Anda di halaman 1dari 8

Cara memilih benih yang baik

Setiap sawah yang akan ditanami padi seluas 1 hektar membutuhkan benih sebanyak kira-
kira 20 kg. Benih yang akan ditanam harus dipilih yang baik. Memilih benih padi yang baik ada
3 cara, tetapi hanya satu cara saja yang dipakai. Pilih satu dari 3 cara berikut:

1. Pemilihan benih yang baik dengan telur dan air garam


a. Siapkan ember dengan ukuran minimal cukup untuk 3 kali volume/banyaknya benih.
b. Masukan air ke dalam ember, sebanyak kira-kira 2 kali volume benih.
c. Letakan telur di dasar air dan masukan garam dapur sedikit demi sedikit sampai telur
terangkat ke permukaan air, lalu telur diambil.
d. Kemudian masukkan benih padi IR 64 ke dalam larutan air garam.
e. Selanjutnya di aduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang atau tidak ditanam.
f. Benih yang tengelam disemaikan.

2. Pemilihan benih yang baik dengan air garam


a. Siapkan ember dengan ukuran minimal cukup untuk 3 kali volume benih.
b. Buatlah larutan 20 gram garam dapur dalam 1 liter air
c. Masukan larutan garam ke dalam ember sebanyak 2 kali volume benih.
d. Masukan benih ke dalam larutan garam tersebut.
e. Kemudian di aduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang atau tidak ditanam.
f. Benih yang tengelam disemaikan.

3. Pemilihan benih yang baik dengan pupuk ZA


a. Siapkan ember dengan ukuran minimal cukup untuk 3 kali volume benih.
b. Buatlah larutan 20 gram pupuk ZA dalam 1 liter air.
c. Masukan larutan pupuk ZA ke dalam ember sebanyak 2 kali volume benih.
d. Masukan benih ke dalam larutan pupuk ZA tersebut.
e. Kemudian di aduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang atau tidak ditanam.
f. Benih yang tengelam disemaikan.

4. Perlakuan benih padi untuk disemaikan


Setelah mendapatkan benih padi yang baik atau benih padi yang tenggelam, tidak
langsung disebar pada persemaian tetapi harus dilakukan hal-hal berikut:
a. Benih yang tenggelam dibilas dengan air bersih, agar tidak mengandung larutan garam
atau pupuk.
b. Setelah bersih, benih direndam selama 24 jam, kemudian ditiriskan selama 48 jam.
c. Lalu benih siap disebar pada bedengan persemaian.

5. Cara persemaian/pembibitan
a. Pilih lokasi persemaian dekat dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik, agar
air di persemaian dapat diatur dengan baik (cepat diairi dan cepat pula dikeringkan
menurut kebutuhan).
b. Buatlah bedengan pembibitan seluas 400 m2, dengan lebar 1 - 1,2 m dan panjangnya
menurut keadaan lahan. Antar bedengan dibuat parit sedalam 25 - 30 cm.
c. Setiap 2 m2 bedengan campurkan kera-kira 2 kg bahan organik seperti kompos atau
pupuk kandang atau campuran serbuk kayu, abu, sekam padi. Pemberian bahan
organik pada persemaian ini akan memudahkan pencabutan bibit padi sehingga
kerusakan akar dapat dikurangi.
d. Persemaian perlu dilindungi dari hama tikus, sebab tikus sangat senang benih padi
yang baru disebar, dengan cara:
- Buat pagar plastik mengelilingi tempat pembibitan.
- Cara ini akan lebih baik/tepat apabila tempat persemaian beberapa petani dalam
satu lokasi, dipasang bubu perangkap pada pagar plastik untuk pengendalian tikus
sejak dini.
- Sebarlah benih padi secara merata di atas bedengan.
Menyeleksi Kebernasan Benih

Petani sering dihadapkan pada persoalan biaya untuk membeli benih unggul
bersertifikat. Meskipun Kementerian Pertanian memiliki program penyediaan benih gratis
melalui BLBU, SLPTT, dan sejenisnya yang ditujukan untuk membantu penggunaan benih
unggul bagi petani, namun belum semua petani bisa menikmati program tersebut tiap musim
tanam. Sementara, benih merupakan salah satu dari beberapa komponen utama untuk
memperoleh produksi padi yang tinggi.

Akhirnya petani biasa memilih benih dari hasil panennya sendiri, kemudian merendam
dalam air agar terpisah antara benih hampa dan yang bernas. Cara tersebut masih
menghasilkan pertumbuhan bibit padi yang tidak seragam dan produksi belum maksimal.
Sebabnya, benih dengan indikasi tidak memenuhi syarat tumbuh baik (indikasi retak dan
hampa) masih tenggelam di dasar wadah, kemudian dianggap sebagai benih bernas. Padahal
tidak.

