Anda di halaman 1dari 22

BAB I

Pendahuluan

Penyakit infeksi jamur, masih memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, mengi-
ngat negara kita beriklim tropis yang mempunyai kelembapan tinggi. Jamur bisa hidup dan tumbuh
di mana saja, baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia. Jamur bisa menyebabkan
penyakit yang cukup parah bagi manusia. Penyakit tersebut antara lain mikosis yang menyerang
langsung pada kulit, mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin jamur yang ada dalam produk
makanan, dan misetismus yang disebabkan oleh konsumsi jamur beracun.

Tinea Corporis, salah satu contoh dermatofitosis. Dermatofitosis merupakan infeksi jamur
superfisial genus dermatofita, pada lapisan epitel yang berkeratinisasi (lapisan tanduk), jarang
menginfeksi lebih dalam, ditandai dengan lesi inflamasi maupun non inflamasi pada daerah kulit
berambut halus (glabrous skin) dan tidak dapat hidup pada mem- bran mukosa (vagina, mulut).
Kadang- kadang lesinya menyerupai penyakit kulit lain, sehingga sangat diperlukan ketepatan
mendiagnosis.

Tinea Corporis mengacu pada infeksi jamur superfisial pada daerah kulit halus tanpa
rambut, kecuali telapak tangan, telapak kaki. Dinamakan Tinea Corporis karena berdasarkan
bagian tubuh yang terkena, yaitu di badan dan anggota badan; disebabkan oleh golongan jamur
Epidermophyton, Trichophyton, dan Microsporum.4 Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa dan
cabang- cabangnya di dalam jaringan keratin yang mati, hifa me- lepaskan keratinase serta enzim
lainnya guna menginvasi lebih dalam stratum korneum dan menimbulkan peradangan, walaupun
umumnya, infeksi terbatas pada epidermis, karena adanya mekanisme pertahanan tubuh non spe-
sifik, seperti komplemen, PMN, aktivasi faktor penghambat serum (serum inhibitory factor)
namun kadang-kadang dapat bertambah/meluas. Masa inkubasinya sekitar 1-3 minggu. Tinea
Corporis merupakan infeksi yang umum terjadi pada daerah dengan iklim hangat, lembab; sekitar
47% disebabkan oleh Trichophyton Rubrum.

TINEA CORPORIS 1
Infeksi dermatofitosis jarang menimbulkan kematian, akan tetapi dapat memberikan efek
yang besar terhadap kualitas hidup. Diagnosis dermatofitosis memerlukan gabungan data klinis,
gambaran status lokalis dan pemeriksaan penunjang. Manifestasi klinis berupa pertumbuhan jamur
dengan pola radial di dalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit sirsinar dengan
batas jelas dan meninggi yang disebut ringworm, tepi polisiklik, daerah tepi tampak vesikel-
vesikel kecil dengan skuama halus dan aktif. Dijumpai daerah penyembuhan sentral. Biasanya rasa
gatal bertambah jika berkeringat.

TINEA CORPORIS 2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Kulit adalah organ yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup
manusia. Luas kulit orang dewasa 2m2 dengan berat kira- kira 16%berat badan. Kulit merupakan
organ yang esensial dan vital sertamerupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat
kompleks, elastis dan sensitive, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras, dan juga
bergantung pada lokasi tubuh. Kulit mempunyai berbagai fungsi seperti sebagai pelindung,
pengantar haba, penyerap, indera perasa, dan fungsi pengetahuan.
Warna kulit berbeda- beda, dari kuli yang berwarna terang, pirang dan hitam, warna merah
muda pada telapak kaki dan tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang
deawasa. Demikian pula kulit bervariasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya; kulit yang elastis
dan longgar terdapat pada palpebral, bibi dan preputium, kulit yang tebal dan tegang terdapat di
telapak kaki dan tangan dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang berambut kasar terdapat
pada kepala.
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis
(kutikel), lapisan dermis, dan lapisan subkutis. Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan
subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel jaringan lemak.

