Anda di halaman 1dari 19

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DI PERBANKAN

Pencucian Uang merupakan tindakan yang amat ditakuti oleh semua instansi,
pemerintahan dan badan-badan hukum lainnya. Dimana kejahatan ini hanya dapat terlihat
jika indikasi kejahatan telah terjadi. Dapat dikatan pula bahwa pencucian uang adalah
kejahatan berbaju putih. Di Indonesia, dasar hukum tentang kejahatan ini jelas adanya,
setelah beberapa kali perubahan, yaitu Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Terlebih, Indonesia juga
telah meratifikasi United Nations Convention Againts Corruption (UNCAC) pada tahun
2006, yang sebelumnya indonesia sudah menandatangin Konvensi tersebut pada tahun
2003. Selain itu, ada lembaga independen yang bertugas mencegah terjadinya Tindak
Pidana Pencucian Uang, yaitu Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Walaupun terdapat beberapa kelemahan dari PPATK, tetapi tidak menutup kemungkinan
banyaknya tujuan-tujuan baik yang telah tercapai. Serta, bentuk terakhir atas pencegahan
tindak pidana pencucian uang di perbankan ialah dengan lahirnya Peraturan Bank
Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012.

1. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang


Tidak ada definisi yang seragam dan komprehensif mengenai pencucian atau money
laundering. Masing-masing negara memiliki definisi mengenai pencucian uang sesuai
dengan terminologi kejahatan menurut hukum negara yang bersangkutan. Pihak penuntut
dan lembaga penyidikan kejahatan kalangan pengusaha dan perusahaan, negara-negara
yang telah maju dan negara-negara dari dunia ketiga, masing-masing mempunyai definisi
sendiri berdasarkan prioritasdan perspektif yang berbeda.1 Namun seluruh negara sepakat
pada satu garis, yakni pemeberantasan tindak pidana pencucian uang harus dilakukan dan
terus digemborkan untuk melawan tindak pidana terorisme, penipuan, bisnis narkoba, atau
bahkan korupsi.
Istilah pencucian uang atau money laundering telah dikenal sejak tahun 1930 di
Amerika Serikat, yaitu ketika Al Capone, penjahat terbesar di Amerika masa lalu, mencuci
uang hitam dari usaha kejahatannya dengan memakai Meyer Lansky, orang Polansia, yaitu
seorang akuntan, mencuci uang kejahatan Al Capone melalui usaha binatu (laundry). Al
Capone membeli perusahaan yang sah dan resmi, yaitu perusahaan pencucian pakaian atau
disebut laundromat yang ketika itu terkenal di Amerika Serikat sebagai salah satu
strateginya, yang kemudian usaha pencucian pakaian ini berkembang maju, dan berbagai
perolehan uang hasil kejahatan seperti dari cabang usaha lainnya ditanamkan ke
perusahaan pencucian pakaian ini, seperti uang hasil minuman keras ilegal, hasil perjudian
dan hasil usaha pelacuran.2
Kemudian, istilah money laundering popular pada tahun 1984 tatkala Interpol
Ameriika mengusut pemutihan uang Mafia Amerika Serikat yang terkenal dengan nama
Pizza Connnection. Kasus demikian menyangkut dana sekitar US $ 600 juta, yang ditranfer
ke sejumlah bank di Swiss dan Italia. Cara pencucian uang dilakukan dengan cara

1
Ivan Yustiavanda Arman Nefi Adiwarman, Tindak Pidana Pencucian Uang, hal 10
2
B Nasution, Bab II Tindak Pidana Pencucian Uang, Jurnal Hukum Universitas Sumatra, hal 25
menggunakan restoran Pizza yang berada di Amerika Serikat sebagai sarana mengelabui
sumber-sumber dana tersebut.3
Secara umum, pengertian mengenai pencucian uang (money laundering) tidak jauh
berbeda dari satu sama lain. Blacks Law Dictionary mendefinisikan dari pencucian uang
atau money laundering adalah
term used to describe investment or other transfer of money flowing from
racketeeting, drug transaction, and other illegal sources into legitimate
channels so that is original source cannot be traced.4
Welling mengemukakan bahwa
Money laundering is the process by which one conceals the existence,
illegal source, or illegal application of income, and then disguises
that income to make it appear legitimate.5
Sedangkan Frazer mengemukakan bahwa
Money laundering is quite simply the process through which dirty
money (proceeds of crime), is washed through clean or legitimate
sources and enterprises so that the bad guy may more safely enjoy
their illgotten gains.6
Pengertian selanjutnya dikemukakan oleh Billy steal, yaitu
It seems to be a victimless crime. It has none of the drama associated
with a robbery or any of the fear that violent crime imprints upon
peoples psyche and yet, money laundering can only take place after a
predicate crime (such as a robbery or housebreaking or drug dealing)
has taken place.7

3
Nashriana Dosen FH Universitas Sriwijaya, Urgensi Penerapan Know Your Customer Principles
dalam Penanggulangan Tindak Pidana Pencucian Uang dari Perspektif Non Penal Policy , Jurnal
Hukum FH Universitas Sriwijaya, hal 7
4
Henry Campbell Black, Blacks Law Dictionary(sixth edition), St. Paul Minn. West Publishing Co.,
1990, hal 884. [ suatu gambaran tentang tindakan memindahkan, menggunakan atau melakukan perbuatan
lainnya atas hasil dari suatu tindak pidana yang dilakukan oleh organisasi kejahatan maupun individu
yang melakukan tindak pidana korupsi, perdagangan narkotika/obat bius, illegal loging, dan tindak
pidana lain sebagai kejahatan asal (predicate crime/predicate offense)]. Terjemahan dari Nashriana
Dosen FH Universitas Sriwijya.
5
Lihat, Jurnal ILMU HUKUM vol 3 no 1, Iwan Kurniawan, Perkembangan Tindak Pidana Pencucian
Uang (money laundering) dan Dampaknya terhadap sektor Ekonomi dan Bisnis, hal 8. [pencucian uang
adalah proses dimana seseorang menyembunyikan keberadaan, sumber ilegal, atau penggunaan
pendapatan secara ilegal, dan kemudian menyamarkan pendapatan tersebut agar tampak seperti
pendapatan yang sah], terjemahan bebas dari penulis.
6
Ibid. [pencucian uang pada dasarnya adalah proses dimana uang "kotor" (hasil kejahatan) dicuci melalui
sumber dan perusahaan yang "bersih" atau sah sehingga "orang jahat" tersebut bisa lebih aman dalam
menikmati keuntungan kotor mereka], terjemahan bebas dari penulis.
7
Lihat www.sid.in-berlin.de/nedkelly-world/moneylaunderingbriefhistory.html . [Pencucian uang adalah
suatu tindakan yang tidak terlihat langsung siapa korbannya. Tindakan pencucian uang tidak terlihat
adanya seperti perampokan atau kejahatan kriminal yang memang kontak badan langsung dengan korban.
Tindakan pencucian uang ini hanya dapat terlihat setelah tindakan kriminal (perampokan, pencurian
dengan membongkar rumah, transaksi obat terlarang)tersebut diprediksi telah terjadi ] terjemahan bebas
penulis.
Menurut Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H., FCBArb8, ahli Hukum Bisnis
kelahiran Surabaya, menyatakan bahwa
Rangkaian kegiatan yang merupakan proses yang dilakukan oleh
seseorang atau organisasi terhadap uang haram yaitu uang yang
berasal dari kejahatan, dengan maksud untuk menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul uang tersebut dari pemerintah atau
otoritas yang berwenang melakukan penindakan terhadap tindak
pidana dengan cara terutama memasukkan uang tersebut ke dalam
sistem keuangan ( financial sistem) sehingga uang tersebut kemudian
dapat dikeluarkan dari sistem keuangan itu sebagai uang halal.9
Sebelum masuk pada pengertian Pencucian Uang di perubahan terakhir Undang-
Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang, ada baiknya melihat definisi Pencucian Uang dari European
Communities, yaitu
The conversion or transfer of property, knowing that such property is
derivied from serious crime, for the purpose of concealing or disguising
the illict origin of the property of assisting any person who is involved in
committing such an offence or offences to evade the legal consequences
of his action, and
The concealment or disguise of the true nature, source, location,
disposition, movement, right with respect to, or ownership of property,
knowing that such property is derived from serious crime.10
Pengertian Pencucian Uang dalam perubahan Undang-Undang terakhir, yakni
Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang adalah
Pencucian Uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-
unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang
ini.11
Jika dilihat, pengertian di atas amat sangat singkat. Bagaimana jika kembali ke
Undang-Undang sebelumnya, yakni Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang

8
FCBArb (Fellow Certified BANI Arbiter).
9
Lihat, Jurnal Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Tinjauan Yuridis Hukum Acara
Pidana dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang, oleh Syarifah Tigris, Prof. Dr. Syarifuddin kalo SH., M.Hum., Dr. Mahmud
mulyadi, SH., M.Hum., hal 3.
10
Lihat, Article 1 of the draft European Communities (EC) Directive of March 1990. [Konversi atau
pengalihan harta, dengan mengetahui bahwa properti tersebut dihasilkan dari kejahatan serius, dengan
tujuan menyembunyikan atau menyamarkan sumber ilegal dari properti itu atau membantu orang yang
terlibat dalam melakukan pelanggaran seperti itu untuk menghindari konsekuensi hukum dari
tindakannya; dan
penyembunyian atau penyamaran sifat, sumber, lokasi, susunan, gerakan, hak yang sebenarnya
sehubungan dengan properti itu atau kepemilikannya, dengan mengetahui bahwa properti tersebut berasal
dari kejahatan serius], terjemahan bebas dari penulis.
11
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang.
Tindak Pidana Pencucian Uang. Pengertian pencucian uang lebih tersusun rapi dan dapat
langsung dipahami, yaitu
Pencucian uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer,
membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan,
menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan
lainnya atas Harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga
merupakan Hasil Tindak Pidana dengan maksud untuk menyembunyikan,
atau menyamarkan asal usul Harta kekayaan sehingga seolah-olah
menjadi Harta kekayaan yang sah.12
Secara kasat mata, perkembangan pengertian tersebut tidak lebih maju dari
sebelumnya. Namun, pada sub bab kali ini hanya dibahas tentang pengertiannya saja, tidak
masuk pada seluk beluk kenapa perubahan pengertian tersebut terjadi. Karena sub bab
dasar hukum akan dibahas setelah ini.

2. Dasar Hukum
Tindakan pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang memang
harus dilaksanakan dalam setiap sendi kehidupan, dalam setiap sisi gerak gerik manusia.
Untuk melegalkan tindakan tersebut, maka lahirlah Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai awal gambaran apa, bagaimana, siapa, dan
kapan disebut Pencucian Uang. Sebagai hukum yang berlaku di Indonesia, hal yang
mendasari ketentuan tersebut tentu berasal dari :13

Pertama, Pasal 5 ayat (1) berbunyi Presiden berhak mengajukan


rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan rakyat dan
Pasal 20 berbunyi Tiap-tiap undang-undang menghendaki
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Kedua, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia Nomor VIII/MPR/2001 tentang Rekomendasi Arah
Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme.14
Sejalan dengan perkembangan hukum pidana di Indonesia, agar upaya pencegahan
dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dapat berjalan secara efektif, maka
Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang perlu
disesuaikan dengan Hukum pidana tentang TPPU dengan standar Internasional.
Pertimbangan tersebut melahirkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian
12
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
13
Dasar Hukum dalam Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
14
Ketetapan tersebut mengacu pada Pasal 6 bahwa Membentuk Undang-Undang beserta peraturan
pelaksanaannya untuk membantu percepatan dan efektivitas pelaksanaan pemberantasan dan
pencegahan korupsi yang muatannya meliputi; a. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; b.
Perlindungan Saksi dan Korban; c. Kejahatan Terorganisasi; d. Kebebasan Mendapatkan Informasi; e.
Etika Pemerintahan; f. Kejahatan Pencucian Uang; g. Ombudsman. Lihat Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/2003 tentang PENINJAUAN KEMBALI
MATERI DAN STATUS HUKUM KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
SEMENTARA DAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 1960 SAMPAI DENGAN TAHUN 2002.
Uang. Perubahan Undang-Undang ini tentu memiliki dasar hukum sendiri, walaupun tidak
jauh berbeda dari Undang-Undang sebelumnya, yakni :15

Pasal 5 ayat (1) berbunyi Presiden berhak mengajukan rancangan


undang-undang kepada Dewan Perwakilan rakyat dan Pasal 20
berbunyi Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4191).
Semakin jauh perjalanan yang telah dilewati oleh bangsa ini, semakin jauh pula
setiap sisi hukum yang terlewati. Hal tersebut menuntut adanya pembaruan aturan-aturan
yang telah berlaku. Dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang pun juga perlu adanya
pembaharuan, maka Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang dirubah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Nampaknya, jika dilihat
pada konsideran atau dasar hukum dari lahirnya Undang-Undang ini hanya mengrucut
pada satu poin, yaitu :16

Pasal 5 ayat (1) berbunyi Presiden berhak mengajukan rancangan


undang-undang kepada Dewan Perwakilan rakyat dan Pasal 20
berbunyi Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Dari dua kali perubahan Undang-Undang tersebut, ada beberapa hal penting yang
disorot dari perjalanan perubahannya, yaitu sebagai berikut :17

Pertama, usulan revisi UU Tindak Pidana Korupsi semula ditujukan


agar UU tersebut senantiasa memiliki kemampuan untuk
mengantisipasi modus kejahatan korupsi yang terus makin