Dengan memanfaatkan sebutir telur dan garam, akan diperoleh benih yang benar-
benar bernas. Pada kondisi normal, telur tenggelam dalam air. Dengan menambahkan garam,
air menjadi larutan garam yang lebih kental kemudian mampu mengangkat telur ke
permukaan air (mengapung). Bila telur saja dapat diapungkan dalam larutan garam, apalagi
benih hampa dan retak. Berikut prosedurnya:

1. Siapkan wadah boleh ember atau bak yang akan diisi air, sebutir telur utuh, garam, dan
benih padi yang akan diseleksi.
2. Masukkan air ke dalam wadah, kemudian masukkan sebutir telur ke air. Perhatikan bahwa
telur akan tenggelam ke dasar air karena berat jenis telur lebih besar dari berat jenis air.
3. Naikkan berat jenis air dengan garamTambahkan garamnya dalam air disertai pengadukan
agar garam cepat larut, terus tambahkan hingga akhirnya telur mengapung di permukaan
air. Pada tahap ini massa jenis larutan garam lebih tinggi daripada telur sehingga telur
mengapung. Biasanya telur mengapung pada perbandingan 20 gram garam tiap liter air.
4. Ambil telur yang mengapung, masukkan benih ke dalam larutan garam. Benih yang bernas
akan tenggelam, benih yang hampa dan retak akan mengapung.
5. Buang benih yang mengapung. Cuci bersih dan tiriskan benih yang tenggelam tadi selama
48 jam, kemudian semaikan.

PEMUPUKAN BERIMBANG TANAMAN PADI SAWAH

1. Untuk Persemaian : Urea 1 Genggam untuk satu M persemaian, SP 36 1 Genggam untuk satu
M persemaian.

2. Untuk Satu Piring (10 X 10 Depo = 18 X 18 M ) - Urea = 5 Kg / Piring Upahan

- SP 36 = 3 Kg / Piring Upahan

- KCl = 1,5 Kg / Piring Upahan


- ZA = 1,5 Kg / Piring Upahan

Pupuk I (Pupuk Dasar) Diberikan sebelum atau sesudah tanam

- Urea = 1,5 Kg / Piring Upahan

- SP 36 = 3 Kg / Piring Upahan

- KCl = 0,5 Kg / Piring Upahan

- ZA = 1 Kg / Piring Upahan

Pupuk II (Pupuk Susulan I) Diberikan waktu siang pertama

- Urea = 2 Kg / Piring Upahan

- SP 36 = - Kg / Piring Upahan

- KCl = 1 Kg / Piring Upahan

- ZA = 0,5 Kg / Piring Upahan

Pupuk III (Pupuk Susulan II) Diberikan waktu siang kedua

- Urea = 1,5 Kg / Piring Upahan

- SP 36 = - Kg / Piring Upahan

- KCl = - Kg / Piring Upahan

- ZA = - Kg / Piring Upahan

Tanaman padi, yang termasuk famili Graminae, atau termasuk keluarga rumput-
rumputan, jadi tidak selayaknya tanam rumput merupakan hal yang rumit dan sulit.
Berdasarkan pengalaman kami yang membuat kerumitan tersebut adalah pola tanam kita
sendiri. Biasa kami perhatikan di daerah Jawa Barat bagian SELATAN, pola pemberian
obat/pestisida sangat minim, hal yang sangat berbeda dengan pola pertanian padi di Bagian
UTARA. Pola pertanian di wilayah pantura jawa barat, bahkan di seluruh Jawa, bisa dibilang
sangat intensif penggunaan pestisida kimia dan pupuk kimianya, sehingga akibatnya bisa
dirasakan seperti saat ini. Tanaman rumput tersebut menjadi sepertinya terlalu dimanjakan ,
sehingga sakit sedikit saja sudah harus diberi OBAT.
Demikian pula dengan pola makannya, sistem pertanian di Pantura Jawa terlalu
diberikan makanan kimia yang terlalu banyak, sehingga makanan kimia tersebut bukannya
menjadikan rumput tersebut menjadi sehat malahan menjadikan rumput tersebut menjadi
KEGEMUKAN/OBESITAS dan mudah terserang penyakit.
Logikanya sangat sederhana : Pemberian makanan yang terlalu banyak, jangankan
makanan yang bersumber dari makanan kimia, makanan yang bersumber dari ALAMI pun,
apabila berlebihan akan menyebabkan MASALAH yang tidak kecil, apalagi makanan yang
sumbernya dari serba kimia ( UREA, NPK ,Kcl dan pupuk pupuk kimia lainnya.)
Oleh karena itu ,kami tidak heran kalau sekarang ini akibatnya pada tanaman padi yang
terlalu berlebihan makanan/pupuk, akibatnya padi menjadi mudah terserang penyakit :
JANTUNG, KOLESTEROL, DIABETES , REMATIK dll . Kami mencoba untuk mengembalikan
pola pertanian di daerah Jawa barat bagian Utara menjadi pola pertanian yang tidak
cengeng/tidak dimanjakan. Pada kesempatan ini, kami menggunakan varietas Inpari 10, usia
tanaman hingga saat ini, 75 hari. Penerapan aplikasi kami lakukan dengan mitra kami Bp.
Andi Supardi yang beralamat di Blok Gendolong Desa Lajer Kec. Tukdana Kab Indramayu,
Jawa Barat menggunakan metode pertanian berbasis organik ala Kembang Langit yang
berupaya menjadikan tanaman padi kembali pada kebiasaanya sebagai tanaman rumput yang
tidak perlu dimanjakan dan tidak dibuat cengeng.

