Anda di halaman 1dari 13

PORTOFOLIO

HORDEOLUM

Disusun Oleh :
dr. Eva Natalia Br. Manulang

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RS BHAYANGKARA POLDA KEPRI
KOTA BATAM
TAHUN 2017
BAB I
LAPORAN KASUS

Anamnesis dilakukan pada tanggal 2 mei 2017. Anamnesis dilakukan di Poliklinik Umum RS
Bhayangkara Batam:

Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 29 Tahun
Pekerjaan : PNS
Alamat : Batu Ampar, Batam
Agama : Kristen Protestan

Keluhan Utama:

Benjolan di kelopak mata kiri bawah sejak 1 minggu yang lalu.

ANAMNESIS
Penderita datang ke RS dengan keluhan benjolan pada kelopak mata kiri bawah sejak
1 minggu lalu. Awalnya timbul benjolan kecil kemerahan kemudian semakin lama membesar
yang menyebabkan kelopak mata kiri bawah menjadi merah dan bengkak. Penderita tidak
mengeluh gatal dan nyeri walaupun benjolan disentuh. Riwayat trauma disangkal oleh
penderita, riwayat sakit mata sebelumnya disangkal juga oleh penderita, riwayat penyakit
keluarga hanya penderita yang sakit seperti ini.

PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemerikasaan fisik status generalis didapatkan keadaan umum baik, kesadaran
kompos mentis, dengan tanda-tanda vital dalam batas normal, jantung dan paru tidak ada
kelainan, abdomen datar, lemas, peristaltik normal, ekstremitas hangat. Dari status psikiatrik
penderita bersikap kooperatif, ekspresi wajar dan respon baik.

PEMERIKSAAN KHUSUS

1. Status Lokalis
Pada pemeriksaan obyektif :
o visus okulus dekstra : 6/6
o visus okulus sinistra : 6/6
Tekanan intra okuler dekstra 12,2 mmHg dan tekanan intraokuler sinistra 12,2 mmHg

2. Pada inspeksi didapatkan :


A. Pada Okulus Dekstra
Supersilia : Rontok (-), trikiasis (-)
Palpebra : Hiperemi (-), massa (-)
Konjungtiva : Injeksi konjungtiva tidak ada
Sklera : Normal
Kornea : Jernih
COA : Cukup dalam
Pupil : Bulat, reflex cahaya (+)
Iris : Normal
Lensa : Jernih.

B. Pada Okulus Sinistra


Supersilia : Rontok (-), trikiasis (-)
Palpebra : Hiperemi (+), massa (+) berupa benjolan pada palpebra
inferior di daerah konjungtiva tarsal dengan diameter 2,5 mm
Konjungtiva : Injeksi konjungtiva tidak ada
Sklera : Normal
Kornea : Jernih
COA : Cukup dalam
Pupil : Bulat, reflex cahaya (+)
Iris : Normal
Lensa : Jernih.

3. Pada palpasi didapatkan:


Pada okulus dekstra normal
Pada okulus sinistra palpebra inferior, tidak ada nyeri dan gatal, tapi didapatkan
benjolan ke arah konjungtiva tarsal, tidak mobile.
RESUME MASUK
Seorang penderita laki-laki, umur 29 tahun, datang berobat ke poliklinik Umum RS
Bhayangkara Batam tanggal 2 Mei 2017, dengan keluhan utama benjolan pada kelopak mata
kiri bawah sejak 1 minggu yang lalu.

Status Generalis :

- Keadaan umum : baik


- Kesadaran : kompos mentis
- Tanda-tanda vital : dalam batas normal
- Jantung dan paru tidak ada kelainan
- Abdomen datar, lemas, peristaltik normal
- Ekstremitas hangat
- Status psikiatrik penderita bersikap kooperatif, ekspresi wajar dan respon baik.

Status oftalmologis :

1. OD :

- Benjolan di palpebra (-)

- Hiperemi (-)

- Edema (-)

- Nyeri tekan (-)

2. OS :

- Benjolan di palpebra inferior di daerah konjungtiva tarsal dengan diameter 2,5

mm, nyeri tekan (+), tidak mobile.

- Hiperemi (+)

- Edema (+)

- Nyeri tekan (-)


DIAGNOSIS
OS : Hordeolum Internum Palpebra Inferior

TERAPI
Kompres hangat
Pro insisi / EED
Fenikol salep mata 2 x 1
Cefradoxil
Vitamin C

Selanjutnya dengan terapi di atas yang tidak ada perbaikan atau nanah tidak dapat

keluar maka dapat dilakukan tindakan operatif berupa insisi untuk mengeluarkan nanah pada

benjolan. Setelah dilakukan insisi hordeolum penderita diberikan polidex 3 x 1 tetes okuli

sinistra, asam mefenamat 1 x 1, umoxi 1 x 1.