Gambar 2.1 Anatomi kulit

TINEA CORPORIS 3
2.1.1 Lapisan epidermis
Lapisan epidermis terdiri dari stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum,
stratum spinosum, dan stratum basale. Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar dan
terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanyatelah
berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum lusidum terdapat langsung dibawah lapisan
korneum, merupakan lapisan sel- sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi
protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas ditelapak tangan dan kaki.
Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel- sel gepeng dengan sitoplasma berbutir
kasar dan terdapat dan terdapat inti diantaranya. Butir- butir kasar ini terdiri atas keratohialin.
Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk polygonal yang besarnya berbeda-
beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena mengandung banyak glikogen,
dan inti terletak ditengah- tengah. Sel- sel ini makin dekat dekat kepermukaan makin gepeng
bentuknya. Diantara sel- sel spinosum terdapat pula Langerhans. Sel- sel stratum spinosum
mengandung banyak glikogen.
Stratum germativum terdiri atsa sel- sel berbentuk kubus yang tersusun vertical pada
perbatasan dermo- epidermal berbasis seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan lapisan
epidermis yang paling bawah. Sel- sel basal ini mengalami mitosis yang berfunsi sebagai
reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu sel- sel yang benrbentuk kolumnar dengan
protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkansatu dengan yang lain oleh jembatan
antar- sel, dan sel pembentuk melanin atau clear cell yang merupakan sel- selberwarna muda
dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen.

TINEA CORPORIS 4
Gambar 2.1.1 Anatomi Lapisan Epidermis

2.1.2 Lapisan dermis


Lapisan yang terletak dibawah epidermis adalah lapisan dermis yang jauh lebih tebal
daripada epidermis. Lapisan ini terdiri dari lapisan elastisdan fibrosa padat dengan elemen- elemen
selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian yakni pars papilare yaitu
bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah, dan pars
retikulare yaitu bagianbawahnya yang menonjol kearah subkutan, bagian ini terdiri dari serabut-
serabut penunjangmisalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas
cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblast,
membentuk ikatan yang mengandung hidrroksiprolin dan hidroksisilin.kolagen muda bersifat
lentur dan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil. Retikulin mirip dengan
kolagenmuda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang
serta lebih elastis.

TINEA CORPORIS 5
Gambar 2.1.2 Gambar Anatomi lapisan dermis
TINEA CORPORIS 6
2.1.3 Lapisan subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-
sel lemak didalamnya. Sel- sel lemak merupakan sel bulat, besar dengan inti terdesak ke pinggir
sitoplasma lemak yang bertambah. Sel- sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan
yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel- sel lemak disebut panikulus adipose, berfungsi
sebagai cadangan makanan. Dilapisan ini terdapat ujunug- ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan
getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokasinya. Di abdomen
dapat mencapai ketebalan 3 cm, di kelopak mata dan penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga
merupakan bantalan.
Vaskularisasi di kulit di atur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di bagian atas
dermis (pleksus superficial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang
didermis bagian atas mengadakan anastomosis, di bagian ini pembuluh darah berukuran lebih
besar, bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran getah bening.

