusat di jawa
yang luasnya hanya 7% dari luas daerah Indonesia, berikut ini dampak dari pesebaran penduduk
yang tidak merata :

Aspek Sosial

Secara sosial daerah yang penduduknya banyak sering terjadi masalah sosial misalnya :
Pemukiman kumuh, kemiskinan tingginya tingkat kriminaliatas dan lain-lain
Sedangkan daerah yang penduduknya rendah penduduknya cenderung terisolir atau
tertutup dari dunia luar sehingga kurang bisa berkomunikasi dengan dunia luar dan tidak
bisa mengembangkan potensi mereka.

Aspek ekonomi

Secara ekonomi jika sebaran penduduk yang tidak merata maka akan menimbulkan
terpusatnya kegiatan ekonomi pada daerah tertentu saja, misalnya kalau di Indonesia ,
Pulau Jawa menjadi pusat ekonomi karena penduduknya paling padat, sedangkan daerah
lain tidak bisa berkembang karena penduduknya sedikit.
Selain itu jika suatu daerah terlalu padat maka akan menyebabkan terjadinya masalah
ekonomi, misalnya pengangguran dan rendahnya tingkat pendapatan.
Budaya

Jika penduduk tidak merata maka upaya untuk melestarikan budaya hanya terpusat pada daerah
tertentu saja.

Selain itu akan memperlambat terjadinya akulturasi dan asimiliasi antar budaya di Indonesia,
padahal kalau akulturasi dan asimiliasi antar budaya itu bisa dipercepat maka akan memperkuat
persatuan dan kesatuan bangsa

Politik

Secara politik akan menimbulkan sistem politik yang tidak seimbang: misalnya Jawa mempunyai
wakil rakyat di DPR ebih banyak dari pada daerah lain, padahal dari seperti kalimantan, Sulawesi,
Papua dan Sumatera lebih luas daripada Jawa. Jadi keterwakilan di DPR ini bisa terjadi
ketimpangan yang menjadikan kurang terwakilinya aspirasi dari daerah selain jawa akibatnya
banyak yg tidak puas dengan pemerintah