Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tujuan utama perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai

perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para

pemegang saham. Nilai perusahaan mencerminkan kinerja perusahaan

yang dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap perusahaan.

Sujoko dan Soebiantoro, (2007) menyebutkan bahwa nilai perusahaan

merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan

yang sering dikaitkan dengan harga saham. Nilai perusahaan yang tinggi

akan memiliki dampak terhadap kemakmuran bagi para pemegang

saham, sehingga para pemegang saham menginvestasikan modalnya ke

perusahaan tersebut (Haruman, 2008).

Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur dengan beberapa

aspek, salah satu ukuran yang digunakan dalam menilai perusahaan

adalah menggunakan rasio Tobins Q. Rasio Tobins Q merupakan salah

satu alternative pengukuran kinerja perusahaan yang dapat digunakan

dengan menggabungkan antara nilai buku dan nilai pasar ekuitas. Rasio

ini diukur dari nilai pasar ekuitas ditambah nilai buku total kewajiban

kemudian dibagi dengan nilai buku total asset (Hariati dan Rihatiningtyas,

2015).

Perusahaan manufaktur merupakan salah satu industri yang

memiliki prospek yang bagus dan menjanjikan untuk masa yang akan

1
datang. Dengan prospek bisnis yang menjanjikan maka akan menjadi

daya tarik bagi para investor untuk investasi pada perusahaan tersebut.

Industry manufaktur juga merupakan industry yang mendominasi

perusahaan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Banyaknya jumlah perusahaan yang tegabung dalam industry manufaktur

ini memicu terjadinya persaingan yang ketat antar perusahaan.

Persaingan ini terlihat dari upaya perusahaan manufaktur dalam

meningkatkan kinerja perusahaan agar tujuan perusahaan dapat dicapai

yaitu untuk meningkatkan nilai perusahaan. Dengan kata lain perusahaan

tersebut bersaing untuk mencapai nilai perusahaan yang bagus dengan

tujuan untuk menarik para investor agar berinvestasi pada perusahaan

tersebut, akan tetapi pada faktanya tidak semua perusahaan manufaktur

yang berhasil dalam meningkatkan nilai perusahaannya. Berikut ini

merupakan sample nilai perusahaan manufaktur yang diukur

menggunakan rasio tobin Q tahun 2010-2015.

2
Sumber : Data Sakunder yang diolah, 2017

Gambar 1.1 : Sample Nilai perusahaan Manufaktur 2010-2015


Pada gambar 1.1 menunjukan bahwa nilai perusahaan manufaktur

mengalami fluktuasi yang sangat bervariasi disetiap tahunnya akan tetapi

apabila diperhatikan lebih lanjut terdapat pada tahun 2015 semua nilai

perusahaan pada gambar diatas mengalami penurunan dari tahun

sebelumnya.

Pada sampel perusahaan yang berkode SIAP (PT. Sekawan

Inipritama Tbk.) pada tahun 2010 mengalami peningkatan sampai tahun

2014 dari 0,68 menjadi 1,45. Pada tahun 2015 nilai perusahaan yang

berkode SIAP ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya menjadi

0,96 Salah satu penyebab turunnya nilai perusahaan pada perusahaan

yang berkode SIAP ini adalah adanya pengenaan suspensi atau

penghentian sementara aktivitas perdagangan efek di bursa efek yang

dilakukan oleh BEI atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan

tahun 2015 dan pengenaan denda sebesar 50 juta. Hal ini menyebabkan

3
harga saham perusahaan tersebut menurun dan berdampak pada

menurunnya nilai perusahaan.