DISKUSI

Diagnosis pada pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan

oftalmologi. Dari anamnesis pada pasien ini didapatkan data berupa adanya benjolan pada

kelopak mata kiri bawah. Benjolan ini awalnya kecil berwarna kemerahan dan bengkak pada

kelopak mata kiri. Benjolan ini kemudian semakin membesar dan disertai nyeri bila disentuh.

Keadaan ini sesuai dengan kepustakaan yang mengatakan bahwa hordeolum awalnya hanya

berupa benjolan kecil yang berwarna kemerahan yang makin lama makin membesar disertai

nyeri bila tertekan. Benjolan ini menjadi besar dan mengalami reaksi radang akibat infeksi

kuman stafilokokus atau streptokokus pada kelenjar Meibom.

Dari pemeriksaan oftalmologi didapatkan adanya edema dan hiperemi pada palpebra

inferior okulus sinistra. Benjolan menonjol ke arah kulit konjungtiva tarsal tanpa pergerakan

kulit. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa hordeolum internum
merupakan infeksi pada kelenjar Meibom sehingga ia bertumbuh ke arah konjungtiva tarsal

dan tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit.

Penanganan pada pasien yaitu dengan kompres hangat yang dilanjutkan dengan

pemberian antibiotik oral berupa Cefradoxil. Maksud pemberian kompres hangat yaitu untuk

mempercepat peradangan kelenjar sampai nanah keluar. Sedangkan pemberian antibiotika

oral adalah untuk mengobati infeksi akibat kuman stafilokokus atau streptokokus. Apabila

dengan terapi konservatif tidak ada perbaikan atau nanah tidak dapat keluar maka dapat

dilakukan tindakan operatif berupa insisi untuk mengeluarkan nanah pada benjolan,

diteruskan kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam kantongnya.

Prognosis pada penderita ini adalah baik, asalkan kebersihan daerah mata tetap dijaga

dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang sesuai. Pada penderita

juga dianjurkan untuk menghindari terlalu banyak menyentuh daerah yang sakit dan menjaga

kebersihan daerah mata untuk mempercepat penyembuhan penyakit dan mencegah terjadinya

infeksi sekunder. Penderita dianjurkan untuk kontrol ke poliklinik mata untuk memantau

perkembangan penyakit dan keberhasilan terapi.


TINJAUAN PUSTAKA

Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata, bagian atas

maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya oleh kuman Stafilokokus.1

Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum merupakan jenis penyakit

infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan pada praktek kedokteran. Insidensi tidak

bergantung pada ras dan jenis kelamin. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa

memandang usia, angka kejadian paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah.

Hordeolum dapat timbul pada satu kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar kelopak mata

tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.2-5

Dikenal bentuk hordeolum internum dan eksternum. Hordeolum eksternum merupakan

infeksi pada kelenjar Zeis atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar

Meibom dengan penonjolan terutama yang terletak di dalam tarsus.1

Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali, yakni nampak adanya benjolan pada

kelopak mata bagian atas atau bawah, berwarna kemerahan. Gejala disertai dengan rasa sakit

dan mengganjal dan nyeri bila ditekan. Nyeri yang dirasakan berupa rasa terbakar, menusuk

atau hanya berupa perasaan tidak nyaman. Kadang mata berair dan peka terhadap sinar.

Adakalanya nampak bintik berwarna keputihan atau kekuningan disertai dengan

pembengkakan kelopak mata. Hordeolum dapat membentuk abses di kelopak mata dan pecah

dengan mengeluarkan nanah.2,3,5,6

Hordeolum internum atau radang kelenjar Meibom memberikan penonjolan terutama

ke daerah konjungtiva tarsal. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibanding

hordeolum eksternum. Hordeolum eksternum tonjolan ke arah kulit, ikut dengan pergerakkan

kulit dan mengalami supurasi, memecah sendiri ke arah kulit.1,5

Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited). Namun tak jarang

memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal dan antibiotik topikal maupun obat
antibiotika sistemik.2,3 Jika tidak membaik perlu dilakukan insisi pada daerah abses dengan

fluktuasi terbesar. Hordeolum dapat dicegah dengan cara mencuci tangan terlebih dahulu

ketika hendak menyentuh mata atau kelopaknya.1-3

Penyulit hordeolum dapat berupa selulitis palpebra yang merupakan radang jaringan

ikat jarang palpebra di depan septum orbita dan abses palpebra.1

Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa mengalami

penyembuhan dengan sendirinya, asalkan kebersihan daerah mata tetap dijaga dan dilakukan

kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang sesuai.7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI HORDEOLUM
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom yang terkena,
timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna
yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss dan Moll.8

ETIOLOGI
Hordeolum adalah infeksi akut pada kelenjar minyak di dalam kelopak mata yang
disebabkan oleh bakteri dari kulit (biasanya disebabkan oleh bakteri Stafilokokus).
Hordeolum sama dengan jerawat pada kulit. Hordeolum kadang timbul bersamaan dengan
atau sesudah blefaritis. Hordeolum bisa timbul secara berulang.9