1. Usia tanaman 13 hari. Ada dua pola pertanaman yang berbeda antara tanaman yang
sebelah kiri menggunakan tehnik pertanain berbasis organik ala Kembang Langit, sedangkan
sebelah kanan menggunakan tehnik konvensional , cara kimia murni

2.Usia tanaman satu bulanan, pengambilan gambar menghadap ke Utara


2.A. Usia tanaman satu bulan, sedang dibandingkan dengan tanaman tetangga yang
menggunakan tehnik kimia murni (sebelah kiri)

3.A. Usia tanaman 68 Hari,pengambilan menghadap ke Utara ,pengambilan gambar pada


tanggal 2-12-13 . Hingga saat ini, aplikasi semprotan sudah dilakukan sebanyak 7 kali.
Insektisida kimia yang digunakan hanya menggunakan 0.3 mili per liternya. Interval
penyemprotan 10 hari sekali, padahal kebiasaan petani setempat biasanya 5 hari sekali atau
paling lambat 7 hari sekali.

3.B.latar belakang ada pohon mangga, pengambilan menghadap ke Selatan


3.C.Pemupukan sudah dilakukan selama 3 kali, yaitu usia 10 hari, 25 hari dan 40 hari

3.D.Kondisi tanaman hingga saat ini terbebas dari kresek daun dan penggerek batang.

3.E.Dosis Pupuk kimia yang digunakan sudah kami upayakan untuk ditekan/ dikurangi
sebanyak 30-40 persenan. Kondisi tanaman masih segar bugar, dengan bulir yang lebat dan
daun bendera masih hijau. Kalau mengamati kondisi tanaman padi seperti ini, kami sangat
optimis dalam mengatasi hama penggerek batang ,penyakit kresek daun bahkan dari
serangan TIKUS.
3.F.Luas tanaman padi yang menerapkan tehnik ini seluas 1/2 bahu (3500 m2). dengan
mengamati kondisi tanaman seperti ini, sepertinya besar harapan kami bersama. semoga
saja, hasilnya memuaskan

4. A. Gambar diatas kami terima pada tanggal 9 -12 -13, lokasi pengambilan gambar masih di
lokasi yang sama. Tampak dalam gambar bulir tanaman rumput yang menggunakan pola
tidak dimanjakan warna bulirnya lebih cepat matang / duluan kuning . Bahkan diperkirakan
usia tanaman lebih cepat panen (usia 90 harian) , sedangkan menurut kebiasaan petani
setempat biasanya pemanenan di usia 115 -125 harian.

4.B. tampak bulir tanaman padi lebih berisi (sebelah kiri dibandingkan tanaman padi yang
dipola dengan tehnik diberi makanan kimia banyak(sebelah kanan ). Pemasangan plastik
dimaksudkan bukan untuk memanjakan tanaman tetapi untuk menutupi agar tidak dimasuki
tikus, namun ada informasi yang kami dapatkan yaitu lokasi Bp. Andi ini tidak dilakukan
pemasangan Gen set/disetrum diwaktu malam hari , karena tikusnya ternyata tidak terlalu
suka dengan tanaman rumput pak Andi ini.
4.C. Aplikasi semprotan hingga saat ini, baru dilakukan sebanyak 7 kali, hal ini tidak biasa
dilakukan oleh petani di Pantura (biasanya jumlah aplikasi sudah lebih dari jumlah tersebut ) .

4.D . Dengan penanaman yang dilakukan pada hari yang sama, hanya berbeda jam saja,
rumput pak Andi dipindah tanam pada pagi hari sedangkan rumput tetangga ditanam sore
harinya, terlihat sekali dan nyata perbedaannya