Anda di halaman 1dari 8

DARWINISME TERBANTAHKAN

DOWNLOAD BUKU

Daftar Semua Buku

Download (DOC)
Komentar

BAB BUKU
<<

CONTENTS / ERK

Biologi Molekuler Dan Asal Usul KehidupanSebuah Contoh Cara Berpikir "Kebetulan"Struktur
Dan Sistem-Sistem Rumit Di Dalam Sel Masalah Asal Usul ProteinProtein-Protein Tangan
KiriKeharusan Ikatan PeptidaAdakah Mekanisme Coba-Coba Di Alam?The Evolutionary
Argument about the Origin of LifePercobaan MillerEmpat Fakta Yang Membantah Percobaan
MillerAtmosfer Purba Dan ProteinMasalah Sintesis Protein di dalam AirPercobaan FoxAsal
Usul Molekul DNADNA Tidak Bisa Dijelaskan Dengan Selain Rancangan Ketaksahihan Dunia
RNABisakah Rancangan Dijelaskan dengan Kebetulan?Catatan Kaki
9 / total: 19
Kembali
|
Teruskan>>

Biologi Molekuler Dan Asal Usul Kehidupan


Pada bab-bab sebelumnya, kami telah menunjukkan bagaimana catatan fosil membantah teori
evolusi. Sebenarnya, tak perlu kami bercerita apa-apa soal fosil, sebab teori evolusi telah lama
runtuh sebelum orang sampai ke pernyataan apa pun tentang petunjuk fosil. Perihal yang sedari
awal menjadikan teori ini tidak bermakna adalah masalah cara kehidupan kali pertama muncul di
muka bumi.

Ketika membahas masalah ini, teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan berawal dari sebuah
sel yang terbentuk secara kebetulan. Menurut skenario ini, empat miliar tahun yang lalu,
berbagai macam senyawa kimia mengalami suatu reaksi di dalam atmosfer purba di bumi saat
kekuatan petir dan tekanan atmosfer mendorong terbentuknya sel hidup pertama.

Hal pertama yang mesti dikatakan adalah pernyataan bahwa zat-zat mati bisa bergabung
membentuk kehidupan sungguh sebuah pernyataan yang tak ilmiah, yang tak didukung oleh satu
pun percobaan atau pengamatan. Kehidupan hanya bangkit dari kehidupan. Setiap sel hidup
terbentuk dari penggandaan sel hidup lainnya. Tak seorang pun di dunia ini pernah berhasil
membuat sebuah sel hidup dengan menggabungkan zat-zat mati, bahkan di laboratorium
tercanggih sekalipun.

Teori evolusi menyatakan bahwa sebuah sel hidupyang tak bisa dihasilkan bahkan dengan
menyatukan segenap daya kecerdasan, ilmu pengetahuan, dan teknologi manusiabagaimana
juga berhasil dibentuk secara kebetulan di dalam lingkungan purba di bumi. Pada halaman-
halaman berikut, kita akan menelaah mengapa pernyataan ini bertentangan dengan azas-azas
paling dasar dari ilmu pengetahuan dan nalar.

Sebuah Contoh Cara Berpikir "Kebetulan"


Jika orang meyakini bahwa sebuah sel hidup bisa mewujud secara kebetulan, maka tidak ada
yang menghalanginya dari memercayai cerita serupa yang akan kami uraikan berikut ini. Ini
kisah sebuah kota.

Suatu hari, sebongkah tanah liat, yang terhimpit di antara bebatuan di sebidang lahan tandus,
menjadi basah sehabis hari hujan. Tanah liat basah itu mengering dan mengeras ketika matahari
bersinar, dan menjadi berbentuk kaku dan ulet. Setelah itu, bebatuan, yang juga bertindak
sebagai cetakan, dengan suatu cara hancur berkeping-keping, dan lalu sebiji batu bata yang rapi,
bagus bentuknya, dan kuat, muncul. Dalam keadaan alamiah yang sama, batu bata ini menunggu
selama bertahun-tahun demi terbentuknya batu bata lain yang serupa. Ini terus berlanjut hingga
ratusan bahkan ribuan batu bata terbentuk di lahan itu. Akan tetapi, secara kebetulan, tak satu
pun batu bata yang sudah terbentuk rusak. Meskipun terpapar badai, hujan, angin, matahari yang
membakar, dan dingin yang mencekam selama ribuan tahun, batu-batu bata ini tidak retak,
pecah, atau tergeser, tetapi terus menunggu di tempat yang sama dengan ketabahan yang sama
demi terbentuknya batu bata berikutnya.