15
Dasar Hukum dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
16
Dasar Hukum dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang
17
Sementara, di sisi lain tidak menutup kemungkinan ditemukannya beberapa kelemahan. Secara de facto
kelemahan mendasarnya adalah : Pertama, usulan revisi UU dimaksud belum sepenuhnya
mengakomodasi hal-hal penting yang tersebut di dalam UNCAC 2003 atau UU No 7 Tahun 2006.
Salah satu indikasinya, revisi UU tersebut tidak mengatur secara komprehensif hal- hal yang
berkaitan dengan assets recovery, padahal aturan pengembalian aset ini merupakan salah satu pilar
dan terobosan utama yang dirumuskan dalam konvensi antikorupsi dimaksud. Kedua, usulan revisi
UU Tipikor justru mengatur hal sebaliknya atas rumusan pasal yang sudah diatur secara lebih
tegas pada UNCAC 2003 atau UU No 7 Tahun 2006, Ketiga, revisi UU mempunyai judul tentang
pemberantasan tindak pidana korupsi. Pemberantasan Tipikor didefinisikan sebagai rangkaian
tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi sesuai Pasal 1 angka 3 UU No
30/2002. Di dalam revisi UU Tipikor tersebut justru tidak dirumuskan sama sekali hal ihwal
mengenai tindakan-tindakan pencegahan tipikor yang di dalam UNCAC 2003 justru dirumuskan secara
lebih utuh. Lihat, Skripsi Ummi Kulsum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember,
KEBIJAKAN INDONESIA MERATIFIKASI United Nations Convention Againts Corruption, 2008, hal
61-62.
berkembang. Lebih dari itu, dampak dari korupsi juga tidak hanya
berkenaan dengan kerugian keuangan negara saja, tetapi juga
telah melemahkan lembaga dan nilai-nilai demokrasi, etika, dan
keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan dan
supremasi hukum, selain mengancam stabilitas dan keamanan
masyarakat.
Kedua, revisi juga dimaksudkan agar UU tersebut diharmonisasikan
agar sesuai dengan United Nation Convention Against Corruption
(UNCAC) 2003 yang telah diratifikasi18 menjadi UU No 7 Tahun
2006 sehingga dapat digunakan sebagai akses untuk melakukan
kerja sama internasional dengan berbagai negara lainnya, karena
tindak korupsi sudah berkembang menjadi kejahatan transnasional.

3. Tugas dan Wewenang PPATK


Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan/PPATK ini memiliki kelembagaan
yang independen, yang bebas dari campur tangan yang bersifat politik seperti lembaga
negara, penyelenggara negara dan pihak lainnya. PPATK dalam melaksanakan tugasnya
diwajibkan untuk menolak campur tangan dari pihak manapun. PPATK yang merupakan
lembaga independen yang bertanggung jawab kepada Presiden, juga merupakan Financial
Intelligent Unit19 dengan model administratif (administrative model). Model administratif
ini lebih banyak berfungsi sebagai perantara antara masyarakat atau industri jasa keuangan
dengan institusi penegak hukum. Laporan yang masuk dianalisis dahulu oleh lembaga ini
kemudian dilaporkan ke institusi penegak hukum, yaitu Kepolisian dan Kejaksaan.20
Selain disebut sebagai lembaga Financial Intelligence Unit (FIU), PPATK juga
dikenal sebagai Focal Point dalam membangun rezim anti pencucian uang yang efektif,
yang memiliki fungsi utama dalam menyediakan dan memberikan informasi intelijen

18
Arti penting berkomitmen pada Ratifikasi Konvensi tersebut adalah; a. Untuk meningkatkan kerja
sama internasional khususnya dalam melacak, membekukan, menyita, dan mengembalikan aset-aset
hasil tindak pidana korupsi yang ditempatkan di luar negeri; b. Meningkatkan kerja sama internasional
dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik; c. Meningkatkan kerja sama internasional dalam
pelaksanaan perjanjian ekstradisi, bantuan hukum timbal balik, penyerahan narapidana, pengalihan
proses pidana, dan kerja sama penegakan hukum; d. Mendorong terjalinnya kerja sama teknik dan
pertukaran informasi dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di bawah payung
kerja sama pembangunan ekonomi dan bantuan teknis pada lingkup bilateral, regional, dan
multilateral; e. Harmonisasi peraturan perundang-undangan nasional dalam pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dengan Konvensi ini. Lihat, Skripsi Ummi Kulsum
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, KEBIJAKAN INDONESIA MERATIFIKASI
United Nations Convention Againts Corruption, 2008, hal 44-45.
19
Suatu Financial Intelligent Unit selalu melakukan beberapa tugas dan wewenang, yaitu tugas
pengaturan sebagai regulator, melakukan kerjasama dalam rangka penegakkan hukum, bekerjasama
dengan sektor keuangan, menganalisa laporan yang masuk, melakukan pengamanan terhadap
seluruh data dan aset yang ada, melakukan kerjasama internasional dan fungsi administrasi umum.
PPATK sebagai suatu financial intelligent unit juga melaksanakan fungsi yang demikian. Lihat, Jurnal
Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Tinjauan Yuridis Hukum Acara Pidana dalam
Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang, oleh Syarifah Tigris, Prof. Dr. Syarifuddin kalo SH., M.Hum., Dr. Mahmud mulyadi,
SH., M.Hum., hal 8.
20
B Nasution, Bab II Tindak Pidana Pencucian Uang, Jurnal Hukum Universitas, hal 40
keuangan kepada aparat penegak hukum tentang dugaan tindak pidana pencucian uang
atau dugaan tindak pidana asal.21
Sedangkan fungsi PPATK seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pencegahan
dan Pemberantasan TPPU antara lain adalah:22
1. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;
2. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK;
3. Pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor; dan
4. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan
yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana
lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).
Dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pemberantasan dan
Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang, menyebutkan dalam Pasal 39 bahwa
PPATK mempunyai tugas mencegah dan memberantas tindak pidana
Pencucian Uang.
Dan ternyata pada Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003, penjabaran tentang tugas
PPATK lebih rinci. Sebagai perbandingan, akan penulis sajikan
Pasal 26 Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Dalam
melaksanakan fungsinya PPATK mempunyai tugas sebagai sebagai
berikut :
a. Mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, mengevaluasi informasi yang
diperoleh oleh PPATK sesuai dengan Undang-undang ini;
b. Membuat pedoman mengenai tata cara pelaporan Transaksi Keuangan
Mencurigakan;
c. Memberikan nasihat dan bantuan kepada instansi yang berwenang
tentang informasi yang diperoleh oleh PPATK sesuai dengan ketentuan
dalam Undang-undang ini;
d. Mengeluarkan pedoman dan publikasi kepada Penyedia Jasa Keuangan
tentang kewajibannya yang ditentukan dalam Undang-undang ini atau
dengan peraturan perundang-undangan lain, dan membantu dalam
mendeteksi perilaku nasabah yang mencurigakan;
e. Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah mengenai upaya-upaya
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;

