Anda di halaman 1dari 4

CONTOH KASUS

TINDAK PIDANA DI BIDANG PERBANKAN

TUGAS
Agus Guntomo (38) dan Ngatemin (37), dua terdakwa kasus pembobolan anjungan tunai mandiri
atau ATM. Peran terdakwa adalah dalam membuat cover kamera tersembunyi yang dipasang di
atas keypad mesin ATM. Dengan cara itu terdakwa bisa mengambil PIN nasabah dan data kartu
nasabah dengan menggunakan skimmer untuk selanjutnya dibuat kartu ATM palsu.

Dengan skimmer itu, kedua terdakwa terlibat mengambil sejumlah dana nasabah pada 16-17
Januari 2010. Pembobolan dengan menggunakan alat itu dilakukan di berbagai ATM, yakni Bali
146 loksi, Jakarta 14 lokasi dan lima lokasi lainnya di sejumlah daerah.

Bahkan, aksi pembobolan yang kedua, terdakwa ikut terlibat dalam kasus serupa di luar negeri,
yakni Australia dengan menyasar 69 ATM. Pembobolan itu mengakibatkan BCA mengalami
kerugian Rp. 5,8 milliar.

Selain Agus dan Ngatemin, dua anggota sindikat pembobolan ATM, Roby Sugihartono (29) dan
Suhadi Lumanto (27), juga bakal dihadapkan pada persidangan. Keduanya berperan sebagai
pemasang skimmer yang dibuat Agus dan Ngatimen, sekaligus juga membobol ATM.

Analisis :

Semakin berkembangnya zaman dan semakin canggihnya teknologi pula, kejahatan cyber
crime pun semakin berinovasi dengan modus operandi yang baru pula. Bentuk kejahatannya
berkembang, mulai dari yang dikenal umum hacking, cracking, carding.

Seiring dengan meningkatnaya tindak kejahatan cyber crime di bidang perbankan,


terutama kasus-kasus pembobolan terhadap system keamanan dan pembobolan rekening
(hacking) atau system elektronik nasabah dalam system perbankan nasional dengan
menggunakan sarana, prasarana dan identitas orang lain guna memalsukan kartu kredit dalam
kejahatan yang disebut carding.1
Cara-cara yang digunakan untuk melakukan carding :
1. Dengan cara mencuri kartu kredit. Cara yang digunakan dimulai dengan mencuri kartu
kredit atau mendapatkan data yang terkait dengan suatau rekening, termasuk nomor
rekening kartu kredit atau informasi lain yang diperlukan oleh penerima kartu kredit
(merchant) dalam suatu transaksi.

1
Mahesa Jati Kusuma, Hukum Perlindungan Nasabah Bank, Nusa Media, Yogyakarta, 2012, hlm. 7
2. Dengan cara menanamkan spyware parasites. Spyware parasites ini dapat melakukan
pencurian identitas dan dapat menelusuri nomer-nomer kartu kredit ketika seseorang
pemegang kartu kredit menggunakan kartu kreditnya untuk berbelanja secara online.
3. Seorang petugas toko menyalin tanda terima penjualan dari barang yang dibeli oleh
pelanggan dengan tujuan untuk dapat digunakan melakukan kejahatan dikemudian hari.
4. Dengan melakukan skimming. Skimming merupakan suatu hi-tech metod, yaitu si
pencuri memperoleh informasi mengenai pribadi atau mengenai rekenig dari kartu
kredit, Surat Izin Mengemudi (SIM), Kartu Tanda Penduduk (KTP), ataupun paspor.
Pelaku skimming menggunakan alat elektroni (electronic drive) untuk memperoleh
informasi tersebut. Alat ini disebut skimmer yang harganya murah yaitu dibawah US$
50 atau sekitar Rp. 450.000. Ketika kartu kredit atau kartu ATM digesek (swipe trough)
melalui skimmer tadi, maka informasi yang terdapat dalam magnetic stripe pada kartu
akan dibaca oleh skimmer dan disimpan didalam alat itu atau didalam computer yang
tersambung dengan alat tersebut.
Skimmer yang terjadi melalui mesin ATM, dilakukan oleh pelakunya dengan
memasukkan suatu card trapping drive kedalam ATM card slot. Ketika kartu ATM
dimasukkanm ke dalam ATM card slot tersebut, maka card trapping drive yang ada
didalam ATM card slot membaca data dalam kartu ATM dan menyimpannya untuk
kemudian hari digunakan melalui kejahatan skimming.2
Dengan cara inilah sindikat pembobol bank ini, melakukan kejahatannya. Dengan
kemajuan teknologi yang semakin berkembang, tindak pidana di bidang perbankan pun mulai
berkembang mengikuti kemajuan teknologi yang ada, dan apa yang mereka lakukan ini
merupakan kejahatan di bidang IT.
Dalam kasus ini perbuatan keduanya melanggar Pasal 362 KUHP juncto Pasal 56 ke-2
KUHP. Dengan diancam pidana penjara paling lama lima tahun dan dengan denda paling
banyak enam puluh rupiah. Sebelum lahirnya UU No 11 tahun 2008 tentang ITE, maka mau
tidak mau polri harus menggunakan pasal-pasal didalam KUHP seperti pasal pencurian.
Kemudian setelah lahir nya UU ITE khusus carding dapat dijerat dengan menggunakan
pasal 31 ayat 1 dan 2 yang membahas tentang hacking karena salah satu langkah untuk

2
Mahesa Jati Kusuma, Hukum Perlindungan Nasabah Bank, Nusa Media, Yogyakarta, 2012, hlm. 10
mendapatkan nomor kartu ATM, carder yang dilakukan oleh pelaku adalah hacking informasi
dengan menggunakan kamera tersembunyi dan mencuri nomor-nomor kartu tersebut
kemuadia mengcopy kartu ATM untuk mengambil uang nasabah.
Perlindungan nasabah kasus carding, telah diatur dalam UU ITE No.11 Tahun 2008.
Yang ada pada pasal 31.
Adapun bunyi pasal 31 yang menerangkan tentang perbuatan yang dianggap melawan
hukum menurut UU ITE berupa illegal acces adalah:
Pasal 31 ayat 1:
setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi
atau penyadapan atas informasi elektroika atau dokumeen elektronika dalam suatu komputer
atau sistem elektronik secara tertentu milik orang lain.
Pasal 31 ayat 2:
setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak atau melawan hukum melakukan
intersepsi atau transmisi elektronik dan dokumen elektronik yang tidak bersifat publik
didalam suatu komputer atau sitem elektronik tertentu milik orang lain,baik yang tidak
menyebabkan perubahan ,penghilangan atau penghentian informasi elektronik atau dokumen
elektronik yang ditransmisikan.
Kejahatan yang dilakukan oleh kedua pelaku telah melanggar pasal-pasal yang ada
pada UU atau peraturan yang terdapat diluar UU Perbankan yaitu UU No. 7 Tahun 1992
juncto UU No. 20 Tahun 1998 tentang Perbankan. Dengan demikian kasus ini merupakan
tindak pidana di bidang perbankan.