PATOGENESIS
Hordeolum eksternum timbul dari blokade dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau Moll.
Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus.
Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya.
Kedua tipe hordeolum dapat timbul dari komplikasi blefaritis.10

GEJALA DAN TANDA


1. Gejala11
Hordeolum biasanya berawal sebagai kemerahan, nyeri bila ditekan dan nyeri pada tepi
kelopak mata. Mata mungkin berair, peka terhadap cahaya terang dan penderita merasa
ada sesuatu di matanya. Biasanya hanya sebagian kecil daerah kelopak yang membengkak,
meskipun kadang seluruh kelopak membengkak. Di tengah daerah yang membengkak
seringkali terlihat bintik kecil yang berwarna kekuningan. Bisa terbentuk abses (kantong
nanah) yang cenderung pecah dan melepaskan sejumlah nanah.

2. Tanda2
Palpebra bengkak, merah sakit dan terdapat tonjolan pada palpebra. Sering disertai
blefaritis, konjungtivitis yang menahun, anemia, kemunduran keadaan umum, acne
vulgaris. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak-anak dan dewasa muda.
Gambar. Hordeulum Externum( Kanan) Hordeulum Internum (Kiri )

PENATALAKSANAAN
Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited) dalam 1-2 minggu.
Namun tak jarang memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal (salep atau tetes mata
antibiotik) maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral (diminum). Urutan
penatalaksanaan hordeolum adalah sebagai berikut :
- Kompres hangat selama sekitar 10-15 menit, 4 kali sehari.
- Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin, Neomycin, Polimyxin
B, Chloramphenicol, Dibekacin, Fucidic acid, dan lain-lain. Obat topikal digunakan
selama 7-10 hari, sesuai anjuran dokter, terutama pada fase peradangan.
- Antibiotika oral (diminum), misalnya: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin,
Doxycyclin. Antibiotik oral digunakan jika hordeolum tidak menunjukkan perbaikan
dengan antibiotik atopikal. Obat ini diberikan selama 7-10 hari. Penggunaan dan
pemilihan jenis antibiotika oral hanya atas rekomendasi dokter berdasarkan hasil
pemeriksaan.
Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat badan sesuai dengan
masing-masing jenis antibiotika dan berat ringannya hordeolum. Obat-obat simptomatis
(mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri, misalnya :
Asetaminofen, Asam mefenamat, Ibuprofen, dan sejenisnya.13
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi atopikal dengan pentokain
tetes mata. Dilakukan anestesi infiltrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum
dan dilakukan insisi yang bila :
- Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo
palpebra.
- Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra. Setelah dilakukan
insisi, lakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam
kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotik.7

PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa mengalami
penyembuhan dengan sendirinya, asalkan kebersihan daerah mata tetap dijaga dan dilakukan
kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang sesuai.7
BAB IV
PENUTUP

Diagnosis ditegakkan dari anamnesis yaitu ditemukan adanya benjolan pada kelopak

mata kiri atas sejak 1 minggu yang lalu, juga ditemukan adanya edema, hiperemi, dan nyeri

pada pemeriksaan oftalmologi. Dengan adanya tanda-tanda demikian maka dapat ditegakkan

diagnosis yaitu hordeolum internum palpebra inferior okulus sinistra.

Demikian telah dilaporkan suatu kasus dengan diagnosis hordeolum internum palpebra

inferior okulus sinistra yang mencakup diagnosis, pemeriksaan oftalmologis, penanganan dan

prognosisnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas Sidarta H. Hordeolum. Dalam : Ilmu Penyakiy Mata. Edisi keempat. Balai Penerbit FKUI.

Jakarta, 2004

2. Wijan N. Palpebra. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Cetakan kelima. Jakarta, 1989

3. The Merck Manual Of Diagnosis And Therapy. McKinley Healt Center. University Of Illionis.

17th Edition, 1999

4. Sahta RV. Hordeolum. 2010. Available from : http://drshafa.wordpress.com/2010/03/09/jordeolum/.

5. Michael JB. Hordeolum. 2010. Available from :

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=enIid&u=http://emedicine.medscape.com/

article/798940-overview.

6. Ehrenhaus M.P. MD. Hordeolum Treatment, Managemen & Clinical presentation. 2012

7. Ilyas HS. Hordeolum. Dalam : Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI.

Jakarta, 2005 : hal. 45-46

8. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan kesatu, Widya Medika, Jakarta, 2000 :

Hal. 17-20

9. Kanski JJ. Clinical Ophthalmologi A Synopsis. Butterworth-Heinemann, Boston, 2009.

Bessette M. Hordeolum and stye. Taken from : www.emedicine.com. 2010.

Gryson CE. What Is a Stye. Taken from : www.webmd.com. 2010.