21
Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) adalah tindak pidana lanjutan (follow up crime) dari tindak
pidana sebelumnya yang dilakukan sebagai Core crime/tindak pidana asal yang menghasilkan uang
haram. Tindak pidana sebagai core crime tersebut diatur dalam Pasal 2 UU TPPU, yaitu : a, korupsi; b.
penyuapan; c. penyelundupan barang; d. penyelundupan tenaga kerja; e. penyelundupan imigran; f. di
bidang perbankan; g. di bidang pasar modal; h. di bidang asuransi; i. narkotika; j. psikotropika; k.
perdagangan manusia; l. perdagangan senjata gelap; m. penculikan; n. terorisme; o. pencurian; p.
penggelapan; q. penipuan; r. pemalsuan uang; s. perjudian; t. prostitusi; u. di bidang perpajakan; v. di
bidang kehutanan; w. di bidang lingkungan hidup; x. di bidang kelautan; atau y. tindak pidana
lainnya yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di
wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Republik Indonesia
22
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang, Pasal 40
f. Melaporkan hasil analisis transaksi keuangan yang berindikasi tindak
pidana pencucian uang kepada Kepolisian dan Kejaksaan.
g. Membuat dan memberikan laporan mengenai hasil analisis transaksi
keuangan dan kegiatan lainnya secara berkala 6 (enam) bulan sekali
kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan lembaga yang
berwenang melakukan pengawasan terhadap Penyedia Jasa Keuangan;
h. Memberikan informasi kepada publik tentang kinerja kelembagaan
sepanjang pemberian informasi tersebut tidak bertentangan dengan
Undang-Undang ini;
i. Memberikan informasi kepada publik tentang kinerja kelembagaan
sepanjang pemberian informasi tersebut tidak bertentangan dengan
Undang-Undang ini.
Sementara, dalam melaksanakan fungsi dan tugas tersebut, kewenangan yang
diberikan oleh Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU kepada PPATK
adalah:23
1. Meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi
pemerintah dan/atau lembaga swasta yang memiliki kewenangan
mengelola data dan informasi, termasuk dari instansi pemerintah
dan/atau lembaga swasta yang menerima laporan dari profesi tertentu;
2. Menetapkan pedoman identifikasi transaksi keuangan mencurigakan;
3. Mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang
dengan instansi terkait;
4. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya
pencegahan tindak pidana pencucian uang;
5. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi dan forum
internasional yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana pencucian uang;
6. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan anti pencucian
uang; dan
7. Menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan tindak
pidana pencucian uang.

Walaupun secara yuridis PPATK telah ada sejak diundangkannya Undang-undang


No. 15 Tahun 2002.24 PPATK baru akan melaksanakan fungsinya pada akhir Juni tahun ini
atau bertepatan dengan tenggang waktu enam bulan sejak ditetapkannya Kepala dan Wakil
Kepala PPATK.25 Sementara itu kewajiban pelaporan transaksi yang mencurigakan dan
laporan transaksi tunai baru akan sepenuhnya dilakukan oleh seluruh penyedia jasa
keuangan pada bulan Oktober 2003 (Delapan belas bulan sejak berlakunya Undang-undang
No. 15 Tahun 2002.) Untuk industri perbankan laporan transaksi yang mencurigakan tetap
berjalan seperti biasa dengan melaporkannya kepada Bank Indonesia (Unit Khusus
23
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang, Pasal 41
24
Pasal 18 ayat 1 diatur bahwa dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang,
dengan Undang-Undang ini dibentuk PPATK. Lihat, Yunus Husein.
25
Pasal 45 ayat 2 menyatakan bahwa PPATK harus sudah melaksanakan fungsinya paling lambat 6
(enam) bulan setelah Kepala dan Wakil Kepala PPATK ditetapkan, yang dihitung sejak pengucapan
sumpah di hadapan Ketua Mahkamah Agung RI pada tanggal 24 Desember. Lihat, yunus Husein.
Investigasi Perbankan). Hingga saat ini Unit Khusus Investigasi Perbankan (UKIP) Bank
Indonesia telah menerima 156 (seratus lima puluh enam) STR dari 23 bank. Atas STR
yang diterima, UKIP melakukan analisis mendalam dan klarifikasi atas dokumen yang
disampaikan oleh bank. Hingga saat ini UKIP telah menyerahkan 11 STR kepada penyidik
Polri dan terhadap sisanya UKIP masih melakukan analisis.

4. Dampak yang Ditimbulkan dari Tindak Pidana Pencucian Uang


Sebelum membahas dampak yang ditimbulkan dari Tindak Pidana Pencucian Uang,
ada baiknya mengetahui terlebih dahulu beberapa identifikasi penyebab adanya praktik
money laundering. Menurut Sutan remy Sjahdeini faktor-faktor tersebut adalah:26
1. Globalisasi. Dalam hal ini terjadinya globalisasi memang
mengakibatkan para pelaku pencucian uang dapat memanfaatkan
sistem finansial dan perbankan internasional untuk melakukan
kegiatannya.
2. Cepatnya perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi ini
mungkin dapat dikatakan sebagai faktor yang paling mendorong
berkembangnya pencucian uang. Perkembangan teknologi informasi
seperti internet misalnya, dapat mengakibatkan hilangnya batas-batas
antar negara.
3. Ketentuan kerahasiaan bank. Ketentuan ini mengakibatkan kesulitan
bagi pihak berwenang untuk menyelidiki suatu rekening yang mereka
curigai dimiliki oleh atau dengan cara yang ilegal.
4. Ketentuan perbankan di suatu negara untuk seseorang dapat
menyimpan dana di suatu bank dengan nama samaran atau tanpa nama
atau anonim.
5. Munculnya jenis uang baru yaitu electronic money atau e-money,
yaitu berhubungan erat dengan maraknya electronic commerce atau
e-commerce melalui internet. Kegiatan pencucian uang yang
dilakukan melalui jaringan internet ini biasa disebut sebagai cyber-
laundering.
6. Praktik pencucian uang dengan cara yang disebut layering atau
pelapisan. Dengan cara ini, pihak yang menyimpan dana di bank
bukanlah pemilik sesungguhnya dari dana itu. Deposan tersebut
hanyalah bertindak kuasa atau pelaksana amanah dari pihak lain yang
menugasinya untuk mendepositokan uang tersebut di sebuah bank.
7. Ketentuan hukum berkenaan dengan kerahasiaan hubungan antara
lawyer dengan kliennya, dan antara akuntan dengan kliennya.

26
Lihat, Nashriana Dosen FH Universitas Sriwijaya, Urgensi Penerapan Know Your Customer
Principles dalam Penanggulangan Tindak Pidana Pencucian Uang dari Perspektif Non Penal Policy ,
Jurnal Hukum FH Universitas Sriwijaya.
8. Pemerintah yang bersangkutan tidak bersungguh-sungguh untuk
memberantas praktik pencucian uang yang dilakukan melalui sistem
perbankan negara tersebut.
9. Tidak adanya dikriminalisasi perbuatan pencucian uang di sebuah
negara. Dengan kata lain, negara yang bersangkutan tidak memiliki
undang-undang tentang pencucian uang yang menentukan perbuatan
pencucian uang sebagai tindak pidana.

Dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pencucian uang tidak hanya dapat
merugikan tatanan kehidupan dan perekonomian suatu negara tententu saja, tetapi juga
berpengaruh pada perkembangan perekonomian negara-negara di seluruh dunia. Hal ini
disebabkan karena uang yang dicuci dari tindak pidana kejahatan jumlahnya tidak sedikit.
Menurut Yunus Husein, secara makro, dampak dari money laundering dapat
mempersulit pengendalian moneter, mengurangi pendapatan negara dan meningkatnya
country risk, sementara secara mikro akan menimbulkan high cost economy dan
menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat. Selain itu, secara sosial politik dapat
menimbulkan permasalahan sosial politik yang terkait dengan banyaknya uang haram yang
dipakai dalam interaksi sosial politik.27
Kegiatan pencucian uang secara langsung memang tidak merugikan orang
tertentu atau perusahaan tertentu, atau dengan kata lain sepintas lalu tidak ada korbannya.
Tidak seperti halnya perampokan, pencurian, atau pembunuhan yang ada korbannya dan
sekaligus menimbulkan kerugian bagi korbannya itu sendiri. Oleh sebab itu, seperti pada
bagian pengertian di atas, Billy Steel mengemukakan bahwa money laundering, it seem to
be a victimless crime.
John McDowell dan Gary Novis dari Bureau of International Narcotics and Law
Enforcement Affairs, US Department of State mengemukakan bahwa Money laundering
has potentially devastating economic, security, and social consequences28.
Selanjutnya, dijelaskan pula beberapa dampak negatif pencucian uang sebagai berikut ;29
a. Undermining the Legitimate Private Sector (merongrong sektor
swasta yang sah);
b. Undermining the Integrity of Financial Markets (merongrong
integritas pasar-pasar keuangan);
c. Loss of Control of Economic Policy (hilangnya kendali
pemerintah terhadap kebijakan ekonomi);
d. Economic Distortion and Instability (timbulnya distorsi dan
ketidakstabilan ekonomi);

27
Yunus Husein, Pembangunan Rezim Anti Pencucian Uang Di Indonesia Dan Implikasinya
Terhadap Profesi Akuntan, Makalah disampaikan pada Forum Ilmiah Ekonomi Study Akuntansi
(FIESTA 2006) dan Temu Nasional Jaringan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (TN-JMAI,
diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta, di Padang. Hal 1-2.
28
Pencucian Uang berpotensi untuk membinasakan perekonomian, keamanan, dan kerusakan tatanan
masyarakat. Diterjemahkan bebas oleh penulis.
29
Lihat, Jurnal Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Tinjauan Yuridis Hukum Acara
Pidana dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang, oleh Syarifah Tigris, Prof. Dr. Syarifuddin kalo SH., M.Hum., Dr. Mahmud
mulyadi, SH., M.Hum., hal
e. Loss of Revenue (hilangnya pendapatan negara dari sumber
pembayaran pajak);
f. Risks to Privatization Efforts (risiko pemerintah dalam
melaksanakan program privatisasi);
g. Reputation Risk (merusak reputasi negara);
h. Social Cost (menimbulkan biaya sosial yang tinggi).
Pada tahun 1996, IMF30 pun melalui kertas kerja berjudul Money Laundering and
The International Financial System, yang disusun oleh Vinto Tanzi, telah mengemukakan
dampak dari pencucian uang adalah sebagai berikut31
The international laundering of money has the potential to
impose significant cost on the world economy by (a) harming the
effective operations of the national economies and by promoting poorer
economic policies, especially in some countries; (b) slowly corrupting
the financial market and reducing the publics confidence in the
international financial system, thus increasing risk and the instability of
that system; and (c) as a consequence (reducing the rate of growth of
the world economic)32
Dampak-dampak dari tindak pidana pencucian uang di atas dapat saja terjadi di
indonesia. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang mendukung terjadinya TPPU tersebut,
antara lain:33
1. Ketatnya ketentuan mengenai rahasia bank, sehingga tidak mungkin
sembarang orang untuk mengetahui asal-usul uang tersebut, sehingga
amanlah uang tersebut dibersihkan oleh lembaga keuangan tersebut.
2. Sistem devisa bebas, sehingga otoritas moneter sulit untuk mendeteksi
lalu lintas modal, dana, dan uang dari mana pun datangnya.
3. Tidak adanya ketentuan pembatasan atau larangan kepada orang asing
yang masuk ke wilayah Indonesia dalam hal membawa valuta asing
juga tidak adanya kewajiban pelaporannya, sehingga orang bebas
membawa uang ke luar masuk berapapun besarnya.

30
The International Monetary Fund (IMF) is an organization of 188 countries, working to foster global
monetary cooperation, secure financial stability, facilitate international trade, promote high employment
and sustainable economic growth, reduce poverty around the world. [IMF merupakan suatu organisasi
yang terdiri dari 188 negara, yang mana bekerja untuk membantu mengembangkan kerjasama keuangan
secara global, stabilitas keamanan finansial, fasilitas perdagangan internasional, promosi pekerjaan, dan
perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, serta mengurangi tingkat kemiskinan], terjemahan bebas
penulis. Lihat, www.imf.org.
31
Lihat, Jurnal ILMU HUKUM vol 3 no 1, Iwan Kurniawan, Perkembangan Tindak Pidana Pencucian
Uang (money laundering) dan Dampaknya terhadap sektor Ekonomi dan Bisnis, hal 10.
32
[pencucian uang internasional berpotensi untuk menimbulkan akibat yang signifikan pada
perekonomian dunia dengan (a) merugikan kegiatan ekonomi yang efektif dari suatu negara dan
mendorong kebijakan ekonomi yang buruk, terutama di beberapa negara tertentu; (b) secara perlahan-
lahan merusak pasar keuangan dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan
internasional, sehingga meningkatkan risiko dan ketidakstabilan sistem itu; dan (c) sebagai konsekuensi
(... mengurangi tingkat pertumbuhan ekonomi dunia)], terjemahan bebas penulis.
33
Lihat, B Nasution, Bab II Tindak Pidana Pencucian Uang, Jurnal Hukum Universitas Sumatra, hal
47.
4. Kebebasan yang diberikan Pemerintah dalam hal perpajakan yang
menyangkut deposita dan simpanan, yaitu asal-usul uang tersebut
tidak dapat diusut.
5. Dan ketentuan lainnya.