Selanjutnya pada perusahaan yang berkode ADMG (PT Polychem

Indonesia Tbk), nilai perusahaan pada tahun 2010 sampai dengan tahun

2011 mengalami peningkatan dari 0,70 menjadi 0,92. Selanjut sampai

pada tahun 2015 nilai perusahaan yang berkode ADMG ini mengalami

penurunan pada 4 Tahun terkahir. Penyebab turunnya nilai perusahaan ini

disebabkan oleh buruknya kinerja perusahaan tersebut. Pada tahun 2012

2013 PT Polychem Indonesia Tbk mengalami penurunan laba dari Rp

81,237 milliar menjadi Rp. 23,673 milliar.-, selajutnya pada tahun 2014

dan 2015 perusahaan tersebut mengalami kerugian masing masing Rp.

307,259 milliar.- dan Rp. 345,131 milliar. Selain buruknya kinerja

perusahaan berkode ADMG ini, perusahaan ini juga terkena suspensi dan

denda sebesar Rp. 50 juta oleh pihak BEI pada tahun 2014 yang

disebabkan oleh keterlambatan penyampaian laporan keuangan tahun

2013.

Begitu juga dengan perusahaan yang berkode INDS (Indospring

Tbk) pada tahun 2010 sampai 2011 mengalami penurunan nilai

perusahaan dari 0,78 menjadi 0,74. Selanjutnya pada tahun 2012 nilai

perusahaan meningkat menjadi 0,79. Dari tahun 2012 Sampai dengan

tahun 2015 tersebut nilai perusahaan INDS ini mengalami penurunan dari

0,79 menjadi 0,34. Penurunan nilai perusahaan ini juga disebabkan oleh

turunnya laba yang diproleh oleh perusahaan INDS ini tiga tahun terakhir.

4
Sehingga menyebabkan harga saham turun dan berdampak pada

turunnya nilai perusahaan.

Selanjutnya perusahaan yang berkode TRST (Trias Sentosa Tbk.)

dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 nilai perusahaan pada PT.

Trias Sentosa Tbk mengalami fluktuasi atau naik turun, akan tetapi pada

tahun 2015 perusahaan ini juga mengalami penurunan nilai perusahaan

menjadi 0,68. Turunnya nilai perusahaan ini juga disebabkan oleh

menurunnya laba tahun berjalan tahun 2015 sebesar 16,3 % lebih rendah

dibandingkan laba tahun berjalan pada tahun 2014. Hal ini berdampak

pada turunnya harga penutupan saham perusahaan dari harga 380 pada

tahun 2014 menjadi 310 pada tahun 2015, ssehingga menyebabkan nilai

perusahaan menjadi turun.

Rata-rata nilai perusahaan pada perusahaan sample diatas

memiliki nilai dibawah satu. Hal ini disebabkan oleh perusahaan tersebut

memiliki kinerja kurang baik pada tahun tersebut sehingga mempengaruhi

harga saham dan berdampak pada rendahnya nilai perusahaan.

Ferdawati (2009) menyebutkan apablila rasio Tobins Q berada dibawah

nilai 1 maka investasi dalam asset dinilai rendah oleh pasar. Hal ini akan

menyebabkan investor enggan untuk melakukan investasi pada

perusahaan tersebut.

Peningkatan nilai perusahaan dapat tercapai apabila terdapat kerja

sama antara manajemen perusahaan dengan pihak lain yang meliputi

shareholder dan stakeholder dalam membuat keputusan-keputusan

keuangan dengan tujuan memaksimumkan modal kerja yang dimiliki.

5
Apabila tindakan antara manajer dengan pihak lain tersebut berjalan

sesuai, maka masalah diantara kedua pihak tersebut tidak akan terjadi.

Dalam kenyataanya penyatuan kepentingan kedua pihak tersebut sering

kali menimbulkan masalah. Adanya masalah diantara manajer dan

pemegang saham disebut masalah agensi (agency problem) (Siahaan,

2013).

Berdasarkan teori keagenan, permasalahan tersebut dapat diatasi

dengan adanya tata kelola perusahaan yang baik (Good corporate

governance). Mekanisme corporate governance memiliki kemampuan

pengendalian yang dapat mensejajarkan perbedaan kepentingan antara

prinsipal dan agent, sehingga dapat menghasilkan suatu laporan

keuangan yang memiliki kandungan informasi laba yang berkualitas.