Gambar 2.1.3 Gambar Anatomi lapisan subkutis

TINEA CORPORIS 7
2.1.4 Adneksa kulit
Adneksa kulit terdiri atas kelenjar- kelenjar kulit , rambut dan kuku. Kelenjar kulit terdapat
di lapisan dermis, terdiri atas kelenjar keringat dan kelenjar palit. Ada 2 macam kelenjar keringat
yaitu kelenjar ekrin yang kecil- kecil, terletak dangkal di dermis dengan sekret yang encer, dan
kelenjar apokrin yang lebih besar, terletak lebih dalam dan sekret nya lebih kental.
Kelenjar ekrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu kehamilan dan berfungsi 40
minggu setelah kehamilan. Saluran kelenjar ini berbentuk spiral dan bermuara langsung
dipermukaan kulit. Terdapat diseluruh permukaan kulit dan terbanyak ditelapak tangan, telapak
kaki, dahi dan aksila. Sekresi tergantung pada beberapa factor dan dipengaruhi oleh saraf
kolinergik, factor panas, dan emosional.
Kelenjar apokrin dipengaruhi oelh saraf adrenergic, terdapat di aksila, areola mame, pubis,
labia minora, dan saluran telinga luar. Fungsi apokrin pada manusia belum jelas pada waktu lahir
kecil, tetapi pada pubertas mulai besar dan mengeluarkan secret. Keringat mengandung air,
elektrolit, asam laktat, danglukosa, biasa nya pH sekitar 4-6,8.
Kulit palit terletak diseluruh permukaan kulit manusia kecuali ditelapak tangan dan kaki.
Kelenjar palit disebut juga kelenjar holokrin karena tidak berlumen dan secret kelenjar ini berasal
dari dekomposisi sel- sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya terdapat disamping akar rambut dan
muaranya terdapat pada lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida,
asam lemak bebas,skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi hormon androgen, pada
anak- anak jumlah kelenjar palit sedikit, pada pubertas menjadi lebih besar dan banyak serta mulai
berfungsi secara aktif.
Kuku adalah bagian terminal stratum korneum yang menebal. Bagia kuku yang terbenam
dalam kulit jari disebut akar kuku, bagian yang terbuka diatas dasar jaringan lunak kulit pada ujung
jari dikenal sebagai badan kuku, dan yang paling ujung adalah bagian kuku yang bebas. Kuku
tumbuh dari akar kuku keluar dengan kecepatan tumbuh kira- kira 1 mm per minggu. Sisi kuku
agak mencekung membentuk alur kuku. Kuku tipis yang menutupi kuku dibagian proksimal
disebut eponikium sedangkan kuku yang ditutupibagian kuku bebas disebut hiponikum.
Rambut terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit dan bagian yang berada dikulit. Ada
2 macam tipe rambut, yaitu lanugo yang merupakan rambut halus, tidak mengandung pigmen dan
terdapat pada bayi, dan rambut terminal yaitu rambut yang lebih kasar denganbanyak pigmen,
mempunyai medulla, dan terdapat pada orang dewasa. Pada orang dewasa selain rambut dikepala,

TINEA CORPORIS 8
juga terdapat bulu mata, ketiak, rambut kemaluan, kumis, dan janggut yang pertumbuhannya
dipengaruhi oelh hormon androgen. Rambut halus di dahi dan badan lain disebut rambut velus.
Rambut tumbuh secra siklik, fase anagen berlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh kira-
kira 0,35 mm per hari. Fase telogen berlangsung beberapa bulan. Diantara kedua fase tersebut
terdapat fase katagen. Komposisi rambut terdiri atas karbon 50,60%, hydrogen 6,36%, nitrogen
17,14%, sulfur 5% dan oksigen 20,80%.

2.2 Definisi

Tinea korporis adalah dermatofitosis pada kulit yang tidak berambut (glabrous skin) kecuali
telapak tangan, telapak kaki, dan lipat paha (Verma dan Heffernan,2008). Dermatofitosis adalah
infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycrosporum dan
Trycophyton. Terdapat lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi kulit dan
salah satu penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita adalah tinea korporis.

2.3 Etiologi
Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur dermatofita yaitu
Epidermophyton, Mycrosporum dan Trycophyton. Terdapat lebih dari 40 spesies dermatofita yang
berbeda, yang menginfeksi kulit dan salah satu penyakit yang disebabkan jamur golongan
dermatofita adalah tinea korporis.

2.4 Epidemiologi
Prevalensi infeksi jamur superfisial di seluruh dunia diperkirakan menyerang 20-25%
populasi dunia dan merupakan salah satu bentuk infeksi kulit tersering . Penyakit ini tersebar di
seluruh dunia yang dapat menyerang semua ras dan kelompok umur sehingga infeksi jamur
superfisial ini relatif sering terkena pada negara tropis (iklim panas dan kelembaban yang tinggi)
dan sering terjadi eksaserbasi . Penyebab tinea korporis berbeda-beda di setiap negara, seperti di
Amerika Serikat penyebab terseringnya adalah Tricophyton rubrum, Trycophyton
mentagrophytes, Microsporum canis dan Trycophyton tonsurans. Di Afrika penyebab tersering
tinea korporis adalah Tricophyton rubrum dan Tricophyton mentagrophytes, sedangkan di Eropa
penyebab terseringnya adalah Tricophyton rubrum, sementara di Asia penyebab terseringnya
adalah Tricophyton rubrum, Tricophyton mentagropytes dan Tricophyton violaceum . Dilaporkan

TINEA CORPORIS 9
penyebab dermatofitosis yang dapat dibiakkan di Jakarta adalah T. rubrum 57,6%, E. floccosum
17,5%, M. canis 9,2%, T.mentagrophytes var. granulare 9,0%, M. gypseum 3,2%, T. concentricum
0,5% .