5. Kebijakan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang


Konvensi United Nations Convention Against Corruption (UNCAC)34 tahun 2003
dalam pasal 14 meminta agar setiap negara peserta konvensi untuk dapat mengambil
tindakan-tindakan dalam rangka mencegah terjadinya pratik pencucian uang (money
laundering) dinegaranya masing-masing, terutama yang terkait tindak pidana korupsi, baik
melalui pengaturan dalam suatu produk perundang-undangan, penegakan hukum,
pengawasan administratif terhadap lembaga perbankan dan lembaga keuangan non Bank
maupun tindakan-tindakan lainnya yang mendukung upaya pencegahan adanya tindak
pidana pencucian uang (money laundering).35
Oleh karena itu, pembentukan lembaga khusus yang menangani masalah pencucian
uang telah dilakukan cukup lama di beberapa negara. Australia misalnya memiliki
AUSTRAC (Australian Transaction Reports and Analysis Centre) yang didirikan pada
tahun 1989. FINCEN (Financial Crime Intelligence Network) kita kenal sebagai financial
intelligence unit di Amerika Serikat yang didirikan pada tahun 1990. Sementara itu
kehadiran lembaga sejenis di wilayah Asia Tenggara relatif baru dikenal beberapa tahun
belakangan ini. Kita mengenal beberapa lembaga semacam AMLO (Anti Money
Laundering Office) di Thailand yang didirikan pada tahun 1999, Unit Perisikan Kewangan
di Malaysia yang berdiri pada tahun 2001, Suspicious Transaction Reports Office (STRO)
Singapura pada tahun 2000 serta The Office of Anti Money Laundering di Filipina sejak
tahun 2001. Di Indonesia sendiri dalam rangka menjalankan misi di atas telah didirikan
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sejak 17 April 2002.36
Menyangkut kebijakan anti pencucian uang, dalam hukum positif Indonesia terlihat
pada kebijakan untuk melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencucian uang, sebagai salah satu kebijakan dasar (basic policy) politik hukum di bidang

34
UNCAC adalah Konvensi Anti Korupsi (KAK) 2003 yang berlaku secara global, yang dirancang
untuk mencegah dan memerangi korupsi secara komprehensif. KAK 2003 menetapkan secara eksplisit
bahwa korupsi merupakan kejahatan transnasional dan membawa implikasi yang sangat luas. Korupsi
meruntuhkan sendi-sendi demokrasi, menghambat pembangunan berkelanjutan, melanggar hak asasi
manusia, menggoyahkan keamanan suatu negara, dan meminimalisasi kesejahteraan bangsa-bangsa.
Lahirnya UNCAC ini ditandai dengan penandatanganan oleh 140 negara di Merida, Meksiko, pada
tanggal 9 sampai dengan 11 Desember 2003. Sehingga tanggal 9 Desember ditetapkan sebagai hari
Anti Korupsi Sedunia. Konvensi ini sendiri telah diterima secara resmi oleh Majelis Umum PBB
berdasarkan resolusi No. 57/169. Setelah diratifikasi sekurangnya oleh 30 negara, ia berlaku efektif 14
Desember 2005. Jumlah negara yang meratifikasi UNCAC sampai dengan tahun 2007 adalah 129 negara.
Akhirnya, Indonesia juga ikut meratifikasi UNCAC pada tanggal 18 April 2006 melalui Undang-Undang
No.7 tahun 2006 pada tanggal 18 April 2006 sebagai tindak lanjut dari kesepahaman UNCAC. Lihat,
Skripsi Ummi Kulsum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, KEBIJAKAN
INDONESIA MERATIFIKASI United Nations Convention Againts Corruption, 2008
35
Galuh Indah Zatadini S2 Teknologi Informasi UGM, Money Loundering (cause and effect), Tugas
Manajemen Proyek, hal 1
36
Lihat, Yunus Husein, Makalah PPATK: Tugas, Wewenang, dan Perannya dalam Memberantas Tindak
Pidana Pencucian Uang, disampaikan pada Seminar Pencucian Uang yang diadakan bersama oleh
Business Reform and Reconstruction Corporation-PPATK-Law Office of Remy and Darus dan Jurnal
Hukum Bisnis di Bank Indonesia, Jakarta, pada tanggal 6 Mei 2003
perekonomian, yaitu dengan diterbitkanya Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian
Uang Nomor 15 tahun 2002 (selanjutnya disebut UU TPPU) yang kemudian diubah
melalui UU No. 25 tahun 2003 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 tahun
2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Kebijakan dasar yang berlaku di Indonesia,
bisa saja sama dengan yang berlaku di Negara lain mengingat bahwa perbuatan pencucian
uang bukan saja kejahatan nasional tetapi juga kejahatan transnasional.37
Sedangkan, dalam dunia perbankan sendiri juga melahirkan Peraturan Bank
Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Umum. Pertimbangan-pertimbangan yang
dijadikan acuan dalam pembentukan aturan ini antara lain;38
a. Bahwa dengan adanya dinamika nasional, regional dan global serta semakin
kompleksnya produk, aktivitas, dan teknologi informasi bank maka resiko
pemanfaatan bank dalam pencucian uang dan pendanaan teroris semakin
tinggi;
b. Bahwa peningkatan resiko yang dihadapi bank perlu diimbangi dengan
peningkatan kualitas penerapan manajemen resiko yang terkait dengan
program anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme;
c. Bahwa penerapan manajemen resiko yang terkait dengan program anti
pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme perlu mengacu pada
prinsip-prinsip umum yang berlaku secara internasional;
d. Bahwa dalam rangka penerapan program anti pencucian uang dan
pencegahan pendanaan terorisme secara lebih efektif, telah ada
penyempurnaan dan penerbitan peraturan perundang-undangan serta
penyempurnaan standar internasional mengenai penerapan program anti
pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme;
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a,
huruf b, huruf c dan huruf d di atas, perlu untuk menyempurnakan dan
mengatur kembali Peraturan Bank Indonesia tentang Penerapan Program
Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan terorisme Bagi Bank
Umum.
Sementara, dasar-dasar yang menginstruksikan lahirnya PBI ini tentunya berasal dari
hirarki aturan yang lebih tinggi darinya, yaitu;
1. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah diubah dengan
37
Sebagai suatu kejahatan transnasional, pembicaraan pencucian uang bukan saja sebagai
permasalahan nasional tetapi juga sebagai permasalahan internasional. Hal ini terbukti sering
adanya pertemuan antar Negara membicarakan tentang pencucian uang, antara lain: Pertemuan Ekonomi
Tingkat Tinggi di Paris pada tahun 1989, juga dilajutkan pada tahun 1991 dalam Ministerial Meeting on
the Creation of an Effective United Nation Crime Prevention and Criminal Justice Programme; di Jakarta
dalam kegiatan Indonesia Unafei Joint Seminar ; di Amsterdam pada Konferensi Internasional
Anti Korupsi pada tahun 1992; di Wina dalam Sidang United Nation Commission on Crime Prevention
and Criminal Justice, dll. Lihat, Nashriana Dosen FH Universitas Sriwijaya, Urgensi Penerapan Know
Your Customer Principles dalam Penanggulangan Tindak Pidana Pencucian Uang dari Perspektif Non
Penal Policy , Jurnal Hukum FH Universitas Sriwijaya, Footnote ke-4 hal 3.
38
Lihat, Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Anti Pencucian
Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Umum
Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3790);
2. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3843) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank
Indonesia menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2009 Nomor 7, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4962);
3. Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2003 Nomor 45 dan
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4284);
4. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2008 Nomor 94, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4867);
5. Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 2010 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5164);
6. Undang-Undang nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana (Lembaran
Negara republik Indonesia tahun 2011 Nomor 39, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5204).
Kemudian, adanya dinamika nasional, regional maupun global yang diiringi dengan
perkembangan produk, aktivitas dan teknologi informasi bank yang semakin kompleks,
berpotensi akan meningkatnya peluang bagi para pelaku kejahatan untuk
menyalahgunakan fasilitas dan produk perbankan sebagai sarana pencucian uang dan
pendanaan terorisme, dengan modus operandi39 yang lebih canggih. Selain itu,
Rekomendasi Financial Action Task Force (FATF)40 juga mengalami penyesuaian
39
Beberapa modus operandi pencucian uang yang telah terjadi antara lain penggunaan pihak ketiga
(nominee) sebagai perantara untuk mencuci uang (smurfing), penggunaan traveler cheque untuk
menyuap pejabat pemerintah, penggunaan identitas palsu untuk membuka rekening di bank, penggunaan
warkat/dokumen palsu untuk membobol rekening nasabah, memecah-mecah nilai transaksi (structuring).
Selain pencucian uang melalui lembaga keuangan, ada kecenderungan pelaku melakukan pencucian uang
dengan cara menggunakan transaksi perdagangan internasional (trade based money laundering). Lihat,
Yunus Husein, Pembangunan Rezim Anti Pencucian Uang Di Indonesia Dan Implikasinya Terhadap
Profesi Akuntan, Makalah disampaikan pada Forum Ilmiah Ekonomi Study Akuntansi (FIESTA 2006)
dan Temu Nasional Jaringan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (TN-JMAI, diselenggarakan oleh Fakultas
Ekonomi Universitas Bung Hatta, di Padang, hal 7.
40
The Financial Action Task Force (FATF) is an intergovermental body established in 1989 by the
minister of its member jurisdiction. The objectives of the FATF are to set standards and promote effective
implementation of legal, regulatory and operational measures for combating money laundering, terrorist
financing and other related threats to the integrity of the international financial system. The FAFT has
developed a series of Recommendations that are recognised as the international standard for combating of
money laundering and the financing of terrorism and proliferation of weapons of mass destruction. The
FAFT monitors the progress of its members in implementing necessary measures, reviews money
sehingga menjadi lebih komprehensif dalam mendukung upaya pencegahan tindak pidana
pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.
Sehubungan dengan hal tersebut, Ketentuan Bank Indonesia mengenai Penerapan
Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum
yang selama ini diterapkan, dinilai perlu disesuaikan dalam rangka harmonisasi dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan standar internasional. Penyesuaian
pengaturan tersebut antara lain meliputi :41
1. Pengaturan mengenai transfer dana.
2. Pengaturan mengenai area berisiko tinggi.
3. Pengaturan Customer Due Dilligence (CDD) sederhana khususnya
dalam rangka mendukung dengan strategi nasional dan global
keuangan inklusif (financial inclusion).
4. Pengaturan mengenai Cross Border Correspondent Banking.
Namun, dalam kasus yang telah terjadi yakni Pencucian Uang. Maka, Tindakan-
Tindakan dalam Penegakan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang juga harus
dilakukan. Secara umum, penegakan hukum atas tindak pidana pencucian uang, upaya
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dalam di sidang pengadilan terhadap tindak
pidana pencucian uang dilakukan berdasarkan ketentuan hukum acara pidana, kecuali
beberapa hal-hal lain yang ditentukan dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian
Uang. Diantara pengecualian tersebut adalah;
1. Pemblokiran dan Penyitaan Aset.42