Corporate governance yang mengandung lima unsur penting yaitu

transparency, accountability, responsibility, independency dan fairness,

diharapkan dapat menjadi suatu jalan dalam mengurangi konflik keagenan

serta nilai perusahaan akan dapat dinilai dengan baik oleh investor.

Isu corporate governance semakin berkembang ketika terjadi krisis

Keuangan Asia pada tahun1997,dilanjut dengan kejatuhan perusahaan

besar seperti Enron dan Worldcom tahun 2002, serta adanya isu terbaru

yaitu krisis sub prime mortgage di Amerika Serikat pada tahun 2008. Krisis

keuangan dunia tersebut telah berimbas ke perekonomian Indonesia

sebagaimana tercermin dari gejolak di pasar modal dan pasar uang.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada bulan Desember 2008

ditutup pada level 1.355,4, terpangkas hampir separuhnya dari level pada

6
awal tahun 2008 sebesar 2.627,3, bersamaan dengan jatuhnya nilai

kapitalisasi pasar dan penurunan tajam volume perdagangan saham

(Lasdi, dkk 2015). Hal ini akan mempengaruhi nilai perusahaan karena

nilai perusahaan itu sendiri diukur melalui harga saham perusahaan di

pasar modal.

Sedangkan di Indonesia terdapat kasus PT Kimia Farma Tbk yang

merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang terindikasi melakukan

manipulasi berupa oversated dalam menilai persediaan barang jadi serta

overstated dalam mencatat nilai penjualan. Fenomena ini mengakibatkan

overstated laba pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember

2001 (Bapepam, 2002). Nasution dan Setiawan (2007) menyebutkan

bahwa salah satu penyebab terjadinya kasus manipulasi keuangan

tersebut adalah kurangnya penerapan corporate governance dalam suatu

perusahaan.

Peristiwa-peristiwa tersebut menyadarkan dunia akan pentingnya

penerapan good corporate governance. Hal ini memberitahukan kepada

kita bahwa kurang efektifnya penerapan good corporate governance

dalam suatu perusahaan.

Corporate governance (CG) secara umum adalah seperangkat

mekanisme yang saling menyeimbangkan antara tindakan maupun pilihan

manajer dengan kepentingan shareholders (Susanti, 2011). Ada beberapa

mekanisme yang sering dipakai dalam berbagai penelitian mengenai good

corporate governance diantaranya kepemilikan institusional, kepemilikan

7
manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan komite audit (Sari

dan Ridwan, 2013).

Kepemilikan manajerial diartikan sebagai persentase kepemilikan

saham yang dimiliki oleh manajer dalam suatu perusahaan (Boediono,

2005). Menurut teori keagenan, kepemilikan saham manajerial mendorong

manajer untuk meningkatkan nilai perusahaan, karena manajer

menanggung proporsi efek kekayaan sebagai pemegang saham.

Akibatnya, kepemilikan saham oleh manajemen dapat menyebabkan

konvergensi kepentingan antara manajer dengan pemegang saham.

Sebagai konsekuensinya, semakin meningkatnya kepemilikan saham

manajerial maka insentif untuk melakukan manajemen laba akan menurun

(Alves, 2012). Muryati dan Suardikha (2014) menyatakan bahwa

kepemilikan manajerial berpangaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Kepemilikan saham oleh pihak manajemen yang tinggi dapat menyatukan

kepentingan manajer dengan pemegang saham sehingga berdampak

positif pada peningkatan nilai perusahaan.

Komponen corporate governance yang dapat mempengaruhi nilai

perusahaan selanjutnya adalah kepemilikan oleh pihak institusional.