Gambar. Jenis- jenis tinea

2.5 Klasifikasi
Menurut Arnold et al (1990) berdasarkan pada pejamunya, jamur penyebab dermatofita
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, dimana pembagian ini juga mempengaruhi cara penularan
penyakit akibat dermatofita ini. Pengelompokannya yaitu:
Geofilik yaitu transmisi dari tanah ke manusia
Zoofilik yaitu transmisi dari hewan ke manusia, contoh Trycophyton simii (monyet),
Trycophyton mentagrophytes (tikus), Microsporum canis (kucing), Trycophyton equinum
(kuda) dan Microsporum nannum (babi).
Antrofilik yaitu transmisi dari manusia ke manusia.

TINEA CORPORIS 10
2.6 Patogenesa
Elemen kecil dari jamur disebut hifa, berupa benang-benang filament terdiri dari sel-sel yang
mempunyai dinding. Dinding sel jamur merupakan karakteristik utama yang membedakan jamur,
karena banyak mengandung substrat nitrogen disebut dengan chitin. Struktur bagian dalam
(organela) terdiri dari nukleus, mitokondria, ribosom, retikulum endoplasma, lisosom, apparatus
golgi dan sentriol dengan fungsi dan peranannya masing-masing. Benang-benang hifa bila
bercabang dan membentuk anyaman disebut miselium.
Dermatofita berkembang biak dengan cara fragmentasi atau membentuk spora, baik seksual
maupun aseksual. Spora adalah suatu alat reproduksi yang dibentuk hifa, besarnya antara 1-3,
biasanya bentuknya bulat, segi empat, kerucut atau lonjong. Spora dalam pertumbuhannya makin
lama makin besar dan memanjang membentuk hifa. terdapat 2 macam spora yaitu spora seksual
(gabungan dari dua hifa) dan spora aseksual (dibentuk oleh hifa tanpa penggabungan) .
Infeksi Dermatofita diawali dengan perlekatan jamur atau elemen jamur yang dapat tumbuh
dan berkembang pada stratum korneum. Pada saat perlekatan, jamur dermatofita harus tahan
terhadap rintangan seperti sinar ultraviolet, variasi temperatur dan kelembaban, kompetensi
dengan flora normal, spingosin dan asam lemak. Kerusakan stratum korneum, tempat yang tertutup
dan maserasi memudahkan masuknya jamur ke epidermis . Masuknya dermatofita ke epidermis
menyebabkan respon imun pejamu baik respon imun nonspesifik maupun respon imun spesifik.
Respon imun nonspesifik merupakan pertahanan lini pertama melawan infeksi jamur. Mekanisme
ini dapat dipengaruhi faktor umum, seperti gizi, keadaan hormonal, usia, dan faktor khusus seperti
penghalang mekanik dari kulit dan mukosa, sekresi permukaan dan respons radang. Respons
radang merupakan m ekanisme pertahanan nonspesifik terpenting yang dirangsang oleh penetrasi
elemen jamur. Terdapat 2 unsur reaksi radang, yaitu pertama produksi sejumlah komponen kimia
yang larut dan bersifat toksik terhadap invasi organisme. Komponen kimia ini antara lain ialah
lisozim,sitokin,interferon,komplemen, dan protein fase akut. Unsur kedua merupakan elemen
seluler,seperti netrofil, dan makrofag, dengan fungsi utama fagositosis, mencerna, dan merusak
partikel asing.
Makrofag juga terlibat dalam respons imun yang spesifik. Selsel lain yang termasuk respons
radang nonspesifik ialah basophil, sel mast, eosinophil, trombosit dan sel NK (natural killer).
Neutrofil mempunyai peranan utama dalam pertahanan melawan infeksi jamur . Imunitas spesifik
membentuk lini kedua pertahanan melawan jamur setelah jamur mengalahkan pertahanan