Ketika jumlahnya telah mencukupi, batu-batu bata mendirikan sebuah gedung dengan saling
menyusun diri ke samping dan ke atas, akibat terseret secara acak oleh kekuatan-kekuatan alam
seperti angin, badai, atau tornado. Sementara itu, bahan-bahan seperti semen atau campuran
tanah terbentuk di dalam "keadaan alamiah," pada waktu yang tepat, dan menyelusup di antara
batu-batu bata, lalu merekatkan batu-batu itu. Selagi semua ini berlangsung, bijih besi di bawah
tanah terbentuk di dalam "keadaan alamiah" dan meletakkan pondasi bagi gedung yang akan
dibangun batu-batu bata itu. Pada tahap akhir proses ini, sebuah gedung yang utuh berdiri beserta
segenap bahan-bahan, kusen-kusen kayu, dan perangkat-perangkatnya.

Pada masa Darwin, telah terpikir bahwa sel mempunyai struktur yang sangat sederhana.
Pendukung kuat Darwin, Ernst Haeckel mengusulkan bahwa lumpur yang diangkat dari dasar
laut pada gambar kanan dapat menghasilkan kehidupan dengan sendirinya.

Tentu saja, sebuah gedung tak hanya terdiri dari pondasi, batu bata, dan semen. Lalu,
bagaimanakah bahan-bahan yang belum ada harus diperoleh? Jawabannya sederhana: pelbagai
bahan yang dibutuhkan bagi pembangunan gedung ada di dalam bumi di tempatnya didirikan.
Silikon untuk kaca, tembaga untuk kabel listrik, besi untuk pilar, tiang, pipa air, dan lain-lain.
Semua ada di bawah tanah dengan jumlah yang melimpah. Hanya diperlukan keterampilan sang
"keadaan alamiah" untuk membentuk dan menempatkan bahan-bahan ini di dalam gedung.
Semua perangkat, kusen kayu, dan pernak-pernik ditempatkan di antara batu-batu bata dengan
bantuan hembusan angin, hujan, dan gempa bumi. Semuanya berjalan begitu sempurna sehingga
batu bata tersusun dengan cara yang menyisakan ruang bagi jendela, seakan mengetahui sesuatu
yang disebut kaca nantinya akan dibentuk oleh keadaan alamiah. Terlebih lagi, batu-batu ini tak
lupa menyisakan sedikit ruang untuk menyisipkan perangkat-perangkat air, listrik, dan sistem
pemanas, yang nanti juga akan dibentuk oleh kebetulan. Semuanya berjalan demikian baik
sehingga "kebetulan" dan "keadaan alamiah" menghasilkan sebuah rancangan yang sempurna.

Jika Anda sejauh ini berhasil mempertahankan keyakinan Anda terhadap cerita ini, seharusnya
Anda tak menghadapi kesulitan memperkirakan bagaimana gedung-gedung lain, pabrik-pabrik,
jalan-jalan raya, trotoar-trotoar, bangunan-bangunan penunjang, sistem-sistem perhubungan dan
pengangkutan kota terwujud. Jika Anda berpengetahuan teknik dan fasih dalam masalah ini,
Anda dapat menulis buku yang amat "ilmiah" beberapa jilid untuk menguraikan teori-teori Anda
tentang "proses evolusi sistem pembuangan dan keserasiannya dengan bangunan-bangunan yang
ada." Anda mungkin akan diberi penghargaan akademis bagi kajian yang Anda lakukan, dan
boleh menganggap diri orang yang mumpuni yang memberi pencerahan tentang sifat
kemanusiaan.

Teori evolusi, yang menyatakan bahwa kehidupan mewujud secara kebetulan, tak kurang
ganjilnya dari kisah kami itu, sebab, dengan segenap sistem kerja, dan sistem-sistem
perhubungan, pengangkutan, dan pengelolaan, sebuah sel tidak kalah rumitnya dari sebuah kota.
Di dalam bukunya Evolution: A Theory in Crisis (Evolusi: Teori dalam Kegentingan), ahli
biologi molekuler Michael Denton membahas struktur rumit sel:

Untuk memahami keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkapkan oleh biologi molekuler, kita
harus memperbesar sebuah sel ribuan juta kali hingga garis tengahnya mencapai 20 kilometer
dan menyerupai sebuah kapal udara raksasa yang cukup besar untuk menutupi sebuah kota raya
sekelas London atau New York. Yang akan kita lihat adalah sebuah benda dengan rancangan
tiada tara rumitnya dan mudah menyesuaikan diri. Di permukaan sel, kita akan melihat jutaan
celah, bak jendela-jendela di lambung kapal induk antariksa, membuka dan menutup untuk
menjaga aliran zat keluar-masuk dengan sinambung. Bila kita masuki salah satu celah ini, akan
kita dapati diri kita di dalam dunia berteknologi canggih dan kerumitan mencengangkan
Dapatkah dipercaya bahwa suatu proses yang acak telah membangun keniscayaan ini, yang
unsur terkecilnyasepotong protein atau gen fungsionalrumit di luar jangkauan
pembayangan kita, keniscayaan yang bertolak belakang dengan kebetulan, yang dalam
segala hal melampaui apa pun yang dihasilkan kecerdasan manusia? 237