Kepemilikan institusional merupakan persentasi saham yang dimiliki oleh

pihak isntitusi seperti perusahaan asuransi, perusahaan investasi dan

bank (Tarjo, 2008). Menurut Jensen dan Meckling (1976), salah satu

metode untuk meminimalkan masalah keagenan adalah dengan

kepemilikan saham yang besar, dimana mayortitas pemegang saham

dapat melakukan kontrol dan fungsi monitoring terhadap manajemen.

8
Kepemilikan saham yang besar ini biasanya identik dengan kepemilikan

institusional yang merupakan salah satu mekanisme eksternal good

corporate governance yang efektif dan sangat penting. Kelompok investor

institusional memiliki posisi untuk mempengaruhi praktek bisnis yang

diadopsi perusahaan dan kehadiran mereka dapat menyebabkan

perubahan perilaku dalam perusahaan. Hal ini akibat dari pengawasan

yang lebih efektif yang dilakukan oleh investor insitusional (Velury and

Jenkins, 2006).

Muryati dan Suardikha (2014) menyatakan bahwa kepemilikan

saham oleh pihak institusi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Kepemilikan saham oleh pihak institusional mampu menjadi mekanisme

pemantauan yang efektif terhadap kinerja manajemen yang pada akhirnya

akan meningkatkan nilai perusahaan. Thanatawee (2014) menyatakan

bahwa dengan besarnya kepemilikan saham institusional, investor

institusional memiliki insentif yang kuat untuk memantau perilaku manajer

dalam menjalankan perusahaan serta memberikan peran pengawasan

yang efektif, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan

Mekanisme corporate governance yang sering digunakan dalam

penelitian yang berhubungan dengan nilai perusahaan selanjutnya adalah

komisaris independen. Komisaris independen merupakan posisi terbaik

untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang

GCG. Komisaris independen adalah komisaris yang bukan merupakan

anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan

kata lain berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang

9
saham mayoritas suatu perusahaan yang mengawasi pengelolahan

perusahaan (Surya dan Yustifandana, 2006). Dewan komisaris adalah inti

dari CG yang bertugas untuk menjamin strategi perusahaan, melakukan

pengawasan terhadap manajer, serta mewajibkan terlaksananya

akuntabilitas dalam perusahaan (Purwaningtyas dan Pengestuti, 2011).

Muryati dan Suardikha (2014) menyebutkan bahwa dewan

komisaris independen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Adanya dewan komisaris independen dalam perusahaan dapat

memberikan kontribusi yang efektif dalam proses penyusunan laporan

keuangan yang lebih berkualitas.

Selain adanya dewan komisaris, peranan komite audit juga

diperlukan untuk lebih meningkatkan kualitas informasi yang terdapat

dalam laporan keuangan perusahaan sesuai dengan tugas-tugasnya.

Wulandari (2011) menyebutkan bahwa fungsi utama komite audit ini

adalah mereview pengendalian internal perusahaan, memastikan kualitas

laporan keuangan, dan meningkatkan efektivitas fungsi audit. Rachmawati

dan Triatmoko (2007) menyebutkan bahwa dengan berjalannya fungsi

komite audit secara efektif, maka control terhadap perusahaan akan lebih

baik sehingga konflik keagenan yang terjadi akibat dari keinginan

manajemen untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri dapat

diminimalisir.

Rapilu (2011) menyebutkan bahwa komite audit berpengaruh positif

signifikan terhadap nilai perusahaan, artinya keberadaan komite audit

sebagai mekanisme pengendalian dalam penyusunan laporan laba

10
memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan. Chan dan Li (2008)

menyimpulkan bahwa komite audit independen (yang memiliki setidaknya

50% ahli atau direktur independen dalam komposisi komite audit

perusahaan) mempunyai dampak positif terhadap kinerja/nilai perusahaan

yang diukur dengan Tobins Q. Hal ini dapat diartikan bahwa keberadaan

komite audit independen dalam perusahaan dapat mengurangi masalah

keagenan.