TINEA CORPORIS 11
nonspesifik. Limfosit T dan limfosit B merupakan sel yang berperan penting pada pertahanan
tubuh spesifik. Sel-sel ini mempunyai mekanisme termasuk pengenalan dan mengingat organism
asing, sehingga terjadi amplifikasi dari kerja dan kemampuannya untuk merspons secara cepat
terhadap adanya presentasi dengan memproduksi antibodi, sedangkan limfosit T berperan dalam
respons seluler terhadap infeksi. Imunitas seluler sangat penting pada infeksi jamur. Kedua
mekanisme ini dicetuskan oleh adanya kontak antara limfosit dengan antigen.

2.7 Gambaran Klinis


Gambaran klinis dimulai dengan lesi bulat atau lonjong dengan tepi yang aktif dengan
perkembangan kearah luar, bercak-bercak bisa melebar dan akhirnya memberi gambaran yang
polisiklik,arsinar,dan sirsinar. Pada bagian pinggir ditemukan lesi yang aktif yang ditandai dengan
eritema, adanya papul atau vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang. Tinea
korporis yang menahun, tandatanda aktif menjadi hilang dan selanjutnya hanya meninggalkan
daerah hiperpigmentasi saja . Gejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat dan
kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan . Tinea korporis biasanya terjadi setelah
kontak dengan individu atau dengan binatang piaraan yang terinfeksi, tetapi kadang terjadi karena
kontak dengan mamalia liar atau tanah yang terkontaminasi. Penyebaran juga mungkin terjadi
melalui benda misalnya pakaian, perabot dan sebagainya .

Gambar. Tinea corporis pada leher dan wajah

TINEA CORPORIS 12
Gambar. Tinea corporis pada kaki

Gambar. Tinea corporis pada lengan

TINEA CORPORIS 13
Gambar. Tinea corporis pada daerah badan

2.8 Pemeriksaan laboratorium


Selain dari gejala khas tinea korporis, diagnosis harus dibantu dengan pemeriksaan
laboratorium antara lain pemeriksaan mikroskopis, kultur, pemeriksaan lampu wood, biopsi dan
histopatologi, pemeriksaan serologi, dan pemeriksaan dengan menggunakan PCR . Pemeriksaan
mikroskopis dilakukan dengan membuat preparat langsung dari kerokan kulit, kemudian sediaan
dituangi larutan KOH 10%. Sesudah 15 menit atau sesudah dipanaskan dengan api kecil, dilihat
di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini memberikan hasil positif hifa ditemukan hifa (benang-
benang) yang bersepta atau bercabang, selain itu tampak juga spora berupa bola kecil sebesar 1-
3 . Kultur dilakukan dalam media agar sabaroud pada suhu kamar (2530C),kemudian satu
minggu dilihat dan dinilai apakah ada pertumbuhan jamur. Spesies jamur dapat ditentukan melalui
bentuk koloni, bentuk hifa dan bentuk spora . Pemeriksaan lampu wood adalah pemeriksaan yang
menggunakan sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 365 nm. Sinar ini tidak dapat dilihat.
Bila sinar ini diarahkan ke kulit yang mengalami infeksi oleh jamur dermatofita tertentu, sinar ini
akan berubah menjadi dapat dilihat dengan memberi warna (fluoresensi). Beberapa jamur yang
memberikan fluoresensi yaitu M.canis, M.audouini, M.ferrugineum dan T.schoenleinii .