laundering and terrorist financing techniques and counter-measures, and promotes the adoption and
implementation of appropriate measures globally. In collaboration with other international stakeholders,
the FATF works to identify national-level vulnerabilities with the aim of protecting the international
financial system from misuse. The FATFs decision making body, the FATF Plenary, meets three times
per year. [Financial Action Task Force (FATF) adalah sebuah badan multilateral yang didirikan pada
tahun 1989 oleh menteri dari negara anggotanya. Tujuan dari FATF adalah untuk menetapkan standar dan
mendorong pelaksanaan langkah-langkah hukum, peraturan dan operasional yang efektif untuk
memberantas pencucian uang, pendanaan teroris dan ancaman terkait lainnya, demi integritas sistem
keuangan internasional. FAFT telah mengembangkan serangkaian Rekomendasi yang diakui sebagai
standar internasional untuk memberantas pencucian uang dan pendanaan terorisme dan pengembangan
senjata pemusnah massal. FAFT memonitor kemajuan anggotanya dalam mengimplementasikan langkah-
langkah yang diperlukan, memeriksa pencucian uang dan cara-cara pendanaan teroris dan langkah-
langkah mengatasinya, serta mempromosikan pengadopsian dan pelaksanaan tindakan yang tepat secara
global. Bekerja sama dengan para stakeholder internasional lainnya, FATF bekerja untuk
mengidentifikasi kerentanan di tingkat nasional dengan tujuan untuk melindungi sistem keuangan
internasional dari penyalahgunaan. Badan pengambil keputusan FATF, yaitu sidang Paripurna FATF,
bertemu tiga kali per tahun], terjemahan bebas penulis. Lihat, www.fatf-gafi.org
41
Lihat, Pemaparan tentang Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012, www.ojk.go.id.
42
Pasal 32 UU Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang menyebutkan bahwa,
Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan kepada Penyedia Jasa keuangan
untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang ang telah dilaporkan oleh PPATK
kepada penyidik, tersangkan, atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak
pidana. Perintah pemblokiran tersebut harus dilakuka secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas
mengenai : a. Nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. Identitas setiap orang yang
telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa; c. Alasan pemblokiran; d.
Tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan e. Tempat harta kekayaan berada. Sementara,
menurut PPATK mengenai penyitaan aset perlu dimasukkan dalam Revisi Undang-Undang terbarunya.
Karena hal tersebut merupakan terobosan dalam penegakan TPPU. Apalagi mengingat betapa rumitnya
proses dan tingkat pengembalian hasil kejahatan yang rendah. Karena memang, sistem hukum di
2. Permintaan Keterangan.43
3. Perlindungan Pelapor.44
Upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di atas,
hanya dapat dilakukan apabila Penyedia Jasa Keuangan (PJK)45 melaksanakan
kewajibannya dalam melaporkan setiap transaksi keuangan mencurigakan46 dan transaksi
keuangan tunai sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 13 ayat 1 huruf a dan b.
Laporan disampaikan kepada PPATK sebagai lembaga yang memiliki tugas dan
kewenangan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Penyampaian Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan Laporan Transaksi
Keuangan Tunai adalah metode terdepan dalam sistem anti pencucian uang. Laporan
Transaksi Keuangan Mencurigakan dan Laporan Transaksi Keuangan Tunai menjadi
bahan analisis PPATK. Hasil analisis tersebut akan menentukan apakah laporan tersebut
akan diserahkan kepada penyidik untuk ditindak lanjuti atau tidak.47
Dan ternyata, kepatuhan PJK sebagai ujung tombak dalam tindakan anti pencucian
uang memang masih belum optimal, terutama bagi PJK non-bank. Berdasarkan statistik
jumlah PJK yang menyampaikan laporan kepada PPATK baru 141 PJK (109 bank dan 32
non-bank), padahal kita tahu jumlah PJK di Indonesia mencapai sekitar empat ribuan.
Guna telah meningkatkan kepatuhan PJK, PPATK bekerjasama dengan otoritas lembaga
keuangan (Bank Indonesia, Bapepam dan Departemen Keuangan) terus mendorong PJK