Tingkat laba yang tinggi akan membuat para investor tertarik untuk

melakukan investasi pada perusahaan tersebut. Akan tetapi apakah laba

yang dilaporkan didalam laporan keuangan tersebut benar dari kegiatan

operasi perusahaan atau hasil dari tindakan manajemen laba yang

dilakukan oleh perusahaan. Salah satu cara yang dilakukan manajemen

dalam proses penyusunan laporan keuangan yang dapat mempengaruhi

tingkat laba yang ditampilkan adalah melalui earning management yang

diharapkan dapat meningkatkan nilai persuhaan pada saat tertentu

(Pinayungan, 2015).

Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajer akan

menyebabkan kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan

akan menurun, sehingga menyebabkan pemakai laporan keuangan salah

dalam membuat keputusan investasi dan pada akhir akan menyebabkan

nilai perusahaan menjadi menurun (Siallagan dan Machfoed, 2006).

Menurut Scott (2006) manajemen laba jika dilihat secara prinsip

memang tidak menyalahi prinsip akuntansi yang berterima umum, namun

manajemen laba dinilai dapat menurunkan kepercayaan masyarakat

11
terhadap perusahaan. Dengan semakin menurunnya kepercayaan

masyarakat, maka hal ini dapat menurunkan nilai perusahaan karena

banyak investor yang akan menarik kembali investasi yang telah mereka

tanamkan. Praktek manajemen laba dinilai merugikan karena dapat

menurunkan nilai laporan keuangan dan memberikan informasi yang tidak

relevan bagi investor.

Penelitian yang berkaitan dengan mekanisme corporate

governance, manajemen laba dan nilai perusahaan telah dilakukan oleh

beberapa peneliti sebelumnya, akan tetapi masih terdapat perbedaan

hasil penelitian dari satu peneliti dengan peneliti lainnya mengenai

pengaruh mekanisme corporate governance terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba sebagai intervening.

Nasser (2008) menguji pengaruh struktur kepemilikan dan

corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba

dan kebijakan hutang sebagai variabel intervening, menyimpulkan bahwa

manajemen laba merupakan variable intervening pada hubungan struktur

kepemilikan dan dewan komisaris terhadap nilai perusahaan.

Achyani, dkk, dkk (2015) menemukan bahwa manajemen laba

memediasi pengaruh mekanisme corporate governance dalam hal ini

berfocus pada komite audit terhadap nilai perusahaan. Artinya corporate

governance mampu meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi

tindakan manajemen laba melalui pengawasan yang dilakukan oleh

komite audit.

12
Sedangkan Kusumadevie (2013), Zurriah (2016) dan Pinayungan

(2015) menyatakan bahwa manajemen laba bukanlah variable intervening

pada pengaruh mekanisme good corporate governance terhadap nilai

perusahaan. Artinya mekanisme corporate governance tidak

mempengaruhi nilai perusahaan dengan mengurangi tindakan manajemen

laba yang dilakukan oleh pihak manajerial.

Pinayungan (2015) melakukan penelitian pada perusahaan

manufaktur tahun 2010-2013, menyimpulkan bahwa manajemen laba

tidak memediasi pengaruh mekanisme corporate governance dalam hal ini

kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dewan komsaris dan

komite audit terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan penlitian-penelitian sebelumnya mengenai pengaruh

mekanisme corporate governance dalam hal ini kepemilikan institusional,

kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen dan komite audit

terhadap nilai perusahaan dan manajemen laba sebagai variable

intervening masih banyak terdapat perbedaan hasil penelitian antara satu

peneliti dengan peneliti yang lain. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk

menguji kembali pengaruh mekanisme corporate governance terhadap

nilai peruahaan dengan manajemen laba sebagai variable intervening.