Struktur Dan Sistem-Sistem Rumit Di Dalam Sel


Fred Hoyle

Struktur rumit sel hidup tidak diketahui di zaman Darwin dan pada saat itu, mengasalkan
kehidupan kepada "kebetulan dan keadaan alamiah" dipandang cukup meyakinkan oleh para
evolusionis. Darwin menggagas bahwa sel pertama dapat dengan mudah terbentuk "di dalam
suatu kolam kecil yang hangat."238 Seorang pendukung Darwin, ahli biologi Jerman Ernst
Haeckel, meneliti di bawah mikroskop suatu campuran lumpur yang dikeruk dari dasar laut oleh
sebuah kapal penelitian, dan menyatakan bahwa inilah zat-zat mati yang berubah menjadi hidup.
Yang disebut "lumpur yang menjadi hidup" ini, dikenal sebagai Bathybius haeckelii (lumpur
Haeckel dari kedalaman), adalah sebuah tanda betapa sederhananya kehidupan digagas oleh para
pelopor teori evolusi.

Teknologi abad ke-20 telah menyelami hingga ke partikel terkecil kehidupan, dan
mengungkapkan bahwa sel adalah sistem paling rumit yang pernah ditemukan manusia. Saat ini,
kita mengetahui bahwa sel terdiri dari pembangkit-pembangkit daya yang menghasilkan tenaga
untuk dipakai sel, pabrik-pabrik yang menghasilkan enzim dan hormon yang penting bagi
kehidupan, sebuah bank data tempat menyimpan segenap informasi penting tentang semua yang
harus dihasilkan, sistem-sistem dan pipa-pipa pengangkutan rumit yang menyalurkan bahan-
bahan mentah dan hasil-hasil dari satu tempat ke tempat lainnya, laboratorium-laboratorium dan
kilang-kilang canggih untuk menguraikan bahan-bahan mentah dari luar menjadi bagian-bagian
yang berguna, dan protein-protein membran sel khusus untuk mengatur keluar-masuknya bahan.
Dan semua ini membentuk hanya sebagian kecil dari sistem yang luar biasa rumit ini.

W.H. Thorpe, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui bahwa "Jenis sel yang paling dasar
membentuk sebuah 'mekanisme' yang tak terbayangkan lebih rumitnya daripada mesin
apa pun yang pernah dipikirkan, apalagi yang dibuat, oleh manusia."239

Sel begitu rumit sampai-sampai bahkan taraf teknologi tinggi yang dicapai saat ini tak mampu
menghasilkannya satu saja. Tak satu pun upaya menciptakan sel buatan pernah berhasil. Malah,
semua upaya ke sana telah dihentikan.

Teori evolusi menyatakan bahwa sistem iniyang manusia, dengan seluruh kecerdasan,
pengetahuan, dan teknologi di tangannya, tak bisa berhasil menirunyamewujud "secara
kebetulan" di dalam keadaan-keadaan bumi purba. Sebenarnya, peluang terbentuknya satu sel
secara kebetulan sama dengan peluang menghasilkan satu salinan sempurna sebuah buku selepas
sebuah ledakan di suatu percetakan.

Pakar matematika sekaligus astronom Inggris, Sir Fred Hoyle, membuat perbandingan serupa
dalam sebuah wawancara yang disiarkan majalah Nature terbitan 12 November 1981. Meskipun
dirinya seorang evolusionis, Hoyle menyatakan bahwa kemungkinan munculnya suatu bentuk
kehidupan tingkat tinggi dengan cara [kebetulan] ini dapat disamakan dengan kemungkinan
sebuah tornado yang menyapu sebidang lahan pembuangan membentuk sebuah pesawat Boeing
747 dari bahan-bahan yang ada di sana.240 Berarti, sel tidak mungkin mewujud secara
kebetulan, dan karena itu, sel semestinya "diciptakan."

Salah satu alasan dasar mengapa teori evolusi tak bisa menjelaskan cara sel mewujud adalah
"kerumitan tak teruraikan" di dalamnya. Sebuah sel hidup merawat dirinya dengan keserasian
kerjasama berbagai organel. Jika satu organel saja tak berfungsi, sel tak dapat bertahan hidup.
Sel tidak mempunyai kesempatan menunggu mekanisme-mekanisme tak sadar seperti seleksi
alam atau mutasi mengizinkan organel itu berkembang. Karena itu, sel pertama di bumi harus
sebuah sel utuh beserta semua organel dan fungsi yang dibutuhkannya, dan ini pastilah berarti sel
itu harus diciptakan.
A. Rincian 1: Membran Plasma (Lapis Rangkap Lipida); Mengatur pertukaran zat antara
bagian dalam dan luar sel.
B. Rincian 2: Selaput Inti; Melapis membran lapis rangkap fosfolipida yang memisahkan
isi inti dari sitoplasma.