TINEA CORPORIS 14
2.9 Diagnosa Banding
Ada beberapa diagnosis banding tinea korporis, antara lain:
eritema anulare sentrifugum,
eksema numular,
granuloma anulare,
psoriasis,
dermatitis seboroik,
pitiriasis rosea,
liken planus dan
dermatitis kontak

2.10Pengobatan
Pengobatan infeksi jamur dibedakan menjadi pengobatan non medikamentosa dan pengobatan
medikamentosa.
a. Non Medikamentosa Menurut Badan POM RI (2011), dikatakan bahwa penatalaksanaan non
medikamentosa adalah sebagai berikut:
Gunakan handuk tersendiri untuk mengeringkan bagian yang terkena infeksi atau bagian yang
terinfeksi dikeringkan terakhir untuk mencegah penyebaran infeksi ke bagian tubuh lainnya,
Jangan mengunakan handuk, baju, atau benda lainnya secara bergantian dengan orang yang
terinfeksi,
Cuci handuk dan baju yang terkontaminasi jamur dengan air panas untuk mencegah
penyebaran jamur tersebut. Bersihkan kulit setiap hari menggunakan sabun dan air untuk
menghilangkan sisa-sisa kotoran agar jamur tidak mudah tumbuh,
Jika memungkinkan hindari penggunaan baju dan sepatu yang dapat menyebabkan kulit selalu
basah seperti bahan wool dan bahan sintetis yang dapat menghambat sirkulasi udara,
Sebelum menggunakan sepatu, sebaiknya dilap terlebih dahulu dan bersihkan debu-debu yang
menempel pada sepatu,

TINEA CORPORIS 15
Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami infeksi jamur. Gunakan sandal yang
terbuat dari bahan kayu dan karet.

b. Medikamentosa
Pengobatan tinea korporis terdiri dari pengobatan lokal dan pengobatan sistemik. Pada tinea
korporis dengan lesi terbatas,cukup diberikan obat topikal. Lama pengobatan bervariasi antara 1-
4 minggu bergantung jenis obat. Obat oral atau kombinasi obat oral dan topikal diperlukan pada
lesi yang luas atau kronik rekurens. Anti jamur topikal yang dapat diberikan yaitu derivate
imidazole, toksiklat, haloprogin dan tolnaftat. Pengobatan lokal infeksi jamur pada lesi yang
meradang disertai vesikel dan eksudat terlebih dahulu dilakukan dengan kompres basah secara
terbuka .
Pada keadaan inflamasi menonjol dan rasa gatal berat, kombinasi antijamur dengan
kortikosteroid jangka pendek akan mempercepat perbaikan klinis dan mengurangi keluhan pasien.
Pengobatan Topikal
Pengobatan topikal merupakan pilihan utama. Efektivitas obat topikal dipengaruhi oleh
mekanisme kerja,viskositas, hidrofobisitas dan asiditas formulasi obat tersebut. Selain obat-
obat klasik, obat-obat derivate imidazole dan alilamin dapat digunakan untuk mengatasi
masalah tinea korporis ini efektifitas obat termasuk golongan imidaol kurang lebih sama.
Pemberian obat dianjurkan selama 3-4 minggu atau sampai hasil kultur negative. Selanjutnya
dianjurkan juga untuk meneruskan pengobatan selama 7-10 hari setelah penyembuhan klinis
dan mikologis dengan maksud mengurangi kekambuhan.
Pengobatan Sistemik Menurut yang dapat diberikan pada tinea korporis adalah:
Griseofulvin Griseofulvin merupakan obat sistemik pilihan pertama. Dosis untuk anak-
anak 15-20 mg/kgBB/hari, sedangkan dewasa 500-1000 mg/hari.
Ketokonazol Ketokonazol digunakan untuk mengobati tinea korporis yang resisten
terhadap griseofulvin atau terapi topikal. Dosisnya adalah 200 mg/hari selama 3 minggu.
Obat-obat yang relative baru seperti itrakonazol serta terbinafin dikatakan cukup
memuaskan untuk pengobatan tinea korporis.

TINEA CORPORIS 16
BAB 3
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas pasien
Nama : Tn. BKL
Umur : 40 tahun
Jenis kelamin : Laki- laki
Agama : Budha
Alamat : Jl. Rajawali 1 rt 06/02
No RM : 7285

3.2 Anamnesis
Keluhan utama: Gatal dan kemerahan pada lengan kanan dan daerah kaki kanan.

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke poli BPU puskesmas kecamatan pademangan timur pada dengan keluhan
gatal dan kemerahan di lengan kanan dan daerah kaki kanan. Keluhan sudah dialami pasien
sejak 2 minggu, keluhan semakin gatal dirasakan pasien saat berkeringat dan saat kondisi
pakaian pasien basah atau lembab. Pasien sering melakukan aktivitas diluar ruangan
sehingga pasien sering berkeringat, dan pasien tidak bisa mengganti pakian terus- menerus
saat kondisi pakaiannya basah.