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang

dilakukan oleh Achyani, dkk (2015). Peneliti akan menguji pengaruh

mekanisme corporate governance dalam hal ini kepemilikan manajerial,

kepemilikan institusional, dewan komisaris independen dan komite audit

terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variable

13
intervening. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya adalah sebagai berikut :

a. Pada penelitian ini peneliti menggunakan variable kepemilikan

institusional, kepemilikan manjerial, dewan komisaris independen

dan komite audit pada variable independennya sebagai mekanisme

dari corporate governance. Sedangkan pada penelitian Ahcyani

(2015) variable independen yang digunakan adalah berfocus pada

komite audit yaitu dengan melihat independensi komite audit,

kompetensi komite audit dan jumlah pertemuan komite audit dalam

1 tahun.
b. Periode pengamatan yang pada penelitian yang dilakukan Achyani,

dkk (2015) adalah tahun 2006 2007, sedangkan pada penelitian

ini menggunakan periode pengamatan yang lebih panjang yaitu

pada tahun 2010 2015.


c. Alat ukur yang digunakan pada variabel intervening yaitu

manajemen laba. Pada penelitian Achyani menggunakan alat ukur

Model Nelson et, al (2000). Sedangkan pada penelitian ini

menggunakan model Jhones yang dimodifikasi untuk menghitung

manajemen labanya.
d. Analisis yang digunakan pada penelitian Achyani menggunakan

analysis regresi sederhana dan berganda. Sedangkan pada

penelitian ini menggunakan Analisis PLS dengan Aplikasi

WarpPLS.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti

mengambil judul : Pengaruh Mekanisme Corporate Governance

14
Terhadap Nilai Perusahaan dengan Manajemen Laba Sebagai

variabel Mediasi (Studi Pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2015)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasaran uarian latar belakang masalah, rumusan masalah yang

diajukan pada penelitian ini adalah

a. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan?
b. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai

perusahaan?
c. Apakah dewan komisaris independen berpengaruh terhadap nilai

perusahaan?
d. Apakah komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan?
e. Apakah Manajemen laba memediasi hubungan antara

kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan?


f. Apakah Manajemen laba memediasi hubungan kepemilikan

institusional terhadap nilai perusahaan?


g. Apakah Manajemen Laba Memediasi hubungan Dewan

Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaan?


h. Apakah Manajemen Laba Memediasi hubungan Dewan Komite

Audit Terhadap Nilai Perusahaan?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian tentang Pengaruh Mekanisme Coporate Governance

terhadap Nilai Peusahaan dengan Manajemen Laba Sebagai variabel

intervening ini memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai

perusahaan.

15
b. Untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai

perusahaan.
c. Untuk menguji pengaruh dewan komisaris independen terhadap

nilai perusahaan.
d. Untuk menguji pengaruh komite audit terhadap nilai perusahaan
e. Untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai

perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi.


f. Untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai

perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi.


g. Untuk menguji pengaruh dewan komisaris Independen terhadap

nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel

mediasi.
h. Untuk menguji pengaruh komite audit terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut:

a. Bagi penulis dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan dan

lebih memahami mengenai praktek corporate governance,

earning management dan niliai perusahaan.


b. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan

referensi tambahan dan pembanding untuk penelitian

selanjutnya dengan menggunakan topik yang sama atau variabel

dependen yang saham.


c. Bagi manajemen perusahaan, sebagai masukkan bagi
manajemen perusahaan tentang praktek penerapan mekanisme
coorporate governance terhadap nilai perusahaan melalui
manajemen laba.

16
1.5. Sistematika Penulisan

untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai bagian-

bagian yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka penulis

menguraikan secara singkat isi masing-masing bab dengan

sistematika sebagai berikut:


BAB I : Pendahuluan
Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan

tentang hal-hal pokok dalam penelitian yang meliputi: latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Bab ini akan diuraikan teori-teori yang melandasi

penelitian ini.
BAB III : Metodologi Penelitian
Bab ini menjelaskan metode-metode penelitian yang

digunakan dalam penulisan penelitian, meliputi :


populasi dan sampel, jenis dan sumber data, teknik

pengumpulan data, definisi operasional variabel, metode

analisis data dan pengujian hipotesis

17
18