indonesia belum mengenal mekanisme atau prosedur untuk melindungi harta kekayaan yang diambil alih,
melikuidasi atau mencairkan harta kekayaan yang disita, dan mengamankan hasil yang diperoleh dari
penyitaan itu untuk kepentingan pemerintah. Lihat, Ivan Yustiavanda Arman Nefi Adiwarman,
Tindak Pidana Pencucian Uang, hal 234.
43
Pasal 33 ayat 1 UU Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang menyebutkan
bahwa, Untuk kepentingan pemeriksaaan dalam perkara tindak pidana pencucian uang, maka penyidik,
penuntut umum, atau hakim berwenang untuk meminta keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan
mengenai harta kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan PPATK, tersangka, atau terdakwa.
44
Ini merupakan hal yang paling berbeda dari acara pidana biasanya, dan hal ini juga telah jelas
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Yakni,
Pasal 39 menyatakan bahwa, PPATK, penyidik, penuntut umum, atau hakim wajib merahasiakan
identitas pelapor. Lihat lengkap, pada Bab VII Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang Pasal 39 sampai Pasal 43.
45
Penyedia Jasa Keuangan adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa
lainnya yang terkait dengan keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank, lembaga pembiayaan,
perusahaan efek, pengelola reksadana, custodian, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian,
pedagang valuta asing, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan kantor pos. Lihat, Yunus Husein,
Pembangunan Rezim Anti Pencucian Uang Di Indonesia Dan Implikasinya Terhadap Profesi
Akuntan, Makalah disampaikan pada Forum Ilmiah Ekonomi Study Akuntansi (FIESTA 2006) dan
Temu Nasional Jaringan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (TN-JMAI, diselenggarakan oleh Fakultas
Ekonomi Universitas Bung Hatta, di Padang. Hal 4, footnote nomor 4.
46
Transaksi keuangan mencurigakan adalah transaksi keuangan yang menyimpang dari profil,
karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan; transaksi keuangan oleh
nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang
bersangkutan yang wajib dilakukan oleh penyedia jasa keuangan; dan transaksi keuangan yang dilakukan
atau batal dilakukan dengan menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.
Lihat, Yunus Husein, Pembangunan Rezim Anti Pencucian Uang Di Indonesia Dan Implikasinya
Terhadap Profesi Akuntan, Makalah disampaikan pada Forum Ilmiah Ekonomi Study Akuntansi
(FIESTA 2006) dan Temu Nasional Jaringan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (TN-JMAI,
diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta, di Padang. Hal 4, footnote nomor 5.
47
Ivan Yustiavanda Arman Nefi Adiwarman, Tindak Pidana Pencucian Uang, hal 262.
untuk meningkatkan pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer)48
dan memperkuat internal policy termasuk audit internal system. PPATK juga telah
mengeluarkan beberapa pedoman bagi PJK seperti Pedoman Umum Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan
Mencurigakan, Pedoman Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan
Transaksi Keuangan Tunai. PPATK juga melakukan audit atas kepatuhan melaksanakan
kewajiban pelaporan dan terus meng-encourage PJK untuk mau melaporkan transaksi
keuangan mencurigakan.49

48
Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principle/KYCP) ini didasari
pertimbangan bahwa KYCP tidak saja penting dalam rangka pemberantasan pencucian uang, melainkan
juga dalam rangka penerapan prudential banking untuk melindungi bank dari berbagai risiko dalam
berhubungan dengan nasabah dan counter-party. Penerapan KYCP, juga sangat berkorelasi dengan
Pelaporan LKTM. Karena dari penerapan KYCP dapat diketahui pergerakan dana yang dilakukan oleh
nasabah. Dari KYCP tersebutlah dapat diketahui identitas nasabah sekaligus pergerakan uang yang
dilakukannya
49
Yunus Husein, Pembangunan Rezim Anti Pencucian Uang Di Indonesia Dan Implikasinya
Terhadap Profesi Akuntan, Makalah disampaikan pada Forum Ilmiah Ekonomi Study Akuntansi
(FIESTA 2006) dan Temu Nasional Jaringan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (TN-JMAI,
diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta, di Padang, hal 3.
REFERENSI
Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan


Tindak Pidana Pencucian Uang

Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Anti


Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Umum

Hermansyah. Hukum Perbankan Nasional. Cet.III. Jakarta: Kencana Prenada Media


Group, 2007

Husein, Yunus. Pembangunan Rezim Anti Pencucian Uang di Indonesia dan


Implikasinya terhadap Profesi Akuntan. Makalah disampaikan pada Forum
Ilmiah Ekonomi Study Akuntansi (FIESTA 2006) dan Temu Nasional Jaringan
Mahasiswa Akuntansi Indonesia dengan tema Meminimalisasi Money
Laundering Melalui Audit Investigasi dalam mewujudkan Good Governance
dan Implikasinya terhadap Profesi Akuntan. Fakultas Ekonomi Universitas
Bung Hatta, Padang, 2006

Husein, Yunus. PPATK: Tugas, Wewenang dan Perannya dalam Memberantas


Tindak Pidana Pencucian Uang. Makalah disampaikan pada Seminar Pencucian
Uang yang diadakan bersama oleh Business Reform and Reconstruction Corporation-
PPATK-Law Office of Remy and Darus dan Jurnal Hukum Bisnis di Bank Indonesia,
Jakarta, pada tanggal 6 Mei 2003

Kulsum, Ummi. Kebijakan Indonesia Meratifikasi United Nations Convention


Againts Corruption. Skripsi. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. 2008

Kurniawan, Iwan. Perkembangan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Dampaknya


terhadap sektor Ekonomi dan Bisnis. Jurnal Ilmu Hukum. Vol.3.No.1

Nashriana. Urgensi Penerapan Know Your Customer Principles dalam Penanggulangan


Tindak Pidana Pencucian Uang dari Perspektif Non Penal Policy, Jurnal Hukum
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
Tigris, Syarifah. Tinjauan Yuridis Hukum Acara Pidana dalam Undang-Undang Nomor 8
tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang,
Jurnal Hukum Penelitian Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Yustiavandana, Ivan. Arman Nefi. Adiwarman. Tindak Pidana Pencucian Uang.


Cet.I. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010

www.academia.edu

www.faiunismuh.com

www.fatf-gafi.org

www.imf.org

www.ojk.go.id

www.sid.in-berlin.de/nedkelly-world/moneylaunderingbriefhistory.html