3.3 Pemeriksaan fisik


Status generalis
Kesadaran umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Kepala : dbn
Leher : dbn
Thorax : dbn
Abdomen : dbn
Ekstremitas : lihat status dermatologis
Genitalia : dbn

TINEA CORPORIS 17
Status dermatologis

Daerah lengan kanan

Tampak ada 3 UKK yang pinggirnya merah dan seperti warna kulit sehat ditengah nya (central
healing)
Tampak sisik (skuama) halus

TINEA CORPORIS 18
Tampak 2 UKK berbentuk ring worm yang pinggir nya berwana merah dan daerah kulit
tengah nya seperti kulit yang sehat
Tampak skuama halus di daerah yang aktif (merah)
Terdapat 2 UKK yang atas berukuran lebih kecil dari UKK yang satunya lagi.

TINEA CORPORIS 19
3.4 Diagnosis
Tinea Corporis

3.5 Penatalaksanaan
Nonmedikamentosa
Pasien disarankan untuk menjaga kebersihan badan dan pakaian yang dipakai,
Pasien disarankan untuk tidak menggaruk daerah kulit yang mengalami kelainan,
Mencuci tangan setelah memegang daerah kulit yang mengalami masalah.

Medikamentosa
Salep ketokonazol 3x1
CTM 3x1
Vitamin C 3x1

TINEA CORPORIS 20
BAB 4
PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan Pasien datang ke poli BPU puskesmas kecamatan pademangan
timur pada dengan keluhan gatal dan kemerahan di lengan kanan dan daerah kaki kanan. Keluhan
sudah dialami pasien sejak 2 minggu, keluhan semakin gatal dirasakan pasien saat berkeringat
dan saat kondisi pakaian pasien basah atau lembab. Pasien sering melakukan aktivitas diluar
ruangan sehingga pasien sering berkeringat, dan pasien tidak bisa mengganti pakian terus- menerus
saat kondisi pakaiannya basah.
Dari status dermatologisnya kita dapatkan bahwa terdapat lesi didaerah kaki, dan tangan. Lesi
berbentuk bulat, berbatas tegas.Daerah pinggir lesi nya berwarna kemerahan dengan daerah
tengahnya berwarna seperti kulit normal dan berada di daerah yang tidak berambut . Hal ini sesuai
dengan diagnosis tinea corporis. Pada pasien ini penatalaksanaannya adalah dengan memberikan
salep topical dan sistemik. Obat topical adalah salep ketokonazol dan obat sistemik nya diberikan
CTM tablet dan vitamin C tablet. Pemberian obat sistemik CTM ini diberikan sesuai indikasi
untuk mengurangi rasa gatal agar mengurangi pasien menggaruk dan pemberian vitamin C tablet
diberikan agar membantu proses regenerasi kulit dengan kata lain membantu penyembuhan.
Prognosis dari tinea corporis yang diderita pasien pada umumnya baik apabila diobati dengan
benar dan juga menghindari faktor pencetus dan predisposisi, demikian juga sebaliknya.

TINEA CORPORIS 21
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.5. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2007.
2. Darwanto. PU, Tjahaya. Prianto, Juni LA. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta: 2012.
3. Adhi D, Mochtar H, Siti A, Editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keenam.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
4. Idris, IS. Tinea Corporis et causa Trychophyton rubrum Tipe Granural. Diakses tanggal
28 August 2017 dalam www.ojs.unm.ac.id
5. Ernawati. Y. Penggunaan Ketokonazol pada Pasien Tinea Corporis. Diakses tanggal 28
August 2017 dalam www.jukenila.com
6. Kurniati,Cita Rosa SP. Etiopatogenesis of Dermatifitosis. Diakses tanggal 28 August 2017
dalam www.journal.unair.ac.id

TINEA CORPORIS 22